Anda di halaman 1dari 96

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Pelayan apotek saat ini telah berubah orientasi dari drug oriented menjadi
patient oriented dengan berasaskan pharmaceutical care. Kegiatan pelayanan
farmasi yang awalnya hanya berfokus pada pengelolaan obat diubah menjadi
pelayanan menyeluruh yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien
(1).
Salah satu kegiatan pelayanan kefarmasian yang mengacu pada konsep
pharmaceutical care secara nyata dapat dilihat dari kualitas pelayanan informasi
obat di apotek(2). Obat merupakan produk khusus yang memerlukan keamanan
yang tinggi bagi pemakainya, sehingga pasien sebagai pengguna obat sangat perlu
dibekali informasi yang memadai tentang obat yang dikonsumsinya(3). Selain itu,
bagi apoteker, pelayanan informasi obat dapat digunakan untuk mengidentifikasi,
memecahkan, dan mencegah terjadinya masalah yang berhubungan dengan obat
(drug related problems) sehingga tujuan terapi yaitu kesembuhan pasien dapat
tercapai(4). Selain pemberian informasi obat Homecare merupakan salah satu
pharmaceutical care dalam hal ini terkait dengan penyakit penyakit tertentu yang
membutuhkan terapi berkelanjutan untuk mencegah kpmplikasi akut salah satunya
adalah Diaetes mellitus (DM).
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronik yang membutuhkan terapi
berkelanjutan dan edukasi pada pasien sendiri untuk mencegah komplikasi akut
dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi jangka panjang, Pada DM sekresi
insulin tidak normal, Penyebab utama kematian pada DM ialah penyakit jantung
koroner (PJK) kurang lebih 80%. Angka kematian akibat PJK pada penderita DM
dapat meningkat dua sampai empat kali lebih banyak dibandingkan dengan yang
nondiabetes karena lesi aterosklerosis, pada penderita DM proses
perkembangannya lebih cepat.4 Dengan adanya peningkatan kadar trigliserid
(TG) dan Low Density Lipoprotein (LDL) diketahui sebagai faktor risiko
terjadinya aterosklerosis. Abnormalitas dari lipid berperan penting dalam

1
menyebabkan aterosklerosis diabetik, tetapi patofisiologinya kompleks dan
multifaktorial, dengan disfungsi sistem fibrinolitik tingkat pro-oksidatif,
hiperglikemia dan kemungkinan hiperinsulinemia juga turut menjelaskan
terjadinya peningkatan kerentanan masyarakat dengan diabetes yang disertai
komplikasi aterosklerosis (1).
Rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan Diabetes Melitus dan
kurangnya pemahaman mengenai instruksi pengobatan merupakan permasalahan utama
dalam pengobatan DM. Ketidakpatuhan pasien terhadap regimen obat hipoglikemik oral
yang kompleks serta ketidaktepatan dalam cara dan waktu penggunaan merupakan
barrier tercapainya keberhasilan terapi DM. Hal ini sangat berkaitan dengan kualitas
pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien, khususnya pelayanan informasi
obat dan tinjauan home care. (1)
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilakukan homecare pada pasien
diabetes mellitus mengiat pengobatan diabetes merupakan pengobatan jangga
panjang dan perlu peninjauan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.
I.2. Rumusan Masalah
Bagaimana kepatuhan pelayanan informasi obat dan kepatuhan
pasien minum obat di apotek pelengkap kimia farma rumah sakit unhas
setelah dilakukan homecare pada pasien diabetes mellitus ?

I.3. Maksud dan Tujuan


Untukmengetahui gambaran pelayanan informasi obat dan kepatuhan
pasien minum obat di apotek pelengkap kimia farma rumah sakit unhas
setelah dilakukan homecare pada pasien diabetes mellitus ?

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 TINJAUAN UMUM APOTEK

II.1.1. Defenisi Apotek


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2014, apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan
kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya
kepada masyarakat. Sediaan farmasi yang dimaksud adalah obat, bahan obat, obat
tradisional, dan kosmetik. Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat
dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan (2).
Pekerjaan kefarmasian menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 23
tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 1 ayat 13, adalah pembuatan obat termasuk
pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan pengadaan, penyimpanan dan
distribusi obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
Sedangkan yang dimaksud perbekalan kesehatan adalah semua bahan dan
peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan seperti obat,
bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional), bahan obat asli Indonesia (bahan
obat tradsisional), alat kesehatan dan kosmetika (2).
Deregulasi bidang farmasi khususnya perihal apotek dimulai dengan
ditetapkannya peraturan baru yaitu Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 244 tahun
1990 yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI No
922 tahun 1993. Dengan peraturan ini maka proses pendirian dan tata cara
pemberian izin apotek semakin dipermudah dan disederhanakan. Beberapa
ketentuan umum yang sesuai dan berlaku hingga sekarang adalah Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 922/MenKes/Per/X/1993, yaitu (4):
1. Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan
sumpah jabatan apoteker, mereka yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia sebagai apoteker.

3
2. Surat Izin Apotek (SIA) adalah surat izin yang diberikan oleh Menteri
Kesehatan kepada apoteker atau apoteker bekerja sama dengan pemilik sarana
untuk menyelenggarakan apotek di tempat tertentu.
3. Apoteker Pengelola Apotek (APA) adalah apoteker yang telah diberi SIA.
4. Apoteker pendamping adalah apoteker yang bekerja di apotek di samping
APA dan atau menggantikannya pada jam-jam tertentu pada hari buka apotek.
5. Apoteker pengganti adalah apoteker yang menggantikan APA selama APA
tersebut tidak berada di tempat lebih dari 3 (tiga) bulan secara terus-menerus,
telah memiliki Surat Izin Kerja (SIK) dan tidak bekerja sebagai APA di
apotek lain.
6. Asisten apoteker adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai
asisten apoteker.
7. Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan
kepada APA untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
8. Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional (obat asli
Indonesia), bahan obat tradisional, alat kesehatan dan kosmetika.
9. Alat kesehatan adalah instrumen, apparatus, mesin, implan yang tidak
mengandung obat yang digunakan untuk mencegah, mendiagnosa,
menyembuhkan dan meringankan penyakit, merawat orang sakit serta
memulihkan kesehatan pada manusia dan atau membentuk struktur dan
memperbaiki fungsi tubuh.
10. Perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan pengelolaan apotek.
II.2Landasan Hukum Apotek
Landasan hukum pendirian sebuah apotek berpedoman pada :
1. Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. Undang-undang Republik Indonesia No.5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.
3. Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
4. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 1965 tentang Apotek.

4
5. Peraturan Pemerintah No.26 Tahun 1980 tentang Perubahan Atas Peraturan
Pemerintah No. 26 Tahun 1965 tentang Apotek.
6. Keputusan Menteri Kesehatan No. 347/MenKes/SK/VII/1990 tentang Obat
Wajib Apotek.
7. Peraturan Menteri Kesehatan No. 919/MenKes/Per/X/1993 tentang Kriteria
Obat yang dapat diserahkan tanpa resep.
8. Peraturan Menteri Kesehatan No. 922/MenKes/Per/X/1993 tentang Ketentuan
dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
9. Peraturan Menteri Kesehatan No. 924/MenKes/Per/X/1993 tentang Obat
Wajib Apotek No. 2.
10. Peraturan Menteri Kesehatan No. 925/MenKes/Per/X/1993 tentang Daftar
Perubahan Golongan Obat No. 1.
11. Peraturan Menteri Kesehatan No. 688/MenKes/Per/VII/1997 tentang
Peredaran Psikotropika.
12. Keputusan Menteri Kesehatan No.1176/MenKes/SK/X/1999 Obat Wajib
Apotek No. 3.
13. Keputusan Menteri Kesehatan No. : 1332/MenKes/SK/X/2002 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek.
14. Peraturan Menteri Kesehatan No.187/Menkes/Per/III/1991 tentang
Pelaksanaan Masa Bakti dan Izin Kerja apoteker.
15. Keputusan Menteri Kesehatan No. 397b/MenKes/SK/VII/1991 tentang
Larangan Beredar Obat Tradisional yang Tidak Terdaftar.
II.3 Tugas dan Fungsi Apotek
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1980 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 tentang Apotek,
tugas dan fungsi apotek, adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah
mengucapkan sumpah jabatan.
2. Sebagai sarana farmasi tempat dilakukannya kegiatan peracikan, pengubahan
bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat atau bahan obat.

5
3. Sebagai sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat
yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.
4. Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya
kepada tenaga kesehatan lain dan masyarakat, termasuk pengamatan dan
pelaporan mengenai khasiat, keamanan, bahaya, dan mutu obat.

II.4 Tata Cara Perizinan Apotek (3,5)


Sebelum melaksanakan kegiatannya, APA wajib memiliki Surat Izin
Pengelolaan Apotek (SIPA). Izin apotek dapat berlaku untuk seterusnya selama
apotek yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan serta APA dapat
melaksanakan pekerjaannya dan masih memenuhi persyaratan. Permohonan izin
apotek diajukan apoteker kepada Kepala Dinas Kesehatan setempat dengan
tembusan kepada Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM), dengan
melampirkan:
1. Salinan atau fotocopy ijazah
2. Salinan atau fotocopy surat sumpah atau janji apoteker
3. Salinan atau fotocopy Kartu Tanda Penduduk (KTP)
4. Salinan atau fotocopy SIK
5. Surat keterangan kesehatan dari dokter Pemerintah
6. Surat keterangan telah memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk
mengelola apotek, yang diberikan oleh perguruan tinggi atau apoteker yang
telah memiliki SIPA.
7. Denah bangunan
8. Denah situasi dan sekitarnya yang menyatakan jarak antara lokasi yang
dipilih dengan apotek atau calon apotek terdekat.
9. Keterangan tentang bangunan (dinding, lantai, atap, langit-langit), sumber air
dan penerangan.
10. Surat yang menyatakan status bangunandalambentukaktehakmilik,
sewaataukontrak.
11. Daftarterperincialatperlengkapanapotek.

6
12. Suratpernyataantidakbekerjatetapatauakanberhentibekerjapadaperusahaanfar
masi lain.
Prosedur permohonan izin menurut Peraturan Menteri Kesehatan
No.1332/Menkes/SK/X/2002, Bab V pasal 7, tentang Perubahan atas Peraturan
Menteri Kesehatan RI No.992/Menkes/Per/X/1993 tentang Ketentuan dan Tata
Cara Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut :
1. PermohonanizinapotekdiajukankepadaKepalaDinasKesehatanKabupaten/Kot
a denganmenggunakancontohformulirpadalampiran.
2. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota selambat-lambatnya enam hari
kerja setelah menerima permohonan meminta bantuan teknis kepada Kepala
Balai POM untuk melaksanakan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan
apotek untuk melakukan kegiatan.
3. Kepala Balai POM selambat-lambatnya enam hari kerja setelah permintaan
bantuan teknis dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan
hasil pemeriksaan.
4. Apabila pemeriksaan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu sebagaimana
disebutkan diatas, maka apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan
siap melakukan kegiatan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat dengan tembusan kepada Kepala Dinas Propinsi.
5. Dalam jangka waktu 12 hari kerja setelah diterima laporan hasil pemeriksaan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3), atau surat pernyataan dimaksud ayat (4)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupa-ten/Kota setempat mengeluarkan surat izin
apotek.
6. Apabila hasil pemeriksaan apotek oleh Kepala Balai POM masih belum
memenuhi syarat, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat dalam
waktu 12 hari kerja mengeluarkan surat penundaan.
7. Terhadap surat penundaan sebagaimana dimaksud diatas, apoteker diberi
kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-
lambatnya dalam jangka waktu satu bulan sejak tanggal surat penundaan.

7
II.1.5 Pengelolaan Apotek
Pengelolaan apotek menjadi tugas dan tanggung jawab seorang Apoteker
berdasarkan Peraturan Pemerintah No.51 tahun 2009 tentang pengelolaan apotek,
meliputi (4) :
1. Pembuatan, pengolahan, peracikan, perubahan bentuk, pencampuran,
penyimpanan, dan penyerahan obat atau bahan obat.
2. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan perbekalan farmasi
lainnya.
3. Pelayanan informasi mengenai perbekalan farmasi, yang meliputi :
a. Pelayanan informasi tentang obat dan perbekalan farmasi lainnya yang
diberikan kepada dokter dan tenaga kesehatan lainnya maupun kepada
masyarakat.
b. Pengamatan dan pelaporan informasi mengenai khasiat, keamanan, bahaya
atau mutu obat dan perbekalan farmasi lainnya.
Apoteker berkewajiban menyediakan, menyimpan, menyerahkan sediaan
farmasi yang bermutu baik dan keabsahannya terjamin. Bila sediaan farmasi tidak
dapat digunakan lagi atau dilarang digunakan harus dimusnahkan dengan cara
dibakar atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. Pemusnahan tersebut harus dilakukan oleh Apoteker Pengelola Apotek
atau apoteker pengganti dibantu oleh sekurang-kurangnya seorang karyawan
apotek, kemudian wajib dibuatkan berita acara pemusnahan (BAP). Pemusnahan
narkotika wajib mengikuti ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Apabila apoteker pengelola apotek berhalangan melakukan tugasnya
pada jam buka apotek, apoteker pengelola apotek dapat menunjuk apoteker
pendamping. Apabila apoteker pengelola apotek dan apoteker pendamping karena
hal-hal tertentu berhalangan melakukan tugasnya, apoteker pengelola apotek dapat
menunjuk apoteker pengganti. Apoteker pengelola apotek turut bertanggung
jawab atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh apoteker pendamping dan
apoteker pengganti dalam apotek.

8
Dalam pelaksanaan pengelolaan apotek, apoteker pengelola apotek dapat
dibantu oleh asisten apoteker. Asisten apoteker melakukan pekerjaan kefarmasian
di apotek dibawah pengawasan apoteker.

II.I.6 Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 35 tahun 2014 tentang
standar pelayanan kefarmasian di apotek pengaturan standar pelayanan
kefarmasian di apotek bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian;
b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan
c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional
dalam rangka keselamatan pasien (patient safety).
Standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi standar: (Permenkes,
No. 35, 2014)
1. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai
yang meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan.
a. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan sediaan farmasi, alat kesehatan,
dan bahan medis habis pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola
konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.
b. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan
farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.
c. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
d. Penyimpanan

9
1. Obat/bahan obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam
hal pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain,
maka harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi
yang jelas pada wadah baru. Wadah sekurang-kurangnya memuat nama
obat, nomor batch dan tanggal kadaluwarsa.
2. Semua obat/bahan obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
3. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan
dan kelas terapi obat serta disusun secara alfabetis.
4. Pengeluaran obat memakai sistem fefo (first expire first out) dan fifo
(first in first out)
e. Pemusnahan
1. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis
dan bentuk sediaan. Pemusnahan obat kadaluwarsa atau rusak yang
mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh apoteker dan
disaksikan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota. Pemusnahan obat
selain narkotika dan psikotropika dilakukan oleh apoteker dan
disaksikan oleh tenaga kefarmasian lain yang memiliki surat izin
praktik atau surat izin kerja. Pemusnahan dibuktikan dengan berita
acara pemusnahan menggunakan formulir 1 sebagaimana terlampir.
2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat
dimusnahkan. Pemusnahan resep dilakukan oleh apoteker disaksikan
oleh sekurang-kurangnya petugas lain di apotek dengan cara dibakar
atau cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan berita acara
pemusnahan resep menggunakan formulir 2 sebagaimana terlampir dan
selanjutnya dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
f. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah
persediaan sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem
pesanan atau pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan
untuk menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan,

10
kerusakan, kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan.
Pengendalian persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan
cara manual atau elektronik. Kartu stok sekurang-kurangnya memuat nama
Obat, tanggal kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan
sisa persediaan.
g. Pencatatan dan Pelaporan
Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan sediaan farmasi,
alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai meliputi pengadaan (surat
pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stock), penyerahan (nota atau struk
penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan.
Pelaporan terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan
internal merupakan pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan
manajemen apotek, meliputi keuangan, barang dan laporan lainnya.
Pelaporan eksternal merupakan pelaporan yang dibuat untuk memenuhi
kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
meliputi pelaporan narkotika, psikotropika dan pelaporan lainnya.
2. Pelayanan farmasi klinik di apotek merupakan bagian dari pelayanan
kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan
dengan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dengan
maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pelayanan farmasi klinik meliputi: pengkajian resep, dispensing, pelayanan
informasi obat (PIO), konseling, pelayanan kefarmasian di rumah (home
pharmacy care), pemantauan terapi obat (PTO), dan monitoring efek
samping obat (MESO) (Permenkes, No. 35, 2015).
a. Kegiatan pengkajian resep meliputi:
1. Kajian administratif meliputi:
a) Nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan.
b) Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor
telepon dan paraf.
c) Tanggal penulisan resep.
2. Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:

11
a) Bentuk dan kekuatan sediaan.
b) Stabilitas.
c) Kompatibilitas (ketercampuran obat).
3. Pertimbangan klinis meliputi:
a) Ketepatan indikasi dan dosis obat.
b) Aturan, cara dan lama penggunaan obat.
c) Duplikasi dan/atau polifarmasi.
d) Reaksi obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping obat,
manifestasi klinis lain).
e) Kontra indikasi.
f) Interaksi.
Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian maka
apoteker harus menghubungi dokter penulis Resep.
h. Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian informasi
Obat. Setelah melakukan pengkajian resep dilakukan hal sebagai berikut:
1. Menyiapkan obat sesuai dengan permintaan resep:
 Menghitung kebutuhan jumlah obat sesuai dengan resep.
 Mengambil obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan dengan
memperhatikan nama obat, tanggal kadaluwarsa dan keadaan fisik
obat.
2. Melakukan peracikan obat bila diperlukan
3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
 Warna putih untuk obat dalam/oral.
 Warna biru untuk obat luar dan suntik.
 Menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk suspensi
atau emulsi.
4. Memasukkan obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk obat
yang berbeda untuk menjaga mutu obat dan menghindari penggunaan
yang salah.

12
Setelah penyiapan obat dilakukan hal sebagai berikut:
1. Sebelum obat diserahkan kepada pasien harus dilakukan pemeriksaan
kembali mengenai penulisan nama pasien pada etiket, cara penggunaan
serta jenis dan jumlah obat (kesesuaian antara penulisan etiket dengan
resep).
2. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien;
3. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien;
4. Menyerahkan obat yang disertai pemberian informasi obat;
5. Memberikan informasi cara penggunaan obat dan hal-hal yang terkait
dengan obat antara lain manfaat obat, makanan dan minuman yang
harus dihindari, kemungkinan efek samping, cara penyimpanan obat
dan lain-lain;
6. Penyerahan obat kepada pasien hendaklah dilakukan dengan cara yang
baik, mengingat pasien dalam kondisi tidak sehat mungkin emosinya
tidak stabil;
7. Memastikan bahwa yang menerima obat adalah pasien atau
keluarganya;
8. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf oleh
apoteker (apabila diperlukan);
9. Menyimpan resep pada tempatnya;
10. Apoteker membuat catatan pengobatan pasien dengan menggunakan
formulir yang telah ditetapkan.
Apoteker di apotek juga dapat melayani obat non resep atau
pelayanan swamedikasi. apoteker harus memberikan edukasi kepada
pasien yang memerlukan obat non resep untuk penyakit ringan dengan
memilihkan obat bebas atau bebas terbatas yang sesuai. (Permenkes, No.
35, 2015)

13
i. Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,
dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek
penggunaan obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat.
informasi mengenai obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal.
informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan
metode pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif,
efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek
samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia
dari obat dan lain-lain.
Kegiatan pelayanan informasi obat di apotek meliputi:
1. Menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan.
2. Membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan
masyarakat (penyuluhan).
3. Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien.
4. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi
yang sedang praktik profesi.
5. Melakukan penelitian penggunaan obat.
6. Membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah.
7. Melakukan program jaminan mutu.
Pelayanan informasi obat harus didokumentasikan untuk membantu
penelusuran kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan
menggunakan formulir yang telah ditetapkan.
j. Konseling merupakan proses interaktif antara apoteker dengan
pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran
dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan
obat dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien.
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling:
1. Pasien kondisi khusus (pediatri, geriatri, gangguan fungsi hati dan/atau
ginjal, ibu hamil dan menyusui).

14
2. Pasien dengan terapi jangka panjang/penyakit kronis (misalnya: TB,
DM, AIDS, epilepsi).
3. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (penggunaan
kortikosteroid dengan tappering down/off).
4. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (digoksin,
fenitoin, teofilin).
5. Pasien dengan polifarmasi; pasien menerima beberapa obat untuk
indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk
pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat
disembuhkan dengan satu jenis obat.
6. Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah.
Tahap kegiatan konseling:
1. Membuka komunikasi antara Apoteker dengan pasien.
2. Menilai pemahaman pasien tentang penggunaan obat melalui Three
Prime Questions, yaitu:
a) Apa yang disampaikan dokter tentang obat anda?
b) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang cara pemakaian obat
anda?
c) Apa yang dijelaskan oleh dokter tentang hasil yang diharapkan
setelah anda menerima terapi obat tersebut?
3. Menggali informasi lebih lanjut dengan memberi kesempatan kepada
pasien untuk mengeksplorasi masalah penggunaan obat
4. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk menyelesaikan masalah
penggunaan obat
5. Melakukan verifikasi akhir untuk memastikan pemahaman pasien
Apoteker mendokumentasikan konseling dengan meminta tanda tangan
pasien sebagai bukti bahwa pasien memahami informasi yang diberikan
dalam konseling dengan menggunakan formulir yang telah ditetapkan.
k. Pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care) apoteker sebagai
pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan pelayanan kefarmasian

15
yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia dan
pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.
Jenis pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh apoteker,
meliputi :
1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan
pengobatan.
2. Identifikasi kepatuhan pasien.
3. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah,
misalnya cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin.
4. Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum.
5. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat
berdasarkan catatan pengobatan pasien.
6. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah.
l. Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan proses yang memastikan
bahwa seorang pasien mendapatkan terapi obat yang efektif dan terjangkau
dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.
Kriteria pasien:
1. Anak-anak dan lanjut usia, ibu hamil dan menyusui.
2. Menerima obat lebih dari 5 (lima) jenis.
3. Adanya multidiagnosis.
4. Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati.
5. Menerima obat dengan indeks terapi sempit.
6. Menerima obat yang sering diketahui menyebabkan reaksi obat yang
merugikan.
Kegiatan:
1. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
2. Mengambil data yang dibutuhkan yaitu riwayat pengobatan pasien
yang terdiri dari riwayat penyakit, riwayat penggunaan obat dan
riwayat alergi; melalui wawancara dengan pasien atau keluarga pasien
atau tenaga kesehatan lain.

16
3. Melakukan identifikasi masalah terkait obat. Masalah terkait obat
antara lain adalah adanya indikasi tetapi tidak diterapi, pemberian obat
tanpa indikasi, pemilihan obat yang tidak tepat, dosis terlalu tinggi,
dosis terlalu rendah, terjadinya reaksi obat yang tidak diinginkan atau
terjadinya interaksi obat.
4. Apoteker menentukan prioritas masalah sesuai kondisi pasien dan
menentukan apakah masalah tersebut sudah atau berpotensi akan
terjadi.
5. Memberikan rekomendasi atau rencana tindak lanjut yang berisi
rencana pemantauan dengan tujuan memastikan pencapaian efek terapi
dan meminimalkan efek yang tidak dikehendaki.
6. Hasil identifikasi masalah terkait obat dan rekomendasi yang telah
dibuat oleh apoteker harus dikomunikasikan dengan tenaga kesehatan
terkait untuk mengoptimalkan tujuan terapi.
7. Melakukan dokumentasi pelaksanaan pemantauan terapi obat dengan
menggunakan formulir yang telah ditetapkan.
8. Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap obat yang merugikan atau tidak
diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada
manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau
memodifikasi fungsi fisiologis.

Kegiatan:
1. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami efek samping obat.
2. Mengisi formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
3. Melaporkan ke pusat monitoring efek samping obat nasional dengan
menggunakan formulir yang telah ditetapkan.

17
Kepmenkes RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004 yang mengatur tentang
standar pelayanan kefarmasian di apotek. Standar pelayanan kefarmasian di
apotek disusun :
1. Sebagai pedoman praktik apoteker dalam menjalankan profesi.
2. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional.
3. Melindungi profesi dalam menjalankan praktik kefarmasian.
Sesuai ketentuan perundangan yang berlaku, apotek harus dikelola oleh
seorang apoteker yang profesional. Dalam pengelolaan apotek, apoteker
senantiasa harus memiliki kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan
yang baik, mengambil keputusan yang tepat, mampu berkomunikasi antar profesi,
menempatkan diri sebagai pimpinan dalam situasi multidisipliner, kemampuan
mengelola sdm secara efektif, selalu belajar sepanjang karier dan membantu
memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan
(Permenkes, No. 35, 2015).
Apotek berlokasi pada daerah yang dengan mudah dikenali oleh
masyarakat.pada halaman terdapat papan petunjuk yang dengan jelas tertulis kata
apotek.apotek harus dapat dengan mudah diakses oleh anggota
masyarakat.pelayanan produk kefarmasian diberikan pada tempat yang terpisah
dari aktivitas pelayanan dan penjualan produk lainnya, hal ini berguna untuk
menunjukkan integritas dan kualitas produk serta mengurangi resiko kesalahan
penyerahan (Kepmenkes, No. 1027, 2004).
Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker
untuk memperoleh informasi dan konseling.lingkungan apotek harus dijaga
kebersihannya.apotek harus bebas dari hewan pengerat dan serangga.apotek
memiliki suplai listrik yang konstan, terutama untuk lemari pendingin. Apotek
harus memiliki : (Kepmenkes, No. 1027, 2004).
1. Ruang tunggu yang nyaman bagi pasien.
2. Tempat untuk menunjukkan serta memperlihatkan informasi bagi pasien,
termasuk penempatan brosur/materi informasi.
3. Ruangan tertutup untuk konseling bagi pasien yang dilengkapi dengan meja
dan kursi serta lemari untuk menyimpan catatan medikasi pasien.

18
4. Ruang racikan.
5. Tempat pencucian alat.
Perabotan apotek harus tertata rapi, lengkap dengan rak-rak penyimpanan
obat dan barang-barang lain yang tersusun dengan teratur, terlindung dari debu,
kelembaban dan cahaya yang berlebihan serta diletakkan pada kondisi ruangan
dengan temperatur yang telah ditetapkan (Kepmenkes, No. 1027, 2004).
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1027/Menkes/SK/IX/2004, bahwa pelayanan kefarmasian meliputi :
1. Pelayanan Resep
a. Skrining resep
Apoteker melakukan skrining resep meliputi:
1) Persyaratan administratif : Nama, SIP dan alamat dokter, tanggal
penulisan resep, tanda tangan/paraf dokter penulis resep, nama, alamat,
umur, jenis kelamin dan berat badan pasien, cara pemakaian yang jelas
dan informasi lainnya.
2) Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas,
inkompatibilitas, cara dan lama pemberian.
3) Pertimbangan klinis : adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian
(dosis, durasi, jumlah obat dan lain lain). Jika ada keraguan terhadap
resep hendaknya dikonsultasikan kepada dokter penulis resep dengan
memberikan pertimbangan dan alternatif seperlunya bila perlu
menggunakan persetujuan setelah pemberitahuan.
b. Penyiapan obat
1) Peracikan
Merupakan kegiatan menyiapkan menimbang, mencampur, mengemas
dan memberikan etiket pada wadah. Dalam melaksanakan peracikan obat
harus dibuat suatu prosedur tetap dengan memperhatikan dosis, jenis dan
jumlah obat serta penulisan etiket yang benar.
2) Etiket
Etiket harus jelas dan dapat dibaca.
3) Kemasan obat yang diserahkan

19
Obat hendaknya dikemas dengan rapi dalam kemasan yang cocok
sehingga terjaga kualitasnya.
4) Penyerahan obat
Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir
terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan
oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling kepada
pasien.
5) Informasi Obat
Apoteker harus memberikan informasi yang benar, jelas dan mudah
dimengerti, akurat, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi obat pada
pasien sekurang-kurangnya meliputi: cara pemakaian obat, cara
penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan
dan minuman yang harus dihindari selama terapi.
6) Konseling
Apoteker harus memberikan konseling, mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari
bahaya penyalahgunaan ataupenggunaan obat yang salah. Untuk
penderita penyakit tertentu seperti kardiovaskular, diabetes, TBC,asma
dan penyakit kronis lainnya, apoteker harus memberikan konseling
secara berkelanjutan.
7) Monitoring penggunaan obat
Setelah penyerahan obat kepada pasien, apoteker harus melaksanakan
pemantauan penggunaan obat, terutama untuk pasien tertentu seperti
kardiovaskular, diabetes, TBC, asma, dan penyakit kronis lainnya.
2. Promosi dan Edukasi
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, apoteker harus memberikan
edukasi apabila masyarakat ingin mengobati diri sendiri (swamedikasi) untuk
penyakit ringan dengan memilihkan obat yang sesuai dan apoteker harus
berpartisipasi secara aktif dalam promosi dan edukasi. Apoteker ikut

20
membantu diseminasi informasi, antara lain dengan penyebaran leaflet/brosur,
poster, penyuluhan, dan lain lainnya.
3. Pelayanan Residensial (Home Care)
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan
pelayanankefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk
kelompoklansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.
Untukaktivitas ini apoteker harus membuat catatan berupa catatan
pengobatan(medication record).

II.1.7 Pelayanan Apotek


Pelayanan yang dilakukan di apotek menurut Keputusan Menteri
Kesehatan No.1332 tahun 2002 dan juga Peraturan Pemerintah No. 51 tahun
2009, meliput (4, 6) :
Pelayanan resep
1. Apoteker wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan sesuai
dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi pada
kepentingan masyarakat.
2. Apoteker tidak diizinkan untuk mengganti obat generik yang ditulis di dalam
resep dengan obat paten.
3. Dalam hal pasien yang tidak mampu menebus obat yang tertulis di dalam
resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk pemilihan obat yang
lebih tepat.
4. Apoteker wajib memberi informasi yang berkaitan dengan :
a. Penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien.
b. Penggunaan obat secara tepat, aman, rasional atas permintaan masyarakat.
Apabila apoteker menganggap bahwa dalam resep terdapat kekeliruan
atau penulisan resep yang tidak tepat, apoteker harus memberitahukan kepada
dokter penulis resep. Bila karena pertimbangan tertentu dokter penulis resep tetap
pada pendiriannya dokter wajib menyatakan secara tertulis atau membubuhkan
tanda tangan yang lazim dalam resep. Hal-hal yang harus diperhatikan, antara
lain:

21
1. Salinan resep harus ditanda tangani oleh apoteker.
2. Resep harus dirahasiakan dan disimpan dalam apotek dengan baik dalam
jangka waktu 3 (tiga) tahun.
3. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis
resep atau yang merawat penderita, penderita yang bersangkutan, petugas
kesehatan atau petugas lain yang berwewenang mengenai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Kriteria obat yang dapat diserahkan tanpa resep menurut Peraturan
Menteri Kesehatan No.919/ MenKes/ Per/ X/1993 adalah :
1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak
dibawah usiah 2 tahun dan orang tua diatas 65 tahun.
2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan resiko pada
kelanjutan penyakit.
3. Penggunaannya tidak memerlukan cara dan atau alat khusus yang harus
dilakukan oleh tenaga kesehatan.
4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di
Indonesia.
5. Obat dimaksud memeiliki rasio khasiat keamanan yang dapat
dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri. Rasio khasiat keamanan
adalah perbandingan relatif dari keuntungan penggunaannya dengan
mempertimbangkan resiko bahaya penggunaannya.
Pelayanan informasi obat.
Pelayanan informasi obat meliputi informasi yang berkaitan dengan
penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien, dan informasi atas permintaan
masyarakat tentang penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional.
Pelayanan obat wajib apotek (OWA)
Melayani pembelian obat keras yang dinyatakan sebagai Obat Wajib
Apotek (OWA) tanpa menggunakan resep dokter, yang dilakukan oleh Apoteker
Pengelola Apotek atau Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti. dengan
syarat yang telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.347/
MenKes/SK/ VII/1990 (7) :

22
1. Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat perpasien yang disebutkan
dalam Obat Wajib Apotek yang bersangkutan.
2. Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan.
3. Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi,
efek samping, dan lain-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien.

II.1.8 Pengelolaan Obat Narkotika dan Psikotropika


Menurut Permenkes RI No. 3 tahun 2015 pasal 1, Narkotika adalah zat
atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun
semi sintetis, yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran,
hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat
menimbulkan ketergantungan sedangkan Psikotropika adalah zat/bahan baku atau
obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif
melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan
khas pada aktivitas mental dan perilaku,
Kegiatan-kegiatan pengelolaan narkotika/psikotropika meliputi :
pengaturan peredaran, penyimpanan, pemusnahan dan pelaporan narkotika dalam
Peraturan Menteri untuk kepentingan pelayanan kesehatan atau pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pemesanan/Penyaluran Narkotika/Psikotropika
Menurut Permenkes RI No.3 tahun 2015 pasal 9, Penyaluran
Narkotika/Psikotropika hanya dapat dilakukan berdasarkan (3) :
a. surat pesanan atau
b. Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat (LPLPO) untuk pesanan
dari Puskesmas
c. Surat pesanan narkotika/psikotropika hanya dapat digunakan untuk 1 (satu)
jenis narkotika/psikotropika.
d. Surat pesanan harus terpisah dari pesanan barang lain

23
Penyerahan Narkotika/Psikotropika
Menurut Permenkes RI No.3 tahun 2015 pasal 18, penyerahan
narkotika/psikotropika hanya dapat dilakukan dalam bentuk obat jadi. Dalam hal
Penyerahan dilakukan kepada pasien, harus dilaksanakan oleh Apoteker di
fasilitas pelayanan kefarmasian. Penyerahan dilakukan secara langsung sesuai
dengan standar pelayanan kefarmasian (3).
Penyerahan narkotika/psikotropika (pasal 19) hanya dapat dilakukan oleh (3) :
1. Apotek
2. Puskesmas
3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit
4. Instalasi Farmasi Klinik dan
5. Dokter
Apotek hanya dapat menyerahkan narkotika/psikotropika kepada :
1. Apotek lainnya
2. Puskesmas
3. Instalasi Farmasi Rumah Sakit
4. Instalasi Farmasi Klinik
5. Dokter dan
6. Pasien

Penyimpanan Narkotika/Psikotropika
Menurut Permenkes No.3 tahun 2015 pasal 25, tempat penyimpanan
narkotika/psikotropika dapat berupa gudang, ruangan, atau lemari khusus (3).
1. Gudang khusus harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a. Dinding dibuat dari tembok dan hanya mempunyai pintu yang dilengkapi
dengan pintu jeruji besi dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda
b. Langit-langit dapat terbuat dari tembok beton atau jeruji besi
c. Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi
d. Gudang tidak boleh dimasuki oleh orang lain tanpa izin Apoteker
penanggung jawab

24
e. Kunci gudang dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab dan pegawai lain
yang dikuasakan.
2. Ruang khusus harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang kuat
b. Jika terdapat jendela atau ventilasi harus dilengkapi dengan jeruji besi
c. Mempunyai satu pintu dengan 2 (dua) buah kunci yang berbeda
d. Kunci ruang khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker
yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan dan tidak boleh dimasuki
oleh orang lain tanpa izin Apoteker penanggung jawab/Apoteker yang
ditunjuk.
3. Lemari khusus harus memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Terbuat dari bahan yang kuat
b. Tidak mudah dipindahkan dan mempunyai 2 (dua) buah kunci yang
berbeda
c. Harus diletakkan dalam ruang khusus di sudut gudang, untuk Instalasi
Farmasi Pemerintah
d. Diletakkan di tempat yang aman dan tidak terlihat oleh umum, untuk
Apotek, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Puskesmas, Instalasi Farmasi
Klinik, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan
e. Kunci lemari khusus dikuasai oleh Apoteker penanggung jawab/Apoteker
yang ditunjuk dan pegawai lain yang dikuasakan.
Pemusnahan Narkotika/Psikotropika
Menurut Permenkes RI No. 3 tahun 2015 pasal 37, Pemusnahan
Narkotika/Psikotropika hanya dilakukan dalam hal (3) :
1. Diproduksi tanpa memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku dan/atau
tidak dapat diolah kembali
2. Telah kadaluarsa
3. Tidak memenuhi syarat untuk digunakan pada pelayanan kesehatan dan/atau
untuk pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk sisa penggunaan
4. Dibatalkan izin edarnya atau
5. Berhubungan dengan tindak pidana.

25
Pemusnahan narkotika/psikotropika (pasal 42) wajib dibuat berita acara
pemusnahan. Berita Acara Pemusnahan paling sedikit memuat (3) :
1. Hari, tanggal, bulan, dan tahun pemusnahan
2. Tempat pemusnahan
3. Nama penanggung jawab fasilitas produksi/fasilitas distribusi/fasilitas
pelayanan kefarmasian/pimpinan lembaga/dokter praktik perorangan
4. Nama petugas kesehatan yang menjadi saksi dan saksi lain badan/sarana
tersebut
5. Nama dan jumlah narkotika/psikotropika yang dimusnahkan
6. Cara pemusnahan dan tanda tangan penanggung jawab fasilitas
produksi/fasilitas distribusi/fasilitas pelayanan kefarmasian/pimpinan
lembaga/ dokter praktik perorangan dan saksi.
Berita Acara Pemusnahan dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan
tembusannya disampaikan kepada Direktur Jenderal dan Kepala Badan/Kepala
Balai (3).

Pencatatan dan Pelaporan Narkotika/Psikotropika


Menurut Menkes RI No.3 tahun 2015 Pasal 43, Industri Farmasi, PBF,
Instalasi Farmasi Pemerintah, Apotek, Puskesmas, Instalasi Farmasi Rumah
Sakit, Instalasi Farmasi Klinik, Lembaga Ilmu Pengetahuan, atau dokter praktik
perorangan yang melakukan produksi, Penyaluran, atau Penyerahan
Narkotika/Psikotropika wajib membuat pencatatan mengenai pemasukan
dan/atau pengeluaran Narkotika/Psikotropika (3).
Pencatatan paling sedikit terdiri atas (3) :
1. Nama, bentuk sediaan, dan kekuatan narkotika/psikotropika
2. Jumlah persediaan
3. Tanggal, nomor dokumen, dan sumber penerimaan
4. Jumlah yang diterima
5. Tanggal, nomor dokumen, dan tujuan penyaluran/penyerahan
6. Jumlah yang disalurkan/diserahkan
7. Nomor batch dan kadaluarsa setiap penerimaan atau penyaluran/penyerahan

26
8. Paraf atau identitas petugas yang ditunjuk.
Seluruh dokumen pencatatan, dokumen penerimaan, dokumen
penyaluran, dan/atau dokumen penyerahan termasuk surat pesanan
narkotika/psikotropika disimpan secara terpisah paling singkat 3 (tiga) tahun (3).

II.8 Peranan Apoteker sebagai Lembaga Informasi Obat


Menurut Peraturan Peraturan Pemerintah No.51 Tahun 2009 tentang
pelayanan di apotek meliputi pelayanan informasi obat dimana informasi yang
berkaitan dengan penggunaan obat yang diserahkan kepada pasien dan informasi
atas permintaan masyarakat tentang penggunaan obat secara tepat, aman dan
rasional (4).
Tugas dan tanggung jawab apoteker sebagai Lembaga Informasi Obat,
yaitu (4) :
1. Bertanggung jawab atas obat dengan resep. Apoteker mampu menjelaskan
tentang obat kepada pasien, sebab seorang apoteker mengetahui tentang :
a. Bagaimana obat tersebut diminum
b. Efek samping obat yang mungkin ada
c. Kestabilan obat dalam bermacam-macam kondisi
d. Toksisitas obat dan dosis
e. Cara dan rute pemakaian obat
2. Bertanggung jawab untuk memberi informasi pada masyarakat dalam
memakai obat bebas dan obat bebas terbatas (OTC). Menurut PP No.51
Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, Apoteker mempunyai tanggung
jawab penuh dalam menghadapi kasus self diagnosis atau mengobati sendiri
dan pemakaian obat tanpa resep. Apoteker menentukan apakah self diagnosis
/ self medication dari penderita itu dapat dilayani obatnya atau disarankan
untuk pergi memeriksakan penyakitnya terlebih dahulu ke dokter. Pengobatan
dengan non-resep jelas akan makin bertambah.

Untuk menjadi anggota tim pelayanan kesehatan yang efektif, apoteker


membutuhkan keterampilan dan sikap. Peran apoteker disimpulkan melalui

27
konsep yang disusun oleh WHO dan FIP (International Pharmaceutical
Federation) yang disebut “seven-star pharmacist” yang ditambah 2 fungsi
menjadi “nine-star pharmacist” di mana seorang apoteker digambarkan sebagai
caregiver, communicator, decision-maker, teacher, lifelong learner, leader dan
manager serta 2 fungsi tambahan researcher dan entrepreneur (Aaseer, 2015).
1. Caregiver
Seorang farmasi/apoteker merupakan profesional kesehatan yg peduli, dalam
wujud nyata memberi pelayanan kefarmasian kepada pasien dan masyarakat
luas, berinteraksi secara langsung, meliputi pelayanan klinik, analitik, tehnik,
sesuai dengan peraturan yang berlaku, misalnya peracikan obat, memberi PIO
(Pelayanan Informasi Obat), konseling, konsultasi, screening resep,
monitoring, visite, dan banyak tugas kefarmasian lainnya.
2. Communicator
Seorang farmasi/apoteker harus mampu menjadi komunikator yang baik,
sehingga pelayanan kefarmasian dan interaksi kepada pasien, masyarakat, dan
tenaga kesehatan berjalan dengan baik, misalnya menjadi komunikator yang
baik dalam PIO (Pelayanan Informasi Obat), penyuluhan, konseling dan
konsultasi obat kepada pasien, melakukan visite ke bangsal/ruang perawatan
pasien, pengajar, narasumber, dan sebagainya.
3. Decision-maker
Seorang farmasi/apoteker merupakan seorang yang mampu menetapkan/
menentukan keputusan terkait pekerjaan kefarmasian, misalnya memutuskan
dispensing, penggantian jenis sediaan, penyesuaian dosis, pengantian obat jika
ditemukan bahaya yg signifikan, serta keputusan lainnya yg bertujuan agar
pengobatan lebih aman, efektif dan rasional.
4. Teacher
Seorang farmasi/apoteker dituntut dapat menjadi pendidik/akademisi/edukator
bagi pasien, masyarakat, maupun tenaga kesehatan lainnya terkait ilmu farmasi
dan kesehatan, baik menjadi guru, dosen, ataupun sebagai seorang
farmasis/apoteker yg menyampaikan informasi kepada pasien masyarakat dan
tenaga kesehatan lain yang membutuhkan informasi.

28
5. Livelong learner
Seorang farmasi/apoteker harus memiliki semnangat belajar sepanjang waktu,
karna informasi/ilmu kesehatan terutama farmasi (obat, penyakit dan terapi)
terus berkembang pesat dari waktu ke waktu, sehingga kita perlu meng-update
pengetahuan dan kemampuan agar tidak ketinggalan.
6. Leader
Dalam multidisiplin, kepedulian di daerah di mana penyedia layanan kesehatan
sangat minim atau tidak ada, apoteker wajib memposisikan diri sebagai
pemimpin dalam kesejahteraan seluruh pasien dan masyarakat. Kepemimpinan
yang dimaksud termasuk kasih sayang dan empati serta visi dan kemampuan
untuk membuat keputusan, berkomunikasi, dan mengatur secara efektif.
7. Manager
Seorang farmasi/apoteker merupakan seorang manajer dalam aspek
kefarmasian non klinis, kemampuan ini harus ditunjang kemampuan
manajemen yang baik, contoh sebagai farmasis manajer (APA) di apotek ,
kepala instalasi farmasi rumah sakit, harus mampu mengelola perbekalan
farmasi dan mengelola karyawan agar dapat melayani dg optimal dan produktif
dalam hal kinerja dan profit. Dan sebagai fungsi tambahan :
8. Researcher
Seorang farmasi/apoteker merupakan seorang peneliti terutama dalam
penemuan dan pengembangan obat-obatan yang lebih baik. disamping itu
farmasi juga dapat meneliti aspek lainnya misal data konsumsi obat,
kerasionalan obat, pengembangan formula, penemuan sediaan baru (obat, alat
kesehatan, dan kosmetik).
9. Entrepreneur
Seorang farmasi/apoteker diharapkan terjun menjadi wirausaha dalam
mengembangkan kemandirian serta membantu mensejahterakan masyarakat.
misalnya dengan mendirikan perusahaan obat, kosmetik, makanan, minuman,
alat kesehatan, baik skala kecil maupun skala besar, mendirikan apotek, serta
bisnis tanaman obat dan lainnya.

29
II.2 TINJAUNA KHUSUS KIMIA FARMA

II.2.1 SEJARAH KIMIA FARMA (8)


Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di
Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817.
Nama perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle
Rathkamp & Co. Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks
perusahaan Belanda di masa awal kemerdekaan, pada tahun 1958,
Pemerintah Republik Indonesia melakukan peleburan sejumlah perusahaan
farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara Farmasi) Bhinneka Kimia
Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971, bentuk badan hukum
PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama perusahaan
berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).
Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali
mengubah statusnya menjadi perusahaan publik, PT Kimia Farma
(Persero) Tbk, dalam penulisan berikutnya disebut Perseroan.Bersamaan
dengan perubahan tersebut, Perseroan telah dicatatkan pada Bursa Efek
Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (sekarang kedua bursa telah merger dan
kini bernama Bursa Efek Indonesia).Berbekal pengalaman selama puluhan
tahun, Perseroan telah berkembang menjadi perusahaan dengan pelayanan
kesehatan terintegrasi di Indonesia.Perseroan kian diperhitungkan
kiprahnya dalam pengembangan dan pembangunan bangsa, khususnya
pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia .
Struktur organisasi PT. KimiaFarmaApotekadalahsebagaiberikut
1. Dewan Komisaris
2. Direktur Utama PT. Kimia Farma Apotek
3. Direktur Operasional, terdiri dari:
a. Manajer Operasional
b. Manajer Bisnis
c. Manajer Merchandiser dan Logistik
4. Direktur Keuangan, SDM, dan Umum, terdiri dari:

30
a. Manajer Umum dan SDM
b. Manajer Keuangan dan Akuntansi
c. Manajer Teknologi Informatika
5. Direktur Pengembangan, membawahi Manajer Pengembangan
Usaha

Logo Kimia Farma

Gambar 1. Logo kimia farma


Simbol matahari
a. Paradigma baru, matahari terbit adalah tanda memasuki babak baru
yang lebih baik.
b. Optimis, matahari memiliki cahaya sebagai sumber energy, cahaya
terebut adalah penggambaran optimism PT. Kimia Farma dalam
menjalankan bisnisnya
c. Komitmen, matahari selalu terbit dari arah timur dan tenggelam
arah barat secara teratur dan terus-meneru, memiliki makna adanya
komitmen dan konsistensi dlam menjalankan segala tugas yang
diemban oleh PT. Kimia Farma dalam bidang farmasi dan
kesehatan.
d. Sumber energi, matahari merupakan sumber energi bagi kehidupan
dan PT. Kimia Farma yang baru memposisikan dirinya sebagai
sumber energi bagi kesehatan masyarakat.
e. Semangat yang abadi, wrna orange berarti semangat, warna biru
berarti keabadian.Harmonisasi antara kedua warna tersebut
menjadi satu makna yaitu semangat yang abadi.

31
1. Jenis Huruf
Dirancang khusus untuk kebutuhan PT.Kimia Farma (Persero) Tbk
yang disesuaikan dengan nilai dan image yang telah menjadi energy
bagi PT. Kimia Farma, karena prinsip sebuah identitas harus berbeda
dengan identitas yang telah ada.
2. Sifat Huruf
a. Kokoh, memperlihatkan PT.Kimia Farma sebagai perusahaan
terbesar dalam bidang farmasi yang memiliki bisnis dari hulu ke
hilir dan merupakan perusahaan farmasi pertama yang dimiliki
Indonesia.
b. Dinamis, dengan jenis huruf italicmemperlihatkan kedinamisan
dan optimisme.
c. Bersahabat, dengan jenis huruf kecil dengan lengkung,
memperlihatkan keramahan PT.Kimia Farma dalam melayani
konsumennya.

II.2.2 KIMIA FARMA APOTEK

PT Kimia Farma Apotek (KFA) adalah anak perusahaan Perseroan


yang didirikan berdasarkan akta pendirian tanggal 4 Januari 2003.Sejak
tahun 2011. KFA menyediakan layanan kesehatan yang terintegrasi
meliputi layanan farmasi (apotek), klinik kesehatan, laboratorium klinik
dan optik, dengan konsep One Stop Health Care Solution (OSHcS)
sehingga semakin memudahkan masyarakat mendapatkan layanan
kesehatan berkualitas. Komposisi pemegang saham PT Kimia Farma
(Persero) Tbk yaitu 99.99% dan Yayasan Kesejahteraan Keluarga Kimia
Farma (YKKKF) 0.01%.

32
VISI
Menjadi perusahaan Jaringan layanan kesehatan yang terkemuka
dan mampu memberikan solusi kesehatan masyarakat indonesia :
MISI
1. Jaringan layayanan kesehatan yang terintegrasi meliputi jaringan
apotek, klinik, laboratorium klinik dan layanan kesehatan lainya.
2. Saluran distribusi utama bagi produk sendiri dan produk principal
3. Mengembangkan bisnid waralaba dan meningkatkan pendapatan
lainnya ( fee-based-income).
Perseroan telah menetapkan budaya perusahaan yang merupakan
nilai-nilai inti Perseroan (corporate values) yaitu I C A R E yang menjadi
acuan/pedoman bagi Perseroan dalam menjalankan usahanya, untuk
berkarya meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan masyarakat. Berikut
adalah budaya perusahaan (corporate culture) perseroan :

Gambar 2. Motto Kimia Farma

Innovative
Budaya berpikir out of the box, smart dan kreatif untuk membangun produk
unggulan
Customer First
Mengutamakan pelanggan sebagai miitra kerja

33
Accountable
Dengan senantiasa bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan oleh
perusahaan dengan memegang teguh profesialisme, integritas dan kerja sama
Responsible
Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat sasaran dan
dapat diandalkan, serta senantiasa berusaha untuk tegar dan bijaksana dalam
menghadapi setiap masalah
Eco-Friendly
Menciptakan dan menyediakan baik produk maupun jasa layanan yang
ramah lingkungan
5 As sebagai Ruh Budaya Perusahaan yang terdiridari :
1. Kerja Ikhlas:
Siap bekerja dengan tulus tanpa pamrih untuk kepentingan bersama
2. Kerja Cerdas:
Kemampuan dalam belajar cepat (fast learner) dan memberikan solusi
yang tepat
3. Kerja Keras:
Menyelesaikan pekerjaan dengan mengerahkan segenap kemampuan
untuk mendapatkan hasil terbaik
4. Kerja Antusias:
Keinginan kuat dalam bertindak dengan gairah dan semangat untuk
mencapai tujuan bersama
5. Kerja Tuntas:
Melakukan pekerjaan secara teratur dan selesai untuk menghasilkan output
yang maksimal sesuai dengan harapan.

34
II.2.3 KIMIA FARMA BM MAKASSAR
Apotek Kimia Farma BM (Bisnis Manajer) Makassar saat ini
dipimpin oleh Bapak Muhardiman S.Si., Apt. Terdapat 19 Apotek Kimia
Farma yang tersebar di beberapa tempat, yaitu:
Tabel 2.1 Daftar Apotek Kimia Farma yang termasuk dalam BM Makassar
1 Makassar Jl. Jend A.Yani 17 – 19 Makassar 0411 3620942
2 Makassar Jl. St. Hasanuddin 46 Makassar 0411 3617110
3 Makassar Jl. Urip Sumoharjo 32 Makassar 0411 449936
4 Makassar Jl. Pongtiku Raya 486 Tana Toraja 0423 24141
5 Makassar Jl. Pettanarajeng 5 Makassar 0421 24467
6 Makassar Jl. Dr. Ratulangi 59 Makassar 0411 873789
7 Makassar Jl. Slt. Alauddin 305 Makassar 0411 845064
8 Makassar Jl. Hertasning Makassar 0411 442945
9 Makassar Jl. P. Kemerdekaan Km 11 Makassar 0411 585904
10 Makassar Jl. Dr. Kayadoe Ambon 0911 351677
11 Makassar Jl. Nurussamawati 3 No. 151 Makassar 0421 22237
12 Makassar Jl. Pettarani No.18 Makassar Makassar 0411 857287
13 Makassar Jl. Daeng Tata No.69-69A Makassar 0411 880685
Makassar
14 Makassar Jl. Cendrawasih No. 233 Makassar 0411 875940
15 Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan KM Makassar 0411 518291
14 No. 195 A

16 Makassar Jl. Perintis Kemerdekaan km Makassar 0411 4813615


19
17 Makassar Jl. Sultan Alaudin No. 222 Makassar 0411 865538
18 Makassar Jl. Polos Maros Maccopa, Maros 0411 372020
Taroada, Turikale, Maros
19 Makassar Jl. Sultan Hasanuddin No. 8, Gowa 0411 869842
Kel: Pandang-pandang, Kec :
Somba Opu, Sungguminasa,
Gowa

35
II.2.4 APOTEK TEMPAT PRAKTEK
Apotek Pelengkap KF RSP UNHAS terletak di jalan Jl. Perintis
Kemerdekaan Km 11 kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan
dengan nomor telepon 0411-857287.ApotekPelengkap KF RSP UNHAS
diresmikan pada tanggal 1 januari 2016, dan saat ini berfungsi sebagai
apotek pelayanan.
Apotek pelengkap KF RSUP.Dr. Wahidin sudirohusodo terletak di
JL. Perintis Kemerdekaan Km 11 Kecamatan Tamalanrea, Makassar,
sulawesi Selatan dengan nomor telfon 0411-585904. Apotek Pelengkap
KF RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo diresmikan pada tanggal 1 januari
2016, dan saat ini berfungsi sebagai apotek pelayanan.
Apotek Pelengkap KF RSP UNHAS terdiri dari 1 lantai, memiliki
1 orang Apoteker Prenanggung Jawab Apotek (APA) dan 6 orang Asisten
Apoteker. Pembagianruangandalamhalpelayanan di Apotek Pelengkap KF
RSP UNHAS yakni terdiri dari 3 bagian, area pelayanan resep, area
pelayanan informasi obat dan area swalayan farmasi. Pada area pelayanan
resep terdiri dari bagian penerimaan resep, kasir pelayanan, penyediaan
dan peracikan obat, penyerahan obat dan ruang tunggu.Area swalayan
farmasi, konsumen dapat langsung melihat dan memilih obat atau alat
kesehatan yang diinginkan dandapatdibantuolehpetugasuntukmencariobat
yang diinginkan.Sedangkan area pelayanan informasi obat disesuaikan
dengan kondisi apotek dan pelanggan.
Apotek pelengkap KF RSUP.Dr. Wahidin Sudirohusodo terdiri dari
1 lantai, memiliki 1 orang APA dan 3 orang Asisten Apoteker.Pembagian
ruangan dalam hal pelayan di Apotek Pelengkap KF RSUP.Dr. Wahidin
Sudirohusodo terdiri dari 3 bagian, area pelayanan resep dan area
swalayan farmasi.Pada area pelayanan resep terdiri dari bagian penerimaan
resep, kasir pelayanan, penyediaan dan peracikan obat, penyerahan obat
dan ruang tunggu.Area swalayan farmasi, konsumen dapat langsung
melihat dan memilih obat atau alat kesehatan yang diinginkan dandapat
dibantu oleh petugasuntukmencariobat yang diinginkan.

36
Apotek Kimia Farma Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo dan
Rumah Sakit Universitas Hasanuddin merupakan apotek pelayanan dan
mempunyai struktur organisasi yang disusun menurut garis hirarki dari
atas ke bawah. Pembentukan struktur organisasi ini bertujuan agar
manajemen apotek berjalan dengan baik dan setiap pegawai yang bekerja
mengetahui tugas, wewenang dan tanggung jawabnya, serta memudahkan
koordinasi, pengontrolan dan pertanggungjawaban tugas. Adapun struktur
orgnisai apotek kimia farma wahidin sudirhusodo dan Rumah Sakit
Universitas Hasanuddin adalah sebagai berikut :
Manager Apotek Pelayanan (Apoteker Pengelola Apotek)
Manager Apotek Pelayanan bertanggunh jawab kepada Manager Bisnis atas
pelaksanaan fungsi profesi kefarmasian dalam hal pelayanan di potek. Tugasnya
antara lain sebagai berikut :
1. Mengendalikan pelaksanaan fungsi profesi kefarmasian di Apotek agar
dapat memberikan pelayanan prima kepada pelanggan/pasien.
2. Mengendalikan pengelolaan Apotek untuk mencapai sasaran Apotek yang
menjadi tanggung jawabnyasecara efektif dan efeisien.
3. Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Apotek yang
menjadi tanggung jawabnya.
4. Membangun kerjasama yang solid dan efektif SDM yang berada di
lingkungan apotek yang menjadi tanggung jawabnya.
5. Melakukan penilaian konduite SDM yang berada di apotek yang menjadi
tanggung jawabnya.
Supervisor Pelayanan
Supervisor pelayanan adalah seorang Asisten Apoteker (AA) yang
bertanggung jawab langsung kepada Manager Apotek Pelayanan( Apoteker
Pengelola Apotek) atas seluruh kegiatan pelayanan. Tugasnya antara lain sebagai
berikut :
a. Pengolahan hasil pelayanan resep dokter, penjualan obat bebas maupun
penjualan engross.

37
b. Pengolahan informasi perkembangan kebijaksanaan pelayanan dan
penjualan, kebijaksanaan harga dan komoditi apotek.
c. Pengolahan Laporan Permintaan Barang, persediaan barang yang kurang,
kadaluarsa, rusak atau selisi,kehilangan barang, kesalahan pencatatan dan
stock opname barang.
d. Pengolahan laporan penerimaan dan pengeluaran uang di bagian
pelayanan dan penjualan.
e. Mengontrol keluar masuknya barang di bagian pelayanan.
f. Membuat pareto dan daftar permintaan barang.
g. Memeriksa dan mengawasi pekerjaan kasir pelayanan.
h. Mengawasi pencatatan dan registrasi narkotika.
i. Memberi informasi obat seperlunya sesuai wewenangnya
Asisten Apoteker
Bertanggung jawab kepada Supervisor Pelayanan atas pelaksanaan
pelayanan resep maupun penjualan bebas. Tugasnya anatara lain sebagai berikut :
1. Melayani resep tunai, resep kredit, penjualan bebas dan penjualan UPDS
(Upaya Pengobatan Diri Sendiri).
2. Mencatat keluar masuknya barang melalui kartu stok.
3. Mengontrol stok dan membuat defekta barang.
4. Pada keadaan tertentu dapat melakukan pekerjaan kasir sekaligus
membuat Laporan Ikhtisr Penjualan Hrian (LIPH).
5. Mengawasi dan atau melaksanakan pencatatan dan registrasi narkotik.
6. Memberi informasi obat sepenuhnya sesuai wewenangnya.
Juru Resep
Bertanggung jawab kepada Supervisor Pelayan atas penyediaan obat-
obatan dalam resep. Tugasnya antara lain sebagai berikut :
1. Membantu tugas-tugas Asisten Apoteker dalam hal meracik, mencampur
dan menempel etiket.
2. Mencatat pemasukan dan pengeluaran obat pada kartu stok.
3. Membantu Asisten Apoteker mendefekta stok obat.
4. Mengantar obat pesanan ke rumah sakit tau alamat pasien.

38
5. Menjaga kebersihan lingkungan bagian pelayanan.
Petugas Penjualan Bebas
Bertanggung jawab kepada Supervisor Pelayan atas pengeluaran obat-
obatan melalui Swalayan Farmasi (HVK). Tugasnya antara lain sebagai
berikut :
1. Melakukan penjualan dengn harga yang telah ditetapkan.
2. Menjaga kenyamanan ruang tunggu.
3. Melayani konsumen dengan ramah dan santun.
4. Memberikan informasi dan solusi mengenai obat yang akan dibeli
konsumen, terutama di bagian Swalayan Farmasi (HVK).
Kasir Pelayanan
Bertanggung jawab kepada Supervisor Pelayanan atas pengelolaan
keungan di bagian pelayanan. Tugasnya antara lain sebagai berikut :
1. Menerima dan mencatat setiap transaksi pemasukan atau pengeluaran
barang yang disertai dengn bukti-bukti yang sah.
2. Membuat laporan dari hasil kegiatan tersebut kepada kasir besar.

39
II.3. TUGAS KHUSUS (PELAYANAN INFORMASI OBAT )

II.3.1 Pola Peresepann Obat

Pola peresepan adalah pola penulisan resep dokter di rumah sakit. Obat
merupakan komponen vital bagi pelayanan rumah sakit. SK Menkes no.
1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang “Standar Pelayanan Rumah Sakit”
menyebutkan bahwa manajemen pelayanan rumah sakit harus menjaga bahwa
obat yang dibutuhkan tersedia setiap saat dalam jumlah yang cukup untuk
mendukung pelayanan serta memberikan manfaat bagi pasien dan rumah sakit.
Ketersediaan obat juga berkaitan dengan angka kematian dan kesakitan di
masyarakat (Tumwine et al., 2010).
Ketersediaan obat dapat dijamin dengan pengelolaan obat yang baik dan
sesuai standar, seperti yang diatur dalam Standar Pelayanan Farmasi di Rumah
Sakit yang tertuang dalam SK Menkes no. 1197/Menkes/SK/X/2004 bahwa
“pengelolaan obat merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan,
perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pengendalian, penghapusan, administrasi, pelaporan dan evaluasi”.
Menurut Seto Soerjono (2001) siklus pengelolaan obat harus dipastikan
bahwa semua tahap pengelolaan semua kegiatan tersebut harus selalu selaras,
serasi dan seimbang untukMenghindari tidak tersedianya obat, tidak tersalurnya
obat, obat rusak.
Rumah sakit merupakan pusat rujukan pelayanan kesehatan. Apoteker di
apotek bertanggung jawab untuk menjaga mutu obat. Apoteker dan dokter harus
bekerja sama dengan baik untuk memberikan pelayanan obat yang rasional
kepada pasien guna kesembuhan pasien. Menurut WHO (2013) penggunaan obat
yang rasional adalah pengobatan yang sesuai dengan kebutuhan klinis pasien
dengan aturan pakai yang tepat dan dengan harga yang terjangkau oleh pasien.
WHO juga menyatakan bahwa ada 4 komponen akses terhadap obat, yaitu:
harga obat, ketersediaan obat, penggunaan obat yang rasional dan system
pembiayaan yang berkesinambungan. Jika komponen ketersediaan dan
penggunaan/peresepan obat yang rasional kurang baik maka komponen lainnya

40
juga menjadi kurang berguna yang artinya akses terhadap obat menjadi kurang
baik.
Pasien rumah sakit umum pemerintah pada umumnya adalah masyarakat
menegah ke bawah. Rumah sakit pemerintah terdapat di seluruh kabupaten/ kota
di Indonesia. Pada wilayah-wilayah terpencil fasilitas kesehatan rujukan terdekat
dan terbaik hanya ada di rumah sakit pemerintah. Pelayanan obat yang rasional di
rumah sakit dengan menggunakan obat esensial dan obat generik yang terjangkau
akanmeningkatkan derajat kesembuhan dan kepuasanpasien.

II.3.2 Kepatuhan Pasien Minum Obat

Kepatuhan minum obat pada pasien sangat penting karena dengan minum
obat secara teratur diharapkan dapat meningkatakan angka kesembuhan
penderita.
Evaluasi Kepatuhan minum Obat :
1. Keteraturan Pengobatan (medication taking scale)
Horne (2015) mengatakan bahwa kepercayaan setiap pasien mengenai bentuk
penyakitnya memiliki pengaruh besar pada keinginan merekauntuk mengikuti
saran kesehatan terapi pengobatan.
2. Kepatuhan (adherence)
Penyakit kronis merupakan penyakit dengan pengobatan jangka waktu lama
sehingga ketidak patuhan pasien dalam minum obat sering terjadi.

II.3.3 Pelayanan Informasi Obat

Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan
lebih berarti bagi penerimanya. Menurut George R. Terry, bahwa informasi adalah
data yang penting yang memberikan pengetahuan yang berguna. Sedangkan
menurut Gordon B. Davis, informasi adalah data yang telah diolah menjadi
sebuah bentuk yang penting bagi penerima dan mempunyai nilai yang nyata. atau
yang dapat dirasakan dalam keputusan-keputusan yang sekarang atau yang akan
datang. Informasi akan memiliki arti manakala informasi tersebut memiliki unsure
unsur sebagai berikut:

41
1. Relevan artinya Informasi yang diinginkan benar-benar ada relevansi dengan
masalah yang dihadapi.
2. Kejelasan artinya terbebas dari istilah-istilah yang membingungkan.
3. Akurasi artinya bahwa informasi yang hendak disajikan harus secara teliti dan
lengkap.
4. Tepat waktu artinya data yang disajikan adalah data terbaru dan mutahir.

Pelayanan informasi obat (PIO) didefinisikan sebagai kegiatan penyediaan dan


pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, komprehensif,
terkini oleh apoteker kepada pasien, masyarakat maupun pihak yang memerlukan
di pusat pelayanan kesehatan. Pelayanan informasi obat meliputi penyediaan,
pengolahan, penyajian, dan pengawasan mutu data/informasi obat dan keputusan
profesional. Penyediaan informasi obat meliputi tujuan, cara penyediaan,
pengolahan, dan pengawasan mutu data/informasi obat.
Tujuan Pemberian Informasi Obat (4)
1. Menunjang ketersediaan dan penggunaan obat yang rasional, berorientasi
kepada pasien, tenaga kesehatan, dan pihak lain.
2. Menyediakan dan memberikan informasi obat kepada pasien, tenaga
kesehatan, dan pihak lain.
3. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan kebijakan yang
berhubungan dengan obat.

Berdasarkan ketentuan Depkes (2004) pelayanan informasi obat terhadap


pasien bertujuan untuk :
a) Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan
lain dilingkungan rumah sakit
b) Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang
berhubungan dengan obat, terutama bagi Panitia/Komite Farmasi dan Terapi
c) Meningkatkan profesionalisme apoteker Menunjang terapi obat yang
rasional

42
II.3.2 Ruang Lingkup Pelayanan (4)
Ruang lingkup kegiatan meliputi:
a. Pelayanan
 Menjawab pertanyaan
 Menerbitkan buletin
 Membantu unit lain dalam mendapatkan informasi obat
 Menyiapkan materi untuk brosur/leaflel informasi obat
 Mendukung kegiatan Panitia/Komite Farmasi dan Terapi dalam menyusun dan
merevisi formularium.

b. Pendidikan
Pelayanan informasi obat melaksanakan fungsi pendidikan terutama pada
rumah sakit yang berfungsi sebagai rumah sakit pendidikan :
 Mengajar dan membimbing mahasiswa.
 Memberi pendidikan pada tenaga kesehatan dalam hal informasi obat.
 Mengkoordinasikan program pendidikan berkelanjutan di bidang
informasi obat.
 Membuat/menyampaikan makalah seminar/simposium

c. Penelitian
 Melakukan penelitian evaluasi penggunaan obat.
 Melakukan penelitian penggunaan obat baru.
 Melakukan penelitian lain yang berkaitan dengan penggunaan
obat,baik secara mandiri maupun bekerja sama dengan pihak lain.
 Melakukan kegiatan program jaminan mutu.

Dengan adanya keterbatasan waktu, dana dan sumber-sumber informasi,


maka jenis pelayanan yang dilaksanakan Pelayanan Informasi Obat di Apotek
disesuaikan dengan kebutuhan. Contohnya meliputi:
 Memberi jawaban atas pertanyaan spesifik melalui telepon, surat atau tatap

muka.

 Laporan atau buletin bulanan.

43
 Konsultasi tentang cara penjagaan terhadap reaksi ketidakcocokan obat,
konsep konsep obat yang sedang dalam penelitian atau peninjauan
penggunaan obat-obatan. (10)

Sasaran Informasi Obat (4)


1. Pasien dan atau keluarga pasien
2. Tenaga kesehatan: dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan, asisten apoteker,
dan lain lain.
3. Pihak lain: manajemen, tim/kepanitiaan klinik, dan lain-lain

Sumber Daya Manusia (6)


Sumber daya manusia untuk melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek
adalah apoteker (Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).
Kompetensi apoteker sebagai berikut:
 Mampu menyediakan dan memberikan pelayanan kefarmasian yang bermutu.
 Mampu mengambil keputusan secara profesional.
 Mampu berkomunikasi yang baik dengan pasien maupun profesi kesehatan
lainnya dengan menggunakan bahasa verbal, nonverbal maupun bahasa lokal.
 Selalu belajar sepanjang karier baik pada jalur formal maupun informal,
sehingga ilmu dan keterampilan yang dimiliki selalu baru (up to date)

Sedangkan asisten apoteker hendaknya dapat membantu pekerjaan apoteker


dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian tersebut.
 Tersedia kartu stok untuk masing-masing jenis obat atau komputer agar
pemasukan dan pengeluaran obat, termasuk tanggal kadaluarsa obat,
dapatdipantau dengan baik.
 Tempat penyerahan obat yang memadai, yang memungkinkan untuk melakukan
pelayanan informasi obat.

Pelayanan Informasi obat harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat,


tidak bias, etis, bijaksana dan terkini sangat diperlukan dalam upaya penggunaan
obat yang rasional oleh pasien. Sumber informasi obat adalah Buku Farmakope
Indonesia, Informasi Spesialite Obat Indonesia (ISO), Informasi Obat Nasional13

44
Indonesia (IONI), Farmakologi dan Terapi, serta buku-buku lainnya. Informasi
obat juga dapat diperoleh dari setiap kemasan atau brosur obat yang berisi : (6)
 Nama dagang obat jadi
 Kontra indikasi (bila ada)
 Tanggal kadaluarsa
 Nomor ijin edar/nomor registrasi
 Nomor kode produksi
 Nama dan alamat industri
 Komposisi
 Bobot, isi atau jumlah tiap wadah
 Dosis pemakaian
 Cara pemakaian
 Khasiat atau kegunaan

Informasi obat yang diperlukan pasien adalah : (6)


a. Waktu penggunaan obat, misalnya berapa kali obat digunakan dalam sehari, apakah
di waktu pagi, siang, sore, atau malam. Dalam hal ini termasuk apakah obat
diminum sebelum atau sesudah makan.
b. Lama penggunaan obat, apakah selama keluhan masih ada atau harus dihabiskan
meskipun sudah terasa sembuh. Obat antibiotika harus dihabiskan untuk mencegah
timbulnya resistensi.
c. Cara penggunaan obat yang benar akan menentukan keberhasilan pengobatan. Oleh
karena itu pasien harus mendapat penjelasan mengenai cara penggunaan obat yang
benar terutama untuk sediaan farmasi tertentu seperti obat oral obat tetes mata,
salep mata, obat tetes hidung, obat semprot hidung, tetes telinga, supcpositoria dan
krim/salep rektal dan tablet vagina. Berikut ini petunjuk mengenai cara penggunaan
obat : (6)

45
1. Petunjuk Pemakaian Obat Oral (pemberian obat melalui mulut)
Adalah cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah danaman.
Yang terbaik adalah minum obat dengan segelas air (14)
 Ikuti petunjuk dari profesi pelayan kesehatan (saat makan atau saat perut kosong)
Minum obat saat makan Minum obat sebelum makan Minum obat setelah makan
 Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya. Tidak boleh
dipecah atau dikunyah
 Sediaan cair, gunakan sendok obat atau alat lain yang telah diberi ukuran untuk
ketepatan dosis. Jangan gunakan sendok rumah tangga.
 Jika penderita sulit menelan sediaan obat yang dianjurkan oleh dokter minta
pilihan bentuk sediaan lain

2. Petunjuk Pemakaian obat oral untuk bayi/anak balita :


 Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takar
dalam kemasan obatnya.
 Segera berikan minuman yang disukai anak setelah pemberian obat yang terasa
tidak enak/pahit,

3. Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Mata


 Ujung alat penetes jangan tersentuh oleh benda apapun (termasukmata) dan
selalu ditutup rapat setelah digunakan.
 Untuk glaukoma atau inflamasi, petunjuk penggunaan yang tertera pada
kemasan harus diikuti dengan benar.
 Cara penggunaan adalah cuci tangan, kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk
kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung
konjungtiva, obat diteteskan pada kantung konjungtiva dan mata ditutup selama
1-2 menit, jangan mengedip
 Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit
 Tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan

Ada berbagai macam definisi dari informasi obat, tetapi pada umumnya
maksud dan intinya sama saja. Salah satu definisinya adalah, informasi obat
merupakan setiap data atau pengetahuan objektif, diuraikan secara ilmiah dan
terdokumentasi mencakup farmakologi, toksikologi, dan farmakoterapi obat.

46
Informasi obat mencakup, tetapi tidak terbatas pada pengetahuan seperti nama
kimia, struktur dan sifat-sifat, identifikasi, indikasi diagnostik atau indikasi terapi,
mekanisme kerja, waktu mulai kerja dan durasi kerja, dosis dan jadwal pemberian,
dosis yang direkomendasikan, absorpsi, metabolisme detoksifikasi, ekskresi, efek
samping dan reaksi merugikan, kontraindikasi, interaksi, harga, keuntungan,
tanda, gejala dan pengobatan toksisitas, efikasi klinik, data komparatif, data
klinik, data penggunaan obat, dan setiap informasi lainnya yang berguna dalam
diagnosis dan pengobatan pasien (Siregar, 2006).
Definisi pelayanan informasi obat adalah pengumpulan, pengkajian,
pengevaluasian, pengindeksan, pengorganisasian, penyimpanan, peringkasan,
pendistribusian, penyebaran serta penyampaian informasi tentang obat dalam
berbagai bentuk dan berbagai metode kepada pengguna nyata dan yang mungkin
(Siregar, 2006).
Pada umumnya, ada dua jenis metode utama dalam pelayanan informasi
obat kepada pasien, yaitu dengan metode lisan dan tertulis. Apoteker, perlu
memutuskan kapan suatu jenis dari metode itu digunakan untuk memberikan
informasi obat dengan lebih tepat. Dalam banyak situasi klinik, pemberian
informasi lisan biasanya diikuti dengan pemberian informasi tertulis.
a. Informasi tertulis
Informasi tertulis merupakan dokumentasi informasi tertentu yang
diberikan kepada pasien. Keuntungan dari format tertulis adalah
memungkinkan pasien untuk membaca ulang informasi tersebut dan secara
pelan-pelan menginterpretasikan informasi tersebut (Siregar, 2006). Pemberian
informasi obat secara tertulis dapat dilakukan oleh apoteker dengan jalan
memberikan buletin, leaflet, dan label obat kepada pasien.
b. Informasi lisan
Setelah ditetapkan bahwa informasi lisan adalah tepat, apoteker
perlu memutuskan jenis metode informasi lisan yang digunakan. Ada dua jenis
metodepemberian informasi secara lisan, yaitu komunikasi tatap muka dan
komunikasi telepon. Komunikasi tatap muka dengan pasien lebih disukai,

47
komunikasi tatap muka dengan pasien dapat lebih membantu apoteker dalam
menilai keberhasilan pemberian informasi yang dilakukan (Siregar, 2006).
Untuk mewujudkan pengertian dan penerimaan yang baik antara apoteker
dan pasien dalam pelaksanaan konsultasi, menurut Santoso (1994), idealnya
mencakup beberapa komponen informasi seperti disebut berikut ini:
a. Informasi tentang masalah kesehatan pasien Pasien seharusnya diberikan informasi
yang sesuai dengan masalah kesehatan yang dideritanya.
b. Informasi tentang perawatan
c. Informasi tentang obat dan pemilihan obat , Tujuan yang spesifik dari setiap
pemilihan obat dan cara kerja obat harus diinformasikan secara benar dan obyektif.
Informasi ini meliputi informasi tentangdosis, frekuensi pemakaian, dan durasi
pengobatan.
d. Informasi tentang reaksi obat yang digunakan (21)
Pemberian informasi ini seringkali tidak dilakukan karena dirasakan tidak penting
bagi pasien untuk mengetahui bagaimana reaksi obat yang digunakan. Penjelasan
tentang risiko penggunaan obat tidaklah mudah, akan tetapi perlua diberikan
informasi tentang segala sesuatu yang mungkin terjadi.
e. Informasi tentang pengawasan perawatan
Pada akhirnya pasien perlu diberikan informasi tentang bagaimana melakukan
pengawasan terhadap akibat dari pengobatan yang dipilihnya. Untuk beberapa kasus,
saat dimana efek yang diharapkan terjadi adalah sangat penting untuk
diinformasikan. Pasien juga perlu diinformasikan tentang apa yang harus dilakukan
apabila terjadi efek yang tidak diinginkan (side effect).

Dalam situasi dimana pasien telah mendapat resep, maka komponen


informasi
yang harus diberikan meliputi (Suryawati, 1998) :
a. Nama obat dan indikasi/kegunaan obat
b. Cara penggunaan dan aturan pakai khusus
c. Efek samping, kontraindikasi, dan peringatan, dan apa yang harus dilakukan kalau
terjadi efek samping yang tak diharapkan
d. Tanda-tanda kesembuhan

48
e. Cara menyimpan obat di rumah, dan bagaimana mengetahui kalau obat sudah
rusak.

II.3.4 Home Care

Pelayanan kefarmasian di rumah oleh apoteker adalah pendampingan


pasien oleh apoteker dalam pelayanan kefarmasian di rumah dengan
persetujuan pasien atau keluarganya. Pelayanan kefarmasian di rumah terutama
untuk pasien yang tidak atau belum dapat menggunakan obat dan atau alat
kesehatan secara mandiri, yaitu pasien yang memiliki kemungkinan
mendapatkan risiko masalah terkait obat misalnya komorbiditas, lanjut usia,
lingkungan sosial, karateristik obat, kompleksitas pengobatan, kompleksitas
penggunaan obat, kebingungan atau kurangnya pengetahuan dan keterampilan
tentang bagaimana menggunakan obat dan atau alat kesehatan agar tercapai
efek yang terbaik
Apoteker sebagai care giver diharapkan juga dapat melakukan pelayanan
kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk kelompok lansia
dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Untukaktivitas ini
apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication
record).
Tujuan Home Care
Tercapainya keberhasilan terapi obat
Tujuan Khusus
 Terlaksananya pendampingan pasien oleh apoteker untuk mendukung
efektifitas, keamanan dan kesinambungan pengobatan
 Terwujudnya komitmen, keterlibatan dan kemandirian pasien dan
keluarga dalam penggunaan obat dan atau alat kesehatan yang tepat
 Terwujudnya kerjasama profesi kesehatan, pasien dan keluarga

Mamfaat Home Care


1. Bagi Pasien
• Terjaminnya keamanan, efektifitas dan keterjangkauan biaya pengobatan

49
• Meningkatkan pemahaman dalam pengelolaan dan penggunaan obat
dan/atau alat kesehatan
• Terhindarnya reaksi obat yang tidak diinginkan Terselesaikannya masalah
penggunaan obat dan/atau alat kesehatan dalam situasi tertentu

2. Bagi Apoteker
• Pengembangan kompetensi apoteker dalam pelayanan kefarmasian di
rumah
• Pengakuan profesi farmasi oleh masyarakat kesehatan, masyarakat umum
dan pemerintah
• Terwujudnya kerjasama antar profesi kesehatan

Prinsip- Prinsip Pelayanan Kefarmasian dI Rumah (Home Care)


1. Pengelolaan pelayanan kefarmasian di rumah dilaksanakan oleh apoteker
yang kompeten Mengaplikasikan peran sebagai pengambil keputusan
profesional dalam
2. pelayanan kefarmasian sesuai kewenangan Memberikan pelayanan
kefarmasian di rumah dalam rangka meningkatkan
3. kesembuhan dan kesehatan serta pencegahan komplikasi Menjunjung
tinggi kerahasiaan dan persetujuan pasien (confidential and nform consent)
Memberikan rekomendasi dalam rangka keberhasilan pengobatan
4. Melakukan telaah (review) atas penatalaksanaan pengobatan Menyusun
rencana pelayanan kefarmasian berdasarkan pada diagnose dan informasi
yang diperoleh dari tenaga kesehatan dan pasien/keluarga
5. Membuat catatan penggunaan obat pasien (Patient Medication Record)
secara sistematis dan kontiniu, akurat dan komprehensif
6. Melakukan monitoring penggunaan obat pasien secara terus menerus
Bertanggung jawab kepada pasien dan keluarganya terhadap pelayanan
yang bermutu melalui pendidikan, konseling dan koordinasi dengan tenaga
kesehatan lain

50
7. Memelihara hubungan diantara anggota tim kesehatan untuk menjamin
agar kegiatan yang dilakukan anggota tim saling mendukung dan tidak
tumpang tindih
8. Berpartisipasi dalam aktivitas penelitian untuk mengembangkan
pengetahuan pelayanan kefarmasian di rumah.

Pelayanan Yang Dapat Di Berikan Apoteker


Jenis pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh
Apoteker,
meliputi :
1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan pengobatan
2. Identifikasi kepatuhan dan kesepahaman terapeutik
3. Penyediaan obat dan/atau alat kesehatan
4. Pendampingan pengelolaan obat dan/atau alat kesehatan di rumah, missal cara
pemakaian obat asma, penyimpanan insulin, dll
5. Evaluasi penggunaan alat bantu pengobatan dan penyelesaian masalah
sehingga obat dapat dimasukkan ke dalam tubuh secara optimal
6. Pendampingan pasien dalam penggunaan obat melalui infus/obat khusus
7. Konsultasi masalah obat
8. Konsultasi kesehatan secara umum
9. Dispensing khusus (misal : obat khusus, unit dose)
10. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat termasuk
alat kesehatan pendukung pengobatan
11. Pelayanan farmasi klinik lain yang diperlukan pasien
12. Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah

PROSEDUR TETAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI RUMAH ( HOME


CARE) :
1. Melakukan penilaian awal terhadap pasien untuk mengindentifikasi adanya masalah
kefarmasian yang perlu ditindaklanjuti dengan pelayanan kefarmasian di
rumah.

51
2. Menjelaskan permasalahan kefarmasian kepada pasien dan manfaat pelayanan
kefarmasian di rumah bagi pasien
3. Menawarkan pelayanan kefarmasian di rumah kepada pasien
4. Menyiapkan lembar persetujuan dan meminta pasien untuk memberikan tanda
tangan, apabila pasien menyetujui pelayanan tersebut.
5. Mengkomunikasikan layanan tersebut pada tenaga kesehatan lain yang terkait,
apabila diperlukan. Pelayanan kefarmasian di rumah juga dapat berasal dari
rujukan dokter kepada apoteker apotek yang dipilih oleh pasien.
6. Membuat rencana pelayanan kefarmasian di rumah dan menyampaikan
kepada pasien dengan mendiskusikan waktu dan jadwal yang cocok dengan
pasien dan keluarganya. Rencana ini diberikan dan didiskusikan dengan
dokter yang mengobati (bila rujukan)
7. Melakukan pelayanan sesuai dengan jadwal dan rencana yang telah disepakati.
Mengkoordinasikan pelayanan kefarmasian kepada dokter (bila rujukan)
8. Mendokumentasikan semua tindakan profesi tersebut pada Catatan
Penggunaan Obat Pasien.

Catatan Penggunaan Obat Pasien (PATIENT MEDICATION RECORD)


Catatan Penggunaan Obat Pasien bersifat rahasia dan hanya boleh ditulis
serta
disimpan oleh apoteker ( lampiran 3 )
Lembar Persetujuan (INFORMED CONSENT)
Lembar Persetujuan merupakan bukti tertulis kesepakatan bersama antara
pasien dan apoteker untuk pelayanan kefarmasian di rumah. Lembar persetujuan
dibuat untuk tujuan :
• Memberikan gambaran hak dan kewajiban pasien
• Memberikan gambaran hak dan kewajiban apoteker Lembar persetujuan
sekurang kurangnya memuat :
1. Nama Pasien
2. Alamat Pasien
3. Umur Pasien

52
4. Permasalahan yang dihadapi oleh pasien
5. Bentuk pelayanan kefarmasian yang direncanakan apoteker
6. Hak dan kewajiban apoteker
7. Hak dan kewajiban pasien
8. Tanda tangan pasien dan tanda tangan apoteker

Kartu Kunjungan
Kartu Kunjungan merupakan bukti kehadiran apoteker dalam melakukan
pelayanan kefarmasian di rumah dan membuat catatan sederhana dan mudah
dimengerti oleh pasien, khususnya tentang perkembangan kondisi pasien yang
ditulis oleh apoteker. Kartu Kunjungan sekurang-kurangnya berisi :
• Nama Pasien
• Nama Apoteker
• Tanggal dan jam kunjungan
• Catatan apoteker
Kartu Kunjungan disimpan oleh pasien dan apoteker
Monitoring dan Evaluasi
Sebagai tindak lanjut terhadap pelayanan kefarmasian di rumah perlu
dilakukan monitoring dan evaluasi untuk menilai perkembangan pasien,
tercapainya tujuan dan sasaran serta kualitas pelayanan kefarmasian yang
diberikan. Monitoring dan evaluasi memiliki fungsi yang saling melengkapi.
Masing-masing memberikan informasi kinerja yang berbeda terhadap fase
pelayanan kefarmasian yang diberikan kepada pasien.
Tujuan umum Tersedianya informasi yang akurat tentang pasien dan
pengobatannya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di rumah
dengan Tujuan Khusus sebagai berikut:
1. Melakukan monitoring tindakan pelayanan kefarmasian di rumah yang
dilakukan dengan melihat perkembangan kondisi pasien terkait perubahan
status atau perkembangan kesehatan pasien sebagai akibat penggunaan
obat.

53
2. Menilai respon atau hasil akhir pelayanan kefarmasian untuk membuat
keputusan penghentian pelayanan kefarmasian di rumah.
3. Mengevaluasi kualitas proses dan hasil pelayanan kefarmasian di rumah:
 Menilai keakuratan dan kelengkapan pengkajian awal
 Menilai kesesuaian perencanaan dan ketepatan dalam melakukan
pelayanan kefarmasian
 Menilai efektifitas dan efisiensi pelaksanaan pelayanan kefarmasian
yang dilakukan
4. Memperoleh data statistik

II.3.5 Diabetes mellitus (DM)


a. Defenisi DM

Diabetes mellitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau


gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan
tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat,
lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi fungsi
insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-
sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya
sel-sel tubuh terhadap insulin (WHO 1999).

b. Penatalaksanaan DM (21)

Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan


morbiditas dan mortalitas DM, yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai
2 target utama, yaitu:
1. Menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal
2. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi
diabetes.

The American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan beberapa


parameter yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan penatalaksanaan
diabetes :

54
c. Target Penatalaksanaan DiabetesParameter Kadar Ideal Yang
Diharapkan
 Kadar Glukosa Darah Puasa 80–120mg/dl
 Kadar Glukosa Plasma Puasa 90–130mg/dl
 Kadar Glukosa Darah Saat Tidur
 (Bedtime blood glucose)
100–140mg/dl
 Kadar Glukosa Plasma Saat Tidur
(Bedtime plasma glucose)
110–150mg/dl
 Kadar HbA1c <7mg/dl
 Kadar Kolesterol HDL >45mg/dl (pria)
 Kadar Kolesterol HDL >55mg/dl (wanita)
 Kadar Trigliserida <200mg/dl
 Tekanan Darah <130/80mmHg

Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes, yang


pertama pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah pendekatan dengan obat.
Dalam penatalaksanaan DM, langkah pertama yang harus dilakukan adalah
penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. Apabila dengan
langkah pertama ini tujuan penatalaksanaan belum tercapai, dapat
dikombinasikan dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi
obat hipoglikemik oral, atau kombinasi keduanya. Bersamaan dengan itu, apa pun
langkah penatalaksanaan yang diambil, satu faktor yang tak boleh ditinggalkan
adalah penyuluhan atau konseling pada penderita diabetes oleh para praktisi
kesehatan, baik dokter, apoteker, ahli gizi maupun tenaga medis lainnya.
d. Terapi Nonfarmakologi (22)
1. Pengaturan Diet
Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan
diabetes. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang
seimbang dalam hal karbohidrat, protein dan lemak, sesuai dengan kecukupan
gizi baik sebagai berikut:

55
• Karbohidrat : 60-70%
• Protein : 10-15%
• Lemak : 20-25%(25)
Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur,
stres akut dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai
dan mempertahankan berat badan ideal. Penurunan berat badan telah
dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-
sel β terhadap stimulus glukosa. Dalam salah satu penelitian dilaporkan
bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak
0,6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM), dan setiap kilogram
penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu
harapan hidup. Selain jumlah kalori, pilihan jenis bahan makanan juga
sebaiknya diperhatikan. Masukan kolesterol tetap diperlukan, namun jangan
melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan
nabati, yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan
asam lemak jenuh. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan,
ayam (terutama daging dada), tahu dan tempe, karena tidak banyak
mengandung lemak. Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes,
diusahakan paling tidak 25 g per hari. Disamping akan menolong
menghambat penyerapan lemak, makanan berserat yang tidak dapat dicerna
oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan
penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Disamping itu
makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya
akan vitamin dan mineral.(26)
2. Olah Raga
Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula
darah tetap normal. Saat ini ada dokter olah raga yang dapat dimintakan
nasihatnya untuk mengatur jenis dan porsi olah raga yang sesuai untuk
penderita diabetes. Prinsipnya, tidak perlu olah raga berat, olah raga ringan
asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan.
Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous,
Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance Training). Sedapat mungkin

56
mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur),
disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. Beberapa contoh olah
raga yang disarankan, antara lain jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang,
dan lain sebagainya. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total
30-40 menit per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri
pendinginan antara 5-10 menit. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan
meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga
meningkatkanpenggunaan glukosa

d. Terapi Farmakologi Diabetes


Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olah raga)
belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita, maka perlu
dilakukan langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat, baik dalam
bentuk terapi obat hipoglikemik oral, terapi insulin, atau kombinasi keduanya
1. Terapi Insulin
Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe 1.
Pada DM Tipe I, sel-sel β Langerhans kelenjar pankreas penderita rusak,
sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. Sebagai penggantinya, maka
penderita DM Tipe I harus mendapat insulin eksogen untuk membantu agar
metabolism karbohidrat di dalam tubuhnya dapat berjalan normal. Walaupun
sebagian besar penderita DM Tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin, namun
hampir 30% ternyata memerlukan terapi insulin disamping terapi
hipoglikemik oral

57
Cara Pemberian (23)

Gambar 3 :tempat penyuntikan insulin

Sediaan insulin saat ini tersedia dalam bentuk obat suntik yang
umumnya dikemas dalam bentuk vial. Kecuali dinyatakan lain,
penyuntikan dilakukan subkutan (di bawah kulit). Lokasi penyuntikan
yang disarankan ditunjukan pada gambar 4 disamping ini.Penyerapan
insulindipengaruhi oleh beberapa hal. Penyerapan paling cepat terjadi di
daerah abdomen, diikuti oleh daerah lengan, paha bagian atas dan bokong.
Bila disuntikkan secara intramuskular dalam, maka penyerapan akan
terjadi lebih cepat, dan masa`kerjanya menjadi lebih singkat. Kegiatan
fisik yang dilakukan segera setelah penyuntikan akan mempercepat waktu
mula kerja (onset) dan juga mempersingkat masa kerja. Selain dalam
bentuk obat suntik, saat ini juga tersedia insulin dalam bentuk pompa
(insulin pump) atau jet injector, sebuah alat yang akan menyemprotkan
larutan insulin ke dalam kulit. Sediaan insulin untuk disuntikkan atau
ditransfusikan langsung ke dalam vena juga tersedia untuk penggunaan di
klinik. Penelitian untuk menemukan bentuk baru sediaan insulin yang
lebih mudah diaplikasikan saat ini sedang giat dilakukan. Diharapkan
suatu saat nanti dapat ditemukan sediaan insulin per oral atau per nasal.
Gambar 4. Lokasi penyuntikan insulin yang disarankan (32).

58
d. Penyakit Jantung Koroner (PJK

1. Definisi
Penyakit jantung koroner adalah suatu keadaan dimana terjadi
penyempitan, penyumbatan, atau kelainan pembuluh darah koroner.
penyempitan atau penyumbatan ini dapat menghentikan aliran darah ke
otot jantung yang sering ditandai dengan rasa nyeri. Kondisi lebih parah
kemampuan jantung memompa darah akan hilang, sehingga sistem kontrol
irama jantung akan terganggu dan selanjutnya bisa menyebabkan kematian
(Soeharto, 2001)
2. Etiologi Penyakit Jantung Koroner
Penyebab terjadinya penyakit kardiovaskuler pada perinsipnya
disebabkan
oleh dua faktor utama yaitu:
 Aterosklerosis

Aterosklerosis pembuluh koroner merupakan penyebab penyakit


arteri koroneria yang paling sering ditemukan. Aterosklerosis
menyebabkan penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteri
koronaria, sehingga secara progresif mempersempit lumen pembuluh
darah. Bila lumen menyempit maka resistensi terhadap aliran darah
akan meningkat dan membahayakan aliran darah miokardium (Brown,
2006).

 Trombosis

Endapan lemak dan pengerasan pembuluh darah terganggu dan


lamakelamaan berakibat robek dinding pembuluh darah. Pada
mulanya, gumpalan darah merupakan mekanisme pertahanan tubuh
untuk mencegahan perdarahan berlanjut pada saat terjadinya luka.
Berkumpulnya gumpalan darah dibagian robek tersebut, yang
kemudian bersatu dengan keping-keping darah menjadi trombus.

59
Trombosis ini menyebabkan sumbatan di dalam pembuluh darah
jantung, dapat menyebabkan serangan jantung mendadak, dan bila
sumbatan terjadi di pembuluh darah otak menyebabkan stroke
(Kusrahayu, 2004).

 Patofisiologis penyakit jantung koroner

1) Angina pektoris stabil


Angina pektoris ditegakkan berdasarkan keluhan nyeri dada
yang khas, yaitu rasa tertekan atau berat di dada yang sering
menjalar ke lengan kiri. Nyeri dada terutama saat melakukan
kegiatan fisik, terutama dipaksa bekerja keras atau ada tekanan
emosional dari luar. Biasanya serangan angina pectoris
berlangsung 1-5 menit, tidak lebih dari 10 menit, bila serangan
lebih dari 20 menit, kemungkinan terjadi serangan infark akut.
Keluhan hilang setelah istirahat (Kusrahayu, 2004).
2) Angina pektoris yang tidak stabil
Pada angina pektoris yang tidak stabil serangan rasa sakit dapat
timbul pada waktu istirahat, waktu tidur, atau aktifitas yang ringan.
Lama sakit dada lebih lama daripada angina biasa, bahkan sampai
beberapa jam. Frekuensi serangan lebih sering dibanding dengan
angina pektoris biasa (Kusrahayu, 2004).
3) Angina varian (prinzmetal)
Terjadi hipoksia dan iskemik miokardium disebabkan oleh
vaso spasme (kekakuan pembuluh darah), bukan karena
penyempitan progesif arteria koroneria. Episode terjadi pada waktu
istirahat atau pada jam-jam tertentu tiap hari. EKG peningkatan
segmen ST (Sutedja, 2008).
4) Sindrom koroner akut (SKA)
Sindrom klinik yang mempunyai dasar patofisiologi yang
sama yaitu erosi, fisur, ataupun robeknya plak atheroma sehingga
menyebabkan thrombosis yang menyebabkan ketidak seimbangan

60
pasokan dan kebutuhan oksigen miokard. Termasuk SKA adalah
angina pektoris stabil dan infark miokard akut (Majid, 2007).
Sindrom Koroner Akut (SKA) adalah salah satu manifestasi klinis
Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang utama dan paling sering
mengakibatkan kematian(Anonima, 2006).
e. Gejala umum
Sumber rasa sakit berasal dari pembuluh koroner yang menyempit atau
tersumbat. Rasa sakit tidak enak seperti ditindih beban berat di dada bagian
tengah
adalah keluhan klasik penderita penyempitan pembuluh darah koroner. Kondisi
yang perlu diwaspadai adalah jika rasa sakit di dada muncul mendadak dengan
keluarnya keringat dinggin yang berlangsung lebih dari 20 menit serta tidak
berkurang dengan istirahat. Serangan jantung terjadi apabila pembuluh darah
koroner tiba-tiba menyempit parah atau tersumbat total. Sebagian penderita
PJK mengeluh rasa tidak nyaman di ulu hati, sesak nafas, dan mengeluh rasa
lemas bahkan pingsan (Yahya, 2010).
f. Faktor Resiko
Secara statistik, seseorang dengan faktor resiko kardiovaskuler akan
memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita gangguan koroner
dibandingkan mereka yang tanpa faktor resiko. Semakin banyak faktor resiko
yang dimiliki, semakin berlipat pula kemungkinan terkena penyakit jantung
koroner (Yahya, 2010). Faktor-faktor resiko yang dimaksud adalah merokok,
alkohol, aktivitas fisik, berat badan, kadar kolesterol, tekanan darah (hipertensi)
dan diabetes.
f. Faktor-faktor resiko dibagi menjadi dua, yaitu faktor yang dapat diubah
dan tidak dapat diubah.

1) Faktor resiko lain yang masih dapat diubah


a. Hipertensi
Tekanan darah yang terus meningkat dalam jangka waktu panjang akan
mengganggu fungsi endotel, sel-sel pelapis dinding dalam pembuluh darah

61
(termasuk pembuluh koroner). Disfungsi endotel ini mengawali proses
pembentukan kerak yang dapat mempersempit liang koroner. Pengidap
hipertensi beresiko dua kali lipat menderita penyakit jantung koroner. Resiko
jantung menjadi berlipat ganda apabila penderita hipertensi juga menderita
DM, hiperkolesterol, atau terbiasa merokok. Selain itu hipertensi juga dapat
menebalkan dinding bilik kiri jantung yang akhirnya melemahkan fungsi
pompa jantung (Yahya, 2010). Resiko PJK secara langsung berhubungan
dengan tekanan darah, untuk setiap penurunan tekanan darah diastolik sebesar
5mmHg resiko PJK berkurang sekitar 16% (Leatham, 2006).
b. Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (DM) berpotensi menjadi ancaman terhadap beberapa
organ dalam tubuh termasuk jantung. Keterkaitan diabetes mellitus dengan
penyakit jantung sangatlah erat. Resiko serangan jantung pada penderita DM
adalah 2-6 kali lipat lebih tinggi dibandingkan orang tanpa DM. Jika seorang
penderita DM pernah mengalami serangan jantung, resiko kematiannya
menjadi tiga kali lipat lebih tinggi. Peningkatan kadar gula darah dapat
disebabkan oleh kekurangan insulin dalam tubuh, insulin yang tidak cukup atau
tidak bekerja dengan baik (Yahya, 2010).
Penderita diabetes cenderung memiliki pravalensi prematuritas, dan
keparahan arterosklerosis lebih tinggi. Diabetes mellitus menginduksi
hiperkolesterolemia dan secara bermakna meningkatkan kemungkinan
timbulnya arterosklerosis. Diabetes mellitus juga berkaitan dengan proliferasi
sel otot polos dalam pembuluh darah arteri koroner, sintesis kolesterol,
trigliserida, dan fosfolipid. Peningkatan kadar LDL dan turunnya kadar HDL
juga disebabkan oleh diabetes milletus. Biasanya penyakit jantung koroner
terjadi di usia muda pada penderita diabetes dibanding non diabetes (Leatham,
2006).

c. Merokok
Sekitar 24% kematian akibat PJK pada laki-laki dan 11% pada
perempuan disebabkan kebiasaan merokok. Orang yang tidak merokok dan

62
tinggal bersama perokok (perokok pasif) memiliki peningkatan resiko sebesar
20-30%. Resiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana
orang yang merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari memiliki resiko
sebesar dua hingga tiga kali lebih tinggi menderita PJK dari pada yang tidak
merokok (Leatham, 2006). Setiap batang rokok mengandung 4.800 jenis zat
kimia diantaranya karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen
sianida, amoniak, oksida nitrogen, senyawa hidrokarbon, tar, nikotin,
benzopiren, fenol dan kadmium. Reaksi kimiawi yang menyertai pembakaran
tembakau menghasilkan senyawa-senyawa kimiawi yang terserap oleh darah
melalui proses difusi.
Nikotin yang masuk dalam pembuluh darah akan merangsang
katekolamin dan bersama-sama zat kimia yang terkandung dalam rokok dapat
merusak lapisan dinding koroner. Nikotin berpengaruh pula terhadap syaraf
simpatik sehingga jantung berdenyut lebih cepat dan kebutuhan oksigen
meninggi. Karbon monooksida yang tersimpan dalam asap rokok akan
menurunkan kapasitas penggangkutan oksigen yang diperlukan jantung karena
gas tersebut menggantikan sebagian oksigen dalam hemoglobin. Perokok
beresiko mengalami seranggan jantung karena perubahan sifat keping darah
yang cenderung menjadi lengket sehingga memicu terbentuknya gumpalan
darah ketika dinding koroner terkoyak (Yahya, 2010).

d. Hiperlipidemia
Lipid plasma yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak
bebas berasal eksogen dari makanan dan endogen dari sintesis lemak.
Kolesterol dan trigliserida adalah dua jenis lipid yang relatif mempunyai makna
klinis yang penting sehubungan dengan arteriogenesis. Lipid tidak larut dalam
plasma tetapi terikat pada protein sebagai mekanisme transpor dalam serum.
Peningkatan kolesterol LDL, dihubungkan dengan meningkatnya resiko
terhadap koronaria, sementara kadar kolesterol HDL yang tinggi tampaknya
berperan sebagai factor perlindung terhadap penyakit arteri koroneria
(Muttaqin, 2009).

63
e. Obesitas
Kelebihan berat badan memaksa jantung bekerja lebih keras, adanya
beban ekstra bagi jantung. Berat badan yang berlebih menyebabkan
bertambahnya volume darah dan perluasan sistem sirkulasi sehingga
berkolerasi terhadap tekanan darah sistolik (Soeharto, 2001).

f. Gaya hidup tidak aktif


Ketidakaktifan fisik meningkatkan resiko PJK yang setara dengan
hiperlipidemia, merokok, dan seseorang yang tidak aktif secara fisik memiliki
resiko 30%-50% lebih besar mengalami hipertensi. Aktivitas olahraga teratur
dapat menurunkan resiko PJK. Selain meningkatkan perasaan sehat dan
kemampuan untuk mengatasi stres, keuntungan lain olahraga teratur adalah
meningkatkan kadar HDL dan menurunkan kadar LDL. Selain itu, diameter
pembuluh darah jantung tetap terjaga sehingga kesempatan tejadinya
pengendapan kolesterol pada pembuluh darah dapat dihindari (Leatham, 2006).
2) Tiga faktor resiko yang tidak dapat diubah, yaitu:
a. Jenis Kelamin
Penyakit jantung koroner pada laki-laki dua kali lebih besar
dibandingkan pada perempuan dan kondisi ini terjadi hampir 10 tahun
lebih dini pada laki-laki daripada perempuan. Estrogen endogen bersifat
protektif pada perempuan, namun setelah menopause insidensi PJK
meningkat dengan cepat dan sebanding dengan insidensi pada laki-laki
(Leatham, 2006).
b. Keturunan (genetik)
Riwayat jantung koroner pada keluarga meningkatkan
kemungkinan timbulnya aterosklerosis prematur (Brown, 2006). Riwayat
keluarga penderita jantung koroner umumnya mewarisi faktor-faktor
resiko lainnya, seperti abnormalitas kadar kolesterol, peningkatan tekanan
darah, kegemukan dan DM. Jika anggota keluarga memiliki faktor resiko
tersebut, harus dilakukan pengendalian secara agresif. Dengan menjaga
tekanan darah, kadar kolesterol, dan gula darah agar berada pada nilai

64
ideal, serta menghentikan kebiasaan merokok, olahraga secara teratur dan
mengatur pola makan (Yahya, 2010)
c. Usia
Kerentanan terhadap penyakit jantung koroner meningkat seiring
bertambahnya usia. Namun dengan demikian jarang timbul penyakit serius
sebelum usia 40 tahun, sedangkan dari usia 40 hingga 60 tahun, insiden
MI meningkat lima kali lipat. Hal ini terjadi akibat adanya pengendapan
aterosklrerosis pada arteri coroner.
g. Diagnosis
Langkah pertama dalam pengelolaan PJK ialah penetapan diagnosis pasti.
Diagnosis yang tepat amat penting, jika diagnosis PJK telah dibuat terkandung
pengertian bahwa penderitanya mempunyai kemungkinan akan dapat
mengalami infark jantung atau kematian mendadak. Dokter harus memilih
pemeriksaan yang perlu dilakukan terhadap penderita untuk mencapai
ketepatan diagnostik yang maksimal dengan resiko dan biaya yang seminimal
mungkin. Berikut ini cara-cara diagnostik:
1. Anamnesis
Anamnesis berguna mengetahui riwayat masa lampau seperti riwayat
merokok, usia, infark miokard sebelumnya dan beratnya angina untuk
kepentingan diagnosis pengobatan
2. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dapat digunakan sebagai acuan pada PJK adalah
denyut jantung, tekanan darah, suhu tubuh dan kecepatan respirasi (Majid,
2007).
3. Laboratorium
Pada pasien angina stabil sebaiknya dilakukan pemeriksaan profil
lipid seperti LDL, HDL, kolesterol total, dan trigliserida untuk
menentukan factor resiko dan perencanaan terapi. Selain pemeriksaan
diatas dilakukan pula memeriksaan darah lengkap dan serum kreatinin.
Pengukuran penanda enzim jantung seperti troponin sebaiknya dilakukan
bila evaluasi mengarah pada sindrom koroner akut (Anonim, 2009).

65
4. Foto sinar X dada
X-ray dada sebaiknya diperiksa pada pasien dengan dugaan gagal
jantung, penyakit katup jantung atau gangguan paru. Adanya
kardiomegali, dan kongesti paru dapat digunakan prognosis (Anonim,
2009).
5. Pemeriksaan jantung non-invasif
a. EKG merupakan pemeriksaan awal yang penting untuk mendiagnosis PJK.
b. Teknik non-invasi penentuan klasifikasi koroner dan teknik imaging
(computed tomografi (CT) dan magnetic resonance arteriography. Sinar
elektron CT telah tervalidasi sebagai alat yang mampu mendeteksi kadar
kalsium koroner
6. Pemeriksaan invasif menentukan anatomi koroner
Arteriografi koroner adalah Pemeriksaan invasif dilakukan bila tes non
invasif
tidak jelas atau tidak dapat dilakukan. Namun arteriografi koroner tetap
menjadi pemeriksaan fundamental pada pasien angina stabil. Arteriografi
koroner memberikkan gambaran anatomis yang dapat dipercaya untuk
identifikasi ada tidaknya stenosis koroner, penentuan terapi dan prognosis
(Anonim, 2009).
Pengobatan rasional
Penggunaan obat dikatakan rasional jika tepat secara medik dan memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu. Masing–masing persyaratan mempunyai
konsekuensi yang berbeda-beda. Sebagai contoh, kekeliruan dalam menegakkan
diagnosis akan memberi konsekuensi berupa kekeliruan dalam menentukan jenis
pengobatan (Anonimb, 2006) Secara praktis pengunaan obat dikatakan rasional jika
memenuhi kriteria:
a. Tepat Indikasi
b. Tepat pasien
Pemilihan obat disesuakan dengan kondisi fisiologis dan patologis pasien dengan
memiliki ada tidaknya kontra indikasi
c. Tepat obat

66
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan
dengan benar.
d. Tepat dosis
Dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efek terapi obat.
2. Penatalaksanaan Terapi
Terapi didasarkan pada pengetahuan tentang mekanisme, manifestasi
klinis, perjalanan alamiah dan patologis baik dari sisi selular, anatomis dan
fisiologis dari kasus PJK. Pada prinsipnya terapi ditujukan untuk mengatasi nyeri
angina dengan cepat, intensif dan mencegah berlanjutnya iskemia serta terjadinya
infark miokard akut atau kematian mendadak.

67
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1 Home Care
Berikut ini adalah data tentang pasien Home Care yang di dapat
dari pasien Rs. Unhas :

NAMA : JAMALUDDIN (L) TGL LAHIR: 11-07-1951 (65 TAHUN)


ALAMAT: JALAN GUARIANO. 38 SUDIANG
PENYAKIT KRONIS : CHF (CONGESTI HEART FAILURE) ,
NO. TELP : 082345272460 DIABETES
TGL HOME
TGL. NAMA RESEP DOKTER JUMLAH MINUM CARE KEPATUHAN HASIL
RESEP DOKTER (SIGNA) OBAT OBAT 22/07/16 PASIEN LAB.
SISA
OBAT
DR.
18/0716 MUZAKIR CLOPIDOGREL 75 30 26
AMIR SP. MG TABLET 18/07/16 TABLET PATUH GDP : 300
HbA1c
1X1 (MALAM) :11,5
60 52
NITROKAF R TABLET 18/07/16 TABLET PATUH LDL : 235
TD :
2X1 110/80
30 30 TIDAK
FUROSEMIDE TABLET 18/07/16 TABLET PATUH
1X1 (PAGI)
SIMVASTATIN 20 30 30 TIDAK
MG TABLET 18/07/16 TABLET PATUH
1X1 (MALAM)
3
VARSARTAN 7 TABLET 18/07/16 TABLET PATUH
1X1
INSULIN LEVEMIR 1 18/07/16 1 PATUH
MALAM : 10 UNIT
INSULIN
NOVORAPID 3 18/07/16 3 PATUH
PAGI : 8 UNIT
SIANG : 8 UNIT
MALAM: 8 UNIT
15
CODEIN 10 MG TABLET 18/07/16 0 PATUH
3X1

68
III.2. Resep
dr. SITTI HERLINA
SIP : N21115968
Alamat :Jl. Perintis Kemerdekaan
No. Telepon/HP : 081341787191

69
 Skrining Administratif
Tabel 3.1 Persyaratan Administrasi Resep

Kelengkapan Ada Tidak Keterangan


Ada
Nama Pasien √ - JAMALUDDIN
Umur Pasien √ - 65 tahun (11-07-1951)
Subcriptio Jenis Kelamin - √ Tidak Tercantum
Bobot Badan - √ Tidak Tercantum
Alamat Pasien - √ Tidak Tercantum
Nama dokter √ - dr. SITTI HERLINA
Surat Izin Praktik N211 15 968
- √
(SIP)
Alamat dokter √ - Jl. Perintis Kemerdekaan
No. Telp 081341787191
Inscriptio √ -
Paktek/Rumah
Paraf √ - Tercantum
Tanggal penulisan
√ - 18 JULI 2016
resep
Tanda R/ √ - R/ CLOPIDOGREL 75 MG NO. XXX
ʃ 1 dd I (MALAM)
Nama obat √ - R/ NITROKAF R
ʃ 1 dd I
R/ FUROSEMIDE NO.XXX
Dosis √ - ʃ 1 dd I (PAGI)
Prescriptio R/ SIMVASTATIN 20 MG NO.XXX
ʃ 1 dd I (MALAM)
Bentuk Sediaan - √ R/ VARSARTAN NO.VII
ʃ 1 dd I
R/ LEVEMIR NO.1
Jumlah yang diminta √ - ʃ 0-0-1 (10 UNIT)
R/ NOVORAPID NO III
ʃ 3 dd I (8 UNIT)
Signatura Aturan pemakaian √ - R/ CODEIM 10 MG NO.XV
ʃ 3 dd I

Dari hasil kajian resep diatas, terdapat beberapa kekurangan yang terdapat
dalam persyaratan kelengkapan skrining administrasi resep, antara lain :
1) SIP Dokter
Resep tidak mencantumkan nomor surat izin praktek (SIP), yang
mana SIP wajib dimiliki oleh seorang dokter untuk dapat melakukan
praktek medis. Namun hal ini terjadi karena dokter yang
bersangkutan bekerja di dalam Rumah Sakit dan bukan pada tempat
praktek ataupun klinik.

70
2) Bentuk sediaan obat

Bentuk sediaan obat seharusnya di cantumkan dalam resep untuk

mencegah kekeliruan dalam pengambilan obat. Sebaiknya apoteker

dapat menghubungi dokter penulis resep untuk menanyakan

langsung.

3) Identitas pasien

Identitas pasien seperti Alamat dan nomor telpon/HP pasien yang

bisa dihubungi ini sangat penting agar dapat memantau penggunaan

obat pada pasien dan memudahkan penelusuran pasien jika terjadi

kesalahan pemberian obat. Namun untuk mengatasi hal tersebut

pada saat proses penerimaan resep, umur serta alamat dan nomor

telepon pasien dapat ditanyakan.

Berdasarkan hasil skrining administratif, walaupun resep ini

masih memiliki kekurangan namun masih dapat dilayani.

 Pertimbangan Klinis

1) Indikasi dari obat yang diresepkan

Resep yang diberikan oleh dokter seperti Clopidogrel,

Clopidogrel diindikasikan untuk mengurangi kejadian aterosklerosis

(infark miokard, stroke, dan vascular death) pada pasien dengan

riwayat aterosklerosis olek stroke, infark miokard, atau penyakit

arteri perifer.

Nitrokaf retard memiliki indikasi Pencegahan & terapi jangka

panjang angina pectoris, kemudian Simvastatin dikenal sebagai obat

71
kolesterol tinggi (hiperkolesterol) atau gangguan lemak tubuh

(dislipidemia). Obat ini termasuk golongan obat statin atau disebut juga

golongan obat HMG CoA reductase inhibitors (obat penghambat konversi

lemak tubuh). Tidak seperti golongan obat penurun lemak lainnya, fungsi

utama statin ialah menurunkan kolesterol jahat LDL. LDL adalah lemak

utama penyebab penyakit jantung dan stroke. Dengan demikian simvastatin

juga dikenal sebagai “kardioprotektor”, yakni melindungi jantung dari

penyakit dan serangan jantung. Simvastatin juga dikenal memiliki efek

pleiotrofik, yakni khasiat yang banyak selain untuk menurunkan lemak.

Simvastatin terbukti dapat menurunkan angka kasus penyakit jantung

koroner, memberbaiki kondisi gula darah, menurunkan angka kasus stroke,

dan bahkan menurunkan kematian.

Simvastatin merupakan salah satu obat penurun kolesterol dalam

darah atau yang lebih dikenal dengan statin. Kolesterol jahat (LDL) mudah

menggumpal dan menempel pada dinding pembuluh darah. Suatu kondisi

yang dapat membentuk plak dan menyebabkan aterosklerosis atau

penyumbatan pembuluh darah.

Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai edema

seperti: Edema karena gangguan jantung. Edema yang berhubungan

dengan ganguan ginjal dan sirosis hati. Supportive measures pada

edema otak. Edema yang disebabkan luka bakar. Untuk pengobatan

hipertensi ringan dan sedang. Pendukung diuresis yang dipaksakan

pada keracunan.

Varsartan Pengobatan hipertensi, terapi gagal jantung pada pasien

yang intoleransi terhadap ACE inhibitor. Pasca infark miokard.

72
Codein merupakan analgesik agonis opioid (agonis opioid

merupakan obat opioid ), Efek kodein terjadi apabila kodein

berikatan secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di

susunan saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas

kodein terhadap reseptor opioid tersebut.Kodein dapat meningkatkan

ambang rasa nyeri dan mengubah reaksi yang timbul di korteks

serebri pada waktu persepsi nyeri diterima dari thalamus.Kodein juga

merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan

menekan pusat batuk. Obat ini sering disalahgunakan sebagaian

orang untuk menenangkan diri. Karena ada sifat morfin di dalamnya.

Maka dari itu penggunaan dalam jangka panjang tidak dianjurkan.

Karena dikhawatirkan akan menjadika kecanduan/ketergantungan.

Insulin levemir untuk pengobatan diabetes Dapat diberikan


bersama atau tanpa makanan : Utk pasien yang diterapi dengan
rejimen 1 x/hari, berikan bersama dengan makan malam atau
menjelang tidur. Utk pasien yang memerlukan pemberian dosis 2
x/hari, dosis malam dapat diberikan bersama makan malam atau
menjelang tidur atau 12 jam sesudah pemberian dosis pagi.
2) Interaksi antar obat

Berdasarkan hasil analisis tidak ada interaksi antara obat yang

terdapat dalam resep. Dimana interaksi dari masing masing obat

dapat terjadi dengan zat lain yaitu sebagai berikut :

73
Interaksi Clopidogrel :

Pemberian clopidogrel secara bersama dengan warfarin

tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan intensitas perdarahan.

Obat- obatan yang mungkin menyebabkan lesi gastrointestinal

(seperti non-steroid Obat Anti-inflamasi) harus digunakan dengan

hati-hati pada pasien yang memakai clopidogrel. Dalam sebuah studi

klinis yang dilakukan pada subyek sehat, clopidogrel tidak

memerlukan modifikasi dosis heparin atau mengubah efek heparin

pada koagulasi. Tugas pembantuan dari heparin tidak berpengaruh

pada penghambatan agregasi platelet yang diinduksi oleh

clopidogrel. Namun, keamanan kombinasi ini belum ditetapkan dan

penggunaan bersama harus dilakukan dengan hati-hati.

Farmakokinetik digoxin atau teofilin tidak diubah oleh pemberian

bersama clopidogrel. Antasida tidak mengubah tingkat absorpsi

clopidogrel. Glikoprotein IIb/IIIa inhibitor: clopidogrel harus

digunakan dengan hati-hati pada pasien yang mungkin berisiko

meningkatkan pendarahan dari trauma, pembedahan atau kondisi

patologis lainnya yang menerima glikoprotein bersamaan inhibitor

IIb/IIIa. Asetilsalisilat (ASA): ASA tidak mengubah efek clopidogrel

dalam penghambatan agregasi trombosit yang diinduksi oleh ADP,

tetapi clopidogrel meningkatkan efek ASA pada agregasi trombosit

yang diinduksi oleh kolagen. Trombolitik: Keamanan administrasi

seiring clopidogrel, rt-PA dan heparin dinilai pada pasien dengan

74
infark miokard. Insiden perdarahan yang bermakna secara klinis

mirip dengan yang diamati ketika rt-PA dan heparin adalah co-

dikelola dengan ASA. Keamanan pemberian bersama clopidogrel

dengan agen trombolitik lainnya belum diketahui dan harus

dilakukan dengan hati-hati.

Interaksi Simvastatin :

 Pemakaian bersama-sama dengan imunosupresan, itrakonazol,


gemfibrozil, niasin dan eritromisin dapat menyebabkan peningkatan
pada gangguan otot skelet (rabdomiolisis dan miopati).
 Dengan antikoagulan kumarin dapat memperpanjang waktu

protrombin.

 Antipirin, propanolol, digoksin.

Interaksi Varsartan :

Pemberian varsartan tidak boleh bersamaan dengan zat yang

mengandung Suplemen Kalium, obat diuretik hemat K.

Interaksi Codein

 Hendaknya hati-hati dan dosis dikurangi, apabila digunakan

bersama-sama dengan obat-obat depresan lain, anestetik,

tranquilizer, sedatif, hipnotik dan alkohol.

 Tranquilizer terutama fenotiazin bekerja antagonis terhadap

analgesik opiat agonis.

 Dekstroamfetamin dapat menghambat efek analgesik opiat agonis.

75
 Jangan diberikan bersama-sama dengan penghambat MAO dan

dalam jangka waktu 14 hari setelah pemberian penghambat MAO.

Interaksi Insulin

Beberapa hormon melawan efek hipoglikemia insulin misalnya


hormon pertumbuhan, kortikotropin, glukokortikoid, tiroid, estrogen,
progestin dan glukagon. Adrenalin menghambat sekresi insulin dan
merangsang glikogenolisis. Guanetidin menurunkan gula darah dan dosis
insulin perlu disesuaikan bila obat ini ditambahkan/dihilangkan dalam
pengobatan. Beberapa antibiotik (kloramfenikol, tetrasiklin, salisilat dan
fenilbutason) meningatkan kadar insulin dalam plasma. Nikotin
mengurangi absorpsi insulin dengan menyebabkan vasokonstriksi.

Uraian Obat dalam Resep

1. Clopidogrel (6, 12, 13)

Komposisi : Tiap tablet salut selaput mengandung clopidogrel bisulfat 97,9

mg setara dengan clopidogrel 75 mg

Farmakologi : Clopidogrel adalah penghambat agregasi trombosit. Ada

beragam obat yang dapat menghambat fungsi trombosit dan

telah menunjukkan kemampuan menurunkan morbiditas pada

penderita penyakit kardiovaskular aterosklerosis yang

ditunjukkan dengan terjadinya stroke atau serangan iskemik

sementara (TIA), infark miokard atau kebutuhan bypass atau

angioplasti. Hal ini mengindikasikan bahwa trombosit berperan

dalam inisiasi dan/atau evolusi dari kejadian dia atas dan

dengan menghambat proses tersebut di atas ternyata dapat

mengurangi angka kejadian.

76
Indikasi : Clopidogrel diindikasikan untuk mengurangi kejadian

aterosklerosis (infark miokard, stroke, dan vascular death) pada

pasien dengan riwayat aterosklerosis olek stroke, infark

miokard, atau penyakit arteri perifer.

Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap bahan aktif atau komponen dari

clopidogrel. Perdarahan aktif seperti ulkus peptikum atau

perdarahan intrakranial.

Dosis : 75 mg sekali sehari dengan atau tanpa makanan. Tidak perlu

penyesuaian dosis untuk lanjut usia dan penderita penyakit

ginjal.

Efek samping : Clopidogrel memperpanjang waktu perdarahan dan harus

digunakan dengan hati-hati pada pasien yang memiliki lesi

dengan kecenderungan untuk berdarah (khususnya saluran

cerna dan intraokuler). Pasien harus diberitahu bahwa mungkin

diperlukan waktu lebih lama dari biasanya untuk menghentikan

pendarahan ketika mereka menggunakan clopidogrel (sendiri

atau dalam kombinasi dengan ASA), dan bahwa mereka harus

melaporkan setiap perdarahan yang tidak biasa (tempat atau

durasi) ke dokter mereka. Pasien harus memberitahu dokter

dan dokter gigi bahwa mereka mengkonsumsi clopidogrel

sebelum operasi apapun dijadwalkan dan sebelum obat baru

diambil. Pengalaman terapi dengan clopidogrel terbatas pada

pasien dengan gangguan ginjal. Oleh karena itu clopidogrel

harus digunakan dengan hati-hati pada pasien ini. Pengalaman

terbatas pada pasien dengan penyakit hati moderat yang

77
mungkin memiliki diatesis perdarahan. Clopidogrel karenanya

harus digunakan dengan hati-hati pada populasi ini. Karena

risiko perdarahan dan efek hematologis yang tidak diinginkan,

penentuan jumlah sel darah dan/atau pengujian lainnya harus

segera dipertimbangkan setiap kali gejala klinis yang

menunjukkan perdarahan timbul selama pengobatan.

Kehamilan: studi reproduksi dilakukan pada tikus dan kelinci

mengungkapkan tidak ada bukti gangguan kesuburan atau

membahayakan janin karena clopidogrel. Namun demikian,

belum ada penelitian yang memadai dan terkendali dengan

baik pada wanita hamil. Mengingat kurangnya data saat ini,

clopidogrel tidak dianjurkan selama kehamilan. Laktasi: Studi

pada tikus menunjukkan bahwa clopidogrel dan/atau

metabolitnya diekskresikan dalam susu. Hal ini tidak diketahui

apakah produk medis ini diekskresikan dalam air susu

manusia.Keamanan dan efektivitas pada pasien di bawah 18

tahun belum ditetapkan.

2. NITROKAF R

Komposisi : Glyceryl trinitrate.

Indikasi : Pencegahan & terapi jangka panjang angina pektoris.

K. Indikasi : Anemia berat, trauma kepala, peningkatan TIK,

perdarahan otak, glaukoma, kegagalan sirkulasi akut,

hipotensi, syok kardiogenik, pemberian bersama

slidenafil. Hamil.

78
Efek Samping : Hipotensi ortostatik, refleks takikardi, kolasp yg dpt

isertai dg aritmia bradikardi, sakit kepala, mengantuk,

kemerahan pd kulit. Dpt menganggu kemampuan

mengemudi atau menjalankan mesin.

Dosis : Dewasa : Nitrokal retard 2.5 mg 2-3x/hr. Pd kasus berat 5

mg 2-3x/hr. Nitrokaf Retard Forte 1 kaps (5 mg) 2x/h

3. FUROSEMIDE

Indikasi : Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai edema

seperti: Edema karena gangguan jantung. Edema yang

berhubungan dengan ganguan ginjal dan sirosis hati.

Supportive measures pada edema otak. Edema yang

disebabkan luka bakar. Untuk pengobatan hipertensi

ringan dan sedang. Pendukung diuresis yang dipaksakan

pada keracunan.

Komposisi : Tiap tablet mengandung furosemida 40 mg

Tiap ml injeksi mengandung furosemida 10 mg

Kerja Obat : Furosemida adalah suatu derivat asam antranilat yang efektif

sebagai diuretik. Mekanisme kerja furosemida adalah

menghambat penyerapan kembali natrium oleh sel tubuli

ginjal. Furosemida meningkatkan pengeluaran air, natrium,

klorida, kalium dan tidak mempengaruhi tekanan darah yang

normal.

Dosis : Tablet :

Edema dan hipertensi pada orang dewasa dan anak – anak :

79
Dewasa :

sehari 1 – 2 kali, 1 – 2 tablet.

Dosis maksimum adalah 5 tablet sehari.

Dosis pemeliharaan adalah 1 tablet selang 1 hari.

Anak – anak:

Sehari 1 – 3 mg per kg bb/hari, maksimum 40 mg/hari.

E. Samping : Efek samping jarang terjadi dan relatif ringan seperti :

mual, muntah, diare, ruam kulit, pruritus dan penglihatan

kabr, pemakaian furosemida dengan dosis tinggi atau

pemberian dengan jangka waktu lama dapat

menyebabkan terganggunya keseimbangan elektrolit.

Hiperglikemia. Reaksi dermatologik seperti : urtikaria

dan eritema multiforma. Gangguan hematologik seperti :

agranulositosis, anemia, trombositopenia.

K. indikasi : Pasien dengan gangguan defisiensi kalium,

glomerolunefritis akut, insufisiensi ginjal akut, wanita

hamil dan pasien yang hipersensitif terhadap furosemida.

Anuria. Ibu menyusui.

4. SIMVASTATIN

Komposisi : Tiap tablet salut selaput mengandung simvastatin 20 mg

Farmakologi : Simvastatin merupakan obat yang menurunkan kadar

kolesterol (hipolidemik) dan merupakan hasil sintesa dari

hasil fermentasi. Aspergillus terreus. Secara invivo

80
simvastatin akan dihidrolisa menjadi metabolit aktif.

Mekanisme kerja dari metabolit aktif tersebut adalah

dengan cara menghambat kerja 3-Hidroksi-3-metilglutaril

koenzim A reduktase (HMG Co-A-reduktase), dimana

enzim ini mengkatalisa perubahan HMG Co-A menjadi

asam mevalonat yang merupakan langkah awal dari

sintesa kolesterol.

Indikasi : Terapi dengan “lipid-altering agents” dapat

dipertimbangkan penggunaannya pada individu yang

mengalami peningkatan resiko “artherosclerosis” vaskuler

yang disebabkan oleh hiperkolesterolemia. Terapi dengan

“lipid-altering agents” menunjang pada diet ketat, bila

respon terhadap diet dan pengobatan non-farmakologi

tunggal lainnya tidak memadai. Penyakit jantung koroner.

Pada penderita dengan penyakit jantung koroner dan

hiperkolesterolemia, simvastatin diindikasikan untuk :

 Mengurangi resiko mortalitas total dengan mengurangi

kematian akibat penyakit jantung koroner.

 Mengurangi resiko infark miokardial non fatal.

 Mengurangi resiko pada pasien menjalani prosedur

revaskularisasi miokardial.

81
 Hiperkolesterolemia.Menurunkan kadar kolesterol total
dan LDL pada penderita hiperkolesterolemia
primer(tipe lla dan llb)

Kontraindikasi :

 Hipersensitif terhadap simvastatin atau komponen obat.


 Penyakit hati aktif atau peningkatan transaminase serum yang menetap yang
tidak jelas penyebabnya.
 Wanita hamil dan menyusui.

Efek Samping : Abdominal pain, konstipasi, flatulens, astenia, sakit

kepala, miopati, rabdomiolisis. Pada kasus tertentuterjadi

angioneurotik edema.

Dosis : Pasien harus melakukan diet pengurangan kolesterol

sebelum dan selama pengobatan dengan simvastatin.

 Dosis awal yang dianjurkan 5-10 mg sehari sebagai dosis

tunggal pada malam hari. Dosis awal untuk pasien dengan

hiperkolesterolemia ringan sampai sedang 5 mg sehari.

Pengaturan dosis dilakukan dengan interval tidak kurang dari 4

minggu sampai maksimum 40 mg sehari sebagai dosis tunggal

malam hari. Lakukan pengukuran kadar lipid dengan interval

tidak kurang dari 4 minggu dan dosis disesuaikan dengan

respon penderita.

82
 Pasien yang diobati dengan immunosupresan bersama HMG

Co-A reductase inhibitor, agar diberikan dosis simvastatin

terendah yang dianjurkan.

 Bila kadar kolesterol LDL turun dibawah 75 mg/dl (1,94

mmol/l) atau kadar total kolesterol plasma turun dibawah 140

mg/dl (3,6 mmol/l) maka perlu dipertimbangkan pengurangan

dosis simvastatin.

 Penderita gangguan fungsi ginjal: tidak diperlukan penyesuaian

dosis, karena simvastatin tidak dieksresikan melalui ginjal

secara bermakna. Walaupun demikian, hati-hati pemberian

pada insufisiensi ginjal parah, dosis awal 5 mg sehari dan terus

dipantau ketat.

 Terapi bersama obat lain : simvastatin efektif diberikan dalam

bentuk tunggal atau bersamaan dengan “bile-acid sequestrants”.

5. VARSARTAN

Indikasi : Pengobatan hipertensi, terapi gagal jantung pada pasien yang

intoleransi terhadap ACE inhibitor. Pasca infark miokard.

Dosis : Untuk hipertensi : 80 mg 1 kali/hari dapat ditingkatkan sampai 160

mg/hari atau dapat ditambah diuretik jika TD belum dapat terkontrol.

Untuk gagal jantung : awal 40 mg 2 kali/hari. Maksimal : 320

mg/hari dalam dosis terbagi. Untuk pasca infark miokard : awal 20

mg 2 kali/hari

Pemberian Obat : Diberikan sebelum atau sesudah makan.

83
K. Indikasi : Hamil, laktasi, kerusakan hati yang berat, sirosis, obstruksi bilier.

Pasien dengan deplesi Na atau vol cairan tubuh, stenosis arteri ginjal

unilateral atau bilateral, gangguan ginjal dan hati, obstruksi saluran

empedu. Pada gagal jantung tidak dianjurkan penggunaan bersama

valsartan, ACA inhibitor, dan β-bloker. Hati-hati untuk memulai

terapi pada pasien gagal jantaung atau pasca infark miokard.

sinusitis, infeksi virus, nyeri perut, rinitis, sakit pinggang, faringitis,

artralgia

6. INSULIN LEVEMIR

Produsen Novo Nordisk

Komposisi Insulin detemir.

Indikasi Pengobatan DM.

Dosis sub kutan (SK) bersifat individual (1 x/hari, dalam kombinasi


Dosis
dengan obat antidiabetes oral).

Dapat diberikan bersama atau tanpa makanan : Utk pasien yang


diterapi dengan rejimen 1 x/hari, berikan bersama dengan makan
Pemberian malam atau menjelang tidur. Utk pasien yang memerlukan
Obat pemberian dosis 2 x/hari, dosis malam dapat diberikan bersama
makan malam atau menjelang tidur atau 12 jam sesudah pemberian
dosis pagi.

Kontra
Hipersensitivitas.
Indikasi

Penghentian terapi dapat menyebabkan hiperglikemia &


ketoasidosis. Melewatkan jadwal makan atau menjalani latihan fisik
Perhatian
yang keras & tidak direncanakan dapat menyebabkan hipoglikemia;
hipoalbuminemia berat. Kondisi infeksi & demam. Jangan berikan

84
secara IV & tidak untuk digunakan dalam pompa infus insulin. Dpt
mengganggu kemampuluan mengemudi atau menjalankan mesin.
Hamil & laktasi. Anak <6 tahun.

Efek Samping
yang Mungkin Hipoglikemia, reaksi pada tempat injeksi.
Timbul

Pd pemberian bersama obat antidiabetik oral, MAOI, penyekat β non


selektif, ACE inhibitor, salisilat, alkohol dapat mengurangi
kebutuhan akan insulin; pada pemberian bersama dengan tiazid,
Interaksi Obat
glukokortikoid, hormon tiroid, simpatomimetik β, hormon
pertumbuhan, danazol, oktreotid/lanreotid dapat meningkatkan
kebutuhan akan insulin.

Studi terhadap reproduksi pada binatang percobaan tidak


memperlihatkan adanya risiko terhadap janin tetapi tidak ada studi
Kategori terkontrol yang dilakukan terhadap wanita hamil, atau studi terhadap
Keamanan reproduksi binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping
Kehamilan (selain penurunan fertilitas) yang tidak dikonfirmasikan dalam studi
terkontrol pada wanita pada kehamilan trimester 1 (dan tidak ada
bukti risio pada trimester selanjutnya).

7. INSULIN NOVORAPID

Kandungan : Insulin aspart.

Indikasi : Pengobatan diabetes melitus.

Kontra Indikasi : Hipoglikemia.

Perhatian : Penyakit atau pengobatan yang menunda penyerapan

makanan dan atau meningkatkan kebutuhan insulin.

Pengosongan makanan atau tidak direncanakan, latihan

fisik yang keras. Kandungan metacresol yang dapat

85
menyebabkan reaksi alergi. Dapat mengurangi

kemampuan untuk mengendarai atau menjalankan

mesin. Kehamilan.

Efek Samping : Hipoglikemia. Indeks Keamanan Pada Wanita

Hamil Baik, penelitian reproduksi hewan tidak

menunjukkan risiko pada janin maupun penelitian

terkendali pada wanita hamil atau hewan coba

tidak memperlihatkan efek merugikan (kecuali

penurunan kesuburan) dimana tidak ada penelitian

terkendali yang mengkonfirmasi risiko pada

wanita hamil semester pertama (dan tidak ada

bukti risiko pada trisemester selanjutnya).

Kemasan : Flexpen 100 u/ml x 3 ml x 5's.

Dosis : Dosis disesuaikan individu. Secara subkutan.

Penyajian : Dikonsumsi bersamaan dengan makanan


8. CODEIN

Komposisi : Kodein Fosfat hemihidrat setara dengan Kodein 10


mg
Indikasi : Antitusif dan Analgesik
kontraindikasi : Asma bronkial, emfisema paru-paru, trauma kepala,
tekanan intrakranial yang meninggi, alkoholisme akut,
setelah operasi saluranempedu.
Dosis : Sebagai analgesik:
- Dewasa : 30 - 60 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai
kebutuhan.
- Anak-anak : 0,5 mg/kg BB, 4-6 kali sehari

86
Sebagai antitusif :
Dewasa : 10-20 mg, tiap 4 - 6 jam sesuai kebutuhan,
maksimum 60 mg perhari.
 Anak6-12tahun : 5-10 mg, tiap 4 - 6 jam,
maksimum 60 mg perhari.
 Anak 2-6 tahun : 1 mg/kg BB perhari dalam dosis
terbagi, maksimum 30 mg perhari.
Sebagai antitusif tidak dianjurkan untuk anak di
bawah 2 tahun.
EFEK SAMPING :
 Dapat menimbulkan ketergantungan.
 Mual, muntah, idiosinkrasi, pusing, sembelit.
 Depresi pernafasan terutama pada penderita asma, depresi jantung
dan syok.
PERINGATAN DAN PERHATIAN :
 Hati-hati penggunaan pada pasien dengan infark miokardial dan
penderita asma.
 Hindari minuman beralkohol.
 Tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan karena dapat
menyebabkan kerusakan fungsi hati.
 Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita penyakit ginjal.
 Hati-hati pada pemberian jangka panjang.

87
III.3 PEMBAHASAN

Home care dilakukan pada pasien Jamaluddin 65 tahun dengan penyakit

diabetes mellitus komplikasi makrovaskular serta kolesterol. Semakin tingginya

prevalensi penderita DM dengan komplikasi maka perlu dilakukan suatu evaluasi

proses palaksanaan terapi salah saatunya dengan metode home care. Sebelum

melakukan home care terlebih dahulu apoteker menghubungi pasien untuk

meminta persetujuan dilakukan home care. Untuk memudahkan mengunjungi

rumah pasien dilihat dari data pasien seperti nomor telepon dan alamat. Namun,

tidak semua pasien berserdia untuk dikunjungi. Home care dilakukan kepada

pasien rujuk balik .Pelayanan Program Rujuk Balik adalah Pelayanan Kesehatan

yang diberikan kepada penderita penyakit kronis dan masih memerlukan

pengobatan atau asuhan keperawatan jangka panjang yang dilaksanakan atas

rekomendasi/rujukan dari Dokter Spesialis/Sub Spesialis yang merawat.

Diabetes melitus dengan komplikasi hipertensi dan kolesterol merupakan

penyakit dengan pengobatan jangka panjang yang memerlukan pelayanan kefarmasian

home care untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Analisis home

care ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan konseling obat dalam home care

terhadap kepatuhan pasien dalam penggunaan obat.

Pada saat pelaksanaan home care Kunjungan ke rumah pasien dengan

melihat buku PMR (Patient Medicataion Record). kemudian memberikan

konseling tentang obat. Untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien terhadap

penggunaan obat, pada pasien dilakukan penilaian awal (pretest) sebelum

pemberian konseling terlebih dahulu menerapkan tiga pertayaan utama ( Three

Prime Questions) yakni apa yang dokter katakana tentang obat anda, apa yang

88
dokter jelaska tentang harapan setelah minum obst ini, bagaimana penjelasan

dokter tentang minum obat selanjutnya melakukan penilaian akhir (posttest)

dengan melihat jumlah obat untuk menilai kepatuhan pasien minum obat , Metode

analisis digunakan untuk Menilai kepatuhan pasien minum obat sehingga tujuan

terapi tercapai. Sedangkan analisis digunakan untuk menggambarkan pengaruh

pemberian konseling obat terhadap kepatuhan pasien dalam penggunaan obat.

Lingkup pemberian informasinya sendiri mencakup informasi cara

penggunaan, aturan pakai, durasi penggunaan, efek samping yang mungkin

timbul,

serta makanan/minuman dan aktivitas yang harus dilakukan/dihindari selama

penggunaan obat. resep Informasi tentang suatu obat dan konseling yang

dilakukan sangat mempengaruhi penggunaan obat tersebut dan tinggi rendahnya

pemahaman

konsumen mengenai produk tergantung pada tingkat kebenaran informasi yang

disampaikan.

Dari hasil analisis pada tabel terlihat dari tanggal 18 juli 2017 samapi 22 juli

2016 untuk melihat kepatuhan pasien minum yaitu jumlah obat furosemide dan varsartan

jumlahnya masi tetap dalam hal ini pasien tidak mengonsumsi obat tersebut sehingga

kami selaku tim home care memberikan konseling mengenai fungsi furosemide dan

varsartan serta penggunaannya seningga pasien bersedia untuk mengonsumsi obat bentuk

informasi yang sdapat diberikan yakni Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai

edema (pembengkakan ) seperti: Edema karena gangguan jantung dimana pasien

tersebut mengalami edema maka seharrusya obat harus diminum sesuai resep hal

ini terkait dengan kondisi pasien untuk mengeluarkan cairan tubuh yang berlebih.

89
Varsartan diindikasikan untuk hipertensi, terapi gagal jantung pada pasien yang

intoleransi terhadap ACE inhibitor. Pasca infark miokard jadi obat tetap harus diminum

mengiat kondisi pasien karna ketidak patuhan minum obatdapat memperburuk keadaan

pasien

Insulin detemir atau "Levemir" adalah insulin long-acting. Ketika


digunakan dalam kombinasi dengan insulin pendek atau cepat bertindak makan-
terkait seperti NovoRapid ®, Levemir digunakan pada diabetes mellitus yakni
suatu kondisi dimana pankreas tidak memproduksi cukup insulin untuk
mengontrol gula darah (glukosa). Oleh karena insulin ekstra yang dibutuhkan.
Pasien dengan diabetes tipe 1 selalu membutuhkan insulin untuk mengontrol
kadar gula darah mereka. Beberapa pasien Levemir menurunkan tingkat gula
darah Anda setelah injeksi. Efeknya dapat berlangsung sampai 24 jam. Seperti
dengan semua insulin, durasi tindakan akan bervariasi sesuai dengan dosis, tempat
suntikan, aliran darah, suhu dan tingkat aktivitas fisik. FlexPen adalah pra-diisi
dial-a-dosis insulin pena mampu memberikan dari 1 sampai 60 unit Levemir
dengan penambahan sebesar 1 unit. Obat ini tidak menimbulkan ketergantungan.
Clopidogrel diindikasikan untuk mengurangi kejadian aterosklerosis (infark
miokard, stroke, dan vascular death) pada pasien dengan riwayat aterosklerosis olek
stroke, infark miokard, atau penyakit arteri perifer. Nitrokaf retard memiliki indikasi
Pencegahan & terapi jangka panjang angina pectoris, kemudian Simvastatin dikenal
sebagai obat kolesterol tinggi (hiperkolesterol) atau gangguan lemak tubuh
(dislipidemia). Obat ini termasuk golongan obat statin atau disebut juga golongan obat
HMG CoA reductase inhibitors (obat penghambat konversi lemak tubuh). Tidak seperti
golongan obat penurun lemak lainnya, fungsi utama statin ialah menurunkan kolesterol
jahat LDL. LDL adalah lemak utama penyebab penyakit jantung dan stroke. Dengan
demikian simvastatin juga dikenal sebagai “kardioprotektor”, yakni melindungi jantung
dari penyakit dan serangan jantung. Simvastatin juga dikenal memiliki efek pleiotrofik,
yakni khasiat yang banyak selain untuk menurunkan lemak.

Simvastatin terbukti dapat menurunkan angka kasus penyakit jantung


koroner, memberbaiki kondisi gula darah, menurunkan angka kasus stroke, dan

90
bahkan menurunkan kematian. Simvastatin merupakan salah satu obat penurun
kolesterol dalam darah atau yang lebih dikenal dengan statin. Kolesterol jahat
(LDL) mudah menggumpal dan menempel pada dinding pembuluh darah. Suatu
kondisi yang dapat membentuk plak dan menyebabkan aterosklerosis atau
penyumbatan pembuluh darah. Statin menurunkan resiko komplikasi atherosklerosis
sebesar 30% pada pasien angina stabil. Beberapa penelitian juga menunjukkan
manfaat statin pada berbagai kadar kolesterol sebelum terapi, bahkan pada pasien
dengan kadar kolesterol normal. Terapi statin harus slalu dipertimbangkan pada
pasien jantung koroner stabil dan angina stabil. Target dosis terapi statin untuk
menurunkan morbiditas dan mortalitas kardiovaskuler sebaiknya berdasarkan
penelitian klinis yang telah dilakukan dosis statin yang direkomendasi adalah
simvastatin 40 mg/hr, pravastatin 40 mg/hr, dan atorvastin 10 mg/hr. Bila dengan
dosis diatas kadar kolesterol total dan LDL tidak mencapai target, maka dosis dapat
ditingkatkan sesuai toleransi pasien sampai mencapai target. Statin juga dapat
memperbaiki fungsi endotel, menstabilkan plak, mengurangi pembentukan trombus,
bersifat anti inflamasi, dan mengurang oksidasi lipid. Statin sebaiknya diteruskan
untuk mendapatkan keuntungan terhadap kelangsungan hidup jangka panjang.
Kontraindikasi pasien dengan penyakit hati yang aktif, pada kehamilan dan menyusui.
Efek samping miosis yang reversibel merupakan efek samping yang jarang tapi
bermakana. Statin juga menyebabkan sakit kepala, perubahan nilai fungsi ginjal dan
efek saluran cerna
Furosemida efektif untuk pengobatan berbagai edema seperti: Edema
karena gangguan jantung. Edema yang berhubungan dengan ganguan ginjal dan
sirosis hati. Supportive measures pada edema otak. Edema yang disebabkan luka
bakar. Untuk pengobatan hipertensi ringan dan sedang. Pendukung diuresis yang
dipaksakan pada keracunan. Codein merupakan analgesik agonis opioid (agonis
opioid merupakan obat opioid ), Efek kodein terjadi apabila kodein berikatan
secara agonis dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan saraf pusat.
Kodein juga merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf pusat dengan
menekan pusat batuk. Obat ini sering disalahgunakan sebagaian orang untuk
menenangkan diri. Karena ada sifat morfin di dalamnya. Maka dari itu

91
penggunaan dalam jangka panjang tidak dianjurkan. Karena dikhawatirkan akan
menjadika kecanduan/ketergantungan.
Insulin levemir untuk pengobatan diabetes Dapat diberikan bersama atau
tanpa makanan : Utk pasien yang diterapi dengan rejimen 1 x/hari, berikan
bersama dengan makan malam atau menjelang tidur. Utk pasien yang memerlukan
pemberian dosis 2 x/hari, dosis malam dapat diberikan bersama makan malam
atau menjelang tidur atau 12 jam sesudah pemberian dosis pagi.
Hasil analisis menunjukan bahwa Ketidak patuhan pasien dalam minum

obat dapat mengakibatkan terjadi kegagalan terapi. Konsultasi yang diberikan

kepada pasien tidak hanya bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan

informasi mengenai keadaan dan pengobatan yang diresepkan, tetapi juga untuk

mengajak pasien menuju kebiasaan dan perilaku yang baik untuk kesehatan

Konseling yang dapat diberikan pada keluarga pasien :

Mengonsumsi Simvastatin dengan Benar

Simvastatin dapat dikonsumsi pada malam hari, baik sebelum atau sesudah
makan. Perubahan gaya hidup, misalnya mengurangi konsumsi makanan
berlemak, meningkatkan konsumsi serat, berhenti merokok, serta teratur
berolahraga, sebaiknya dilakukan agar dapat meningkatkan keefektifan obat
ini.

Bagi yang tidak sengaja melewatkan jadwal meminum simvastatin,


disarankan untuk segera meminumnya begitu teringat. Tetapi jangan mengganti
dosis yang terlewat dengan menggandakan dosis simvastatin yang diminum
berikutnya.

Peringatan dan Perhatian:


 Pemberian furosemida pada pasien diabetes melitus, gula darah dan urin
harus diperiksa secara teratur.

92
 ukan pemeriksaan berkala terhadap susunan elektrolit untuk mengetahui
kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan.
 Pasien diharuskan melapor bila terjadi gejala penurunan level serum
kalium (diare, muntah, anoreksia).
 Penderita yang Pemberian perlu pengawasan ketat dan dosis harus
disesuaikan dengan kebutuhan.
 Dianjurkan untuk memulai dosis kecil.
 Perlu dilakdiketahui sensitif terhadap sulfonamida dapat menunjukkan
reaksi alergi dengan furosemida.
Peringatan dan Perhatian
 Selama terapi dengan simvastatin harus dilakukan pemeriksaan kolesterol
secara periodik. Pada pasien yang mengalami peningkatan kadar serum
transaminase, perhatian khusus berupa pengukuran kadar serum
transaminase harus dilakukan jika terjadi peningkatan yang menetap
(hingga 3 kali batas normal atas) pengobatan segera dihentikan.
 Dianjurkan melakukan tes fungsi hati sebelum pengobatan dimulai, 6 dan
12 minggu setelah pengobatan pertama, dan berikutnya secara periodik
(misalnya secara semianual).
 Hati-hati penggunaan pada pasien yang mempunyai riwayat penyakit hati.
 Pada penggunaan jangka panjang dianjurkan melakukan tes laboratorium
secara periodik tiap 3 bulan untuk menentukan pengobatan selanjutnya.
 Terapi dengan simvastatin harus dihentikan sementara atau tidak
dilanjukan pada penderita dengan miopati akut dan parah atau pada
penderita dengan resiko kegagalan ginjal sekunder karena rabdomiolisis
atau terjadi kenaikan “creatinin phosphokinase” (CPK).
 Penderita agar segera memberitahukan kepada dokter apabila terjadi nyeri
otot yang tidak jelas, otot terasa lemas dan lemah.
 Simvastatin tidak efektif pada pasien dengan “homozygous familial
hiperkolesterlolemia”.
 Simvastatin tidak diindikasikan dimana hipertrigliseridemia merupakan
kelainan utama (misalnya hiperlipidemia tipe I, IV dan V).

93
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 KESIMPULAN

Pelaksanaan konseling dalam home care berpengaruh terhadap


peningkatan kepatuhan pasien dalam penggunaan obat. Hal ini terlihat dari
peningkatan kepatuhan pasien dalam mengkomsumsi obat dimana
pemahaman tentang suatu obat dan konseling yang dilakukan sangat
mempengaruhi penggunaan obat tersebut dan tinggi rendahnya
pemahaman konsumen mengenai obat tergantung pada tingkat kebenaran
informasi yang disampaikan.

IV.2 SARAN

Sebaiknya pelaksanaan home care perlu di tingkatkan pada pasien


Diabetes mellitus karena Informasi tentang suatu obat dan konseling yang
dilakukan sangat mempengaruhi penggunaan obat tersebut dan tinggi
rendahnya pemahaman konsumen mengenai obat tergantung pada tingkat
kebenaran informasi yang disampaikan sehinggadapat mengrang
kegagalan terapi akibat ketidak patuhan pasien minum obat pada pasien
kronis khususnya pasien dianetes yang memerlukan pengobatan janggga
panjang.

94
DAFTAR PUSTAKA

1. Abdulah Rizky, dkk .2013 jurnal Pengaruh Pelayanan Informasi Obat


terhadap Keberhasilan Terapi Pasien Diabetes Melitus Fakultas Farmasi
Universitas Padjadjaran
2. Menteri Kesehatan RI. 2014. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek. Depkes RI. Jakarta.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 Tentang


Kesehatan.

4. Umar, M. 2012. Manajemen Apotek Praktis. PD.Wira Putra Kencana.


Jakarta.

5. Anief, M. 2005. Manajemen Farmasi. Gadjah MadaUniversity Press.


Yogyakarta.

6. Departemen Kesehatan RI., 2002, “Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 1332/Menkes/Per/X/2002, tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993,
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek”, Jakarta.

7. Departemen Kesehatan RI No.2002. Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 1332/Menkes/Per/X/2002, tentang Perubahan
atas Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 922/Menkes/Per/X/1993
tentang Ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek. Jakarta.
8. PT Kimia Farma. 2015. Sejarah Kimia Farma. Jakarta
(http://www.kimiafarma.co.id/profil/profilperusahaan/sejarah.html)
Diakes pada tanggal 16 Juli 2016

9. Mashuda, A. 2011. Pedoman Pelayanan Kefarmasian Yang Baik (CPFB)/


Good Pharmacy Practice (GPP). ( http: //documents.tips/ documents
/pedoman-cara-pelayanan kefarmasian-yang-baikpdf.) Diakses pada
tanggal 16 Juli 2016.
10. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Undang – Undang Republik
Indonesia No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Jakarta;2009
11. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengelolaan Obat
Publik dan Perbekalan Kesehatan di daerah Kepulauan. Direktorat Bina
Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan. Jakarta;2007
12. Departemen Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan RI No 1027
tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakart;2004

95
13. Cipolle, RJ, Strand, LM, Morley. In Pharmaceutical Care Practice,
Identifying, Resolving, And Preventing Drug Therapy Problem: The
Pharmacist s Responsibility, The McGraw-Hill Companies. 1998.‟
Inc.,USA, pp. 76-77.
14. Rantucci, JS. Pharmacist Talking with Patient : A Guide to Patient
Counseling, British Columbia, Canada. 2007
15. Batubara, P. L. Farmakologi Dasar, edisi II. Lembaga Studi dan
Konsultasi Farmakologi. Jakarta;2008
16. Peraturan Menteri Kesehatan RI. Nomor 725a/1989 tentang
Penggolongan obat berdasarkan kemanan dan macam obat
17. Jogiyanto. Analisis & Desain Sistem Informasi : pendekatan terstruktur
teori dan praktek aplikasi bisnis. Andi, Yogyakarta.2001
18. Tumwine Y, Kutyabami P, Odoi RS, Kalyango JN. Availability and
Expiry of Essential Medicines and Supplies during the ‘Pull’ and ‘Push’
Drug Acquisition Systems in a Rural Ugandan Hospital. Tropical Journal
of Pharmaceutical Research December 2010; 9 (6): 557–564.
19. Sitwat Hayat, Atif, Naila Shaikh. Barriers and Myths to Initiate Insulin
Therapy for
Type 2 Diabetes Mellitus at Primary Health Care Centers of Hyderabad
District. World Applied Sciences Journal, 2010: 8 (1) 66-72.
20. Hermanns, Norbert, Marina mahr, dkk. Bariers towards insulin therapy in
type 2 diabetic patients: results of an observasional longitudinal study.
BioMed Central,
2010 : 113.
21. Masharani, Umesh, John H.K., dan Michael S.G. Pankreatic Hormones
& Diabetes Mellitus. Basic & Clinical Endocrinology Seventh Edition.
Hal : 658-740.
22. Patrick, L.L. Kenneth. Diabetes mellitus, type 2 terupdate 27 September
2010. http://www.medscape.org/viewarticle/590729. Download 8 Januari
2011.
23. PERKENI. Pengelolaan Diabetes Melitus Tipe-2. Konsensus
Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia, 2006 :
3-27 Penyakit Dalam Jilid III Edisi IV, 2006 : 1868-1869.

96