Anda di halaman 1dari 20

KEWASPADAAN ISOLASI DAN KEWASPADAAN TRANSMISI

Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah


Manajemen Pasien Safety

Dosen Pengampu : Ririn Nasriati, S.Kep Ns., M.kep

DI SUSUN OLEH :

1. Yunita Dwi K ()
2. Nurul Kurniawati (17613110)
3. Dyah Cahya S.P ()
4. Satriyo ()

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN / 2C

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO

2018
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantiasa kita ucapkan kehadirat Allah SWT, karena
atas berkat dan limpahan rahmat-Nyalah maka penulis bisa menyelesaikan makalah
ini dengan tepat waktu. Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah
dengan judul “KEWASPADAAN ISOLASI DAN KEWASPADAAN
TRANSMISI”. Adapun penulisan makalah ini adalah sebagai pemenuhan beberapa
tugas mata kuliah Manajemen Pasien Safety.

Dalam pembuatan makalah ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai


pihak. Oleh karena itu penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberi kesempatan dan memfasilitasi kepada penulis sehingga
makalah ini bisa selesai dengan lancar.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan saya sebagai penulis pada khususnya, saya menyadari bahwa dalam pembuatan
makalah ini masih jauh dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik
yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Akhir kata
penulis sampaikan terimakasih.

Ponorogo, 31 Agustus 2018

Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kewaspadaan Isolasi merupakan bagian dari PPNI. Bertujuan untuk


memutus rantai infeksi. Ruang isolasi adalah ruangan untuk penempatan bagi
pasien dengan penyakit infeksi yang menular agar tidak menular kepada
pasien lain, petugas, dan pengunjung. Dalam memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat, Rumah Sakit harus menerapkan
Kewaspadaan Isolasi yang terdiri dari Kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan
berbasis transmisi. Rumah Sakit harus mampu memisahkan pasien yang
mengidap penyakit infeksi dan menular, dengan pasien yang mengidap penyakit
tidak menular. Berdasarkan cara transmisi/penularan infeksi maka penularan
penyakit dapat dibedakan menjadi penularan kontak, dan penularan droplet

(H5N1, H1N1, MERSCoV) atau udara (tuberculosis).


1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah definisi dari kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan transmisi?
1.2.2 Apa tujuan dari kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan transmisi?
1.2.3 Bagaimana prosedur pelaksanaan dari kewaspadaan isolasi dan
kewaspadaan transmisi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui definisi dari kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan
transmisi.
1.3.2 Untuk mengetahui tujuan dari kewaspadaan isolasi dan kewaspadaan
transmisi.
1.3.3 Untuk mengetahui prosedur pelaksaan dari kewaspadaan isolasi dan
kewaspadaan transmisi.
1.4 Manfaat
1.4.1 Mahasiswa memahami konsep dan dan tujuan dari kewaspadaan isolasi
dan kewaspadaan transmisi sehingga menunjang pembelajaran mata
kuliah manajemen pasien safety.
1.4.2 Mahasiswa mengetahui prosedur pelaksanaan kewaspadaan isolasi dan
kewaspadaan transmisi yang benar sehingga dapat menjadi bekal dalam
persiapan praktik di rumah sakit.
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2.1.1.Definisi Kewaspadaan Isolasi dan Kewaspaddan Transmisi

Kewaspadaan isolasi adalah tindakan pencegahan atau pengendalian


infeksi yang disusun oleh Center for Desease Control (CDC) dan harus
diterapkan di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya. Kewaspadaan
isolasi diterapkan untuk menurunkan resiko trasmisi penyakit dari
pasien ke pasien lain atau ke pekerja medis. Kewaspadaan isolasi memiliki
2 pilar atau tingkatan, yaitu Kewaspadaan Standar (Standard/Universal
Precautions) dan Kewaspadaan berdasarkan cara penularan (Transmission
based Precautions) (Muchtar, 2014; Akib, dkk, 2008; Rosa, 2015).

a.Kewaspadaan Standar (Standard/Universal Precautions)

Kewaspadaan standar adalah kewaspadaan dalam pencegahan dan


pengendalian infeksi rutin dan harus diterapkan terhadap semua pasien
di semua fasilitas kesehatan.Kewaspadaan Universal yaitu tindakan
pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga kesehatan untuk
mengurangi resiko penyebaran infeksi dan didasarkan pada prinsip bahwa
darah dan cairan tubuh dapat berpotensi menularkan penyakit, baik
berasal dari pasien maupun petugas kesehatan (Nursalam, 2007).
Tindakan dalam kewaspadaan standar meliputi:

a. Kebersihan tangan.

b. APD : sarung tangan, masker, goggle, face shield , gaun.

c. Peralatan perawatan pasien.

d. Pengendalian lingkungan.

e. Penatalaksanaan Linen.
f. Pengelolaan limbah tajam/ Perlindungan & Kesehatan karyawan.

g. Penempatan pasien

h. Hygiene respirasi/Etika batuk

i. Praktek menyuntik aman

j. Praktek pencegahan infeksi untuk prosedur lumbal fungsi

Berdasarkan Association for Professionals in Infection Control and


Epidemiology (APIC) kepatuhan kewaspadaan standard terdapat 8
indikator yang terdiri dari:
a. Mencuci tangan sebelum memberikan perawatan kepada pasien.
b. Gunakan sarung tangan apabila kontak dengan darah/cairan tubuh,
membrane mukosa atau kulit yang tidak utuh pada semua pasien.
c. Lepas sarung tangan sebelum meninggalkan area perawatan pasien.
d. Mencuci tangan setelah melepaskan sarung tangan.
e. Buang jarum pada tempat pembuangan tanpa menutup kembali.
f. Gunakan gaun, kacamata atau pelindung wajah ketika adanya percikan
atau semprotan dari cairan tubuh.
g. Ketika menggunakan sarung tangan kotor jangan menyentuh area bersih
dari ruangan/pasien.
h. Needleboxes tidak terisi dengan penuh.

b. Kewaspadaan berdasarkan transmisi (Transmission based Precautions).


Kewaspadaan berdasarkan transmisi merupakan tambahan untuk
kewaspadaan standar, yaitu tindakan pencegahan atau pengendalian infeksi
yang dilakukan setelah jenis infeksinya sudah terdiagnosa atau diketahui
(Akib et al, 2008). Tujuannya untuk memutus mata rantai penularan
mikroba penyebab infeksi, jadi kewaspadaan ini diterapkan pada pasien
yang memang sudah terinfeksi kuman tertentu yang bisa ditransmisikan
lewat udara, droplet, kontak kulit atau lain-lain (Muchtar, 2014).
Berdasarkan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di
Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya tahun 2008, jenis
kewaspadaan berdasarkan transmisi:
a. Kewaspadaan transmisi kontak
Transmisi kontak merupakan cara transmisi yang terpenting dan
tersering menimbulkan HAIs. Kewaspadaan transmisi kontak ini
ditujukan untuk menurunkan resiko transmisi mikroba yang secara
epidemiologi ditransmisikan melalui kontak langsung atau tidak
langsung.
1) Kontak langsung
Meliputi kontak permukaan kulit terluka/abrasi orang yang
rentan/petugas dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misal
perawat membalikkan tubuh pasien, memandikan, membantu pasien
bergerak, dokter bedah dengan luka basah saat mengganti verband,
petugas tanpa sarung tangan merawat oral pasien HSV atau scabies.
2) Transmisi kontak tidak langsung
Terjadi kontak antara orang yang rentan dengan benda yang
terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan, instrumen yang
terkontaminasi, jarum, kasa, tangan terkontaminasi dan belum
dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien
satu dengan yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan
cairan sekresi pasien terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan
petugas atau benda mati dilingkungan pasien. Petugas harus
menahan diri untuk menyentuh mata, hidung, mulut saat masih
memakai sarung tangan terkontaminasi ataupun tanpa sarung
tangan. Hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang
tidak berhubungan dengan perawatan pasien misal: pegangan pintu,
tombol lampu, telepon.
b. Kewaspadaan transmisi droplet
Diterapkan sebagai tambahan kewaspadaan standar terhadap pasien
dengan infeksi diketahui atau suspek mengidap mikroba yang dapat
ditransmisikan melalui droplet ( > 5μm). Droplet yang besar terlalu berat
untuk melayang di udara dan akan jatuh dalam jarak 1 m dari sumber.
Transmisi droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mukus membran
hidung/mulut, orang rentan dengan droplet partikel besar mengandung
mikroba berasal dari pasien pengidap atau carrier dikeluarkan saat
batuk, bersin, muntah, bicara, selama prosedur suction, bronkhoskopi.
Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mucus membrane
atau terinhalasi. Transmisi droplet ke kontak, yaitu droplet
mengkontaminasi permukaan tangan dan ditransmisikan ke sisi lain
misal: mukosa membran. Transmisi jenis ini lebih sering terjadi
daripada transmisi droplet langsung, misal: commoncold, respiratory
syncitial virus (RSV). Dapat terjadi saat pasien terinfeksi batuk, bersin,
bicara, intubasi endotrakheal, batuk akibat induksi fisioterapi dada,
resusitasi kardiopulmoner.
c. Kewaspadaan transmisi melalui udara ( Airborne Precautions )
Kewaspadaan transmisi melalui udara diterapkan sebagai tambahan
kewaspadaan standar terhadap pasien yang diduga atau telah diketahui
terinfeksi mikroba yang secara epidemiologi penting dan ditransmisikan
melalui jalur udara. Seperti transmisi partikel terinhalasi (varicella
zoster) langsung melalui udara. Ditujukan untuk menurunkan resiko
transmisi udara mikroba penyebab infeksi baik yang ditransmisikan
berupa droplet n Mikroba tersebut akan terbawa aliran udara > 2m dari
sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan di ruang yang sama dan
jauh dari pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor lingkungan,
misal penanganan udara dan ventilasi yang penting dalam pencegahan
transmisi melalui udara, droplet nuklei atau sisik kulit luka
terkontaminasi (S. aureus).uklei (sisa partikel kecil < 5μm evaporasi dari
droplet yang bertahan lama di udara) atau partikel debu yang
mengandung mikroba penyebab infeksi.
2.1.2 Tujuan Kewaspadaan Isolasi dan Kewaspadaan transmisi

1. Kewaspadaan Standar

Diberlakukan terhadap setiap pasien,terinfeksi/kolonisasi,setiap waktu


dan di semua fasilitas pelayanan kesehatan. Disusun untuk mencegah
kontaminasi silang sebelum diagnosis diketahui. Kewaspadaan standar
dirancang untuk mengurangi resiko terinfeksi penyakit menular pada
petugas kesehatan bai dari sumber infeksi yang diketahui maupun yang
tidak diketahui.

2. Kewaspadaan berdasar transmisi


Diterapkan pada pasien dengan gejala/dicurigai terinfeksi atau kolonisasi
kuman patogen sebagai tmbahan kewaspadaan standar.
Tujuannya memutus rantai penularan dengan mewaspadai cara transmisi
patogen penyebab dari infeksi yang ditemui.

2.1.3 Prosedur pelaksanaan Kewaspadaan Isolasi dan Kewaspadaan Transmisi

2.1.3.1 Kewaspadaan Standar

Kewaspadaan Standar untuk pelayanan semua pasien. Kategori I


meliputi ( 3,9,10 )

1. Kebersihan tangan/Handhygiene

2. Alat Pelindung Diri (APD) : sarung tangan, masker, goggle (kaca mata
pelindung), face shield (pelindung wajah), gaun

3. Peralatan perawatan pasien 3-2 Pedoman Pencegahan dan Pengendalian


Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya
Kewaspadaan Isolasi (Isolation Precaution)

4. Pengendalian lingkungan

5. Pemrosesan peralatan pasien dan penatalaksanaan linen


6. Kesehatan karyawan / Perlindungan petugas kesehatan

7. Penempatan pasien

8. Hygiene respirasi/Etika batuk

9. Praktek menyuntik yang aman

10. Praktek untuk lumbal punksi

a.Penempatan pasien tidak infeksius.


1)Menggunakan kewaspadaan standar :
a)Penempatan Pasien.
Pasien bisa ditempatkan di semua ruang perawatan kecuali ruang Isolasi di
Unit Perawatan Paru.
b)Kebersihan Tangan.
Lakukan lima saat kebersihan tangan. Gunakan cairan berbasis alkohol
(handrub) dan sabun antiseptik untuk kebersihan tangan
c)Sarung Tangan.
Pakai sarung tangan (bersih dan tidak perlu steril) bila menyentuh darah, cairan
tubuh, sekresi, ekskresi dan barang-barang terkontaminasi. Pakai sarung
tangan sebelum menyentuh lapisan mukosa dan kulit yang luka (non-intact
skin). Ganti sarung tangan di antara dua tugas dan prosedur berbeda pada
pasien yang sama setelah menyentuh bagian yang kemungkinan mengandung
banyak mikroorganisme. Lepas sarung tangan setelah selesai melakukan
tindakan, sebelum menyentuh barang dan permukaan lingkungan yang
tidak terkontaminasi, dan sebelum berpindah ke pasien lain, dan cuci tangan
segera untuk mencegah perpindahan mikroorganisme ke pasien lain atau
lingkungan.
d)Masker, Pelindung Mata, dan Pelindung Wajah.
Gunakan masker dan pelindung mata atau wajah untuk melindungi lapisan
mukosa pada mata, hidung dan mulut saat melakukan prosedur atau aktifitas
perawatan pasien yang memungkinkan adanya cipratan darah, cairan
tubuh, sekresi dan ekskresi.
e)Gaun.
Gunakan gaun (bersih dan tidak perlu steril) untuk melindungi kulit dan untuk
mencegah ternodanya pakaian saat melakukan prosedur dan aktifitas perawatan
pasien yang memungkinkan adanya cipratan darah. Lepas gaun kotor sesegera
mungkin dan cuci tangan untuk mencegah perpindahan mikroorganisme ke
pasien lain atau lingkungan.
f)Peralatan Perawatan Pasien dan ekskresi hendaknya diperlakukan sedemikian
rupa sehingga tidak bersentuhan dengan kulit dan lapisan mukosa, tidak
mengotori pakaian, dan tidak memindahkan mikroorganisme ke pasien lain
dan lingkungan. Pastikan bahwa peralatan yang dapat dipakai ulang tidak dipakai
lagi untuk pasien lain sebelum dibersihkan dan diproses selayaknya. Pastikan
bahwa peralatan sekali pakai,dan yang terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekresi
dibuang dengan carayang benar.
g)Pengendalian Lingkungan.
Lakukan prosedur untuk perawatan rutin, pembersihan, dan desinfeksi
permukaan lingkungan, tempat tidur, tiang-tiang tempat tidur, peralatan di
samping tempat tidur, dan permukaan lainnya yang sering disentuh, dan pastikan
prosedur ini dilaksanakan.
h)Linen.
Tangani, tranportasikan dan proseslah linen yang terkontaminasi dengan darah,
cairan tubuh, sekresi dan ekskresi dengan baik sehingga tidak bersentuhan dengan
kulit dan lapisan mukosa, tidak mengotori pakaian, dan tidak memindahkan
mikroorganisme ke pasien lain dan lingkungan.
i)Kesehatan Karyawan dan Penularan Penyakit Melalui Darah(Bloodborne
Pathogens)
a) Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala terhadap petugas kesehatan
dan pemberian imunisasi.
b) Penatalaksanaan limbah benda tajam dan tertusuk jarum ditangani sesuai SPO
berkoordinasi dengan K3RS.
c) Peralatan yang dapat menggantikan pernafasan dari mutut ke mulut (mouth-to-
mouth resuscitation), seperti mouthpiece, kantong resusitasi,dan peralatan
ventilasi lainnya hendaknya diletakkan di tempat yang sering dibutuhkan
2.1.3.2 Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi.

Dibutuhkan untuk memutus mata rantai transmisi mikroba penyebab infeksi


dibuat untuk diterapkan terhadap pasien yang diketahui maupun dugaan terinfeksi
atau terkolonisasi patogen yang dapat ditransmisikan lewat udara, droplet, kontak
dengan kulit atau permukaan terkontaminasi. Jenis kewaspadaan berdasarkan
transmisi :

1. Kontak.

2. Melalui droplet

3. Melalui udara (Airborne)

4. Melalui common vehicle (makanan, air, obat, alat, peralatan)

5. Melalui vektor (lalat, nyamuk, tikus)

Catatan : Suatu infeksi dapat ditransmisikan lebih dari satu cara. Kewaspadaan
berdasarkan transmisi ini dapat dilaksanakan secara terpisah ataupun kombinasi
dengan Kewaspadaan Standar seperti kebersihan tangan dengan mencuci tangan
sebelum dan sesudah tindakan menggunakan sabun, antiseptik ataupun antiseptik
berbasis alkohol, memakai sarung tangan sekali pakai bila kontak dengan cairan
tubuh, gaun pelindung dipakai bila terdapat kemungkinan terkena percikan cairan
tubuh, memakai masker, goggle untuk melindungi wajah dari percikan cairan
tubuh.

1. Kewaspadaan transmisi Kontak


Cara transmisi yang terpenting dan tersering menimbulkan HAIs. Ditujukan
untuk menurunkan risiko transmisi mikroba yang secara epidemiologi
ditransmisikan melalui kontak langsung atau tidak langsung. Kontak langsung
meliputi kontak permukaan kulit terluka/abrasi orang yang rentan/petugas
dengan kulit pasien terinfeksi atau kolonisasi. Misal perawat membalikkan tubuh
pasien, memandikan, membantu pasien bergerak, dokter bedah dengan luka
basah saat mengganti verband, petugas tanpa sarung tangan merawat oral pasien
HSV atau scabies. Transmisi kontak tidak langsung terjadi kontak antara orang
yang rentan dengan benda yang terkontaminasi mikroba infeksius di lingkungan,
instrumen yang terkontaminasi, jarum, kasa, tangan terkontaminasi dan belum
dicuci atau sarung tangan yang tidak diganti saat menolong pasien satu dengan
yang lainnya, dan melalui mainan anak. Kontak dengan cairan sekresi pasien
terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan petugas atau benda mati
dilingkungan pasien. Sebagai cara transmisi tambahan melalui droplet besar
pada patogen infeksi saluran napas misal : para influenza, RSV, SARS, H5N1.
Pada pedoman Isolation tahun 2007, dianjurkan juga kenakan masker saat dalam
radius 6-10 kaki dari pasien dengan mikroba virulen. Diterapkan terhadap pasien
dengan infeksi atau terkolonisasi (ada mikroba pada atau dalam pasien tanpa
gejala klinis infeksi) yang secara epidemiologi mikrobanya dapat ditransmisikan
dengan cara kontak langsung atau tidak langsung. ( Kategori IB )
Petugas harus menahan diri untuk menyentuh mata, hidung, mulut saat
masih memakai sarung tangan terkontaminasi ataupun tanpa sarung tangan.
Hindari mengkontaminasi permukaan lingkungan yang tidak berhubungan
dengan perawatan pasien misal: pegangan pintu, tombol lampu, telepon.(10) 2.
Kewaspadaan transmisi droplet. Diterapkan sebagai tambahan Kewaspadaan
Standar terhadap pasien dengan infeksi diketahui atau suspek mengidap mikroba
yang dapat ditransmisikan melalui droplet ( > 5μm). Droplet yang besar terlalu
berat untuk melayang di udara dan akan jatuh dalam jarak 1 m dari sumber
(10,11) Transmisi droplet melibatkan kontak konjungtiva atau mucus membrane
hidung/ mulut, orang rentan dengan droplet partikel besar mengandung mikroba
berasal dari pasien pengidap atau carrier dikeluarkan saat batuk, bersin, muntah,
bicara, selama prosedur suction, bronkhoskopi. Dibutuhkan jarak dekat antara
sumber dan resipien < 1m . Karena droplet tidak bertahan diudara maka tidak
dibutuhkan penanganan khusus udara atau ventilasi. Misal : Adenovirus.
Transmisi droplet langsung, dimana droplet mencapai mucus membrane atau
terinhalasi. Transmisi droplet ke kontak, yaitu droplet mengkontaminasi
permukaan tangan dan ditransmisikan ke sisi lain misal: mukosa membrane.
Transmisi jenis ini lebih sering terjadi daripada transmisi droplet langsung,
misal: commoncold, respiratory syncitial virus (RSV). Dapat terjadi saat pasien
terinfeksi batuk, bersin, bicara, intubasi endotrakheal, batuk akibat induksi
fisioterapi dada, resusitasi kardiopulmoner
2. Kewaspadaan transmisi melalui udara ( Airborne Precautions )
Kewaspadaan transmisi melalui udara (kategori IB) diterapkan sebagai
tambahan Kewaspadaan Standar terhadap pasien yang diduga atau telah
diketahui terinfeksi mikroba yang secara epidemiologi penting dan
ditransmisikan melalui jalur udara. Seperti misalnya transmisi partikel
terinhalasi (varicella zoster) langsung melalui udara. Ditujukan untuk
menurunkan risiko transmisi udara mikroba penyebab infeksi baik yang
ditransmisikan berupa droplet nuklei (sisa partikel kecil < 5μm evaporasi dari
droplet yang bertahan lama di udara) atau partikel debu yang mengandung
mikroba penyebab infeksi. Mikroba tersebut akan terbawa aliran udara > 2m dari
sumber, dapat terinhalasi oleh individu rentan di ruang yang sama dan jauh dari
pasien sumber mikroba, tergantung pada faktor lingkungan, misal penanganan
udara dan ventilasi yang penting dalam pencegahan transmisi melalui udara,
droplet nuklei atau sisik kulit luka terkontaminasi (S. aureus).
1) Transmisi Airborne
a)Penempatan Pasien.
Tempatkan pasien di isolasi yang memiliki syarat sebagai berikut ;
(1) Ruangan bertekanan udara negatif dibandingkan dengan ruangan
sekitarnya
(2) Bila ruangan dengan tekanan negatif penuh, tempatkan pasien di ruangan
ventilasi alami dengan pertukaran udara 6 sampai 12 kali per jam
(3) Memiliki saluran pengeluaran udara ke lingkungan yang memadai atau
memiliki sistem penyaringan udara yang efisien sebelum udara
disirkulasikan ke ruang lain. Pintu harus selalu tertutup dan pasien
tersebut ada di dalamnya. Bila tidak tersedia kamar tersendiri,
tempatkan pasien bersama dengan pasien lain yang terinfeksi aktif
dengan mikroorganisme yang sama, kecuali bila ada rekomendasi lain.
(4) Dilarang menempatkan pasien dengan pasien jenis infeksi lain. Bila tidak
tersedia kamar tersendiri dan perawatan gabung tidak diinginkan,
konsultasikan dengan petugas pengendalian infeksi sebelum
menempatkan pasien.
b)Perlindungan Pernafasan (Masker).
Gunakan masker partikulat N-95 bila memasuki kamar pasien yang
diketahui atau dicurigai menderita airborne disease (Tbc, Varicela, rubella
dll). Orang-orang yang sensitif dilarang memasuki kamar pasien
yang diketahui atau dicurigai menderita airborne disease. Petugas yang
kebal pada measles (rubeola) atau varicella tidak perlu memakai
perlindungan pernafasan. Pasien harus selalu menggunakan masker
medik/bedah.
c)Pemindahan Pasien.
Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar yang khusus tersedia
untuknya hanya untuk hal yang sangat penting saja. Bila memang
dibutuhkan pemindahan dan transportasi, perkecil penyebaran droplet
dengan memakaikan masker bedah pada pasien bila memungkinkan.
2)Transmisi Droplet.
(a) Penempatan Pasien.
Pasien dengan droplet diseases bisa ditempatkan disemua ruang perawatan
kecuali ruang isolasi dengan kamar tersendiri. Bila tidak tersedia kamar
tersendiri, tempatkan pasien dalam kamar bersama dengan pasien yang
terinfeksi dengan mikroorganisme yang sama, tetapi bila tidak
memungkinkan ditempatkan dengan pasien kasus yang sama maka
tempatkan pasien bersama dengan pasien dengan kasus yang lain(kecuali
pasien dengan airborne diseases) tetapi dengan jarak sedikitnya 3 kaki (kira-
kira 1 m) dengan pasien lainnya dan pengunjung. Tidak dibutuhkan
penanganan udara dan ventilasi yang khusus, dan pintu boleh tetap
terbuka.
(b)Masker.
Gunakan masker bedah bila bekerja dalam jarak kurang dari 1 m dari
pasien.
(c)Pemindahan Pasien.
Batasi pemindahan dan transportasi pasien dari kamar yang khusus
tersedia untuknya hanya untuk hal yang sangat penting saja. Bila memang
dibutuhkan pemindahan dan transportasi, perkecil penyebaran
droplet dengan memakaikan masker bedah pada pasien, bila
memungkinkan.
3)Transmisi kontak
(a)Penempatan Pasien.
Pasien bisa ditempatkan di semua ruang perawatan. Tempatkan pasien di
kamar tersendiri. Bila tidak tersedia kamar tersendiri, tempatkan pasien
dalam kamar bersama dengan pasien yang terinfeksi dengan
mikroorganisme yang sama. Tetapi bila tidak memungkinkan dengan jarak
sedikitnya 3 kaki (kira-kira 1meter) dengan pasien lainnya dan
pengunjung. Tidak dibutuhkan penanganan udara dan ventilasi khusus, dan
pintu boleh tetap terbuka.
(b)Sarung Tangan dan Cuci Tangan.
Pakailah sarung tangan (bersih dan tidak perlu steril) saat memasuki
kamar dan merawat pasien, ganti sarung tangan setelah menyentuh
bahan-bahan terinfeksi yang kira-kira mengandung mikroorganisme
dengan konsentrasi tinggi (faeces dan drainase luka). Lepas sarung
tangan sebelum meninggalkan lingkungan pasien dan segera lakukan
kebersihan tangan dengan cuci tangan atau handrub.
(c)Gaun.
Pakailah gaun (bersih dan tidak perlu steril) saat memasuki kamar pasien
(d)Pemindahan Pasien.
Batasi pemindahan dan transportasi pasien hanya untuk hal yang sangat
penting saja. Bila memang dibutuhkan pemindahan dan transportasi,
pastikan kewaspadaan tetap terjaga untuk meminimalkan kemungkinan
penyebaran mikroorganisme ke pasien lain dan kontaminasi permukaan
lingkungan dan peralatan
(e)Peralatan Perawatan Pasien.
Penggunaan peralatan non-kritikal hanya untuk satu pasien saja (atau
digunakan bersama dengan pasien yang terinfeksi atau terkolonisasi
Dengan patogen yang sama yang membutuhkan kewaspadaan) untuk
mencegah penggunaan bersama dengan pasien lain. Bila penggunaan
bersama tidak dapat dihindari, maka bersihkan dan desinfeksi peralatan
tersebut sebelum digunakan oleh pasien lain.
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kewaspadaan isolasi adalah tindakan pencegahan atau pengendalian infeksi


yang disusun oleh Center for Desease Control (CDC) dan harus diterapkan di
rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya. Kewaspadaan isolasi diterapkan
untuk menurunkan resiko trasmisi penyakit dari pasien ke pasien lain atau ke
pekerja medis. Kewaspadaan Isolasi yang terdiri dari Kewaspadaan Standar dan
Kewaspadaan berbasis transmisi. Kewaspadaan standar adalah kewaspadaan
dalam pencegahan dan pengendalian infeksi rutin dan harus diterapkan terhadap
semua pasien di semua fasilitas kesehatan. Sedangkan kewaspadaan transmisi
yaitu tindakan pencegahan atau pengendalian infeksi yang dilakukan setelah jenis
infeksinya sudah terdiagnosa atau diketahui

3.2 Saran

3.2.1. Seorang perawat harus memahami masalah kewaspadaaan isolasi dan


transmisi agar terhindar dari resiko infeksi.

3.2.2. Perlunya kebijakan di setiap rumah sakit tentang pencegahan resiko


infeksi.
DAFTAR PUSTAKA

Akib, K. M, dkk.(2008). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di


Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. Cetakan kedua. Diakses pada tanggal 1
September 2018, dari:
https://www.k4health.org/sites/default/files/IPC%20Technical%20Gui
deline%202008%20small.pdf.

Muchtar, A. (2014). Kewaspadaan Isolasi. Diakses pada tanggal 1 September


2018, dari: http://dr.klinikbtp.com/kewaspadaan-isolasi/

Datasemen Kesehatan Wilayah Palu. Kewaspadaan Isolasi diakses pada


tanggal 1 September dalam https://datenpdf.com/download/ppi-8-
panduan-penempatan-pasien-di-ruangan-isolasi_pdf

RSUD Mas Amsyar Kasongan. 2016. Pedoman Kewaspadaan Isolasi. Diakses


pada tanggal 1 September 2018 dalam https://edoc.site/pedoman-
kewaspadaan-isolasi-3-pdf-free.html