Anda di halaman 1dari 4

ANALISIS KONTAMINASI

DALAM PENGGUNAAN BAHASA SEHARI-HARI

A. Pendahuluan
Bahasa merupakan alat komunikasi utama. Bahasa merupakan satu wujud yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia, sehingga dapat dikatakan bahwa bahasa itu adalah
milik manusia. Dalam melakukan tindak bahasa yakni komunikasi diperlukan adanya
keterlibatan kedua belah pihak, yakni pihak komunikator dan pihak komunikan. Dalam
komunikasi lisan masing–masing adalah pembicara dan pendengar, sedangkan dalam
komunikasi tulis adalah penulis dan pembaca. Komunikasi terjalin lancar, apabila lawan tutur
paham atau mengerti yang dimaksudkan oleh petutur.
Dalam komunikasi bahasa terdapat sistem yang disebut sistem bahasa. Sistem bahasa
merupakan keseluruhan aturan atau pedoman yang ditaati oleh para pemakai suatu bahasa.
Agar bahasa yang terjalin baik antara pihak komunikator dan pihak komunikan, maka perlu
adanya pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa pada dasarnya adalah proses
mempelajari bahasa. Dalam mempelajari bahasa tentu tidak luput dari kesalahan.
Kesalahan berbahasa itu mengganggu pencapaian tujuan pengajaran bahasa. Oleh sebab
itu, kesalahan berbahasa yang sering dilakukan harus dikurangi dan bahkan dihapuskan.
Kesalahan berbahasa merupakan suatu proses yang didasarkan pada analisis kesalahan
seseorang yang sedang mempelajari sesuatu, misalnya mempelajari bahasa. Kesalahan itu
biasanya ditentukan berdasarkan kaidah atau aturan yang berlaku dalam bahasa yang
sedang dipelajari. Jika kata atau kalimat yang digunakan seseorang atau pembelajar tidak
sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka pembelajar bahasa dikatakan membuat
kesalahan.
Kesalahan berbahasa itu bisa terjadi disebabkan oleh kemampuan pemahaman orang atau
pembelajar bahasa. Artinya, seseorang atau pembelajar memang belum memahami sistem
bahasa yang digunakan. Kesalahan biasanya terjadi secara sistematis. Kesalahan jenis ini
dapat berlangsung lama bila tidak diperbaiki. Jadi, kesalahan berbahasa merupakan bentuk
penyimpangan wujud bahasa dari sistem atau kebiasaan berbahasa umumnya pada suatu
bahasa sehingga menghambat kelancaran komunikasi berbahasa.
Kesalahan bahasa juga dapat terjadi karena adanya gejala bahasa. Gejala bahasa ialah
peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam
proses pembentukannya. Gejala bahasa dalam bahasa Indonesia, salah satunya adalah
gejala kontaminasi.
Istilah kontaminasi dipungut dari bahasa inggris contamination (pencemaran). Dalam ilmu
bahasa, kata itu diterjemahkan dengan 'kerancuan'. Rancu artinya 'kacau' dan kerancuan
artinya 'kekacauan'. Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat,
seperti morfem dan kata. Morfem-morfem yang salah disusun menimbulkan kata yang salah
bentuk. Kata yang salah disusun menimbulkan frase yang kacau atau kalimat yang kacau.
Kontaminasi terjadi karena salah nalar, penggabungan dua hal yang berbeda sehingga
menjadi suatu hal yang tumpang tindih,
Sepintas lalu susunan itu tampak seperti susunan yang betul, tetapi bila diteliti secara lebih
seksama, akan ternyata bahwa bentukan atau susunan itu salah ( DR. J.S. Badudu, 1981 ).
Seperti, bentuk kata menundukkan kepala dengan membungkukkan badan karena terjadi
kekacauan maka terbentuklah menundukkan badan atau membungkukkan kepala. Peristiwa
semacam mi sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu makna yang sebenarnya,
namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan dalam konteks tersebut.
Gejala kontaminasi timbul karena dua kemungkinan, yaitu orang kurang menguasai
penggunaan bahasa yang tepat, baik dalam menyusun kalimat, frase atau dalam
mempergunakan beberap imbuhan sekaligus untuk membentuk kata. Dan kontaminasi
terjadi tak dengan sengaja karena ketika seseorang akan menuliskan atau mngucapkan
sesuatu, dua pengertian atau dua bentukan yang sejajar timbul sekaligus dalam pikirannya
sehingga yang dilahirkannya itu sebagian diambilnya dari yang pertama, tetapi bagian yang
lain diambilnya dari yang kedua. Gabungan ini melahirkan susunan yang kacau ( DR. J.S.
Badudu, 1981 ).
Penyebab kontaminsi yang sering terjadi yaitu dikarenakan kerancuan susunan kata baik
dalam frase atau kalimat disebabkan oleh kesalahan orang memadu dua unsur yang
berpasangan. Misalkanlah bahwa unsur A selalu berpasangan dengan unsur B dan unsur C
dengan unsur D. Pasangan A dan B serta C dan D selalu merupakan pasangan yang tepat.
Tetapi, bila pasangan itu bertukar, misalnya A dengan D dan C dengan B, maka pasangan
itu dikatakan menjadi rancu.
Terjadinya kontaminasi bahasa dapat digolongkan ke dalam kontaminasi bentuk kalimat,
kontaminasi bentuk frase dan kontaminasi bentuk kata. Kontaminasi bentuk kalimat
misalnya terjadi pada kalimat Murid-murid dilarang tidak boleh merokok (kontaminasi).
Kalimat di tersebut terasa rancu. Hal ini dikarenakan ada dua kalimat larangan yang
digunakan sekaligus dalam satu kalimat yang sebetulnya dapat berdiri sendiri-sendiri.
Kalimat tersebut yang betul susunan kalimatnya ,yakni Murid-murid dilarang merokok
(benar) dan Murid-murid tidak boleh merokok (benar).
Contoh kontaminasi bentuk frase terjadi pada ungkapan “berulang kali”. Dilihat dari segi
penggabungan kata, ungkapan itu memperlihatkan bentuk rancu. Bentuk asalnya ialah
“berulang-ulang” dan “berkali-kali”. Sedangkan, kontaminasi bentuk kata misalnya terjadi
pada kata Mengenyampingkan (kontaminasi). Me- + ke samping + kan menjadi
mengesampingkan karena hanya fonem /k/ pada awal kata ke samping yang luluh menjadi
bunyi sengau /ng/; /s/ pada samping tak perlu diluluhkan. Sehingga data yang benar
mengesampingkan ( benar ) dan menyampingkan ( benar ).
Gejala –gejala kontaminasi dapat diatasi dengan analisis. Analisis kesalahan bahasa
merupakan usaha untuk memperbaiki, baik dengan cara penyuluhan ataupun pembinaan.
Bila kesalahan kebahasaan itu dapat diatasi melalui sistem bahasanya dan mempunyai
dampak positif terhadap efektvitas bahasanya, apa yang mulanya dinyatakan sebagai
penyimpangan berbahasa, akan diterima sebagai khasanah sistem bahasa yang
bersangkutan. Itulah yang termasuk analisis kesalahan bahasa. Analisis juga merupakan
pemerian. Dalam kontaminasi, hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah
melakukan analisis kontaminasi dengan mengembalikan bentuk yang rancu ke bentuk yang
benar.
Dalam makalah ini, penulis tertarik untuk menganalisis gejala kontaminasi karena
kontaminasi terus saja muncul dalam penggunaan bahasa. Makalah ini berisi tentang
permasalahan kontaminasi dari bentuk kalimat, frase, dan kata serta lengkap dengan
analisisnya.

B. Kajian Teori
Kontaminasi atau dengan istilah lain disebut kerancuan tidak hanya terjadi pada susunan
kalimat, melainkan terjadi juga pada susunan kata dalam sebuah frase, atau susunan
morfem-morfem dalam sebuah kata. Gejala kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang
dalam bahasa Indonesia diistilahkan dengan kerancuan. Rancu artinya “kacau”. Jadi,
kerancuan artinya “kekacauan”. Yang dirancaukan adalah susunan, perserangkaian, dan
penggabungan. Dua hal yang masing – masing berdiri sendiri disatukan dalam satu
perserangkaian baru yang tidak berpasangan atau berpadanan. Hasilnya adalah
kerancauan. Penempatan kata yang tidak tepat tentu saja dapat menimbulkan kekacauan
atau kerancauan.
Istilah kontaminasi ( dalam bahasa Inggris : contamination ) dapat dipadankan dengan istilah
kerancuan. Istilah kerancaan berasal dari kata dasar “rancu” yang berarti “kacau”. Jadi,
kontaminasi atau kerancauan berarti kekacauan. Kontaminasi adalah percampuran yang
tidak disengaja. Kontaminasi dalam ungkapan adalah percampuran bagian ungkapan yang
satu dengan yang lain. Percampuran tersebut tentu saja tidak dapat dibenarkan. Gejala
kontaminasi dibedakan menjadi tiga, yaitu ;
1. Kontaminasi Kalimat
Gejala kerancauan kalimat timbul karena dua kemungkinan :
a. Orang kurang menguasai penggunaan bahasa yang tepat, baik dalam menyusun frase
ataupun dalam mempergunakan beberapa imbuhan untuk membentuk kata.
b. Terjadi tak disengaja, ketika orang menggabungkan dua pengertian dari dua bentuk yang
berbeda ke dalam satu susunan kalimat.
Contoh : Melalui kursus ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan
keterampilan.
Bagian pertama kalimat di atas (a) melalui kursus ini , bagian keduanya (b) diharapkan
bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan. Hubungan bagian a dan b itu tidak cocok.
Inilah kalimat asal itu.
(a) Kursus ini diharapkan bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan
(b) Melalui kursus ini diharapkan dapat ditingkatkan keterampilan.
2. Kontaminasi bentuk frase
Kontaminasi susunan kata adalah kekacauan yang terjadi di dalam penggunaan bahasa
Indonesia yang berupa kerancauan penyusunan kata.
Contoh:
(1) jangan boleh
(2) kadang kala
Pada contoh (1) frase tersebut rancu. frase tersebut merupakan bentukan dari dua frase
yakni, jangan biarkan dan tidak boleh yang membentuk Jangan boleh
(kontaminasi). Sedangkan pada contoh (2),frase tersebut juga merupakan gabungan dua
frase yang membentuk kerancuan. Frase tersebut adalah kadang-kadang dan ada
kala(nya).
3. Kontaminasi bentuk kata
Tidak jarang kita melihat bentukan kata dengan beberapa imbuhan ( afiks ) sekaligus yang
memperlihatkan gejala kerancuan. Kerancuan susunan kata baik dalam frase atau kalimat
disebabkan oleh kesalahan orang memadu dua unsur yang berpasangan. Misalkanlah
bahwa unsur A selalu berpasangan dengan unsur B dan unsur C dengan unsur D.
Pasangan A dan B serta C dan D selalu merupakan pasangan yang tepat. Tetapi, bila
pasangan itu bertukar, misalnya A dengan D dan C dengan B, maka pasangan itu dikatakan
menjadi rancu.
Contoh :
(1) mengenyampingkan
(2) dipelajarkan

Pada data (1) bentuk itu bukanlah bentuk yang tepat. Bila kita ubah bentuk itu menjadi
bentuk yang biasa disebut bentuk pasif, maka bentuk itu menjadi dikesampingkan. Dengan
jelas bentuk kata dasar itu ialah kesamping. Apabila bentuk dasar yang berhuruf/berfonem
awal /k/ diberi awalan meng-, maka huruf/fonem awal itu luluh.
Misalnya:
Meng + kotor + kan -à mengotorkan
Meng + kait + kan -à mengaitkan

Yang mengalami peluluhan hanyalah fonem/huruf aal bentuk dasar itu. Huruf atau fonem
lain tidak berubah. Bentuk rancu mengenyampingkan timbul karena dua bentuk yang tepat
yaitu mengesampingkan dan menyampingkan digabungkan menjadi mengenyampingkan
(rancu).
Pada data (2) bentuk itu juga rancu. Bentuk kata tersebut adalah bentuk yang dikacaukan
dari dua bentuk, yakni dipelajari dan diajarkan. Hasil kontaminasinya adalah dipelajarkan.

C. Pembahasan
Kontaminasi terus saja muncul dalam penggunaan bahasa, baik dalam tuturan maupun
dalam tulisan. Kontaminasi adalah suatu gejala bahasa yang rancu atau kacau susunan,
baik susunan kalimat, kata, atau bentukan . Masalah tersebut dapat di atasi jika kalimat
yang rancu tersebut dikembalikan kepada dua kalimat asal yang betul strukturnya. Demikian
juga dengan susunan kata/frasa atau bentukan kata. Gejala bahasa ini dalam bahasa
Indonesia dinamakan kerancuaan atau disebut juga kekacauan. Yang dirancukan ialah
susunan, atau penggabungannya. Misalnya dua kata yang digabungkan dalam satu
gabungan baru yang tidak berpadanan. Gejala kontaminasi ini dapat dibedakan menjadi tiga
macam, yaitu:
1. Kontaminasi Kalimat
Kalimat rancu yang merupakan gejala kontaminasi. Yang dimaksud kalimat rancu ialah
kalimat yang kacau susunannya, tetapi memperlihatkan suatu ciri khas. Kekacuan itu timbul
karena kalimat yang disebut rancu itu sebenarnya berasal dari dua buah kalimat yang benar
susunannya. Artinya, kalimat rancu itu dapat kita kembalikan kepada kedua kalimat asalnya
yang benar. Kesalahan yang timbul ialah karena kalimat yang disebut rancu ini mengambil
sebagian dari kalimat pertama yang benar itu dan sebagian lagi dari kalimat kedua. Hasilnya
ialah kalimat yang rancu.
Pada umumnya, kalimat itu terdiri atas dua bagian yang tidak cocok hubungannya. Mengapa
tidak cocok? Jawabannya ialah karena kalimat kontaminasi itu adalah hasil penggabungan
bagian dua kalimat asal yang susunannya benar, sesuai. Misalnya, kalimat I terdiri dari
bagian a dan b. Kalimat II terdiri dari bagian c dan d. Lalu, dari kalimat I dan kalimat II itu
dibentuk kalimat baru dengan gabungan a dan d atau c dan b. Sudah dikatakan di atas,
pasangan a-b dan c-d. Kalau pasangan itu menjadi a-d dan c-b, tentulah susunan itu
menjadi rancu atau kacau.