Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN TEORI PADA

PASIEN DENGAN HERNIA NUKLEUS PULPOSUS


DI RUANG AL-AQSA 5 RSU HAJI SURABAYA

Disusun oleh

INTAN AYU AGUSTIN


P27220019276

PROGRAM STUDI PROFESI NERS POLTEKKES SURAKARTA TAHUN


AKADEMIK 2019/ 2020
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HNP


1. Definisi
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah turunnya kandungan annulus
fibrosus dari diskus intervertebralis lumbal pada spinal canal atau rupture annulus
fibrosus dengan tekanan dari nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada
element saraf. Pada umumnya HNP pada lumbal sering terjadi pada L4-L5 dan L5-
S1. Kompresi saraf pada level ini melibatkan root nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan
menyebabkan nyeri dari pantat dan menjalar ketungkai. Kebas dan nyeri menjalar
yang tajam merupakan hal yang sering dirasakan penderita HNP. Weakness pada
grup otot tertentu namun jarang terjadi pada banyak grup otot (Lotke dkk, 2008).
Diskus Intervertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah
bantalan diantara tubuh vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan
dalam satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus
pulposus. HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddarth, 2002).

2. Etiologi
Penyebab dari Hernia Nucleus Pulposus (HNP) biasanya dengan
meningkatnya usia terjadi perubahan degeneratif yang mengakibatkan kurang lentur
dan tipisnya nucleus pulposus. Annulus fibrosus mengalami perubahan karena
digunakan terus menerus. Akibatnya, annulus fibrosus biasanya di daerah lumbal
dapat menyembul atau pecah (Moore dan Agur, 2013)
Hernia nucleus pulposus (HNP) kebanyakan juga disebabkan oleh karena
adanya suatu trauma derajat sedang yang berulang mengenai discus intervertebralis
sehingga menimbulkan sobeknya annulus fibrosus. Pada kebanyakan pasien gejala
trauma bersifat singkat, dan gejala ini disebabkan oleh cidera pada diskus yang tidak
terlihat selama beberapa bulan atau bahkan dalam beberapa tahun. Kemudian pada
generasi diskus kapsulnya mendorong ke arah medulla spinalis, atau mungkin ruptur
dan memungkinkan nucleus pulposus terdorong terhadap sakus doral atau terhadap
saraf spinal saat muncul dari kolumna spinal (Helmi, 2012).
Pengangkatan beban yang berat pada posisi yang tidak benar juga dapat
menyebabkan hernia nukleus pulposus terjadi pada berbagai arah :
1. Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior, hal ini tidak mengakibatkannya
munculnya gejala yang berat kecuali nyeri.
2. Bila menjebolnya nukleus ke arah anterior medial maka dapat menimbulkan
penekanan medulla spinalis dengan akibatnya gangguan fungsi motorik maupun
sensorik pada ektremitas, begitu pula gangguan miksi dan defekasi.
3. Bila menonjolnya ke arah lateral atau dorsal lateral, maka hal ini dapat
menyebabkan tertekannya radiks saraf tepi yang keluar dari sana dan
menyebabkan gejala neuralgia radikuler.
4. Kadangkala protrusi nukleus terjadi ke atas atau ke bawah masuk ke dalam korpus
vetrebal dan disebut dengan nodus Schmorl.

3. Patofisiologi
Pada tahap pertama sobeknya annulus fibrosus bersifat sirkum ferensial.
Karena adanya gaya traumatik yang berulang, sobekan tersebut menjadi lebih besar
dan timbul sobekan radial. Apabila hal ini telah terjadi, maka risiko HNP hanya
menunggu waktu dan trauma berikutnya saja. Gaya presipitasi itu dapat diasumsikan
sebagai gaya traumatik ketika hendak menegakkan badan waktu terpeleset,
mengangkat benda berat dan sebagainya.
Menjebolnya (herniasi) nucleus pulposus dapat mencapai ke korpus tulang
belakang diatas atau di bawahnya. Bisa juga menjebol langsung ke kanalis vertebralis.
Menjebolnya sebagian nucleus pulposus ke dalam korpus vertebra dapat dilihat pada
foto rontgen polos dan dikenal sebagai nodus schmorl. Sobekan sirkum ferensial dan
radial pada annulus fibrosus diskus intervertebralis berikut dengan terbentuknya
nodus schmorl merupakan kelainan yang mendasari low back pain subkronis atau
kronis yang kemudian disusul oleh nyeri sepanjang tungkai yang dikenal sebagai
ischialgia atau siatika. Menjebolnya nucleus pulposus ke kanalis vertebralis berarti
bahwa nucleus pulposus menekan radiks yang bersama-sama dengan arteria
radikularis yang berada dalam lapisan dura. Hal itu terjadi jika penjebolan berada
disisi lateral. Setelah terjadi HNP, sisa discus intervertebralis mengalami lisis,
sehingga dua korpus vertebra bertumpang tindih tanpa ganjalan (Muttaqin, 2008).
4. Pathway
5. Klasifikasi
1. Hernia Diskus Intervertebra Servikalis
Biasanya terjadi antar ruang C5-C6 dan C6-C7 (sekitar 10%). Nyeri dan kekakuan
dapat terjadi pada leher, bagian atas pundak dan daerah skapula. Kadang-kadang
px menginterpretasikan tanda ini sebagai gejala masalah jantung atau bursitis.
Nyeri dapat juga disertai dengan parestesia dan kebas pada ekstremitas atas.
2. Hernia Diskus Lumbal
Banyak terjadi pada L4-L5 atau ruang antara L5-S1 (70-90%). Hernia diskus
lumbal menimbulkan nyeri punggung bawah disertai berbagai derajat gangguan
sensori dan motorik. Px mengeluh nyeri punggung bawah dengan spare otot yang
diikuti dengan penyebaran nyeri ke dalam satu pinggul dan turun ke arah kaki
(skiatika). Nyeri diperberat oleh kegiatan yang menaikkan tekanan cairan
intraspinal (membengkok, mengangkat/mengejan (batuk dan bersin), dan biasanya
berkurang dengan tirah baring. Jika px dibaringkan terlentang dan diusahakan
unguk meninggikan satu kaki dengan posisi lurus, maka nyeri menyebar ke arah
kaki. Karena gerakan yang dilakukan menegangkan saraf skiatik. Tanda
tambahan mencakup kelemahan otot, perubahan reflek rendah, dan kehilangan
sensori.

6. Manifestasi Klinis
1. Kompresi Radiks L3
a. Daerah nyeri dan hipestasi samping panggul dan bagian depan paha
b. Kelemahan kuadriseps femoris
c. Refleks tendon patella (RTP) menurun
2. Kompresi Radiks L
a. Daerah nyeri dan hipestasi samping panggul dan bagian depan paha
b. Kelemahan kuadriseps femoris
c. Refleks tendon patella (RTP) menurun
d. Tanda lasseque positif pada 50% penderita
3. Kompresi Radiks L5
a. Daerah nyeri/hipestasi sepanjang samping tungkai sampai ibu jari kaki
b. Otot ekstensi/fleksi ibu jari kaki melemah
c. Tanda lasseque positif
4. Kompresi Radiks S1
a. Daerah nyeri/hipestasi sepanjang samping tungkai sampai ibu jari kaki
b. Refleks tendon patella (RTP) menurun
c. Tanda lasseque positif
7. Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Tujuan : Mengurangi tekanan pada radiks saraf untuk mengurangi nyeri dan
mengubah defisit neurologik.
Macam :
a. Disektomi : Mengangkat fragmen herniasi atau yang keluar dari diskus
intervertebral
b. Laminektomi : Mengangkat lamina untuk memajankan elemen neural pada
kanalis spinalis, memungkinkan ahli bedah untuk menginspeksi kanalis
spinalis, mengidentifikasi dan mengangkat patologi dan menghilangkan
kompresi medula dan radiks.
c. Laminotomi : Pembagian lamina vertebra.
d. Disektomi dengan peleburan
2. Traksi
Traksi servikal yang disertai dengan penyanggah kepala yang dikaitkan pada
katrol dan beban.
3. Meredakan Nyeri
Kompres lembab panas, analgesik, sedatif, relaksan otot, obat anti inflamasi dan
jika perlu kortikosteroid.
4. Terapi Konservatif
a. Tirah baring, berguna untuk mengurangi rasa nyeri mekanik dan tekanan
intradiskal.
b. Medikamentosa :
1) Analgetik dan NSAID
2) Muscle relaxant
3) Kortikosteroid oral
4) Analgetik adjuvant
c. Rehabilitasi medik:
1) Traksi pelvis
2) Termoterapi (terapi panas)
3) Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
4) Korset lumbal
5) Latihan dan modifikasi gaya hidup dengan menurunkan berat badan yang
berlebihan.
8. Pemeriksaan Penunjang
1. MRI : Untuk melokalisasi protusi diskus
2. CT Scan
3. Mielogram
4. Pemeriksaan Neurologik : Untuk menentukan jika ada kerusakan refleks, sensori,
motorik karena kompresi radiks
5. EMG (elektromiografi) : Untuk melokalisasi radiks saraf spinal khusus yang
terkena

9. Komplikasi
Kebanyakan komplikasi HNP berupa kompliksasi pasca operasi
1. Komplikasi potensial untuk pendekatan anterior
a. Cedera arteri karotid atau a vertebral
b. Disfungsi saraf laringeus berulang
c. Perforasi esofagus
d. Obstruksi jalan nafas
2. Komplikasi pendekatan posterior
a. Retraksi/kontusio salah satu struktur
b. Kelemahan otot-otot yang dipersyarafi radiks saraf atau medula
3. Komplikasi bedah diskus
a. Terjadi pengulangan herniasi pada tempat yang sama atau tempat lain
b. Radang pada mebran arachnoid
c. Rasa nyeri seperti terbakar pada derah belakang bagian bawah yang
menyebar ke daerah bokon
d. Sayatan dapat meninggalkan perlekatan dan jaringan parut di sekitar saraf
spinal dan dura, yang akibat radang dapat menyebabkabn neurotik kronik atau
neurofibrosi
e. Cedera syaraf dan jaringan
f. Sindrom diskus gagal (pegal berulang pada pinggul setelah disektomi lumbal)
dapat menetap dan biasanya menyebabkan ketidakmampuan

10. Pencegahan
1. Olahraga, hal ini akan menjaga kelenturan dan kekuatan otot
2. Menghindari aktivitas berulang (repetitif)
3. Mengontrol berat badan sehingga tekanan pada tulang belakang tidak besar
4. Duduk dengan sikap tubuh yang benar
5. Hindari mengendara dalam waktu yang lama
6. Mempelajari teknik mengangkat yang benar.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
HNP terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis kelamin pria dan
pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat baran berat atau mendorong benda
berat)
b. Keluhan utama
Nyeri pada punggung bawah P, trauma (mengangkat atau mendorong benda berat)
Q, sifat nyeri seperti ditusuk-tusuk atau seperti disayat, mendenyut, seperti kena
api, nyeri tumpul atau kemeng yang terus-menerus. Penyebaran nyeri apakah
bersifat nyeri radikular atau nyeri acuan (referred fain). Nyeri tadi bersifat
menetap, atau hilang timbul, makin lama makin nyeri . R, letak atau lokasi nyeri
menunjukkan nyeri dengan setepat-tepatnya sehingga letak nyeri dapat diketahui
dengan cermat. S, Pengaruh posisi tubuh atau atau anggota tubuh berkaitan dengan
aktivitas tubuh, posisi yang bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan
memperberat nyeri. Pengaruh pada aktivitas yang menimbulkan rasa nyeri seperti
berjalan, turun tangga, menyapu, gerakan yang mendesak. Obat-oabata yang
ssedang diminum seperti analgetik, berapa lama diminumkan. T Sifanya akut, sub
akut, perlahan-lahan atau bertahap, bersifat menetap, hilng timbul, makin lama
makin nyeri.
c. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya di dahului dengan kaki kesemutan pasien mempunyai riwayat pernah
jatuh atau sering mengangkat atau mendorong beban berat yang mengakibatkan
tulang belakang bermasalah dan dilakukan operasi.
d. Riwayat penyakit dahulu
. Apakah klien pernah menderita Tb tulang, osteomilitis, keganasan (mieloma
multipleks), metabolik (osteoporosis)
- Riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, bisa menimbulkan nyeri
punggung bawah
e. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
f. Pola kebutuhan
1. Pola persepsi dan tata laksana terhadap sehat :
Biasanya klien merasakan kecemasan terhadap kondisi penyakitnya dan
proses penyembuhan.
2. Personal hygiene
Tergantung terhadap keluarga yang merawat dalam memenuhi kebutuhan diri
sendiri
3. Pola nutrisi dan metabolisme
Tidak ada penurunan berat badan
4. Pola aktivitas
Kebanyakan dibantu oleh keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dirinya
5. Pola eliminasi
Biasanya terpasang dower kateter karena kelemahan untuk kencing secara
spontan
6. Pola istirahat / tidur
Tidak ada kesulitan dalam tidur
7. Pola tata nilai dan kepercayaan
Tidak ada tata nilai kepercayaan tertentu
g. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan Umum :
Keadaan HNP umumnya tidak mengalami penurunan kesadaran. Adanya
perubahn pada tanda – tanda vital, contohnya bradikardi yang menyebabkan
hipotensi yang berhubungan dengan penurunan
2. Tanda – tanda vital : tingkat keterjagaan klien biasanya composmentis
3. Pemeriksaan persystem
1). B1 (breathing)
Jika tidak mengganggu sistem pernapsan biasanya didapatkan; pada
inspeksi, ditemukan tidak ada batuk, tidak ada sesak napas, dan frekuensi
pernapasan normal; palpasi taktil fremitus seimbang kanan dan kiri. Pada
perkusi, terdapat suara resonan pada seluruh lapang paru. Auskultasi tidak
terdengar bunyi napas tambahan.
2). B2 (blood)
Jika tidak ada gangguan pada sistem kardiovaskuler, biasanya nadi
kualitas dan frekuensi nadi normal, dan auskultasi tidak ditemukan bunyi
jantung tambahan
3). B3 (brain)
Kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya ungulus,
pelvis miring/ asimetris, muskulatur paravertebral atau pantat yang
asimetris, postur tungkai yang abnormal. Hambatan pada pergerakan
punggung, pelvis dan tungkai selama pergerak.
Fungsi serebral : observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya bicara,
ekspresi wajah dan aktivitas motoric. Pada klien yang telah lama
menderita HNP biasanya status mental klien mengalami perubahn.
Fungsi saraf kranial :
- Saraf I : biasanya pada klien HNP tidak ada kelainan pada fungsi
penciuman
- Saraf II : tes ketajaman pengelihatan pada kondisi normal
- Saraf III, IV dan IV : biasanya tidak mengalami gangguan mengangkat
kelopak mata, pupil isokor
- Saraf V : pada klien HNP umunya tidak didapatkan paralisis pada otot
wajah dan reflex kornea biasanya tidak ada kelainan.
- Saraf VII : persepsi pengeccapan dalam batas normal, wajah simetris
- Saraf : VIII : tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan utli persepsi
- Saraf IV dan X : kemampuan menelan baik
- Saraf XI : tidak ada otrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius
- Saraf XII : lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi tidak ada
fasikulasi. Indara pengecapan normal.

Fungsi sistem Motorik : Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungaki
bawah, kaki, ibu jari, dan jari lainnya menyuruh klien untuk melakukan
gerak fleksi dan ekstensi dengan menahan gerakan. Atrofi otot pada
maleolus atau kaput fibula dengan membandingkan anggota tubuh kanan
kiri. Fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada otot-otot
tertentu.
Pengakjian Refleks : Refleks achiles pada HNP lateral L 4-5 negatif,
sedangkan refleks lutut/patela pada HNP di L 4-5 negatif

Pengkajian sistem sensorik : Pemeriksaan sensasi raba, nyeri, suhu,


profunda dan sensai getaran (vibrasi) untuk menentukan dermatom yang
tergaggun sehingga dapat ditentukan pula radiks mana yang terganggu.
Palpasi dan perkusi harus dikerjakan dengan hati-hati atau cermat sehingga
tidak membingungkan klien. Palpasi di mulai dari area nyeri yang ringan
ke arah yang paling terasa nyeri. Nyeri pinggang bawah yang intermiten
(dalam beberapa minggu sampai beberapa tahun) nyeri menjalar sesuai
dengan distribusi syaraf skhiatik. Sifat nyeri khas dari posisi berbaring
keduduk, nyeri mulai dari bokong dan terus menjalar kebagian belakang
lutut, kemudian ke tungkai bawah. Nyeri berambah hebat karena pencetus
seperti gerakan-gerakan pingggang batuk atau mengejang, berdiri atau
duduk untuk jangka waktu yang lama dan nyeri berkurang jika berbaring.
Penderita sering mengeluh kesemutan (parestisia) atau baal bahkan
kekuatan otot menurun sesuai dengan distribusi persarafan yang terlibat.
Nyeri bertambah jika ditekan daerah L5-S1(garis antara dua krista liraka).

4). B4 (bladder)
Kaji keadaan urine meliputi warna, jumlah, dan karekteristik urine,
termasuk berat jenis urine. Penurunan jumlah urine dan peningkatan retensi
cairan dapat terjadi akibat menurunnya perfusi pada ginjal
5). B5 (bowel)
Pemenuhan nutrisi berkurang karena adannya mual dan asupan nutrisi yang
kurang. Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada
tidaknya lesi pada mulut atau perubahan pada lidah dapat menunjukkan
adanya dehidrasi.
6). B6 (bone)
Adanya kesulitan untuk beraktivitas dan menggerakkan badan karena
adanya nyeri, kelemahan, kehilangan sensori, serta mudah lelah
menyebabkan masalah pada pola aktivitas dan istirahat.
o Look. Kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya
angulus, pelvis yang miring/asimetris, muskulatur paravertebral atau
pantat yang asimetris, dan postur tungkai yang abnormal.
o Feel. Ketika meraba kolumna vertebralis dicari kemungkinan adanya
deviasi kelateral atau antero-posterior. Palpasi dari area dengan rasa
nyeri ringan kearah yang paling terasa nyeri.
o Move. Adanya kesulitan atau hambatan dalam melakukan pergerakan
punggung, pelvis, dan tungkai selama bergerak.

8. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan penyempitan saraf pada diskus intervertebralis,
tekanan di area distribusi ujung saraf
2. Resiko tinggi trauma yang berhubungan dengan hambatan mobilitas fisik,
kesulitan atau hambatan dalam melakukan pergerakan punggung, pelvis, dan
tungkai.
3. Gangguan ADL yang berhubungan dengan kelemahan fisik umum,
himepereses/hemiplegia
4. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas, tidak
adekuatnya sirkulasi perifer, tirah baring lam
5. Koping tidak efektif yang berhubungan dengan prognosis kondisi sakit, program
pengobatan, tirah baring lama.

9. Intervensi
NYERI AKUT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KOMPRESI SARAF
TEKANAN DI DAERAH DISTRIBUSI UJUNG SARAF
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam nyeri berkurang atau beradaptasi.
Keiteria: secara subjektif melaporka nyeri berkurang atau dapat beradaptasi. Dapat
mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. Klien tidak
gelisah. Skala 0-1 atau teradaptasi.
INTERVENSI RASIONAL
Kaji terhadap nyeri dengan skala 0-4. Nyeri merupakan respons subjektif yang
bisa dikaji dengan menggunakan skala
nyeri. Klien melaporkan nyeri biasanya di
atas tingkat cedera.
Bantu klien dalam identifikasi faktor Nyeri dipengaruhi oleh kecemasan,
pencetus. ketegangan, suhu, distensi kandung
kemih, dan berbaring lama.
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan Pendekatan dengan menggunakan
pereda nyeri nonfamakologi dan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
noninvasif. telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri.
Ajarkan relaksasi: teknik-teknik untuk Akan melancarkan peredaran darah,
menurunkan ketegangan otot rangka, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan
yang dapat menurunkan intensitas nyeri akan terpenuhi, sehingga akan
dan juga tingkatkan relaksasi masase. mengurangi nyerinya
Ajarkan metode distraksi selama nyeri Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-
akut hal yang menyenangkan.
Berikan kesempatan waktu istirahat bila Istirahat akan merelaksasi semua jaringan
terasa nyeri dan berikan posisi yang sehingga akan meningkatkan
nyaman; misal waktu tidur, belakangnya kenyamanan.
dipasang bantal kecil.
Tingkatkan pengetahuan tentang sebab- Pengetahuan yang akan dirasakan
sebab nyeri dan menghubungkan membantu mengurangi nyerinya dan
beberapa lama nyeri akan berlangsung. dapat membantu mengembangkan
kepatuhan klien terhadap rencana
terapeutik.
Observasi tingkat nyeri dan respons Pengkajian yang optimal akan
motorik klien, 30 menit setelah pemberian memberikan perawat data yang objektif
obat analgetik atau mengkaji untuk mencegah kemungkinan
efektivitasnya dan setiap 1-2 jam setelah komplikasi dan melakukan intervensi
tindakan perawatan selama 1-2 hari. yang tepat.
Kolaborasi denaga dokter, pembrian Analgetik memblok lontasan n.yeri,
anlgetik. sehingga nyeri akan berkurang

HAMBATAN MOBILITAS FISIK YANG BERHUBUNGAN DENGAN


KERUSAKAN NEUROMOSKULAR
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai
dengan kemapuannya.
Kriteria: klien dapat ikut serta dalam progran latihan. Tidak terjadi kontraktur sendi,
bertambahnya kekuatan otot, klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan
mobilitas.
INTERVENSI RASIONALISASI
Kaji mobilitas yang ada dan observasi Mengetahui tingkat kemampuan klien
terhadap peningkatan kerusakan. Kaji dalam melakuka aktifitas
secara teratur fungsi motorik.
Ubah posisi klien setiap 2 jam Menurunkan resiko terjadinya iskemia
jaringan akibat sirkulasidarah yang jelek
pada daerah yang terkenah.
Ajarkan klien untuk melakukan latihan Gerakan aktif memberikan massa, tonus
gerak aktif pada ekstrmitas yang tidak dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi
sakit. jantung dan pernaapasan
Lakukan gerak pasif pada ekstremitas Otot volunter akan kehilangan tonus dan
yang sakit. kekuatannya bila tidak dilatih untuk
digerakkan.
Inspeksi kulit bagian diatas setiap hari. Deteksi dini adanya gangguan sirkulasi dan
Pantau kulit dan membran mukosa hilangnya sensasi isiko tinggi kerusakan
terhadap iritasi, kemerahan, atau lecet. integritas kulit kemungkinan komplikasi
imobilisasi.
Bantu klien melakukan latihan ROM, Untuk memelihara fleksibilitas sendi sesuai
perawatan dari sesuai toleransi kemampuan.
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi Peningkatan kemampuan dalalam
untuk latihan fisik klien mobilisasi ekstremitas dapat ditingkatkan
dengan latihan fisik dari tim fisioterapis.

10. Implementasi
Merupakan tahap keempat dari proses keperawatan. Tahap ini dimulai setelah
rencana tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan
yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan manifestasi
koping.

11. Evaluasi
Merupakan tahap terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi merupakan tindakan
elektual untuk melengkapi proses keperwtan yang menandakan seberapa jauh
diagnosa keperawawatan, rencana tindakan dan penatalaksanaanya.
DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arief. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.

Carpenito, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, Jakarta.

Heather, Herdman T. 2015. DIAGNOSIS KEPERAWATAN Definisi & Klasifikasi 2015-


2017 Edisi 10. Jakarta : EGC.

Nurarif, Huda dan Hardhi Kusuma.2015. Aplikasi Asuhan Keperawayan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc Edisi Revisi Jilid 2. Yogyakarta : Mediaction
Publishing.

Anda mungkin juga menyukai