Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

KENDALI MUTU

“KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN”

OLEH:
KELOMPOK V

DITA ELVITA SARITA (P00341017061)


FRININDA (P00341017065)
NUR SELMIATIN (P00341017084)
NUR HASNI ADAMSYAH (P00341017085)
SHAMSUL (P00341017091)
SRI MULYA ELNI NANINGSIH (P00341017094)
VERMI (P00341017098)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KENDARI
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
TINGKAT III B
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah KENDALI MUTU tentang “KETIDAKPASTIAN
PENGUKURAN”. Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih
kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Kendari, 05 Desember 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................2
C. Tujuan Penulisan ..........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Ketidakpastian Pengukuran ............................................................3
B. Ketidakpastian dan Kesalahan .....................................................................4
C. Perhitungan Ketidakpastian Diperluas (Expanded Uncertainty) .................9
D. Penentuan Estimasi penentuan ketidakpastian pengukuran………...……11
E. Estimasi Ketidakpastian dari berat molekul…………………..………….13
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................................15
B. Saran ...........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………16
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kendali mutu (quality control) dalam arti luas merupakan proses atau
tindakan yang diambil untuk menjamin hasil pemeriksaan yang baik dan
dapat dipercaya. Untuk memenuhi sistem mutu litbang, mka peralatan yang
digunakan baik peralatan uji maupun peralatan ukur serta metode pengujian
yang digunakan harus terverifikasi, terkalibrasi dan telah divalidasi sesuai
program jaminan mutu litbang.
Dalam ilmu fisika, pengukuran merupakan hal yang bersifat dasar dan
merupakan salah satu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Aktivitas
mengukur menjadi sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan dalam
mempelajari berbagai fenomena yang sedang dipelajari. Dalam praktikum fisi
ka dasar modul teori pengukuran dan ketidakpastian ini, diharapkan
mahasiswa mampu mengenal sekaligus dapat menggunakan alat ukur dalam
ilmu fisika. Tidak hanya itu diharapkan juga mahasiswa dapat melakukan
pengukuran tunggal maupun berulang yang bertujuan untuk mencari data
Kesalahan merupakan unsur yang tidak dapat dihindari dalam
proses pengukuran. Kesalahan dalam pengukuran biasanya didefinisikan seba
gai perbedaan antara nilai sebenarnya dengan nilai terukur. Efek kesalahan ad
alahmenciptakan ketidakpastian dalam nilai sebuah pengukuran. Mencari
nilai ketidakpastian dalam proses pengukuran sangatlah penting untuk
dilakukan agar hasil pengukuran menjadi akurat.
Ketika digunakan dalam konteks pengukuran, ketidakpastian
mempunyai sebuah angka dan satuan yang berhubungan dengannya. Lebih
spesifik lagi ketidakpastian pengukuran mempunyai satuan yang sama dengan
hasil pengukuran. Analisis ketidakpastian merupakan alat yang sangat bergun
a untukmenetapkan tingkat reliabilitas sebuah pengukuran dan untuk validasi
model-model teoritis dan simulasi. Proses menentukan ketidakpastian
pengukuran menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki untuk melakukan
sebuah percobaan ilmiah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ketidakpastian pengukuran?
2. Apa yang dimaksud dengan ketidakpastian dan kesalahan?
3. Bagaimana cara perhitungan ketidakpastian diperluas (Expanded
Uncertainty)?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian dari ketidakpastian pengukuran.
2. Untuk mengetahui pengertian dari ketidakpastian dan kesalahan.
3. Untuk mengetahui cara perhitungan ketidakpastian diperluas (Expanded
Uncertainty).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Ketidakpastian Pengukuran


Definisi dari istilah ketidakpastian pengukuran yang digunakan
dalam peraturan ini berdasarkan pada kosakata istilah dasar dan umum
dalam metrologi adalah parameter yang terkait dengan hasil pengukuran,
yang mencirikan penyebaran nilai-nilai yang cukup dan dapat dikaitkan
dengan pengukuran. Ketidakpastian pengukuran terdiri dari banyak
komponen. Beberapa komponen dapat dievaluasi dari distribusi statistik
hasil seri pengukuran dan dapat ditandai dengan standar deviasi.
Komponen lain dapat dicirikan oleh standar penyimpangan, dievaluasi
dengan cara diasumsikan mengikuti probabilitas distribusi berdasarkan
pengalaman atau informasi lainnya. Panduan ISO menggolongkan dalam
kasus sebagai Tipe A dan Tipe B.
Dalam banyak kasus dalam analisis kimia, pengukuran identik
dengan penentuan konsentrasi dari analit. Namun analisis kimia digunakan
untuk ukuran yang lain misalnya warna, pH, dan lain-lain, oleh karena itu
istilah umum "ukur" akan digunakan. Definisi ketidakpastian yang
diberikan di atas berfokus pada kisaran nilai-nilai yang cukup yakin bisa
dihubungkan ke pengukuran. Dalam penggunaan umum, kata
ketidakpastian berkaitan dengan konsep umum keraguan. Dalam panduan
ini, kata ketidakpastian tanpa kata sifat, mengacu baik untuk parameter
yang berhubungan dengan definisi di atas, atau pengetahuan yang terbatas
tentang nilai tertentu. Ketidakpastian pengukuran tidak menyiratkan
keraguan tentang validitas pengukuran; sebaliknya, pengetahuan tentang
ketidakpastian berarti meningkatkan keyakinan terhadap validitas dari
hasil pengukuran.
Sumber Ketidakpastian. Dalam prakteknya ketidakpastian pada
hasil mungkin timbul dari sumber banyak kemungkinan, termasuk definisi
lengkap seperti contoh, sampling, efek matriks dan gangguan, kondisi
lingkungan, ketidakpastian massa dan volumetrik peralatan, nilai acuan,
perkiraan dan asumsi yang tergabung dalam metode pengukuran dan
prosedur, dan variasi acak.
Untuk y hasil pengukuran, jumlah ketidakpastian, disebut standar
gabungan ketidakpastian dan dinotasikan dengan uc (y), adalah estimasi
standar deviasi sama dengan positif akar kuadrat varians total diperoleh
menggabungkan semua komponen ketidakpastian, dan dievaluasi,
menggunakan hukum propagasi ketidakpastian. Untuk tujuan dalam kimia
analitik, ketidakpastian diperluas U, harus digunakan. Ketidakpastian
diperluas menyediakan interval di mana nilai besaran ukur dipercaya untuk
tingkat keyakinan yang lebih tinggi. U diperoleh dengan mengalikan uc (y),
ketidakpastian baku gabungan, dengan cakupan yang faktor k. Pilihan dari
k factor berdasarkan tingkat kepercayaan yang diinginkan. Untuk
perkiraan tingkat kepercayaan 95%, k adalah 2. k faktor harus selalu
dinyatakan sehingga ketidakpastian baku gabungan kuantitas diukur dapat
dipulihkan untuk digunakan dalam menghitung standar gabungan
ketidakpastian hasil pengukuran lain yang mungkin tergantung pada
kuantitas itu.
B. Kesalahan dan ketidakpastian
Penting untuk membedakan antara kesalahan dan ketidakpastian.
Kesalahan (error) didefinisikan sebagai perbedaan antara hasil individu
dan nilai benar dari besaran ukur. Dengan demikian, kesalahan adalah nilai
tunggal. Pada prinsipnya, nilai dari kesalahan dapat diterapkan sebagai
koreksi hasil. Kesalahan merupakan konsep ideal dan kesalahan tidak
dapat diketahui secara pasti. Ketidakpastian, di sisi lain, mengambil
berbagai bentuk, dan, jika diperkirakan untuk analisis prosedur dan jenis
sampel yang ditetapkan, berlaku untuk semua penentuan. Secara umum,
nilai ketidakpastian yang tidak dapat digunakan untuk memperbaiki hasil
pengukuran.
Ketidakpastian dari hasil pengukuran tidak boleh ditafsirkan
sebagai kesalahan itu sendiri, maupun kesalahan yang tersisa setelah
koreksi. Kesalahan dianggap memiliki dua komponen, yaitu komponen
random dan komponen sistematis.
1. Kesalahan Random
Kesalahan Random biasanya muncul dari variasi jumlah pengaruh.
Efek-efek acak menimbulkan variasi pengamatan berulang. Kesalahan
acak dari hasil analisis tidak dapat dikompensasi, tetapi biasanya
dapat dikurangi dengan meningkatkan jumlah pengamatan.
Standar deviasi eksperimental atau rata-rata seri pengamatan
bukanlah kesalahan acak, meskipun begitu disebut dalam beberapa
publikasi tentang ketidakpastian. Ini adalah bukan sebuah ukuran dari
ketidakpastian dari rata-rata karena beberapa kesalahan acak. Nilai
yang tepat dari random error timbul dari efek tidak dapat diketahui.
2. Kesalahan sistematis
Kesalahan sistematis didefinisikan sebagai komponen kesalahan
yang, dalam perjalanan dari sejumlah analisis dari ukur yang sama,
tetap konstan atau bervariasi dengan cara yang dapat diprediksi. Ini
tidak tergantung dari jumlah pengukuran dibuat dan karenanya tidak
dapat dikurangi dengan meningkatkan jumlah analisis di bawah
konstan kondisi pengukuran.
Efek yang berubah secara sistematis selama rangkaian analisis
yang disebabkan, yang disebabkan karena kontrol yang tidak memadai,
kondisi eksperimental sehingga menimbulkan kesalahan yang
sistematis yang tidak konstan. Ketidakpastian pengukuran merupakan
tingkat kesalahan yang tidak diketahui yang tersisa dalam pengukuran.
Jika nilai sebenarnya dari kesalahan diketahui, maka itu bukan bagian
dari ketidakpastian pengukuran. Sebaliknya, itu harus digunakan
untuk memperbaiki hasil pengukuran. Metode untuk menentukan
ketidakpastian pengukuran telah dibagi menjadi dua kelas generik
yaitu Evaluas Tipe A yang menghasilkan ketidakpastian ditentukan
secara statistik berdasarkan distribusi normal dan evaluasi tipe B
merupakan ketidakpastian ditentukan dengan cara lain.
Ketidakpastian ditentukan melalui evaluasi Tipe A dengan
melakukan pengukuran ulang dan menentukan distribusi statistik.
Pendekatan ini bekerja terutama untuk kontribusi acak. Pengukuran
ulang dengan penyimpangan yang sistematis dari nilai yang benar
dikenal memberikan nilai kesalahan yang harus diperbaiki. Namun,
ketika mengevaluasi pengukuran yang dihasilkan, efek ketidakpastian
sistematis dengan ketidakpastian acak sedemikian rupa sehingga
efeknya dapat ditentukan secara statistik. Misalnya, efek suhu dapat
menyebabkan peningkatan kebisingan termal acak dalam hasil
pengukuran. Evaluasi tipe A didasarkan pada standar deviasi dari
pengukuran ulang, yang untuk n pengukuran dengan hasil qk dan nilai
rata-rata q, diperkirakan dengan:

Standar kontribusi ketidakpastian ui dari pengukuran qk tunggal


diberikan oleh:

Jika pengukuran n yang rata-rata sama, ini menjadi:

Untuk kasus-kasus di mana evaluasi tipe A tidak tersedia atau tidak


praktis, dan untuk menutupi kontribusi tidak termasuk dalam tipe A,
maka tipe B digunakan. Tentukan kontribusi potensial terhadap total
rata-rata ketidakpastian. Tentukan nilai ketidakpastian untuk setiap
kontribusi. Kontribusi harus dalam kuantitas yang diukur, bukan
kuantitas pengaruh. Untuk setiap kontribusi, memilih distribusi
statistik yang diharapkan dan menentukan ketidakpastian standar.
Kombinasikan ketidakpastian yang dihasilkan dan dihitung
ketidakpastian diperluas. Ketidakpastian baku tipe B, simpangan baku
adalah ketidakpastian itu sendiri, namun dikoreksi terhadap distribusi
probabilitas nilai tersebut. Beberapa distribusi yang menyumbang
ketidakpastian adalah:
a. Distribusi normal
Gambar 7.1 menunjukkan kurva yang mengikuti distribusi normal.

Gambar 7.1 Kurva distribusi normal Perhitungan ketidakpastian


yang mengikuti distribution normal:

Dimana Ui adalah ketidakpastian diperluas kontribusi dan k


adalah faktor cakupan (k = 2 untuk kepercayaan 95%).
b. Rectangular distribusi
Distribusi rectangular yaitu hasil pengukuran memiliki
probabilitas yang sama berada di tempat dalam rentang -ai ke ai.
Rumus yang mengikuti distribusi rectangular adalah:
Gambar 7.2 Kurva distribusi rectangular
Produsen peralatan ± nilai akurasi (bukan dari anggaran
ketidakpastian standar) batas resolusi peralatan. Setiap istilah
dimana hanya berkisar maksimal atau kesalahan dikenal.
c. Distribusi berbentuk U
Distribusi berbentuk U, hasil pengukuran memiliki
kemungkinan yang lebih tinggi menjadi beberapa nilai di atas atau
di bawah rata-rata daripada berada di median)

Gambar 7.3 Kurva distribusi berbentuk U


d. Distribusi triangular
Distribusi triangular yaitu distribusi non-normal dengan
linear dari maksimum ke nol. contoh: Alternatif untuk persegi
panjang atau distribusi normal bila distribusi diketahui di pusat
dan memiliki nilai yang diharapkan maksimum.

Gambar 7.4 Kurva mengikuti distribusi trianguler


Setelah seluruh sumber ketidakpastian diidentifikasi dan hubungan
antara sumber yang satu dengan yang lain telah diketahui, serta bagaimana
semuanya berpengaruh terhadap ketidakpastian akhir, maka pada tahap ini
dilakukan kuantifikasi nilai ketidakpastian yang berasal dari masing-
masing sumber. Data ketidakpastian yang berasal dari masing-masing
sumber perlu dikonversi terlebih dahulu menjadi ketidakpastian baku (μ)
agar dapat digunakan dalam perhitungan ketidakpastian akhir. Berbagai
jenis data dan cara konversinya menjadi ketidakpastian baku dapat
dicermati dalam Gambar 7.4
C. Perhitungan Ketidakpastian Diperluas (Expanded Uncertainty)
Tahap terakhir dari perhitungan ketidakpastian adalah mengalikan
ketidakpastian gabungan (μX) dengan suatu faktor pencakupan (k)
ketidakpastian untuk mendapatkan nilai ketidakpastian diperluas (U)
dengan tingkat kepercayaan tertentu. Untuk kebanyakan kasus, disarankan
untuk menggunakan nilai k=2 (atau tepatnya 1,96) yang akan memberikan
tingkat kepercayaan 95%. Tapi ini hanya berlaku jika nilai perhitungan
ketidakpastian gabungan didasarkan pada data dengan derajat bebas efektif
yang cukup besar (≥ 6). Jika derajat bebas efektif kecil (< 6), maka perlu
nilai K yang lebih besar, yang dapat diperoleh dari nilai t-student.

Gambar 7.6 Jenis-jenis sumber ketidakpastian dan cara konversinya untuk


mendapatkan ketidakpastian baku (μ)
Terdapat dua kategori komponen ketidakpastian yakni:
1. Tipe A yaitu ketidakpastian berdasarkan pekerjaan eksperimental dan
dihitung dari rangkaian berulang
2. Tipe B yaitu ketidakpastian berdasarkan informasi/ data yang dapat
dipercaya, contoh: sertifikat.
Ketidakpastian baku (μ) untuk tipe A diperoleh melalui persamaan:
Dimana: s adalah simpangan baku dan n adalah jumlah
pengamatan. Sedangkan untuk ketidakpastian baku tipe B,
simpangan baku adalah ketidakpastian itu sendiri, namun perlu
dikoreksi terhadap distribusi probabilitas nilai tersebut.
• Untuk distribusi normal dengan tingkat kepercayaan 95%,
𝑠
Μ (x) =2

• Untuk distribusi normal dengan tingkat kepercayaan 99%,


𝑠
Μ (x) =3

• Untuk distribusi rectangular,


𝑠
M= √3

• Untuk distribusi triangular,


𝑠
=√6

D. Penentuan Estimasi Ketidakpastian Pengukuran


Pembuatan Larutan Standar Cd 1000 mg/L
 Pembuatan larutan standar Cd 1000 mg/L
 Cara kerja sesuai SNI:
 Logam Cd dibersihan lapisan luar dari oksidanya,
kemudian dilarutkan dengan asam nitrat dan dimasukkan dalam
labu ukur 1000 mL, ditambahkan aquabides sampai batas.
1. Penentuan ketidakpastian baku
a. Ketidakpastian dari m sampel
Neraca analitik yang digunakan untuk penimbangan
mempunyai nilai ketidakpastian sebesar 0,1x 108 g, Sumber
ketidakpastian sampel selain berasal dari ketidakpastian baku, ada
beberapa faktor lain yang mempengaruhi ketidakpastian misalnya
dari faktor banyaknya penimbangan maka ketidakpastian dari
masing-masing sumber tersebut dapat digabungkan dan
dinyatakan dalam ketidakpastian gabungan.
b. Ketidakpastian dari labu takar 25 ml
Labu takar 25 mL yang digunakan dalam analisis kadar
nikel mempunyai nilai ketidakpastian sebesar ±0,04 mL yang
diukur pada suhu 24ºC, maka nilai ketidakpastian baku dari labu
takar ini termasuk dalam distribusi rectangular. Pada penentuan
ketidakpastian labu takar 25 mL, sumber-sumber kesalahan tidak
hanya berasal dari satu faktor saja melainkan ada faktor lain yang
mempengaruhi seperti ketidakpastian efek temperature.
c. Ketidakpastian dari labu takar 100 ml
Labu takar 100 ml yang digunakan dalam analisis kadar
nikel mempunyai kadar ketidakpastian sebesar ±0,1 mL yang
diukur pada suhu 23,1ºC, maka nilai ketidakpastian baku dari labu
takar ini termasuk dalam distribusi rectangular. Pada penentuan
ketidakpastian labu takar 25 mL, sumber-sumber kesalahan tidak
hanya berasal dari satu faktor saja melainkan ada faktor lain yang
mempengaruhi seperti ketidakpastian efek temperature.
d. Ketidakpastian dari labu takar 1000 ml
Labu takar 1000 ml yang digunakan dalam analisis kadar
nikel mempunyai kadar ketidakpastian sebesar ±0,385 mL yang
diukur pada suhu 24ºC, maka nilai ketidakpastian baku dari labu
takar ini termasuk dalam distribusi rectangular. Pada penentuan
ketidakpastian labu takar 25 mL, sumber-sumber kesalahan tidak
hanya berasal dari satu faktor saja melainkan ada faktor lain yang
mempengaruhi seperti ketidakpastian efek temperature.
e. Ketidakpastian dari pipet volume 2 ml dan 10 ml
Pipet volume 2 ml dan 10 ml yang digunakan dalam
analisis kadar nikel mempunyai kadar ketidakpastian sebesar
±0,0001mL pipet volume 2 ml dan diukur pada suhu 24,1ºC,
sedangkan pada pipet volume 10 ml mempunyai kadar
ketidakpastian sebesar ±0,05 mL dan diukur pada suhu 24,5ºC,
maka nilai ketidakpastian baku dari pipet volume ini termasuk
dalam distribusi rectangular. Pada penentuan ketidakpastian pipet
volume 2 mL dan 10 ml, sumber-sumber kesalahan tidak hanya
berasal dari satu faktor saja melainkan ada faktor lain yang
mempengaruhi seperti ketidakpastian efek temperature.
f. Ketidakpastian dari standar Ni
Kemurnian standar Ni yang diketahui dari label bahan
adalah 999 ± 2 ppm.
g. Ketidakpastian dari repeatabilitas
Dari data sampel natrium hidroksida 32% diperoleh data uji
repeatabilitas dengan nilai standar deviasi (sd) = 0,0088
pengulangan 7 kali.
h. Penentuan estimasi ketidakpastian gabungan penentuan kadar
nikel
Sumber-sumber ketidakpastian pada penentuan kadar nikel
dengan metode spektrofotometri adalah ketidakpastian
penimbangan, ketidakpastian pengenceran, ketidakpastian volume,
ketidakpastian dari bahan, kurva kalibrasi dan repeatabilitas.
Penentuan nilai ketidakpastian hasil pengujian secara keseluruhan
dapat diperoleh dengan menentukan ketidakpastian gabungan.
i. Ketidakpastian Diperluas, a = 95%
Nilai ketidakpastian diperluas ditentukan dengan
menggunakan nilai ketidakpastian gabungan dikali dengan faktor
cakupan (k) dan karena menggunakan tingkat kepercayaan 95%
maka nilai faktor cakupan (k) yang digunakan dalam perhitungan
ketidakpastian diperluas adalah 1,96
j. Pelaporan hasil
Nilai ketidakpastian ini menunjukkan besarnya tingkat
kesalahan yang terjadi dalam penentuan kadar nikel pada natrium
hidroksida dengan spektrofotometer UV-Vis. Nilai ketidakpastian
pada sampel natrium hidroksida 32% menunjukkan nilai paling
rendah dibandingkan pada sampel natrium hidroksida48% dan
98%. Hal ini berarti dapat dikatakan bahwa untuk sampel natrium
hidroksida 32% memberikan hasil yang teliti karena nilai.
ketidakpastiannya terlalu kecil sehingga tingkat kasalahan
yang terjadi saat analisis kecil. Namun, sampel natrium hidroksida
48% dan 98% nilai ketidakpastiannya juga masih dibawah
konsentrasi nikel dalam sampel sehingga untuk ketiga sampel
natrium hidroksida masih memberikan hasil yang teliti.
E. Estimasi Ketidakpastian dari berat molekul
Komisi Berat Atom dan Kelimpahan Isotop dari IUPAC
(Commission on Atomic Weigiht and Isotopic Abundances) telah
melaporkan dalam Jurnal Pure Appl. Chem. Vol. 69, pp 2471-2471 (1997)
daftar elemen dengan berat atom dan ketidakpastian terkait (associated
uncertainty).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ketidakpastian pengukuran terdiri dari banyak komponen.
Beberapa komponen dapat dievaluasi dari distribusi statistik hasil seri
pengukuran dan dapat ditandai dengan standar deviasi. Komponen lain
dapat dicirikan oleh standar penyimpangan, dievaluasi dengan cara
diasumsikan mengikuti probabilitas distribusi berdasarkan pengalaman
atau informasi lainnya. Panduan ISO menggolongkan dalam kasus sebagai
Tipe A dan Tipe B.
Sumber Ketidakpastian. Dalam prakteknya ketidakpastian pada
hasil mungkin timbul dari sumber banyak kemungkinan, termasuk definisi
lengkap seperti contoh, sampling, efek matriks dan gangguan, kondisi
lingkungan, ketidakpastian massa dan volumetrik peralatan, nilai acuan,
perkiraan dan asumsi yang tergabung dalam metode pengukuran dan
prosedur, dan variasi acak.
B. SARAN
Demikianlah makalah dari kelompok kami mudah-mudahan
dengan adanya makalah tentang ketidakpastian pengukuran ini dapat
menambah pengetahuan pembaca dalam mata kuliah kendali mutu.
DAFTAR PUSTAKA

APVMA, (2004). Guidelines For The Validation Of Analytical Methods For


Active Constituent, Agricultural And Veterinary Chemical Product. Kingston
APVMA:Australia.

Bievre, P., and Gunzler, H., (1998). Eurachem Guidance Document. The Fitness
for Purpose of Analytical Methods, a Laboratory Guide to Method validation and
Related Topics. London: Laboratory of the Government Chemists.

X. Zhang, (2004). AnalyticalChan, C.C., H.L.Y.C. LEE, Method Validationand


Instrumental Performent Verification. Willey Intercine A. John Willy and Sons.
Inc., Publication.

Underwood, A. L., (2002). Analisis KimiaDay, R. A., Kuantitatif (edisi


keenam). Jakarta: Erlangga.

EURACHEM/CITAC Guide CG 4, (2000). Quantifying Uncertainty in


Analiytical Measurement (Ellson, S. L. Williams, A., Editor)(secondR.,
Rosslein, M., edition). UK Departement of Trade and Industry as Part of The
National Measurment System Valid Analytical Measurement (VAM) Programme.

Fessenden, J.S., (1986). Kimia Organik JilidFessenden, R.J., 2 (edisi ketiga).


Jakarta: Erlangga.

Gary, C. D., (1994). Analytical Chemistry (5th edition). New Sons Inc.York:
Jhon Wiley

Ginting, Br. A.,(2009). Validasi Metode. Coaching Spektrofotometri UV-Vis.


Serpong:Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir-Pusdiklat BATAN.

Harmita, (2004). Review Artikel.Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan


CaraPerhitungannya.Jurnal Majalah. Ilmu. Kefarmasian, Departemen
Farmasi:FMIPA UI, Vol. 1, No. 3.

Hidayat, A. (1989). Pengendalian dan Evaluasi Unjuk Kerja Metode Analisis


Kimia. Pusat Pembinaan Latihan Keterampilan dan Kejuruan Industri: Warta
AKAB.
Kantasubrata, J., (2008). Validasi Metode. Bandung: Pusat Penelitian LIPI

Mark A. J., (1996). Laboratory Statistics (3thKhan, S., edition). Inc. Missouri:
Mosby Year Book.
Li Sihai, Charles Tang, Ng Kok Chin, Yeoh Guan Huah, (2008), A Guide on
Measurement Uncertainty in Chemical & Microbiological Analysis Technical
Guide 2, Second Edition, the SAC (Singapore Accreditation Council).

Oktavia, E., (2006) Teknik Validasi Metode Analisis Kadar Ketoprofen Secara
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, Buletin Teknik Pertanian Vol. 11 No. 1, 23-28.

Sangita N Waghule, Nitin P. Jain, Chetan J Patani, and Aparana C. Patani, (2013)
Method development and validation of HPLC method for determination of
azithromycin, Der Pharma Chemica, 2013, 5(4):166- 172.