Anda di halaman 1dari 8

DISKUSI TATAP MUKA POST CORE CROWN

Nama Pasien : Fadlan Fauzi Helmi


Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia Pasien : 20 tahun
Elemen gigi : 21
Nama Operator : Dwi Septiani
NIM : 1813101020077
Tanggal : 19 Desember 2019

Status Umum
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit sistemik.

Status Khusus
a. Gigi 21 mengalami perubahan warna yang diakibatkan karena tambalan
yang tidak baik.
b. Gigi 21 telah selesai dilakukan perawatan saluran akar.
c. Gigi 21 tidak pernah sakit atau terasa goyang.
d. Gigi 21 belum pernah dibuatkan mahkota tiruan .
e. Pasien ingin dibuatkan mahkota tiruan pada gigi 21 untuk memperbaiki
fungsi pengunyahan dan estetik.

Pemeriksaan Objektif
Hasil pemeriksaan ekstraoral, wajah terlihat simetris, bibir sehat, kelenjar
submandibula kanan dan kiri tidak teraba yang menunjukkan tidak adanya
kelainan.
Hasil pemeriksaan intraoral terlihat mahkota gigi 21 telah dilakukan
perawatan saluran akar dan direstorasi menggunakan resin komposit (Gambar 1).
Hasil tes palpasi dan perkusi pada gigi 21 memberikan respon negatif.

1
Gambar 1. Foto Klinis Gigi 21 bagian labial Gambar 2. Gigi 21 bagian palatal

Pemeriksaan Radiograf
Pada pemeriksaan radiograf perbandingan mahkota akar 1:2 dimana
terlihat jumlah akar 1, bentuk akar lurus, saluran akar normal, ligamen periodontal
normal, lamina dura normal, apeks tertutup, terdapat konstriksi apikal.
Ditemukan bahan pengisi saluran akar padat dan hermetis (Gambar 3).

Gambar 3. Foto Radiograf Gigi 21

Diagnosis : endodontically treated tooth


Rencana Perawatan : Post core crown dengan pasak fiber.

Prognosis :
a. Dari sudut pandang periodonsia: prognosis baik, tidak ada mobility pada gigi
tersebut dan oral hygiene pasien baik.
b. Dari sudut pandang prostodonti: prognosis baik, karena struktur gigi masih
mencukupi untuk dilakukan restorasi pasca endodontik.
c. Dari sudut pandang endodonsia: prognosis baik, karena telah dilakukan
perawatan saluran akar dengan bahan pengisi yang padat dan hermetis.

2
d. Faktor pendukung: prognosisnya baik, karena pasien tidak memiliki riwayat
penyakit sistemik, pasien kooperatif dan akses ke RSGM mudah.

Persiapan Alat:
1. Alat standar (kaca mulut, sonde berkait, sonde lurus, pinset, ekskavator)
2. Bur intan bulat
3. Bur fisur
4. Peeso reamer
5. Penggaris besi
6. Kapas butir
7. Kapas gulung
8. Mixing slab
9. Spatula semen
10. Sendok cetak

Persiapan Bahan :
1. Pasak fiber
2. Semen pasak
3. Tumpatan sementara
4. Double impression
5. Wax
6. Benang retraksi
7. Akrilik putih
8. Vaseline
9. Semen sementara non eugenol
Prosedur Kerja:
Kunjungan I
1. Pengisian rekam medik
2. Mengukur panjang kerja pasak, panjang dan diameter pasak (ukuran pasak
yg tersedia)
a. Panjang pasak 1:1 dengan panjang mahkota gigi atau bahan pengisi
tersisa minimal 5 mm.

3
Menyisakan minimal 5 mm guttap di apikal.
2/3 dari panjang kerja perawatan saluran akar atau 2/3 panjang gigi.
Panjang kerja perawatan saluran akar 23 mm
2/3x23= 15 mm
Panjang pasak : 15 mm
b. Diameter pasak
Diameter: 1,2,3 (putih, kuning, biru)

Gambar 4 . Pasak fiber


3. Buka tumpatan sementara
4. Pencetakan mahkota sementara
a. Pencetakan gigi menggunakan alginate dan pengecoran menggunakan
gipsum
b. Wax up
c. Pencetakan (yang telah di wax up) menggunakan double impression
5. Preparasi pasak
a. Pembuangan gutta perca sepanjang panjang kerja pasak (tandai dengan
stopper) menggunakan peeso reamer yang dihubungkan ke handpiece.
b. Minimal pasak fiber yg masuk ke dalam saluran akar = sepanjang
mahkota
c. Minimal gutta perca yang tersisa = 5 mm
d. Bentuk preparasi kearah apikal : sesuai dengan bentuk anatomi saluran
akar, mengecil ke apikal.
e. Bentuk penampang pasak : tidak boleh bulat, harus oval

4
f. Besar preparasi : Minimal menyisakan ½ dari diameter akar untuk akar
besar atau minimal meninggalkan 1 mm jaringan sehat disekeliling
saluran akar, pada akar kecil sampai normal.

Gambar 4.Preparasi dengan Peeso Reamer

6. Percobaan pasak fiber ke dalam saluran akar


7. Dilakukan foto radiograf pertama
8. Potong pasak fiber sebatas kamar pulpa
9. Sementasi pasak fiber
a. Pengadukan semen pasak
b. Ambil lentulo lalu masukkan semen ke dalam saluran akar hingga
merata, kemudian masukkan pasak fiber yang telah dioleskan semen
ke dalam saluran akar.
10. Build up mahkota gigi 21
11. Preparasi mahkota
a. Permukaan proksimal
Pedoman : Berupa garis yang ditarik dari gingival crest kearah
oklusal, searah sumbu gigi berjarak 1,5 mm dari titik kontak.
Cara : Menggunakan bur pointed taper cylindrical, diletakkan diantara
garis pedoman dan titik kontak, ujung bur setinggi gingival crest dan
sejajar dengan sumbu gigi/garis pedoman. Bur diputar, pemotongan
dari arah buko-palatal. Setelah titik kontak terputus, pengeburan
diteruskan sampai garis pedoman. Sehingga jarak gigi tersebut 1-1,5
mm dari gigi tetangga. Didapat kesejajaran dinding mesial-distal dan
bidang preparasi rata dan halus.

5
Gambar 5. Bur Pointed Tapered Cylindrical

Gambar 6.Pedoman Preparasi Proksimal

b. Permukaanoklusal
Pedoman : Buat garis dengan pensil berjarak 1-2 mm, namun jika gigi
mengalami fraktur maka cukup garis lurus untuk meratakan.
Cara : Menggunakan bur round end, arah penggambilan dari bukal ke
lingual membentuk sudut 450 dengan sumbu gigi. Didapat bidang
preparasi yang rata dan halus.

Gambar 7. Bur Round End

Gambar8Pedoman Preparasi Oklusal

c. Permukaan bukal
Pedoman : Buat groove dengan kedalaman 1-1,5 mm, dibuat 2-3
groove, kedalaman groove semakin ke servikal semakin dangkal.

6
Cara :Pengeburan bertahap dengan mengikuti pedoman preparasi
sampai pedoman groove hilang. Permukaan preparasi rata dan halus.

Gambar 9.Pedoman Preparasi labial


d. Permukaan lingual
Preparasi dengan kedalaman 0,5-1 mm. Dimana cingulum ke arah
oklusal sesuai dengan bentuk anatomi gigi. Dan permukaan preparasi
halus dan rata.

e. Preparasi tepi servikal


Menggunakan bur tapper round end dengan bentuk preparasi
membentuk sudut yang membulat (bevel).

f. Pembentukan finishing line


Pasang benang retraksi lalu gunakan finishing bur(TR 25EF) pita
kuninguntuk membulatkan tepi preparasi yang tajam, menghaluskan
seluruh permukaanbidang preparasi sehingga rata dan bebas dari
undercut.

Gambar 10. Bur Finishing

12. Pencetakan menggunakan double impression


13. Pembuatan catatan gigit menggunakan wax
14. Pengiriman ke laboratorium

7
15. Pembuatan dan pemasangan mahkota sementara
a. Pengisian hasil cetakan (yang telah di wax up menggunakan double
impression) dengan dentalon
b. Lalu dicetak kembali pada gigi
c. Poles hasil cetakan
d. Pasang dan sementasi sementara dengan freegenol
Kunjungan II
1. Adaptasi crown
Perhatikan bentuk anatomi crown, artikulasi dengan gigi antagonis, titik
kontak dengan gigi tetangga, adaptasi terhadap gingiva.
2. Sementasi crown
Sementasi menggunakan GIC tipe 1 luting atau free eugenol

Kunjungan III

1. Dilakukan kontrol 1 minggu kemudian untuk dilakukan pemeriksaan :


 Subjektif : apakah pasien mengeluhkan rasa sakit atau rasa tidak nyaman
atau tidak, mengganjal, rasa goyang, ada perdarahan gingiva atau tidak.
 Objektif : dilakukan pemeriksaan untuk melihat artikulasi, kegoyangan
mahkota, keadaan gingiva.