Anda di halaman 1dari 39

TINJAUAN TEORI DAN TINJAUAN KASUS

A. Tinjauan Teoritis
1. Konsep Dasar Diabetes Mellitus
a. Pengertian
Dari berbagai sumber dapat disebutkan beberapa pengertian
Diabetes Mellitus diantaranya yaitu:
Brunner & Suddarth (2002) mendefinisikan Diabates Mellitus
sebagai sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan
kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Mansjoer (2000) menjelaskan Diabetes Mellitus sebagai
keadaan hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik
akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi
kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dengan mikroskop elektron.
Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang
memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius dimana penderita
tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam
darahnya (Diabetes Mellitus, 2007).
b. Patofisiologi
Diabetes Mellitus merupakan salah satu gangguan pada organ
pankreas. Dalam pankreas terdapat pulau-pulau langerhans yang terdiri
dari sel beta yang mengeluarkan insulin, sel alpa yang memproduksi
glukagon, dan sel delta yang mengeluarkan somatostatin.
1) Berdasarkan penyebabnya Diabetes Mellitus dibagi menjadi dua tipe
yaitu : (Mansjoer, 2000; Brunner & Suddart, 2002 )
a) Dm Tipe I: Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) atau
tergantung insulin yang disebabkan oleh karena destruksi atau
kerusakan sel beta dari pulau – pulau langerhans akibat proses
autoimun, sehingga pankreas berhenti memproduksi insulin.
Kerusakan sel beta tersebut dapat terjadi sejak kecil ataupun
setelah dewasa, sehingga diperlukan penyuntikan insulin untuk
mengendalikan kadar glukosa darah.
b) DM Tipe II : Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM)
atau tidak tergantung insulin, terjadi jika insulin hasil produksi
pankreas tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal
terhadap insulin sehingga terjadi gangguan pengiriman glukosa ke
sel tubuh. Biasanya terjadi pada usia diatas 40 tahun, munculnya
perlahan-lahan, bisa dikontrol dengan DOA (Diit, Obat, Activity)
2) Manifestasi Klinis (Mansjoer, 2000)
Gejala-gejala khas yang biasa muncul pada penderita Diabetes
Mellitus Tipe I sebagai akibat dari kelainan genetika, sehingga tubuh
tidak dapat memproduksi insulin dengan baik antara lain: poliuri,
polidipsi, polifagia, berat badan menurun, kelelahan penglihatan
kabur, meningkatnya kadar gula dalam darah dan air seni dan gejala-
gejala lain yang mungkin dikeluhkan yaitu kesemutan, gatal,
impotensi pada pria, dan pruritus pada vulva wanita.
Sedangkan gejala-gejala DM Tipe II muncul secara perlahan-lahan
sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaan
sama seperti gejala DM Tipe I.
3) Komplikasi DM (Brunner & Suddart, 2002)
a) Komplikasi akut DM : Hipoglikemia, Ketoasidosis Diabetik,
dan Sindrom HHNK (Hiperglikemia Hiperosmoler Non Ketotik)
b) Komplikasi kronis DM: Penyakit Makrovaskuler (penyakit
Jantung dan Pembuluh Darah), Penyakit Mikrovaskuler
(Retinopati diabetik, Nefropati Diabetik, Neuropati Diabetik)
c. Pemeriksaan Diagnostik
Untuk dapat menegakkan diagnosa Diabetes Mellitus perlu
dilakukan pemeriksaan diagnostik, diantaranya yaitu : (Doengoes,
1999; Rumahorbo, 1999; Brunner & Suddart, 2002 )
1) Pemeriksaan glukosa darah : meningkat secara abnormal. Kadar
gula darah plasma pada waktu puasa (gula darah nuchter) yang
besarnya diatas 140 mg/dl (SI: 7,8 mmo/L) atau kadar glukosa
darah sewaktu (gula darah random) diatas 200 mg/dl (SI:11,1
mmol/L).
2) Pemeriksaan Tes Toleransi Glukosa Oral : memanjang (lebih dari
200 mg/dl). Biasanya dianjurkan untuk pasien dengan kadar
glukosa meningkat dibawah kondisi stress.
3) Aseton plasma ( keton) : positif.
4) Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat.
5) Osmolaritas serum: meningkat tetapi biasanya kurang dari 330
Mosm/L.
6) Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal (dehidrasi/
penurunan fungsi ginjal).
7) Kadar insulin darah: biasanya menunjukkan pH darah rendah dan
penurunan HCO2 (acidosis).
8) Trombosit darah : HT mungkin meningkat (dehidrasi), leukositosis,
hemokonsentrasi merupakan respon terhadap infeksi.

d. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus


Dalam usaha untuk menangani penyakit Diabetes Mellitus dapat
dilakukan dengan beberapa cara diantaranya: (Tjokroprawiro, 1997)
1) Diet
Diet dilaksanakan dengan menghitung persentase dari Relatif Body
Weight (RBW) atau Berat Badan Relatif (BBR)
BB
BBR= ----------- x 100%
(TB-100)
Kurus : BBR < 90 %
Sedang : BBR 90 - 100 %
Gemuk : BBR> 100%
Makanan yang dianjurkan seimbang dengan komposisi energi
dari karbohidrat, protein, dan lemak sebagai berikut :
Karbohidrat 60 - 70 %
Protein 10-15 %
Lemak 20 - 25 %
Adapun macam- macam diet DM :
a) Diet B
Diet ini diberikan pada penderita DM yang tidak tahan lapar,
kadar kolesterol tinggi komplikasi penyempitan pembuluh
darah, telah mengalami komplikasi ginjal, dan telah menderita
DM > 15 tahun. Komposisi diet B adalah 68% karbohidrat, 12%
protein, dan 20% lemak.
b) Diet Bl
Diet ini diberikan pada penderita DM yang tidak tahan lapar,
kurus, BBR < 90%, masih muda, memerlukan pertumbuhan,
mengalami patah tulang, menderita ganggren, keadaan pasca
bedah, menderita tumor / kanker.
Komposisi diet B1 adalah karbohidrat 60%, protein 20%, dan
lemak 20%.
c) Diet B2
Diet ini diberikan pada penderita DM dngan komplikasi
Netropati Diabetik dengan gagal ginjal kronik sedang.
Komposisi diet B2 adalah 68% karbohidrat, 12% protein, dan
20% lemak, kaya akan asam amino esensial (AAE) hanya ada 2
tahapan yaitu 2100 - 2300 kalori/hari.
d) Diet B3
Diet ini diberikan pada penderita DM dengan Nefropati Diabetik
dengan gagal ginjal kronik berat dengan CCT < 25 ml/mnt
seperti diet B2, diet ini juga tinggi kalori yaitu 2100- 2300
kalori/hari, rendah protein, tinggi asam amino esensial dipilih
lemak tidak jenuh.
e) Diet Be
Diet ini diberikan pada penderita DM dengan Nefropati Diabetik
-stadium akhir. Penderita boleh minum glukosa dan rasa manis
misalnya es krim tetapi hams disuntik insulin, aturan makan
tetap tiga kali sehari makanan keeil, interval 3 jam dengan kalori
2000 kalori/hari
2) Latihan Fisik
Latihan fisik dilakukan secara teratur (3 – 4 kali seminggu) selama
kurang lebih 30 menit seperti: ja1an - jalan, jogging, berenang, dan
bersepeda dalam tempo sedang karena dapat membantu kerja
metabo1isme tubuh sehingga dapat mengurangi kebutuhan akan
insulin. Hal ini perlu dipersiapkan sebelum berolahraga untuk
mencegah hipoglikemia adalah makan yang cukup dan tes kadar gula
darah. Latihan akan menurunkan kadar glukosa darah dengan
meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot. Latihan ini juga
berguna untuk meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake).
3) Obat
Obat berkhasiat hipoglikemia (OAD:Obat Anti Diabetik). Obat ini
dipakai untuk mengontrol kadar gula darah. Golongan obat ini
adalah sulfonylurea, glipozid, dan glyburide. Obat ini mempunyai
efek meningkatkan kemampuan sel-sel beta pankreas untuk
mensekresikan insulin, juga meningkatkan jumlah reseptor insulin
dan memperbaiki kerusakan kerja insulin post reseptor. Indikasi
pemberian insulin antara lain :
a) DM dengan berat badan menurun cepat/kurus
b) Ketoasidosis diabetik, asidosis laktat, hiperosmolar
c) DM yang mengalami stress berat (infeksi sistemik operasi)
d) DM yang tidak dikelola dengan obat hipoglikemia oral
4) Perawatan di rumah
Penderita DM sering mengalami gangguan sirkulasi pada kaki
sehingga mudah terinfeksi dan terjadi luka. Untuk menghindari hal
tersebut diperlukan adanya perawatan kaki yaitu mencuci kaki
dengan benar, mengeringkan dan memberikan minyak (kita harns
berhati - hati agar jangan sampai celah antara jari kaki menjadi
basah). Inspeksi kaki harns dilakukan setiap hari untuk memeriksa
apakah terdapat gejala kemerahan, lepuh, fisura, kalus, atau ulserasi.
Hindari berjalan tanpa alas kaki, kuku jari kaki harns dipotong rata
tanpa membuat lengkungan pada sudut - sudutnya.
5) Penyuluhan kesehatan.
6) Cangkok pankreas.
7) Pada pasien DM cedera kaki kadang tidak dirasakan karena
kepekaan kakinya sudah menghilang dan penyebab terjadinya cedera
antara lain cedera termal (misalnya berjalan dengan kaki telanjang di
jalan yang panas, memeriksa air panas untuk mandi). Therapi pada
ulkus kaki meliputi tirah haring, pemberian antibiotik, dan
debridement serta pengendalian gula darah.
2. Konsep Dasar Kaki Diabetik (Diabetik Foot)
a. Pengertian
Kaki Diabetik (Diabetik Foot) adalah terjadinya nekrosis daerah akral
dan gangguan pada jari kaki atau adanya ulkus pada telapak kaki.
b. Ciri - ciri kaki diabetik
Dapat terjadi ulkus diabetik pada pressure point atau titik dimana kaki
menekan alas kaki atau sepatu yang digunakan pasien, lokasinya pada
metatarsal, tumit, atau bagian tengah dari tdapak kaki.Ganggren
diabetic dapat terjadi karena adanya kematian total jaringan, pasien
mengalami mikrotrombosis di arteri digitalis dan karena infeksi akan
terjadi iskemik jaringan mati dan terjadi gangren. (Brunner & Suddart,
2002)
c. Klasifikasi Kaki Diabetik
1) Derajat 0
Merupakan tahapan pre dan post ulserasi
2) Derajat 1
Ulserasi bersifat superficial hanya mengenai bagian epidennis atau
dermis tetapi tidak mengenai tendon, kapsul, dan tulang.
3) Derajat 2
Ulserasi sudah mengenai tendon atau kapsul.
4) Derajat 3
Ulserasi sudah mengenai tulang atau sendi.
Masing -masing derajat tersebut memiliki tingkatan yaitu :
1) Tingkat A : lukanya dalam keadaali basah
2) Tingkat B : lukanya non iskemik yang terinfeksi
3) Tingkat C : luka iskemik
4) Tingkat D : luka iskemik yang terinfeksi
d. Pengobatan atau Perawatan
Bila telah terjadi komplikasi berupa kaki diabetik, penatalaksanaan
yang dapat dilakukan adalah mengistirahatkan kaki yang. terluka,
pemberian antibiotic, dan perawatan luka. Pada pasien dengan penyakit
vaskuler perifer, kesembuhan kaki diabetik mungkin sulit terjadi. Hal
ini disebabkan oleh penurunan kemampuan oksigen nutrien serta
antibiotik untuk menjangkau jaringan yang cedera bahkan amputasi
mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.

3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan dengan Diabetes Mellitus (Doengoes,


1999 )
a. Pengkajian
Adapun data yang perlu dikaji pada pasien Diabetes Mellitus adalah :
1) Aktivitas dan Istirahat
Data Subyektif : Lemah, letih, sulit bergerak atau berjalan, kram
otot, tonus otot menurun, gangguan istirahat atau
tidur.
Data Obyektif : Takikardi, dan takipnea pada keadaan istirahat
atau dengan aktivitas, letargi, atau disorentasi,
koma, penurunan kekuatan otot
2) Sirkulasi
Data Subyektif: Adanya riwayat hipertensi, kesemutan pada
ekstermitas, ulkus pada kaki, penyembuhan yang
lama.
Data Obyektif : Takikardi, perubahan tekanan darah postural,
hipertensi, nadi yang menurun atau tidak ada,
disaritmia, kulit panas, kering, dan kemerahan,
bola mata cekung.
3) Makan dan Minum
Data Subyektif : Hilang nafsu makan, mual muntah, tidak
mengikuti diet, haus, peningkatan nafsu makan,
pasien mengeluh makan dan minum yang banyak.
Data Obyektif: Kulit kering atau bersisik, turgor jelek, muntak
dan penurunan berat badan
4) Eliminasi
Data Subyektif : Pasien mengeluh banyak kencing terutama pada
malam hari.
Data Obyektif: Poliuri (bisa berkembang menjadi oliguri / anuria
jika terjadi hipovolemia berat), urine; encer,
pucat, kuning
5) Neurosensori
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, kesemutan, gangguan
penglihatan.
Data Obyektif: Takikardi, letargi, disorientasi, koma, gangguan
memori
6) Nyeri / Kenyamanan
Data Subyektif : Mengeluh nyeri pada bagian tubuh yang sakit.
Data Obyektif: Wajah meringis, tampak sangat berhati-hati
7) Pernapasan
Data Subyektif : Merasa kekurangan oksigen, batuk.
Data Obyektif: Batuk, frekuensi pernapasan, napas bau aseton
Diagnosa Keperawatan yang muncul pada pasien Diabeter Mellitus
(Doengoes, 1999; Carpenito, 1999).
a) Perubahan nutrisi kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan masukan oral, ketidakcukupan
insulin
b) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan meningkatnya kebutuhan
metabolisme.
c) Perubahan perfusijaringan perifer berhubungan dengan penurunan
aliran darah ke perifer.
d) Peribahan sensori - perseptual (visual) berhubungan dengan
ketidakseimbangan glukosa / insulin.
e) Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penurunan
sensasi raba, hipoglikemia, penurunan tajam penglihatan.
f) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan tingginya kadar
glukosa dalam darah.
g) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan destruksi jaringan
kulit, penurunan suplai darah sekunder terhadap DM, peningkatan
kadar glukosa dalam darah.
h) Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan
sekunder terhadap amputasi.
i) Penatalaksanaan aturan terapeutik tak efektif berhubungan dengan
kurang pengetahuan.
j) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik
sekunder terhadap hiperglikemia.
k) Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan
ketidaksadaran.
l) Problem kolaboratif hiperglikemia atau hipoglikemia
m) Kerusakan Pertukaran Gas berhubungan dengan peningkatan
produksi keton dalam darah.
b. Perencanaan
Rencana tindakan adalah desain spesiftk intervensi untuk membantu
pasien dalam mencapai kriteria hasil. Rencana mendefinisikan suatu
aktivitas yang diperlukan untuk membatasi faktor-faktor pendukung
terhadap suatu permasalahan (Nursalam).
Dalam perencanaan diawali dengan menentukan prioritas berdasarkan
A. Maslow, sifat masalah, berat ringannya masalah, dan cepat tidaknya
masalah dapat diatasi serta membuat intervensi keperawatan
berdasarkan komponen penyebab dari diagnosa keperawatan
(Doengoes, 1999; Carpenito, 2000)
1) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peningkatan
produksi badan keton dalam darah
Tujuan : Kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
Intervensi :
a) Auskultasi bunyi napas, catat adanya mengi, krekel
Rasional : Menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan
sekret menunjukkan kebutuhan untuk intervensi
lebih lanjut
b) Anjurkan pasien batuk efektif, napas dalam
Rasional : Memberikan jalan napas dan memudahkan
aliran oksigen
c) Dorong pembahan posisi sering
Rasional : Membantu mencegah atelektasis dan pneumoni
d) Pertahankan dudule di kursi/tirah haring dengan posisi
semifowler
Rasional : Meningkatkan inflamasi pam maksimal dan
menurunkan konsumsi oksigen / kebutuhan
e) Beri O2 sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar
yang dapat memperbaiki/menurunkan
hipoksemia jaringan
f) Kolaborasi pemeriksaan GDA
Rasional : Hipoksemia dapat menjadi berat selama edema
paru
2) Kekurangan volume cairan dan e1ektrolit berhubungan dengan
diuresis osmotik sekunder terhadap hiperglikemia
Tujuan : Kebutuhan cairan dan elektrolit pasien terpenuhi
Intervensi
a) Pantau tanda - tanda vital, catat adanya perubahan tekanan
darah
Rasional : Perubahan tekanan darah dapat
mengidentifikasikan terjadinya hiperglikemia
dan hipoglikemia.
b) Pantau suhu, warna kulit atau kelembabannya
Rasional : Demam dengan kulit kemerahan, kering dapat
dijadikan cerminan terjadinya dehidrasi.
c) Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine
Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan cairan yang
diberikan sebagai keefektifan dari terapi yang
diberikan
3) Perubahan nutrisi kurang atau lebih dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan perubahan masukan oral, ketidakcukupan
insulin
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Intervensi
a) Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat
b) Tentukan program diet dan pola makan pasien
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan dan
penyimpangan dari kebutuhan terapetrtik
c) Berikan makanan cair yang mengandung nutrien dan elektrolit
Rasional : Pemberikan makanan melalui oral lebih baik,
jika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik
d) Observasi tanda - tanda hipoglikemia
Rasional : Karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi
gula darah akan berkurang sementara tetap
diberikan insulin maka akan terjadi
hipoglikemia
e) Berikan pengobatan insulin secara teratur
Rasional : Insulin regular memiliki awitan cepat sehingga
dapat dengan mudah memindahkan glukosa
kedalam sel
4) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tingginya kadar
glukosa dalam darah
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Intervensi
a) Observasi tanda - tanda terjadi infeksi
Rasional : Dapat mencetuskan keadaan ketoasidosis atau
dapat mengalami infeksi silang
b) Pertahankan teknik aseptik
Rasional : Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan
menjadi media yang baik untuk pertumbuhan
kuman
c) Berikan perawatan kulit yang teratur
Rasional : Sirkulasi perifer bisa terganggu yang
menempatkan pasien pada peningkatin resiko
terjadinya kerusakan kulit
5) Resiko tinggi terhadap perubahan cedera berhubungan dengan
penurunan sensasi raba. hipoglikemia, penurunan tajam penglihatan
Tujuan : Cedera tidak terjadi
Intervensi
a) Pantau kadar glukosa darah
Rasional : Untuk mengantisipasi terjadinya hiperglikemia
atau hipoglikemia
b) Orientasikan pasien terhadap lingkungan
Rasional : Menurunkan kebingungan dan mempertahankan
kontak dengan realitis
c) Ajarkan tanda-tanda terjadinya hiperglikemia atau
hipoglikemia
Rasional : Dengan mengetahui secara dini tanda dan gejala
dari hipoglikemia dan hiperglikemia sehingga
dapat memudahkan perawatan
6) Perubahan sensori-perseptual (visual) berhubungan dengan
ketidakseimbangan glukosa / insulin
Tujuan : Perubahan persepsi sensori tidak terjadi
Intervensi
a) Pantau tanda-tanda vital
Rasional : Dapat mengidentifikasi terjadinya hiperglikemia
atau hipoglikemia
b) Orientasikan kembali pasien sesuai dengan kebutuhan
Rasional : Menurunkan kebingungan dan mempertahankan
kontak dengan realistis
c) Lindungi pasien dari cedera ketika tingkat kesadaran pasien
terganggu
Rasional : Pasien mengalami disorientasi merupakan awal
timbul cedera
d) Evaluasi lapang pandang
Rasional : Cedera atau kaburnya lapang pandang dapat
mengganggu penglihatan yang memerlukan
terapi korektif
7) Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan
aliran darah ke perifer
Tujuan : Perfusi jaringan adekuat ke perifer
Intervensi
a) Observasi vital sign
Rasional : Indikator umum siklus sirkulasi dan
keadekuatan agar tetap stabil
b) Auskultasi frekuensi dan irama jantung
Rasional : Takikardi sebagai akibat hiperglikemia dan
hipoglikemia dan kornpensasi upaya
peningkatan aliran darah
c) Observasi warna dan suhu kulit
Rasional : Kulit pucat, sianosis pada kuku rnenunjukkan
vasokonstriksi perifer
8) Problem kolaboratif hiperglikemia dan hipoglikemia
Tujuan : Komplikasi hiperglikemia dan hipoglikemia
tidak terjadi
Intervensi
a) Pantau tanda - tanda vital
Rasional : Dapat mengetahui tanda - tanda yang mengarah
ke komplikasi hiperglikemia dan hipoglikemia
b) Pantau benda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemia
Rasional : Mengetahui secara dini tanda dan gejala dari
hiperglikemia dan hipoglikemia sehingga dapat
memudahkan perawatan
c) Monitor kadar glukosa darah setiap hari
Rasional : Menentukan langkah selanjutnya apabila terjadi
komplikasi hiperglikemia
d) Anjurkan pasien makan sesuai diet
Rasional : Dapat menjaga kondisi pasien agar tetap stabil
9) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan meningkatnya kebutuhan
metabolisme
Tujuan : Intoleransi aktivitas tidak terjadi
Intervensi
a) Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas, catat perubahan dan
laporkan bila terjadi perubahan tanda - tanda vital, kelelahan
Rasional : Menentukan respon pasien terhadap aktivitas
dan dapat mengindikasikan penurunan oksigen
b) Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung
Rasional : Dengan lingkungan yang tenang membantu
proses penyembuhan pasien
c) Bantu perawatan dari pasien yang diperlukan
Rasional : Meminimalkan terjadi kelelahan pada pasien
10) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan destruksi jaringan
kulit, penurunan suplai darah
Tujuan : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
Intervensi
a) Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit
Rasional : Mendeteksi adanya dehidrasi yang
mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
b) Inspeksi kulit terhadap perubahan wama, turgor, vascular
Rasional : Menandakan area sirkulasi bawah
c) Ubah posisi dengan sering
Rasional : Menurunkan tekanan pada edema
d) Rawat luka dengan teknik aseptik
Rasional : Untuk mempercepat penyembuhan luka dan
mencegah infeksi
11) Penatalaksanaan aturan terapeutik tak efektif berhubungan dengan
kurang pengetahuan
Tujuan : Efektifnya penatalaksanaan aturan therapeutik
Intervensi
a) Ajarkan pasien dan keluarga tentang penyebab dan pengobatan
diabetes
Rasional : Dapat mengoptimalkan dalam proses
pengobatan
b) Ajarkan tanda dan gejala hiperglikemia
Rasional : Dengan mengetahui secara dini tanda dan gejala
maka akan mengantisipasi terjadinya
hiperglikemia
c) Ajarkan penyimpanan insulin yang tepat
Rasional : Untuk mengefektifkan cara kerja obat
d) Ajarkan pasien untuk merawat kakinya
Rasional : Untuk menjaga agar kaki tidak kering sehingga
tidak terjadi luka
12) Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan penampilan
sekunder terhadap amputasi
Tujuan : Dapat menyatakan dan menunjukkan
peningkatan konsep diri
Intervensi
a) Dorong pasien untuk menyatakan perasaannya, terutama cara
memandang dirinya sendiri
Rasional : Pasien perlu untuk mengenali perasaan sebelum
mereka dapat menerima dengan efektif
b) Berikan kesempatan pada pasien untuk menerima keadaannya
melalui partisipasi pada perawatan diri
Rasional : Perawatan diri dapat membantu memperbaiki
kepercayaan diri
c) Pertahankan pendekatan positif selama aktivitas perawatan
Rasional : Untuk dapat mengembalikan kepercayaan diri
pasien
13) Sindrom kurang perawatan diri berhubungan dengan
ketidaksadaran
Tujuan : Dapat melakukan perawatan secara mandiri
Intervensi
a) Kaji kemampuan dan tingkat kekurangan dalam memenuhi
kebutuhan sehari - hari
Rasional : Mengantisipasi pemenuhan kebutuhan secara
individual
b) Hindari melakukan sesuatu yang dapat dilakukan pasien
sendiri
Rasional : Mempertahankan harga diri dan membantu
meningkatan pemulihan
c) Beri pasien waktu yang cukup untuk mengeljakan tugasnya,
pertahankan dukungan dan sikap yang tegas
Rasional : Pasien memerlukan simpati dan membantu
pasien secara konsisten
d) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang
dilakukan
Rasional : Meningkatkan perasaan makna diri,
meningkatkan kemandirian
c. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap keempat (terakhir) dalam proses
keperawatan, dimana dilakukan evaluasi berdasarkan respon pasien
terhadap tindakan yang diberikan. Adapun evaluasi yang diharapkan
dari diagnosa diatas adalah :
1) Kerusakan pertukaran gas tidak terjadi
2) Kebutuhan cairan dan elektrolit terpenuhi
3) Kebutuhan nutrisi terpenuhi
4) Infeksi tidak terjadi
5) Cedera tidak terjadi
6) Perubahan persepsi sensori tidak terjadi
7) Perfusi jaringan adekuat ke perifer
8) Komplikasi hiperglikemia dan hipoglikemia tidak terjadi
9) Intoleransi aktivitas tidak terjadi
10) Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
11) Efektifnya penatalaksanaan aturan terapeutik
12) Dapat menyatakan dan menunjukkan peningkatan konsep diri
13) Dapat melakukan perawatan secara mandiri
B. Tinjauan Kasus
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 3 Juni 2008 pukul 11.00 WITA di
Ruang Angsa BRSUD Wangaya Denpasar dengan teknik observasi,
wawancara, pemeriksaan fisik, dan catatan medis pasien.
a. Pengumpulan data
1) Identitas Pasien Penanggung
(Anak)
Nama : PW TU
Umur : 56 Tahun 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan Laki-laki
Pendidikan : - Sarjana
Pekerjaan : Petani PNS
Agama : Hindu Hindu
Suku Bangsa : Bali/Indonesia Bali/Indonesia
Alamat : Br. Beluluk, Br. Beluluk,
Denpasar, Bali Denpasar, Bali
No.RM : 800352
2) Keluhan Utama
a) Saat masuk Rumah Sakit (tanggal 3 Juni 2008)
Pasien mengatakan bengkak pada jempol jari kaki kiri dan
sulit berjalan
b) Saat Pengkajian (tanggal 3 Juni 2008)
Pasien mengatakan nyeri dan bengkak pada kaki kiri
terutama pada jempol kakinya.
c) Riwayat Penyakit
Pasien mengatakan merasakan keluhan sering kencing pada
malam harinya + 4 -5 kali dan sering kesemutan + dirasakan
dari 6 bulan yang lalu. Pasien mengatakan sering ke dokter
hanya bila mengeluh pusing dan badannya lemas. Hal
tersebut dianggap karena penyakit tekanan darah tingginya
(Hipertensi). Pasien mengatakan tidak merasakan ada luka
pada jari telunjuk kaki-kanannya, luka tersebut didapat + 1
bulan yang lalu ketika pasien ke kebunnya. Oleh pasien
hanya dibersihkan dan dikompres dengan air hangat tanpa
diberi obat apapun, pasien mengatakan sering mengalami
kesemutan dan sakit pada kedua kakinya. Empat hari sebelum
masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan bengkak pada
jempol kaki kirinya dan pasien mengalami kesulitan dalam
berjalan. Bengkak pasien tidak juga menghilang meskipun
sudah dikompres dengan air hangat dan pasien merasa
badannya lemas. Oleh keluarga, tanggal 1 Juni 2008 karena
merasa khawatir dengan kondisi pasien keluarga membawa
pasien ke BRSUD Wangaya dan diterima di UGD puku12.00
WITA. Di UGD pasien di anamnesa dan dilakukan
pemeriksaan DL dan GDS. Didapat hasil GDS pasien 273
mg/dl. Di UGD pasien diberi therapy dan dianjurkan untuk
rawat inap karena kondisi pasien yang memerlukan
pemantauan dan perawatan lebih lanjut. Pasien dipindahkan
dari UGD ke ruang Angsa pukul 22.00 WITA. Selama 2 hari
sampai saat pengkajian, pasien mendapatkan therapy
Paracetamo l3 x 500 mg (kip), Pletaal 2 x 50 mg, Noverten I
x 10iu, Asarn folat 2 xl tab, Antasida Syr 3 x CI (kip), IVFD
RL 20 tetes/mnt, serta mendapatkan perawatan seperti
pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) setiap hari,
pemberian insulin sebelum makan, dan pemberian nutrisi
sesuai dengan diet yang dianjurkan. Sampai saat pengkajian
pasien belum juga merasa ada perubahan, bengkak pada
kakinya belum juga sembuh - sembuh.
d) Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien mengatakan menderita penyakit Hipertensi dan sudah
diketahuinya + 2 tahun yang lalu.
e) Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan di keluarga tidak ada yang menderita
penyakit yang sama dengan pasien (Diabetes Mellitus)
maupun penyakit menular atau keturunan lainnya.
f) Diagnosa Medis
Tanggal 3 Juni 2008: Diabetes Mellitus dengan Diabetik
Foot.
g) Therapy
Tanggal 3 Juni 2008.
- IVFD RL 20 tts / menit
- Pletaal 2 x 50 mg
- As. Folat 2 x 1 tab
- Mefinal 3 x 500 mg
- Cefotaxime 3 x 1 gr
- Paracetamol 3 x 500 mg (kip)
- Actrapid 3x6iu
- Ranitidin 2 x 1 ampul (stop)
- Volceran 3 x 1 ampul
- Diet 2000 kalori, 40 gr protein.
2. Data Biologis, Psikologis, sosial dan spiritual
a) Data Biologis
1) Bernapas
Sebelum sakit, selama sakit, dan saat pengkajian pasien
mengatakan tidak mengalami kesulitan dalam bernapas baik saat
menarik napas maupun menghembuskan napas.
2) Makan dan Minum
Makan : Sebelum sakit dan sejak sakit pasien mengatakan tidak
mengalami peningkatan ataupun penurunan nafsu makan, pasien
makan 3 kali sehari dengan komposisi nasi, lauk pauk, sayur, dan
habis 1 kali porsi tiap kali makan. Dan pasien mengatakan kadang-
kadang mengalami maag apabila telat makan. Saat masuk rumah
sakit sampai dengan saat pengkajian pasien mengatakan makan ½
porsi yang telah diberikan rumah sakit karena pasien tidak begitu
suka makan bubur. Tanggal 2 Juni 2008, pasien sempat mengeluh
mual- mual tetapi tidak ada muntah, oleh dokter dianjurkan minum
Antasida Syr untuk meredakan mualnya. Pasien mengatakan tidak
pernah makan-makanan yang tidak didapat dari runah sakit seperti
roti, biskuit, ataupun nasi.
Minum : Sebelum sakit pasien biasa minum 6 - 7 gelas per hari (+
1200 - 1400 cc). Sejak sakit dan sampai saat pengkajian pasien
minum + 5 - 6 gelas dalam sehari ( + 1000 - 1200cc/hari).
3) Eliminasi
BAB : Sebelum sakit, selama sakit, dan pada saat pengkajian biasa
BAB satu kali sehari dengan konsistensi lembek, warna kuning
kecoklatan dan bau khas feses. Saat pengkajian pasien mengatakan
sudah BAB satu kali.
BAK : Sebelum sakit pasien mengatakan biasa BAK + 4 – 5 kali
sehari dengan konsistensi encer, warna kuning jernih, selama sakit
pasien mengatakan mengalami peningkatan dalam buang air kecil
+ 8 - 9 kali (+ 2000 - 2200cc) dan sering kencing terutama pada
malam ban. Saat pengkajian, pasien mengatakan kencing pada
malam hari  1 - 2 kali sehari dan pasien buang air kecil  6 - 7 kali
sehari ( 1200 - 1400cc/ hari )
4) Istirahat Tidur
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa tidur pukul 22.00 WITA
dan bangun pukul 05.00 WITA dan istirahat siang  1 jam. Selama
sakit dan saat pengkajian pasien mengatakan tidak mengalami
gangguan dalam istirahat tidur, pasien tidur pukul 21.00 WITA dan
bangun pukul 06.00 WITA. Sesekali pasien mengatakan bangun
pada malam hari untuk kencing kemudian tidur lagi. Dan pasien
biasa tidur siang  1 jam.
5) Gerak dan Aktivitas
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa melakukan aktivitasnya
sebagai petani. Sejak sakit pasien masih tetap melakukan
aktivitasnya seperti : ke sawah, mejejaitan, dan melakukan
pekerjaan rumah tangga lainnya. Saat pengkajian, pasien lemah dan
hanya berharing di tempat tidur, sesekali pasien duduk di tempat
tidurnya. Pasien mengatakan kakinya bengkak dan sakit sehingga
kebutuhannya dibantu oleh keluarganya baik untuk makan, mandi,
berpakaian, maupun BAB/BAK. Pasien mengatakan tidak mampu
beraktivitas lebih karena badannya lemas dan cepat lelah. ADL
pasien masih dibantu oleh keluarganya.
6) Berpakaian
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa mengganti pakaian 1 kali
sehari dan menggunakan pakaian yang sesuai. Saat pengkajian
pasien mengatakan mengganti pakaian 2 hari sekali.
7) Kebersihan diri
Sebelum sakit pasien mengatakan biasa mandi 2 kali sehari.
Keramas seminggu sekali. Saat pengkajian, secara umum
kebersihan pasien cukup, pasien mengatakan sudah di lap oleh
keluarganya menggunakan air hangat.
8) Pengaturan Suhu Tubuh
Pasien mengatakan sebelum sakit tidak pernah mengalami
perubahan suhu tubuh saat pengkajian pasien tidak mengalami
perubahan suhu tubuh.

b) Data Psikologis
1) Rasa aman
Saat pengkajian pasien mengatakan merasa khawatir dengan
bengkak pada kakinya yang tidak sembuh-sembuh. Pasien
bertanya-tanya tentang keadaannya. Pasien gelisah pasien
mengatakan tidak tahu tentang penyakit, penyebab dan
pengobatannya.
2) Rasa Nyaman
Pasien mengatakan nyeri pada kaki kirinya, nyeri dirasakan seperti
ditusuk-tusuk. Skala nyeri 4 (sedang) dari 10 skala yang diberikan.
Nyeri dirasakan bila kaki digerakkan atau ditekan. Nyeri dirasakan
di jempol kaki sampai pergelangan kaki kiri pasien. Pasien
mengelus kakinya, pasien gelisah
c) Data Sosial
1) Sosialisasi
Pasien mengatakan hubungannya dengan keluarga, perawat, dan
pasien lainnya dalam satu ruangan baik. Saat dilakukan pengkajian,
observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik pasien kooperatif
pasien selalu ditunggui oleh keluarganya
2) Bermain dan rekreasi
Pasien mengatakan jarang berekreasi karena biasanya keluarga dan
cucunya sering pulang ke rumahnya.
3) Pengetahuan belajar
Pasien mengatakan belum mengerti tentang penyakitnya, penyebab
penyakitnya, tanda dan gejala serta terapi yang diberikan. Pasien
juga mengatakan belum pernah mendapatkan informasi tentang
penyakit, penyebab, dan pengobatannya.
d) Data Spiritual
Pasien beragama Hindu dan biasa sembahyang hari-hari tertentu
lainnya. Saat ini pasien hanya bisa berdoa di tempat tidur, dan pasien
tidak menganggap bahwa sakitnya disebabkan oleh hal-hal non medis.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1) Kesadaran : Compos Mentis (GCS 15)
2) Bangun Tubuh : Sedang
3) Postor Tubuh : Tegak
4) Gerak Motorik : Terkoordinasi
5) Keadaan Kulit : Bersih, turgor kulit kurang elastis, kering
sianosis tidak ada, tampak warna
kehitaman pada daerah bengkak, pus tidak
ada.
6) Kebersihan : Cukup
b. Gejala-gejala cardinal :
1) Tekanan Darah : 130/180 mmHg
2) Nadi : 88 x/menit
3) Suhu : 36,60C
4) Respirasi : 20x/menit
c. Ukuran-ukuran lain
1) TB : 160cm
2) BB sebelum sakit : tidak diketahui
3) BB saat pengkajian : 58 kg
d. Keadaan Fisik
1) Kepala : Rambut bersih, penyebaran rambut
merata, rambut ubanan. dan berwama
putih, kepala bersih, nyeri tekan tidak ada.
2) Mata : Pergerakan bola mata terkoordinasi, sklera
putih, reflek +/+, pupil isokor, konjuctiva
merah muda, penglihatan,baik, oedem
palpebra tidak ada.
3) Hidung : Mukosa hidung merah muda, secret tidak
ada. nyeri tekan tidak ada
4) Mulut : Mukosa bibir lembab, tidak ada lesi,
pembesaran tonsil tidak ada, stomatitis
tidak ada. napas bau aseton tidak ada.
5) Telinga : Bentuk simetris, kebersihan telinga cukup,
nyeri tekan tidak ada, pendengaran baik,
serumen ada.
6) Thorax : Pergerakkan dada simetris, nyeri tekan
tidak ada, wheezing -/-, ronchi -/-, bunyi
Sl S2 tunggal regular.
7) Abdomen : Asites dan distensi tidak ada, nyeri tekan
tidak ada, peristaltik usus l0x menit, hati
dan ginjal saat palpasi tidak teraba.
8) Ekstremitas :
Atas : Pergerakan terkoordinir, oedem tidak ada,
lesi tidak ada, akral hangat, luka tidak ada,
terpasang IVFD RL 20 tetes/ hari pada
tangan kanan pasien, sianosis tidak ada,
kuku pendek, sensasi raba pada telapak
tangan masih dirasakan.
Bawah : Pergerakan pada kedua kaki terkoordinir,
pada jari kaki kanan terdapat bekas luka
yang sudah mengering, dan pada jempol
kaki kiri bengkak, tampak keputihan pada
telapak jempol kaki pasien, pus tidak ada,
pada daerah bengkak berwarna kehitaman,
kuku pendek.
Kekuatan Otot : 555 555
555 554
9) Genetalia : Kebersihan cukup.
10) Anus : Haemorid tidak ada, kebersihan cukup.
4. Pemeriksaan Penunjang
Hasillaboratorium tanggal 1 Juni 2008.

Hasil Normal Satuan


WBC 10,6 4-11 10^3/UL

RBC 2,8 35-5.5 10^6/UL

HGB 8.0 11.5 -16 g/ dl

HCT 24.30 35 - 54 %

MCV 88.0 86 - 100 FI


MCHV 33 32 - 36 g/ dl
RDW-SD 39.1 35 - 47 Fl

PLT 237 150 - 450 10^3/UL

PDW 10.7 8-18 PI

MPV 8.8 6-10 PI

PLCR 16.4 15-25 %

LYM# 2.0 1 - 3.6 10^3/UL

MXD# 0.7 2-- 7.7 10^3/UL

Neut # 7.9 2.2 - 6.8 10^3/UL

LYM% 18.4 25 - 33 %

MXD% 6.3 3-10 %


Neut % 75.3 54 - 62 %

Hasil lab tanggal 1 Juni 2008

GDS 273 mg/dl


SGOT 25 10 – 40 Ul
SGPT 13 < 40 U/L
Urea 68 15 – 39 / mg/dl
Kretinin 2.6 P : 0.6 – 1.1 mg/dl
Hasil laboratorium tanggal 2 Juni 2008

GDS 162 mg/dL

Hasil laboratorium tanggal 3 Juni 2008

GDS 72 mg/dL
b. Analisa Data

TABEL 1
ANALISA DATA KEPERAWATAN PADA PASIEN P.W DENGAN
DIABETES MELLITUS DENGAN DIABETIK FOOT
DI RUANG ANGSA BRSUD WANGAYA DENPASAR
TANGGAL 3 JUNI 2008

No Data Subjektif Data Objectif Kesimpulan


1 2 3 4
1  Pasien mengatakan  Pasien mengelus Nyeri Akut
nyeri pada kaki kakinya
kirinya  Pasien gelisah.
 Nyeri dirasakan  Jempol kaki sampai
ditusuk -tusuk. ke pergelangan kaki
 Skala nyeri 4 (sedang) pasien bengkak
dari 10 skala nyeri  Warna kulit pada
yang diberikan. daerah bengkak
 Nyeri dirasakan bila kehitaman.
kaki ditekan.
 Nyeri dirasakan
pasien dari jempol
kaki sampai
kepergelangan kaki
kiri.
2  Pasien mengatakan  Pemeriksaan GDS tgl PK:
sebelum sakit sering 1 Juni 2008 GDS = Hiperglikemia dan
kencing pada malam 273 mg/dl Hipoglikemia
hari  4 - 5 kali dan  Pemeriksaan lab. Tgl
kakinya sering 2 Juni 2008 GDS =
kesemutan. 162 mg/dl
 Pasien mengatakan  Pemeriksaan lab. Tgl
badannya lemas 3 Juni 2008 GDS =
172 mg/dl
 Tekanan darah :
130/80 mmHg
 Pasien mendapatkan
therapy insulin 3 x 6
iu
3  Pasien mengatakan  Pasien lemah dan Intoleransi
kebutuhannya dibantu hanya terbaring di Aktivitas
oleh keluarga baik tempat tidur
untuk makan. mandi,  ADL pasien dibantu
berpakaian, maupun oleh keluarga.
BAB / BAK.
 Pasien mengatakan  Terdapat bengkak
tidak mampu pada jempol kaki
beraktivitas lebih sampai ke
karena badannya pergelangan kaki kiri.
terasa lemas dan cepat  Kekuatan otot
lelah. 555 555
 Pasien mengatakan 555 554
sulit berjalan karena
nyeri dan bengkak
kakinya.
4  Pasien mengatakan  Pasien bertanya tanya Kurang
merasa khawatir tentang keadannya, Pengetahuan
dengan bengkak pada penyakit, penyebab,
kakinya yang tidak dan pengobatannya.
sembuh-sembuh.  Pasien gelisah
 Pasien mengatakan  Hasil Lab tgl 3 Juni
tidak tahu dengan 2008
penyakit, penyebab, GDS = 172 mg/dl
dan pengobatannya.
 Pasien mengatakan
tidak pernah
mendapatkan
informasi tentang
penyakit, penyebab,
dan pengobatannya.
5  Pasien mengatakan  Terdapat bengkak Resiko tinggi
bengkaknya sudah pada jempol kaki kerusakan
dari 7 hari yang lalu. sampai ke integritas kulit.
pergelangan kaki
pasien:
 Telapak jempol kaki
tampak berwarna
keputihan.
 Pada daerah bengkak
kulit berwarna
kehitaman.
 Kulit pasien kering.
 Ureum: 68 mg / dl
c. Rumusan masalah
1. Nyeri akut
2. PK: Hiperglikemia dan Hipoglikemia
3. Intoleransi aktivitas
4. Kurang pengetahuan
5. Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
d. Analisa Masalah
1. P : Nyeri Aleut
E : Adanya proses inflamasi ataupun peradangan
S : Pasien mengatakan nyeri pada kaki kirinya, nyeri dirasakan
ditusuk-tusuk. Skala nyeri 4 (sedang) dari 10 skala yang
diberikan. Nyeri dirasakan bila kaki digerakkan atau
ditekan. Nyeri dirasakan pasien dari jempol kaki sampai
pergelangan kaki kiri pasien. Pasien mengelus kakinya,
pasien gelisah. Jempol kaki sampai ke pergelangan kaki
pasien bengkak, nadi 88 x/menit, warna pada daerah
bengkak kehitaman.
Proses Terjadi:
Karena terjadinya proses peradangan, dan terkumpul cairan
pada daerah tersebut, sehingga sel-sel yang melawan
mikroorganisme atau yang menghasilkan antibodi
(Leukosit) ke jaringan interstitial sehingga terjadi bengkak
lokal, yang mengakibatkan saraf - saraf terjepit sehingga
dilepaskannya bradikinin sebagai reseptor nyeri dan
dipersepsikan sebagai nyeri.
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Menghambat proses pengobatan pasien
2. P : PK Hiperglikemia dan Hipoglikemia
E : Ketidakseimbangan glukosa dan insulin dalam darah
S : Pasien mengatakan sebelum sakit sering kencing pada
malam hari  4-5 kali dan kakinya sering kesemutan. Pasien
mengatakan badannya lemas, pemeriksaan GDS tg1 1 Juni
2008 = 273 mg/dl, pemeriksaan lab. Tgl 2 Juni 2008 GDS =
162 mg/dl, pemeriksaan lab. Pada tanggal 3 Juni 2008 GDS
= 172 mg/dl, TD = 130 mmHg, pasien mendapatkan therapy
insulin 3 x 6 iu.
Proses Terjadinya:
Karena adanya ketidakseimbangan glukosa dan insulin
dalam darah danjuga terjadi gangguan metabolisme
glukosa, menyebabkan glukosa tidak sampai ke jaringan.
Hal ini merangsang peningkatan glukagon yang dihasilkan
oleh sel alfa dari kelenjar langerhans pankreas dan
penurunan insulin akibatnya terjadi lipolisis, glikogenolisis,
dan glukoneogenesis. untuk memenuhi kebutuhan jaringan
akan glukosa. Penurunan pemakaian glukosa karena insulin
yang tidak efektif, menyebabkan glukosa semakin banyak
dalam darah yang akhirnya akan mengakibatkan
hiperglikemia. Sebaliknya bila terjadi glikogenesis untuk
disimpan di hepar, meningkatkan penggunaan glukosa oleh
adiposa dan sel - sel otot sehingga glukosa diutamakan
untuk kebutuhan otak, sehingga terjadi hipoglikemia.
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Akan terjadi komplikasi akut sampai dengan komplikasi
kronis.
3. P : Intoleransi aktivitas
E : Meningkatnya kebutuhan metabolisme
S : Pasien mengatakan kebutuhannya dibantu oleh keluarganya
baik untuk mandi, makan, berpakaian, maupun BAB/BAK,
pasien mengatakan tidak mampu beraktivitas lebih karena
lemas dan cepat. Pasien mengatakan kebutuhannya dibantu
oleh keluarganya, pasien mengatakan kesulitan berjalan
karena nyeri dan bengkak pada kakinya, pasien lemah dan
banyak berbaring di tempat tidur, ADL pasien tampak
dibantu oleb keluarganya, bengkak pada jempol sampai
pergelangan kaki pasien. Kekuatan otot 555 555
555 554
Proses Terjadinya :
Karena meningkatkan kebutuhan metabolisme akibat
kurangnya atau ketiadaan insulin di dalam proses
metabolisme untuk memproduksi energi sehingga makanan
yang masuk ke dalam sel tidak dapat diolah, terutama
glukosa tidak dapat di metabolisme menjadi tenaga dengan
akibat glukosa tetap berada pada pembuluh darah. Dalam
keadaan ini pasien akan menjadi lemah tidak ada sumber
energi di dalam sel dan kurang mampu melakukan aktivitas
yang diinginkan.
Akibat bila tidak ditanggulangi:
ADL tidak terpenuhi
4. P : Kurang pengetahuan
E : Ketidakcukupan informasi
S : Pasien mengatakan merasa khawatir dengan bengkak pada
kakinya yang tidak sembuh pasien mengatakan tidak tahu
dan belum mengerti dengan penyakit penyebab dan
pengobatannya, pasien bertanya tanya tentang keadaannya,
penyakit, penyebab, dan pengobatannya, pasien gelisah.
Proses Terjadinya :
Karena kurangnya informasi serta penurunan kemampuan
pasien dalam proses pencerapan informasi baik karena
faktor usia maupun efek peningkatan kadar gula darah
menyebabkan pasien hanya mampu menerima sebagian
informasi yang diberikan sehingga memerlukan informasi
ulang
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Perawatan dan Pengobatan kurang efektif sehingga dapat
menimbulkan komplikasi.
5. P : Resti kerusakan Integritas kulit
FR: Pasien mengatakan bengkaknya sudah dari 7 hari yang lalu,
telapak jempol kaki berwarna keputihan, kulit kering.
Proses Terjadinya :
Adanya peningkatan kadar glukosa dalam darah
rnenyebabkan luka tersebut sebagai media yang baik untuk
perkembangbiakan kuman sehingga penyembuhan luka
berlangsung lama.
Akibat bila tidak ditanggulangi :
Kerusakan integritas kulit akan terjadi.
e. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d adanya proses peradangan atau inflamasi d/d
pasien mengatakan nyeri pada kaki kirinya. Nyeri dirasakan
seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 4 (sedang) dari 10 skala nyeri
yang diberikan, nyeri dirasakan bila kaki ditekan atau
digerakkan, nyeri dirasakan pasien pada jempol kaki sampai ke
pergelangan kaki kiri, pasien mengelus kakinya, pasien gelisah,
Nadi 88 x/mnt.
2. PK: Hiperglikemia dan Hipoglikemia b/d ketidakseimbangan
glukosa dan insulin dalam darah d/d pasien mengatakan sebelum
sakit sering kencing pada malam hari  4-5 kali dan kakinya
sering kesemutan, pasien mengatakan badannya lemas,
pemeriksaan GDS tgl 1 Juni 2008 = 273 mg/dl. Tgl 2 Juni 2008
GDS = 162 mg/dl, tgl 3 Juni 2008 GDS = 172 mg/dl, TD =
130/80 mmHg, pasien mendapatkan terapy insulin 3 x 6 iu.
3. Intoleransi Aktivitas % meningkatkan kebutuhan metabolisme
d/d pasien menyatakan kebutuhannya dibantu oleh keluarganya
baik untuk makan, berpakaian, BAB/BAK, maupun mandi,
pasien mengatakan tidak mampu beraktivitas lebih karena
badannya lemas dan cepat lelah, pasien tampak terbaring di
tempat tidur, ADL pasien tampak dibantu oleh keluarga, pasien
tampak lemah, kekuatan otot: 555 555
555 554
4. Kurang pengetahuan b/d ketidak cukupan informasi did pasien
mengatakan merasa khawatir dengan bengkak pada kakinya
yang tidak sembuh-sembuh, pasien mengatakan tidak tahu
dengan penyakit, penyebab dan pengobatannya, pasien
bertanya-tanya tentang pengobatannya, penyakit, penyebab, dan
pengobatannya, pasien gelisah N= 88 x /menit.
5. Risiko tinggi kerusakan Integritas kulit dengan faktor risiko
pasien mengatakan bengkak dirasakan sudah dari 7 hari yang
lalu, telapak jempol kaki berwarna keputihan, kulit kering.

2. Perencanaan
a. Prioritas Diagnosa Keperawatan
Prioritas Diagnosa keperawatan dibuat berdasarkan masalah yang
sifatnya mengancam, yaitu :
1) PK: Hiperglikernia dan Hipoglikernia b/d ketidakseimbangan
glukosa dan insulin dalarn darah
2) Nyeri akut b/d proses inflamasi atau peradangan
3) Resiko tinggi kerusakan integritas kulit
4) Kurang pengetahuan b/d ketidakcukupan informasi
5) Intoleransi aktivitas b/d meningkatkan kebutuhan metabolisme.
b. Rencana Perawatan
TABEL2
RENCANA PERAWATAN PADA PASIEN P.W DENGAN
DIABETES MELLITUS DENGAN DIABETIK FOOT
DI RUANG ANGSA BRSUD WANGAYA DENPASAR
TANGGAL 3 - 6 JUNI 2008

Har/l
Dx
Tgl/ Rcncana Tujuan Rencana Tindakan Rasional
Kep.
Jam
1 2 3 4 5
Selasa, 1 Setelah diberikan 1. Observasi KU  Mengetahui gejala
3 Juni askep selama 3 x 24 pasien dan gejala- dini adanya tanda
2008 jam diharapkan gejala hiperglikemia menuju komplikasi
Pkl. hiperglikemia dan dan hipoglikemia sehingga dapat
11.00 Hipoglikemia tidak 2. Observasi tanda- diambil tindakan
Wita terjadi dengan tanda vital (fekanan segera
kriteria hasil : Darah, suhu, nadi,  Tanda-tanda vital
1. Tanda-tanda dan respirasi ) tiap 6 dapat dijadikan
hiperglikemia jam petunjuk adanya
tidak ada (mual, 3. Anjurkan pasien peningkatan
muntah, pusing, makan sesuai diet hiperglikemia
tachikardi, (diet 2000 kalori, 40  Dapat menjaga
hiportemi, GDS> gr protein) kondisi pasien agar
210mg/ dl) 4. Monitor asupan tetap stabil
2. Tanda-tanda nutrisi pasien  Mengetahui jumlah
hipoglikemia 5. Kolaborasi dalam asupan nutrisi pasien
tidak ada (pucat, pemerikasaan GDS  Pemeriksaan lab
kulit dingin, @ hari dijadikan data
berrkeringat, 6. Delegatif dalam penunjang untuk
gelisah, GDS < pemberian insulin mengetahui keadaan
70 mg/dl actrapid 3 x 6 IU dan perkembangan
3. TD dalam batas 7. Ajarkan tanda-tanda therapy yang
normal (110/70- Hiperglikemia & diberikan
130/80 mmHg) Hipoglikemia  Therapy insulin
4. Pasien makan dengan dosis yang
sesuai diet yang tepat mencegah
diberi terjadinya
5. GDS dalam batas hiperglikemia.
normal (80 -110  Dapat dilakukan
mg/dl ) tindakan segera.
Selasa, 2 Setelah diberikan 1. Kaji skala nyeri  Dengan mengkaji
3 Juni askep selama 3 x 24 pasien tiap 6 jam skala nyeri
2008 jam diharapkan 2. Observasi tanda- diharapkan dapat
Pkl. nyeri pasien tanda vital tiap 6 mengetahui
11.00 berkurang dengan jam (TD. N, S. R) perkembangan pasien
WITA kriteria hasil: 3. Berikan lingkungan  TTV sebagai
1. Pasien yang nyaman indikator
mengatakan 4. Ajarkan teknik perkembangan pasien
nyerinya distraksi (mengajak  Meningkatkan
berkurang/ hilang berbincang- istirahat dan
2. Skala nyeri 1- 0 bincang) dan menurunkan stimulasi
dari 10 skala relaksasi (napas sensori yang
nyeri yang dalam) berlebihan
diberikan. 5. Tinggikan daerah  Dengan teknik
3. Nadi dalam batas yang bengkak (beri distraksi dapat
normal (80-100 bantalan pada kaki) mengalihkan
x/menit) 6. Delegatif dalam perhatian pasien dari
4. Pasien dapat pemberian rasa nyeri
mengontrol rasa analgetik (Mefinal  Relaksasi akan
nyerinya 3 x 500 mg ; V membuat otot-otot
5. Pasien tenang dan olceran 3 x 1 berdilatasi sehingga
tidak gelisah ampul) sirkulasi ke daerah
tersebut lancar.
 Meningkatkan aliran
balik vena.
 Pemberian analgetik
dapat mengurangi
rasa nyeri

Selasa, 3 Setelah diberikan 1. Observasi adanya  Mengetahui secara


3 Juni askep selama 3 x 24 perluasan dini sehingga dapat
2008 jam diharapkan kerusakan dilakukan tindakan
Pkl. kerusakan integritas integritas kulit secara dini.
11.00 kulit tidak terjadi 2. Ajarkan pasien  Dengan perawatan
dengan kritetia hasil: dalam perawatan kaki diharapkan kulit
1. Bengkak pada kaki, seperti: tidak kering sehingga
kaki pasien roencuci kaki luka dapat dicegah.
berkurang dengan benar,  Mencegah perlukaan
2. Pus tidak ada mengeringkan dan kaki karena pasien
memberikan mengalami neuopati
minyak / lotion, perifer.
kuku jari kaki  Untuk mencegah
dipotong rata. perlukaan pada kaki.
3. Anjurkan pasien  Membantu
untuk menjaga penyembuhan luka
kebersihan dan mencegah
kakinya. infeksi.
4. Anjurkan pasien
untuk memakai
sandal
5. Delegatif dalam
pemberian
cefotaxime 3 x 1
gr, pletaal 2 x 50
mg.

Selasa, 4 Setelah diberikan 1. Berikan informasi  Memberikan


3 Juni selama 1 x 30 menit pada pasien tentang informasi sesuai
2008 diharapkan pasien keadaan penyakit tingkat kemampuan
Pkl. memiliki mulai dari pasien akan
11.00 pemahaman yang pengertian, meminimalkan
lebih luas tentang perjalanan kesalahan konsep
penyakitnya dan penyakit, tentang apa yang
penatalaksanaanya penyebab, dialami dan diterima.
dengan kriteria hasil: komplikasi,  Dengan banyak
1 Pasien tidak penata1aksanaan, bertanya memberikan
khawatir lagi , pencegahan dan kesempatan kepada
dengan bengkak ara perawatan serta pasien untuk
pada kakinya. diet dengan mengurangi
2. Pasien mampu menggunakan ketidaktahuannya.
menjdaskan kalimat yang  Untuk mengantisipasi
tentang sederhana dan keadaan buruk
pengertian, mudah dimengerti. (komplikasi).
penyebab, 2. Beri kesempatan  Diharapkan dapat
komplikasi, kepada pasien diketahui sejauh
penatalakasanaan, untuk bertanya. mana pemahaman
pencegahan 3. Arahkan pasien pasien tentang
kekambuhannya. untuk melaporkan penjelasan yang
3. Pasien jelas bila ada tanda dan diberikan.
dengan informasi gejala komplikasi.
yang diberikan. 4. Evaluasi ulang
tentang
pemahaman pasien.

Selasa, 5 Setelah diberikan 1 Kaji tingkat  Mengetahui seberapa


3 Juni askep selama 3 x 24 kemampuan pasien jauh tingkat
2008 jam diharapkan untuk memenuhi kemampuan pasien
Pkl pasien mampu ADLnya. dalam memenuhi
11.00 melakukan 2. Berikan aktivitas ADLnya.
aktivitasnya dengan alternative dengan  Mencegah kelelahan
kriteria hasil : periode istirahat yang berlebihan
1. Pasien tidak yang cukup  Diharapkan
mengeluh lelah 3. Bantu pasien untuk kebutuhan aDL
dan lemah lagi. memenuhi pasien terpenuhi.
2. Pasien mampu ADLnya  Meningkatkan
melakukan 4. Tingkatkan kepercayaan diri/hari
aktivitas sehari- partisipasi pasien diri yang positif
hari seperti dalam melakukan sesuai tingkat
makan, minum aktivitas sehari- aktivitas yang dapat
BAB/BAK dan hari sesuai dengan ditoleransi pasien
mandi dengan yang dapat  Diharapkan pasien
mandiri dengan ditoleransi lebih bisa beristirahat
bertahap 5. Berikan dan lebih tenang
lingkungan tenang  Dengan membantu
dan batasi ADL pasien
pengunjung diharapkan kebutuhan
6. Anjurkan keluarga ADL pasien terpenuhi
untuk membantu  Dapat sebagai nutrisi
ADL pasien tambahan sehingga
7. Delegatif dalam meningkatkan
pemberian obat: stamina
- Asam Folat 2x1
tab
- IVFD 20 tts/mnt