Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ISK (INFEKSI


SALURAN KEMIH)

Pembimbing :

Ns. Tri Mochartini, S.Kep., M.Kep


Ns. Seven Sitorus, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.MB
Ilah Muhafilah, S.Kp., M.Kes.

DISUSUN OLEH :

Nanda Putiharsyani Subhan 1032161012

UNIVERSITAS MOHAMMAD HUSNI THAMRIN

FAKULTAS KESEHATAN PROGRAM STUDI SARJANA


KEPERAWATAN

2019/2020

1
LAPORAN PENDAHULUAAN KEPERAWATAN DEWASA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TN……/NY…..

DENGAN EPILEPSY DIRUANG AZALEYA RSUD CHASBULLAH


ABDULMAJID BEKASI ( 23 s.d 28 Desember 2019)

A. Pengertian
Infeksi saluran kemih (ISK) adalah ditemukannya bakteri pada urine di kandung
kemih, yang umumnya steril. Istilah ini dipakai secara bergantian dengan istilah
infeksi urin. Termasuk pula berbagai infeksi di saluran kemih yang tidak hanya
mengenai kandung kemih (prostatitis, uretritis) (Arief Mansjoer, 2008).

Infeksi saluran kemih di diagnosis dengan membiak organisme spesifik. Bakteri


penyebab paling umum adalah Escheria Coli, organisme aerobik yang banyak
terdapat di daerah usus bagian bawah (Tambayong, 2008).

Infeksi saluran kemih adalah berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam saluran


kemih, yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus atau
mikroorganisme lain. (Suharyanto Toto, 2009).

B. Etiologi
Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK (Infeksi Saluran kemih) antara
lain :
1. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK (Infeksi saluran Kemih) uncomplicated
(simple).
2. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK (Infeksi saluran kemih)
complicated.
3. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan lain- lain.

Prevalensi penyebab ISK (Infeksi Saluran kemih) pada usia lanjut antara lain :
1. Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung
kemih yang kurang efektif.
2. Mobilitas menurun.

2
3. Nutrisi yang sering kurang baik.
4. Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral.
5. Adanya hambatan pada aliran urin.
6. Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

C. Patofisiologi
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui :
1. Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat.
2. Hematogen.
3. Limfogen.
4. Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.
Faktor-faktor yang mempermudah terjadinya infeksi saluran kemih yaitu:
1. Bendungan aliran urine
a. Anatomi konginetal.
b. Batu saluran kemih.
c. Oklusi ureter ( sebagian atau total ).
2. Urine sisa dalam buli - buli karena :
a. Neurogenik bladder.
b. Striktur uretra.
c. Hipertropi prostat
3. Gangguan metabolik
a. Hiperkalsemia.
b. Hipokalemia.
c. Apamaglobulinemia.
d. Instrumentasi.
e. Dilatasi uretra sistoskopi
4. Kehamilan
a. Faktor statis dan bendungan.
b. PH urine yang tinggi sehingga mempermudah pertumbuhan kuman.
Infeksi traktus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang
naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempl pada permukaan

3
mukosa. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat
pada dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan
melalui berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap,
gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi
meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme
normal. Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi sistisis dan pielonefritis.
Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens.
Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi
di satu atau di kedua ginjal.
Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai
pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Sistitis
(inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya
infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik rine dari uretra ke
dalam kandung kemih (refluks urtrovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter
atau sistoskop.
Uretritis suatu inflamasi biasanya adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang
digolongkan sebagai general atau mongonoreal. Uretritis gnoreal disebabkan oleh
niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis nongonoreal,
uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan
oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum.
Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal,
tobulus dan jaringan intertisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai
kandung kmih melalui uretra dan naik ke ginjal meskipun ginjal 20 % sampai 25 %
curah jantung; bakteri jarang mencapai ginjal melalui aliran darah ; kasus
penyebaran secara hematogen kurang dari 3 %.

Jenis Infeksi Saluran Kemih antara lain :


1. Kandung Kemih (sistitis).
2. Uretra (uretritis).
3. Prostat (prostatitis).
4. Ginjal (pielonefritis).

4
Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi :
1. ISK (Infeksi Saluran kemih) uncomplicated (simple).
ISK (Infeksi saluran kemih) sederhana yang terjadi pada penderita dengan
saluran kencing tak baik, anatomi maupun fungsional normal. ISK (Infeksi
Saluran kemih) ini pada usi lanjut terutama mengenai penderita wanita dan
infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.
2. ISK (Infeksi Saluran kemih) complicated.
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab
sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam
antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK (Infeksi Saluran
kemih) ini terjadi bila terdapat keadaan-keadaan sebagai berikut :
a. Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko uretral
obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing
menetap dan prostatitis.
b. Kelainan faal ginjal : GGA maupun GGK.
c. Gangguan daya tahan tubuh.
d. Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang
memproduksi urease.

5
D. Pathway
Mikroorganisme Hygienburuk Kontrasepsi diafragma Kateterisasi

Hematogen System limfotik Kontaminasi Cegah pengosongan Obstruksiparsial


Asenden
bakteri rectum / urin sempurna
vagina Kuman menyebar
Ginjal yang ginjal
sudah terinfeksi Meatus urinarius
Refluks vesiko ureter

Uretra
Melalui darah Aliran balik
urin dari uretra

Bakteri berkembang Kolonisasi epitalium Invasi kuman ke Jaringan teriritasi


biak & berkoloni traktus urinari Urin bercampur
kandung kemih
darah
Dialiriurin
MK: Resti Kandung kemih Bakteri berkembang
penyebaran infeksi meregang biak & berkoloni
Dysuria

Sistitis Urethritis
Suprapubik tegang Distensi kandung MK :Nyeri
kemih
inflamasi Reaksi Ag-Ab
Mendesak berkemih
Pyuria
IL-1
MK :Perubahan Menstimulasi 6
pola eliminasi hipotalamus Suhu tubuh naik
E. Manifestasi Klinik
1. Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
a. Mukosa memerah dan edema.
b. Terdapat cairan eksudat yang purulent.
c. Ada ulserasi pada urethra.
d. Adanya rasa gatal yang menggelitik.
e. Adanya nanah awal miksi.
f. Nyeri pada saat miksi.
g. Kesulitan untuk memulai miksi.
h. Nyeri pada abdomen bagian bawah.
2. Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
a. Disuria (nyeri waktu berkemih).
b. Peningkatan frekuensi berkemih.
c. Perasaan ingin berkemih.
d. Adanya sel-sel darah putih dalam urin.
e. Nyeri punggung bawah atau suprapubik.
f. Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.
3. Pielonefritis akut biasanya memperihatkan gejala :
a. Demam.
b. Menggigil.
c. Nyeri pinggang.
d. Disuria
Pielonefritis kronik mungkin memperlihatkan gambaran mirip dengan pielonefritis
akut, tetapi dapat juga menimbulkan hipertensi dan akhirnya dapat menyebabkan
gagal ginjal.

7
F. Tes Diagnostik
Urinalisis :
1. Leukosuria atau piuria : merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK
(Infeksi Saluran Kemih). Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5
leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih.
2. Hematuria : hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air
kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa
kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
3. Bakteriologis :
a. Mikroskopis.
b. Biakan bakteri.
4. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik.
5. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin
tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai
criteria utama adanya infeksi.
6. Metode tes
a. Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess
untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami
piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang
mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
b. Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organisme
menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae,
herpes simplek).
c. Tes-tes tambahan : Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi,
dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi
akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau
abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi
ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

8
G. Penatalaksanaan Medik
Non farmakologi
1. Istirahat
2. Diet : perbanyak Vit A dan C untuk mempertahankan epitel saluran kemih
Farmakologi
1. Terapi antibiotik untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif.
2. Apabila pielonefritis kroniknya disebabkan oleh obstruksi atau refluks, maka
diperlukan penatalaksanaan spesifik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
3. Dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas
microorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilas dari
depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri
faeces.

H. Pengkajian
Pengkajian merupakan dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data
yang akurat dan sistemis akan membantu pemantauan status kesehatan dan pola
pertahanan pasien, mengidentifikasi kekuatan pasien serta merumuskan diagnosa
keperawatan.
1. Integritas Ego
Labilitas emosional dari gembira sampai ketakutan, marah atau menarik diri.
2. Eliminasi
Kateter urinarius terpasang, urine jernih, bising usus tidak ada, samar atau jelas.
3. Makanan/Cairan
Abdomen lunak dan tidak ada distensi pada awal.
4. Neurosensori
Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spinal epidural.
5. Nyeri/Ketidaknyamanan
Ketidaknyamanan dari berbagai sumber, misalnya : trauma bedah/insisi, nyeri
penyerta, distensi kandung kemih/abdomen, efek-efek anastesi, mulut kering.
6. Keamanan
Balutan abdomen terdapat sedikit noda atau kering dan utuh, jalur parenteral bila
digunakan paten dan insisi bebas eritema, bengkak dan nyeri tekan.

9
I. Diagnosa Keperawatan
1. Infeksi yang b/d adanya bakteri pada saluran kemih
2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d Inflamasi,Kandung Kemih,dan struktur
traktus urinarius lain
3. Perubahan pola eliminasi urine (disuria, dorongan, frekuensi, dan atau
nokturia) yang b/d ISK
4. Kurang pengetahuan yang b/d kurangnya informasi tentang proses penyakit

10
J. Intervensi

Diagnosa NOC NIC


Risiko infeksi NOC : NIC :
1. Immune Status 1. Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko : 2. Knowledge : Infection control 2. Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif 3. Risk control 3. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan
- Kerusakan jaringan keperawatan
dan peningkatan Kriteria Hasil: 4. Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
paparan lingkungan 1. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi 5. Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan
- Malnutrisi 2. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah petunjuk umum
- Peningkatan paparan timbulnya infeksi 6. Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan
lingkungan patogen 3. Jumlah leukosit dalam batas normal infeksi kandung kencing
- Imonusupresi 4. Menunjukkan perilaku hidup sehat 7. Tingkatkan intake nutrisi
- Tidak adekuat 5. Status imun, gastrointestinal, genitourinaria 8. Berikan terapi antibiotik
pertahanan sekunder dalam batas normal 9. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
(penurunan Hb, 10. Pertahankan teknik isolasi k/p
Leukopenia, 11. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase

11
penekanan respon 12. Monitor adanya luka
inflamasi) 13. Dorong masukan cairan
- Penyakit kronik 14. Dorong istirahat
- Imunosupresi 15. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala
- Malnutrisi infeksi
- Pertahan primer tidak 16. Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4
adekuat (kerusakan jam
kulit, trauma jaringan,
gangguan peristaltik)

12
Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :


dengan: 1. Pain Level, 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
Agen injuri (biologi, kimia, 2. pain control, termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
fisik, psikologis), kerusakan 3. comfort level kualitas dan faktor presipitasi
jaringan 2. Observasi reaksi nonverbal dari
Kriteria Hasil: ketidaknyamanan
- 1. Mampu mengontrol nyeri 3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan
(tahu penyebab nyeri, mampu menemukan dukungan
menggunakan tehnik nonfarmakologi 4. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan
2. Melaporkan bahwa nyeri kebisingan
berkurang dengan menggunakan 5. Kurangi faktor presipitasi nyeri
manajemen nyeri 6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan
3. Mampu mengenali nyeri intervensi
(skala, intensitas, frekuensi dan tanda 7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas
nyeri) dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin

13
4. Menyatakan rasa nyaman 8. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
setelah nyeri berkurang ……...
5. Tanda vital dalam rentang 9. Tingkatkan istirahat
normal 10. Berikan informasi tentang nyeri seperti
6. Tidak mengalami gangguan penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan
tidur antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur
 Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian
analgesik pertama kali

14
Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Defisit Volume Cairan NOC: NIC :


Berhubungan dengan: 1. Fluid balance 1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
- Kehilangan volume 2. Hydration 2. Monitor status hidrasi ( kelembaban membran
cairan secara aktif 3. Nutritional Status : Food and Fluid Intake mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ),
- Kegagalan mekanisme jika diperlukan
pengaturan Kriteria Hasil: 3. Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan
1. Mempertahankan urine output sesuai (BUN , Hmt , osmolalitas urin, albumin, total
dengan usia dan BB, BJ urine normal, protein )
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam 4. Monitor vital sign setiap 15menit – 1 jam
batas normal 5. Kolaborasi pemberian cairan IV
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, 6. Monitor status nutrisi
Elastisitas turgor kulit baik, membran 7. Berikan cairan oral
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang 8. Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 –
berlebihan 100cc/jam)
4. Orientasi terhadap waktu dan tempat baik 9. Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
5. Jumlah dan irama pernapasan dalam 10. Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih
batas normal muncul meburuk

15
6. Elektrolit, Hb, Hmt dalam batas normal 11. Atur kemungkinan tranfusi
7. pH urin dalam batas normal 12. Persiapan untuk tranfusi
8. Intake oral dan intravena adekuat 13. Pasang kateter jika perlu
14. Monitor intake dan urin output setiap 8 jam

16
Diagnosa Keperawatan NOC NIC

Kurang Pengetahuan NOC: NIC :


Berhubungan dengan : 1. Kowlwdge : disease process 1. Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
keterbatasan kognitif, 2. Kowledge : health Behavior 2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana
interpretasi terhadap hal ini berhubungan dengan anatomi dan fisiologi,
informasi yang salah, Kriteria Hasil: dengan cara yang tepat.
kurangnya keinginan untuk 1. Pasien dan keluarga
menyatakan 3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul
mencari informasi, tidak pemahaman tentang penyakit, kondisi, pada penyakit, dengan cara yang tepat
mengetahui sumber-sumber prognosis dan program pengobatan 4. Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat
informasi. 2. Pasien dan keluargamampu 5. Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara
melaksanakan prosedur yang dijelaskan yang tepat
secara benar 6. Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi,
3. Pasien dan keluarga mampu menjelaskan dengan cara yang tepat
kembali apa yang dijelaskan perawat/tim 7. Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan
kesehatan lainnya
pasien dengan cara yang tepat
8. Diskusikan pilihan terapi atau penanganan

17
9. Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau
mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat
atau diindikasikan
10. Eksplorasi kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara yang tepat

18
DAFTAR PUSTAKA

Nurs.Nursalam. 2006.Asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem


perkemihan. Jakarta: Salemba Medika
Suharyanto,Toto. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan
Sistem Perkemihan. Jakarta: Trans info Media.
Tambayong dr.Jan. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC.

Nurarif, A.H, dan Kusuma, H. (2015). APLIKASI Asuhan keperawatan berdasarkan diagnosa
medis & NANDA NIC-NOC , jilid 1. jogjakarta : penerbit buka Mediaction.

19