Anda di halaman 1dari 6

HASIL

1. Perbedaan Rerata Total Daily Energy Expenditure (TDEE) Berdasarkan Indeks Massa
Tubuh (IMT)
Dari tabel diketahui kelompok IMT gemuk memiliki rerata pengeluaran energi
harian terbesar dan kelompok IMT kurus memiliki rerata pengeluaran energi harian
terkecil. Dari hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan rerata pengeluaran
energi harian berdasarkan kelompok IMT (p > 0,05).
IMT n Rerata Median Minimum Maksimum P value*
Kurus 2 1570,5 1570,5 1554 1587
Normal 22 1997,8 1893 1492 2658
0,213
Gemuk 7 2125,1 2102 1696 2803
Obesitas 3 2124,3 2087 2031 2255
Total 34 2010 1996 1492 2803
*One Way Anova

2. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin


Dari tabel diketahui pria memiliki rerata asupan gizi lebih besar daripada wanita.
Hasil analisis menunjukkan tidak adanya perbedaan rerata asupan gizi yang signifikan
antara pria dan wanita (p > 0,05).
JK n Rerata Median Minimum Maksimum P value*
Pria 15 1545,8 1372 937 2896,0
0,374
Wanita 19 1379 1171,5 683 2484,0
Total 34 1452,5 1366,2 683 2896,0
*Independent T Test

3. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Usia


Dari tabel diketahui kelompok dewasa awal memiliki rerata asupan gizi terbesar dan
kelompok lansia akhir memiliki rerata asupan gizi terkecil. Hasil analisis menunjukkan
tidak adanya perbedaan rerata asupan gizi yang signifikan berdasarkan kelompok usia (p >
0,05).
Usia n Rerata Median Minimum Maksimum P value*
Remaja Awal 8 1472,9 1437,5 937 2566
Remaja Akhir 9 1506,2 1372 935 2407
Dewasa Awal 1 1827 1827 1827 1827
0,932
Dewasa Akhir 10 1465,2 1188,5 683 2896
Lansia Awal 5 1290,5 1428 695,5 1879
Lansia Akhir 1 1116 1116 1116 1116
Total 34 1452,5 1366,2 683 2896
*One Way Anova
4. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Dari tabel diketahui kelompok IMT gemuk memiliki rerata asupan gizi terbesar dan
kelompok IMT kurus memiliki rerata asupan gizi terkecil. Hasil analisis menunjukkan
tidak terdapat perbedaan rerata asupan gizi berdasarkan kelompok IMT (p > 0,05).
IMT n Rerata Median Minimum Maksimum P value*
Kurus 2 1183,5 1183,5 1083 1284
Normal 22 1489,1 1400 683 2896
0,819
Gemuk 7 1491,5 1366 1048 2484
Obesitas 3 1272,7 1142 937 1739
Total 34 1452,5 1366,2 683 2896
*One Way Anova
PEMBAHASAN

1. Perbedaan Rerata Pengeluaran Energi Harian (TDEE) Berdasarkan Indeks Massa Tubuh
(IMT)
Status gizi merupakan indikator yang dapat menggambarkan kondisi kesehatan
dipengaruhi oleh asupan serta pemanfaatan zat gizi di dalam tubuh. Asupan energi yang
masuk ke dalam tubuh diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sedangkan pengeluaraan
energi digunakan untuk metabolisme basal, aktivitas fisik dan efek termik makanan. Status
gizi dapat dilihat dari berat badan dan tinggi badan yang dikalkulasikan menjadi indeks
massa tubuh (IMT) (Schlenker, 2011)
Pada penelitian ini diketahui tidak adanya perbedaan rerata pengeluaran energi harian
berdasarkan kelompok IMT (p > 0,05). Kelompok IMT gemuk memiliki rerata pengeluaran
energi harian terbesar dan kelompok IMT kurus memiliki rerata pengeluaran energi harian
terkecil. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh yang menunjukkan
bahwa rerata total daily energy energy expenditure (TDEE) pada siswa status gizi obesitas
(2079,2 kkal) lebih tinggi dibandingkan dengan siswa status gizi normal (1684,84 kkal).
Status gizi berhubungan dengan keseimbangan energi (energy balance), yaitu antara
energi yang masuk (energy intake) dari asupan makanan dengan energi yang keluar (energy
expenditure) (Kurpard dkk., 2005). Menurut Dunford (2012), total energi yang dikeluarkan
dalam sehari (total daily energy expenditure) ditentukan berdasarkan tiga komponen utama,
yaitu energi yang digunakan untuk aktivitas metabolisme tubuh (basal metabolik atau
metabolisme saat istirahat), efek termik makanan yang dikonsumsi, dan aktivitas fisik yang
dilakukan. Metabolisme basal adalah penggunaan energi pada saat istirahat. Metabolisme
basal menyumbang 10 - 20% terhadap pengeluaran energy tubuh (Schlenker, 2011).
Total daily energy expenditure (TDEE) juga dipengaruhi oleh efek termik makanan.
Efek termik makanan didefinisikan sebagai energi panas yang dihasilkan dalam proses
pencernaan makanan (Schlenker, 2011). Komponen pengeluaran energi terbesar digunakan
untuk aktivitas fisik (Hill, J, 2012). Schutz dkk membandingkan termogenesis makanan
antara individu obesitas (persentase massa lemak >30) dan individu non-obesitas dan
menunjukkan bahwa respons termogenik terhadap 3 kali makan selama satu hari lebih tinggi
pada kelompok non-obesitas, independen dari kelompok yang menelan lebih sedikit energi.
Para peneliti melaporkan korelasi negatif antara termogenesis makanan dan berat badan (p
<0,001) dan lemak tubuh (p <0,001). Swaminathan dkk berspekulasi bahwa pengurangan
dalam termogenesis makanan tidak mungkin mendorong obesitas dengan sendirinya, tetapi
konsumsi makanan berlemak tinggi secara teratur dapat menjadi kontributor. Selain itu,
pengurangan ini dapat disebabkan oleh resistensi insulin dan pengurangan aktivasi sistem
saraf simpatis yang terlihat pada individu yang mengalami obesitas. Pada kelompok obesitas
diketahui bahwa jaringan adiposa cenderung buruk secara metabolik. Ketika asupan makanan
melebihi kebutuhan energi, respons termogenik menjadi terbatas hingga maksimum 25% dari
konsumsi, yang berarti bahwa setidaknya 75% dari konsumsi energi berlebih akan disimpan
(Swaminathan dkk., 1985).

2. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Jenis Kelamin


Pada penelitian ini rerata asupan gizi pria lebih besar daripada wanita. Hasil analisis
menunjukkan tidak adanya perbedaan rerata asupan gizi yang signifikan antara pria dan
wanita (p value > 0,05). Hal ini kemungkinan berhubungan dengan adanya kecenderungan
wanita untuk menjaga bentuk badan yang ideal sehingga asupan makanan dari wanita lebih
rendah dibandingkan pria. Penelitian yang dilakukan terhadap beberapa responden yang
berumur 18-20 tahun, didapatkan data bahwa rata-rata responden yang berolahraga mengikuti
latihan fitness dikarenakan oleh kondisi ketidakpuasan terhadap tubuhnya yang sebelumnya
gemuk maupun kurus yang membuat dirinya menjadi minder dengan teman-teman dan
lingkungan sekitarnya (Musba, 2014).
Hasil penelitian Laksmi dkk (2018) menunjukan responden yang memiliki body image
tidak puas lebih banyak yang berperilaku makan abnormal yaitu sejumlah 19 orang (63,3%),
sedangkan yang berperilaku makan normal hanya sejumlah 11 orang (36,7%). Hasil juga
menunjukan terdapat hubungan yang bermakna antara body image dengan perilaku makan
(p<0,005). Responden yang memiliki body image tidak puas mempunyai kecenderungan 27,6
kali untuk berperilaku makan abnormal dibandingkan dengan responden yang memiliki body
image puas.

3. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Usia


Pada penelitian ini diketahui kelompok dewasa awal memiliki rerata asupan gizi terbesar dan
kelompok lansia akhir memiliki rerata asupan gizi terkecil. Hasil analisis menunjukkan tidak
adanya perbedaan rerata asupan gizi yang signifikan berdasarkan kelompok usia. Perbedaan
kebutuhan energi antara orang remaja dan dewasa dengan lansia disebabkan karena adanya
perbedaan aktivitas fisik yang dilakukan. Pada lansia energi yang dibutuhkan untuk
beraktivitas menurun lebih besar daripada untuk metabolisme basal (Muis, 2009)
Selain itu, berkurangnya kekuatan otot rahang, penurunan fungsi dan sensitifitas saraf
indera pengecap, gerakan peristaltik esofagus dan asam lambung menyebabkan lansia
mengalami penurunan nafsu makan. (Fatmah, 2010)

4. Perbedaan Rerata Asupan Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT)


Dari penelitian ini diketahui kelompok IMT gemuk memiliki rerata asupan gizi
terbesar dan kelompok IMT kurus memiliki rerata asupan gizi terkecil. Asupan energi
berhubungan dengan status gizi, artinya semakin baik tingkat asupan energi, maka status
gizinya semakin baik namun apabila asupan gizi berlebih maka dapat terjadi obesitas.
Analisis pada penelitian ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan rerata asupan gizi
berdasarkan kelompok IMT (p > 0,05). Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian
Novitasari (2003) yang menunjukkan adanya hubungan antara asupan energi dengan status
gizi. Apabila asupan energi kurang dari jumlah yang diperlukan tubuh, maka akan
mengakibatkan penurunan berat badan, tetapi bila asupan energi melebihi kebutuhan, maka
energi akan diubah menjadi cadangan lemak tubuh yang akan menyebabkan peningkatan
berat badan. Asupan makanan yang tidak memadai kebutuhan, baik kualitas maupun
kuantitas akan menimbulkan masalah gizi.

Schlenker, E.D., R. S. Williams’ Essentials of Nutrition and Diet Therapy. (Elsevier, 2011).
Kurpard, A. V., Muthayya, S., & Vaz, M. (2005). Consequences of Inadequate Food Energy
and Negative Energy Balance in Humans. Public Health Nutrition, 8(7A), 1053-1076.
Dunford, M., & Doyle, J. A. (2012). Nutrition for Sport and Exercise. (2nd ed). Wadsworth,
Cengage Learning.
Hill, J. O., Wyatt, H. R. & Peters, J. C. Energy balance and obesity. Circulation 3, 126–132
(2012).
Schutz Y, Bessard T, Jequier E. Diet-induced thermogenesis measured over a whole day in
obese and nonobese women. Am J Clin Nutr 1984;40:542e52
Swaminathan R, King RF, Holmfield J, Siwek RA, Baker M, Wales JK. Thermic effect of
feeding carbohydrate, fat, protein and mixed meal in lean and obese subjects. Am J Clin
Nutr 1985;42:177e81.
Musba E, Abidin Z. Hubungan antara Body Image dengan Penyesuaian Diri pada Remaja
Pria yang Melakukan Latihan Fitness. 2014;3(2)
Laksmi, Z. A., Martha A., dan Deny Y. F. 2018. Hubungan Body Image dengan Perilaku
Makan dan Kebiasaan Olahraga pada Wanita Dewasa Muda Usia 18- 22 Tahun (Studi
pada Mahasiswi Program Studi Kedokteran Universitas Diponegoro). Jurnal Kedokteran
Diponegoro. 7(2).
Muis SF. Buku ajar geriatri Ilmu Kesehatan Usia Lanjut: Gizi pada usia lanjut. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2009.
Fatmah. Gizi usia lanjut: kebutuhan zat gizi. Jakarta: Erlangga; 2010.
Novitasari. Hubungan Antara Asupan Energi dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi pada
Mahasiswa Akademi Maritim Nasional Indonesia. Semarang. Politeknik Kesehatan
Semarang; 2003.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoaman Gizi Seimbang.