Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing

Teknologi Tepat Guna Dra. Zultiniar, MSi

PEMBUATAN BRIKET DARI AMPAS TEBU

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK II
Kelas B

DODI INDRAWAN (1707035750)


M. BAIHAQI (1707035547)
SOPHIA ANGGRAINI (1707035546)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES


DAN OPERASI PABRIK
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2019
ABSTRAK
Briket adalah sumber energi yang berasal dari biomassa yang digunakan sebagai energy
alternatif pengganti. Salah satu biomassa yang digunakan adalah ampas tebu. Briket
ampas tebu adalah bahan bakar alternatif yang terbuat dari hasil sisa pengolahan tebu
yang kemudian diolah menjadi briket. Tujuan dari percobaan ini adalah mempraktikaan
pembuatan briket dari ampas tebu dengan mengvariasikan konsentrasi kanji, menentukan
kadar air pada briket dan menentukan laju pembakaran pada briket yang dihasilkan.
Variasi yang digunakan ialah konsentrasi kanji yang digunakan sebagai perekat.
Konsentrasi kanji yang digunakan yaitu 5%; 10% dan 15 %. Ampas tebu yang telah
dikeringankan terlebih dahulu dikarbonisasi untuk mendapatkan hasil briket yang lebih
baik. Hasil kadar air briket untuk setiap variasi konsentrasi kanji 5%; 10% dan 15 %
secara berturut-turut adalah 7,2%; 7,8% dan 8,7% serta laju pembakaran briket 0,0142,
0,0126, dan 0,0115 gram/detik. Semakin rendah kadar air pada briket maka kualitas
briket semakin baik.

Kata kunci: ampas tebu, briket, kadar air, laju pembakaran, tepung kanji
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Langkanya bahan bakar di Indonesia dan meningkatnya harga jual bahan
bakar termasuk minyak tanah, menyebabkan penduduk Indonesia susah untuk
mendapatkan bahan bakar tersebut. Krisisnya energi bahan bakar dan kesediaan
bahan bakar minyak saat ini kian menipis telah memberikan gambaran bahwa
saatnya untuk sekarang kita beralih pada bahan bakar alternative, salah satunya
adalah arang briket
Banyaknya limbah-limbah pertanian yang terdapat di Kalimantan barat ini,
terutama arang tempurung kelapa dan ampas tebu yang keberadaanya tidak bisa
dipandang sebelah mata, arang temprung kelapa diperoleh dari limbah kelapa dan
ampas tebu diperoleh dari penjual air tebu yang terdapat di Kalimantan, yang
mana masih banyaknya limbah-limbah hasil pengolahan yang masih belum
dimanfaatkan dengan baik. Penulis ingin mengenalkan salah satu produk bahan
bakar alternative yang terbuat dari arang tempurung kelapa dan ampas tebu, yaitu
arang briket sebagai pengganti bahan bakar (Subroto, 2006).
Briket adalah gumpalan yang terbuat dari bahan lunak yang dikeraskan.
Briket merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang memiliki prospek bagus
untuk dikembangkan. Karena, selain dari proses pembuatannya yang mudah,
ketersediaan bahan bakunya juga mudah didapat. Beranjak dari kondisi tersebut,
peneliti berupaya membuat arang briket dengan kombinasi bahan arang
tempurung kelapa dan ampas tebu. Untuk mengetahui kualitas yang baik pada
arang briket yang dihasilkan dapat dilihat dari hasil pengujian kimia meliputi
kadar air, kadar abu dan kadar zat menguap sedangkan pengujian fisik dengan
pengujian indrawi terhadap tekstur, warna dan lama pembakaran (Ndraha, 2009).

1.2 Dasar Teori


1.2.1 Biomassa
Salah satu yang berpeluang sebagai sumber energi alternatif,
khususnya bagi energi yang dapat diperbaharui (renewable energy) adalah
biomassa. Biomassa merupakan bahan alami yang biasanya dianggap sebagai
sampah dan sering dimusnahkan dengan cara dibakar. Biomassa termasuk
salah satu jenis bahan organik yang dihasilkan melalui proses fotosintesis, baik
berupa produk maupun sisa atau buangan. Yang termasuk dalam jenis
biomassa diantaranya berupa, tanaman, pepohonan, rumput, umbi-umbian,
limbah pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan
untuk tujuan primer seperti bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati, bahan
bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai sumber energi
atau bahan bakar (Rusliana, 2010).
Biomassa merupakan sumber energi primer yang sangat potensial di
Indonesia. Umumnya biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar adalah
biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau limbah biomassa setelah
diambil produk primernya yang sangat besar jumlahnya pada saat ini. Berikut
ini merupakan tabel yang menunjukkan jumlah potensi energi dari beberapa
jenis biomassa yang ada di Indonesia (Rusliana, 2010).
Menurut Ndraha (2009), biomassa adalah campuran material organik
yang kompleks, biasanya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, dan beberapa
mineral lain yang jumlahnya lebih sedikit seperti sodium, fosfor, kalsium dan
besi. Komponen utama tanaman biomassa adalah karbohidrat (berat kering
kira-kira sampai 75%) dan lignin (sampai dengan 25%) dimana beberapa
tanaman komposisinya bisa berbeda-beda. Dalam kehidupan masyarakat
biomassa dapat dimanfaatkan untuk beberapa jenis kegunaan, seperti:
1. Sebagai penyedia sumber karbon untuk energi,
2. dengan teknologi modern dalam pengkonversiannya dapat menjaga
emisi pada tingkat yang rendah,
3. mendorong percepatan rehabilitasi lahan terdegradasi dan perlindungan
tata air,
4. digunakan untuk menyediakan berbagai vektor energi, baik panas, listrik
atau bahan bakar kendaraan.

1.2.2 Definisi Briket


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan bahwa briket
adalah bata; gumpalan (sebesar kepalan tangan) dari barang lunak yang
dikeraskan melalui pembakaran, contoh: briket arang, Briket adalah sebuah blok
bahan yang dapat dibakar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk memulai
dan mempertahankan nyala api. Briket yang paling umum digunakan adalah briket
batu bara, briket arang, briket gambut, dan briket biomassa. Antara tahun 2008-
2012, briket menjadi salah satu agenda riset energi Institut Pertanian Bogor.
Bahan baku briket diketahui dekat dengan masyarakat pertanian karena biomassa
limbah hasil pertanian dapat dijadikan briket. Penggunaan briket, terutama briket
yang dihasilkan dari biomassa, dapat menggantikan penggunaan bahan bakar fosil
(Patabang, 2012).
Briket dibuat dengan menekan dan mengeringkan campuran bahan
menjadi blok yang keras. Briket digunakan di industri dan rumah tangga. Bahan
yang digunakan untuk pembuatan briket sebaiknya yang memiliki kadar air
rendah untuk mencapai nilai kalor yang tinggi. Keberadaan bahan volatil juga
mempengaruhi seberapa cepat laju pembakaran briket; bahan yang memiliki
bahan volatil tinggi akan lebih cepat habis terbakar. Briket merupakan bahan
bakar padat yang menjadi bahan bakar alternatif kayu bakar atau bahan bakar
minyak lainnya. Definisi briket itu sendiri adalah suatu bahan yang berupa serbuk
atau potongan-potongan kayu kecil yang dipadatkan dengan menggunakan mesin
press denagan dicampur bahan perekat sehingga menjadi bentuk yang solid.
Briket biomasa adalah energi alternative yang ramah lingkungan. Bahan baku dari
serbuk briket ini menggunakan limbah – lmbah sisa produksi, baik itu rumah
tangga, perkebunan maupun sampah dari proses alam, seperti daun – daun yang
gugur. Bahan bakar berbentuk briket pertama dikembangkan oleh kelompok
aktivis lingkungan hidup di Nepal (Patabang, 2012).

Tabel 2.1 SNI 01-6235-2000 briket arang kayu adalah sebagai berikut:
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan

1 Kadar Air % Maksimum 8

Bahan yang hilang pada pemanasan


2 9500C % Maksimum 15
3 Kadar Abu % Maksimum 8

4 Kalori (ADBK) Kal/gram Minimum 5000

Sumber : Badan Standar Nasional(SNI 01-6235-2000).

1.2.3 Bentuk dan Jenis Briket


Terdapat berbagai bentuk tergantung dari mesin cetak atau alat cetak.
Bentuk-bentuknya antara lain sebagai berikut (Ndraha, 2009) :
1. Silindrik (berbentuk silinder
2. Kubus
3. Balok
4. dll.
Menurut Fanskim (2012), berikut ini beberapa macam briket:
1. Briket Batu Bara
Briket batu bara adalah bahan bakar padat dengan bentuk dan ukuran
tertentu, yang tersusun dari butiran batubara halus yang telah mengalami
proses pemampatan dengan daya tekan tertentu, agar bahan bakar tersebut
lebih mudah ditangani dan menghasilkan nilai tambah dalam
pemanfaatannya.
2. Briket Arang
Briket Arang merupakan energi alternatif yang terbuat dari limbah batok
kelapa dan kayu. Diberbagai negara maju telah memakai briket arang ini
yang ternyata diimpor dari negara kita, seperti Korea, Turki dan Jepang.
Jawa Tengah tepatnya Weleri Kendal merupakan kota penghasil briket ini.
3. Briket Tempurung Kelapa
Limbah kelapa berupa tempurung dapat diolah menjadi produk yang
bernilai tinggi, salah satunya adalah briket tempurung kelapa yang bias
dimanfaatkan sebagai salah satu sumber energi. Sebagai pengganti batu
bara yang merupakan bahan baker yang tidak dapat diperbaharui dan
banyak menimbulkan dampak negative bagi kesehatan dan lingkungan,
salah satunya dapat mengakibatkan gangguan pernapasan.
4. Briket Arang dari Serbuk Gergaji
Serbuk gergaji dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan briket arang
maka akan meningkatkan pemanfaatan limbah hasil hutan sekaligus
mengurangi pencemaran udara, karena selama ini serbuk gergaji kayu
yang ada hanya dibakar begitu saja. Manfaat lainnya adalah dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat bila pembuatan briket arang ini
dikelola dengan baik untuk selanutnya briket arang dijual. Bahan
pembuatan briket arang mudah didapatkan disekitar kita berupa serbuk
kayu gergajian.
5. Briket Arang dari Ampas Tebu
Ampas tebu dapat diamanfaatkan sebagai bahan pembuatan briket arang
maka akan meningkatkan pemanfaatan limbah hasil perkebunan. Manfaat
lainnya adalah dapat meningkatkan pendapatan masyarakat bila
pembuatan briket arang ini dikelola dengan baik untuk selanjutnya briket
arang dijual. Bahan pembuatan briket arang mudah didapatkan disekitar
kita berupa ampas tebu.

1.2.4 Ampas Tebu


Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) adalah satu anggota familia
rumput-rumputan (Graminae) yang merupakan tanaman asli tropika basah,
namun masih dapat tumbuh baik dan berkembang di daerah subtropika, pada
berbagai jenis tanah dari daratan rendah hingga ketinggian 1.400 m diatas
permukaan laut. Umur tanaman sejak ditanam hingga bisa dipanen mencapai
kurang lebih 1 tahun. Asal mula tanaman tebu sampai saat ini belum
didapatkan kepastiaanya, dari mana asalnya. Namun sebagian besar para ahli,
berasumsi bahwa tanaman tebu ini berasal dari Papua New Guinea. Pada 8000
SM (sebelum masehi), tanaman ini menyebar ke Kepulauan Solomon dan
Kaledonia Baru. Sedangkan ekspansi tanaman ini ke arah timur Papua New
Guinea berlangsung pada 6000 SM, dimana tebu mulai menyebar ke
Indonesia, Filipina dan India (Subroto, 2006).
Tebu merupakan tanaman yang ditanam sebagai bahan baku
pembuatan gula. Di Indonesia, tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan
Sumatera. Dalam pembuatan gula, sari dari tanaman tebu ini yang digunakan
sebagai bahan baku pembuatan gula sedangkan sisa (ampas) dari tebu ini
dibuang atau dimanfaatkan kembali menjadi bahan bakar (Siregar, 2010)

Gambar 1.1 Tanaman Tebu dan Ampas Tebu


Ampas tebu adalah residu dari proses penggilingan tanaman tebu
setelah diekstrak atau dikeluarkan niranya pada industri pemurnian gula
sehingga diperoleh hasil samping sejumlah besar produk limbah berserat yang
dikenal sebagai ampas tebu (bagasse). Selain banyak dihasilkan dari pabrik
gula, ampas tebu juga banyak dihasilkan dari pedagang-pedagang es tebu.
Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
ampas tebu yang dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling. Pembuangan
ampas tebu tanpa pengolahan secara tepat akan mengakibatkan pencemaran
yang berkepanjangan. Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-
cellulose. Berdasarkan bahan kering ampas tebu adalah terdiri dari unsur C
(carbon) 47%, H (Hydrogen) 6,5%, O (Oxygen) 44% dan abu (Ash) 2,5%
(Siregar, 2010).
Tabel 2.1. Hasil analisis serat bagasse dalam tabel berikut :

Kandungan Kadar (%)

Abu 3,82
Lignin 22,09
Selulosa 37,65
Sari 1,81
Pentosan 27,97
SiO2 3,01

Sumber: (Wijayanti, 2009)


Tabel 2.2 Hasil analisa proksimasi kandungan gas ampas tebu dalam tabel berikut:

Kadar Persentase (%)

Moisture 21,8
Ash 2,5
Volatile 72,7
Fixed carbon 3,5
Carbon 47,0
Hydrogen 6,5
Shulfur 0,1
Nitrogen 0,9
Oxygen 44,0

Sumber : (Wijayanti, 2009)

1.2.5 Perekat
Sifat alamiah bubuk arang cenderung saling memisah. Dengan bantuan
bahan perekat atau lem, butiran-butiran arang dapat disatukan dan dibentuk sesuai
dengan kebutuhan. Namun permasalahannya terletak pada jenis bahan perekat
yang akan dipilih. Penetuan jenis bahan perekat yang digunakan sangat
berpengaruh terhadap kualitas briket ketika dinyalakan secara seksama karena
setiap bahan perekat memiliki daya lekat yang berbeda-beda karakteristiknya
(Patabang, 2012).
Perekat ini biasa digunakan untuk mengelem prangko dan kertas. Cara
membuatnya sangat mudah yaitu cukup mencampurkan tepung tapioca/kanji
dengan air, lalu dididihkan diatas kompor. Selama pemanasan tepung diaduk terus
menerus agar tidak menggumpal. Warna tepung yang semula putih akan berubah
menjadi bening setelah beberapa menit dipanaskan dan terasa lengket di tangan.
Saat digunakan, perbandingan antara lem yang sudah jadi dengan bubuk arang
harus tepat supaya briket yang dicetak hasilnya baik. Lem yang terlalu pekat akan
memperlambat proses pencetakan. Hal ini disebabkan tingkat kekerasan maupun
ketahanan briket terhadap benturan menjadi berkurang dan mudah retak
(Patabang, 2012).
Tabel 1.1 Komposisi Tepung Tapioka/Kanji per 100 gr.
Komposisi Jumlah
Kalori (kkal) 358
Karbohidrat (%) 88,69
Kadar air (%) 15
Lemak (g) 0,02
Protein (g) 0,19
Kalsium (mg/100 g) 20
Fosfor (mg) 7
Besi (mg) 1,58
Magnesium (mg) 1
Kalium (mg) 11
Natrium (mg) 1
Seng (mg) 0,12
Tembaga (mg) 0,02
Mangan (mg) 0,11
Selenium (mg) 0,8
Asam folat (mg) 4
Sumber: (Patabang, 2012)

1.2.6 Bahan Penyala


Briket sebaiknya dilapisi dengan bahan penyala sebelum digunakan.
Pelapisan bahan penyala merupakan tahap akhir proses produksi briket dengan
tujuan utama memudahkan penyalaan briket yang sudah dikeringkan. Selain itu,
penampilan briket menjadi menarik, lebih halus, lebih kuat, dan bebas dari jamur.
Ada beberapa jenis penyala yang bisa dipakai untuk pelapisan briket, mulai dari
golongan minyak nabati sampai golongan alkohol, yang seharusnya mudah dibeli
di pasar bebas (Yuwono, 2009).

Tabel 1.2. Sifat-Sifat Fisik Dan Kimia Masing-Masing Bahan Penyala


Bahan penyala Sifat umum Keterangan
- Mudah mencair
jika dipanaskan Dalam suhu kamar
a. Wax - Cairan berwarna berwujud padat
bening
- Mudah menyala
- Golongan minyak
- Anti air
- Lengket ditangan
- Warna putih Disadap dari pohon pinus
b. Getah pinus - Aroma khas
- Mudah nyala
- Asap hitam
- Mudah menguap
- Mudah menyala
- Hasil pengolahan
- Warna api biru
tetes tebu
c. Spritus - Asap tidak
- Pada suhu kamar
terlihat
berbentuk cair
- Golongan
alkhohol
- Cairan kental - Dalam suhu kamar
- Mudah nyala berbentuk cair
d. Oli bekas
- Golongan minyak - Cairan oli sukar
- Anti air membeku
- Mudah nyala jika
di didihkan - Dari pohon kelapa
- Golongan minyak sawit
e. Minyak sawit
- Anti air - Dalam suhu kamar
- Asap warna putih berbentuk cair

- Mudah menyala
bila dibakar
- Ada fraksi mudah
- Berasal dari buah
f. Minyak jarak dan fraksi kental
jarak
- Anti air
- Membeku jika
cuaca dingin
- Mudah terbakar
- Tidak dapat larut
g. Minyak tanah Berasal dari minyak bumi
dalam air
- Aroma khas
Sumber: (Yuwono, 2009).

1.2.7 Prinsip Pembuatan Briket Ampas Tebu


Membuat briket ampas tebu tidaklah terlalu sulit. Proses pertama adalah
proses membuat arang. Bahan baku yang berupa ampas tebu yang dibuat menjadi
arang dengan cara dibakar dalam tabung tertutup yang udaranya terbatas. Jika
dibakar di dalam ruang atau tabung terbuka maka sampah yang dibakar akan
menjadi abu. Pembakaran dapat dilakukan dengan menggunakan drum atau bak di
dalam tanah. Setelah menjadi arang, sampah bakar kemudian digiling atau tumbuk
hingg menjadi bubuk arang (Subroto, 2006).
Selanjutnya bubuk arang tersebut dicampur dengan adonan perekat yang
terbuat dari tepung kanji. Setelah itu barulah dilakukan pencetakan dan
pengepresan. Pengepresan merupakan bagian sangat penting karena menyangkut
kualitas kepadatan briket. Semakin padat briket, semakin tinggi daya nyal apinya.
Proses pencetakan briket menentukan briket yang akan dibuat. Cetakan briket pun
beragam, ada yang kotak dan ada juga yang bulat. Setelah proses pencetakan
selesai, briket yang masih basah itu kemudian dikeringkan dengan cara dijemur
selama kurang lebih dua hari. Jika tak ada panas, atau pada saat musim hujan,
briket yang masih basah cukup didiamkan selama 4 hari. Setelah kering, briket
pun dapat digunakan. Keunggulan Briket ampas tebu (Subroto, 2006) :
1. Lebih murah dan ekonomis
2. Tidak beresiko meledak/terbakar seperti kompor minyak tanah atau
kompor elpiji
3. Tidak mengeluarkan suara bising serta tidak berjelaga sehingga tidak
membuat alat-alat memasak menjadi rusak
4. Sumber briket ampas tebu melimpah
5. Ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan
Menurut Patabang (2012), syarat briket yang baik adalah briket yang
permukaannya halus dan tidak meninggalkan bekas hitam ditangan. Selain itu,
sebagai bahan bakar, briket juga harus memenuhi Kriteria sebagai berikut:
1) Mudah dinyalakan
2) Tidak mengeluarkan asap
3) Emisi gas hasil pembakaran tidak mengandung racun
4) Kedap air dan hasil pembakaran tidak berjamur bila disimpan pada waktu
lama
5) Menunjukkan upaya laju pembakaran (waktu, laju pembakaran dan suhu
pembakaran) yang baik
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah sebagai berikut:
1. Mampu mempraktikan pembuatan briket ampas tebu dengan variasi kanji
5%, 10%, dan 15%.
2. Menentukan kadar air dari briket yang dihasilkan.
3. Mentukan laju pembakaran dari briket yang dihasilkan.
BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada saat praktikum adalah cawan porselen,
kompor, panci, saringan, timbangan analitik, oven, gelas ukur 50 ml, sendok,
baskom, drum, pengaduk kayu, desikator, cetakan briket dan tungku.

2.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada saat praktikum adaalah ampas tepu,
minyak tanah, air, dan tepung kanji

2.3 Prosedur Percobaan


2.3.1 Pembuatan Arang Dari Ampas Tebu
1. Ampas tebu dijemur selama beberapa hari hingga ampas tebu menjadi
kering.
2. Drum disiapkan dengan bagian atas (tutup) drum dibuat lubang buatan
yang mempunyai diameter 6,3 cm, berguna sebagai tempat memasukkan
pengaduk kayu.
3. Ampas tebu kering tadi dimasukkan ke dalam drum dan dibakar. Pada
awal pembakaran ditambahkan sedikit minyak. Setelah apinya menyala,
kemudian ditutup drumnya.
4. Selama proses perngkarbonan harus dijaga agar tidak ada udara yang
keluar masuk ke dalam drum. Jika udara dapat keluar masuk ke dalam
drum, maka pengkarbonan tidak akan menghasilkan arang tetapi
menghasilkan abu. Dalam proses pengkarbonan ini, asap yang timbul
akibat pengkarbonan di dalam drum keluar melalui sela-sela tutup dan
menghalangi udara yang akan masuk ke dalam drum tersebut. Pengisian
dihentikan ketika isi drum mencapai setengah dari tinggi drum.
5. Jika asap yang keluar dari sela-sela tutup berkurang dan ampas tebu sudah
menjadi arang, berarti pengkarbonan sudah selesai. Kemudian arang
dikeluarkan dari drum.
6. Arang yang sudah jadi, ditumbuk halus dan dimasukkan ke dalam suatu
wadah.
7. Bubuk arang disaring dan di ayak dengan menggunakan saringan. Lalu
dimasukkan ke dalam ember.

2.3.2 Persiapan Tepung Kanji


1. Siapkan timbangan analitik.
2. Tepung kanji ditimbang 1,25 gram, dan diukur 15 ml air untuk variasi 5%
3. Tepung kanji ditimbang 2,5 gram, dan diukur 30 ml air untuk variasi 10%.
4. Tepung kanji ditimbang 3,75 gram, dan diukur 45 ml air untuk variasi 15%
5. Lakukan penimbangan tiap variasi sebanyak 2x.

2.3.3 Pembuatan Briket Ampas Tebu


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Bubuk arang yang telah disaring dan diayak tadi di timbang 25 gram.
3. Tepung kanji ditimbang 1,25 gr (variasi 5%).
4. Kompor dihidupkan, lalu tepung kanji dilarutkan dengan air sebanyak 15
ml (variasi 5%) dan dipanaskan di dalam panci, aduk terus lem kanji
sampai berwarna bening.
5. Lem tepung kanji yang masih panas dicampurkan dengan bubuk arang
sehingga menjadi adonan yang lengket. Selanjutnya, adonan diaduk-aduk
agar semua bahan tercampur rata dan lengket.
6. Adonan dicetak ke dalam cetakan besi berbentuk donat. Kemudian adonan
dipadatkan dalam cetakan. Setelah selesai dicetak, keluarkan briket dari
cetakan.
7. Briket ampas tebu ini dijemur di udara luar selama 3 hari untuk
menghilangkan air yang terdapat dalam briket.
8. Ulangi percobaan yang sama dengan variasi yang berbeda (10% dan 15%)

2.3.3 Pengujian Pada Briket


2.3.3.1 Uji Kadar Air
Penetapan kadar air merupakan suatu cara untuk mengukur banyaknya air
yang terdapat didalam suatu bahan. Kadar air ditentukan dengan metode oven
caranya adalah briket ditimbang dengan timbangan analitik dengan berat bahan
dalam cawan porselen yang telah diukur bobot keringnya secra teliti, kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 110ºC hingga beratnya konstan. Briket
didinginkan dalam desikator dan ditimbang kembali. Kadar air bahan dapat
dihitung sebagai berikut :
𝑏−𝑐
% Kadar Air = 𝑥 100%
𝑏

Dengan :
b = sampel sebelum dioven (gram)
c = sampel sesudah dioven (gram)

2.3.3.2 Laju Pembakaran Briket


Laju pembakaran briket adalah kecepatan briket habis sampai menjadi abu
dengan berat tertentu, yang dapat dilakukan dengan cara berikut :
1. Anglo disiapkan, kemudian briket ampas tebu diletakkan dalam aglo
tersebut.
2. Pada briket tersebut ditambahkan minyak tanah, dan dibakar.
3. Stopwatch dihidupkan pada awal pembakaran, lalu dicatat waktu yang
digunakan sampai briket menjadi abu.
Laju pembakaran dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
(berat briket (gram)
Laju pembakaran briket (gr/detik) = waktu sampai briket habis (detik)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan


Berdasarkan hasil percobaan pembuatan briket cangkang sawit dengan
melalukan pengujian dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Hasil Percobaan Pembuatan Briket Cangkang Sawit
No. Laju
Konsentrasi Kanji Berat Arang
Kadar Air (%) Pembakaran
(%) (gram)
(gram/detik)
1. 5 25 7,2 0,0142
2. 10 25 7,8 0,0126
3. 15 25 8,7 0,0115

3.2 Pembahasan
Tahapan yang pertama sekali di buat adalah mencari ampas tebu. Ampas
tebu adalah residu dari proses penggilingan tanaman tebu setelah diekstrak atau
dikeluarkan sari tebunya baik dari penjualan minuman tebu maupun dari
pengolahan gula yang menggunakan ampas tebu. Kemudian ampas tebu yang
didapat dijemur terlebih dahulu selama beberapa hari agar ampas tebu menjadi
kering dan mempemudah proses pembakaran. Setelah itu dilakukanlah proses
karbonisasi.
Proses karbonisasi adalah proses untuk mengkonversi bahan organik atau
biomassa menjadi suatu arang. Biomassa yang digunakan pada praktikum ini
adalah ampas tebu, karena ampas tebu sangat melimpah dan mudah dicari.
Sebelum melakukan karbonisasi, sebuah drum disiapkan sebagai tempat
pembakaran dan pada bagian drum atas (tutup drum) dibuat lubang buatan dengan
diameter 6,3 cm berguna sebagai tempat pengaduk kayu. Setelah itu masukkan
ampas tebu yang dikeringkan tadi ke dalam drum tersebut dan dibakar. Pada
penyalaan awal dilakukan dengan menggunakan sedikit minyak tanah. Setelah api
menyala, langsung tutup drum agar tidak ada udara yang keluar masuk pada saat
pengkarbonan. Tujuan pembakaran ini dilakukan di dalam ruangan tertutup
seperti drum agar tidak adanya udara yang bebas keluar masuk, jika udara udara
yang keluar masuk pada saat proses pengkarbonan maka akan menghasilkan abu,
bukan menghasilkan arang. Asap yang dihasilkan dari proses pengkarbonan ini
akan keluar melalui sela-sela tutup dan menghalangi udara yang akan masuk ke
dalam drum. Agar pengkarbonan merata dilakukan sesekali pengadukan.
Pengisian dihentikan ketika isi drum mencapai setengah tinggi drum. Jika asap
yang keluar berkurang, maka pengkarbonan selesai. Lalu arang ampas tebu
dikeluarkan dari drum. Kemudian ditumbuk halus hingga menjadi bubuk arang.
Pada proses pembuatan briket dari ampas tebu menggunakan bahan
perekat. Bahan perekat yang digunakan adalah tepung kanji. Pemilihan kanji
sebagai bahan perekat dari pembuatan briket karena kanji mudah ditemukan, kanji
juga sebagai bahan prekat briket yang alternatif. Sifat tepung kanji apabila
dicampur dengan air panas akan menjadi liat seperti lem. Lem dari kanji ini
memiliki viskositas rekat tinggi. Penggunaan kanji dalam membuat briket sangat
mengguntungkan karena dapat mencetak briket dengan bentuk yang diinginkan.
Kanji memiliki kelenturan sehingga dapat membuat briket tercampur dan merekat
secara merata, kepadatan briket juga dipengaruhi oleh kanji. Pori-pori briket dan
kepadatan briket dapat menjadi lebih sempurna.
Variasi briket yang diberikan adalah 5%, 10%, 15%. Komposisi tepung
kanji yang digunakan yaitu sebanyak 1,25 gram dengan konsentrasi 5% dan 2,5
gram dengan konsentrasi 10% serta 3,75 gram dengan konsentrasi 15%. Kanji
dicampurkan dengan perbandingan kanji : air = 1:12. Kemudian hidupkan
kompor, dan panaskan tepung kanci denga air di dalam panci hingga bentuk
menjadi bening dan lengket. Selanjutnya lem kanji yang masih panas tadi
dicampurkan dengan bubuk arang (karbon). Kemudian adonan tersebut diaduk
dengan menggunakan tangan hingga tercampur rata dan homogen. Setelah itu
dimasukkan ke dalam cetakan dengan cara ditekan dan dipadatkan. Cetakan yang
digunakan berbentuk seperti donat. Lalu dikeluarkan dari cetakan. Semakin padat
briket yang dihasilkan maka semakin bagus hasilnya. Briket ampas tebu dijemur
selama 3 hari agar menghilangkan air yang ada dalam briket. Setelah 3 hari,
dilakukan uji kadar air dan laju pembakaran briket.
10.0
9.0
8.0
Kadar Air (%) 7.0
6.0
5.0
4.0
3.0
2.0
1.0
0.0
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16%
Varaiasi Kanji

Gambar 3.1 Hubungan Variasi Kanji Dengan Kadar Air Pada Briket

Berdasarkan Gambar 3.1 Sampel briket 5% yang digunakan dari bahan


ampas tebu yang telah dijemur sebesar 22,68 gram. Kadar air yang didapat dari
percobaan yaitu 7,2 %. Sampel briket 10% sebesar 26,76 gram. Kadar air yang
didapat dari percobaan yaitu 7,8%. Sedangkan sampel briket 15% sebesar 26,24
gram, dan kadar airnya yaitu 8,7%.
Hal ini sesuai dengan penelitian Apriani (2015) menyatakan semakin
tinggi presentase perekat kanji pada briket arang maka kadar air dalam briket akan
meningkat. Kenaikan kadar air ini disebabkan oleh penambahan sejumlah air
dalam pembuatan bahan perekat. Kandungan air yang ada dalam perekat akan
menambah kadar air briket saat dilakukan pengujian, sehingga semakin banyak
perekat yang ditambahkan maka akan semakin tinggi kadar air yang terkandung
dalam briket. Kandungan air yang tinggi pada briket akan menyulitkan penyalaan
briket dan mengurangi temperature.
Menurut SNI (Standar Nasional Indonesia, ditetapkan kadar air pada briket
yaitu maksimal 8%. Tetapi pada briket 15% yang kami buat, kadar air 8,7%.
Berarti briket dengan variasi kanji 15% melebihi maksimal kadar air. Sehingga
briket dengan variasi kanji 15% dikatakan tidak bagus karena mengandung kadar
air yang melebihi range baku mutunya. Kandungan air yang tinggi di dalam briket
menyulitkan penyalaan sehingga briket sulit terbakar. Sebaliknya semakin sedikit
kadar air yang ada dalam briket maka kualitas pembakaran briket tersebut
semakin bagus.

0.016
0.014
Laju Pembakaran (gr/detik)

0.012
0.01
0.008
0.006
0.004
0.002
0
0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16%
Variasi Kanji

Gambar 3.2 Hubungan Variasi Kanji Dengan Laju Pembakaran Briket

Berdasarkan Gambar 3.2 Pengujian laju pembakaran briket dilakukan pada


ketiga variasi. Pengujian dilakukan dengan cara membakar briket menggunakan
sedikit minyak tanah untuk menyalakan api pada briket. Perhitungan waktu
dilakukan dengan menggunakan stopwatch yang dimulai pada awal api menyala
sampai briket habis atau sampai semua briket menjadi abu. Waktu yang
dibutuhkan dari briket menjadi abu pada saat variasi 5% yaitu 30 menit, briket
variasi 10% yaitu 35,13 menit, dan briket variasi 15% yaitu 38 menit. Sehingga
didapatkan laju pembakarannya. Laju pembakaran briket 5%, 10%, 15% secara
berturut-turut yaitu 0,0142 gram/detik, 0,0126 gram/detik, dan 0,0115 gram/detik.
Berdasarkan dengan teori, menyatakan bahwa semakin tinggi konsentrasi
kanji menyebabkan laju pembakaran semakin rendah. Laju pembakaran
disebabkan oleh kandungan yang ada pada perekat. Semakin banyak
kandungannya maka akan menyebabkan briket menjadi padat dan menyulitkan
proses pembakaran. Semakin sedikit kadar air yang dikandung dalam briket, maka
akan semakin cepat waktu pembakarannya, maka akan semakin besar laju
pembakarannya.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, briket dengan variasi 15%
mempunyai laju pembakaran yang kecil, sehingga waktu lama habis briket
tersebut semakin lama. Tetapi memiliki kadar air melewati SNI nya yaitu lebih
besar dari 8%. Jadi menurut kami, briket dengan variasi 10% adalah yang paling
bagus. Karena laju pembakarannya lebih kecil dari briket dengan variasi 5%,
sehingga lama habis pemakaian briketnya lebih besar dari briket dengan variasi
kanji 5%.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
1. Briket dari ampas tebu merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari
bahan baku ampas tebu yang dikeringkan dan dikarbonisasi, kemudian
diolah menjadi briket lalu dicetak dengan bentuk dan ukuran tertentu.
2. Kadar air pada briket yang didapat untuk setiap variasi konsentrasi kanji
5%; 10% dan 15% secara berturut-turut sebesar 7,2 %, 7,8% dan 8,7%.
3. Laju pembakaran pada briket dengan variasi 5%, 10%, dan 15% secara
berturut-turut sebesar 0,0111 gr/detik, 0,0126 gr/detik dan 0,0115 gr/detik.

4.2 Saran
1. Semakin banyak kadar air dari briket akan menyebakan penurunan kualitas
briket yang dibuat.
2. Ampas tebu yang akan dikarbonisasi harus dalam kondisi kering.
3. Pada saat pencetakan briket, pastikan semua campuran arang dan kanji
masuk ke dalam cetakannya dan tercetak dengan sempurna.
DAFTAR PUSTAKA

Apriani. 2015. Uji Kualitas Biobriket Ampas Tebu Dan Sekam Padi Sebagai
Bahan Bakar Alternatif. Fakultas Sains Dan Teknologi UIN
Alauddin:Makassar.
Fanskim. 2012. Macam-macam briket. http://fanskim5.blogspot.co.id/2012/10/
macam-macam-briket.html. Diakses tanggal 14 Maret 2019.
Ndraha, Nodali. 2009. Uji Komposisi Bahan Pembuat Briket Bioarang
Tempurung Kelapa dan Serbuk Kayu Terhadap Mutu yang Dihasilkan.
Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian USU: Medan.
Patabang, D. 2012. Karaketeristik Termal Briket Arang Sekam Padi dengan
Variasi Bahan Perekat. Jurnal Mekanikal, Vol. 3 No.2. Hal: 286-292. Palu:
Fakultas Teknik. Universitas Tadulako.
Rusliana, Erna. 2010. Karakteristik Briket Bioarang Limbah Pisang Dengan
Perekat Tepung Sagu. Program Studi Teknologi Hasil Pertanian Fakultas
Pertanian Universitas Khairun: Ternate.
Subroto. 2006. Karakteristik Pembakaran Biobriket Campuran Batubara, Ampas
Tebu dan Jerami. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UMS: Surakarta.
Siregar, Nuraisyah. 2010. Pemanfaatan abu pembakaran ampas tebu dan tanah liat
pada pembuatan batu bata. Departemen Fisika Fakultas MIPA Universitas
Sumatera Utara: Medan.
Tim Laboratorium Teknologi Tepat Guna Program Studi D3 Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Riau. 2019. Penuntun Praktikum teknologi tepat
guna. Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Wijayanti. 2009. Arang Aktif Ampas Tebu Sebagai Adsorben pada Pemurnian
Minyak Goreng Bekas. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Institut Pertanian Bogor.
Yuwono, Joko. 2009. Pengaruh penambahan bahan penyala pada briket arang dari
limbah serbuk kayu jati. Teknik Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.
LAMPIRAN A
LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikan : Pembuatan Briket Dari Ampas Tebu


Dosen Pembimbing : Dra. Zultiniar, MSi
Hari/Tanggal Praktikum : Jum’at / 9 Maret 2019
Asisten Laboratorium : Sherly Arianty
Nama Kelompok : 1. Dodi Indrawan
2. M. Baihaqi
3. Sophia Anggraini

1. Pembuatan Briket
Berat Karbon Berat Kanji Volume air
Variasi Kanji
(gram) (gram) (ml)
5% 25 1,25 15
10% 25 2,5 30
15% 25 3,75 45

2. Uji Kadar Air Briket


Berat Cawan
Berat Cawan
Berat Awal Waktu Oven Dan Sampel
Variasi Kosong
Briket (gram) (menit) Setelah
(gram)
Dioven
5% 81,86 22,68 60 102,89
10% 88,99 26,76 60 113,66
15% 81,48 26,24 60 105,42

3. Uji Pembakaran Briket

Variasi Waktu (menit)


5% 30
10% 35,13
15% 38

Mengetahui Pekanbaru, 13 Maret 2019


Asisten Praktikan

Sherly Arianty M. Baihaqi


LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

1. Pengujian Kadar Air Briket pada Konsentrasi Kanji 5 %


 Berat sampel (b) = 22,68 gram
 Berat cawan kosong = 81,86 gram
Berat cawan + sampel sebelum dikeringkan = 104,54 gram
Berat cawan + sampel sesudah dikeringkan (c) = 102,89 gram
Berat sampel sesudah dikeringkan (c) = 21,03
𝑏−𝑐
Maka % Kadar Air = × 100 %
𝑏
22,68 𝑔𝑟𝑎𝑚−21,03 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100 %
22,68 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 7,2 %

Laju Pembakaran Briket pada Konsentrasi Kanji 5 %


 Berat briket = 22,68 gram
 Waktu sampai briket habis menjadi abu = 30 menit
= 1600 detik
berat briket
Maka Laju pembakaran briket =
waktu sampai briket habis
22,68 gram
=
1600 detik
= 0,0142 gram/detik.

2. Pengujian Kadar Air Briket pada Konsentrasi Kanji 30 %


 Berat sampel (b) = 26,76 gram
 Berat cawan = 88,99 gram
Berat cawan + sampel sebelum dikeringkan = 115,75 gram
Berat cawan + sampel sesudah dikeringkan = 113,66 gram
Berat samppel sesudah dikeringkan = 24,67 gram
𝑏−𝑐
Maka % Kadar Air = × 100 %
𝑏
26,76 𝑔𝑟𝑎𝑚−24,67 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100 %
26,76 𝑔𝑟𝑎𝑚
= 7,8 %
Laju Pembakaran Briket pada Konsentrasi Kanji 30 %
 Berat briket = 26,76 gram
 Waktu sampai briket habis menjadi abu = 35 menit 13 detik
= 2113 detik
berat briket
Maka Laju pembakaran briket =
waktu sampai briket habis
26,76 gram
=
2113 detik
= 0,0126 gram/detik.

3. Pengujian Kadar Air Briket pada Konsentrasi Kanji 15 %


 Berat sampel (b) = 26,24 gram
 Berat cawan = 81,48 gram
Berat cawan + sampel sebelum dikeringkan = 107,72 gram
Berat cawan + sampel sesudah dikeringkan = 105,42 gram
Berat sampel sesudah dikeringkan = 23,94 gram
𝑏−𝑐
Maka % Kadar Air = × 100 %
𝑏
26,24 𝑔𝑟𝑎𝑚−23,94 𝑔𝑟𝑎𝑚
= × 100 %
26,24 𝑔𝑟𝑎𝑚

= 8,7 %
Laju Pembakaran Briket pada Konsentrasi Kanji 15 %
 Berat briket = 26,24 gram
 Waktu sampai briket habis menjadi abu = 38 menit
= 2280 detik
berat briket
Maka Laju pembakaran briket =
waktu sampai briket habis
26,24 gram
=
2280 detik
= 0,0115 gram/detik
LAMPIRAN C
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai