Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TETAP PRATIKUM

KIMIA ANALISIS DASAR


ANALISIS TITRASI ASAM BASA
(KARBONAT BIKARBONAT)

OLEH :

KELOMPOK 2
1. AHMAD RAFI (061940411
2. DWI INDAH LESTARI (061940411962)
3. FANYA PUTRI AMANDA (061940411)
4. MGS. HIDAYATULLAH (061940411)
5. RAHMA LADAINA (061940411)
6. USWATUN KHASANAH (061940411)
7. YUDA PUJA KESUMA (061940411)

KELAS : 1 EGA

INSTRUKTUR : Ir. NYAYU ZUBAIDAH, M.Si.

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
PALEMBANG
TITRASI ASAM BASA
(PENENTUAN KARBONAT - BIKARBONAT)

I. TUJUAN PERCOBAAN

Mahasiswa mampu melakukan penentuan karbonat dan bikarbonat dalam


cuplikan dengan cara titrasi menggunakan dua indikator.

II. . DASAR TEORI

Ion karbonat dan bikarbonat merupakan salah satu bagian dari golongan basa.
Umumnya ion-ion ini banyak ditemukan pada batu kapur atau batu tulis yang
digunakan sebagai campuran bahan-bahan bangunan. Dalam penentuan kadar ion
karbonat dan ion bikarbonat dalam suatu cuplikan digunakan metode asidimetri. Titrasi
asidimetri merupakan salah satu bagian analisis volumetri kuantitatif yang berdasarkan
reaksi netralisasi. Titrasi asidimetri adalah titrasi netralisasi dengan menggunakan asam
sebagai larutan standar.

Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang dipergunakan untuk
menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana penentuannya menggunakan suatu
larutan standar yang sudah diketahui konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam
titrasi memegang peranan yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak
orang yang menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.

Titrasi ion karbonat dan ion bikarbonat menggunakan indikator ganda yakni indikator
fenolftalein dan metil orange. Seperti yang tergambar pada reaksi-reaksi:
CO32- + H3O+ HCO3- + H2O (Fenolftalein)
HCO3- + H3O+ H2CO3 + H2O (Metil Orange)
Campuran dari karbonat dan bikarbonat atau karbonat, dapat dititrasi dengan HCl
standar sampai kedua titik titrasi. Fenolftalein bekerja sebagai indikator untuk titrasi tahap
pertama dengan perubahan warna dari merah ke tidak berwarna. Metil orange bekerja sebagai
indikator tahap kedua dengan perubahan warna dari kuning menjadi warna jingga atau kuning
kemerahan. Fenolftalein dengan jangkauan pH 8,0 sampai 9,6 merupakan indikator yang cocok
untuk titik akhir pertama, karena pH larutan NaHCO3 berjumlah 8,35. Metil Orange dengan
jangkauan pH 3,1 – 4,4 cocok untuk titik akhir kedua. Suatu larutan jenuh CO2 mempunyai pH
kira-kira 3,9. Kedua titik akhir tersebut tidak satupun membentuk patahan yang sangat tajam.

Fenolphtalein tergolong asam yang sangat lemah dalam keadaan yang tidak terionisasi
indikator tersebut tidak berwarna. Jika dalam lingkungan basa fenolphtalein akan terionisasi
lebih banyak dan memberikan warna terang karena anionnya.

Metil jingga adalah garam Na dari suatu asam sulphonic di mana di dalam suatu larutan
banyak terionisasi, dan dalam lingkungan alkali anionnya memberikan warna kuning,
sedangkan dalam suasana asam metil jingga bersifat sebagai basa lemah dan mengambil ion
H+, terjadi suatu perubahan struktur dan memberikan warna merah dari ion-ionnya.

Gambar : Kurva Titrasi dari Na2CO3 dengan HCl

Campuran karbonat dan bikarbonat, atau karbonat hidroksida dapat ditritasi dengan HCl
standar sampai kedua titik akhir tersebut diatas. Dalam tabel, V1 adalah volum asam dalam ml
yang digunakan dari permulaan sampai titik akhir fenolftalein dan V2 merupakan volum dari
titik akhir fenolftalein sampai titik akhir metil orange. Hal ini membuktikan bahwa NaOH
hanya bereaksi dalam tahap kedua, dan Na2CO3 bereaksi dalam kedua tahap dengan
menggunakan volum titran yang sama dalam kedua tahap.

Tabel : Hubungan Volum dalam Titrasi Karbonat


Zat Hubungan Untuk Milimol Zat
Identifikasi Kualitatif

NaOH V2 = 0 M x V1

NaHCO3 V1 = V1 M x V1

Na2CO3 V1 = 0 M x V2

NaOH + Na2CO3 V1 > V2 NaOH = M (V1-V2)

NaHCO3 + NaCO3 V1 < V2 Na2CO3 = M x V2

NaHCO3 = M (V2-V1)

Na2CO3 = M x V1

Sumber : Underwood, 1990

III. ALAT YANG DIGUNAKAN


1. Neraca Analitis 4
2. Kaca Arloji 12
3. Erlenmeyer 250 ml 4
4. Buret 50 ml 4
5. Pipet Ukur 25 ml 4
6. Gelas Kimia 100 ml, 500 ml 4
7. Labu Takar 100 ml, 500 ml 4
8. Spatula 4
9. Pengaduk 4
10. Bola Karet 8

IV. GAMBAR ALAT(TERLAMPIR)


V. BAHAN YANG DIGUNAKAN
1. Cuplikan yang mengandung karbonat – bikarbonat
2. HCl
3. Na2CO3
4. Indikator Fenolftalein
5. Indikator Metil Orange
6. Indikator Metil Merah
7. Aquadest

VI. LANGKAH KERJA

1. Standardisasi Larutan Baku HCl dengan Na2CO3


• Membuat larutan 0,1 M HCl dengan volume 500 ml
• Menimbang dengan teliti 0,4 gr Na2CO3 , melarutkan dengan aquadest sampai 100 ml
• Menyiapkan 3 buah Erlenmeyer
• Mengambil Alikot sebanyak 20 ml untuk masing-masing Erlenmeyer
• Menambahkan 2 tetes indikator metil merah
• Mentritasi dengan HCl , kemudian mencatat volumenya
2. Penentuan Karbonat Bikarbonat
• Menimbang dengan teliti 0,50 gr Cuplikan yang mengandung Na2CO3 dan NaHCO3
• Melarutkan kedalam air demineral
• Menyiapkan 3 buah Erlenmeyer, mengisi masing-masing dengan 25 ml alikot
• Menambahkan 2 tetes indikator fenolftalein
• Mentritasi dengan HCl hingga berubah warna dari merah menjadi tidak berwarna
• Mencatat volume titran
• Menambahkan 2 tetes indikator metil orange
• Mentritasi dengan HCl hingga berubah warna dari kuning menjadi jingga

VII. DATA PENGAMATAN


1. Standarisasi Larutan HCl
N0 Percobaan Volume HCl (ml)
1 20,5
2 24
Rata rata 22,25

2. Penentuan Karbonat Bikarbonat 90,4 gr Na2CO3 +0,6 gr NaHCO3 )


No percobaan Volume HCl (ml) Volume HCl (ml) pengamatan
pada titrasi 1 (pp) pada titrasi 2 (m.0)

1 9,5 ml 30ml Bening-


pinkbening-
orangejingga

2 10ml 33ml Bening-


pinkbening-
orangejingga

3 10ml 35ml Bening-


pinkbening-
orangejingga

Rata rata 9,8ml 32,6ml

3. Penentuan Karbonat Bikarbonat 90,5 gr Na2CO3 + 0,5 gr NaHCO3 )


No percobaan Volume HCl (ml) Volume HCl (ml) Pengamatan
Pada titrasi 1 (pp) Pada Titrasi 2
(m.0)
1 9,5 ml 29,5 ml Bening-
pinkbening-
orangejingga

2 10ml 28,5 ml Bening-


pinkbening-
orangejingga

3 12ml 29ml Bening- pink-


bening-
orangejingga

Rata rata 10,5 ml 29ml


VIII . PERHITUNGAN

9.1 Standarisasi larutan HCl

Menentukan volume HCl (0,4 gr Na2CO3)


Mg Na2CO3 = V HCl x N HCl
BE Na2CO3
NHCl = mg Na2CO3 x 25/100
BE Na2co3 x V HCl
= 400 x 25/100
25 x VHCl
= 100 mg
53 x 22,25 ml
= 100 mg
1179,25 mg ml/mek
= 0,0847 N

9.2 Pembuatan HCl 0,1 M dengan V 1000ml

Volume yang diperlukan

p
M1 = % x x 1000

BM

= 0,37 x 1,19 x 1000

36,5

= 12,0630M

M1V1 = M2V2

12,0630M. V1 = 0,1 M x 1000 ml

V1 = 8,2829 ml
B. Pembuatan karbonat dengan HCl
Cuplikan 1
%Na2CO3 = V HCl x N HCl x BE Na2CO3 x 100
gr sampel
= 9,8 ml x 0,0847 N x 53 mek/mol x 100
0,25 gr
= 35,19%
% NaHCO3 = V HCl x N HCl x BE NaHCO3 x 100
Gr Sampel
= 32,6 ml x 0,0847 Nx 84,01 mek/mol x 100
0,25 gr
= 92,77%
Cuplikan 2
%Na2CO3 = V HCl x N HCl x BE Na2CO3 x 100
Gr sampel
= 10,5 ml x 0,0847 N x 53 mek/mol x 100
0,25 gr
= 38,73%
%NaHCO3 = VHCl x NHCl x BE NaHCO3 x 100
Gr sampel
= 29 ml x0,0847 N x 84,01 mek/mol x 100
0,25 gr
= 82,53%
C. Menentukan persen kesalahan
Cuplikan 1
% kesalahan Na2CO3 = (praktek – teori ) x 100%
(teori)
=( 35,19%– 40% ) x 100%
(40%)
= 12,025%
% kesalahan NaHCO3 = (praktek- teori) x 100%
(teori)
= (92,77%–60% ) x 100%
(60%)
= 54,61%
Cuplikan 2
% kesalahan Na2CO3 = (praktek – teori ) x 100%
(teori)
=( 38,73%– 50% ) x 100%
(50%)
= 22,54%
% kesalahan NaHCO3 = (praktek- teori) x 100%
(teori)
= (82,53%–50% ) x 100%
(50%)
= 65,06%

IX. ANALISIS PERCOBAAN


Dari praktikum yang dilakukan dapat dianalisa , pada saat standarisasi larutan HCl
dengan Na2CO3 , hal pertama dilakukan yaitu menimbang Na2CO3 sebanyak 0,4 gr. Lalu
masukkan kedalam 2 Erlenmeyer dengan masing masing 25ml . Setelah itu larutan ditetesi
sebanyaK 2-3 tetes metil merah . Perubahan yang terjadi yaitu dari bening menjadi pink.
Selanjutnya melakukan penentuan Karbonat Bikarbonat , hal yang pertama dilakukan
yaitu menimbang Na2CO3 dengan NaHCO3. Cuplikan pertama sebanyak 0,4 gr Na2CO3
ditambanh 0,6 NaHCO3. Lalu larutkan aquadest sebanyak 100ml, dan cuplikan ke-2 sebanyak
0,5 gr Na2CO3 ditambah 0,5 gr NaHCO3 , lalu dilarutkan sebanyak 100 ml aquadest.
Selanjutnya masing masig cuplikan dibagi kedalam 3 Erlenmeyer masing masing 25ml. Setelah
itu diteteskan indicator pp sebanyak 3 tetes dan disterilisasikan dengan HCl sampai warnanya
berubah menjadi bening . Lalu ditetesi ndicator Meril Orange sebanyak 3 tetes dan dititrasikan
dengan HCl sampai warnanya brubah menjadi jingga.

X. KESIMPULAN
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
a. Rata rata V HCl pada titrasi 1 (pp) 0,4 gr Na2CO3 + 0,6 gr NaHCO3 yaitu 9,8ml
b. Rata rata V HCl pada titrasi 2 (m.o) 0,4 gr Na2CO3 + 0,6 gr NaHCO3 yaitu 32,6ml
c. Persen kesalahan V HCl pada titrasi 1 (pp) pada titrasi 2 (m.o) 0,4 grNa2CO3 + 0,6
NaHCO3 yaitu 30% dan 28%
d. Rata rata V HCl pada titrasi 1 (m.o) 0,5 gr Na2CO3 + 0,5 gr NaHCO3 yaitu 10,5 ml
e. Rata rata V HCl pada titrasi 2 (m.o) 0,5 gr Na2CO3 + 0,5 gr NaHCO3 yaitu 29 ml
f. Persen kesalahan V HCl pada titrasi 1 (pp) pada titrasi 2 (m.o) 0,5 grNa2CO3 + 0,5
gr NaHCO3 yaitu 10,25% dan 25%

PERTANYAAN

1. Tuliskan rumus kimia untuk indikator fenolftalein dan reaksinya terhadap perubahan ph ?
- Rumus kimia fenolftalein (pp) = C20H14O4
- Reaksinya = mengubah warna pink menjadi bening
CO32- + H3O+  HCO3- + H2O (PP)
2. Berapakah jangkauan ph indikator yang digunakan pada percobaan ini ?
- Indikator fenolftalein (pp) = 8,0 – 4,6
- Idikator metil orange (m.o) = 3,1 – 4,4
- Indikator metil merah (mm) = 4,2 – 6,2
3. Sebuah contoh berat 0,5 gr yang mungkin mengandung NaOH . Na2CO3 . NaHCO3
atau campuran NaOH + Na2CO3 atau NaHCO3 + Na2CO3 dititrasi dengan 0,1011 M HCL
dengan cara 2 indikator. Ternyata pada titrasi terutama dengan indikator pp diperlukan 38,44
ml HCl. Kemudian pada titrasi kedua diperlukan 11,23 ml HCl

- berat sampel 0,5 gr = 500mg


- V1 (pp) = 38,44 ml HCl

- V2 (mo) = 11,23 ml HCl


= jadi sampel tersebut adalah campuran
- V1>V2
dari NaOH + Na2CO3
- % Na2CO3 = V HCl x N HCl x BE Na2CO3
Berat sampel

= 11,23 ml x 0,1011 M x x106 mg/mmol


500mg

= 120,3474 x 100% = 24,06 %


500mg

- NaOH = V HCl x N HCl x BE NaOH


gr sampel
= (38,44 – 11,23 ) ml x ),1011mek/mol x 40 mg/ mek x 100%
500
= 27,21 x 0,1011 x 40 x 100
500 mg
= 22,0058 %
DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Kimia Analisis Dasar, 2016. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang
GAMBAR ALAT

Neraca analitik Buret


Gelas kimia Kaca Arloji

Labu Takar Erlenmeyer

Pipet ukur Bola karet

Pipet tetes Spatula


Pengaduk

Anda mungkin juga menyukai