Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH METODE NEWTON RAPHSON

Makalah ini Diajukan untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Metode Numerik
Dosen Pengampu: Nendra Mursetya Somasih Dwipa, M.Sc

Disusun oleh:
Kelompok 2/7A4
Dian Nurikawati (16144100041)
Ambar Nawati Choironi (16144100052)
Nur Isna Fauzia (16144100090)
Hana Mukhairiyyah (17144100033)
Dwi Nita Utami (17144100037)
Sundap Priyatna (17144100089)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA
2019
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
karuniaNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah Metode Newton
Raphson dan Metode Secant dengan harapan dapat bermanfaat dalam menambah
ilmu dan wawasan kita.
Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Metode
Numerik. Dalam membuat Makalah ini, dengan keterbatasan ilmu pengetahuan
yang kami miliki, kami berusaha mencari sumber data dari berbagai sumber
informasi, terutama dari media internet dan media cetak. Kami juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu
dalam pembuatan Makalah ini dan beberapa sumber yang kami pakai sebagai data
dan acuan.
Dalam penulisan Makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan -
kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Tidak semua bahasan dapat
dideskripsikan dengan sempurna dalam Makalah ini. Untuk itu kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan Makalah ini.
Akhirnya kami selaku penyusun berharap semoga Makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi seluruh pembaca.

Yogyakarta, 28 Oktober 2019

ii
Daftar Isi
Kata Pengantar ...................................................................................................... ii

Daftar Isi ............................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN...................................................................................... 1

A. Latar Belakang ........................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah...................................................................................... 2

C. Tujuan ......................................................................................................... 2

BAB II KAJIAN PUSTAKA ................................................................................ 4

A. Metode Numerik......................................................................................... 4

B. Angka Bena ................................................................................................. 5

C. Deret Taylor dan Maclaurin ..................................................................... 9

D. Galat (Error)............................................................................................. 13

E. Persamaan Non Linier ............................................................................. 15

F. Metode Tertutup ...................................................................................... 16

G. Metode Terbuka ................................................................................... 18

BAB III PEMBAHASAN.................................................................................... 19

A. Metode Newton Raphson ......................................................................... 19

B. Metode Secant........................................................................................... 23

BAB IV STUDI KASUS ...................................................................................... 30

BAB V KESIMPULAN ....................................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 35

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam permasalahan non linear, terutama permasalahan yang
mempunyai hubungan fungsi eksponensial dalam pembentukan polanya dapat
dianalisis secara eksperimental atau secara teoritis. Sala satu bagian dari analisa
teoritis adalah dengan melakukan komputasi dengan metode numerik. Metode
numerik dalam komputasi akan sagat membantu dalam menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang rumit diselesaikan secara aritmetika. Metode
numerik akan sangat membantu setiap penyelesaian permasalahan apabila
secara matematis dapat dibentuk suatu polahubungan antar variabel/parameter.
Metode numerik digunakan karena model matematika yang sering
muncul adakalanya tidak dapat diselesaikan dengan metode analitik. Seperti
halnya untuk menentukan solusi dari persamaan (akar persamaan) yang
berbentuk f(x) = 0. Sebuah bilangan dianggap akar dari sebuah persamaan jika
seandainya bilangan tersebut dimasukkan ke dalam persamaan, maka nilai
persamaan itu akan sama dengan nol atau bisa dikatakan akar sebuah
persamaan f(x) = 0 adalah nilai-nilai x yang menyebabkan nilai f(x) sama
dengan nol. Persamaan yang bentuknya sederhana seperti persamaan linier dan
persamaan kuadrat dapat dengan mudah diselesaikan secara analitik. Sehingga
jika suatu persoalan sudah sangat sulit atau tidak dapat menggunakan metode
analitik, dapat digunakan metode numerik. Metode numerik ini disajikan dalam
bentuk algoritma-algoritma yang dapat dihitung secara cepat dan mudah.
Pendekatan yang digunakan dalam metode numerik merupakan pendekatan
analisis matematis, dengan tambahan grafis dan teknik perhitungan yang
mudah.
Ada 2 pendekatan yang dapat digunakan pada penyelesaian persamaan
non linier yaitu dengan metode tertutup dan metode terbuka. Metode tertutup
(Bracketing Method) adalah metode yang hanya membutuhkan 2 tebakan awal
untuk mengira-ngira akar dari sebuah persamaan. Sebuah fungsi sesuai

1
jenisnya akan berubah disekitar harga suatu akar. Akar sebenarnya dari
persamaan tersebut nantinya akan berada di antara 2 angka yang telah ditebak
tersebut. Sementara itu metode terbuka adalah metode yang tidak memerlukan
batas bawah dan batas atas pada perkiraan nilai awal. Karena hal itu, bila
tebakan awal tepat, maka hasilnya akan mendekati akar yang sesungguhnya
dengan kecepatan lebih cepat dari metode biseksi. Metode yang akan dibahas
pada makalah ini adalah metode terbuka yaitu metode Newton Raphson dan
metode Secant.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, permasalahan yang akan dibahas dirumuskan
sebagai berikut:
1. Apa pengertian metode numerik?
2. Apa pengertian metode Newton Raphson?
3. Bagaimana algoritma dan penyelesaian metode Newton Raphson?
4. Apa pengertian metode Secant?
5. Bagaiaman algoritma dan penyelesaian metode Secant?
6. Bagaimana contoh soal dan penyelesaian dengan menggunakan metode
metode Newton Raphson?
7. Bagaimana contoh soal dan penyelesaian dengan menggunakan metode
Secant?
8. Bagaimana aplikasi metode Newton Raphson dalam kehidupan sehari-
hari?
9. Bagaimana aplikasi metode Secant dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengetahui pengertian metode numerik
2. Dapat mengetahui pengertian metode Newton Raphson
3. Dapat mengetahui dan memahami algoritma dan penyelesaian metode
Newton Raphson.

2
4. Dapat mengetahui pengertian metode Secant.
5. Dapat mengetahui dan memahami algoritma dan penyelesaian metode
Secant.
6. Dapat mengetahui contoh soal dan penyelesaian dengan menggunakan
metode metode Newton Raphson.
7. Dapat mengetahui contoh soal dan penyelesaian dengan menggunakan
metode metode Secant.
8. Dapat mengetahui aplikasi metode Newton Raphson dalam kehidupan
sehari-hari.
9. Dapat mengetahui aplikasi metode Secant dalam kehidupan sehari-hari.

3
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Metode Numerik
Metode numerik adalah teknik untuk menyelesaikan
permasalahanpermasalahan yang diformulasikan secara matematis dengan
menggunakan operasi hitungan (arithmatic) yaitu operasi tambah, kurang, kali,
dan bagi. Terdapat banyak jenis metode numerik, namun pada dasarnya,
masing masing metode tersebut memiliki karakteristik umum, yaitu selalu
mencakup sejumlah kalkulasi aritmetika. Solusi dari metode numerik selalu
berbentuk angka dan menghasilkan solusi hampiran. Hampiran, pendekatan,
atau aproksimasi (approximation) didefinisikan sebagai nilai yang mendekati
solusi sebenarnya atau sejati (exact solution). Sedangkan galat atau kesalahan
(error) didefinisikan sebagai selisih nilai sejati dengan nilai hampiran.
Metode numerik dapat menyelesaikan permasalahan matematis yang
sering nonlinier yang sulit diselesaikan dengan metode analitik. Metode
analitik disebut juga metode sejati karena memberi solusi sejati (exact solution)
atau solusi yang sesungguhnya, yaitu solusi yang memiliki galat (error) sama
dengan nol. Jika terdapat penyelesaian secara analitik, mungkin proses
penyelesaiannya sangat rumit, sehingga tidak effisien. Contohnya: menentukan
akar-akar polynomial. Jadi, jika suatu persoalan sudah sangat sulit atau tidak
mungkin digunakan dengan metode analitik maka kita dapat menggunakan
metode numerik sebagai alternatif penyelesaian persoalan tersebut.
Metode numerik ini disajikan dalam bentuk algoritma-algoritma yang
dapat dihitung secara cepat dan mudah. Pendekatan yang digunakan dalam
metode numerik merupakan pendekatan analisis matematis, dengan tambahan
grafis dan teknik perhitungan yang mudah. Algoritma pada metode numerik
adalah algoritma pendekatan maka dalam algoritma tersebut akan muncul
istilah iterasi yaitu pengulangan proses perhitungan. Dengan metode
pendekatan, tentunya setiap nilai hasil perhitungan akan mempunyai nilai error
(nilai kesalahan).

4
Penggunaan metode numerik biasanya digunakan untuk menyelesaikan
persoalan matematis yang penyelesaiannya sulit didapatkan dengan
menggunakan metode analitik, yaitu:
1. Menyelesaikan persamaan non linear
2. Menyelesaikan persamaan simultan
3. Menyelesaikan differensial dan integral
4. Menyelesaikan persamaan differensial
5. Interpolasi dan Regresi
6. Masalah multivariabel untuk menentukan nilai optimal yang tak bersyarat
Keuntungan penggunaan Metode Numerik:
1. Solusi persoalan selalu dapat diperoleh
2. Dengan bantuan komputer, perhitungan menjadi cepat dan hasilnya dapat
dibuat sedekat mungkin dengan nilai sesungguhnya
Kekurangan penggunaan Metode Numerik:
1. Nilai yang diperoleh adalah hampiran(pendekatan)
2. Tanpa bantuan alat hitung (komputer), perhitungan umumnya lama dan
berulang-ulang.

B. Angka Bena
1. Pengertian Angka Bena
Dalam kehidupan sehari-hari angka signifikan (bena) dapat dijumpai
pada bidang teknik, bisnis, sains, komunikasi, ekonomi dan lainnya. Dalam
bidang teknik informatika biasanya untuk coding sistem, atau membuat
program, pada bidang ini biasanya menggunakan mathlab untuk
mempermudah perhitungan. Dalam bidang sains biasanya terdapat pada
matematika untuk diperlajari oleh siswa atau mahasiswa, pada fisika
biasanya untuk satuan ukur saat percobaan atau penelitian dan pada kimia
atau farmasi untuk menimbang/meracik dosis obat.
Konsep angka bena (significant figure) atau angka bermakna telah
dikembangkan secara formal untuk menandakan keandalan suatu nilai
numerik. Angka bena adalah angka bermakna, angka penting, atau angka

5
yang dapat digunakan dengan pasti. Angka bena terdiri dari angka pasti dan
angka taksiran. Angka taksiran terletak pada akhir angka signifikan.
Ketika melakukan pengukuran atau perhitungan, kita harus
menghindar dari keinginan untuk menulis lebih banyak digit pada jawaban
terakhir dari jumlah digit yang diperbolehkan. Suatu indikasi bagi ketepatan
pengukuran yang diperoleh dari banyaknya angka-angka penting. Angka-
angka penting tersebut memberikan informasi yang aktual (nyata) mengenai
ketelitian pengukuran. Makin banyak angka-angka penting, ketepatan
pengukuran menjadi lebih besar.
Sebagai contoh, jari-jari bumi adalah 695000000 m. Jari-jari ini
sebenarnya tidak tepat, karena telah dibulatkan ke jutaan meter terdekat.
Maka jari-jari tersebut hanya memiliki 3 angka bena, angka nol di akhir
bukan merupakan angka penting. Angka nol bisa menjadi angka bena, jika
memenuhi aturan-aturan tentang angka bena.
2. Aturan-aturan tentang Angka Bena
a. Setiap angka yang bukan nol pada suatu bilangan adalah angka bena.
Contoh:
14569 memiliki 5 angka bena.
2546 memiliki 4 angka bena.
b. Setiap angka nol yang terletak diantara angka-angka bukan nol adalah
angka bena.
Contoh:
406 memiliki 3 angka bena.
5000,1003 memiliki 9 angka bena.
280,0050 memiliki 7 angka bena.
c. Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir dan
di belakang tanda desimal adalah angka bena.
Contoh:
23,50000 memiliki 7 angka bena
278,900 memiliki 6 angka bena

6
d. Angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang terakhir dan
tanpa tanda desimal bukan merupakan angka bena.
Contoh:
38000000 memiliki 2 angka bena.
e. Angka nol yang terletak di depan angka bukan nol yang pertama bukan
merupakan angka bena. Contoh:
0,0090 memiliki 2 angka bena
0,0000000000000012 memiliki 2 angka bena
f. Semua angka nol yang terletak di belakang angka bukan nol yang
terakhir, dan terletak di depan tanda desimal merupakan angka bena.
Contoh:
800,0 memiliki 4 angka bena.
Komputer hanya menyimpan sejumlah tertentu angka bena. Bilangan
riil yang jumlah angka benanya melebihi jumlah angka bena komputer akan
disimpan dalam sejumlah angka bena komputer itu. Pengabaian angka bena
sisanya itulah yang menimbulkan galat pembulatan.
3. Penulisan angka bena dalam notasi ilmiah
Jika beberapa angka 0 dipakai di bagian ekor suatu bilangan, tidak
jelas berapa banyaknya 0 itu yang signifikan. Misal: 45,300 dapat memiliki
3, 4, atau 5 buah digit signifikan tergantung apakah harga 0 itu telah
diketahui dengan pasti. Ketidakpastian itu dapat diselesaikan dengan
memakai notasi ilmiah. Misalnya tetapan dalam kimia dan fisika atau
ukuran jarak dalam astronomi.
Contoh:
a. 4,3123 × 10 memiliki 5 angka signifikan
b. 1,2 × 10-6 memiliki 2 angka signifikan

4. Aturan Pembulatan

7
Pembulatan suatu bilangan berarti menyimpan angka bena dan
membuang yang bukan merupakan angka bena dengan mengikuti
aturanaturan berikut:
a. Tandai bilangan yang termasuk angka signifikan dan angka tidak
signifikan.
Contoh:
Empat angka bena dari bilangan 16,7321 adalah 16,73 (angka bena) dan
21 (bukan angka bena).
b. Jika digit pertama dari bukan angka bena lebih besar dari 5, maka digit
terakhir dari angka bena ditambah 1. Selanjutnya buang bukan angka
bena.
Contoh:
Jika bilangan 23,472 dibulatkan menjadi tiga angka signifikan, maka
ditulis menjadi 23,5.
c. Jika digit pertama dari bukan angka bena lebih kecil dari 5, maka buang
bukan angka bena.
Contoh:
Jika bilangan 23,674 dibulatkan menjadi empat angka signifikan, maka
ditulis menjadi 23,67
d. Jika digit pertama dari bilangan bukan angka bena sama dengan 5, maka:
- Jika digit terakhir dari angka signifikan ganjil, maka digit terakhir
angka signifikan ditambah 1. Selanjutnya buang angka tidak
signifikan.
Contoh:
Jika bilangan 37,759 dibulatkan menjadi tiga angka bena, maka ditulis
menjadi 37,8
- Jika digit terakhir dari angka bena merupakan bilangan genap genap,
maka buang bukan angka bena.
Contoh:
Jika bilangan 79,859 dibulatkan menjadi tiga angka bena, maka
ditulis menjadi 79,8.

8
5. Operasi Angka Penting
Dalam operasi perhitungan dengan menggunakan angka penting ada
suatu aturan umum yang harus diikuti. a. Penjumlahan dan Pengurangan
Hasil dari penjumlahan atau pengurangan bilangan hanya boleh
mempunyai angka dibelakang koma sebanyak angka di belakang koma
yang paling sedikit pada bilangan-bilangan yang dilakukan operasi
penjumlahan atau penguranga.
Contoh:
2,34 + 0,345 = 2,685 (dibulatkan menjadi 2,68)
34,31 + 2,165 = 36,475 (dibulatkan menjadi 36,48)
b. Perkalian dan Pembagian
Hasil perkalian atau pembagian hanya boleh mempunyai angka bena
sebanyak bilangan dengan angka bena paling sedikit.
Contoh:
(32,1 × 1,234) ÷ 1,2 = 33,0095
Bilangan yang mempunyai angka signifikan paling sedikit adalah 1,2 (2
angka signifikan).
Jadi hasil perkalian dan pembagian di atas dibulatkan menjadi 33 (2
angka signifikan).
c. Kombinasi perkalian dan atau pembagian dengan penjumlahan dan atau
pengurangan.
Jika terdapat kombinasi operasi angka penting, maka hasil operasi
di dalam kurung harus dibulatkan terlebih dahulu sebelum melakukan
operasi selanjutnya.
Penerapan angka penting dalam kehidupan sehari-hari salah satunya
ketika seseorang melakukan pengukuran seperti mengukur tinggi badan,
mengukur celana, spedometer, dan lain-lain. Dalam pengukuran tersebut
tidak pasti tepat sehingga angka penting berperan dalam pengukuran agar
ketepatan pengukuran menjadi lebih besar.
C. Deret Taylor dan Maclaurin
1. Deret Taylor

9
Pada bidang teknik elektro lebih tepatnya teknik kendali (salah
satu spesialisasi di teknik elektro) biasanya menggunakan deret taylor
untuk mengendalikan gerak pesawat dengan menggunakan perhitungan
persamaan matematis. Persamaan matematis ini biasanya berupa
persamaan nonlinear, karena unutk mengolah persamaan nonlinear itu
sangat sulit, jadi persamaan tersebut dilinearisasikan dengan
menggunakan deret taylor.
Dalam matematika, Deret Taylor adalah representasi fungsi
matematika sebagai jumlah tak hingga dari suku-suku yang nilainya
dihitung dari turunan fungsi tesebut di satu titik. Deret ini dapat dianggap
sebagai limit polimial Taylor. Deret Taylor merupakan dasar untuk
menyelesaikan masalah dalam metode numerik, terutama penyelesaian
persamaan diferensial. Deret Taylor secara umum berarti deret pangkat
(x-a) , dengan a adalah konstanta.
Suatu fungsi yang terdifferensial sampai orde n di x = a, jika
diberikan fungsi f . Fungsi f tersebut dapat dinyatakan oleh suatu deret
pangkat dalam x-a.

Rumus Taylor
Misalkan f fungsi yang turunan ke (𝑛 + 1), 𝑓 (𝑛+1) (𝑥) ada untuk
masing-masing 𝑥 dalam interval terbuka I yang mengandung 𝑎. Maka
untuk masing-masing 𝑥 dalam I
𝑓"(𝑎) 𝑓"(𝑎)
f(x) = f(a) + 𝑓 ′ (𝑎)(𝑥 − 𝑎) + (𝑥 − 𝑎)2 + ⋯ + (𝑥 − 𝑎)𝑛
2! 𝑛!

bentuk yang dikenal diatas dikenal dengan bentuk polinomial taylor.


Fungsi yang dapat diperderetkan dalam bentuk polinomial taylor,
dinamakan deret Taylor.
Contoh:
𝜋
Tentukan ekspansi Taylor orde 5 𝑓(𝑥) = cos 𝑥, 𝑎 = 6

Jawab:
𝜋
𝑎 = = 30°
6

10
𝑓(𝑥) = cos 𝑥
𝑓(𝑎) = cos 𝑎
1
𝑓(𝑎) = 𝑓(30) = cos 30° = √3
2
1
𝑓 ′ (𝑎) = 𝑓 ′ (30) = − sin 30° = −
2
1
𝑓 2 (𝑎) = 𝑓 2 (30) = − cos 30° = − √3
2
1
𝑓 3 (𝑎) = 𝑓 3 (30) = sin 30° =
2
1
𝑓 4 (𝑎) = 𝑓 4 (30)𝑐0𝑠 30° = √3
2
1
𝑓 5 (𝑎) = 𝑓 5 (30) = − sin 30° = −
2
Subtitusi 𝑎 = 30

′ (𝑎)(𝑥
𝑓 ′ (𝑎) 𝑓"(𝑎)
𝑓(𝑥) = 𝑓(𝑎) + 𝑓 − 𝑎) + 1 (𝑥 − 𝑎) + 2 (𝑥 − 𝑎)
2! 3!
𝑓 4 (𝑎) 𝑓 5 (𝑎)
+3 (𝑥 − 𝑎) + 4 (𝑥 − 𝑎)
4! 5!
1 1 2 2
cos 𝑥 = √3 (𝑥 − 30) − (𝑥 − 30)2 + (𝑥 − 30)3
2 2 2! 3!
2 2
+ (𝑥 − 30)4 − (𝑥 − 30)5
4! 5!

1 1 1 1 1
= 3√2 (𝑥 − 30) − 4 (𝑥 − 30)2 + 12 (𝑥 − 30)3 + 48 (𝑥 − 30)4 −
2

1
(𝑥 − 30)5
240

Bentuk pengaplikasian Deret Taylor adalah untuk penghitungan


metode numerik, digunakan untuk sistem kendali, membuat persamaan
matematis suatu sistem/ proses,perhitungan analisis matematika, terdapat
dalam kombinatorika dengan nama fungsi pembangkit.

2. Deret Maclaurin

11
Dalam kasus 𝑎 = 0, polinom Taylor 𝑜𝑟𝑑𝑒 − 𝑛 dapat
disederhanakan yang disebut dengan polinom Maclaurin 𝑜𝑟𝑑𝑒 − 𝑛.
Dengan demikian polinom Maclaurin 𝑜𝑟𝑑𝑒 − 𝑛 diberikan oleh rumus,

′ (0)𝑥
𝑓 2 (0) 2 𝑓 𝑛 (0) 𝑛
𝑓(𝑥) = 𝑓(0) + 𝑓 + 𝑥 + ⋯+ 𝑥
2! 𝑛!
Beberapa deret Maclaurin yang penting adalah sebagai berikut:
1
1. = 1 + 𝑥 + 𝑥2 + 𝑥3 + 𝑥4 + ⋯
1−𝑥

𝑥2 𝑥3 𝑥4 𝑥5
2. ln(𝑥 + 1) = 𝑥 − + − + …− 1 ≤ 𝑥 ≤ 1
2 3 4 5

𝑥3 𝑥5 𝑥7 𝑥9
3. 𝑡𝑎𝑛−1 𝑥 = 𝑥 − 3
+ 5
− 7
+ 9

𝑥2 𝑥3 𝑥4
4. 𝑒 𝑥 = 1 + 𝑥 + + + …
2! 3! 4!

𝑋3 𝑋5 𝑋7 𝑋9
5. sin 𝑋 = 𝑋 − + − +
3! 5! 7! 9!

𝑋2 𝑋4 𝑋6 𝑋8
6. 𝐶𝑂𝑆 𝑋 = 1 − + − + …
2! 4! 6! 8!

𝑥3 𝑥5 𝑥7 𝑥9
7. 𝐶𝑂𝑆 𝑒𝑐 𝑥 = 𝑥 + + − + …
3! 5! 7! 9!

𝑥2 𝑥4 𝑥6 𝑥8
8. 𝑆𝑒𝑐 𝑥 = 1 + + + + +⋯
2! 4! 6! 8!

Contoh:
Dengan menggunakan rumus Maclaurin, tentukanlah polinom orde 5 dari
1
𝑓(𝑥) = (1 + 5)5
Jawab:
5
𝑓(𝑥) = (1 + 𝑥)2
5
𝑓(𝑎) = (1 + 𝑎)2
5 5
𝑓(𝑎) = (1 + 𝑎)2 = (1 + 0)2 = 1
5 3 5
𝑓 ′ (𝑎) = (1 + 𝑎)2 =
2 2

12
15 1 15
𝑓 2 (𝑎) = (1 + 𝑎)2 =
4 4
15 1 15
𝑓 3 (𝑎) = (1 + 𝑎)−2 =
8 8
15 3 15
𝑓 4 (𝑎) = − (1 + 𝑎)−2 = −
16 16
5
45 45
𝑓 5 (𝑎)=32 (1 + 𝑎)−2 = 32
5
5 15 15
Maka deret Macluarinnya adalah (1 + 𝑥)2 = 1 + 2 𝑥 + 4.2! 𝑥 2 + 8.3! 𝑥 3 −
15 45
𝑥 4 + 32.5! 𝑥 5
6.4!

D. Galat (Error)
1. Analisis Galat
Metode numerik merupakan suatu metode pendekatan
(approximation) dari solusi sejati, dan berdasarkan hal tersebut terdapat
besarnya angka kesalahan (eror)yang dihasilkan oleh perhitungan numerik.
Kesalahan ini lebih sering diakibatkan baik karena pemotongan suku atau
pembulatan nilai (Rinaldi, 2008).
Menganalisis galat sangat penting di dalam perhitungan yang
menggunakan metode numerik. Galat berasosiasi dengan seberapa dekat
solusi hampiran terhadap solusi sejatinya. Semakin kecil galatnya, semakin
teliti solusi numerik yang didapatkan. Kita harus memahami dua hal:
a) Bagaimana menghitung galat.
b) Bagaimana galat timbul.
Misalkan â adalah nilai hampiran trhadap nilai sejati 𝑎, maka selisih
𝜀=𝑎− â
disebut galat. Sebagai contoh, jika â = 10,5 adalah nilai hampiran dari a =
10,45 , maka galatnya adalah ɛ = -0,01. Jika tanda galat (positif atau negatif)
tidak dipertimbangkan, maka galat mutlak dapat didefinisikan sebagai:
|𝜀| = |𝑎 − â|
Ukuran galat ɛ kurang bermakna sebab tidak menceritakan seberapa
besar galat itu dibandingkan dengan nilai sejatinya.

13
Contoh:
Seorang anak melaporkan panjang sebatang kawat 99 cm, padahal
panjang sebenarnya 100 cm. Galatnya adalah 100 – 99 = 1 cm. Anak yang
lain melaporkan panjang sebatang pensil 9 cm, padahal panjang sebenarnya
10 cm, sehingga galatnya juga 1 cm. Kedua galat sama-sama bernilai 1cm,
namun galat 1 cm pada pengukuran panjang pensil lebih berarti daripada
galat 1 cm pada pengukuran panjang kawat. Jika tidak ada informasi
mengenai panjang sesungguhnya, kita mungkin menganggap kedua galat
tersebut sama saja. Untuk mengatasi interpretasi nilai galat ini, maka galat
harus dinormalkan terhadap nilai sejatinya. Gagasan ini melahirkan apa
yang dinamakan galat relatif.
Galat relatif didefinisikan sebagai
𝜀
𝜀𝑅 =
𝑎
atau dalam persentase
𝜀
𝜀𝑅 = × 100%
𝑎
Karena galat dinormalkan terhadap nilai sejati, maka galat relatif
tersebut dinamakan juga galat relatif sejati. Dengan demikian, pengukuran
panjang kawat mempunyai galat relatif sejati = 1/100 = 0.01, sedangkan
pengukuran panjang pensil mempunyai galat relatif sejati = 1/10 = 0.1.
2. Jenis-jenis Galat
Faktor-faktor yang menyebabkan kesalahan pada metode numerik
antara lain:
a) Kesalahan karena bawaan data (Inherent error)
Kesalahan bawaan data merupakan kesalahan dari nilai data.
Misal kekeliruan dalam menyalin data, salah membaca skala atau
kesalahan karena kurangnya pengertian mengenai hukum-hukum fisik
dari data yang diukur.
b) Kesalahan karena pembulatan (round-off error)
Kesalahan karena pembulatan round-off error terjadi karena tidak
kita memperhitungkan beberapa angka terakhir dari suatu bilangan;

14
artinya solusi hampiran digunakan untuk menggantikan solusi sejati
eksak.
Contoh:
Tulis bilangan berikut menjadi tiga angka bena.
8632574 dapat dibulatkan menjadi 8630000
3,1415926 dapat dibulatkan menjadi 3,14
c) Kesalahan karena pemotongan (truncation error)
Kesalahan pemotongan terjadi karena adanya proses komputasi
tak berhingga diganti dengan proses berhingga. Misal pada deret Taylor
atau MaClaurin.
Contoh:
Terdapat tugas untuk mengukur panjang sebuah jembatan dan sbeuah
aku keliling. Didapat hatga 9.999 dan 9 cm. Jika harga sebenarnya adalah
10.000 dan 10 cm, maka hitunglah:
a) error,
b) error relatif persen untuk setiap kasus!
Jawab:

a) Untuk jembatan 𝜀 = 10.000 − 9.999 = 1 𝑐𝑚


Untuk paku keliling 𝜀 = 10 − 9 = 1 𝑐𝑚
1
b) Untuk Jembatan 𝜀𝑅 = 1000 × 100% = 0,01%
1
Untuk paku keliling 𝜀𝑅 = 10 × 100% = 10%

Jadi,walaupun sama-sama error 1 cm, tapi pengukuran dikatakan lebih baik


untuk jembatan.

E. Persamaan Non Linier


Penyelesaian persamaan linier 𝑚𝑥 + 𝑐 = 0 dimana m dan c adalah
𝑐
konstanta, dapat dihitung dengan 𝑚𝑥 + 𝑐 = 0 → 𝑥 = − 𝑚 . Penyelesaian

persamaan kuadrat 𝑎𝑥 2 + 𝑏𝑐 + 𝑐 = 0. Dapat dihitung dengan menggunakan


−𝐵±√𝑏 2 −4𝑎𝑐
rumus 𝐴𝐵𝐶. 𝑋12 = 2𝑎

15
Beberapa persamaan polynomial dapat diselesaikan dengan
menggunakan teorema sisa. Sehingga tidak memerlukan metode numerik
dalam menyelesaikannya, karena metode analitik dapat dilakukan. Tetapi
bagaimana cara menyelesaikan persamaan yang mengandung unsur bilangan
natural untuk menyelesaikan persamaan non linear merupakan metode
pencarian akar secara berulang-ulang. Penyelesaian persamaan non linear
adalah dengan metode tertutup dan terbuka.

F. Metode Tertutup
Metode tertutup (Bracketing Method) adalah metode yang hanya
membutuhkan 2 tebakan awal untuk mengira-ngira akar dari sebuah
persamaan. Sebuah fungsi sesuai jenisnya akan berubah disekitar harga suatu
akar. Akar sebenarnya dari persamaan tersebut nantinya akan berada di antara
2 angka yang telah ditebak tersebut.
1. Metode Biseksi
Metode bagi dua (Bisection) disebut juga pemotongan biner (binary
chopping), metode pembagian dua (interval halving). Prinsip metode bagi
dua adalah mengurung akar fungsi pada interval [a,b]. Selanjutnya interval
tersebut terus menerus dibagi dua hingga sekecil mungkin, sehingga nilai
hampiran yang dicari dapat ditentukan dengan tingkat akurasi tertentu.
Menentuka selang [a,b] sehingga f (a) . f (b) < 0.
Algoritma Metode Biseksi:

a) fungsi 𝑓(𝑥) yang akan dicari akarnya

b) Taksir batas bawah (𝑎) dan batas atas (𝑏) dengan syarat 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑏)\0

c) Tentukan toleransi 𝜀

𝑙𝑛|𝑏−𝑎|−𝑙𝑛|𝜀|
d) Iterasi maksimum 𝑟: 𝑟 > ln(2)

e) Hitung 𝑓(𝑎) dan 𝑓(𝑏)

f) Jika 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑏) > 0 maka proses dihentikan karena tidak ada akar, bila

16
tidak dilanjutkan.
𝑎+𝑏
g) Hitung nilai hampiran akar dengan rumus, 𝑐 = 2

h) Hitung 𝑓(𝑐)

i) Jika 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑐) < 0, maka 𝑏 = 𝑐. Lanjutkan ke langkah 4

j) Jika 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑐) > 0, maka 𝑎 = 𝑐. Lanjutkan ke langkah 4

k) Jika 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑐) = 0, 𝑚𝑎𝑘𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑟 = 𝑐. Stop

l) Lebar selang 𝑏 − 𝑐. Jika |𝑏 − 𝑐| ≤ 𝜀 maka proses dihentikan dan


didapatkan akar 𝑥 = 𝑐 dan bila tidak ulangi lankah 7

2. Metode Regula Falsi


Metode Regula Falsi disebut juga metode Interpolasi Linier atau
metode Posisi Salah adalah metode yang digunakan untuk mencari akar-
akar persamaan non linier melalui proses iterasi. Metode regula falsi
merupakan metode pencarian akar persamaan dengan memanfaatkan
kemiringan dan selisih tinggi dari dua titik batas range.
Algoritma metode regulasi falsi:

a. Definisikan fungsi 𝑓(𝑥)


b. Tentukan batas bawah (𝑎) dan batas atas 𝑓(𝑏)
c. Tentukan toleransi error (𝜀) dan iterasi maksimum (𝑛)
d. Tentukan nilai fungsi 𝑓(𝑎) dan 𝑓(𝑏)
e. Untuk iterasi I =1 s/d n
𝑓(𝑏)(𝑏−𝑎)
𝑥 = 𝑏 − (𝑓(𝑏)−𝑓(𝑎))

 Hitunf nilai 𝑓(𝑥)


 Hitung 𝑒𝑟𝑟𝑜𝑟 = |𝑓(𝑥)|
 Jika 𝑓(𝑎). 𝑓(𝑥) ≤ 0 maka 𝑎 = 𝑐 jika tidak 𝑏 = 𝑐
 Jika |𝑓(𝑥)| ≤ 𝜀, tentukan Iterasi

17
f. Akar persamaan adalah 𝑥

G. Metode Terbuka
Metode terbuka adalah metode yang menggnakan satu, atau dua tebakan
awal yang tidak perlu menggunakan akar, metode ini tidak memerlukan batas
atas dan batas bawah pada perkiraan nila awal. Metode terbuka terdiri dari
beberapa jenis, yaitu metode Iterasi Titip Tetap, metode Newton-Rapson. dan
metode Secant.

18
BAB III
PEMBAHASAN

A. Metode Newton Raphson


Tahun 1720 Joseph Raphson menterjemahkan Aritmetica Universalis
karya Isaac Newton dalam bahasa Inggris yang didalamnya memuat cara
mencari akar-akar persamaan secara aritmetika (Raphson 1720).
Isaac Newton tahun 1669 menemukan suatu metode untuk mencari akar
dari sebarang fungsi yang memiliki turunan pertama. John Wallis
mempublikasikan metode Newton pada tahun 1685. Joseph Raphson pada
tahun 1690 memodifikasi dan mempublikasikan dengan versi yang lebih
menarik, yang sampai sekarang dikenal dengan sebutan metode Newton-
Raphson (Bressoud 2006). Sebutan metode Newton–Raphson merupakan
gabungan dan keterkaitan dua nama panggilan Newton dan Raphson, awalnya
merupakan metode untuk mencari hampiran akar-akar untuk nilai nol suatu
fungsi bernilai real.
a. Pengertian Metode Newton Raphson
Metode Newton Rapshon merupakan metode pendekatan yang
menggunakan satu titik awal dan mendekatinya dengan memperhatikan
gradien pada titik tersebut. Metode ini dimulai dengan mencari garis
singgung kurva pada titik  x1 , f ( x1 )  . Perpotongan garis singgung dengan

sumbu x yaitu Xi+1,


akan menjadi
nilai x yang baru,
dengan cara
dilakukan berulang-
ulang (iterasi).

Gambar 3.1 Grafik


Metode Newton Raphson

19
Telah diketahui bahwa gradien garis singgung kurva adalah turunan
pertama dari kurva tersebut, yaitu f' (xi ). Sehingga persamaan garis
singgungnya:
f ( xi )  y  f '( xi )( xi  x)

Garis ini melalui titik  xi 1 ,0  , maka didapat :

f ( xi )  0  f '( xi )( xi  xi 1 )
f ( xi )
  ( xi  xi 1 )
f '( xi )
f ( xi )
 xi 1  xi 
f '( xi )

xi 1 digunakan untuk menaksir nailai akar dari f(x) dan


pendekatan yang lebih baik untuk akar dari f(x). Metode ini banyak
digunakan untuk akar dari suatu persamaan.
b. Algoritma Metode Newton Raphson
Algoritma Metode Newton raphson adalah sebagai berikut:
1. Definisikan fungsi f(x) yang akan dicari akarnya.
2. Tentukan harga awal / titik awal (x0).
3. Tentukan toleransi kesalahan (ɛ).
4. Cari turunan fungsi f(x).
Jika f ’(x) = 0, maka metode newton raphson tidak dapat dilanjutkan.
5. Hitung nilai fungsi f(x) dan f ’(x) dengan menggunakan titik awal.
6. Hitung nilai xi+1 menggunakan rumus: f(xi )
f ( xi )
xi 1  xi 
f '( xi )

7. Hitung kesalahan xi 1  xi dan bandingkan dengan toleransi kesalahan

 
8. Jika xi 1  xi    , maka pilih akar persamaan xi 1

20
Jika xi 1  xi    , maka iterasi dilanjutkan.

9. Akar persamaannya adalah xi+1 yang terakhir diperoleh.


c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Newton Raphson
1. Kelebihan
Jika pemilihan titik awal tepat, maka proses iterasinya cepat.
2. Kekurangan
a. Jika fungsi f(x) mempunyai beberapa akar (titik) penyelesaian,
akarakar penyelesaian tersebut tidak dapat dicari secara langsung
atau secara bersamaan.
b. Tidak dapat mencari akar kompleks (imajiner).
c. Tidak dapat mencari akar persamaan jika titik terkaan awalnya tidak
tepat, meskipun ada akar penyelesaiannya.
d. Untuk persamaan non linear yang cukup kompleks, pencarian
turunan pertama dan kedua dari f(x) akan menjadi cukup sulit.
d. Contoh Soal
Tentukan salah satu akar persamaan non linier f(x) = x2 – 11x + 7 dengan
metode Newton Raphson. Jika diketahui nilai awal x0 = 0, toleransi galat
relatif x adalah 0,08.
Penyelesaian:
𝑓(𝑥) = 𝑥2 – 11𝑥 + 7
𝑓’(𝑥) = 2𝑥 – 11
iterasi ke – 0
𝑥0 = 0
𝑓(0) = 02 − 11(0) + 7
=7
𝜀𝑟 = -
Iterasi ke – 1
𝑓 ′(0) = 2(0) − 11
= - 11
7
𝑥1 = 0 −
−11

21
= 0, 636
𝑥1 = 0,636
|𝑥1 − 𝑥0 |
𝜀𝑟 =
|𝑥1 |
|0,636 − 0|
𝜀𝑟 =
|0,636|
=1
Karena, nilai 𝜀𝑟 > 𝑥𝑡𝑎𝑏 (1> 0,08) maka iterasi dilanjutkan
𝑥1 = 0,636
𝑓(0,636) = 0,6362 − 11(0,636) + 7
= 0,408
𝑓 ′ (0,636) = 2(0,636) − 11
= -9,728
0,408
𝑥2 = 0,636 − −9,728

= 0,677
|𝑥2 − 𝑥1 |
𝜀𝑟 =
|𝑥2 |
|0,677 − 0,630|
𝜀𝑟 =
|0,677|
= 0,06
Karena 𝜀𝑟 < 𝑥𝑡𝑎𝑏 (0,06< 0,08) iterasi dihentikan.

22
B. Metode Secant
a. Pengertian Metode Secant
Metode secant merupakan salah satu metode terbuka untuk
menentukan solusi akar dari persamaan non linear. Metode secant
melakukan pendekatan terhadap kurva f(x) dengan garis secant yang
ditentukan oleh dua titik. Metode Secant merupakan modifikasi dari metode
Newton-Raphson, yaitu dengan mengganti fungsi turunan yang digunakan
pada metode Newton-Raphson menjadi bentuk lain yang ekuivalen. Metode
ini dimulai dengan hampiran awal 𝑥𝑖−1 dan 𝑥𝑖 untuk solusi 𝑥 . Perhatikan
grafik berikut!

𝑓(𝑥𝑖−

𝑓(𝑥𝑖− )

f
(

𝑥𝑖+1 𝑥𝑖 𝑥𝑖−1

Gambar 1. Iterasi Metode Secant Secara Grafik

Diketahui titik C(xi,f(xi)) dan B(xi-1,f(xi-1)) sehingga diperoleh garis

secant yang memotong kurva dan memotong sumbu x di xi+1 . Titik potong

garis secant dengan sumbu x dinamakan nilai akar selanjutnya. Untuk

mencari nilai akar tersebut, menggunakan perbandingan segitiga yaitu

segitiga BAE dan segitiga CDE atau dapat ditulis sebagai berikut:

23
BA CD

AE DE
Diketahui bahwa koordinat dari masing-masing titik tersebut yaitu:

Titik Koordinat

A ( xi-1 ,0 )

B ( xi-1 , f(xi-1) )

C ( xi , f(xi) )

D ( xi , 0 )

E ( xi+1, 0 )

Kemudian dari persamaan diatas diperoleh:


f ( xi 1 )  0 f ( xi )  0

xi 1  xi 1 xi  xi 1

f ( xi 1 ).( xi  xi 1 )  f ( xi ).( xi 1  xi 1 )

f ( xi 1 ).( xi )  f ( xi 1 ).( xi 1 )  f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi ).( xi 1 )

f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi 1 ).( xi 1 )  f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi 1 ).( xi )

( xi 1 ).( f ( xi )  f ( xi 1 ))  f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi 1 ).( xi )

f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi 1 ).( xi )
( xi 1 ) 
f ( xi )  f ( xi 1 )
f ( xi ).( xi 1 )  f ( xi 1 ).( xi )  ( xi ). f ( xi )  ( xi ). f ( xi )
( xi 1 ) 
f ( xi )  f ( xi 1 )
( xi ). f ( xi )  f ( xi 1 ).( xi )  ( xi ). f ( xi )  f ( xi ).( xi 1 )
( xi 1 ) 
f ( xi )  f ( xi 1 )
( xi ){ f ( xi )  f ( xi 1 )}  f ( xi ){( xi )  ( xi 1 )}
( xi 1 ) 
f ( xi )  f ( xi 1 )

( xi ).{ f ( xi )  f ( xi 1 )} f ( xi ).{( xi )  ( xi 1 )}
( xi 1 )  
f ( xi )  f ( xi 1 ) f ( xi )  f ( xi 1 )

24
Sehingga diperoleh rumus umum metode secant yaitu:
f ( xi )( xi  xi 1 )
xi 1  xi 
f ( x i )  f ( xi 1 )

b. Algoritma Metode Secant


Algortima pada metode Secant yaitu:
1. Definisikan fungsi f(x)
2. Definisikan toleransi eror (εs)
3. Taksir batas atas xi dan batas bawah xi-1.
4. Tentukan f(xi) dan f(xi-1). Jika f(xi) = f(xi-1) maka iterasi tidak
dilanjutkan, tetapi jika f(xi) = f(xi-1) maka iterasi dilanjutkan.
5. Lakukan iterasi dengan menghitung nilai taksiran akar selanjutnya
dengan:
f ( xi )( xi  xi 1 )
xi 1  xi 
f ( x i )  f ( xi 1 )
6. Iterasi berhenti jika εrh ≤ εs, dengan:

xi1  xi
 rh 
xi1

Jika nilai |ℇ𝑟ℎ | lebih besar dari toleransi ℇ𝑠 , maka iterasi dilanjutkan.

c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Secant


1. Kelebihan
a) Menjadi alternative yang tepat jika sulit memperoleh turunan fungsi

melalui metode newton raphson

b) Nilai interval awal yang dimasukan selalu dapat diproses atau tidak

diperlukan pengecekan nilai interval di awal operasi.

2. Kekurangan
a) Jika penetapan harga awal berada diantara dua titik akar yang
berdekatan maka pendekatan dengan metode secant hanya akan

25
memberikan sedikit kemungkinan harga akar persamaan pada
interval yang ditentukan
b) Pada saat tertentuextrapolasi dari 2 titik pendekatan awal untuk

harga akar persamaan yang sudah sangat dekat dengan harga

sebenarnya yang dicari justru akan menghasilkan titik baru yang

semakin menjauhi akar persamaan yang sebenarnya

c) Jika nilai batas bawah (ai) sama dengan batas atas (bi) maka nilai

akarnya menjadi tidak terdefinisi atau tidak dapat diproses, hal ini

disebabkan karena saat pencarian akar penyelesaian terdapat

pembagian dengan nol ( penyebut = [f(bi)-f(ai)] = 0 ).

d. Contoh Soal
1. Tentukan solusi akar dari fungsi f ( x)  x 3  6 x 2  11x  5,9

menggunakan metode secant. Gunakan tebakan awal xi  2,5 dan

xi 1  3,5 serta  s  0,0005 .

Penyelesaian:
a. xi  2,5 dan xi 1  3,5

b. f ( xi )  f (2,5)  0,275

f ( xi 1 )  f (3,5)  1,975

Karena f ( x i )  f ( x i 1 ) maka iterasi dilanjutkan.


c. Mencari nilai x baru
f ( x i )( x i  x i 1 )
x i 1  x i 
f ( x i )  f ( x i 1 )

26
f ( x1 )( x1  x0 )
x 2  x1 
f ( x1 )  f ( x0 )
(0,275)( 1)
 2,5 
 0,275  1,975
0,275
 2,5 
 2,25
 2,5  0,122222222
 2,622222222
d. Menghitung  rh

xi 1  xi
 rh 
xi 1
2,622222222  2.5

2,622222222
 0,04661
Karena  s   rh maka iterasi dilanjutkan.

27
Tabel hasil iterasi sebagai berikut:

i Ket

0 2.5 3.5 -1 -0.275 1.975 0.275 -2.25 -0.122222222 2.622222222


1 2.622222222 2.5 0.122222 16.00593 14.25 1.956279831 1.755925923 1.114101572 1.50812065 0.04661 Iterasi Lanjut
2 1.50812065 2.622222222 -1.1141 3.315163 16.00593 -3.693428349 -12.69076289 0.291032807 1.217087843 0.738735 Iterasi Lanjut
3 1.217087843 1.50812065 -0.29103 1.226821 3.315163 -0.357045046 -2.088342425 0.170970547 1.046117296 0.239122 Iterasi Lanjut
4 1.046117296 1.217087843 -0.17097 0.236967 1.226821 -0.04051436 -0.989853715 0.040929643 1.005187653 0.163433 Iterasi Lanjut
5 1.005187653 1.046117296 -0.04093 0.026019 0.236967 -0.001064948 -0.210947895 0.005048395 1.000139258 0.040718 Iterasi Lanjut
6 1.000139258 1.005187653 -0.00505 0.000696 0.026019 -3.51544E-06 -0.025322652 0.000138826 1.000000432 0.005048 Iterasi Lanjut
7 1.000000432 1.000139258 -0.00014 2.16E-06 0.000696 -2.99864E-10 -0.000694188 4.31964E-07 1 0.000139 Iterasi Berhentu

Karena pada iterasi ke 8 nilai  rh memenuhi syarat  rh ≤  s maka iterasi berhenti. Jadi akar dari f ( x)  x 3  6 x 2  11x  5,9 adalah
1.000000432

28
29
BAB IV
STUDI KASUS

A. Metode Newton Raphson


Studi kasus numerik metode newton raphson dalam bidang manajemen
keuangan untuk menentukan nilai Internal Rate of Return (IRR)..
1. Dalam kasus Umur Project N = 3 Tahun (Net Cash Flow dengan Jumlah
yang Sama) Misalkan kita ditawarkan sebuah proposal proyek investasi di
mana kita harus menginvestasikan dana sebesar Rp 20 juta. Sebagai
imbalan dari proyek yang berjangka waktu 3 tahun ini, di mana kita akan
menerima pembayaran Rp 2 juta pada setiap akhir tahun selama 2 tahun dan
Rp 20 juta pada akhir tahun ketiga. Apabila kita menggunakan formulasi
IRR dalam bentuk rumus deret geometris
Penyelesaian:
Missal = r% = x
2 2 20 2 2
NPV = -20 + + + 20 = + +
(1+𝑟%)1 (1+𝑟%)2 (1+𝑟%)3 (1+𝑟%)1 (1+𝑟%)2
20
(1+𝑟%)3

F(x) = 20x3 + 58x2 + 54x ‒ 4 Maka f ‘(x) = 60x2 + 116x + 54


Untuk nilai awal di test x = 0 dan x = 1
Untuk x = 0 f(0) = -4
f‘(0)= 54
Untuk x = 0 f(1) = 20 + 58 + 54 ‒ 4 = 128
Berhubung nilai f (0) dan f (1) berbeda tanda, maka diambil dugaan bahwa
akar persamaan, yaitu x* di antara x = 0 dan x = 1 Sehubungan dengan ini
lakukan langkah iterasi (perhitungan) yang pertama sebagai berikut:
𝑓(Xi)
Xi + 1 = Xi 𝑓′(Xi)
𝑓(0)
= 0 – 𝑓′ (0)
−4
=0– 54
2
= 27

30
2 2 2 2
f(27) = 20(27)3 + 58(27)2 + 54(27) ‒ 4

= 0,00812884 + 0,318244 + 4 ‒ 4
= 0,32637284 (literasi 1)
2 2 2
f ’ (27) = 60(27)2 + 116(27) + 54

= 0,329218 + 8,592 + 54
= 62,921218

𝑓(Xi)
Xi + 1 = Xi 𝑓′(Xi)
2 0,32637284
= (27) − 62,921218

= (0,0688871)

f (0,0688871) = 20(0,0688871)3 + 58(0,0688871)2 + 54(0,0688871) ‒ 4


= 0,00653798 + 0,275235 + 3,7199034 ‒ 4
= 0,00167638 (literasi 2)

f ‘(0,0688871) = 60(0,0688871)2 + 116(0,0688871) + 54


= 0,284726 + 7,9909036 + 54
= 12,2756296

𝑓(Xi)
Xi + 1 = Xi 𝑓′(Xi)
0,00167638
= (0,0688871) ‒ 12,2756296

= (0,00687505) = (0,07) = 7%

f (0,07) = 20(0,07) 3 + 58(0,07) 2 + 54(0,07) ‒ 4


= 0,00682 + 0,2842 + 3,78 ‒ 4
= 0 (literasi ke 3)
dengan demikian dapat dikatakan bahwa x = 7% merupakan akar persamaan
polinomial dan Internal Rate Return adalah pada tingkat r = 7%. Dengan

31
menggunakan Software Excell yaitu fasilitas fungsi IRR (Range cell, guess)
akan diperoleh nilai IRR = 7%. Begitu pula apabila dihitung dengan
menggunakan paket program Matlab bernilai sama, yaitu 7%. Hasil dengan
metode Newton Raphson ini IRR = 7% sama persis seperti hasil yang
diperoleh pada software aplikasi Excel.

32
B. Metode Secant
Studi kasus metode Secant dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang
kehidupan nyata salah satunya di bidang fisika. Metode ini dimanfaatkan
dalam bidang fisika untuk megukur batas kecepatan dari suatu benda yang
diberi pelakuan.
Misalkan sebuah batu bermassa 2 gram dilemparkan vertikal ke udara dan
bergerak turun setelah mencapai batas kecepatan tertentu. Rumus Ftarik  mg
digunakan untuk menghitung batas kecepatan suatu benda, dengan g adalah
pecepatan gravitasi sebesar 9, 81 Ftarik  m / s 2 .

Ftarik  mg
2
  9,81  1,4  10 5 v1,5  1,15  10 5 v 2
1000
1,4  10 5 v1,5 adalah gesekan tarik sedangkan 1,15  10 5 v 2 adalah tekanan
tarik dengan v merupakan kecepatan batas (m./s). Bila nilai vi = 37,7 dan vi-1 =
39 dengan galat 0.000001 maka kita dapat menentukan batas kecepatan batu
menggunakan metode secant.
Sebelumnya sudah diketahui bahwa
2
f (v )   9,81  1,4  10 5 v 1,5  1,15  10 5 v 2
1000

i Ket

0 37.7 39 -1.3 0.02 548 -0.05 -548 9.2E-07 37.69999908


1942 34.1 047 34.1

1 37.699 37.7 - 422 422 -0.00 -0.00 18.75741 18.94258409 2.44E-08 Iterasi
99908 9.2E- 4.17 4.17 389 021 Berhenti
07

Jadi batas kecepatan batu adalah v = 37.69999908 m/s atau v = 37.7 m/s.

33
BAB V
KESIMPULAN

Metode numerik merupakan teknik untuk menyelesaikan masalah matematika dengan


pengoperasian aritmatika (hitungan), metode penyelesaian model matematika dengan rumus – rumus
aljabar yang sudah baku atau lazim. Metode numerik juga merupakan alat bantu pemecahan masalah
matematika yang sangat ampuh. Metode numerik mampu menangani sistem
persamaan besar, ketidaklinearan, dan geometri yang rumit yang dalam praktek
rekayasa seringkali tidak mungkin dipecahkan secara analitik. Metode numerik
menyediakan sarana untuk memperkuat kembali pemahaman matematika, karena
metode numerik ditemukan dengan cara menyederhanakan matematika yang lebih
tinggi menjadi operasi matematika yang mendasar.
Metode Newton-Raphson adalah salah satu pendekatan numeric dengan
metode terbuka. Langkah awal menentukan metode ini adalah dengan
mendefinisikan persamaan fungsi dan turunan fungsi terlebih dahulu. Tentukan
nilai awal x yang diperkirakan merupakan akar persamaan, lanjutkan iterasinya
hingga ditemukan akar dari fungsi non linear tersebut.kelebihan metode ini adalah
bila perkiraan akar ataupin nilai awal sudah tepat, maka waktu yang dibutuhkan
untuk mendapatkan akar persamaan pun lebih cepat.
Metode Secant merupakan metode yang dihasilkan dari modifikasi dari
metode Newton-Raphson dengan cara mengganti f’(x) dengan bentuk yang
mendekati. Metode secant muncul karena terdapat kelemahan pada metode
Newton-Raphson yaitu tidak semua f(x) mudah dicari turunannya. Metode secant
merupakan salah satu metode terbuka untuk menentukan solusi akar dari persamaan
nonlinear, dengan prinsip melakukan pendekatan terhadap kurva f(x) dengan garis
secant yang ditentukan oleh dua titik terakhir. Nilai akar selanjutnya adalah titik
potong antara garis secant dengan sumbu x.

34
DAFTAR PUSTAKA

BDA dan RYN. 2013. “Deret Taylor”. www.riniftpub.lecture.ub.ac.id

Bressoud DM. 2006. Newton-Raphson Method. Appendix to A Radical Approach

to Real Analysis. 2nd edition. Tersedia di http://www.futuretg. com/

FTHumanEvolutionCourse/FTFreeLearningKits/01-MA-Mathematics.

Imam Fachruddin. Metode Numerik. Departemen Fisika Universitas Indonesia.

http://staff.fisika.ui.ac.id/imamf/

Laela Sagita, Rudha Widagsa, Nendra Mursetya Somasih Dwipa. (2018).

Developing Bilingual Scientific-Worksheet for Indefinite Integral.

Mathematics Education, 250.

Luknanto Djoko. (2001). Metoda Numerik. Yogyakarta: UGM

Munir, Rinaldi. 2008. Metode numerik. Bandung:Informatika

Noname. “Tugas-Metnum-Kel-2-Persamaan-Non-Linear”.

Purwanto. Metode Secant Solusi Persamaan Non Linear. www.kuliah-

fkip.umm.ac.id

Raphson J. 2013. Universal Arithmetick or Treatise of Arithmetical Compofition

and Refolution. Tersedia di www.center.edu/web/library.

35
R. H. Landau & M. J. Poez, Computational Physics: Problem Solving with

Computers (John Wiley & Sons, Inc. New York, 1997)

Sudiadi, dkk. 2015. Metode Numerik. Palembang: STMIK

Wikaria G, Soedadyatmodjo. 2007.” KALKULUS”. Yogyakarta: Graha Ilmu.

36