Anda di halaman 1dari 12

KERANGKA ACUAN KERJA ( KAK )

TAHUN ANGGARAN 2018

PROGRAM
PEMBANGUNAN JALAN DAN JEMBATAN

PAGU DANA : RP. 1.450.000.000,-

PEKERJAAN KONSTRUKSI
PEMBANGUNAN JALAN RUAS TANJUNG SELOR-SAJAU SEGMEN 2

DINAS PEKERJAAN UMUM, PENATAAN RUANG,


PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN
PROVINSI KALIMANTAN UTARA
1

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

PEMBANGUNAN JALAN RUAS TANJUNG SELOR-SAJAU SEGMEN 2

1. LATAR BELAKANG
Dalam rangka meningkatkan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang berkaitan
erat dengan peningkatan perekonomian bagi masyarakat di Tanjung Selor, maka
diperlukan adanya sarana dan prasarana lalu lintas yang memadai. Sarana dan prasarana
tersebut berupa akses jalan dan jembatan dalam kesatuan sistem transportasi. Jalan dan
Jembatan merupakan prasarana utama sektor perhubungan yang mempunyai peranan
penting dalam mendukung terwujudnya sasaran pembangunan nasional terutama dalam
mendukung kegiatan pengembangan sektor produksi dan jasa serta pengembangan suatu
wilayah sehingga terwujud keselarasan pembagian dan kesesuaian pertumbuhan wilayah
regional, perkotaan dan pedesaan yang diselenggarakan secara holistic, berkelanjutan,
berwawasan lingkungan dan memberdayakan masyarakat.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, dalam hal ini mempunyai perhatian khusus
terhadap penanganan jalan dan jembatan yang menghubungkan antara pusat-pusat
kegiatan perekonomian. Kebijakan tersebut ditempuh dengan langkah-langkah yang salah
satunya adalah membangun dan meningkatkan infrastruktur jalan untuk mendorong dan
memacu perkembangan ekonomi dan investasi, yang diarahkan untuk memberikan
kemudahan, kelancaran, kenyamanan dan keselamatan dalam aksebilitas, mobilitas dan
distribusi, sehingga dapat mengurangi waktu tempuh dan biaya pergerakan baik untuk
masyarakat maupun barang.
Untuk menunjang program tersebut, Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum,
Penataan Ruang, Perumahan Dan Kawasan Permukiman Provinsi Kalimantan Utara telah
memprogramkan Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor-Sajau
Segmen 2 pada Kegiatan Pembangunan Jalan untuk Tahun Anggaran 2018.

2. MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari pekerjaan konstruksi ini adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan infrastruktur jaringan jalan dan jembatan di daerah potensial dan
produktif untuk mempercepat pembangunan perekonomian di Provinsi Kalimantan
Utara;
2. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sedangkan tujuan dari pekerjaan konstruksi antara lain :


1. Tercapainya peningkatan jaringan jalan yang sudah ada.

3. TARGET/SASARAN
Target/sasaran yang ingin dicapai dalam pekerjaan konstruksi ini adalah :
1. Membangun Jalan Perbatasan di Kabupaten Tanjung Selor dalam menunjang
percepatan pembangunan ekonomi di Provinsi Kalimantan Utara;

4 NAMA ORGANISASI PENGADAAN BARANG/JASA


Pengguna jasa adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) :
Nama : SUDJADI, ST. MT.
NIP. : 19700622 199803 1 005
Jabatan Struktural : Kepala Bidang Bina Marga
Alamat : Jalan Agathis Tanjung Selor Kabupaten Bulungan
Provinsi Kalimantan Utara.

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
2

5 SUMBER DANA DAN PERKIRAAN BIAYA


Sumber dana yang diperlukan untuk membiayai pekerjaan konstruksi ini berasal dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD) DAK Provinsi Kalimantan
Utara Tahun Anggaran 2018 dengan total biaya sebesar Rp. 1.450.000.000,00 (Satu
Milyar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah) termasuk PPN 10 %.

Keadaan Khusus:
Apabila Dalam Anggaran APBD 2018 tidak teranggarkan (dalam keadaan
Khusus) masuk dalam batang tubuh APBD 2018 propinsi Kalimantan Utara,
maka Penyedia Jasa (Pemenang Lelang) Tidak dapat menuntut atau meminta
pengantian kerugian kepada POKJA/Pemerintah Propinsi Kalimantan Utara

6. RUANG LINGKUP DAN LOKASI PEKERJAAN


a. Ruang Lingkup
Dalam hal melaksanakan pekerjaan, daftar referensi seperti tersebut di bawah ini
ditetapkan dan dipakai sebagai dasar pelaksanaan, namun tidak terbatas pada
referensi berikut :
1. Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Spesifikasi Umum
Pekerjaan Jalan dan Jembatan 2010 Revisi 3;
2. Referensi peraturan atau buku-buku yang sesuai dengan bidang pelaksanaan
konstruksi.
3. Gambar kerja, perincian penawaran, rencana kerja dan syarat-syarat yang
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan kontrak pemborongan
jasa konstruksi.

Dalam pelaksanaan pekerjaan yang dimaksud, penyedia jasa :


1. Diwajibkan untuk melakukan pengukuran lapangan dan membuat Shop Drawing
sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan dan diakhir pelaksanaan pekerjaan
membuat As Build Drawing untuk diajukan dan disetujui oleh Pejabat Pembuat
Komitmen;
2. Diwajibkan melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan jadwal
pelaksanaan pekerjaan yang telah ditetapkan sesuai spesifikasi teknis dalam
kontrak;
3. Diwajibkan melaporkan pelaksanaan pekerjaan secara periodik kepada Pejabat
Pembuat Komitmen;
4. Diwajibkan untuk mengikuti rapat-rapat yang ditentukan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen, seperti Pra Construction Meeting, Rapat Bulanan, Cause Meeting, dan
rapat lainnya sebagai kendali pelaksanaan pekerjaan dan melaksanakan hasil rapat
tersebut;
5. Memberikan peringatan dini dan keterangan yang diperlukan untuk pemeriksaan
pelaksanaan yang dilakukan Pejabat Pembuat Komitmen.
6. Diwajibkan menyerahkan hasil pekerjaan sesuai dengan jadwal penyerahan
pekerjaan yang telah ditetapkan dalam kontrak.
7. Mengambil langkah-langkah yang memadai untuk melindungi lingkungan baik di
dalam maupun di luar tempat kerja dan membatasi perusakan dan
pengaruh/gangguan kepada masyarakat maupun miliknya, sebagai akibat polusi,
kebisingan dan kerusakan lain yang disebabkan kegiatan penyedia jasa.
8. Seluruh kegiatan dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan harus
didokumentasikan dengan foto-foto asli yang dilampirkan dalam laporan hasil
pekerjaan.

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
3

b. Lokasi Pekerjaan
Lokasi pekerjaan konstruksi yang akan dilaksanakan terletak Tanjung Selor Ke Desa
Sajau.

7. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi ditetapkan selama 120 (Seratus Dua
Puluh) hari kalender dengan masa pemeliharaan selama 180 hari kalender terhitung
sejak dikeluarkannya Surat Perintah Mulai Kerja oleh Pejabat Pembuat Komitmen.

8. TENAGA AHLI DAN PERALATAN MINIMAL

Daftar personil inti yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan antara lain :

Lama
Pengalaman
Profesi
Jabatan Dalam Kerja pada
Pendidikan Keahlian/keteram
No pekerjaan yang jabatan
(Minimal) pilan yang masih
akan diusulkan yang sama
berlaku
minimal
(tahun)
1 2 3 4 5
SKA teknik
jalan Madya
General
1 S1 Teknik Sipil 5 (202), K3
Superintendent
konstruksi
Madya (603)
SKA teknik
2 S1 Teknik Sipil Site Manager 5 jalan Madya
(202)
SKA teknik
Highway jalan
3. S1 Teknik Sipil 3
Engineer Madya/Muda
(202)
SKA K3
4. S1 Teknik Sipil Manager K3 3 Konstruksi
Madya (603)
SKA
Quantity Manajemen
5. S1 Teknik Sipil 3
Surveyor Konstruksi
(601)
SKT Juru
Jalan/Jembata
6. SMU / SMK Surveyor 3
n/Pemetaan
(TS 004)
SKT Juru
Operator Operator Alat
7. SMU / SMK 3
Exavator Berat/Exavato
r

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
4

Untuk personil Inti di wajibkan melampirkan ijasah, SKA/SKT (Asli),


Pengalaman di wajibkan Menggunakan Curiculum Vitae beserta surat
keterangan dari pemberi pekerjaan, NPWP dan KTP (Untuk meminimalkan
pemalsuan data), Bila Tidak ada dapat Di Gugurkan

PERALATAN MINIMAL :

Daftar peralatan Minimal yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan antara lain :

Daftar Peralatan Utama minimal yang diperlukan untuk pelaksanaan


pekerjaan:

Jumlah
No Jenis Peralatan Kapasitas
Peralatan

1 2 3 4

1. Excavator 80 -140 HP 2 Unit

2. Dump Truck  3,5 Ton 3 Unit

3. Buldozzer 215 HP 1 Unit

Vibrator Roller (Smooth


4. 132 HP 1 Unit
Drum)

3000 – 5000
5. Water Tanker 1 Unit
liter
6. Motor Grader  100 HP 1 Unit

7. Wheel Loader 1 -1,6 M3 1 Unit

9. KELUARAN/PRODUK YANG DIHASILKAN


Pekerjaan ini diberi nama : “Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor –
Sajau Segmen 2”, dengan uraian pekerjaan sebagai berikut :
I. Divisi 1. Umum
II. Divisi 2. Drainase

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
5

III. Divisi 3. Pekerjaan Tanah

10. PERSYARATAN TEKNIS PEKERJAAN KONSTRUKSI


a. Ketentuan penggunaan bahan/material yang diperlukan
Dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi penyedia jasa diwajibkan mengutamakan
komponen bahan/material yang diproduksi di dalam negeri, dimana harus memenuhi
persyaratan seperti diuraikan di bawah ini :

1. Pekerjaan Tanah Timbunan Biasa


Timbunan yang dikalsifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari bahan
galian tanah atau bahan galian batu yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai
bahan yang memenuhi syarat untuk digunakan dalam pekerjaan permanen.
Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang berplastisitas tinggi yang
diklasifikasikan sebagai A-7-6 menurut SNI-03-6797-2002 (AASHTO M145) atau
sebagai CH menurut “Unified atau Casagrande Soil Classification System”. Bila
penggunaan tanah yang berplastisitas tinggi tidak dapat dihindarkan, bahan
tersebut harus digunakan hanya pada bagian dasar dari timbunan atau pada
penimbunan kembali yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser
yang tinggi. Tanah plastis seperti itu sama sekali tidak boleh digunakan pada 30
em lapisan langsung di bawah bagian dasar perkerasan atau bahu jalan atau tanah
dasar bahu jalan. Sebagai tambahan, timbunan untuk lapisan ini bila diuji dengan
SNI 03-1744-1989, harus memiliki CBR tidak kurang dari karakteristik daya dukung
tanah dasar yang diambi untuk rancangan dan ditunjukkan dalam gambar atau
tidak kurang dari 6% jika tidak disebutkan lain (CBR setelah perendaman 4 hari
bila dipadatkan 100% kepadatan kering maksimum (MDD) seperti yang ditentukan
oleh SNI 03-1742-1989).
Tanah sangat ekspansif yang memiliki nilai aktif lebih besar dari 1,25 atau derajat
pengembangan yang diklasifkasikan oleh AASHTO T258 sebagai “very high” atau
“extra high” tidak boleh digunakan sebagai bahan timbunan. Nilai aktif adalah
perbandingan antara Indeks Plastisitas (PI) – SNI 03-1966-1989 dan persentase
kadar lempung (SNI 03-3422-1994).
Bahan untuk timbunan biasa tidak boleh dari bahan galian tanah yang mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut : Tanah yang mengandung organik seperti jenis tanah
OL, OH dan Pt dalam sistem USCS serta tanah yang mengandung daun-dauan,
rumput-rumputan, akar dan sampah. Tanah dengan kadar air alamiah sangat tinggi
yang tidak praktis dikeringkan untuk memenuhi toleransi kadar air pada pemadatan
(melampaui Kadar Air Optimum + 1%). Tanah yang mempunyai sifat kembang
susut tinggi dan sangat tinggi dalam klasifikasi Van Der Merwe dengan ciri-ciri
adanya retak memanjang sejajar tepi perkerasan jalan.

2. Pekerjaan Tanah Timbunan Pilihan


Timbunan hanya boleh diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan atau timbunan
pilihan berbutir bila digunakan pada lokasi atau untuk maksud dimana bahan-
bahan ini telah ditentukan atau disetujui secara tertulis oleh Direksi Pekerjaan.
Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan pilihan harus terdiri dari bahan
tanah atau batu yang memenuhi semua ketentuan di atas untuk timbunan biasa
dan sebagai tambahan harus memiliki sifat-sifat tertentu yang tergantung dari
maksud penggunaannya, seperti diperintahkan atau disetujui oleh Direksi
Pekerjaan. Dalam segala hal, seluruh timbunan pilihan harus diuji sesuai dengan
SNI 03-1744-1989, harus memiliki CBR paling sedikit 10% setelah perendaman bila
dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum sesuai dengan SNI
1742:2008.

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
6

Bahan timbunan pilihan yang digunakan pada lereng atau pekerjaan stabilisasi
timbunan atau pada situasi lainnya yang memerlukan kuat geser yang cukup,
bilamana dilaksanakan dengan pemadatan kering normal, maka timbunan pilihan
dapat berupa timbunan batu atau kerikil lempungan bergradasi baik atau lempung
pasiran atau lempung berplastisitas rendah. Jenis bahan yang dipilih dan disetujui
oleh Direksi Pekerjaan akan tergantung pada kecuraman dari lereng yang akan
dibangun atau ditimbun. Atau pada tekanan yang akan dipikul.

3. Pekerjaan Penyiapan Badan Jalan


Tanah dasar dapat dibentuk dari timbunan biasa, timbunan pilihan, lapis pondasi
agregat atau drainase porous, atau tanah asli di daerah galian. Bahan yang
digunakan dalam setiap hal haruslah sesuai dengan yang diperintahkan oleh
Direksi Pekerjaan, dan sifat-sifat bahan yang disyaratkan untuk bahan yang
dihampar dan membentuk tanah dasar haruslah seperti yang disyaratkan dalam
spesifikasi.

b. Ketentuan penggunaan tenaga kerja


Penyedia jasa diwajibkan mengutamakan pelaksanaan pekerjaan konstruksi yang
dilakukan di Indonesia oleh tenaga Indonesia. Dimungkinkan menggunakan tenaga
ahli yang tidak berasal dari dalam negeri dengan ketentuan penggunaan tenaga ahli
asing dilakukan semata-mata untuk mencukupi kebutuhan jenis keahlian yang belum
dapat diperoleh di Indonesia, disusun berdasarkan keperluan yang nyata, dan
diusahakan secara terencana untuk semaksimal mungkin terjadinya alih
pengalaman/keahlian dari tenaga ahli asing tersebut ke tenaga Indonesia. Adapun
kualifikasi keahlian yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan dapat dilihat seperti
diuraikan pada point (8).

c. Metode kerja/prosedur pelaksanaan pekerjaan


DIVISI 1. UMUM
1. Pengukuran
Penyedia jasa diharuskan untuk mengadakan pengukuran sebelum pelaksanaan di
lapangan, dan dibuat penggambaran dari hasil pengukuran tersebut dan
dilanjutkan dengan membuat design rencana kerja / Shop Drawing yang disetujui
oleh Direksi Pekerjaan. Setelah gambar di atas telah disetujui, maka pekerjaan
dapat dilaksanakan, bilamana dalam pelaksanaan ada perubahan-perubahan atau
tidak sesuai dengan rencana awal akibat kondisi lapangan, maka harus dibuat
design ulang dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan. Bilamana pekerjaan selesai dan
dapat diserah terimakan, maka hasil pekerjaan ini dituangkan dalam bentuk As
Built Drawing yang ditandatangani Direksi Pekerjaan.

2. Papan Nama Kegiatan


Pekerjaan ini merupakan pembuatan papan nama kegiatan yang dibuat dari kayu
papan dengan standar yaitu uk. 120 em x 240 em. Papan nama kegiatan memuat
data-data kegiatan yang ditentukan oleh Direksi Pekerjaan.

3. Mobilisasi
Lingkup kegiatan Mobilisasi yang diperlukan tergantung pada jenis dan volume
pekerjaan yang harus dilaksanakan sebagaimana disyaratkan dibagian-bagian lain
dari kontrak, dan secara umum harus memenuhi berikut :
a) Ketentuan Mobilisasi untuk semua Kontrak
 Penyewaan atau pembelian sebidang lahan yang diperlukan untuk base
camp Penyedia Jasa dan kegiatan pelaksanaan.

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
7

 Mobilisasi semua Personil Penyedia Jasa sesuai dengan struktur organisasi


pelaksana yang telah disetujui oleh Direksi Pekerjaan termasuk para pekerja
yang diperlukan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan.
 Mobilisasi dan pemasangan peralatan sesuai dengan daftar peralatan yang
tercantum dalam penawaran, dari suatu lokasi asal ke tempat pekerjaan
dimana peralatan tersebut akan digunakan.
 Penyediaan dan pemeliharaan base camp Penyedia Jasa, jika perlu
termasuk kantor lapangan, tempat tinggal, bengkel, gudang, ruang
laboratorium beserta peralatan ujinya, dan sebagainya.
 Perkuatan jembatan lama untuk pengangkutan alat-alat berat.
 Mobilisasi personil dan peralatan dapat dilakukan secara bertahap sesuai
dengan kebutuhan lapangan namun ketentuan ini hanya berlaku untuk
pentahapan mobilisasi peralatan utama dan personil terkaitnya dan harus
sudah diatur jadwalnya terlebih dahulu saat tahap pengadaan jasa
pemborongannya. Pengaturan mobilisasi secara bertahap ini tidak
menghapuskan denda akibat keterlambatan mobilisasi setiap tahapannya
sesuai jadwal yang disepakati dan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kontrak. Setiap tahapan mobilisasi peralatan utama harus
terlebih dahulu diajukan permohonan mobilisasinya oleh penyedia jasa
kepada Direksi Pekerjaan paling sedikit 30 hari sebelum tanggal rencana
awal mobilisasi setiap peralatan utama tersebut.
Dalam segala hal, mobilisasi personil dan peralatan utama yang dilakukan
secara bertahap dan terjadwal tidak boleh melampaui dua pertiga periode
pelaksanaan konstruksinya.
b) Ketentuan Demobilisasi untuk semua Kontrak
Pembongkaran tempat kerja oleh Penyedia Jasa pada saat akhir Kontrak,
termasuk pemindahan semua instalasi, peralatan dan perlengkapan dari tanah
milik Pemerintah dan pengembalian kondisi tempat kerja menjadi kondisi
seperti semula sebelum pekerjaan dimulai.
c) Periode Mobilisasi
Kecuali ditentukan lain dalam kontrak maka mobilisasi dari seluruh mata
pekerjaan yang terdaftar harus diselesaikan dalam jangka waktu 60 hari
terhitung mulai tanggal mulai kerja, kecuali penyediaan fasilitas dan pelayanan
pengendalian mutu yang terdiri dari tenaga ahli, tenaga terampil, dan sumber
daya uji mutu lainnya yang siap operasional, harus diselesaikan dalam waktu
paling lama 45 hari.

DIVISI 3. PEKERJAAN TANAH


1. Timbunan Biasa
Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan
pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan,
untuk penimbunan kembali galian pipa atau struktur dan untuk timbunan umum
yang diperlukan untuk membentuk dimensi timbunan sesuai dengan garis,
kelandaian dan elevasi penampang melintang yang disyaratkan atau disetujui
Direksi Pekerjaan.
Sebelum penghamparan timbunan pada setiap tempat, semua bahan yang tidak
diperlukan harus dibuang sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.
Kecuali untuk daerah tanah lunak atau tanah yang tidak dapat dipadatkan atau
tanah rawa, dasar pondasi timbunan harus dipadatkan seluruhnya (termasuk
penggemburan dan pengeringan atau pembasahan billa diperlukan) sampai dengan
15 em bagian permukaan atas dasar pondasi memenuhi kepadatan yang
disyaratkan untuk timbunan yang ditempatkan di atasnya. Bilamana timbunan akan

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
8

dibangun di atas permukaan tanah dengan kelandaian lereng lebih dari 10%
ditempatkan di atas permukaan lama atau pembangunan timbunan baru, maka
lereng lama akan dipotong sampai tanah yang keras dan bertangga dengan lebar
yang cukup sehingga memungkinkan peralatan pemadat dapat beroperasi.
Tangga-tangga tersebut tidak boleh mempunyai kelandaian lebih dari 4% dan
harus dibuatkan sedemikian dengan jarak vertikal tidak lebih dari 30 em untuk
kelandaian yang kurang dari 15% dan tidak lebih dari 60 em untuk kelandaian
yang sama atau lebih besar dari 15%. Dasar saluran yang ditimbun harus diratakan
dan dilebarkan sedemikian hingga memungkinkan pengoperasian peralatan
pemadat yang efektif.
Timbunan harus ditempatkan ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar
dalam lapisan yang merata yang bila dipadatkan akan memenuhi toleransi tebal
lapisan yang disyaratkan. Bilamana timbunan dihampar lebih dari satu lapis,
lapisan-lapisan tersebut sedapat mungkin dibagi rata sehingga sama tebalnya.
Tanah timbunan umumnya diangkut langsung dari lokasi sumber bahan ke
permukaan yang telah disiapkan pada saat cuaca cerah dan disebarkan.
Penumpukan tanah timbunan untuk persediaan biasanya tidak diperkenankan,
terutama selama musim hujan. Timbunan di atas atau pada selimut pasir atau
bahan drainase porous harus diperhatikan sedemikian rupa agar kedua bahan
tersebut tidak tercampur. Dalam pembentukan drainase sumuran vertikal
diperlukan suatu pemisah yang menyolok di antara kedua bahan tersebut dengan
memakai acuan sementara dari pelat baja tipis yang sedikit demi sedikit ditarik saat
pengisian timbunan dan drainase porous dilaksanakan.
Penimbunan kembali di atas pipa dan di belakang struktur harus dilaksanakan
dengan sistematis dan secepat mungkin segera setelah pemasangan pipa atau
struktur. Akan tetapi, sebelum penimbunan kembali diperlukan waktu perawatan
tidak kurang dari 3 jam setelah pemberian adukan pada sambungan pipa atau
pengecoran struktur beton gravity, pemasangan pasangan batu gravity atau
pasangan batu dengan mortar gravity. Sebelum penimbunan kembali di sekitar
struktur penahan tanah dari beton, pasangan batu atau pasangan batu dengan
mortar juga diperlukan watu perawatan tidak kurang dari 14 hari.
Bilamana timbunan badan jalan akan diperlebar, lereng timbunan lama harus
disiapkan dengan membuang seluruh tetumbuhan yang terdapat pada permukaan
leereng dan harus dibuat bertangga (atau dibuat bergerigi) sehingga timbunan
baru akan terkunci pada timbunan lama sedemikian sampai diterima oleh Direksi
Pekerjaan. Selanjutnya timbunan yang diperlebar harus dihampar horizontal lapis
demi lapis sampai dengan elevasi tanah dasar, yang kemudian harus ditutup
secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah dan atas sampai elevasi permukaan
jalan lama sehingga bagian yang diperlebar dapat dimanfaatkan oleh lalu lintas
secepat mungkin, dengan demikian pembangunan dapat dilanjutkan ke sisi jalan
lainnya bilaman diperlukan.
Lapisan penopang di atas tanah lunak termasuk tanah rawa harus dihampar
sesegera mungkin dan tidak lebih dari 3 hari setelah persetujuan setiap penggalian
atau pembersihan dan pengupasan oleh Direksi Pekerjaan. Lapisan penopang
dapat dihampar satu lapis atau beberapa lapis dengan tebal antara 0,5 sampai 1,0
meter sesuai dengan kondisi lapangan dan sebagaimana diperintahkan atau
disetujui oleh Direksi Pekerjaan.
Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan, setiap lapis harus
dipadatkan dengan peralatan pemadat yang memadai dan disetujui Direksi
Pekerjaan sampai mencapai kepadatan yang dipersyaratkan dan diuji
kepadatannya dan harus diterima oleh Direksi Pekerjaan sebelum lapisan
berikutnya dihampar. Pemadatan timbunan harus dilaksanakan hanya bilamana
kadar air bahan berada dalam rentang 3% di bawah kadarair optimum sampai 1%
Kerangka Acuan Kerja
Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
9

di atas kadar air optimum. Kadar air optimum harus didefinisikan sebagai kadar air
pada kepadatan kering maksimum yang diperoleh bilamana tanah dipadatkan
sesuai dengan SNI 03-1742-1989. Timbunan harus dipadatkan mulai dari tepi luar
dan bergerak menuju ke arah sumbu jalan sedemikian rupa sehinggga setiap ruas
akan menerima jumlah usaha pemadatan yang sama. Bilamana memungkinkan lalu
lintas alat-alat konstruksi dapat dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan lajur
yang dilewati harus terus menerus divariasi agar dapat menyebarkan pengaruh
usaha pemadatan dari lalu lintas tersebut. Bahan untuk timbunan pada tempat-
tempat yang sulit dimasuki oleh alat pemadat normal harus dihampar dalam
lapisan mendatar dengan tebal gembur tidak lebih dari 10 em dan seluruhnya
dipadatkan dengan menggunakan pemadat mekanis.

2. Penyiapan Badan Jalan


Pekerjaan ini mencakup penyiapan, penggaruan dan pemadatan permukaan tanah
dasar/atau permukaan jalan kerikil lama untuk penghamparan Lapis Pondasi
Agregat, Lapis Pondasi Jalan Tanpa Penutup Aspal, Lapis Pondasi Semen Tanah
atau Lapis Pondasi Beraspal di daerah jalur lalu lintas (termasuk jalur tempat
perhentian dan persimpangan) yang tidak ditetapkan sebagai pekerjaan
pengembalian kondisi dan di daerah bahu jalan baru yang bukan di atas timbunan
baru akibat pelebaran lajur lalu lintas. Untuk jalan kerikil, pekerjaan dapat juga
mencakup perataan berat dengan motor grader untuk perbaikan bentuk dengan
atau tanpa penggaruan dan tanpa penambahan bahan baru.
Tanah dasar pada setiap tempat haruslah mempunyai daya dukung minimum
sebagaimana yang diberikan dalam gambar, atau sekurang-kurangnya mempunyai
CBR minimum 6% jika tidak disebutkan.
3. Pembersihan, Pengupasan dan Pemotongan Pohon
Pembersihan dan pengupasan lahan harus terdiri dari pembersihan semua
pohon dengan diameter lebih kecil dari 15 cm, pohon-pohon yang
tumbang, halangan-halangan, semak-semak, tumbuh-tumbuhan lainnya,
sampah, dan semua bahan yang tidak dikehendaki, dan harus termasuk
pembongkaran tunggul, akar dan pembuangan semua ceceran bahan yang
diakibatkan oleh pembersihan dan pengupasan sesuai dengan Spesifikasi ini
atau sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan. Pekerjaan ini juga
harus termasuk penyingkiran dan pembuangan struktur-struktur yang
menghalangi, mengganggu, atau sebaliknya menghalangi Pekerjaan kecuali
bilamana disebutkan lain dalam Spesifikasi ini atau diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Pemotongan pohon yang dipilih harus terdiri dari pemotongan
semua pohon yang ditunjukkan dalam Gambar atau ditetapkan oleh
Direksi Pekerjaan dengan diameter 15 cm atau lebih yang diukur satu
meter diatas permukaan tanah. Pekerjaan ini harus termasuk tidak hanya
penyingkiran dan pembuangan sampai dapat diterima oleh Direksi
Pekerjaan atas setiap pohon tetapi juga tunggul dan akar-akamya.
Pembersihan dan pengupasan lahan untuk semua tanaman/pohon yang
berdiameter kurang dari 15 cm diukur 1 meter dari muka tanah, harus
dilaksanakan sampai batas-batas sebagaimana yang ditunjukkan dalam Gambar
atau sebagaimana diperintahkan Direksi Pekerjaan. Di luar daerah yang tersebut
diatas, pembersihan dan pengupasan dapat dibatasi sampai pemotongan tanaman
yang tumbuh di atas tanah sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi
Pekerjaan. Pada daerah galian, semua tunggul dan akar harus dibuang sampai
kedalaman tidak kurang dari 50 cm di bawah permukaan akhir dari tanah dasar.
Pada daerah di bawah timbunan, di mana tanah humus atau bahan yang tidak
dikendaki dibuang atau yang ditetapkan untuk dipadatkan, semua tunggul dan akar
harus dibuang sampai kedalaman sekurang-kurangnya 30 cm di bawah
Kerangka Acuan Kerja
Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
10

permukaan tanah asli atau 30 cm di bawah alas dari lapis permukaan yang paling
bawah. Pengupasan saluran dan selokan diperlukan hanya sampai kedalaman
yang diperlukan untuk penggalian yang diusulkan dalam daerah tersebut.
Pada daerah di bawah timbunan badan jalan yang ditetapkan oleh Direksi
Pekerjaan, Penyedia Jasa harus menyingkirkan semua tanah humus dan
membuangnya di lahan yang berdekatan atau diperintahkan. Secara urnum tanah
humus hanya termasuk pembuangan tanah yang cukup subur yang mendorong
atau mendukung tumbuhnya tanaman. Tidak ada pembuangan tanah humus yang
keluar dari lokasi yang ditetapkan dengan kedalaman yang kurang dari 30 cm
diukur secara vertikal atau sebagaimana yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan,
dan tanah humus itu harus dibuang terpisah dari galian bahan lainnya.
Bilamana diperlukan untuk mencegah kerusakan terhadap struktur,
bangunan (property) lainnya atau untuk mencegah bahaya atau gangguan
terhadap lalu lintas, bila diperlukan, pohon yang telah ditetapkan untuk
ditebang harus dipotong mulai dari atas ke bawah. Penyedia Jasa harus
menimbun kembali lubang-lubang yang disebabkan oleh pembongkaran
tunggul dan akar-akamya dengan bahan yang cocok dan disetujui oleh
Direksi Pekerjaan. Pekerjaan penimbunan kembali ini tidak dibayar tersendiri,
tetapi harus dipandang sebagai kewajiban Penyedia Jasa yang telah
diperhitungkan dalam Harga Kontrak untuk Pemotongan Pohon. Semua pohon,
tunggul, akar, dan sampah lainnya yang diakibatkan oleh operasi ini harus
dibuang oleh Penyedia Jasa di luar Ruang Milik Jalan (Rumija) atau di lokasi yang
ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.

e. Ketentuan Gambar Kerja


Gambar Kerja (Shop Drawing) adalah gambar yang digunakan untuk pelaksanaan
suatu bentuk konstruksi yang akan dikerjakan yang disusun berdasarkan gambar
rencana (Design Drawing) dan telah disesuaikan (secara detail termasuk dimensi dan
elevasi, perhitungan dan estimasi) dengan kondisi lapangan terkini dan akan
digunakan sebagai dasar pelaksanaan rencana mutu kontrak Penyedia Jasa
(Contractor’s Quality Plan/CQP).
Penyedia jasa harus membuat gambar kerja sebelum pekerjaan dilaksanakan dan
harus mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan baik untuk pelaksanaan pekerjaan
permanen maupun pekerjaan sementara. Penyedia jasa juga harus mengajukan ijin
kerja (Request of Work) sebelum melaksanakan pekerjaan kepada Direksi Pekerjaan
yang dilampiri Gambar Kerja (Shop Drawing) yang telah disetujui. Direksi Pekerjaan
akan memberi rekomendasi Menyetujui/Menolak/Merevisi Request of Work paling
lambat dalam waktu 48 jam setelah diterima pengajuan ijin kerja. Penyedia jasa
segera melaksanakan pekerjaan paling lambat 24 jam setelah disetujuinya ijin kerja
oleh Direksi Pekerjaan dan apabila melebihi ketentuan akan dilakukan pengecekan
ulang oleh Direksi Pekerjaan tentang kesiapan pekerjaan.

f. Ketentuan Perhitungan Prestasi Pekerjaan Untuk Pembayaran


1. Pembayaran pekerjaan dilakukan dengan sistem Sertifikat Bulanan (MC) dimana
penelitian dan pengecekan lapangan atas kebenaran sertifikat tersebut dituangkan
ke dalam Berita Acara Kemajuan Fisik dan Berita Acara Pembayaran yang
ditandatangani pihak terkait.
2. Pembayaran pekerjaan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dalam
anggaran kas Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah
(DPA-SKPD) Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan Dan Kawasan
Permukiman Provinsi Kalimantan Utara Tahun Anggaran 2018.
3. Pembiayaan Pekerjaan Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor –
Sajau Segmen 2 berdasarkan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2
11

Perangkat Daerah (DPA-SKPD) Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang,


Perumahan Dan Kawasan Permukiman Provinsi Kalimantan Utara Nomor :
1.03.1.03.01.15.03 dengan Kode Rekening : 1.03.1.15.03.5.2.3.59.02 melalui
sumber dana Dana Alokasi Khusus Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
Provinsi Kalimantan Utara Tahun Anggaran 2018 dengan nilai sebesar Rp.
1.450.000.000,00 (Satu Milyar Empat Ratus Lima Puluh Juta Rupiah)
termasuk PPN 10%.
4. Hal-hal yang lebih rinci mengenai tata cara pembayaran dimaksud diatur pada
syarat-syarat khusus kontrak yang terdapat di dalam Surat Perjanjian Kerja
(Kontrak).

g. Ketentuan Pembuatan Laporan dan Dokumentasi


Untuk kepentingan pengendalian dan pengawasan pelaksanaan pekerjaan, seluruh
aktivitas kegiatan pekerjaan di lokasi pekerjaan dicatat dalam laporan kemajuan hasil
pekerjaan yang berisi rencana dan realisasi pekerjaan. Jenis laporan meliputi laporan
harian, laporan mingguan dan laporan bulanan. Sedangkan untuk merekam kegiatan
pelaksanaan proyek, Penyedia jasa membuat foto-foto dokumentasi pelaksanaan
pekerjaan di lokasi pekerjaan.
Semua rancangan, gambar, spesifikasi, desain, laporan, dan dokumen-dokumen lain
serta piranti lunak yang dipersiapkan oleh penyedia sepenuhnya merupakan hak milik
Pejabat Pembuat Komitmen. Penyedia paling lambat pada waktu pemutusan atau akhir
masa kontrak berkewajiban untuk menyerahkan semua dokumen dan piranti lunak
tersebut beserta daftar rinciannya kepada Pejabat Pembuat Komitmen. Penyedia dapat
menyimpan 1 (satu) buah salinan tiap dokumen dan piranti lunak tersebut.

h. Ketentuan mengenai penerapan manajemen K3 konstruksi (Keselamatan


dan Kesehatan Kerja)
Penanganan K3 mencakup penyediaan sarana pencegah kecelakaan kerja dan
perlindungan kesehatan kerja konstruksi maupun penyediaan personil yang kompeten
dan organisasi pengendalian K3 Konstruksi sesuai dengan tingkat resiko yang
ditetapkan oleh Pengguna Jasa.

Penyedia Jasa harus mengikuti ketentuan-ketentuan pengelolaan K3 yang tertuang


dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/PRT/M/2009 tentang Pedoman
Sistem Manjemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Konstruksi Bidang
Pekerjaan Umum dan Pedoman Pelaksanaan K3 untuk Konstruksi Jalan dan Jembatan
No. 004/BM/2006 serta peraturan terkait lainnya.

Tanjung Selor, April 2018

Ditetapkan Oleh :
Pejabat Pembuat Komitmen

SUDJADI, ST. MT.


NIP. 19700622 199803 1 005

Kerangka Acuan Kerja


Pekerjaan Pembangunan Jalan Ruas Tanjung Selor – Sajau Segmen 2