Anda di halaman 1dari 41

BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam mengembangkan kualitas pelayanan
kesehatan, berdasarkan hal tersebut maka untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakan
perlunya sistem pendidikan yang bermutu dan mempunyai orientasi pada ilmu
pengetahuan yang berkembang pesat seperti saat iniyang (Febriyani, 2014).

IPE merupakan proses satu kelompok mahasiswa yang berhubungan dengan kes ehatan yang
memiliki latar belakang jurusan pendidikan yang berbeda melakukan pembelajaran bersama
dalam masa pendidikan dengan berinteraksi untuk mencapai tujuan yang penting dengan
berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehablitatif (WHO, 2010,
Department of Human Resources for Health). Perkembangan praktek interprofesional dan
fungsional yang terbaik dapat dicapai melalui pembelajaran antar professional (Williams et
al., 2013). Menurut Luecth et al. (1990) didalam IEPS (Interdisciplinary Education
Perception Scale) diterangkan terdapat empat komponen persepsi tentang Interprofessional
Education yaitu kompetensi dan otonomi, persepsi kebutuhan untuk bekerja sama, bukti
kerjasama yang sesungguhnya, dan pemahaman terhadap profesi lain.

Tuntutan pelayanan kesehatan yang berkualitas semakin meningkat seiring bertambahnya


kesadaran masyarakat tentang kesehatan. Salah satu upaya untuk mewujudkan kolaborasi
antartenaga kesehatan adalah dengan memperkenalkan sejak dini praktik kolaborasi melalui
proses pendidikan.Interprofessional Education (IPE) adalah sebuah inovasi yang sedang
dieksplorasi dalam dunia pendidikan profesi kesehatan. IPE merupakan suatu proses
kelompok mahasiswa atau profesi kesehatan yang memiliki perbedaan latar belakang profesi
melakukan pembelajaran bersama dalam periode tertentu, berinteraksi sebagai tujuan yang
utama, serta untuk berkolaborasi dalam upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, dan
jenis pelayanan kesehatan yang lain. IPE terjadi ketika dua atau lebih profesi belajar dengan,
dari dan tentang satu sama lain untuk meningkatkan kerjasama dan hasil kesehatan. Program
ini merupakan salah satu program yang diusulkan oleh Ditjen Pendidikan Tinggi (DIKTI).
Tujuan utama program IPE adalah terjadinya kerjasama tim yang saling melengkapi antara
satuprofesi dengan profesi lain, diharapkan dapat menutup lubang permasalahan pasien
sekaligus mengefektifkan kolaborasi dan meningkatkan pelayanan kesehatan. Contoh nya
adalah pengetahuan tentang HiV di desa tanjung kamuning

Tanjung kamuning adalah sebuah desa di Kabupaten Garut tepatnya di Kecamatan Tarogong
Kaler. Tanjung kamuning terkenal dengan sebutan Kampung Durian nya. Banyak wisatawan
yang berkunjung ke tanjung kamuning hanya untuk mencicipi Duriannya, tidak hanya durian,
tanjung kamuning juga memiliki hasil sumber daya alam lainnya, seperti jeruk, padi,
singkong, sayuran dan buah-buahan lainnya.

Contohnya di RW05 disana terdapat banyak lahan yang sumber daya alamnya siap untuk di
expor ke berbagai kota, RW05 memiliki tempat yang sejuk dan memiliki banyak bukit yang
berpotensi jika di ubah menjadi tempat wisata. Seperti tempat camping atau wisata kebun.
RW05 pun memiliki tempat yang strategis karena hanya berjarak 3 KM dari tempat wisata
Cipanas Garut dan 5 KM dari pusat kota Garut dan memiliki akses jalan yang baik.

Selain itu, warga di RW05 sangat ramah, kami di sambut dengan baik disana. Masyarakat di
RW05 memiliki pondasi Religi yang bagus, hamper tiap anak dan remaja disana mengaji
dimadrasah tiap harinya.
BAB II
TUJUAN

A. Untuk mengidentifikasi peran dan fungsi tenaga kesehatan dan profesi lain di RW 05
B. Untuk mengetahui prinsip komunikasi dan praktek komunikasi kolaborasi di RW 05
C. Untuk mengetahui prinsip-prinsip team work dan team dynamics dalam pengelolaan
masyrakat di RW 05
D. Untuk mengetahui intergrated deccision making di RW 05
E. Untuk mengetahui hambatan dalam praktek kolaborasi di RW 05
F. Untuk mengetahui solusi yang sesuai dengan konteks dan situasi yang diangkat di RW
05
BAB III

PAPARAN CONTEN

3.1 Identifikasi peran dan fungsi tenaga kesehatan


A. Peran dan Fungsi Tenaga Kesehatan Menurut Teori
1. Dokter
Ada beberapa peran dan fungsi dokter fungsi Dokter, tidak hanya

mengobati, tetapi bertugas sebagai advokat di bidang kesehatan bagi pasien.

Dokter menjadi pendamping bagi pasien, memberikan edukasi, menjelaskan

dengan detil apa saja yang akan dilakukan oleh dokter terhadap pasien sampai

pasien paham, memberikan informasi, memberikan support, memberdayakan

pasien, mengajari problem solving skills, pendekatan kepada pasien, keluarga

pasien, dan komunitasnya. Selain itu, mampu secara holistik melihat pasien

secara keseluruhan bio-psiko-sosial-cultural-spiritual. Adapun peran dari

dokter yaitu:
1) Pelayanan kesehatan promotif, adalah suatu kegiatan atau serangkaian

kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang

bersifat promosi kesehatan.


2) Pelayanan kesehatan preventif, adalah suatu kegiatan pencegahan terhadap

suatu masalah kesehatan atau penyakit.


3) Pelayanan kesehatan kuratif, adalah suatu kegioiatan atau serangkaian

kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit,

pengurangan penderita akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau

mengendalikan kecacatan agar kualitas hidup penderita dapat terjaga

seoptimal mungkin.
4) Pelayanan kesehatan rehabilitatif, adalah kegiatan atau serangkaian

kegiatan untuk mengembalikan nekas penderita ke dalam masyarakat

sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna


untuk dirinya dan masyarakat semaksimal mungkin sesuai dengan

kemampuannya.
2. Kader
Dalam pelaksanakan peran kader sebagai berikut :
a. Peran kader Dalam mewujudkan Rumah Tangga PHBS
1) Melakukan pendataan rumah tangga yang ada di wilayahnya dengan

menggunakan Kartu PHBS atau Pencatatan PHBS di Rumah Tangga

pada buku kader.


2) Melakukan pendekatan kepada kepala desa/lurah dan tokoh masyarakat

untuk memperolah dukungan dalam pembinaan PHBS di Rumah

Tangga.
3) Sosialisasi PHBS di Rumah Tangga ke seluruh rumah tangga yang ada di

desa/kelurahan melalui kelompok damawisma.


4) Memberdayakan keluarga untuk melaksanakan PHBS melalui

penyuluhan perorangan, penyuluhan kelompok, penyuluhan massa dan

pergerakan masyarakat.
5) Mengembangkan kegiatan-kegiatan ang mendukung terwujudnya

Rumah Tangga Ber-PHBS.


6) Memantau kemajuan pencapaian Rumah Tangga Ber-PHBS di

wilayahnya setiap tahun melalui pencatatan PHBS di Rumah Tangga.


b. peran kader untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI Eklusif?
1) Mendata jumlah seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir

yang ada di wilayah kerjanya.


2) Menberikan penyuluhan kepada ibu hamil, dan ibu menyusui

diposyandu. Tentang pentingnya memberikan ASI Eklusif.


3) Melakukan kunjungan ruma kepada ibu nifas yang tidak dating ke

posyandu dan menganjurkan agar ritin memeriksakan kesehatan

bayinya serta mempersiapkan diri untuk memberikan ASI Eklusif.


c. peran kader agar masyarakat Mau menimbang balita setiap bulan

Diposyandu?
1) Mendata jumlah seluruh balita yang ada di wilayah kerjanya.
2) Memantau jumlah kunjungan ibu yang dating balitanya diposyandu.
3) Memanfaatkan setiap kesempatan didesa/kelurahan untuk memberikan

penyuluhan tentang pentingnya penimbangan balita, misalnya


penyuluhan kelompok diposyandu, arisan, pengajian, kunjungan rumah

dan penyuluhan massa (pengeras suara di mesjid, pengumuman

kelurahan, poster, slebaran dll)


d. peran kader dalam menggerakan masyarakat untuk menggunakan air

bersih?
1) Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki

ketersediaan air bersih dirumahnya.


2) Melakukan pendataan rumah tangga yang sulit mendapatkan air bersih.
3) Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah

tangga yang sulit untuk mendapatkan air bersih


e. peran kader Dalam membina perilaku cuci tangan
1) Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan

penyuluhan tentang pentingnya perilaku cuci tangan, misalnya

penyuluhan kelompok diposyandu, arisan, pengajian, pertemuan

kelompok Dasa Wisma, dan kunjungan rumah.


2) Mengadakan kegiatan gerakan cuci tangan bersama untuk menarik

perhatian masyarakat, misalnya pada peringaan hari-hari besar

kesehatan atau ulang tahun kemerdekaan.


f. peran kader dalam membina masyarakat Untuk memiliki dan

menggunakan jamban sehat?


1) Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki

serta menggunakan jamban dirumahnnya.


2) Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah

rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat.


3) Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat

berupaya untuk menggerakan masyarakat untuk memiliki jamban.


g. peran kader dalam membina rumah tangga Agar menciptakan Rumah

Bebas Jentik?
1) Memanfaatkan setiap kesempatan di desa/kelurahan untuk memberikan

penyuluhan tentang PSN dan PJB, misalnya melalui penyuluhan

kelompok diposyandu, pertemuan kelompok Dasa Wisma, arisan,


pengajian, pertemuan desa/kelurahan, kunjungan rumah dan melalui

media cetak (poster, slebaran, spanduk).


2) Bersama pemerintah desa/kelurahan tokoh masyarakat setempat

menggerakan masyarakat untuk melakukan PSN dan PJB.


3) Melakukan pemeriksaan jentik berkala secara teratur setiap minggu dan

mencatat angka jentik yang ditemukan pada Kartu Jentik Rumah.


h. peran kader untuk mendorong anggota keluarga melakukan aktivitas fisik

setiap hari ?
1) Kader mendorong lingkungan tempat tinggal untuk menyediakan

fasilitas olahraga dan tempat bermain untuk anak.


2) Kader memberikan penyuluhan tentang pentingnya melakukan

aktivitas fisik.
i. Peran kader untuk menciptakan Rumah Tanpa Asap Rokok?
1) Memberikan penyuluhan tentang pentingnya perilaku tidak merokok

kepada seluruh anggota keluarga.


2) Menggalang kesepakatan keluarga umtuk mwnciptakan Rumah Tanpa

Asap Rokok.
3) Menegur anggoata rumah tangga yang merokok di dalam rumah.
4) Tidak memberi dukungan kepada orang yang merokok dalam bentuk

apapun, antara lain dengan tidak memberikan uang untuk membeli

rokok,tidak memberikan kesempatan siapa pun untuk merokok di

dalam rumah, tidak menyediakan asbak.


3. Bidan Desa
Bidan desa dalam menjalankan peran dan fungsinya yaitu:
1. Sebagai pelaksana
Seabagai pelaksana bidana memiliki tiga kategori yaitu tugas mandiri,

tugas kolaboratif dan tugas ketergantungan.


a. Tugas mandiri
Tugas mandiri bidan desa yaitu:
1) Menetapkan menejemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan

yang diberikan.
2) Memberikan pelayanan dasar pra nikah pada remaja dengan

melibatkan mereka sebagai klien.


3) Memeberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan

normal
4) Memeberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa

persalinan dengan meliatkan keluarga


5) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
6) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa nifas

dengan melibatkan klien atau keluarga.


7) Memberikan asuhan kebidan pada wanita usia subur yang

membutuhkan pelayanan KB
8) Memeberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan

sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakretium nifas.


b. Tugas kolaborasi
Tugas yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang

kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau ebagai salah satu urutan

dari proses kegiatan pelayanan kesehatan.


1) Menerapkan menejemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan

sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkanklien dan keluarga


2) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi

dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan

tindakan kolaborasi.
3) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan

resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawat

daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien dan

keluarga
4) Memeberikan asuhan pada BBL dengan resiko tinggi dan yang

mengalami komplikasi serta kegawat daruratan yang memerlukan

pertolongan pertama
5) Memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan

yang mengalami komplikasi serta kegawat daruuratan yang

memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga.


c. Tugas ketergantungan atau merujuk
Tugas yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke

sistem pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan

yang dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun


yang menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan olhe

bidan ketempat fasilitas pelayanan kesehatan laiin secara horisontal

maupun vertikal
d. Peran sebagai pengelola
1) Pengembang pelayan dasar kesehatan
Bidan bertugas mengembangkan pelayanan dasar kesehatan

terutama pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga kelompok

khusus dan masyarakat di wilayah kerja dengan melibatkan

masyarakat/ klien meliputi :


a) Mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan

kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan serta

mengembangkan program pelayanan kesehatan di wilayah

kerjanya bersama tim kesehatan dan pemuka masyarakat.


b) Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil kajian bersama

masyarakat
c) Mengelola kegiatan pelayanan kesehatan khususnya KIA/KB

sesuai dengan rencana.


d) Mengkoordinir, mengawasi dan membimbing kader dan dukun

atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program/

kegiatan pelayanan KIA/KB


e) Mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesehatan

masyarakat khususnya KIA KB termasuk pemanfaatan sumber

yang ada pada program dan sektor terkait.


f) Menggerakkan dan mengembangkan kemampuan masyarakat

serta memelihara kesehatannya dengan memanfaatkan potensi

yang ada
g) Mempertahankan dan meningkatkan mutu serta keamanan

praktik profesional melalui pendidikan, pelatihan, magang, dan

kegiatan dalam kelompok profesi


h) Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan
e. Berpartisipasi dalam tim
Bidan berpartisi dalam tim untuk melaksanakan program

kesehatan dan sektor lain melalui peningkatan kemampuan dukun

bayi, kader, dan tenaga kesehatan lain yang berada di wilayah

kerjanya, meliputi :
1) Bekerjasama dengan Puskesmas, institusi lain sebagai anggota tim

dalam memberi asuhan kepada klien bentuk konsultasi, rujukan &

tindak lanjut
2) Membina hubungan baik dengan dukun bayi, kader kesehatan,

PLKB dan masyarakat


3) Melaksanakan pelatihan serta membimbing dukun bayi, kader dan

petugas kesehatan lain


4) Memberikan asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi
5) Membina kegiatan yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan

kesehatan
f. Peran sebagai pendidik
Sebagai pendidik bidan mempunyai 2 tugas yaitu sebagai pendidik

dan penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader
a) Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada

individu, keluarga dan masyarakat tentang penanggulanagan

masalah kesehatan khususnya KIA/KB


b) Melatih dan membimbing kader termasuk siswa

bidan/keperawatan serta membina dukun di wilayah kerjanya


g. Peran sebagai peneliti
Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang kesehatan

baik secara mandiri maupun kelompok.


1) Mengidentifikasi kebutuhan investigasi/penelitian
2) Menyusun rencana kerja
3) Melaksanakan investigasi
4) Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi
5) Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut
6) Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan

mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.


4. Perawat
Ada beberapa peran perawat yaitu:
1. Peran Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan

keadaan kebutuhann dasar manusia yang dibutuhkan melalui

pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses

keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar

bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan

tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat

perkembangannya
2. Peran Perawat sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan oleh perawat dalam membantu klien dan

keluarga dalam menginterprestasikan berbagai informasi dari pemberi

pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan

persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien,

juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien

yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi

tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya

sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian


3. Peran Perawat sebagai Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam

meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan

tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien

setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4. Peran Perawat sebagai koordinator


Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan

serta mengorganisasi pelayanan kesehatan dari tim kesehatan sehingga

pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai dengan

kebutuhan klien.
5. Peran Perawat sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim

kesehatan yang terdiri dari dokter, fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain
dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang

diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan

bentuk pelayanan selanjutnya.


6. Peran Perawat sebagai Konsultan
Peran ini sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau

tindakan keperawatan yang tepat untuk diberikan. Pertan ini dilakukan

atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan pelayanan

keperawatan yang diberikan.


7. Peran Perawat sebagai Pembaharuan
Peran ini dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja

sama, perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode

pemberian pelayanan keperawatan


Adapun fungsi dari perawata yaitu sebagai berikut:
1. Fungsi independen
Aktivitas dalam diagnosa dan perawatan keperawatan tidak

memikirkan perintah doktercontohnya pengkajian riwayat kesehatan

identifikasi tindakan keperawatan


2. Interdependen
Tindakan keparawatn berdasarkan kerja sama dengan tin

keperawatan atau tim kesehatan lainnya.


3. Dependen
Aktivitas yang didasarkan pada perintah dokter, membantu dokter dalam

memberikan pelayanan medis.


5. Tenaga Kesehatan Masyarakat
Secara umum, Peran tenaga Kesmas adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi

permasalahan, serta melaksanakan pemecahan permasalahan yang berkaitan

dengan pelayanan kesehatan masyarakat


2. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi, dan

melaporkan kegiatan Puskesmas


3. Menyiapkan bahan kebijakan, bimbingan dan pembinaan, serta petunjuk

teknis sesuai bidang tugasnya


4. Melaksanakan upaya kesehatan masyarakat
5. Melaksanakan upaya kesehatan perorangan
6. Melaksanakan pelayanan upaya kesehatan/kesejahteraan ibu dan anak,

Keluarga Berencana, perbaikan gizi, perawatan kesehatan masyarakat,

pencegah dan pemberantasan penyakit, pembinaan kesehatan lingkungan,

penyuluhan kesehatan masyarakat, usaha kesehatan sekolah, kesehatan

olahraga, pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan,

kesehatan gigi dan mulut, laboratorium sederhana, upaya kesehatan kerja,

kesehatan usia lanjut, upaya kesehatan jiwa, kesehatan mata, dan kesehatan

khusus lainnya, serta pembinaan pengobatan tradisional


7. Melaksanakan pembinaan upaya kesehatan, peran serta masyarakat,

koordinasi upaya kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, pelaksanaan

rujukan medik, pembantuan sarana dan pembinaan teknis kepada

Puskesmas Pembantu, unit pelayanan kesehatan swasta, serta kader

pembangunan kesehatan
8. Melaksanakan pengembangan upaya kesehatan dalam hal pengembangan

kader pembangunan di bidang kesehatan dan pengembangan kegiatan

swadaya masyarakat di wilayah kerjanya


9. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi

kesehatan
10. Melaksanakan ketatausahaan dan urusan rumah tangga UPT
11. Melaksanakan analisis dan pengembangan kinerja UPTD
12. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas
Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Pembangunan Kesehatan
1. Pelayanan Promotif
Untuk meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat

dalam pembangunan kesehatan, diperlukan program penyuluhan dan

pendidikan masyarakat yang berjenjang dan berkesinambungan, sehingga

tercapai tingkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan

kesehatan. Program promotif membutuhkan tenaga-tenaga Kesmas yang

handal, terutama yang mempunyai spesialisasi dalam penyuluhan dan

pendidikan.
2. Pelayanan Preventif
Untuk menjamin terselenggaranya pelayanan ini, diperlukan para

tenaga Kesmas yang memahami epidemiologi penyakit, cara-cara dan

metode pencegahan, serta pengendalian penyakit. Program ini merupakan

salah satu lahan bagi tenaga Kesmas dalam pembangunan kesehatan.

Keterlibatan Kesmas dibidang preventif dan pengendalian, memerlukan

penguasaan teknik-teknik lingkungan dan pemberantasan penyakit.

Tenaga Kesmas juga dapat berperan dicbidang kuratif kalau yang

bersangkutan mau dan mampu belajar, serta meningkatkan

kemampuannya di bidang tersebut.


B. Peran dan Fungsi Tenaga Kesehatan Menurut Lapangan
1. Dokter
Tidak terdapat dokter di RW 05
2. Kader
Terdapat 3 kader di RW 05, Kader di RW 05 menjalankan peran dan fungsinya

sebagai berikut :
a. Peran kader Dalam mewujudkan Rumah Tangga PHBS
1) Melakukan pendataan rumah tangga yang ada di wilayahnya dengan

Pencatatan PHBS di Rumah Tangga pada buku kader.


2) Melakukan pendekatan kepada kepala desa/lurah dan tokoh masyarakat

untuk memperolah dukungan dalam pembinaan PHBS di Rumah

Tangga.
3) Mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mendukung terwujudnya

Rumah Tangga Ber-PHBS.


4) Memantau kemajuan pencapaian Rumah Tangga Ber-PHBS di

wilayahnya setiap tahun melalui pencatatan PHBS di Rumah Tangga.


b. peran kader untuk mendukung keberhasilan pemberian ASI Eklusif
1) Mendata jumlah seluruh ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi baru lahir

yang ada di wilayah kerjanya.


2) Melakukan kunjungan rumah kepada ibu nifas yang tidak datang ke

posyandu dan menganjurkan agar ritin memeriksakan kesehatan bayinya

serta mempersiapkan diri untuk memberikan ASI Eklusif.


c. peran kader agar masyarakat Mau menimbang balita setiap bulan

Diposyandu
1) Mendata jumlah seluruh balita yang ada di wilayah kerjanya.
2) Memantau jumlah kunjungan ibu yang datang balitanya diposyandu.
d. peran kader dalam membina masyarakat Untuk memiliki dan

menggunakan jamban sehat


1) Melakukan pendataan rumah tangga yang sudah dan belum memiliki

serta menggunakan jamban dirumahnnya.


2) Melaporkan kepada pemerintah desa/kelurahan tentang jumlah rumah

rumah tangga yang belum memiliki jamban sehat.


3) Bersama pemerintah desa/kelurahan dan tokoh masyarakat setempat

berupaya untuk menggerakan masyarakat untuk memiliki jamban.


e. peran kader untuk mendorong anggota keluarga melakukan aktivitas fisik

setiap hari ?
2) Kader mendorong lingkungan tempat tinggal untuk menyediakan

fasilitas olahraga dan tempat bermain untuk anak.


3) Kader memberikan penyuluhan tentang pentingnya melakukan

aktivitas fisik.
3. Bidan Desa
Bidan desa dalam menjalankan peran dan fungsinya yaitu:
a. Sebagai pelaksana
Seabagai pelaksana bidana memiliki tiga kategori yaitu tugas mandiri, tugas

kolaboratif dan tugas ketergantungan.


a) Tugas mandiri
Tugas mandiri bidan desa yaitu:
a) Menetapkan menejemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan

yang diberikan.
b) Memberikan pelayanan dasar pra nikah pada remaja dengan

melibatkan mereka sebagai klien.


c) Memeberi asuhan kebidanan kepada klien selama kehamilan normal
d) Memeberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan

dengan meliatkan keluarga


e) Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
f) Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa nifas dengan

melibatkan klien atau keluarga.


g) Memberikan asuhan kebidan pada wanita usia subur yang

membutuhkan pelayanan KB
h) Memeberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem

reproduksi dan wanita dalam masa klimakretium nifas.


b) Tugas kolaborasi
Tugas yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yang kegiatannya

dilakukan secara bersamaan atau ebagai salah satu urutan dari proses

kegiatan pelayanan kesehatan.


a) Menerapkan menejemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan

sesuai fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga


b) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi

dan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan

kolaborasi.
c) Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan

resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawat

daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan klien dan

keluarga
d) Memeberikan asuhan pada BBL dengan resiko tinggi dan yang

mengalami komplikasi serta kegawat daruratan yang memerlukan

pertolongan pertama
e) Memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan resiko tinggi dan

yang mengalami komplikasi serta kegawat daruuratan yang

memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga.


c) Tugas ketergantungan atau merujuk
Tugas yang dilakukan oleh bidan dalam rangka rujukan ke sistem

pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya yaitu pelayanan yang

dilakukan oleh bidan sewaktu menerima rujukan dari dukun yang

menolong persalinan, juga layanan rujukan yang dilakukan olhe bidan

ketempat fasilitas pelayanan kesehatan laiin secara horisontal maupun

vertical.
d) Peran sebagai pengelola
a) Pengembang pelayan dasar kesehatan
Bidan bertugas mengembangkan pelayanan dasar kesehatan terutama

pelayanan kebidanan untuk individu, keluarga kelompok khusus dan

masyarakat di wilayah kerja dengan melibatkan masyarakat/ klien

meliputi :
- Mengkaji kebutuhan terutama yang berhubungan dengan

kesehatan ibu dan anak untuk meningkatkan serta mengembangkan

program pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya bersama tim

kesehatan dan pemuka masyarakat.


- Menyusun rencana kerja sesuai dengan hasil kajian bersama

masyarakat
- Mengelola kegiatan pelayanan kesehatan khususnya KIA/KB

sesuai dengan rencana.


- Mengkoordinir, mengawasi dan membimbing kader dan dukun

atau petugas kesehatan lain dalam melaksanakan program/

kegiatan pelayanan KIA/KB


- Mengembangkan strategi untuk meningkatkan kesehatan

masyarakat khususnya KIA KB termasuk pemanfaatan sumber

yang ada pada program dan sektor terkait.


- Menggerakkan dan mengembangkan kemampuan masyarakat serta

memelihara kesehatannya dengan memanfaatkan potensi yang ada


- Mempertahankan dan meningkatkan mutu serta keamanan praktik

profesional melalui pendidikan, pelatihan, magang, dan kegiatan

dalam kelompok profesi


- Mendokumentasikan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan
5) Berpartisipasi dalam tim
Bidan berpartisi dalam tim untuk melaksanakan program kesehatan dan

sektor lain melalui peningkatan kemampuan dukun bayi, kader, dan

tenaga kesehatan lain yang berada di wilayah kerjanya, meliputi :


a) Bekerjasama dengan Puskesmas, institusi lain sebagai anggota tim

dalam memberi asuhan kepada klien bentuk konsultasi, rujukan &

tindak lanjut
b) Membina hubungan baik dengan dukun bayi, kader kesehatan, PLKB

dan masyarakat
c) Melaksanakan pelatihan serta membimbing dukun bayi, kader dan

petugas kesehatan lain


d) Memberikan asuhan kepada klien rujukan dari dukun bayi
e) Membina kegiatan yang ada di masyarakat yang berkaitan dengan

kesehatan
6) Peran sebagai pendidik
Sebagai pendidik bidan mempunyai 2 tugas yaitu sebagai pendidik

dan penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader
a) Memberikan pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada individu,

keluarga dan masyarakat tentang penanggulanagan masalah kesehatan

khususnya KIA/KB
b) Melatih dan membimbing kader termasuk siswa bidan/keperawatan

serta membina dukun di wilayah kerjanya

7) Peran sebagai peneliti


a) Melakukan investigasi atau penelitian terapan dalam bidang

kesehatan baik secara mandiri maupun kelompok.


b) Mengidentifikasi kebutuhan investigasi/penelitian
c) Menyusun rencana kerja
d) Melaksanakan investigasi
e) Mengolah dan menginterpretasikan data hasil investigasi
f) Menyusun laporan hasil investigasi dan tindak lanjut
g) Memanfaatkan hasil investigasi untuk meningkatkan dan

mengembangkan program kerja atau pelayanan kesehatan.


4. Tenaga Kesehatan Masyarakat
Peran tenaga Kesmas adalah sebagai berikut:
a. Mengumpulkan, mengolah data dan informasi, menginventarisasi

permasalahan, serta melaksanakan pemecahan permasalahan yang berkaitan

dengan pelayanan kesehatan masyarakat


b. Merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, mengevaluasi, dan

melaporkan kegiatan Puskesmas


c. Menyiapkan bahan kebijakan, bimbingan dan pembinaan, serta petunjuk

teknis sesuai bidang tugasnya


d. Melaksanakan upaya kesehatan masyarakat
e. Melaksanakan upaya kesehatan perorangan
f. Melaksanakan pelayanan upaya kesehatan/kesejahteraan ibu dan anak,

Keluarga Berencana, perbaikan gizi, perawatan kesehatan masyarakat,

pencegah dan pemberantasan penyakit, pembinaan kesehatan lingkungan,

penyuluhan kesehatan masyarakat, usaha kesehatan sekolah, kesehatan

olahraga, pengobatan termasuk pelayanan darurat karena kecelakaan,

kesehatan gigi dan mulut, laboratorium sederhana, upaya kesehatan kerja,

kesehatan usia lanjut, upaya kesehatan jiwa, kesehatan mata, dan kesehatan

khusus lainnya, serta pembinaan pengobatan tradisional


g. Melaksanakan pembinaan upaya kesehatan, peran serta masyarakat,

koordinasi upaya kesehatan, sarana pelayanan kesehatan, pelaksanaan

rujukan medik, pembantuan sarana dan pembinaan teknis kepada

Puskesmas Pembantu, unit pelayanan kesehatan swasta, serta kader

pembangunan kesehatan
h. Melaksanakan pengembangan upaya kesehatan dalam hal pengembangan

kader pembangunan di bidang kesehatan dan pengembangan kegiatan

swadaya masyarakat di wilayah kerjanya


i. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi

kesehatan
j. Melaksanakan ketatausahaan dan urusan rumah tangga UPT
k. Melaksanakan analisis dan pengembangan kinerja UPTD
l. Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas
Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Pembangunan Kesehatan
a. Pelayanan Promotif
Untuk meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat dalam

pembangunan kesehatan, diperlukan program penyuluhan dan pendidikan

masyarakat yang berjenjang dan berkesinambungan, sehingga tercapai


tingkatan kemandirian masyarakat dalam pembangunan kesehatan. Program

promotif membutuhkan tenaga-tenaga Kesmas yang handal, terutama yang

mempunyai spesialisasi dalam penyuluhan dan pendidikan.


b. Pelayanan Preventif
Untuk menjamin terselenggaranya pelayanan ini, diperlukan para tenaga

Kesmas yang memahami epidemiologi penyakit, cara-cara dan metode

pencegahan, serta pengendalian penyakit. Program ini merupakan salah satu

lahan bagi tenaga Kesmas dalam pembangunan kesehatan. Keterlibatan

Kesmas dibidang preventif dan pengendalian, memerlukan penguasaan

teknik-teknik lingkungan dan pemberantasan penyakit. Tenaga Kesmas juga

dapat berperan dicbidang kuratif kalau yang bersangkutan mau dan mampu

belajar, serta meningkatkan kemampuannya di bidang tersebut.

3.2 Prinsip Komunikasi dan Praktek Kolaborasi


A. Prinsip Komunikasi
Komunikasi adalah proses simbolik Lambang atau simbol adalah sesuatu

yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang lainnya, berdasarkan kesepakatan

sekelompok orang.Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku

nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama, misalnya memasang

berdera di halaman rumah untuk menyatakan penghormatan atau kecintaan

kepada negara.Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal

memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan antar manusia

dan objek (baik nyata ataupun abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek

tertentu.
Lambang adalah salah satu kategori tanda.Hubungan antara tanda dengan

objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks

tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga

dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi ini

ditandai dengan kemiripan.


1. Setiap Perilaku Mempunyai Potensi Komunikasi Kita tidak dapat tidak
berkomunikasi (we cannot not to communicate). Tidak berarti bahwa semua

perilaku adalah berkomunikasi. Alih-alih komunikasi yang terjadi bila

seseorang memberi makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri.

Cobalah Anda meminta seseorang untuk tidak berkomunikasi.Amat sulit

baginya untuk berbuat demikian, karena setiap perilakunya punya potensi

untuk ditafsirkan. Kalau ia tersenyum, ia ditafsirkan bahagia, kalau ia

cemberut ia ditafsirkan ngambek. Bahkan ketika kita berdiam sekalipun,

ketika kita mengundurkan diri dari komunikasi dari komunikasi dan lalu

menyendiri, sebenarnya kita mengkomunikasikan banyak pesan.Orang lain

mungkin akan menafsirkan diam kita sebagai malu, segan, ragu-ragu, tidak

setuju, tidak peduli, marah, atau bahkan malas atau bodoh.


2. Komunikasi Punya Dimensi Isi Dan Dimensi Hubungan
Dimensi isi disandi secara verbal, sementara dimensi hubungan disandi

secara non verbal. Dimensi ini menunjukan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa

yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukan bagaimana cara

mengatakannya yang juga mengisyaratkan bagaimana hubungan para peserta

komunikasi itu, dan bagaimana pesan itu ditafsirkan.


3. Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat kesengajaan “Komunikasi
dilakukan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak

disengaja sama sekali (misalnya ketika Anda melamun sementara orang

memperhatikan Anda) sehingga komunikasi yang benarbenar direncanakan

dan disadari (ketika Anda menyampaikan pidato). Kesengajaan bukanlah

syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita tidak sama sekali

bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain,perilaku kita potensial

ditafsirkan orang lain. Kita tidak dapat mengendalian orang lain untuk

menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita.


4. Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang Dan Waktu
Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk

iklim, suhu, intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, sosial dan

psikologis.Topik-topik yang lazim dipercakapkan di rumah, tempat kerja, atau

tempat hiburan seperti lelucon, acara televisi, mobil, bisnis, atau perdagangan

terasa kurang sopan bila dikemukakan di masjid.Tertawa terbahak-bahak atau

memakai pakaian dengan warna menyala, seperti merah, sebagai perilaku non

verbal yang wajar dalam suatu acara pesta persepsi kurang beradab bila hal itu

ditampakkan dalam acara pemakaman.”


5. Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi
Ketika orang-orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek prilaku

komunikasi mereka. Dengan kata lain, komunikasi juga terikat oleh aturan

atau tatakrama. Artinya orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan

bagaimana orang yang menerima pesan akan merespon. Prediksi ini tidak

selalu disadari, dan sering berlangsung cepat. Kita dapat memprediksi perilaku

komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.”


6. Komunikasi Bersifat Sistemik
Setiap individu adalah suatu sistem yang hidup (aliving sistem). Setidaknya
dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi itu : sistem internal
dan sistem eksternal. Sistem internal adalah seluruh sistem sistem nilaiyang
dibawa oleh individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi, yang ia serap
selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan sosialisasinya (keluarga,
masyarakat setempat, kelompok suku, kelompok agama, lembaga pendidikan,
kelompok sebaya, tempat kerja, dan sebagainya). Istilah-istilah lain yang
identik dengan sistem internal ini adalah kerangka rujukan (frame ofrefrence),
bidang pengalaman (field of experience), struktur kognitif (cognitivestructure),
pola pikir (thinking partnerns), keadaan intenal (internal states), dan sikap
(attitude). Sistem eksternal terdiri dari unsur-unsur dalamlingkungan di luar
individu, termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik peserta
komunikasi, kegaduhan di sekitarnya, penataan ruangan, cahaya, dan
temperature ruangan. Elemen-elemen ini adalah stimulus publik yang terbuka
bagi setiap peserta komunikasi dalam setiap transaksi komunikasi.”
7. Semakin Mirip Latar Belakang Budaya Semakin Efektiflah Komunikasi
Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai
dengan harapan para pesertanya (orang-orang yang sedang berkomunikasi).
Dalam kenyataanya tidak pernah ada dua manusia yang persis sama, meskipun
mereka kembar yang diasuh dan dilahirkan dalam keluarga yang sama, diberi
makan yang sama dan diasuh dengan cara yang sama. Namun kesamaan dalam
hal-hal tertentu, misalnya agama, ras (suku), bahasa, tindak pendidikan, atau
tingkat ekonomi akan mendorong orang-orang untuk saling tertarik dan pada
gilirannya karena kesamaan tersebut komunikasi mereka menjadi lebih efektif.
Kesamaan bahasa khususnya akan membuat orang-orang yang berkomunikasi
lebih mudah mencapai pengertian bersama dibandingkan dengan orangorang
yang tidak memahani bahasa yang sama.”
8. Komunikasi Bersifat Nonsekunsial
Meskipun terdapat banyak model komunikasi linier atau satu arah
seperti sebenarnya komunikasi manusia pada bentuk dasarnya (komuniaksi
tatap muka) bersifat dua arah. Ketika seseorang berbicara dengan yang
lainnya, atau kepada sekelompok orang seperti dalam rapat atau kuliah,
sebetulnya komunikasi itu berjalan dua arah, karena orangorang yang kita
anggap sebagai pendengar atau penerima pesan sebenarnya juga menjadi
pembicara atau pemberi pesan pada saat yang sama, yaitu lewat perilaku
nonverbal mereka.
9. Komunikasi Bersifat Prosedural, Dinamis, dan Transaksional
Seperti juga waktu dan eksistensi, komunikasi tidak mempunyai awal
dan tidak mempunyai akhir, melainkan merupakan proses yang sinambung
(continuous). Bahkan kajadian yang sangat sederhana sekalipun.
10. Komunikasi Bersifat Irreversible
Suatu perilaku merupakan suatu peristiwa, olehkarena itu peristiwa,
perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat “diambil kembali”.Dalam
komunikasi sekali Anda mengirimkan pesan, Anda tidak dapat mengendalikan
pesan tersebut bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama
sekali.
11. Komunikasi Bukan Panasea Yang Bisa MenyelesaikanBerbagai Masalah.
Banyak konflik dan persoalan antarmanusia disebabkan oleh masalah
komunikasi.Namun komunikasi bukanlah panasea (obat mujarab) untuk
menyelesaikan konflik dan persoalan itu, karena persoalan atau konflik itu
berkaitan dengan masalah struktural.Agar komunikasi efektif kendala
struktural ini juga harus diatasi.
B. Praktek Kolaborasi
Praktek kolaborasi merupakan strategi untuk mencapai kualitas hasil
yang dinginkan secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.
Komunikasi dalam kolaborasi merupakan unsur penting untuk meningkatkan
kualitas perawatan dan keselamatan pasien (Reni,A al,2010). Kemampuan
untuk bekerja dengan profesional dari disiplin lain untuk memberikan
kolaboratif, patient centred care dianggap sebagai elemen penting dari praktek
profesional yang membutuhkan spesifik perangkat kompetensi.
a. Analisa Prinsip Komunikasi
1. Ibu / Bapak RW 5
Setelah melakukan pendekatan selama beberapa hari, kami
dapat mengetahui prinsip komunikasi yang dilakukan Ibu/Bapak RW
5, diantaranya :
 Komunikasi berdimensi isi dan hubungan
 Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat
 Komunikasi Terjadi Dalam Konteks Ruang Dan Waktu
 Komunikasi Melibatkan Prediksi Peserta Komunikasi
 Semakin Mirip Latar Belakang Budaya Semakin Efektiflah
Komunikasi
 Komunikasi Bersifat Prosedural, Dinamis, dan Transaksional
2. Ibu / Bapak RT 01,02, dan 03
Setelah melakukan pendekatan selama beberapa hari, kami
dapat mengetahui prinsip komunikasi yang dilakukan Ibu/Bapak RT
01, 02, dan 03, diantaranya :
 Komunikasi berdimensi isi dan hubungan
 Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat
 Komunikasi Bersifat Nonsekunsial
 Komunikasi Bersifat Prosedural, Dinamis, dan Transaksional

3. Kader RW 5
Setelah melakukan pendekatan selama beberapa hari, kami
dapat mengetahui prinsip komunikasi yang dilakukan Ibu Kader RW 5,
diantaranya :
 Komunikasi berdimensi isi dan hubungan
 Komunikasi Berlangsung Dalam Berbagai Tingkat
 Semakin Mirip Latar Belakang Budaya Semakin Efektiflah
Komunikasi
 Komunikasi Bersifat Nonsekunsial

b. Analisa Praktek Kolaborasi


Setelah melakukan pendekatan selama beberapa hari, kami dapat
mengetahui praktek kolaborasi antara Ibu/Bapak RW 5 dengan Ibu RT 01, 02, dan
03 dengan Kader RW 5. Kolaborasi antara Ibu/Bapak RW 5 kepada Ibu RT dan
Ibu Kader sudah baik, tetapi Ibu RT dan Ibu Kader disini tidak melalukan
kolaborasi yang baik dengan Ibu/Bapak RW 5. Dikarenakan rt 1 dengan rt 2 dan rt
3 beda kampung, maka segala kegiatan di 2 kampung itu juga kadang mereka
tidak mengetahui, akibat kurangnya kolaborasi antar RT dan RW.

3.3 Prinsip-Prinsip Team Work dan Tim Dynamics dalam Pengelolaan Pasien

A. Teamwork

1. Pengertian Teamwork
Penyelenggaraan teamwork dilakukan karena pada saat ini tekanan

persaingan semakin meningkat, para ahli menyatakan bahwa keberhasilan

organisasi akan semakin bergantung pada teamwork daripada bergantung pada

individu-individu yang menonjol. Konsep tim maknanya terletak pada

ekspresi yang menggambarkan munculnya sinergi pada orang-orang yang

mengikatkan diri dalam kelompok yang disebut dengan tim.Tracy (2006)

menyatakan bahwa teamwork merupakan kegiatan yang dikelola dan

dilakukan sekelompok orang yang tergabung dalam satu organisasi.

Teamworkdapat meningkatkan kerja sama dan komunikasi di dalam dan di

antara bagian-bagian perusahaan. Biasanya teamwork beranggotakan orang-

orang yang memiliki perbedaan keahlian sehingga dijadikan kekuatan dalam

mencapai tujuan perusahaan.Pernyataan di atas diperkuat Dewi (2007) kerja


tim (teamwork) adalah bentuk kerja dalam kelompok yang harus diorganisasi

dan dikelola dengan baik. Tim beranggotakan orang-orang yang memiliki

keahlian yang berbeda-beda dan dikoordinasikan untuk bekerja sama dengan

pimpinan. Terjadi saling ketergantungan yang kuat satu sama lain untuk

mencapai sebuah tujuan atau menyelesaikan sebuah tugas. Dengan melakukan

teamwork diharapkan hasilnya melebihi jika dikerjakan secara perorangan.


Stephen dan Timothy (2008) menyatakan teamwork adalah kelompok

yang usaha-usaha individualnya menghasilkan kinerja lebih tinggi daripada

jumlah masukan individual. Teamwork menghasilkan sinergi positif melalui

usaha yang terkoordinasi. Hal ini memiliki pengertian bahwa kinerja yang

dicapai oleh sebuah tim lebih baik daripada kinerja perindividu di suatu

organisasi ataupun suatu perusahaan.Teori yang dikemukakan oleh Stephen

dan Timothy (2008) senada dengan teori tim yang efektif yang dikemukakan

oleh Smither, Houston, McIntire (1996). Manurut Smither, Houston, McIntire

(1996), tim yang efektif adalah sebuah tim yang memungkinkan anggotanya

untuk bisa menghasilkan penyelesaian tugas yang lebih besar jumlahnya

dibandingkan dengan hasil kerja perorangan karena hasil kerjanya merupakan

hasil dari kontribusi anggota-anggota tim secara bersama-sama.Pernyataan

tersebut juga didukung oleh Burn (2004), yang menyatakan bahwa efektifitas

tim atau tim yang efektif merupakan tim kerja yang anggota-anggotanya saling

berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama dan memiliki sikap yang saling

mendukung dalam kerjasama tim.


2. Jenis Teamwork
Menurut Daft (2000) jenis teamwork terdiri dari 6 (enam) jenis, yaitu:
a. Tim Formal Tim formal adalah sebuah tim yang dibentuk oleh organisasi

sebagai bagian dari struktur organisasi formal.


b. Tim Vertikal Tim vertikal adalah sebuah tim formal yang terdiri dari

seorang manajer dan beberapa orang bawahannya dalam rantai komando

organisasi formal
c. Tim Horizontal Tim horizontal adalah sebuah tim formal yang terdiri dari

beberapa karyawan dari tingkat hirarki yang hampir sama tapi berasal dari

area keahlian yang berbeda.


d. Tim dengan Tugas Khusus adalah sebuah tim yang dibentuk diluar

organisasi formal untuk menangani sebuah proyek dengan kepentingan

atau kreativitas khusus.


e. Tim Mandiri adalah sebuah tim yang terdiri dari 5 hingga 20 orang pekerja

dengan beragam keterampilan yang menjalani rotasi pekerjaan untuk

menghasilkan sebuah produk atau jasa secara lengkap, dan pelaksanaannya

diawasi oleh seorang annggota terpilih.


f. Tim Pemecahan Masalah Tim pemecahan masalah adalah biasanya terdiri

dari 5 hingga 12 karyawan yang dibayar perjam dari departemen yang

sama, dimana mereka bertemu untuk mendiskusikan cara memperbaiki

kualitas, efisiensi, dan lingkungan kerja.


Sedangkan menurut Hariandja (2006) ada 3 (tiga) tipe tim, yaitu:
a. Problem solving team Sebuah tim yang dibentuik untuk mengatasi

berbagai masalah yang muncul dalam upaya memperbaiki

produktivitas. Pada dasarnya, kegiatan tim ini adalah

mengidentifikasikan berbagai masalah, mendiskusikan bagaimana

memecahkan masalah tersebut dan melakukan tindakan untuk

memperbaiki. Anggota tim biasanya berasal dari satu departemen yang

beranggotakan kurang lebih sepuluh orang yang melakukan pertemuan

rutin setiap minggu.


b. Self managed team Sebuah tim yang dimaksudkan untuk memperbaiki

produktivitas dengan memberikan kewenangan pada kelompok untuk

mengatur kerja mereka, misalnya menjadwal kerja, menentukan


metode kerja, mengawasi anggota, memberi reward dan hukuman bagi

anggota dan merekrut anggota. Keanggotaan ini biasanya berasal dari

satu departemen yang melakukan tugas yang sama.


c. Cross functional team Sebuah tim yang ditujukan untuk menyelesaikan

tugas-tugas khusus, misalnya pengembangan produk baru atau

perencanaan dan perubahan sistem kompensasi. Anggota tim ini

berasal dari berbagai departemen yang memiliki keahlian dan orientasi

yang berbeda yang bekerjasama untuk mencapai suatu tujuan.


3. Tahap Perkembangan Teamwork
Hal yang sangat mendasar dalam mewujudkan keutuhan sebuah tim

agar dapat berkinerja dan berdaya guna adalah dengan melakukan

perancangan tim yang baik. Pentingnya perancangan tim yang baik diuraikan

Griffin (2004) dengan membagi ke dalam 4 (empat) tahap perkembangan,

yaitu:
a. Forming (pembentukan), adalah tahapan di mana para anggota setuju

untuk bergabung dalam suatu tim. Karena kelompok baru dibentuk maka

setiap orang membawa nilai-nilai, pendapat dan cara kerja sendiri-sendiri.

Konflik sangat jarang terjadi, setiap orang masih sungkan, malu-malu,

bahkan seringkali ada anggota yang merasa gugup. Kelompok cenderung

belum dapat memilih pemimpin (kecuali tim yang sudah dipilih ketua

kelompoknya terlebih dahulu).


b. Storming (merebut hati), adalah tahapan di mana kekacauan mulai timbul

di dalam tim. Pemimpin yang telah dipilih seringkali dipertanyakan

kemampuannya dan anggota kelompok tidak ragu-ragu untuk mengganti

pemimpin yang dinilai tidak mampu. Faksi-faksi mulai terbentuk, terjadi

pertentangan karena masalah-masalah pribadi, semua bersikeras dengan

pendapat masing-masing. Komunikasi yang terjadi sangat sedikit karena

masing-masing orang tidak mau lagi menjadi pendengar.


c. Norming (pengaturan norma), adalah tahapan di mana individu-individu

dan subgroup yang ada dalam tim mulai merasakan keuntungan bekerja

bersama dan berjuang untuk menghindari team tersebut dari kehancuran

(bubar). Karena semangat kerjasama sudah mulai timbul, setiap anggota

mulai merasa bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya

kepada seluruh anggota tim.


d. Performing (melaksanakan), adalah tahapan merupakan titik kulminasi di

mana team sudah berhasil membangun sistem yang memungkinkannya

untuk dapat bekerja secara produktif dan efisien. Pada tahap ini

keberhasilan tim akan terlihat dari prestasi yang ditunjukkan.


4. Peranan Anggota Tim
Selanjutnya Williams (2008) membagi ada 5 (lima) hal yang

menunjukkan peranan anggota dalam membangun kerja tim yang efektif,

yaitu:
a. Para anggota mengerti dengan baik tujuan tim dan hanya dapat dicapai

dengan baik pula dengan dukungan bersama, dan oleh karena itu

mempunyai rasa saling ketergantungan, rasa saling memiliki tim dalam

melaksanakan tugas.
b. Para anggota menyumbang keberhasilan tim dengan menerapkan bakat

dan pengetahuannya untuk sasaran tim, dapat bekerja dengan secara

terbuka, dapat mengekspresikan gagasan, opini dan ketidaksepakatan,

peranan dan pertanyaannya disambut dengan baik.


c. Para anggota berusaha mengerti sudut pandang satu sama lain, didorong

untuk mengembangkan keterampilannya dan menerapkan pada pekerjaan,

untuk itu mendapat dukungan dari tim.


d. Para anggota mengakui bahwa konflik adalah hal yang normal, atau hal

yang biasa, dan berusaha memecahkan konflik tersebut dengan cepat dan

konstruktif (bersifat memperbaiki).


e. Para anggota berpartisipasi dalam keputusan tim, tetapi mengerti bahwa

pemimpin mereka harus membuat peraturan akhir setiap kali tim tidak

berhasil membuat suatu keputusan, dan peraturan akhir itu bukan

merupakan persesuaian.
5. Dimensi Tim yang Efektif
Menurut Johnson dan Johnson (dalam Smither, Houston, dan Mclntire,

1996), ada 9 dimensi dalam model efektifitas tim yang dapat digunakan untuk

mengevaluasi anggota tim dan mengidentifikasikan kekuatan serta kelemahan

yang ada di dalam tim, yaitu:


a. Pemahaman, relevansi, dan komitmen pada tujuan Setiap anggota tim

harus memahami tujuan tim secara jelas dan memiliki kemauan untuk

mewujudkan tujuan-tujuan tim karena tujuan tim adalah merupakan hasil

dari tujuan bersama dimana tujuan tim pada akhirnya akan mendorong

terwujudnya kerjasama dalam tim sehingga kerjasama dalam tim mampu

untuk meningkatkan prestasi, produktivitas, dan menciptakan hubungan

kerja yang positif diantara sesama anggotanya.


b. Komunikasi mengenai ide dan perasaan Komunikasi di antara anggota tim

harus melibatkan penyampaian dan penerimaan informasi tentang ide-ide

dan perasaan. Dalam tim yang tidak efektif, komunikasi sering satu arah

dan memfokuskan secara eksklusif hanya pada ide saja. Dengan

mengabaikan atau menekan perasaan, maka tim berisiko kehilangan

informasi yang berharga dan dapat melemahkan kohesivitas tim.


c. Kepemimpinan yang berpartisipasi Kepemimpinan harus berpartisipasi

dan mendistribusikan peran kepemimpinannya kepada semua anggota tim.


d. Fleksibel dalam menggunakan prosedur pembuatan keputusan Prosedur

pengambilan keputusan harus sesuai dengan kebutuhan tim dan sifat

keputusannya. Keterbatasan waktu, keterampilan anggota dan implikasi

dari semua keputusan tim harus dinilai secara hati-hati. Sebagai contoh,
ketika keputusan-keputusan penting dibuat maka akan membutuhkan

dukungan dari anggota tim untuk mengimplementasikan dan melakukan

strateginya dengan efektif.


e. Manajemen konflik yang konstruktifTim yang tidak efektif sering

mencoba untuk mengabaikan atau menekan konflik, sedangkan tim yang

efektif dapat menggunakan konflik dengan cara yang konstruktif. Ketika

dikelola dengan baik, konflik dapat menyebabkan pengambilan keputusan

yang baik pula yakni memecahkan masalah dengan lebih kreatif, dan

jumlah partisipasi anggota tim yang lebih tinggi.


f. Kekuasaan berdasarkan keahlian, kemampuan, dan informasiAnggota tim

harus mampu mempengaruhi dan dipengaruhi oleh orang lain untuk

mengkoordinasikan kegiatan tim. Kekuasaan dan saling mempengaruhi ini

harus terwujudkan secara merata dalam tim. Apabila kekuasaan dan

kegiatan saling mempengaruhi ini hanya dipusatkan pada beberapa orang

anggota tim saja maka kemungkinan efektifitas tim, komunikasi dan

kohesivitas tim akan menjadi berkurang.


g. Kohesi tim dalam tim yang kohesif, setiap anggota merasa saling

menyukai antara satu sama lainnya dan merasa puas dengan keanggotaan

tim mereka. Meskipun kohesi tidak mengarah kepada efektifitas namun ia

memiliki peranan yang penting dalam mewujudkan tim yang efektif yaitu

ketika ia dikombinasikan dengan dimensi lain dari efektifitas tim maka

sebuah tim yang memiliki kohesivitas yang tinggi cenderung

meningkatkan produktivitas.
h. Strategi pemecahan masalahTim harus mampu mengenali masalah dan

menghasilkan solusi secara tepat. Setelah solusinya diimplementasikan,

tim harus mengevaluasi keefektifan dari solusi tersebut. Ketika sebuah tim

mampu untuk mengenali masalah-masalah yang sering muncul dan


menyelesaikannya dengan memberikan solusi yang tepat maka sebuah tim

yang efektif juga akan mampu untuk mengidentifikasikan kemungkinan-

kemungkinan masalah-masalah yang akan muncul dikemudian hari serta

mampu memberikan solusi yang inovatif.


i. Efektivitas interpersonalAnggota tim harus mampu untuk berinteraksi

dengan anggota tim lainnya secara efektif sehingga membuat efektifitas

interpersonal anggota tim menjadi meningkat. Efektifitas interpersonal

dapat diukur dengan menggabungkan konsekuensi tindakan anggota

kelompok dengan tujuan anggota tim. Kecocokan antara tujuan anggota

tim dan konsekuensi dari peningkatan perilaku mereka, maka membuat

interpersonal efektifitas anggota tim juga juga menjad

Selanjutnya Williams (2008) membagi ada 5 (lima) hal yang menunjukkan

peranan anggota dalam membangun kerja tim yang efektif, yaitu:

a. Para anggota mengerti dengan baik tujuan tim dan hanya dapat dicapai

dengan baik pula dengan dukungan bersama, dan oleh karena itu

mempunyai rasa saling ketergantungan, rasa saling memiliki tim dalam

melaksanakan tugas.
b. Para anggota menyumbang keberhasilan tim dengan menerapkan bakat

dan pengetahuannya untuk sasaran tim, dapat bekerja dengan secara

terbuka, dapat mengekspresikan gagasan, opini dan ketidaksepakatan,

peranan dan pertanyaannya disambut dengan baik.


c. Para anggota berusaha mengerti sudut pandang satu sama lain, didorong

untuk mengembangkan keterampilannya dan menerapkan pada pekerjaan,

untuk itu mendapat dukungan dari tim.


d. Para anggota mengakui bahwa konflik adalah hal yang normal, atau hal

yang biasa, dan berusaha memecahkan konflik tersebut dengan cepat dan

konstruktif (bersifat memperbaiki).


e. Para anggota berpartisipasi dalam keputusan tim, tetapi mengerti bahwa

pemimpin mereka harus membuat peraturan akhir setiap kali tim tidak

berhasil membuat suatu keputusan, dan peraturan akhir itu bukan

merupakan persesuaian.

Richard Y. Chang & Mark J. Curtin (1998) menyatakan manfaat tim bagi

individu dan tim bagi organisasi, yaitu:

a. Manfaat tim bagi individu


a) Pekerjaan lebih bervariasi
b) Lebih banyak kebebasan untuk membuat dan menindaklanjuti keputusan

yang benar
c) Meningkatkan kesempatan untuk mempelajari keahlian baru
b. Manfaat tim bagi organisasi
a) Meningkatkan komitmen terhadap keputusan yang diambil
b) Meningkatkan produktivitas tim kerja
c) Lebih fleksibel dalam operasional kerja
d) Meningkatkan rasa tanggung jawab.
4 Analisis Prinsip-Prinsip Team Work dan Tim Dynamics dalam Pengelolaan Pasien
1. Ibu/bapak RW 5
Setelah saya melakukan pendekatan dengan ibu/bapak RW 5 saat praktek di

lapangan ibu/bapak RW dalam mengerjakan tugasnya sebagai RW sangat baik

dengan warga sekitarnya begitu rukun dan saat warga yang kesusahan selalu di

bantu seperti mengadakan perbaikan rumah, warga yang akan menjalankan

persalinan ingin membuat jampersal, dan warga yang meminta bantuan secara

mendadak juga. Jika terjadi ada masalah dalam warga sekitar yang ada di RT

01,02,03 RW selalu menyelesaikan masalah tersebut dengan baik. Jika di

adakan kerja bakti warga yang di RW 5 ikurt berpartisipasi dalam menjalankan

tugasnya sebagai warga. Di RW 5 mengadakan peraturan yang di buat sesuai

keputusan per RW. Untuk mengambil keputusan dalam bidang apapun akan

memberikan manfaat seperti lebih banyak kebebasan untuk membuat dan

menindaklanjuti keputusan yang benar, meningkatkan komitmen terhadap


keputusan yang di ambil, meningkatkan produktivitas tim kerja, lebih fleksibel

dalam operasional kerja, serta meningkatkan rasa tanggung jawab.

2. Kader
Setelah saya melakukan pendekatan di RW 5 dengan ibu kader saya di sambut

dengan baik, dengan warga sekitarnya juga baik, ramah, serta ibu kader

menjalankan tugasnya sangat baik dalam pelayanannya serta pada saat diadakan

penyuluhan-penyuluhan dari puskesmas maupun dari mahasiswa yang lagi

praktek selalu ikut berpartisipasi dalam menjalankan tugasnya sebagai ibu

kader, jika ada masalah yang di alami dalam pelayanan ibu kader segera

menghubungi pihak puskesmas terdekat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Seperti adanya anak yang kekurangan gizi, atau ada yang ibu hamil yang

bermasalah. Untuk mendapatkan penanganan secara lanjut di puskesmas

terdekat.
3. Ibu/bapak RT 01,02,dan 03
Setelah saya melakukan pendekatan di RW 5 dengan ibu/bapak di RT 01,02,03

di sambut dengan baik, warganya pun sangat baik, dan bekerja sama dengan

satu sama lain untuk menjalankan tugasnya masing-masing, walaupun nama

kampungnya berbeda. Jika ada masalah di dalam warga, RT segera melakukan

musyawarah dengan pa RW untuk menyelesaikan masah tersebut, dan jika ada

warga yang ingin melakukan pengajuan bantuan untuk di ajukan ke desa

memberitahukan dulu terhadap RW nya. Untuk mengambil keputusan dalam

bidang apapun akan memberikan manfaat seperti lebih banyak kebebasan untuk

membuat dan menindaklanjuti keputusan yang benar, meningkatkan komitmen

terhadap keputusan yang di ambil, meningkatkan produktivitas tim kerja, lebih

fleksibel dalam operasional kerja, meningkatkan rasa tanggung jawab.


4. Warga
Setelah saya melakukan pendekatan di RW 5, warga yang berada di RW 5

sangat baik dalam menyambut mahasiswa yang akan melakukan penelitian atau
yang melakukan praktek. Dan rukun satu sama lainnya, tidak membedakan dari

keadaan, maupun dari pendidikan. Warga mengerti dengan tujuan yang akan di

capai dengan dukungan bersama sehingga mempunyai ketergantungan satu

sama lain dalam melaksanakan tugas nya sebagai warga di RT 5. Jika ada

konflik dengan yang lain, warga memberitahu ke RW dan RT nya untuk

menyelesaikan konflik tersebut, dan berusaha memecahkan konflik tersebut

dengan cepat dan konstruktif. Dalam menjalankan kerukunan dan bekerja sama

dalam tim kewargaan untuk mengambil keputusan dalam bidang apapun akan

memberikan manfaat seperti lebih banyak kebebasan untuk membuat dan

menindaklanjuti keputusan yang benar, meningkatkan komitmen terhadap

keputusan yang di ambil, meningkatkan produktivitas tim kerja, lebih fleksibel

dalam operasional kerja, meningkatkan rasa tanggung jawab.

3.4 Integrated Decision Making

A. Decision Making
1. Pengertian Decision Making
Pengambilan keputusan atau decision making merupakan proses memilih
di antara opsi, dengan sebuah perilaku manusia yang fundamental. Decision
making adalah proses menggambarkan alternatif keadaan, dengan
mempertimbangkan adanya berbagai peristiwa dan kejadian, serta bertujuan
memilih dan mewujudkan alternatif terbaik dalam kaitannya dengan gaya hidup
dan nilai-nilai pribadi manusia. Decision making dapat dilakukan apabila terjadi
tiga kondisi, yaitu kesadaran akan risiko serius dari alternatif pilihan, harapan
untuk menemukan alternatif yang lebih baik, keyakinan bahwa ada waktu yang
cukup sebelum keputusan dibentuk
2. Dasar Pengambilan Keputusan (Integrated decision making)
Menurut Terry (Syamsi, 2000: 16), keputusan yang diambil oleh seseorang
umumnya didasarkan pada hal-hal berikut:
a. Intuisi
Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih subyektif,
yang mudah dipengaruhi oleh saran, pengaruh eksternal, dan faktor psikologis
lainnya. Pengambilan keputusan berbasis intuisi membutuhkan waktu singkat
untuk masalah dengan dampak terbatas.
b. Pengalaman
Keputusan berdasarkan pengalaman sangat berguna untuk pengetahuan
praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa latar belakang
masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam
memfasilitasi penyelesaian masalah.
c. Fakta
Keputusan berdasarkan beberapa fakta, data maupun informasi sehingga
membuat keputusan yang bagus dan solid, tetapi untuk mendapatkan informasi
yang cukup sangat sulit.
d. Wewenang
Keputusan yang didasarkan pada otoritas belaka akan menyebabkan sifat-sifat
rutin dan berhubungan dengan praktik-praktik diklator. Keputusan berdasarkan
otoritas kadang-kadang oleh pembuat keputusan sering melewati masalah yang
harus diselesaikan benar-benar menjadi kabur atau tidak jelas.
e. Rasional
Keputusan rasional terkait dengan kegunaan. Masalah yang dihadapi adalah
masalah yang membutuhkan solusi rasional. Keputusan yang diambil
berdasarkan pertimbangan rasional lebih objektif.
3. Proses pengambilan keputusan
Menurut Kolter (2000:223), tahap-tahap proses pengambilan keputusan adalah
sebagai berikut:
a. Identifikasi Masalah
Dalam hal ini, diharapkan dapat mengidentifikasi masalah yang ada dalam
suatu situasi.
b. Pengumpulan dan Analisa data
c. Pembuat keputusan diharapkan dapat mengumpulkan dan menganilisis data
yang dapat membantu memecahkan masalah yang ada.
d. Membuat alternative kebijakan
Setelah masalah ditentukan dengan benar dan diatur dengan baik, perlu
dipikirkan cara untuk menyelesaikan.
e. Pemilihan salah satu alternative terbaik
Pilihan satu alternative yang dianggap paling tepat untuk menyelasaikan
masalah tertentu dilakukan atas dasar pertimbangan atau rekomendasi yang
cermat. Dalam memilih alternative dibutuhkan waktu yang lama karena ini
menentukan alternative yang digunakan akan berhasil atau sebaliknya.
f. Implementasi Keputusan
Dalam mengimplementasikan suatu keputusan itu berarti bahwa seorang
pembuat keputusan harus dapat menerima dampak positif atau negative.
Ketika menerima dampak negative, pemimpin juga harus memiliki alternative
lain.
g. Memantau dan mengevaluasi hasil implementasi
Setelah keputusan dijalankan, seseorang harus bias mengukur dampak dari
keputusan yang telah dibuat.
B. Analisis Integrated Decision Making
1. Ibu/bapak RW
Setelah saya dan rekan-rekan semua yang bertugas di lapangan Desa Tanjung
Kamuning RW 5 selama 2 minggu, saya melakukan pendekatan terlebih dahulu
dengan memperkenalkan dan menjelaskan maksud dan tujuan kami semua datang
ke desa Tanjung Kamuning tersebut, setelah dilakukan pendekatan kami meminta
persetujuan sekaligus meminta ijin kepada pihak yang berwenang untuk
melakukan survey mawas diri selama 2 minggu. Pada akhirnya kami semua
meminta keputusan kepada pihak yang berwenang tersebut yaitu ibu/bapak RW
yang diwakili oleh kader memberikan keputusan terkait SMD di desa Tanjung
Kamuning dengan memperbolehkan kami semua untuk melakukan tugas
lapangan. Untuk hari berikutnya dilihat dari berbagai kinerja ibu/bapak RW di
desa Tanjung Kamuning dengan berbagai saran dan masukan dari warga sekitar
untuk lebih meramaikan atau mensejahterakan kampung tersebut supaya tidak ada
warga yang hanya sibuk sendiri di rumahnya masing-masing dengan begitu
ibu/bapak RW memberikan keputusan dengan bijak untuk kedepannya kampung
desa Tanjung Kamuning akan diadakan berbagai macam kegiatan supaya
warganya lebih aktif.
2. Kader
Setelah saya melakukan pendekatan di RW 5 dengan ibu kader di hari pertama
saya dan rekan-rekan semua disambut dengan hangat dan dibantu untuk
melakukan survey pertama yaitu mengetahui batas-batas kampung di desa tanjung
Kamuning. Selain itu juga, jika terjadi permasalahan atau salah persepsi antar
kader disini kader semua melakukan perundingan untuk memecahkan suatu
masalah tersebut dengan mengedepankan keputusan yang nanti akan diambil dan
tidak ada permasalahan yang akan terulang. Jika terjadi permasalahan pada warga,
selain ibu/bapak RW disini kader juga berperan untuk melakukan keputusan baik
apabila ada permasalah terkait pelayanan, kader langsung melapor ke Puskesmas
terdekat untuk tindak lanjutnya.
3. Ibu/bapak RT 01, 02, dan 03
Setelah saya dan rekan-rekan semua melakukan pendekatan dengan ibu/bapak RT
01, 02, dan 03 banyak dibantu terkait survey karena waktu pengambilan data tidak
cukup sehari dan kami meminta keputusan kepada pihak yang berwenang di setiap
kampung tersebut yaitu ibu/bapak RT dan setelah itu kami semua dikasih saran
dan keputusan bahwasannya untuk pendataan bisa dilanjut hari berikutnya.
Dengan begitu, ibu/bapak RT di desa Tanjung Kamuning cukup memberikan
keputusan terkait permasalahan yang kami alami.
4. Warga
Setelah saya dan rekan-rekan semua melakukan pendekatan di RW 5, saya dan
rekan-rekan semua disambut dengan baik meskipun ada beberapa warga yang
tidak ingin membantu atau tidak ikut berpartisipasi dalam tugas lapangan ini.
Warga juga selalu melaporkan kepada ibu/bapak RW terkait permasalahan warga
yang sudah beberapa kali tidak ingin ikut berpartisipasi dalam berbagai acara atau
hal lainnya. Sehingga ibu/bapak RW dan ibu/bapak RT berdiskusi untuk
memecahkan masalah tersebut dengan keputusan yang nanti akan disampaikan
kepada warga tersebut dengan cara yang baik dan tidak ada permasalahan yang
nantinya akan timbul ketidakenakan di setiap warga sekitar.

3.5 Hambatan Dalam Praktek Kolaborasi

A. Hambatan Parktek Kolaborasi

a. Munurut WHO (2013) terdapat beberapa hambatan dalam praktik kolabosari yaitu :

1) Budaya Profesi Dan Sterotip


Budaya profesi adalah suatu fungsi keyakinan, nilai kebiasaan dan prilaku. Budaya

profesi diidentifikasi sebagai warisan sosial suatu tim dengan berbagai profesi berada

di dalamnya, dimana pemikiran dan perilaku satu profesi berbeda terhadap kelompok

profesi lainnya dan cenderung diturunkan dari generasi ke generasi.


2) Penggunaan Bahasa Yang Berbeda Dan Tidak Konsisten
Banyak istilah yang digunakan dalam untuk menggambarkan kolaborasi

interprofesional. Banyak sebagian orang yang belum paham mengenai perbedaan

multidisiplin, transdisiplin dalam program profesi kesehatan.


3) Akreditas Dan Kurikulum
Dibutuhkan pencapaian kolaborasi interprofesi dengan menerapkan kurukilum

berbasis IPE (Interprofessional Education) di tingkat pendidikan.


4) Pengetahuan Akan Ruang Lingkup Profesi Kesehtan Yang Lain
Setiap masing-masing profesi harus dapat memahami akan peran dan fungsi dari

profesi kesehatan yang lain. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi tumpang tindih

dalam praktik kerjasama untuk mengelola pasien.


A. Analisis Hambatan

1) Bapak/Ibu RW
Setelah saya dan rekan-rekan semua yang bertugas di lapangan Desa Tanjung

Kamuning RW 5 selama 2 minggu, saya melakukan pendekatan terlebih dahulu

dengan memperkenalkan dan menjelaskan maksud dan tujuan kami semua datang ke

desa Tanjung Kamuning tersebut, setelah dilakukan pendekatan kami meminta

persetujuan sekaligus meminta izin kepada pihak yang berkaitan untuk melakukan

survey mawas diri selama 2 minggu. Pada akhirnya kami semua meminta keputusan

kepada pihak yang berkaitan dengan wilayah tersebut yaitu ibu/bapak RW.

Hambatan atau persoalan ketika anggota keluarga dari Ibu/Bapak RW mengalami

duka sehingga ibu/bapak RW 05 Desa Tanjung Kamuning tak jarang tidak berada di

rumah mereka.

2) Kader
Setelah saya melakukan pendekatan di RW 5 dengan ibu kader di hari pertama saya

dan rekan-rekan semua disambut dengan hangat dan dibantu untuk melakukan

survey pertama yaitu mengetahui batas-batas kampung di desa tanjung Kamuning.

Bahasa yang digunakan menyesuaikan dengan budaya sekitar. Sehingga kader dapat

memahami apa yang kita sampaikan.


3) Warga
Setelah saya dan rekan-rekan semua melakukan pendekatan di RW 5, saya dan

rekan-rekan semua disambut dengan baik meskipun ada beberapa warga yang tidak

ingin membantu atau tidak ikut berpartisipasi dalam tugas lapangan ini. Warga juga

selalu melaporkan kepada ibu/bapak RW terkait permasalahan warga yang sudah

beberapa kali tidak ingin ikut berpartisipasi dalam berbagai acara atau hal lainnya.
Memungkinkan karena mereka belum mengetahui secara jelas tentang kesehatan dan

pentingya kesehatan khususya bagi mereka sendiri. Tak jarang ibu/bapak RT berbeda

persepsi dengan warga masyarakat terkait dengan pengetahuan akan kesehatan.

3.6 Solusi Yang Sesuai Dengan Korteks Dan Situasi Yang Di Angkat

Masalah tersebut dapat diselesaikan dengan pengaturan komunikasi yang


sebaik-baiknya antar tenaga kesehatan. Maka dalam organisasi kesehatan agar
komunikasi berjalan dengan baik dan tanpa ada masalah perlu memperhatikan hal-hal
berikut:

1. Mengetahui peran, hak, tugas diri sendiri dan petugas lain. Serta harus mengetahui
fungsi kolaborasi dan fungsi peran masing.

2. Memberikan otonomi kepada petugas untuk mengambil keputusan sesuai dengan


kewajiban dan kemampuannya, dan Mereposisi kembali hubungan antar petugas
kesehatan sebagai hubungan yang saling melengkapi.

3. Mengetahui prinsip komunikasi dan praktek kolaborasi jangan sampai ada


hambatan-hambatan dalam praktek kolaborasi.

4. Harus mengetahui prinsip-prinsip teamwork dan team dynamics dalam


pengelolaan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Rokhmah, N.A., & Anngorowati, A. (2017). Komunikasi efektif dalam praktik


kolaborasi interprofesi sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan.
Jhes(Journal of Health Studies), 1(1), 6-71.
Sutapa, M. (2006). Membangun komunikasi efektifi di sekolah. Journal Manajeman
Pendidikan UNY.
WHO. 2013. Interprofessional Collaborative Practice In Primary Health
Care:Nursing an Midwifery Perspectives. Geneva, Switzerland