Anda di halaman 1dari 17

BAB I

TUJUAN
Tujuan:
1. Memahami prinsip – prinsip percobaan farmakologi dengan menggunakan sediaan
jaringan usus terpisah
2. Memahami Efek farmakologis obat agonis dan antagonis pada jaringan usus terpisah.
3. Menghitung afinitas dan selektivitas obat terhadap reseptor pada sediaan usus terpisah.

BAB II
LANDASAN TEORI
Pada prinsipnya semua bagian dari traktus gastrointestinal dapat digunakan untuk
percobaan organ terpisah (esofagus, gaster, ileum, kolon, dan bahkan rektum).Ada 2 macam
metoda organ terpisah, yaitu yang disertai saraf dan tidak disertai saraf. Dengan metoda ini
dapat diamati respon organ terhadap pemberian obat.

Respon obat terhadap obat dapat diukur secara kualitatif dan kuantitatif sehingga dapat
digunakan untuk menghitung afinitas obat terhadap reseptor. Pada praktikum ini digunakan
beberapa konsentrasi obat untuk melihat efeknya terhadap organ terpisah (usus).

Asetilkolin (ACh) adalah salah satu neurotransmitter yang sangat berperan dalam
fungsi sistem saraf otonom.Sistem saraf otonom adalah sistem involunter yang berfungsi untuk
mengontrol kebutuhan dan aktivitas tubuh sehari-hari tanpa pengaruh kesadaran kita. Sistem
ini terutama berperan pada sel saraf motorik visceral yang mempersarafi otot polos organ
dalam, otot jantung dan kelenjar eksokrin.

Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari sistem saraf pusat menuju efektor organ
melalui dua tipe neuron efektor.
Neuron yang pertama disebut neuron preganglion. Sel ini terdapat pada sistem saraf
pusat. Neuron preganglion keluar dari batang otak atau spinal cord dan membuat hubungan
sinaptik dalam sebuah ganglion, yaitu kumpulan neuron yang terdapat di sistem saraf perifer.
Ganglion-ganglion ini berfungsi sebagai stasiun relay antara neuron preganglion dan neuron
yang kedua yaitu neuron postganglionik. Badan sel neuron ini terdapat di dalam ganglion.
Neuron postganglionik berakhir pada otot polos di organ-organ dalam, otot jantung dan sel
eksokrin.

Serabut-serabut sel eferen sistem saraf otonom dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Sistem saraf simpatis. Saraf-saraf preganglion sistem saraf simpatis keluar dari segmen
thoracal dan lumbar, bersinaps di dua ganglion yang berjalan paralel pada dua sisi
medulla spinalis.
2. Sistem saraf parasimpatis. Serabut saraf preganglionnya keluar dari area kranial dan
sakral, bersinaps di ganglion dekat organ efektor.

ANTAGONIS
Antagonis netral memblokir efek agonis. Ada dua jenis antagonisme: kompetitif
(reversibel, surmountable)
dan non-kompetitif (irreversibel, tidak dapat diatasi). Sebagai contoh, nalokson adalah
antagonis kompetitif pada semua reseptor opioid dan ketamin adalah antagonis non-kompetitif
pada reseptor NMDA-glutamat.

Tindakan antagonis kompetitif dapat diatasi dengan meningkatkan dosis agonis (yaitu,
blok dapat diatasi). Agonis dan antagonis mengikat ke situs yang sama pada reseptor. Efek
yang ada pada kurva dosis-respons agonis adalah menggesernya ke kanan. Karena respons
dapat diatasi, respons maksimum tetap tidak berubah (Gbr. 3). Tingkat pergeseran ke kanan
terkait dengan afinitas antagonis dan dosis yang digunakan. Semakin tinggi dosis, semakin
banyak agonis yang diperlukan untuk mengatasi respons. Semakin tinggi afinitas antagonis,
semakin besar pergeseran (ingat afinitas adalah kekuatan interaksi antagonis-reseptor dan lebih
banyak agonis diperlukan untuk mengganggu interaksi ini). Sebaliknya, jika derajat pergeseran
diketahui, maka afinitas antagonis dapat diperkirakan.

Tindakan antagonis non-kompetitif tidak dapat diatasi dengan meningkatkan dosis


agonis.Ini karena tempat pengikatan agonis dan antagonis berbeda; karenanya, agonis tidak
akan menggantikan molekul antagonis (mis. ketamin mengikat dalam pori saluran reseptor
NMDA tetapi agonis, glutamat, mengikat pada permukaan ekstraseluler reseptor). Secara
grafis, tindakan antagonis yang tidak dapat dikembalikan sama dengan tindakan untuk
antagonis non-kompetitif tetapi penjelasannya berbeda; untuk antagonis yang ireversibel, sisi
pengikatan mungkin sama dengan agonis tetapi karena bersifat ireversibel (sering dihubungkan
secara kimiawi), situs tidak dapat dipindahkan dan karenanya tidak dapat diatasi.
(Thompson, Jonathan. 2017. Continuing Education in Anaesthesia, Critical Care & Pain
Journal, Volume 17, Number 12. Oxford University Press)

AGONIS
Agonis adalah obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek transmitter.

Agonis muskarinik dibedakan atas (1) asetilkolin dan asetilkolin sintesis yaitu metakolin,
karbakol, dan betanekol, dan (2) alkaloid kolinergik yang terdapat di alam yaitu muskarinik,
pilokarpin, dan arekolin, serta senyawa sintesisnya.

( Farmakologi Universitas Indonesia Edisi 6, Tahun 2016)


BAB III
ALAT DAN BAHAN
1. Marmut
2. Ileum
3. Larutan tyrode
4. Organ bath
5. Kertas kymograph
6. Atropin
7. Metakolin
8. Pompa udara
BAB IV
LANGKAH KERJA

Pada Praktikum Ini Digunakan Hewan Percobaan Marmut


4.1. Preparasi
1. Marmut yang telah dibunuh, diambil ileum nya sepanjang 3-4 cm.
2. Ileum dimasukkan kedalam organ bath yang berisi larutan tyrode dengan temperatur
370c dan di aerasi dengan udara dari pompa udara.
3. Perubahan pada ileum (kontraksi) diteruskan melalui lever yang di ujungnya dipasang
jarum penulis. Besar kontraksi ileum dicatat pada kertas kymograph melalui jarum
penulis.
4. Respon organ terhadap obat dapat dilihat dengan pemberian obat ke dalam larutan di
dalam organ bath.
4.2. Pengamatan Respon
Pada praktikum ini dapat dilihat:
- Perubahan tonus
- Perubahan kontraksi
- Mula kerja dan masa kerja obat
a. Respon Organ Terhadap Pemberian Metakolin (Cholinoceptor Agonist) Injeksikan
Obat Agonis Kedalam larutan dalam organ bath. Gantilah larutan dengan volume yang
sama setelah kontraksi usus mulai turun (lebih kurang 1
menit).Tunggu aktivitas Ileum kembali normal sebelum memberikan obat
berikutnya (lebih kurang 3 menit).
b. Respon organ terhadap pemberian cholinoceptor antagonis (atropin).

i. Siapkan usus terpisah dalam organ bath dengan larutan baru (dari
percobaan)
ii. Berikan atropin pada larutan dalam organ bath sebesar, 2uc dengan
konsentrasi 3x10-6 M.Konsentrasi Atropin Dalam organ bath 3x10-8 M
(volume larutan 25 ml). Tunggu 1 Menit.
iii. Berikan asetilkolin sesuai dengan urutan konsentrasi pada a dengan cara
seperti pada a.
BAB V
HASIL PENGAMATAN

Percobaan 1 Percobaan 2
NO [M]
Metacolyn Atropin + Metacolyn Metacolyn Atropin+Metacolyn

1 10-7 4.52 5.32 5.55

2 10-6 1.14 5.03 6.08 6.25

3 10-5 2.05 5.19 6.34 6.39

4 10-4 3.00 5.39 7.12 7.60

5 10-3 3.30 6.05 7.39 7.68

6 10-2 3.52 6.28 8.03


BAB VI
PEMBAHASAN

1. Prinsip Praktikum sediaan organ terpisah (Isolated Organ)


1.1. Syarat viabilitas isolated organ
Metode Organ Terisolasi Organ terisolasi adalah suatu metode percobaan in vitro. Pada
prinsipnya adalah menggunakan organ yang terendam dalam larutan fisiologis yang sesuai,
temperature diatur atau dikondisikan pada kondisi yang sama dari mana organ tersebut berasal
serta pengaturan aliran oksigen. Percobaan organ terisolasi ini menggunakan alat organ bath
(Perry, 1970).
Sebelum digunakan untuk pengujian hewan uji harus dikondisikan selama kira-
kira 2 minggu dan diamati perkembangan:
- kesehatan hewan uji
- pertumbuhan hewan uji (korelasi umur dengan berat badan)
- pertambahan berat badan rata-rata (± 10 %)
- suhu badan normal (± I °C)
- tinja normal (tidak ada parasit)
- makanan (komposisi, kadar, jumlah), diusahakan tetap

Jenis-jenis hewan uji yang sering digunakan dalam percobaan :


a. Mencit
b. Tikus
c. Marmot
d. Kelinci
e. Merpati
f. Kucing
g. Anjing
h. Domba
Kelebihan dan Kekurangan Uji Dengan Organ Terisolasi
Kelebihan:
a. Efek obat lebih spesifik untuk suatu organ
b. Dapat diketahui letak atau jenis reseptornya
Kelemahan:
Tidak 100% menggambarkan keadaan in-vivo karena:
a. tidak ada supply darah ke organ
b. system faali berubah (enzim, syaraf)
Bila teknik preparasi kurang cermat hasil tidak valid karena timbul variabel baru yang tak
terkendali, misalnya: larutan garam fisiotogis tidak sesuai, kurang oksigenasi, preparasi organ
terlalu lama sehingga banyak sel yang mati, suhu tidak sesuai.

Jenis - Jenis Larutan Fisiologis Untuk Uji


Beberapa contoh garam fisiologis yang digunakan untuk uji menggunakan organ terisolasi:
a. Frog ringer, digunakan untuk jaringan amfibi
b. Krebs ringer, digunakan untuk jaringan mamalia
c. Tyrode solution, digunakan untuk jaringan intestine
d. Locke ringer, digunakan untuk otot jantung
e. Solutio de Jalon, digunakan untuk jaringan uterus

Prinsip Preparasi Jaringan Secara Umum dan Prinsip Kerja


1. Prinsip Prosedur Penetapan - Penyiapan Larutan Fisiologis
- preparasi jaringan
- perlakuan dan pencatatan respon
- pengolahan data
- evaluasi dan pengambilan kesimpulan
Prinsip Preparasi jaringan Secara umum
- hewan uji dikorbankan secara fisik, dan diletakkan pada papan fiksasi, dibuka badannya,
dan diambil organ atau jaringan yang diperlukan
- preparat dibersihkan dan jaringan lain yang tidak dikehendaki
- pencucian jaringan: - menggunakan larutan fisiologis yang sesuai
- overflow, larutan sekali pakai dan langsung dibuang
- intestine, jaringan sangat lunak sehingga harus hati-hati untuk menghindari penekanan
mekanik
- perlu diperhatikan alat-alat yang digunakan karena jaringan sensitif terhadap logam (Cu,
Mg dan Fe) sehingga disarankan digunakan stainless steel, platina atau yang lain
- organ diikat dengan benang dan dipasang pada kait yang tersedia penting untuk
diperhatikan, temperatur dan aliran gas untuk menjaga kondisi organ tetap baik
4. Jenis-jenis jaringan yang sering digunakan untuk uji organ terisolasi yaitu: thoracic aorta
pada kelinci, ileum, trakea marmut, fundus strip dari tikus dan jantung terisolasi dari kelinci

Metode organ terisolasi merupakan metode klasik dalam percobaan farmakologi yang
dapat digunakan untuk menganalisa hubungan dosis-respon suatu senyawa obat. Hasil
penelitian Anas, dkk., (2010) mengatakan bahwa dengan metode ini, konsentrasi agonis dan
antagonis reseptor pada tingkat jaringan dapat diketahui secara pasti. Metode ini mempunyai
kemampuan dengan intensitas maksimum. Hal ini tidak sepenuhnya dapat dilakukan ketika
menggunakan organisme utuh (pengujian secara in vivo). Selain itu, metode ini juga dapat
mengukur konsentrasi agonis terkecil yang dapat menginduksi respon biologis.
Syamsudin dan Darmono (2011) melaporkan bahwa untuk mendapatkan hasil
percobaan yang akurat, maka diperlukan persiapan yang baik dan seluruh percobaan harus
betul-betul terkontrol. Hewan percobaan yang digunakan dibunuh tanpa dianastesi sehingga
tidak mempengaruhi kontraktilitasnya. Organ yang diambil segera dimasukkan kedalam cairan
fisiologis dan dikontrol oksigenasinya dan dihubungkan ke tranduser dan diteruskan ke alat
pencatat misalnya, kymograph atau maclab komputer. Organ yang umum digunakan dengan
metode organ terisolasi menggunakan alat organ bath adalah uterus, usus halus, otot skeletal,
vas deferens, jantung dan lambung (Kitchen, 1984).
Organ yang digunakan pada penelitian ini adalah usus halus marmut bagian ileum
karena relatif lebih tahan terhadap trauma dan kontraksinya lebih kuat daripada jejunum atau
duodenum. Marmut yang sebelumnya telah dipuasakan selama 10-12 jam dieksekusi dengan
cara dislokasi tulang leher kemudian adomennya dibuka dan caecumnya diangkat ke depan
maka ileum akan ditemukan tergabung pada bagian belakangnya. Ileum dipotong 5 cm dari
caecum sepanjang 2 cm kemudian dimasukkan dalam cawan petri yang berisi larutan Krebs.
Agar tidak rusak, dalam menanganinya sebaiknya tidak menggunakan pinset tetapi jari.
Sebelum dimasukkan dalam organ bath mesenterial nya dibersihkan dulu kemudian isi usus
dibersihkan dengan cara disemprot rongga ususnya dengan pipet berisi larutan Krebs, setelah
itu benang diikatkan pada kedua ujung ileum. Ileum dimasukkan ke dalam organ bath dengan
ujung bawah diikatkan pada tangkai penahan dan ujung atas diikatkan dengan ujung
fulcrum/tangkai pada kimograf dengan diberi beban sebesar 1 gram. Setelah siap, suhu dalam
organ bath diatur setinggi 37°C dan terus diaerasi nonstop memakai air pump. Preparat ileum
diinkubasikan dahulu dalam larutan Kreb’s selama 1-2 jam disertai pencucian dengan
mengganti larutan kreb’s tiap 10-15 menit agar preparat teradaptasi.

Sumber :
Tarannita, C., Permatasari, N., Sudiarto, 2006 “EFEK HAMBATAN EKSTRAK DAUN
CEPLUKAN (Physalis Minima L) TERHADAP KONTRAKTILITAS OTOT POLOS USUS
HALUS TERPISAH MARMUT DENGAN STIMULASI METAKOLIN EKSOGEN”
Fakultas Kedokteran Universitas

2. Prinsip Kontraksi Usus Sebagai Organ Otonomik


2.1. Persarafan Otonomik Usus
Pada prinsipnya semua bagian dari fraktus gastrointestinal dapat digunakan untuk
percobaan organ terpisah (esofagus, gaster, ileum, kolon, dan bahkan rektum). Ada 2 macam
metoda organ terpisah, yaitu yang disertai saraf dan tidak disertai saraf. Dengan metoda ini
dapat diamati respon organ terhadap pemberian obat. Respon obat terhadap obat dapat diukur
secara kualitatif dan kuantitatif sehingga dapat digunakan untuk menghitung afinitas obat
terhadap reseptor. Pada praktikum ini digunakan beberapa konsentrasi obat untuk melihat
efeknya terhadap organ terpisah (usus).
Asetilkolin adalah salah satu neurotransmitter yang digunakan oleh saraf. Asetilkolin
(Ach) adalah neurotransmitter yang digunakan oleh serat preganglion simpatis dan
parasimpatis. Ach juga digunakan sebagai neurotransmitter serat pascaganglion parasimpatis.
Serat ini, bersama dengan semua serat praganglion otonom, disebut juga sebagai serat
kolinergik. Ach juga berperan dalam persisteman parasimpatis, yaitu sebagai neurotransmitter
pascaganglion. Sistem parasimpatis sangat berperan dalam sistem pencernaan. System ini
mendominasi pada keadaan tenang dan santai. Sistem parasimpatis merupakan tipe rest and
digest, yaitu istirahat dan cerna sekaligus memperlambat aktivitas – aktivitas yang ditingkatkan
oleh sistem simpatis.
Sebagai contoh, efek stimulasi parasimpatis pada sistem pencernaan adalah sebagai berikut :
• Meningkatkan motilitas organ pencernaan
• Relaksasi sfingter (untuk memungkinkan gerakan maju isi saluran cerna)
• Stimulasi sekresi pencernaan
• Stimulasi sekresi pankreas eksokrin (untuk pencernaan)
• Pengeluaran banyak liur encer kaya enzim
Jadi apabila diberi Atropin yang merupakan derivate campuran rasemik yang berkhasiat anti-
kolinergis kuat dan merupakan antagonis khusus dari efek muskarinik ACh. Efek nikotinnya
diantagonis ringan sekali,. Zat ini digunakan sebagai midriatikum kerja panjang yang juga
melumpuhkan akomodasi, dan juga sebagai spasmolitikum pada kejang-kejang di saluran
lambung usus dan urogenital. Sedangkan metakolin merupakan obat kolinergik (agonis
kolinergik) yang bekerja secara langsung atau tidak langsung meningkatkan fungsi
neurotransmitter dan menghasilkan efek perangsangan

2.2. Isolated Usus - Masih Ada Efek Kontraksi


Usus yang dimasukkan ke dalam organ bath bersuhu 37 derajat celcius ini berisi larutan
tyrode. Larutan tyrode sendiri merupakan larutan larutan buffer fisiologis yang berfungsi agar
organ terisolasi tetap hidup dan tahan lama (terdiri dari NaCl 8g, KCL 0,2 g, CaCl 0.2g, MgCL2
0.1g, NaH2PO4 0.05g, NaHCO 1.0 g, glukosa 1g, dilarutkan dalam air suling hingga 1.000ml
(Lammers dkk,2002; Grasa dkk,2005) .
Oleh karena keadaan lingkungan dijaga seperti keadaan di asal hidupnya, usus masih
ada efek kontraksi karena memiliki sistem saraf otonom dan otot yang terletak di dindingnya.
Hal ini menyebabkan usus dapat bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan walaupun telah
terputus dari sistem saraf pusat selama organ dijaga dalam kondisi normalnya dengan suplai
nutrisi yang adekuat.

3. Prinsip Kerja Obat Pada Reseptor


3.1. Teori Okupansi
Teori Occupancy oleh Gaddum dan Clark menyatakan bahwa intensitas efek
farmakologis secara langsung proporsional dengan jumlah reseptor yang diduduki obat.
Respon biologis hilang ketika komplek obat-reseptor mengalami disosiasi. Bagaimanapun juga
tidak semua agonis menghasilkan suatu respon maksimal. Oleh karena itu, teori ini tidak
menguraikan agonis parsial. Ariens dan Stephenson memodifikasi teori Occupancy untuk
menjelaskan agonis parsial (istilah yang dibuat oleh Stephenson). Konsep asli Langley
mengenai reseptor menyatakan bahwa interaksi obat-reseptor terjadi dalam dua tahap. Tahap
pertama terjadi kompleksasi obat dengan reseptor yang disebut afinitas. Kedua terjadi inisiasi
efek biologis yang oleh Ariens disebut dengan aktivitas intrinsic dan oleh Stephenson disebut
juga efikasi.
Afinitas merupakan suatu ukuran kapasitas obat untuk berikatan dengan reseptor dan
ini tergantung pada komplemen obat dan reseptor. Aktivitas intrinsik (α) merupakan ukuran
kemampuan komplek obat-reseptor untuk menimbulkan respon. Aktivitas intrinsik dari suatu
obat dianggap konstan. Jika suatu obat mempunyai α nilai sama dengan 1,0 maka obat tersebut
merupakan suatu agonis, jika kurang dari 1,0 maka obat tersebut merupakan parsial agonis.
Secara umum antagonis berikatan dengan kuat pada suatu reseptor (afinitas besar) tetapi sama
sekali tidak menimbulkan efek (tidak mempunyai efikasi). Agonis yang poten mungkin
mempunyai afinitas terhadap reseptor yang lebih kecil dibanding agonis parsial atau antagonis.
Teori Occupancy yang termodifikasi digunakan untuk menjelaskan adanya agonis parsial atau
antagonis, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa dua obat bisa menduduki reseptor yang sama
dan mempunyai aksi yang berbeda di mana yang satu sebagai agonis dan yang lain sebagai
antagonis (Rollando, 2017).
Menurut teori Occupancy, peningkatan dosis obat tidak akan berarti lagi jika Emax
telah tercapai, hal ini terjadi karena pada tahap ini semua reseptor telah diduduki oleh obat
(Setiawati dkk, 2007)
Teori Occupancy atau Teori Pendudukan Reseptor
1. Diawali dengan interaksi ligan pada tempat aksinya
2. Respon timbul akibat fungsi pendudukan reseptor oleh ligan
3. E max adalah seluruh receptor telah ditempati oleh ligan
4. Efek yang ditimbulkan sebanding dengan jumlah reseptor yang diduduki
5. Semakin banyak reseptor yang diduduki semakin besar efek

4. Prinsip Kerja Agonis


4.1. Bagaimana Hasil Praktikum
Berdasarkan grafik kymograph didapatkan bahwa Methacholine menjadi agonis
reseptor di usus karena menurut teori bahwa Methacholine bekerja mirip dengan cara kerja
asetilkolin pada reseptor kolinergik. Methacholine berkaitan dengan reseptor pada membran
sel dan mempermudah pengaliran kalsium dan natrium ke dalam sel yang menyebabkan
stimulasi otot.
4.2. Mekanisme Sinyal Transduksi Metakolin Sampai dengan Timbul Efek Kontraksi
Metakolin merupakan salah satu agonis muskarinik yang bekerja langsung pada
reseptor kolinergik dan akan merangsang pelepasan ACh. Diketahui bahwa usus merupakan
organ yang terdapat saraf parasimpatik yang bekerja memacu peristaltik usus sehingga pada
pemberian metakolin akan meningkatkan ACh pada postsinaps sehingga jumlah ACh yang
berlebih pada celah sinaps akan diterima oleh reseptor muskarinik yang ada di permukaan usus.
Perlu diketahui bahwa saraf parasimpatis memiliki ganglion yang dekat dengan organ bahkan
menempel pada organ yang diinervasinya. Sehingga peristaltik usus juga meningkat karena
kontraksi otot polos utamanya melalui aktivasi reseptor M3 dan beberapa sfingter mengalami
relaksasi.

5. Prinsip Kerja Antagonis


5.1. Bagaimana Hasil Praktikum
Berdasarkan grafik kymograph didapatkan bahwa Atropin menjadi antagonis reseptor
di usus karena menurut teori bahwa Atropin mencegah akses asetilkolin dan obat agonis
serupa ke reseptor asetilkolin dan menstabilkan reseptor dalam bentuk inaktifnya (atau suatu
bentuk lain di luar bentuk yang diaktifkan oleh asetilkolin).

5.2. Mekanisme Sinyal Transduksi Atropin


Atropin dan senyawa sejenis bersaing dengan ACh dan agonis muskarinik lain untuk
suatu tempat ikatan yang biasa pada reseptor muskarinik. Tempat ikatan untuk agonis
kompetitif dan asetilkolin terdapat di dalam celah yang diperkirakan akan dibentuk oleh
beberapa dari tujuh heliks transmembran reseptor
Karena antagonisme dengan atropin bersifat kompetitif, antagonisme tersebut
dapat diatasi jika konsentrasi Ach pada tempat reseptor di organ efektor meningkat cukup
memadai. Antagonis reseptor muskarinik menghambat respon stimulasi saraf kolinergik
pascaganglion kurang cepat dibandingkan antagonis tersebut menghambat respon ester kolin
yang diinjeksi

6. Membandingkan Affinitas dan Effikasi Metakolin Jika Diberikan Metakolin Saja


dengan Jika Diberikan Atropin Dulu Kemudian Metakolin

6.1. Prinsip Kerja Antagonis Kompetitif dan Non kompetitif


Jika terdapat agonis dalam konsentrasi tertentu, peningkatan konsentrasi antagonis
kompetitif reversible secara progresif akan menghambat respon agonis, konsentrasi tinggi
antagonis akan mencegah terjadinya respon agonis secara komplit. Sebaliknya, konsentrasi
agonis yang cukup tinggi juga dapat melawan efek antagonis secara komplit; artinya agonis
tetap sama untuk setiap antagonis dalam konsentrasi tertentu. Antagonis bersifat kompetitif,
maka keberadaan antagonis akan meningkatkan jumlah konsentrasi agonis yang dibutuhkan
agar dapat menimbulkan respons tertentu.
Antagonis dapat bekerja secara non kompetitif melalui mekanisme yang berbeda, yaitu
dengan terikat ke tempat lain di protein reseptor tempat terikatnya agonis, dengan demikian
mencegah aktivasi reseptor tersebut tanpa perlu memblokade agonis untuk terikat dengan
reseptor. Walaupun bekerja secara nonkompetitif, efek kerja obat bersifat reversible jika tidak
berikatan secara kovalen (Katzung, ed. 10).

6.2. Bagaimana Hasil Praktikum


Hasil praktikum menunjukkan bahwa afinitas metakolin lebih besar dibandingkan
dengan metakolin yang ditambah dengan atropine. Karena atropin bekerja menghambat Ach
menduduki reseptor muskarinik secara kompetitif sehingga dapat mengurangi efek Ach di
tempat kerjanya.

6.3. Tentukan Kerja Atropin Sebagai Antagonis Kompetitif atau Non Kompetitif
Berdasarkan Afinitas dan Effikasinya
Atropin berperan sebagai antagonis kompetitif berkompetisi dengan asetilkolin dan
agonis muskarinik lainnya. Lalu akan menghambat rangsang saraf post-ganglionik
parasimpatik yang mengakibatkan terjadinya pelepasan Ach dan peningkatan reseptor pada
neuroreseptor. Hal ini akan mengurangi efek asetilkolin dan obat yang mirip di dalam tubuh.
Antagonis ini dapat diatasi dengan peningkatan dosis agonis. Antagonis menggeser kurva dosis
respon agonis ke kanan sehingga mengurangi afinitas agonis. (Asep Sukohar. 2014.)

6.4. Prinsip Kerja Antagonis Kompetitif dan Non Kompetitif


Jika terdapat agonis dalam konsentrasi tertentu. peningkatan konsentrasi antagonis
kompetitif reversible secara progresif akan menghambat respon agonis. konsentrasi tinggi
antagonis akan mencegah terjadinya respon agonis secara komplit. Sebaliknya. konsentrasi
agonis yang cukup tinggi juga dapat melawan efek antagonis secara komplit: artinya agonis
tetap sama untuk setiap antagonis dalam konsentrasi tertentu. Antagonis bersifat kompetitif,
maka keberadaan antagonis akan meningkatkan jumlah konsentrasi agonis yang dibutuhkan
agar dapat menimbulkan respon tertentu. Antagonis dapat bekerja secara non kompetitif
melalui mekanisme yang berbeda yaitu dengan terikat ke tempat lain di protein reseptor tempat
terikatnya agonis dengan demikian mencegah aktivasi reseptor tersebut tanpa perlu
memblokade agonis untuk terikat dengan reseptor. Walaupun bekerja secara non kompetitif.
efek kerja obat bersifat reversible jika tidak berikatan secara kovalen(Katzung, ed. 10).

6.5. Hasil Praktikum Bagaimana


Hasil praktikum menunjukkan bahwa afinitas metakolin lebih besar dibandingkan
dengan metakolin yang ditambah dengan atropine. Karena atropin bekerja menghambat Ach
menduduki reseptor muskarinik secara kompetitif sehingga dapat mengurangi efek Ach di
tempat kerjanya.

6.6. Tentukan Kerja Atropin Sebagai Antagonis Kompetitif atau Non Kompetitif
Berdasarkan Hasil Afinitasnya dan Efikasinya
Atropin merupakan antagonis kompetitif yang berinteraksi dengan reseptor muskarinik.
Atropin bekerja dengan cara menginhibisi obat lain tanpa menimbulkan aktivitas intrinsik,
menduduki reseptor dibantu oleh afinitas atropin-reseptor yang lebih kuat, serta bersifat
reversible (dapat digeser) kedudukannya apabila diberi agonis dengan dosis yang lebih tinggi.

6.7. Kesimpulan : Bagaimana Pengaruh Pemberian Suatu Antagonis Kompetitif


Non Kompetitif Terhadap Afinitas dan Efikasi Agonis
Afinitas dan efikasi dari agonis akan menurun. Namun, perbedaanya adalah antagonis
kompetitif yang bersifat reversible jika dosis agonis ditingkatkan, agonis akan mampu
menduduki reseptor kembali. Sedangkan, antagonis non kompetitif bersifat irreversible,
walaupun dosis ditingkatkan agonis tidak akan mampu menggesernya.

BAB VII
PENUTUP

Kesimpulan

1. Semakin besar dosis pada agonis semakin besar efek yang ditimbulkan. Efek akan mencapai
efek maksimal apabila obat menempati semua reseptor

2. Pemberian antagonis kompetitif sebelum pemberian agonis, akan menyebabkan peningkatan


dosis agonis sampai menimbulkan efek

3. Terdapat perbedaan efikasi antara pemberian obat agonis saja dengan pemberian antagonis
dan agonis. Kesalahan ini mungkin terjadi karena viabilitas usus, durasi pemberian obat dan
perlakuan yang salah
DAFTAR PUSTAKA

Thompson, Jonathan. 2017. Continuing Education in Anaesthesia, Critical Care & Pain
Journal, Volume 17, Number 12. Oxford University Press
Syarif, Amir. dkk. 2016. Farmakologi dan Terapi Universitas Indonesia : Edisi 6.
Jakarta. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia
Katzung, G.B dkk. 2012. Farmakologi dasar dan klinik edisi 10
Tarannita, C., Permatasari, N., Sudiarto, 2006 “Efek Hambatan Ekstrak Daun Ceplukan
(Physalis Minima L) Terhadap Kontraktilitas Otot Polos Usus Halus Terpisah Marmut Dengan
Stimulasi Metakolin Eksogen.” Fakultas Kedokteran Unb