Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH IMMUNOSEROLOGI

RADIOIMMUNOASSAY (RIA)

Dosen Pengampu :

Nurminha,M.Sc

DisusunOleh :

1. Wenda Darna Santi 1713453001


2. Maya Sari 1713453002
3. Leni Amelia 1713453005
4. Elvi Rahmi 1713453011
5. Tommy Setiawan 1713453012
6. Indah Putri Armeili 1713453016
7. Fera Jati 1713453019
8. Nindya Belasari 1713453023
9. Bagus Saputra 1713453030
10. Risky Messyana 1713453034
11. Sindi Neta Nia 1713453039
12. Oktavia Puspa Dewi 1713453042
13. Andini Syah Putri 1613453025

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D3 ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
ini dengan tepat waktu. Selama pengerjaan makalah ini, kami mencurahkan
pikiran, kemampuan, dan pengalaman sebaik mungkin guna terwujudnya makalah
yang baik. Tidak lupa penulisan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya penulisan
makalah ini.
Penulis menyadari bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak luput dari
kesalahan, kelalaian dan kekurangan, sehingga dapat diterima bila ada kritik dan
saran dari para pembaca agar penulis dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan
dalam pembuatan makalah yang berikutnya.

Bandar Lampung, 18 Agustus 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................................ i

DAFTAR ISI ........................................................................................................................ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... iii

BAB IPENDAHULUAN .......................................................................................................

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................

1.3 Tujuan Pembahasan ..............................................................................................

BAB IIPEMBAHASAN ........................................................................................................

2.1 ................................................................................................................................

2.2 ................................................................................................................................

2.3 .................................................................................................................................

2.4 ................................................................................................................................

2.5 ................................................................................................................................

BAB IIIPENUTUP ................................................................................................................

3.1 Kesimpulan ............................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Radioimmunoassay merupakan metode laboratorium (in vitro method)


untuk mengukur dengan relative tepat jumlah zat yang ada pada tubuh
pasien dengan isotop radioaktif yang bercampur dengan antibody yang disisipkan
ke dalam sampel. Radioimmunoassay merupakan revolusi dalam pemeriksaan
medis. Pada tahun 2009, teknik ini masih revolusioner karena
merupakan blueprint untuk pengembangan metode lebih lanjut dalam teknik
laboratorium di bidang medis.
Teknologi nuklir sekarang ini semakin berkembang seiring dengan
meningkatnya pemanfaatan teknologi nuklir dalam berbagai bidang. Hal ini juga
didukung dengan semakin berkembangnya teknologi. Salah satu pemanfaatan
teknik nuklir yaitu dalam deteksi konsentrasi suatu hormon dengan cara pelabelan
hormon radio-isotop spesifik menggunakan aplikasi teknik nuklir dengan teknik
Radioimmuno Assay (RIA), untuk mendeteksi hormon progesterone. RIA
merupakan satu cara untuk memberi dukungan dalam rangka peningkatan
efisiensi reproduksi terutama yang berkaitan dengan adanya kelainan saluran
reproduksi, dan dilakukan melalui deteksi konsentrasi hormon progesterone dalam
serum.
RIA (Radioimmunoassay) adalah salah satu teknikimmunoassay yang
lebih baik dan lebih sensitif. Pada dasarnya, semua prinsip-prinsipdesain assay
EIA didasarkan pada kesimpulan yang diambil dari penggunaan RIA.Meskipun
RIA masih merupakan teknik yang layak, namun sebagian besar telahdigantikan
oleh CL dan EIA di sebagian besar laboratorium klinis. Berbagai
radioisotopdimanfaatkan dalam pemeriksaan RIA, I125, H3, C14 . Baik CL dan EIA
memilikikeunggulan pada reagen yang lebih stabil dan dapat memiliki batas
deteksi yang lebihsensitif, serta tidak ada masalah dengan pembuangan limbah
berbahaya. adalah metodemenggunakan isotop radioaktif untuk label baik antigen
atau antibodi. Isotop inimemancarkan gamma raysare, yang biasanya diukur
penghapusan berikut terikat (gratis)radiolabel. Keuntungan utama dari RIA,
dibandingkan dengan immunoassays lainnya,adalah sensitivitas yang lebih tinggi,
deteksi sinyal mudah, dan mapan, tes cepat.Kelemahan utama adalah risiko
kesehatan dan keselamatan yang ditimbulkan
oleh penggunaan radiasi dan waktu dan biaya yang terkait dengan mempertahanka
nkeselamatan radiasi berlisensi dan program pembuangan. Untuk alasan ini, RIA
telahdigantikan dalam praktek laboratorium klinis rutin dengan immunoassay
enzim.

1.2 RumusanMasalah
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Radioimmunoassay

RIA Radioimmunoassay pertama kali dikembangkan oleh Rosalyn Yalow


(1921-)dan Solomon A. Berson (1918-1972) dari amerika serikat, pertama kali
mereka bekerja untuk mempelajari tentang hormon khusunya insulin yaitu
hormon yang mengatur kadar gula dalam darah. penelitian mereka membuktikan
bahwa DM tipe II disebabkan oleh insulin yang tidak efisien.
sebelumnya,diperkirakan bahwa DM hanya terjadi karena kekurangan insulin.
kemudian mereka menemukan RIA pada tahun 1959. RIA bisa mendeteksi dan
mngukur triliunan gram substansi per ml darah. karena limit deteksi yang sangat
baik ini makan RIA digunakan sebagai peralatan laboratorium standar. digunakan
untuk mendeteksi jumlah yang sangat kecil dalam darah
Radioimmunoassay adalah teknik nuklir yang banyak digunakan untuk
mengetahui konsentrasi hormon. Pengujian ini menggunakan antibodi yang
spesifik untuk hormon sebagai protein terikat (technical reports series No
233,1984).

2.2. Prinsip Kerja Radioimmunoassay


Prisip dasar dari radioimmunoassay ini adalah reaksi antara antigen dan
antibody di dalam reaksinya ini yang utama adalah sifat kekhususannya, sebuah
antigent yang bereaksi dengan antibody yang spesifik untuknya dan tidak
mengadakan reaksi silang (cross reaction) dengan tipe antigent yang sama. Bahan
pereksi dalam radioimmunoassay ialah antigen radioaktif dan antibody spesifik.
Dasar kerja RIA adalah Untuk mengetahui perbandingan konsentrasi antibody
yang terdapat pada bagian dalam tabung dan antigen yang terdapat didalam
sampel dengan menggunakan radio aktif. Persaingan konsentrasi antigen sampel
dapat ditentukan dari reaksi reduksi pengikatan konsentrasi antigen dari antibody
yang terdapat pada bagian dalam tabung.
Prinsip RIA sederhana,yaitu: isotop di mix dengan antibodi kemudian
disisipkan pada sampel darah pasien. substansi non radioaktif dalam darah akan
menggantikan posisi radioaktif pada antibodi yang mengakibatkan radioktif lepas.
radiaoktif yang bebas ini kemudian diukur untuk menentukan berapa banyak
substansi dalam darah..
Menurut Cook (1990), anti serum untuk hormon yang diuji harus memiliki
spesifik yang tinggi. Ketelitian ini dapat dikurangi dengan syarat bahwa sampel
hormonal berlabel mempunyai kemurnian yang luar biasa. Anti serum mempunyai
efiditas yang tinggi untuk anti gen hormon dan diperlukan titer yang tinggi.
Cairan anti serum yang diguanakan antara 1 : 10.000 dan 1 : 100. Hormon
berlabel menunjukkan reaksi pada antibody dengan cara yang sama dengan
hormone yang tidak berlabel. Ini tidak dapat terjadi jika atom iodine relative lebih
besar dari molekul hormon dalam kompirgurasi yang ditumpangi.
Metode radioimmunoassay (RIA) mempunyai 2 jenis prinsip yaitu
kompetitif dan non kompetitif. Prinsip non kompetitif yang paling banyak di
gunakan adalah sandwich. Prinsip dasar dari sandwich adalah reaksi suatu
antibodi dalam konsentrasi yang terbatas dengan berbagai konsentrasi antigen.
Bagian dari antigen yang bebas dan yang terikat yang timbul sebagai akibat dari
penggunaan antobodi dalam kadar yang terbatas ditentukan dengan menggunakan
antigen yang diberi label radio isotop. Ada dua jenis pendeteksian dengan RIA
yakni competitive RIA dan sandwich immunoradiometric assay (IRMA). Pada
competitive RIA, sejumlah tertentu antibodi diimobilisasi (ditempelkan) pada
suatu fase padat misalnya dinding tabung plastik. Sampel pasien yang mungkin
mengandung biomolekul (misalnya patogen) ditambahkan bersama dengan
sejumlah tertentu biomolekul berlabel radioaktif yang akan berinteraksi dengan
antibodi yang timbul. Intensitas signal radiasi dari biomolekul berlabel radioaktif
yang terikat pada antibodi yang menempel pada dinding tabung akan berbanding
terbalik dengan konsentrasi biomolekul dalam sampel. Sandwich IRMA khusus
dipergunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur suatu biomolekul yang
berukuran besar. Langkah pertama adalah membuat antibodi berlebihan yang
terimobilisasi, langkah berikutnya adalah menambahkan biomolekul yang akan
ditentukan yang ditempelkan pada antibodi tersebut. Jika biomolekulnya sama
seperti antibodi yang terimobilisasi, mereka akan berikatan dengan antibodi dan
membentuk lapisan pertama sandwich. Antibodi kedua yang berlabel radioaktif
kemudian ditambahkan. Antibodi ini akan menempel pada epitope (daerah) yang
berbeda dari biomolekul yang sama dari antibodi yang terimobilisasi. Ini akan
berikatan sebagai lapisan atas sandwich. Signal radiasi akan sebanding dengan
konsentrasi biomolekul dalam sampel.

Gambar 1. Prinsip dasar teknik competitive RIA dan sandwich IRMA.

Pada prinsip kompetitif bahan yang mengandung antigen yang berlabel


dan antigen yang terdapat di dalam sampel akan diberi label radio isotop sehingga
terjadi kompetisi antara antigen yang akan ditentukan kadarnya dan antigen yang
diberi label dalam proses pengikatan antibodi spesifik tersebut sampai terjadi
keseimbangan. Sisa antigen yang diberi label dan tidak terikat dengan antibody
dipisahkan oleh proses pencucian. Setelah itu dilakukan penambahan konyugate,
sehingga terjadi pembentukan kompleks imun dengan konjugate. Jumlah antigen
berlabel yang terikat, antibodi pada fase padat, dan conjugate dapat ditentukan
dengan suatu radiation counter atau gamma counter.
2.3 Prinsip Kerja Teknologi RIA Progesteron (P4)

Teknologi yang paling banyak digunakan untuk peningkatan populasi


ternak, khususnya ternak ruminansia saat ini masih menggunakan teknik
Inseminasi Buatan (IB; artificial insemination). Selain dari keuntungan-
keuntungan yang telah disebutkan sebelumnya, pemanfaatan IB cenderung
meningkat dengan memperhatikan beberapa faktorlain, diantaranya adalah efisien
dalam penggunaan sperma pejantan, lebih murah, mudah diterapkan hingga
tingkat petani ternak kecil, dan mudah dipantau. Keberhasilan pelaksanaan IB
tergantung pada akurasi hasil pengamatan terhadap gejala-gejala berahi ternak.
Pengamatan berahi dilakukan berdasarkan pada kondisi dan tingkah laku ternak,
seperti berkurangnya nafsu makan ternak, saling menaiki antara satu dengan yang
lain (mounting), vulva vagina yang membengkak, dan keluarnya lendir dari vulva.
Teknik RIA merupakan suatu cara pengukuran yang bersifat indirect,
karena dasar dari teknik RIA ini adalah kompetisi antara hormon yang dilabel
dengan radioisotop dengan hormon yang sama tetapi tidak dilabel (dalam sampel)
untuk bersaing berikatan dengan antibodi hormon yang diukur. Salah satu hormon
yang spesifik terhadap kondisi berahi ternak adalah hormon progesteron. Dengan
me-label hormon progesteron dengan radioisotop iodium-125 (125I), dan
selanjutnya dengan membiarkan terjadinya kompetisi antara antibodi yang berasal
dari sampel dengan antibodi yang berlabel, kondisi berahi “sebenarnya” (true
estrus) dapat diketahui dengan tepat.
Prinsip radioimmunoassay dapat diringkas sebagai persaingan reaksi
dalam campuran yang terdiri dari antigen/hormon berlabel radioaktif, antibodi dan
antigen/hormon yang tidak berlabel radioisotop. Antigen radioaktif dicampur
dengan sejumlah antibodi. Antigen dan antibodi berikatan satu sama lain menjadi
satu zat. Kemudian ditambahkan zat yang tidak diketahui jenisnya yang
mengandung sedikit antigen. Zat baru ini merupakan zat yang diuj.
Secara sederhana digambarkan dengan asumsi bahwa antibodi yang dimaksud
berkonsentrasi sangat tinggi untuk dikombinasikan dengan antigen atau antigen
yang berlabel dalam molekul antibodi. Pada saat ikatan kadar protein dan steroid
radioaktif konstan, penghambatan ikatan hormon radioaktif dengan ikatan protein
merupakan fungsi dari jumlah hormon nonradioaktif yang berada pada sampel.

Gambar.2: Skema proses pengujian dengan radioimmunoessay

Dengan diketahuinya teknik RIA progesteron ini, maka pelaksanaan


program peningkatan populasi ternak melalui IB dapat ditingkatkan laju
keberhasilannya dan diharapkan akan bersifat lebih ekonomis. Dari hasil
penelitian yang telah dilakukan, pengamatan berahi didasarkan pada tingkah laku
ternak sapi perah yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan IB,
menunjukkan nilai jumlah IB per kebuntingan (service per conception; S/C)
berkisar antara 2,9– 3,6, khususnya pada ternak multiparus (yang telah melahirkan
atau paritas > 2). Keadaan ini menunjukkan bahwa IB dilakukan pada saat fase
luteal atau anestrus. Status biologis ternak post partum untuk dapat dikawinkan
kembali tergantung padabeberapa hal, antara lain: ketepatan deteksi berahi secara
visual, status fisiologis indung telur ternak, tingkat kualitas pakan, dan kondisi
lingkungan ternak. Munculnya siklus berahi dan keberhasilan IB pasca
melahirkan dengan tanpa pengulanganlayanan IB merupakan keuntungan
ekonomis dalam suatu sistem pemeliharaan ternak. Namun,dengan tidak adanya
keakuratan dalam mendeteksi berahi post partum, yang berdampak
padakegagalanIB di lapangan,akan mengakibatkan panjangnya interval
waktuantar kelahiran. Keadaan ini mengakibatkan kerugian yang cukup besar
akibat biaya pemeliharaan yang dikeluarkan tanpa menghasilkan keturunan (yang
berarti keuntungan).
Pengamatan berahi yang dikombinasikan dengan memperhatikan kondisi
atau status fisiologis indung telur masih jarang dilakukan,khususnya pada ternak
ruminansia besar post partum. Fase luteal merupakansalah satu kondisi fisiologis
pada organ reproduksi dapat digunakan sebagai acuan dalam mendeteksi
munculnya berahi secara lebih akurat. Pada fase ini korpus luteum pada ovarium
mensekresikan hormon progesteron. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan
keberadaan konsentrasi hormon progesteron dalam plasma, serum dan susu
ditentukan dengan adanya korpora lutea (KL) yang terbentuk setelah pelepasan sel
telur (ova) pada ovarium.

2.4 Prosedur Radioimmunoassay

Prosedur RIA Sebagai Berikut :

Gambar 3 : contoh alat Radioimmunoassay

1. Darah masing-masing di pipet 100 ul dan di masukkan ke dalam tabung yang


telah di lapisi oleh lapisan progesteron antibody yang telah diberi label.
2. Tambahkan 1 ml radio isotop 125 I Progesteron lalu kocok dengan
menggunakan vortex mixer kemudian tutup dengan plastic para film dan
disimpan selama 24 jam pada suhu kamar.
3. Setelah disimpan larutan radio isotop di buang kedalam botol khusus, tabung
dikringkan dengan cara dibalik. Selanjutnya progesteron di cacah dengan
gama coanter.
4. Presentase pengikatan progesteron dalam sampel oleh progesteron antibody
spesifik dapat di ketahui dengan membandingkan hasil cacahan 125 I Pada
tabung berlapis antibody tanpa sampel (control).

2.5 Keuntungan dan kelemahan metode Radioimmunoassay


Keuntungan utama dari RIA, dibandingkan dengan immunoassays
lainnya,adalah sensitivitas yang lebih tinggi, deteksi sinyal mudah, dan mapan, tes
cepat.Kelemahan utama adalah risiko kesehatan dan keselamatan yang
ditimbulkan oleh penggunaan radiasi dan waktu dan biaya yang terkait
dengan mempertahankankeselamatan radiasi berlisensi dan program pembuangan.
Untuk alasan ini, RIA telahdigantikan dalam praktek laboratorium klinis rutin
dengan immunoassay enzim.
Kelemahan Radioimmunoassay pada tahun 1959 dengan menggunakan
label radioaktif yang dapat mengidentifikasi komponen imun pada konsentrasi
yang sangat rendah. Pada tahun 1960an para peneliti memulai mencari pengganti
metode RIA karena kelemahannya tersebut berikatan dengan keselamatan petugas
laboratorium. Masalah pembuangan radioaktif, fasilitas laboratorium khusus
dengan persyaratan gedungnya dan mahalnya peralatan yang dibutuhkan,
kelemahan ini dapat mendorong para peneliti untuk mencari label pengganti yang
lebih sederhana, lebih murah, dengan reagen yang tahan lama dan dapat dipakai
oleh hampir semua laboratorium serta mudah dibuat otomatis. Munculah
kemudian gagasan untuk memakai enzim sebagai label dan lahirlah
suatuimunoasai yang baru yaitu Enzyme Immunoassays (EIA).
Tindakan pengamanan khusus harus diperhatikan ketika melakukan
metodeRIA. Isotop radioaktif yang digunakan oleh RIA tes terhadap antigen atau
antibodi label. Perempuan hamil tidak harus bekerja di daerah di mana RIA tes
sedang dilakukan.Personil penanganan reagen isotop harus memakai lencana yang
memantau eksposurmereka terhadap radiasi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

RIA (Radioimmunoassay) merupakan salah satu teknik immunoassay yang


lebih baik dan lebih sensitif. metode ini sangat penting dalam peptide dan hormon
steroid yang terdapat dalam plasma yang kosentrasinya rendah. Metode RIA ini
tergantung kepada kompetisi untuk mendapatkan tempat-tempat kedudukan
(ikatan) pada antibody yang spesifik dari suatu zat tertentu antara zat tertentu di
dalam serum dan zat yang sama ditandai dengan unsur radioaktif
DAFTAR PUSTAKA

https://nuclearthinker.wordpress.com/2014/07/29/radioimmunoassay-ria/

https://www.academia.edu/8448773/LAPORAN_RADIOFARMASI_Radioimmu
noassay_

https://www.scribd.com/doc/97360790/TUGAS-KELOMPOK-5-Diagnostik-
Molekuler

https://www.slideshare.net/fienyun/radioimmunoassay-ria