Anda di halaman 1dari 38

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS
Nama : An. Nur Almaira Cahyani
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 1 tahun
Alamat : Dayaan RT 03/RW 05 Sidorejo Kidul Kec.Tingkir Salatiga
Masuk RS : 8 Oktober 2019

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Orang tua pasien mengatakan jika kepala pasien bertambah besar
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merupakan Program Vp-Shunt ke-2. Orang tua pasien
mengatakan jika kepala pasien dirasa bertambah besar. Pasien tidak ada
demam, tidak ada mual dan muntah. Tidak ada kejang dan penurunan
kesadaran.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sudah terdeteksi hidrocephalus sejak dalam kandungan.
Operasi pemasangan vp-shunt pertama sudah dilakukan saat pasien usia 17
hari.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa dengan pasien disangkal, penyakit
keturunan seperti jantung, asma, kolesterol disangkal.
5. Riwayat Personal Sosial
Pasien lahir secara SC dan berat badan ketika lahir 2,8 kg.
C. PEMERIKSAAN FISIK
9 Oktober 2019
Kesan Umum Tampak sakit sedang
Kesadaran Komposmentis (GCS E4V5M6)
Tekanan Darah : -
Vital Signs /
Nadi : 110 x/menit
Tanda-Tanda
Respirasi : 26x/menit
Vital
Suhu : 36,30C
Kepala dan Leher
Inspeksi Macrocephali (LK : 17,5 cm), Conjungtiva anemis (-/-),
Sklera Ikterik (-/-), deviasi trakea (-).
Palpasi Nyeri tekan (-), Pembesaran Limfonodi (-), Trakea teraba di
garis tengah.
Pulmo
Inspeksi Bentuk dada simetris, tidak terdapat jejas dan kelainan
bentuk
Palpasi Tidak ada ketertinggalan gerak dan vokal fremitus tidak ada
peningkatan maupun penurunan
Perkusi Sonor
Auskultasi Suara vesikular dasar (SDV) : +/+ (positif di lapang paru
kanan dan kiri)
Suara ronkhi: -/-
Wheezing : -/-
Cor
Inspeksi Pulsasi tidak terlihat
Palpasi Teraba ictus cordis di SIC V linea midclavicularis sinistra
Perkusi Ukuran jantung dalam batas normal
Auskultasi Suara S1 dan S2 terdengar regular dan tidak ada bising
ataupun suara tambahan jantung.
Abdomen
Inspeksi Cembung, tidak tampak kelainan
Auskultasi Peristaltik usus (+) normal
Palpasi Distensi (-), nyeri tekan (-)
Perkusi Timpani (+)
Genitalia -
Ekstremitas
Inspeksi Tidak tampak deformitas pada keempat ekstremitas
Palpasi akral hangat, pengisian kapiler normal.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium (8 Oktober 2019)
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
Hematologi
Leukosit 7,27 6,00 – 17,00 ribu/ul
Eritrosit 4,75 3,6 – 5,2 juta/ul
Hemoglobin 10,7 10,8 – 12,8 gr/dL
Hematokrit 32,2 35 – 43 vol%
MCV 67,7 73 – 101 Fl
MCH 22,5 23 – 31 Pg
MCHC 33,3 33 – 36 gr/dL
Trombosit 349 150 – 450 ribu/ul
Hitung Jenis
Eosinophil 2.5 1–5 %
Basophil 0,7 0–1 %
Limfosit 48,6 20 – 70 %
Monosit 3,6 1 – 11 %
Neutrofil 44,6 17 – 60 %
Kimia
Ureum 20 10 - 50 mg/dl
Creatinin 0,5 0,6 - 1,1 mg/dl
Elektrolit
Natrium 142 132-141 mmol/L
Kalium 4.1 3.3 - 4.6 mmol/L
Chlorida 108 97 - 107 mmol/L
Calsium 9,4 8,6 - 10 mg/dL
Magnesium 1,7 1,9 – 2,5 Mg/dL
Imuno/Serologi
HBsAg Negatif Negatif

2. Pemeriksaan Ct-scan (17-09-2019)


Hasil :
- Pan Hidocephalus
- Terpasang vp-shunt dimana pangkal didaerah sekitar antara ventrikel
lateralis Dx cornu anterior dan posterior Dx, dan ujungnya didaerah
menembus os temporooccipitalis Dx
- Gambaran TIK yang meninggi

E. ASSESSMENT
Hidrocephalus Kongenital

F. TATALAKSANA
Penggantian selang vp-shunt

G. TINDAKAN ANESTESI
a) Diagnosis pra-bedah : Hidrosefalus

b) Diagnosis post-bedah : Hidrosefalus

c) Jenis pembedahan : VP – Shunt


d) Jenis anestesi : anestesi umum (General Anestesi)

Premedikasi anestesi : Sulfas atropin 0,25 mg, Miloz 2 mg

Induksi : Ketamin 15 mg, Sevoflurane 2%

Maintenance : Oksigen 3 lpm, N20 2 lpm.

Relaksasi : Roculax 2 mg

Pemeliharaan anestesi : Sevofluran + O2

Teknik anestesi : Semi – closed

 Induksi intravena dengan ketamin 5 µg dan induksi inhalasi


dengan Sevofluran 2%
 Intubasi dengan ET no.4 (tanpa cuff) dengan laringoskop
blade lengkung no.1 1/2 didahului oleh pelumpuh otot
Roculax 2 mg
 Maintenance dengan Sevofluran + O2
Respirasi : Kendali + T-Jackson Rees

Posisi : Supine

Infus : KAEN 1B

Status fisik : ASA II

Induksi mulai : 13.00 WIB

Operasi mulai : 13.25 WIB

Operasi selesai : 14.15 WIB

Berat badan pasien : 7,7 Kg

Durasi operasi : 50 menit


Pasien puasa : 4 jam

Terapi cairan

 Maintenance = 10 kg I = 4 cc/KgBB/jam
= 4 cc x 10 Kg/jam = 40 cc/jam

Pengganti puasa = puasa x maintenance

= 4 jam x 45 cc/jam

= 180 cc

 Stress operasi = 4 cc/KgBB/jam


= 4 cc x 12,5 Kg/jam

= 50 cc/jam

 EBV = 80 cc/KgBB
= 80 cc x 12,5

= 1000 cc

 ABL = ∆Ht x EBV x 3


100

= (37-30) x 1000 x 3

100

= 210 cc
Jadwal pemberian cairan (lama operasi 50 menit)

Jam I = ½ PP + SO + M

= 90 + 50 + 45

= 185cc

Jam II = ¼ PP + SO + M

= 45 + 50 + 45

= 140cc

Jam III = ¼ PP + SO + M

= 45 + 50 + 45

= 140cc

Jam IV = M + SO

= 45 + 50

= 95cc

Input durante operasi

 KAEN IB = ½ x 500 = 250 cc


 Total Cairan yang masuk durante operasi = 250 cc

Output durante operasi

 Urin Tampung : 50 cc dalam 50 meit


 Perdarahan
- Tabung Suction : 100 cc

- Kassa : 30 cc
Total Perdarahan = jam I + urine output + (Perdarahan + Kassa )

= 185 + 50 + 30

= 265 cc

H. PELAKSANAAN ANESTESI
Pukul 13.00 – 13.25
- Pasien dibawa ke meja operasi
- Pasien dibaringkan di atas meja operasi
- Memasang monitoring oksimetri pulse serta selang oksigen dengan O2
3 liter/menit
- Mengukur tanda vital: Nadi 132x/mnt
- Pasien diberi premedikasi Sulfas atropin 0,25 mg, Miloz 2 mg
- Dilakukan preoksigenasi dengan ventilasi tekanan positif
- Pemasangan endotrakheal tube No.4 kontrol respirasi dengan mesin
dan tangan
- Pemberian induksi ketamin 15 mg
- Inhalasi sevoflurane 2%
- Nadi : 132 x/menit, SpO2 : 100%
Pukul 13.25
- Operasi dimulai
- Nadi : 134x/menit, SpO2 : 100%
Pukul 10.35
- Nadi : 122x/menit, SpO2 : 98%
Pukul 14.15
- Operasi selesai
- Obat anestesi dihentikan, dilakukan ekstubasi dan pemberian O2
dipertahankan
- Nadi : 138x/menit, SpO2 : 100%
- Kemudian pasien dipindahkan ke brancar untuk dibawa ke ruang
pemulihan atau recovery room (RR)
Pengawasan anestesi
Pengawasan keadaan umum
Penngawasan tanda - tanda vital
Pengawasan saturasi oksigen

Post operasi
- Tiba di ruang recovery pukul : 14.25 wib
- Pernafasan : spontan, pasien dapat bernafas dalam
- Nadi : 120x/mnt
- Spo2 : 100%

Penilaian pemulihan pasca anestesi umum menurut Steword Score:


- Aktivitas :2
- Pernapasan : 2
- Kesadaran :1
Total score :5
Pasien pindah ke ruang Anggrek pukul 15.05 WIB
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANESTESI UMUM (GENERAL ANESTHESIA)


1. Definisi
Anestesi umum atau general anesthesia adalah keadaan hilangnya
nyeri di seluruh tubuh dan hilangnya kesadaraan yang bersifat sementara
yang dihasilkan melalui penekanan sistem syaraf pusat karena adanya
induksi secara farmakologi atau penekanan sensori pada sayaraf. Agen
anestesi umum bekerja dengan cara menekan sistem saraf, pusat (SSP)
secara reversibel. Anestesi umum merupakan kondisi yang dikendalikan
dengan ketidaksadaran reversibel dan diperoleh melalui penggunaan obat-
obatan secara injeksi dan atau inhalasi yang ditandai dengan hilangnya
respon nyeri (analgesia), hilangnya ingatan (amnesia), hilangnya respon
terhadap rangsangan atau refleks dan hilangnya gerak spontan (immobility)
serta hilangnya kesadaran (unconciousness).
Anestesi umum yang baik dan ideal harus memenuhi kriteria trias
anestesi (sedasi, analgesi dan relaksasi), penekanan refleks, ketidaksadaran,
aman untuk sistem vital (sirkulasi dan respirasi), mudah diaplikasikan dan
ekonomis.
2. Teknik dan Agen Anestesi Umum
Anestesi umum dapat dilakukan melalui injeksi, inhalasi atau
melalui gabungan secara injeksi dan inhalasi. Anestetikum dapat
digabungkan atau dikombinasikan antara beberapa anestetikum atau
dengan zat lain sebagai preanestetikum dalam sebuah teknik yang disebut
balanced anesthesia untuk melibatkan efek anestesi yang diinginkan
dengan efek samping minimal. Menurut Mangku dan Senapathi (2010),
dapat dilakukan dengan 3 teknik, yaitu:
a. Anestesi Umum Intravena
Merupakan metode anestesi umum yang dilakukan dengan cara
menyuntikkan agen anestesi langsunug melalui pembuluh darah vena.
Anestesi injeksi yang baik memiliki sifat tidak mengiritasi jaringan,
tidak menimbulkan rasa nyeri saat diinjeksikan, cepat diabsorbsi, waktu
induksi, durasi, dan masa pulih dari anestesi berjalan mulus.
Anestesi intravena dapat digunakan sebagai induksi maupun
rumatan anestesi, tambahan pada analgesia regional atau untuk
membantu prosedur diagnostik misanya tiopental, ketamin dan propofol.
Untuk anestesi intravena total biasanya menggunakan propofol.
1) Tiopental
Tiopental (pentotal, tiopenton) dikemas dalam bentuk
tepung atau bubk berwarna kuning, berbau belerang, biasanya
dalam ampul 500 mg atau 1000 mg. Sebelum digunakan
dilarutkan dalam akuades sampai kepekatan 2,4% (1ml = 25).
Tiopental hanya boleh digunakan untuk intravena dengan
dosis 3-7 mg/kg dan disuntikan perlahan dihabiskan dalam 30-
60 detik. Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental akan
menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hipnosis,
anestesi atau depresi napas. Dosis rendah bersifat anti-analgesi.
Tiopental dapat diberikan secara kontinyu pada kasus tertentu di
unit perawatan intensif, tetapi jarang digunakan untuk anestesi
intravena total.
2) Propofol
Propofol (diprivan, recofol) dikemas dalam cairan emulsi
lemak berwarna putih susu bersifat isotonik dengan kepekatan 1%
(1ml = 10 mg). suntikan intravena sering menyebabkan nyeri,
sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-
2mg/kg intravena.
Dosis untuk bolus induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan
untuk anestesi intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi
untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg. Pada manula dosis harus
dikurangi, pada anak < 3tahun dan pada wanita hamil tidak
dianjurkan.
3) Ketamin
Ketamin (ketalar) kurang digemari untuk induksi anestesi,
karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi,
nyeri kepala, pasca anestesi dapat menimbulkan mual-muntah,
pandangan kabur dan mimpi buruk.
Jika harus diberikan sebaiknya sebelumnya diberikan
sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam (valium) dengan
dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi salivasi
diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg.
Dosis bolus untuk induksi intravena ialah 1-2 mg/kg dan
untuk intramuskular 3-10 mg. Ketamin dikemas dalam cairan
bening kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1 ml = 50 mg), dan
10% ( 1 ml = 100mg).
4) Opioid
Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk
induksi diberikan dosis tinggi. Opioid tidak mengganggu
kardiovaskular, sehingga banyak digunakan untuk induksi pasien
dengan kelainan jantung. Untuk anestesi opioid digunakan
fentanil dosis induksi 20-50 mg/kg dilanjutkan dengan dosis
rumatan 0.3-1 mg/kg/menit.
b. Anestesi Umum Inhalasi
Merupakan salah satu metode anestesi umum yang dilakukan
dengan cara memberikan agen anestesi yang berupa gas dan atau cairan
yang mudah menguap melalui alat anestesi langsung ke udara inspirasi.
Kelarutan zat inhalasi dalam darah adalah faktor utama yang penting
dalam menentukan induksi dan pemulihan anestesi inhalasi.
Obat anestesi inhalasi yang pertama kali dikenal dan digunakan
untuk membantu pembedahan ialah N2O. dalam dunia modern, anestesi
inhalasi yang umum digunakan untuk praktetk klinik adalah N2O,
halotan, enfluran, isofluran, desfluran dan sevofluran.
1) Halotan
Halotan memiliki bau yang tidak enak dan tak
merangsang jalan napas, sehingga sering digunakan sebagai
induksi anestesi kombinasi dengan N2O. halotan harus disimpan
dalam botol gelap (cokelat tua) supaya tidak dirusak oleh cahaya
dan diawetkan oleh timol 0,01%.
Selain untuk induksi dapat juga untuk laringoskopu
intubasi. Pada napas spontan rumatan anestesi sekitar 1-2 vol%
dan pada napas kendali sekitar 0,5-1 vol% yang disesuaikan
respon klinis pasien.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas,
vasodilatasi perifer, depresi vasomotor. Halotan memiliki sifat
analgesi yang lemah, tetapi anestesinya kuat sehingga kombinasi
dengan N2O sangat ideal.
2) Isofluran
Isofluran merupakan halogenasi eter yang pada dosis
anestetik atau subanetetik menurunkan laju metabolisme otak
terhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran darah otak dan
tekanan inrakranial.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal,
sehingga digemari untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak
digunakan pada pasien dengan gangguan koroner.
3) Sevofluran
Sevofluran (ultane) merupakan halogenasi eter, induksi
dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan dengan isofluran.
Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas,
sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi disamping
halotan.
Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang
menyebabkan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat seperti
isofluran dan belum ada laporan toksis terhadap hepar (Zunilda
dan Elysabeth, 2012).
c. Anestesi Imbang (Balanced anesthesia )
Merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi
obat-obatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi
atau kombinasi teknik general anestesi dengan analgesia regional untuk
mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang, yaitu:
1) Efek hipnosis, diperoleh dengan mempergunakan obat
hipnotikum atau obat anestesi umum yang lain.
2) Efek analgesia, diperoleh dengan mempergunakan obat analgetik
opiat atau obat general anestesi atau dengan cara analgesia
regional.
3) Efek relaksasi, diperoleh dengan mempergunakan obat
pelumpuh otot atau general anestesi, atau dengan cara analgesia
regional.
3. Penilaian dan Persiapan Pra-Anestesia
a. Anamnesis
Riwayat apakah pasien pernah mendapat anestesia sebelumnya
sangat penting untuk memperhatikan apakah ada hal-hal penting yang
perlu diperhatikan. Misalnya alergi, mual muntah, nyeri otot, gatal-
gatal atau sesak napas pasca bedah sehingga anestesia selanjutnya
terencana dengan lebih baik. Obat yang menimbulkan masalah di masa
lampau jangan digunakan ulang dalam jangka waktu minimal tiga bulan.
Kebiasaan merokok sebaiknya diberhentikan 1-2 hari sebelum anestesi
dan pembedahan untuk mengeliminasi nikotin yang mempengaruhi
sistem kardiovakular.
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, lidah relatif besar
sangat penting diketahui apakah akan menyulitkan tindakan
laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan
laringoskopi intubasi. Pemeriksaan rutin lain secara sistemik dari
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi pada sistem organ juga perlu
dilakukan.
c. Pemeriksaan Laboratorium
Uji laboratorium hendaknya sesuai dengan indikasi sesuai penyakit
yang dicurigai.
d. Kebugaran untuk anestesia
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan pasien dalam keadaan bugar, lain halnya dengan operasi
cito yang kadang tidak memiliki cukup waktu untuk menyiapkan
kebugaran pasien.
e. Klasifikasi Status Fisik
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik
seseorang berasal dari The American Society of Anesthesiologist (ASA).
Klasifikasi ini bukan alat prakiraan risiko anestesia, karena dampak
samping anestesia tidak dapat dipisahkan dari dampak samping
pembedahan.
Kelas I : pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.
Kelas II : pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.
Kelas III : pasien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas
rutin terbatas.
Kelas IV :pasien dengan penyakit sistemik berat tak dapat melakukan
aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman
kehidupannya setiap saat.
Kelas V :pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa
pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.
Pada bedah cito atau emergency biasanya dicantumkan huruf E
(Latief, Suryadi dan Dachlan, 2010).
f. Masukan Oral
Reflek laring menurun selama anestesia. Regurgitasi isi lambung
dan kotoran pada jalan napas merupakan risiko utama pasien yang
menjalani anestesia. Untuk mengurangi risiko itu, pasien yang
dijadwalkan operasi dengan anestesia harus dipantangkan dari masukan
oral (puasa) selama periode tertentu sebelum induksi anestesia. Pasien
dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam dan bayi 3-4 jam,
makanan tak berlemak diperbolehkan 5 jam sebelum anestesia, minum
sampai 3 jam, dan untuk keperlun minum obat dalam jumalah terbatas
boleh 1 jam sebelum induksi (Latief, Suryadi dan Dachlan, 2010).
4. Periode Anestesi Umum
Terdapat 6 periode dalam anestesi umum:
a. Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi
anestesi dengan tujuan :
1) Meredakan kecemasan dan ketakutan
2) Memperlancar induksi anestesi
3) Mengurangi sekresi kelanjar ludah dan bronkus
4) Meminimalkan jumlah obat anestesi
5) Mengurangi mual-muntah pasca bedah
6) Menciptakan anmnesia
7) Mengurangi isi cairan lambung
8) Mengurangi refleks yang membahayakan
Obat-obatan yang digunakan antara lain sulfas atropine, midazolam,
petidin, ondansetron, dan atracurium.
1) Sulfas Atropin
Sulfas atropin termasuk golongan anti kolinergik yang
dapat merangsang SSP, sistem kardiovaskular (bradikardia),
sistem pernafasan (menurunkan sekresi ludah, mulut, faring dan
bronkus), sistem pencernaan (menghambat peristaltik lambung
dan usus).
Efek samping atau toksik pada orang muda adalah mulut
kering, gangguan miksi, dan meteorismus. Pada orang tua terjadi
efek sentral terutama sindrom demensia. Efek samping lain bisa
juga timbul muka merah yang disebabkan efeknya terhadap
vasodilatasi pembuluh darah.
Sediaan sulfat atropin dalam ampul 0,25 dan 0,5mg
dengan dosis 0,01-0,02 mg/ kgBB yang dapat diberikan secara
SC, IM, IV.
2) Midazolam
Midazolam merupakan obat golongan benzodiazepin
yang dapat digunakan sebagai premedikasi dan induksi anestesia
karena obat ini menyebabkan tidur, mengurangi cemas, dan
menimbukan amnesia anterograd tapi tidak berefek analgesik.
Benzodiazepin bekerja pada asam γ aminobutirat (GABA) yang
merupakan neurotransmiter utama disusunan saraf pusat.
Benzodiazepin yang berikatan dengan reseptor spesifik GABA
akan meningkatkan afinitas neurotransmiter inhibisi dengan
reseptor GABA. Ikatan ini akan membuka kanal Cl- yang
menyebabkan meningkatnya konduksi ion Cl- sehingga
menghasilkan hiperpolarisasi pada membran sel pasca sinap dan
saraf pasca sinap menjadi resisten untuk dirangsang.
Efek resistensi terhadap rangsangan ini diduga sebagai
mekanisme efek ansiolitik, sedasi dan antikonvulsi serta
relaksasi otot pada benzodiazepin. Diduga bila 20% reseptor
GABA berikatan dengan benzodiazepin akan memberikan efek
ansiolitik, 30 – 50% untuk sedasi dan akan tidak sadar bila lebih
dari 60% (Rodola, 2006).
3) Atracurium besilate
Atracurium merupakan obat pelumpuh otot non-
depolarisasi dari golongan benzylisoquinolinium bisquaternary.
Tempat kerja atracurium seperti halnya obat-obat pelumpuh otot
non-depolarisasi yang lain adalah reseptor kolinergik prasinaps
dan paskasinaps. Atracurium juga menyebabkan penghambatan
otot-saraf secara langsung dengan mempengaruhi aliran ion
melalui kanal reseptor-reseptor kolinergik nikotinik.
Diperkirakan 82% atracurium terikat dengan plasma protein
terutama albumin.
Pemberian cepat atracurium akan meningkatkan frekuensi
jantung 8,3% dan menurunkan tekanan rerata arteri 21,5%.
Perubahan pada sistem sirkulasi ini bersifat sementara, terjadi
pada 60-90 detik setelah pemberian atracurium dan akan segera
menghilang dalam waktu 5 menit.
4) Ondansetron HCl
Ondansetron ialah suatu antagonis 5-HT3 yang sangat
selektif dapat menekan mual dan muntah karena sitostatika.
Mekanisme kerjanya dengan mengantagonisasi reseptor 5-HT
pada chemoreseptor trigger zone di area postrema otak dan juga
pada aferen vagal saliran cerna.
Ondansetron juga mempercepat pengosongan lambung
bila kecepatan pengosongan basal rendah, tetatpi waktu transit
saluran cerna memanjang sehingga dapat terjadi konstipasi.
Ondansetron diindikasikan untuk pencegahan mual dan muntah
yang berhubugan dengan operasi dan pengobatan kanker dengan
radioterapi dan sitostatika. Dosis 0,1-0,2 mg/kg iv.
Efek samping biasanya dapat ditoleransi dengan baik,
paling sering konstipasi. Gejala lain sakit kepala, flushing,
mengantuk, gangguan saluran cerna. Keadaan hipersensitivitas
merupakan kontraindikasi penggunan ondansetron. Obat ini
dapat digunakan pada anak-anak, sebaiknya tidak digunakan
pada kehamilan dan ibu masa menyusui karena sekresi melalui
ASI. (Dewoto dan Louisa, 2017).
5) Ketorolak
Ketorolak merupakan analgesik poten dengan efek anti-
inflamasi sedang. Absorpsi oral dan intramuskular berlangsung
cepat mencapai puncak dalam 30-50 menit. Bioavailabilitas oral
80% dan hampir seluruhnya terikat protein plasma.
Ketorolak intramuskular sebagai analgesik pasca bedah
memperlihatkan efektivitas sebanding dengan morfin/ meperidin
dosis umum; masa kerjanya lebih panjang dan efek sampingnya
lebih ringan. Dosis im 30-60 mg; iv 15-30 mg dan oral 5-30 mg.
Efek sampingnya berupa nyeri di tempat suntikan,
gangguan saluran cerna, kantuk, pusing dan sakit kepala. Karena
ketorolak selektif COX-1 , maka obat ini dianjurkan hanya
dipakai tidak lebih dari lima hari (Wilmana dan Gan, 2017).
b. Induksi Anestesia
Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar
menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan
pembedahan. Sebelum induksi anestesi selayaknya disiapkan peralatan
yang disingkat STATICS:
S = scope stetoskop, laringoskop
T = tubes endotrakeal tube
A = airway pipa mulut-faring (guedel, orotracheal airway) atau
naso-tracheal airway
T = tape plester untuk fiksasi
I = introducer mandrin atau stilet
C = connector penyambung pipa ke peralatan anestesia
S = sucion penyedot lendir, ludah dan lainnya
(Latief, Suryadi dan Dachlan, 2010).
Induksi dapat dikerjakan 4 cara pemberian obat-obat anestesi ke
dalam tubuh, yaitu:
1) Intravena
Cara ini paling banyak digunakan apalagi jika sudah terpasang jalur
intravena. Selama induksi tanda-tanda vital harus diawasi dan
selalu diberikan oksigen. Obat yang digunakan misal: tiopental
kepekatan 2,5% dengan dosis 3-7 mg/kgBB, propofol dengan
kepekatan 1% dengan dosis 2-3 mg/kgBB. (Evers dan Cowder,
2017).
2) Intramuskular, misal: ketamin dengan dosis 5-7 mg/kgBB.
3) Inhalasi, dilakukan pada bayi, anak-anak atau dewasa yang takut
disuntik. Obat yang digunakan misal: halotan yang memerlukan O2
sebagai pendorong dimulai dengan aliran >4 liter/menit dan halotan
0,5 vol%, sevofluran konsentrasi tinggi hingga 8 vol%.
4) Rektal, cara ini hanya dilakukan pada anak atau bayi menggunakan :
tiopental atau midazolam.
c. Periode Pemeliharaan (Maintenance Periode)
Dihitung sejak mulainya induksi dan selama pelaksanaan
pembedahan. Ada beberapa metode dan obat - obatan yang dipilih oleh
seorang ahli anestesi untuk mengkoordinir tim anestetis, misal secara
inhalasi dengan halotan, enfluran, sevofluran atau secara parenteral
dengan fentanil, petidin, morfin. Belakangan ini, metode ini sering
dikombinasikan dengan obat pelumpuh otot, seperti: atrakurium.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan N2O dan O2 3:1 ditambah
halotan 0,5-2 vol% atau efluran 2-4 vol% atau isofluran 2-4 vol% atau
sevofluran 2-4 vol% bergantung apakah pasien bernapas spontan,
dibantu (assisted) atau dikendalikan (controlled).
1) Nitrogen monoksida (N2O = Gas Gelak)
Nitrogen monoksida (N2O) atau biasa disebut gas gelak
merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan
lebih berat daripada udara. Gas ini tidak mudah terbakar, tapi bila
dikombinasikan dengan zat anestetik yang mudah terbakar akan
memudahkan terjadinya ledakan, misalnya campuran eter dan N2O.
N2O sukar larut dalam darah, dan merupakan anestetik yang
kurang kuat sehingga kini hanya digunakan sebagai adjuvan
anestetik inhalasi lainnya. Kadar N2O 80% hanya sedikit
mendepresi kontaktilitas otot jantung sehingga peredaran darah
tidak terganggu. Efeknya terhadap pernapasan tidak begitu besar,
dikatakan dengan induksi pentotal dan inhalasi N2O menyebabkan
berkurangnya respon pernapasan terhadap CO2. Pada anestesi yang
lama, N2O dapat menyebabkan mual muntah, dan lambat sadar.
Gejala sisa hanya terjadi bila ada hipoksia atau alkalosis karena
hiperventilasi.
N2O mempunyai efek analgesik yang baik, dengan inhalasi
20% N2O dalam oksigen efeknya seperti efek 15 mg morfin. Kadar
optimum untuk mendapatkan efek analgesik maksimum kurang
lebih 35%. N2O diekskresikan dalam bentuk utuh melalui paru dan
sebagian kecil melalui kulit (Zunilda dan Elysabeth, 2017; Trevor
dan Miller, 2014).
2) Fentanil
Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok
fenilpiperidin dan bekerja sebagai antagonis reseptor µ. Fentanl
banyak digunakan untuk anestetik karena waktu untuk mencapai
puncak analgesia lebih singkat dibandingkan morfin dan meperidin
yakni sekitar 5 menit. Efeknya cepat berakhir setelah dosis kecil
yang diberikan secara bokus, dan relatif kurang mempengaruhi
kardiovakular. Fentanil dan derivatnya paling sering digunakan iv
meskipun juga sering digunakan secara epidural dan intratekal untuk
nyeri pasca bedah atau nyeri kronik. Dengan dosis lebih besar atau
pemberian infus lebih lama efek analgetik bertahan. Efek euforia
dan analgetik fentanil diantagonis oleh antagonis opioid, tetapi
secara tidak bermakna diperpanjang masanya atau diperkuat oleh
droperidol.
Fentanil dan derivatnya menimbulkan mual muntah, dan
gatal. Kekakuan otot terjadi bila diberika secara bolus dan dapat
dikurangi dengan memperlambat pemberian secara bolus dan
induksi anestesia dengan obat non opioid. Lama depresi napas lebih
singkat dibandingkan morfin. Fentanil dosis tinggi dapat
merangsang saraf dan kadang menimbulkan serangan konvulsi.
Fentanil dan derivatnya dapat mengurangi frekuensi jantung
dan sedikit menurunkan tekanan darah. Akan tetatpi karena obat-
obat ini tidak melepaskan histamin dan pengaruh langsung depresi
miokard minimal, maka dosis tinggi fentanil sering digunakan
sebagai anestetik pada operasi kardiovaskular, atau operasi pada
pasien dengan fungsi jantung yang buruk (Dewoto, 2017; Gustein
dan Akil, 2012).
d. Periode Bangun (Reversal Periode)
Pada periode ini terjadi perubahan dari tingkat kesadarannya
hingga kesadarannya sempurna. Terkadang pasien masih tertidur dan
sering dijumpai adanya muntah. Karakteristik pernafasannya pun sudah
teratur dan membaik.
e. Periode Pemulihan
Periode pemulihan ini dapat dibagi atas 3 bagian, yaitu:
1) Reversal (bangun dari anestesi)
Periode ini biasanya sangat singkat, tetapi merupakan stadium
yang sangat penting dan penuh risiko. Oleh karena itu, periode ini
harus di bawah pengawasan langsung dari ahli anestesi dan
biasanya dilakukan di kamar operasi.
2) Early Recovery (permulaan pemulihan kesadaran)
Stadium ini berakhir sampai pasien dapat mengenal orientasi
dengan baik, dalam hal waktu, ruangan, dan dapat mengatur
pernafasannya sendiri. Periode ini memerlukan waktu 1-2 jam dan
lamanya tergantung anestesi yang diberikan.
3) Late Recovery (pemulihan kesadaran seperti semula)
Periode ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya dan
dimulai sejak efek obat anestesi menghilang dari dalam tubuh.
Terkadang efek hangover didapati seperti pening, pusing, dan tidak
dapat berkonsentrasi
f. Periode Pasca Operasi
Pada periode ini, diharapkan pasien sudah dapat berdiri dan
berjalan sendiri serta tidak dijumpai kelainan respirasi, kelainan
tekanan darah, maupun gejala muntah
5. Tatalaksana Jalan Napas
Pada pasien tidak sadar atau dalam keadaan anestesia posisi
terlentang, tonus otot jalan napas atas, otot genioglossus hilang, sehingga
lidah akan menyumbat hipofaring dan menyebabkan obstruksi jalan napas
baik total maupun pasrsial. Keadaan ini sering terjadi dan harus segera
dikoreksi dengan beberapa cara, misalnya manuver triple jalan napas,
pemasangan alat jalan napas sungkup laring, pemasangan pipa trakea
(endotracheal tube). Obstruksi juga dapat disebabkan spasme laring pada
saat anestesia ringan dan mendapat rangsangan nyeri atau rangsangan oleh
sekret. Tanda-tanda obstruksi jalan napas:
 Stridor (mendengkur, snoring)
 Napas cuping hidung
 Retraksi trakea
 Retraksi toraks
 Tak terasa ada udara ekspirasi
Spasme atau kejang laring terjadi karena pita suara menutup
sebagian atau seluruhnya. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh anestesia
ringan dan mendapat rangsangan sekitar faring. Tatalaksana:
 Manuver triple jalan napas
 Ventilasi positif dengan oksigen 100%
 Tak menolong pelumpuh otot suksinil 0,5 mg/kg iv, im deltoid,
sublingual 2-4 mg/kg.
a. Manuver Triple Jalan Napas
Manuver tripel jalan napas terdiri dari :
1) Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital
2) Mandibula didorong ke depan pada kedua nagulus mandibula
3) Mulut dibuka
Dengan manuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan
napas bebas, sehingga gas atau udara lancar masuk ke trakea lewat
hidung atau mulut.
b. Jalan Napas Faring
1) NPA: (naso-pharingeal airway) pipa bulat berlubang tengahnya
terbuat dari bahan karet lateks lembut. Pemasangan harus hati-hati
untuk menghindari trauma mukosa hidung olesi dengan jelly.
2) OPA: (oro-pharingeal airway) pipa gepeng lengkung seperti huruf
C berlubang di tengahnya dan salah satu ujungnya bertangkai
dengan dinding lebih keras untuk mencegah kalau pasien
menggigit lubang tetap paten, sehingga aliran udara tetap terjamin.
c. Sungkup Muka
Disebut juga face mask alat yang mengantar udara/gas
anestesi dari sistem anestesi ke jalan napas pasien. Bentuknya
sedemikian rupa untuk mencegah kebocoran ketika bernapas spontan
atau dengan tekanan positif.
d. Pipa Trakea
Disebut juga endotracheal tube yaitu alat yang mengantar
gas anesteti langsung ke dalam trakea. Biasanya dibuat dari bahan
standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat dimasukkan melalui mulut
(orotracheal tube) atau hidung (nasotracheal tube) (Latief, Suryadi
dan Dachlan, 2010).
B. HIDROCEFALUS
1. Definisi
Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal dengan atau pernah dengan tekanan
intrakranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikel
(Darsono, 2005:209).
Pelebaran ventrikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi
dan absorbsi cairan serebrospinal. Hidrosefalus selalu bersifat sekunder,
sebagai akibat penyakit atau kerusakan otak. Adanya kelainan-kelainan
tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta terjadi pelebaran sutura-
sutura dan ubun-ubun (DeVito EE et al, 2007:328).

2. Epidemiologi
Insidensi hidrosefalus antara 0,2-4 setiap 1000 kelahiran. Insidensi
hidrosefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada tiap 1000 kelahiran dan 11 %
- 43 % disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan
bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan
ras. Hidrosefalus dapat terjadi pada semua umur. Pada remaja dan dewasa
lebih sering disebabkan oleh toksoplasmosis. Hidrosefalus infantil; 46%
adalah akibat abnormalitas perkembangan otak, 50% karena perdarahan
subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa
posterior (Darsono, 2005:211).

3. Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan
serebrospinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan
CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid.
Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Allan H.
Ropper, 2005).
Teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan
absorbsi yang abnormal akan menyebabkan terjadinya hidrosefalus,
namun dalam klinik sangat jarang terjadi.
Penyebab penyumbatan aliran CSS yang sering terdapat pada bayi dan
anak ialah:
1) Kelainan Bawaan (Kongenital)
a. Stenosis akuaduktus Sylvii
b. Spina bifida dan kranium bifida
c. Sindrom Dandy-Walker
d. Kista araknoid dan anomali pembuluh darah
2) Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. Secara patologis
terlihat penebalan jaringan piamater dan arakhnoid sekitar sisterna
basalis dan daerah lain. Penyebab lain infeksi adalah toxoplasmosis.

3) Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap
tempat aliran CSS. Pada anak yang terbanyak menyebabkan
penyumbatan ventrikel IV atau akuaduktus Sylvii bagian terakhir
biasanya suatu glioma yang berasal dari serebelum, penyumbatan
bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.

4) Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat
menyebabkan fibrosis leptomeningen terutama pada daerah basal
otak, selain penyumbatan yang terjadi akibat organisasi dari darah
itu sendiri (Allan H. Ropper, 2005:360).

4. Patofisiologi dan Patogenesis


CSS yang dibentuk dalam sistem ventrikel oleh pleksus khoroidalis
kembali ke dalam peredaran darah melalui kapiler dalam piamater dan
arakhnoid yang meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor
serebrospinalis terdapat dalam suatu sistem, yakni sistem internal dan
sistem eksternal. Pada orang dewasa normal jumlah CSS 90-150 ml, anak
umur 8-10 tahun 100-140 ml, bayi 40-60 ml, neonatus 20-30 ml dan
prematur kecil 10-20 ml. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel 500-1500
ml (Darsono, 2005). Aliran CSS normal ialah dari ventrikel lateralis
melalui foramen monroe ke ventrikel III, dari tempat ini melalui saluran
yang sempit akuaduktus Sylvii ke ventrikel IV dan melalui foramen
Luschka dan Magendie ke dalam ruang subarakhnoid melalui sisterna
magna.
Penutupan sisterna basalis menyebabkan gangguan kecepatan resorbsi
CSS oleh sistem kapiler. (DeVito EE et al, 2007:328)
Hidrosefalus secara teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme
yaitu :
1. Produksi likuor yang berlebihan

2. Peningkatan resistensi aliran likuor

3. Peningkatan tekanan sinus venosa

Konsekuensi tiga mekanisme di atas adalah peningkatan tekanan


intrakranial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan
absorbsi. Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan
berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrosefalus.
Dilatasi ini terjadi sebagai akibat dari :

1. Kompresi sistem serebrovaskuler.

2. Redistribusi dari likuor serebrospinalis atau cairan ekstraseluler

3. Perubahan mekanis dari otak.

4. Efek tekanan denyut likuor serebrospinalis

5. Hilangnya jaringan otak.


6. Pembesaran volume tengkorak karena regangan abnormal sutura
kranial.

Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid.


Gangguan aliran likuor merupakan awal dari kebanyakan kasus
hidrosefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran
akan meningkatkan tekanan likuor secara proporsional dalam upaya
mempertahankan resorbsi yang seimbang.

Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu


peningkatan tekanan vena kortikal sehingga menyebabkan volume
vaskuler intrakranial bertambah dan peningkatan tekanan intrakranial
sampai batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor
terhadap tekanan sinus vena yang relatif tinggi. Konsekuensi klinis dari
hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak. (Darsono,
2005:212)

5. Klasifikasi
Klasifikasi hidrosefalus bergantung pada faktor yang berkaitan
dengannya,berdasarkan :
1. Gambaran klinis, dikenal hidrosefalus manifes (overt hydrocephalus)
dan hidrosefalus tersembunyi (occult hydrocephalus).
2. Waktu pembentukan, dikenal hidrosefalus kongenital dan hidrosefalus
akuisita.
3. Proses terbentuknya, dikenal hidrosefalus akut dan hidrosefalus kronik.
4. Sirkulasi CSS, dikenal hidrosefalus komunikans dan hidrosefalus non
komunikans.
Hidrosefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikel,
hidrosefalus eksternal menunjukkan adanya pelebaran rongga
subarakhnoid di atas permukaan korteks. Hidrosefalus obstruktif
menjabarkan kasus yang mengalami obstruksi pada aliran likuor.
Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrosefalus simptomatik dan
asimptomatik. Hidrosefalus arrested menunjukan keadaan dimana faktor-
faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah tidak
aktif lagi. Hidrosefalus ex-vacuo adalah sebutan bagi kasus
ventrikulomegali yang diakibatkan atrofi otak primer, yang biasanya
terdapat pada orang tua. (Darsono, 2005)

6. Manifestasi Klinis
Tanda awal dan gejala hidrosefalus tergantung pada awitan dan derajat
ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono, 2005).
Gejala-gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi
intrakranial. Manifestasi klinis dari hidrosefalus pada anak
dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu :
1. Awitan hidrosefalus terjadi pada masa neonatus
Meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrosefalus
kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonatus biasanya
adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar
adalah selama tahun pertama kehidupan. Kranium terdistensi dalam
semua arah, tetapi terutama pada daerah frontal. Tampak dorsum nasi
lebih besar dari biasa. Fontanella terbuka dan tegang, sutura masih
terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena di
sisi samping kepala tampak melebar dan berkelok. (Peter Paul
Rickham, 2003)

2. Awitan hidrosefalus terjadi pada akhir masa kanak-kanak


Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai
manifestasi hipertensi intrakranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas.
Dapat disertai keluhan penglihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti
penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada
pasien-pasien hidrosefalus di bawah usia dua tahun adalah pembesaran
abnormal yang progresif dari ukuran kepala. Makrokrania
mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih
besar dari dua deviasi standar di atas ukuran normal.
Makrokrania biasanya disertai empat gejala hipertensi intrakranial
lainnya yaitu:

a. Fontanel anterior yang sangat tegang.

b. Sutura kranium tampak atau teraba melebar.

c.Kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial


menonjol.

d. Fenomena ‘matahari tenggelam’ (sunset phenomenon).

Gejala hipertensi intrakranial lebih menonjol pada anak yang lebih


besar dibandingkan dengan bayi. Gejalanya mencakup: nyeri kepala,
muntah, gangguan kesadaran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang
telah lanjut ada gejala gangguan batang otak akibat herniasi tonsiler
(bradikardia, aritmia respirasi). (Darsono, 2005:213)

7. Penegakan Diagnosa
Disamping dari pemeriksaan fisik, gambaran klinik yang samar-samar
maupun yang khas, kepastian diagnosis hidrosefalus dapat ditegakkan
dengan menggunakan alat-alat radiologik yang canggih. Pada neonatus,
USG cukup bermanfaat untuk anak yang lebih besar, umumnya diperlukan
CT scanning. CT scan dan MRI dapat memastikan diagnosis hidrosefalus
dalam waktu yang relatif singkat. CT scan merupakan cara yang aman dan
dapat diandalkan untuk membedakan hidrosefalus dari penyakit lain yang
juga menyebabkan pembesaran kepala abnormal, serta untuk identifikasi
tempat obstruksi aliran CSS. (Darsono, 2005:214)

8. Diagnosis Banding
Pembesaran kepala dapat terjadi pada hidrosefalus, makrosefali,
tumor otak, abses otak, granuloma intrakranial, dan hematoma subdural
perinatal, hidranensefali. Hal-hal tersebut dijumpai terutama pada bayi dan
anak-anak berumur kurang dari 6 tahun. (Darsono, 2005:215)
9. Penatalaksanaan
Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) Mengurangi produksi CSS.
b) Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat
absorbsi.
c) Pengeluaran likuor (CSS) kedalam organ ekstrakranial. (Darsono,
2005)
Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :

1. Penanganan Sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi
evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari
pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.

2. Penanganan Alternatif (Selain Shunting)


Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi
vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran
likuor atau perbaikan suatu malformasi. Saat ini cara terbaik untuk
melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah
endoskopik. (Peter Paul Rickham, 2003)

3. Operasi Pemasangan ‘Pintas’ (Shunting)


Operasi pintas bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor
dengan kavitas drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang
terpilih adalah rongga peritoneum. Biasanya cairan serebrospinalis
didrainase dari ventrikel, namun kadang pada hidrosefalus
komunikans ada yang didrain ke rongga subarakhnoid lumbar. Ada
dua hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu:
pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan
pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang.
Infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan
intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian. (Allan H.
Ropper, 2005:360)
Pemasangan shunt dilakukan pada sebagian besar pasien. Hanya 25 persen
pasien hidrosefalus yang berhasil diterapi tanpa pemasangan shunt. Prinsip
dari pemasangan shunt adalah mempertahankan hubungan antara CSS dan
rongga drainase (peritoneum, atrium kanan, pleura). Beberapa alternatif
pemasangan shunt antara lain :

o Ventriculoperitoneal (VP) shunt yang paling banyak digunakan.


Lokasi proksimal biasanya terletak di ventrikel lateral. Kelebihan
shunt ini yaitu tidak diperlukannya pemanjangan selang shunt yang
disesuaikan dengan pertumbuhan anak karena kita dapat meletakkan
cateter yang panjang di dalam rongga peritoneum.
o Ventriculoatrial (VA) shunt, juga disebut vascular shunt,
dipasangang melalui vena jugularis dan vena cava superior masuk
ke dalam atrium kanan jantung. Shunt jenis ini dipilih jika
didapatkan kelainan pada rongga abdomen, seperti peritonitis,
obesitas morbid, atau pasien baru melakukan pembedahan pada
abdomen. Shunt ini membutuhkan pemanjangan ulang seiring
dengan pertumbuhan anak.
o Lumboperitoneal shunt dipakai hanya pada hidrosefalus komunikan,
fistula CSS, atau pseudotumor serebri.
o Ventriculopleural shunt merupakan lini kedua bila pilihan lain
merupakan kontraindikasi.

Ventriculoperitoneal Shunt

Ventriculoperitoneal Shunt adalah prosedur pembedahan yang


dilakukan untuk membebaskan tekanan intrakranial yang diakibatkan oleh
terlalu banyaknya cairan serbrospinal (hidrosefalus). Cairan dialirkan dari
ventrikel di otak menuju rongga peritoneum.

 Prosedur pembedahan ini dilakukan di dalam kamar operasi dengan


anastesi umum selama sekitar 90 menit.
 Rambut dibelakang telinga anak dicukur, lalu dibuat insisi tapal kuda
di belakang telinga dan insisi kecil lainnya di dinding abdomen.
 Lubang kecil dibuat pada tulang kepala, lalu selang kateter
dimasukkan ke dalam ventrikel otak.
 Kateter lain dimasukkan ke bawah kulit melalui insisi di belakang
telinga, menuju ke rongga peritoneum.
 Sebuah katup diletakkan dibawah kulit di belakang telinga yang
menempel pada kedua kateter. Bila terdapat tekanan intrakranial
meningkat, maka CSS akan mengalir melalui katup menuju rongga
peritoneum.

10. Prognosis
Hidrosefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa,
gangguan neurologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi,
50-70% akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi
berulang, atau oleh karena aspirasi pneumonia. Namun bila prosesnya
berhenti (arrested hidrosefalus) sekitar 40% anak akan mencapai
kecerdasan yang normal (Allan H. Ropper, 2005).
Pada kelompok yang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah
operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16%
mengalami retardasi mental ringan. Adalah penting sekali anak
hidrosefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok
multidisipliner. (Darsono, 2005).
BAB III
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

A. Pembahasan
Sebelum dilakukan operasi, pasien diperiksa terlebih dahulu, meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang untuk menentukan ASA
dan diputuskan kondisi pasien termasuk ASA II, serta ditentukan rencana jenis
anestesi yang akan dilakukan yaitu general anestesi dengan intubasi.
Setelah dilakukan pemeriksaan tentang keadaan umum pasien diputuskan
untuk dilakukan anestesi umum dengan intubasi, dengan alasan tindakan
operasi tersebut dilakukan di regio capitis, termasuk operasi mayor, sehingga
dengan teknik tersebut diharapkan jalan napas dapat dikendalikan dengan baik.
Pertama dilaksanakan premedikasi anestesi dengan bolus Sulfat Atropin
0,25 mg dan miloz 2 mg. Sulfat atropin berfungsi sebagai vagolitik dan anti
sekresi. Sulfat Atropin bekerja sebagai anti sekresi pada reseptor post neuro-
muscular junction dengan cara melakukan hambatan di reseptor muskarinik
secara spesifik sehingga transmisi asetilkolin pada reseptor tersebut dapat
digagalkan. Sulfat Atropin bekerja sebagai vagolitik dengan cara mengganggu
sistem kolinergik pada jantung, tujuannya adalah untuk meningkatkan
frekuensi denyut ventrikel agar curah jantung meningkat. Selain sulfas atropin
pasien juga diberikan miloz karena obat ini menyebabkan tidur, mengurangi
cemas dan menimbulkan amnesia antrogart.
Selanjutnya induksi dilakukan dengan menggunakan ketamin 15 mg jika
harus diberikan sebaiknya sebelumnya diberikan sedasi midazolam (dormikum)
atau diazepam (valium) dengan dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk
mengurangi salivasi diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg. Sevofluran (ultane)
merupakan halogenisasi eter. Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat
dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak
merangsang jalan nafas, sehingga digemari untuk induksi anestesi inhalasi
disamping halotan. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil, jarang
menyebabkan aritmia. Sevofluran pada dosis anestetik atau subanestetik
menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen, tetapi meninggikan
aliran darah otak dan tekanan intracranial. Peninggian aliran darah otak dan
tekanan intracranial ini dapat dikurangi dengan teknik anestesi hiperventilasi,
sehingga sevofluran banyak digunakan untuk bedah otak.
Sebelum dilakukan intubasi diberikan pelumpuh otot terlebih dahulu yakni
pada kasus ini adalah roculax 2 mg. Setelah pelumpuh otot bekerja barulah
dilakukan intubasi dengan laringoskop blade lengkung no.1 ½ (sesuai anatomis
leher bayi) dengan metode chin-lift dan jaw-trust yang berfungsi untuk
meluruskan jalan nafas antara mulut dengan trakea. Setelah jalan nafas dalam
keadaan lurus barulah dimasukkan pipa endotrakeal no.3 ½ tanpa cuff yang
mempunyai diameter 3,0-4,0 mm. Digunakan ETT tanpa cuff karena
penampang trakea bayi dan anak kecil berbeda dengan dewasa, penampang
melintang trakea bayi dan anak kecil dibawah usia 5 tahun hampir bulat.
Apabila digunakan cuff pada bayi dapat mengakibatkan trauma selaput lendir
trakea yang nantinya dapat menimbulkan edema disekitarnya, dan apabila
terjadi edema akan mengakibatkan spasme laring dan dilanjutkan dengan
apneu.
Setelah ETT terfiksasi dilaksanakan pembedahan yang diikuti dengan
rumatan atau yang biasa dikenal dengan maintenance menggunakan O2 + N20
+ Sevofluran Vol % ditambah dengan pemberian cairan parenteral yakni
asering untuk mensubstitusi cairan, baik darah maupun cairan tubuh lainnya,
yang keluar selama pembedahan.
Operasi selesai pada pukul 14.25 dan pasien langsung dibawa ke ruang
pemulihan. Aldrette Score pasien saat dibawa ke ruang pemulihan 9. Nadi :
84x/mnt, SpO2 : 100%. Selanjutnya pasien dipindahkan ke bangsal perawatan.

B. Kesimpulan
Anestesi umum atau general anesthesia merupakan tindakan
menghilangkan rasa sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran. Anestesi
umum yang digunakan pada kasus ini menggunakan teknik anestesi imbang
(balanced anesthesia) yang menggunakan obat anestesi intavena dan inhalasi
agar mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang karena operasi atau
pembedahan yang dilakukan cukup besar dan membutuhkan waktu yang lama.
Sebelum dioperasi, dipasang jalur intravena pada pasien. Pemberian obat
anestesi meliputi premedikasi, induksi dan maintenance. Penggunaan obat
anestesi yang digunakan baik untuk premedikasi, induksi dan maintenance
sedikit berbeda dengan orang dewasa karena secara fisiologis dan anatomis,
anak berbeda dengan orang dewasa.
Operasi dilakukan oleh dokter spesialis bedah syaraf selama kurang lebih
50 menit dengan monitoring tanda-tanda vital dan saturasi oksigen pada pasien
setiap 15 menit selama operasi berlangsung. Selesai operasi, pasien memasuki
periode bangun dan pemulihan, pasien dibawa ke ruang pemulihan untuk tetap
dimonitoring tanda-tanda vital dan saturasi oksigen sampai dapat dinyatakan
keluar dari ruang pemulihan.
DAFTAR PUSTAKA

Darsono dan Himpunan dokter spesialis saraf indonesia dengan UGM. 2005. Buku
Ajar Neurologi Klinis. Yogyakarta: UGM Press.
Dewoto dan Louisa. Serotonin, Obat Serotonergik dan Obat Antiserotonergik,
dalam: Farmakologi dan Terapi Edisi 6. 2017. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik FKUI. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Dewoto, H.R. Analgesik Opioid dan Antagonis, dalam: Farmakologi dan Terapi
Edisi 6. 2017. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI.
DeVito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate
structural abnormalities in idiopathic normal pressure hydrocephalus. Acta
Neurol Scand 2007: 116: pages 328–332
Evers dan Cowder. General Anesthetics. Dalam: Hardman dan Limbird. 2001.
Goodman & Gilman’s the Pharmacological Basis and Therapeutic. 10th Ed.
New York. McCraw-Hill.
Latief, Suryadi dan Dachlan. 2010. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi Kedua.
Jakarta: Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI.
Rodola F. Midazolam as an antiemetic, European Review for Medical and
Pharmacological Sciences 2006; 10: 121-6.
Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of
Neurology: Eight Edition. USA.
Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-doi: 10.1136/
bmj.327.7428.1408.
Wilmana dan Gan. Analgesik-Antipiretik, Analgesik Anti-Inflamasi Nonsteroid, dan
Obat Gangguan Sendi Lainnya, dalam: Farmakologi dan Terapi Edisi 6. 2017.
Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI.
Zunilda, D.S. dan Elysabeth. Anestetik Umum, dalam: Farmakologi dan Terapi
Edisi 6. 2017. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI.