Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN

LANJUT USIA

1.1.Pengertian Lanjut Usia

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah
memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang
telah memasuki tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan
lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan.
Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan
menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh
terhadap berbagai serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada
sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan, pencernaan, endokrin dan lain
sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring meningkatnya usia sehingga terjadi
perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut
pada umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada
akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial lansia. Sehingga secara umum akan
berpengaruh pada activity of daily living (Fatmah, 2010).

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun1998 tentang Kesejahteraan


Lanjut Usia menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Lanjut Usia (lansia) adalah
seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Saat ini, diseluruh dunia jumlah
orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan
diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar (Padila, 2013).

1.2. Batasan-batasan usia lanjut


Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda. Menurut World
Health Organitation (WHO) lansia meliputi:
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun.
Departemen Kesehatan RI (2006) mengelompokkan lansia menjadi:
a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakkan
kematangan jiwa (usia 55-59 tahun)
b. Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki masa usia lanjut
dini (usia 60-64 tahun)
c. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif (usia >65 tahun)

1.3.Tipe Lansia

Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman hidup,


lingkungan, kondisifisik, mental, sosial, dan ekonominya (Nugroho, 2000 dalam buku R.
Siti Maryam, dkk, 2008). Tipe tersebut dapat dibagi sebagai berikut:

1. Tipe arif bijaksana


Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan
zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan,
memenuhi undangan, dan menjadi panutan.
2. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam mencari
pekerjaan, bergauldengan teman, dan memenuhi undangan..
3. Tipe tidak puas
Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi pemarah,
tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik dan banyak menuntut.
4. Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan
melakukan pekerjaan apa saja.
1.4.Proses Penuaan

Tahap dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang maksimal.
Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya jumlah sel-sel yang ada di
dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga akan mengalami penurunan fungsi secara
perlahan-lahan. Itulah yang dikatakan proses penuaan.

Penuaan atau proses terjadinya tua adalah suatu proses menghilangnya secara
perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi serta
memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantinides, 2014). Seiring dengan proses menua
tersebut, tubuh akan mengalami berbagai masalah kesehatan atau yang biasa disebut sebagai
penyakit degeneratif.

1.5.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penuaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi penuaan adalah sebagai berikut: ( R. Siti


Maryam, dkk, 2011)

a. Hereditas (Keturunan/Genetik)
b. Nutrisi (Asupan Makanan)
c. Status Kesehatan
d. Pengalaman Hidup
e. Lingkungan
f. Stress

1.6.Perubahan yang terjadi pada lansia


1. Perubahan fisik
a. Sel
Jumlahnya lebih sedikit tetapi ukurannya lebih besar, berkurangnya cairan intra dan
extra seluler
b. Persarafan
Cepatnya menurun hubungan persarafan, lambat dalam respon waktu untuk
meraksi, mengecilnya saraf panca indra sistem pendengaran, atrofi membran
timpani, terjadinya pengumpulan serum karena meningkatnya keratin
c. Sistem penglihatan
Kornea lebih berbentuk speris, lensa keruh, meningkatnya ambang pengamatan sinar,
hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang pandang.
d. Sistem Kardivaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku , kemampuan jantung memompa darah
menurun 1 % setiap tahun setelah berumur 20 tahun sehingga
menyebabkanmenurunnya kontraksi dan volume, kehilangan elastisitas pembuluh
darah, tekanan darah meningg.
e. Sistem respirasi
Otot-otot pernafasan menjadi kaku sehingga menyebabkan menurunnya aktifitas silia.
Paru kehilangan elastisitasnya sehingga kapasitas residu meingkat, nafas berat.
kedalaman pernafasan menurun.
f. Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi,sehingga menyebabkan gizi buruk, indera pengecap menurun krena
adanya iritasi selaput lendir dan atropi indera pengecap sampai 80 %, kemudian
hilangnya sensitifitas saraf pengecap untuk rasa manis dan asin
g. Sistem genitourinaria
Ginjal mengecil dan nefron menjadi atrofi sehingga aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50 %, GFR menurun sampai 50 %. Nilai ambang ginjal terhadap glukosa
menjadi meningkat. Vesika urinaria, otot-ototnya menjadi melemah, kapasitasnya
menurun sampai 200 cc sehingga vesika urinaria sulit diturunkan pada pria lansia
yang akan berakibat retensia urine. Pembesaran prostat, 75 % dialami oleh pria diatas
55 tahun. Pada vulva terjadi atropi sedang vagina terjadi selaput lendir kering,
elastisitas jaringan menurun, sekresi berkurang dan menjadi alkali.
h. Sistem endokrin
Pada sistem endokrin hampir semua produksi hormon menurun, sedangkan fungsi
paratiroid dan sekresinya tidak berubah, aktifitas tiroid menurun sehingga
menurunkan basal metabolisme rate (BMR). Produksi sel kelamin menurun seperti :
progesteron, estrogen dan testosteron.
i. Sistem integumen
Pada kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kepala dan rambut
menuipis menjadi kelabu, sedangkan rambut dalam telinga dan hidung menebal. Kuku
menjadi keras dan rapuh.
j. Sistem muskuloskeletal
Tulang kehilangan densitasnya dan makin rapuh menjadi kiposis, tinggi badan
menjadi berkurang yang disebut discusine vertebralis menipis, tendon mengkerut dan
atropi serabut serabut otot , sehingga lansia menjadi lamban bergerak, otot kram dan
tremor.

2. Perubahan Mental
Pada umumnya usia lanjut mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor.
Perubahan-perubahan mental ini erat sekali kaitannya dengan perubahan fisik,
keadaan kesehatan, tingkat pendidikan atau pengetahuan serta situasi lingkungan.
Intelegensi diduga secara umum makin mundur terutama faktor penolakan abstrak
mulai lupa terhadap kejadian baru, masih terekam baik kejadian masa lalu. Dari segi
mental emosional sering muncul perasaan pesimis, timbulnya perasaan tidak aman
dan cemas, merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit atau takut ditelantarkan
karena tidak berguna lagi. Munculnya perasaan kurang mampu untuk mandiri serta
cenderung bersifat entrovert.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :


a) Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa
b) Kesehatan umum
c) Tingkat pendidikan
d) Keturunan
e) Lingkungan
f) Kenangan (memori) ada 2 :
- Kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu
- Kenangan jangka pendek : 0-10 menit

3. Perubahan - Perubahan Psikososial


Masalah-masalah ini serta reaksi individu terhadapnya akan sangat beragam,
tergantung pada kepribadian individu yang bersangkutan. Pada saat ini orang yang
telah menjalani kehidupan nya dengan bekerja mendadak diharapkan untuk
menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Bila ia cukup beruntung dan bijaksana,
mempersiapkan diri untuk masa pensiun dengan menciptakan bagi dirinya sendiri
berbagai bidang minat untuk memanfaatkan waktunya, masa pensiunnya akan
memberikan kesempatan untuk menikmati sisa hidupnya. Tetapi bagi banyak pekerja
pensiun berarti terputus dari lingkungan dan teman-teman yang akrab dan
disingkirkan untuk duduk-duduk dirumah atau bermain domino di klub pria lanjut
usia. Perubahan mendadak dalam kehidupan rutin barang tentu membuat mereka
merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna.
4. Minat
Pada umumnya diakui bahwa minat seseorang berubah dalam kuantitas maupun
kualitas pada masa lanjut usia. Lazimnya minat dalam aktifitas fisik cendrung
menurun dengan bertambahnya usia. Kendati perubahan minat pada usia lanjut jelas
berhubungan dengan menurunnya kemampuan fisik, tidak dapat diragukan bahwa hal
hal tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial.
5. Isolasi dan Kesepian
Banyak faktor bergabung sehingga membuat orang lanjut usia terisolasi dari
yang lain. Secara fisik, mereka kurang mampu mengikuti aktivitas yang melibatkan
usaha. Makin menurunnya kualitas organ indera yang mengakibatkan ketulian,
penglihatan yang makin kabur, dan sebagainya. Selanjutnya membuat orang lanjut
usia merasa terputus dari hubungan dengan orang-orang lain.
Faktor lain yang membuat isolasi makin menjadi lebih parah lagi adalah
perubahan sosial, terutama mengendornya ikatan kekeluargaan. Bila orang usia lanjut
tinggal bersama sanak saudaranya, mereka mungkin bersikap toleran terhadapnya,
tetapi jarang menghormatinya. Lebih sering terjadi orang lanjut usia menjadi terisolasi
dalam arti kata yang sebenarnya, karena ia hidup sendiri. Dengan makin lanjutnya
usia, kemampuan mengendalikan perasaan dengan akal melemah dan orang cendrung
kurang dapat mengekang dari dalam prilakunya. Frustasi kecil yang pada tahap usia
yang lebih muda tidak menimbulkan masalah, pada tahap ini membangkitkan luapan
emosi dan mereka mungkin bereaksi dengan ledakan amarah atau sangat tersinggung
terhadap peristiwa-peristiwa yang menurut kita tampaknya sepele.

6. Perubahan Spritual.
a. Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupan
b. Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaanya, hal ini terlihat dalam berfikir
dan bertindak dalam sehari-hari
c. Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun
d. Universalizing, perkembangan yang dicapai pada tingkat ini adalah berpikir dan
bertindak dengan cara memberikan contoh cara mencintai keadilan.

7. Masalah Nutrisi
a. Pengertian

Gizi kurang adalah kekurangan zat gizi baik mikro maupun makro.

b. Penyebab
1. Penurunan ataau kehilangan sensitifitas indra pengecap &penciuman
2. Penyakit periodental ( terjadi pada 80% lansia) atau kehilangan gigi
3. Penurunan sekresi asam lambung dan enzim pencernaan
4. Penurunan mobilitas saluran pencernaan makanan
5. Penggunaan obat-obatan jangka panjang
6. Gangguan kemampuan motorik
7. Kurang bersosialisasi, kesepian
8. Pendapatan yang menurun (pensiun)
9. Penyakit infeksi kronis
10. Penyakit keganasan
DAFTAR PUSTAKA

Wilson, Angeline. 2017. HUBUNGAN INKONTINENSIA URIN DENGAN TINGKAT


DEPRESI PADA LANSIA DI PANTI WERDHA BETHANIA LEMBEAN.
Volume 5 Nomor 1. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Diakses pada 23 Desember 2019
https://media.neliti.com/media/publications/107408-ID-none.pdf

Maharama, Didis. 2011. Jurnal Kesehatan Konsep Dasar Keperawatan Gerontik.


Diakses pada 23 Desember 2019
https://www.academia.edu/34665402/Konsep_Dasar_Keperawatan_Gerontik_2.1.1_P
engertian_Lanjut_Usia?auto=download

file:///C:/Users/game/Downloads/Documents/BAB%20II_2.pdf
Diakses pada 23 Desember 2019

Nassyam, Fitriani. 2016 . Laporan Pendahuluan Gerontik.

Diakses pada 23 Desember 2019

https://www.academia.edu/26490467/LP_Gerontik