Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERBILIRUBIN DI RUANG ANYELIR (PICU-


NICU) RSUD RA. KARTINI JEPARA

Disusun Oleh:
Winda Elyana Pramesti

Program Profesi Ners


Universitas Muhammadiyah Kudus
Tahun 2019/2020
A. Pengertian
Hiperbilirubin adalah meningkatnya kadar bilirubin dalam darah yang kadar
nilainya lebih dari normal (Suriadi dan Rita, 2008). Nilai normal bilirubin indirek 0,3
– 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 – 0,4 mg/dl.
Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan kadar bilirubin serum total yang
lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditandai dengan ikterus pada kulit,
sklera dan organ lain, keadaan ini mempunyai potensi menimbulkan Kern Ikterus.
(Nabiel Ridha,2014).
B. Klasifikasi
Berikut ini klasifikasi ikterus menurut Nabiel Ridha, 2014 adalah :
1. Ikterus Fisiologis.
Ikterus fisiologis adalah ikterus yang terjadi karena metabolisme normal bilirubin
pada bayi baru lahir usia minggu pertama. Peninggian kadar bilirubin timbul
pada hari kedua dan ketiga dan tampak jelas pada hari kelima dan keenam dan
menghilang sampai hari kesepuluh sampai keempatbelas. Pada neonatus cukup
bulan, kadar bilirubin tidak melebihi 10 mg/dL dan pada bayi kurang bulan,
kurang dari 12 mg/dL. Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5%
per hari dan kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg%. Ikterus fisiologis tidak
mempunyai dasar patologis (tidak terbukti mempunyai hubungan dengan
keadaan patologis tertentu). Ikterus fisiologi baru dapat dinyatakan sesudah
observasi dalam minggu pertama setelah kelahiran
2. Ikterus Patologis
Ikterus patologis adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi bilirubin dalam
darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan kern
ikterus jika tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan
keadaan yang patologis. Ikterus patologis timbul dalam 24 jam pertama dimana
kadar bilirubin pada neonatus cukup bulan melebihi 10 mg/dL dan pada bayi
kurang bulan melebihi 12,5 mg/dL. Peningkatan kadar bilirubin lebih dari 5
mg% per hari. Ikterus menetap setelah sesudah dua minggu pertama. Kadar
bilirubin direk melebihi 1 mg%. Ikterus yang disertai berat badan lahir kurang
dari 2000 gram, masa gestasi kurang dari 36 minggu, afiksia, hipoksia, sindrom
gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia. Ikterus yang disertai proses
hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis)
3. Kern Ikterus.
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak
terutama pada korpus striatum, talamus, nucleus subtalamus, hipokampus,
nukleus merah, dan nukleus pada dasar ventrikulus IV.
Kern ikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada
neonatus cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin lebih dari 20 mg%) dan
disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin
pada otak. Kern ikterus secara klinis berbentuk kelainan syaraf simpatis yang
terjadi secara kronik.
C. Etiologi
Menurut Nabiel Ridha 2014, peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat
terjadi karena keadaan sebagai berikut;
1. Peningkatan produksi :
a) Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat
ketidaksesuaian golongan darah ibu dan anak seperti Rhesus antagonis, dan
ABO.
b) Hematoma, polisitemia, pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
c) Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolik yang
terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
d) Kelainan dalam sel darah merah pada defisiensi G-6-PD (Glukosa 6 Phospat
Dehidrogenase), dan talasemia .
e) Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) ,
diol (steroid).
f) Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase, sehingga kadar Bilirubin Indirek
meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah.
g) Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia.
2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan misalnya pada
Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi Hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin
yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah seperti infeksi,
Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif.
D. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin menurut Suriadi
dan Rita, 2008 adalah ;
1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
2. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau infeksi.
3. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai puncak
pada hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai
hari ke tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
4. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung
tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk)
kulit tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat
dilihat pada ikterus yang berat.
5. Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti dempul
6. Perut membuncit dan pembesaran pada hati
7. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
8. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap dan tidak mau minum, tonus otot
meninggi, leher kaku.
9. Dapat terjadi ketulian, gangguan bicara dan retardasi mental
10. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus,
kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot.
E. Patofisiologi
Hiperbilirubinemia neonatal atau ikterus fisiologis, suatu kadar bilirubin
serum total yang lebih dari 5 mg/ dl, disebabkan oleh predisposisi neonatal untuk
memproduksi bilirubin dan keterbatasan kemampuan untuk mengekskresikannya.
Dari definisinya, tidak ada ketidaknormalan lain atau proses patologis yang
mengakibatkan ikterus. Warna kuning pada kulit dan membrane mukosa adalah
karena deposisi pigmen bilirubin tak ter-konjungsi. Sumber utama bilirubin adalah
dari pemecahan hemoglobin yang sudah tua atau sel darah merah yang mengalami
hemolisis. Pada neonates, sel darah merah mengalami pergantian yang lebih tinggi
dan waktu hidup yang lebih pendek, yang meningkatkan kecepatan produksi bilirubin
lebih tinggi. Ketidakmatangan hepar neonatal merupakan factor yang membatasi
ekskresi bilirubin.
Bilirubin tak terkonjugasi atau indirek bersifat larut lemak dan mengikat
albumin plasma. Bilirubin kemudian diterima oleh hati, tempat konjugasinya.
Bilirubin terkonjugasi atau direk diekskresikan dalam bentuk empedu ke dalam usus.
Di dalam usus, bakteri meerubah bilirubin terkonjugasi atau direk menjadi
urobilinogen. Mayoritas urobilinogen yang sangat mampu larut diekskresikan kembali
oleh hepar dan dieliminasi ke dalam feses, ginjal mengekskresikaan 5% urobilinogen.
Peningkatan kerusakan sel darah merah dan ketidakmatangan hepar tidak hanya
menambah peningkatan kadar bilirubin, tetapi bakteri usus lain dapat
mendekonjugasibilirubin, yang memungkinkan reabsorpsi ke dalam sirkulasi dan
selanjutnya meningkatkan kadar bilirubin.
F. Pathway
G. Pemeriksaan Penunjang
Secara umum pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada bayi hiperbilirubin
menurut Suriadi dan Rita, 2008 adalah sebagai berikut :
1. Laboratorium (Pemeriksan Darah)
a. Pemeriksaan billirubin serum. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 10
mg/dl dan bayi cukup bulan kadar billirubin 12,5 mg/dl merupakan keadaan
yang tidak fisiologis.
b. Hb, HCT, Hitung Darah Lengkap.
c. Protein serum total.
2. Ultrasound, untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
3. Radioisotop Scan, dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan
atresia billiari.
Adapun pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan waktu timbulnya ikterus, yaitu :
1. Ikterus yang timbul pada 24 jam pertama
Pemeriksaan yang dilakukan :

a. Kadar bilirubin serum berkala.


b. Darah tepi lengkap.
c. Golongan darah ibu dan bayi diperiksa.
d. Pemeriksaan penyaring defisiensi enzim G-6-PD biakan darah atau biopsi hepar
bila perlu.
2. Ikterus yang timbul 24–72 jam setelah lahir :
Pemeriksaan yang perlu diperhatikan : Bila keadaan bayi baik dan peningkatan
tidak cepat dapat dilakukan pemeriksaan darah tepi, periksa kadar bilirubin
berkala, pemeriksaan penyaring enzim G-6-PD dan pemeriksaan lainnya.
3. Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai minggu pertama
Ikterus yang timbul pada akhir minggu pertama dan selanjutnya
Pemeriksaan yang dilakukan :
a. Pemeriksaan bilirubin direk dan indirek berkala
b. Pemeriksaan darah tepi
c. Pemeriksaan penyaring G-6-PD
d. Biakan darah, biopsy hepar bila ada indikasi
H. Penatalaksanaan Medis
Pada dasarnya, pengendalian bilirubin adalah seperti berikut:
1. Stimulasi proses konjugasi bilirubin menggunakan fenobarbital. Obat ini kerjanya
lambat, sehingga hanya bermanfaat apabila kadar bilirubinnya rendah dan ikterus
yang terjadi bukan disebabkan oleh proses hemolitik. Obat ini sudah jarang dipakai
lagi.
2. Menambahkan bahan yang kurang pada proses metabolisme bilirubin (misalnya
menambahkan glukosa pada hipoglikemi) atau (menambahkan albumin untuk
memperbaiki transportasi bilirubin). Penambahan albumin bisa dilakukan tanpa
hipoalbuminemia. Penambahan albumin juga dapat mempermudah proses ekstraksi
bilirubin jaringan ke dalam plasma. Hal ini menyebabkan kadar bilirubin plasma
meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin tersebut ada dalam ikatan dengan
albumin. Albumin diberikan dengan dosis tidak melebihi 1g/kgBB, sebelum maupun
sesudah terapi tukar.
3. Mengurangi peredaran enterohepatik dengan pemberian makanan oral dini) Memberi
terapi sinar hingga bilirubin diubah menjadi isomer foto yang tidak toksik dan mudah
dikeluarkan dari tubuh karena mudah larut dalam air.
4. Mengeluarkan bilirubin secara mekanik melalui transfusi tukar (Mansjoer et al, 2007).
Pada umunya, transfusi tukar dilakukan dengan indikasi sebagai berikut:
a. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
b. Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
c. Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama.
d. Tes Coombs Positif
e. Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu pertama.
f. Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam pertama.
g. Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
h. Bayi dengan Hidrops saat lahir.
i. Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.
Transfusi Pengganti digunakan untuk :
 Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan) terhadap sel
darah merah terhadap Antibodi Maternal.
 Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi (kepekaan)
 Menghilangkan Serum Bilirubin
 Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan keterikatan dengan
Bilirubin
 Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O segera (kurang dari
2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang dipilih tidak mengandung antigen A
dan antigen B yang pendek. setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek.
Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.
5. Menghambat produksi bilirubin. Metalloprotoporfirin merupakan kompetitor
inhibitif terhadap heme oksigenase. Ini masih dalam penelitian dan belum digunakan
secara rutin.
6. Menghambat hemolisis. Immunoglobulin dosis tinggi secara intravena (500-
1000mg/Kg IV>2) sampai 2 hingga 4 jam telah digunakan untuk mengurangi
level bilirubin pada janin dengan penyakit hemolitik isoimun. Mekanismenya
belum diketahui tetapi secara teori immunoglobulin menempati sel Fc reseptor
pada sel retikuloendotel dengan demikian dapat mencegah lisisnya sel darah
merah yang dilapisi oleh antibody (Cloherty et al, 2008).
7. Fototherapi
Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan
Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan neonatus pada
cahaya dengan intensitas yang tinggi (a bound of fluorencent light bulbs or
bulbs in the blue-light spectrum) akan menurunkan Bilirubin dalam kulit.
Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan cara memfasilitasi eksresi
Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorsi
jaringan mengubah Bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang
disebut Fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah
melalui mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke Empedu dan
diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama feses tanpa proses
konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984). Hasil Fotodegradasi terbentuk
ketika sinar mengoksidasi Bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar
Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis
yang dapat menyebabkan Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin Indirek 4 -5 mg /
dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gramharus di
Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5 mg / dl. Beberapa
ilmuan mengarahkan untuk memberikan Fototherapi Propilaksis pada 24 jam
pertama pada Bayi Resiko Tinggi dan Berat Badan Lahir Rendah.
Terapi sinar pada ikterus bayi baru lahir yang di rawat di rumah sakit. Dalam
perawatan bayi dengan terapi sinar,yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
1) Diusahakan bagian tubuh bayi yang terkena sinar dapat seluas mungkin
dengan membuka pakaian bayi.
2) Kedua mata dan kemaluan harus ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan
cahaya agar tidak membahayakan retina mata dan sel reproduksi bayi.
3) Bayi diletakkan 8 inci di bawah sinar lampu. Jarak ini dianggap jarak yang terbaik
untuk mendapatkan energi yang optimal.
4) Posisi bayi sebaiknya diubah-ubah setiap 18 jam agar bagian tubuh bayi
yang terkena cahaya dapat menyeluruh.
5) Suhu bayi diukur secara berkala setiap 4-6 jam.
6) Kadar bilirubin bayi diukur sekurang - kurangnya tiap 24 jam.
7) Hemoglobin harus diperiksa secara berkala terutama pada bayi dengan hemolisis.
I. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Pola pernapasan
b) Kebutuhan nutrisi
c) Kebutuhan eliminasi
d) Kebutuhan istirahat dan tidur
e) Kebutuhan rasa aman dan nyaman
f) Kebutuhan berpakaian
g) Kebutuhan mempertahankan suhu tubuh dan sirkulasi
h) Kebutuhan personal hygiene
i) Kebutuhan gerak dan keseimbangan tubuh
j) Kebutuhan berkomunikasi dengan orang lain
k) Kebutuhan spiritual
l) Kebutuhan bekerja
2. Diagnosa Keperawatan
a) Resiko Injury
b) Resiko Kurangnya Volume Cairan
c) Resiko Gangguan Integritas Kulit
d) Kecemasan Orang Tua
e) Kurang Pengetahuan
3. Intervensi Keperawatan

1) Resiko injury (internal berhubungan dengan peningkatan serum bilirubin


sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gaangguan ekskresi bilirubin.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan
tidak terjadi injury akibat peningkatan serum bilirubin sekunder dari
pemecahan sel darah merah dan gaangguan ekskresi bilirubin.
Kriteria Hasil: Tidak adanya tanda-tanda injury internal.
 Intervensi:
a. Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sclera dan tubuh
secara progresif terhadap ikterik setiap pergantian shift
Rasional: Mengetahui adanya hiperbilirubinemi secara dini sehingga
dapat dilakukan tindakan penanganan segera.
b. Monitor kadar bilirubin dan kolaborasi bila ada peningkatan kadar
Rasional: Mengetahui peningkatan kadar bilirubin yang tinggi
c. Monitor kadar Hb, Hct adanya penurunan.
Rasional: Adanya penurunan Hb, Hct menunjukan adanya hemolitik
d. Berikan phototerapi
Rasional: phototerapi berfungsi mendekomposisikan bilirubin dengan
photoisomernya.
2) Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan hilangnya air tanpa
disadari sekunder dari fototerapi.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan
tidak terjadi deficit volume cairan
Kriteria Hasil:
a. Jumlah intake dan output seimbang.
b. Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal.
c. Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BBL.
 Intervensi:
a. Kaji reflek hisap bayi.
Rasional: Mengetahui kemampuan hisap bayi
b. Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat
Rasional: Menjamin keadekuatan intake
d. Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi feces
Rasional: Mengetahui kecukupan intake
e. Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital setiap 4 jam
Rasional: Turgor menurun, suhu meningkat, respirasi meningkat adalah
tanda-tanda dehidrasi.
f. Timbang BB setiap hari.
Rasional: mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi.
3) Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan pengaruh fototerapi.
Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan
tidak terjadi gangguan integritas kulit
Kriteria Hasil:
a. Tidak terjadi decubitus
b. Kulit bersih dan lembab
 Intervensi:
a. Kaji warna kulit tiap 8 jam.
Rasional: Mengetahui adanya perubahan warna kulit.
b. Ubah posisi setiap 2 jam
Rasional: Mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu
lama.
c. Massage daerah yang menonjol
Rasional: Melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan
di daerah tersebut.
d. Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab
Rasional: Mencegah lecet.
e. Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubin turun
menjadi 7,5 mg% fototerafi dihentikan
Rasional: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama.
4) Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi bayi
Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua
menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif
dalam perawatan.
Kriteria Hasil: Orang tua tidak cemas
 Intervensi:
a. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien
Rasional: Mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit.
b. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan
perawatannya.
Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit.
c. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah.
Rasional: meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam
merawat bayi.
5) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya pengalaman orang
tua.
Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x30 menit diharapkan orang tua
menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif
dalam perawatan
Kriteria Hasil: Orang tua menyatakan mengerti tentang perawatan bayi
hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan
 Intervensi:
a. Ajak orang tua untuk diskusi dengan menjelaskan tentang fisiologis,
alasan perawatan, dan pengobatan.
Rasional: Menambah pengetahuan mengenai penyakit yang dialami bayi.
b. Libatkan dan ajarkan orang tua dalam merawat bayi
Rasional: Orang tua dapat meerawat bayi dengan benar.
c. Jelaskan komplikasi dengan mengenal tanda dan gejala; kekakuan otot,
kejang dan tidak mau makan/ minum, meningkatnya temperature, dan
tangisan yang melengking.
Rasional: orang tua dapat megetahui gejala dan tanda yang teerjadi pada
bayi dan dapat bertindak cepat.
DAFTAR PUSTAKA

Suriadi dan Rita Yuliani. 2010. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta: Sagung
Seto
Astrining S, Siti H& Heni N.2013. Perawatan Bayi Resiko Tinggi. Jakarta : EGC

Nanda NIC-NOC.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Edisi


Revisi Jilid 2. Jakarta : ECG

NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta :


EGC

Ngastiah. 2009. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC

Ridha,Nabiel.2014.Buku Ajar Keperawatan Anak.Yogyakarta : Pustaka Pelajar