Anda di halaman 1dari 14

Al-Baiquniyyah (1)

✒️ Salah satu matan Mustalah Hadis yang paling populer untuk penuntut ilmu pemula yang
berbahasa Arab adalah Matan Mandzhumah Al-Baiquniy.

✒️ Para ulama sejak sekitar 200 tahunan sudah menjadikan matan ini sebagai modul belajar bagi
para pemula dalam Ilmu Mustalah Hadis.

✒️ Matan ini berupa mandzhumah (syair). Terdiri dari 34 bait syair, dan di dalamnya disebutkan
sekitar 31 jenis hadis beserta definisinya secara singkat.

✒️ Di antara keistimewaan matan ini yang membuat para ulama menjadikannya sebagai buku
pertama untuk pemula dalam Ilmu Hadis adalah:
📜 Bahasa syairnya mudah dan sederhana, sehingga mudah dihafal dan dipahami.
📜 Jumlah bait syairnya sedikit, sehingga bisa cepat dihafal.
📜 Meskipun ringkas, tapi matan ini mencakup hampir semua jenis mustalah hadis.
📜 Banyaknya para ulama yang perhatian dengan matan ini, baik dihafalkan, disyarah dalam buku,
ataupun disyarah dalam kajian-kajian ilmu.

✒️ Bagi yang mau belajar Ilmu Mustalah Hadis lewat matan Mandzhumah Al-Baiquniy ini, maka bisa
menempuh dua metode:
1- Bagi yang bisa berbahasa Arab; ia bisa mempelajarinya lewat bahasa Arab dengan mempelajari
seluruh bait-bait syairnya, baik dari segi ilmu tata bahasanya, ataupun dari segi ilmu hadisnya.
2- Bagi yang kurang bisa berbahasa Arab, maka ia dianjurkan untuk mempelajari istilah-istilah hadis
yang ada di dalam matan ini saja, tanpa dipersulit dengan pembahasan ilmu tata bahasa Arabnya.

📜 Taqrib Al-Baiquniyyah (2) 📜


📜 Nama penulis matan Mandzhumah Al-Baiquniy adalah Umar bin Muhammad bin Futuh Al-
Baiquniy. Ini disebutkan oleh Al-Ujhuriy dalam Hasyiah Syarah Az-Zurqaniy, dan Al-Kattaniy dalam
Ar-Risalah Al-Mustathrafah.
📜 Sebagian ulama seperti Az-Zirikliy dalam Al-A'lam dan Umar Kahhalah dalam Mu'jam Al-Mu`allifin
menyebut nama beliau adalah Thaha bin Muhammad bin Futuh Al-Baiquniy.
📜 Beliau berasal dari Damaskus, dan bermazhab Syafii. Nisbah beliau dengan "Baiquniy" merujuk
pada ke sebuah daerah bernama "Baiqun" di wilayah Azerbaijan, Asia Tengah, sebagaimana
dinyatakan oleh Syekh Badruddin Al-Hasaniy dalam Ad-Durar Al-Bahiyyah.
📜 Tahun kelahiran Al-Baiquniy tidak diketahui secara pasti. Hanya saja, tahun wafatnya disebutkan
para sejarawan sekitar tahun 1080 H.
📜 Beliau adalah seorang ulama dari kalangan ahli hadis di abad ke 11 H. Asal beliau dari wilayah
Azerbaijan, dan kemungkinannya beliau hidup di Damaskus sebagaimana dalam penyebutan nisbah
beliau "Ad-Dimasyqiy".
📜 Meskipun Mandzhumah Al-Baiquniy ini sangat populer di seluruh kalangan penuntut ilmu, namun
biografi penulisnya sangat sedikit yang bisa diketahui, bahkan rata-rata penuntut ilmu tidak
mengetahui siapa dirinya.
📜 Sebab itu, tidak terlalu urgen untuk menjadi figur yang populer. Yang terpenting adalah berusaha
menjalankan ibadah dan memberikan sumbangsih pada umat ini semampunya. Adapun perkara
ketenaran, maka itu urusan dan kehendak Allah, bukan urusan kita. Urusan kita adalah agar
bagaimana kita dipopulerkan oleh Allah Ta'ala di atas langit sana di hadapan para malaikat.

⭐Taqrib Al-Baiquniyah (3)⭐


"Mukadimah"
ُْ ُ‫ م َح َّمدُ َخيْر‬. ‫علَى‬
1 - ‫نبي أرسال‬ َ ُ‫صليا‬
َ ‫أبدأُ بالحمدُ م‬
َ ‫وذي من أ ْق‬
2 - ‫ َوكلُ واحد أتى وحدَّه‬. ‫سامُ ال َحديثُ عدَُّْه‬

✒️ Terjemahannya:
[Saya mengawali (mandzhumah ini) dengan mengucapkan al-hamd (pujian kepada Allah), sembari
berselawat kepada kepada Muhammad, nabi paling utama yang diutus…
(Mandzhumah) ini berupa (penyebutan) beberapa klasifikasi hadis, dan setiap jenis akan disebutkan
beserta definisinya…]

✒️ Penjelasan Ringkas:
📜 Penyusun matan ini memulai matan madzhumahnya dengan Al-Hamd atau pujian kepada Allah
Ta'ala. Secara istilah, Al-Hamd bermakna pujian kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan sifat
kesempurnaan-Nya dalam bentuk pengagungan, rasa cinta dan pemuliaan. (Lihat: Majmu' Fatawi
Ibni Taimiyah: 11/133).
📜 Beliau lalu menyandingkan pujian kepada Allah dengan bacaan selawat kepada Nabi Muhammad
shallallahu'alaihi wasallam. Selawat artinya doa agar Allah menambahkan kemuliaan dan
kesejahteraan pada Nabi, tapi manfaatnya kembali pada orang yang mengucapkannya, sebagaimana
dalam hadis, "Siapa yang berselawat untukku satu kali, niscaya Allah akan berselawat (memberinya
rahmat) sebanyak sepuluh kali." (HR Muslim).
📜 Nabi Muhammad merupakan manusia paling utama sekaligus penghulu para nabi, sebagaimana
dalam ucapan penyusun. Dalam HR Muslim juga, beliau bersabda, "Sayalah sayid (pemimpin) seluruh
keturunan Adam, tanpa merasa sombong."
📜 Beliau kemudian menyebutkan bahwa mandzhumah ini ditulis untuk membahas beberapa jenis
hadis yang telah disebutkan oleh para ulama. Di setiap jenis ini beliau akan menyebutkan definisinya
secara ringkas dan sesuai dengan kesesuaiannya dengan matan berupa mandzhumah syair.

📜Taqrib Al-Baiquniyah (4)📜


📜 "Jenis Hadis Pertama: Hadis Shahih" 📜
📜 Penyusun berkata,
ُْ ‫ إ ْسنَادهُ َولَ ُْم يَش ُذَّ أ َ ُْو ي َع‬. ‫صحيحُ َو ْه َُو َما اتَّصل‬
3-‫ل‬ َّ ‫َّأولها ال‬
َ ‫ م ْعتَ َمدُ في‬. ‫ن مثْله‬
4 - ‫ضبْطهُ َونَ ْقله‬ ُْ ‫ع‬
َ ُ‫ضابط‬
َ ُ‫عدْل‬
َ ُ‫يَ ْرويه‬
📜 Terjemahannya:
Jenis hadis pertama adalah shahih, yaitu yang isnadnya muttashil (bersambung), tidak syadz dan
tidak pula didapati 'illah (cacat tersembunyi) padanya…
Ia diriwayatkan seorang 'adl (alim), dhabit (menguasai hadis itu), lagi diakui dhabt dan nukilan
riwayatnya, dari orang-orang yang semisal dirinya (hingga akhir sanad)…
📜 Penjelasan Ringkas:

✒️📜 -Penulis memulai pembahasan ini dengan menyebut pembagian hadis dari segi derajat
kesahihan suatu hadis. Beliau lalu memulainya dengan penyebutan jenis hadis yang paling tinggi
yaitu hadis shahih li dzatihi. Perlu diketahui bahwa hadis shahih memiliki dua jenis, yaitu hadis
shahih li dzatihi (ia sahih tanpa dikuatkan oleh jalur/mutaba'ah atau hadis/syawahid lain), dan
shahih li gairihi (ia sahih karena dikuatkan oleh jalur/mutaba'ah atau hadis/syawahid lain).

✒️📜 -Secara umum, definisi hadis shahih li dzatihi yang juga dinukil oleh penulis ini adalah,
ُ‫ل علَّة‬
ُ َ ‫غيْرُ شذ ْوذُ َو‬
َ ‫ن‬ َُ ‫عن مثْلهُ إ‬
ُْ ‫ م‬,ُ‫ل م ْنت َهاه‬ ُْ ,ُ‫ضبْط‬ َ ُ‫ما اتَّصلُ سنده بنَ ْقل‬.
َّ ‫عدْلُ ت َامُ ال‬
[ Hadis yang sanadnya muttashil (bersambung), lewat nukilan seorang 'adl (alim), lagi memiliki
dhabt (penguasaan hadis) secara sempurna, yang ia riwayatkan dari orang yang sepertinya, hingga
akhir sanad, tanpa terdapat syudzudz, ataupun 'illah (cacat tersembunyi) ]

✒️📜 - Sanad artinya,


ُ‫س ْلسلَةُ الر َجالُ الم ْوصلَةُ إلَى ال َمتْن‬
[ Rantai para perawi yang menjadi penyampai matan hadis ]
Contohnya, (Malik meriwayatkan pada kami, dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu'anhuma bahwa
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "………."). Semua yang ada dalam kurung ini
dinamakan sanad.

✒️📜 - Sedangkan matan artinya:


ُ‫سنَدُ منَُ ْالك ََالم‬
َُّ ‫َما ا ْنت َ َهى إلَيْهُ ال‬
[ Berupa ucapan (lafal) yang terdapat setelah sanad ].
Misalnya, Rasulullah bersabda, (Amalan itu tergantung niatnya). Yang ada dalam kurung ini disebut
matan atau lafal hadis.

✒️📜 - Bila kita mengkaji definisi hadis shahih li dzatihi ini, maka kita akan dapati lima syarat bagi
suatu hadis agar bisa dikatakan sebagai hadis shahih, yaitu: sanadnya muttashil atau bersambung,
rawinya harus 'adl atau alim, rawinya juga harus sempurna dhabt (penguasaannya) terhadap hadis,
dan hadis itu tidak memiliki cacat dari jenis syadz, atau 'illah (cacat tersembunyi).

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (5) 📜


📜 "Syarat Pertama Hadis Shahih: Sanadnya Muttashil" 📜

✒️📜 Makna Hadis Muttashil atau sanad hadisnya muttashil (bersambung), adalah bahwa masing-
masing rawinya menerima hadis itu dari rawi yang di atasnya (gurunya) secara sah, baik lewat sama'
(pendengaran) bacaan hadis itu dari gurunya, atau lewat qiraah (pembacaan) hadis itu terhadap
gurunya.

✒️📜 Jadi, sanad hadis merupakan jalur utama dan pertama bagi suatu hadis untuk diketahui apakah
ia shahih atau dha'if. Sebab itu, kalau hadis yang tidak didapatkan sanadnya setelah dicari di berbagai
buku hadis klasik (mushannafaat haditsiyyah), langsung dinilai sebagai hadis palsu atau hadis batil.
✒️📜 Bila ada satu rawi saja yang tidak mendengar hadis itu dari rawi yang ada di atasnya atau dari
gurunya, maka sanad hadis itu dianggap munqathi' (terputus). Baik terputusnya sanad ini ada di level
sahabat, atau tabiin ataupun level di bawah mereka.

✒️📜 Sebagian ulama mengistilahkan Hadis Muttashil atau sanadnya bersambung ini dengan istilah
Hadis Musnad. Al-Hafidzh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Yang tampak bagi saya lewat penelitian
ucapan para imam hadis dan praktik mereka adalah bahwa bagi mereka istilah Hadis Musnad itu
adalah hadis yang dinisbahkan kepada Nabi shallallahu'alaihi wasallam dengan sanad yang muttashil
(bersambung) secara lahir." (An-Nukat: 1/612)

✒️📜 Sebagian ulama juga menyebut Hadis Muttashil ini dengan istilah "Hadis Maushuul." Bahkan
Imam Asy-Syafi'iy rahimahullah menyebut Hadis Muttashil ini dalam sebagian kitabnya (dalam Ar-
Risalah) dengan istilah "Hadis Mutashil", ada tambahan hamzah saakinah antara huruf miim dan ta.
(Lihat: An-Nukat: 615)

✒️📜 Hadis yang sanadnya munqathi' atau terputus, terbagi ke dalam 6 jenis, yaitu; Hadis Mursal,
Munqathi', Mu'dhal. Mudallas, Mu'allaq, dan Mursal Khafiy. Masing-masing jenis ini akan dibahas
definisinya pada pembahasan-pembahasan selanjutnya, insya Allah.

✒️📜 Sanad hadis yang terputus dianggap sebagai sanad dha'if. Alasannya, karena di dalam sanad itu
seorang rawi belum mendengar hadis itu dari rawi yang di atasnya. Padahal, rawi yang menjadi
perantara ia dengan rawi yang ada di atasnya seharusnya disebut namanya. Ketika namanya
dihilangkan, maka di sana ada keraguan tentang sosok perantara tersebut; apakah ia seorang yang
tsiqah atau dha'if. Karena keraguan inilah, maka hadis yang terputus sanadnya langsung dihukumi
dha'if, lantaran kehati-hatian para ahli hadis dalam mengesahkan suatu ucapan sebagai sabda Nabi
shallallahu'alaihi wasallam.

📜Taqrib Al-Baiquniyah (6)📜


📜 "Syarat Hadis Shahih Kedua: Rawinya 'Adl."

✒️📜 Rawi hadis shahih harus bersifat 'adl (alim dan amanah). Yaitu rawi yang memiliki sifat 'adaalah.
Makna 'adaalah ialah:
ُ‫علَى م َالزَ َمةُ الت َّ ْق َوى والمر ْو َءة‬
َ ‫ملَكَةُ تَحْ ملُ ال َم ْر َُء‬
[ Karakter yang membuat seseorang bisa konsisten di atas takwa dan menjaga muruah (kewibawaan
dirinya) ]

✒️📜 Dari definisi di atas, disimpulkan bahwa seorang yang 'adl (alim dan amanah) harus memiliki
dua kriteria yaitu menjaga takwa dan muruah (wibawa dirinya). Makna takwa adalah menjauhi
amalan buruk baik berupa syirik, bid'ah ataupun maksiat. Adapun muruah (kewibawaan) adalah
kondisi diri seseorang yang tidak membuat dirinya hina di hadapan orang lain.

✒️📜 Namun khusus bagi perawi hadis, para ulama hadis tidak hanya membatasi karakter rawi 'adl
ini pada dua kriteria ini (takwa dan menjaga muruah), tapi mereka menambahkan 3 syarat lain,
sehingga semuanya lima, yaitu berdasarkan definisi yang mereka sebutkan:
ُ‫ن أ َ ْسبَابُ الفسْقُ َوخ ََوارمُ ْالمر ْو َءة‬
ُْ ‫ المسْلمُ ْالبَالغُ ال َعاقلُ السَّالمُ م‬:ُ‫ال َعدْل‬.
[ Al-'Adl adalah seorang muslim, balig, berakal, suci dari kefasikan (yakni bertakwa), serta menjaga
muru`ah (kewibawaan) dirinya ].

✒️📜 Bila di antara rawi suatu hadis ada yang tidak memenuhi salah satu dari 5 kriteria rawi ini, maka
rawi tersebut dianggap bukan rawi 'adl, dan hadis yang ia riwayatkan tersebut tidak akan dinilai
sebagai hadis shahih.

✒️📜 Rawi hadis shahih harus muslim. Bila seorang rawi ketika meriwayatkan hadis adalah kafir,
maka hadisnya akan dianggap batil bahkan palsu, karena ia bukanlah seorang muslim yang bisa
dianggap amanah kepada Allah, apalagi kepada hamba-hamba-Nya. Namun, bila tatkala mendengar
hadis tersebut ia masih kafir, lalu masuk islam dan meriwayatkan hadis itu; maka hadisnya diterima,
karena ketika masuk islam, ia sudah dipercayai bisa memegang amanah keislamannya, meskipun
hadis yang ia riwayatkan tersebut ia dengar saat masih kafir.

✒️📜 Rawi harus dewasa dan berakal. Bila salah satu rawi hadis ketika meriwayatkan suatu hadis ia
masih belum dewasa, atau belum berakal (lantaran masih kecil atau gila) maka hadis yang ia
riwayatkan tersebut dianggap dha'if, karena riwayat seorang anak kecil yang belum dewasa atau
orang gila kepada orang lain tidak dianggap sah oleh para ahli hadis, lantaran dikhawatirkan ia tidak
bisa menghafal secara pasti, atau masih mudah berbohong, atau ia belum sampai pada usia/status
mukalaf. (Lihat: Syarah Alfiyah Al-'Iraqiy).

✒️📜 Rawi yang mendengar hadis ketika ia masih kecil atau belum dewasa, lalu meriwayatkan hadis
tersebut tatkala ia sudah dewasa, maka riwayat hadisnya diterima. Riwayat para sahabat junior
kebanyakannya dari jenis riwayat seperti ini; seperti riwayat Ibnu 'Abbas, Abdullah bin Az-Zubair,
An-Nu'man bin Basyir, dll. Radhiyallahu'anhum.

✒️📜 Rawi harus orang yang suci dari kefasikan, alias bertakwa. Bila takwa ini tidak ada pada diri
rawi, maka hadisnya tidak dianggap shahih. Persoalan ini akan dijelaskan lebih detail pada bahasan
Hadis Dha'if, insya Allah.

✒️📜 Tentunya dalam praktik pencarian 'adaalah para rawi ini, kita akan mendapati adanya rawi yang
kita tidak tahu derajat atau sifat 'adaalah-nya. Nah, rawi yang tidak diketahui sifat 'adaalah-nya; maka
ia disebut rawi majhul. Rawi majhul ini terbagi dalam empat jenis: Majhul Al-'Ain, Majhul Al-Haal
(Mastuur), Mubham, dan Muhmal. Persoalan "Majhul" ini akan dijelaskan secara ringkas setelah
pembahasan Syarat Hadis Shahih Ketiga insya Allah.

⭐Taqrib Al-Baiquniyah (7)⭐


📜📜 "Syarat Hadis Shahih Ketiga: Rawinya Taamm Adh-Dhabt."

✒️📜 Rawi hadis shahih li dzatihi harus Taamm Adh-Dhabt. Taam Adh-Dhabt artinya kekuatan hafalan
seluruh hadis hafalannya harus kuat dan sempurna. Ia bisa salah atau lupa dalam meriwayatkan
hadis lantaran ia juga manusia biasa, tapi persentasenya sangat sedikit (misalnya di bawah 25%).

✒️📜 Bila persentase kesalahan rawi pada seluruh hadis-hadisnya sekitar 25% maka ia disebut
Shaduq dan hadisnya dihukumi hasan. Bila sampai 50% ke atas maka rawi itu disebut Sayyiul-Hifdzhi
atau Dha'if (buruk hafalannya). Ini cuma pendekatan rasionalitas.

✒️📜 Nah, sudah tahu kan kehebatan para ulama hadis? Puluhan ribu rawi hadis itu mereka cek
ketepatan hafalannya satu per satu. Dalam satu rawi saja, mereka tidak hanya mencek ketepatan
ratusan atau puluhan hadis yang ia hafalkan dan riwayatkan, tapi juga mereka mencek TTLnya, tahun
wafatnya, nama-nama gurunya-muridnya, di mana saja ia rihlah menuntut ilmu, kapan hafalannya
berubah jadi dhaif, siapa guru atau utamanya, dll.

✒️📜 Para ulama hadis membagi jenis Dhabt (hafalan) ini dalam dua jenis:
⭐ 1-Dhabt Ash-Shadr, alias Hafalan hadis di luar kepala. Maknanya adalah seorang rawi menguatkan
hafalan hadis yang ia riwayatkan sehingga ia bisa mengucapkan hadis itu kapan saja tanpa melihat
buku atau murajaah dulu.
📜 2- Dhabt Al-Kitab, alias Hafalan atau penjagaan hadis lewat buku. Maknanya adalah seorang rawi
yang menulis hadis dalam bukunya, ia menjaga tulisan hadisnya tersebut agar tidak dirubah atau
terhapus, sejak ia menuliskan hadis itu dari lisan gurunya sampai ia meriwayatkan hadis itu lewat
bacaan tulisannya itu kepada murid-muridnya.

✒️📜 Nah, rawi yang tidak kuat hafalannya, namun buku catatan hadisnya terjaga, maka ia bisa
diterima hadisnya kalau meriwayatkan hadis itu lewat bacaan bukunya, tapi kalau lewat hafalannya
maka hadisnya dianggap lemah, karena hafalannya lemah. Contoh rawi seperti ini adalah Al-Laits bin
Abi Sulaim.

✒️📜 Namun, bila ada rawi yang buku catatan hadisnya ia tidak jaga sehingga dirubah oleh orang lain,
seperti warraaq/sekretarisnya, atau anaknya; maka riwayatnya rawi tersebut akan ditinggalkan
karena buku catatan hadis yang ia meriwayatkan darinya sudah dirubah sehingga tidak lagi diketahui
antara yang sabda Nabi dan mana yang bukan. Rawi seperti ini contohnya adalah Sufyan bin Waki'
Ar-Ruasiy. Meskipun ia Shaduq, tapi karena sekretarisnya merubah catatan bukunya, maka riwayat
Sufyan bin Waki' ini didaifkan.

✒️📜 Demikian pula bila seorang rawi memiliki buku salinan hadis dari sebuah buku hadis (ashlun),
lalu ia tidak mencocokkan buku salinannya tersebut dengan buku aslinya untuk tujuan pentashihan
tulisan, maka para ulama hadis tidak menerima riwayat dari buku salinannya tersebut, kecuali
dengan beberapa syarat: buku salinan hadis itu disalin dari buku hadis yang diakui (ashlun
mu'tamad), penyalin catatan hadis itu profesional (mutqin) dalam menyalin, dan ketika
meriwayatkan hadis dari buku salinan itu perawi hendaknya menjelaskan pada murid-muridnya
bahwa ia belum mencocokkan hadisnya tersebut dengan buku aslinya.

✒️📜 Poin terakhir ini, bila tidak dipahami, maka tidak ada problem, karena ia adalah salah satu kajian
ilmu hadis yang sudah jarang dipraktikkan. Hanya saja, kita bisa mengambil satu manfaat bahwa ahli
hadis sangat detail dan hati-hati; sampai-sampai salinan buku hadis yang belum dicocokkan kembali
dengan buku aslinya tidak dapat diterima kecuali dengan syarat-syarat yang sangat ketat.

✒️📜 Bila hafalan luar kepala atau Dhabt Ash-Shadr seorang rawi lemah, maka ada 5 kemungkinan
bagi rawi tersebut, yaitu: (Fuhsy Al-Galath, Syiddah Al-Gaflah, Katsrah Al-Wahm, Katsrah Al-
Mukhalafah, dan Suu'ul-Hifdzhi). Apa makna 5 istilah ini? Silakan merujuk pada bahasan "Klasifikasi
Hadis" sebelumnya, atau nantikan bahasannya secara lebih luas pada pembahasan "Hadis Dha'if",
insya Allah.

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (8) 📜


📜 Syarat Hadis Shahih Keempat: Tidak Syaadz atau Munkar.

✒️📜 Syaadz secara bahasa bermakna al-infiraad atau al-fard, yang berarti menyendiri, atau
menyelisihi yang lain. Dalam teori dan praktiknya, para ahli hadis tidak membedakan antara Hadis
Syaadz dan Hadis Munkar. Bagi mereka Hadis Syaadz dan Hadis Munkar adalah sama antara definisi
dan status derajatnya.

✒️📜 Hadis Dyaadz atau Hadis Munkar ini terbagi dalam tiga jenis. Masing-masing jenis ini boleh
dikatakan Syaadz dan Munkar. Bila dalam suatu hadis ada cacat dari jenis Syaadz atau Munkar ini;
maka hadis itu mustahil bisa dinyatakan shahih.

✒️📜 Jenis Syaadz atau Munkar Pertama:


ُ‫ن ه َُو أ َ ْوثَقُ م ْنه‬ َ ‫س َواءُ كَانَُ ثقَةُ أ َ ُْو‬
ُْ ‫ضعيْفا) ل َم‬ َّ ُ‫مخَالَفَة‬
َ ( ‫الراوي‬
[ Penyelisihan riwayat seorang rawi –baik ia tsiqah atau dha'if- terhadap riwayat rawi yang lebih
tsiqah dari dirinya ]

✒️📜 Jenis Syaadz atau Munkar Kedua:

َ ُ‫ضعيْفا) ِل َ ْكثَر‬
ُ‫عدَدا م ْنه‬ َ ‫س َواءُ كَانَُ ثقَةُ أ َ ُْو‬ َّ ُ‫مخَالَفَة‬
َ ( ‫الراوي‬
[ Penyelisihan riwayat seorang rawi –baik ia tsiqah atau dha'if- terhadap riwayat para rawi yang lebih
banyak jumlahnya dari dirinya ]

✒️📜 Jenis Syaadz atau Munkar Ketiga:


ُ‫ضعيْفا) َولَ ُْو لَ ُْم تَقَعُ ْالمخَالَفَة‬
َ ‫س َواءُ كَانَُ ثقَةُ أ َ ُْو‬ ُْ ‫الراوي الَّذ‬
َُ ‫ي‬
َ ( ُ‫ل يحْ ت َ َملُ تَفَرده‬ َّ ُ‫تَفَرد‬
[ Bersendirinya seorang rawi -yang tidak bisa diterima riwayat bila menyendiri- dalam
menyampaikan suatu riwayat (baik ia tsiqah atau dha'if) meskipun ia tidak menyelisihi rawi-rawi
lainnya ]

✒️📜 Itulah tiga jenis Hadis Syaadz atau Munkar dalam ucapan para ulama klasik rahimahumullah.
Ketiga jenis ini merupakan jenis hadis dha'if jiddan, tidak bisa menguatkan hadis lain dan tidak bisa
dikuatkan.

✒️📜 Catatan: Al-Hafidzh Ibnu Hajar rahimahullah telah membedakan antara definisi Hadis Syaadz
dan Hadis Munkar dengan menyatakan bahwa:
📜 1-Hadis Syaadz adalah penyelisihan riwayat seorang rawi tsiqah terhadap riwayat para rawi yang
lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya dari dirinya.
📜 2-Hadis munkar adalah penyelisihan riwayat seorang rawi dha'if terhadap riwayat para rawi yang
lebih tsiqah atau lebih banyak jumlahnya dari dirinya.

✒️📜 Namun definisi Ibnu Hajar ini tidak sesuai dengan praktik dan definisi yang dipopulerkan oleh
para ulama hadis sebelum beliau, sehingga kita tetap terikat dengan definisi para ulama sebelum
beliau.

✒️📜 Demikian, sengaja tidak diberikan contoh hadis-hadis dari jenis Syaadz atau Munkar ini, karena
dalam jenis-jenis Hadis Dha'if akan dijelaskan makna Syaadz/Munkar ini secara lebih detail beserta
contohnya, insya Allah. Yang penting dalam bahasan ini bisa dipahami bahwa bila suatu hadis
berstatus Syaadz atau Munkar maka hadis tersebut berstatus Dha'if Jiddan, tidak bisa dijadikan
hujah, serta tidak bisa dikuatkan oleh hadis lain, dan tidak pula bisa menguatkan hadis lain. Allaahu
a'lam.
📜 Taqrib Al-Baiquniyah (9) 📜
📜 "Syarat Hadis Shahih Kelima: Tidak Memiliki 'Illah (Cacat yang Samar)"

✒️📜 Syarat hadis shahih kelima adalah hadis tersebut tidak memiliki 'illah (cacat yang samar). 'Illah
dalam pembahasan syarat hadis shahih kelima ini didefinisikan sebagai,
َُّ َ ‫ي صحَّةُ ْال َحديْثُ َم َُع أ‬
َ ‫ن‬
‫ظاه َرهُ الس ََّال َمةُ مُ ْن َها‬ ُْ ‫سبَبُ خَفيُ يَ ْقدَحُ ف‬
َ
[ Faktor samar yang membuat cacat kesahihan suatu hadis, padahal secara yang tampak hadis
tersebut terbebaskan dari cacat tersebut ]

✒️📜 Namun dalam istilah ilmu hadis dan praktiknya secara umum; 'illah ini bermakna lebih umum
yaitu mencakup faktor cacat/dha'ifnya suatu hadis, baik faktor yang jelas atau samar. Hanya saja,
dalam persoalan syarat hadis shahih ini, 'illah yang dimaksud adalah cacat yang samar sebagaimana
dalam definisi yang disebutkan di atas.

✒️📜 Dari sini kita bisa membagi bahwa faktor/'illah dha'if-nya suatu hadis itu ada dua jenis:
📜 1)-Faktor yang tampak jelas (Al-'Illah Adzh-Dzhahirah). Misalnya, dha'ifnya salah satu rawi, atau
terputusnya sanad hadis secara jelas. Ini faktor yang jelas karena bisa diketahui dengan sekadar
merujuk pada buku-buku Al-Jarh wa At-Ta'dil biasa.
📜 2)-Faktor yang samar atau 'illah khafiyyah. Nah, inilah yang dimaksudkan dalam syarat hadis
kelima ini. Boleh jadi semua rawi hadisnya tsiqah, dan sanadnya muttashil, sehingga banyak pengkaji
langsung mensahihkan hadis tersebut. Tapi ternyata ada 'illah atau cacat yang samar yang terdapat
dalam hadis tersebut yang memang tidak bisa diketahui kecuali oleh para peneliti hadis yang paham
tentang ilmu 'illah atau bahasan cacat hadis yang samar ini. Contohnya, seperti dhaifnya tambahan
satu atau dua lafal dalam hadis tersebut, hadisnya maqlub (terbalik), dll.

✒️📜 'Illah atau cacat yang samar ini tidak ada dalam hadis-hadis rawi yang dha'if, karena hadis yang
rawinya ada yang dha'if langsung diketahui sisi cacatnya secara jelas. Tapi, 'illah ini biasanya terdapat
dalam hadisnya rawi-rawi yang tsiqah, atau ia berupa kesalahan rawi-rawi tsiqah dalam
meriwayatkan hadis.

✒️📜 Persoalan 'illah ini kita akan bahas secara lebih detail beserta jenis dan contoh-contohnya dalam
bahasan Hadis Mu'allal, insya Allah. Yang penting di sini bisa dipahami bahwa 'illah ini adalah cacat
yang samar pada hadis dan bila cacat yang samar ini didapatkan dalam suatu hadis, maka hadis
tersebut akan dinilai dha'if jiddan meskipun syarat-syarat hadis shahih yang empat lainnya sudah
terpenuhi secara sempurna.

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (10) 📜


📜 "Beberapa Faedah Terkait Hadis Shahih"

✒️📜 Hadis shahih li dzaatihi memiliki beberapa jenis berdasarkan derajat kekuatan sanadnya. Ada
hadis shahih yang paling kuat dan ada yang kurang kuat, hanya saja semuanya adalah shahih li
dzatihi. Berikut tingkat kekuatannya (berdasarkan urutan nomor):

✏1-Muttafaq 'Alaih (HR Bukhari Muslim).

✏2-Hadis dalam Shahih Bukhari tanpa Muslim


✏3-Hadis dalam Shahih Muslim tanpa Bukhari

✏4- Hadis shahih sesuai syarat Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya

✏5-Hadis shahih sesuai syarat Imam Bukhari dalam Shahihnya

✏6- Hadis shahih sesuai syarat Imam Muslim dalam Shahihnya

✏7-Hadis shahih sesuai syarat selain mereka berdua.

✒️📜 Secara umum hadis shahih adalah hujah baik ia berupa mutawatir atau ahad. Sebagaimana
dalam ucapan Imam Asy-Syafi'iy rahimahullah, "Saya tidak mendapati para ulama umat islam yang
berselisih tentang hujahnya hadis ahad sebagaimana yang telah saya sebutkan padamu, bahwa hal
itu (berhujah dengan hadis ahad) telah ada dalam (praktik) mereka semua." (Ar-Risalah: 399).

✒️📜 Al-Khathib Al-Bagdadiy rahimahullah berkata, "Beramal (berhujah) dengan hadis ahad
merupakan pandangan seluruh tabiin dan seluruh fukaha mutakhir di seluruh negeri umat islam
sampai zaman kita ini. Tidak sampai kabar pada kita bahwa seorang dari mereka mengingkari hadis
ahad dan menentangnya. Maka dengan ini, sahihlah bahwa merupakan keyakinan agama mereka;
wajibnya berhujah dengan hadis ahad, sebab seandainya di antara mereka (para salaf) ada yang tidak
mengakui hujahnya hadis ahad; maka pasti akan dinukil kepada kita tentang kabar mazhabnya
tersebut." (Al-Kifayah: 1/129)

✒️📜 Namun, dalam praktiknya, beberapa hadis shahih tidak bisa dijadikan hujah, bukan karena ia
hadis ahad, tapi karena terhalangi oleh beberapa dalil lain, semisal; hadis shahih itu mansukh
(terhapus hukumnya), atau hadis itu sama sekali tidak diamalkan oleh para salaf secara ijmak, atau
hadis itu mujmal (global) dan ada hadis lain yang mengkhususkan/membatasi maknanya, dll. Ini
biasanya bisa dipelajari dalam ilmu usul fikih.

✒️📜 Jadi, ketika mendapati suatu hadis shahih, jangan dulu tergesa-gesa mempraktikannya bila hadis
itu tampak aneh, karena boleh jadi hadis itu mansukh atau para salaf telah ijmak untuk tidak
mempraktikkannya. Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata, "Adapun para imam dan fukaha ahli
hadis maka mereka mengikuti hadis shahih bila hadis itu diamalkan oleh para sahabat dan ulama
setelah mereka, atau oleh sekelompok mereka. Adapun bila ia (amalan dengan hadis shahih tertentu)
ditinggalkan (oleh mereka) secara ijmak, maka tidak boleh (bagi kita) mengamalkannya karena
mereka (para salaf) tidaklah meninggalkannya melainkan karena mereka lebih tahu bahwa hadis itu
tidak diamalkan." (Fadhl 'Ilmi As-Salaf: 83)

✒️📜 Buku-buku hadis yang dianggap seluruh hadisnya shahih adalah Shahih Bukhari dan Shahih
Muslim menurut kesepakatan para ulama. Kecuali ada beberapa hadis saja yang masih
diperselisihkan kesahihannya di dalamnya, namun hadis-hadis tersebut sangat sedikit dan tidak
membatalkan kesepakatan para ulama akan keabsahan kandungan dua kitab shahih tersebut. Tidak
ada yang menyelisihi keabsahan Shahih Bukhari dan Muslim kecuali Syiah Rafidah dan beberapa
sekte sesat lainnya.

✒️📜 Ada beberapa kitab-kitab hadis klasik yang membawa judul "Ash-Shahih" seperti Shahih Ibnu
Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban, Shahih Al-Hakim (Al-Mustadrak), Shahih Ibnu As-Sakan, Shahih
Adh-Dhiya' (Al-Mukhtaaraah); namun kitab-kitab ini masih mengandung banyak hadis yang dhaif
atau tidak mencapai derajat hadis shahih sebagaimana Shahih Bukhari dan Muslim.
✒️📜 Oh ya, sebagai pengenal yang belum tahu, dalam ilmu hadis ada salah satu cabang ilmu, namanya
"Mashaadir As-Sunnah." Ilmu ini mengkaji tentang sejarah penulisan hadis-hadis Nabi di setiap era
islam, serta membahas tentang isi seluruh buku-buku hadis dengan beragam variabel atau jenisnya,
beserta biografi penulis dan metode penulisannya. Di antara variabel kitab-kitab hadis selain buku
Ash-Shahih adalah; As-Sunan, Al-Jami', Al-Mushannaf, Al-Musnad, Al-Muwaththa', Al-Garib, At-
Takhrij, Asy-Syuruh, Al-Ahkam, Al-Arba'in, Ats-Tsamaaniin, Al-Ajzaa', Al-Masyihah, Al-Fawaid, Al-
Mustakhraj, Al-Amaliy, Al-Mu'jam, Al-'Ilal, dll. Ini semua menjadi bidang ilmu Mashadir As-Sunnah
(Kitab-Kitab Hadis).

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (11) 📜


📜 "Jenis Hadis Kedua: Hadis Hasan"

✒️📜 Setelah menyebut Hadis Shahih beserta definisinya, Syekh Al-Baiquniy rahimahullah langsung
menyebut hadis hasan beserta definisinya dengan bait:
5 - ُْ‫لَ كالصحيحُ ا ْشت َ َه َرت‬
ُ ُ‫ ر َجاله‬... ُْ‫غدَت‬ َ ‫والَح‬
َ ‫سنُ المعروفُ ط ْرقاُ َو‬
Terjemahannya:
[ Hadis Hasan adalah hadis yang jalur-jalur (riwayatnya) diketahui (secara jelas) dan rijal-nya (rawi-
rawinya) masyhur, tapi tidak seperti (masyhurnya) rawi-rawi hadis shahih ]

✒️📜 Perlu diketahui bahwa Syekh Al-Baiquniy dalam definisi Hadis Hasan ini mengikuti pandangan
Imam Al-Khathabiy rahimahullah, dan bukan pandangan mayoritas Ahli Hadis yang muktamad
dalam definisi Hadis Hasan.

✒️📜 Maksud dari definisi di atas adalah bahwa Hadis Hasan ini adalah hadis yang jalurnya dikenal
atau diketahui secara jelas, sekaligus rawi-rawinya masyhur. Nah, definisi ini tidak tepat untuk Hadis
Hasan, karena masih terlalu global, bahkan definisi Hadis Hasan ini bisa juga dijadikan sebagai
definisi bagi Hadis Shahih, Hadis Dha'if, bahkan Hadis Maudhu', lantaran jalur-jalur hadis-hadis ini
juga terkenal dan rawi-rawinya populer.

✒️📜 Definisi Hadis Hasan yang paling tepat adalah:


ُ‫ل علَّة‬
ُ َ ‫غيْرُ شذ ْوذُ َو‬
َ ‫ن‬ َُ ‫عن مثْلهُ إ‬
ُْ ‫ م‬,ُ‫ل م ْنتَهاه‬ ُْ ,ُ‫ضبْط‬ َ ُ‫ما اتَّصلُ سنده بنَ ْقل‬.
َّ ‫عدْلُ خَفيْفُ ال‬
[ Hadis yang sanadnya muttashil (bersambung), lewat nukilan seorang 'adl (alim), lagi memiliki
dhabt (penguasaan/hafalan hadis) yang agak kuat, yang ia riwayatkan dari orang yang sepertinya,
hingga akhir sanad, tanpa terdapat syudzudz, ataupun 'illah (cacat tersembunyi) ]

✒️📜 Dengan definisi ini, berarti definisi bahkan syarat-syarat Hadis Shahih hampir sama dengan
Hadis Hasan, hanya saja yang membedakannya adalah pada satu syarat, yaitu kekuatan hafalan
rawinya. Kalau Hadis Shahih, kekuatan hafalan rawinya harus sangat kuat atau sempurna (taam adh-
adhabt), maka pada Hadis Hasan kekuatan hafalan rawinya agak kuat (khafiif adh-dhabt); ia punya
hafalan kuat tapi agak kurang.

✒️📜 Kekurangkuatan hafalan rawi Hadis Hasan ini bisa diperkirakan; misalnya dari 100 hadis yang
ia riwayatkan maka 25 % sampai 40 % dari hafalan itu ada salahnya. Nah, ini bisa dianggap kurang
kuat hafalannya. Tapi, kalau dari 100 hadis itu ia hanya salah dibawah 25 %, maka orang itu kuat
hafalannya dan hadisnya bisa dianggap Shahih. Bila ia jarang salah, atau salahnya cuma di bawah 5
% (karena tidak ada manusia yang sempurna), maka mereka sudah merupakan orang paling tsiqah
(istilahnya: awtsaq an-naas, atau tsiqah tsabtun, atau atsbatun-naas, dll) sebagaimana bisa dipelajari
dalam Ilmu Al-Jarh wa At-Ta'dil. Semoga.

✒️📜 Bagaimana para ahli hadis bisa mengetahui si rawi A sangat kuat hafalannya, dan si rawi B agak
kuat hafalannya, dan si rawi C dha'if hafalannya? Caranya adalah mereka membandingkan antara
hadis-hadis rawi tersebut dengan hadis-hadis yang sama yang dimiliki rawi-rawi tsiqah lainnya, bila
ia banyak menyepakati hadis-hadis rawi-rawi tsiqah tersebut maka ia dianggap tsiqah juga, bila agak
banyak menyelesihi mereka maka akan dianggap shaduq, atau la ba'sa bihi, atau laisa bihi ba's, dan
bila banyak menyelisihi maka akan dianggap dha'if hafalannya, atau sayyi'ul-hifdzh.

✒️📜 Nah, bila ada hadis dengan derajat Hasan, lalu datang Hadis Hasan lain yang agak sama dengan
lafal atau makna hadis itu; maka ketika hadis-hadis yang hasan itu digabungkan, ia akan berubah
menjadi Hadis Shahih Li Gairihi (Hadisnya Hasan tapi menjadi Hadis Shahih karena dikuatkan oleh
Hadis Hasan yang lain). Allaahu a'lam.

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (12) 📜


📜 "Beberapa Fawaid terkait Hadis Hasan"

✒️📜 Hadis hasan itu rawinya bergelar shaduq, atau yang selevel dengannya seperti laa basa bihi, atau
laisa bihi bas, atau yang semisalnya. Baik rawi-rawi dalam satu rantai sanad itu shaduq semua, atau
yang shaduq cuma satu dan lainnya tsiqah. Intinya ketika dalam satu sanad ada rawi yang shaduq,
atau yang selevel, maka hadis itu langsung dinilai shaduq meskipun rawi-rawi lainnya tsiqah.
Tentunya asal rawi-rawinya tidak ada yang dha'if, karena keberadaan rawi dha'if meskipun satu akan
membuat hadis itu dinilai dha'if.

✒️📜 Misalnya hadis,


ُ‫ل َمخيلَة‬
ُ َ ‫ َو‬,ُ‫س َرف‬
َ ُ‫غيْر‬ ُْ ‫صد‬
َ ‫َّق في‬ ُْ َ‫ َو ْالب‬,ُْ‫ َوا ْش َرب‬,‫ل‬
َ َ ‫ َوت‬,‫س‬ ُْ ‫ك‬
(Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa ada pemborosan dan sikap
sombong."
Hadis ini HR Ahmad, Abu Daud, Tirmizi dll dari jalur Hammam bin Yahya Al-'Audziy, dari Qatadah
As-Sadusiy, dari 'Amr bin Syu'aib, dari ayahnya Syu'aib bin Muhammad, dari kakeknya Abdullah bin
Amr radhiyallahu'anhuma, dari Nabi shallallahu'alaihi wasallam.
Hadis ini hasan, karena meskipun Hammam dan Qatadah adalah tsiqah, tapi 'Amr bin Syu'aib dan
ayahnya, Syu'aib bin Muhammad adalah shaduq.

✒️📜 Dari segi kehujahan, maka Hadis Hasan sebenarnya sama dengan Hadis Shahih. Ia adalah hujah
dan bisa dijadikan dalil, meskipun Hadis Shahih tentunya lebih kuat dan lebih selamat dari kesalahan
lafalnya. Ada segelintir ulama hadis yang tidak menerima Hadis Hasan ini, namun itu bukan pendapat
yang muktamad, karena Ahli Hadis telah ijmak akan kehujjahannya.

✒️📜 Kebanyakan hadis-hadis yang menjadi hujah atau dalil saat ini di semua bidang ilmu adalah
Hadis Hasan, baik Hasan li Dzatihi atau Hasan li Gairihi. Imam Al-Bagawiy Asy-Syafi'I berkata,
"Kebanyakan hukum-hukum itu ditetapkan dengan hadis dengan nilai hasan." (Al-Mashabih: 1/2).
Al-Khaththabiy juga berkata, "Hadis Hasan ini merupakan pusat kebanyakan hadis." (Al-Ma'alim:
1/11)

✒️📜 Di antara kitab-kitab hadis yang di dalamnya bertebaran hadis-hadis dengan derajat hasan
adalah Jami' At-Tirmizi, Sunan Abu Daud, Musnad Ahmad, dan kitab-kitab hadis lainnya. Jami' Tirmizi
adalah buku yang paling banyak memuat hadis hasan, apalagi Imam Tirmizi memang banyak menilai
hadis di dalamnya dengan derajat "hasan."

✒️📜 Faedah terakhir, Syekh kami, Dr. Abdushshamad Aalu 'Aabid hafidzhahullah selalu becanda
dengan menyatakan bahwa yang menyebut buku Tirmizi dengan julukan "Sunan Tirmizi" berarti
ketahuan dirinya bukan penuntut ilmu hadis, karena yang tepat adalah Jami' Tirmizi, karena buku
hadis Tirmizi itu bukan dalam bentuk Sunan, tapi dalam bentuk Jami'. Mungkin akan dibahas di lain
waktu, insya Allah, atau menjadi bahan diskusi di komentar.

⭐Taqrib Al-Baiquniyah (13)⭐


📜 "Jenis Hadis Ketiga: Hadis Dha'if"

✒️📜 Setelah Syekh Al-Baiquniy rahimahullah menyebutkan Hadis Hasan, maka beliau langsung
menyebutkan Hadis Dha'if beserta definisinya secara ringkas dengan menyatakan:
َ ‫ فَ ْه َُو الضَّعيْفُ َو ْه َُو أ َ ْق‬... ‫ن رتْبَةُ الحسن قَص ُْر‬
6 - ‫ساماُ كث ُْر‬ ُْ ‫ع‬
َ ‫وكلُ َما‬
Terjemahannya:
[ Dan setiap (hadis) yang kurang dari (memenuhi) derajat (dan syarat-syarat) Hadis Hasan… maka
ia adalah Hadis Dha'if, dan ia memiliki jenis-jenis yang banyak ]

✒️📜 Di sini beliau mengisyaratkan bahwa makna Hadis Dha'if adalah yang tidak mencapai level Hadis
Hasan, apatah lagi Hadis Shahih. Sebagian ulama seperti Ibnu Hajar rahimahullah (dalam An-Nukat:
1/247) menyatakan bahwa definisi yang tepat bagi Hadis Dha'if adalah:
ُ‫كلُ َحديْثُ لَ ُْم تَجْ ت َم ُْع فيْهُ صفَاتُ ْالقَب ْول‬
[ Setiap hadis yang tidak terpenuhi di dalamnya karakteristik (syarat-syarat) hadis yang maqbul
(diteriman) ]

✒️📜 Maknanya: bila suatu hadis tidak memenuhi salah satu saja dari 5 syarat Hadis Hasan yang telah
disebutkan dan dibahas sebelumnya, maka hadis itu dianggap Hadis Dha'if. Bila ia tidak memenuhi
dua syarat dari 5 syarat tersebut, maka hadis tersebut bisa dianggap Dha'if Jidaan, yang tidak bisa
diamalkan dan dijadikan hujjah termasuk dalam Fadilah Amal sekalipun bagi yang membolehkan
Hadis Dha'if dalam Fadail.

✒️📜 Hadis Dha'if ini memiliki jenis yang sangat banyak sebagaimana dalam ucapan Syekh Al-
Baiquniy rahimahullah. Sebagian ulama seperti Ibnu Hibban (sebagaimana dinukil dalam Alfiyah Al-
'Iraqiy) menyebutkan bahwa jenisnya mencapai 49 jenis, bahkan sebagian mereka menyebutkan
lebih dari seratus.

✒️📜 Hadis Dha'if atau Marduud pada umumnya disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

✏ 1)-Terputusnya sanad. Di antara jenisnya adalah Hadis Mursal, Munqathi', Mudallas, Mu'dhal,
Mu'allaq, dan Mursal Khafiy.

✏2)-Dha'if-nya rawi-rawinya. Di antara jenisnya adalah Hadis Mu'allal, Maqlub, Syaadz, Mudhtharib,
Mudraj, Munkar, Matruk, Maudhu'.
Semua ini akan disebutkan oleh Syekh Al-Baiquniy dalam bait-bait Al-Baiquniyah ini kecuali Hadis
Mu'allaq.

✒️📜 Perlu diketahui juga bahwa Hadis Dha'if itu berbeda-beda level kedha'ifannya; ada yang
dha'ifnya ringan sehingga bisa dikuatkan oleh Badis Dha'if lain yang selevel atau lebih agak kuat, ada
yang dha'ifnya sangat kuat sehingga mencapai Munkar atau Dha'if Jiddan. Adapun Hadis
Maudhu'/Palsu; maka sebenarnya ia bukan hadis, hanya saja diberikan julukan "hadis" di depannya
lantaran ia telah dianggap hadis oleh sebagian orang, juga karena beberapa sebab lainnya yang akan
dibahas di pembahasan Hadis Maudhu'.

✒️📜 Lalu apakah para ulama mengamalkan Hadis Dha'if? Apakah penyertaan hadis-hadis dha'if
dalam kitab-kitab hadis mereka menunjukkan bahwa mereka berdalil dan mengamalkan kandungan
Hadis Dha'if, atau ada tujuan lainnya? Semoga bahasannya bisa dimudahkan pada bahasan
selanjutnya, Bi Idznillaah.

📜 Taqrib Al-Baiquniyah (14) 📜


📜 "Hukum Beramal Dengan Hadis Dha'if"

✒️📜 Ulama mutakhirin berbeda pandangan dalam pengamalan Hadis Dha'if, setidaknya ada 4
pandangan terkait hal ini;

✏ 1-Pandangan Mutasyaddid/Berlebihan; bahwa Hadis Dha'if tidaklah diamalkan meskipun


dikuatkan oleh Hadis Dha'if lain, dan menjadi Hadis Hasan li Gairihi.

✏2-Pandangan Mutasahil/Bermudah-mudahan; bahwa Hadis Dha'if boleh diamalkan secara mutlak.

✏ 3-Pandangan yang menyatakan bahwa Hadis Dha'if tidak diamalkan secara mutlak, baik dalam
Akidah, Halal dan Haram, maupun Fadilah Amal.

✏4-Pandangan yang menyatakan bahwa Hadis Dha'if tidak bisa diamalkan dalam persoalan Akidah
dan Halal Haram, tapi boleh diamalkan dalam Fadilah Amal dengan beberapa persyaratan.

✒️📜 Tentunya pendapat pertama dan kedua adalah pandangan yang bukan muktamad bahkan
sangatlah dha'if. Adapun pendapat ketiga dan keempat, maka merupakan dua pandangan yang
hampir sama, meskipun dalam segi praktik, ulama yang memilih pandangan yang keempat banyak
kali tidak bisa memenuhi syarat-syarat penggunaan Hadis Fadilah Amal secara sempurna. Akan
dijelaskan pada bahasan selanjutnya, insya Allah.

✒️📜 Terkait pandangan pertama, yaitu menolak Hadis Hasan li Gairihi; maka ia adalah pandangan
yang disandarkan pada Abu Zur'ah dan Abu Hatim rahimahumallah, tapi yang berpandangan seperti
ini sudah sangat jarang. Karena para imam mutaqaddimin seperti Imam Bukhari dan muridnya,
Tirmizi, serta Abu Daud bahkan sampai Ad-Daraquthiy, semuanya mengamalkan Hadis Hasan li
Gairihi, bahkan rata-rata para ulama hadis berpandangan seperti ini, meskipun derajatnya tentu
lebih rendah dari pada Hasan li Dzatihi. Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Meskipun ia (Hasan
li Gairihi) sampai pada derajat Qabul (diterima sebagai hujah), namun ia lebih rendah dari derajat
Hadis Hasan li Dzatihi.." (An-Nuzhah: 105)

✒️📜 Adapun pandangan mengamalkan Hadis Dha'if secara mutlak dalam Halal Haram, maka ini
pandangan sebagian Ahli Fikih dan dipopulerkan oleh Syekh Muhammad 'Awwamah dll, tapi ia
adalah pandangan yang lemah. Pendapat ini banyak muncul dari praktik bermudah-mudahannya
Ahli Fikih yang bukan berasal dari kalangan Ulama Hadis dalam berdalil dengan Hadis Dha'if dalam
persoalan Halal Haram. Lihat saja buku-buku Fikih, khususnya hawasyi mutakhirin, di sana
bertebaran banyak Hadis Dha'if yang bahkan di antaranya tidak punya sumber sama sekali dari
berbagai buku hadis.

✒️📜 Sebagian orang menyandarkan kebolehan beramal dengan Hadis Dha'if ini secara mutlak pada
imam Mazhab yang empat, serta beberapa ulama Ahli Hadis seperti Imam Abu Daud dan beberapa
ulama lainnya. Tapi ini sebenarnya berangkat dari kesalahpahaman terhadap ucapan mereka.
Berikut ringkasan pembahasannya:

✒️📜 Ucapan Imam Ahmad dan lainnya seperti Abu Daud bahwa "Hadis Dha'if lebih mereka sukai
daripada Pendapat Ulama" maksudnya adalah bahwa Hadis Dha'if dalam ucapan Imam Ahmad itu
adalah Hadis Hasan, karena dulu Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya membagi hadis pada dua
jenis, bukan tiga, yaitu Hadis Shahih dan Hadis Dha'if. Lalu Hadis Dha'if mereka bagi dua, yaitu:

✏ 1)-Hadis Dha'if yang bisa dijadikan hujjah, dan ini adalah Hadis Hasan dalam istilah ulama
mutakhirin.

✏2)-Hadis Dha'if yang tidak bisa dijadikan hujjah. Ini adalah Hadis Dha'if dalam istilah kita. (Lihat
Majmu' Fatawa 18/23, dan A'laam Al-Muwaqqi'in: 1/31-32).

✒️📜 Yang diriwayatkan dari Imam Syafi'iy bahwa ia mengamalkan Hadis Dha'if secara mutlak seperti
Hadis Mursal, adalah kesalahpahaman terhadap ucapan dan praktik beliau. Dalam Ar-Risalah beliau
menetapkan 8 syarat ketat untuk bisa mengamalkan Hadis Mursal, itupun Mursal yang beliau
maksud adalah Mursal Kibar Tabiin yang rata-rata guru mereka adalah para sahabat, bukan semua
Hadis Mursal. Pembahasan ini akan dibahas secara lebih detail dalam bahasan "Hadis Mursal"
insyaAllah.

✒️📜 Lagipula, pandangan beramal dengan Hadis Dha'if ini adalah bukan pandangan yang mewakili
pandangan para Imam Ahli Hadis secara turun temurun. Apalagi Ahli hadis telah sepakat bahwa
Hadis Dha'if hanya memberikan Dzhann Marjuuh (prasangka yang tidak kuat), dan prasangka yang
tidak kuat ini sama sekali tidak bisa dijadikan hujah dan diamalkan dalam Halal dan Haram, karena
dalam persoalan Halal Haram harus bersumber dari Dzhann Rajih atau prasangka yang kuat, bukan
prasangka yang lemah seperti Hadis Dha'if. Wassalam.