Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang utama. Banyak
pasien yang mengalami kematian akibat penyakit jantung. Penanganan yang salah dan
kurang cepat serta cermat adalah salah satu penyebab kematian.
Infark miokard akut merupakan penyebab kematian utama bagi laki-laki dan
perempuan di USA.diperkirakan lebih dari I juta orang menderita infark miokard
setiap tahunnya dan lebih dari 600 orang meninggal akibat penyakit ini.
Masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang rendah membuat mereka salah
untuk pengambilan keputusan penanganan utama.sehingga menyebabkan
keterlambatan untuk ditangani.hal ini yang sering menyebabkan kematian.
Berbagai penelitian standar terapi trombolitik secara besar-besaran telah
dipublikasikan untuk infark miokard akut dengan harapan memperoleh hasil optimal
dalam referfusi koroner maupun stabilisasi koroner setelah iskemia

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa defenisi dari STEMI
1.2.2 Apa etiologi dari STEMI
1.2.3 Apa manifestasi klinis dari STEMI
1.2.4 Apa penatalaksanaan dari STEMI
1.2.5 Bagaimana patofisiologi dari STEMI
1.2.6 Bagaimana PATHWAY dari STEMI
1.2.7 Bagaimana askep pada STEMI

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui defenisi dari STEMI

1
1.3.2 Untuk mengetahui etiologi dari STEMI
1.3.3 Untuk mengetahui manifestasi klinis dari STEMI
1.3.4 Untuk mengetahui penatalaksanaan dari STEMI
1.3.5 Untuk mengetahui patofisiologi dari STEMI
1.3.6 Untuk mengetahui Pathway STEMI
1.3.7 Untuk mengetahui askep dari STEMI

1.4 Manfaat
Dengan adanya asuhan keperawatan ini diharapkan mahasiswa mampu memahami
dan membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan skemi serta
mampu mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.

2
BAB II
TINAJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI
ST Elevasi Miokard Infark (STEMI) adalah rusaknya bagian otot jantung secara
permanen akibat insufisiensi aliran darah koroner oleh proses degeneratif maupun di
pengaruhi oleh banyak faktor dengan ditandai keluhan nyeri dada, peningkatan enzim
jantung dan ST elevasi pada pemeriksaan EKG.
Infark miokardium menunjukan suatu daerah nekrosis miokardiu m
akibat iskemia total. MI akut yang terkenal sebagai “Serangan jantung”,
merupakan penyebab tunggal tersering kematian diindstri dan merupakan
salah satu diagnosis rawat inap tersering di Negara maju (Kumar, 2007)
Infark miokard Akut adalah iskemia atau nekrosis pada oto jantung yang
diakibatkan karena penurunan aliran darah melalui satu atau lebih arteri koroner
(Doengos, 2003)

2.2 ETIOLOGI
1. Faktor penyebab :
Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :
a. Faktor pembuluh darah :
1) Aterosklerosis.
2) Spasme
3) Arteritis
b. Faktor sirkulasi :
1. Hipotensi
2. Stenosos aurta
3. Insufisiensi
c. Faktor darah :
1. Anemia
2. Hipoksemia

3
3. Polisitemia
d. Curah jantung yang meningkat :
1. Aktifitas berlebihan
2. Emosi
3. Makan terlalu banyak
4. Hypertiroidisme
e. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
1. Kerusakan miocard
2. Hypertropimiocard
3. Hypertensi diastolic
2. Faktor predisposisi :
a. faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :
1. usia lebih dari 40 tahun
2. jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat
setelah menopause
3. hereditas
4. Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.
b. Faktor resiko yang dapat diubah :
a. Mayor :
1. Hyperlipidemia
2. Hipertensi
3. Merokok
4. Diabetes
5. Obesitas, Diet tinggi lemak jenuh, kalor
b. Minor:
1. Inaktifitas fisik
2. Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
3. Stress psikologis berlebihan. (Kasuari, 2002)

4
2.3 MANIFESTASI KLINIS
Nyeri dada penderita infark miokard serupa dengan nyeri angina tetapi lebih intensif
dan berlangsung lama serta tidak sepenuhnya hilang dengan istirahat ataupun pemberian
nitrogliserin (Irmalita, 1996).
Rasa nyeri hebat sekali sehingga penderita gelisah, takut, berkeringat dingin dan
lemas. Pasien terus menerus mengubah posisinya di tempat tidur. Hal ini dilakukan
untuk menemukan posisi yang dapat mengurangi rasa sakit, namun tidak berhasil. Kulit
terlihat pucat dan berkeringat, serta ektremitas biasanya terasa dingin (Antman, 2005).
Dari ausklutasi prekordium jantung, ditemukan suara jantung yang melemah.
Pulsasinya juga sulit dipalpasi. Pada infark daerah anterior, terdengar pulsasi sistolik
abnormal yang disebabkan oleh diskinesis otot-otot jantung. Penemuan suara jantung
tambahan (S3 dan S4), penurunan intensitas suara jantung dan paradoxal splitting suara
jantung S2 merupakan pertanda disfungsi ventrikel jantung. Jika didengar dengan
seksama, dapat terdengar suara friction rub perikard, umumnya pada pasien infark
miokard transmural tipe STEMI (Antman, 2005).

2.4 PATOFISIOLOGI
STEMI umumnya terjadi jika aliran darah koroner menurun secara mendadak s
etelah oklusi trombus pada plak arterosklerosik yang sudah ada sebelumnya. Steno
sis arteri koroner berat yang berkembang secara lambat biasanya tidak memicu STEM
I karena berkembangnya banyak kolateral sepanjang waktu. STEMI terjadi jika tro
mbus arteri koroner terjadi secara cepat pada lokasi injury vaskular, dimana injury ini d
i cetuskan oleh faktor-faktor seperti merokok,hipertensi dan akumulasi lipid.
Pada sebagian besar kasus, infark terjadi jika plak arterosklerosis mengalami fisur, r
uptur atau ulserasi dan jika kondisi lokal atau sistemik memicu trombogenesis, sehingg
a terjadi trombus mural pada lokasi ruptur yang mengakibatkan oklusi arteri koroner. P
enelitian histologis menunjukkan plak koroner cenderung mengalami ruptur jika memp
unyai fibrous cap yang tipis dan inti kaya lipid (lipid rich core). Pada STEMI gamba
ran patologis klasik terdiri dari fibrin rich red trombus, yang dipercaya menjadi d
asar sehingga STEMI memberikan respon terhadap terapi trombolitik. Selanjutnya pad

5
a lokasi ruptur plak, berbagai agonis (kolagen, ADP, efinefrin, serotonin) memicu aktiv
asi trombosit, yang selanjutnya akan memproduks i dan melepaskan tromboxan A2 (va
sokontriktor lokal yang poten). Selain aktivasi trombosit memicu perubahan konforma
si reseptor glikoprotein IIb/IIIa.
Setelah mengalami konversi fungsinya, reseptor mempunyai afinitas tinggi terhadap
sekuen asam amino pada protein adhesi yang larut (integrin) seperti faktor von W
illebrand (vWF) dan fibrinogen, dimana keduanya adalah molekul multivalen yang dapa
t mengikat 2 platelet yang berbeda secara simultan, menghasilkan ikatan silang platelets
dan agregasi.Kaskade koagulasi di aktivasi oleh pajanan tissue factor pada sel endotel y
ang rusak. Faktor VII dan X di aktivasi, mengakibatkan konversi protrombin menjadi tr
ombin, yang kemudian mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin. Arteri koroner yang ter
libat kemudian akan mengalami oklusi oleh trombus yang terdiri agregat trombosit dan
fibrin. Pada kondisi yang jarang, STEMI dapat juga disebabkan oleh emboli koroner, ab
normalitas kongenital, spasme koroner dan berbagai penyakit inflamasi sistemik. (Alwi,
2006)

6
2.5 PATHWAY
(ACS) STEMI

Infrak miokard

Kemampuan sintesa ATP secara aerob kurang

Produksi ATP Anaerob

Asam laktat meningkat

Nyeri Akut Beban jantung meningkat

ATP yang di hasilkan sedkit Otot Rangka kekurangan O2 dan ATP

Penrunan curah jantung Lemah

Volume sekuncup turun Intoleransi Aktivitas

Penurunan tekanan darah

Respon baroreseptor

Darah keginjal menurun

Produksi urine menurn

Aliran balik vena

Alveoli edema Sesak nafas Pola Nafas Tidak Efektif

7
2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratotium Pemeriksaan Enzim jantung :
a. CK (Creatini Kinase) : Isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat
pada 3-6 jam memuncak dalam 12-24 jam, kembali normal dalam 36-48 jam (3-
5 hari)
b. CK-MB: meningkat antara 2-4 jam, memuncak pada 12-20 jam dan kembali
normal pada 48-72 jam
c. LDH(laktat dehidrogenase), LDH1, dan LDH2: Meningkat dalam 24 jam dan
memakan waktu lama untuk kembali normal
d. AST (/SGOT : Meningka
2. Elektrokardiogram (EKG)
a. Pemeriksaan EKG digunakan untuk mencatat aktivitas elektrik jantung.
Melalui aktivitas elektrik jantung dapat diketahui irama jantung, besarnya
jantung, dan kondisi otot jantung, kondisi otot jantung inilah yang memiliki
kaitanya dengan PJK.
b. Tes Treadmill Atau Exercise Stress Testing (uji latih jantung dengan
bebean)Exercise testing merupakan salah satu tes yang paling sering dilakukan
untuk mendiagnosis apakah seseorang terkena menderita penyakit jantung dan
juga untuk menstratifikasi berat ringannya penyakit jantung. Selain itu tes
treadmill juga dapat dipakai untuk mengukur kapasitas jantung, gangguan
irama, dan lain-lain.
c. Echocardiography (Ekokardiografi)
Ekokardiografi adalah prosedur yang menggunakan gelombang suara ultra
untuk mengamati struktur jantung dan pembuluh darah, juga dapat menilai
fungsi jantung.
3. Angiografi korener
1. Merupakan cara dengan menggunakan sinar X dan kontras yang disuntikan
kedalam arteri koroner melalui kateter untuk melihat adanya penyempitan
diarteri koroner.

8
2. Multislice Computed Tomograpy Scanning (MSCT)
CT menghasilkan tampilan secara tomografi (irisan) digital dari sinar X yang
menembus organ. Sinar X yang menembus diterima oleh detektor yang
mengubahnya menjadi data elektrik dan diteruskan ke sistem komputer
untuk diolah menjadi tampilan irisan organ-organ tubuh.
3. Cardiac Magnetic Resonance Imaging (Cardiac MRI)
Merupakan salah satu teknik pemeriksaan diagnostik dalam ilmu kedokteran,
yang menggunakan interaksi proton-proton tubuh dengan gelombang radio-
frekuensi dalam medan magnet (sekitar 0,64-3 Tesla) untuk menghasilkan
tampilan penampang (irisan) tubuh.
4. Radionuclear Medicine
Dengan menggunakan radio aktif dimasukan kedalamtubuh pasien,
kemudian dideteksi dengan menggunakan kamera gamma atau kamera
positron, sehingga pola tampilan yang terjadi berdasrkan pola organ yang
memancarkan sinar gamma. (Kabo, 2008).

2.7 PENATALAKSANAAN
1. Medis
Tujuan penatalaksanaan medis yang dilakukan adalah memperkecil
kerusakan jantuang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi.
Kerusakan jantung diperkecil dengan cara segera mengembalikan keseimbangan
antara kebutuhan dan suplai oksigen jantung. Terapi obat-obatan ,pemberian O2,
tirah baring dilakukan secara bersamaan untuk tetap mempertahankan jantung.
Obat-obatan dan O2 digunakan untuk meningkatkan suplay O2, sementara tirah
baring digunakan untuk mengurangi kebutuhan O2. Hilangnya nyeri merupakan
indicator utama bahwa kebutuhan dan suplai O2 telah mencapai keseimbangan.
Dan dengan penghentian aktifitas fisik untuk mengurangi beben kerja jantung
membatasi luas kerusakan.

9
2. Farmakologi
Ada 3 kelas obat-obatan yang digunakan untuk meningkatkan suplai
oksigen; Vasodilator untuk mengurangi nyeri jantung,missal;NTG
(nitrogliserin). Anti koagulan Missal;heparin (untuk mempertahankan integritas
jantung) Trombolitik Streptokinase (mekanisme pembekuan dalam
tubuh).(Smeltzer & Bare,2006).

2.8 ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Padaanamnesisperluditanyakan denganlengkapbagaimanakriterianyeri
dada yangdi alami pasien,sifatnyeri
dadapadapasienSTEMImerupakannyeri dada tipikal(angina)Faktorresiko
sepertihipertensi,diabetesmelitusdislipidemia,
merokok,sertariwayatpenyakitjantungkoronerdikeluarga(Alwi,2006).Pad
ahampirsetengah kasus,terdapatfaktorpencetussebelum terjadi STEMI.
Seperti aktivitasfisikberat,stress,emosi,ataupenyakitmedislainyang
menyertai Walaupun STEMI bisa terjadi sepanjang hari atau malam,
tetapi variasisirkadian dilaporkan dapatterjadi padapagi hari
dalambeberapajam setelah bangun tidur.
b. Padapemeriksaanfisikdidapati pasiengelisahdantidakbisaistirahat.
Seringkaliektremitaspucatdisertai keringat dingin .Kombinasinyeridada
substernal
>30menitdan banyak keringat di curigai kuat adanyaSTEMI.Tanda
fisislainpadadisfungsiventrikularadalah
S4danS3gallop,penurunanintensitas jantungpertamadan
splitparadoksikalbunyijantungkedua.Dapatditemukanmurmumidsistolikat
aulatesistolikapikalyangbersifasementara(Alwi,2006).Selain itu

10
diagnosisSTEMI ditegakan melalui gambaranEKG adanya elevasi
STkuranglebih2mm,minimal padaduasadapanprekordialyang
berdampinganataukuranglebih
1mmpada2sadapanektremitas.Pemeriksaan enzim jantung terutama
troponin T yang mengikat, memperlua, memperkuat diagnosis. (Alwi,
2006).

2 . Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan iskemia dan infark jaringan miokard
2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan irama jantung
strokevolume, pre load dan afterload, kontraktiltas jantung.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan kelemahan dalam aktivitas
.
4. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan
perfusi ventilasi. (Herdman, 2012).

11
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. U.ADENGAN DIAGNOSA
(ACS) STEMI POSTREVASKULARISASIPCI DI RCA
STENOSIS 95% DI RUANG CVCU RSUD
PROF. DR. ALOE SABOE

1. Identitas pasien
Nama : Tn.U.A
Umur : 49 Tahun
Alamat : Desa Humongga, Kec. Tabongo
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : Sopir
Hari Rawat ke :2
No.RM : 20.97.18
Tgl.Masuk : 26-10-2019
Tgl. Pengkajian : 28-10-2019
Diagnosa Medis :ACS-STEMI POST PCI

Keluhan Utama : sesak


2. Alasan Masuk Rumah Sakit : pasien masuk rumah sakit Aloe Saboe pada hari
sabtu 26 oktober 2019 pukul : 21.45 wita. Dengan keluhan nyeri dada, disertai sesak
sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Sesak hilang timbul, mual ada, muntah ada.
Riwa.yat DM tidak terkontrol dan riwayat maag, riwayat penyakit jantung ada,
pasien sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit di Kotamubagu dengan keluhan
yang sama
3. Alasan Masuk CVCU : pasien sebelumnya masuk di IGD dalam keadaan
sesak, nyeri dada hebat dan tidak berkurang selama 30-60 menit, nyeri dirasakan
dibelakang tulang dada dan serig kali menjalar ke leher dan bahu, rahang dan juga

12
lengan kiri. GCS : 15 EYE :4, Verbal : 5, Motorik : 6, kemudian setelah
mendapatkan perawatan dan beberapa pemeriksaan di IGD, dokter menyarankan
untuk dipindahkan di ruang CVCU guna dilakukan dilakukan tindakan PCI.
4. Riwayat Penyakit Sekarang : Pada saat dikaji senin 28-10-2019 pukul :12.00
keadaan pasien lemah, pasien mengeluh sesak. Pasien Post tindakan PCI dengan
Stenting one vecel di RCA pada tanggal 27-10-2019.Terdapat perban luka akses
sheet radialis, tidak berdarah dan tidak tampak pembengkakan. Pasien sesak
frekuensi nafas 34x/menit tidak batuk dan tidak gelisah terpasang Nasal Kanul O₂ 4
liter per menit, terpasang IVFD NaCl 0,9 20 tetes per menit, tekanan darah : 130/90
mmhg, frekuensi nadi : 100 kali per menit,SPo₂ : 99%, Suhu Badan : 36,7 ͦC, GCS :
15, EYE : 4, Verbal : 5, Motorik : 6, CRT < 2 detik,
kekuatan otot 5,5,5,5 5,5,5,5
5,5,5,5 5,5,5,5
5. Pengkajan fisik dan pengkajian umum persistem

a. Pernafasan
Inspeksi : bentuk dada simertris pada saat Inspirasi dan Ekspirasi kanan
dan kiri, tidak ada jejas atau luka, pernafasan cepat.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, Ekspensi paru seimbang
Perkusi : Bunyi Sonor
Auskultasi : tidak terdapat bunyi nafas tambahan wheezing dan Ronkhi.
b. Kardiovaskuler
Inspeksi : bentuk dada sismetris kiri dan kanan, tampak Ictus cardis
Palpasi : Ictus cardis teraba di ICS V
Perkusi : bunyi pekak (Dullness)
Auskultasi : bunyi S₁ dan S₂ terdapat suara tambahan murmur
c. Neurologis dan Sensoris
-tidak ada nyeri

13
1) Mata : Tidak terdapat edema partebrra, dapat mengangkut bola mata,
kongjungtiva tidak anemis, mata kiri dan kanan tidak Icterus,
refleksi cahaya Isokor, fungsi penglihatan baik.
2) Hidung :Hidung tampak simetris, keaadaan umum hidung
bersih,terpasang nasal kanul, 4 liter per menit, fungsi
penciuman baik.
3) Telinga :Telinga kanan dan kiri simetris, tidak terdapat serumen fungsi
pendengaran baik.
d. Gastrointestinal
1) Mulut :Tidak terdapat perdarahan gusi, tidsak ada stomatitis, klien dapat
menelan dengan baik, bibir lembab, rongga mulut bersih.
2) Abdomen :Bentuk datar dan simetris, tidak terdapat jejas atau luka,
peristaltic usus, tidak terdapat nyeri tekan, terdengar bunyi
timpani pada usus, suara redup pada bagian ginjal.
e. musculoskeletal
1. ekstremitas atas : terpasang infus NaCl 0,9% di tangan kiri, dan terdapat
luka bekas PCI di pergelangan tangan kanan.
2. ekstremitas bawah : tidak terdapat edema dan fraktur, akral hangat

5,5,5,5 5,5,5,5
3 kekuatan otot :
5.5.5.5 5,5,5,5

f. getourinaria : Klien BAK 5.6 kali setiap hari sejak dirawat di CVCU dank lien
menggunakan popok karena pasien lemah tidak dapat ke kamara
mandi.
g. Integumen : Tugor kulit baik, akral hangat, tidak ada edema, Capillary refill
time < 2 detik, terpasang Oxymetri dengan hasil 99%.
h. Endoktrin : Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, riwayat diabetes
mellitus tidak terkontrol.

14
i. psikososial : pasien berhubungan baik dengan istri dan anaknya, pasien
mengatakan ingin cepat sembuh dan pulang, pasien kooperatif
dengan perawat dan dokter.
j. istirahat tidur : pasien tidak mengalami gangguan tidur, pasien tidur 6-8
jam/hari.
k. Nutrisi : pasien makan sehari 3 kali dengan porsi habis, menu
nasi,lauk pauk, sayur dan buah.

15
6. Monitoring tiap Jam
Hari/ Tekanan Frekuensi Frekuensi Suhu
Jam SPO₂ GCS
tanggal Darah Nadi Nafas Badan
Senin 12.00 130/90mmhg 100x/menit 34x/menit 36,7 ͦ 99% 15
28-10-2019 13.00 130/90mmhg 112x/menit 38x/menit 36,7 ͦ 99% 15
14.00 120/70mmhg 120x/menit 38x/menit 36,5 ͦ 98% 15
Selasa 08.00 110/70mmhg 110x/menit 32x/menit 36,2 ͦ 99% 15
29-10-2019 09.00 100/70mmhg 110x/menit 30x/menit 36,5 ͦ 97% 15
10.00 100/70mmhg 105x/menit 30x/menit 36,2 ͦ 99% 15
11.00 110/90mmhg 100x/menit 32x/menit 36,5 ͦ 99% 15
12.00 100/70mmhg 100x/menit 32x/menit 36,7 ͦ 99% 15
13.00 110/70mmhg 100x/menit 28x/menit 36,5 ͦ 99% 15
Rabu 08.00 110/70mmhg 98x/menit 28x/menit 36,2 ͦ 99% 15
30-10-2019 09.00 110/70mmhg 98x/menit 20x/menit 36,2 ͦ 99% 15
10.00 110/70mmhg 98x/menit 20x/menit 36,5 ͦ 99% 15

16
7. Terapi / Program medis
Nama Obat Indikasi Kontra Indikasi Efek Samping
(Dosis, Rute )
NaCl 0,9 % 20 Sebagai pengganti Hipersensitif Detak jantung
tetes/menit cairan tubuh cepat, demam,
suara serak, iritasi,
gatal-gatal atau
ruam.
Omeprazole 40mg Untuk mengatasi Osteoporosis, ibu Demam, sakit
/ 24 jam/ IV gangguan hamil, hepar perut, buang
lambung angin, sakit
kepala, diare
ringan
Bisoprolol 1x1, 25 Mengobati Syok kardiogenik, Pusing, gangguan
mg per oral hipertensi, penyakit paru tidur,
anginapektoris, obstruktif kronis, gradikardia,diare,
aritmia, gagal asma berat. jari, tangan, dan
jantung kaki terasa dingin.
Sucralfat 4x II c Mengobati dan Pasien DM, gagal Kanstipasi, sakit
peroral mencegah tukak ginjal kronis kepala, vertigo,
lambung serta pusing,diare,
ulkus duodenum, insomnia, perut
mengatasi gastritis kembung.
Aspilet 1x 80 mg Menurunkan Gangguan Sakit perut, sakit
per oral resiko thrombosis perdarahan, asma, kepala, mengantuk
koroner, ulkus peptikum gangguan fungsi
meringankan rasa aktif. ginjal, perdarahan
nyeri, sakit kepala, saluran cerna
sakit gigi.

17
Clopidogrel 1 x 75 Untuk mencegah Pasien yang Diare, ulkus
mg per oral trombosit menglami peptikum, ulkus
(platelet) saling perdarahan gaster dan
menempel yang patologis seperti duodenum,
beresiko ulkus peptikum muntah,
membentuk atau perdarahan perdarahan
gumpalan intrakrarial gastritis.

18
8. Hasil Uji Diagnostik
Laboratorium 26-10-2019
Jenis Pemeriksaan hasil satuan Nilai Rujuk
Hematologi
Hemoglobin / Hb 12,0 9% 13,5-18
Leukosit 7,500 /HI 4,0-10,5
Trombosit 218.000 Juta/HI 150000-450000
Hematokrit /PCV 38,1 % 40-50
LED/BBS 64 Mm/jam
Kimia Klinik
Elektrolit
-Natrium /Na 138 mEg/l 135-145
-Kalium /K 4,5 mEg/l 3,5-5,1
-Chlorida/ Cl 108 mEg/l 98-106
FAAL GINJAL
-ureum 35 mg/dl <50(EnzymaticUV)
-kreatinine 1,2 mg/dl < 1,3
Karbohidrat
-glukosa sewaktu 317 mg/dl <140

19
Laboratorium 29-10-2019
JENIS PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
KIMIA KLINIK
Karbohidrat
-Glukosa sewaktu 144 Mg/dl < 140

EKG ECHOCARDIOGRAPHY
- Sinus tachycardia - LV heart Failure ec iskemik
- ST elevansi III, AVF (STEMI)
- Q Patologis V₁-V4

Disfungsi diastolic
- pulmonal hipertesi
- Fraksi ejeksi 40%

20
9. ANALISA DATA
TGL /
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
JAM
1 28-10-2019 DS : Penumpukkan plak, Pola nafas
- Pasien mengeluh sesak lemak, kolestrol tidak efektif
napas (aterosklerosis)
DO : ↓
- Terdegar suara Penyempitan pembuluh
tambahan mur-mur darah koroner
di S1 dan S2 ↓
- Pasien tampak sesak Aliran darah terganggu
- Pasien tampak ↓
bernapas cepat Kongesti pulmonalis
takipnea ↓
- Pasien tampak Pengembangan paru
menggunakan tidak optimal
pernafasan cuping ↓
hidung Sesak nafas
- Terpasang o₂ nasal ↓
kanul 4 liter/menit Pola nafas tidak efaktif
- Tekanan darah :
130/ 90 mm/Hg
- Frekuensi nafas ;
34 x / menit
SPO₂ : 99%
- Suhu badan : 36,7 ͦ C
2. 12.15 DS : Penyempitan pembuluh
- Pasien mengeluh darah koroner
lelah ↓

21
- Pasien mengatakan Aliran darah terganggu
- Merasa lemah ↓
- Pasien mengatakan O₂ dalam darah
tidak nyaman menurun
DO : ↓
- Pasien tampak lemah Hipoksia
- Tekanan darah : ↓
130/90 mmHg kelemahan
- Frekuensi nadi : ↓
100x/menit Intoleransi aktifitas
- Frekuensi nafas :
- Suhu badan 36.7 ͦ C
10. prioritas diagnose keperawatan
1. pola nafas tidak efektif b/d hambatan upaya nafas
2. intoleransi aktiftas b/d kelemahan

22
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Inisial Pasien : Tn. U.A Ruangan : CVCU
No. RM : 20.97.18

No Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan


(Luaran Keperawatan)
1. Pola nafas tidak efektif b/d Setelah dilakukan Intervensi keperawatan Manajemen jalan nafas ( 1.01011) observasi :
hambatan upaya nafas. Selama 3 x 24 jam pola nafas (L.01004) 1. monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman,
Di tandai dengan : Membaik dengan criteria hasil : Usaha napas )
Ds : 1. dispnea menurun 2. monitor bunyi, napas tambahan ( mis.
Gurgling,
- Pasien mengeluh sesak 2. frekuensi nafas membaik Mengi, wheezing, ronkhi kering)
Nafas 3. posisikan semi-flower atau flower
Do : 4. berikan oksigen, jika perlu edukasi.
- Pasien tampak sesak 5. anjurkan asupan cairan 2000 ml / hri, jika
tidak
- Pasien tampak bernafas Tidak kontraindikasi.

23
Cepat
- Terpasang oksigen
Nasal kanul 4 liter /
Menit
- Tekanan darah : 130/90
mmHg
- Frekuensi nadi : 100x /
Menit
- Frekuensi nafas : 34x /
Menit
- SPO₂ : 99%
- Suhu badan : 36,7 ͦ C

24
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Inisial Pasien : Tn.U.A Ruangan : CVCU
No. RM : 20.97.18

No Diagnosa Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi Keperawatan


(Luaran Keperawatan)
2. Intoleransi aktifitas b/d Setelah dilakukan intervensi keperawatan Manajemen energi ( 1.05178) observasi :
selama
Kelemahan ditandai dengan : 3x24 jam, toleransi aktifitas (L.05047) 1. identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
DS : Meningkat, dengan criteria hasil : Mengakibatkan kelelahan
- Pasien mengeluh lelah 1. kekuatan tubuh bagian atas meningkat 2. monitor pola dan jam tidur
- Pasien mengatakan 2. kekuatan tubuh bagian bawah meningkat Terapeutik :
Merasa lemah 3. perasaan lemah menurun 3. fasilitas duduk disisi tempat tidur, jika tidak
- Pasien mengatakan 4. frekuensi nadi membaik dapat berpindah atau berjalan
Tidak nyaman 5. tekanan darah membaik Edukasi:
DO : 6. saturasi oksigen membaik 4. anjurkan tirah baring

25
- Pasien tampak lemah 7. frekuensi nafas membaik 5. anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap
- Tekanan darah : Kolaborasi :
130/90 mmHg 6. kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
- Frekuensi nadi : Meningkatkan asupan makanan.
100 x / menit
- Frekuensi nafas :
34 x ? menit
- SPO₂ : 99 %
- Suhu badan : 36,7 ͦ C

26
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
Inisial Pasien : Tn.U.A Ruangan : CVCU
No.RM :20.97.18
No DX Tanggal/Waktu Tindakan Keperawatan Evaluasi
1. SENIN Senin 28-10-2019
28-10-2019 14.00
12.00 1. memonitor pola nafas. Dengan hasil : S:
- Frekuensi nafas 34 x / menit - Pasien masih mengeluh sesak nafas
- Pernafasan cepat O:
2. memonitor bunyi nafas tambahan dengan hasil : - pasien tampak sesak
- Tidak ada ronkhi dan wheezing - Pasien tampak bernapas cepat
3. memposisikan semi fowler atau fowler dengan - Terpasang oksigen 4 liter /menit
Hasil : - Tekanan darah : 120/70 mmHg
- Memposisikan semi fowler - Frekuensi nadi : 120x/menit
4. memberikan oksigen dengan hasil : - Frekuensi nafas : 38x/menit
- Terpasang oksigen nasal kanul 4 liter/menit - SPO₂ : 98%
5. menganjurkan asupan cairan 2000 ml/hari - Suhu badan : 36,5 ͦ C

27
Dengan hasil :
- Pasien sering minum A : pola nafas tidak efektif belum teratasi
- Terpasang IVFD NaCl 0,9 % 20 tetes/
menit
P : lanjutkan intervensi
1. monitor pola nafas
4. posisikan semi fowler
5. berikan terapi oksigen

28
NO.DX TGL / JAM IMPLEMENTASI EVALUASI
2. Senin Senin
28-10-2019 28-10-2019
12.35 1. mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh yang 14.15
Mengakibatkan kelelahan dengan hasil : S:
- Sumbatan pembuluh darah jantung - Pasien sudah tidak mengeluh lelah
sehingga
Oksigen dalam darah turun menyebabkan - Pasien mengatakan sudah tidak lemah
Hipoksia dan kelelahan
2. memonitor pola dan jam tidur dengan hasil : O:
- Tidur siang 2-3 jam - Pasien tampak lebih rileks
- Tidur malam 5-6 jam - Tekanan darah : 120/70 mmHg
3. memfasilitasi duduk disisi tempat tidur. Dengan - Frekuensi nadi : 120x/menit
hasil:
- Pasien dapat duduk disisi tempat tidur - Frekuensi nafas : 38x/menit
4. menganjurkan untuk tirah baring dengan hasil : - SPO₂ : 98%

29
- Pasien berbaring di tempat tidur - Suhu badan : 36,5 ͦ C
5. menganjurkan untuk melakukan aktifitas secara
Bertahap. A : intoleransi aktivitas teratasi
6. melakukan kolaborasi dengan ahli gizi tentang
cara
Menigkatkan asupan makanan dengan hasil : P : pertahankan intervensi
- Pasien makan makanan dari rumah sakit
Porsi dihabiskan dengan menu bubur, lauk,
Sayur dan buah, 3x1 pemberian

30
No. DX TGL/JAM IMPLEMENTASI TGL/JAM EVALUASI
1. Selasa Selasa
29-10-2019 29-10-2019
09.00 1. memonitor pola nafas. Dengan hasil: 13.00 S:
- Frekuensi nafas30x/menit - Pasien mengatakan sesak berkurang
- Pernafasan cepat
09-05 4. memposisikan semi fowler dengan hasil : O:
- Pasien berbaring setengah duduk - Pasien tampak sedikit sesak
09.10 5. memberikan terapi oksigen nasal kanul - Terpasang oksigen 3 liter/menit
- Tekanan darah : 110/70 mmHg
- Frekuensi nadi : 100x/menit
- Frekuensi nafas : 28x/menit
- SPO₂ : 99%
- Suhu badan : 36,5 ͦ C

A: pola nafas tidak efektif belum teratasi

31
P: lanjut intervensi
1. monitor pola nafas
4. posisikan semi fowler
5. berikan terapi oksigen

32
No. DX TGL/JAM IMPLEMENTASI TGL/JAM EVALUASI
1. rabu rabu
30-10-2019 30-10-2019
08.00 1. memonitor pola nafas. Dengan hasil: 10.00 S:
- Frekuensi nafas28x/menit - Pasien mengatakan sudah tidak sesak

4. memposisikan semi fowler dengan hasil : O:


- Pasien berbaring setengah duduk - KU pasien baik
5. memberikan terapi oksigen nasal kanul - Sudah tidak terpasang oksigen
Dengan hasil : terpasang oksigen nasal kanul 3 - Tekanan darah : 110/70 mmHg
liter/menit
- Frekuensi nadi : 98x/menit
- Frekuensi nafas : 20x/menit
- SPO₂ : 99%
- Suhu badan : 36,5 ͦ C

A: pola nafas tidak efektif teratasi

33
( pasien pulang)
P: pertahankan intervensi

34
BAB VI
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian pada diagnosa sistem post
revaskularisasi PCI stenosis 95% maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Elektrokardografi (EKG) maih menjadi pemeriksaan penunjang
penting dalam penegakan diagnosa dan tata laksana. EKG juga dapat
membantu menentukan culprit lesion pada STEMI sebelum di lakukan
tindakan inpasi.
2. Stemi inporosterior dapat di sebabkan oleh sumbatan pada right
coronary artery RCA (terjadi pada 80%) maupun left circumflex
artery LCX.
3. Pasien STEMI dengan non culprit lesion yang signifikan tanpa
gambaran high risk (syok kardiogenik atau iskemia) yang masih
berlangsung, terutama bila lesi tersebu memberikan vaskularisasi ke
area miokard yang luas atau lesi denga mormofologi yang tidak stabil
(seperti thrombus, ulkus, ruptur plakatherosklerotik).
4.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan terhadap pengetahuan
pasien terhadap pencegahan ACS, yang menjadi saran adalah :
1. Bagi Pasien
Sebaiknya selalu berkoordinasi dengan petugas kesehatan mengenai
penyakitACS utamanya dengan pengobatan. Perlunya turut serta dari
perangkat – perangkat lingkungan untuk berperan aktif dan
perubahan pada diri sendiri agar lebih aktif dalam hal pencegahan
ACS.
2. Bagi petugas kesehatan
Agar lebih meningkatkan kualitas dalam memberikan pelayanan dan
pencegahanpenyakit ACS, tidak hanya ketika sudah terjadi kasus ACS
melainkan setiap saat.

35
DAFTAR PUSTAKA
Achmadi. 2010. Stemi post revaskularisasi pci di rca stenosis 95% . Jurnal,
berbasis wilayah

Ariyati. 2015. Hubungan antara prilaku PSN (3M PLUS) dan kemampuan
mengamati penyakit stemi post revaskularisasi pci distenoss 9%) di
kelurahan tembalang kecamatan tembalang kota semarang.Jurnal
kesehatan,Universitas negri semarang
Amrul Munif. 2015, Pengetahuan dan prilaku masyarakat dalam
penncegahan ckd revaskularisasi pci di Provinsi Jawa Barat dan
Kalimantan Barat.
Azwar. 2007. Sikap manusia teri dan pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka
pelajar
Bahtiar. 2012. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Tokoh Masyarakat
Dengan Perannya Dalam Pengendalian stemi post revaskularisasi pci
distenoss 9%)Di Wilayah Puskesmas Kawalu. Jurnal kesehatan,
Universitas Tasikmalaya
Budiarto. 2013. Metodelogi penelitian kedokteran sebuah pengantar.
Bukukedokteran EGC. Bandung
Damar,. 2011. Faktor- faktor yang mempengaruhi pengetahuan
,http://Medisiana.com/viewtopic, di akses 13 februari 2012.
Ekawati. 2009.stemi post revaskularisasi pci distenoss 9%),
http://digilib.3wDemam –berdarah.Go.id/go.php?id=jkpkbpkk-gdl-
res(di akses 1 Februari 2013)
Frida, 2008. Mengenalstemi post revaskularisasi pci distenoss 9%). CF.
Pamulasi. Jakarta zulkoni, 2010. stemi post revaskularisasi pci
distenoss 9%). Nuha Medika. Jurnal, Yogyakarta
Gama &betty. 2010.Analisis faktor risiko kejadian stemi post
revaskularisasi pci distenoss 9%)di desa mojosongo Kabupaten
boyolali. Jurnal. universitas muhammadiyah Surakarta
Hasdianah. 2014. mengenal virus, penyakit dan pencegahannya. Buku
kedokteran. Jl. Sadewo No. 1 Sorowajan Baru, yogyakarta.
Hidayat. 2013. Metode penelitian keperawatan dan teknik analisis
data.Buku metode penelitian, Salemba medika. Jakarta
Hilmawan. 2016. Hubungan pengetahuan masyarakat dengan perilaku
pencegahan stemi post revaskularisasi pci distenoss 9%)pada
masyarakat di RW 03 desa Mandalayu. Stikes Mitrakencana.
Tasikmalaya
Herminingrum. 2009. Hubungan tingkat pengetahuan masyarakat tentang
penyakitstemi post revaskularisasi pci distenoss 9%) di desa sukorejo
musuk boyolali FIK UMS. Jln Ahmad Yani Tromol Pos 1 Pabelan
Kartasura.

36
37