Anda di halaman 1dari 3

NEUROSAINS

Manusia adalah makhluk yang selalu berfikir dengan otaknya sepanjgan


hayatnya. Manusia membutuhkan asupan berupa informasi dan data dalam
proses berpikirnya, yangnantinya akan dapat diolah maupun diproses, hingga
akhirnya menghasilkan data atauinformasi yang baru. Neurosains merupakan
suatu bidang kajian yang mengenai system sarafyang terdapat di dalam otak
manusia yang berhubungan dengan kesadaran dan kepekaan otakdari segi
biologi, persepsi, ingatan, danada kaitannya dengan pembelajar, (Lusi, 2011).

Neurosains adalah ilmu yang secara khusus mempelajari neuron (sel


saraf). Sel-sel saraf ini yang menyusun sistem saraf, baik susunan saraf pusat
(otak dan saraf tulang belakang) maupun saraf tepi (31 saraf spinal dan 12
pasang saraf kepala). Umumnya para neurosaintis memnfokuskan pada sel saraf
yang ada di otak. Tujuan utama analisis tentang neurosains ini adalah untuk
mempelajari lokalisasi fungsi, terutama fungsi kognitif. Lokalisasi ini mengacu
pada wilayah-wilayah spesifik otak yang mengontrol perilaku-perilaku yang
spesifik yang dominan mengarah pada kemampuan individu dalam ranah
kognitifnya, (Lusi, 2011).

Sebagian besar informasi tentang otak dan fungsi-fungsi nya diperoleh


dari studi terhadap trauma (luka) kepala pada korban peran dan kecelakaan.
Diasumsikan bahwa kemunduran perilaku terkait dengan kerusakan pada bagian
tertentu di otak, yang menyebabkan para peneliti/neruosaintis menyimpulkan
bahwa baian-bagian otak tersebut dalam keadaan normal apabila mampu
berfungsi dalam mengendalikan fungsi-fungsi psikologis tertentu. Hal ini
menyerupai reserve engineering dimana para insinyur sengaja meniadakan satu
bagian penting untuk mengetahui apa yang terjadi apabila bagian tersebut tidak
ada, (Solso, Maclin, & Kimbely 2007).

Bidang studi neurosains mengalami kemajuan yang signifikan meliputi


penelitian ke dalam struktur dan fungsi otak. Pada tahun 1960-an para peneliti
menemukan elemen-elemen struktural otak termasuk korteks serebral, yang
membawa pengaruh penting bagi perkembangan psikologi kognitif pada masa
depan. Mountcastle, menemukan bahwa jumlah koneksi antara neuron-neuon
di korteks jauh lebih besar dibandingkan dengn praduga sebelumnnya.
Sebagaimana pemprosesan informasi menggunakan jalur-jalur serial, salah satu
hasil temuan yang paling mencengankan adalah bahwa sistem koneksi neural
(saraf) menyebar dan terdistribusi dalam susunan yang paralel. Sistem paralel
tersebut akan membentuk sebuah jarigan koneksi neural (saraf) yang meliputi
sebuah area yang luas, tempat fungsi-fungsi di berbagai bagian, (Solso, Maclin, &
Kimbely 2007).

Penelitian Mountcastle mampu menjembatani penemuan dokter bedah


dalam perang dunia I dengan penemuan Lashley dan membuktikan kesahihan
dari kedua penelitian tersebut. Penemuan para dokter dalam perang dunia I
adalah benar, karena area-area spesifik dalam otak memang teraosiasi dengan
penglihatan, kemampuan berbicara, kemampuan motorik, dan kemampuan-
kemampuan lainnya. Sedangkan penemuan Lashey juga valid, karena beberapa
penelitian menemukan bahwa beberapa fungsi sesungguhnya terdistribusi di
seluruh bgian otak, (Solso, Maclin, & Kimbely 2007).

ILMU COMPUTER
Komputer diterima secara luas dan digunakan hampir seluruh aspek
kehidupan manusia modern. Selain membantu penelitian terhadap pikiran
manusia, komputer juga memberikan dampak filosofis terhadap cara pandang
para ilmuwan terhadap pikiran. Pada awalnya, komputer dianggp sebagai mesin
ajaib penghitung angka yang mampu melakukan operasi matematika yang rumit
dalam kecepatan yang amat tinggi, jauh lebih cepat dari manusia. Nyatanya,
beberapa komputer awal dirancangoleh institusi militer untuk menyelesaikan
persamaan matematisyang diperlukan untuk menghancurkan posisi musuh.
Meski demikian, manusia dapat menyadari bahwa komputer lebih dari sekedar
alkulator super, komputer dapat melakukan kinerja yang menyerupai problem
solving pada manusiadan dapat menunjukkkan perllaku yang cerdas, (Solso,
Maclin, & Kimbely 2007).

Apa yang mampu dilakukan komputer dengan baik (melakukan operasi


matematika dan logika dengan cepat), pada umumnya tidak dapat dilakukan oleh
manusia dengan baik. Sebaliknya, apa yang mampu dilakukan manusia dengan
baik (menyusun generalisasi, membuat kesimpulan, memahami pola-pola
kompleks, dan memiliki emosi), tidak mampu dilakukan komputer dengan
sempurna bahkan kadang-kadang komputer tidak mampu melakukannya sama
sekali, (Solso, Maclin, & Kimbely 2007)

Generasi ilmuwan komputer dalam bidang kogntif modern, sedang


berupaya menyusun suatu jenis komputer yang terstruktur dan memiliki kinerja
seperti otak manusia. Para ilmuwan tersebut mengaplikasikan pengetahuan
mereka tentang jaringan neural (saraf) di otak dan menyusun komputer yang
terdiri dari jaringan neural buatan. Jaringan buatan ini disempurnakan dengan
lapisan-lapisan neuron elektronik yang saling berhubungan, yang struktur
organisasinya menyerupai struktur jaringan otak manusia, dan bahkan memliki
program-program yang mensimulasikan fungsi-fungsi jarngan saraf yang
sesungguhnya, (Solso, Maclin, & Kimbely 2007)

Daftar pustaka

Lusi, Nur Ardhiani. 2011. Psikologi Kognitif. Jakarta. Pusat pengembangan bahan ajar
Universitas Mercubuana