Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes melitus (DM) tipe 2 yang selanjutnya disebut dengan DM
merupakan salah satu penyebab permasalahan kesehatan masyarakat yang
memiliki pengaruh mendunia akibat prevalensinya yang tinggi serta konsekuensi
ekonomik maupun sosial yang besar. Ulkus kaki diabetik (UKD) adalah salah satu
komplikasi penyebab utama gangguan ekstremitas bawah pada pasien DM.
Neuropati perifer, gangguan vaskular perifer, beban tekanan plantar yang
abnormal, dan infeksi merupakan faktor-faktor utama untuk terbentuknya UKD.
Pada tahun 2010 Global Status Report on Non Communicable Disease yang
dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan, DM
merupakan penyebab kematian keempat di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 1,3
juta orang meninggal dunia per tahun dengan 4% meninggal pada usia sebelum 70
tahun (World Health Organization, 2011). International Diabetes Federation
(IDF) menyatakan bahwa lebih dari 371 orang di dunia dengan usia 20-79 tahun
menderita diabetes, sedangkan Indonesia merupakan negara urutan ke-7 dengan
prevalensi diabetes tertinggi di bawah China, India, Amerika Serikat, Brazil,
Rusia, dan Meksiko (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).
Menurut laporan Riskesdas 2013, proporsi DM di Indonesia adalah sebesar
6,9%, dengan estimasi jumlah penduduk Indonesia usia diatas 15 tahun sebesar
176.689.336 orang maka dapat diperikrakan jumlah absolutnya sekitar 12 juta
orang (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan
RI, 2013). Hal ini menunjukkan kenaikan jika dibandingkan dengan hasil
Riskesdas 2007, yang mana prevalensi penyakit DM secara nasional di Indonesia
adalah 5,7% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI, 2008).
Penderita DM memiliki angka morbitas yang tinggi, karena risiko
terjadinya stroke meningkat menjadi dua kali lebih tinggi. Diabetes mellitus
merupakan penyebab utama terjadinya kegagalan ginjal negara berkembang dan
negara maju. Amputasi pada anggota gerak bawah terjadi 10 kali lebih tinggi pada
pasien dengan DM pada negara berkembang. Morbiditas yang tinggi
menyebabkan DM dengan UKD memerlukan setidaknya dua sampai tiga kali lipat
sumber perawatan luka, sehingga menimbulkan konsekuensi sosial dan ekonomi
(World Health Organization, 2011).
Ulkus kaki diabetik adalah satu dari beberapa konsekuensi kronis dari DM
yang merupakan penyebab terbanyak dari amputasi nontrauma di anggota gerak
bawah (Silva et al., 2007). Diperkirakan 15-25% dari populasi DM akan
mengalami UKD dengan angka morbiditas tinggi, yang mana 40-80% penderita
mempunyai risiko infeksi (SPILF, 2007) dan 10-20% pasien memerlukan
amputasi (World Health Organization, 2016). Hasil pengumpulan data persentase
komplikasi DM tipe 2 di RSUP (Rumah Sakit Umum Pusat) Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta (RSCM) tahun 2011, UKD menempati urutan ke-5
tertinggi setelah neuropati, retinopati diabetik, proteinuria, dan peripheral arterial
disease (PAD) (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).
Ulkus kaki diabetik memerlukan waktu penyembuhan yang lama dan
penanganan multidisiplin yang komprehensif, mulai dari kontrol glikemia,
perawatan harian lokal luka, terapi antibiotik, dan pembedahan revaskularisasi. Di
Inggris, komplikasi ulkus kaki diabetik menghabiskan 20% dari total anggaran
National Health Service, yaitu sekitar £650 juta per tahun (Wounds International,
2013). Biaya yang dikeluarkan belum termasuk biaya untuk kesejahteraan fisik,
psikologis, dan sosial, serta fakta yang mana kebanyakan pasien tidak dapat
bekerja dalam jangka panjang akibat luka yang diderita.
Karena sulitnya kesembuhan luka maka banyak penelitian telah dilakukan
di bidang UKD untuk mendapatkan teknik yang paling efektif untuk
penyembuhan. Namun sampai saat ini belum ada satu terapi yang memberikan
hasil memuaskan (Kessler, et al., 2003). Hal ini mendorong para peneliti untuk
mencari metode yang merangsang percepatan penyembuhan luka yang salah
satunya dengan menggunakan metode oksigen hiperbarik.
Prinsip tujuan dari terapi UKD adalah penyembuhan luka. Komponen-
komponen utama dari terapi standar antara lain mengontrol gula darah,
penggunaan antibiotik, debridemen ulkus, perawatan luka, offloading (tidak ada
beban/tekanan), dan perbaikan aliran darah/revaskularisasi (Frykberg, et al., 2006;
Wounds International, 2013). Selain komponen utama terapi standar tersebut,
terdapat terapi adjuvan seperti terapi oksigen hiperbarik (TOH), terapi maggot,
terapi faktor pertumbuhan, produk kolagen, jaringan bioengineered, dan sel punca
juga dimanfaatkan dalam tatalaksana UKD (Kessler, et al., 2003; Frykberg, et al.,
2006; Waniczek, et al., 2013; Jeffcoate dan Game, 2014).
Terapi oksigen hiperbarik adalah pemberian oksigen 100% dengan tekanan
lebih tinggi dari tekanan normal atmosfer permukaan air laut, yaitu pada tekanan 2
sampai 3 atmosphere absolute (ATA) di dalam ruang hiperbarik (Flood, 2007;
Bhutani dan Vishwanath, 2012). Salah satu mekanisme TOH adalah membantu
meningkatkan kadar oksigen jaringan sehingga terjadi percepatan penyembuhan
luka, penurunan edema, dan membunuh bakteri anaerobik (Flood, 2007; Bhutani
dan Vishwanath, 2012). Prinsip inilah yang membuat banyak peneliti
menggunakan TOH sebagai salah satu metode mengatasi UKD.
Penggunaan ruang hiperbarik pertama kali digunakan oleh Henshaw di
London tahun 1662 dengan menggunakan tekanan atmosfer dalam ruang
hiperbarik untuk mengobati berbagai penyakit. Pada pertengahan abad ke-19 dan
permulaan abad ke-20, penggunaan terapi hiperbarik mulai banyak berkembang di
Prancis, hingga pada pertengahan abad ke-20 dimulailah praktek kedokteran
hiperbarik secara ilmiah (Wattel, 2006; Jain, 2009).
Terapi ini telah banyak direkomendasikan sebagai metode pengobatan
UKD, namun validasi ilmiah dari efikasi maupun keamanan terapi ini dinilai
belum mendalam (Sahni, et al., 2003). Hal ini membuat peneliti ingin
mempelajari, memahami, serta mengkaji lebih dalam tentang TOH, bukan hanya
dalam mempercepat penyembuhan luka sebagai petunjuk klinis, tetapi juga
perannya dalam memperbaiki keadaan hematologi dan biokimia pada darah
penderita UKD.
Pada pemberian TOH penderita UKD diharapkan terdapat perbaikan
biokimia darah glikohemoglobin (HbA1c) menggambarkan terjadinya perbaikan
pada prinsip utama tatalaksana kaki diabetik. Perbaikan hematologi untuk marker
infeksi yaitu penurunan jumlah leukosit menunjukkan adanya kontrol infeksi dan
penurunan reaksi inflamasi pada UKD. Perbaikan pada keadaan fungsi ginjal yang
dilihat dari nilai kreatinin serum juga penting dalam usaha menurunkan risiko
morbiditas kegagalan ginjal pada penderita DM tipe 2. Ketiga marker ini dinilai
penting oleh peneliti, untuk dievaluasi mengenai keberhasilan TOH pada
penderita UKD.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang tersebut diatas, untuk dapat melihat hasil terapi
oksigen hiperbarik, maka dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah pemberian terapi adjuvan oksigen hiperbarik dapat menurunkan
kadar HbA1c darah penderita UKD lebih besar dibandingkan terapi
konvensional?
2. Apakah pemberian terapi adjuvan oksigen hiperbarik dapat menurunkan
jumlah leukosit darah penderita UKD lebih besar dibandingkan terapi
konvensional?
3. Apakah pemberian terapi adjuvan oksigen hiperbarik dapat menurunkan
kadar kreatinin serum penderita UKD lebih besar dibandingkan terapi
konvensional?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi
oksigen hiperbarik dengan melihat perbaikan parameter hematologi dan biokimia
penderita DM dengan UKD Wagner 3-4.
1.3.2 Tujuan Khusus
Selanjutnya, penelitian ini mempunyai tujuan khusus seperti diuraikan
berikut ini:
1. Untuk mengetahui pengaruh terapi adjuvan oksigen hiperbarik, dengan
melihat penurunan kadar HbA1c darah penderita DM dengan UKD
Wagner 3-4.
2. Untuk mengetahui pengaruh terapi adjuvan oksigen hiperbarik, dengan
melihat penurunan jumlah leukosit darah penderita DM dengan UKD
Wagner 3-4.
3. Untuk mengetahui pengaruh terapi adjuvan oksigen hiperbarik, dengan
melihat penurunan kadar kreatinin serum penderita DM dengan UKD
Wagner 3-4.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat Akademik
Dengan mengetahui perbaikan HbA1c, leukosit, dan kreatinin serum pada
terapi adjuvan oksigen hiperbarik, maka ketiga variabel penelitian ini dapat
digunakan sebagai marker awal dari fungsi organ/sistemik penderita untuk
perbaikan DM dengan UKD Wagner 3-4.
1.4.2 Manfaat Praktis
Dengan mengetahui perbaikan HbA1c, leukosit, dan kreatinin serum pada
terapi adjuvan oksigen hiperbarik, maka terapi oksigen hiperbarik dapat dipakai
sebagai terapi konvensional penderita DM dengan UKD Wagner 3-4.
Perbaikan kondisi penderita UKD dengan TOH, maka dapat disusun sebuah
pedoman pemanfaatan TOH pada penderita DM dengan UKD Wagner 3-4
sebagai terapi konvensional.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ulkus Kaki Diabetik

2.1.1 Pengertian

Ulkus kaki diabetik adalah luka yang dialami oleh penderita diabetes
pada area kaki dengan kondisi luka mulai dari luka superficial, nekrosis
kulit, sampai luka dengan ketebalan penuh (full thickness), yang dapat
meluas kejaringan lain seperti tendon, tulang dan persendian, jika ulkus
dibiarkan tanpa penatalaksanaan yang baik akan mengakibatkan infeksi
atau gangrene. Ulkus kaki diabetik disebabkan oleh berbagai faktor
diantaranya kadar glukosa darah yang tinggi dan tidak terkontrol,
neuropati perifer atau penyakit arteri perifer. Ulkus kaki diabetik
merupakan salah satu komplikasi utama yang paling merugikan dan paling
serius dari diabetes melitus, 10% sampai 25% dari pasien diabetes
berkembang menjadi ulkus kaki diabetik dalam hidup mereka (Fernando,
et al., 2014; Frykberg, et al., 2006; Rowe, 2015; Yotsu, et al., 2014).

2.1.2 Etiopatologi

Ulkus kaki diabetik terjadi sebagai akibat dari berbagai faktor,


seperti kadar glukosa darah yang tinggi dan tidak terkontrol, perubahan
mekanis dalam kelainan formasi tulang kaki, tekanan pada area kaki,
neuropati perifer, dan penyakit arteri perifer aterosklerotik, yang semuanya
terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang tinggi pada penderita diabetes.
Gangguan neuropati dan vaskular merupakan faktor utama yang
berkonstribusi terhadap kejadian luka, luka yang terjadi pada pasien
diabetes berkaitan dengan adanya pengaruh saraf yang terdapat pada kaki
yang dikenal dengan nuropati perifer, selain itu pada pasien diabetes juga
mengalami gangguan sirkulasi, gangguan sirkulasi ini berhubungan
dengan peripheral vascular diseases. Efek dari sirkulasi inilah yang
mengakibatkan kerusakan pada saraf-saraf kaki.

Diabetik neuropati berdampak pada sistem saraf autonomi yang


mengontrol otot-otot halus, kelenjar dan organ viseral. Dengan adanya
gangguan pada saraf autonomi berpengaruh pada perubahan tonus otot
yang menyebabkan gangguan sirkulasi darah sehingga kebutuhan nutrisi
dan metabolisme di area tersebut tidak tercukupi dan tidak dapat mencapai
daerah tepi atau perifer. Efek ini mengakibatkan gangguan pada kulit yang
menjadi kering dan mudah rusak sehingga mudah untuk terjadi luka dan
infeksi. Dampak lain dari neuropati perifer adalah hilangnya sensasi
terhadap nyeri, tekanan dan perubahan temperatur (Chuan, et al., 2015;
Frykberg, et al., 2006; Rowe, 2015; Syabariyah, 2015).

2.1.3 Klasifikasi

Klasifikasi ulkus kaki diabetik diperlukan untuk berbagai tujuan,


diantaranya yaitu untuk mengetahui gambaran lesi agar dapat dipelajari
lebih dalam tentang bagaimana gambaran dan kondisi luka yang terjadi.
Terdapat beberapa klasifikasi luka yang sering dipakai untuk
mengklasifikasikan luka diabetes dalam penelitian-penelitian terbaru,
diantaranya termasuk klasifikasi Kings College Hospital, University of
Texas klasifikasi, klasifikasi PEDIS, dll. Tetapi tedapat dua sistem
klasifikasi yang paling sering digunakan, dianggap paling cocok dan
mudah digunakan yaitu klasifikasi menurut Wagner-Meggitt dan
University of Texas (James, 2008; Jain, 2012; Oyibo, et al., 2001).
Tabel 2.1 Klasifikasi Ulkus Kaki Diabetik Wagner-Meggit

Grade Deskripsi
0 Tidak terdapat luka, gejala hanya seperti nyeri
1 Ulkus dangkal atau superficial
2 Ulkus dalam mencapai tendon
3 Ulkus dengan kedalaman mencapai tulang
4 Terdapat gangrene pada kaki bagian depan
5 Terdapat gangrene pada seluruh kaki

Klasifikasi ini [Tabel 2.1] telah dikembangkan pada tahun 1970-an,


dan telah menjadi sistem penilaian yang paling banyak diterima secara
universal dan digunakan untuk ulkus kaki diabetik (James, 2008; Mark &
Warren, 2007).
Tabel 2.2 Klasifikasi Ulkus Kaki Menurut University of Texas

Grade 0 Grade 1 Grade 2 Grade 3


Stage A Pre/post Luka Luka Luka
ulserasi, superfisial, menembus ke menembus ke
dengan tidak tendon atau tulang atau
jaringan melibatkan kapsul tulang sendi
epitel yang tendon atau
lengkap tulang
Stage B Infeksi Infeksi Infeksi Infeksi
Stage C Iskemia Iskemia Iskemia Iskemia
Stage D Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan Infeksi dan
Ismekia Ismekia Ismekia Ismekia

Klasifikasi University of Texas merupakan kemajuan dalam


pengkajian kaki diabetes. Sistem ini menggunakan empat nilai, masing-
masing yang dimodifikasi oleh adanya infeksi (Stage B), iskemia (Stage
C), atau keduanya (Stage D). Sistem ini telah divalidasi dan digunakan
pada umumnya untuk mengetahui tahapan luka dan memprediksi hasil dari
luka yang bisa cepat sembuh atau luka yang berkembang kearah amputasi
(James, 2008).
2. 2 Pengertian HbA1c
Hemoglobin A1c atau HbA1c adalah komponen minor dari hemoglobin
yang berikatan dengan glukosa. HbA1c disebut sebagai glikosilasi atau
hemoglobin glikosilasi atau glycohemoglobin. Hemoglobin adalah pigmen
pembawa oksigen yang memberikan warna merah pada sel darah merah dan juga
merupakan protein dominan dalam sel darah merah ( Airin Que, 2013 ).
Komponen utama hemoglobin adalah hemoglobin A (Adulf/dewasa), yaitu
sekitar 90% dari total komponen hemoglobin. Komponen minor hemoglobin
adalah hemoglobin A2 / HbA2 dan HbF, yang merupakan hasil rantai gen
hemoglobin yang berbeda δ dan Υ. Komponen minor lainnya adalah modikasi
post-translasional hemoglobin A yaitu A1a, A1b dan A1c . Hemoglobin A1c
merupakan komponen minor paling besar dari sel darah manusia, normalnya 4%
dari total hemoglobin A.
HbA1c adalah istilah secara internasional untuk glycosylatedhemoglobin
/glycated hemoglobinum yang direkomendasikan oleh ADA. HbA1c
(Hemoglobin Adulf 1c) merupakan derivat adulf hemoglobin (HbA), dengan
penambahan monosakarida (fruktosa atau glukosa).yang merupakan subtipe
utama dan fraksi terpenting yaitu sekitar 4-5% dari total hemoglobin yang banyak
diteliti di antara tiga jenis HbA1 (HbA1a,b dan c). Hemoglobin A1c merupakan
ikatan antara hemoglobin dengan glukosa sedangkan fraksi-fraksi lain merupakan
ikatan antara hemoglobin dan heksosa lain.
Struktur molekuler HbA1c adalah N-(1-doxy)-fructosyl-hemoglobin atau N-(1-
deoxyfructose-1-yl) hemoglobin beta chain.
Hemoglobin A1c adalah glukosa stabil yang terikat pada gugus N-terminal
pada rantai HbA0, membentuk suatu modifikasi post translasi sehingga glukosa
bersatu dengan kelompok amino bebas pada residu valin N-terminal rantai β
hemoglobin. Schiff base yang dihasilkan bersifat tidak stabil, kemudian melalui
suatu penyusunan ulang yang ireversibel membentuk suatu ketoamin yang stabil.
Glikasi dapat terjadi pada residu lisin tertentu dari hemoglobin rantai α dan β,
glikohemoglobin total atau total hemoglobin terglikasi yang dapat diukur, dikenal
dengan HbA1c. Glikasi hemoglobin tidak dikatalisis oleh enzim, tetapi melalui
reaksi kimia akibat paparan glukosa yang beredar dalam darah pada sel eritrosit.
Laju sintesis HbA1c merupakan fungsi konsentrasi glukosa yang terikat pada
eritrosit selama pemaparan. Konsentrasi HbA1c tergantung pada konsentrasi
glukosa darah dan usia eritrosit, beberapa penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara konsentrasi HbA1c dan rata-rata kadar glukosa darah (Sri
Rahayu P, 2014).
Kadar HbA1c normal adalah 3,5%-5%. Kadar rata-rata glukosa darah 30 hari
sebelumnya merupakan kontributor utama HbA1c. Kontribusi bulanan rata-rata
glukosa darah terhadap HbA1c adalah: 50% dari 30 hari terakhir, 25% dari 30-60
hari sebelumnya dan 25% dari 60-120 hari sebelumnya. Hubungan langsung
antara HbA1c dan rata-rata glukosa darah terjadi karena eritrosit terus menerus
terglikasi selama 120 hari masa hidupnya dan laju pembentukan glikohemoglobin
setara dengan konsentrasi glukosa darah, oleh sebab itu pengukuran HbA1c
penting untuk kontrol jangka panjang status glikemi pada pasien diabetes.

2.3 Pengertian Kreatinin


Kreatinin adalah protein yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang
dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam urin
dalam kecepatan yang sama, kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui
kombinasi filtrasi dan sekresi, konsentrasinya relative konstan dalam plasma dari
hari ke hari, kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya
gangguan fungsi ginjal (Corwin J.E, 2001).
Kadar kreatinin berbeda setiap orang, umumnya pada orang yang berotot
kekar memilikikadar kreatinin yang lebih tinggi daripada yang tidak berotot.Hal
ini juga yang memungkinkan perbedaan nilai normal kreatinin pada wanita dan
laki-laki. Nilai normal kreatinin pada wanita adalah 0,5-0,9 mg/dl, sedangkan
laki-laki adalah 0,6-1,1 mg/dl.
Sebagai petunjuk, peningkatan dua kali lipat kadar kreatinin serum
mengindikasikan adanya penurunan fungsi ginjal sebesar 50%, demikian juga
peningkatan kadar kreatinin tiga kali lipat mengindikasikan adanya penurunan
fungsi ginjal sebesar 75% (Soeparman dkk, 2001).

2.4 Pengertian Leukosit


Leukosit adalah sistem pertahanan tubuh yang mobil terhadap benda- benda
asing yang masuk ke dalam tubuh. Sel-sel leukosit dibentuk dalam sumsum tulang
dan jaringan limfe (limfosit). Leukosit dibagi atas 2 (dua) kelompok yaitu
granulosit (neutrofil, eosinofil dan basofil) dan non granulosit (monosit dan
limfosit). Leukosit hidup selama 4-5 hari, 50-70% dari leukosit adalah neutrofil.
Neutrofil akan meningkat (neutrofilia) sebagai respon terhadap inflamasi atau
infeksi. Neutrofil dapat memusnahkan parasit-parasit yang masuk ke dalam tubuh,
dan dapat pula mencegah reaksi lokal terhadap alergi agar tidak menyebar ke
seluruh tubuh. Basofil mengandung heparin dan histamin. Zat-zat ini dikeluarkan
apabila ada inflamasi (Baradero dkk, 2009).
Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti, disebut juga sel darah
putih. Rata-rata jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 5000-
9000/mm3, bila jumlahnya lebih dari 10.000/mm3, keadaan ini disebut
leukositosis, bila kurang dari 5000/mm3 disebut leukopenia (Effendi, 2003).
Leukosit terdiri dari dua golongan utama, yaitu agranular dan granular.
Leukosit agranular mempunyai sitoplasma yang tampak homogen, dan intinya
berbentuk bulat atau berbentuk ginjal. Leukosit granular mengandung granula
spesifik (yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair) dalam
sitoplasmanya dan mempunyai inti yang memperlihatkan banyak variasi dalam
bentuknya (Cambrigde Communication Limited, 2008).
Hasil penelitian Putra (2013) menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan
yang signifikan selisih nilai hemoglobin, hematokrit, laju endap darah, hitung
trombosit, hitung leukosit, hitung segment neutrofil, hitung limofisit dan hitung
monosit sebelum dan sesudah hemodialisis menggunakan dialyzer baru dan re-use
ke-4. Hal ini disebabkan oleh kinerja, efisiensi dan kualitas membran dialyzer
yang masih baik serta proses pencucian yang sesuai dengan standar sampai
penggunaan ulang ke-4, untuk hitung eosinofil yang didapatkan hasil signifikan,
dapat dijelaskan oleh karena first use syndrome pada penggunaan dialyzer baru
yang dapat memicu hipereosinofilia. Hasil penelitian Wicaksono (2009) ada
perbedaan leukosit antara pre hemodialisa dan post hemodialisa.

2.5 Terapi Oksigen Hiperbarik


Terapi oksigen hiperbarik (TOHB) didefinisikan oleh the Undersea and
Hyperbaric Medical Society (UHMS) sebagai terapi di mana pasien bernafas
dengan oksigen 100% secara intermiten pada ruang terapi (chamber) yang diberi
tekanan di atas level permukaan laut (1 atmosfer absolut, ATA). Pengobatan
TOHB dalam medis menggunakan oksigen pada tekanan ambien lebih tinggi dari
tekanan atmosfer. Terapi rekompresi untuk penyakit dekompresi, dimaksudkan
untuk menekan efek dari gelembung gas sistemik secara fisiologik, serta
mengurangi ukuran dan gas terlarut. (Weaver, 2014)
Penggunaan oksigen bertekanan tinggi sudah dikenal sejak tahun 1662.
Pada tahun 1917, Drager berhasil memanfaatkan TOHB untuk decompresion
sickness, dan secara lambat laun mulai berkembang. Pada tahun 1960-an Boerema
meneliti penggunaan TOHB yang larut secara fisik dalam darah, sehingga dapat
memberi hidup dalam keadaan tanpa hemoglobin yang disebut life without blood.
Lebih dari 40 tahun terakhir TOHB telah direkomendasikan dan digunakan dalam
berbagai macam kondisi medis TOHB telah berhasil digunakan sebagai terapi
tambahan untuk penyembuhan luka. Non-healing wounds menjadi salah satu
sasaran utama studi untuk dokter hiperbarik dan penggunaan TOHB sebagai
tambahan telah disetujui untuk digunakan dengan berbagai cara penelitian dan uji
coba. (Bhutani S, 2012)
Non-healing wounds adalah gagalnya penyembuhan luka dalam jangka
waktu yang seharusnya meskipun dengan pengobatan yang adekuat. Etiologi luka
ini biasanya karena hipoksia yang mana TOHB menjadi sangat efektif. TOHB
mengarah ke perbaikan angiogenesis melalui mekanisme multifaktorial.
Proliferasi fibroblas dan dan sintesis kolagen tergantung oksigen sedang kan
kolagen merupakan matriks dasar untuk angiogenesis. Selain itu, TOHB mungkin
merangsang faktor pertumbuhan, terutama faktor pertumbuhan endotel vascular
(VEGF) yang melibatkan angiogenesis dan mediator lain dari proses
penyembuhan luka. Oksigen hiperbarik juga telah terbukti memiliki aktivitas
antimikroba langsung dan tidak langsung; khususnya meningkatkan leukosit.
Penurunan edema karena vasokonstriksi sistemik memungkinkan difusi yang
lebih baik dari oksigen dan nutrisi melalui jaringan, dan juga mengurangi tekanan
pada pembuluh dan struktur di sekitarnya. (Bhutani S, 2012)
Beberapa indikasi untuk penggunaan TOHB selain untuk decompression
sickness antara lain: arterial gas embolism (AGE), carbon monoxide poisoning,
gangrene, compromised grafts and flaps, crush injuries, idiopathic sudden
sensorineural hearing loss, intracranial abscess, necrotizing soft tissue infection,
osteomyelitis, severe anemia, dan thermal burn. (Weaver LK, 2014)