Anda di halaman 1dari 22

SEMINAR AKUNTANSI KEUANGAN

IAS 2

Inventories

Disusun Oleh:

Stephanie Baliwerti

1811070087

Kelas 6204

Dosen: Dr. Reschiwati, S.E.,Ak.,M.M.

INSTITUT KEUANGAN PERBANKAN DAN INFORMATIKA ASIA

(ASIAN BANKING FINANCE AND INFORMATICS INSTITUTE)

PERBANAS

JAKARTA

PROGAM STUDI AKUNTANSI

2019
A. PENDAHULUAN

Persediaan bahan baku merupakan aset perusahaan yang sangat vital. Setiap perusahaan
yang menyelenggarakan kegiatan produksi pasti memerlukan persediaan bahan baku.
Pengelolaan penggunaan persediaan bahan baku yang efektif dan efisien sangat penting,
karena berhubungan dengan penghematan biaya produksi langsung industri manufaktur,
sehingga laba dapat meningkat. Selain itu dengan adanya persediaan bahan baku yang cukup
tersedia di gudang, diharapkan dapat memperlancar kegiatan produksi/pelayanan kepada
konsumen dan dapat menghindari terjadinya kekurangan bahan baku. Keterlambatan jadwal
dan kegagalan pemenuhan produk yang dipesan oleh kosumen dapat merugikan perusahaan
dalam hal ini income perusahaan akan menurun.

Persediaan merupakan salah satu aktiva yang paling aktif dalam operasi kegiatan
perusahaaan dagang. Sebagaian besar sumber daya perusahaan yang diinvestasikan dalam
bentuk barang-barang yang dibeli atau diproduksi. Biaya barang barang ini harus
dicatat,dikelompokan, dan diikhtisarkan selama periode akuntansi. Pada akhir periode, biaya
dialokasikan diantara aktivitas periode berjalan dan aktivitas periode mendatang yaitu
diantara barang barang yang berada dalam persediaan untuk dijual periode mendatang.
Persediaan juga merupakan aktiva lancar terbesar dari perusahaan manufaktur maupun
dagang. Pengaruh persediaan terhadap laba lebih mudah terlihat ketika kegiatan bisnis
berfluktuasi. Selama iklim usaha baik, penjualan menjadi tinggi dan persediaan bergerak lebih
cepat dari pembelian ke penjualan. Namun ketika kondisi ekonomi menurun, tingkat
penjualan juga menjadi menurun, persediaan bertumpuk dan perlu dilakukan penjualan
meskipun mengalami kerugian. IAS 2 merupakan standar akuntansi keuangan international
yang mengatur mengenai persediaan.

IAS 2: Inventories (Persediaan) berisi persyaratan tentang cara menghitung berbagai jenis
persediaan. Standar ini menentukan bahwa persediaan diukur dengan biaya yang lebih rendah
dan nilai realisasi neto/Net Realizable Value (NRV) dan menguraikan metode yang dapat
diterima untuk menentukan biaya, termasuk identifikasi khusus (dalam beberapa kasus), first-
in first-out (FIFO) dan biaya rata-rata tertimbang.

Tujuan dari IAS 2 adalah untuk mengatur tentang perlakuan akuntansi untuk persediaan.
IAS 2 memberikan panduan untuk menentukan biaya persediaan dan pengakuan selanjutnya
1
atas biaya sebagai beban, termasuk setiap penurunan menjadi nilai realisasi neto. IAS 2 juga
memberikan panduan tentang formula biaya yang digunakan untuk menetapkan biaya
persediaan. IAS 2 menyatakan dasar penentuan dan akuntansi untuk persediaan sebagai suatu
aset, hingga pendapatan yang terkait diakui. Standar juga memberikan pedoman mengenai
penilaian persediaan dan konsekuensi penghapusannya sebagai suatu beban (expense), dan
perlakuan yang harus di adopsi atas pendapatan terkait yang diakui.

B. RUANG LINGKUP

Persediaan termasuk aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan bisnis biasa (barang
jadi), aset dalam proses produksi untuk dijual dalam kegiatan bisnis (barang dalam proses),
dan bahan dan persediaan yang digunakan dalam produksi (bahan baku). Nilai realisasi bersih
adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian
dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan. Sedangkan nilai wajar adalah
jumlah suatu aset dipertukarkan, atau liabilitas diselesaikan, antara pihak-pihak yang
berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi yang wajar.

IAS 2 berlaku terhadap semua persediaan kecuali hal berikut yang dikelola dengan standar
spesifik tertentu, yaitu:

1. Barang dalam proses yang timbul berdasarkan kontrak konstruksi (diatur dalam IAS
11 Kontrak Konstruksi);

2. Instrumen keuangan (misal saham, surat hutang, obligasi) yang dimiliki sebagai
persediaan (diatur dalam IAS 39 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran);

3. Aset biologis yang berkaitan dengan aktivitas pertanian dan hasil pertanian
(diaturdalam IAS 41 Pertanian).

Selain itu, meski berada dalam ruang lingkup standar, IAS 2 tidak diterapkan untuk
pengukuran persediaan yang dimiliki oleh:

1. produsen produk pertanian dan hasil hutan, hasil pertanian setelah panen, dan mineral
dan produk mineral, sepanjang persediaan tersebut diukur pada nilai realisasi bersih
sesuai dengan praktik dalam industri tersebut. Jika persediaan diukur dalam nilai
realisasi bersih, maka perubahan nilai tersebut diakui dalam laba rugi dalam periode
terjadinya.
2
2. pialang komoditi dan dealer yang mengukur persediaannya pada nilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual. Apabila persediaan tersebut diukur pada nilai wajar dikurangi
biaya untuk menjual, maka perubahan dalam nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual diakui dalam laba rugi pada periode terjadinya.

C. DASAR PENILAIAN

1. Sistem Pencatatan Persediaan

Adapun sistem pencatatan persediaan dapat digolongkan ke dalam dua cara yaitu:

a. Sistem Periodik Atau Fisik (Physical Method)

Sistem periodik adalah sistem persediaan di mana jumlah yang ditentukan hanya berkala
oleh perhitungan fisik. Dalam sistem persediaan periodik, rincian catatan persediaan barang
yang dimiliki tidak disesuaikan secara terus menerus dalam satu periode. Harga pokok
penjualan barang ditentukan hanya pada akhir periode akuntansi.

Menurut sistem ini setiap pembelian atau pemasukan maupun penjualan (pengeluaran)
persediaan tidak dicatat atau dibukukan kedalam perkiraan persediaan. Pembelian barang
dibukukan ke perkiraan-perkiraan pembelian dan beberapa perkiraan lain seperti potongan
pembelian dan pengembalian pembelian. Penjualan dibukukan ke perkiraan penjualan.

Dengan sistem ini jumlah persediaan akhir diketahui setelah dilakukan perhitungan fisik
(invertory taking) terhadap barang yang ada di gudang. Selanjutnya setelah perhitungan fisik
maka perlu dilakukan closing (penutup) terhadap persediaan awal. Jadi dalam buku besar
persediaan hanya terdapat jumlah persediaan awal dan persediaan akhir. Bagi perusahaan
dagang jika menggunakan metode ini maka sistem pencatatannya adalah sebagai berikut.

Saat Pembelian:
Purchase Rp xxx
Cash/Account Payable Rp xxx

Jika terjadi retur pembelian


Cash/Account Payable Rp xxx
Purchase Return Rp xxx

3
Saat penjualan:
Cash/Account Receivable Rp xxx
Sales Rp xxx

Jika terjadi retur penjualan


Sales Return Rp xxx
Cash/Account Receivable Rp xxx

b. Sistem Perpetual atau Kontinyu (Perpetual Method)

Dalam sistem persediaan perpetual, rincian catatan mengenai setiap pembelian dan
penjualan persediaan disimpan. Sistem ini secara terus menerus menunjukkan persediaan
yang harus dimiliki untuk setiap jenis barang. Berdasarkan sistem persediaan perpetual, harga
pokok penjual ditentukan setiap kali terjadi penjualan. Sistem perpetual ialah sistem
persediaan di mana pembaruan catatan jumlah persediaan selalu dilakukan dan disimpan.

Menurut sistem ini, setiap saat harus dilakukan pencatatan atas penambahan ataupun
pengurangan persediaan akibat adanya pembelian, pemakaian bahan baku dan penjualan
sehingga jumlah maupun nilai persediaan dapat diketahui sewaktu-waktu tanpa melakukan
perhitungan fisik. Untuk perusahaan dagang, pencatatan yang dilakukan menurut metode ini
adalah sebagai berikut.

Saat pembelian:
Merchandise Inventory Rp xxx
Account Payable/Cash Rp xxx

Jika terjadi retur pembelian


Account Payable/Cash Rp xxx
Merchandise Inventory Rp xxx

Saat penjualan:
Account Receivable/Cash Rp xxx
Sales Rp xxx
Cost of Good Sold Rp xxx
Merchandise Inventory Rp xxx
4
Jika terjadi retur penjualan
Sales Return Rp xxx
Cash/Account Receivable Rp xxx
Merchandise Inventory Rp xxx
Cost of Good Sold Rp xxx

Karena sistem perpetual dicatat setiap ada perubahan dalam persediaan, maka saldo dalam
perkiraan yang ada di neraca saldo adalah saldo perkiraan persediaan akhir, sehingga tidak
diperlukan ayat jurnal penyesuaian.

2. Menghitung Harga Pokok Penjualan dan Persediaan Akhir

a. First-In, First-Out (FIFO)

Metode FIFO mengasumsikan persediaan yang dibeli pertama kali akan dijual terlebih
dahulu. Menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) pengakuan cost of goods sold
dengan menggunakan metode FIFO adalah sebagai berikut: “Under the FIFO method, the
costs of the earliest goods purchased are the first to be recognized as cost of goods sold”.
Sedangkan, untuk perhitungan persediaan akhir (ending inventory) dengan menggunakan
metode FIFO menurut Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:236) adalah sebagai berikut:
“Under FIFO, the cost of ending inventory is found by taking the unit cost of the most recent
purchase and working backward until all units of inventory are costed”.

Dengan menggunakan metode FIFO, perusahaan akan menghasilkan laba yang lebih besar
dibandingkan dengan menggunakan metode LIFO maupun metode rata-rata karena biaya unit
yang lebih rendah dari pembelian persediaan pertama kali. Tetapi, dengan laba yang besar,
maka perusahaan juga akan membayar pajak yang lebih besar sehingga tidak dapat dilakukan
penghematan pajak jika menggunakan metode FIFO. Manajemen perusahaan akan lebih
memilih untuk menggunakan metode FIFO karena dengan nilai laba perusahaan yang besar
akan menunjukkan bahwa kinerja manajemen perusahaan tersebut bagus dan manajemen akan
mendapatkan kompensasi berupa bonus yang cukup besar dari perusahaan. Perusahaan yang
menggunakan metode FIFO pada saat terjadi inflasi akan menghasilkan laba yang besar
sedangkan pada saat terjadi deflasi, perusahaan yang menggunakan metode FIFO akan
menghasilkan laba yang kecil.

5
b. Metode Rata-Rata Tertimbang (Average Cost)

Metode rata-rata mengasumsikan persediaan yang tersedia untuk dijual memiliki rata-rata
biaya per unitnya sama. Menurut Weygandt, Kieso, dan Kimmel (2005:238) perhitungan unit
cost berdasarkan formula rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut: “Under this method, the
cost of goods available for sale is allocated on the basis of the weighted-average unit cost”.
Berikut adalah formula perhitungan unit cost berdasarkan metode rata-rata tertimbang
(weighted-average method):

Setelah dilakukannya perhitungan unit cost, selanjutnya menurut Weygandt, Kieso, dan
Kimmel (2005:238) untuk mengetahui nilai biaya dari persediaan akhir adalah sebagai
berikut: “The weighted-average unit cost is then applied to the units on hand. This
computation determines the cost of the ending inventory”.

Pada sistem periodik, metode rata-rata disebut metode rata-rata tertimbang (weighted
average method) dan pada sistem perpetual disebut dengan metode rata-rata bergerak (moving
average method). Dengan menggunakan metode rata-rata, perusahaan akan dapat melakukan
penghematan pajak (tax saving) dikarenakan laba yang didapat perusahaan dengan
menggunakan metode tersebut akan lebih kecil. Tetapi, pada saat menggunakan metode rata-
rata akan dapat menghasilkan nilai akhir persediaan di antara FIFO dan LIFO.

c. Last-In, First-Out (LIFO)

Metode LIFO mengasumsikan persediaan yang terakhir dibeli akan dijual terlebih dahulu.
Weygandt, Kieso dan Kimmel (2005:237) menyatakan bahwa pengakuan cost of goods sold
dengan menggunakan metode LIFO adalah sebagai berikut: “Under the LIFO method, the
costs of the latest goods purchases are the first to be assigned to cost of goods sold”.
Sedangkan, untuk mengetahui nilai persediaan akhir (ending inventory) dengan menggunakan
metode LIFO adalah sebagai berikut: “Under the LIFO method, the cost of ending inventory is
found by taking the unit cost of the oldest goods and working forward until all units of
inventory are costed”.

6
Dengan menggunakan metode LIFO, perusahaan akan menghasilkan laba yang kecil
sehingga dapat melakukan penghematan pajak. Pada saat inflasi, perhitungan harga beli
terakhir dibebankan ke operasi dalam periode kenaikan harga sehingga mengurangi laba dan
menghasilkan pengurangan pajak.

Pada tanggal 1 Januari 2005 IAS 2 sudah tidak membolehkan penggunaan metode LIFO,
sehingga metode pengukuran kas yang berlaku tinggal metode FIFO dan metode Rata-rata
Tertimbang.

Alasan metode LIFO tidak diperbolehkan dalam IFRS adalah metode LIFO mengurangi
kualitas laporan posisi keuangan. Metode LIFO menyebabkan nilai persediaan yang disajikan
dalam laporan posisi keuangan (balance sheet) tidak merepresentasikan recent cost level of
inventory (IAS 2.BC13). Persediaan disajikan pada cost yang tidak merefleksikan cost
inventory terkini. Hal ini mengurangi kualitas posisi keuangan entitas. Meski demikian,
metode LIFO memiliki kelebihan dibandingkan metode FIFO, yaitu menghasilkan laporan
laba rugi yang lebih baik karena pendapatan penjualan yang dinilai berdasarkan harga jual
kini ditandingkan dengan biaya produk terjual (COGS) yang merepresentasikan nilai
persediaan kini (karena berdasarkan metode LIFO persediaan yang dibeli terakhir dijual lebih
dulu sehingga yang masuk COGS adalah persediaan yang dibeli terakhir). IASB, selaku
badan penyusun IFRS, memilih untuk menciptakan standar yang menghasilkan laporan posisi
keuangan yang lebih baik.

Selain itu, terdapat signifikansi perbedaan laba menurut metode FIFO dan Average dengan
metode LIFO. Metode FIFO dan metode LIFO menghasilkan perbedaan laba yang cukup
signifikan (berbeda jauh) dibandingkan antara FIFO dan Average. Untuk mengurangi
kecenderungan perusahaan memanipulasi laba karena perbedaan antara FIFO dan LIFO yang
signifikan, penyusun standar perlu mengeliminasi antara FIFO atau LIFO. Karena metode
LIFO memiliki kekurangan (menghasilkan nilai persediaan yang kurang relevan), maka
metode LIFO boleh tidak digunakan lagi.

d. Metode Identifikasi Khusus

Metode identifikasi khusus menentukan biaya persediaan akhir dan harga pokok penjualan
berdasarkan identifikasi unit penjualan dan persediaan. Perusahaan atau entitas menggunakan
metode identifikasi khusus jika memiliki persediaan yang dapat diidentifikasi dan pada saat
penjualannya tidak dapat disubtitusikan. Metode ini tidak memerlukan asumsi tentang aliran
7
biaya tetapi memberikan biaya berdasarkan aliran persediaan tertentu. Hal ini membutuhkan
bahwa catatan rinci dari setiap pembelian dan penjualan dipertahankan sehingga perusahaan
tahu persis dimana item yang dijual dan biaya barang tersebut. Secara historis, metode ini
adalah bersifat praktis hanya untuk biaya itemnya tinggi dengan pengidentifikasi unik
(misalnya, nomor seri) yang dijual terbatas, misalnya, mobil. Dengan diperkenalkannya
barcoding, scanner elektronik, dan frekuensi radio identifikasi, metode ini menjadi lebih
mudah untuk diimplementasikan, tetapi penerapannya masih relatif masih jarang.

Contoh kasus persediaan:

Ilustrasi 1

PT. XYZ melakukan transaksi persediaan (pembelian dan penjualan) pada tahun 2017
seperti digambarkan dalam tabel di bawah. Hitung Harga Pokok Penjualan dan
persediaan akhir, serta buat jurnalnya.

Tanggal Keterangan Kuantitas Harga


2 Januari Persediaan awal 200 unit Rp9.000
10 Maret Pembelian 300 unit Rp10.000
5 April Penjualan 200 unit Rp15.000
7 Mei Penjualan 100 unit Rp15.000
21 September Pembelian 400 unit Rp11.000
18 November Pembelian 100 unit Rp12.000
20 November Penjualan 200 unit Rp17.000
10 Desember Penjualan 200 unit Rp18.000

8
1) Metode FIFO

2) Metode Rata-rata

9
Perhitungan dengan Metode Periodik

FIFO Rata-rata
Persediaan awal 1.800.000 1.800.000
Pembelian 8.600.000 8.600.000
Barang tersedia untuk dijual 10.400.000 10.400.000
Persediaan akhir (3.400.000) (3.120.000)
Harga Pokok Penjualan 7.000.000 7.280.000

Jurnal Periodik

Tanggal Deskripsi Debit Kredit

Saat Pembelian
Purchase Rp8.600.000
Account Payable/Cash Rp8.600.000
Saat penjualan
Account Receivable/Cash Rp11.500.000
Sales Rp11.500.000
Saat Penyesuaian untuk Persediaan:
Income Summary Rp1.800.000
Merchandise Inventory Rp1.800.000
Merchandise Inventory Rp3.400.000
Income Summary Rp3.400.000

Perhitungan dengan Metode Perpetual

FIFO Rata-rata

Persediaan awal 1.800.000 1.800.000


Pembelian 8.600.000 8.600.000
Barang tersedia untuk dijual 10.400.000 10.400.000
Persediaan akhir (3.400.000) (3.224.000)
Harga Pokok Penjualan 7.000.000 7.176.000

10
Jurnal Perpetual

Tanggal Deskripsi Debit Kredit

Saat Pembelian
Merchandise Inventory Rp8.600.000
Account Payable/Cash Rp8.600.000
Saat penjualan
Account Receivable/Cash Rp11.500.000
Sales Rp11.500.000
Cost of Good Sold Rp7.000.000
Merchandise Inventory Rp7.000.000

3. Penilaian Persediaan dengan Metode Taksiran

a. Metode Laba Kotor (Gross Profit Method)

Merupakan suatu prosedur yang digunakan untuk menentukan taksiran nilai persediaan
tanpa dilakukannya perhitungan fisik persediaan (stock opname) dan untuk menguji ketelitian
data akuntansi apabila sistem permanen digunakan. Metode ini didasarkan pada suatu
anggapan bahwa dalam jangka pendek tingkat laba kotor dari penjualan akan relatif sama.

Metode laba kotor yang digunakan perusahaan untuk menaksir harga pokok persediaan
barang dagang pada akhir suatu periode, dapat dilakukan melalui tahap-tahap berikut:

1) menentukan persentase laba kotor dari penjualan bersih pada periode sebelum
diadakannya penaksiran nilai persediaan barang dagangan.

2) menghitung nilai harga pokok penjualan barang daganan untuk periode diadakannya
penaksiran nilai persediaan dengan cara mengurangkan persentase 100% dengan
persentase laba kotor periode sebelum diadakannya penaksiran nilai persediaan,
kemudian hasil pengurangannya dikalikan dengan penjualan bersih aktual yang terjadi
pada periode diadakannya penaksiran nilai persediaan barang dagangan.

3) menghitung persediaan akhir dengan persamaan:

HPP = persediaan awal + pembelian bersih – persediaan akhir

11
Ilustrasi 2

Nilai penjualan PT. Home pada periode 2012 sebesar $150,000. Harga pokok penjualan
sebesar $120,000. Nilai persediaan barang dagangan pada tanggal 1 Januari 2013 sebesar
$5,000. Pembelian bersih selama bulan Januari sebesar $98,000. Total nilai penjualan
bersih per 31 Januari 2013 sebesar $125,000. Hitunglah nilai estimasi persediaan barang
dagangan per 31 Januari 2013!

Penyelesaian:

Menghitung persentase laba kotor:


Penjualan bersih periode 2012 150.000
Harga pokok penjualan periode 2012 (120.000)
Laba kotor 30.000
Persentase laba kotor dari penjualan periode 2012:
Laba kotor/penjualan *100% = (30.000 / 150.000) * 100% = 20%
Menghitung harga pokok penjualan periode Januari 2013:
= (100% - persentase laba kotor) * penjualan bersih 2013
= (100% - 20%) * 125.000
= 80% * 125.000
= 100.000
Persamaan matematis:
Harga pokok penjualan = persediaan awal + pembelian bersih – persediaan
100.000 = 5.000 + 98.000 – persediaan akhir
Persediaan akhir = 103.000 – 100.000 = 3.000
Pengujian:
Persediaan awal 5.000
Pembelian 98.000 +
Barang tersedia untuk dijual 103.000
Persediaan akhir 31 Januari 2013 (3.000) -
Harga Pokok Penjualan 100.000

12
b. Metode Persediaan Eceran (Retail Inventory Method)

Metode ini biasanya digunakan pada perusahaan retail dan department store, yang
memperjualbelikan banyak jenis barang dengan frekuensi perputaran barang yang relatif
tinggi. Alasan digunakannya metode harga jual eceran adalah:

1) banyaknya jenis barang dengan tingkat perputaran tinggi sehingga menyebabkan tidak
dimungkinkannya penggunaan sistem permanen (perpetual) maupun sistem fisik (lazimnya
stock opname dilakukan sekali, yaitu pada setiap akhir tahun),

2) penggunaan harga jual sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan


manajemen.

Tujuan penggunaan Metode Harga Jual Eceran adalah sebagai berikut.

1) Untuk menentukan nilai persediaan dalam rangka penyusunan laporan keuangan jangka
pendek, di mana tidak dimungkinkan untuk melakukan stock opname.

2) Sebagai alat untuk menentukan harga pokok (taksiran) dari kuantitas barang yang ada di
gudang (harga pokok persediaan akhir).

3) Sebagai pengawasan terhadap aktivitas pembelian, penjualan, dan mendeteksi adanya


kemungkinan terjadinya manipulasi persediaan.

Prosedur Penentuan Nilai Persediaan

Pada Metode Harga Jual Eceran, pembukuan yang berhubungan dengan barang dagangan
diselenggarakan dan dinyatakan dalam dua macam harga, yaitu Harga Pokok dan Harga Jual
Eceran. Tahap-tahap penentuan persediaan dengan metode harga jual eceran:

1) Penentuan besarnya barang tersedia untuk dijual dengan harga pokok dan harga jual
eceran.

2) Penentuan cost ratio.

3) Penentuan besarnya Penjualan bersih.

4) Penentuan nilai persediaan akhir menurut harga jual eceran.

5) Penentuan taksiran harga pokok persediaan akhir.

13
Ilustrasi 3
Harga Pokok Harga Jual Eceran
Persediaan awal 500.000 625.000
Pembelian 11.250.000 14.062.500
Penjualan 13.750.000

Sesuai dengan prosedur penentuan persediaan dengan metode harga jual eceran, maka
besarnya persediaan akhir ditentukan sebagai berikut.

Tahap Keterangan Harga Jual Harga


Eceran Pokok
Persediaan 625.000 500.000
Pembelian 14.062.500 11.250.000
(1) Barang tersedia untuk dijual 14.687.500 11.750.000
(2) Cost Ratio
11.750.000/14.687.500*100 =
80%
(3) Penjualan (13.750.000)
(4) Persediaan akhir menurut harga 937.500
jual eceran
(5) Persediaan akhir menurut harga 750.000
pokok (80%*937.500)
HPP (taksiran) 11.000.000

Akuntansi Terhadap Metode Harga Jual Eceran

Pada dasarnya pencatatan data persediaan pada metode harga jual eceran menggunakan
sistem fisik. Pencatatan persediaan yang diselenggarakan harus mampu menyediakan
informasi sebagai berikut.

1) Persediaan awal (jika ada) baik menurut harga pokok maupun harga jual eceran.

2) Pembelian untuk periode yang bersangkutan, masing-masing berdasar harga pokok dan
harga jual eceran.

3) Penyesuaian atau perubahan harga jual yang terjadi dalam periode yang bersangkutan.

a) Harga jual mula-mula (original sales price), yaitu harga jual per satuan barang yang
ditentukan untuk pertama kalinya.

b) Mark-up, yaitu selisih antara harga jual semula dengan harga pokoknya.
14
c) Additional mark-up, yaitu kenaikan harga jual di atas harga jual mula-mula.

d) Pembatalan mark-up, yaitu penurunan harga jual dari harga jual yang telah naik
sampai dengan harga jual semula.

e) Mark-down, yaitu penurunan harga jual dari harga jual semula.

f) Pembatalan mark-down, yaitu kenaikan harga jual dari harga yang telah turun sampai
dengan harga jual semula.

4) Informasi hasil penjualan.

D. PENGUKURAN BIAYA PEROLEHAN

Persediaan harus dinyatakan pada harga terendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi
bersih (NRV). Biaya harus mencakup semua:

1. biaya pembelian (termasuk pajak, biaya transportasi, dan biaya handling) setelah diskon

perdagangan diterima;

2. biaya konversi (termasuk biaya overhead tetap dan variabel); dan

3. biaya lain yang dikeluarkan untuk membawa persediaan ke lokasi dan kondisinya saat ini.

Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang
kemudian dapat ditagih kembali oleh entitas kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan,
biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan
barang jadi, bahan, dan jasa. Diskon dagang, rabat dan hal lain yang serupa dikurangkan
dalam menentukan biaya pembelian.
Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang
diproduksi, misalnya biaya tenaga kerja langsung. Termasuk juga alokasi sistematis overhead
produksi tetap dan variabel yang timbul dalam mengonversi bahan menjadi barang jadi.
Overhead produksi tetap adalah biaya produksi tidak langsung yang relatif konstan, tanpa
memerhatikan volume produksi yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan
bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya manajemen dan administrasi pabrik. Overhead

15
produksi variabel adalah biaya produksi tidak langsung yang berubah secara langsung, atau
hampir secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi, seperti bahan tidak langsung
dan biaya tenaga kerja tidak langsung.

Biaya Standar

Biaya standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan,


tenaga kerja, efisiensi dan utilisasi kapasitas. Biaya standar di-review secara reguler dan, jika
diperlukan, direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.

Metode Eceran

Metode eceran seringkali digunakan dalam industri eceran untuk menilai persediaan
dalam jumlah besar item yang berubah dengan cepat, dan memiliki marjin yang sama saat
tidak praktis untuk menggunakan metode penetapan biaya lainnya.

Biaya-biaya Lain

Biaya-biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut
timbul agar persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Misalnya, dalam keadaan
tertentu diperkenankan untuk memasukkan overhead nonproduksi atau biaya perancangan
produk untuk pelanggan tertentu sebagai biaya persediaan.

IAS 23 Biaya Pinjaman mengidentifikasi beberapa keadaan terbatas di mana biaya


pinjaman (bunga) dapat dimasukkan dalam biaya persediaan yang memenuhi definisi aset
yang memenuhi syarat.

Biaya persediaan tidak termasuk:

1. limbah abnormal

2. biaya penyimpanan

3. overhead administrasi yang tidak terkait dengan produksi

4. biaya penjualan

5. selisih kurs mata uang asing yang timbul secara langsung pada akuisisi persediaan yang

baru ditagih dalam mata uang asing

6. biaya bunga ketika persediaan dibeli dengan ketentuan penyelesaian yang ditangguhkan.

16
Metode biaya standar dan eceran dapat digunakan untuk pengukuran biaya, asalkan
hasilnya mendekati biaya aktual. Untuk item persediaan yang tidak dapat dipertukarkan, biaya
spesifik dikaitkan dengan item persediaan individual tertentu. Untuk item yang dapat
dipertukarkan, IAS 2 memungkinkan FIFO atau rumus biaya rata-rata tertimbang. Rumus
LIFO, yang telah diizinkan sebelum revisi IAS 2 tahun 2003, tidak lagi diizinkan. Rumus
biaya yang sama harus digunakan untuk semua persediaan dengan karakteristik yang mirip
dengan sifatnya dan digunakan untuk entitas. Untuk kelompok persediaan yang memiliki
karakteristik berbeda, formula biaya yang berbeda dapat dibenarkan.

E. NILAI REALISASI NETO

Nilai realisasi neto adalah perkiraan harga jual dalam kegiatan bisnis biasa, dikurangi
perkiraan biaya penyelesaian dan perkiraan biaya yang diperlukan untuk melakukan
penjualan. Setiap penurunan nilai pada nilai realisasi neto harus diakui sebagai beban pada
periode terjadinya penurunan tersebut. Setiap pemulihan harus diakui dalam laporan laba rugi
pada periode di mana pemulihan terjadi.

Nilai realisasi neto mengacu kepada jumlah neto yang entitas berharap untuk direalisasi
dari penjualan persediaan dalam kegiatan usaha biasa. Nilai wajar mencerminkan suatu
jumlah di mana persediaan yang sama dapat dipertukarkan antara pembeli dan penjual yang
berpengetahuan dan berkeinginan di pasar. Nilai realisasi neto adalah nilai khusus entitas
sedangkan nilai wajar tidak tergantung pada nilai khusus entitas. Nilai realisasi neto untuk
persediaan bisa tidak sama dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual.

IAS 2 menyatakan bahwa estimasi nilai realisasi neto harus diterapkan untuk setiap jenis
persediaan atau item demi item, kecuali terdapat sekelompok persediaan yang sejenis dan
dapat dinilai secara tepat per kelompok jenis persediaan. Sebagai pedoman umum, penilaian
harus dilakukan untuk setiap jenis persediaan untuk mencegah kemungikan terjadinya
kompensasi unrealized gain dengan unrealized loss kelompok persediaan lain, sehingga
menurunkan jumlah rugi yang harus diakui, hal ini penting untuk diperhatikan mengingat
IFRS melarang pengakuan unrealized gain pada laporan laba rugi. Dikatakan bahwa evaluasi
penurunan nilai persediaan yang dilakukan atas sekelompok persediaan, tidak atas item per
item persediaan, adalah merupakan mekanisme tidak langsung untuk mengakui unrealized

17
gain yang seharusnya tidak diakui, sehingga perlu ditegaskan bahwa tuntutan dasar evaluasi
penurunan nilai persediaan adalah diterapkan atas item demi item persediaan.

Untuk kasus terjadinya kenaikan kembali nilai persediaan (recoveries of previously


recognized losses), IAS 2 mendeskripsikan bahwa pengukuran nilai realisasi neto harus
dilakukan pada setiap periode pelaporan keuangan, dan pada saat tidak terdapat lagi fakta
adanya penurunan nilai persediaan, misalnya karena nilai persediaan mengalami kenaikan
kembali, maka penurunan nilai persediaan harus dibatalkan dengan membuat jurnal koreksi,
dan karena penurunan nilai persediaan telah dimasukkan ke dalam laporan laba rugi, maka
jurnal koreksi atas penurunan nilai persediaan juga harus direfleksikan dalam laporan laba
rugi. Juga ditegaskan bahwa jurnal koreksi atau recovery hanya diperkenankan maksimum
sebesar penurunan nilai yang telah diakui pada periode sebelumnya.

F. PENGAKUAN BEBAN

IAS 18 Revenue membahas pengakuan pendapatan untuk penjualan barang. Ketika


persediaan dijual dan pendapatan diakui, jumlah tercatat persediaan tersebut diakui sebagai
beban (sering disebut harga pokok penjualan). Setiap penurunan nilai realisasi neto dan
kerugian persediaan juga diakui sebagai beban pada saat terjadi.

Nilai tercatat persediaan harus diakui sebagai beban (expense) dalam suatu periode di
mana persediaan dijual dan pendapatan yang terkait diakui. Jika biaya perolehan persediaan
pada tanggal perolehan lebih rendah daripada nilai realisasi, atau suatu kerugian persediaan
terjadi, jumlah penurunan atau kerugian persediaan harus diakui sebagai suatu beban
(expense) dalam periode yang sama saat penurunan atau kerugian yang terjadi.

G. PENURUNAN NILAI ASET (IMPAIRMENT)

Impairment adalah penurunan nilai aset karena nilai tercatat aset (carrying amount)
melebihi nilai yang akan dipulihkan (recoverable amount) melalui penggunaan atau penjualan
aset. Nilai terpulihkan adalah nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi dengan biaya
penjualan dan nilai pakai. Kerugian penurunan nilai merupakan selisih antara nilai tercatat
dikurangi dengan nilai terpulihkan. Kerugian tersebut diakui dalam laporan laba rugi pada
saat terjadinya.
18
Penurunan nilai didasarkan pada prinsip konservatisme dan kehati-hatian. Aset tidak boleh
dicatat overstated, dari nilai dapat diperoleh kembali. Sesuai definisi aset adalah manfaat
ekonomi yang di masa depan yang diharapkan akan mengalir dalam suatu entitas. Aset harus
disajikan sebesar nilai yang mencerminkan manfaat ekonomi yang akan diperoleh di masa
depan. Saat nilai yang akan diperoleh di masa depan lebih rendah dari nilai tercatat, maka aset
tersebut harus diturunkan. Pengukuran penurunan nilai dapat dilakukan untuk satu unit aset
tunggal maupun satu kelompok aset. Ada aset yang dapat menghasilkan arus kas independen
dari aset atau kelompok aset lain. Jika satu aset dapat menghasilkan arus kas independen
maka pengukuran penurunan nilai dilakukan berdasarkan unit aset tersebut. Namun ada
beberapa aset yang dapat menghasilkan arus kas jika berada dalam kelompok aset, sehingga
penurunan nilai dilakukan untuk satu unit penghasil kas.

Aset dapat diperoleh kembali melalui penjualan dan penggunaan. Jika aset tersebut dijual
maka entitas akan mendapatkan nilai wajar dikurangi dengan biaya penjualan. Nilai wajar
adalah nilai yang dihasilkan dari penjualan suatu aset atau unit penghasil kas dalam transaksi
yang mengerti dan berkehendak beban tanpa tekanan. Nilai pakai adalah nilai aset jika
digunakan terus sampai akhir masa manfaat. Nilai pakai dihitung dari nilai sekarang dari
taksiran arus kas yang dapat diharapkan akan diterima aset atau unit penghasil kas di masa
mendatang. Biaya pelepasan adalah tambahan yang secara langsung terkait dengan pelepasan
aset atau unit penghasil kas.

Dalam penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat diperoleh
kembali dengan nilai yang digunakan. Sebagai ilustrasi suatu kendaraan nilai tercatatnya
Rp400.000.000, nilai jual dikurangi biaya penjualan Rp350.000.000 dan nilai pakainya
Rp300.000.000. Manajer akan memilih menjual aset tersebut dengan harga Rp350.000.000
daripada terus memakainya, karena nilai pakai aset tersebut hanya Rp300.000.000. Namun
jika nilai pakainya Rp370.000.000 dan nilai jual dikurangi biaya penjualan Rp310.000.000,
maka manajer akan memilih terus menggunakan aset tersebut sampai akhir masa manfaatnya.

Impairment aset terjadi jika nilai tercatat aset melebih nilai yang dapat dipulihkan. Aset
yang mengalami penurunan nilai harus disesuaikan dan dampak penyesuaian tersebut akan
diakui sebagai kerugian dalam laporan laba rugi. Semua aset memiliki potensi mengalami
penurunan nilai, namun ada yg diatur sendiri dalam standar aset terkait atau diatur umum
dalam PSAK 48 tentang Penurunan Nilai.

19
H. PENGUNGKAPAN

Menurut standar akuntansi keuangan IAS 2, dalam hal penyajian persediaan pada laporan
keuangan perlu diungkapkan beberapa hal berikut ini.

1. Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk mengukur persediaan.

2. Jumlah tercatat, umumnya diklasifikasikan sebagai barang dagangan, persediaan, bahan,


barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Klasifikasi tergantung pada apa yang sesuai
untuk entitas.

3. Jumlah tercatat dari setiap persediaan dicatat pada nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual.

4. Jumlah setiap penurunan persediaan yang diakui sebagai beban pada periode tersebut.

5. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang
jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan.

6. Jumlah tercatat persediaan digunakan sebagai jaminan untuk kewajiban.

7. Biaya persediaan diakui sebagai beban (harga pokok penjualan).

IAS 2 mengakui bahwa beberapa perusahaan mengklasifikasikan beban laporan laba rugi
berdasarkan sifat (bahan, tenaga kerja, dan sebagainya) daripada berdasarkan fungsinya
(beban pokok penjualan, beban penjualan, dan sebagainya). Oleh karena itu, sebagai alternatif
untuk mengungkapkan biaya pokok penjualan, IAS 2 memungkinkan entitas untuk
mengungkapkan biaya operasi yang diakui selama periode tersebut berdasarkan sifat biaya
(bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, biaya operasi lainnya) dan jumlah
bersih perubahan persediaan untuk periode berjalan). Ini konsisten dengan IAS 1 Penyajian
Laporan Keuangan, yang memungkinkan penyajian biaya berdasarkan fungsi atau sifat.

Informasi tentang jumlah tercatat yang disajikan dalam berbagai klasifikasi persediaan dan
tingkat perubahannya masing-masing berguna bagi pemakai laporan keuangan. Klasifikasi
persediaan yang biasa digunakan adalah barang dagangan, perlengkapan produksi, bahan,
barang dalam penyelesaian, dan barang jadi. Persediaan dalam pemberi jasa biasanya disebut
pekerjaan dalam penyelesaian.

Biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode, seringkali disebut sebagai
beban pokok penjualan, meliputi biaya-biaya yang sebelumnya diperhitungkan dalam
20
pengukuran persediaan yang saat ini telah dijual, overhead produksi yang tidak teralokasi, dan
jumlah biaya produksi persediaan yang tidak normal. Kondisi tertentu dari entitas juga
memungkinkan untuk memasukkan biaya lainnya, seperti biaya distribusi.Beberapa entitas
mengadopsi suatu format laporan laba rugi yang mengakibatkan jumlah yang diungkapkan
adalah selain biaya persediaan yang diakui sebagai beban selama periode yang bersangkutan.
Dalam format ini, entitas menyajikan analisa beban menggunakan klasifikasi berdasarkan
sifat dari beban. Dalam kasus ini, entitas mengungkapkan biaya yang diakui sebagai beban
untuk bahan baku dan bahan habis pakai, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya bersama-sama
dengan jumlah perubahan neto persediaan pada periode tersebut.

21