Anda di halaman 1dari 4

Percaturan Strategis di Asia Selatan

I. Pendahuluan
Wilayah Asia Selatan memiliki karakterstik tersendiri terutama dalam
hubungan antar negara. Jika di Asia Tenggara, telah tercipta sebuah mekanisme
diplomasi melalui ASEAN, di Asia Selatan sejauh ini belum ada bentuk yang jelas.
Konflik antara negara yang besar penduduknya seperti India masih berlangsung
dengan Pakistan dan Sri Lanka.
Akibat konflik laten seperti itulah maka muncul pola hubungan internasional yang
khas.
Negara-negara yang termasuk kedalam kawasan ini adalah India, Pakistan,
Banglades, Maladewa, Bhutan, Nepal dan Sri Lanka. SAARC atau forum kerja sama
Asia Selatan mencerminkan komposisi yang ada di Asia Selatan. Dengan komposisi
penduduk India terbesar dibandingkan tetangga lainnya dan perilaku politik India
yang cenderung hegemonik menyebabkan kecemburuan dan kekhawatiran muncul
diantara tetangganya.
Akibat kekhawatiran itu, negara besar seperti Uni Soviet (Rusia sekarang),
Cina dan Amerika Serikat ikut menentukan kerangka diplomasi kawasan Asia Selatan.
Kaitan dengan negara besar bukan karena kepentingan negara luar kawasan tetapi
terutama karena kebutuhan negara di Asia Selatan, misalnya, Pakistan untuk
beraliansi dalam rangka menghindari ancaman.

II. Hubungan Internasional


Sebelum mengkaji bagaimana bentuk hubungan internasional masa kini
berlangsung perlu diperhatikan sejumlah faktor penting yang mempengaruhi
perjalanan sejarah negara-negara di kawasan ini.
1. Faktor Sejarah
Anak benua India lahir dari tangan Inggris dalam satu kesatuan pada tahun 1947.
Perjuangan Mahatma Gandhi dengan swadeshi dan tindakan anti kekerasan untuk
mencapai mencapai kemerdekaan telah berbekas secara mendalam di India yang
mayoritas penduduknya menganut agama Hindu. Namun peninggalan Inggris di
anak benua ini melahirkan potensi konflik yang bersuhu tinggi. Seperti halnya di
Teluk Persia, peninggalan Inggris di Asia Selatan pun meledak menjadi perang
saat kemerdekaan India lahir karena tak lama kemudian Pakistan lahir,
memisahkan diri dari India.

2. Faktor Agama
Dapat dikatakan salah satu pemicu perpecahan India dan Pakistan adalah
perbedaan agama. Di bawah Ali Zinah, Pakistan mengambil jalan sendiri
memisahkan diri dari India karena merasa bahwa aspirasi politik umat Islam saat
itu tak bisa disalurkan. Oleh karena itu karena dukungan masyarakat penganut
Islam maka lahir Pakistan bebas dari India.

3. Faktor Politik
Setelah Pakistan memisahkan diri dari India menjadi Pakistan timur dan barat,
pada perjalanan sejarahnya Pakistan timur tidak tertampung aspirasi politiknya.

1
Dengan dukungan India, Pakistan timur berpisah dari Pakistan barat yang
kemudian melahirkan negara baru, Banglades. Kepentingan Pakistan timur akan
penampungan aspirasi politiknya menjadi pendorong terjadinya kelahiran baru
Banglades meskipun tidak ada persoalan agama karena keduanya mayoritas
penduduknya Muslim.

3. Faktor Campur Tangan Negara Besar


Sudah menjadi bukti dalam sejarah, dimana terjadi konflik apalagi sesudah Perang
Dunia II yang melahirkan Perang Dingin, negara adidaya senantiasa berusaha
memperluas lingkungan pengaruhnya. Tidak terkecuali di Asia Selatan. Uni Soviet
saat itu dan Amerika Serikat berlomba-lomba mempengaruhi kawasan tersebut.
Pakistan mencari perlindungan ke Amerika Serikat untuk menghadapi ancaman
dari India.

4. Faktor Keamanan
Karena merasa adanya ancaman terutama dari negara besar seperti India di Asia
Selatan, Pakistan ataupun Sri Lanka merasakan betapa perlunya mempersenjatai
diri. Pakistan terutama sering merasa ancaman ideologi yang dilatarbelakangi
agama Hindu terus membayang-bayangi. Oleh karena itu interaksi yang terjadi di
kawasan pun lebih dilandasi oleh kecurigaan dan kehati-hatian terutama melihat
tindak-tanduk India yang tak bisa dipercaya begitu saja. Perbedaan agama dan
ideologi di India dan Pakistan telah melahirkan perlombaan senjata. Dengan kata
lain, pacuan senjata di Asia Selatan dipicu oleh kecurigaan terutama dari Pakistan
ke India dan sebaliknya. Tidak mengherankan apabila Pakistan berusaha mencari
senjata pamungkas yakni nuklir sebagai kekuatan penggetar yang kemudian justru
mempercepat kelahiran program senjata nuklir India. Meskipun kedua negara
belum secara terus terang menggelar senjata nuklirnya namun sudah menjadi
pendapat umum bahwa baik Pakistan maupun India memiliki kemampuan
membuat bom atom.

5. Persaingan Pengaruh
Dua negara besar di kawasan ini berusaha saling memantapkan pengaruhnya di
Asia Selatan maupun ikut mempengaruhi negara besar di luar kawasan untuk
masuk ke wilayah itu. Baik persaingan pengaruh antara negara adidaya maupun
persaingan pengaruh domestik ikut mewarnai percaturan diplomasi di Asia
Selatan. India dan Pakistan berusaha untuk menjadi regional leader meskipun
secara de facto sebenarnya India yang bisa dikatakan pemimpin kawasan.

6. Kerja Sama Ekonomi


Meskipun terjadi persaingan untuk memperbutkan pengaruh dan saling curiga
yang terus menerus namun kerja sama ekonomi dan teknik telah menjadi bagian
dari kawasan Asia Selatan. Pertukaran budaya dan informasi seperti tidak
terpengaruh oleh ketegangan yang diciptakan oleh para pemimpin politik dan
militer kedua negara. Terbentuknya SAARC merupakan puncak dari kesadaran
adanya usaha kerja sama.

2
III. Kesimpulan
Secara singkat dapat disimpulkan bahwa tata hubungan internasional di Asia
Selatan banyak dipengaruhi oleh persaingan Pakistan dan India. Hubungan kedua
negara ini banyak mempengaruhi suasana di kawasan ini. Semakin tegang kedua
negara maka suhu kawasan pun meningkat. Misalnya, saat terbentuk
pemerintahan India di bawah Partai Bharatiya Janata, (BJP) maka Pakistan segera
meningkatkan kesigaannya karena partai itu berideologikan Nasionalis Hindu
yang berbeda dengan Partai Kongres yang flatformnya sosialis sekuler.

Daftar Pustaka

Calvocoressi, Peter, World Politics Since 1945. London: Longman, 1996.

Rudi, Teuku May, Studi Kawasan : Sejarah Diplimasi dan Perkembangan Politik
di Asia. Bandung: Penerbit Bina Budhaya, 1997.

Robert B, Oakley and Jed C. Snyder, Escalating Tensions in South Asia. Neww
York, Strategic Forum, April 1996

Bhutto, Benazir, Daughter of the East, London: A. Mandarin Paperback, 1988.

Brown, W. Norman, The United States and India, Pakistan, Bangladesh.


Cambridge: Harvard University Press, 1972.

Burke, S.M., Mainsprings of Indian and Pakistan foreign policies. Minneapolis:


University of Minnesota Press, 1974.

Spear, Percival, India, Pakistan and the West. London: Oxford University Press,
1958.

Blacburn, Robin (eds), Explosion in a subcontinent: India, Pakistan, Bangladesh


and Ceylon. Middlesex: Penguin, 1975.

Cheema, Pervaiz Iqbal, Conflict and cooperation in the Indian Ocean: Pakistan's
interests and choices. New Delhi: Heritage, 1981.

Campbell, Robert D. Pakistan: Emerging Democracy. New York: D. Van


Nostrand.

Hudson, G.F., Politics, Government, Democracy


Reform and revolution in Asia. London: George Allen & Varvin, 1972.

Rizvi, Hasan Askari, The military and politics in Pakistan. Lahore: Progressive
Publ., 1974.

Sinha, P.B., Nuclear Pakistan: atomic threat to South Asia. New Delhi: Vision
Books, 1980.

3
Palit, D.K., Pakistan's Islamic bomb. New Delhi: Vikas, 1979.

Politics, International Affairs, Nuclear weapon proliferation, Atomic Weapon,


Defence, Military Policy Pakistan

Hugh-Jones, Stephen, The giants of Asia: India, Pakistan, China, Japan. London:
George Allen and Unwin, 1967.

Wink, Andre (ed). Islam, politics and society in South Asia. New Delhi: Manohar,
1991.

Sumber: http://www.the-worldpolitics.com