Anda di halaman 1dari 3

1.

Latar belakang
Visus adalah ketajaman atau kejernihan penglihatan, sebuah bentuk yang
khusus dimana tergantung dari ketajaman focus retina dalam bola mata dan sensitifitas
dari interprestasi di otak. Visus adalah sebuah ukuran kuantitatif suatu kemampuan
untuk mengindentifikasi simbol-simbol berwarna hitam dengan latar belakang putih
dengan jarak yang telah distandardisasi serta ukuran dari symbol yang bervariasi. Ini
adalah pengukuran fungsi visual yang tersering digunakan dalam klinik. Istilah “visus
20/20” adalah suatu bilangan yang menyatakan jarak dalam satuan kaki yang mana
seseorang dapat membedakan sepasang benda. Satuan lain dalam meter dinyatakan
sebagai visus 6/6. Dua puluh kaki dianggap sebagai tak terhingga dalam perspektif
optikal (perbedaan dalam kekuatan optis yang dibutuhkan untuk memfokuskan jarak
20 kaki terhadap tak terhingga hanya 0.164 dioptri). Untuk alasan tersebut, visus 20/20
dapat dianggap sebagai performa nominal untuk jarak penglihatan manusia 20/40 dapat
dianggap separuh dari tajam penglihatan jauh dan 20/10 adalah tajam penglihatan dua
kali normal.
Adapun faktor – faktor yang mempengaruhi ketajaman pengelihatan mata,
yaitu:

 Phisis mata: Yaitu aberasi pada mata, besar atau kecilnya pupil.
 Struktur retina: Yaitu semakin kecil atau semakin dekat dengan conos
maka semakin minim jiga kemungkinan adanya separable.
 Stimulus: Yaitu kontras atau tidak, besar kecilnya objek, intensitas
cahaya.
Untuk menghasilkan detail penglihatan, sistem optik mata harus
memproyeksikan gambaran yang fokus pada fovea, sebuah daerah di dalam makula
yang memiliki densitas tertinggi akan fotoreseptor kerucut sehingga memiliki resolusi
tertinggi dan penglihatan warna terbaik. Cahaya datang menuju fovea melalui sebuah
bidang imajiner yang disebut visual aksis. Jaringan-jaringan mata dan struktur-struktur
yang berada dalam visual aksis memengaruhi kualitas bayangan yang dibentuk.
Struktur-struktur ini adalah; lapisan air mata, kornea, pupil, lensa, vitreus dan akhirnya
retina sehingga tidak akan meleset ke bagian lain dari retina. Bagian posterior dari retina
disebut sebagai lapisan epitel retina berpigmen (RPE) yang berfungsi untuk menyerap
cahaya yang masuk ke dalam retina sehingga tidak akan terpantul ke bagian lain dalam
retina. Seperti pada lensa fotografi, ketajaman visus dipengaruhi oleh diameter pupil.
Aberasi optik pada mata yang menurunkan tajam penglihatan ada pada titik maksimal
jika ukuran pupil berada pada ukuran terbesar yang terjadi pada keadaan kurang cahaya.
Jika pupil kecil, ketajaman bayangan akan terbatas pada difraksi cahaya oleh pupil.
Antara kedua keadaan ekstrim, diameter pupil yang secara umum terbaik untuk tajam
penglihatan normal dan mata yang sehat ada pada kisaran 3 atau 4 mm. Korteks
penglihatan adalah bagian dari korteks serebri yang terdapat pada bagian posterior
(oksipital) dari otak yang bertanggung-jawab dalam memproses stimuli visual.
Alur Visual Penerimaan Cahaya pada Mata
Cahaya masuk kemata ditangkap oleh kornea dan masuk ke pupil yang letaknya
ditengah – tengah iris. Pupil dapat membesar dan mengecil sesuai dengan cahaya yang
masuk, jika cahaya terang maka pupil mengecil dan jika cahaya redup maka pupil akan
membesar. Cahaya lalu masuk ke lensa dan difokuskan dengan keadaan terbalik
diperkecil dan menuju retina melewati Vitreous Humor. Di retina terdapat fovea yang
berfungsi untuk pengelihatan jauh dan detail. Jika cahaya jatuh tepat di fovea, maka
pengelihatannya normal. Fovea memiliki reseptor yang berfungsi untuk pengaturan
warna yaitu sel batang dan sel kerucut. Sel kerucut baik dalam pengelihatan terang dan
sel batang baik dalam pengelihatan gelap. Mereka mengartikan warna dan mengubah
menjadi impuls listrik. Setelah itu masuklah ke bipolar dan bayangan di bipolar menjadi
tegak tetapi masih berbentuk listrik. Diantara ganglion dan bipolar, ada sel
amacrine(dalam jalur) dan dipinggirnya ada sel horizontal. Setelah itu masuk ke sel
ganglion dan disana bayangan diimpretasi terbalik dan akson – akson bergabung keluar
melalui bintik buta dan membentuk saraf optik. Sampailah di Lateral Geniculate
Nuckleus (LGN) yang letaknya di Talamus yang fungsinya meneruskan informasi dari
retina ke Kortex Visual Primer ( V1 ) dan ke Kortex Visual Sekunder ( V2) yang terletak
di Lobus Opsivitalis
Adapun kelainan terhadap visus seseorang
a) Miopi
Pada miopia panjang bola mata anteroposterior dapat terlalu besar atau
kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Pada pasien penderita miopi, cahaya
jatuh di depan retina dan melihat jelas bila dekat, sedangkan melihat jauh kabur atau
disebut pasien adalah rabun jauh. Seseorang miopia mempunyai kebiasaan
mengeryitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau untuk mendapatkan efek
pinhole (lubang kecil). Miopia tampak bersifat genetika, tetapi pengalaman penglihatan
abnormal seperti kerja dekat berlebihan dapat mempercepat perkembangannya. Cacat
ini dapat dikoreksi dengan kacamata lensa bikonkaf (lensa cekung), yang membuat
sinar cahaya sejajar berdivergensi sedikit sebelum ia mengenai mata.
b) Hipermetropia
Hipermetropia atau rabun dekat merupakan keadaan gangguan kekuatan
pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga jatuhnya
cahaya di belakang retina. Pasien dengan hipermetropia apapun penyebabnya akan
mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus menerus harus berakomodasi untuk
melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang makula agar terletak di
daerah makula lutea. Keadaan ini disebut astenopia akomodatif. Akibat terus menerus
berakomodasi, maka bola mata bersama-sama melakukan konvergensi dan mata akan
sering terlihat mempunyai kedudukan estropia atau juling ke dalam. Cacat ini dapat
dikoreksi dengan menggunakan kacamata lensa cembung, yang membantu kekuatan
refraksi mata dalam memperpendek jarak fokus.