Anda di halaman 1dari 17

Jurnal dan Tahun 1

Chemistry Education Research and Practice


Volume 18, halaman 288-303
DOI : 10.1039/c6rp00167
2016
Judul dan Penulis Argumentation to foster pre-service science teacher’ knowledge, competency, and attitude
on the domains of chemical literacy of acids and bases
C. Cigdemoglu1, H.O.Arslan2, dan A.Cam3
Latar Belakang Praktik argumentasi memiliki potensi untuk berkontribusi pada literasi ilmiah. Namun, praktik ini tidak secara luas
dimasukkan dalam ruang kelas sains, sehingga pengaruhnya terhadap domain literasi ilmiah masih belum terungkap.
Cavagnetto (2010) menekankan pentingnya intervensi berbasis argument untuk meningkatkan literasi ilmiah karena
memungkinkan pengembangan keterampilan komunikasi, kesadaran metakognitif, dan berpikir kritis. Konsep asam dan
basa memiliki aplikasi yang sangat luas terutama dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya bahan kimia dalam rumah
tangga, dalam media seperti berita tentang hujan asam, dan dalam industri yang semuanya memuat konsep-konsep yang
begitu akrab dengan siswa, dan karena itu layak untuk diteliti. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengungkapkan efek intervensi tipe argumentasi imersi pada pengembangan dimensi literasi kimia calon guru sains.
Tujuan  Untuk mengungkapkan efek argumentasi pada tiga domain literasi kimia yang terkait dengan konsep asam dan
basa.
Pertanyaan penelitian :
 Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam skor pengetahuan konten sebelum dan sesudah tes pada calon guru
sains?
 Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam skor kompetensi pra dan pasca tes calon guru sains?
 Apakah ada perbedaan yang signifikan dalam skor sikap sebelum dan sesudah ujian dari calon guru sains?
 Apa bukti untuk efek argumentasi imersi pada pengetahuan konten calon guru sains dan domain literasi kimia
dalam konsep asam basa?
Metode (desain penelitian, sampel, Desain penelitian : Pre Eksperimen (satu group)
instrument, dan Teknik pengumpulan Satu kelompok pre-test/ post-test digunakan dengan membandingkan efek argumentasi pada domain literasi kimia untuk
dan analisis data)
calon guru sesudah dan sebelum intervensi.
Sampel :
29 peserta calon guru sains yang terdiri dari 18 perempuan dan 11 laki-laki.
Note : jumlah partisipan sebanyak 71 mahasiswa yang mengambil pelatihan ini. 15 mahasiswa tidak hadir saat pre-test
dan 27 tidak hadir saat post-test, jadi masih tersisa 29 mahasiswa yang mengikuti pre-test dan post-test.
Instrumen :
Set item literasi kimia (open-ended atau pertanyaan terbuka)
Keterampilan literasi kimia peserta dinilai menggunakan set item literasi kimia open-ended.
Aspek Kontekstual : 5 item di mana (3 item) diadopsi dari (Cam dan Geban, 2016), dan (2 item) dari sains PISA 2006.
 Item yang diadopsi dari (Cam dan Geban, 2016) dan PISA 2006.
 Pohon zaitun : asam, basa, atau netral (menentukan pH jenis tanah yang sesuai untuk menanam pohon
zaitun).
 Lambung: sifat asam dan basa pada lambung (apakah asam dalam lambung berbahaya atau tidak) serta
kekuatan asam tersebut.
 Teko (cawan) : teko yang berasal dari kalsium karbonat dan diisikan air lime, apakah asam pada lemon
bereaksi dengan kalsium karbonat pada teko atau cawan.
 Kerusakan gigi : mengurangi keasaman pada gigi dan komponen pasta gigi yang dapat mengurangi
kerusakan gigi.
 Hujan asam : reaksi kimia dalam pembentukan hujan asam dan sumber keasamannya.
Teknik Pengumpulan :
Data kuantitatif berdasarkan hasil pre-test dan post-test
Data kualitatif berdasarkan rekaman video selama intervensi dan catatan-catatan yang ditranskripsikan dan dianalisis.
Analisis Data :
 Analisis Data Kuantitatif
Berdasarkan kerangka kerja, rubrik memiliki tiga bagian : pengetahuan konten (CK), kompetensi (CC), dan sikap
(Affective). Jika jawaban mahasiswa benar diberikan skor 2, jika sebagian benar diberikan skor 1, dan jika salah
diberikan skor 0. Untuk menguji apakah ada perbedaan yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah tes,
maka dilakukan uji sampel t-test dengan bantuan HPWS18 (Predictive Analytics Software).
 Analisis Data Kualitatif
Rekaman video selama intervensi dan catatan-catatan yang ditranskripsikan dan dianalisis menurut tiga kriteria
yaitu : keberadaan argument, frekuensi argument, dan tingkatan argument.
Keberadaan argument : apakah argument itu ada atau tidak.
Frekuensi argument : berapa kali argument itu terjadi selama enam minggu.
Tingkat argument : aspek apa saja yang termasuk dalam argument tersebut. Faktor inti, klaim, dan jaminan
ketika berargumen merupakan bentuk dari argument dasar. Sedangkan, sanggahan atau dukungan pada faktor
inti merupakan bentuk argument tingkat tinggi.
Hasil Penelitian  Pertama dilakukan uji-t sampel independent untuk membandingkan skor post-test (15 mahasiswa yang tidak
mengikuti pretest) dengan 29 mahasiswa yang mengikuti pre-test dan post-test. Mahasiswa yang tidak mengikuti
pretest diberi nilai 0 dan sisanya 1. Akan tetapi secara statisti tidak terdapat perbedaan yang signifikan sehingga
peserta yang tidak mengikuti pre-test kemudian dihilangkan atau dikeluarkan. Sama halnya dengan 27
mahasiswa yang tidak mengikuti post-test dengan 29 mahasiswa yang mengikuti pretest dan post-test. Hasil
menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara peserta yangtidak mengikuti post-test dengan 29
mahasiswa yang mengikuti pre-test dan post-test. Sehingga, mahasiswa yang tidak mengikuti post-test
dihilangkan atau dikeluarkan. Hasil penelitian menujukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara
skor pre-test dan post-test pada aspek pengetahuan konten (CK) [t (54) = 0,155, p 4 0,05], skor pada aspek
kompetensi (CC) [ t (54) = 0,466, p 4 0,05], skor aspek sikap (Affective) [ t (54) = 10,537, p 4 0,05]. Oleh karena
itu, mahaiswa yang tidak mengikuti pre-test maupun post-test dihilangkan atau keluarkan.
 Menurut hasil, skor rata-rata post-test kompetensi (CC) secara signifikan lebih tinggi daripada skor pre-test
kompetensi (CC), yaitu [ t (28) = 2,550].
 Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tiga kompetensi ilmiah kunci: mengidentifikasi masalah ilmiah,
menjelaskan fenomena secara ilmiah, dan menggunakan bukti ilmiah, seperti yang dijelaskan oleh fitur
PISA2006, mau tidak mau dapat ditingkatkan dengan menerapkan praktik argumen imersi.

Fokus yang dikaji Argumentasi calon guru pada domain literasi kimia pada materi asam dan basa.
Jurnal dan Tahun 2
Internasional Journal of Human Sciences
Volume 14, Issue 4, Halaman 3504-3520
DOI: 10.14687/jhs.v14i4.4949
2017
Judul dan Penulis Quality of Preservice Teachers Argumentation in Sosioscientific Issues Context
Dilek Karisan1, Ozgul Yilmaz Tuzun2, dan Dana Lewis Zeidler
Latar Belakang Reformasi pendidikan sains saat ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan sains tidak hanya untuk mengajarkan
konsep-konsep ilmiah tetapi juga untuk membantu siswa memahami masalah-masalah sosial. Karakteristik argumentasi
dengan fitur sosial, verbal, dan intelektualnya sangat membantu untuk melibatkan siswa dengan masalah yang tidak
terstruktur. Keberhasilan argumentasi mendorong peneliti untuk fokus pada keterampilan argumentasi siswa. Oleh
karena pentingnya mendidik calon guru sains dalam praktik argumentasi sehingga mereka dapat merancangkan
argumentasi di ruang kelas sains serta mendukung argumentasi siswa. Salah satu alasan untuk implementasi argumentasi
yang jarang dilakukan, peneliti menegaskan adalah karena kurangnya pengetahuan pedagogis guru untuk merancang
pelajaran yang melibatkan siswa dalam berargumentasi.
Tujuan Mengeksplorasi kualitas keterampilan argumentasi calon guru sains yang diungkapkan dalam konteks SSI.
Metode (desain penelitian, sampel, Desain penelitian :
instrument, dan Teknik pengumpulan Studi kasus kualitatif.
dan analisis data)
Pendekatan studi kasus kualitatif dianggap tepat karena penelitian ini mencari pemahaman mendalam dalam kondisi
kehidupan nyata untuk mencerminkan perspektif calon guru dalam batas-batas yang ditentukan.
Disorot bahwa tujuan penelitian studi kasus adalah untuk memahami kasus atau masalah secara mendalam.
Sampel :
20 calon guru atau mahasiswa S1 dari Departemen Pendidikan Dasar di Universitas Negeri di Turki (19 perempuan dan
1 laki-laki). Dari 20 mahasiswa tersebut, 1 mahasiswa tahun ke dua di Program Pendidikan Sains Dasar (ESE), 1
mahasiswa senior yang akan lulus pada akhir semester, sedangkan 18 lainnya adalah mahasiswa junior di Program
Pendidikan Anak Usia Dini (ECE).
Partisipan secara sukarela mengikuti pelatihan ini. Selain itu partisipan juga menghadiri beberapa program karir termasuk
seminar, presentasi, dan kegiatan dengan mahasiswa lain untuk meningkatkan pengembangan professional mereka.
Instrumen : Pola Argumentasi Toulmin (TAP) yang telah dimodifikasi, yang dikembangkan dalam diskusi kelompok
tentang setiap masalah kontroversial, digunakan sebagai sumber data.
Teknik Pengumpulan :
 Sekelompok mahasiswa dibentuk pada awal semester menjadi empat kelompok siswa yang bertujuan untuk
menyiapka presentasi menggunakan power point untuk salah satu dari keempat masalah yang telah diberikan dan
mempertanggungjawabkan dengan apa yang mereka presentasikan.
 Pada akhir pekan siswa juga menghabiskan waktu di luar kelas untuk persiapan presentasi dengan mencari
informasi yang relevan terkait masalah yang akan dipresentasikan. Kompilasi, analisis dan sintesis informasi yang
mereka peroleh akan dikirim dalam bentuk ringkasan kepada mentor mereka.
 Mentor bertanggungjawab untuk memeriksa hasil ringkasan dan memberikan umpan balik pada ringkasan yang
telah dibuat.
 Mentor juga mendorong presenter (mahaiswa) untuk memberikan sanggahan kepada kelompok yang akan
mempresentasikan materinya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan, melibatkan dalam diskusi kelas,
memperkuat ide-ide, membahas berbagai perspektif tentang masalah, membangun posisi moral dan argument,
dan memperdalam peningkatan kedalaman konten.
Analisis Data :
 Diskusi kelas di analisis menggunakan dari Pola Argumentasi Toulmin (TAP) yang telah dimodifikasi yang
digambarkan oleh Walker dan Zeilder (2007). Bentuk analisis ini memungkinkan untuk mempertimbangkan pada
berbagai tingkatan, sebagai serangkaian gagasan terkait yang saling berhubungan.
 Rubrik evaluasi mencakup empat tingkat (nol hingga tiga) yang digunakan untuk menilai putaran setiap giliran
percakapan siswa dari transkripsi diskusi kelas.
 Skema pengkodean adalah sebagai berikut : level 0 - tidak ada bukti atau klaim yang diberikan dalam justifikasi;
level 1 – pertimbangan yang salah atas bukti, klaim, tuntutan, dukungan atau bantahan ide-ide yang bertentangan
terkait dengan pengetahuan materi pelajaran; level 2 – pertimbangan bukti non-fisik, dan yang lainnya; level 3 –
pertimbangan yang benar atas bukti spesifik; (setiap diskusi atau arahan di luar topik dikategorikan sebagai “tidak
diperingkat”).
 Secara khusus, lima belas transkip dipilih secara acak, dinilai secara independent oleh penulis dan tiga mahasiswa
doctoral yang suda ahli dengan rubrik penilaian.
 Kemudian diadakan diskusi di mana penilai memiliki kesempatan untuk memberikan alasan untuk penilaian
mereka tentang wacana wacana di kelas dan membentuk consensus tentang titik mulai.
 Para penilai melakukan perjanjian lebih dari 90%.
Hasil Penelitian  Pada kegiatan diskusi di kelas mengungkapkan bahwa, sebanyak 290 putaran memiliki perubahan percakapan
dalam perdebatan terkait zat aditif makanan.
 Pada masalah terkait sumber-sumber energi alternatif secara total terdapat 380 putaran percakapan. Jika dilihat
lebih tinggi dibandingkan sebelumnya (pada masalah terkait zat aditif makanan). Hal ini dikarenakan partisipan
sangat akrab dengan masalah energi karena masalah ini sedang diperdebatkan di Turki.
 Pada masalah
Fokus yang dikaji

Jurnal dan Tahun 3


Journal of Turkish Science Education
Volume 15, Issue 1, Halaman 57-79
DOI 10.12973/tused.10221a
2018

Judul dan Penulis Analysis of The Forms of Argumentation of Teachers in Training in The Context of A Socio-Scientific Issue
Nidia Torres1 dan Jose Gabriel Cridtancho2
Latar Belakang Sampson dan Clark (2008) menunjukkan beberapa aspek yang memungkinkan kami untuk menganalisis kualitas
argumen siswa:
(1) struktur atau kompleksitas argumen (yaitu, komponen argumen),
(2) isi argumen (yaitu, keakuratan atau kecukupan berbagai komponen dalam argumen ketika dievaluasi dari perspektif
ilmiah),
(3) sifat dasar pembenaran (yaitu, bagaimana ide atau klaim didukung atau divalidasi dalam argumen).
a. Studi yang dilakukan oleh Asterhan dan Schwarz (2007), Kuhn (2010), Berland dan Lee (2012), menunjukkan bahwa
mendukung proses argumentasi di kelas berkontribusi pada pembangunan sudut pandang yang solid.
b. Duschl (2008), Jiménez Aleixandre dan Erduran (2008); Berland dan Lee (2012); Evagorou dan Osborne (2013);
Namdar dan Shen (2016) menunjukkan pentingnya menyertakan argumentasi dalam proses pedagogik, karena ini
merupakan kesempatan untuk memiliki akses ke pengetahuan ilmiah dan cara memahami praktik ilmiah.
c. Studi tentang bentuk argumen dan perdebatan dalam lingkungan pelatihan guru membantu proses konstruksi
pengetahuan dalam pendidikan ilmiah yang memungkinkan untuk dialog masa depan dan proses sosial di kelas
(Plantin dan Muñoz 2011; Torres, 2016).
d. Mayoritas penelitian telah tertarik pada kualitas argumen, meskipun fakta bahwa, seperti yang ditunjukkan oleh
Dawson dan Venville (2010), ada kurangnya konsensus mengenai makna menilai kualitas argumentasi dalam
penelitian dengan SSI.
e. Penha (2012), kualitas argumen harus didasarkan pada dua fondasi: kualitas argumen yang digunakan dalam ide atau
proposisi yang berbeda dan kualitas cara mereka menentang.
Tujuan Untuk menganalisis bentuk-bentuk argumentasi mengenai pertanyaan sosial-ekonomi terkait dengan konsumsi kopi
Pertanyaan dalam penelitian :
Apa konsepsi argumentasi di antara sekelompok guru siswa dari gelar Sarjana di bidang Ilmu Pengetahuan Alam dan
Pendidikan Lingkungan? Apa jenis argumentasi dari sekelompok guru siswa dari gelar Sarjana di bidang Ilmu
Pengetahuan Alam dan Pendidikan Lingkungan.
Metode (desain penelitian, sampel, Desain penelitian : Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus
instrument, dan Teknik pengumpulan Sampel : 38 mahasiswa semester 8 jurusan Workshop Eksperimental tentang Ilmu Pengetahuan Alam berumur 20
dan analisis data)
hingga 26 tahun, dengan 15 laki-laki dan 23 perempuan yang terbagi menjadi 12 kelompok setiap kelompok terdiri dari
3 hingga 4 siswa
Instrumen :
Teknik Pengumpulan :
Melibat 3 kegiatan yaitu evaluasi awal, proses, dan refleksi tentang proses. Terbagi dalam 4 tahap diskusi oleh
mahasiswa.
Pertama, terkait dengan pengantar argumentasi ilmiah dan SSI. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam sesi ini
adalah:
1. Apa yang Anda pahami dengan argumentasi dalam sains? Apa yang termasuk di dalamnya?
2. Apakah Anda setuju dengan ide-ide yang diungkapkan dalam teks? Benarkan jawaban Anda.
3. Kondisi apa yang diperlukan untuk melakukan proses argumentatif di kelas sains?
4. Sebutkan contoh bidang studi di mana studi argumentasi ilmiah dapat dilakukan. Bagaimana ini bisa dilakukan?
(Jika itu berlaku, pilih kelas dan dasarkan jawaban Anda di atasnya).
Kedua adalah praktik eksperimental terkait dengan ekstraksi kafein yang akan memungkinkan diskusi tentang
penggunaan reagen kimia. Beberapa pertanyaan yang diajukan kepada siswa dalam praktik eksperimental tersebut
ditunjukkan di bawah ini:
1. Apa peran natrium bikarbonat dalam pengalaman?
2. Mengapa triklorometana digunakan dalam praktik?
3. Apa peran magnesium sulfat anhidrat dalam pengalaman?
4. Jelaskan proses distilasi. Data suhu mendidih bertepatan dengan yang dilaporkan dalam literatur. Benarkan jawaban
Anda. Komponen mana yang paling tidak stabil? Komponen mana yang dikumpulkan dalam tabung reaksi? Komponen
mana yang tertinggal dalam labu destilasi?
Tahap ketiga terkait dengan pengembangan urutan didaktik tentang konsumsi kopi. Terdapat 3 pertanyaan yang
diberikan pada tahap ini:
1. Jelaskan bagaimana argumen Kaldi dapat dibenarkan atau disangkal!
2. Berdasarkan data yang disajikan, kopi mana yang akan Anda konsumsi dan mengapa?
3. Mengapa kopi memiliki aroma tertentu? Apakah kopi instan dan kopi kacang utuh sama? Bagaimana mereka berbeda?
4. Apakah keasaman dalam kopi itu penting? Apa yang dimaksud?
Sesuai kondisi diskusi kelas dapat dikembangkan pertanyaan sebagai berikut:
5. Mario Pérez ingin menerapkan perawatan termal di industri kopinya. Namun, mengingat banyaknya artefak teknologi
yang ditawarkan saat ini, ia membutuhkan bimbingan seorang profesional dalam sains untuk membuat pilihan terbaik.
Apa rekomendasi yang akan Anda berikan kepada Mario?
6. Cari informasi tentang CH2Cl2, kloroform, dan benzena. Jelaskan efek zat yang disebutkan di atas pada kesehatan
manusia dan lingkungan.
Zat apa lagi yang digunakan di rumah tangga yang mengandung metil klorida?
Pada tahap keempat, panduan yang memungkinkan untuk menganalisis proses dialog dari urutan dikembangkan dari 3
tahap sebelumnya.
Analisis Data :
Digunakan analisis data kualitatif. Transkripsi informasi dilakukan dari unit analisis dari dokumen yang ditulis oleh
peserta dan rekaman yang dibuat di sekitar diskusi dalam kelompok kerja. Terdapat 3 aspek analisis, yaitu konten
argumentasi, struktur argumentasi, dan pelaksanaan diskusi. Setiap aspek terdapat 3 skor dengan kriteria yang berbeda-
beda.
Hasil Penelitian Tahap 1
Aspek-aspek utama yang diidentifikasi adalah: a) implikasi pedagogik dan didaktik diperlukan untuk argumentasi; b)
hubungan antara sains dan argumentasi, di mana siswa menunjukkan unsur-unsur epistemologi. Hasil yang didapatkan
yaitu argumentasi dan konteks (komponen disiplin, pengalaman, dan didaktik diperlukan untuk berdebat) sebanyak 2
kelompok, validasi ide (ini adalah proses pemikiran yang memungkinkan untuk membandingkan teori dengan apa yang
kita pikirkan) sebanyak 5 kelompok, dan hubungan antara argumentasi dan sains (kapasitas untuk menjelaskan sebanyak
6 kelompok dan mendukung ide dengan sains dan sains adalah proses argumentatif yang berguna untuk merumuskan
teori sebanyak 1 kelompok).
Tahap 2
Berdasarkan 3 aspek analisis, maka didapatkan hasil setiap aspek tentang apa aktifitas yang dilakukan oleh sodium
bikarbonat? sebagai berikut :
a. Aspek konten dengan nilai 3, dengan contoh argumennya adalah sodium bikarbonat adalah senyawa alkali
disampaikan oleh 3 kelompok dan sodium bikarbonat adalah senyawa dasar disampaikan oleh 4 kelompok.
b. Aspek konten dengan nilai 2, dengan contoh argumennya adalah Sodium bikarbonat mengurangi kelarutan kafein
dalam kopi disampaikan oleh 5 kelompok dan sodium bikarbonat mengandung karbon dan oksigen disampaikan oleh
3 kelompok.
c. Aspek konten dengan nilai 1, dengan contoh argumennya adalah Sodium bikarbonat mengurangi aroma sebagian
disampaikan oleh 1 kelompok dan sodium bikarbonat menghilangkan zat cair disampaikan oleh 1 kelompok.
d. Aspek struktur dengan nilai 3, dengan contoh argumennya adalah sodium bikarbonat adalah zat alkali dan, untuk
alasan itu, menetralkan keasaman kopi dan menghasilkan CO2 disampaikan oleh 3 kelompok.
e. Aspek struktur dengan nilai 2, dengan contoh argumennya adalah Sodium bikarbonat adalah senyawa dasar, karena
alasan ini, ia menambah pH kopi disampaikan oleh 4 kelompok.
f. Aspek struktur dengan nilai 1 dengan contoh argumennya adalah sodium bikarbonat menghasilkan CO2 karena
mengandung karbon dan oksigen disampaikan oleh 4 kelompok.
g. Aspek bentuk pelaksanaan diskusi dengan nilai 3, dengan contoh argumennya adalah kopi memiliki warna gelap
karena natrium bikarbonat menetralkannya disampaikan oleh 2 kelompok.
h. Aspek bentuk pelaksanaan diskusi dengan nilai 2, dengan menanggapi beragam argumen, usulkan ide pelengkap,
tetapi tanpa mendukung mereka dengan sumber informasi atau menggunakan konsep yang tidak akurat.disampaikan
oleh 3 kelompok.
i. Aspek bentuk pelaksanaan diskusi dengan nilai 2, dengan jawaban yang diberikan oleh salah satu anggota kelompok
diterima, tanpa merinci disampaikan oleh 9 kelompok.
Kedua tentang triklorometana, apabila ditinjau dari ketiga aspek adalah :
a. Aspek konten dengan nilai 3, dengan contoh argumennya adalah triklorometana adalah pelarut dan memungkinkan
pembentukan dua lapisan disampaikan oleh 4 kelompok.
b. Aspek konten dengan nilai 2, dengan contoh argumennya adalah Triklorometana membentuk dua lapisan, seperti air
dan minyak disampaikan oleh dan sodium bikarbonat adalah senyawa dasar disampaikan oleh 4 kelompok,
Triklorometana tidak bercampur dengan air disampaikan oleh 1 kelompok, dan Triklorometana membentuk fase
organik dan anorganik disampaikan oleh 3 kelompok.
c. Aspek konten dengan nilai 1, dengan contoh argumennya adalah Kafein lebih mudah larut disampaikan oleh 2
kelompok.
d. Aspek struktur dengan nilai 3, dengan contoh argumennya adalah Triklorometana dan kafein dipisahkan karena
polaritas yang memungkinkan pembentukan dua lapisan disampaikan oleh 2 kelompok.
e. Aspek struktur dengan nilai 2, dengan contoh argumennya adalah Triklorometana membuat kopi tanpa kafein karena
merupakan pelarut dan memungkinkan pembentukan dua lapisan disampaikan oleh 4 kelompok, ditemukan campuran
tak bercampur disampaikan oleh 1 kelompok, dan meningkatkan kelarutan kafein disampaikan oleh 2 kelompok.
f. Aspek pelaksanaan diskusi dengan nilai 1, dengan contoh argumennya adalah jawaban yang diberikan oleh salah satu
anggota kelompok diterima disampaikan oleh 12 kelompok.
Tahap 3
Berdasarkan 3 aspek analisis, maka didapatkan hasil setiap aspek tentang apa aktifitas yang dilakukan oleh sodium
bikarbonat? sebagai berikut :
a. Aspek konten dengan nilai 2, dengan contoh argumennya adalah mereka menggunakan konsep tetapi tanpa
menjelaskan artinya (pemanasan tidak langsung). disampaikan oleh 3 kelompok.
b. Aspek konten dengan nilai 1, dengan penyampaian argumennya yang tidak menggunakan konsep disampaikan oleh
9 kelompok.
c. Aspek struktur dengan nilai 2, dengan kategori yang menggunakan pemanasan tidak langsung dilakukan oleh 3
kelompok, Pabrik yang menghasilkan produk berkualitas lebih baik disampaikan oleh 3 kelompok, dan Yang
memungkinkan untuk mendapatkan kopi yang lebih alami disampaikan oleh 2 kelompok.
d. Aspek struktur dengan nilai 1, dengan penyampaian bahwa Perawatan tergantung pada jenis kopi yang dibutuhkan
disampaikan oleh 1 kelompok.
e. Aspek pelaksanaan diskusi dengan nilai 3, dengan penyampaian bahwa mengusulkan ide-ide yang berlawanan dan
mendukung mereka dengan konsep, data, dan sumber informasi yang masuk ke detail dan meningkatkan argumentasi
dalam menanggapi argumen yang kurang konten atau tidak koheren disampaikan oleh 5 kelompok.
Aspek pelaksanaan diskusi dengan nilai 1, dengan jawaban yang diberikan oleh salah satu anggota kelompok diterima,
tanpa merinci disampaikan oleh 12 kelompok
Fokus yang dikaji a. Berdasarkan panduan pengantar hingga perlunya studi argumentasi dalam pengajaran sains, diamati bahwa kelompok
mengakui sebagai aspek mendasar kepemilikan referensi teoretis untuk dapat membuat proses argumentatif yang
efektif.
b. Para peserta menunjukkan bahwa argumentasi adalah proses yang diperlukan dalam validasi gagasan, dan mereka
mengakui bahwa argumentasi telah memungkinkan kemajuan pengetahuan ilmiah dan untuk menghasilkan refleksi
sehingga dapat mengkontraskan pendapat seseorang dengan landasan teori.
c. Aspek tahap 2 menunjukkan kebutuhan untuk mempertanyakan penggunaan semua bahan reaktif dalam praktik
eksperimental, untuk mendapatkan hubungan yang lebih baik antara apa yang diamati, artinya, dan penggunaan
konsep-konsep ilmiah. Aspek ini memberikan informasi tentang pemahaman isi ilmiah, yang dicapai oleh beberapa
siswa kami; dalam hal ini, beberapa konsepnya adalah: reaksi kimia, densitas, senyawa ionik dan kovalen, dan
polaritas.
d. Penelitian yang dilakukan menunjukkan perlunya memperkuat formasi lulusan masa depan dalam aspek formal
sehingga dapat membangun argumen dengan struktur yang koheren dan solid.
e. Dalam penelitian ini, tidak ada argumen yang menggambarkan jenis senyawa aromatik yang bertanggung jawab untuk
aroma kopi, seperti thiazole dan etylphenol.
f. Akhirnya, diamati bahwa para siswa menyajikan beberapa kesulitan dalam membenarkan secara kuat afirmasi mereka
berdasarkan konsep ilmiah. Untuk alasan ini, perlu ditekankan pada fakta bahwa argumentasi lebih dari sekedar
pendapat dan menjadi tindakan yang informatif semata.
g. Jadi, penting untuk menyoroti betapa pentingnya sanggahan dalam konteks ilmiah, mengingat bahwa mereka
merupakan cara untuk meningkatkan teori pengetahuan ilmiah dan, dari mereka, argumen dibenarkan dan
dipertanyakan. Penggunaan sanggahan merupakan kontribusi untuk mengembangkan pemikiran kritis pada siswa.
Hasil penelitian menunjukkan betapa pentingnya bahwa dalam proses belajar mengajar ada penekanan pada asimilasi
konsep yang diminta oleh masing-masing disiplin.
h. Temuan penelitian ini tampaknya bertepatan dengan Penha (2012), yang menyatakan bahwa pengembangan argumen
dalam ruang SSI dapat menyebabkan ide menjadi terlalu dekat satu sama lain, yang membuatnya sulit untuk memiliki
perspektif yang berlawanan. Untuk alasan ini, perlu untuk menggunakan argumen balasan yang membawa aspek-
aspek baru dan dimensi analisis lainnya ke dalam diskusi, untuk mempromosikan partisipasi siswa.

Jurnal dan Tahun 4


Chemistry Education Research and Practice
Volume 17, Halaman 111-119
DOI. 10.1039/c5rp00170f
2016
Judul dan Penulis Exploring The Impact Of Argumentation on Pre-service Science Teachers’ Conceptual Understanding
of Chemical Equilibrium
Mehmet Aydeniz1 dan Alev Dogan2
Latar Belakang 1. Konsep kesetimbangan kimia menjadi salah satu konsep yang paling sulit untuk siswa pahami
2. Banyak siswa maupun calon guru ipa miskonsepsi terhadap kesetimbangan kimia
3. Miskonsepsi terjadi dalam diri ekologi kognitif dan pada tahap perubahan setelah intruksi
4. Locaylocay et al (2005) menggunakan beberapa konstruktivis seperti analogi, diskusi kelompok kecil, dan penulisan
jurnal untuk mengatasi miskonsepsi mahasiswa terkait dengan bahan kimia.
Dampak positif dihasilkan dari mengeksplorasi argumentasi pada calon guru ipa tentang kesetimbangan kimia.
Tujuan Untuk mengetahui dampak argumentasi pada calon guru sains dalam memahami konsep kesetimbangan.
Metode (desain penelitian, sampel, Desain penelitian : Peneliti membandingkan hasil belajar dari dua kelompok mahasiswa yang mengambil kelas kursus
instrument, dan Teknik pengumpulan yang sama di bawah dua instruktur yang berbeda.
dan analisis data) Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif
Metode yang digunakan post-test only, untuk mengontrol karakteristik dari kedua kelompok mahasiswa
Untuk mengendalikan karakteristik mahasiswa secara keseluruhan, peneliti menggunakan hasil tes UTS dan UAS
mahasiswa yang tidak bergantung pada kesetimbangan kimia.
Tes yang digunakan untuk mengukur efek argumentasi
Sampel :
Instrumen :
Teknik Pengumpulan :
Analisis Data :
Hasil Penelitian
Fokus yang dikaji

Jurnal dan Tahun 5


Chemistry Education Research and Practice
Volume 18, Halaman 127-150
DOI. 10.1039/c6rp00076b
2017
Judul dan Penulis Reasearch on Evalution of Chinese Students’ Competence in Written Scientific Argumentation in
The Context of Chemistry
Yang Deng1 dan Houxiong Wang2
Latar Belakang Argumentasi saintifik tertulis memegang peran penting dalam sains karena sains bisa diajarkan melalui bahasa khususnya
bahasa tulisan. Di China masih jarang penelitian yang mengevaluasi tentang argumentasi saintifik. Penilaian tentang
argumentasi saintifik dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam membuat kurikulum untuk siswa di China.
Tujuan Mengevaluasi kemampuan argumentasi saintifik secara tertulis.
Metode (desain penelitian, sampel, Penelitian ini menggunakan mix method. Metode kualitiatif digunakan untuk mengkode jawaban siswa sedangkan
instrument, dan Teknik pengumpulan kuantitatif untuk kriteria performance dan kriteria konten. Ketika menganalisis data kuantitatif, data kualitatif juga
dan analisis data) digunakan untuk menjelaskan hasil.
Sampel adalah 578 siswa kelas 9, 10, 11, dan 12 dari 5 sekolah (Level A, B, dan C) di 4 kota berbeda.
Instrumen yang digunakan adalah soal-soal yang terdiri dari 5 topik yaitu Elemen dan sifatnya, reaksi kimia, percobaan
kimia, struktur senyawa, dan SSI di kimia.
Teknik analisis data menggunakan Rasch model dan anova.
Hasil Penelitian Secara umum, kemampuan argumentasi saintifik tertulis siswa di Cina rendah.
Tidak ada perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam hal argumentasi saintifik tertulis
Kemampuan siswa dalam argumentasi saintifik tertulis meningkat dari kelas 9 ke 11, dan menurun sedikit di kelas 12
namun tidak signifikan.
Untuk faktor level sekolah, kemampuan argumentasi saintifik tertulis siswa di sekolah dengan level A lebih baik dari B
(signifikan), dan level B lebih baik daripada level C (tidak signifikan)
Fokus yang dikaji Cara mengukur kemampuan argumentasi saintifik tertulis.