Anda di halaman 1dari 16

ANALISIS CERPEN

“ANAK KEBANGGAAN”

Di susun oleh: kelompok 6


1. Yuni Anggraeni (2017112007)
2. Utami Putri Agustin (2017112011)
3. Sri Handayani (2017112017)
4. Dinda Putri Mayangsari (2017112034)
5. Rani Murti Sari (2017112038)
6. Nurlia Sekar Sari (2017112039)
7. Adi Prayogi (2017112077)
8. Zazmil Tajri (2017112112)

Dosen Pembimbing : Dr.Puspa Indah Utami, M.Pd


Mata Kuliah : Teori Prosa

UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG


2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karya sastra sudah diciptakan orang jauh sebelum orang
memikirkan apa hakikat sastra dan apa nilai serta makna yang terkandung
dalam sastra. Hal yang paling dasar yang dapat dilakukan oleh siapapun
untuk membedah makna suatu karya sastra adalah dengan cara
“menganalisis unsur-unsur pembangunnya” lebih lanjut daripada itu dapat
dilakukan kajian-kajian terhadap karya sastra dari berbagai sudut
pandangan. Pengkajian terhadap karya fiksi berarti menelaah, penyelidikan,
atau mengkaji, menelaah, menyelidiki karya fiksi tersebut. Istilah analisis,
misalnya analisis karya fiksi, menyaran pada pengertian pengertian
mengurai karya itu atas unsur-unsur pembentuknya tersebut, yaitu yang
berupa unsur-unsur intrinsiknya

Karya sastra dibangun oleh unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik.


Unsur intrinsik (intrinsic) adalah unsur-unsur yang membangun karya
sastra itu sendiri. Unsur ekstrinsik (extrinsic) adalah unsur-unsur yang
berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi
bangunan atau sistem organisme karya sastra. Salah satu contoh adalah
cerpen “ANAK KEBANGGAAN” karya A.A Navis. A.A Navis adalah
penulis yang dijuluki 'Sang Pencemooh’, beliau sosok yang ceplas-ceplos,
apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk
membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna.
Cerpen ini melukiskan bagaimana harapan dan kasih sayang seorang ayah
kepada ayahnya yang ternyata tidak disambut baik dan tidak dibalas oleh
sang anak. Dari cerpen tersebut juga para pemabca dapat memetik banyak
nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya untuk dijadikan sebagai
pembelajaran dikehidupan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana analisis struktural unsur intrinsik cerpen anak kebanggaan?
2. Bagaimana analisis struktural unsur ektrinsik cerpen anak
kebanggaan?

C. Tujuan
1. Untuk memahami analisis struktural unsur intrinsik cerpen anak
kebanggaan
2. Untuk memahami analisis struktural unsur ektrinsik cerpen anak
kebanggaan
BAB II
PEMBAHASAN

Analisis Struktural Cerpen Anak Kebanggaan


A. Unsur Intrinsik
1. Tema : Harapan orang tua kepada anaknya
“Dia yakin itu, bahwa indra budimannya akan mendapat nama
tambahan dokter di muka namanya sekarang”. (Navis, 2010:8)
Dari kutipan di atas terliat bahwa orang tua indra budiman sangat berharap
jika ia menjadi dokter.
2. Tokoh :
a. Ompi
b. Indra Budiman
c. Aku
d. Orang-orang kampung
3. Penokohan :
3.1. Ompi
a. Penyayang :
“Aku bangga anakku, baik jika engkau jadi dokter, karena orang
lebih banyak memerlukanmu, dengan begitu kau disegani orang, oo perkara
uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim anakku, mengapa tidak?”
(Navis, 2010: 17)
“Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal
ditambah dibelakangnya dengan Indra Budiman”. (Navis, 2010: 16)
Dari kutipan di atas ompi memberikan uang berapun kepada anaknya dan ia
tidak masalah bahwa nama anaknya diganti atau diubah. Hal ini
menunjukkan baha ompi sangat sayang pada anaknya.
b. Sombong :
“Ah, aku merasa lebih berduka cita lagi, karena belum sanggup
menghindarkan kemalangan ini. coba kalau Indra anakku sudah jadi
dokter, pasti si mati ini akan dapat tertolong” katanya bila ada orang
meninggal setelah menderita sakit”. (Navis, 2010: 16)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa jika anaknya jadi dokter pasti orang yang
sakit akan sembuh. Padahal belum tentu.
c. Suka berbohong :
“Tidak dikatakannya kemarahannya itu, malah sebaliknya
dikatakannya banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang
meminang, tapi semua telah ditolak”. (Navis, 2010: 19)
“Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis
yang kebetulan ada padanya, tak peduli ia apa foto itu gambar dari gadis
yang sudah kawin atau sudah meninggal”. (Navis, 2010: 20)
Dari kutipan di atas ompi telah berbohong dengan mengatakan banyak gadis
yang melamar anaknya dan dia mamanipulasi foto gadis yang akan
dikirimkan kepada anaknya
d. Suka bermimpi :
“Pada suat hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi
kenyataan. Dia yakin itu, bahwa indra Budimannya akan mendapat nama
tambahan dokter di muka namanya sekarang”.
Dari kutipan di atas bahwa ompi suka berangan angan atau bermimpi yang
belum tentu terjadi
e. Mudah tersinggung :
“’Ke sekolah? Kenapa ke sekolah ia?’ Ompi merasa tersinggung”
(Navis, 2010: 18)
Dari kutipan diatas sudah dituliskan oleh pengarang bahwa ompi mudah
tersinggung
3.2. Indra Budiman
a. Suka berbohong :
“Tak teringat olehnya, bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini
sudah diketahui oleh orang kampungnya”. (Navis, 2010: 20)
Dari kutipan diatas dituliskan oleh pengarang bahwa indra suka berbohong
b. Bejat
“Lupa bahwa semua mata orang kampungnya yang tinggal di Jakarta
selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat”. (Navis, 2010: 20)
Dari kutipan atas dituliskan oleh pengarang bahwa indra seorang yang bejat
3.3 Aku
a. Baik hati :
“Semenjak hari itu, berganti-ganti orang menyediakan diriku agar
selalu didekat ompi”. (Navis, 2010: 23)
“Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari
perkawinanku sudah berlangsung, karena kau takut berita itu akan
menambah penderitaannya”. (Navis, 2010: 23)
Dari kutipan di atas tokoh aku selalu bersama ompi walau dalam keadaan
terpuruk dan ia sangat mengkhawatirkan kesehatan ompi
3.4. Orang-orang kampung Ompi
a. Menjelekkan orang
“Dan akhirnya orang kampung jadi kasihan pada ompi. Tak seorang pun
lagi membicarakan keburukan indra.”
Dari kutipan di atas terlihat bahwa orang kampung suka gosip
4. Alur : Menggunakan alur maju
5. Sudut Pandang : orang pertama pelaku sampingan.
“Ompi terduduk di kursi, matanya cemerlang memandang
tangganya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu, aku merasa ngeri
memberikannya, tapi aku tak bisa berbuat lain, telegram itu kusodorkan
ketangannya, telegram itu digenggamnya erat, lalu didekapnya didadanya.
“datang juga apa yang kunantikan” katanya”. (Navis, 2010: 25)
“Kulihat pak pos memasuki halaman rumah Ompi, tergesa-gesa aku
menyongsong pak pos itu ke ambang pintu” (Navis, 2010: 24)
Dari kutipan di atas sudah terlihat jelas bahwa tokoh aku hanya pelaku
sampingan dan yang menjadi pelaku utama adalah ompi bukan aku

6. Latar
a. Latar tempat :
- Diteras rumah Ompi
“Kulihat pak pos memasuki halaman rumah Ompi, tergesa-gesa aku
menyongsong pak pos itu ke ambang pintu” (Navis, 2010: 24)
Dari kutipan di atas sudah terlihat jelaas bahwa diteras atau di halaman
rumah ompi.
- Di kamar Ompi
“Dan ia telentang di ranjangnya, enggan bergerak, sebuah kaca
disuruhnya supaya dipasang pada dinding yang dapat memberi pantulan ke
ambang pintu depan”. (Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas terdapat kata ranjang. Berarti ada di kamar
b. Latar waktu :
- Siang hari
“Kulihat pak pos memasuki halaman rumah ompi, hari waktu itu jam s
ebelas petang”. (Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas menunjukkan pukul 11 petang. Berarti pada siang hari
c. Latar Suasana :
- Menyenangkan
“Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan
kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan”. (Navis, 2010:22)
Dari kutipan di atas ompi terlihat gembira. Berarti suasananya
menyenangkan
- Menyedihkan
“Aku sobek sampul yang kuning muda itu dengna tangan yang
menggigil, sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah
sampai dipuncaknya. Indra Budiman dikatakan sudah meninggal” (Navis,
2010: 24)
“Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat pada Indra
budiman yang bakal jadi dokter tapi tak kunjung mengirimi surat lagi”.
(Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas suasana yang tergambar sangat menyedihkan karena
kehadiran dokter mengingakan ompi pada indra yang suratnya tak kunjung
datnag dan indta dinyatakan meninggal
- Mengenaskan
“Semenjak itu segalanya jadi tak baik. ia jatuh sakit, bahkan sampai
mengigau, dan seleranya patah. Ompi bertambah menderita juga lahir dan
batin”. (Navis, 2010: 21)
“Namun kemalangan itu bertamabah lagi, yaitu ketika Ompi jatuh
terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya keranjanganya dikamar.
Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu
setiap sore”. (Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas ompi jadi jatuh sakit dan selera makannya patah hingga
ia lumpuh. Berarti sangat mengenaskan nasib ompi
7. konflik
a. konflik batin
“Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat
pada Indra budiman yang bakal jadi dokter tapi tak kunjung mengirimi
surat lagi”. (Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa ompi mengalami tekanan batin karena
anaknya tak kunjung mengirim surat lagi sehingga membuat hatinya risau.
b. Konflik fisik
“Namun kemalangan itu bertamabah lagi, yaitu ketika Ompi jatuh
terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya keranjanganya dikamar.
Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu
setiap sore”. (Navis, 2010: 22)
Dari kutipan di atas terlihat bahwa ompi mengalami masalah fisik dengan
jatuh terduduk dan juga mengalami lumpuh

8. Gaya Bahasa
a. Metafora
“Hatinya akan kecil bila dipanggil lain” (Navis, 2010: 15)
“Ketika tersiar pula kabar bahwa ada seorang Ismail terhukum
karena maling dan membunuh. Ompi naik pitam” (Navis, 2010: 15)
“Sekarang kau dimongi orang-orang yang busuk mulut, anakku” (Navis,
2010: 17)
“Dan oleh seleranya yang patah. Ompi bertambah menderita juga” (Navis,
2010:21)
“Kuceritakan dengan hati yang kecut” (Navis, 2010: 23)
b. Simile
“Nama anaknya seolah ikut tercemar” (Navis, 2010: 15)
“Dan semenjak itu, Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan
hari, seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan”
(Navis, 2010: 17)
“Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari
anaknya, layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang
memberikan daging” (Navis, 2010: 20)
“Ia merasa seperti bermimpi dan tubuhnya serasa saringan kapas yang
melayang ditiup angin” (Navis, 2010: 21)
“ Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu”
(Navis, 2010: 21)
c. Hiperbola
“Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti merupa jadi
kenyataan” (Navis, 2010: 16)
“Bacakan pelan-pelan, biar sepatah demi bisa menjalari segala saraf-
sarafku. (Navis, 2010: 25)
“Sehingga ledakan kegembiraan ini tidak membunuhku” (Navis, 2010: 25)
d. Personifikasi
“Maka darah Ompi kencang berdebar” (Navis, 2010: 26)
“ dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya” (Navis, 2010: 21)
9. Amanat
a. Janganlah menjadi orang yang sombong
b. jangan menjadi orang yang suka berbohong
c. jadilah orang yang baik dan suka menolong.
d. jangan suka membuat orang tua kita khawatir
e. jadilah orang yang bisa membuat bangga orang tua
f. berbaktilah kepada orang tua
g. jangan menyia-nyiakan pengorbanan orang tua.

B. Unsur Ekstrinsik Cerpen Anak Kebanggaan.


1. Biografi A.A. Navis.
Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang Panjang,
Sumatera Barat. 17 November 1924-meninggal 22 maret 2003 pada umur 78 tahun)
adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih
dikenal dengan nama A.A Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam
kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah Robohnya Surau Kami. Navis ‘Sang
Pencemooh’ adalah sosok yang ceplas-ceplos. Apa adanya, kritik-kritik
sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar
hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan putih itu
putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor.
Sepanjang hidpUnya kakek dari 13 orang cucu ini telah melahirkan ratusan
karya. Pandangan pria berdarang Minang ini mengenai karya sastra yang baik itu
adalah keawetan sebuah karya yang dihasilkan. Navis memulai pendidikan
formalnya dengan memasuki sekolah Indonesisch Nederiandsch School (INS)
didaerah Kayutaman selama 11 tahun. Kebetulan jarak antara rumah dan sekolah
Navis cukup jauh. Pendidikan Navis secara formal hanya sampai di INS,
selanjutnya ia belajar secara otodidak. Akan tetapi kegemarannya membaca buku
(bukan hanya buku sastra juga berbagai ilmu pengetahuan lain) memungkinkan
intelektualnya berkembang.
Navis memulai karirnya dibidang menulis di usia sekitar tiga puluhan,
sebenarnya ia sudah mulai aktif menulis dari tahun 1950, akan tetapi
kepenulisannya baru dikenal dan diakui sekitar tahun 1955 sejak cerpennya banyak
muncul di beberapa majalah seperti Kisah, Mimbar Indonesia, Budaya, dan Roman.
Karya-karya A.A Navis :
a. Cerita pendek
1. Robohnya Surau Kami (Kumpulan cerpen), Jakarta:Gramedia,1986
2. “Cerita tiga malam”, Roman
3. “Cinta Buta”, Roman
4. “Terasing”
5. “Man Rabuka”
6. “Tiada membawa nyawa”
7. “Perebutan”
b. Puisi
1.Dermaga dengan Empat Sekoci (Kumpulan 34 puisi),
Bukittinggi:Nusantara.
c. Novel
1. Kernarau, Jakarta: GrasIndo,1992
2. Saraswati si Gadis dalam sunyi, Jakarta
2. Psikologi Pengarang
Karena dipengaruhi oleh keadaan lingkungan tempat tinggalnya
yang kebanyakan para orang tua akan menyuruh anak-anak lelakinya yang
sudah cukup umur untuk merantau baik bekerja ataupun menuntut ilmu,
maka dari sisi psikologis pengarang terdapat rasa ingin melukiskan
bagaimana harapan dan perjuangan orang tua kepada anaknya agar dapat
sukses.

3.Psikologi Pembaca
Setelah membaca cerpen Anak Kebanggan karya A.A Navis,
maka pembaca akan menyadari bahwa kasih sayang dan harapan dari orang
tua begitu besar kepada anaknya. Terlebih lagi berharap agar anaknya
menjadi orang yang sukses. Pembaca akan menyimpulkan bahwa
pengarang melukiskan tokoh Ompi sebagai orang tua yang akan melakukan
segala cara agar anaknya dapat sukses dan bahagia, walaupun terkadang
menggunakan cara yang salah.
4. Keadaan lingkungan pengarang
A.A Navis merupakan sastrawan yang dilahirkan di
PadangPanjang, Sumatera Barat. Dan adat istiadat atau kebiasan yang ada
di kota tersebut adalah merantau bagi pemuda yang sudah cukup umur untuk
mengadu nasib ataupun hendak bersekolah. Oleh karena itu pada cerpen
Anak Kebanggaan dilukiskan bahwa Indra Budiman merantau ke Jakarta
untuk bersekolah dengan harapan kelak ia dapat menjadi dokter. Kebiasaan-
kebiasaan atau adat istiadat yang ada disekitarnya itulah yang sedikit
memengaruhi jalan cerita dari cerpen Anak Kebanggaan yang ditulisnya.
5. Lingkungan Budaya
Terdapat nilai budaya yang ada pada cerpen anak kebanggaan karya
A.A Navis, yaitu ketika penulis melukiskan bahwa terdapat adat ataupun
budaya bahwa pihak gadis atau perempuanlah yang datang meminang pria
ketika hendak menikah. Hal tersebut memang merupakan adat istiadat di
PadangPanjang Sumatera Barat, tempat kelahiran penulis.
6. Lingkungan Sosial
Pada cerpen Anak Kebanggan karya A.A. Navis tersebut merupakan
sebuah cerpen yang mengangkat nilai sosial yang sarat akan makan yang
patut untuk dijadikan perenungan bagi generasi muda saat ini, melalui tokoh
utama yaitu Ompi yang berperan sebagai ayah, penulis menceritakan
besarnya kasih sayang orang tua terhadap anak semata wayang yang begitu
ia banggakan sehingga rela menghabiskan uang banyak untuk menopang
hidup anaknya di kota. Namun sayang kebaikan yang diberikan orang tua
tidak dibalas baik oleh anaknya.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa cerpen
merupakan jenis karya sastra modern yang dihasilkan dan berkembang dalam
kehidupan masyarakat modern. Cerpen (cerita pendek) ialah karangan pendek yang
berbentuk naratif. Cerpen mengisahkan sepenggal kehidupan manusia, yang penuh
pertikaian, mengharukan atau menyenangkan, dan mengandung kesan yang tidak
mudah dilupakan. Selain itu cerpen memiliki unsur intrinsik dan juga unsur
ekstrinsik. Dari cerpen anak kebanggaan karya A.A Navis ada banyak sekali
pelajaran yang bisa diambil. Cerpen ini sangat menginspirasi bagi seorang orang
tua bahwa jangan terlalu berharap kepada anak yang bisa menyebabkan dirinya
menderita.
DAFTAR PUSTAKA

Navis. 2010. Anak kebanggan. Jakarta:Gramedia


http://vemysakura.blogspot.com/2016/01/analisis-struktural-cerpen-anak.html
Sinopsis Cerpen Anak Kebanggaan
Dikisahkan ada seseorang yang bernama Ompi. Ia adalah seseorang yang
kaya. Semenjak istrinya meninggal, perhatiannya ditumpahkannya pada anak
tunggalnya. Yang awal mula dinamai Edward, kemudian berganti lagi menjadi
Ismail. karena ada kabar yang tak mengenakkan mengenai nama-nama itu yang
membuat Ompi naik pitam, dan setelah mengadakan kenduri maka nama anaknya
itu berubah lagi menjadi Indra Budiman.
Ompi sangat menginginkan anaknya yaitu Indra Budiman menjadi seorang
dokter, bahkan ia sangat terobsesi sekali. Kemudian Indra Budiman pergi ke
Jakarta. Dan hal tersebut membuat Ompi menjadi yakin bawa setahun demi setahun
segala cita-citanya akan tercapai. Dan benarlah, setiap semester Indra Budiman
mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Hanya dalam
tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya
mengantungi ijazah yang berangka baik.
Semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari.
Tapi semua orang tahu bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi
hanyalah akan menjadi mimpi semata. Tetapi Ompi tidak percaya dan memaki serta
menuduh semua manusia yang dianggap iri hati akan kemajuan yang akan dicapai
anaknya. Dan ia mengirim uang lebih banyak untuk Indra budiman tanpa berpikir
akibatnya. Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi, tak seorang pun lagi yang
membicarakan Indra Budiman padanya, justru sebaliknya kini semua orang seolah
sepakat saja untuk memuji-muji.
Ketika Ompi tahu bahwa ada yang ingin menikah, ia merasa pula bahwa
Indra Budiman sudah patut ditunangkan. Karena adat pada saat itu pihak
perempuanlah yang datang meminang, sudah tentu harapan Ompi tinggal harapan
saja. tapi Ompi tak mau mengerti dan sifatnya angkuh dan mudah tersinggung.
Bahkan ia benci bukan kepalang pada orang-orang yang memiliki anak gadis
cantik, dan bukan kepalang meradangnya ia jika tahu orang-orang mengawinkan
anak gadisnya tanpa memperdulikan Indra Budimannya terlebih dahulu.
Tetapi Ompi justru mengabarkan hal yang lain pada Indra Budiman,
ia mengatakan bahwa sudah banyak gadis cantik yang meminangnya, tapi ia tolak
dengan alasan Indra Budiman lebih baik mencari calon di Jakarta yang akan
sepadan dengan title yang akan didapatkannya kelak. Celakanya, Indra Budian
yang selama ini menyangka tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya, lantas
menjadi sangat percaya, tak teringat olehnya bahwa bohongnya kepada ayahnya
selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. Sejak itu berubahlah letak
panggung sandiwara. Jika dulu sang anak yang berbohong, si ayah yang percaya,
maka kini si ayah yang menipu, si anak yang percaya. Lalu si anak mengharapkan
kepada ayahnya supaya dikirimi foto-foto gadis yang dicalonkan. Dan Ompi
mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya, tidak peduli apakah gadis itu
sudah menikah atau belum, dan masih hidup atau tidak.
Semenjak itu surat dari Indra Budiman tidak pernah datang lagi, dan ia
menjadi jatuh sakit. Ompi patah semangat dan menderita, dalam hidupnya hanya
satu hal yang dinantikannya yaitu surat dari anaknya. Tapi pak pos tak kunjung
datang, dan kemalangan bertambah lagi ketika Ompi menjadi lumpuh dan hanya
bisa berbaring dikasurnya. Dan ia hanya bisa menanti pak pos dikasurnya dengan
keadaan sakit-sakitan. Orang dikampung tak berani memanggil dokter, karena
kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya karena ingat anaknya
yang akan menjadi dokter. Dan suatu hari pak pos datang bukan membawa surat,
tapi telegram. Ompi dengan mata berkaca-kaca meminta tolong untuk dibacakan
telegram itu pada seseorang, karena ia tak bisa membaca. Tetapi sebelum
dibacakan, Ompi telah meninggal dunia sembari memeluk telegram dari anak
kesayangannya.