Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM UJI BAHAN

TENSILE TEST

PROGRAM STUDI D4 TEKNIK KESELAMATAN


DAN KESEHATAN KERJA
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
Pada praktikum ini memiliki beberapa tujuan antara lain:
1.1.1 Tujuan umum
Mahasiswa dapat melakukan pengujian tarik (tensile test) terhadap
suatu material dengan menggunakan prosedur yang benar.
1.1.2 Tujuan khusus
Tujuan khusus dari praktikum ini adalah:
1. Mahasiswa mampu membuat diagram tegangan – regangan teknik
dan sebenarnya berdasarkan diagram beban – pertambahan panjang
yang di dapat dari hasil pengujian.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan, menganalisa sifat-sifat mekanik
material yang terdiri dari kekuatan tarik maksimum, kekuatan tarik
luluh, reduction of area, elongation dan modulus elastisitas.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Uraian Teori
Salah satu sifat mekanik yang sangat penting dan dominan dalam
suatu perancangan konstruksi dan proses manufaktur adalah kekuatan tarik.
Kekuatan tarik suatu bahan di dapat dari hasil uji tarik (tensile test) yang
dilaksanakan berdasarkan standar pengujian yang telah baku seperti ASTM
(American Society for Testing and Materials), JIS (Japan Industrial
Standart), DIN (Deutch Industrie Normung) dan yang lainnya.
Terdapat beberapa spesimen pada uji tarik. Bentuk spesimen
sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah ini :
1. Spesimen plat bar
Batang uji berupa plat ditentukan dahulu gauge length nya, yaitu L0
= 60 mm. Setelah itu diambil titik tengah dari gauge length, yaitu 30 mm.
Kesemuanya itu diberi tanda dengan penitik kemudian diukur kembali
panjang gauge length nya apakah tepat 60 mm atau tidak, setelah itu
nilainyadimasukkan kedalam penandaan (L0).
Spesimen yang akan mendapat perlakuan uji tarik dapat dilihat
pada Gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1 Spesimen plat bar


2. Specimen round bar
Batang uji berupa round bar ditentukan dulu gauge length nya,
yaitu L0 = 60 mm. Lalu ditentukan titik tengah gauge length nya. Setelah
itu diukur lagi panjang gauge length untuk dimasukkan ke dalam
penandaan (L0). Setelah itu ditandai dengan penitik untuk jelasnya bisa
dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini:
potongan A - A

∅0

Gambar 2.2 Spesimen round bar

3. Spesimen beton neser


Batang uji berupa deformed diratakan dulu ujung-ujungnya supaya
dapat diperoleh pengukuran panjang yang lebih presisi. Ujung batang
dapat diratakan dengan cara dikikir maupun dipotong dengan alat
pemotong logam. Setelah itu diukur panjang batang uji dengan
menggunakan jangka sorong, lalu ditentukan titik tengahnya dan dapat
ditandai dengan menggunakan penitik. Setelah itu ditentukan gauge
length-nya , yaitu 76,00 mm, dimana gauge lenght diperoleh dari 8 x
diameter spesimen. Diameter diperoleh dari persamaan:
𝑚
𝜌= (2.1)
𝑣
𝑚
=
𝐴ℓ
𝑚
𝐴= (2.2)
𝜌ℓ

1 𝑚
𝜋 𝑑2 =
4 𝜌ℓ
4𝑚
𝑑= √ (2.3)
𝜋𝜌ℓ

Dimana : 𝜌 = massa jenis spesimen (gram/mm3)


m = massa spesimen (gram)
A = luas penampang spesimen (mm2)
ℓ = panjang total spesimen (mm)
d = diameter spesimen (mm)
Baru kemudian diukur lagi panjang gauge length nya yang kemudian
hasil pengukuran dimasukkan ke dalam penandaan (L0). Untuk
pemberian tanda pada beton neser bisa dilihat pada Gambar 2.3 di
bawah ini :
C
Pot C-C

Ǿo ∅𝑑

Gauge Length

Gambar 2.3 Spesimen Beton Neser


Pada pengujian tarik spesimen diberi beban uji aksial yang semakin
besar secara kontinyu.Sebagai akibat pembebanan aksial tersebut, spesimen
mengalami perubahan panjang. Perubahan beban (P) dan perubahan panjang
(∆L) tercatat pada mesin uji tarik berupa grafik, yang merupakan fungsi
beban dan pertambahan panjang dan disebut sebagai grafik P - ∆L dan
kemudian dijadikan grafik stress-strain yang menggambarkan sifat bahan
secara umum. Deskripsi grafik P-  hasil pengujian tarik beberapa logam
dapat dilihat pada Gambar 2.4 berikut :
Gambar 2.4. Grafik P-  hasil pengujian tarik beberapa logam

Dari Gambar 2.4 di atas tampak bahwa sampai titik p perpanjangan


sebanding dengan pertambahan beban. Pada daerah inilah berlaku hukum
hooke, sedangkan titik p merupakan batas berlakunya hukum tersebut. Oleh
karena itu titik p di sebut juga batas proporsional. Sedikit di atas titik p
terdapat titik e yang merupakan batas elastis di mana bila beban di
hilangkan maka belum terjadi pertambahan panjang permanen dan spesimen
kembali kepanjang semula. Daerah di bawah titik e di sebut daerah elastis.
Sedangkan di atasnya di sebut daerah plastis.
Di atas titik e terdapat titik y yang merupakan titik yield (luluh) yakni
di mana logam mengalami pertambahan panjang tanpa pertambahan beban
yang berarti. Dengan kata lain titik yield merupakan keadaan di mana
spesimen terdeformasi dengan beban minimum. Deformasi yang yang di
mulai dari titik y ini bersifat permanen sehingga bila beban di hilangkan
masih tersisa deformasi yang berupa pertambahan panjang yang di sebut
deformasiplastis. Pada kenyataannya karena perbedaan antara ke tiga titik p,
e dan y sangat kecil maka untuk perhitungan teknik seringkali keberadaan
ke tiga titik tersebut cukup di wakili dengan titik y saja. Dalam kurva titik y
ditunjukkan pada bagian kurva yang mendatar atau beban relatif tetap.
Penampakan titik y ini tidak sama untuk semua logam. Pada material yang
ulet seperti besi murni dan baja karbon rendah, titik y tampak sangat jelas.
Namun pada umumnya penampakan titik y tidak tampak jelas. Untuk kasus
seperti ini cara menentukan titik y dengan menggunakan metode offset.
Metode offset di lakukan dengan cara menarik garis lurus yang sejajar
dengan garis miring pada daerah proporsional dengan jarak 0,2% dari
regangan maksimal. Titik y di dapat pada perpotongan garis tersebut dengan
kurva σ-ε dapat dilihat pada Gambar 2.5 dibawah ini :

Gambar 2.5 Metode offset untuk menentukan titik yield

Kenaikan beban lebih lanjut akan menyebabkan deformasi yang akan


semakin besar pada keseluruhan volume spesimen. Beban maksimum di
tunjukkan dengan puncak kurva sampai pada beban maksimum ini,
deformasi yang terjadi masih homogen sepanjang spesimen. Pada material
yang ulet (ductile), setelahnya beban maksimum akan terjadi pengecilan
penampang setempat (necking), selanjutnya beban turun dan akhirnya
spesimen patah. Sedangkan pada material yang getas (brittle), spesimen
akan patah setelah tercapai beban maksimum.
Hasil pengujian yang berupa grafik atau kurva P   tersebut
sebenarnya belum menunjukkan kekuatan material, tetapi hanya
menunjukkan besarnya beban terhadap pertambahan panjang. Untuk
mendapatkan kekuatan materialnya maka grafik P   tersebut harus di

konversikan ke dalam tegangan-regangan teknik (grafik t  t ). Grafik

t  t di buat dengan asumsi luas penampang spesimen konstan selama


pengujian. Berdasarkan asumsi luas penampang konstan tersebut maka
persamaan yang di gunakan adalah :
 t =Ao
𝑃
(2.4)

 t  l l o   100   (2.5)

di mana t  tegangan teknik (kN/mm2)


P = beban teknik (kN)
Ao = luas penampang awal spesimen (mm2)

 t = regangan teknik (%)


L0 = panjang awal spesimen (mm)
L1 = panjang spesimen setelah patah (mm)
∆L= pertambahan panjang (mm)
= L1 – L0
Adapun langkah-langkah untuk mengkonversikan kurva ke dalam

grafik t  t adalah sebagai berikut:

1. Ubahlah kurva t  t menjadi grafik P - ∆ℓ dengan cara


menambahkan sumbu tegak sebagai P dan sumbu mendatar
sebagai∆ℓ.
2. Tentukan skala beban (P) dan skala pertambahan panjang ∆ℓ pada
grafik P - ∆ℓ . Untuk menentukan skala beban bagilah beban
maksimal yang di dapat dari mesin dengan tinggi kurva maksimal,
atau bagilah beban yield (bila ada) dengan tinggi yield pada kurva.
Sedangkan untuk menentukan skala pertambahan panjang, bagilah
panjang setelah patah dengan panjang pertambahan total pada kurva
dari perhitungan tersebut akan didapatkan data:
1. Skala beban (P) = 1mm : ........... kN
2. Skala pertambahan panjang (∆L) = 1mm : ........... mm
3. Ambilah 3 titik di daerah elastis, 3 titik di sekitar yield( termasuk y), 3
titik di sekitar beban maksimal (termasuk u) dan satu titik patah (f).
Tentukan besar beban dan pertambahan panjang ke sepuluh titik
tersebut berdasarkan skala yang telah di buat di atas. Untuk membuat
tampilan yang baik, terutama pada daerah elastis, tentukan terlebih
dahulu kemiringan garis proporsional   dengan memakai
persamaan hooke di bawah ini:
   (2.6)

di mana  = tegangan/ stress (kN/mm2)


 = modulus elastisitas (kN/mm2)
 = regangan/strain (mm/mm)

dari persamaan1.3 di dapatkan :

  
= tg (2.7)

4. Konversikan ke sepuluh beban (P) tersebut ke tegangan teknik t


dengan menggunakan persamaan 2.4 dan konversikan pertambahan

panjangnya  ke regangan teknik  t  dengan memakai persamaan


1.5.

5. Buatlah grafik dengan sumbu mendatar t dan sumbu tegak t


berdasarkan ke sepuluh titik acuan tersebut. Grafik yang terjadi pada
Gambar 2.6 akan mirip dengan kurva P   , karena pada dasarnya

grafik t  t dengan kurva P   identik, hanya besaran sumbu-

sumbunya yang berbeda. Hasil konversi grafik P - Δℓ ke Grafik σt - εt


ditunjukkan pada Gambar 2.6 berikut :

Gambar 2.6 Grafik σt - εt hasil konversi grafik P - Δℓ


Grafik tegangan-regangan sebenarnya  s   s  di buat dengan
kondisi luas penampang yang sebenarnya yang terjadi selama pengujian.
Penggunaan grafik ini khususnya pada manufaktur di mana deformasi
plastis yang terjadi menjadi perhatian untuk proses pembentukkan.

Perbedaan paling menyolok grafik ini dengan dengan grafik  t   t terletak


pada keadaan kurva setelah titik u (beban ultimate).

Pada grafik  t   t setelah titik u, kurva akan turun sampai patah di

titik f (fracture), sedangkan pada grafik  s   s kurva akan terus naik


sampai patah di titik f. Kenaikkan tersebut di sebabkan tegangan yang
terjadi dihitung dengan menggunakan luas penampang sebenarnya sehingga
meskipun beban turun namun karena terjadi pengecilan penampang lebih
besar, maka tegangan yang terjadi juga lebih besar.
Berdasarkan asumsi volume konstan maka persamaan yang di gunakan
adalah:

σ s =  t (1 + t ) (2.8)

 s =ℓn ( 1 +  t ) (2.9)
Persamaan diatas berlaku hanya sampai dengan titik maksimum,
karena sampai dengan titik tersebut tidak terjadi deformasi yang homogen
sepanjang benda uji.

Adapun langkah-langkah untuk mengkonversikan garfik t  t ke

dalam grafik s  s adalah sebagai berikut:

1. Ambil kembali ke sepuluh titik pada grafik t  t yang merupakan

konversi dari grafik P   .Untuk menentukan nilai tegangan


sebenarnya gunakan persamaan 2.10 sedangkan untuk nilai regangan
sebenarnya gunakan persamaan 2.11 Persaman tersebut hanya berlaku
sampai titik maksimum yaitu titik 1-8. Sedangkan nilai ke dua titik
lainnya (titik 9 dan titik 10) yang berada setelah puncak kurva akan
mengalami perubahan.
2. Untuk menghitung nilai tegangan sebenarnya dan regangan
sebenarnya pada kedua titik tersebut gunakan persamaan berikut:

 s  P Ai (2.10)

 s =ℓn(Ao/Ai) (2.11)
Dimana Ai = Luas penampang sebenarnya. Untuk titik ke-10,
A10adalah luas penampang setelah patah, sedangkan untuk titik ke-9,
A9 nilainya antara A8 dengan A10.

3. Buatlah grafik dengan sumbu mendatar s dan sumbu tegak s


berdasarkan ke sepuluh titik acuan tersebut.
Kesepuluh titik acuan tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.7 di
bawah ini :

Gambar 2.7 Grafik tegangan dan regangan sebenarnya  s   s 

Sifat mekanik yang di dapat dari uji tarik


 
1. Tegangan tarik yield  y

 y  Py A (2.12)

di mana  y = tegangan yield (kN/mm2)

Py = beban yield (kN)


2. Tegangan tarik maksimum/ Ultimate  u 
 u  Pu A (2.13)

di mana  u = tegangan ultimate (kN/mm2)


pu = beban ultimate (kN)

3. Regangan   (2.14)
∆𝐿
𝜀 = × 100%
𝐿0

Dimana  = regangan (%).


∆L = pertambahanpanjang (mm)
L0 = panjang awal spesimen (mm)
Regangantertinggi menunjukkan nilai keuletan suatu material.
4. Modulus elastisitas (E)
Kalau regangan menunjukkan keuletan, maka modulus elastisitas
menunjukkan kekakuan suatu material. Semakin besar nilai E,
menandakan semakin kakunya suatu material. Harga E ini di turunkan
dari persamaan hukum hooke sebagaimana telah diuraikan pada
persamaan 2.3 dan 2.4.
Dari persamaan tersebut juga nampak bahwa kekakuan suatu
material relatif terhadap yang lain dapat di amati dari sudut kemiringan

  pada garis proporsional. Semakin besar  , semakin kaku


material tersebut seperti pada Gambar 2.7 diatas.
5. Reduksi penampang / reduction of area (RA )
RA = [(A0-A1)/A0]  100% (2.15)
di mana A1 = luas penampang setelah patah (mm2)
Reduksi penampang dapat juga di gunakan untuk menetukan
keuletan material. Semakin tinggi nilai RA, semakin ulet material
tersebut.
BAB III
METODOLOGI

3.1 Peralatan dan bahan


3.1.1 Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut :
a. Mesin uji tarik.
b. Kikir.
c. Jangka sorong.
d. Ragum.
e. Penitik.
f. Palu.

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:
a. Spesimen uji tarik pelat.
b. Spesimen uji tarik round bar.
c. Spesimen uji tarikbeton neser.
d. Kertas milimeter.

3.2 Langkah kerja


Urutan langkah kerja yang dilakukan dalam pengujian ini adalah:
1. Menyiapkan spesimen
Langkah yang dilakukan dalam menyiapkan spesimen adalah:
a. Ambil spesimen dan jepit pada ragum.
b. Ambil kikir, dan kikir bekas machining pada spesimen yang
memungkinkan menmyebabkan salah ukur.
c. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

2. Pembuatan gauge length


Langkah yang dilakukan dalam pembuatan gauge length adalah:
Ambil penitik dan tandai spesimen dengan dua titikan sejuh 60 mm
untuk spesimen plat bar dan round bar. Sedangkan untuk beton
nesergauge lenghtnya 8 x diameter. Dimana gauge lenght untuk beton
neser kami memperoleh:
ℓ = 257,75 mm
m = 143,20 gram
ρbaja = 7,85 gram/cm3

4𝑚
𝑑= √
𝜋𝜌ℓ

4 𝑥 143,20
𝑑= √
𝜋 7,85 𝑥 25,775

= 9,50 mm
Sehingga gauge lenght beton neser
ℓ0 = 8 x 9,50
= 76 mm
Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

3. Pengukuran dimensi
Langkah yang dilakukan dalam pengukuran dimensi adalah:
a. Ambil spesimen dan ukur dimensinya.
b. Catat jenis spesimen dan data pengukurannya pada lembar kerja.
c. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.

4. Pengujian pada mesin uji tarik


Langkah yang dilakukan dalam pengujian pada mesin uji tarik adalah:
a. Catat data mesin pada lembar kerja.
b. Ambil kertas milimeter dan pasang pada tempatnya.
c. Ambil spesimen dan letakkan pada tempatnya secara tepat.
d. Setting beban dan pencatat grafik pada mesin tarik.
e. Berikan beban secara kontinyu sampai spesimen patah.
f. Amati dan catat besarnya beban pada saat yield, ultimate dan patah
sebagaimana yang tampak pada monitor beban.
g. Setelah patah, ambil spesimen dan ukur panjang dan luasan
penampang yang patah .
h. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen. Untuk pengujian
pada mesin uji tarik bisa dilihat pada Gambar 3.1 di bawah ini.

Gambar 3.1 Pengujian Pada Mesin Uji Tarik


BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisis Data
Setelah melakukan pengujian tarik yang telah dilakukan kami
memperoleh data yang ditunjukkan Tabel 4.1 dan Tabel 4.2 berikut :
Tabel 4.1 Hasil uji tarik

Specification Sample Tensile Test Results


No Width Thick Diameter Area L0 FYield FUlt
2
w0 (mm) t0 (mm) d 0 (mm) A0 (mm ) (mm) Kgf kN kgf kN
1 - - 12,85 129,62 59,55 4843,65 47,5 7698,86 75,5
2 18,85 7,75 - 146,09 60,95 1070,70 10,5 5710,41 56
3 9,50 9,50 9,50 70,85 76,25 2396,33 23,5 3059,15 30

Tabel 4.2 Hasil uji tarik

Tensile Test Results


No Width Thick Diameter Area 𝐿1 Reduction of Elongation
𝑤1 (mm) 𝑡1 (mm) 𝑑1 (mm) 𝐴1 (𝑚𝑚2 ) (mm) Area (𝑚𝑚2 ) ( %)
1 - - 9,75 74,62 72,25 42,43 21,33
2 13,75 4,25 - 58,44 66,85 59,99 9,68
3 5,45 5,45 5,45 23,32 94,45 67,08 23,87

Tensile Test Result


No Yield Stress 𝜎𝑌𝑖𝑒𝑙𝑑. . Ult. Stress 𝜎𝑈𝑙𝑡.
Remark
Kgf/𝑚𝑚2 Mpa Kgf/𝑚𝑚2 Mpa
1 37,37 366,47 59,39 582,42 Patahan didalam
2 7,33 71,88 39,09 383,34 Patahan diluar
3 33,82 331,66 43,18 423,45 Patahan diluar

Keterangan :
1. Spesimen round bar
2. Spesimen plat bar
3. Spesimen beton neser
Perhitungan Tensile Test
1. Spesimen 1 (Plat bar)
Skala beban (y) = sudah diatur sebesar 1 mm = 0,50 kN
Skala beban (x) = Δl setelah spesimen patah
Panjang plastis pada kurva P - Δl
= 5,876 mm / 52 mm
= 0,113
Beberapa sifat mekanik yang didapat dari pengujian tarik pada spesimen
Plat bar adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan di daerah elastis
 Tegangan teknik di titik yield
𝑃𝑦 10,5 𝑘𝑁 𝑘𝑁
ty = = 146,09 𝑚𝑚2 = 0.072𝑚𝑚2
𝐴𝑜

 Regangan teknik di titik yield


∆𝑙𝑦 0,34038 𝑚𝑚
ty = x 100% = x 100% = 0,00558= 0,558 %
𝐿𝑜 60,95 𝑚𝑚

 Tegangan sebenarnya di titik yield


𝑘𝑁 𝑘𝑁
sy = ty (1 + ty) = 0,072𝑚𝑚2 (1 + 0.00558) = 0.0723 𝑚𝑚2

 Regangan sebenarnya di titik yield


sy = ln (1 + ty) = ln (1 + 0.00558) = 0,00557= 0,557 %
 Modulus elastisitas
𝑘𝑁
ty 0,072 𝑘𝑁
𝑚𝑚2
E = ty = = 12,9 𝑚𝑚2
0,558 %

 Resilen
1 1 𝑘𝑁 𝑘𝑁
Ur = 2 x ty x ty =2 x 0,072𝑚𝑚2 x 0.00558 = 0.00020088 𝑚𝑚2
2. Perhitungan di daerah plastis
 Tegangan teknik di titik ultimate
𝑃𝑢 56 𝑘𝑁 𝑘𝑁
tu =𝐴𝑜 = 146,09𝑚𝑚2 = 0,383𝑚𝑚2

 Reduksi penampang
𝐴𝑜 − 𝐴𝑖 146,09 𝑚𝑚 2 − 58,44 𝑚𝑚2
RA = x 100% = x 100% = 59,99 %
𝐴𝑜 146,09 𝑚𝑚2

 Regangan maksimum teknik


∆𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 5,9 𝑚𝑚
maks = x 100% = 60,95 𝑚𝑚 x 100% = 9,68 %
𝐿𝑜

 Tegangan tarik maksimum sebenarnya


𝑃𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 56 𝑘𝑁 𝑘𝑁
maks =𝐴𝑖𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 = 135,26 𝑚𝑚2 = 0,4140 𝑚𝑚2

Nilai perhitungan tegangan dan regangan spesimen plat bar dapat dilihat
pada Tabel 4.3 dan grafik tegangan – regangan dapat dilihat pada Gambar
4.1 berikut :
Tabel 4.3 Perhitungan Tegangan dan Regangan Plat Bar
Gambar 4.1 Grafik tegangan-regangan spesimen 1 (plat bar)

2. Spesimen 2 (round bar)


Skala beban (y) = sudah diatur sebesar 1 mm = 0,50 kN
Skala beban (x) = Δl setelah spesimen patah
Panjang plastis pada kurva P - Δl
= 12,7 mm / 41 mm
= 0,310

Beberapa sifat mekanik yang didapat dari pengujian tarik pada spesimen
round bar adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan di daerah elastis
 Tegangan teknik di titik yield
𝑃𝑦 47,5 𝑘𝑁 𝑘𝑁
ty = = 129,62 𝑚𝑚2 = 0.366𝑚𝑚2
𝐴𝑜

 Regangan teknik di titik yield


∆𝑙𝑦 3,562195 𝑚𝑚
ty = x 100% = x 100% = 0,05982= 5,982 %
𝐿𝑜 59,55 𝑚𝑚

 Tegangan sebenarnya di titik yield


𝑘𝑁 𝑘𝑁
sy = ty (1 + ty) = 0,366𝑚𝑚2 (1 + 0.05982) = 0.388 𝑚𝑚2

 Regangan sebenarnya di titik yield


sy = ln (1 + ty) = ln (1 + 0.05982) = 0,0581= 5,81 %
 Modulus elastisitas
𝑘𝑁
ty 0,366 𝑘𝑁
𝑚𝑚2
E = ty = = 6,12𝑚𝑚2
5,982 %

 Resilen
1 1 𝑘𝑁 𝑘𝑁
Ur = 2 x ty x ty =2 x 0,366𝑚𝑚2 x 0.05982 = 0.01095 𝑚𝑚2

2. Perhitungan di daerah plastis


 Tegangan teknik di titik ultimate
𝑃𝑢 75,5 𝑘𝑁 𝑘𝑁
tu =𝐴𝑜 = 129,62 𝑚𝑚2 = 0,582𝑚𝑚2

 Reduksi penampang
𝐴𝑜 − 𝐴𝑖 129,62 𝑚𝑚 2 − 74,62 𝑚𝑚2
RA = x 100% = x 100% = 42,43 %
𝐴𝑜 129,62 𝑚𝑚2

 Regangan maksimum teknik


∆𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 12,7 𝑚𝑚
maks = x 100% = 59,55 𝑚𝑚 x 100% = 21,327 %
𝐿𝑜

 Tegangan tarik maksimum sebenarnya


𝑃𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 75,5 𝑘𝑁 𝑘𝑁
maks =𝐴𝑖𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 = 111,12 𝑚𝑚2 = 0,679 𝑚𝑚2

Nilai perhitungan tegangan dan regangan spesimen round bar dapat dilihat
pada Tabel 4.4 dan grafik tegangan – regangan dapat dilihat pada Gambar
4.2 berikut :

Tabel 4.4 Perhitungan Tegangan dan Regangan Round Bar


Gambar 4.2 Grafik tegangan-regangan spesimen 2 (round bar)

3. Spesimen 3 ( beton neser)

Skala beban (y) = sudah diatur sebesar 1 mm = 0,50 kN


Skala beban (x) = Δl setelah spesimen patah
Panjang plastis pada kurva P - Δl
= 18,2 mm / 89 mm
= 0,204

Beberapa sifat mekanik yang didapat dari pengujian tarik pada spesimen
beton neser adalah sebagai berikut :
1. Perhitungan di daerah elastis
 Tegangan teknik di titik yield
𝑃𝑦 23,5 𝑘𝑁 𝑘𝑁
ty = = 70,85 𝑚𝑚2 = 0.332𝑚𝑚2
𝐴𝑜

 Regangan teknik di titik yield


∆𝑙𝑦 1,23 𝑚𝑚
ty = x 100% = 76,25 𝑚𝑚 x 100% = 0,01609= 1,609 %
𝐿𝑜

 Tegangan sebenarnya di titik yield


𝑘𝑁 𝑘𝑁
sy = ty (1 + ty) = 0,332𝑚𝑚2 (1 + 0.01609) = 0.337 𝑚𝑚2
 Regangan sebenarnya di titik yield
sy = ln (1 + ty) = ln (1 + 0.01609) = 0,01596 = 1,596 %
 Modulus elastisitas
𝑘𝑁
ty 0,332 𝑘𝑁
𝑚𝑚2
E = ty = = 20,63 𝑚𝑚2
1,609 %

 Resilen
1 1 𝑘𝑁 𝑘𝑁
Ur = 2 x ty x ty =2 x 0,332 𝑚𝑚2 x 0.01609 = 0.00267094 𝑚𝑚2

2. Perhitungan di daerah plastis


 Tegangan teknik di titik ultimate
𝑃𝑢 30 𝑘𝑁 𝑘𝑁
tu =𝐴𝑜 = 70,85 𝑚𝑚2 = 0,423𝑚𝑚2

 Reduksi penampang
𝐴𝑜 − 𝐴𝑖 70,85 𝑚𝑚 2 − 23,32 𝑚𝑚2
RA = x 100% = x 100% = 67,08 %
𝐴𝑜 70,85 𝑚𝑚2

 Regangan maksimum teknik


∆𝑙 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 18,2 𝑚𝑚
maks = x 100% = x 100% = 23,869 %
𝐿𝑜 76,25 𝑚𝑚

 Tegangan tarik maksimum sebenarnya


𝑃𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 30 𝑘𝑁 𝑘𝑁
maks =𝐴𝑖𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 = 59,12 𝑚𝑚2 = 0,5075 𝑚𝑚2

Nilai perhitungan tegangan dan regangan spesimen beton neser dapat


dilihat pada Tabel 4.5 dan grafik tegangan – regangan dapat dilihat pada
Gambar 4.3 berikut :

Tabel 4.5 Perhitungan Tegangan dan Regangan Beton Neser


Gambar 4.3 Grafik tegangan-regangan spesimen 3 (beton neser)
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penghitungan diatas, maka diperoleh data pada Tabel 5.1 sebagai
berikut :
Tabel 5.1 Sifat mekanik
𝑘𝑁
No Spesimen σy (MPa) σu (MPa) ε(%) RA(%) E ( 2)
𝑚𝑚
1 Round Bar 366,47 582,42 21,327 42,43 6,12
2 Plat Bar 71,88 383,34 9,680 59,99 12,9
Beton 20,63
331,66 423,45 23,869 67,08
3 Neser

Dari data yang diperolehdiatasdapatdisimpulkanbahwa:


 Spesimen 1 (Round Bar) memiliki kekuatan paling besar karena nilai
tegangan yield-nya paling besar

 Spesimen 1 (Round Bar) memiliki kekuatan tarik paling besar karena


memiliki tegangan maksimum paling besar

 Spesimen 3 (beton neser) memiliki keuletan paling tinggi karena


memiliki elongation paling besar.

 Spesimen 3 (beton neser) memiliki nilai Elastisitas paling tinggi.

Bila dalam grafik 𝑃 − ∆ℓ tidak ditemukan titik yield, maka dapat


dilakukan metode offset dengan menentukan jarak 0,2% dari regangan
maksimum dan panjang awal (∆ℓ𝑜𝑓𝑓𝑠𝑒𝑡 = 0,2%. 𝜀𝑚𝑎𝑥 . ℓ0 ).
Ketidaktepatan hasil pengujian disebabkan oleh pembacaan nilai hasil
pengujian yang kurang tepat, ketidaktelitian pengukuran material yang tidak
homogen (luasan yang tidak sama), pembulatan bilangan desimal pada
perhitungan dan hasil perhitungan itu sendiri, kesalahan pembacaan saat
pengambilan titik pada kurva hasil pengujian, serta kesalahan dari praktikan.
LAMPIRAN

Gambar pengukuran diameter Round Bar

Gambar pengukuran lebar Plat Bar


Gambar pengukuran tebal Plat Bar

Gambar pengukuran massa beton neser


Gambar pengukuran L0 Round Bar

Gambar pengukuran L0 Plat Bar


Gambar Pengukuran L0 Beton Neser

Gambar hasil uji Tarik


Gambar pengukuran L1 Round Bar

Gambar pengukuran L1 Plat Bar


Gambar pengukuran L1 Beton Neser
Daftar Pustaka

M.M. Munir, [2000], Modul Praktek Uji Bahan, Vol 1, Jurusan Teknik Bangunan
Kapal, PPNS
Harsono, Dr, Ir & T.Okamura, Dr, [1991], Teknologi Pengelasan Logam, PT.
Pradya Paramita, Jakarta
Wachid Suherman, Ir, [1987], Diktat Pengetahuan Bahan, Jurusan Teknik Mesin
FTI, ITS