Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH KIMIA MEDISINAL

“ Hubungan Struktur-Aktivitas Obat Diuretik “

Oleh
Pranadika Ardiyanto (161200095)
Putri Dalem Nuning Stiti (161200093)
Putu Agus Andi Dharma (161200094)
Putu Ita Yuliana Wijayanti (161200095)

PROGRAM STUDI FARMASI KLINIS


UNIVERSITAS BALI INTERNASIONAL
DENPASAR
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun sembahkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Makalah yang berjudul
“Hubungan Struktur-Aktivitas Obat Diuretik” ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas kelompok dalam menempuh mata kuliah kimia medisinal yang
diampu oleh ibu Dewi Puspita Apsari, S.Farm., M.Farm., Apt pada Semester Ganjil
Tahun Akademik 2019.
Dalam penyusunan makalah ini penyusun mengalami banyak rintangan dan
hambatan. Akan tetapi, berkat adanya bantuan dari semua pihak, rintangan dan
hambatan tersebut dapat diatasi sehingga terwujudlah makalah ini. Terkait hal itu,
penyusun mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya.
Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari yang
sempurna. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya pengetahuan dan pengalaman
penyusun dalam menyusun makalah ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran
perbaikan sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah dan karya-karya penyusun
berikutnya.

Denpasar, 1 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar i
Daftar isi ii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1. Definisi Diuretika 3
2.2. Penggolongan Diuretika ……….…………………………………. 3
2.3. Aspek Farmakokinetika dan farmakodinamika………………… 6
2.4. Hubungan struktur-aktivitas obat Diuretika …...………………. 16
BAB III PENUTUP 37
3.1. Kesimpulan 37
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………. 38

ii
iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diuretika adalah zat-zat yang dapat memperbanyak pengeluaran kemih
(diuresis) melalui kerja langsung terhadap ginjal. Obat-obat lainnya yang
menstimulasi diuresis dengan mempengaruhi ginjal secara tidak langsung
termasuk dalam definisi ini, misalnya zat-zat yang memperkuat kontraksi jantung
(digoksin,teofilin), memperbesar volume darah (dekstran) atau merintangi sekresi
hormon antidiuretik ADH (air,alkohol). Jika pada peningkatan ekskresi garam-
garam maka diuretika ini dinamakan saluretika atau natriuretika (diuretika dalam
arti sempit).(Tjay, 2007)
Walaupun kerjanya pada ginjal, diuretika bukan obat ginjal, artinya senyawa
ini tidak dapat memperbaiki atau menyembuhkan penyakit ginjal, demikian juga
pada pasien insufisiensi ginjal jika diperlukan dialisis, tidak akan dapat
ditangguhkan dengan penggunaan senyawa ini. Beberapa diuretika pada awal
pemgobatan justru memperkecil ekskresi zat-zat penting urin (dengan mengurangi
laju filtrasi glomerulus) sehingga akan memperburuk insufisiensi ginjal. Fungsi
utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udema, yang berarti mengubah
keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga cairan ekstrasel kembali menjadi
normal. (Tjay, 2007)
Urin diekskresikan oleh ginja. Unit fungsional dari ginjal adalah neufron,
yang terdiri dari glomerulus, tubulus proksimalis dan distalis, loop of henle dan
saluran pengumpul.. Diuretika mempengaruhi tiga proses fisiologis dalam
pengangkutan elektrolit, yaitu pada filtrasi glomerulus , absorpsi kembali
ditubulus atau loop of henle dan sekresi ditubulus. (Tjay, 2007)

1
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapat dalam pembuatan makalah ini, sebagai
berikut.
1. Apa definisi dari diuretika beserta penggolongan obat diuretika ?
2. Bagaimana aspek farmakokinetika dan farmakodinamika pada obat diuretika ?
3. Bagaimana hubungan struktur dengan aktivitas obat diuretika ?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang didapat dalam pembuatan makalah ini, sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi dan penggolongan obat diuretika.
2. Untuk mengetahui aspek farmakokinetika dan farmakodinamika pada obat
diuretika.
3. Untuk mengetahui hubungan struktur dengan aktivitas obat diuretika.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Diuretika


Diuretika adalah senyawa yang dapat meningkatkan volume urin. Diuretika
bekerja terutama dengan meningkatkan ekskresi ion-ion Na+, Cl-, HCO3-, yang
merupakan elektrolit utama dalam cairan luar sel. Diuretika juga menurunkan
absorbsi kembali elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan proses
pengangkutan aktif. Diuretika terutama digunakan untuk mengurangi sembab
(edema) yang disebabkan oleh meningkatnyajumlah cairan luar sel, pada keadaan
yang berhubungan kegagalan jantung kongestif, kegagalan ginjal, oligourik,
sirosis hepatik, keracunan kehamilan, glaukoma, hiperkalsemi, diabetes insipidus
dan sembab yang disebabkan oleh penggunaan jangka panjang
kortikosterpoidatau estrogen. Diuretika juga digunakan sebagai penunjang pada
pengobatan hipertensi. (Siswandono,2000)

2.2 Penggolongan Diuretika


Berdasarkan efek yang dihasilkan diuretika dibagi menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Diuretika yang hanya meningkatkan ekskresi air dan tidak mempengaruhi


kadar elektrolit tubuh.
2. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ (natriuretik),
3. Diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+ dan Cl-( saluretik).

Secara umum diuretika dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu diuretika


osmotik, diuretika pembentuk asam, diuretika merkuri organik, diuretika
penghambat karbonik anhidrase, diuretika turunan tiazida, diuretika hemat
kalium dan diuretika loop. (Siswandono,2000)

3
Gambar 1. Gambar Skematik Proses Pengangkutan Elektrolit Dalam
Nefron Yang Dapat Dipengaruhi Oleh Diuretika

Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi respon diuretik ini. Pertama,
tempat kerja diuretik di ginjal. Diuretik yang bekerja pada daerah yang
reabsorbsi natrium sedikit, akan memberi efek yang lebih kecil bila
dibandingkan dengan diuretik yang bekerja pada daerah yang reabsorbsi
natrium banyak. Kedua, status fisiologi dari organ. Misalnya dekompensasi
jantung, sirosis hati, gagal ginjal. Dalam keadaan ini akan memberikan respon
yang berbeda terhadap diuretik. Ketiga, interaksi antara obat dengan reseptor.
Berdasarkan cara bekerja, ada beberapa jenis diuretik yang diketahui pada saat
ini. Antara lain :

1. Diuretik osmotik dan Aquaretics. Obat-obat ini hanya direabsorpsi sedikit


oleh tubuli, hingga rabsorpsi air juga terbatas. Efeknya adalah diuresis
osmotik dengan ekskresi air kuat dan relatif sedikit ekskresi Na+. Contoh :
manitol, glukosa, sorbitol, sukrosa, dan urea.

4
2. Penghambat karbonik anhidrase ginjal. Diuretik jenis ini merintangi enzim
karbonanhidrase di tubuli proksimal, sehingga disamping karbonat, juga
Na+ dan K+ diekskresikan lebih banyak, bersamaan dengan air. Khasiat
diuretiknya hanya lemah, setelah beberapa hari terjadi tachyfylaxie, maka
perlu digunakan secara selang seling (intermittens). Contoh :
asetazolamida.
3. Diuretik derifat tiasid. Efeknya lebih lemah dan lebih lambat, tetapi
bertahan lebih lama (6-48 jam) dan terutama digunakan pada terapi
pemeliharaan hipertensi dan kelemahan jantung (decompensatio cordis).
Obat-obat ini memiliki kurva dosis-efek datar, artinya bila dosis optimal
dinaikkan lagi efeknya tidak bertambah (diuresis, penurunan tekanan
darah). Contoh : hidroclorotiazid, talidon, indapamida dan klopamida.
4. Diuretik loop. Obat-obat ini berkhasiat kuat dan pesat tetapi agak singkat
(4-6 jam). Banyak digunakan pada keadaan akut, misalnya pada udema
otak dan paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-efek curam, artinya bila
dosis dinaikkan efeknya senantiasa bertambah. Contoh : furosemida,
bumetanida dan etakrinat.
5. Diuretik hemat kalium (Potassium Sparing Diuretic). Efek obat ini hanya
lemah dan khusus digunakan terkombinasi dengan diuretika lainnya guna
menghemat ekskresi kalium. Aldosteron menstimulasi reabsorpsi Na+ dan
ekskresi K+ ; proses ini dihambat secara kompetitif oleh obat-obat ini.
Amilorida dan triamteren dalam keadaan normal hanya lemah efek
ekskresinya mengenai Na+ dan K+. Tetapi pada penggunaan diuretika loop
tiazid terjadi ekskresi kalium dengan kuat, maka dengan pemberian
bersama penghemat ekskresi kalium ini menghambat ekskresi K+ dengan
kuat pula. Mungkin juga ekskresi dari magnesium dihambat.
6. Diuretik merkuri organik.
7. Diuretik pembentukan asam. Diuretika pembentuk asam adalah senyawa
anorganik yang dapat menyebabkan urin bersifat asam dan mempunyai
efek diuretik. Senyawa golongan ini efek diuretiknya lemah dan

5
menimbulkan asidosis hiperkloremik sistemik. Efek samping yang
ditimbulkan antara lain iritasi lambung, penurunan nafsu makan, mual,
asidosis dan ketidaknormalan fungsi ginjal. Contoh : amonium klorida,
amonium nitrat dan kalsium klorida. (Siswandono,2000)

2.3 Farmakokinetika dan Farmakodinamika Obat Diuretika


1. Diuretik osmotik
a. Mannitol
Farmakokinetik
Absorbsi  Onset :
- Diuresis (1-3 jam setelah
menggunakan IV)
- Reduksi IOP : 30-60
menit
- Reduksi ICP : 15 menit
 Durasi
- Reduksi IOP : 4-6 jam
- Reduksi ICP : 3-8 jam
Distribusi -
Metabolisme Hati (sangat sedikit)
Ekskresi  Waktu paruh : 100 menit
 Ekskresi : urin (80%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, mannitol bekerja di tubulus kontortus
proksimal dan ansa henle cabang desenden. Melalui efek osmotik,
diuretik ini melawan kerja ADH di tubulus koligen renalis

6
b. Glukosa
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : diserap
dengan cepat
 Onset : 10 menit
 Cmax : 40 menit (PO)
Distribusi -
Metabolisme Didistribusikan dan disimpan oleh
jaringan tubuh dan dimetabolisme
menjadi karbon dioksida dan air
dengan pelepasan energi.
Ekskresi  Ekskresi : urin

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, dextrose parenteral dioksidasi menjadi karbon
dioksida dan air serta menghasilkan 3,4 kal/g d-glukosa.

c. Sorbitol
Farmakokinetik
Absorbsi  Onset : 0,25 – 1 jam
Distribusi -
Metabolisme Terutama di hati
Ekskresi Urin

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, gula polialkohol memiliki efek hiperosmotik
(larutan yang memiliki konsentrasi osmotic lebih tinggi dibandingkan
larutan yang lainnya) yang menginduksi.

7
2. Penghambat Karbonik Anhidrase Ginjal
a. Asetazolamid
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : cepat
diserap secara oral
 Onset :
- Tablet : 1 - 1,5 jam
- Sustained release : 2 jam
- IV : 5 – 10 menit
 Durasi :
- Tablet : 8 - 12 jam
- Sustained release : 18 -
24 jam
- IV : 4 – 5 jam
 Cmax :
- Tablet : 1 – 4 jam
- Sustained release : 8 – 18
jam
- IV : 15 menit

Distribusi  Protein binding : 70 – 90%


 Vd : 0,2 L/kg
Metabolisme Tidak ada
Ekskresi  Waktu paruh : 2 – 4 jam
(tablet)
 Ekskresi : urine (90%)
Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, acetazolamide menghambat ekskresi ion H+
dalam tubulus ginjal, meningkatkan ekskresi natrium, kalium,
bikarbonat dan air serta menghasilkan diuresis alkali.

8
3. Diuretik Derivat Tiasid
a. Hidroclortiazid
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 65 – 75%
 Onset :
- Diuresis : 2 jam
- Hipertensi : 3 – 4 hari
 Cmax : 1 – 2,5 jam
 Puncak efek : 4 – 6 jam
Distribusi  Protein binding : 40 – 68%
 Vd : 3,6 – 7,8 L/kg
Metabolisme Metabolisme minimal
Ekskresi  Waktu paruh : 5,6 – 4,8 jam
 Ekskresi : urine

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, hidroclortiazid menghambat reabsorbsi natrium
dalam tubulus ginjal distal, menghasilkan peningkatan ekskresi air dan
natrium, kalium dan ion hydrogen.

b. Talidon
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 65%
 Onset : 2 – 6 jam
 Durasi : 24 – 72 jam
 Cmax : 1,5 – 6 jam
Distribusi  Protein binding : 75%
Metabolisme Hati
Ekskresi  Waktu paruh : 40 – 60 jam

9
 Klirens : 53 – 145 ml/menit
 Ekskresi : urine (50 - 65%),
feses

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, talidon menghambat reabsorpsi natrium dan
klorida dalam tubulus kontortus distal, penurunan kadar Na+ intrasel
akibat blokade pemasukan Na+ oleh tiazid meningkatkan pertukaran
Na+/ Ca2+ keseluruhan.

c. Indapamid
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 93%
 Onset : 1 – 3 jam
 Durasi : 8 – 12 jam
 Cmax : 2 jam
Distribusi  Protein binding : 71 – 79%
 Vd : 24 - 25 L
Metabolisme Hati
Ekskresi  Waktu paruh : 14 – 25 jam
 Ekskresi : urine (70%), feses
(23%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, indopamid meningkatkan ekskresi Na, Cl dan
air dengan mengganggu pengangkutan ion Na+ melintasi epitel
tubulus ginjal pada segmen proksimal tubulus distal.

10
4. Diuretik Loop
a. Furosemide
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 47 - 64%
(PO)
 Onset : 30 – 60 menit
(PO/SL), 30 menit (IM), 5
menit (IV)
 Durasi : 2 jam (IV), 6 – 8
jam (PO)
 Cmax : <5 menit (IV), 1 – 2
jam (PO/SL)
Distribusi  Protein binding : 91 – 99%
 Vd : 0,2 L/kg
Metabolisme Hati (10%)
Ekskresi  Waktu paruh : 30 – 120
menit (pada fungsi ginjal
yang normal), 9 jam
(penyakit ginjal stadium
akhir)
 Ekskresi : urine (PO 50 %
dan IV 80%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, furosemide menghambat reabsorbsi ion
natrium dan klorida pada tubulus ginjal proksimal dan distal serta loop
Henle, dengan mengganggu system transportasi yang mengikat klorida
dan menyebabkan peningkatan air, kalsium, magnesium, natrium dan
klorida

11
b. Bumetanide
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 59 - 89%
 Onset : 2 – 3 menit (IV), 30
– 60 menit (PO/IM)
 Durasi : 4 – 6 jam
 Cmax : 5 menit (IV), 30
menit (IM), 1 – 2 jam (PO)
Distribusi  Protein binding : 94 – 96%
 Vd :
- Dewasa : 9 – 25 L
- Neonates dan bayi : 0,26
– 0,39 L/kg
Metabolisme Hati
Ekskresi  Waktu paruh :
- Dewasa : 1 – 1,5 jam
- Bayi : > 1 bulan, 2,4 jam
- Neonates : 6 jam
 Ekskresi : urine (8%), feses
(2%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, bumetanide menghambat reabsorbsi natrium
dan klorida dalam kenaikan loop Henle sehingga menyebabkan
ekskresi air dan natrium, klorida, kalsium, magnesium, kaliun dan ion
hydrogen.

12
5. Diuretik Hemat Kalium
a. Amiloride HCl
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 30 – 90%
 Onset :
- Efek initial : 2 – 3 jam
- Efek maksimal : 6 – 10
jam
 Durasi : 24 jam
 Cmax : 3 – 4 jam
Distribusi  Protein binding : 23%
 Vd : 350 - 380 L
Metabolisme Tidak dimetabolisme di hati
Ekskresi  Waktu paruh : 6 – 9 jam
 Ekskresi : urine (50%), feses
(40-50%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, amiloride HCl menghambat Na/K-ATPase,
menurunkan Ca++, Mg++ dan ekskresi hydrogen.

b. Triamteren
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 30 – 70%
 Onset :
- Efek initial : 2 – 4 jam
- Efek maksimal :
beberapa hari (diuresis),
2 – 3 bulan (hipertensi)

13
 Durasi : 7 – 9 jam
 Cmax : 1,5 – 3 jam
Distribusi  Protein binding : 55 – 67%
Metabolisme Hati
Ekskresi  Waktu paruh : 1,5 – 2,5 jam
 Ekskresi : urine (21%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, triamterene memberikan efek langsung pada
tubulus distal ginjal untuk menghambat reabsorbsi Na+ dan
menurunkan Ca++, Mg++ dan ekskresi hydrogen.

c. Spironolakton
Farmakokinetik
Absorbsi  Bioavailibilitas : 73%
 Onset : 2 – 4 jam
 Durasi : 2 – 3 hari
 Cmax : 2,6 – 4,3 jam
 AUC : 90%
Distribusi  Protein binding : 90%
Metabolisme Hati dan ginjal
Ekskresi  Waktu paruh : 1,3 – 1,4 jam
 Ekskresi : urine (47-57%),
feses (35-41%)

Farmakodinamika
Pada farmakodinamik, spironolakton pengikatan kompetitif dari
reseptor Na-K dalam tubulus distal menghasilkan peningkatan
ekskresi Na+, Cl-, dan air dan retensi K+ dan H+

14
2.4 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat Diuretika
1) Diuretika Osmotik
Diuretika osmotik adalah senyawa yang dapat meningkatkan ekskresi urin
dengan mekanisme kerja berdasarkan perbedaan tekanan osmosa. Diuretika
osmotik mempunyai berat molekul rendah, dalam tubuh tidak mengalami
metabolisme, secara pasif disaring melalui kapsul bowman ginjal, dan tidak
diabsorbsi kembali oleh tubulus renalis. Bila diberikan dalam dosis besar atau
lerutan pekat akan menarik air dan elektrolit ketubulus renalis, yang
disebabkan oleh adanya perbedaan tekanan osmosa, sehingga terjadi diuresis.
(Siswandono, 2008).
2) Diuretika Pembentuk Asam
Diuretika pembentuk asam adalah senyawa anorganik yang dapat
menyebabkan urin bersifat asam dan mempunyai efek diuretik. Senyawa
golongan ini efek diuretiknya lemah dan menimbulkan asidosis hiperkloremik
sistemik. Efek samping yang ditimbulkan antara lain adalah iritasi lambung,
penurunan nafsu makan, mual, asidosis dan ketidak normalan fungsi ginjal.
Mekanisme Kerja
Mekanisme terjadinya efek diuresis oleh amonium klorida digambarkan
secara skematik melalui reaksi sebagai berikut :

Gambar 2 Proses Mekanisme Kerja Amonium Klorida

15
Selain itu kelebihan ion Cl- dalam urin akan meningkatkan ion Na+
membentuk garam NaCl dan kemudian diekskresikan bersama-sama dengan
sejumlah ekivalen air dan terjadi diuresis.

Penggunaan amonium klorida dalam sediaan tunggal kurang efektif


karena setelah 1-2 hari, tubuh (ginjal) mengadakan kompensasi dengan
memproduksi amonia, yang akan menetralkan kelebihan asam, membentuk
NH4+ , yang segera berinteraksi denagn ion Cl- membentuk NH4Cl dan
kemudian diekskresikan, sehingga efek diuretiknya akan menurun secara
drastis. Oleh karena itu di klinik biasanya digunakan bersama-sama denga
diuretika lain, seperti turunan merkuri organik. Dosis oral untuk diuretik : 1-
1,5 g 4 dd. (Siswandono, 2008).

3) Diuretika Merkuri Organik

Diuretika merkuri organik mempunyai rantai yang terdiri dari 3 atom


C dan satu atom Hg pada salah satu ujung rantai, yang mengikat gugus
hidrofil X.

R = Gugus aromatik, heterosiklik atau alisiklik yang terikat pada rantai


propil melalui gugus karbamoil. Gugus R sangat menentukan distribusi dan
kecepatan ekskresi diuretika.
Y = biasanya gugus metil, dapat pula gugus etil, secara umum pengaruh
gugus terhadap sifat senyawa adalah kecil.
X = subtituen yang bersifat hidrofil. Biasanya X adalah gugus teofilin,
yang meningkatkan kecepatan absorbsi, dan juga mempunyai efek diuretik
(terjadi potensiasi). Bila X adalah gugud tiol, seperti asam merkaptoasetat atau
tiosorbitol, dapat mengurangi toksisitas terhadap jantung dan efek iritasi
setempat. (Siswandono, 2008).

16
Contoh diuretika merkuri organik dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1 Struktur Beberapa Diuretika Merkuri Organik


4) Diuretika Penghambat Karbonik Anhidrase
Beberapa hipotesis telah dikemukakan untuk menjelaskan mekanisme
pada tingkat molekul.
1. Karena struktur gugus sulfamil mirp dengan asam karbonat, diuretika yang
mengandung gugus sulfamil, seperti turunan sulfonamida dan tiazida,
dapat menghambat enzim karbonik anhidrase dan antagonis ini bukan tipe
kompetitif. Hipotesis pembentukan kompleks dan penghambatan enzim
karbonik anhidrase dapat dilihat pada Gambar 4.

17
Gambar 3. Pembentukan Kompleks Dan Penghambatan Enzim Karbonik
Anhidrase Pada Sisi Aktif Melalui Ikatan Hidrogen
2. Yonezawa dan kawan-kawan mengemukakan bahwa adanya atom
nitrogen pada gugus sulfonamida yang bersifat sangat nukleofil dapat
bereaksi dengan karbonik anhidrase dan menghambat kerja enzim.

Hubungan struktur-aktivitas
1. Yang berperan terhadap aktivitas diuretika penghambat karbonik anhidrase
adalah gugus sulfamil bebas. Mono dan disubstitusi pada gugus sulfamil
akan menghilangkan aktivitas diuretik karena pengikatan obat-reseptor
menjadi lemah.
2. Pemasukan gugus metil pada asetazolamid (metazolamid) dapat
meningkatkan aktivitas obat dan memperpanjang masa kerja obat. Hal ini
disebabkan karena metazolid mempunyai kelarutan dalam lemak lebih
besar, absorpsi kembali pada tubulus menjadi lebih baik dan afinitas
terhadap enzim lebih besar. Metazolid mempunyai aktivitas diuretik ± 5
kali lebih besar dibanding asetazolamid.

18
3. Modifikasi yang lain dari struktur asetazolamid secara umum akan
menurunkan aktivitas. Deasetilasi akan menurunkan aktivitas dan
perpanjangan gugus alkil pada rantai asetil akan meningkatkan toksisitas.
Contoh :
a. Asetazolamid (Diamox, Glaupax), diabsorpsi secara cepat dalam
saluran cerna, diekskresikan melalui urin dalam bentuk tak berubah ±
70%. Kadar plasma tertinggi obat dicapai dalam ± 2 jam setelah
pemberian oral, dengan waktu paro ± 5 jam. Asetazolamid juga
digunakan untuk pengobatan glaukoma dan sebagai penunjang pada
pengobatan epilepsi petit mal, dikombinasi dengan obat antikejang,
seperti fenitoin. Dosis sebagai diuretik dan untuk pengobatan glaukoma
: 250 mg 2-4 dd.
b. Metazolamid, dianjurkan sebagai penunjang pada pengobatan
glaukoma kronik. Penurunan tekanan intraokuler terjadi 4 jam setelah
pemberian oral, dengan efek puncak dalam 6-8 jam, dan masa kerja 10-
18 jam. Dosis untuk pengobatan glaukoma : 50-100 mg 2-3 dd.
c. Etokzolamid, mempunyai aktivitas diuretik dua kali lebih besar
dibanding asetazolamid, digunakan untuk pengobatan glaukoma dan
mengontrol serangan epilepsi. Kadar plasma tertinggi obat dicapai
dalam ± 2 jam setelah pemberian oral, dengan masa kerja 8-12 jam.
Dosis sebagai diuretik dan untuk pengobatan glaukoma: 125-250 mg 2-4
dd.
d. Diklorfenamid, aktivitas diuretiknya sama dengan metazolamid,
digunakan untuk pengobatan glaukoma dan mengontrol serangan

19
epilepsi. Dosis sebagai diuretik dan untuk pengobatan glaukoma: 25-100
mg 2-4 dd. (Siswandono, 2008).

5) Diuretika Turunan Tiazida

Studi hubungan struktur-aktivitas diuretika turunan tiazida menunjukkan bahwa


aktivitas diuretik meningkat bila senyawa mempunyai gambaran struktur
sebagai berikut:

1. Pada posisi 1 cincin heterosiklik adalah gugus SO2 atau CO2. Gugus SO2
mempunyai aktivitas yang lebih besar.
2. Pada posisi 2 ada substituen gugus alkil yang rendah, biasanya gugus metil.
3. Pada posisi 3 ada substituen lipofil, seperti alkil terhalogenasi
(CH2S CH2SCH2CF3), CH2-C6H5 dan CH2SCH2-C6H5.
4. Ada ikatan C3-C4 jenuh. Reduksi ikatan rangkap pada C3-C4 dapat
meningkatk aktivitas diuretik ± 10 kali.
5. Substitusi langsung pada posisi 4,5, atau 8 dengan gugus alkil akan
menurunkan aktivitas diuretik.
6. Pada posisi 6 ada gugus penarik elektron yang sangat penting, seperti Cl
dan CF3. Hilangnya gugus tersebut menyebabkan senyawa kehilangan
aktivitas. Penggantian gugus Cl dengan CF3 dapat meningkatkan kelarutan
senyawa dalam lemak sehingga memperpanjang masa kerja obat.
7. Pada posisi 7 ada gugus sulfamil yang tidak tersubstitusi. Turunan mono
dan disubstitusi dari gugus sulfamil tidak mempunyai aktivitas diuretik.
8. Gugus sulfamil pada posisi meta (1) dapat diganti dengan gugus-gugus
elektronegatif lain, membentuk gugus induk baru yang dinamakan

20
diuretika seperti tiazid (thiazide-like diuretics) seperti pada turunan
salisilanilid (xipamid), turunan benzhidrazid (klopamid dan indapamid),
dan turunan ptalimidin (klortalidon). (Siswandono, 2008).
Hubungan struktur dan aktivitas diuretika turunan tiazida dapat dilihat pada Tabel
2.
Tabel 2. Hubungan struktur-aktivitas diuretika turunan tiazida

21
(Disadur dari foye WO, Ed, principles of medicinal chemistry, 3rd ed, philadelphia :lea d febiger,
1989,hal 406-407, dengan modifikasi )

Dari Tabel 2. terlihat bahwa tidak ada korelasi yang bermakna antara potebsi
naturetik oral dengan aktivitas penghambat karbonik anhidrase, yang dapat dilihat
dari dosis penggunaan.

6) Diuretik Hemat Kalium


Diuretik hemat kalium yang mempunyai aktivitas natriuretik ringan
dan dapat menurunkan sekresi ion H+ dan K+. Senyawa tersebut bekerja pada

22
tubulus distalis dengan cara memblok penukaran ion Na+ dan ion H+ dan K+,
menyebabkan retensi ion K+dan meningkatkan sekresi ion Na+dan air.
Aktivitas diuretiknya relatif lemah, biasanya diberikan bersama-sama dengan
diuretik turunan tiazid. Kombinasi ini menguntungkan karena dapat
mengurangi sekresi ion K+ sehingga menurunkan terjadinya hipokalemi dan
menimbulkan efek aditif. (Siswandono, 2008).
7) Diuretik Loop
Diuretik loop merupakan senyawa saluretik yang sangat kuat, aktivitas
jauh lebih besar dibandingakann turunan tiazida dan senyawa saluretik lain.
Turunan ini dapat memblok penggankutan aktif NaCl pada loop henle
sehingga menurunkan absorbsi kembali NaCl dan meningkatkan ekskresi
NaCl lebih dari 25 %.(Siswandono, 2008).

Hubungan struktur dan aktivitas


a. Reduksi gugus αβ- keton tidak jenuh akan menghilangkan aktivitas,
karena senyawa tidak mampu berinteraksi dengan gugus SH enzim.
b. Substitusi H pada atom Cα dengan gugus alkil akan menurunkan
aktivitas.
c. Adanya gugus etil pada atom Cβmembuat senyawa mempunyai
aktivitas maksimal. Makin besar jumlah atom C, aktivitasnya makin
menurun.
d. Substitusi pada cincin aromatik. Adanya gugus Cl pada posisi orto
cinci aromatik, dapat meningkatkan aktivitas lebih besar dibandingkan
substitusi pada posisi meta, karena efek induktif gugus penarik elektron
tersebut dapat menunjang serangan nukliofil terhadap gugus SH.
Disubstitusi gugus Cl atau metil pada posisi orto dan meta akan
meningkatkan aktivitas. Adanya gugus pendorong elektron kuat pada
cincin aromatik, seperti gugus amino atau alkoksi, akan menurunkan
aktivitassecara dratis.

23
e. Adanya gugus oksiasetat pada posisi para dapat meningkatkan
aktivitas, letak gugus pada posisi orto atau meta akan menurunkan
aktivitas.
1. Turunan sulfamoil Benzoat
Turunan ini dibagi menjadi dua golongan yaitu turunan asam 5-
sulfamoil-2-aminobenzoat dan 5-sulfamoil-3aminobenzoat.
Contoh turunan asam5- sulfamoil-2aminobenzoat: furosemid,dan
azosemis
Contoh turunan asam 5-sulfamoil-3aminobenzoat: bumetanid dan
piretanid

Hubungan struktur dan aktivitas


a. Subtituen pada posisi 1 harus bersifat asam, gugus karboksilat
mempunyai aktivitas diuretik optimum.
b. Gugus sulfamoil pada posisi 5 merupakan gugus fungsi untuk aktivitas
diuretik yang optimum.
c. Gugus aktivitas pada posisi 4 bersifat penarik elektron, seperti gugus-
gugus Cl dan CF3 dapat pula diganti dengan gugus fenoksi (C6H5O-),
alkolksi, anilino (C6 H5-NH-), benzil, benzol, atau C6H5-S, dengan
disertai penurunan aktivitas
d. Pada turunan asam 5sulfamoil-2-aminobenzoat, substituen pada gugus
2 amino relatif terbatas, hanya gugus furfuril, benzil dan tienilmetil
yang menunjukan aktivitas diuretik optimal.
e. Pada turunan asam 5- sulfamoil -3- aminobenzoat, subtituen pada
gugus 3 amino relatif lebih banyak tanpa mempengaruhi aktivitas
diuretik optimal.
Contoh :
a. Furosemid (lasix, farsix, salurix, impugan), merupakan diuretika
saluretik yang kuat, aktivitasnya 8-10 kali diuretika tiazida. Awal kerja
obat terjadi dalam 0,5-1 jam setelah pemberian oral, dengan masa

24
kerja yang relatif pendek kurang lebih 6-8 jam. Absorpsi furosemid
dalam saluran cerna cepat, ketersediaanhayatinya 60-69% pada subyek
normal, dan kurang lebih 91-99 % obat terikat oleh plasma protein.
Kadar darah maksimal dicapai 0,5-2 jam setelah pemberian secara
oral, dengan waktu paro biologis kurang lebih 2 jam. Furosemid
digunakan untuk pengobatan hipertensi ringan dan moderat, karena
dapat menurunkan tekanan darah, dosis 20-80 mg/hari.

b. Bumetanid (burinex), merupakan diuretik yang kuat denagn masa


kerja pendek (kurang lebih 4 jam). Bunetanid digunakan terutama
untuk pengobatan sembab yang berhubungan dengan penyakit jantng,
hati dan ginjal. Pemindahan gugus amin dari posisi2 keposisi 3, dapat
meningkatkan aktivitas diuretik sampai kuranglebih 50 kali, tetapi
senyawa mempunyai masa kerja yang pendek. Bumetanid diabsorpsi
dalam saluran cerna secara cepat dan sempurna, kurang lebih 98 %
terikat oleh protein plasma. Efek maksimum dicapai kurang lebih 2
jam setelah peamberian oral, dan waktu parunya kurang lebih 1 jam.
Selain sebagai diuretik, bumetanid juga mempunyai efek
antihipertensi. Dosis 1-2 mg/hari.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Diuretika adalah senyawa yang dapat meningkatkan volume urin.
Diuretika bekerja terutama dengan meningkatkan ekskresi ion-ion Na+, Cl-,
HCO3-, yang merupakan elektrolit utama dalam cairan luar sel. Diuretika juga
menurunkan absorbsi kembali elektrolit di tubulus renalis dengan melibatkan
proses pengangkutan aktif. Diuretika terutama digunakan untuk mengurangi
sembab (edema) yang disebabkan oleh meningkatnyajumlah cairan luar sel,
pada keadaan yang berhubungan kegagalan jantung kongestif, kegagalan
ginjal, oligourik, sirosis hepatik, keracunan kehamilan, glaukoma,
hiperkalsemi, diabetes insipidus dan sembab yang disebabkan oleh
penggunaan jangka panjang kortikosterpoidatau estrogen. Diuretika juga
digunakan sebagai penunjang pada pengobatan hipertensi.
Berdasarkan efek yang dihasilkan diuretika dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu : Diuretika yang hanya meningkatkan ekskresi air dan tidak
mempengaruhi kadar elektrolit tubuh, diuretika yang dapat meningkatkan
ekskresi Na+ (natriuretik), diuretika yang dapat meningkatkan ekskresi Na+
dan Cl-( saluretik).
Secara umum diuretika dibagi menjadi tujuh kelompok yaitu diuretika
osmotik, diuretika pembentuk asam, diuretika merkuri organik, diuretika
penghambat karbonik anhidrase, diuretika turunan tiazida, diuretika hemat
kalium dan diuretika loop.

26
DAFTAR PUSTAKA

Hardman JG, Limbird LE, Gilman AG. Goodman & Gilman’s The Pharmacological
Basic of Therapeutics: Drugs Affecting Renal and Cardiovascular Function.
11th Edition. California: McGraw-Hill; 2005. p. 735-62.

Katzung BG. Farmakologi Dasar dan Klinik: Obat-Obat Kardiovaskular-Ginjal. Edisi


10. Jakarta: EGC; 2010. p. 240-58.

Siswandono et. Bambang S., 2008, Kimia Medisinal, Edisi 2, Airlangga University
Press, Surabaya.

Tjay, Tan Hoan dan Kirana Larasati. 2007. Obat-Obat Penting Edisi Ke Enam
Cetakan Pertama. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Rang HP, Dale MM, Ritter JM, Flower RJ, Henderson G. Rang and Dale’s
Pharmacology: Drugs Affecting Major Organ Systems. 7th Edition.
Philadelphia: Elsevier Saunders; 2011. p. 353-56.

27