Anda di halaman 1dari 37

PROPOSAL PENELITIAN

EFEKTIVITAS BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP


PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEMBANG KOL

Oleh:
MEGA SETIAWATI (D1B117076)
FEBRIYANSYAH (D1B117152)
HALIMA (D1B117054)
TITA RISNATA (D1B117198)
EIS SUKMAWATI P. (D1B117148)
NURHIDAYAH (D1B117091)
ILMI AMALIA (D1B117160)
NAWIR (D1B117085)
WA ODE SUMIATI (D1B117121)
RAHMATIKA (D1B117095)
SATRIO NUGROHO (D1B117108)
IRWAN (D1B117060)
HERDIN ARDI PRATAMA (D1B117156)
MAYA ALFRIDA (D1B117074)
YODI (D1B117125)
WA ODE SUMARYENI B. (D1B117202)
RIFALDI RAHMATULLAH AM. (D1B117101)
RUSLAN (D1B117103)
AMRIADI (D1B117134)
DELFIN (D1B117144)
ISMAIL KANARUDIN (D1B117164)
MUH. ARLAN (D1B117172)
RIFAI (D1B117190)
SOFYANTO (D1B117194)
NURJAYA (D1B117186)

JURUSAN/PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
iii
EFEKTIVITAS BERBAGAI KOMPOSISI MEDIA TANAM TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEMBANG KOL

Proposal
Diajukan kepada Koordinator Praktikum
Untuk memenuhi salah satu syarat praktikum mata kuliah
Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura

JURUSAN/PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
iii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Efektifitas Berbagai Jenis Pupuk Organik Terhadap


Pertumbuhan Tanaman Kembang Kol
Kelas : AGT-B
Kelompok : 5 (Lima)
Jurusan/Program Studi : Agroteknologi

Menyetujui,

Asisten I

Nurul Fadillah, S.P.

Asisten II Asisten III

Mani Yusuf, S.P. Musdalifah, S.P.

Mengetahui,

Koordinator Mata Kuliah Koordinator Praktikum

Dr. Ir. Tresjia Corina Rakian, M.P. Uli Fermin, S.P.,M.P.


NIP. 19631112 198902 2 001 NIDN. 8812110016

iii
KATA PENGANTAR

Alhmadulillah, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas


segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun dan
menyelesaikan proposal penelitian berjudul “Efektifitas Berbagai Jenis Pupuk
Organik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kembang Kol” Terwujudnya proposal
penelitian ini tidak lepas dari bantuan beberapa pihak yang telah mendorong dan
membimbing penulis, baik dari segi moral maupun materi hingga terselesaikannya
proposal penelitian ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terima kasih kepada masing-masing pihak diantaranya
1. Koordinator praktikum mata kuliah Teknologi Budidaya Tanaman Hortikultura
yang telah memberikan bimbingan, saran, ide dan kesempatan dalam pembuatan
proposal ini.
2. Asisten praktikum yang telah membimbing kami selama praktikum, memberikan
motivasi, saran, ide, dan kesempatan dalam pembuatan proposal ini.
3. Teman-teman kelompok 5 kelas B yang telah berpartisipasi dan memberikan
motivasi dan masukan yang sangat luar biasa demi tercapainya proposal yang baik
dan benar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan dan penyusunan
proposal penelitian ini masih kurang sempurna, namun berkat bimbingan dan arahan
dari Asisten dan Dosen serta berbagai pihak, yang bersifat koreksi, kritik dan saran
sangat membantu dalam penyelesaian proposal penelitian ini. Akhir kata, penulis
mengharapkan adanya kritik dari pembaca dan semoga laporan ini dapat berguna bagi
berbagai pihak serta Allah SWT senantiasa memberikan pahala yang berlipat ganda
kepada semua pihak yang telah membantu, Amin. sekian dan terima kasih.

Kendari, Desember 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ................................................................................... i


HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ iii
KATAPENGANTAR ..................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................... v
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................. 3
1.3. Tujuan dan Manfaat .......................................................................... 4
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Teori ................................................................................ 5
2.1.1. Karakteristik Tanaman kembang kol ................................... 5
2.1.2. Syarat Tumbuh Tanaman Kembang kol .............................. 6
2.1.3. Peranan Berbagai jenis pupuk kandang ............................... 8
2.1.4. Mulsa Organik ...................................................................... 13
2.2. Kerangka Pikir ................................................................................ 15
2.3. Hipotesis ......................................................................................... 18
III. METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 19
3.2. Bahan dan Alat .................................................................................. 19
3.3. Prosedur Penelitian ............................................................................ 19
3.4. Rancangan Penelitian ........................................................................ 21
3.5. Variabel Penelitian ............................................................................ 21
3.6. Analisis Data...................................................................................... 22
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil .................................................................................................. 23
4.1.1 Tinggi Tanaman Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST. 23
4.1.2 Jumlah Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST..... 24
4.1.3 Panjang Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST ... 25
4.1.4 Lebar Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST…… 26
4.1.5 Berat Basah Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST ...... 27

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 28
5.2 Saran ................................................................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 19
LAMPIRAN .................................................................................................... 33
iii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Komoditas hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang

dibudidayakan oleh petani karena mempunyai nilai ekonomi dan permintaan pasar

yang tinggi. Potensi ekspor produk hortikultura ke Singapura pada tahun 2011 dapat

meningkat hingga 30% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya 6%

(Arsanti et al., 2017).

Kubis bunga atau sering juga disebut sebagai kembang kol (Brassica oleracea

L.) merupakan tanaman sayuran family Brassicaceae jenis kol dengan bunga putih,

berupa tumbuhan berbatang lunak yang berasal dari Eropa sub tropik. Kubis bunga

merupakan jenis sayuran yang memiliki banyak gangguan pencernaan, mencegah

efek radiasi ultraviolet, diabetes, radang usus, degenerasi makula, obesitas dan

hipertensi. Sumber vitamin C (asam askorbat), folat, vitamin K (phylloquinone) dan

vitamin B6. Vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin) dan sejumlah kecil

vitamin E (alfa-tokoferol). Kubis bunga juga menyediakan mineral penting seperti

kalsium, magnesium, fosfor, kalium dan mangan tanpa kolesterol berbahaya bagi

tubuh (Sunarti, 2015).

Budidaya kubis bunga dilakukan di daerah dataran tinggi, namun beberapa

kultivar dapat membentuk bunga di dataran rendah sekitar. Hal ini dikarenakan

kemajuan ilmu dan teknologi di bidang pertanian yang telah menemukan varietas-

varietas unggul kubis bunga yang cocok ditanam di dataran rendah sampai menengah

(Rukmana,1994).

iii
Sholahuddin & Sulastri (2011) melaporkan bahwa usahatani kubis

mempunyai prospek yang cerah, dengan B/C rasio 3,54 dan return of investment

(ROI) sebesar 233,41%. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Direktorat

Jenderal Hortikultura menunjukkan bahwa pada tahun 2013 luas panen kubis di

Indonesia sebesar 65.248 ha, dengan produksi sebesar 1.480.625 ton dan

produktivitas sebesar 22,69 ton/ha.

Berdasrakan data BPS tahun 2017 luas panen dan hasil produksi tanaman

kembang kol di Sulawesi tenggara tertinggi terdapat pada Kota Kolaka Utara dengan

luas panen 7 Hektar dan hasil produksi mencapai 16,71 Ku/Ha, rata-rata hasil

produksi tanaman kembang kol di Sulawesi Tenggara mencapai 8,88% Ku/Ha,

berdasarkan data BPS pada tahun 2017 bila dibandingan dengan data BPS 2016

menunjukan penurunan hasil dimana pada tahun 2016 rata-rata hasil produksi

tanaman kembang kol mencapai 23,53% Ku/Ha (BPS, 2017).

Beberapa varietas unggul kubis bunga yang dapat dibudidayakan di dataran

rendah termasuk di Aceh adalah varietas White Shot, PM 16 F1 dan Diamond 40 F1.

Varietas White Shot memiliki keunggulan produktivitas tinggi, krop berbentuk

seperti kubah berwarna kuning dengan rasa renyah agak lunak dan dapat beradaptasi

dengan baik di dataran sedang sampai tinggi. Diamond 40 F1 memiliki keunggulan

produktivitas tinggi, krop membentuk kubah berwarna putih. Cauliflower Tropica 45

Days memiliki keunggulan produktivitas tinggi, umur genjah, krop berbentuk kubah

agak bulat, berwarna putih dengan rasa lunak agak renyah serta beradaptasi dengan

baik di dataran menengah (500 m dpl) sampai tinggi (1.500 m dpl) (Marliah et al.,

2013).
iii
Pemangkasan adalah suatu usaha untuk mengurangi pertumbuhan vegetatif

suatu tanaman sehingga dapat merangsang pertumbuhan bagianbagian tertentu pada

suatu tanaman dan dapat mempercepat pertumbuhan generatif dari tanaman tersebut.

Untuk melakukan pemangkasan harus memperhatikan kondisi lingkungan (Saprudin,

2013). Pemangkasan atau pruning adalah tindakan pembuangan bagian-bagian

tanaman, seperti cabang atau ranting dengan mendapatkan bentuk tertentu sehingga

dicapai tingkat efisiensi yang tinggi didalam pemanfaatan cahaya matahari,

mempermudah pengendalian hama atau penyakit serta mempermudah pemanenan

(Zulkarnain, 2009). Pemangkasan daun yang tidak lagi bermanfaat bagi tanaman

diharapkan dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan hasil kembang kol.

Pemangkasan tersebut akan mengurangi pesaing biji dalam mendapatkan asimilat

yang dihasilkan daun (Herlina, 2017). Besarnya pengaruh pemangkasan daun

terhadap hasil panen tergantung pada banyaknya daun yang dipangkas, letak daun

pada batang dan periode pertumbuhan pada tanaman kembang kol (Satriyo, 2015).

1.2. Rumusan masalah

Rumusan masalah pada praktikum ini yaitu sebagai berikut:

1. Apakah ada pengaruh dari berbagai jenis penggunaan pupuk kandang terhadap

pertumbuhan tanaman kembang kol

2. Apakah dengan berbagai jenis penggunaan pupuk kandang dapat meningkatkan

hasil produksi

iii
1.3.Tujuan dan kegunaan

Tujuan dari praktikun ini yaitu untuk mengetahui respon pertumbuhan dan

produksi tanaman kembang kol (Brassicia oleracea L.) terhadap berbagai jenis pupuk

kandang yang di gunakan, dapat mengetahui teknik budidaya tanaman kembang kol

dengan tepat dan sebagai bahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan

dalam budidaya tanaman kembang kol.

Kegunaan dari praktikun ini yaitu untuk mengetahui respon pertumbuhan dan

produksi tanaman kembang kol (Brassicia oleracea L.) terhadap berbagai jenis pupuk

kandang yang di gunakan, dapat mengetahui teknik budidaya tanaman kembang kol

dengan tepat dan sebagai bahan informasi bagi semua pihak yang membutuhkan

dalam budidaya tanaman kembang kol.

iii
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Deskripsi Teori

2.1.1. Karakteristik Tanaman Kembang kol


Tanaman kembang kol (Brassica oleracea L.) diklasifikasikan kedalam

Kingdom : Plantae,

Division : Spermatophyta,

Kelas : Dicotyledoneae,

Ordo : Brassicales,

Family : Brassicaceae,

Genus : Brassica

Spesies : Brassica oleracea L.

Kubis bunga umumnya dikenal dengan nama bunga kol atau dalam bahasa

asing disebut cauliflower. Bagian yang dikonsumsi dari sayuran ini adalah bunganya

(curd) (Pracaya, 2012).

Menurut Sunarjono (2011) morfologi kubis adalah sebagai berikut. Kubis atau

kol sebenarnya merupakan tanaman semusim atau lebih yang berbentuk perdu.

Tanaman kubis berbentuk perdu berbatang pendek dan beruas-ruas, sebagai

bekas tempat duduk daun. Tanaman ini berakar tunggang dengan akar sampingnya

sedikit tetapi dangkal. Daunnya lebar berbentuk bulat telur dan lunak. Bunganya

tersusun dalam tandan dengan mahkota bunga berwarna kuning spesifik. Buahnya

bulat panjang menyerupai polong. Polong muda berwarna hijau, setelah tua berwarna

iii
kecokelatan dan mudah pecah. Bijinya kecil, berbentuk bulat, dan berwarna

kecokelatan. Biji yang banyak tersebut menempel pada dinding bilik tengah polong.

Bunga tanaman kubis bunga mulai tumbuh pada titik tumbuh apikal, bakal

bunga kubis bunga membentuk massa yang tumbuh membesar, sehingga membentuk

sebuah gumpalan yang kompak yang disebut dengan curd. Curd terdiri dari bakal

bunga yang belum mekar, tersusun atas lebih dari 5000 kuntum bunga dengan tangkai

pendek. Massa bunga tampak membulat padat dan tebal berwarna putih bersih atau

putih kekuning-kuningan (Jordan et al., 2010).

Faktor utama penentuan keberhasilan budidaya tanaman adalah ketersediaan

benih bermutu. Faktor berikutnya yang merupakan pendukung keberhasilan adalah

aspek pemeliharaan termasuk pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Pada

saat ini, dijumpai beberapa permasalahan dalam budidaya kubis bunga, antara lain

perbenihan, di mana banyak dijumpai polong yang kosong bahkan bunga tidak jadi

polong sehingga harga benih kubis bunga menjadi tinggi. Untuk mengatasi masalah

tersebut maka perlu dilakukan suatu perbaikan perlakuan pemupukan dalam produksi

benih (Bina K dan Agustina E.M., 2016).

2.1.2. Syarat tumbuh tanaman kembang kol

Kubis bunga merupakan tanaman sayuran yang berasal dari daerah sub tropis.

Di tempat itu kisaran temperatur untuk pertumbuhan kubis bunga yaitu minimum

15.5-18 derajat C dan maksimum 24 derajat C. Kelembaban optimum bagi tanaman

ini antara 80-90%. Dengan diciptakannya kultivar baru yang lebih tahan terhadap

temperatur tinggi, Budidaya kubis bunga juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-

200 m dpl) dan menengah (200-700 m dpl). Di dataran rendah, tanaman dari
iii
kelompok kubis bunga dapat tumbuh dengan baik pada semua jenis tanah, namun

tanah yang cocok untuk pertanaman kubis bunga adalah lempung berpasir, lempung

atau lempung berliat yang subur dengan unsur hara yang baik. Tanaman kubis bunga

toleran terhadap keadaan tanah agak asam hingga agak basah dengan pH 5,5 hingga

6,5 (Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka(Sunarti 2015).

Meningkatnya perkembangan luas daun berarti kemampuan daun untuk

menerima dan menyerap cahaya matahari akan lebih tinggi sehingga fotosintat dan

akomodasi bahan kering akan lebih tinggi pula. Pemberian berbagai dosis kompos

pada kubis bunga dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pertumbuhan

tanaman kubis bunga. Pupuk kompos yang diberikan pada dosis kompos 20 ton/ha

menghasilkan tanaman dan jumlah daun kubis bunga yang paling tinggi (Nuryadinet

al., 2016).

Tanah sebagai medium tumbuh tanaman apabila ditanam terus-menerus

mengakibatkan miskinnya unsur hara dalam tanah, sehingga perlu dilakukan 1

Dosen Program Studi Agronomi Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati 2

Mahasiswa Program Studi Agronomi Pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati

suatu tindakan pengembalian dan atau penambahan unsur hara melalui pemupukan.

Pemupukan tersebut bertujuan untuk memelihara dan memperbaiki kesuburan tanah

dengan menambahkan unsur hara ke dalam tanah, sehingga kebutuhan tanaman

terhadap hara tersebut dapat terpenuhi. Unsur hara yang diberikan lewat pemupukan

tersebut terutama unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium. Pemakaian

pupuk mineral secara berlebihan, telah menimbulkan kekhawatiran adanya

iii
penambahan tingkat polusi tanah yang akhirnya berpengaruh pada kesehatan

manusia dan kerusakan lingkungan (Jaenudin et al., 2018).

Contoh salah satu varietas kubis bunga dataran rendah yang telah di seleksi

yaitu varietas tropical early yang berumur sangat pendek karena dapat dipanen pada

umur 56 hari setelah pindah tanam. Massa bunga berwarna kuning dengan diameter

kurang lebih 13 cm, dapat beradaptasi dengan baik dan dapat ditanam di daerah

dataran rendah (Nainggolan, 2009).

Salah satu peningkatan pertumbuhan dan hasil produksi tanaman kubis bunga

yaitu dengan melakukan pemupukan yang bertujuan 153 untuk memelihara,

memperbaiki dan mempertahankan kesuburan tanah. Muhsin (2003) menyatakan

bahwa pupuk kandang ayam mempunyai potensi yang baik, karena selain berperan

dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah pupuk kandang ayam juga

mempunyai kandungan N, P, dan K yang lebih tinggi bila dibandingkan pupuk

kandang lainnya (Mustika Sari et al., 2016).

2.1.3. Peranan berbagai jenis pupuk kandang

Tanaman bunga kol memerlukan hara yang cukup selam perkembanganya,

oleh karena itu pemupukan merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya bunga

kol. Penggunaan pupuk orgaik akan berdampak pada berkurangnya biaya produksi

tanpa mengurangi volume hasil , sekaligus mengurangi pencemaran linkungan akibat

penggunaan pupuk kimiawi yang berlebihan. Dengan demikian jelas bahwa

kebutuhan akan input pupuk organik untuk mempertahankan (kalaw tidak

meningkatkan) tingkat kesuburan tanah yang ada sekarang ini merupakan kebutuhan

yang mendesak dan tidak dapat di tunda lagi. (Zulkarnain 2009).


iii
Salah satu jenis pupuk organik yang diharapkan dapat memperbaiki sifat-sifat

tanah dan hasil tanaman adalah pupuk kandang sapi. Pupuk kandang sapi merupakan

hasil fermentasi alami bahan organik yang dapat digunakan sebagai pupuk untuk

meningkatkan kesuburan tanah sehingga bisa memperbaiki pertumbuhan dan hasil

tanaman . Kualitas pupuk pupuk kandang sapi tergantung dari bahan bakunya seperti

pupuk kandang, jerami, serasah atau sisa makanan sapi dan lain sebagainya (Maria,

2014).

Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting, terdiri dari

kotoran padat dan cair dari hewan terdak yang bercampur sisa makanan, dapat

menambah unsur hara dalam tanah pemberian pupuk kandang selain dapat menambah

unsur hara dalam tanah pemberianpupuk kandang selain dapat menambah tersedianya

unsur hara, juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Beberapa sifat fisik tanah yang

dapat di pengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat, bobot volume,

total ruang pori, plastisitas dan daya pegang air (Ni Nyoman, 2011).

Pupuk organik merupakan hasil dekomposisi bahan-bahan dari sisa makhluk

hidup yang diurai (dirombak) oleh mikroba, sehingga hasil akhirnya dapat

menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Pupuk organik sangat penting artinya sebagai penyangga

sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga dapat meningkatkan efisiensi pupuk dan

produktivitas lahan (Suphartha et al., 2012).

Karakteristik dari pupuk kandang sapi adalah memiliki kandungan unsur hara

yang komplit dan relatif seimbang dibandingkan pupuk kandang lainnya. Pupuk

kandang sapi merupakan limbah sapi yang mempunyai kandungan serat tinggi,
iii
karena mengandung selulosa. Jenis pupuk kandang sapi yang digunakanadalah pupuk

kandang yang sudah siap pakai, dengan tanda-tanda tidak berbau, warnanya lebih

gelap, mudah hancur alam kondisi kering dan terasa dingin jika dipegang. Secara

kimia memiliki kandungan pH 6,85; 29,24 % C; 2,17 % N; 2,17 % P dan 1,31 % K

dengan C/N Ratio 13,47.Pupuk Organik (Kandang) merupakan strategi yang perlu

dicoba dan dikembangkan pada tanaman kubis bunga, sehingga diharapkan dapat

meningkatkan kemapuan kubis bunga dalam meyerap unsur hara N dan

meningkatkan hasil produksi kubis bunga (Amran J dan Nosa S. 2018)

Tekstur dari kotoran kambing adalah khas, karena berbentuk butiran yang agak

sukar dipecah secara fisik sehingga sangat berpengaruh terhadap proses dekomposisi

dan proses penyediaan haranya. Pupuk kandang kambing memiliki pH mendekati

netral yaitu 7,19 dan kandungan fosfor tertinggi dibanding dengan pupuk kandang

ayam dan sapi (Akhtar et al., 2013).

Penggunaan pupuk kandang di tanah memiliki potensi yang lebih besar untuk

meningkatkan pH tanah. Hal ini berarti bahwa pupuk organik bisa berfungsi sebagai

bahan dalam mengatasi tanah masam (Agbede et al., 2010).

Pupuk kandang ayam mempunyai potensi yang baik, karena selain berperan

dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dapat meningkatkan hasil tanaman dan biologi

tanah pupuk kandang ayam juga mempunyai kandungan N, P, dan K yang lebih

tinggi bila dibandingkan pupuk kandang lainnya serta pupuk kandang memang dapat

menambah tersedianya unsur hara bagi tanaman yang dapat diserap dari dalam tanah.

dan peningkatan hasil tanaman (Anshar pasigai, 2016).

iii
Peranan kotoran kambing tidak jauh berbeda dengan peranan pupuk kandang.

Kotoran kambing memiliki keunggulan dalam hal kandungan hara. Kotoran

kambing mengandung 1,26% N, P2O5 0,66%, K2O 1,97%, Ca 1,64%, Mg 0,60%

dan 4,8% Corganik. Bila dibandingkan dengan pupuk anorganik majemuk, jumlah

unsur hara yang terdapat pada kotoran kambing lebih sedikit tetapi, kambing

mempunyai kandungan hara yang cukup lengkap (Rahayu et al., 2014).

Pupuk kandang sapi merupakan pupuk padat yang mengandung air dan lendir.

Pupuk kandang selain dapat menambah ketersediaan unsur-unsur hara bagi tanaman,

dapat mengembangkan kehidupan mikroogranisme didalam tanah. Mikroorganisme

berperan merubah seresah dan sisa-sisa tanaman menjadi humus yang melalui proses

dekomposisi senyawa-senyawa tertentu disentesa menjadi bahan-bahan yang

berguna bagi tanaman. Pupuk kandang sapi memiliki keunggulan dibanding pupuk

kandang lainnya yaitu mempunyai kadar serat yang tinggi seperti selulosa,

menyediakan unsur hara makro dan mikro bagi tanaman serta memperbaiki daya

serap air pada tanah (Mintarjo, 2018).

Tanaman yang diberi pupuk kandang ayam pertumbuhannya lebih tinggi dan

memiliki daun yang lebih banyak dibanding tanaman yang diberi pupuk kandang

sapi maupun pupuk kandang kambing. Hal ini disebabkan pupuk kandang ayam

lebih tinggi kandungan unsur nitrogennya dibanding pupuk kandang sapi dan pupuk

kandang kambing. kandungan unsur hara dalam kotoran ayam adalah paling tinggi,

karena bagian urinnya tercampur dengan feses. Kotoran ayam mengandung nitrogen

3 kali lebih besar dari kotoran hewan yang lain. Pupuk kandang berasal dari kotoran

hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pengaruh jasad renik. Tanda-
iii
tanda pupuk kandang yang matang adalah tidak berbau tajam (bau amoniak),

berwarna coklat tua, tampak kering, tidak terasa panas bila dipegang dan gembur

bila diremas (Utami, 2013).

Aplikasi pupuk kandang ke dalam tanah akan menjamin kondisi tanah yang

sehat. Tanah yang sehat merupakan prakondisi bagi kesehatan tanaman, dimana

kesehatan tanaman dipengaruhi langsung oleh penyerapan senyawa organik tertentu

yang dibentuk ketika organisme tanah memineralisasi bahan organik dan pengaruh

secara tidak langsung ketika suatu organisme tanah menekan perkembangan

organisme lain yang bisa mengganggu pertumbuhan tanaman, sehingga dapat

mengoptimalkan ketersediaan unsur hara dan menyeimbangkan arus unsur hara ( sri,

2014).

Pemanfaatan bahan organik adalah salah satu teknik penerapan pertanian

organik. Dalam penelitian ini bahan organik yang akan digunakan adalah limbah

ternak berupa pupuk kandang (pukan). Pukan adalah pupuk yang berasal dari

kotoran-kotoran hewan yang tercampur dengan sisa makanan dan urine yang

didalamnya mengandung unsur hara N, P, dan K yang dapat digunakan untuk

memperbaiki kesuburan tanah. pemberian pukan akan memperbaiki struktur tanah,

meningkatkan kapasitas menahan air, dan meningkatkan kehidupan biologi tanah

(Hidayat, 2010)

Menurut Tim Penulis PS (2009:46), sekam bakar adalah media tanam yang

porous dan steril dari sekam padi yang hanya dapat dipakai untuk satu musim tanam

dengan cara membakar kulit padi kering di atas tungku pembakaran, dan

iii
sebelumbara sekam menjadi abu disiram dengan air bersih. Hasil yang diperoleh

berupa arang sekam (sekam bakar).

Keunggulan sekam bakar adalah dapat memperbaikisifat fisik dan kimia tanah,

serta melindungi tanaman. Sekam bakar yang digunakan adalah hasil pembakaran

sekam padi yang tidak sempurna, sehingga diperoleh sekam bakar yang berwarna

hitam, dan bukan abu sekam yang bewarna putih. Menambahkan sekam padi

memiliki aerasi dan drainasi yang baik, tetapi masih mengandung organisme-

organisme pathogen atau organisme yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman.

Oleh sebab itu sebelum menggunakan sekam sebagai media tanam, maka untuk

menghancurkan patogen sekam tersebut dibakar terlebih dahulu (Gustina, 2013).

2.1.4. Mulsa organik


Mulsa adalah bahan penutup tanah disekitar tanaman untuk menciptakan

kondisi yang lebih menguntungkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan

peningkatan hasil tanaman(Cahyo, 2017).

Mulsa adalah bahan yang digunakan untuk menutupi permukaan tanah dalam

meningkatkan produksi dengan tujuan untuk mengurangi penguapan, mencegah

tembusnya gulma berlebihan, menghindari terjadinya erosi tanah akibat air hujan

(Mansyur, 2011).

Mulsa adalah bahan yang di pakai pada permukaan tanah dan berfungsi untuk

menghindari kehilangan air melalui penguapan dan menekan pertumbuhan gulma,

salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai mulsa adalah jerami. Fungsi mulsa

jerami adalah untuk menekan pertumbuhan gulma, mempertahankan agregat tanah

iii
dari hantaman air hujan memperkecil erosi permukaan tanah, mencegah penguapan

air dan melindungi tanah dari terpaan sinar matahari, juga dapat membantu

memperbaiki sifat fisik tanah terutama struktur tanah sehingga memperbaiki stabilitas

agregat tanah (Ida, 2010).

Secara fisik, mulsa mampu menjaga suhu tanah lebih stabil dan mampu

mempertahankan kelembaban di sekitar perakaran tanaman. Penggunaan mulsa akan

mempengaruhi suhu tanah dan mencegah radiasi langsung matahari (Doring et al.,

2015). Menurut Rosniawaty dan Handayani (2014) suhu tanah maksimum dibawah

mulsa jerami pada kedalaman 5 cm, 10 ℃ lebih rendah daripada tanpa mulsa,

sedangkan suhu minimum 2℃lebih tinggi.

Pada saat memasuki fase generatif, keadaan tanah yang menggunakan mulsa

menjadi lembab dan suhunya lebih rendah jika dibandingkan dengan tanpa mulsa.

Lembabnya tanah dan suhu yang rendah menyebabkan kondisi tanah dengan

perlakuan mulsa lebih baik terhadap hasil kembang kol. Menurut Mahmoodet al.,

(2010) penurunan suhu tanah oleh mulsa disebabkan karena penggunaan mulsa

dapat mengurangi radiasi yang diterima dan diserap oleh tanah sehingga dapat

menurunkan suhu tanah pada siang hari. Selain itu, pemberian pupuk susulan yang

terakhir diduga lebih efisien diserap oleh tanaman kembang kol dengan menggunakan

mulsa karena keadaan tanah yang lembab serta aerasi yang baik dapat

memaksimalkan unsur hara yang diserap oleh tanaman. Hal inilah yang menyebabkan

tanaman kembang kol dengan perlakuan mulsa lebih baik hasilnya dibandingkan

tanpa mulsa.

iii
Mulsa Organik meliputi semua bahan sisa pertanian yang secara ekonomis

kurang bermanfaat seperti jerami padi, batang jagung, batang kacang tanah, daun dan

pelepah daun pisang, daun tebu, alang-alang, daun kirinyu dan serbuk gergaji.

Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, energi air hujan akan ditahan

oleh bahan mulsa tersebut sehingga agregat tanah tetap stabil dan terhindar dari

proses penghancuran dan erosi. Penggunaan mulsa juga akan menjaga kondisi iklim

mikro tanah sepertisuhu dan kelembaban tanah sehingga tanah tidak cepat kering dan

tidak mudah retak (Jajang, 2009).

Mulsa organik yang mempunyai manfaat seperti alang-alang Kenikir maupun

Kirinyu. Kenikir (Tagetes erectabe) dan Kirinyu (Chromolaena odorata) seringkali

dianggap sebagai gulma karena kemampuannya untuk berkembang biak yang tinggi,

namun mengandung nitrogen yang tinggi sehingga memiliki potensi untuk

dimanfaatkan sebagai mulsa (Mulyono, 2015).

2.2. Kerangka Pikir

Rendahnya produksi tanaman kembang kol di Indonesia khususnya di daerah

Provinsi Sulawesi Tenggara disebabkan masih kurang tepatnya teknik budidaya yang

digunakan dan tanah sebagai media tanam yaitu tanah marginal yang mempunyai

banyak masalah. Secara alami, kesuburan tanah pada tanah marginal rendah. Hal ini

ditunjukkan oleh reaksi tanah yang masam, kandungan unsur hara rendah, basa-basa

dapat ditukar dan kejenuhan basa rendah, sedangkan kejenuhan aluminium tinggi

(Suharta, 2010).

iii
Pengembangan pertanian dituntut untuk terus melakukan inovasi teknologi

tidak hanya meningkatkan kuantitas tetapi juga kualitas produk pertanian.

Peningkatan kuantitas dan kualitas produk pertanian ditentukan dari kecukupan

nutrisi yang dibutuhkan tanaman. Upaya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman

dapat dilakukan melalui teknologi pemupukan. Pemupukan merupakan kegiatan

menambahkan unsur hara ke dalam tanah atau bagian tanaman. Pemupukan yang

berimbang dapat memberikan nutrisi yang tepat sehingga baik bagi pertumbuhan dan

perkembangan tanaman.

Media tanam yang baik harus memiliki persyaratan-persyaratan sebagai

tempat berpijak tanaman, memiliki kemampuan mengikat air dan menyuplai unsur

hara yang dibutuhkan tanaman, mampu mengontrol kelebihan air (drainase) serta

memiliki sirkulasi dan ketersediaan udara (aerasi) yang baik, dapat mempertahankan

kelembaban di sekitar akar tanaman dan tidak mudah lapuk atau rapuh (Prayugo,

2007). Bagan alur kerangka pikir dari penelitian ini disajikan pada (Gambar 2.1)

iii
Kembang kol
(Brassica oleracea L.)

Media tanam Tanah

- Kemampuan mengikat air - Kesuburan tanah rendah


dan menyuplai unsur hara - Ketersediaan hara rendah
- Mempertahankan - Bahan organik rendah
kelembaban di sekitar akar
tanaman

Upaya untuk memenuhi kebutuhan


nutrisi tanaman dapat dilakukan
melalui teknologi pemupukan.
Pemupukan merupakan kegiatan
menambahkan unsur hara ke dalam
tanah atau bagian tanaman.

Gambar 2.1

iii
2.3. Hipotesis

1. Terdapat pengaruh dari berbagai jenis penggunaan pupuk kandang terhadap

pertumbuhan tanaman kembang kol

2. Terdapat dugaan pengaruh dari berbagai jenis penggunaan pupuk kandang

dapat meningkatkan hasil produksi

iii
BAB III. METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas

Halu Oleo dari Bulan September-November 2019.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yanag digunakan dalam penelitian ini adalah benih kembang kol,

arang sekam, ampas sagu, kotoran ayam, kotoran sapi, map plastik, polybag 30 cm x

40 cm, kertas label, plastik sampel,dan terpal.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu parang, cangkul, skopang,

gembor, meteran kain,timbangan, gunting, spidol, mistar, kamera dan alat tulis

menulis.

3.3. Prosedur Penelitian

Prosedur pada penelitian ini yaitu:

3.3.1. Persiapan Lahan

Lahan yang digunakan sebagai media tanam adalah lahan yang terletak di

Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Halu Oleo. Terlebih dahulu dilakukan

pembersihan lahan yang akan digunakan dari gulma dan sisa tanaman.Setelah bersih,

dilakukan pemerataan tanah menggunakan pacul sebagai tempat diletakkannya

polybag, agar seimbang dan tidak goyang.

iii
3.3.2. Persiapan Media Tanam dan pengisiam ke dalam polybag

Media tanam yang digunakan yaitu tanah, arang sekam, ampas sagu, kotoran

ayam dan kotoran sapi. Tanah diperoleh di laboratorium lapangan II, tanah yang

digunakan yaitu tanah top soil. Arang sekam dan sekam padi diperoleh di daerah

Laboratorium lapangan II. Media tanam ini dicampur sesuai dengan perlakuan

dengan perbandingan 3:1:1 (tanah/arang sekam/pupuk kandang). Perbandingan ini

diukur dalam satuan karung. Pencampuran media tanam sesuai perlakuan dilakukan

secara merata dengan menggunakan tangan. Setelah tercampur merata, media tanam

dimasukkan ke dalam polybag ukuran 30 cm x 40 cm. Polybag yang sudah diisi

media tanam diletakkan sesuai sesuai dengan denah percobaan pada lampiran 1.

3.3.3. Penanaman

Benih kembang kol(Brassica oleracea L.) yang diperoleh dari toko tani,

sebelum dilakukan penanaman terlebih dahulu dilakukan persemaian. Persemaian

dilakukan di talang dan ditunggu sampai biji-biji tadi tumbuh dengan baik. Masing-

masing pot diisi dengan tanah yang hampir sama banyaknya. Tanaman kembang kol

dari tempat persemaian yang sudah tumbuh dengan baik dan mempunyai ketinggian

yang hampir sama dengan jumlah daun yang sama (4 helai – 6 helai) dipindahkan ke

dalam pot-pot penelitian yang sudah disiapkan. Sebelum tanaman diberi perlakuan,

disiram dahulu dengan air secukupnya sampai tumbuh baik dan selanjutnya

diperlakukan sesuai dengan ketentuan.

3.3.4. Penyulaman

Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh atau

mati. Penyulaman dilakukan 7 hari setelah pindah tanam (HSPT).


iii
3.3.5. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman dalam penelitian ini meliputi penyiraman,

penyiangan gulma, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit.Penyiraman

dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari, jika tidak terjadi hujan. Penyiangan

dilakukan setiap saat ketika terdapat gulma di dalam polybag, agar tidak terjadi

kompetisi antara gulma dengan tanaman budidaya. Pengendalian hama dilakukan

secara fisik dengan cara mematikan hama secara langsung yang ditemukan pada

tanaman budidaya.

3.4. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor. Faktornya yaitu media tanam yang

terdiri atas 5 taraf yaitu tanah (control/K0), tanah + Ampas sagu + arang sekam (K1),

tanah + Arang sekam + pupuk kandang sapi(K2),tanah + ampas sagu + pupuk

kandang sapi (K3) dan tanah + ampas sagu + pupuk kandang ayam (K4). Secara

keseluruhan perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 15 unit

percobaan. Setiap unit percobaan terdapat 6 polybag. Setiap polybag terdapat satu

tanaman kembang kol, sehingga diperolehtotal keseluruhan adalah 90

tanamankembang kol.

3.5. Variabel Penelitian

Variabel pengamatan pada penelitian ini yaitu:

iii
3.5.1. Variabel pengamatan komponen pertumbuhan pada tanamankembang kol yang

diukur pada saat tanaman berumur 14 HST, 28 HST, dan 42 HST dan jumlah
-1
sampel yang diambil petak yaitu 3 sampel serta pengambilan sampelnya

dilakukan secara acak.

a) Jumlah daun (helai), pengamatan jumlah daun dilakukan dengan cara

menghitung jumlah daun yang sudah terbuka sempurna (Khair etal., 2013).

b) Luas daun (cm), pada sampel daun dilakukan pengukuran satu daun.

Pengukuran luas daun dilakukan dengan cara mengukur panjang daun

tanaman kembang kol kemudian dikalikan dengan lebar daun atau dengan

persamaan LD = P x L; P = Panjang daun (cm) L = Lebar daun (cm).

3.6. Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis variansi atau sidik

ragam (ANOVA), jika perlakuan menunjukan pengaruh signifikan pada taraf p < 0,05

maka dilanjutkan mendeteksi perbedaan antara perlakuan menggunakan uji BNT

pada taraf p < 0,05. Semua data diproses menggunakan bantuan microsft EXCEL

2010.

iii
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil penelitian

4.1.1. Tinggi Tanaman Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST

15.00 25.00 22.5021.14


11.2210.44 19.7819.76 K0
9.87 9.85 K0 20.00 16.90
10.00 8.32 K1
K1 15.00
10.00 K2
5.00 K2
5.00 K3
0.00 K3 0.00
K4
K0 K1 K2 K3 K4 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 1. Tinggi Tanaman 14 HSTGrafik 2. Tinggi Tanaman 21 HST

34.00 32.76
K0
32.00 30.5830.93 30.53 K1
30.00 29.41
K2
28.00 K3
26.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 3. Tinggi Tanaman 28 HST

Berdasarkan grafik pertambahan tinggi tanaman pada tanaman kembang kol

umur 14 HST, 21 HSt dan 28 HST, semua perlakuan menunjukkan pertumbuhan

yang signifikan mulai dari 14 HST sampai 28 HST. Pada grafik 1. tinggi tanaman 14

HST rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan K2 dengan rata-rata

11,22 dan rata-rata tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan K4 dengan rata-

rata 8,32. Pada grafik 2. tinggi tanaman 21 HST rata-rata tinggi tanaman tertinggi

terdapat pada perlakuan K2 dengan rata-rata 22.50 dan rata-rata tinggi tanaman

terendah terdapat pada perlakuan K4 yaitu 16.90. Pada grafik 3. tinggi tanaman 28

iii
HST, rata-rata tinggi tanaman tertinggi terdapat pada perlakuan K3 dengan rata-rata

32.76 dan rata-rata tinggi tanaman terendah terdapat pada perlakuan K0 yaitu 29,41.

4.1.2. Jumlah Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST

6.00 8.00 7.45


4.77 6.45 6.56
5.00 KO 6.00 5.99 K0
3.89 3.78 4.00 3.77 6.00
4.00 K1 K1
3.00 4.00
K2 K2
2.00
K3 2.00 K3
1.00
0.00 K4 0.00 K4
KO K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Grafik4. Jumlah Daun 14 HST.Grafik 5. Jumlah Daun 21 HST

15.00
10.67 11.33 11.78 K0
9.78 10.23
10.00 K1
K2
5.00
K3
0.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 6. Jumlah Daun 28 HST

Berdasarkan grafik pertambahan jumlah daun pada tanaman kembang kol

umur 14 HST, 21 HSt dan 28 HST, semua perlakuan menunjukkan pertumbuhan

yang signifikan mulai dari 14 HST sampai 28 HST. Pada grafik 4. jumlah daun di

umur 14 HST rata-rata jumlah daun tertinggi terdapat pada perlakuan K2 dengan rata-

rata 4,77 dan rata-rata junlah daun terendah terdapat pada perlakuan K4 dengan rata-

rata 3,77. Pada grafik 2. Jumlah daun 21 HST rata-rata jumlah daun tertinggi terdapat

pada perlakuan K2 dengan rata-rata 7.45 dan rata-rata jumlah daun terendah terdapat

pada perlakuan K4 yaitu 5,99. Pada grafik 3. Jumlah daun 28 HST, rata-rata jumlah

iii
daun tertinggi terdapat pada perlakuan K3 dengan rata-rata 11,78 dan rata-rata jumlah

daun terendah terdapat pada perlakuan K1 yaitu 9,78.

4.1.3. Panjang Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST

5.00 4.73 10.00 9.50


3.95 4.18 7.97 8.41
3.65 3.45 K0 8.00 7.38 6.93 K0
4.00
3.00 K1 6.00 K1

2.00 K2 4.00 K2
1.00 K3 2.00 K3
0.00 K4 0.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 7. Panjang Daun 14 HST Grafik 8. Panjang Daun 21 HST

20.00
15.79 15.52 16.37
13.14 K0
15.00 12.88
K1
10.00
K2
5.00 K3

0.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 9. Panjang Daun 28 HST

Berdasarkan grafik pertambahan panjang daun pada tanaman kembang kol

umur 14 HST, 21 HSt dan 28 HST, semua perlakuan menunjukkan pertumbuhan

yang signifikan mulai dari 14 HST sampai 28 HST. Pada grafik 7. Panjang daun di

umur 14 HST rata-rata panjang daun tertinggi terdapat pada perlakuan K2 dengan

rata-rata 4,73 dan rata-rata panjang daun terendah terdapat pada perlakuan K4 dengan

rata-rata 3,45. Pada grafik 8. panjang daun 21 HST rata-rata panjang daun tertinggi

terdapat pada perlakuan K2 dengan rata-rata 9,50 dan rata-rata panjang daun terendah

terdapat pada perlakuan K4 yaitu 6,93. Pada grafik 9. Panjang daun 28 HST, rata-rata

iii
panjang daun tertinggi terdapat pada perlakuan K3 dengan rata-rata 16,73 dan rata-

rata panjang daun terendah terdapat pada perlakuan K0 yaitu 12,88.

4.1.4. Lebar Daun Pengamatan 14 HST, 21 HST dan 28 HST

4.00 8.00
3.13 K0 6.30 K0
2.79 5.49 5.61
3.00 2.672.43 6.00 4.89 4.41
2.12 K1 K1
2.00 4.00
K2 K2
1.00 2.00
K3 K3
0.00 0.00
K4 K4
K0 K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 10. Lebar daun 14 HST Grafik 11. Lebar Daun 21 HST
12.00
9.54 9.65 10.16
10.00 8.08 8.62 K0
8.00 K1
6.00
K2
4.00
K3
2.00
0.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 12. Lebar Daun 28 HST

Berdasarkan grafik pertambahan lebar daun pada tanaman kembang kol umur

14 HST, 21 HSt dan 28 HST, semua perlakuan menunjukkan pertumbuhan yang

signifikan mulai dari 14 HST sampai 28 HST. Pada grafik 10. lebar daun di umur 14

HST rata-rata lebar daun tertinggi terdapat pada perlakuan K2 dengan rata-rata 3,13

dan rata-rata lebar daun terendah terdapat pada perlakuan K4 dengan rata-rata 2,12.

Pada grafik 11. lebar daun 21 HST rata-rata lebar daun tertinggi terdapat pada

perlakuan K2 dengan rata-rata 6,30 dan rata-rata lebar daun terendah terdapat pada

perlakuan K4 yaitu 4,41. Pada grafik 12. lebar daun 28 HST, rata-rata lebar daun

iii
tertinggi terdapat pada perlakuan K3 dengan rata-rata 10,16 dan rata-rata jumlah daun

terendah terdapat pada perlakuan K0 yaitu 8,08.

4.1.5. Berat Basah dan Berat Kering Pengamatan

80.00 5.00 4.54


4.09 3.85
57.78 K0 K0
60.00 4.00
47.89 3.00
41.67 K1 3.00 2.48 K1
40.00 32.98
K2 2.00 K2
20.00 13.96 1.00
K3 K3
0.00 K4 0.00 K4
K0 K1 K2 K3 K4 K0 K1 K2 K3 K4

Grafik 13. Berat Basah Grafik 14. Berat Kering

Berdasarkan grafik pertambahan berat basah pada daun tanaman kembang kol

kelompok 1, 2 dan 3. Pada grafik 13. berat basah pada daun tanaman kembang kol

rata-rata tertinggi terdapat pada perlakuan K4 dengan rata-rata 57,78 dan rata-rata

berat basah terendah terdapat pada perlakuan K0 13,96. Pada grafik 14. berat kering

pada daun tanaman kembang kol, rata-rata berat kering tertinggi terdapat pada

perlakuan K1 yaitu 4,54 dan rata-rata terendah terdapat pada perlakuan K2 yaitu 2,48.

iii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa;
1. Variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun dan lebar
daun pada umur 14 HST perlakuan K4 memiliki rata-rata tertinggi pada
semua variabel pengamatan.
2. Variabel pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun dan lebar
daun pada umur 28 HST perlakuan K3 memiliki rata-rata tertinggi pada
semua variabel pengamatan.
3. Rata-rata tertinggi pada pengamatan berat basah terdapat pada perlakuan K4
sedangkan pada berat kering terdapat pada perlakuan K1

5.2. Saran
Disarankan untuk menggunakan insektisida agar dapat mengurangi hama dan
penyakit yang menyerang pada budidaya tanaman kembang kol.

iii
DAFTAR PUSTAKA

Agbede, Adekiya. A. O and T. M. 2011. Growth and Yield of Tomato (Agbede


Lycopersicum esculentum) as Influence by Poultry Manure and NPK Fertilizer.
J. Food Agric. 21 (1) : 10-20.

Akhtar S, Shakeel S, Mehmood A, Hamid A dan Saif S. 2013. Comparative Analysis


of Animal Manure for Soil Conditioning. Int. J. Agron. Plant Prod. 4(12):
3360-3365.

Amran jaenudin1dan nosa sugesa. 2018. Pengaruh pupuk kandang dan cendawan
mikoriza arbuskular terhadap pertumbuhan, serapan n dan hasil tanaman
kubis bunga (brassica oleracea var. Botrytis l.), jurnal agroswagati 6 (1).

Anshar pasigai, kurnia mustika sar, imam wahyudi. 2016. Pengaruh pupuk kandang
ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga (brassica
oleracea var. Bathytis l.) Pada oxic dystrudepts lembantongoa, e-j. Agrotekbis
4 (2) :151-159.

Arsanti IW, Sayekti AL dan Kiloes AM. 2017. Analisis Rantai Nilai Komoditas
Kubis (Brassica oleracea L): Studi Kasus di Sentra Produksi Kabupaten
Karo. J. Hort. 27(2) : 269-278.

Bina Karo dan Agustina Erlinda Marpaung. 2016. Improving Cauliflower Seed
Production and Quality Through The Use of Boron Fertilizer and Plastic
Transparent Shade), jurnal Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Hal 194-195.

Cahyo Utomo MD, Agus Suryanto dan Medha Baskara. 2017. Penggunaan Berbagai
Jenis Mulsa Untuk Meningkatkan Produksi Brokoli (Brassica oleracea L.)
Jurnal Produksi Tanaman, 5(1): 100 – 107.

Doring T dkk. 2015. Aspect of straw mulching inorganic potatoes-I, effects on


microclimate, Phytophtora infestans, and Rhizoctonia solani. Nachrichtenbl.
Deut. Pflanzenschutzd. 58 (3):73-78

Helfi Gustina 2013.Pengaruh Penambahan Sekam Bakar Pada Media Tanam


Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Sawi (Brassica JunceaL.).
1(1), ISSN 2338-7793

Hidayat P dan Darwin P. 2010. Pengaruh Dosis Kompos Pupuk Kandang Sapi
Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Buah Tomat Seminar Nasional Sains
dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung ISBN : 978-979-1165-74-7 VII-
11

iii
Ida Ayu Mayun, 2010 Efek Mulsa Jerami Padi dan Pupuk Kandang Sapi terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah di Daerah Pesisir. Agritrop, 26 (1) :
33 - 40 ISSN : 0215-8620.

Jaenudin A dan Sugesa N. 2018. Pengaruh Pupuk Kandang dan Cendawan Mikoriza
Arbuskular Terhadap Pertumbuhan, Serapan N dan Hasil Tanaman Kubis
Bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.). Jurnal Agroswagati. Vol 6 (1).

Jajang S.H. 2009. Pengaruh Jenis Mulsa Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga
Kultivar Kentang (Solanum tuberosum L.) yang Ditanam di Dateran Medium.
Jurnal Agronomi Indonesia, 37(1):14-20.

Jordan BR, Anthony dan P. E. James. 2010. Control of Floral Morphogenesis in


Cauliflower (Brassica oleraceae L. var. botrytis) the Role of Homeotic Genes
pp. 17-30. Cambridge Books Online. Cambridge University Press. Inggris.

Mahmood MM, Farooq K, Hussain A dan Sher R. 2010. Effect of Mulching on


Growth and Yield of Potato Crop. Asian J. of Plant Sci, 2(1):132-133.

Mansyur, Nur Indah. 2011. Pola Pemupukan dan Pemulsaan pada Budidaya Sawi
Etnik Toraja di Pulau Tarakan. Prosiding Seminar Nasional Budidaya
Pertanian Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian. Fakultas Pertanian
Universitas Borneo Tarakan. Bengkulu.

Maria Eka P. Pengaruh Pupuk Npk Mutiara Dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Cabai Merah Keriting Varietas Arimbi
(Capsicum annuum L.) Jurnal AGRIFOR Volume XIII(2), ISSN : 1412 –
6885.
Mintarjo, Pratiwi SH dan Arifin AZ. 2018. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Sapi
dengan Berbagai Takaran terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis
(Brassica oleraceae L.). Jurnal Agroteknologi Merdeka Pasuruan. 2(1): 28-33.

Mulyono, 2015. Pengaruh Penggunaan Mulsa Alang-Alang, Kenikir dan Kirinyu


terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah Di Tanah Mediteran pada
Musim Penghujan. Planta Tropika Journal of Agro Science, 3(2): 1-5.

Mustika SK, Pasigai, Wahyudi I. 2016. Pengaruh Pupuk Kandang Ayam Terhadap
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kubis Bunga (Brassica oleracea Var.
Bathytis L.) Pada Oxic Dystrudepts Lembantongoa. Jurnal Agrotekbis.4
(2):151-159.

Nainggolan P. 2009. Budidaya Tanaman Kubis Bunga. Badan Penelitian dan


Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian Sumatera Utara.

iii
Ni Nyoman AM. 2011. Pengaruh Jenis Pupuk Kandang dan Jarak Tanam terhadap
Pertumbuhan Gulma dan Hasil Jagung Manis. Agritrop, 26 (4) : 153 – 159.

Nuryadin I , Nugraha RD , dan Sumekar Y. 2016. Pertumbuhan dan Hasil Kubis


Bunga (Brassica Oleracea Var. Botrytis L.) Kultivar Bareta 50 Terhadap
Kombinasi Pupuk Anorganik dan Pupuk Organik. Jurnal Ilmu Pertanian dan
Peternakan. 4 (2).

Pracaya. 2012. Bertanam Sayur Organik di Kebun, Pot dan Polibag. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Prayugo, S. 2007. Media Tanam untuk Tanaman Hias. Jakarta.Penebar Swadaya.

Rahayu TB, Bistok HS dan Suprihati. 2014. Pemberian Kotoran Kambing terhadap
Pertumbuhan dan Hasil wortel (Daucus carota) dan Bawang Daun (Allium
fistulosum L.) dengan Budidaya Tumpang Sari.

Rosniawaty S dan Hamdani JS. 2014. Pengaruh Asal Umbi Bibit dan Ketebalan
Mulsa Jerami terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang (Solanum tuberosum
L) di dataran medium. Kultivasi 2(3): 45-51.

Sahetapy M, Pongoh J dan Tilaar W. 2017. Analisis Pengaruh Beberapa Dosis Pupuk
Bokashi Kotoran Ayam terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tiga Varietas
Tomat (Solanum lycopersicum L.) di Desa Airmadidi. Jurnal Agri-
SosioEjonomi Unsrat. ISSN 1907-4298. 13(2)

Sri Mursiani Arifah, 2014. Aplikasi Macam Dan Dosis Pupuk Kandang Pada
Tanaman Kentang. Jurnal gamma, ISSN 2086-3071

Suahartha IG, Bijaya dan GM Adyana. 2012. Aplikasi pupuk organik dansistem
pertanian organik padi. Jurnal Agrotropika, 1 (2).

Suharta N. 2010. Karakteristik Dan Permasalahan Tanah Marginal Dari Batuan


Sedimen Masam Di Kalimantan. Jurnal Litbang Pertanian. 29(4): 139-146.

Sunarjono HH. 2011. Bertanam 30 jenis sayur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sunarti. 2015. Pengamatan Hama Dan Penyakit Penting Tanaman Kubis Bunga
(Brassica oleracea var. botritys L.) Dataran Rendah. Jurnal Agroqua.13 (2).

Tim Penulis PS. 2009. Budidaya Tomat Secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.

Utami RD, Widodo dan Suketi K. 2013. Respon Pertumbuhan Bibit Pepaya pada
Delapan Jenis Komposisi Media Tanam. Prosiding Seminar Ilmiah Perhorti
(2013).

iii
Zulkarnain, H, Dr, Prof . 2009. Dasar-dasar Hortikultura. PT Bumi A ksara. Jakarta.

iii