Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

A. DEFINISI
SC (Sectio Caesarea) adalah suatu pembedahan guna melahirkan anak lewat

insisi pada dinding abdomen dan uterus (Oxom & William, 2010).
Menurut Amru Sofian (2012) Sectio Caesarea adalah suatu cara melahirkan janin

dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut (Amin

& Hardhi, 2013).


Sectio Caesar didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui insisi pada dinding
abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi) (Rasjidi,2009).
Dari beberapa pengertian tentang Sectio Caesarea diatas dapat diambil
kesimpulan bahwa Sectio Caesarea adalah suatu tindakan pembedahan yang
tujuannya untuk mengeluarkan janin dengan cara melakukan sayatan pada
dinding abdomen dan dinding uterus.
B. ETIOLOGI
Indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan
antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres
dan janin besar melebihi 4.000 gram.
Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab
sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak
dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan
beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang
harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami.
Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga
dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus
dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk
rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi
abnormal.
2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah
perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab
kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan.
Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan
mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi.
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar

1
ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di
bawah 36 minggu.
4. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena
kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi
daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami
sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara
normal.
5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak
memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada
jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.
6. Kelainan Letak Janin
A. Kelainan Pada Letak Kepala
 Letak kepala tengadah, Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada
pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya
kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati,
kerusakan dasar panggul.
 Presentasi muka, Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian
kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi,
kira-kira 0,27-0,5 %.
 Presentasi dahi, Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada
pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu,
biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau
letak belakang kepala.
B. Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang
dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum
uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong,
presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak
sempurna dan presentasi kaki (Saifuddin, 2002).

C. KLASIFIKASI
1. Abdomen ( Sectio Caesarea Abdominalis )
a) Sectio Caesarea Transperitonealis
Sectio Caesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang pada
corpus uteri. Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada
corpus uteri kira – kira 10 cm.
Kelebihan:
- Mengeluarkan janin lebih cepat
- Tidak menyebabkan komplikasi tertariknya vesica urinaria
- Sayatan bisa diperpanjang proximal atau distal.
Kekurangan :
- Mudah terjadi penyebaran infeksi intra abdominal karena tidak ada
retroperitonealisasi yang baik.

2
- Sering terjadi rupture uteri pada persalinan berikutnya.
b. Sectio Caesarea ismika atau profunda atau low cervical dengan insisi
pada segmen bawah rahim.
Dilakukan dengan membuat sayatan melintang ( konkaf ) pada segmen
bawah rahim, kira – kira 10 cm.
Kelebihan:
- Penutupan luka lebih mudah.
- Penutupan luka dengan retroperitonealisasi yang baik.
- Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan
penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum.
- Perdarahan kurang.
- Kemungkinan terjadi rupture uteri spontan kurang / lebih kecil dari
pada cara klasik.
Kekurangan:
- Luka dapat melebar ke kiri , ke kanan dan ke bawah sehingga dapat
menyebabkan arteri Uterina putus sehingga terjadi pendarahan hebat.
- Keluhan pada vesica urinaria post operatif tinggi.
c. Sectio Caesarea Extraperitonealis yaitu tanpa membuka peritoneum
parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdomen.
2. Vagina (Sectio Caesarea Vaginalis)
Menurut arah sayatan rahim, section caesarea dapat dilakukan sebagai
berikut:
- Sayatan memanjang (longitudinal)
- Sayatan melintang (transversal)
- Sayatan huruf T (T incision)
D. PATOFISIOLOGI
SC merupakan tindakan untuk melahirkan bayi dengan berat di atas 500 gr
dengan sayatan pada dinding uterus yang masih utuh. Indikasi dilakukan tindakan
ini yaitu distorsi kepala panggul, disfungsi uterus, distorsia jaringan lunak,
placenta previa dll, untuk ibu.
Sedangkan untuk janin adalah gawat janin. Janin besar dan letak lintang setelah
dilakukan SC ibu akan mengalami adaptasi post partum baik dari aspek kognitif
berupa kurang pengetahuan. Akibat kurang informasi dan dari aspek fisiologis
yaitu produk oxsitosin yang tidak adekuat akan mengakibatkan ASI yang keluar
hanya sedikit, luka dari insisi akan menjadi post de entris bagi kuman. Oleh
karena itu perlu diberikan antibiotik dan perawatan luka dengan prinsip steril.
Nyeri adalah salah utama karena insisi yang mengakibatkan gangguan rasa
nyaman.
Sebelum dilakukan operasi pasien perlu dilakukan anestesi bisa bersifat regional
dan umum. Namun anestesi umum lebih banyak pengaruhnya terhadap janin
maupun ibu anestesi janin sehingga kadang-kadang bayi lahir dalam keadaan
upnoe yang tidak dapat diatasi dengan mudah.
Akibatnya janin bisa mati, sedangkan pengaruhnya anestesi bagi ibu sendiri yaitu
terhadap tonus uteri berupa atonia uteri sehingga darah banyak yang keluar.
Untuk pengaruh terhadap nafas yaitu jalan nafas yang tidak efektif akibat sekret
yan berlebihan karena kerja otot nafas silia yang menutup. Anestesi ini juga
mempengaruhi saluran pencernaan dengan menurunkan mobilitas usus.

3
Seperti yang telah diketahui setelah makanan masuk lambung akan terjadi proses
penghancuran dengan bantuan peristaltik usus. Kemudian diserap untuk
metabolisme sehingga tubuh memperoleh energi. Akibat dari mortilitas yang
menurun maka peristaltik juga menurun.
Makanan yang ada di lambung akan menumpuk dan karena reflek untuk batuk
juga menurun. Maka pasien sangat beresiko terhadap aspirasi sehingga perlu
dipasang pipa endotracheal. Selain itu motilitas yang menurun juga berakibat
pada perubahan pola eliminasi yaitu konstipasi (Saifuddin, Mansjoer &
Prawirohardjo,2002).

4
F. PATHWAY

Faktor Ibu : Faktor Bayi :


- CPD (Chepalo Pelvik Disproportion) - KPD (Ketuban Pecah Dini)
- PEB (Pre Eklamsi Berat - Bayi kembar
- Faktor Hambat Jalan Lahir
- Kelainan Letak Janin
Tindakan SC

Intra Operasi
Pre Operasi Post Operasi

Kurangnya Informasi Pelepasan Pembatasan Dampak Anastesi Luka


Anastesi Masuk ruangan Insisi Bedah
Mengenai Prosedur mediator nyeri cairan
Pembedahan Operasi peroral
(BHSP) Perdarahan SAB Terputusnya Luka
Penurunan Saraf Inkontinuitas terpapar
Simpatis Suhu ruangan Resiko
Respon Nyeri Jaringan dunia luar
Ancaman rendah Regenerasi
ketidak
Kematian sel darah
seimbangan
Nyeri
Risiko Doek SterilKondisi
Tipis diri Merangsang
cairanmerah Perkembang
Krisis Situasional Akut
Cidera menurun pengeluaran biakan
Histamin dan kuman dan
Ketidak mampuan Penurunan HB prostaglandi bakteri
Hipotermi
miksi Bedrest n
Ansietas Penurunan suplai
Risiko
O2 dan sirkulasi Gangguan
Gangguan Penurunan Infeksi
Eliminasi Urin Mobilitas
Peristaltik
Risiko Aspirasi Fisik Nyeri
Akut
Konstipasi 5
E. KOMPLIKASI
Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain :
1. Infeksi puerperal ( Nifas )
- Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari
- Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut
sedikit kembung
- Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik
2. Perdarahan
- Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka
- Perdarahan pada plasenta bed
3. Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila
peritonealisasi terlalu tinggi
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Pemantauan janin terhadap kesehatan janin
- Pemantauan EKG
- Elektrolit
- Hemoglobin/Hematokrit
- Golongan darah
- Urinalisis
- Amniosentesis terhadap maturitas paru janin sesuai indikasi
- Pemeriksaan sinar x sesuai indikasi.
- Ultrasound sesuai pesanan
G. PENATALAKSANAAN
a. Perawatan awal
 Letakan pasien dalam posisi pemulihan
 Periksa kondisi pasien, cek tanda vital tiap 15 menit selama 1 jam pertama,
kemudian tiap 30 menit jam berikutnya. Periksa tingkat kesadaran tiap 15
menit sampai sadar
 Yakinkan jalan nafas bersih dan cukup ventilasi
 Transfusi jika diperlukan
 Jika tanda vital dan hematokrit turun walau diberikan transfusi, segera
kembalikan ke kamar bedah kemungkinan terjadi perdarahan pasca bedah
b. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10
jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
c. Mobilisasi
 Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi :
 Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi
 Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang
sedini mungkin setelah sadar
 Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit
dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
 Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah
duduk (semifowler)

6
 Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan
sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
d. Fungsi gastrointestinal
 Jika tindakan tidak berat beri pasien diit cair
 Jika ada tanda infeksi , tunggu bising usus timbul
 Jika pasien bisa flatus mulai berikan makanan padat
 Pemberian infus diteruskan sampai pasien bisa minum dengan baik
e. Perawatan fungsi kandung kemih
 Jika urin jernih, kateter dilepas 8 jam setelah pembedahan atau sesudah
semalam
 Jika urin tidak jernih biarkan kateter terpasang sampai urin jernih
 Jika terjadi perlukaan pada kandung kemih biarkan kateter terpasang
sampai minimum 7 hari atau urin jernih.
 Jika sudah tidak memakai antibiotika berikan nirofurantoin 100 mg per
oral per hari sampai kateter dilepas
 Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak
pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
f. Pembalutan dan perawatan luka
 Jika pada pembalut luka terjadi perdarahan atau keluar cairan tidak
terlalu banyak jangan mengganti pembalut
 Jika pembalut agak kendor , jangan ganti pembalut, tapi beri plester
untuk mengencangkan
 Ganti pembalut dengan cara steril
 Luka harus dijaga agar tetap kering dan bersih
 Jahitan fasia adalah utama dalam bedah abdomen, angkat jahitan kulit
dilakukan pada hari kelima pasca SC
g. Jika masih terdapat perdarahan
 Lakukan masase uterus
 Beri oksitosin 10 unit dalam 500 ml cairan I.V. (garam fisiologik atau
RL) 60 tetes/menit, ergometrin 0,2 mg I.M. dan prostaglandin
h. Jika terdapat tanda infeksi, berikan antibiotika kombinasi sampai pasien
bebas demam selama 48 jam :
 Ampisilin 2 g I.V. setiap 6 jam
 Ditambah gentamisin 5 mg/kg berat badan I.V. setiap 8 jam
 Ditambah metronidazol 500 mg I.V. setiap 8 jam
i. Analgesik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
 Pemberian analgesia sesudah bedah sangat penting
 Supositoria = ketopropen sup 2x/ 24 jam
 Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
 Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C

7
j. Hal – Hal lain yang perlu diperhatikan:
 Paska bedah penderita dirawat dan diobservasi kemungkinan
komplikasi berupa perdarahan dan hematoma pada daerah operasi
 Pasca operasi perlu dilakukan drainase untuk mencegah terjadinya
hematoma.
 Pasien dibaringkan dengan posisi semi fowler (berbaring dengan lutut
ditekuk) agar diding abdomen tidak tegang.
 Diusahakan agar penderita tidak batuk atau menangis.
 Lakukan perawatan luka untuk mencegah terjadiny infeksi
 Dalam waktu 1 bulan jangan mengangkut barang yang berat.
 Selama waktu 3 bulan tidak boleh melakukan kegiatan yang dapat
menaikkan tekanan intra abdomen
 Pengkajian difokuskan pada kelancaran saluran nafas, karena bila
terjadi obstruksi kemungkinan terjadi gangguan ventilasi yang mungkin
disebab-kan karena pengaruh obat-obatan, anestetik, narkotik dan
karena tekanan diafragma. Selain itu juga penting untuk
mempertahankan sirkulasi dengan mewaspadai terjadinya hipotensi dan
aritmia kardiak. Oleh karena itu perlu memantau TTV setiap 10-15
menit dan kesadaran selama 2 jam dan 4 jam sekali.
 Keseimbangan cairan dan elektrolit, kenyamanan fisik berupa nyeri dan
kenya-manan psikologis juga perlu dikaji sehingga perlu adanya
orientasi dan bimbingan kegi-atan post op seperti ambulasi dan nafas
dalam untuk mempercepat hilangnya pengaruh anestesi.
 Perawatan pasca operasi, Jadwal pemeriksaan ulang tekanan darah,
frekuensi nadi dan nafas. Jadwal pengukuran jumlah produksi urin
Berikan infus dengan jelas, singkat dan terinci bila dijumpai adanya
penyimpangan
 Penatalaksanaan medis, Cairan IV sesuai indikasi. Anestesia; regional
atau general Perjanjian dari orang terdekat untuk tujuan sectio caesaria.
Tes laboratorium/diagnostik sesuai indikasi. Pemberian oksitosin sesuai
indikasi. Tanda vital per protokol ruangan pemulihan, Persiapan kulit
pembedahan abdomen, Persetujuan ditandatangani. Pemasangan kateter
fole

8
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Menganalisisnya sehingga dapat diketahui masalah dan kebutuhan perawatan

bagi klien. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :


a) Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi : nama,

umur agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, dan

alamat.
b) Keluhan utama :
c) Riwayat Kesehatan :
- Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke

rumah sakit atau pada saat pengkajian


- Riwayat kesehatan masalalu
d) Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami oleh

klien, jenis pembedahan, kapan, oleh siapa dan dimana tindakan tersebut

berlangsung.
e) Riwayat yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang pernah dialami

oleh klien misalnya DM, Jantung, Hipertensi, masalah ginekologi/ urinary,

penyakit endokrin, dan penyakit lainnya.


f) Riwayat penyakit keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram tersebut

dapat diidentifikasi mengenai penyakit turunan dan penyakit menular yang

terdapat dalam keluarga.

9
g) Riwayat Kesehatan Reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus menstruasi,

lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya dismenorhoe serta

kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan yang menyertainya.


h) Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas: Kaji bagaimana keadaan anak

klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana keadaan

kesehatan anaknya.
i) Riwayat seksual: Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis kontrasepsi

yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.


j) Riwayat pemakaian obat: Kaji riwayat pemakaian obat-obatan kontrasepsi

oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.


k) Pola aktivitas sehari-hari: Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,

eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik

sebelum dan saat sakit.


l) Pemeriksaan Fisik Head to toe :
Melihat keadaan umum dan mengukur secara keseluruhan mulai dari TTV

sampai TB & BB.


1. Pemeriksaan Kepala dan Rambut:
- Inspeksi : Periksa bentuk, keadaan rambut, warna, kebersihan
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan, benjolan, odema, masa
2. Hidung :
- Inspeksi : Periksa warna kulit, ada pernafasan cuping hidung, adanya

sumbatan jalan nafas


3. Telinga :
- Inspeksi : Periksa warna kulit, kesimetrisan antara telinga kanan dan

telinga kiri, kebersihan, adanya lesi/tidak, fungsi pendengaran.


- Palpasi : Periksa adanya benjolan, masa.
4. Mata :
- Inspeksi : Periksa pupil mata, konjungtiva, sclera, kesimetrisan

antara kanan dan kiri.


- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan, adanya benjolan
5. Mulut, Gigi, Lidah, Tonsil dan Pharing
- Inspeksi : Mulut (mukosa bibir), Gigi (kebersihan), Lidah

(Kebersihan), Tonsil (Adanya pembesaran/tidak)


- Palpasi : Periksa adanya benjolan, adanya nyeri tekan, adanya masa.
6. Leher dan Tenggorokan :
- Inspeksi : Periksa adanya pembesaran, adanya lesi/tidak, warna sama

dengan sekitar/tidak.
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan, masa, kaji vena junggularis,

arteri karotis & kelnjar limfe/tiroid.


7. Dada/ Thorak :

10
a. Pemeriksaan Paru
- Inspeksi : Periksa kesimetrisan antara dada kanan dan kiri, bentuk

dada, adanya lesi/tidak


- Palpasi : Periksa adanya masa, nyeri tekan, vocal fremitus kanan

dan kiri, odema


- Perkusi : Periksa adanya keabnormalan
- Auskultasi : Periksa adanya suara nafas tambahan seperti rochi/

wheezing
b. Pemeriksaan Jantung
- Inspeksi : Periksa Ictus Cordis
- Palpasi : Periksa Ictus Cordis teraba pada ICS berapa
- Perkusi : Periksa batas kanan atas, kanan bawah, kiri atas, kiri

bawah jantung
- Auskultasi : Periksa adanya suara tambahan seperti Mur-Mur
8. Payudara :
- Inspeksi : Periksa aerola, putting, adanya lesi/tidak, kesimetrisan.
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan, adanya benjolan,

pengeluaran ASI, adanya abses, pembengkakan atau ASI terhenti


9. Abdomen :
- Inspeksi : Periksa strie, warna kulit, luka bekas operasi
- Auskultasi : Periksa bising usus, DJJ
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan, tinggi fundus uteri
- Perkusi : Periksa keabnormalan hepar, lambung, apendik, usus
10. Genetalia dan Anus :
 Genetalia :
- Inspeksi : Periksa terpasang selang kateter/tidak, perdarahan

pervagina, pengeluaran lokhea, adanya pembengkakan, adanya

luka
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan/tidak
 Anus :
- Inspeksi : Periksa kebersihan, adanya hemoroid/tidak
- Palpasi : Periksa adanya nyeri tekan/tidak, benjolan
11. Ekstremitas, kuku dan kekuatan otot
- Ektremitas : Periksa terpasang selang infus, nyeri tekan kelainan
- Kuku : Periksa kebersihan
- Kekuatan otot
12. Pemeriksaan Penunjang
a) Pemeriksaan Darah
Beberapa uji laboratorium biasa segera dilakukan

padaperiodepasca partum. Nilai hemoglobin dan hematokrit

seringkalidibutuhkan pada hari pertama pada partumuntuk

mengkajikehilangan darah pada melahirkan.


b) Pemeriksaan urin

11
Pegambilan sampel urin dilakukan dengan menggunakan

cateteratau dengan tehnik pengambilan bersih (clean-cath)

spisimen inidikirim ke laboratorium untuk dilakukan urinalisis

rutin atau kulturdan sensitivitas terutama jika cateter indwelling di

pakai selamapasca inpartum. Selain itu catatan prenatal ibu harus

di kaji untukmenentukan status rubelle dan rhesus dan kebutuhan

therapy yang mungkin.


13. Data lain-lain :
Kaji mengenai perawat dan pengobatan yang telah diberikan selama

dirawat di RS
- Data psikososial : Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana

pola komunikasi dalam keluarga, hal yang menjadi bahan pikiran

klien dan mekanisme koping yang digunakan.


- Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME

dan kegiatan keagamaan yang bisa dilakukan.


B. DIAGNOSA
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada keperawatan pre operatif, intra

operatif, post operatif :


a) Diagnosa Keperawatan Pre Operatif
1. Nyeri Akut b.d agen injury biologi
2. Ansietas b.d prosedur pembedahan
b) Diagnosa Keperawatan Intra Operatif
1. Resiko Hipotermi b.d terpajan lingkungan yang dingin
c) Diagnosa Keperawatan Pot Operatif
1. Nyeri Akut b.d agen cedera fisik prosedur bedah
2. Gangguan Mobilitas Fisik b.d kelemahan
3. Resiko ketidakseimbangan cairan b.d pembatasan cairan
4. Risiko Infeksi b.d perdarahan, luka post operasi
5. Konstipasi b.d perubahan kebiasaan makan (mis. Jenis makanan, jadwal

makan)
C. INTERVENSI
a) Diagnosa Keperawatan Pre Operatif
1. Nyeri Akut b.d agen injury biologi
Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Kaji lokasi nyeri, tingkat nyeri, dan intensitas nyeri
- Observasi reaksi non verbal dan ketidak nyamanan
2. Ansietas b.d prosedur pembedahan
Intervensi :
- Observasi keadaan pasien dan tanda-tanda vital
- Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang akan dirasakan klien

selama prosedur

12
- Beri motivasi pada klien terkait pembedahan yang akan dilakukan
- Instruksikan klien untuk menggunakan teknik distraksi relaksasi
b) Diagnosa Keperawatan Intra Operatif
1. Resiko Infeksi b.d kulit yang rusak, pemajanan lingkungan
Intervensi :
- Pastikan bahwa semua tim bedah telah melakukan cuci tangan

dengan benar
- Lakukan tindakan aseptic area pembedahan dan pasang duk steril

pada area pembedahan


- Pastikan kadaluarsa instrument yang digunakan
- Gunakan duk steril
- Atur suhu ruangan
2. Hipotermi b.d terpajan lingkungan yang dingin
Intervensi :
- Kaji tanda-tanda vital
- Berikan duk steril yang hangat dan tebal
- Atur suhu ruangan
c) Diagnosa Keperawatan Pot Operatif
1. Nyeri Akut b.d agen cedera fisik prosedur bedah
Intervensi :
- Observasi tanda-tanda vital
- Posisikan pasien senyaman mungkin
- Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya.
- Ajarkan teknik distraksi
- Kolaborasi pemberian analgetik
- Kaji intensitas, karakteristik, dan derajat nyeri
2. Gangguan Mobilitas Fisik b.d kelemahan
Intervensi :
- Pantau kemampuan klien dalam beraktivitas
- Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya
- Bantu klien untuk mobilisasi secara bertahap
- Berikan pendidikan kesehatan perihal tentang pentingnya mobilisasi

post SC
3. Resiko Ketidakseimbangan cairan b.d pembatasan cairan peroral
Intervensi:
- Kaji kondisi status hemodinamika.
- Ukur pengeluaran harian
- Berikan sejumlah cairan pengganti harian
- Evaluasi status hemodinamika
- Pantau intake dan output
4. Risiko Infeksi b.d perdarahan, luka post operasi
Intervensi :
- Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah, warna, dan bau

dari luka operasi.


- Terangkan pada klien pentingnya perawatan luka selama masa post

operasi.
- Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart.
- Lakukan perawatan luka
- Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda inveksi

13
5. Konstipasi b.d perubahan kebiasaan makan (mis. Jenis makanan, jadwal

makan)
Intervensi :
- Periksa tanda dan gejala konstipasi
- Periksa pergerakan usus, karakteristik feses (konsistensi, bentuk,

volume, dan warna)


- Identifikasi faktor resiko konstipasi (mis. Obat-obatan, tirah baring,

dan diet rendah serat)


- Anjurkan diet tinggi serat
- Latihan buang air besar secara teratur
- Kolaborasi penggunaan obat pencahar, jika perlu

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &
NANDA NIC NOC, Jilid 1,2. Yogyakarta : Mediaction Publishing.

Oxorn, Harry dan William R. Forte. 2010. Ilmu Kebidanan Patologi & Fisiologi
Persalinan. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica.

Rasjidi, Imam. 2009. Manual Seksio Sesarea & Laparotomi Kelainan Adneksa.
Jakarta : CV Sagung Seto.

14
Saifudin, Adul Bari. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

15