Anda di halaman 1dari 270

t 'CPR 1 vai—kh0-4 411.-.

ilDasar
Dasar
ILMU
PENDIDIKAN
Drs. Syafril, M.Pd.
Drs. Zelhendri Zen, M.Pd.
n
k ,A" C =D , ,
J f 1
r• D
,io.
t

_ Diirt?..,iKA[L,„f
„.• •
Sanksi Pelariggarark Pasal 113 Undang-Undang Nernor 2E Tabun 2014 tentang flak Cipta.
5ebagairriana yang telah diatur dan dFubah dari Undang-Undang Nornor 19 Tahun 2002, bahwa;
Kutipan Pasal 113

(1) Setiap °Tang yang dengan tanpa hak malakukan pelanggaran hak ekonarni sebagaimana
dirriakwud dalarn Pasal 9 ayat (1) hurul r untuk Penggunaan Secara Kemer5ial dipidana dengan
pidana pekara paling lama 1 (satu) tahun danfatau pidana Benda paling banyak Rp100.000.000.-
(sai'.atua Juta rupiah).
(2) Setiap °fang yang dengan tanpa hak daniatau tanpa izin Fencipta atau pernegang Hak Cipta
rneiakukan paiangeaFan hak akpnorni Parizipta sekaaeairnana olmaksud cialarn Friel 9 ayat (1)
huruf c, huruf d, huruf f, dardatau huruf h untuis Penggunaan Secara Komersial di pidana
dengan Walla penjara paling lama 3 (tilts} tahun dan/atau pidana denda paling banyak
Rp500.000.000,- (lima ',alms Juta rupiah).

( 3 ) Setiap Orang yang dangan tanpa hak daniatau tanpa izin Panel plta atau paryiegang Hak Cipta
melaktikan pelanggaran hak ekonorni Pencipta 5ebagarrnana dimaksud dam Pasar 9 ayat (1)
huruf a, huruf b, huruf e, clan/atau huruf g untuk Periggunaan Secara Kornersial di pidana
dengan pidana penjara paling lama 4 (ernpat) taw" dahlatau pidana denda paling banyak Riot
.000.000_000,- (5atuill
m...21 rupiah),
-
( 4 ) Setiap Orang yang rnerruanuhi uns.ur sebagau nana dirnaksud pada ayat (3) yang dikakuRan
dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepulvh) tahun
danlatau pidana denda paling banyak Rp4_000.000.000,- (em pat miliar rupiah).
DASAR-DASAR
ILMU PENDIDIKAN

Drs. Syafril, M.Pd.


Drs. Zelhendri Zen, M.Pd.
DASAR-DASAR ILIA() PENDIDIKAN
Edisi Pertarna
Cc,p ht :5 2017

Perpustakaan Nasional: Katalog Dalarn Teri:Man (KDT)

ISBN 978-1502-422-1159-4
ISBN (E) 975.602 -
422.928 -3 15 x 23
crn x. 258 him

Cetakan ke-1, Aguslus 2017

Mourne, 2017,0809

Penulis
Drs_ Syafril.
Ors, Zeihendri Zen,

Desain Sarnpul
I r fan

Penata Letak
Pia

Penerbit
KENCANA
(Divi5i dari PRENADANIEDIA Group)
JI. Tarrtra Raya No. 23 Rawamangun Jakari 13220
Tett: (021) 478-64657 Faks: (021) 475-4134
pmg©prenadamedia_corn
YIPMV, pre nadam edia-c DM
INDONESIA

Dilara.ng irnengurtip sebagian atau seluruh isi Itukuini dencian care apa pun,
t2wasuk dengan care grariggunaan rnasin rotokoni, tanoa IZirl soh Owl panerbit.
Kate Pengantar

Peningkatan mutu penclidikan tinggi dewasa ini dilakukan dengan


rnelalui perubahan kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan ICKM
yang telah ditetapkan melalui peraturan presiden. Universitas Negeri
Padang (UNP) sebagai salab satu lemhaga pendidikan tinggi yang rneng-
hasilkan lulusan calon pendidik dan tenaga kependidikan telah merevisi
kurikulum sesuai dengan tuntutan KKNI tersebut, Kurikulurn yang direvisi
tersebut dirnulai dengan rnengenalisis kompetensi clan bahan kajian untuk
mencapai profil pendidik dan tenaga kependidikan, sehingga menghasilkan
kelompok Mara Kuliah Dasar Keahlian (MKDK). Salah satu yang term
asuk kelompok AAIUN( tersebut adalah mata kuliah Dasar-dasar Hum
Pendidikan.
Maul kuliah "Dasar-dasar Ilmu Pendidikan' merupakan penyern-
purnaan dari mate kuliah "Pengantar Pendidikan" yang telah diberikan
sejak 1993 sebagai salah satu dari mate kuliah kelompok MKDIC. Deegan
digantinya matakuliah Pengantar Pendidikan menjadi mate kuliah Dasar-
dasar 1Imu Pendidikan, perlu disusun buku. yang sesuai dengan isi matey!
dan arch mata kuliah. Berdasarkan hal tersebut, maka disusunlah buku
Dasar-dasar linu Pendidikan ini yang digunakan sebagai buku pegangan
bagi mahasiswa clan dosen dalam penyelenggaraan perkuliahan. Ruku
diharapkan akan dapat menjadi acuan dan titik tolak kegiatan perkuliahan,
sehingga perkuliaban dapat dilakukan lebih terarah dalam mencapai
kompetensi yang diharapkan. Ruku ini merupakan referensi utama bagi
dosen dan mahasiswa dalam penyelenggaraan mata kuliah Dasar-dasar Ilmu
Pendidikan, mengingat buku yang sesuai dengan isi dan silab us mate
kuliah ini masih kurang. Deegan demikian, pare mahasiswa yang meng-
ambil mata kuliah Dasar-dasar Ilmu Pendidikan dapat mengg -unakannya
sebagai referensi dalam rnempelajari dan mengerjakan tugas-tugas
perkuliahan, baik untuk rnexnbuat tugas-tuges terstruktur maupun dalam
proses belajar secara mandiri. Meskipun demikian, buku ini tidaklah di-
maksudkan sebagai satu-satunya sutnber belajar dalam penyelenggaraan
mata kuliah ini. Untuk au, kepada pare mahasiswa dan dosen diharapkan
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

dapat mencari, membaca, dan menambah referensi lain yang relevan.


Buku ini merupakan penyempurnaan dari huh! Pengantar
dikan yang telah diterbitkan pada tahun 2012 yang lalu. Penulisan buku ini
disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pendidikan dan
berpedoman kepada tujuan kurikuler serta silabus rnata kuliah Dasar-
dasar Ilmu Pendidikan. Buku ini terdiri dari 10 bab, yang berisi ten-tang:
Hakikat Manusia dan Dimensinya; Hakikat Pendidikan dan Ilrnt
Pendidikan; Landasan dan Asas-asas Pendidikan; Pilar Pendidikan.; Pen-
didikan sebagai Suatu Sisten-t dan Komponen Pendidikan; Penyeleng-
garaan Sistern Pendidikan Nasional; Beberapa Pemikiran tentang Pen-
Mikan; Perrnasalahan Pendidikan; Upaya Penanggulangan Masalah
Pendidikan; dan. Pendidikan di Era Globalisasi,
Sebagaimana upaya peningkatan kualitas yang tak akan pernah se-
lesai, demikian pula buku ajar ini} mernerlukan revisi berdasarkan ma-
sukan dan saran dari pembaca dan pengalaman di lapangan, Oleh kare-
na itu, pars pengguna buku ini, baik closer', mah.asiswar maupun Rank
lain yang terkait diharapkan dapat memberikan balikan, dan masukan
yang pada gilirannya akan dirnanfaatkan sebagai bahan perbaikan dan
penyempurnaan buku ini.
Kepad a semu a pi h a k yang telah membantu dalam penyelesaian
buku ini, kami menyampaikan rasa terima kasih dan juga penghargaan
yang setinggi-tingginya„ Semoga sernua upaya yang kita lakukan akan
dibalas oleh Allah Subhanahu Wataala, dan dapat bermanfaat bagi
pembangunan pendidikan pada umumnya dan peningkatan mum serta
kemampuan prolesional pendidik dan tenaga kependidikan khususnya.
Aamiin Ya Rabbal Aiarnin,

Padang, Mei 2017,


Penuiis

vi ■
Daftar isi

KATA PEN GANTAR

BAB 1 HAKIKAT MANIJSIA DAN DIMENSINYA 1


A. Hakikat Manusia ...................................................................... 2
B, Harkat dan Martabat Manusia .......................................... 12.
C. Dimensi-dimensi Kemanusiaan ...................................... 14
D. Pengembangan Dimensi Kemanusiaan ........................... 18
E. So sok Manusia Indonesia Seutuhnya ............................. 19
Ran gkuman .............................................................................. 22.
Tugas ......................................................................................... 23
Daftar Pustaka ........................................................................... 23

BAB 2 HAKIKAT PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDI1CAN 25


A. Hakikat Pendidikan ... ................................................... ...2
B. Hakikat Ilmu Pendidikan ................................................. 38
C. Peranan dan Kedudukan Iimu Pendidikan dalam
Penyelenggaraan Pendidikan. .......................................... 40
Rang unman ............................................................................... 46
Tugas ........................................................................................ 47
Daftar Pustaka ........................................................................... 47

BAB 3 LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA


P EN ER APANNYA 49
A. Landasan Pendidikan ....................................................... 50
B. Asas-asas Pendidikan ........................................................ 59
C. Penerapan Asas-asas Pendidikan dalam Kegiatan
Pembelajaran .................................................................... 65
Ran gkum an .............................................................................. 67
Tugas .......................................................................................... 67
Daftar Pustaka ........................................................................... 68
DASAR-DASA R. !L IM PENDIDIKAN

BAB 4 PEAR PENDIDIKAN 69


A. Pengertian Pilar Pendidikan ............................................ 70
B. Penis-jenis Pilar Pendidikan ............................................ 71
C. Imple me ntasi Pilar Pendidikan .................................... 78
Rangkuman ................................................................................ 77
Tugas .......................................................................................... 78
Daftar Pustaka ........................................................................... 78

BAB 5 PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SISTEM DAN


KOMPONEN PENDIDIKAN 79
A. Pengertian Pendidikan sebagai Suatu istem................... 80
B. Kornponen Pendidikan .................................................... 82
Rangkuman .............................................................................. 102
Tugas ........................................................................................ 103
Daftar Pustaka ......................................................................... 103

BAB 6 PENYELENGGARAAN SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL 105


A. Jalur, Jenjang, dan Jenis Pendidikan ......................... 106
B. Standar Pendidikan Nasional ....................................... 115
C. Dasar, Fungsi, Tujuan, clan Prinsip Pendidikan
Nasional .......................................................................... 125
Rangkuman ............................................................................. .130
Tugas ........................................................................................ 131
Daftar Pustaka ......................................................................... 132

BAB 7 BEBERAPA PEMIKIRAN TENTANG PENDIDIKAN 133


A. Pernikiran Klasik .......................................................... 134
B. Pernikiran Baru ............................................................. 138
C. Pengarxth Pernikkan Baru tentang Pendidikan
Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia 158
D. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh Bari
Luar Negeri ...................................................................... 159
E. Tokoh Pendidikan yang Berpengaruh di Indonesia. ... 165
Rangkuman .............................................................................. 176
Tugas ........................................................................................ 176
Daftar Pustaka ......................................................................... 176

BAB 8 PERNIASALAHAN PENDIDIKAN 179


A. Permasalahan Pokok Pendidikan ................................... 180

vin
DAFTAR ISI

B. Permasalahan Khusus Pendidik clan Tenaga


Ke pendidikan ....................................................................... 183
C. haling Keterkaitan Antannasalah Pendidikan ........................ 184
D. Faktor-faktor yang Memenganthi Berkembangnya
Permasalahan Pendidikan ................................................. 185
Rangkuman .................................................................................. 187
Tugas............................................................................................. 187
D aftar Pustaka ............................................................................ 188

BAB 9 UPAYA PEI ANGGULINGAN PERMASALAHAN


PENDIDIKAN 189
A. Perubahan KurikuIum ......................................................... 190
B. Pengelolaan Pendidikan ....................................................... 204
C. Pembaruan Pendidikan ...................................................... 205
D. Inovasi dalam Pendekatan Pembelajaran .............................. 215
Rangkuma.n ................................................................................. 219
Tugas .......................................................................................... 221
Daftar Pustaka ............................................................................. 2.22

BAB 10 PENDIDIKAN DI ERA GLOBALISASI 225


A. Era Globalisasi ..................................................................... 226
B. Pemanfaatan T1K dalam Pendidikan.. ............................. 232
C. Masyarakat Masa Depan ................................................... 2.47
D. Upaya Pendidikan dalam Menghadapi Globatisasi ............... 251
Rangkuman ................................................................................. 253
Tugas............................................................................................. 254
Daftar Pustaka ............................................................................. 254

PARA PENULIS 257


1
Hakikat Manusia dan Dimensinya

PENDAHULUAN
Untuk dapat menjadi manusia seutuhnya, maka setiap manusia
yang iahir ke dunia akan melalui proses pertumbuhan dan perkern-
bangan yang perlu dibantu oleh orang lain. Bagaimana bantuan itu
diberikan secara tepat dan optimal, perlu dipahami hakikat manusia
itu. Sangat naif, apabila seorang pendidik atau pemimpin tidak
memahami tentang hakikat manusia, karena orang-orang yang
bersangkutan senantiasa berkiprah dengan manusia. Jika terjadi
hal yang demikian sarna artinya dengan seorang petani yang tak
tahu cara menggarap ladangnya, dan bila dilaksanakan juga pasti
terjadi kerusakan, karena seorang petani diserahi tugas tidak tahu
cara melaksanakannya.
Pengetahuan atau pemahaman tentang hakikat manusia ini sungguh
sangat berguna dalam segala lapangan kehidupan, dan tidaklah hanya
menjadi keharusan hagi seorang guru. Karena itu, sangat diharapkan
kepada semua para mahasiswa agar mempelajari hakikat manusia dan
dirnensi-dirnensinya dengan bersungguh-sungguh, dan sekaligus
rnenerapkan pengetahuan yang diperoleh itu di saat berinteraksi
dengan sesama manusia, di dalam segala lapangan kehidupan.
Tujuan yang akan dicapai dalarn pokok bahasan ini agar Anda
dapat menjelaskan mengenai:

 Terminologi dan hakikat manusia,


 Sifat hakikat manusia.
 Berbagai panda ngan tentang hakikat manusia,
 Harkat dan martabat manusia.
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

 Dimensi-dimensi manusia dan pengembangannya serta impli-


kasinya bag] pendidikan.
 Sosok manusia Indonesia seutuhnya,
A. HAKIKAT MANUSIA
Pendidikan merupakan kegiatan yang berurusan dengan manusia, Oleh
sebab itu, sebelum membahas tentang pendidikam perlu dikaji tertebih
dahulu hakikat dari manusia.

1. Terminologi
a. Istilah (term), dan hakikat berasal dari bahasa Arab, dengan kata
dasarnya “haq” yang berarti kebenaran yang sesungguhnya
(mendasar). Apabila seseorang menerangkan atau menjelaskan sesuatu
benda atau sifat, maka yang dijelaskan itu adalah ciri-ciri atau sifat
yang mendasar dari benda atau objek tersebut. Contoh, Lila seorang
manusia hanya mempunyai sebuah kaki, tetapi otaknya masih dapat
berpikir normal, maka yang bersangkutan masih dianggap sebagai
manusia yang layak. Sebaliknya, walaupun seorang manusia
mempunyai kaki dua huah tetapi tidak dapat herpikir normal, maka
yang bersangkutan tidak dapat dipandang sebagai manusia yang layak,
sebab ia tidak mampu saling tukar pikiran dengan orang lain. Oleh
karena itu, pernikiran atau akal sehat merupakan salah satu ciri "haq"
(hakiki) manusia. Selanjutnya, kebenaran yang hakiki ("haq")
berasal dari Tuhan, dapat juga dari manusia, asal tidak menentang
aturan Tuhan (QS. al- Bagarah [2]: 147) .
b. lstilah manusia juga berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata "man"
yang artinya manusia, kebetulan sarna juga artinya dengan yang ada
dalam bahasa inggris. Selanjutnya penggalan kata yang kedua yaitu nasi
yang artinya pelupa. Jadi, istilah manusia berarti orang yang sering
lupa tentang aturan atau peringatan-peringatan Tuhan.
Beberapa istilah lain, yang sering digunakan untuk manusia
1) AI-insani, yang artinya manusia yang punya hati (“insan kamil” =
nurani). Ada juga manusia yang jasadnya rnasih hidup, tetapi nuraninva
telah "mati", karena tidak berfungsi,
2) AI-basyar, yang artinya manusia dalam bentuk lahiriahnya, yaitu
makhluk yang memerlukan makan dan minum, atau yang punya badan
dan anggota sebagai layaknya manusia biasa,

2 ■
13A13 1 a- Hakikat Manusia elan Dirriensinya

3) An-naas, yang artinya manusia secara umum; dalam Bahasa Inggris


disebut people.
4) Bani Adam, artinya: bani= anak, Adam yaitu Nabi Adam; maksudnya
turunan atau anak cucu Nabi Adam.

2. Sifat Hakikat Manusia


Pendidikan sebagai kegiatan yang bertujuan untuk rnengembangkan
harkat martabat manusia perlu mernaharni sifat hakikat dari manusia itu
sendiri,

a. Pengertian Sifat Hakikat Manusia


Sifat hakikat manusia adalah ciri yang menjadi karakteristik, yang
secara prinsipil membedakan manusia dari makhluk lain seperti hewan,
meskipun secara biologis dalam hal tertentu ada kemiripan antara
manusia dan hewan. Bahkan ada para ahli seperti Socrates mengatakan
bahwa manusia itu adalah hewan yang bermasyarakat (zoon politician),
sedangkan Max Scheller menganggap manusia sebagai hewan yang sakit.
Bahkan Charles Darwin dengan teori evolusinya berusaha untuk
menemukan bahwa manusia berasal dari primatat atau kera, tetapi ia
tidak dapat membuktikannya. Dengan demikian, manusia tidak bisa
disamakan dengan hewan, karena manusia mempunyai ciri-ciri yang khas
yang membedakannya dengan hewan sebagai sifat hakikat manusia.

b. Wujud Sifat Hakikat Manusia


Untuk lebih memperjelas adanya perbedaan yang mendasar antara
manusia dan hewan, Umar Tirtaraharja yang mengambil paham
eksistensialisme mengemukakan ada delapan sifat hakikat manusia, yaitu:
1) Kernampuan menyadari diri.
Kemampuan untuk menyadari dan memaharni potensi diri sendiri
sebagai kekuatan yang dapat dikembangkan, sehingga diri individu
dapat berkembang ke arah kesempurnaan diri.
2) Kemampuan bereksistensi.
Kemampuan untuk mengembangkan potensi diri, sehingga hermanfaat
bagi dirinya, lingkungan, atau masyarakat. Manusia harus mampu
melihat peluang dan mampu mengantisipasi masa datang.
3) Memiliki kata hati.
Manusia memiliki pertimbangan yang sangat mendaiam ketika
menentukan apakah sesuatu itu baik atau tidak baik untuk dilakukan.
Dengan kata hati manusia mekiliki kemampuan dalam membuat
keputusan tentang yang baik/benar dan yang buruk/salah. Kata hati

111 3
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

merupakan petunjuk bagi perbuatan dan moral. Kata hati akan terlihat
dari kepekaan emosi seseorang dalam memutuskan sesuatu tindakan
yang akan dilakukan.
4) Memiliki moral.
Kalau kata hati lebih menekankan kepada keputusan yang diambil,
sedangkan moral berkaitan tindakan itu sendiri atau realisasi dari
kata hati. Sesuatu yang telah ditentukan oleh kata hati harus ada
kemauan untuk melaksanakannya. Moral merupakan nilai-nilai
kemanusiaan, karena moral bertalian erat dengan keputusan kata
hati. Moral dapat disamakan dengan etika, sedangkan etiket
berhubungan dengan sopan santun.
5) Kemampuan untuk bertanggung jawab.
Kesediaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang
dilakukan merupakan tanda dan sifat orang yang bertanggung
jawab. Wujud dari tanggung jawab itu bisa tanggung jawab kepada
diri sendiri, kepada masyarakat, dan tanggung jawab kepada Tuhan.
Antara kata hati, moral, dan. tanggung jawab merupakan suatu hal
yang sangat berhubungan. Kata hati berperan untuk
mempertimbangkan apa tindakan yang akan dilakukan, sedangkan
moral merupakan tindakan dan perbuatan itu sendiri, sedangkan
tanggung jawab merupakan kesediaan menanggung risiko dari
perbuatan itu sendiri.
6) Memiliki rasa kebebasan
Rasa kebebasan adalah tidak merasa terikat oleh sesuatu, tetapi
yang sesuai dengan kodrat manusia. Kemerdekaan yang
sesungguhnya adalah berlangsung dalam keterikatan. Bebas berbuat
sepanjarig tidak bertentangan dengan nilai dan tuntutan kodrat
manusia. Orang hanya akan merasakan kebebasan batin jika ikatan
yang ada telah menyatu dengan dirinya, dan menjiwai segenap
perbuatannya. Dengan demikian, kebebasan itu erat kaitannya
dengan kata hati, moral, dan tanggung jawab. Seseorang akan
merasa bebas jika perbuatannya (moral) sesuai dengan kata hati
(sesuai dengan kata hati dan kodrat manusia), sehingga perbuatan
tersebut akan dapat dipertanggungjawabkan yang tidak
menimbulkan kegelisahan dalam dirinya (kebebasan).
7) Kesediaan melaksanakan kewajiban dan menyadari haknya,
Kewajiban dan hak merupakan dua haI yang timbul sebagai mani-
festasi clari manusia sebagai rnakhluk sosial. Jika seseorang mem -
punyai hak, tentu ada pihak lain yang harus mernenuhi, sebaliknya
kita punya kewajiban, karena orang lain yang rnerniliki hak.

4
13A13 1 a- Hakikat Manusia elan Dirriensinya

Kewajiban harusnya dilakukan dengan keluhuran, sebagai sesuatu


yang harusnya dilakulcan seperti itu. Kernampuan nielaksanakan
kewajiban sebagai suatu keniscayaan tentu tidak lahir dengan mudah,
tetapi melalui suatu proses pembiasaari dan pendidikan disiplin.
Pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban bertalian erat dengan
soal keadiian. Keadilan akan terwujud bila hak sejalan dengan ke-
wajiban,
8) Kernampuan dalam menghayati kebahagiaan.
Kebahagiaan ad alah istilah yang lahir dari kehidupan manusia dalam
menghayati hidup. Ada yang mengatakan Naha kebahagiaan me-
rupakan integrasi dari segenap kesenangan, kegembiraan, kepu.asari,
dan lain yang sejenisnya dengan pengalainan pahit dan penderitaan.
Penghayatan hidup dari integrasi yang menyenangkan dan pahit itulah
yang disebut bahagia. Kebahagiaan merupakan kesanggupan diri
dalam menghayati proses kehidupan yang dilalui dengan keheningan
jiwa yang terangkum dalam rangkaian tiga hal, yaitu usaha, norma-
norma, clan takdir. Kebahagiaan diperoleh setelah melakukan usaha
melalui perjuangan yang dilakukan terus-menerus. Usaha yang
dilakukan harus sesuai dengan norma dan kaidah hidup, sehingga
rnerasakan kebebasan dalarn melaksanaka.nnya tanpa ada tekanan,
sehingga merasakan kebahagiaan. Hasil usaha yang dilakukan
diserahkan kepada takdir. Kebahagiaan hanya diperoleh kalau °rang
sudah berusaha melakukan sesuai kemarnpuannya, kemudian
menyerahkan hasil usaha itu kepada takdir. Kebahagiaan dapat
diusahakan peningkatann.ya, melalui pengembangan kemampuan
berusaha dan kemampuan menghayati hasil usaha dalarn kaitannya
dengan takdir. Manusia akan inampu menghayati kebahagiaan apabila
jiwanya hersih, stabil, jujur, bertanggung jawab, mempunyai
pandangan hidup dan keyakinan hidup yang kukuh, dan bertekad
untuk merealisasikan dengan cara yang realitas.

Beberapa Pandangan tentang Hakikat Manusia


Beberapa ilmuan menggunakan cara pandang yang berbeda tentang
hakikat manusia. Berikut ini akan dibahas clad berbagai pandangan.

a. Pandangan Islam/Al-Qur'an
Islam memandang hakikat manusia bukan berdasarkan pandangan
prihacli atau individu orang yang rnemandang, melainkan pandangan yang
didasarkan atas ayat-ayat Tuhan yang terkandung di dalarn Al-

5
DASA R-DASA R. ILlvtil PE N DIIDIK AN

Qur'an atau pandangan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW. Atas


dasar paridangan tersebut, hakikat manusia da lam Islam dapat dijelaskan
sebagai berikuv
1) Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan/Allah
Tuhan sebagai Pencipta disebut Khalik; clan selain dari Tuhan dina-
makan makhluk. Idealnya setiap makhluk harus patuh bertingkah
laku sesuai dengan aturan yang ditetapkan penciptanya. Contoh, ka-
lau seorang insinyur membuat sebuah roda, maka tugas atau "tingkah
laku" roda int adalah untuk berputar sesuai dengan ketentuan yang
dikehendaki oleh pembuat roda tersebut. Bila roda tersebut tidak
dapat berputar sesuai dengan ketentuan insinyur, roda yang semacam
itu dinamakan cacat atau rttsak. Begitu pula kondisinya dengan
manusia sebagai makhluk Tuhan, jika is tidak mau patuh kepada
Khaliknya, berarti manusia yang demikian telah. rusak ("out of order'
= tidak mau diperintah Khaliknya). Dalam kenvataan yang
ditemui, ada manusia yang haikipatuh, dan ada yang ingkar kepada
Khalik (QS, at-Tiin [95]: 4,5). Tuhan mau mengangkat posisi atau
derajat manusia, tetapi sebagian manusia ada yang ingkar disebabkan
oleh kebodohan dantatau kesornhongannya, karena tidak hersedia
untuk mernahami aturan Tuhan,
2) Hakikat manusia sebagai khalifah ("manager")
Tuhan Yang Malta Pengasih dan Penyayang mau mernosisikan ma-
nusia pada tempat yang paling tinggi dari segala makhluknya, yaitu
sebagai khatifah (manager) untuk rnengatur alarn ini,
berdasarkan aturan Milan, Ada haiknya terlebih dahulu dijelaskan
hahwa seluruh jagad raya. ("universe") diciptakanklikendalikan
langsung oleh Tuhan yang mempunyai namaisifat yang mahabaik,
yaitu asmaut husna. Sernua sifat Tuhan, dalam kondisi yang tidak
terbatas {unlimited). Contoh, Tuhan ada, Tuhan mendengar;
keberadaan dan pendengaran Tuhan sifatnya tidak terbatas. Adanva
Tuhan sepanjang masa (kekal) dan la mampu mendengar apa saga,
kapan saja, clan di mans saja. Untuic melaksanakan fungsi
kekhalifahan itu manusia dianugerahi oleh Tuhan sebagian dari sifat-
sifat-Nya, namun sedikit manusia yang bersyukur kepada-Nya itu
(QS. as-Sajdah [32]: 9), Tuhan sebagai pengatur alarn (Rubbul
Alarriin). karena is mempunyai sifat p e ngatur/ manager. Agar
manusia mampu se b agai p engatur clihekaii-Nya manusia dengan
jalan memberikan sebagian dari sifat-sifat-Nya,

6 ■
13AB la- Hakikat Manusia clan Dirriensinya

Sangat periling untuk dipahami oleh setiap individu manusia bahwa


sifat-sifat lizniliki Tuhan yang dianugeralikan-Nya secara terbatas kepada
manusia merupakan potensi dan fitrah manusia yang perk( ditum-
huhkembangkan melalui proses pendidikan yang berlangsung sepanjang
hayat. Contoir4 salah satu sifat Tuhan yaitu al-Khania (iviahakreatif);
begitu juga manusia memiliki sifat kreatif yang harus
ditumbuhkembangkan sesuai dengan norma yang ditentukan Tuhan dalam
aturan-Nya. Jangan sampal kreativitas manusia keluar Mari ketentuan
Tuhan. Setiap manusia yang dewasa dan normal disurult berpikir serta
mengg-unakan days kreativitasnya untuk mengukur pntensi dan fitrah
manusia yang paling tepat untuk dikembangkari oleh setiap dirinya. Inilah
yang disebut dengan bakat,
Akhirnya pandangan Islam terhadap hakikat manusia dapat disim-
pulkan bahwa .manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus ber-
aktivitas selama hayatnva dala.m rangka menumbuhkernbangkan segala
potensi yang ada padanya, dan tetap mem elihara arab (kesucian dirinya)
menurut norma atau aturan yang ditetapkan Tuhan, Selanjutnya, dalarn
uraian berikut akan dibahas beberapa paiidangan Para ilmuwan "Karat"
tentang hakikat manusia agar pembaca dapat mengambil pelajaran dari
uraian tersebut,

b. Pandangan limuwan tentang Hakikat Manusia


Banyak pendapat pakar yang mengernukakan tcntang hakikat manusia.
Di antara pemikiran tersebut yaitu seperti yang dirangkum oleh Prayitno
(2009! 10 11):
1) Plato: mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya ditandai olelt
adanya kesatuan antara ap a yang ada pada dirinya, yaitu pikiran,
kehendak, dan naisu.
2) Hsun Tsm manusia pada hakikatnya adalah jahat, oleh karenanva untuk
mengembangkannya diperlukan latihan dan disiplin yang keras,
terutama disiplin kepada tubulinya.
3) Agustinus: manusia merupakan kesatuan jiwa dan badan, yang di-
motivasi oleh prinsip kebahagiaarn kesenivanya itu diwarnai oleh
warisan dari pendahulunya.
4) Descartes: manusia terdiri dari unsur dualistik, jiwa dan badan. Jiwa
tidak bersifat bendawi, a badi, dan tidakdapat mati, sedangkan badan
yang bersifat bendawi dapat sirna, dan menjadi sasaran ilmu Di antara
hadan dan jiwa tcrdapat pertentangan yang berkelaniutan

7
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

tak terjemhatani; badan dan jiwa itu masihg-masihg mewujudkan diri


dalam berhagai hal sendiri-sendiri. Namun demikian, hakikat manusia
itu adalah jiwanya,
) Freud: manusia tidak memegang nasibnya sendiri. Tingkah ]aku
manusia ditujukan untuk rnernenuhi kebutuhan biologic dan ins-
ting-instingnya, dan dikendalikan oleh pengalaman masa lampau,
dan ditentukan oleh faktor-faktor interpersonal dan intrapsikis.
6) Adler: manusia tidak sen-tata-mats bertujuan mernuaskan dorongan
dirinya, tetapi juga memotivasi untuk melaksanakan tanggung jawab
sosial dan pemenuhan kebutuhan dalam mencapai sesuatu. Tingkah
laku individu ditentukan oleh lingkungan, pernbawaan, dan individu itu
sendiri.
7) Rogers: manusia adalah makhluk rasional, tersosialisasikan, dan dapat
menentukan nesibnya sendiri, Dalam kondisi yang mernungkinkan,
manusia akan mampu meugarahkan diri sendiri, main, dan menjadi
individu yang positif dan konstruktif.
8) Skinner: manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakurtya di-
kontrol oleh taktor-faktor dari luar dirinya. Tingkah lake manusia
dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungannya, melalui
hukum-hukum belajar
9) Glasser: tindakan manusia clidorong untuk memenuhi kebutuhan
dasar (baik psikoiogikis rnaupun fisiologis), yang sama untuk setnua
orang, Kebutuhan fisiologis adalah segala sesuatu untuk memperta-
hankan kesadaran organisme, seclangkan kebutuhan psikologis ter-
arah untuk me neintai dari dicintai, seri a berguna bagi did sendiri
dan orang lain,
10) Ellis: manusia memiliki kemampuan inheren untuk berbuat secara
rasional ataupun tidak rasional. Berpikir dari rnerasa itu sangat deka t
den berganclengan satu sama lain; pikiran seseorang dapat menjadi
perasa.annya, dan sebaliknya.

c. Pandangan Beberapa Aliran tentang Hakikat Manusia


Pendapat tentang hakikat manusia dapat dikelompokkan dari beberapa
aliran sehagai berikut:
I) Pandangan Psikoanalitik dari S. Freud.
Menurut Freud dalam Akta Mengajar V oleh Universitas Terbuka, se-
care hakiki kepribadian manusia terdiri dari tiga kornponen, yaitu: Id,

8 •
13A13 1 a- Rakikat Manusia elan Dirriensinya

ego, dan superego. Istilah lain yang juga dipakai yaitu Id = das es, dan
ego = das kh, serta super-ego = das uber kh. Selanjutnya dijelaskan
bahwa Id meliputi berbagai jenis keinginan, dorongan, kehendak, dan
insting manusia yang mendasari perkembangan individu, yang sexing
juga disebut libido seksual atau dorongan untuk mencapai kenikmatan
hidup, Di dalam Id itu terdapat dua unsur yang paling utama, yaitu
unsur seksual dan sifat agresif sebagai Jaya penggerak
kejiwaanftingkah laku manusia, Setiap individu akar' berusaha me-
muaskan libido seksualnya. Ego berfungsi untuk rnenjembatani antara
Id dan dunia luar dari individu itu. Yang muncul ke dunia luar dad
perbuatan individu adalah egonya. Ego mengatur gerak-gerik Id dalam
memuaskan libidonva, dengan cars tidak memunculkan semua
dorongan yang tirnbul atau ada di dalam Id. Selartjutnya superego,
rumba dan berkernbang berkat intera.ksi antara individu dan
lingkungannya, yang bersifat mengatur seperti nilai (value) moral,
adat, tradisi, hukum, norms, dan yang sejenis lainnya. Dapat ditarik
kesimpulan bahwa superego adalah pengawas tingkah laku individu
dalam berinteraksi dengan lingkungan. Beberapa kritikan terhadap
teori Freud ini muncul dari kaum a.garna yang berpendapat bahwa
tingkah laku martusia, bukan banya diatur atau dikendalikan oleh
faktor lingkungan melalui superego, melainkan oleh aturan yang
datang dari Tuhan. Sepanjang pengetahuan penulis, memang Freud
tidak pernah mengaitkan teorinya dengan Tuhan, Menuru.t Islam yang
dasarnya Al-Qur'an, superego dalam teori Freud dapat dianalogikan
dengan nurani (insane kamil = kalbu) manusia. Dalam nurani
(insane karnil) itulah terkandungnya potensi fit -rah manusia, yairu
sifat-sifat Tuhan yang dianugerahkan-Nya kepada manusia sebagai
khalifiztullah di rnuka bumi ini. Lihat S. ar-thwm (30) 30. Menurut
ajaran Islam, unsur untuk menetapkartikriteria tentang bunik clan baik
secara potensial telah diletakkan Tuhan di dalam setiap diri manusia.
Kondisi lingkungan yang dibuat manusialah yang berfungsi untuk
menurnbuhkernbangkan nurani libido yang terpendarn di dalamnya.
Pandangan tear! Freud ini disebut juga psikoanalitik, yang artinya
psiko z jiwa yang pantulannya dari tingkah laku manusia; dan
selanjutnya analitik = analisis yaitu mengklasifikasikan unsur-unsur
yang ada di dalam kejiwaan, yaitu Id, ego, dan superego sebagaimana
telah diuraikan. lintuk jelasnya basil analisis itu dapat diiiustrasikan
dalam Gambar

9
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

11111111111
Ego

1 Id

GA BAR 1.1
Analisis unsur kcjiwaan manusia menurut Freud

2) Pandangan Humanistik
Pandangan humanistik ini ditokohi oleh Roger, Hansen, Adlet, dan
Martin Buber (Akta Mengajar V oleh Universitas Terbuka, 1985).
Human artinya manusia, yaitu rnemahami secara hakiki keberadaan
manusia, oleh manusia dan dad manusia berdasarkan 1c.1.00, (pe-
mikiran manusia). Pandangan tersebut dapat dijelaskan sebagai be-
rikut:
a) Dalarn hatas tertentu manusia punya ntonomi untuk rnenenrukan
nasibnya,
Manusia bukan diserahkan oleh instingnya raja sebagaimana
yang dianut oleh Freud, akan tetapi is dalarn hatas terteritu pu-
nya otonomi untuk menentukan arah kehidupannya. Contoh,
apakah seseorang akan menjadi petani, saudagar, atau pegawat
mau duduk atau herdiri, tergantung kepada keputusannya.
b) Manusia bukan makhluk jahat atau baik, tetapi is punya potensi
untuk keduanya,
Ia. {manusia punya pinball) rnengarnbil putusan, yang sangat
berlainan dengan makhluk nonmanusia, Apalagi kalau makhluk
anorganik yang semata-mata tergantung kepada kondisi di luar
dirinya seperti batu atau
10 C) Manusia adalah makhluk yang bertanggung jawab atas
perbuatannya.
Kenyataan rnenuniukkan hahwa manusia/dewasa dapat her-
BAB Hakikat Manusia elan Dirriensinya

tanggung jawab atas perbuatannya, karena is dituntut dan diberi


tanggung jawab. B erbed a dengan makhluk nonrn anus ia, contoh
hewan sepeth sapi, kalau dimakannya tanaman prang yang bukan
milik tuannya, bukan sapi yang harus bertanggung jawab etas
perbuatannya.
d) Manusia makhluk yang senantiasa akan menjadi (on going process),
dan tak pernah sempurna.
Dalarn kehidupaunya, manusia selalu akan menjadi. Contoh,
janin akan menjadi bayi, selanjutnya menjadi anak balita, anak
Taman Kanak-kanak, murid SD, berlanjut dengan rernaja, jadi
saudagar, pegawai, nelayan, jadi alruarhurn (aim.), dark akhirnya
menjadi penghuni surga atau neraka (QS. Al-Bayyinah (98): 6-8).
Sangat perlu dipaharni, bahwa setiap manusia tidak pernah
sempurna (perfect), sebab itu sebagai manusia jangariIah
menumut sesuatu yang perfect. Dengan istilab lain sebagai
manusia hindarilah sifai perfeksionisnle. Pada saat on going
process (menjadi), manusia dalam batasan tertentu dapat me-
ngarahkan dirinya menurut apa yang dikehendakinya (QS. ar-
Rad: [13]: 11).
3) Panda ngan Behavioristik
Pandangan ini menjelaskan bahwa behavior (tingkah laku) manusia
ditentukan oleb pengaruh lingkungan yang dialarni oieh individu yang
bersangkutan. Lingkungan adalah penentu tunggal dari tingkah laku
manusia. Jika ingin mengubah tingkah laku manusia, periti
dipersiapkan kondisi lingkungan yang rnendukung ke arah perubaltan
itu. Contoh, jika diinginkan agar anak inampu berbahasa Arab.
Scorang anak akan berhabasa Arab kalau is dibesarkan di tanah Arab.
Pelopor aliran behavioristik ini antara lain Skinner, Thorndike,
Watson, Pavlov, Gagne (Bigge, 1982! 10-11). Dalam beberapa hal
pandangan behavioristik itu ada benarnya, namun ada pule
kelemahannya. Contoh, pars nabi keberadaannya, mengubah kondisi
Iingkungan, dan banyak yang menentang kondisi yang ada. Nabi
Ibrahim, hcrada dalam lingkungan orang pernbuat dan penyembah
patung. Nabi Ibrahim tidak larut dalam kondisi yang ada, tetapi se-
baliknya dengan bijaksana mengubah sesuai dengan yang ditun.tut
oleh Sang Kha.lik sebagai pencipta alarn ini. Secant riiinya, ma6ya-
mkat yang ada nienyembah patung, sedangkan Nabi Ibrahim berusah
a mencariimenemukan pencipta-Nya, juga menyembahimengabdi
kepada-Nya_ Dengan Data lain, tidak selarnanya kondisi lingkungan
sebagai penentu tingkah lakuikejiwaan manusia,

 11
DASAR-DASA R. ILt.IU PENDIDIKAN

B. HARKAT DAN IvIARTABAT MAN US IA


Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, ka-
rena manusia di samping memilild fisik bioIogis, juga diberikan oleh
Allah akal pildrall, perasaan, had, moral, dan potensi yang sangat besar
untuk dapat dikembangkan terus selarna hidup manusia. Manusia tidak
hanya hidup untuk keperluan kehidupannya di dunia, tetapi bertujuan
untuk mencapai kehidupan yang kekal di akhirat nand. Manusia diberi
anugerah dan kernampuan oleh Allah sang pencipta untuk
mengernhangkan potensi dirinya agar mencapai harkat dan martabat
kemanusiaannya yang sempurna menuju pengabdiannya kepada Allah
Yang Mahakuasa. Manusia tidak hanya dipandang dari aspek
kehera.daarinya dengan herbagai kondisinya dalam kaitannya dengan
dirinya sendiri dan lingkungannya dalam kehidupan keduniaan, tetapi
manusia harus dikaji secara rrienyeluruh dari mana manusia berasal dan
ke mana Akan kernbali dalarn kehidupan ukhrawinya. Manusia harus
dikaji dari aspek diri individunya dan hubungannya dengan Khalik Sang
Penciptanya. Manusia harus dill-hat secara menyeluruh, sehingga kits
memahami sec= utuh harkat dan martabat manusia, Deegan demikian,
hakikat manusia dilihat dad harkat dan martabat manusia menurut
Prayitno (2009: 14) bahwa manusia ad al ah:
a. Makhluk yang b erirnan dan bertakwa kepada Tuhan Yang Mafia Esa.
b. Makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaan dan
peneitraannya„
c. Makhluk yang paling tinggi derajatnya.
d. Khalifah di muka burn!. c.
Pemilik hak asasi manusia.
Hakikat manusia merupakan inti dari kemanusiaan manusia, rnulai
dari awal penciptaannya, dalarn kondisi keberadaannya di muka bumi,
sampai kepada kembalinya kepada Sang Pencipta Allah yang Mahakua-
sa. Manusia rnemperoleh kehormatan dan kesempatan untuk mengak-
tuaiisasikan dirinya dalam keseluruhan proses kehidupan di dunia dan
akhirat. Manusia mengcmhangkan kehidupannya di muka humi dengan
sebaik-baiknya. Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang aha Esa
ditunaikan melalui peribadatan secara tutus dan ikhlas, citra kesem -
purnaan clan kcindahannya diwujudkan melalui tampilan hudaya dan
peradaban yang berkembang terus; ketinggian derajfatnya ditampilkan
melalui upaya menjaga kehormatan serta menolak hal-hal yang meren-
dahkan nilai-nilai kemanusiaannya; kekhalifahan diselenggarakan mcla-
11.413 1 a- Hakikat Manusia elan Dirriensinya

lui penguasaan pengelolaan atas surnber daya slam dan sumber daya
manusia untuk kehidupan yang darnai clean sejahtera dalarn alarm yang
nyaman dan tenteram; clan hak asasi manusia dipenuhi melalui saling
pengertian, saling member!, dan saling menerima serta saling melin-
dungi, menyejahtera.kan dan rnernbahagiakan,
Harkat dan martab at manusia akan semakin m en cap ai basil yang
baik jika patens! diri manusia itu dikembangkan dengan baik.
Pengembangan potensi diri manusia tidak berjalan dengan sendirinya, tetapi
memerlukan upaya yang optimal dari diri sendiri dan lingkungannya.
Pengembangan potensi dini manusia harus dapat menghasilkan kehidupan
yang lebih baik, Pengembangan potensi diri tersebut harus rneliputi sernua
komponen. Pengernba.ngan potensi diri individu untuk rnenjadi khatitab di
muka burn!, sehingga menghasilkan manusia yang dapat berpikir dan
rnengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia dan Edam beserta isinya. Pengembangan komponen
rasa, keindahan, kesusilaan, kehidupan bermasyarakat yang baik akan dapat
menghasilkan rasa kebahagiaan, kenyamanan, keamanan, keenterarnan,
kesejukan dan saling pengertian serta sang tolong-menlong dalam
kehidupan bermasyarakat. Pengembangan potensi yang baik dan utub akan
menghasilkan manusia yang berirnan dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Malta Esa, manusia cerdas, berilmu pengetahuan, terampil, herbudi pekerti
yang luhur, sehat jasmani dan rohani, serta bermanfaat bagi dirinya, bagi
masyarakat, bangsa, dan agarnanya,

1. Fitrah Kemanusiaan
Manusia sehagai ciptaan Tuhan yang paling rnulia, yang diciptakan
oleh Tuhan dengan sebaik -baik ciptaannya yang paling sempurna dan
paling mulia. Manusia dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan fitrah atau
suci, tidak berdosa, sebagairnana dalarn Islam dikatakan bahwa "Sernua
anak dilahirkan dalam keadaan suci, orangtuanyalah yang menjadikan
dia majusi atau nasrani. Hal ini berarti bahwa semua manusia secara
fitrahnya adalah ma.khluk yang hersih, suci, benar, clan luhur, serta me-
nolak hal -hal yang salah, yang tidak berguna, dan tidak terpuji, Pada
dasarnya manusia lahir mengandung unsur kebenaran dan keluhuran.
oleh sehab itu, fitrah manusia yang baik ini perlu dipeIihara dan dikem-
bangkan dalarn hidupnya agar tetap terjaga dan terpelihara sifat kefitrah -
an tersebut, Lingkungan jangan raemengaruhi kepada hal-hal yang mem-
sak fitrah manusia yang baik tersebut.
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

C. DIMENSI-DIMENSI KEMANUSIAAN
Dada hagian A sudah dibahas tentang hakikat manusia ditinjau dari
berbagai sudut pandang agar diperoleh pemahaman yang memadai dalam
memandang sifat hakikat manusia itu sendiri. Berikut ini diuraikan tentang
dim ensi-dirnensi kern anusiaan yang terdiri dari:
1, Dimensi keindividualan
2. Dimensi kesosialan
3. Di mengi kes u si I aim
4. Dimensi keberagamaan

1. Dimensi Keindividualan
Manusia sebagai makhluk individual dinnaksudkau sebagai ()rang
seorang yang utuh (individual; in-divide: tidak terbagi) yang terdiri dari
kesatuan fisik dan psikis. Keberadaan manusia sebagai individual bersifat
unik (unique), artinya berbeda antara satu dui yang lainnya, Setiap manusia
sama mempunyai mata, telinga, kaki, dan a.nggota tubuh lainnya, namun
tidak ada yang persis sama. bentuknya. Demikian juga manusia rnerniliki
perasaan, pikiran, kata hati, dan unsur psikis lainnya, namun tidak ada dua
manusia yang persis sama di muka buini ini, karena setiap orang kelak
akan diminta pertanggungjawaban atas sikap perilakunya.
Kesadaran manusia akan dirinya sendiri menvakan penvujudan
individualitas manusia. Kesadaran terhadap diri sendiri tnencakup pe-
ngertian yang sangat lugs, di antaranya kesadaran akan adanya diri di
aritara realitas, ,5eff respect, self wrcisme, egoisme, rnartabat
kepribadian, perbedaan dan persamaan dengan orang lain, dan kesadaran
terhadap potensi-potensi pribadi yang menjadi dasar dari se!frealisasi.
Makin manusia radar akan dirinya sendiri, rnaka is akan rnakin radar
terhadap lingkungannya karena manusia bagian dari lingkungannya.
Antarhubungan dan antaraksi pribadi akan melahirkan konsekuensi hak
dan kewajiban. Manusia sebagai individu memiliki hak sebagai kodrat
alami atau sebagai anugerah Tuhan kepadanya. Flak asasi sebagai pribadi
terutama hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak memiliki. Konsekuensi
dad aclanya hak, make manusia pun m en yadari kewajihan-kewajiban dan
tanggung jawab moral,
Permasalahannya akankah manusia dengan sendirinya dapat memiliki
kesadaran akan hak clan tanggung jawabnya yang profesional7 Setiap
manusia memiliki potensi untuk berkembang. Lalu apakah setelah lahir
potensi baik fisik maupun psikis dapat terwujud begitu saja? ;awabannya
tentu tidak demikian.

14 ■
13A13 1 a- Hakikat Manusia elan Dirriensinya

Manusia mernerlukan perawatan dan pendidikan dari manusia Lain di


lingkungannya, Ketergantungannya terhadap orang lain yang disebut
sebagai pendidik adalah dalam proses pembinaa.nnya untuk dapat
mandiri. Sehuhungan dengan au, Langeveld menyatakan bahwa setiap
anak rnemiliki dorongaa untuk mandiri yang sangat lcuat, meski pun di
sisi lain pada anak terdapat rasa tidak berdaya, sehingga memerlukan
pihak lain (pendidik) yang dapat dijadikan tempat bergantung untuk
memberikan perlindungaa dan birnbingart. Potensi-potensi yang dimiliki
anak perlu ditumbuhkembangkan agar bisa menjadi kenyataan. Sebab
tanpa dibina melalui pendidikan, benih-benih potensial yang bersifat
individual yang rnemungkinkan tethentuknya kepribadian yang unik
menjadi siasia. Dengan kata lain, kepribadian seseorang tidak akan
terbentuk dengan semestinya, sehingga seseorang tidak memiliki warna
kepribadian yang khan sebagai miliknya. Furigsi utama pendidikan adalah
membantu peserta didik untuk membentuk kepribadiannya, atau
menemukan kepribadiannya sendiri.
Pemaharnan pendidik yang tepat terhadap karakteristik pesetta di-
diknya secara individual sangat diperlukan dalam proses pendidikan.
Sebab setiap individu memiliki latar belakang dan kebutuhan yang her-
beda yang menuntut pelayanan pendidikan yang berbecla juga. Suasana
pendidikan yang kondusif yang menvenangkan, yang merangsang rasa
ingin tau yang lebih kuat, rnemungkinkan peserta didik merasa bergairah,
nierniiiki percaya diri yang postai dan dapat mengembangkan ktea-
tivitasnya secara optimal. Oleh sehab itu, seorang pendidik harus mampu
menciptakan dan memelihara suasana tersebut dengan memilih dan
rnernvariasikan pendekatan pelajarannya sesuai dengan tujuan yang hen-
dak rlieapai. Pelayanan pendidikan yang tepat tentu akan melahirkan in-
dividu -individu yang memiliki kepribadian yang mantap.

2. Dimensi Kesosialan
Seseorang akan menemukan "akunya", manakala berada di tengah aku
yang lain. Artinya manusia tidak akan mengenali dirinya dan dapat
melArujudkan potensinya sebelum dia berinteraksi dengan manusia yang
Lain. Manusia adalah makhluk sosial sekaligus adalah juga makhluk in.di-
vidual,
Perwujudan manusia sebagai makhluk sosial terutama.tampak dalarn
kenyataan bahwa tidak ada manusia yang mampu hidup sebagai manusia
tanpa adanya hantuari Bari °rang lain. Realita ini rnenunjukkan hahwa
manusia hidup dalam suasana interdependensi, dalarn antarhubungan dan
antar-aksi. Pada mutanya seorang manusia sangat bergantung pada
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

ibuipengasuhnya, sem akin lama is akan memerlukan lingkup sosial yang


lebih lugs untuk rnevv-ujudkan eksistensi clirinya Dalam kehidupan manusia
selanjutnya, manusia berada dalam sate kesatuan hidup, misalnya warga
kampus, warga suatu kelompok kebudayaan dan lainnya.
Tidak dapat clibayarigkan andaikan manusia sehari raja tanpa ada
interaksi dengan manusia lain di lingkungannya. Mungkin dari fisik se-
seorang dapat memenuhinya sendiri, tetapi kepuasan batin tidak diper-
olehnya. Karena bagaimanapun la Rimed -Aan adanya orang lain untuk
menyampaikan pikiran dan perasaannya. Secara psikologis setiap orang
rnemiliki dorongan cinta dan dicintai, sehingga menimbulkan kebaha-
giaan dan kepuasan rohaniah.
Hidup dalarn antar hubiingan, antar-aksi, dan interdependensi
mengandung konsekuensi-konsekuensi sosial, baik yang bersifat positif
rnaupun negatif. Ideainya dalam kehidupan sosial itu tercipta suasana yang
harinonis, rukun, dan damai. Namun suasana sebaliknya dapat pula terjadi.
Keadaan tersebut terjadi merupakan penArujudati dari nilai-nilai dan
sekaligus watak individualitas manusia, Untuk rnenghindari dampak
negatiffdisharmoni antara hubungan manusia, maka tap individu harus
merelakan hak individualitasnya untuk kepentingan bersama. Misalnya
seorang rnahasiswa yang ingin rnenikrnati had tiburnya berwisata ke suatu
tempat, harus rely mernbataIkannya karena di lingkungannya ada keg' a tan
yang melibatkan seluruh warganya.
Kehidupan sosial adalah realita di mans individu tidak menonjol kan
identitasnya. Yang tampak ke permukaan sebagai wujud kebersamaan
adalah identitas sosial yang pluralistis. Dalam haI ini bukan berarti
bahwa identitas individual menjadi hilang. Individualitas manusia tidak
bertentangan dengan wujud sosialitasnya. Dalam kehidupan manusia
individualitas seianjuinya akan berkembang menjadi sosialitasnya. Hal
dapat dilihat pada rnulai bayi dan kanak-kanak bersifat egosentris,
namun memasuki inasa kanak-kanak sifat tersebut mulai berkurang dan
berganti dengan adanya kebutuhan untuk diterima dan menerinta orang
lain sebagai bagian claim kehidupannya, Esensi manusia sebagai makh -
luk sosial adalah adanya kesadaran manusia tentang status dan posisi
dirinya dalarn kehidupan bersama, serta tanggung jawabnya dalam ke-
bersarnaan tersebut,
Untuk mengeinbangkan potensi sosialitas pada diri peserta didik,
idealnya pendidik menciptakan suasana pembelajaran yang mernung -
kinkan terjalinnya interaksi dan interpendensi siswanya. Kornunikasi
yang interaktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa menibu -

16
BAB 1 a- Rakikat Manusia elan Dirriensinya

ka peluang bagi siswa untuk leblh banyak belajar dalam peristiwa social
tersebut♦ Penggunaan metode diskusi rnisalnya, dapat mendorong tercip-
tanya suasana kebersamaan antarsiswa, bersifat terbuka dan menghargai
perbedaan pendapat sesarna anggota.kelompokn.ya.

3. Dirnensi Kesusilaan
Dalam pergaulan social, manusia diikat oleh nilai-nilai tertentu yang
menj ad i p atokan /tan ran hahwa suatu peril akt dianggap baikiburuk, istilah
susila berasal dad dua kata, yaitu su berarti baik dan si/a berarti dasar. Jadi,
kesusilaan merupakan ukuran baik dan huruk.
Persualan kesusilaan be rhub ungan dengan nilai nilai. Driyarkata
mernandang bahwa manusia susila adalah manusia yang memilik_i nilai-
nilai, menghayatt dan melaksanakan tersebut dalam perbuat-
annya. Nilai-nilai merupakan suatu yang dijunjung tinggi oleh manusia
karena mengandung rnakna keluhuran, kebaikan, dan kemuliaan. Nilai dapat
dibedakan atas nilai otonoin, yaitu yang dimilikildianut oleh orang
perurangan, nilai theonom, yaitu nilai keagarnaan yang berasal dari pencipta
alam sernesta int
Pada hakikatnya manusia diberikan kemampuan untuk melihat dan
mernbandingkan antara sesuatu yang baik dan huruk dengan kata lain
manusia merniiki kata hati, hati nurani untuk mengambil suatu keputusan.
Orang yang merniliki kecerdasan akal budi sehingga mampu menganalisis
dan membedakan yang baik clan huruk, sala.b sate benar disebut merniliki
kata hati yang tajam,
Kata hati yang tajam perlu diasah melalui pendidikan yang dilakukan
sejak dini. Orangtua di rumah tangga secara perlahan rnengenalkan ice-
pada anak makna perbuatan yang baik dan yang kurang baik, perbuatan
yang dibolehkan atau dilarang yang diikuti contoh teladan dari orangtua
dan lingkungannya. Di sekolah guru rrierieruskan dan mengernhangkan
nilai-nilai yang sudah dikenalkan di rumah oleh orangtua. Peserta didik
dilatih untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-
harinya.
Peserta didik harus merniliki pengetahuan tentang nilai-nilai dalarn
kehidupan dan mengintemalisasikannya. Pendidik tertentu perlu mem -
berikan contoh dan dengan kesabaran rnengarahkan perilaku peserta
didiknya pada nilai-nilai yang dianut, Menanarnkan kesadaran bagi pe-
serta didik terhadap kewajibannya sebagai anggota masyarakat di sam -
ping mengetahui juga haknya secara

17
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

4. Dimensi Keberagamaan
Manusia adalah makhluk yang religius, yang mengakui bahwa ada
suatu Dzat yang menguasai alam heserta isinya, yang dipuja, dan di-
sernbahrtya yang disebut Ilahi, yaitu Tuhan. Manusia pada dasarnya tun-
duk dan patuh kepada Tuhan, kepada ajaran-ajaran yang disampaikan
melalui kitab suci-Nya. Dalarn Islam dikatakan pada saat roh ditiupkan
Ice rahim ibu, maka pada seat itu is berjanji akan menghambalzan did ke-
pada-Nya. Lalu, kesempatan berada di permukaan bumi ini adalah untuk
rnernbuktikan janjinya. Allah bertirman bahwa tidaklah diakui seseorang
itu 'Denman sebelum keimanannya diuji selama berada di muka bumi.
Manusia memerlukan agama untuk keselamatan hidupnya kini dan
untuk masa yang akan da.tang. Agama merupakan sandaran vertikal da-
lam kehidupan manusia. Agar manusia menjadi makhluk yang tunduk dan
patuh kepada Tuhannya, maka perlu diberikan pendidikan agama sejak
ditii. Penanggung jawab utama dan pertama dalam pendidikan agama ini
adalah orangtua, Pada mulanya anak akan meniru-niru perilaku
orangtuanya dalam menjalankan agama, kemudian secara perlahan orang
tua perlu memberikan pernahaman tentang peranan agama dalam
kehidupan nianusia. lika dalam kehidupan sehari-hari anak tidak melihat
aktivitas keagarnaan di lingkungannya, mungkinka.h is akan menjadi
petneIuk agama yang taat? Jika anak hanya mendengarkan ajaran agama
tanpa melihat contob den tanpa adanya latihanipembiasaan dalam
beragama sulit diharapkan kehidupan yang religius rnewarnai aktivitas
mereka.
Pendidikan agama tidak hanya tanggung jawab guru agama, tetapi
merupakan tanggung jawab semua guru di sekolah dan tanggung jawab
setiap orang untuk saling menasihati pada kebenaran terhadap sernua-
nya_

D. PENGEMBANGAN DIMENSI KEMANUSIAAN


Manusia secara individual terlahir ke muka humi dengan segenap
potensinya untuk herkemhang. Potensi tersebut tidak dengan sendirinya
akan terwujud. Artinya diperlukan upaya dari manusia lain untuk me-
rangsang agar dapat turnbuh dan herkernhang seeara. optimal. Pendidik-
an merupakan kebutuhan setiap martusia agar menjadi manusia,
Agar potensi yang dimiliki manusia berkembang optimal, maka ma-
nusia memerlukan orang lain dalam kehidupannya melalui proses so-
sialisasi. Tida.k ada manusia yang maju dan berhasil tanpa bergaul dan
berinteraksi dengan manusia lainnya. Oleh sebab itu, setiap individu ha-

18 ■
BAB 1 a- Rakikat Manusia elan Dirriensinya

rus mampu hidup dan menunjukkan kesendiriannya di tengah-tengah


pergauiarl sosialnya dan mampu rnenerirna keberadaan orang lain dalam
dirinya,
Individualitas manusia dapat diwujudkan melalui interaksi sosialnya
dengan manusia yang ada di lingkungannya. Dalarn berinteraksi tersebut, ada
sejumiah nilai-nilai yang harus diperhatikan clan dipatuhi oleh manusia
sehingga tidak terjadi benturan antara kepentinga.n hidup manusia sebagai
makhluk individual maupun makhluk sosial_ Agar dapat diterima dalam
lingkungan sosialnya manusia harus taat nilai. Nilai yang dianutnya tidak
bertentangan dengan rtilai nilai yang diakui oleh masyarakatnya.
Manusia terdiri dari aspek jasrnani dan rohaniah manusia mern.er-
iukan sandaran vertikal dalarn. kehidupannya. Terbinanya hubungan
vertikal dengan Tuhan Yang Mahakuasa dapat membuat liwa manusia
menjadi tenang. Hubungan tersebut dapat dibina melatui kepatuhan
manusia pada ajaran -ajaran yang disampaikan oleh Tuhannya.
Pendidikan yang diberikan harus dapat mengembangkan keetnpat
dimensi kemanusiaan itu secara seimbang. Potensi jasmaniah dan
rohaniah manusia harus menclapatkan pelayanan yang seimbang. Wa-
laupun manusia itu dinilai meialui sikap dan perilaku yang ditunjukkan -
trra, namun manusia tidak akan bisa berperi]aku secara optimal tanpa
didukung oleh kondisi fisik yang sehat, Demikian juga sebaliknya, fisik
yang sehat raja belum cukup untuk dapat dikatakan manusia ilu berkua-
litas, k.arena tidak rnenunjukkan kernampuan dan perilaku yang diharap -
kan. Potensi individual peserta didik dikemhangkan dengan tidak meng-
abaikan dimensi kehidupan sebagai rnakhluk social. Setiap peserta didik
dengan potensi yang dirnilikinya harus mampu hidup di tengah masya-
rakatnya dengan memperhatikan dan mengamalkan nilai-nilai susila dan
agama yang dianut. Jika salah saw dari dimensi kehidupan manusia ter-
abaikan dalam proses pengernbangannya, rnaka diyakirii bahwa hal
terse-but akan menimbulkan masaIah baik dalam kehidupan manusia
secara individual maupun sosial, baik dalam kehidupannya secara
horizontal maupun vertikal,

E. SOSO K M AN US IA INDONESIA SEUTUH NYA


Manusia lndonesia yang utuh merupakan tujuan pemhangunan se-
perti digambarkan oleh GBHN bahwa pembangunan yang dilaksanakan
adalah dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya,
yang hidup secara semi, selaras, dan seimbang antara kehidupan jasma-
niah dan rohaniah, individual, dan keniasyarakatan serta kehid upan du-

19
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

nia clan akhiratnya. Hal ini berarti pernbangunan yang dilaksanakan tidak
hanya memacu kemajuan yang bersifat fisik semata, tetapi juga mengejar
kepuasan batiniah yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianut oleh. bangsa
Indonesia.
Pancasila sebagai pandangan hidup dalarn berbangsa dan bernegara
menempatkan manusia dalarn keseluruhan harkat dan martabatnya se-
bagai makhluk Tuhan yang Malta Esa, Manusia sebagai makhluk Tuhan
juga sebagai makhluk sosial yang dalarn kehidupannya haruslah dilandasi
sikap sating memberi corak dan warna dasar dalarn kehidupan ma-
syarakat.
Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang tidak hanya mengejar
kernajuan Iahiriah, seperti sanclang, pangan, papal), perumahan, ke-
sehatan, dan sebagainya atau kepuasan batiniah seperti pendidikan, rasa
aman, bebas mengeluarkan pendapat yang bertanggung jawab, rasa
k:eadilan, clan lain sebagainya, melainkan keserasian, keselarasan antara
keduanya. Bangsa Indonesia menginginkan keselarasan hubungan antara
1.-nanusia clan Tuhannya, antara sesama manusia serta Iingkungan alarm
sekitarnya, keserasian huhungan antara bangsa-bangsa dan juga
keselarasan antara cita-city hidup di dunia dan ald -tirat. Manusia seutuh-
nya adalah manusia yang memiliki pancaindra yang baik, sehat jasmani
dan rohani, mental spiritual dan mampu me n ggunakannya secara positif.
Manusia yang berpancasila, dalam kehidupan sehari-harinya ber-
dasarkan dari Pancasila baik dalarn kehidupan berkeluarga matt-
pun bermasyarakat yang memiliki wawasan yang seitnbang antara potensi
jasmani dan kehidupan rohaninya, antara kehidupan pribadi dan sosial,
antara diri dan nilai-nilai religius yang diyakininya.
Dalam masyarakat Indonesia yang beraneka ragam caraknya, me-
merlukan kemauan dan kernampuan mengendalikan diri dan kepentingan
yang pada gilirannya dapat menumbuhkan keseimbangan dan sta.bilitas
masyarakat. Oleh sebab itu, sikap hidup manusia Indonesia adalah:
1. Kepentingan pribadinva tetap diletakkan dalam kerangka kesadaran clan
kewajiban sebagai makhluk sosial dalam kehidupan rnasyarakat,
2. Kewajiban terhalap masyarakat ctirasakan lebih besar dari kepentingan
pribadinya.
Sikap dan pandangan hidup tersebut rnerupakan proses dan tujuan
pendidikan dalam keseimbangan yang selaras antar-pernenuhan kebu-
tuhan individu dengan pengembangan hidup masyarakat. Pendidikan
dilihat sebagai proses kenianusiaan yang terjadi dalarn konteks kehidup -

20
BAB 1 a- Rakikat Manusia elan Dirriensinya

an ma.syarakat, sebagai transaksi budaya. Ha] itu terwujud jika interaksi


pendidikan dilandasi oleh sikap Baling rnerighargai harkat rnasing-
masihg antara guru dan murid, yang secara seimbang terwujud sebagai
kemampuan mempertanyakan dan kesediaan menerima nilai-nilai
lingkungan. Raka Joni (1989: 10) menyatakan, peranan kunci dari pendidik
dalam interaksi pendidikan adalah pengendalian yang pada dasarnya
dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
a, Menumbuhkan kernaridirian dengan rnenyediakan kesempatan untuk
memutuskan dan berbuat.
b. IVIenurribuhkan kemampuan mengambil keputusan dan berbuat dengan
men ingkatkan pengetahuan dan keteram p 'an.
c. Menyediakan sister') dukungan yang menawarkan kesempatan serta
kemudahan belajar.
Guru secara berangsur harus rnemindahkan prakarsa dan tanggung
jawabnya kepada murid. Ia harus sewaktu-waktu siap menarik diri jika
kernandirian sis +Ara sudah tarnpak mulai berturnbuh.
Sehubungan dengan itu, Undang-Undang tentang Sister') Pendidikan
(UUSPN) Nomor 20 Tahun 2003 merumuskan fungsi dan tujuan pen-
didikan nasional sebagai berikut:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemarnpuan dan


rnembentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk ber-
kembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang Perlman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maim Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatit mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokrasi serta bertanggung jawa to!'

Pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia pada setiap jenis dan


jenjang pendidikan harus mengac.0 kepada pencapaian tujuan pendidikan
nasional tersebut. Untuk menjadi manusia yang seutuhnya terlebih dahulu
manusia perlu dicerdaskan. Manusia Indonesia memerlukan kecerdasan
dalam herpikir, merasa, mernaharni nilai-nilai agarna dan susila yang
dianutnya yang dapat diperoIehn.ya melalui proses pendidikan. Dari ketiga
kecerdasan tersebut, diharapkan is mampu tnewujudkan dirinya sebagai
manusia yang seutuhnya, yang dapat menyikapi kehutuhan dirinya secara
positif baik secara jasrnania.h maupun rohaniah, kehidupan
individual, dan social dan memperhatikan anti kata mengamalkan
nilai susila dalam berrnasyarakat dan nilai-nilai agama yang dianutnya.,
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

RANGKUMAN

Pada hakikatnya manusia mempunyai perbedaan yang sangat prinsip dibandi


ngkan makhluk lainnya. Manusia mempunyai karakteristik yang membedakan-
nya dengan makhluk lain sebagai sifat hakikat manusia.
Islam berpandangan bahwa manusia makhluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi
peran dan poskinya dari sepia makhluk yang acia, termasuk ma laikat sekalipun,
Manusia ditugasi untuk menjadi khalifah (pengatur) isi alam ini, kecuali ibuis
yang tidak rnungkin diatur manusia. Bila dal a m tuga 5 pengaturan tersebut
manusia itu makhluk yang tertinggi clan terrnulia.
Tuhan memberi perlengkapan kepada manusia: akal, keunikan setiap individu
manusia, perasaan kasih sayang, cinta, dan mak', serta persaudaraan. Perleng-
kapan yang diberikan Tuhan untuk manusia sebagai khalifah, Lebih banyak dan
Lebih sempurna dari makhluk lainnya. Bila manusia rnenggunakan semua pem-
herran itu bertentangan dengan aturan atau petunjuk Tuhan, jatuhlah posisi
manusia itu kepada tingkatan makhluk yang paling Nina_ Oleh sebab itu, setiap
manusia wajib belajar dan mengajar untuk manusia bagairnana berbuatiberkip-
rah menurut atu ran Tuhan,
Menurut Psikoanalitik, tingkah laku manusia didorong oieh Id, yang berisikan
keinginan untuk rnemuaskan nafsu (libido seksual), tetapi dikontrol oleh su-
perego, Dan, drhubungkan oleh dunia luar oleh ego. Menurut aliran Behavioris-
tik tingkah laku manusia dikendalikan oleh faktor lingkungan. Selanjutnya oleh
aliran Humanistik sifatnya netral atau kombinasi antarlaktor luar clan faktor dal
am diri manusia yang mengendalikan manusia, Manusia mempunyai otonomi
untuk mengendalikan dirinya, dan dalam Batas tertentu dapat rnengdntrol clan
mengarahkan jadi apa yang bersangkutan. Kehidupan manusia merupakan
suatu proses yang terus beruban,
Jika diilustrasikan hakikat manusia, akan terbentuk suatu kesatuan yang utuh,
dapat diumparnakan sebuah lingkaran seperti di bawah ini; berkelanjutan.
harmonic (serrnbang atau selaras dan serasi) menurut keridhaan Tuhan Yang
Mahn Esa,

1. Dimensi Ketuhana nikeberagamaa n


2_ Dimensi keindividualan
3. Dimensi kesosialanikernasyarakatan
4. DI mens i kes usi I aa nimora I

GAMBAR 1.2
Dimensi-dimensi Ha kikat Manusia

22 ■
SAI3 I •-• Hakikat Manusia elan Dirriensinya

Tugas

Setelah m e m pe I aja ri ba ha n ajar yang terd ahul u. si la ka n diselesaikan soal be ri kut:


1. Jelaskan paling kurang empat macam manfaat rnempelajari hakikat rum-
sia!
2. Kemukak an perbedaan yang mendasar antara pandangan hakikat manusia
menurut pakardunia Barat dibandingkan dengan pandangan Islam?
3. Jelaskan perbedaan pandangan hakikat manusia menurut psikoanalitik
dengari pandangan hurnanistik!
4. Berikan beberapa °daub kelwatan dan keterbatasan pandangan behavio-
ristild
5. Jelaskan keempat dimensi manusia harus dikembangkan secara seimbang,
selaras, dan serasi serta berkelanjuta n1
6. Kernukakan siapakah yang bertanggung jawab untuk mengembangkan di-
mensi-dimensi hakikat manusia untuk menjadi manusia seutuhnya, jelas-
kan!

Daftar Pustaka
Ali A. Yusuf. 1983. The Holy Qurizn Translation and Commentary. Bret-wood
Maryland USA: Published by Amapa Corp_
Digge L. Morris. 1982. Learning Theories for Teachers, Fourth Edition. New
York: Harper & Row Publishers.
Depdikbud. 1984 /1985. Mater/ Dasar Pendfdikan Program Akta Mengajar V
Buku la Jakarta: Universitas Terbuka
Hamidy H.Zainuddin, dan HS. Fachruddin. 1982. Tafsir Al-Quran Naskah Asti
Teriernah — Keterangan, Jakarta: Penerbit Widjaya,
Nasution A.H. clan Oejeng S. Gana. 1953. Pengantar Ehnurn V
Bandung: Canaco.
Patterson, C,M. 1973, Humanistic Education. Prirrtice Ffall, International, Inc.
London.
Prayitno. 2.009. Dasar read dan Praksis Pendidikan. Jakarta: PT Grarnedia
Widiasarana. Indonesia.
Redja Mudyahardjo. (2014). Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Sariasumantri, Jujun S, 1994, Filsafat flmu: Sebuah Pengantar. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.

111 23
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengan tar Pendidikan. Padang: Sukabina.
S,, dkk. 1984, ,Pustaka Akan Life, Manusia Purba. Jakartaa Tira Pus-
taka,
Tirtaraharja„ Umar, dan La Sulo, 1994. Pengantar Pendidikan. Jakarta:
Proyek Pernbinaan dan Peningkatan Mum Tenaga kependidikari.
Ditjen Dikti Depdikbud
Universitas Terbuka, 1985, Maieri Dasar Pendidikan Program Akta Ilvieng-
ajar V Buku HA. Jakarta: Departemen Pendidikan dari Kebudayaan.
Zahra (Tim). 2002. Oki). 99 Asrna Lri Husna. Jakarta Timur: Zahra Publish-
ing house. Fonder.

24
2

Hakikat Pendidikan
dan Ilmu Pendidikan

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalarn kehi-


dupan manusia, karena di mana pun dan kapan pun di dunia terdapat
pendidikan. Pendidikan path hakikatnya merupakan usaha manusia
untuk rnemanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk membudayakan
manusia atau untuk rnemuliakan kemanusiaan manusia. Untuk
terlaksananya pendidikan dengan baik dan tepat, diperlukan suatu
ilmu yang mengkaji secara mendalann bagaimana harusnya pendi-
dikan itu dilaksanakan_ Ilmu yang menjadi dasar tersebut haruslan
yang telah teruji kebenaran clan keampuhannya. !Wu tersebut ada[ah
ilmu pendidikan. Pendidikan tanpa ilmu pendidikan akan menimbulkan
kecelakaan pendidikan.
Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum da[am
setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pan-
dangan hidup yang dianut aleh masihg-masihg bangsa atau rnasya-
rakat dan bankan individu menyebabkan perbedaan penyelenggaraan
kegiatan pendidikan tersebut. Dengan demikian, selain dari bersifat
universal, pendidikan juga bersifat nasional. Sifat nasionalnya akan
mewarnai penyelenggaraan pendidikan bangsa itu.
Urusan utarna pendidikan adalah manusia. Perbuatan pendidikan
diarahkan kepada manusia untuk rnengembangkan potensi-potensi
dasar manusia agar menjadi nyata. Perubahan tuntutan yang terjadi
dalarn masyarakat, menghendaki peningkatan peranan pendidikan
selanjutnya. Dengan demi k ian, wajarlah kiranya batasan atau konsep
mengenai pendidikan selalu mengalami perubahan sesuai dengan
tuntutan keadaan akibat dari perkernbangan kehidupan manusia
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

atau perkernbangan peradaban manusia dan perkembangan rnasya-


rakat. Namun batasan pengertian, yang dikemukakan oleh para a nil/
pakar sejalan dengan kodrat manusia yang mernainkan peranan
rangkap dalam kehidupannya, baik sebagai individu rnaupun sebagai
anggot a rnasyarark at.
Sehubungan dengan hal yang telah dikemukakan di alas, dalam bab
in] akan dibahas: (a) pengertian pendidikan, (b) pengertian ilmu
pendidikan, clan (c) peranan dan kedudukan ilmu pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan, pernahaman tentang pokok bahasan
tersebut sangat diperiukan bagi Anda sebagai caion tenaga
kependidikan.
SeteIan mempelajari bab ini, diharapkan Anda akan menjelaskan tentang
hakikat iimu pendidikan. Lebih khusus lagi, sasaran belajar, yang
diharapkan akan Anda capai iaiah mampu:
a Menielaskan tentang pengertian pendidikan.
b. Menjelaskan tentang pengertian ilmu pendidikan.
c. Menjelaskan peranan dan kedudukan iimu pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan.

A. HAKIKAT PENDIDIKAN
Apakah yang dimaksud dengan pendidikan itu?
Untuk dapat memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan,
lebih dahuiu hendaklah kits pahami arti pendidikan secara etimologi di
camping definisi yang diberikan oleh pans ahli pendidikan,
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani "paedagogie", yang akar
katanya 'pais" yang berarti anak dan "again" yang artinva membimbing,
Tardir "paedagogie" berarti birnbingan yang diberikan kepada anak.
Dalam bahasa Inggris, pendidikan diterjemahkan menjadi "education".
"Education" berasal dad bahasa Yunani "educare" yang berarti membavva
keluar yang ter.,5irnpan dalam jiwa anak, untuk dituntun agar turnbuh dan
berkernbang.
Batasan atau definisi pendidikan yang dikemukakan oleh para ahli
atau suatu bangsa tergantung dari sudut pandang yang divnakan dalarn
memberi arti, sehingga definisi pendidikan ini berbeda antara sate dengan
yang lain. Ada yang memberikan definisi pendidikan yang lebih bersifat
desktiptif, di many rnereka rnelihat dari bagairnana proses terjadinya
pendidikan itu sendiri, tanpa melihat tujuan apa yang ingin dicapai. Di
camping itu, ada yang mendefinisikan pendidikan berdasarkan tu-

26 ■
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan I !mu Pendidikan

juannya atau lebih bersifat normatif (Madyo Ekosusilo, 198713).


Ditinjau dari terjadinya proses pendidikan, ada dua segi yang harms
dikembangkan, yaitu proses individual dan proses sosial. Beberapa ahli
pendidikan lebih menekankan kepada bagairnana mengernbangkan semua
kernampuan dasar (potensi) yang sudah dimiliki anak sejak
Adapun pendidikan sebagai proses sosial, pendidikan harus berusaha me-
lestarikan dan niewariska.n budaya kepada generasi penerus.
Ditinjau dari tujuan yang akan dicapai dalam proses pendidikan, maka
hal-hal yang dibicarakan lebih banyak mengungkapkan sistem nilai yang
akan dicapai meIalui pendidikan, di mama pelaksanaan pendidikan
didasarkan kepada sistem nilai yang sudah dimiliki oleh suatu masyarakat.
Apabila dalam proses pendidikan Lebih menekankan kepada tujuan
yang ingin dicapai, maka haI-haI yang dibicarakan lebih banyak meng-
ungkapkan sistem nilai yang diharapkan rnelalui pendidikan. Sistem nilai
merupakan sumber dari segala sumber hokum yang berlaku dalarn sate
masyarakat, bangsa, atau negara. Dengan demikian, dalam pelaksanaan
pendidikan, seyogianyalah didasarkan kepada sistem nilai yang sudah
dirrriliki oleh masyarakat, bangsa, atau negara tersebut.
Bertha( tolak clad uraian di alas, dapat dipahami bahwa perbedaan panda
a ga n yang digunakan oleh para ahli, masyarakat, at au suatu bangsa untuk
merumuskan definisi tentang pengertian penclidikan akan melahirkan
rumusan yang berheda pula.
Meskipun banyak ahli yang mem berikan defintisi tentang pendidikari,
namun pada bagian ini hanya akan dikemukakan rumusan dari ahli pen-
didikan yang sangat terkenal di Indonesia dan ajarannya rnasih dipelajari
sampai sekarang, l3erturut-turut akan dibahas pengertian pendidikan
menurut Langeveld, John Dewey, Driyarkara, dan Ki Hajar Dewantara. Di
samping pengertian menurut para ahli juga akan disafikan pengertian
pendidikan yang terdapat dalam Dictionary of Education, GBI IN, dan Un-
dang-Und an g Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Langeveld adalah seorang ahli pendidikan bangsafielanda yang pen-
didikanuya berorientasi ke Eropa dan Lebih menekankan kepada. teoriteori
(ilmu). Di Indonesia dapat kits kenal dengan bukunya Paedagogik Teoretis
Sisternatts. Buku tersebut berisikan uraian yang tersusun lengkap tentang
konsep dasar dan rnasalah-masalah pendidikan, Ahli ini merumuskan
pengertian pendidikan sebagai berikut:

Pendidikan adalali bimbingan atau pertolongan yang diberikan aleh


prang dewasa kepada perkembangan anak untuk rnencapai kedewa-
saannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan togas
hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain.

27
DASAR-DASA R. ILMU PE NDIDIKAN

Rumusan di alas memiliki keterbatasan, yakni yang menjadi subjek


didik hanyalah manusia yang tergolong "anak", untuk mencapai kede-
wasaannya. Sitat daripada pendidikannya ialah semua usaha, pengaruh,
perlindungran, bimbingan, dan Mantuan terhaidap anak dari orang dewasa,
yang terjadi &lam suasana pergaulan antara orang dewasa dan anal,
kapan saja dari di mana saja. Perlu ditekankan bahwa tidak setiap pergaulan
ittt merupakan pendidikan.Pergaulan yang dinarnakan pendidikan kalau
dalam pergaulan itu niuncul kewibawaan dan terdapat unsur kesenga-
jaan untuk memberikan bimbingan dan pertolongan kepada anak dalam
menuju kedewasaannya, sehingga sanggup melaksanakan tugas hidupnya
sendiri atas tanggung jawab sendiri,
Tujuan yang akan dicapai dalam proses pendidikan adalah kede-
wasaan jasmaniah dan rohaniah. Kedewasaan dalam pengertian ini ada-
lah jika seseoran.g badannya secara fisik sudah cukup besar dan berke-
mampuan, telah sanggup melaksanakan tugas hidupnya sesuai dengan
tuntutan atau norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, serta
sudah bertanggung jawab atas perbuatannya senditi. Sifat kedewasaan
ini tampak juga pada keikutsertaan seseorang secara konstruktif pada
kehidupan masyarakat, sesuai dengan norma yang ada pada masyarakat
itu. Di sampirig itu, ciri-ciri orang dewasa sudah punya sifat tetap atau
stabil dan bertanggung jawab serta dapat mengambiI keputusan sendiri.
Kewibawaan orang dewasa atau pendidik memegang peranan yang
sangat panting dalarn proses pendidikan, Kewibawaan pendidik inilah yang
menyebabkan anak didik secara sukarela melakukan segala kegiatan-kegiatan
yang diharapkan oleh pendidik, karena dia menyadari bahwa hal itu
memang sepantasnya dilakukan untuk dirinya sendiri bukan karena
takut pada pendidik.
Supaya kewibawaan ini dapat terbina, kepada pendidik dituntut
syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi. Sebagai syarat utarna bagi dirt
pendidik adalah memiliki norma-norma yang merupakan isi dari proses
pendidikan itu. Norma yang dimaksud hendaklah sudah dihayati, dirniliki,
dan diamalkan dalarn dirt sendiri atau sudah menyatu daiam keptibadian
pendidik. Deegan diainaikannya norma yang dididikkan kepada anak,
maka seluruh perbuatan pendidik dapat dijadikan teladan atau pendidik
merupakan tokoh identifikasi oleh a na.k.
Rohn Dewey, seorang abii filsafat pendidikan Amerika pragmatisme
dan dinamis, pendidikan (education) diartikan sebagai proses pembentukan
kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke
arah alain dan sesama manusia."' (IMP. 1992 1). Berbeda dengan
Langeveid yang Lebih menekankan pada teori-teori (ilmu), sedangkan

28
EA8 2 F Ha kikat Pcnd id i k an dan I !mu Pend idikan

Dewey lebib menekankan pada kegunaan (pragrnatis).. Metturutnya, hi-


dup itu adalah suatu proses yang selalu berubah, tidak satu pun yang aba-
di. Karena kehidupan itu adalah pertumbuhan, maka pendidikan berarti
membantu pertumbuhan bath' tanpa dibatasi oleh usia. Dengan kata lain
pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk membantu pertumbuhan
dalam proses hidup tersebut dengan pernbentukan kecakapan fundamental
atau kecakapan dasar yang mencakup aspek intelektual dan ernosional
yang berguria atau bermanfaat bagi manusia, terutama bagi dirinya sendiri
dan bagi gam sekitar. Sekolah yang didirikannva terkenal dengan
"Sekolah Kerja" (Baca Bab 7).
Proses pertumbuhan adalah proses penyesuaian pada tiap-tiap rase
serta menainbahkan kecakapan di dalam perkembangan seseorang. Ba-
nyak pengalaman yang diperoleh manusia dari perjuangan kehidupannya,
karena rnem.ang hidup itu adalah perjuangan. Kecerdasannya pun
berkernbang sedikit derni sedikit, Perkembangan kecerdasan manusia itu
terjadi dalam beberapa face (Peiajari buku ajar Perkeinbangan Peserta

Driyarkara, tokoh pendidikan kita yang sudah almarhum, tetapi


pandangannya rnasih tetap aktual pada rnasa sekarang dan bahkan pada
masa. yang akan datang, rnerumuskan definisi ten tang pendidikan dengan
versi lain. Tokoh ini mengernukakan tiga rumusan yang masihg-masihg
rumusan itu berdasarkan kepada aspek-aspek yang melatarbelakangi
pemikirannya. Rumusan pertarria, pokok pemikirannya adalah
pemanusiaan, di mana pendidik memanusiakan dan anak didik
memanusiakan diri, Jadi, pendidikan berarti pemanusiaan. Berdasarkan
pokokpemikiran itu, definisi yang dikemukakan sebagai berikut:
"Penclidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan "tritunggar ayah, ibur
dan anak, di mana terjadi pemanusiaan anak, dengan mana is berproses
umiak memanusiakan sendiri sebagai manusia purnawann (Driyarkara,
1980: 129).
Rumusan kedua, pokok pemikiran yang mendasarinya diambil dari
kenyataan bahwa pendidikan berarti mernasukkan anak ke dalam slam
budaya. Proses ini menuntut aktivitas baik diri anak sendiri rnaupun dari
pendidik.
iturnusan keiiga, dasar pemikiran dari pan.dangannya ini adalah
nilai-nilai hidup manusia pada prinsipnya merupakan pelaksanaan nilai-
nilai ini, seperti cara berpakaian, cara hidup, dan cara bergaul.
Berclasarkan pokok pemikiran itu, rumusan dermisi yang dikemukakan
sebagai berikut:
Pendidikan adalah hidup bersarTia dalam satuan "tritunggor oyah-ibu-

29
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

anak, di mana terjadi pelaksanaan nilai-nilai dengan rnana dia berpro-


ses untuk akhirnya bisa melaksanakan sendiri sebagai manusia
purnawan, (Driyarkara, 1980; 131)

Ditegaskan bahwa ketiga rurnusan itu saling terkait satu dengan lain-
nya, atau tidak terpisah-pisah. Yang lebih diteka.nkan adalah hidup
bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ihu-anak. Proses pemanusiaan
itu rneneakup pembudayaan dan pelaksanaan niiai-nilai.
Rani rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah
hidup bersama dalarn kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak di mana terja-
di pemanusiaan anak, pernbudayaan anak, dan pelaksanaan nilai-nilai,
dengan mana dia berproses, untuk akhirnya bisa membudaya sendiri
sebagai manusia purnawan, atau dengan kata lain menianusiakan anak
atau manusia muda menladi manusia purnawan.
Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia,
peletak dasar yang kuat pendidikan nasional yang progresif untuk gene-
rasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian
pendidikan sebagai berikut;
Pendidikan berarti days upaya untuk mernajukan berturnbuhnya buck
pekerti (kekuatan batin, karakter), nikiran (intelek dan tubuh anal();
dalarn Taman Siswa tidak boleh dipisah-pisahkan bagian-bagian itu
supaya kita rnernajukan kesernpurnaan hidup, kehidupan, dan
pengh[dupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya.
Dewantara. 1977: 14)
Tokoh ini adalah sebagai pelopor dan peletak dasar dari Perguruan
Taman Siswa. Dasar itu kini terken al dengan nama 'Panca Darrna". Dasar-
dasar itu adalah dasar kernerdekaan, dasar kebangsaan, dasar ketnanusiaan,
dasar kebudayaan, dan dasar kodrat alarm Dalani pelaksanaannya dasar
kemerdekaan ini dimaksudkan agar pendidik memberikan kebebasan kepada
anak didik untuk mengatur diririya sendiri dan mengernbangkan
individunya sendiri, namun harus berdasarkan nilai hidup yang tinggi,
sehingga dapat terwujudnya keseimbangan dan keselarasan baik sebagai
individu maupun sebagai anggota rnasya rakat,
Manusia sebagai niakhluk hidup tidak bisa dipisahkan dengan
alarnnya, karena ini sudah merupakan kodrat alam. Dasar kodrat alam
ini kemudian melahirkan sistem pamong, di mana guru diharapkan berperan
sebagai parnong, yaitu sebagai pernirnpin yang berdiri di belakang yang
dikenal dengan Tut Wuri Handayani.
Kebudayaan kebangsaan yang sudah ada hendaklah dilestarikan,
narnun dapat dikernbangkan sesuai dengan kernajuzn zaman atau ke -
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan I !mu Pendidikan

majuan ilmu dan teknologi sena kepentingan hidup lahir Latin.


Dasar kebangsaan, yang dirnaksud di sin adalah sesuai dengan ke-
manusiaan, yaitu rasa kesatuan dengan bangsa sendiri, namun tidak
bermusuhan dengan bangsa lain. Selanjutnya ditegaskan bahwa darma tiap-
tiap manusia itu adalah mevkatjudkan kerna.nusiaan, Dasar ini hendaknya
terlahir sebagai rasa kasih sayang dan saling me n ghormati sesama manusia
sebagai makitiuk Tuhan.
Derigari konsepsi seperti yang Wail diuraikan di atas, Ki Hajar De-
wantara telah meletakkan dasar kodrat anak sebagai faktor pertaina dan
utama yang terkenal dengan semboyan "Marilali kita berhamba kepada sang
anak." Cita-cita ini akan terlaksana jkka kepada anak diberikan ke-
bebasan dan kemerdekaan untuk menjadi manusia yang beradab sesuai
dengan kebudayaan dan menghormati bangsanya sendiri sebagai bangsa
Indonesia (Untuk lebi h jelasnya Baca BAB 4).
Pengertian yang terdapat dalam "Dictionary of Education", mengern
ukakan b alma:

Pendidikan ialah proses di mana seseorang mengernbangkan kemam-


puan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat
di mama is hidup, proses sosial di rnana orang dihadapkan pada
pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang
datang dari sekolah), seningga dia dapat memperoleh atau rnengalami
perikernbangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang
optimum. (Dijen Dikti, 1983/1.984: 19)

Dalam rumusan di atas, terkandung kesimpulan sebagai berikut: (1)


dal= pendidikan ada proses, yaitu pengernbangan individu dan pe-
ngenibangan sosial, (2) pengembangan individu (mencakup pengembangan
kemampuan, sikap, dan bentuk tingkah laku lainnya) secara optimum, hanya
dapat dicapai kal au dalam proses pendidikan (khusus proses belajar-
mengajar), individu sendiri yang terlibat secara aktif, (3) pengembangan
kemampuan sosial secara optimum hanya dapat dicapai, jika faktor
lingkungan berikut kurikulurn, sarana penunjang, dan seluruh kegiatan
belajar rnengajar sudah tersedia, terpilih, dan terkontrol. Selanjutnya
perlupula dikemukakan bahwa pengertian pendidikan yang tertera dalam
Garil-Claris Besar Haluan Negara tahun 1988, dinyatakan sebagai berikut:

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha radar untuk mengembangkan


kepribadian dengan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seurnur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluar-
ga, sekolah, dan masyarakat. (arena itu, pendidikan rnerupakan tanggung
jawab bersa ma antara keluarga, m asyara kat, dan perne r inta h.

31
DASAR-DASA R. 1114U PE N DIIDIK AN

Pernyataan di atas menunjuldca.n bahwa pendidikan adalah un sur -


unsur yang esensial di Indonesia, yang rn.erupakan tanggung jawab
bersama dari keluarga, pemerintah, dan masyarakat. Melalui
pendidikan nilai budaya bangsa harus dipelihara, dibina, dan
dikembangkan uniuk meningkatkan harkat dan martabat manusia
Indonesia. Sehagai impli kasi dari konsep pendidikan seurnur hidup
terlihat dari pernyatsan adanya perhalian pemerintah tuna
meningkatkan mutt' pendidikan sekolah dan pembinaan serta
pengembangan terhadap pendidikan di luar sekolah yang meliputi
pendidikan dalam keluarga dan pendidikan dalam rnasyarakat. Dengan
demikian, pemerintah telah menerapkan kebijaksanaan bahwa
pendidikan dimulai sejak anak dilahirkan sampai meninggal dunia.
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tabun
2003 Bab I Pasal 1 menggariskan bahwa:
Pendidikan acIalah usaha sadar clan terencana iintuk mewujudk an s ua
sana belajar dan proses pernbelAaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya urituk merniliki kekuatan spiritual,
keagarnaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.

Dalarn pengertian di atas, dapat terlihat bahwa penekartannya adalah


agar peserta didik mengemban.gkan potensi dirinya melalui proses pem-
belajaran atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakai. Hasil
pembelajaran yang diharapkart adalah terwujudnya manusia berkualitas yang
memiliki kekuatan spiritual, keagarnaan, pengendalian diri, kepri-
badian, kecerdasan, akhlak rnulia, dan skill. Untuk rnencapai manusia
yang berkualitas dimaksud, maka upaya pendidikan perlu dilaksanakan
dalam tiga pokok kegiatan, yaitu: (1) membimbing, (2) mengalar, dan (3)
rnelatih, UUSPN juga menegaskan jalur penyelengaraan pendidikan adalah
di sekolah dan di luar sekolah. Pada satuan pendidikan yang disebut jalur
pendidikan sekolah, upaya pendidikan diselenggarakan melalui kegiatan
belajar mengajar secara herjenjang dan berkesinarnbungan. Pendidikan
keluarga adalah bagian clari jalur pendidikan di luar sekolah. Upaya
pendidikan yang diselenggarakan dalam keluarga lebih mengutamakan
kepada pemberian keyakinan agama, nilai hudaya, nilai moral, dan
keterarnpilan,
Dengan demikian, ielaslah bahwa upaya pendidikan dilaksanakan
melalui jalur yang disebut sandal) pendidikan sekolah dan luar sekolah.
Upaya tersebut bermaksud rnenyiapkan peserta didik menjadi manusia

3 2 ■
EA8 2 F Ha kikat Pcnd id i k an dan I !mu Pend idikan

yang berkualitas untuk meningkatkan perana.nnya bagi masa depan. Untuk


rnevinijudkan hal tersebut, diperlukan kegiatan pendidikan berupa
peniberian, bimbingan., pengajaran, dan latihan.
pengertian pendidikan yang ada dalam UU PN tersebut dipertegas lagi
dalam ketetapan MPR, bahwa pendidikan adalab upaya untuk:
lvlengembangkan kualitas cumber Jaya manusia sedini rnungkin se-
cam terarah, terpadu, dan menyeluruh rnelalui berbagai upaya proaktif
dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat
berkernbang $ecara optimal disertai dengan hak clukungan clan
fingkungan sesuai dengan potensinya.

Di antara pengertian pendidikan yang dibahas di atas, masih ada


lagi pengertian-pengertian yang belum disebutkan di sini, namun dapat
kita sirnpuikan bahwa pada uniumnya pengertian pendidikan itu melekat
dan kedua sudut pandangan yaitu dad bagaimana proses terjadinya pen -
didikan itu sendiri, dan tujuan apa yang ingin dicapai. IvIeskipun dalam
tulisan di atas terlihat berbagai cars rnengungkapkan tentang apa yang
dimaksud dengan pendidikan itu, namun tidakdah terdapat perbedaan
yang prinsip di antara pengertian-pengertian tersebut. Lari semua defi-
nisi yang tela.h dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan
itu mengandung beberapa ciri/ unsur umum seperti berikut:
1. Bahwa pendidikan merupakan usaha sadar dad si pendidik yang
mernpunyai tanggung jawab kepada masa depan anak atau peserta
didik.
2. Usaha itu mernpunyai tujuan yang ingin dicapai, yaitu pengembangan
did individu untuk meningkatkan pengetab.uan, keterampilan, dan nilai-
nilai sehingga bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang
pribadi dan sebagai seorang anggota masyarakat, serta mampu
rnenyesuaikan did dengan I ingkungan yang selalu berubah.
3. Dalam pencapaian tujuan pendidikan anak didik perlu diikutsertakan
untuk terliba.t secara aktif sepenuhnya.
4, Pencapaian tujuan tersebut terlaksana dalam suatu proses di mum
diperlukan bimbingan yang terencana, teratur, dan sistematis. 5.
Kegiatan tersebut terselenggara dalam jalur pendidikan formal, in-
formal, dan nonformal di sekolah dan di luar sekolah.
pendidikan akan merupakan usaha yang disengaja dan terencana
untuk membantu perkembangan potensi den kernarnpuan anak agar her-
manfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai
warga negara masyarakat, dengan memilih isi (mated), strategi kegiatan,
dari teknik yang sesuai. Berkaitan dengan perkembangan yang dialami

 33
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

oleh anak, maka usaha yang disengaja dan terencana (yang disebut pen-
didikan) tersebut ditujukan untuk membantu anak dalarn menghadapi
dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan yang dialarninya dalam
setiap periode perkembangan. Dengan demikian, pendidikan mempunyai
peranan yang besar dalarn mencapai keberhasilan da[arn perkern-
bangan anak (Dirjen Dikti, 1981: 25).
Hakikat pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab
urusan Mama pendidikan adalah manusia, Wawasan yang dianut oleh
pendidik dalam hal ini guru, tentang manusia akan memengaruhi strategi atau
metode yang digunakan dalarn melaksanakan tugas-tugasnya. Di samping
itu, konsep pendidikan yang dianut sating berkaitan erat dengan hakikat
pendidikan.
Beberapa asumsi dasar yang berkenaan dengan hakikat pendidikan itu
dinyatakan oleh Raka Joni (1985:2) sebagai berikut:
1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh
keseimbangan antara kedaulatan subjek didik dengan kewibawaan
pendidi kart.
2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi
Iingkungan hidup yang mengalarni perubahan yang semakin pesat.
3. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masya-
rakat,
4. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
5, Pendidikan merupakan fiat datum menerapkan prinsip-prinsip ilmu
pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.
Pada dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus
sebagai tujuan, Asumsi dasar pendidikan tersebut rnemandang pendidikan
sebagai kegiatan kehidupan dolma masyarakat untuk mencapai perwujudan
manusia seutubnya yang berla.ngsung sepanjang hayat. Pendidikan sebagai
kegiatan kehidupan dalam masyarakat mempunyai arti penting, baik bagi
individu maupun masyarakat, Sebab antara masyarakat dan individu sating
berkaitan. In divid u menjadi manusia seperti sekarang ini adalah karena
proses belajar atau proses interaksi manusiawi dengan manusia lain. Ini
berarti bahwa manusia tidak akan menjadi manusia tanpa dimanusiakan.
Dengan kata lain, perkembangan yang manusiawi hanya dapat terjadi
dalam lingkungan masyarakatnya. Narnun sebaliknya, masyarakat
sebagai wujud kehidupan bersama tidak mungkin berkembang kalau tidak
didukung oleh kemajuan individu-individu anggotanya.
Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional individu dan ma-
syarakat. Pendidikan dilihat sebagai proses pemanusiaan dalarn konteks
kehidupan bermasyarakat, sebagai transaksi sosia] budaya. Proses

34 ■
EA8 2 F Ha kikat Pcnd id i k an dan Ilrau Pend idiken

pemanusiaan ini dalam transaksi social budaya yang dimaksud hanya


rnungkin terwujud apabila terjadi transaksi pendidikan yang dilandasi
oleh sikap sating menghargai harkat masihg-masihg antara pendidik dan
peserta didik dalam suasana pendidikan sebagai proses untuk men-
jadikan dirinya sendiri, pendidik harus saling menghargai perbedaan ide
atau pendappat,
Pendidikan atau belajar harus mendorong manusia untuk terhhat
dalam proses mengubah kehjdupannya ke arah yang lebih bail, Inengem-
bangkan kepercayaan diri sendiri, mengembangkan rasa ingin tahu serta
meningkatkan pengetahuan dan keterarapilan yang telah dirnilikinya
sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan berfungsi untuk rnening-
katkan kualitas hidup pribadi dan niasyarakat.
Selanjutnya, pendidikan mentegang peranan yang sangat penting bagi
penyiapan subjek didik untuk rnenghadapi lingkungan hidup yang
mengalami perubahan yang pesat. Tata nilai yang mapan digoyahkan oleh
nilai-nilai Baru yang masih mencari bentuk. tJntuk itu program pen-
didikan nasiona.1 di saniping berfungsi u Tau k meneruskan nilai -nilai
luhur warisan nenek rnoyang, hendaklah juga dapat menerjemahkan niiai-
nilai tersebut ke dalarn keadaan yang berrnakna bagi setiap peserta didik.
Dengan demi kian, dapat terwujuil secara seimbang antara kesempatan
mempertanyakan dan kesediaan menerima nilai-nilai lingkungan,
Bertolak dari asumsi dasar atau pandangan di atas, maka peranan
kunci pendidik adalah pengendalia.n. Pengendalian di sini diartikan sejak
mulai dari awal adalah pemandirian subjek didik. Jadi , pendidikan sebagai
proses menjadikan subjek didik untuk menjadi dirinya sendiri, proses ini
berlangsung sepanjang hayat. Untuk tervkrujuidnya kernandtrian setahap
derni setahap, seorang pendidik harus mengangsurkan prakarsa marl
tanggung jawab belajar kepada peserta didik. Seorang pendidik (guru)
menyadari sepenuhnya bahwa otoritas profesional yang diberikan
kepadanya hanya mernpunyai sate tujuan, yaitu untuk mernandirikan
subjek didik, bukan untuk menjinakkannya. Dengan perkataan lain, ia h a-
rus sewaktu-waktu siap menarik diri, begitu petunjuk -petunjuk keman.di-
rian subjek didik mulai bertumbuh (Raka Joni, 1989).
Berkaitan dengan hal tersebut, Prayitno (2005: 18) mengemukakan
bahwa pendidikan hendaklah terselenggara di dalarn ketiga dimensinya,
yaitu: (1) dimensi demokratik; (2) dimensi inspiratit dan (3) dimensi pro-
duktif.
Dirnensi dernokratik dalarn pendidikan mengisyaratkan bahwa baik
isi maupun penyelenggaraan pendidikan hendaklah dapat mernupuk
wawasan dari sikap peserta didik untuk menghargai orang lain sebagai-

111 35
DASAR-DASA R. Ill4I.J PE N DIDIKAN

mana is menghargai dirinya sendiri. Di camping itu, dimensi clernokratik


juga mernupuk turnbuhnya sit ap bebas (yang bertaaggung jawab) da-
larn berpendapat, dan bertindak. Tujuan pendidikan nasional
hendaknya berada dalam dimensi ini, sebab bila tidak dernildan maka
akan Iahir generasi yang rnementingkan diri sendiri, mau rnenang sen-
diri, individualistik, dan sejenisnya. Atau sebaliknya, individu yang
takuti patuh dan pasrah kepada kekuasaan, "monoloyalistik". Keadaan
demikian itu pada dasarnya Trkencerrnin.kan wawasan, sikap, clan
perilaku antidemokratik.
Dimensi inspiratif rnaksudnya adalah bahwa pendidikan hendaknya
rnetnuat segenap hal yang dapat mengembangkan berbagai potensi diri
peserta didik, mennipuk mereka untuk menjunjung tinggi nilai, moral,
dan budi pekerti luhur, rnembangun penilaian positil terhadap diri sen-
inernacu semangat dan motivasi peserta didik dan rnembangkitkan
jiwa kalangan mereka, Dalam pendidikan seperti di atas, maka peranan
dinamis dari pendidik akan mernungkinkan keterlibatan mental subjek
didik yang rnaksirnal di dalarn mengaktualisasikan pengalaman belajar.
Konsep inilah yang dinamakan Cara Beiajar Siswa Aktif (CBSA), pada
hakikatnya bertujuan untuk peningkatan martabat kemanustaan yang
didasarkan kepada. asas Pancasila untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional.
Dalarn Pancasila kita temukan nilai-nilai mendasar manusiawi,
yang kita junjung tinggi bersama. Maka selayakrrya dalarn pendidikan
peserta didik dibantu untuk tnengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai
luhur Pancasila dan mengintegrasikannya dalam hidup pribadi maupun
hidup sosialnya.
Berkenaan dengan halcikat belajar siswa aktif dalam penyelenggaraan
pengajaran hanya dapat terlaksana, jik.a kegiatan belajar dilakukan
secara bebas tetapi terkendali, interaksi pendidik dan subjek didik
mencerminkan hubungan manusiawi serta merangsang berpikir siswa,
memanfaa.tkan berbagai sumber, kegiatan belajar yang dilakukan murid
hervariasi. Mernang tidak mullah untuk rnewujudkan kegiatan seperti itu.
Untuk ini pendidik (guru) perlu memahami penggunaan strategi mengajar
yang tepat clan cara penyusunan satuan pengajaran yang menerapkan
konsep cara belajar siswa aktif,
Manusia dalam hidupnya selalu terkait dengan masa Ialunya dan
sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya.
Dengan dernikiam manusia berada dalam perjalanan hidup, dalarn per-
kembangan dan pengembangan diri. Ia adalah manusia yang sekaligus
belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia.

36
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan I !mu Pendidikan

Dalam huhungan dengan eksistensinya, manusia mengemban tugas


untuk menjadi manusia yang ideal yang merupakan gambaran manusia
yang clicita-citakan Oleh sebab itu sosok manusia yang ideal itu belum
terwujudkan, melainkan harus diupayakan untuk diwujudkan. tintuk
rnelArujudkan manusia yang ideal, yang dicita-citakan. itu diperlukan arab-
an, bimbingan, dan pendidikan. Pendidikan berperan untuk menjadikan
manusia menjadi sosok manusia yang ideal, yaitu manusia dengan segala
harkat dan martabatnya.
Potensi yang dimiliki manusia harus dikembangkan dengan radar,
dari terencana agar mencapai apa yang diinginkan tersebut. Kernampuan
yang harusnya dilakukan oleh manusia tidak dibawa dari lahir, tetapi
diperoleh setelah kelahiran melalui upaya bantuan dari pihak lain,
mungkin melalui upaya pengasuhan, pengajaran, latihan, bimbingan, dan
berbagai bentuk kegiatan lainnya yang dapat dirangkurn dalam istilah
pendidikan. Di pihak Iain, manusia yang bersangkutan juga harus belajar
atau harus mendidik did sendiri. Sebaik atau sekuat apa pun usaha
pendidikan dari luar dilakukan untuk mencapai manusia yang ideal
tersebut, tetapi kalau diri yang bersangkutan tidak mau mendidik dirinya
sendiri, maka upaya dad luar itu tidak akan metnberikan kontribusi Magi
kernungkinan seseorang untuk menjadi manusia yang ideal. Sebaliknya
manusia yang tidak memperoleh bantuan dad orang lain untuk rnencapai
kemanusiaannya, rnaka manusia tersebut hanya akan hidup berdasarkan
instingnya. Manusia belum selesai menjadi manusia, is haws didik dan
mendidik diri sencliri. Hal ini sejalan dengan apa yang dikernukakan oleh
Immanuel Kant, bahwa "Manusia dapat menjadi manusia hanya melaui
pendidikan,"Jadi, manusia adalah makhluk yang perlu dididik dan men-
didik dirinya sendiri, M.J. Langeveld menyebutnya dengan "Aninzat Edu-
CatIAL1112,"
Pandangan yang lebih positif tentang manusia dikemukakan oleh
Prayitno (2005), bahwapendidikan adalah upayaPemuliaan kemanusiaan
manusia. Pendidikan berfungsi untuk mengernhangkan dimensi-dimensi
kemanusiaan sesuai dengan harkat dan martabat manusia, sehingga akar'
terwujud menjadi manusia seutuhnya melalui pengembangan sernua
potensi did man usia itu se cars optimal, utuh, seitnbang, untuk
kehidupan dunia dan akhirat.
Pendidikan di samping untuk mencapai manusia yang ideal, atau
yang dicita-citakan, pendidikan juga diarahkan untuk pengembangan
dirnensi kemanusiaan, sehingga manusia bisa berkembang secara opti -
mal. Pengembangan semua dimensi kemanusia yang optimal dan seim-
bang tentu akan mericapai harkat martabat manusia yang sangat tinggi.

37
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

Manusia seperti ini akan mudah hidup dan bergaul dengan siapa saja, di
mane saja, dan dalam pekerjaan apa saja, Berta akan mencapai kebaha-
giaan hidup dunia dan akhirat. Karena pendidikannva tidak hanya untuk
kehutuhan hidup yang baik di dunia, tetapi pendidikan yang rneningkat-
kan derajat keimanan, ketakwaan, dan peribadatari kepada Tuhan Yang
Mahakuasa.

B. HAKIKAT ILMU PENDIDIKAN


Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang hanya dapat dilakukan
oleh manusia, merniliki lapangan yang sangat lugs. Ruang lingkup la-
pangan pendidikan meneakup semua pengalaman dan pemikiran manusia
tentang pendidikan, Pendidikan sebagai suatu kegiatan manusia dapat
diamati sebagai suatu praktik dalam kehidupan, seperti halnya dengan
kegiatan manusia Iainnya, seperti kegiatan dalam bidang ekontimi,
kegiatan dalam hukum, dari kegiatan dalarn beragarna. Di samping
pendidikan juga dapat dikaji secara akadeinik, baik yang berdasarkan
kepada pengalaman empiric dalam kegiatan pendidikan rnaupun seeara
teoretis dengan mengkaji pendidikan dalam ruang Iingkup yang lebih luas.
Kegiatan pertama merupakan praktik pendidikan, sedangkan kegiatan
kedua disebut teori pendidikan. Antara teori pendidikan clan praktik pen-
didikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling
melengkapi, dan sating rnengisi satu sama lainnya. Pelaksanaan pendi-
dikan dalam keluarga, di sekolah, dan dalam masyarakat dapat dijadikan
sumber dalarn menyusun teori pendidikan. Sehaliknya, teori pendidikan
digunakan sebagai suatu pedoman dalam melaksanakan praktik pendi-
dikan.
Ilmu pendidikan merupakan ilmu pengetahuan empiric, karena oh-
jeknya adalah situasi pendidikan yang terdapat pada dunia pengalantan
manusia. Ilmu pendidikan juga merupakan ilmu pengetahuan rohani,
karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan hidup manusia, tidak
membiarkan anak kepada keadaan alamnya saja, tetapi memandangnya
sebagai rnakhluk susila dan membawanya ke arah manusia susila yang
berbudaya. Ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan rtormatif, karena
berdasarkan atas pemilihan antara yang baik dan tidak baik untuk menuju
kemanusiaan yang baik. limu pendidikan adalah ilmu pengetahuan praktis,
karena yang diuraikan dalam ilmu pendidikan adalah kegiatan yang
dilaksanakan (Jalapa pendidikan. Menurut Uyoh Sadulloh, dkk. (2.006:
73), ilmu pendidikan adalah ilmu pengetahuan tentang pendidikan yang
disusun secara si stern a tis, logis, berdasarkan prinsip-prinsip yang

38 ■
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan Ilmu Pendidikan

diperoleh dan diverifikasi melalui pengamatan, eksperimen, dan basil


pemikiran yang tepat, Deegan demikian, pada dasarnya Unit' pendidikan
adalah ilmu yang mempelajari tentang teori clan praktik pendidikan agar
pendidikan berjalan sesuai dengan Leori, asas, dan prinsip-prinsip dasar
pendidikan.
Ilmu pendiclikan harus dipelajari dan dimiliki oleh setiap pendidik
atau calon pendidik agar tidak terjerumus kepada kegiatan pendidikan
yang tidak terarah dan terencana, serta membawa kepada kemungkinan
berbuat kesalahan. Ilinu pendidikan harms dipelajari oleh calm pendidik,
karena yang akan dihadapi adalah manusia, yang menyangkut nasib
kehidupan dan hidup manusia, akan rnenyangkut harkat dan rnartabat
manusia, serta hak asasi manusia, Perbuatan mendidik adalah perbuatan
yang harus betul-betul disadari, dalam rangka memhimbing anak ke arah
yang dituju. Langan terjadi kegiatan pendidikan seperti yang disinyalir
oleh Winarno Surachinad (2005), yaitu 'Pendidikan Tanpa Ilmu Pendi -
dikan" (Pentip). Pendidikan dilaksanakan tanpa berpedoman pada ilmu
pendidikan. Prayitno (2005) menyarnpaikan bahwa praktik pendidikan
memerlukan pernenuhan kebutuhan dasar dari pendidikan, yaitu ilmu
pendidikan. Gurning juga pernah mengemukakan bahwa "(teori tanpa
praktik merupakan perbuatan yang sangat istimewa, tetapi sebahknya
praktik tanpa teori bagai orang gila dan penjahat.
Ilmu pendidikan sebagai teori perlu dipelajari oleh pendidik, karena akan
memberi beberapa manfaat sebagai berikut:
1. Dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah tujuan mana
yang akan dicapai.
2, Untuk menghindari atau mengurangi kesalahan-kesalaha.n dalam
praktik, karena dengan rnemahami teori pendidikan, seseorang akan
mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleti dilakukan.
3. Dapat dijadikan .sebagai tolok ukur, sampai di mana seseorang telah
berhasil rnelaksanakan tugas dalam pendidikan.
Perbuatan mendidik bukanlah perbuatan sembarangan, karena me-
nyangkut kehidupan dan nasib anak manusia untuk kehidupan selan-
jutnya, yaitu manusia sebagai makhluk manusia yang bermartabat de-
ngan hak asasinya. Pelaksanaan pendidikan merupakan tugas moril yang
tidak ringan, sehingga dalam mendidik tidak holey membuat kesalahan
sekeci] apa pun juga. Sikun Pribadi mengernukakan ada tiga kesalahan
dalam rnelaksanakan pendidikan, yaitu:
L Kesalahan teknis, artinya kesalahan yang disebabkan oleh kekurangan
keterampilan atau kesalahan dalam cara menerapkan pengertian atau
prinsip-prinsip Lertentu..

 39
DASA R-DASA IR. I LMU FENDIDIKAN

2. Kesalahan yang bersumber pada struktur kepribadian perilaku pendidik


sendirI.
3. Kesalahan yang sifatnya kon.septual, artinya kesalahan karena pen-
didik kurang mendalarni masalah-masalah yang sifatnya teoreds,
rnaka perbuatan mendidiknya mempunyai akibat yang tidak dapat
dibe arkan,

C. PERANAN DAN KEDUDUKAN !WU PENDIDIKAN


DALAM PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN

1. Peranan Ilmu Pendidikan dalam Penyelenggaraan


Pendidikan
Ilmu pendidikan mempunyai peranan sebagai perantara dalarn mem
bentuk rnasyarakat yang mempunyaila.ndasan individual, social dalam
penyelenggaraan penclidikan. Pada Skala mikro pendidikan bagi individu
dan kelompuk kecil beralngsung dalarn Skala tebatas seperti antara
sahabat, antara seorang guru dan sate atau sekelompok kecil siswanya,
serta dalam keluarga antara suami dan istri, antara orangtua dan anak
serta anak lainnya_ Pendidikan dalarn skata rnikro diperlukan agar manu-
sia sebagai individu berkembang semua potensinya dalarn arti perangkat
pembawaanya yang baik dengan lengkap.
Pendidikan nasional berdasa.rkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945, Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan ke-
mampuan serta meningkatkan mute kehidupan dan martabat manusia
Indonesia dalarn rangka upaya mewujudkan tujuan nasional dan penye-
leriggaraan pendidikan. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya,
yaitu manusia yang heriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri
serta rasa ranggung jawab kernasyarakatan dan kehangsaan„
Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta
tidak diskriminatif dengan meniunjung tinggi leak asasi manusia, nilai ke-
agarnaan, nilai kultural, dan kernajernukan bangsa. Pendidikan diseleng-
garakan sebagai satu kesatuan yang sisternik dengan sistem terbuka dan
multimakna. Pendidikan sistem terbuka: fleksibilitas pilihan dan waktu
penyelesaian program brims satuan dan jalur pendidikan. Pendidikan
rnultimakna: proses pendidikan yang diselenggarakan dengan berorientasi
pada pembudayaan, pemberdayaan, pembentukan watak dan kepri-

40
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan I !mu Pendidikan

badian, serta berbagai kecakapan hidup.


Peranan ilniu pendidikan tidak akan terlepas Mari hakikat manusia,
sebab urusan utama pendidikan adalah manusia. Wawasan yang dianut
oleh pendidik dalam hal ini guru, tentang manusia akan memengaruhi
strategi atau metode yang digunakan dalarn rnelaksanakan tugas-tugas-
nva. Di samping itu, konsep pendidikan yang dianut saling berkaitan erat
dengan peranan ilmu pendidikan.
Beberapa asurnsi dasar yang berkenaan dengan peranan ilniu pen-
didikan itu dinyatakan oleb Raka Joni (1985: 2) sebagai berikut
a. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh
keseimbangan antara kedaulatan peserta didik dengan kewibawaan
pendidikan,
b. Pendidikan merupakan usaha penyiapan peserta didik menghadapi
lingkungan hidup yang mengalarni perubahan yang semakin pesat.
c. Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyara-
kat.
d. Pendidikan beriangsung sett rrour hidup,
e. Pendidikan rnerupakan kiat dalam rnenerapkan prinsip-prinsip ihnu
pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnyra.
Pada dasarnya pendidikan harus dilihat sebagai proses dan sekaligus
sebagai tujuan, Asumsi dasar p en didikan tersebut memandang pendidikan
sebagai kegiatan kehidupan dalam masyarakat untuk mencapai perwujudan
manusia seutuhnya yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan sebagai
kegiatan kehidupan dalarn masyarakat mempunyai ant penting, baik bagi
individu maupun masyarakat. Sebab an tara masyarakat dan individu
saling berkaitan, individu rnenjadi manusia seperti sekarang ini adalah
karena proses belajar atau proses interaksi manusiawi dengan manusia lain.
Ini berarti bahwa manusia tidak akan rnenjadi manusia tanpa
dimanusiakan. Dengan kata lain, perkembangan yang manusiawi hanya
dapat terjadi dalam lingkungan rnasyarakatnya. N am un se b al iknya,
rnasyarakat sebagai wujud kehidupan hersama tidak mungkin herkembang
kalau tidak didukung oleh kemajuan individu individu anggotanya.
Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional individu dan ma-
syarakat. Pendidikan dilihat sebagai proses pemanusiaan dalam konteks
kehidupan bermasyarakat, sebagai transaksi sosia] budaya. Proses
pemanusiaan ini dalam transaksi social budaya yang dimaksud hanya
rnungkin terwujuci Apabila terjadi transaksi pendidikan yang dilandasi
oleh sikap sating menghargai harkat rasing-masihg antara pendidik de-
ngan peserta clidikdalam suasana pendidikan sebagai proses untuk men-
jadikan dirinya sendiri, pendidik harus saling menghargai perbedaan ide

41
DASAR-DASAP. ILMU P E N DIIDIK AN

atau pendapat.
Pendidikan atau belajar harus mendorong ma.nusia untuk terlibat dalam
proses mengubah kehidupannya ke arah yang lebih baik, mengembangkan
kepercayaan diri sendiri, mengembangkan rasa ingin Lahti, serta
rneningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimilikinya
sepanjang hayat. Dengan demikian, pendidikan bertungsi untuk mening-
katkan kualitas hidup pribadi dan masyarakat.
Selanjutnya, pendidikan mernegang peranan yang sangat penting bagi
penyiapan peserta didik untuk menghadapi lingkungan hidup yang
rnengalami perubahan yang pesat. Tata nilai yang mapan digoyahkan oleh
nilai-nilai Baru yang rnasih mencari bentuk, Untuk itu program pen-
didikan nasional di camping berfungsi untuk meneruskan nilai-nilai luhur
warisan nenek moyang, hendaklah juga dapat menerjemahkan nilai-niLai
tersebut ke dalam keadaan yang bermakna bagi setiap peserta didik.
Dengan demikian, dapat tenimjud secara seimbang antara kesempatan
rnempertanyakan dan kesediaan menerima nilai-nilai lingkungan.
Bertolak dari aSUI115i dasar atau pandangan di atas, maka peranan
kunci pendidik adalali pengendalian. Pengendalian di sini diartikan, sejak
mulai dari awal adalah pemandirian peserta didik. Jadi, pendidikan
sebagai proses menjadikan peserta didik untuk menjadi dirinya sendiri,
proses ini berlangsung sepanjang hayat. Untuk terwujudnya kemandirian
setahap demi setahap, seorang pendidik harus rnengangsurkan prakarsa
atau tariggung jawab belajar kepada peserta didik. Seorang pendidik
(guru) menyadari sepenuhnya bahwa otoritas profesional yang diberikan
kepadanva hanya mempunyai satu tujuan i yaitu untuk memandirikan
peserta didik, bukan untuk menjinakkannya, Dengan perkataan lain, is
harus sewaktu-waktu siap menarik diri, begitu petunjuk-petunjuk keman-
dirian peserta didik mulai bertum (Ilaka Joni, 1989).
Berkaitan dengan hal di atas, Prayitno (2000: 18) rnengemukakan
bahwa pendidikan hendaklah terselenggara di dalam ketiga dimensinya,
yaitu: (1) dirnensi demokratik; (2) dimensi inspiratif; dan (3) dirnensi pro-
duktif
Dimensi demokratik dalam pendidikan mengisyaratkan bahwa baik isi
rnaupun penyelenggaraan pendidikan hendaklah dapat memupuk wawasan
dan sikap peserta didik untuk rnenghargai prang l.a1n sebagaimana is
menghargai dirinya sendiri. Di sarnping itu, dirnensi demokratik juga
rnernupuk tumbuhnya sikap bebas (yang bertanggung jawab) da-
lam berpendapat, clan bertindak. Tujuarr pendidikan nasional
hendaknya berada dalarn dimensi ini, sebab bila tidak demikian maka akan
lahir generasi yang mementingkan diri sendiri, mau meriang sendi-

4 2 ■
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan Ilmu Pendidikan

ri, individualistik, dan sejenisnya. Amu sebaliknya r individu yang Eakin/


patuh clan pasrah kepada kekuasaan. 'rnonoloyalistik". Keadaan demikian
itu pada dasarnya mencermin.kan wawasan, sikap, dan perilaku anti-
dernokratik.
Dimensi inspiratie maksucinya adalah bahwa pendidikan hendaknya
memuat segenap hal yang dapat mengembangkan berbagai potensi diri
peserta didik, memupuk mereka untuk menjunjurig tinggi nilai, moral,
dan budi pekerti luhur, membangun penilaian positif terhadap diri sen -
diri, memacu semangat dan niotivasi peserta didik, dan rnembangkitkan
jiwa kalangan mereka. Dalam pendidikan seperti di atas, maka peranan
dinamis dari pendidik akan niernungkinkan keterlibatan mental peserta
didik yang maksimal di dalam mengaktualisasikan pengalarnan belajar.
Konsep inilah yang dinamakan Cara lieiajar Siswa Aktif (CBSA), pada
hakikatnya bertujuan untuk peningkatan rnartabat kemanusiaan yang
didasarkan kepada asas Pancasila untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional.
Dalam Pancasila kita ternukan nilai-nilai mendasar manusiawi yang
kita junjung tinggi bersama. Maka selayaknya dalam pendidikan, peserta
didik dibantu untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai luhur
Pancasila dan mengintegrasikannya dalam hidup pribadi maupun hidup
sosialnva.
Berkenaan dengan hakikat belajar siswa aktif dalam penyelenggaraan
pengajaran, hanya dapat terlaksana jika kegiatan belajar dilakukan secara
bebas tetapi terkendali, interaksi pendidik dan peserta didik
mencerminkan hubungan manusiawi serta merangsa.ng herpikir siswa,
mernanfaatkan berbagai cumber, kegiatan belajar yang dilak -ukan rnurid
bervariasi.
Memang tidak mudah untuk mew ujudkan kegiatan seperti int (intuk ini
pendidik (guru) perlu memaharni penggunaan strategi mengajar yang tepat
dan cara penyusunan satuan pengajaran yang menerapkan konsep cara
sisiAra aktif.

2. Kedudukan Ilmu Pendidikan dalam Penyelenggaraan


Pendidikan
ilmu pendidikan adalah ilmu yang metnpelajari serta memproses
penguhahan sikap dan rata laku seseorang atau kelompok orang dalarn usaha
rnendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses,
cara, pembuatan mendidik, Brim pendidikan sebagai suatu ilinu harus dapat
bersifat:
a. Ernpiris, karena t:objekn.ya dijurnpai dalam dunia pengalaman.

111 43
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

b. Rohaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak


membiarkan.peserta didik kepada keadaan alarnnya
c. Normatif, karena berdasarkan atas peinilihan antara yang baik dan yang
buruk.
d, Historis, karena inemberikan uraian teoretis tentarig sistem-sisters
pendidikan sepanjang zaman dengan mengingat latar belakang ke-
budayaan dan filsafat yang berpengaruh p a.da zarnan tertentu.
e. Praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan keen -
wan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan men -
didik.
Kedudukan ilmu pendidikan itu berada di tengah-tengah ilmu yang
Lain dalam penyelenggaraan pendidikan. ilmu pendidikan ialah suatu
ilmu pengetahuan yang membahas masalah yarng berhubungan dengan
pendidikan, sedangkan definisi yang terpenting dari suatu pendidikan itu
sendiri yaitu
a. Meningkatkan pengetahuan, pengertian, kesadaran, dan toleransi.
b. Meningkatkan questioning skills dan kernampuan rnenganaiisis se-
suatu—termasuk pendidikannya.
c. tvieningkatkan kedewasaan individu.
Untuk perkembangan negara, dip erluka.n pendidikan yang menghargai
kreativitas dan supava negara dapat membuat sesuatu yang bare dan [that
baik, dan tidak hanya meng- copy dari negara lain. pendidikan adalah
fenornena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia di mana ada
kehidupan di situ pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai gejala sekaligus
upaya rnemanusiakan manusia itu sendiri.
Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik,
teratur untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran
teoretis tentang pendidikan. Pendidikan adalab upaya sadar untuk
mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia, melahirkan teori-
teori pendidikan.
Kedudukan ilmu pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan:
a, Ilmu pendidikan untuk mencapai kemanusiaan yang ideal,
Manusia dalam hidupnya selalu terkait dengan masa lalunya dan
sekaligus mengarah ke masa depan untuk mencapai tujuan hidupnya.
Dengan demikian, inanusia berada dalam perjalanan hidup, dalam
perkembangan dan pengembangan diri. Ia adalab manusia yang
sekaligus helum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia. Dalam
hubungan dengan eksistensinya, manusia mengemban togas untuk
menjadi manusia yang ideal yang merupakan gambaran ma-

44 ■
EA8 2 s- Ha kikat Pendidikan dan Ilrau Pendidikan

nusia yang dicita-citakan. Oleh sebab itu, sosok manusia yang ideal itu
belurn tervvujudkan, rnelainkan harus cliupayakan untuk diwujudkan.
Untuk mewujudkan manusia yang ideal, yang dicita-citakan itu
diperlukan arahan, bimbingan, dan pendidikan. Pendidikan berperan
untuk menjadiikan manusia menjadi sosok manusia yang ideal, yaitu
manusia dengan segala harkat dan martabatnya.
Potensi yang dimiliki manusia harus dikernbangkan dengan radar, dan
terencana agar mencapai apa yang dlinginkan tersebut. Kemarnpuan
yang harusnya dilakukan oleh manusia tidak dibawa dari lahir, tetapi
diperoleh setelah kelahiran melalui upaya bantuan dari pihak lain,
mungkin melalui upaya pengasuhan, pengajaran, latihan, bimbingan,
dan berbagai be ntuk ke0atan lainnya yang dapa.t dirangkun -i dalam
istilah pendidikan. Di pihak lain manusia yang bersangkutan juga
harus belajar atau haws mendidik din sendiri. Sebaik atau sekuat apa
pun usaha pendidikan dad !tzar dilakukan untuk mencapai manusia
yang idea] tersebut, tetapi Lalau diri yang bersangkutan tidak rnau
mendidik dirinya sendiri, maka upaya dari War itu tidak akan
memberikan kontribusi bagi kemungkinan seseorang untuk menjadi
manusia yang ideal. Sebalikn3./a, manusia yang tidak rnemperoleh
bantuant dari °rang lain untuk mencapai kemanusia a n nya, rnaka ma-
nusia tersebut hanya akan hidup berdasarkan instingnya, Manusia
beIurn selesai menjadi manusia, is harus didiidik dan mendidik diri
sendiri, Hal ini sejalan dengant apa yang dikemukakan oleh Immanuel
Kant, bahwa kManusia dapat menjadi manusia hanya melalui
penclidikam" Jadi, manusia adalah makhfuk yang perlu dididik dan
mendidik dirinya sendiri. M.J. Langeveld menyebutnya dengan 'Ani-
mal Educandum:
Pandangan yang lebih positif tentang manusia dikemukakan oleh
Praying° (2005), bahwa pendidikan adalah upaya pemuliaan kema-
nusiaan manusia, Penclidikan berfungsi untuk mengemliangkan di-
mensi-dimensi kemanusiaan sesuai dengan harkat dari rn a rtabat ma-
nusia, sehingga akan terwujud rnenjadi manusia seutuhnya melalui
pengembangan semua potensi diri manusia itu secara optimal, utuh,
seimbang, untuk kehidupan dunia dan akhirat.
b_ rImu pendidikan untuk pengembangan dimensi kern.a.nusiaan.
Penclidikan di samping untuk mencapai manusia yang ideal, atau
yang dicita-citakan, pendidikan juga diarahkan untuk pengembang-
an dimensi kemanusiaan, sehingga manusia bisa berkembang secara
optimal. Pengernbangan semua dimensi kemanusiaan yang optimal
dan seimbang tenth akan mencapai harkat dan martabat manusia

45
DASAR-DASA R. !L IM PE NDIDIKAN

yang sangat tinggi_ Manusia seperti ini akan mudah hidup dan hergaul
dengan siapa saja, di rnana saja dan dalam pekerjaan apa saja, serta
akan mencapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Karena
pendidikannya tidak hanya untuk kebutuhan hidup yang baik di dupla,
tetapi pendidikan yang meningkatkan derajat keimanan, ketakwaan
dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Rangkuman

Pengertian pendidikan akan bervariasi, tergantung pada siapa ahli (pakar) yang
merumuskannya. Bila kits cermati, maka antara masihg-rnasing rumusan itu ada
persamaan di sawing perbedaannya. Di antara persamaannya itu adalah bahwa
pendidikan adalah suatu usaha, kegiatan atau a kti vitas dari seseorang (seberapa
orang terhadap seseorangibeberapa orang lain}, tetapi usaha tersebut berbeda satu
sama lain. Ada yang merurnuskan usaha tersebut, sebagai pemberian bimbingan
bantuan usaha (fv1,1 Langeveld), J. Dewey menyebut usaha tersebut sebagai
pernbentukan (kecakapan ---), Driyarkara rnengatakan sebagai upaya
memanusiakan manusia muds, Kr Hajar Dewantara: upaya untuk menumbuhkan
budi pekerti dan pikiran secara terpadu, dan UUSPN menegaskan bentukijenis
usaha itu adalah membimbing, rnengajar, dan/atau rnelatih. Arah sasaran akhir
pendidikan dalam set iap pengertian pada umumnya sa ma, yaitu mempersiapkan
manusia seperti yang diinginkan oleh manusia itu sendiri atau pencipta-Nya, bedanya
hanya pada cara rnengungkapkannya, Ada yang menyebut sasarannya mencapai
kedewasaan N1.J. Langeveid}, manusia yang berguna (J. Dewey}, clan sebagai
manusia purnawan (Driyarkara}, mernajukan kesempur na an kehidupan selaras
dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara), mengembangkan potensi dirinya secara a
kti f (UU RL No. 20 Tabun 2003 tentang SP N)_
Hakikat ilmu pendidikan didasarkan kepada asumsi dasar pendidikan yang
mengatakan bahwa pendidikan rnerupakan suatu proses interaksi yang bersifat
manusiawi untuk menyiapkan peserta didik rnenghadapi lingkungan yang se-
nantiasa mengalami perubahan demi meningkatkan kualitas kehidupan pribadi
dan masyarakat, yang berlangsung seurnur hidup, sehingga mernperoleh kiat
menerapkan prinsip-prinsip 1PTEK. Hal ini hanya brsa &calla] kalau pendidik
melaksanakan peranannya yang dinamis berupa pengenda Han. Pe ngendalian
yang dirnaksud adalah proses menjadikan peserta didik menjadi dirinya seodiri
sedini mungkin dan berlangsung sepanjang hayat.

46
EA8 2 F Ha kikat Pendidikan dan I !mu Pendidikan

Tugas

1. Carl se banyak rnungkin be ngertian pendidikan dari berbagai pakarisurnber


kernudian keliarnpokkan atas dasar orientasi/kubu (Eropa, Amerika, Indo-
nesia)!
2. Anasis semua pengertian pendidikan yang telah dikernukakan sehingga
ter liha t keiemahan dengan kebaikanriya]
3. Rurnuskan suatu pengertian pendidikan dan dad sernua pengertian yang
telah dibahas terdahulu!
4. Diskusikanlah dengan ternan Anda dalarn kelompok orang) tentang
konsep pendidikan yang diterapkan di Indonesia, dan rnengapa konsep
tersebut yang dipilih?

Daftar Pustaka
Agustiar Syah Nur. 2002. Perbandingan istem Pendidikan 15 Negara.
Bandung: Lubuk Agung.
ANamaly & Muhammad Fadhil, 1936. Filsafat Pendidikan dalam Al-
Qur'an. Surabaya; PT Bina /Iniu,
Darmiyati Zuclidi. 2008. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Burn! Aksara.
Deliar Noer Iskandar Alisyahbana (Ed.). 1998. Perubahan, Pernbaharu-
an, dan Kesadaran ilftenghadapi Abaci ke-21. Jakarta: Dian Rakyat.
Depdiknas, 2005, PP No. 19 Tatum 2005 tentang Standar Nasional Pendi-
dikan, Jakarta: Depdiknas.
Tilaar, (2007). Mengernbangkan 11mu Pendidikan Bertlimensi Glo-
bal, Jakarta: Lembaga Manajemen UN].
Made Pidaria. 2007, Landasan Kependidikan Stimulus ilmu Pendidikan
bercorak Indonesia Jakarta Rineka Cipta.
NI, Dimyati. 1988. Landasan Kependidikan: Suatu Pengantar Pemikiran
Keilmuan tentang Kegiatan Pendidikan. Jakarta: P2LPTK, Depdik-
bud,
Pokja Pengembangan Peta Keilinuan Pendidikan, 2005. Peta Keilmuan
Pendidikan. Jakarta.. Direkiorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Ke-
pendidikan dan Ketenagaan PT Ditjen Dikti,
Pra).ritno. 2005. Sosok Keillnuan I/mu Pendidikan. Padang: FIP UNP.
_____ . 2009. Dasar Teori dan Praksis Pendidikan. Jakarta: PT Grarnedia,
Redja IvIudyahardjo. 2006. Filsafat Pendidikan, Bandung: PT Romaja
Rosdakarya,

47
DASA R-DASA R. ILMU FENDIDIKAN

Shanon, A. G. 1973. Arti Pendidikan bagi Masa Depan Terjernahan Mhd.


Ansyar, Jakarta: Pustekorn Depdikbud,
Suardi. 2012. Pengantar Pendidikan Teori dare Aplikasi. Jakarta: PT Indeks.
Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina.

48
3
Landasan dan Ass-asas
Pendidikan serta Penerapannya

PEI DAHULUAN

Bab ini akan menyajikan pengertian landasan pendidikan, hal-hal


yang menjadi landasan pendidikan serta asas-asasnya, dan
bagaIrnana penerapannya dalam praktik pendidIkan.
Landasan pendidikan, secara singkat dapat dikatakan sebagal tern-pat
bertumpu atau dasar dalam melakukan analisis kritis terhadap kaidah-
kaidah dan kenyataan (fakta) tentang kebrjakan dan praktik
pendidikan (Soedorno, 1989/1990), Adapun asas pendidikan meru-
pakan tumpuan cara berpikir yang memberikan corak terhadap pe-
nyerenggaraan pendidikan (Tirtarahardja dan Sulo, 1984).
Sehubungan dengan pengertian tersebut, m aka landasan pendidikan
Indonesia terdiri dari landasan filosofis, sosrologis, hukum, kultural,
psikologis, ilmiah dan teknolog is, ekonomi, sejarah, clan agama Ada-
pun asas-asas pendidikan Indonesia yaittr (a) sernesta, menyeluruh,
dan terpadu; (b) pendidikan seumur hidup; (c) tanggung jamb ber-
sarna; (d) manfaat, adil, dan merata; (e) Tut %Atari Hondayoni, Irkg
Ngorsa Sung Tulad% dan Ing Modyn Mingun fors; dan (f) kemandir Ian
dalam belajar.
Penerapan asas-asas pendidikan, baik di sekolah maupun di luar se-
kolah haruslah didasari oleh pertimbangan keadaan yang diteinui
dan perm asalahan yang dihadapi dengan mengembangkan asas-
asas tersebut sesuai dengan tuntutan keadaan dari permasalahan
yang ditemui.
Dengan mempelajari dan menguasai bab ini clengan baik, Anda akan
dapat menjadi guru yang baik, Artinya, dengan penggunaan landasan
dan asas yang benar dalam kegiatan pernbelAarani Anda dapat men-
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

jadi guru yang kreatif, Anda dapat jacli guru yang tidak sekadar me-
niru-niru saja cara prang lain atau guru yang Anda anggap ideal,
akan tetapi Anda rnenyelenggarakan kegiatan pendidikan sesuai
dengan tuntutan berbagal landasan dan asas pendidikan„
Setelah Anda rnernbeiajari bab ini dengan baik, diharapkan Anda
dapat:
a Menjelaskan pengertian landasan pendidikan.
P, Menjelaskan pengertian asas pendidikan.
c. Menjelaskan berbagai landasan pendidikan yang digunakan di
Indonesia,
d. tvIenjelaskan asas-asasyangdabot digunakan dalam
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia,
e. Menjelaskan penerapan asas-asas pendidikan, baik di sekolah
maupun di !Liar sekolah.

A. LANDASAN PENDIDIKAN
Landasan pendidikan secara singkat dapat dikataka.n sebagai ternpat
berturnpu atau dasar dalarn melakukan analisis kritis terhadap kaidah-
kaidah dan kenyataan (fakta) tentang kebijakan dan praktik pendidikan
(Moeliono, 1989; Soedomo, 1989/199D1. Kajian analisis kritis terhadap
kaidah dan fakta tersebut dapat dijadikan titik turnpu atau dasar dalani
upaya penemuan kebiiakan dan praktik pendidikan yang tepat guna dan
bernilai guna. Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa landasan pendi-
dikan merupakan dasar bagi upaya pengernbangan kependidikan dalarn
segala aspeknya.
Terdapat beberapa landasan yang dapat dijadikan sebagai tail(
turnpu dalarn rnelakukan analisis kritis terhadap kaidah-kaidah dan
kenyataan dalam rangka membuat kehijakan dan praktik pendidikan,
sehagaimana akan dibahas berikut ini,

1. Landasan Filosofis
Landasan tilosofis merupakan landasan yang berkaitan dengan
mikna atau hakikat pendidikan, yang herusaha rnenelaah masalah-ma-
salah pokok dalarn pendidikan, seperti apakah pendidikan itu, mengapa
pendidikan diperlukan, dan apa yang seharusnya menjadi tujuan pendi-
dikan. Sehubungan dengan itu, landasan Hosofis merupakan landasan
yang berdasarkan atau bersifat filsafat. Sesuai dengan sifatnya, maka

50
13A13 3 a- Landasan clan As.as-asas Penclidikan serta Penerapannya

landasan filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeluruh dan kon -


septual yang menghasilkan konsepsi-konsepsi mengenai kehidupan dan
dunia.
Konsepsi-knnsepsi tentang kehidupan dan dunia tersebut bersumber
dari religi dan etika serta kirnu pengetahuan, Religi dan etika berturnpu
kepada keyakinan, Adapun ilmu pengetahuan bertumpu pada penalaran.
Oleh karena itu, filsafat, termasuk filsafat pendidikan, yang
rnenghasilkan konsepsi tentang kehidupan dan dunia termasuk dalam
kawasan religi dan etika ditambah dengan ilmu pengetahuan, Meskipun
demikian, filsafat lebih dekat dengan ilmu pengetahuan. Sebab, sama
halnya dengan ilmu pengetahuan, filsafat berawal dari keraguan dan
mengandalkan penalaran.
Oleh karena filsafat menelaah sesuatu secara radikal, menyeTuruh,
dan konseptual berdasarkan religi dan etika, terutarna sekali ilmu penge -
tahuan yang mengandalkan penalaran, maka tinjauan filosofis tentang
sesuatu, termasuk pendidikan, berarti berpikir bebas sejauh-jauhnya
tentang sesuatu, dalarn hal ini yakni pendidikan, Dad berpikir bebas se-
jauh-jauhnya tersebut diharapkan akan muncul sesuatu yang dapat dija-
dikan sebagai landasan dalam mengambil kebijakan serta pertirnbangan
dalam praktik pendidikan,
Antara filsafat dan pendidikan terdapat kaftan yang sangat erat. Fil-
safat mencoba rnerumuskan citra tentang manusia dan masyarakat. Ada-
pun pendidikan herusaha mewujudkan citra tersebut. Rumusan tentang
harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya ikut menentukan
tujuan dan cara-cara penyelenggaraan pendidikan. Rumusan tentang
harkat dan martabat manusia beserta masyarakatnya di Indonesia dilandasi
oleh filsafat yang dianut oleh bangsa Indonesia, yakni Pancasila.
Perin cian tentang dasar pendidikan tercantum dalam penjelasan tin-
dang-tindang RI No. 20 Tabun 2003 tentang Sistern Pendidikan Nasional
yang rnenegaskan bahwa pembangunan nasional termasuk pendidikan
adalah pengarnalan Pancasila. Sehubungan dengan itu, pendidikan na-
sional mengu.sahakari pernbentukan manusia Pancasila sebagai manusia
pembangtman yang tinggi kualitasnya dan mandiri. Hal tersebut berarti
bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, kepribadian bang-
sa Indonesia, pandangan hidup bangsa Indonesia, clan dasar negara Re-
publik Indonesia.
Pancasila sebagai sumber dari segala gagasan rnengenai wujud manusia
dan masyaraka.t yang dianggap baik, sumber dari segala sumber nilai yang
menjacli pangkal serta muara dari setiap keputusan dan tindakan dalam
pendidikan. L)engan kata Iain, dapat dikatakan bahwa Pancasila

 51
DASAR-DASAR ILMU FENDIIDIKAN

adalah sumber sistem nilai dalam pendidikan. Sehingga dengan demikian,


dapat dikatakan bahwa Pancasila adalah landasan filosofis dalarn segala
kebijakan dan praktik pendidikan.

2. Landasan Sosiologis
Pendidikan merupakan peristivva sosial yang berlangsung dalarn
latar interaksi sosial. Dikatakan demikian, karena pendidikan tidak dapat
dilepaskan dari upaya dan proses saling pertgarub memengan.ihi antara
individu yang terlibat di dalarnnya. Dalarn posisi yang ciernikian, apa
yang dinamakan pendidik dan peserta didik, menunjuk kepada dua isti Lah
yang dilihat dari kedudukannya dalam interaksi sosial. Artinya, siapa
yang bertanggung jawab alas perilaku dan siapa yang rnemiliki peranan
penning dalam proses mengubahnya. Karena itu, proses pendidikan se-
ring kali sukar untuk menunjukkan siapa yang men.jadi pendidik dan sia-
pa yang menjadi peserta didik secara permanen, karena keduanya dapat
sang berubah lungs! dan kedudukart.
S u a tu hal yang dapat dipagtikan adalah b alma pendidikan tidak
akan pemah terjadi clalarn kehampaan sosial, artinya pendidikan tidak
akan pernah terjadi tanpa interaksi antara individu, antara satu generasi
dan generasi lainnya, dan bahkan antara satu kelompok dan kelompok
lainnya. Narnun oleh karena pendidikan membawa misi normatif, maka
keLuasan interaksi tersebut dibatasi oleh tats lanai dan norma-norma
yang berlaku dalam rnasyarakat, Sehubungan dengan itu pula, lernbaga
pendidikan tidak pernah berada di dalarn keharnpaan sosial. like lemba.ga
pendidikan bergerak secara dinamis, maka masyarakat pun akan
berkembang dengan cara yang sarna, jika masyarakat bergerak secara
dinamis, maka lembaga pendidikan akan berkembang dengan cara yang
sant& Sebaliknya, jika lembaga pendidikan mengalami stagnasi,
masyarakat juga akan mengalami stagnasi, jika masyarakat mengalami
stagnasi, lembaga pendidikan akan mengalami hal yang sama,
Berkenaan dengan latar sosiologis masyarakat Indonesia, maka dia
mempunyai perjalanan sejarah yang panjang, telah dimulai pada zarnan
praselarah, zaman Kerajaan Nusantara, zarnan penjajahan, sampai zaman
keirnerciekaan sekarang ini. Dari dahulu hingga kini, ciri yang menonjol
dari masyarakat Indonesia adalah sehagai masyarakat majemuk (dari segi
suku bangsa, agarna, adat istiadat, dan kebudayaan) yang tersebar di
ribuan pulau di Nusantara. Melalui perjalanan yang panjang, masyarakat
yang BIiinneka tersebut akhirnya mencapai suatu kesatuan politik untuk
mendirikan satu negara serta mewujudkan masyarakat Indonesia se bagai
masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal lka.

5 2 ■
SAB 3 a- Landasan clan As.as-asas Penclidikan serta Penerapannya

Selain itu, sampai saga ini masyarakat Indonesia ditandai oleh dua
ciri yang unik. Secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan osial
atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan
kedaerahan. Secara vertikal ditandai oleh adanya perbedaan pola
kehidupan antara lapisan atas, men.engah, dan halvah, Keteiitian dalarn
rnex -nahami seinua latar sosial tersebut, proses perubahan dan dampak
ikutannya akan menentukan keberhasilan pendidikan dan sebaliknya.
Artinya, latar sosial rnasyarakat Indonesia yang berbeda tersebut harus
dijadikan sebagai tempat bertumpu atau dasar dalairt melakukan analisis
kritis dalam upaya menentukan, mengarahkan, dan mengembangkan
kebijakan dan praktik pendidikan.
Oleh karena landasan sosiologis merupakan tempat bertumpu dalam
menentukan, mengarahkan, dan mengembangkan kebijakan serta praktik
pendidikan, maka dalam hal tersebut, menurut Ardhan (1986) secara
sosiologis perlu dikaji empat bidang. Pertama, hubungan sistem
pendidikan dengan berbagai aspek kemasyarakatan, yang mencakup: (a)
fungsi pendidikan dalarn kebudayaan; (h) hubungari cistern pendidikan
dan proses kontrol sosial dengan sistem kekuasaan yang menentukan
kebijakan pendidikan; (e) fungsi sistem dalam memelihara clan men-
dorong proses sosial dan perubah.an kebudayaan; (d) hubungan pendi-
dikan dengan kelas sosial atau sistem status; dan (e) tungsionalisasi sistem
pendidikan dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau keiornpok-
kelornpok dalarn masyarakat.
Kedua, hubungan kemanusiaan di sekolah. Sifat kebudayaan sekolah
yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah. Hal tersebut dika-
renakan peserta didik yang datang ke sekolah berasal dad berbagai latar
sosial budaya yang masihg-masihgnya berbeda, sementara itu sekolah
mempunyai pola interaksi dan struktur sosial sendiri. Keadaan yang de-
mikian, di camping akan mendatangkan berbagai konflik sosial budaya,
dari nisi pendidikan adalah juga tidak mungkin untuk melakukan pen-
dekatan yang sama terhadap peserta didik yang berbeda. tersebut.
Ketiga, pengaruh sekolah terhadap perilaku anggotanya. Kajian
pengaruh-pengaruh perilaku sekolah terhadap anggotanyaini mencakup: (a)
peranan sosial guru; (b) sifat kepribadian guru; (e) pengaruh kepribadian guru
terhadap perilaku peserta didik; dan (d) fungsi sekolah dalarn sosialisasi
peserta didik.
Keempat, interaksi antara kelompok sosial sekolah dan kelompok lain
dalarn komunitasnya, Kajian ini rneliputi: (a) lukisan tentang komunitas
seperti yang tampak pengaruhnya terhadap organisasi sekolah; (b) analisis
tentang proses pendidikan dalarn hubungannya dengan sistem social

53
DASAR-DA SAR ILMU FENDIDIKAN

setempat; dan (n) faktor detnografi dan ekologi dalam huhungannya


dengan organisasi sekolah,

3. Landasan Legalistik (Hokum)


Pendidikart merupakan peristiwa multidirnensi, hersangkut paut
dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan masyarakat.
Kebijakan, penyelenggaraa.n, dan pengembangan pendidikan dalam
masyarakat perlu disalurkan oleh titik tumpu hukum yang jelas dan
sah. Dengan beriandaskan hukum, kebijakan, penyeienggaraan, dan
pengembangan pendidikan dapat terhindar dari berbagai benturan
kebutuhan. Setidaknya dengan landasan haunt segala hak dan
kewajiban pendidik dan peserta didik dapat terpelihara.
Lebih lanjut dapat dikatakan, bahwa berbagai pihak yang terkait
dengan kebijakan, penyeleriggaraan, dan pengembangan pendidikan di
samping perlu memperoleh perlindungan hukum, dengan landasan
hukum semua pihak tersebut mengetabui hak dan kewajibannya dalam
penyeienggaraan pendidikan. Sernuanya itu dapat diketahui melalui
perundang-undangan dan peraturan yang berlaku. Selain daripada itu,
dengan landasan hukum dapat dikaji posisi, fungsi, dan permasalahan
pendidikan dalam segala aspek kehidupan. oleh karena itu, tata unit her-
bagai produk peraturan perundang-undangan perlu clitemukenaii dalam
rangka pengambilan kebijakan dan penyeienggaraan praktik pendidikan
agar penyirnpangan dan kealpaan diketahui sedini mungkin.

4. Landasan Kultural
peristiwa pendidikan adalah bagian dari peristiwa budaya. Hal ter-
sebut dikarenakan pendidikan dan kebudayaan mempunyai huhungan
timbal batik. Kebudayaan dapat dilestarikan daniatau dikernbangkan
dengan jalan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya
reel lui pendidikan, haik pendidikan informal, nonformal, ma upun formal
(sekolah). Sebaliknya, ciri-ciri dan pelaksanaan pendidikan ikut di-
tentukan oleh kebudayaan masyarakat tempat proses pendidikan her-
langsting. Oleh sebab itu, langkah-langkah pengembangan pendidikan
tidak boleh bebas dari kebudayaan tempat pendidikan tersebut diseleng-
garakan dan dikembangkan. Oleh sebab itu puia, perancang, pengambil
kebijakan, dan pelaksana pengembangan pendidikan halms memperhi-
tungkan faktor social budaya dalam merancang, mengambil kebijakan,
dan meLaksanakan pengembangan pendidikan supaya segala kegiatan
tersebut tidak men i rn b u I ka n kegoncangan budaya.
Untuk menghindarkan kegoncangan budaya dalam penyelengga-

54 131
SAB 3 a- Landasan clan As.9s-asas Penclidikan serta Penerapannya

man pendidikan, Dewantara (1977) tnemberikan tiga asas yang disebut


trikon, untuk dipedomani. Pertarna, kontinuite4 yang berarti bahwa
garis hidup sekarang harus merupakan lanjutan dari hidup yang silarn,
jangan sekadar merupakan pengulangan atau tiruan dari garis hidup
masa Ialu atau bangsa lain. Kedua, konvergensi, merupakan keharusan
untuk menghindari hidup menyendiri atau mengisolasi diri. Sehubungan
dengan itu, tidak tertutup kernungkinan untuk belajar dan menggunakan
budaya lain untuk rnampu hidup bersama dengan berbagai bangsa di
dunia. Ketiga, konsentristet, yang berarti bahwa kebudayaan lain boleh
raja digunakan dan diintegrasikan dengan kebudayaan sendiri, namun
jangan sarnpai kehilangan jati diri.
Berhubungan dengan pentingnya memperhitungkan faktor budaya
dalam pengembangan pendidikan, maka pengembangan pendidikan dalam
budaya nasional difokuskan kepada upaya: (a) melestarikan dan
mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa; (b) mengembangkan nilai-
nilai budaya dan pranata sosia] dalam menunjang proses pembangunari
nasiona1; dan (c) nierancang kegairahan rnasyarakat untuk menumbuhkan
kreativitas ke arch pembaruan dalam usaha pendidikan yang tanpa
mengabaikan kepribadian bangsa.

5. Landasan Psikologis
pendidikan selalu rnelibatkan aspek kejiwaan manusia. Oleh sebab
itu, landasan psikologis merupakan salah satu landasan yang penting
dalam bidang pendidikan, Landasan psikologis pendidikan terutarna ter -
tuju kepada pemahaman manusia, khususnya berkenaan dengan proses
belajar manusia (baea: peserta didik).
Pernahaman terhadap peserta didik, terutama sekali yang berhu-
bungan dengan aspek kejiwaan, merupakan salah satu kunci keberhasilan
dalam pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajiart dan penemuan psikologis
sangat diperlukan penerapannya, pengetahuan tentang aspek-aspek
pribadi, urutan dan ciri-ciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep ten-
tang cara-ca_ra paling tepat untuk pengembangan kepribadian.
Untuk maksud tersebut, yakni pengembangan kepribadian yang me-
rupakan tugas pendidikan, psikologi rnenyediakan sejumlah inlormasi
tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang
berkaitan dengan aspek pribadi khususnya. Hal tersebut dikarenakan setiap
individu merniliki bakat, kem arn p u an, min at, kekuatan, serta tempo dan
irarna perkembangan yang berheda-heda antara satu dengan yang lain.
Adalah tidak rnungkin untuk rnengharapkan kesarnaan antara dua °rang
individu atau lebih.

111 55
DASAR-DASA R. !L IM PE N DIIDIK AN

Salah saw informasi putting dalarn hal pengernhangan kepribadian


ialah bahwa kepribadian itu mencakup aspek behavioral dan aspek
motivasional, Selain daripada itu, kepribadian harus dipandang sebagai
sistem psikofisik, yakni merupakan kesawan antara berbagai keadaan kondisi
fisik dengan kondisi rohani yang saling memengaruhi yang pada
gilirannya menghasilkan pribadi yang utuh. Oleh karena itu, pemahaman
terhadap peserta didik haruslah dilandaskan pada aspek behavioral dan
rnotivasional serta aspek fisik dan rohani secara utuh dan din.arnis,

6. Landasan Ilmiah dan Teknologi


Pendidikan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS)
mernpunyai kaftan yang sangat erat. Hal tersebut dikarenakan IPTEKS
menjadi bagian utama dalam pendidikan, terutama dalam bentuk pem-
helajaran. Oleh karena itu, tidak dapat tidak, pendidikan berperan sangat
penting dalam pewarisan dan pengernbangan IPTEKS.
Sementara itu, dewasa ini, perkembangan IPTEKS sangatlah pesat.
Oleh karena muatan utama dari kegiatan pendidikan adalah 11-11EKS, maka
setiap perkembangan IPTEKS harus segera diakiDmodasi oleh pendidikan,
yakni dengan segera memasukkan basil pengembangan IPTEKS tersehut ke
dalam isi hahan ajar.
Mengakornodasi perkembangan IPTEKS ke dalarn bahan ajar
tidaklab mudah, diperlukan pula berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi
untuk dapat mengakomudasikan hal tersebut, terutama sekali iimu pen-
didikan dan ilmu-ilmu perilaku lainnya, seperti sosiologi, psikologi,
dan antropologi. Ilmu-ilmu tersebut juga mengalami kernajuan yang
pesat, yang menyeba.hkan tersedianya informasi empiric yang cepat clan
tepat, yang pada gilirannya diterjernahkan menjadi program, al.at danlatau
prosedur kerja dalarn kegiatan pendidikan, Dengan kata lain, dapat dika-
takan kemajuan IPTEKS dijadikan sehagai landasan dalam menentukan
kebijakan dan praktik pendidikan.

7. Landasan Ekonomi
Manusia pada umurnnya tidak bisa lepas dari kebutuhan ekonorrn.
Sebab kebutuhan dasar manusia membutuhkan ekonomi, Orang tidak rnampu
pun memerlukan uang untuk rnengisi perutnya dan sekadar berteduh di waktu
ma'am. Dengan demikian, pernbahasan tentang ekonomi tidak hanya
rnenyangkut orang kaya, tetapi sernua orang, terrnasuk dunia pendidikan
yang ditekuni.
Dania sekarang ini tidak hanya clitirnhulkan oleh dunia politik, me-
lainkan juga masalah dad dunia ekonorni. Pertumbuhan ekonomi menja-

56 ■
SAB 3 a- Landasan clan As.as-asas Penclidikan serta Penerapannya

di tinggi, dan penghasilan negara bertambah, walaupun =rig luar negeri


cukup besar dan penghasiian rakyat kecil masih minim. Perkembangan
ekonomi pun menjacli pengaruh dalam bidang pendidikan. Globalisasi
ekonomi yang melanda dunia, otomatis memengaruhi hampir semua
negara di dunia, termasuk Indonesia. Alasannya sederhana, yaitu karena
takut cligulting clan dihempaskan oleh gelombang globalisasi ekonom i
dunia.
Perkemba.ngan ekonomi makro berpengaruh pule dalarn bidang
pendidikan. Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela men -
jadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tidak mampu bisa berse-
kolah. Perkernbangan lain yang menggembirakan di bidang pendidikan
adalah terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan. Sistem ini bisa
berlangsung pada sejumlah pendidikan, yaitu kerja sama antara sekolah
dan pihak usahawan dalarn proses belajar mengajax - para siswa adalah
berkat kesadaran para pemimpin perusahaan atau industri akan pen-tin
gnya pendidikan.
Implikasi lain dari keberhasilan pernbangunan ekonomi secara
makro adalah munculnya sejumlah sekolah unggul. Intl tujuan pendi -
dikan m l adalah membentuk mental yang positif atau cinta terhadap
prestast, cam kerja, dan hasil kerja yang sempurna. Tidak menolak
pekerjaan kasar, menyadari akan kehidu p an yang kurang beruntung dan
mampu hidup dalam keadaan apa pun.

8. Landasan Historis (Sejarah)


Sejarah adalah keadaan masa lampau dengan segala macam kejadian
atau kegiatan yang didasari oleh konsep tertentu. Sejarah penuh dengan
inforrnasi yang mengandung kejadian-kejadian, model-model, konsep-
konsep, teori-teori, praktik-praktik, moral, cita-cita, dan sebagainya.
Informasi yang lampau ini terutama yang hersifat kebudayaan pada
umumnya berisi konsep, praktik, dan hash' yang diperoleh. Setiap bidang
kegiatan yang dikerjakan oleh manusia untuk main, pada umumnya
dikaitkan juga dengan bagaimana keadaan bidang itu pada masa lampau.
Demikian juga dalarn bidang pendidikan sebelum menangani bidang itu,
terlebih dahulu mereka memeriksa sejarah tentang pendidikan baik yang
hersifat nasional maupun intern asional.
Landasan sejarah memberikan peranan yang penning karena dari
suatu landasan sejarah bisa membuat arch pemikiran kepada masa kini.
Menurut Pidharta (2007: 109)„ sejarah adalah keadaan masa lampau de-
ngan segala macam kejadian atau kegiatan yang didasari oleh konsep -
konsep tertentu. Sejarah penuh dengan informasi-informasi yang me-

57
DASAR-DASA R. ILMU PE NDIDIKAN

ngandung kejadian, model, konsep, teori, praktik, moral, vita-cita, ben t uk,
dan se bagainya,
Dengan demikian, setiap bidang kegiatan yang ingin dicapai manusia
untuk maju, pada umumnya dikaitkan dengan bagaimana keadaan bidang
tersebut pada masa yang larnpau (Pidaria, 2007: 1110), Demikian juga halnya
dengan bidang pendidikan. Sejarah pendidikan merupakan Kahan
pembanding untuk mernajuka.n pendidikan suatu bangsa.

9. Landasan Religius
Landasan religius merupakan landasan yang paling inendasari dari
landasan-landasan pendidikan, sebab landasan agarna adalah landasan
yang diciptakan oleh Allah SWT. Landasan agama berupa finnan Allah
SWT dalam kitab suci AI-Qur'an dan Al-Hadis berupa risalah yang di-
bawakan oleh Rasulullah SAW untuk urnat manusia yang herisi tentang
tuntutan-tuntutan atau pedornan hidup manusia untuk rnencapai keba-
hagiaan hidup baik di dunia rnaupun di akhirat, serta men_tpakan rahmat
untuk seluruh alarn,
Bahkan Sistem Pendidikan Nasional niengharuskan .setiap peserta
didik me-ngikuti pendidikan agama tidak hanya pendidikan formal.
Kanena sister pendidikan agarna diharapkan tidak raja sebagai peyangga
nilai-nilai, akan tetapi sekaligus sebagai periyeru pikiran-pikiran
produktif dan berkolaborasi dengan kebutuhan zaman yang semakin
modern. Pendidikan agama adalah hak setiap peserta didik dan hukan
negara atau organisasi keagamaan,
Pendidilkan yang idealnya dapat me-ningkatkan kuatitas hidup dan
kesejahteraan serta berupaya merekonstruksi suatu peradaban adalah sa-
lah kebutuhan asasi yang clibutuhkan oleh setiap manusia, Iial int
juga yang merupakan pekerjaan wajib yang harus diemban oleh negara agar
dapat rnernbentuk rnasyarakat yang memiliki pemahaman dan kernampuan
untuk menjalankan fungsi-fungsi kehidupan yang selaras dengan fitrahnya
serta mampu mengernbangkan kehidupannya menjadi lebih haik dari setiap
masa ke masa. Kesemuanya itu tidak input dari per-an ilmu agama sebagai
pembentuk karakteristik dan mental peserta didik yang berbudi luhur.
Sehingga penguasaan terhadap ilmu pengetahuanteknologi, aspek-aspek
teknologi (hasil-hasil teknologi) dan kernajuankernajuan lainnya
rnerupakan sesuatu yang harus disadari oleh peserta didik sebagai
kebutuhan dan kewajiban yang harus selslu dilaksanakan dalam menjaga
keharrnonisan kehidupan.
Pernbentukan karakter dan mental merupakan bagian penting dari
proses. Agama yang menjadi sistem kontrol dalam pembentukan karak-

58
SAB 3 a- Landasan clan As.9s-asas Penclidikan serta Penerapannya

ter dan mentai peserta didik hanya ditempatkan pada. posisi yang mini-
mal, dan tidak menjadi landasan dari seluruh aspek. Padahal, agarna
sangat dibutuhkan dalam penyusunan kurikulum, demi terwujudnya
suasana belajar dalam proses pembelajaran agar peserta didik secara akar
mengembangkan poterisi diri untuk merniliki kekuatan spiritual keaga-
maan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta Ice -
terampilan yang diperlukan diri untuk bermasyarakat, berbangsa, dan
bemegara. Penerapan pendidikan sekuler materialistik melahirkan kua-
litas sumber daya manusia yang rendah. Kondisi kualitas sumber daya
manusia yang rendah ini memperburuk kehidupan berrnasyarakat. Me
rnang derigan pendidikan sekarang masih melahirkan generasi yang ahli
dalam peiigetahuan rains dan teknologi, namun ini bukan merupakan
prestasi, karena pendidikan seharusnya rnenghasilkan generasi dengan
kepribadian yang unggul dan sekaligus menguasai ilmu pengetahuan yang
rnampu bersikap Tuhur dari masa ke masa

B. ASAS-ASAS PENDIDIKAN
Memperhatikan makna kata, maka antara landasan dan asas dapat
dikatakan mempunyai makna yang hampir bersamaan. Meskipun
demikian, dcngan memperhatikan Soedomo (1989-1990) dan Tirtarahardja
dan Sub) (1994), dapat dikatakan bahwa landasan pendidikan lebih
menekankan kepada kajian kritis terhadap kaidah-kaidah dan kenyataan
tentang kebijakan dan praktik pendidikan bagi upaya tnengembangkan
kebijakan dan praktik pendidikan berikutnya. Adapun asas pendidikan
merupakan tumpuan cara berpikir yang memberikan corak terhadap
pendidikan. Dengan demikian, dapat dikatakan hahwa asas pendidikan
lebih mernfokuskan perhatian kepada cara penyelenggaraan pendidikan
yang dilandasi oleh pernildran-pemikiran tentang bagaimana layaknya
pendidikan diselenggarakan.

1. Asas Sernesta, Menyeluruh, dan Terpadu


Semesta maksudnya pendidikan diselenggarakan secara terbuka bagi
seluruh rakyat Indonesia. Menyeluruh mak.sudnya, pendidikan harus
mencangkup scrnua jcnis dan jenjang pendidikan. Terpadu artinya pen-
didikan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan pernbangunan Bangsa.
Asas semesta, menyeluruh, dan terpadu, yang berarti bahwa pendi-
dikan nasional terbuka bagi setiap manusia Indonesia, mencakup semua
jenis dan jenjang pendidikan, dan merupakan sate kesatuan usaha sadar
yang tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan usaha pernban.gtman
bangsa.

111 59
DASAR-DASA R. ILt-IU PE NDIIDIK AN

2. Asas Pendidikan Seurnur Hidup


Asas belajar sepanjang hayat (life tong learning) merupakan sudut
pandang dari nisi lain terhadap pendidikan seumur hidup (fife long edu-
cation). Kurikulum yang dapat meracang dan diimplenientasikan dengan
memperhatikan dim dimensi, yaitu dimensi vertikal dan horizontal,
a. Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan
kesinarnbungan antartingkatan persekolalian dan keterkaitan dengan
kehidupan peserta didik di masa depan.
b. Dimensi horizontal dari kurikulum sekolah, yaitu keterkaitan antara
pengaiaman belajar di sekolah dengan pengalarnan di luar sekolah.
Pada dasarnya manusia adalah rnakhluk "menjadr, yakni rnakhluk
yang tidak pernah sempurna, dia selalu berkembang mengikuti perkem -
bangan yang terjadi di lingkungan kehiduparmya, Apa yang dipelajari
hari ini belum tentu sesuai dengan tantangan perubahan pada beberapa
tahun berikutnya. implikasi dari konsep yang demikian ialah bahwa ma-
nusia harus selalu belajar sepanjang hayat, sehingga dia dapat mempel-
ajari dan menyesuaikan diri sesuai dengan perubahan yang berlangsung.
Dewasa ini, akibat kemajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat,
rnaka terjadi perubahan yang sangat pesat dalarn berbagai aspek kehi-
dupan.. Akibatnya, apa yang dipelajari oleh seseorang pada beberapa
tahun yang lalu dapat menjadi tidak berarti atau tidak bermanfaat. Sebab,
apa yang telah dipelajarinya sudah tidak relevan lagi dengan berbagai
masalah kehidupan yang dihadapinya.
implikasi dari kernajuan ilmu dan teknologi yang sangat pesat terse-but
ialah seseorang dituntut untuk maul dan mampu belajar sepanjang hayat.
Dengan kernauan dan kemampuan untuk dapat belajar sepanjang hayat,
rnaka konsep belajar tidak lagi sekadar belajar untuk tahu (learning to know)
dan mampu (learning to do), akan tetapi belajar sepanjang hayat yang
menuntut kemauan dan kemarnpuan seseorang guns belajar untuk menjadi
(learning to be).

3. Asas Tan gung Jawab Bersama


Tanggung jawab adalah kewajiban terhadap segala sesuatunya; lungsi
menerima pernbebanan sebagai akibat sikap tidak sendiri atau pihak lain
(Em Zul Fajri Ratu Aprilia, Sento Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, him.
974). Tanggung jawab berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap tugas
atau perbuatan yang dilakukan. P erbuatan yang dilakuk an harus dap at
dipertanggungjawahkan dari segi tujuan dan konsekuensi lain yang
ditimhulkannya.. Sesuatu aktivitas atau perbuatan yang dilakukan tanpa

60 ■
13A13 3 a- Landasan clan As.9s-asas Penclidikan serta Penerapannya

tanggung jawab akan terjadi secara tidak terarah clan mungkin anal-asalan
raja, dan akihatnya adalah menimbulkan masa.lah atau hal-hal yang tidak
diharapkan. lika perbuatan, perilaku, dan tindakan yang dilakukan dilandasi
oleh tanggung jawab kepada segala pihak yang berhadapan dengan orang
tersebut, rnaka orang itu akan sulalu berada di jalan yang benar.
Aktivitas yang clilakukan dalam proses pendidikan harus selalu di -
dasarkan pada asas tanggung jawab, karena kegiatan apa pun yang dila-
kukan dalarn pendidikan selalu diarahkan untuk mencapai tujuan, yakni
mendidik dan membimbing peserta didik agar dapat tumbuh dan her-
kembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan segala poiensi
yang dimiliki, Sekecil apa pun tiridakan atau perbuatan yang dilakukan
pendidik dalam proses pendidikan harus clapat dipertanggungjawabkan
dari segi pencapaian tujuan, bukan berdasarkan selera, atau kemauan
pendidik. secara lebih luas dan nrienyeluruh, tanggung jawab itu melipu
ti tanggung jawab kepada diri keluarga, masyarakat-bangsa, dan
Negara Indonesia, dari terutama tanggung jawab terhadap Tuhan Yang
Mahakuasa dan Mahatahu. Asas usaha bersama, yang berarti pendidikan
menekankan kebersamaan antara keluarga sekolah dan masyarakat.

4. Asas Manfaat, Adil, dan Merata


Asas manfaat, yang berarti pendidikan harus mengingat kernanfaa.t-
annya bagi masa depan peserta didik, bagi masyarakat, bangsa, negara, dan
agama. Sementara itu, asas adil clan merata maksudnya adalah bahwa
penyelenggaraan pendidikan harus dapat dinikrnati oleh seluruh lapisan
masyarakat sesuai dengan kemanipuan dan kebutuhann.ya. Asas manfaat,
adil, dan merata yang meliputi asas rmndiskriminatif, yang mernandang
manusia Indonesia seutuhnya tanpa diskriminasi. Pendidikan yang
diselenggarakan harus berguna bagi peningkatan hidup manusia dan
masyarakat,

5. Asas Tut Wuri Handayani


Asas Tut Wuri Handayani yang merupakan asas pendidikan Indo-
nesia hingga scat ini, bersumber dari asas Pendidikan Taman Siswa- Asas
Tut Wuri Handayani bermakna bahwa setiap orang berhak mengartu -
dirinya sendiri dengan berpedoman kepada tats tertib kehidupan yang
umurn, Warn penyelenggaraan pendidikan dengan asas tersebut berarti
bahwa kepada peserta didik diberi kesempatan untuk mandiri. Artinya,
dalatn kegiatan pendidikan, pendidik bukanlah segala-galanya, akan tetapi
kepada peserta didik diberi kesempatan untuk rn e ncari, mempelajari,

61
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

dan mem eeahkan masalah sendiri tanpa harus diearnpuri, dip erintah, dan
bahkan dipaksa. Dengan cara yang den-iikian, maka kegiatan belajar tidak
berpusat kepada guru, akan tetapi berpusat kepada peserta didik sendiri.
Dapat dikatakan bahwa asas TUi Mal Handayani merupakan cika] Bakal
dad pendekatan atau cara belajar siswa
Sebagai asas pertarna, mrWuri Handayani merupakan inti dad sis-
tern Among perguruan taman siswa. Asas yang dikumandarigkan oleh
Ki Hajar Dewantara irri kernudian dikernbangkan oleh Drs. R.M.P,
Sostrokartono dengan menambahkan du a semboyan lagi, yaitu Ing
Ngarso Sung Sung Tuiodo dan Ing Madyo Mangan Kama
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu
kesatuan asas, yaitu:
a. Ing Ngarso Sung Thiodo jika di depan memberi contoh),
b. ing Madyo Mangun Karso Oka di tengah-tengah memberi
dukungan dan semangat),
c. 11.1t 4Vuni Handayani (jika di belakang memberi dorongan).

6. Asas Kemandirian dalam Belajar


Baik flu Wuri Handayani rnaupun belajar sepanjang hayat secara
langsung era kaitannya dengan asas kemandirian dalarn belajar. Asas
Tut Mai Handayani pada prinsipnya bertolak dad asumsi kemarnpuan
peserta untuk mandiri, termasuk mandiri aslant belajar. Dalam
kegiatan belajar mengajar, sedapat mungkin dikembangkan
kernandirian dalam belajar itu dengan mengbindari campur tangan
pendidik, narnim selalu slap untuk membantu apabila diperlukan.
Selanjutnya, asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan
apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik man dan marnpu
mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang belajar
sepanjang hayatnya apabila selalu tergantung dari hantuan ()rang lain.
Perwujudan kemandifian dalarn belajar akan menernpatkan pendi-
dik dalam peran utama sebagai fasilitator, informator, dan motivator, di
camping peran-peran lain seperti organisator. Sebagai fasilitator, guru
diharapkan menyediakan dan mengatur berbagai sumber belajar dengan
sedemikian war sehingga mernudahkan peserta didik berinteraksi dengan
surnher-sumber tersebut„ Sehagai informator, pendidik harus menyadari
bahwa dirinya hanva merupakan bagian kecil dad sumber informasi yang
datangnya mernbanjir dewasa min. Hal tersebut berarti bahwa pendidik
perlu mernberikan dan baltkan rnerangsang peserta didik untuk
membitru informasi selain dad dirinya sendiri. Adapun sebagai mod-

62
SAB 3 a- Landasan clan As.9s-asas Penclidikan serta Penerapannya

tutor, pendidik merigupayakan timbuInya prakarsa peserta didik untuk


rnernanfaatkan sumber belajar secara rnaksimal.

7. Alarn Takambang Jadi Guru


Salab saw asas pendidikan yang diterapkan dalam proses pen.di-
dikari di Indonesia adalah asas 'alarre takambang _fa& guru's, Asas ini
diambil dari falsafah pendidikan yang digunakan di Minangkabau. Pene-
rapan asas ini tidak dapat diketahui sejak kapan pastinya digunakan se-
bagai filsafat pendidikan, naniun pepatah ini sudah sexing digunakan dan
didengungkan dewasa ini terutama dalam menyosiallsasikan pendidikan
karakter di Indonesia. "alam takarnbang jadi guru" diambil dari hahasa
Minang yang kalau diindonesiakan menjadi alam terkernbang menjadi
guru. Sebagaimana diketahui bahwa bahasa Minang merupakan bahasa
sehari-hari yang digunakan oIeh sub.' Minangkabau yang mend iami salah
satyr provinsi di Indonesia, yaitu Sumatera Barat. Pengertian dari "alam
takarnbang jadi guru' dapat dilihat dari istilah yang digunakan, yaitu
"Alarn" berarti tempat kita hidup, sestiatu yang herada di sekitar, tern -pat
lahir dan berkembang yang dijadikan oleh Tuhan Yang Mahakuasa.
"Takambang" memiliki makna bahwa alam yang diciptakan Tuhan itu
bukanlah alam yang sernpit, namun memiliki keluasan eakupan, tempt
terjadiriya aneka peristiwa, dan dinamika kehidupan di dalamnya, Ada-
pun "jadi guru" dapat diartikan bahwa alam tersebut dapat dijadikan se-
bagai sumber helajar, tempat terjadinya proses pendidikan yang maim-
Inas, banyak hikrnah yang dapat diambil pelajaran sebagai pedornan
hidup manusia dalarn mengalarni kehidupannya.
Hal ini herarti bahwa bahwa alam sekitar yang dijadikan sumher
belajar berrnakna jauh lebih luas dan lebih bervariasi jika dibandingan
dengan "guru" di sekolab sebagai sumber belajar. Belajar derigan alam
takarnbang akan selalu serasi dan selaras dengan perkernbangan, karena
belajar dengan ala takarnbang tida.k akan ada dijurnpai apa yang disebut
dengan keterikatan, keterbelakangan, keterbatasan, kedaluwarsa, dan lain
sebagainya. Alarrt ialcambangdijadikan guru tidak jadi coal jauh atau
dekat karena dengan bantuan teknologi banyak hal menjadi sangat mu-
dab. Pemanfaatan alam sebagai sumber pernentthan kebutuhan manusia
mutlak harus dijaga dan dipelihara, karena menyangklit keberlangsungan
hidup mereka sekarang ataupun untuk anak keturunan di kemudia.n hari.
Orang Minangkabau berpikir dan menarik pembelajaran dari ke -
tentuan alarn. Sehingga tidak jarang pepatah dan petitih yang menjadi
panduan adat niereka bersumber dad peristiwa yang terjadi di abut.
Ketentuan dari alam yang kita maksudkan umpamanya daratan, lautan,

63
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

gunung, bukit, lurah, batu, air, api, besi, turnbuh-tumbuhan, binatang-bi-


natang, langit, bumi, bintang, rnatahari, bulan, warna-warna, bunyi, dan
sebagainya yang mempunyai ketentuannya sendiri-sendiri. Seumpama
ketentuan lautan berornbak, gunung berkabut, lurah berair, air
menyuburkan, api mernbakar, batu dan besi keras, kelapa bermata, buluh
berbuku, pokok bertun.as, ayam berkokok, mural berkicau, clang berkulit,
merah, putih, hitarn, dan sebagainya (Hakirny, 2001 3).
Sernentara itu, nilai-nilai kemanusiaan seperti penghargaan pada
sesarna, toleransi, tolong-menolong, dan lain sebagainya digali untuk
dijadikan dasar berperilaku dalam interaksi sosial rnasyarakat. Pernbel-
ajaran seperti ini merupakan nianifestasi dari keyakinan mereka bahwa
agar menjadi pribadi yang unth manusia haruslah memiliki pandangan
yang bijak dalam metnaharni alarn sebagai guru kehidupan. Sebagai guru
alarn sudah seharusnya melaksana.kan proses pendidikan yang se-
benarnya, Pendidikan yang dimaksud tentulah pendidikan yang bersifat
menyeluruh, padu yang tak terpisahkan dari kehidupan itu sendiri. Itulah,
pendidikan yang tak hanya terkait dengan lima sebagai sekadar pe-
ngetahuan, tetapi limu yang hidup' menjadi amal perbuatan dalam ke-
hidupan, yang tidak hanya sekadar umiak men.capai ijazah ataupun gelar
yang diinginkan, Nilai pendidikan Akan dangkal jika dipatok harganya de-
ngan selembar ijazah, Sedemikian mulianya nilai pendidikan bagi orang
Minangkabau, sehingga menganggap ilmu itu sesuatu yang hidup, men-
dampingi manusia dalam m.encapai kebahagiaan hakiki dalam hidup dan
kehidupannya. Eksistensi ilmu turut membangun dinamika kehidupan
yang lebih bermartabat, karena pada dasarnya ilmu itu diperoleh dari
proses pen.didikan yang tidak pernah berhenti dalam usaha mewujudkan
manusia yang sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan.,
Alam Lakarnbang jadi guru banyak sekali mengandung nilai luhur
yang dapat dijadikan sebagai pedornan dalam merancang sistern pendi-
dikan sekarang dan untuk masa depan. Keterpurukan dunia pendidikan
deimasa ini tidak terlepas dari sejauh mania usaha yang diiakukan oleh
seluruh komponen pendidik clalarn menanarnkan nilai tersebut. Proses
pendidikan saat ini seakan-akan telah mernisahkan anak didik dengan
alarn tempat mereka selama ini turnbuh dan dibesarkan. Suasana pen-
didikan sekarang terialu mengutarnakan lingkungan akademik yang ber-
orientasi pada penguasaan konsep untuk men.capai indeks prestasi yang
tinggi tanpa memedulikan penerapannya dalam lingkungan kehidupan
yang sesungguhriya
Mani takambang lad' guru mengandung pengertian bahwa setiap orang
ataupun kelompok mempunyai kedudukan yang sarna, tidak ada

64 ■
13A13 3 a- Landasan clan As2s-asas Penclidikan serta Penerapannya

yang lebih tinggi d.ari yang lain, baik sebagai individu, kelompok, maupun
golongan. Secara historis pandangan hidup semacam itu memberikan spirit
tersendiri bagi individu untuk mandiri dan tidak tergantung pada orang
lain, oleh karenanya mereka saling berkompetisi meningkatkan harga did
dan rnartabat rnereka rasing-masihg, Sistern masyarakat yang komunal dan
kolektif tersebut senantiasa menentang eksistensi personal yang dengan
sendirinya bisa melahirkan generasi yang sensitif akan kehidupart
masyarakat ke depart. Karena di saw sisi, afar n takes bang jig& guru
inengajarkan bahwa suatu keniscayaan bagi seseorang untuk menjunjung
clan menernpatkan harga diri pada posisi yang wailr dan ter-h ormat agar
tidak terjadi kesenj a ngan social di tengah rnasyarakat, Tujuan akhir dari
falsafah ini adalah kesuksesan bersama dengan mernberdayakan potensi
individu sesuai dengan kemampuan yang mereka
Dalam falsafah Warn takes bang jai* guru tidak ada manusia yang tidak
"terpakai". Mernang kita tidak menampik kelebihan kecerdasan antara
orang yang satu dengan yang lainnya berbeda-heda tetapi perbedaan
tersebut bukaniah sua.tu halangan bahkan sebenarnya dapat dijadikan
sarana untuk saling inelengkapi dalam mencapai tujuan.

C. PENERAPAN AA-AA S PENDIDIKAN DALAM


KEGIATAN PEMBELAJARAN
Asas pendidikan hukan hanya sebagai konsep, melainkari harus di-
laksanakan dalam proses pembelajaran. Dalam hal penerapan asas -asas
pendidikan dalam kegiatan pembelajaran, setidaknya terdapat tiga masalah
yang perlu mendapat perhatian, yakni masalah cara berkomunikasi dan
peranan guru clalarn pembelajaran serta tujuan pembelajaran. Ketiga
masalah tersebut akan dijelaskan secara lebih perinci pada uraian berikut

1. Pendekatan Komunikasi oleh Guru


Dewasa ini masih tcrdapat kecenderungan bahwa para pendidik
masih terikat oleh pengguna.an komunikasi satu arab dalam kegiatan
pembelajaran dengan mengandalkan metode cerarnah. Dalam komunikasi
yang demikian, pendidik menernpatkan dirinya dalam kedudukan yang
lebih tinggi dari peserta didik. l3ahkan, tidak jarang penclidik menjadikan
peserta didik sebagai objek komunikasi belaka. Akibatnya, arus
komunikasi cenderung satu arah, rendahnya kemungkinaa urnpan balik
dari peserta didik, dan cenderung hanya nienghasilkan perubahan pe-
ngetahuan (Rogers dan Schoemaker, 1981 8t Depdikbud, 1933). Komuni-

65
DASAR-DASA R. ILIvtil PE NDIIDIK AN

kasi yang demikian inemberikan impIikasi yang negatif terhadap output


pendidikan, yakni membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar
mandiri, mereka lebih tergantung kepada informasi yang datangnya dari
pendidik.

2. Peranan Pendidik
Sejalan dengan pendekatan komunikasi yang cenderung digunakan
pendidik, yakni pendekatan komunikasi satu arah, pendidik sering me-
nempatkan dirinya se ba.gai orang yang paling dominan. Artinya, tidak ja-
rang pendidik, apakah itu orangtua, guru, dos en, atau tutor se ring menem-
patkan dirinya seha.gai o ra n g ya.ng se rba tahu dalam segala hal pada
waktu kegiatan belajar berlangsung. Seolah-olah yang benar itu curna
datangnya dad pendidik, selain yang dikemukakan oleh pendidik salah.
Padahal, dalam era komunikasi canggih dewasa ini, sumber inforrnasi
datangnya membanjir dari segala arah. Dewasa ini, institusi pengajaran
(sekolah dan sejenisnya) bukan satu-satunya sumber informasi, akan tetapi
berbagai institusi dapat rnenjadi sumber informasi. Misalnya media rnassa
dengan segala jenisnya, seperti televisi, majalah, loran, radio, dan bahkan
inter-net. Oleh karena itu, tidak tertutup kemungkinan bahwa orangtua,
guru, &nen, atau tutor ketinggalan inforrnasi dibandingkan dengan peserta
didik. Sehingga dengan demikian, sangadah penting untuk mendorong pe-
serta didik guna berupaya mencari informasi sendiri yang dap at dikatakan
sehagai upaya belajar rn an diri.

3. Masalah Tujuan Belajar


Sebagaimana dikemukakan pada bagian terdahulu, kemajuan ilmu
dan teknologi yang sangat pesat menuntut °rang untuk belajar secara terus-
rnenerus sepanjang hayatnya, Sehubungan dengan itu, tujuan belajar
yang learning to know dan learning to do raja ternyata beium cukup. Oleh
karena kemajuan teknolgi, terutama kemajuan transportasi clan
komunikasi, membuat dunia sernakin "sempit", sehingga intensitas in-
teraksi antarmanusia semaldn tinggi tanpa dibatasi oleh perbedaan suku,
agarna, ras, dan anal usul. Sehubungan dengan itu, tujuan helajar sudah
harus diperluas dari sekadar learning to know dan learning to do dengan
rnenambahkan learning to flue together. Selanjutnya, akibat kemajuan
ilrnu dan teknologi yang berirnplikasi pada perubahan lapangan kerja,
rnengakibatkan apa yang dipelajari hari ini beluni tentu sesuai dengan
tuntutan lapangan kerja yang berubah pada beberapa taltun berikutnya.
Untuk itu, tujuan kegiatan pernbelajaran perlu diperluas dengan learning
to be sehingga dengan tujuan yang demikian apa yang dipelajari hari

66
SAB 3 a- Landasan clan As.as-asas Penclidikan sett; Penerapannya

ini dapaL dijadikan sebagai dasar untuk belajar lebih lanjut dalarn rangka
rnenyesuaikan diri dengan perubalian lapangan kerja dan balikan pe rubahati
dalam berbagai aspek kehidupan.

Rangkuman

Landasan pendidikan [alan dasar atau titik tumpu dalam penentuan kebijakan
dan praktik pendidikan, Adapun asas pendidikan adalah pertimbangan yang
digunakan dalarn penyelenggaraan pendidikan yang dilandasi olch pemikiran-
pernikiran tentang bagaimana layaknya pendidikan disci enggaraka n.
Sehubungan dengan pengertian tersebutt rnaka landasan pendidikan Indonesia
terdiri dad landasan filosofis, sosiologis, hukum, kulturaE, psikologis, ilmiah dan
teknologis, ekonorni, sejarah, dan agarna. Ad apun asas-asas pendidikan
Indonesia ya it u: (a) semesta, menyei Li ruh, dan terpadu; (b) pendidikan
seurnur hidup; (c) tanggung j wab bersama; (d) rnanfa at, adil, dan merata ; (e)
Tut Mid Handayani, kemanclirian dalam belajar; (g) Glom tokombong jadi guru
Penerapan asas-asas pokok pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah
dengan berpedoman kepada kebebasan dalam belajar sepanjang hayat yang
berrnuara kepada kemandirian dalarn belajar. Untuk itur seorang pendidik perlu
rnenyesuaikan pendekatan yang digunakannya dalarn kegiatan pembelajaran.
Pendekatan dalarn pernbelajaran tersebut ialah pendekatan yang berpusat
kepada peserta didik, sehingga pendidik menempatkan dirinya sebagai fasilitator,
informator, motivator, dan organisator,

Tugas

1. Jelaskan dengan bah-rasa Anda sendiri pengertian landasan pendidikan!

2, Jelaskan apa yang dimaksud dengan asas pendidikan!

3. Bedakan antara landasan penddikan dengan asas pendidikan dengan


memberikan sebuan contoh!
4. Jelaskan 9 (sernbilan) landasan pendidikan yang digunakan di Indonesia!
5, Kemukak an sekurang-kurangnya tiga asas penyelenggaraan pendidikan
yang digunakan di Indonesia!
6, Gambarkan penerapan asas-asas pendidikan di Indonesia dalam kornuni-
kasi pe mbelaja ran, pera n an guru,dan tujuan pembelajaran!

1:1 67
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

Daftar Pustaka
Depdiknas, 2005, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendi-
dikan. Jakarta; Depdiknas.
FI,A.R. Titaar, 2007, Afengembangkan Ilmu Pendidikan Berdimensi
Jakarta: Lembaga Manajemen UNI.
Made Pidaria. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan
Bercorak Indonesia Jakarta: Rineka Cipta.
NI, Dimyati. 1988. Landasan Kependidikan: Suatu Pengantar Peinikiran
Keilmuan ten tang Kegiatan Pendidikan. Jakarta: P2LPTK, Depdikbud.
Pokja Pengembangan Peta Keth-nuan Pendidikan. 2005. Peta Keilrnuan
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Ke-
pendidikan dan Ketenagaan PT Ditjen Dikti.
Prayitno. 2005_ Sosok Keilmuan Ilmu Pendidikan, Padang: RP UNP.
. 2009, Dasar, Teori. dan Praksis Pendidikan. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Shama, A, G. 1973_ Arti Pendidikan bagi Masa Depam Terjernahan Mhd.
Ansyar, Jakarta: Pustekom Depdikbud.
Suardi, 2012. Pengantar Pendidikan Teori data Aplikasi. Jakarta: PT Indeks.
Syafril Zeihendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina. T.
Naisbit & P. Aburdane, 1990, Mega Trends 2000. Jakarta: Binarupa
Aksara.
Undang-Undang RI Not-nor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: Balai Pustaka Cipta Karva.
Undang-Undang RI Nornor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Ja-
karta: Depdikrtas,

68
4
Pilar Pendidikan

PEI DAHULUAN

Pendiclikan di era sekarang maupun akan datang dituntut untuk


mampu memberikan kontribusi Iebin bagi manusia dalarn rneng-
hadapi kehidupan yang makin kompleks dan global. Tidak sap mem-
bentuk pribadi yang bertakwa melalui ajaran normatif, tetapi juga
mampu rnengembangkan dan mengoptirnalkan segala potensi yang
dimiliki oleh manusia. Hal inI berangkat dari perubahan kehidupan
masyarakat di semua belahan dunia pada abad ke-21 atau globalisasi
ini yang mengalami perubahan signifkan dalam segala aspeknya;
sosial, politik, ekonorni, budaya, politik, komunikasi, keamanan, dan
lain-lain, yang dilatarbelakangi oleh pesatnya kernarijuan di bidang
ilmu dan teknologi.
Kemajuan tersebut juga memberikan ekses negatif seperti menu-
runnya nilai-nilai agama dan bertambahnya nrIal-nilai materialisme,
hedonisme, dan lain-lain. Dalarn bayangan seperti itu seharusnya
diperlukan keadaan rnasyarakat yang slap untuk mengarungi globa-
lisasi. Pendidikan harus mampu mengarahkan manusia untuk ber-
perilaku yang sesual dengan nilal-nilal kemanuslaan. AI-Qur'an dan
As-Sunnah yang rnerupakan cumber ajaran pendidikan Islam harus
bertindak sebagai dasar pole pikir manusia yang rnengontrol seka-
ligus mengarahkan batas-batas pikiran dan perilak.0 agar tidak ever
load (kelewat batas). Perubahan kehidupan yang tidak bisa dielakkan
dan pendidikan yang harus ditata sebagai pengarah, UNESCO sebagai
salah sate badan organisasi dunia yang berkipran dalam bidang
pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya telah meneliti perubahan
kehidupan itu semua dan rnengantisipasinya melalui perubahan
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

visi atau cam pandang pendidikan yang dftuangkan dalarn sebuah


buku; Beiajar: Horta Karim di Dolamp, Worm UNESCO doni omisi
internasionol tentartg Pendidikon di Abad *Au pilar-pilar pendi-
dikan dengan reaming to know, learning to do, !earning to be, leaning to
iive together, dan 'learning to believe ire God.
Sehubungan dengan hal yang telah dikernukakan di atas, dalam bab
ini akan dibahas: (a) pengertian pilar pendidikan; dan (b) jenis-
jenis pilar pendidikan. Pemahaman tentang pokok bahasan
tersebut sangat diperlukan bagi Arida sebagai calor) pendidik clan
tenaga kependidikan.
Setelah inernpefajari bab ins,dil rapkan Anda akan me lid esk r [psi ka n
irnplementasi pilar pendidikan. Lebih khusus Iagi, sasaran belajar,
yang diharapkan akan Anda capai ialah mampu:
a tvlenjelaskan tentang pengertian pilar pendidikan.
b. Menjelaskan tentang jenis-jenis pilar pendidikan.
Mendeskripsikan implementasi pilar-pilar pendidikan.
A. PENGERTIAN PILAR PENDIDIKAN
Pilar merupakan penopang atau penyangga dalam sebuah
bangunan yang rrternbuat bangunari itu dapat berdiri dengan kukuh.
Sistem pendidikan juga memerlukan pilar yang akan menyangga sistem
pendidikan yang dilaksanakan agar pendidikan tersebut dapat berjalan
dengan baik dalarn mencapai tujuan pendidikan.
Pilar dalam kamus umurn adalah tiang penyangga atau penguat dari
beton, dan sebagainya, juga sekaligus dipakai untuk keindahan atau ke-
serasian penunjang untuk kegiatan. MI. Lavengeveid rnengatakan, bah wa
"Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan
yang diberikan kepada anak didik yang bertujuan pada pendewasaan anak
itu." Dolan-) I( us Besar Bahasa Indonesia, kata "pilar diartikan sebagai
"tang penvangge (terbuat dari besi atau beton). Kata pilar dalarn
bahasa Inggris berarti (satna artinya dengan pilar dalarn bahasa
Indonesia).
Eksistensi pilar dalam berbagai hal bisa dikatakan sangat penting
peranannya sebagai penopang agar menjadi sesuatu yang utuh (unity.
Bangunan atau nanah herangkat dari pondasi yang clilengkapi dengan
pilar agar atap bisa berdiri kukuh dan tidak mudah roboh sehingga
tampak menjadi lengkap den melengkapi.

70 ■
BAB 4 0 - Pilar Pffididiken

Hal ini juga terlihat dari kondisi zaman yang cepat berubah, retina-ma
di bidang teknologi dan informasi sehingga visi paradigma pendidikan
harus relevan yang kemudianditurunkan lie dalam metode pembelajaran.
Yaitu mengubah paradigma teaching (mengaja.r) menjadi learning (bel-
ajar), Dengan perubahan ini proses pendidikan menjaili proses bagairnana
"belajar bersama antarguru dan anak didik," Guru dalam konteks ini juga
termasuk dalam proses belajar. Sehingga lingkungan sekolah menjadi
learning society (masyarakat belajar). Dalarn paradigma ini, peserta didik
tidak lagi disebut pupil (siswa) tapi learner (yang belajar).
Sebagai objek sekaligus subjek pendidikan, manusia menjadi titik
sentral dalam proses belajar yang mengarah pada tujuan pendidikan.
Manusia belajar dari apa raja di sekitarnya untuk survive sekaligus pe-
ngembangan potensi diri, lahir dari ketidaktahuan dari rahim seorang ibu dan
dibekali penglihatan, pendengaran dan aka.] untuk digunakan dalam
tugasnya sebagai khalifatuilah fil artih. Berangkat dad sinilah, paradigm
learning ingin diusung sebagai pilaf pendidikan untuk kepentingan manusia
dengan perubahan zaman clan ini berangkat d a ri paradigrna belajar.
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pilar pen-
didikan adaiah tiang atau penunjang dari suatu kegiatan usaha, pengaruhr
perlindungan, dan bantuan yang akan diherikain kepada anak didik yang
bertujuan untuk pendewasaan anak.

B. JEN 15-JENIS PILAF PENDIDIKAN

1. Learning to Know

Learning to know (belajar untuk mengetahui), artinya belajar itu ha-


rus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya dihafalkan tetapi
harus ada pengertian yang dalam. Hal ini dapat diartikan bahwa siswa
harus memiliki pemaharnan yang berrnakna terhadap proses pendidikan
mereka. Siswa diharapkan rneinahami secara bermakna anal mula teori
dan konsep, serta menggunakannya untuk menjelaskan dan memprediksi
proses-proses berikutnyar Siswa harus memiliki tujuan dalam belajar,
selalu mecari tahu dan menggali hal yang harus diketahuinya, dan
mencari care yang haws ditempuh untuk dapat mengetahui hal-hal ter-
sebut. Hal yang digarisbawahi adalah bahwa learning to know tidak seka-
dar memperoleh pengetahuan tapi juga menguasai teknik memperoleh
pengetahuan tersehut. Tidak hanya itu, siswa juga dituntut tidak sekadar
mengetahui ilmu tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang bermanfaat
bagi kehidupaii. Pilar ini berperan untuk membentuk generasi penerus
bangsa yang memiliki kemampuan intelektual dan akademik yang tinggi.

71
DASA R-DASA IR. I LMU FENDIDIKAN

Learning to know bukan se halm proses belajar di mans siswa menge-


tahui dan merniliki mated inforrnasi sebanyak-banyakriya, menyimpan
dan mengingat, namun juga kemampuan until dapat memahami makna
di halik materi ajar yang telah diterimanya. Dengan learning to know,
kernampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilrniah
diharapkan bisa herketnhang yang tidak hanya melalui logika empirisme
semata, tetapi juga secara transcendental, yaint kemampuan mengait-
kannya dengan nilai-nilai spiritual_
Learning to know adalah suatu proses pembelajaran yang memung-
kinkan peserta didik menghayati dan akhirnya dapat merasakan serra dapat
menerapkan cara memperoleh pengetahuan. Suaru proses yang
memungkinkannya tertanam sikap ilmiah, vaitu sikap in gin tahu dan se-
lanjutnya menimbulkan rasa rnampu untuk mencari jawaban atas ma-
salab yang dihadapi secara ilmiah.
Dalam pengimplementasian konsep learning to know, guru dituntut
menempatkan dirinya sebagai fasilitator bagi siswanya dalam rangka
mengembangkan pengetahuan mereka. Selain itu, guru harus rnampu
memotivasi dan menginspirasi siswanya dalam pengembangan, peren-
canaan, dan pembinaan pendidikan dan pernhelajaran. Learning to know
dilakukan dengan cara mernadukan penguasaan terhadap suatu penge-
tahuan umum yang cukup lugs dengan kesempatan untuk bekerja
secara rnendalarn pada sejumlah Lecil mata peIajaran.
Prin.sip learning to know.
a. Diarahkan untuk rnampu rnengembangkan ilmu dan terobosan tek-
nologi dan merespons cumber info rrnasi Baru.
b. Mernanfaatkan berbagai sum.ber pembelajaran,
c. Network society.
d. Learning to learn dan long life education.
Sasaran akhir dad penerapan pilaf learning to know adalah Iahirnya
suatu generasi yang mampu mendukung perkembangan IPTEK, yang
rnenjadikan 1PTEK sebagai kehudayaannya. Men.jadikan 1PTEK sebagai
kebudayaan, science adalah wujud berpikir yang canggi h.

2. Learning to Do
Learning to do (helajar untuk herhuatkrielakukan), setelah kita rne-
maharni dan mengerti dengan benar apa yang kita pelajari lalu kita me-
lakukannya. siswa dilatih rn.elakukan sesuatu dalam sitnasi nyata yang
menekankan pada penguasaan keterampilan. Terkait dengan hal tersebut
guru perlu rnendesain proses belajar mengajar yang aplikatif, maksudnya

7 2 ■
BAB 4.- Pi I at- Pffididiken

menekankan pada keterlibatan siswa, baik fisik, mental, maupun emosio-


nalnya, hlal ini bertujuan mem ben tu k generasi muda yang terampil d alarn
berkomunikasi, bekerja sama, mengeiola, dan mengatasi suatu konflik.
Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know.
Kelemahan model pendidikan dan pengajaran yang selanla ini berjaian
adalah mengaiarkan "ornong" (ham: teori), dan kurang menuntun orang
untuk "berbuat" (praktik). Learning to do bukanlah pernbelajaran yang hanya
menumbuhkernbangkan kernampuan berbuat mekanis dan kete-
rampilan tanpa pemikiran; melainkan mendorong peserta didik agar te-
rus belajar bagaimana menumbuhkembangkan kerja, juga bagairnana
mengembangkan teori atau konsep. Learning to do tidak hanya tertuju
pada penguasaan suatu keterampilan bekerja, tetapi juga secara lebih leas
berkenaan dengan kompetisi atau kemampuan yang berhubungan dengan
banyak situasi dan bekerja dalam tint.
Prinsip dalam /earning to do:
a. Menjembatani pengetahuan dan keterampilan.
b. Memadukan learning by doing dan doing by learning,
c. Mengaitkan pembelajaran clan kompentensi.
d. Mengaitkan psikologi pembelajaran dengan so sioiogi pembelajaran.
Sasaran akhir diterapkannya pilar ini adalah lahimya generasi muda
yang dapat bekerja sangat cerdas dengan memanfaatkan IPTEK. Tujuan akhir
dad upaya pendidikan adalah penguasaan seni menggunakan ilrnu
pengetahuan_
Sekolah merupakan tempat yang tepat bagi siswanya untuk meng-
aktualisasikan keterampilan, serta bakat yang dimiliki, keterampilan me-
rupakan sarana untuk menopang kehidupan seseorang bahkan banyak orang
meyakini bahwa memiliki keterampilan jauh lebih penting daripacla
menguasai pengetahuan semata. Oleh sebab itu, siswa harus dilibatkan
secara aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka. Hal ini bertujuan
untuk membuat siswa bertanggung jawab atas diri dan pendidikannya,
sehingga mereka akan belajar untuk meningkatkan ketnarnpuan dal=
rnernecahkan mas a Iah.
Learning to do berperan mencetak generasi muda yang cerdas dan
cekatan dalam bekerja dan mempunyai kernarnpuan untuk berinovasi.
Pada hakikatnya, pendidikan harus membekali manu.sia tidak sekadar
umuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terarnpil berbuat atau menger-
jakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang berrnakna bagi ke-
hidupan. Dapat ditarik kesimpulan bahwa, learning to do mempersiapkan
perserta didik untuk hidup di masyarakat, terjun lie dunia kerja, dan
rnenghasilkan kreativitas yang dimilikinya.,

111 73
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3. Learning to be
Learning to be (belajar untuk menjadi seseorang). Kim harus me-
ngetahui diri kita sendiri, siapa kita sebenarnya? Untuk apa kita hidup?
Dengan demikian, kita akan bisa mengendalikan diri dan memiliki ke-
pribadian untuk mau dibentuk lebih baik lagi dan maju dalam bidang
pengetahuan. Learning to be adalah belajar untuk berkembang secara
utuh. Konsep ini mernaknai belajar sebagai proses untuk membentuk
manusia yang memiliki jati dirinya sendiri, Siswa diharapkan untuk dapat
mandiri dan bertanggung jawab. Selain itu, pendidikan juga diharapkan
mampu mencetak generasi mud a yang berperikemanusiaan,
Dalam konsep /earning to be siswa belajar berperilaku sesuai dengan
norms dan kaida.h di masyarakat, belajar menjadi orang yang her-
sesungguhnya merupakan proses pencapalan aktualisasi diri. Da-tam
konteks pendidikan, siswa juga dituntut dapat menghargai proses
pendidikan, yang ditunjukkan dengan sikap senang belajar, bekerja
keras, ulet, sabar, disiplin, jujur, serta mempunyai motif berpresta.si
yang tinggi dan rasa percaya did.
Peran guru dalarn pilar learning to be sebagai kompas penunjuk arah
sekaligus menjadi facilitator sangat diperlukan untuk menumbuh-
kembangkan potensi diri siswa secara utuh dan rnaksimal, Pendidik juga
membimbing siswa belajar mengaktualisasikan diri sebagai individu yang
berkepribadian utuh dan bertanggung jawab sebagai individu sekaligus
sebagai anggota masyarakat, Konsep learning to be perlu dihayati oleh
seluruh praktisi pendidikan untuk melatih siswa agar dapat rnenge-m-
bangkan kepribadian lebih baik, Dengan pilar ini, peserta didik berpotensi
menjadi generasi bare yang berkepribadian mantap dan mandiri.
Melengkapi learning to know dan learning to do, .Robinson Crussoe
berpendapat bahwa manusia itu tidak bisa hidup sendiri tantpa kerja
sama atau dengan kata lain manusia sating tergantung dengan manusia
lain. Manusia di era sekarang ini bisa hanyut ditelan waktu jika tidak
berpegang teguh pada jail dirinya, Learning to be akan rnenuntun peserta
didik menjadi ilmuwan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai
kehidupannya dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup
bemta.syarakat sebagai hasii belajarnya,
Learning to be yaitu mengembangkan kepribadian dirinya sendiri
dan mampu berbuat dengan kernandirian yang lebih besar,
perkembangan dan tanggung jawab priba di. Learning to bemerupakan
pelengkap dad learning to know dan learning to do,

74 ■
BAB 4.- Pi I at- Pffididiken

Prinsip learning to be:


a, Berfungsi sebagai andil terhadap pernbentukan nilai-nilai yang di-
miliki bersama,
b. Menghubungkan antara tangan dan pildran, individu dengan ma syarakat
pembelajaran kognitif dan non-kognitif serta pernbelajaran formal
dan nonformal.

4. Learning to Live Together


Learning to live together (belajar untuk hidup bersama). Sejak Allah
SWT menciptakan manusia, harus disadari baliwa manusia tidak dapat
hidup sendiri tetapi saling rnernbutuhkan georang dengan yang lainnya,
harus ada penolong. Karena itu manusia harus hidup bersama, saling
membantu, sating menguatkan, saling menasihati, dan saling rnengasihi,
tentunya saling menghargai dan saling menghormati saw dengan yang lain.
Di era sekarang ini, muncul berbagai konflik seperti perbedaan agama,
ras, suku, dan kehudayaan. Penyebab dari semua konflik itu adalah
ketidakmarnpuan manusia untuk menerima perbedaan. Konsep ini
merupakan tanggapan terhadap arus individualisms yang merajalela de-
wasa
Dalam konteks pendidikan, siswa diharapkan dapat bersosialisasi dan
berkomunikasi dalam proses pendidikan. Hal ini dapat diimplemen-
tasikan dalam kegiatan pernbelajaran, seperti belajar kelompok dalam
kelas, menghargai pendapat teman, menerirna pendapat teman yang
berbeda, mengemuka.kan pendapat untuk membagi ide dan
pengalaman dengan siswa Lain.
Learning to live together ini mengaiarkan segenrang untuk hidup
bermasyarakat dan menjadi manusia berpendidikan yang bermanfaat,
baik bagi diri sendiri dan masyarakatnya maupun bagi seluruh umat
manusia. Kesernpatan bennteraksi dengan berbagai individu atau kelompok
indivklu yang benrariasi akan membentuk kepribadian siswa untuk
memahami kemajemukan dan rnelahirkan sikap-sikap positif dan toilet-
an terhadap keanekaragaman dan perbedaan hidup.
Learning to live together dilakukan melalui perkembangan suatu per
mahaman Tema/1g orang lain dan suatu penghargaan terhadap saling ke-
tergantungan pela.ksanaan pmvek bersama dan belajar mengelola konflik
dalam seman gat menghargai nilai-nilai kejarnakan, pernahaman bersama
dan perdamaian. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka,
merriberi dan rnenerima yang dikembangkan di sekulab, menumbuhkan

75
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

rasa memahami, menghargai dan menghormati orang lain. Sim Ara akan
mampu menyadari adanya ketergantungan dan hubungan timbal balik
antarmanusia. Adanya tujuan bersama menuju pada sem angat kerja sama
dan perdamaian demi kebaikan bersama.
Pemaham.an tentang diri dan orang lain yang didapat rnelalui ke-
lompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat. Konsep
learning to live together dalarn hal ini, rnerangsang kepekaan pe-
serta didik akan suka duka dan makna empati terhadap orang ini
dapat dijadikan bekal saat mereka berkecimpung di lingkungan di many
mereka hidup dan bersosialisasi. Mereka ielah dibekali kematnpuan untuk
menernpatkan diri sesuai dengan lingkungannya.
Learning to live together berperan menjadi pilar belajar yang penting.
Konsep ini berperan dalam mengembangkan sernangat menghormati nilai-
nilai kernajernukan, saling memahami, clan perdamaian.
Prinsip learning to live together,
a. Membangun sistem nilai,
b. Pembentukan identitas melalui proses pernilikan konsep luas,

5. Learning to Believe in God


Learning to believe in God {belajar untuk beriman kepada Tuhan
Yang Maha Esa) bahwa manusia mempunyai pegangan yang universal
dalam berhubungan dengan lingkungannya dan berhuhungan dengan
penciptanya. Dalarn artian ini bahwa pengetahuan yang dicari sesearang
harus dapat rnemberi manfaat untuk isi alarn itu sendiri, dan bagaimana
mengelolanva untuk kebaikan bersama secara berkelanjutan (sustainable)
yang seeara religius dapat dipertanggungjawabkan kepada Yang
Mahaicuasa.

C. IMPLEMENTASI PILAF PENDIDIKAN


Perterapan paradigrna tersebut sudah barang tentu akan berdarnpak
pada pembelajaran efektil yang direkomendasikan UNESCO, vakni
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan rnenyenangkan. Konsep
pembe)ajaran efektif tersebut berrnuara pada lima pilar pendidi ken, yaktii
learning to know, learning to do, learning to be learning to life together, and
learning to believe in God.
Penerapan empat pilar pendidikan menuntut kemampuan profesional
guru sejalan diberlakukannya otonorni daerah, khususnya bidang
pendidikan. Kemampuan profesional guru akan terwujud apabila guru
memiliki kesadaran dan komitmen yang tinggi dalam rnengelola interaksi

76 ■
BAB 4.- Pil at- Pffididiken

belajar mengajar pada tataran mikro, dan memiliki kontribusi terhadap


upaya peningkatan rnutu pendidikan pada tataran rnakro,

Rangkuman

Dalam membentuk masyarakat belajar, konsep piilar belajar dari UNESCO


(1996: 71) perlu dikembangkan yaitu !earning to know, learning to do, learning
to b8, learning to lifetogether.Pilar pendidikan ini dilengkapi di Indonesia dengan pilar
keiima, yaitu learning to beiieve in God, yang merupakan akumu Iasi dad berbagai
pengetahuan keterampilan yang diperoleh sejak masa kanak-kanak.

Manusia yang telah dibekali dengan pilar learning toknow akan memiliki sejumlah
pengetahuan dan keterampilan berpikir, Gabungan pengetahuan dan kete-
rampilan berpikir tersebut dapat dikembangkannya untuk kemampuan berbuat,
meningkatkan kualitas diri, kemampuan untuk bekerja sama dengan prang lain,
dan peningkatan kualitas hidup se bagai makhluk yang beraga ma,
Learning to do, dalarn kehidupan manusia ada Ian adanya dorongan untuk berkre-
asi, mernecahkan masalah, dan rnengadakan inovasi-inovasi. Dasar ini berangkat
dari adanya pengetahuan yang dirniliki yang digunakannya untuk identitas dirinya
dan kemaslahatan prang banyak berdasarkan kepercayaan yang dimitikinya.

Learning to be, menjadikan manusia hidup mandiri tanpa adanya ketergantungan


pada pihak lain. Berdasarkan hal ini, manusia mempunyai kebebasan untuk
mendapatkan sesuatu atau bertindak. Atas dasar ini manusia tersebut bebas
memilih ilmu apa yang ingin clidapatkannya, bebas menentukan dalam bekerja
sarna dengan orang lain yang didasarkan atas nornna-norrna atau ajaran agama
yang dianutnya.

Learning to live together, bahwa manusia mempunyai keselarasan hidup di te-


ngan-tengah masyarakat. Secara bersarna-sama mampu mendapatkan
sejurnlah pengetahuan, mampu berbuat secara bersarna-sama dengan tetap
rnenghargai perbedaan individu dan potensi rasing-masihg dalam kerangka
bekerja bersama,
Learning to believe in God, bahwa manusia rnernpunyai pegangan yang universal
dalam berhubungan dengan lingkungannya dan berhubungan dengan pencip-
tanya. Dalam artian ini bahwa pengetahuan yang dicari seseorang harus dapat
memberi manfaat untuk isi alarn itu send iri, dan bagaimana rnenge kolanya
untuk kebaikan bersama secara berkelanjutan (sustainable), yang secara religlus
dapat dipertanggungjawabkannya kepada ThhanYang Mahakuasa.

Seluruh pilar di atas menu pakan kerangka dasar yang dapat di kern ba ngk an data
m rangka mendorong terwujudnya struktur dan kultur masyarakat belajar sepan-

77
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

fang hayat, sehingga setiap orang nantinya akan memiliki kualitas flidup. Hal ini
seja1an dengan a ma nat Undang-Undang No, 20 Tahun 2003 tentang Si stem Pen-
didikan NasionaI Pasai 3, bahwa: Pend id i kan nasio na I berfungsi mengernbangkan
kernampuan dan mernbentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangs-a, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta clidik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawa b.

Tugas

a. Apakah yang dimaksud dengan pilar pendidikan?


b. Jelaskan pilar-pilar p-endidikan!
c. Bagaimana implementasi pilar-pilar pendidikan di Indonesia?

Daftar Pustaka
AG Soejono. 1989. Aliran Baru dalam Pendidikan. Bandung7CV
Agustiar Syah Nur. 2002.. Perbandingan Sistem Pendidikan TS Negara,
Bandung: Lubuk Agung,
Darmiyati Zuchdi. 2008. Human isasi Pendidikan. JakartaT Bumi Aksara.
Deliar Nuer & Iskandar Alisyahhana (Ed.). 199g. Perubahan, Pernbaharu-
an, dan Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21, Jakarta: Dian Rakvat,
Pokja Pengerabangan Peta Keilmuan Penclidikan. 2005. Peta Keilmuan
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Ten aga Ke-
pendidikan dan Ketenagaan PT Ditjen Dikti,
Prayitno. 2005. Sosok Keibnuan Ilmu Pendidikan. Padang: FIP UNP.
. 2009. Dasar, Teori, clan Praksis Pendidikan_ Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Redja Mudyahardjo. NO. Fiisafat urna Pendidikan, Bandung: PT Rernaja
Rostiakarya.
Suardi, 2012. Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT Indeks.
Syafril St Zelhendri Zen. 2012. Pengan tar Pendidikan. Padang: Sukabina. T.
Naisbit & P. Ahurdanc. 1990. Mega Trends 2000. Jakarta: Binarupa
Aksara,
Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: Balai Pustaka Cipta Karya.

78
5
Pendidikan sebagai Suatu Sistem
dan Komponen Pendidikan

P E ND A H UL UA N

Pendidikan adalah usaha untuk memanusiakan manusia. Subjekr


objek atau sasaran pendidikan adalah manusia. Pendidikan bermak-
sud membantu manusia untuk menumbuhkembangkan potensi-
ootensi kemanusiaannya. Oleh karena keberadaan manusia yang
tidak dapat terlepas dari lingkungannya, maka berlangsungnya pro-
ses pendidikan itu selarnanya akan berkaitan erat dengan lingkungan
dan akan saling mernengaruhi secara timbal balik,
Potensi-potensi manusia dapat dikembangkan melaliii pengalarnan.
Pengalaman itu terjadi karena adanya interaksi secara efektif dan
efisien antara manusia dan lingkungannya, baik lingkungan fisik mau-
pun lingkungan sosial manusia. Interaksi manusia dengan Iingkung-
annya secara efektif dan efisien yang memberikan pengalaman yang
dapat iiengembangkan poterisi-potensi kemanusiaan itulah yang
disebut pendidikan.
Interaksi manusia dengan lingkungannya dalam ruang lingkup pen-
didikan mengandung banyak aspek atau elemen-elemen yang sifatnya
sangat kompleks. Kompleksitas elemen-elemen yang saling ber-
hubungan dan saling memengaruhi dalam ruang lingkup pendidikan
Itu membentuk suatu sistem yang disebut sistem pendidikan.
Sehubungan dengan hal yang telah dikemukakan di atas, dalam bab
ini akan dibahas: (a) pengertian pendidikan sebagai suatu sistemdan
(b) komponen pendidikan, pemahaman tentang pokok bahasan
tersebut sangat diperiukan bagi Anda sebagai talon tenaga kepen-
didikan.
Seteiah mempelajari bab ini, diharapkan Anda akan menjelaskan
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

tentang pendidikan sebagai suatu sfstem. Lek ih khusus lagi, sasaran


belajar, yang d [ha ra pkan akan Anda capai ialah marnpu:
a. Merurnuskan apa yang dimaksud dengan pendidikan sebagai
suatu sistem.
b. Menjelaskan komponen pendidikan.

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN SEBAGAI SUATU SITEM


Salah sate cara untuk inemperoleh gambaran yang lebih inantap
tentang pendidikan, yaitu dengan menggunakan pendekatan sistem.
Pendekatan sistem dalarn pendidikan dimaksudkan untuk mernaksimal -
kan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Apab ila pendidikan di p a.ndang sebagai suatu sis Le rn, lalu apakah
yang dirnaksud dengan sistem itu? Secara seiderhana dapat dikatakan
bahwa sistem adalah suatu totalitas yang terbentuk dari elemen-elemen
yang mempunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi
hasil yang diharapkan. Hubungan fungsional dari setiap elemen rrienye-
babkan setiap sistem berjalan serta bersifat adaptif terhadap tingkungannya
sesuai dengan arch yang jelas dan berkesinambungan yang disebut supra
sistem. Kalau demikian, apakah yang dimaksud dengan pendidikan sebagai
suatu sistem? Pendidikan adalah sate keseluruhan kerja manusia yang
terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam
mernbantu terjadinya proses transformasi atau perubahan tingkah laku
seseorang sehingga menjacii manusia berkualitas.
Pendidikan adalah karya bersarna yang berlangsung dalam suatu
pola kehidupan masya.rakat tertentu_ nengan demikian, pendidikan na-
sional suatu bangsa merupakan sistem sosial dan salah saw sektor claim
keseluruhan kehidupan bangsa. Sebagai sistem sosial, pendidikan meru-
pakan sistem terbuka, yang oleh Katz dan Kan yang dikutip oleh Mudya-
hardjo (1992), dibatasi sebagai sistem yang memperoleh masukan dari
lingkungan clan memberikan hasil transformasihya kepada lingkungan.
umurn sistem terhua dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengambil energi atau (masukan) dari lingkungan,
2. Men tran sfo rmas ikan energi yang tersedia.
3. Memberikan hasil kepada lingkungan.
4. Sistem merupakan rangkaian peristiwa atau kejadian yang terns Per-
langsung.
5. Untuk dapat hidup terns, sistem harus bergerak melawan proses ca-
tastrophylkehancuran.

80 ■
EAB 5 ■- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pend idiken

6. Masukan sistem tidak hanya hal-hal yang bersifat material tetapi


juga berupa informasi yang pengambilannya bersifat selektif dan
balikannya berupa haiikan negatif.
7. Dalam sistern terdapat dalam keadaan stasis dan keseimbangan in-
ternal fhornoestasts) yang dinamis,
B. Sistem bergerak menuju kepada melakukan peranan-peranan yang
makin be rdiferensiasi.
9, Sistem dapat mencapal keadaan akhir yang sama dengan kondisi awal
yang berbeda dengan cara-cara pencapaian yang tidak sarna.
Sernua aspek dari kehidupan hangsa merupakan lingkungan ke-
hidupan dan supra sistem dari sistern pendidikan yang bekerja bersama-
sama dengan sistem lainnya, seperti ekonomi, politik, hukum, clan agama,
dalam rangka mencapai tuivan nasional. Pendidikan sebagai sistem dapat
digambarkan dalam bentuk model dasar input-output sebagai berikut:

Lingkungan Lingkungan

Masukan Sistem Hasil


Pendidikan Pendidikan Pendidikan

GAM BAR 5.1


Mode! input-Output Pendidikan

Segala sesuatu yang masuk dalam sistern dan berperan dalam pro-
ses pendidikan disebut masukan pendidikan. Lingkungan hidup men-
jadi sumber pendidikan. P.H. Coombs dan W.I. Platt mengernukakan tiga
somber masukan pendidikan yang terdiri atas:
1. Pengetahuan, nilai-nilai, dan cita-cita yang terdapat dalam masya-
rakat.
2. Sumber daya manusia yang memenuhi persyaratan.
3. Masi] produksi dan penghasilan.
Berkenaan dengan butir-butir di atag, bentuk masukan dalam pen-
didikan dapat berupa informasi (pengetahuan, dan cita-cita),
tenaga 'Number daya manusia), dan barang (sarana pendidikan dan per-
lengkapan). Namur tidak sernua yang terdapat dalam lingkungan dapat
menjadi masukan pendidikan melainkan pengarnbilan masukan pendi-
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

dikan melalui proses pemilihan yang berdasarkan pada kriteria tertentu.


Pengarnbilan didasarkan pada aturan permainan yang berlaku. Sister
persekolahan atau jalur sekolah mempunyai aturan permainan yang baku dari
tersnrat serta lengkap dibandingkan dengan sistem pendidikan keluarga atau
sistem pendidikan. masyarakat.
Semua masukan pendidikan kemudian disusun menurut pola ter-
tentu, menjadi bagian-bagian atau elemen-elemen yang sate sama lain
rnernpunyai hubungan fungsionai di dalani rnencapai suatu tujuan. Pe-
nyusunan semua masukan menurut poia tertentu tersebut menghasilkan
sistem pendidikan. Bagian-Magian yang mempunyai fungsi tertentu da-
lam Inencapai tujuan sistem pendidikan disebut kornponen pendidikan.

B. KOMPONEN PENDOIKAN
Dalam kegiatan atau proses pendidikan terdapat komponen pendidikan
yang dapat membentuk pola interaksi atau saling mernengarutti, Komponen
pendidikan tersebut seperti berikut:
1. Tuj u an
2, P endi di k
3. Peserta didilc
4. rviateri
5. Metode, media, dan alat pendidikan
6. Lingkungan pendidikan
Keenam kumponen yang telah dikemukakan di atas saling merne-
ngaruhi dan saling berinteraksi sesarnanya, Berikut ini komponen pendidikan
tersebut akan kits babas sate per sate. Sebagai ilustrasi saling interaksi
antarkomponen pendidikan digarnbarkan sehagai berikut:

Tiljuan

Peserta diclik Pendidik

Metode dan slat


Mated
pendidikan
Lingkungan

GAMBAR 5.2
Stiling I nteraksi Antar Kornponen pendidikan

82 ■
BAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

Dalam proses pendidikan yang berwujud interaksi di atas, proses


pencapaian tujuan selalu ditempuh melalui suatu media berupa mated
pendidikan dengan metode dan alas tertentu yang dipakai pendidik dan
peserta didik dalam rnencapai tujuan tersebut. Setiap interaksi edukatif selalu
berlangsung di dalam situasi lingkungan tertentu, Situasi 1ingkungan ini
berpengaruh terhadap upaya pencapaian tujuan, sehingga harus
dipertimbangkan, bahkan dimanfaatkan oleh pendidik sebagai bahan muatan
Iokal,
Sebagai contoh, kita ambit suatu proses pendidikan untuk dapat
lebih jelas kita amati: Guru dan murid sedang melakukan suatu kegiatan
belajar. mengaj Mula.-rnula gum itu menjelaskan a pa yang ingin dicapai
dengan kegiatan itu. Tujuannya agar inurid dapat menghitung luas benda
datar, samhil murid mernbuat bentuk bidang datar pada papan berpaku
serta gelang karet yang sudah disediakan, I Tend mencoba menghitung
Luas masihg-inasing benda yang dibuarnya dengan menghitung jumlah
kotak-kotak yang ada pada setiap bagian. Kernudian guru bersama murid
menyinipulkan rumus menghitung luas siku empat dan segitiga sama kaki
tadi. Selanjutnya dibagi lembaran kerja yang berisi tugas untuk menghi-
tung luas pekarangan sekolah„ luas papan Lulls, dan sebagainya. Terakhir
guru mengumpulkan tugas dan menilainya.
Dalam kegiatan itu kita ternui beberapa komponen, yaitu adanya
tujuan, guru, murid, metode, dan alai serta adanya materi dan lingkung-
an. Untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, rnaka semua konwonen
ini harus diatur agar dapat berperan dengan baik.Di bawah ini akan di -
balms masihg-masihg kornponen sebagai e rikut:

Tujuan
Tujuan merupakan koinponen pendidikan yang memiliki posisi pen-
ting dalam proses pendidikan. Berbagai tujuan pendidikan yang diingin-
kan oteh pendidik supaya dapat dicapai rah peserta didik. Semua tujuan itu
harus normatif baik, artinya tidak bertentangan dengan hakikat
perkernhangan peserta didik dan dapat diterima sebagai nilai hidup yang
baik,
Tujuan pendidikan ada yang sifatnya ideal dan ada Pula yang sifatnya
nyata. Tujuan yang sifatnya ideal biasanya dirumuskan dalam bentuk tujuan
pendidikan yang sifatnya urnum, sedangkan Tujuan yang sifatnya nyata
diruinuskan dalam bentuk tujuan khusus.
Dalarn istem pendidikan nasional, tujuan umum pendidikan dija-
barkan dari falsafah bangsa, yakni Pancasila. Makria tujuan pendidikan
nasional itu adalali inembentuk manusia Indonesia yang bisa mandiri da -

83
DASAR-DASA R. ILMU PE NDIDIKAN

lam konteks kehidupan pribadinya, kehidupan bermasyarakat, berbangsa,


dan bernegara, serta berkehidupan sebagai makhluk yang beragama
(Ketuhanan Yang Maha Esa). Manusia Indonesia yang dicita-citakan dan
harus diupayakan melalui pendidikan adalah manusia yang bermoral,
berilrnu, berkepribadian, dan beramal bagi kepentingan manusia, masva-
rakat, bangsa, dan negara.
Untuk mencapai tujuan umum, ada beberapa tujuan yang mengan-
tarkannya ke tujuan umum tersebut, disebut dengan tujuan antara, yaltu
pemberhentian sementara untuk mencapai tujuan umum. Pencapaian tujuan
umum ini selalu dilaksanakan dalarn bentuk-bentuk pengkhususan karena
rnengingat keadaan-keadaan yang terdapat pada peserta didik, lingkungan,
serta diri pendidik sendiri.
Hal-hal yang menyebahkan terjadinya pengkhususan tujuan umum itu
antara lain:
a. Karakteristik peserta didik; tingkat kemampuan; tingkat perkembangan
kognitif, bakat, minas, jenis kelarnin, clan sebagainya.
b, Tuntutan persyaratan pekerjaan di lapangan yang merupakan pencapaian
tujuan peserta didik,
c. Perbedaan pandangan hidup masihg-masihg bangsa menunjukkan perlunya
pengkhususan tujuan ini.
d, Perbedaan tujuan yang ingin dicapai masihg-masihg lembaga atau Nur
pendidikan sekolah, jalur pendidikan luar sekolah termasuk pendidikan
keluarga yang mempunyai fungsi yang berbeda.
e. Kernampuan-kemampuan yang ada pada pendidik sendiri.
Tujuan umum yang akan dicapai di lingkungan sekolah biasanya
kita jabarkan dalarn tujuan-tujuan yang lebih kecil. Tujuan yang
berftmgsi sebagai perantara untuk mencapai tujuan umum dinamaka.n
tujuan intermedier atau tujuan sernentara. Kesementaraan tujuan
khususlinterrnedier ini terletak di dalarn kenyataan bahwa apabila tujuan
khusus itu telah tercapai, maka tujuan itu menjadi alas untuk mencapai
tujuan khusus lainnya dan seterusnya.
Ada empat jenjang tujuan p en didikan, yaitu:
a. Tujuan umum pendidikan, yakni manusia Pancasila.
b. Tujuan institusional (tujuan lembaga pendidikan, misalnya tujuan
Sekolah Dasar, tujuan Universitas Negeri Padang).
c. Tujuan kurikuler (tujuan standar kompetensi bidang studi atau mats
pelajaran), misalnya tujuan IPA, IPS, dan agama.
d, Tujuan instruksional kornpetensi dasar (tujuan untuk setiap kegiatan)
proses belajar rnengajar.

84
BAB 5 ■ - Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pend idiken

Tujuan instruksional merupakan tujuan terba.wah dari jenis tujuan


tersebut. Tujuan instruksiorial kompetensi dasar adalah tujuan yang pa -
ling kecil dad keseluruhan tujuan yang ada. Tujuan inilah yang secara
nyata dicapai dalarn proses belajar dan mengajar di kelas yang harus di-
jabarkan lagi oleh guru secara operasional rnenjadi tujuan pembelajaran
khusus yang sekarang dikenal dengan indikator (TPK). Jadi, dengan de-
mikian untuk mencapai tujuan yang paling tinggi, yaitu tujuan umum
pendidikan, kita harus rnulai dari pencapaian tujuan paling bawah, Oleh
sebab itu, tingkatan perumusan tujuan yang ada di bawah menunjang
pencapaian tujuan paling atas (tujuan urnum) sehingga dapat dicapai.

2. Pendidik
Siapakah sebenarnya pendidik itu? Pendidik ialah orang yang mem-
punyai tanggung jawab dalarn rnelaksanakan pendidikan, orangt u a bias
anya disebut pendidik menurut kodrat, sedan gkan guru dan tenaga-tenaga
lainnya yang sejenis disebut pendidik menurut jabatan. Berdasarkan hal di
alas, kita dapat mernbedakan pendidik itu menjadi dua kategori:
a, Pendidik menurut kodrat, yaitu orangtua.
b. Pendidik menurut jabatan, yaitu guru.
Orangtua sebagai pendidik menurut kodrat adalah pendidik pertama
dan utarna. Hubungan orangtua dengan anaknya dalarn hubungan edukatif
mengandung dua unsur dasar, yaitu;
a. Unsur kailt sayang orangtua terhadap anak.
b, Unsur kesadaran akan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun
perkernbangan anak.
Guru sehagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab
mendidik dad tiga pihak, yaitu orangtua, masyarakat, dari negara, Seyo-
gianyalah kepada guru diharapkan sikap-sikap dan sifat-sifat yang nor-
rnatif baik sebagai kelanjutan dari sikap orangtua pada umumnya, antara
lain:
a. Kasilt sayangkepada peserta didik.
b. Tanggung jal,vab kepada tugas mendidik.
Sehubungan dengan tanggung jawab ini, Prayitno (2000: 9) mengern
ukakan:

Kewajiban pend[dik ialah menyelenggarakan praktik pend[dikan


terhadap (sejumlah) anak (peserta didik) yang menjadi tanggung
jawabnya untuk mengembangkan semua potensi yang
dikaruniakan Allah kepada anak secara optimal,

85
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Untuk itu seorang pendidik harus memiliki karakteris ilk sebagai bed-
kut:
1) Memahami potensi anak untuk dikembangkan secara optimal.
2) Memaharni kondisi anak untuk mengadakan penyesuaian
program-program pendidikan bagi anak.
3) Melakukan kegiatan dan memberikan pelayanan pendidikan sesuai
dengan potensi dan kondisi anak untuk mengembangkan potensi
anak secara optimal.
4) Memberikan laporan dan pertan.ggungjawaban tentang perkem-
bangan dan hasil-hasil pendidikan anak kepada orangtua dan
pihakpihak lain yang berhak triemperoleh laporan.
5) Bekerja sarna dengan orangtua anak dan pihak-pihak lain yang ter-
kait pendidikan anak demi menyelenggarakan pendidikan
anak 5eoptinn a I inongkin.
6) Mernahami dan menjalankan dengan sebaik-baiknya segenap per-
aturan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak-pihak
berwenang dalam penyelenggaraan pendidikan anak.
7) Menyeienggarakan praktik pendidikan secara prolesional sesuai de-
ngan penugasan yang diberikan oleh pihak-pihak yang berwenang.
Togas pendidik karena jabatan adalah berat, maka sebagai pendidik
karena jabatan ini harus diadakan persiapan-persiapan yang cukup.
Hakat merupakan persyaratan penting untuk itu. Keadaan jasmani calon
hauls sehat. Pendidik juga dituntut untuk menggunakan bahasa yang
sopan harus mempunyai kepribadian yang kuat, Sebagai pendidik harus
disenangi dan disegani oleh peserta didik. lni be rarti is harus mempunyai
kewibawaan, punya ernosi yang stabil untuk menghadapi berbagai pe-
serta didik. Banyak sitar lain yang harus dimiliki oleh seorang pendidik.
Selain itu, seorang pendidik harus susila, jujur, dan adil. Pendidik karena
jabatan ini tugasnya tidak hanya sebagai pendidik di muka kelas, tetapi
harus inengadakan hubungan eras antara pendidik clan peserta didik di
luar kelas.

3. Peserta Diclik
Istilah peserta didik digunakan berdasarkan pandangan bahwa
makhluk manusia yang dididik adalah rnakhluk yang herkepribadian.
Istilah tersebut digunakan mengingat bahwa pendidikan adalah suatu
proses pendidikan sepanjang hayat. Ia merupakan suatu proses, proses
penyesuaian diri dan proses pernecahan masalah. Dengan kata lain,
suatu proses pemanusiaan manusia (Driyarkara, 1980: 89).

86 ■
BAB 5 D- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

Apakah dasar-dasar hakikat clan peserta didik? Berkenaan dengan hal


ini, Raka Joni menyatakan bah va:
Hakikat peserta didik didasarkan kepada empat hal, yaknk
(a) peserta didik bertanggung jawab ata5 pendidikannya sendiri se-
suai dengan wawasan pendidikan seurnur hidup,
(b) peserta didik merniliki potensi, baik fisik maupun psikologis
yang ber beda-bed a, se h ngga mas ing- ma 5i ng peserta didik
rnerupakan insan yang unik,
peserta didik mernerlukan pembinaan individual serta
perlakuan yang manusiawi, dan
(d) peserta didik pada dasarnya merupakan in5an yang aktif meng-
hadapi lingkungan.

Asumsi yang dikemukakan di atas membawa implikasi terhadap tugas-


tugas guru di sekolah.
Peserta didik ialah manusia yang rnerniliki potensi yang selalu meng-
alami perkembangan sejak terciptanya sampai meninggal dunia dan
perubahan-perubahan terjadi secara bertahap, tetapi secara wajar. Yen-
dldik membirn bing dan mengembangkan potensi-potensi yang
dimiliki oleh peserta clidilc itu pada tiap-tiap tahapnva. Seorang pendidik
harus memahami tahap-tahap perkembangan dan potensi peserta didik
tersebut, Kita menyadari tidak ada dua orang peserta didik yang sarna, tetapi
diakui bahwa ada sifat-sifat yang umum yang dapat dipedornani. Oleh rehab
itu, pendidik harus dapat mengetahui perbedaan individual tersebut,
Perbedean individu dapat terjadi akibat irama dan tempo perkem-
bangan yang beragam dan oleh adanya faktor perkembangan, yaitu
faktor-faktor yang memengaruhi peserta didik, Faktor perkembangan
urnumnya dapat dibedakan menjadi: faktor kemampuan dasar, faktor
lingkungan, clan faktor kepribadian. Sennia faktor perkembangan di atas
masihg-rnasing peserta didik dala.m intensitas dan kualitas yang
beragarn dan dapat mengalami perubahan claim perkernbangannya.
Seyogianyalah pendidik harus mengetahui berhagai perbedaan individual
ini sehingga dapat mengatur kondisi dan strategi yang relevan dengan
kebutuhan peserta didik secara bulat dan optimal.
Untuk mengembangkan kemandirian peserta didik, interaksi antara
pendidik dan peserta didik hendaklah berlangsung secara
Pada situasi pendidikan di mania pendidik yang lebibi memegang peranan
atau pemusatan aktivitas pada pendidik, kemandirian yang dimaksud tidak
mungkin dikernbangkan, Di sal-aping itu, pendidik hendaknya

87
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

rnenyiapkan dan mengatur lingkungan, sehingga menunjang terhadap


perkembangan potensi peserta didik. Bagi peserta didik yang lingkungannya
kurang bail( dan kurang teratur, pernbinaan individual sukar untuk
dilakukan. Hal tersebut juga didukung oleh pendapat Prayitno (2000) yang
menyatakan: flak anak ialah mernperoleh pendidikan yang layak mem-
perkern bangkan segenap potensi yang dikaruniai Allah kepadanva secara
optimal," Untuk itu harus dimungkinkan agar anak:
a. Mempero]eh kesempatan, fasilitas, dan pelayanan pendidikan dari
orangtua dan pendidik negara.
b. Terhindar dad pemaksaan kehendak dari orangtua ata.0 pihak lain yang
mengganggu penyelenggaraan pendidikan anak.
c. Terhindar dad hambatan yang rnenghalangi penyelenggaraan pen-
didikan anak.
d, Terhindar dari perlakuan yang merugikari penyelenggaraan pendi -
dikan.
e. Terhindar dari peraturan daniata.0 kebijakan yang rnemaksakan kehendak,
rnenghalangi dani+atau merugikan pendidikan anak.

4. Materi Pendidikan
Berdasarkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai, ditetapkan materi
pendidikan yang relevan. Kita tahu bahwa tujuan pendidikan itu sangat
luas, mulai dari tujuan umum sampai ke tingkat tujuan khusus yang se-
kecil-kecilnya. Gum harus dapat mernberi penafsitan yang tepat mengenai
jenis dan fungsi tujuan yang akan dicapainya secara konkret, sehingga
dapat memilih bahanimateri yang tepat sesuai dengan tujuan tersebut.
Pendidikan hertujuan untuk mengernba.ngkan berkenaan dengan aspck
kognitif, afektif, dan psikomotor, Untuk mencapai tujuan tersebut, mated
yang tepat harus dipilih. Kriteria apakah yang harus dipertimbangkan
dalam memilih mated itu? Mengapa harus demikian? Kriteria/syarat utama
yang harus dipertimban.gkan dala.m peniilihan itu adalah:
1) Mated harus sesuai dan menunjang tercapainva tujuan.
2) Mated harus sesuai dengan karakteristik perkembangan peserta di-
dik.
Mated yang diberikan harus sesuai dengan tujuan pendidikan, yang
rnengandung nilai-nilai sesuai dengan pandangan hidup bangsa. Da-
lam mated tersebut, karakteristik peserta didik pada face
perkembangan tertentu harus pula menjadi pertimbangan.
Pernilihan mated, di samping harus sesuai dengan tujuan, dituntut pula
agar sesuai dengan peserta didik yang mempelajarinya. Materi yang

88 ■
BAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

akan diberikan harus dapat disesuaikan dengan kemarnpuan peserta didik,


menarik perhatian, minat, umur, bakat, jenis kelamin, latar beiakang, dan
pengalarnan. Selain itu materi tersebut juga perlu diorganisasikan
menurut urutannya dengan memperhatikan keseimbangan dari yang se-
derhana kepada yang kompleks, dark yang konkret rnenuju yang abstrak,
sehingga dapat menuntun para pelajar secara runtunisistematis, sehingga
mertudahkan untuk mempelajarinya tnelahirkan kurikulum.
Berdasarkan hal di atas, guru harus mernilih mated yang perk' dibe-
rikan, dan bahan mans yang tidak perlu, Untuk itu guru harus memper-
timbangkan hal-hal berikut finis
a, Materi harus sesuai dan rnenunjang tercapainya tujuan, Hanya
materi yang sesuai dan menunjang tujuan yang perlu diberikan.
b. Urgensi bahan, yaitu materi itu penting untuk diketahui oieh peserta
didik, Di sarnping itu, sifat bahan tersebut rnerupakan landasan untuk
rnempelajari bahan berikutnya.
c. Nilai praktis atau kegunaannya diartikan sebagai rnakna bahan itu bagi
kehidupannya sehari-hari.
d. Kahan tersebut merupakan bahan wajib, sesuai dengan tuntutan
kurikulum.
e. Kahan yang susab diperoleh sumbernya, perlu diupayakan untuk
diberikan oleh guru. Untuk bahan yang rnudah diperoleh sebaiknya
ditugaskan untuk mempelajari, sedangkan guru hanya membicarakan
pokok-pokoknya raja,

5. Metode, Media, dan Alat Pend idikan


Erat kaitannya dengan materi pelajaran adalah metode pendidikan.
Kenyataan menunjukkan bahwa peristiwa pendidikan ditandai dengan
adanya interaksi edukatjf. Agar interaksi ini dapat berlangsung secara
edukatif dan efisien, untuk mencapai tujuan perlu dipilih: (a) metode; (b)
media; dan (c) alai pendidikan yang wpm.
a. Metode adalah cara yang berfurigsi sebagai alas untuk mencapai tujuan.,
Dalam menetapkan apakah suatu metode dapat digunakan atau kurang
tepat, ditentukan oleh beberapa Faktor:
1) Tujuan yang ingin dicapai; kalau tujuan yang ingin dicapai ada1ah
supaya murid dapat melakukan sesuatu, mungkin metode yang
lebih tepat adalah menggunakan metode demonstrasi, simulasi,
atau berrnain peran.
2) Faktor murid (peserta didik) ikut tnenentukan efektif tidaknya
suatu metode. Pada kelas tertentu tepat digunakan metode diskusi,
karena semua rnuridnya aktif. Pada kelas yang kebanyakan

 89
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

muridnya pasif, metode tersebut kurang berhasiL


3) Faktor guru juga ku t menentukan efektif tid.a.knya su atu
rneto de. Ada metode yang berbasil pada seorang guru, namun
kurang berbasil digunakan oleh guru lain.
Namun demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa setiap me-
tode mempunyai kebaikan dan keiemahannya serta kekurangan
masihg-masihg, Ini akan lebih lugs dibicarAan dalarn buku bahan
ajar Strategi Pengajaran,
b. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalur-
kan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian peserta
didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
c. Alat-alat. Kegiatan pendidikan berlangsung dengan menggunakan
alat-alat pendidikan, Yang dirnaksud dengan alat-alat pendidikan
ialah segala sesuatu yang secara langsung rnembantu terwujudnya
pencapaian tujuan pendidikan. Komponen alat memang sangat lugs
sekali, sehingga perhi dibatasi dalarn beberapa persoalan saja.
Kita membedakan dua pengertian tentang alat pendidikan, yaitu:
(1) alat pendidikan yang bersifat tindakan; dan (2) alai pendidikan yang
bertipa kebendaan (aiat bantu).
1) Alat pendidikan yang bersifat tinciakan, yaitu berupa upaya atau siasat
dalarn kaftan dengan kewibawaan. Alat ini berfungsi preventif
(pencegalian) mencakup telaclan, an.juran, suruhan, pengarahan, dan
pembinaan. Adapun yang be-rfungsi represif (reaksi setelah ada
perbuatan) mencakup syarat, pujian, hadiahfganjaran, teguran, dan
huku man_
Penggunaan alat-alat pendidikan yang bersifat tindakan ini haruslah
bijaksana dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi, serta selalu
didasari o]eh rasa kasih sayang dan tanggung jawab, Pada prinsipnya
alat-alat preventif lebih baik daripada alat-alat pendidikan yang
represif. Perniliban alai pendidikan yang akan digunakan perlu me
rnpertirnbangkan beberapa hal, antara lain:
a) Situasi hubungan antara guru dan murid. Hubungan yang dill-
pull kewibawaan guru dan kepercayaan murid atas kewibawaan
itu, alat pendidikan yang digunakan cukup yang preventif saja
seperti teladan, anjuran, dan suruhan.
b) Perbedaan sifat dan tahiat murid iuga barns diperhatikan. Ada
murid yang niempunyai perasaan halus darn ada yang kurang
perasaannva dalain menerima tindakan pendidik. Kesalahan

90 ■
BAB 5 a- Pendidikan sebagai Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

yang sama yang diperbuat oleh murid yang berbeda tidak


dapat digunakan alat pendidikan yang sama,
c) Pada anak yang normal sebaiknya digunakan tindakan yang
preventif.
d) Penggunaan kecarnan, ancarnan, clan hukuman haruslah hati-
had dan bijaksana, sebab penggunaan tindakan ini sering Mali
mengakibatkan hubungan edukatif menjadi rusak dan meru-
gikan perkernbangan kepribadian murid. Kalau terpaksa dibe-
rikan pertimbangan syarat-syarat sebagai berikut: dilakukan
dengan kasih sayang dan tanggung jawab, bukan karena den-
darn, bertujuari untuk perbaikan tingkah laku, hukuman yang
diberikan harus bersifat edukatif sehingga menimbulkan rasa
penyesalan pada murid. Hukuman harus diakhiri dengan pem
berian rnaaf setelah murid menunjukkan penyesalannya.
2) Alat pendidikan yang berupa kebendaan sebagai alat bantu yang la-
zim disebut sebagai sarana pengajaran seperti alat pengajaran. Peng-
gunaan alat pendidikan sebagai alat bantu harus mempertimbangkan
berbagai faktor seperti berikut:
a) Tujuan apakah yang ingin dicapal?
b) Alat-alat apakah yang tersedia?
c) Pendidik mana yang akan menggunakannya?
Bagaimana karakteristik peserta didik?
e) Di mana alat tersebut digun a ken?
Penggunaan slat bantuisarana pendidikan dalam kegia.tan belajar
mengajar banyak membantu murid maupun guru, terutama pada tingkat
pendidikan usia murid-murid SD yang berada pada Ease berpikir konkret.
Adapun alat bantulsarana pendidikan mempunyai beberapa fungsi,
yaitu:
(1) Merekam: untuk memberikan kemungkinan memproduksi peristi-
wa-peristiwa yang terjadi saat ini dan di masa yang akan datang.
(2) tylanipulatif: untuk rnemungkinkan pengarnatan terhadap
peristiwaperistiwa yang sec a ra wajar tidak dapat diamati.
(3) Stimulatif: untuk menyusun suatu lingkungan belajar yang estetik
atau unik dalam rangka meningkatkan motivasi murid,
(4) Mengin.gatkan kembali: untuk mengingatkan kembali murid pada
hal-hal lain yang telah dipelajari, sebelum is mulai dengan
pelajaran baru.
(5) Mernperagakam untuk memungkinkan murid menerinia
rangsangan belajar pada waktu dan tempat yang sesuai, misalnya
dengan memberikan contoh.
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

(6) Mengaktifkan respons murid: murid 'harus menjadi penghasii dan


pern.akai pengetahuan yang aktif bukan penerirna yang pasif. Untuk itu
alat bantu harus rnerangsang murid untuk melakukan berbagai kegiatan
yang diinginkan.
(7) Evaluatif untuk menginterpx -etasikan respons murid sehubungan
dengan berbagai variabel, termasuk kepribadian clan potensi bel-
ajarnya dan untuk memungkinkan murid mengevaluasi tingkah la-
kunya sen
(8) Umpan balik: untuk mendorong murid mengubah dan memperbaiki
tingkah lakunya. Umpan balik ini dapat diberikan secara tepat dan
Iuwes melalui interaksi dengan murid.
Sarana pengajaran (alat bantu) ini makin lama makin berkembang
sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Pembahasan Lebih
mendalarn lagi akan Anda temui dalam buku &than Bela:1(v Media Pen-

Berdasarkan pembahasan rli atas, alai pendidikan ilu sangar banyak


jenisnya, baik alat pendidikan yang berupa tindakan rnaupun alat pen-
didikan yang berupa benda (alat bantu pengajaran). De-ngan demikian,
dapat kita simpulkan yang dimaksud dengan alat pendidikan ialah suatu
upaya atau tindakan atau perbuatan atau situasi atau benda/alat yang
dengan sengaja digunakan untuk rnencapai suatu tujuan dalam proses
pendidikan.

6. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan (environment): "meliputi semua kondisi dalam dunia ini
yang dengan cara tertentu memengaruhi tingkah laku kita, perturnbuhan,
perkernbangan, atau life process kita (Ngalis Purwanto, 1986: 77r.
Wasty Soemanto (1984: SO) mengemukakan bahwa: 'Lingkungan
mencakup segaia material dan stimuli di dalam dan di [Liar diri individu,
baik yang bersifat fisiologis, psikologis, maupun social kultura1.'
Kedua pendapat ini menggambarkan pengertian lingkungan yang
sekaligus menjelaskan jenis-jenisnya. Lingkungan adalah sepia sesuatu
yang memengaruhi individu. Sesuatu yang memengaruhi itu mungkin
berasal dari dalam diri individu (internal environment), dan mungkin
pula berasal dari luar diri individu (external environinentL individu da-
lam hal ini dapat berbentuk prang atau 1embaga, Lingkungan bagi se-
seorang sebagai individu adalah segala sesuatu yang berasal dad dalam
dirinya (fisik dan psikis) dan sesuatu yang berada di luar dirinya seper ti
gam fisika (nonmanusia) dan manusia. Individu dapat pula diartikan

92 ■
BAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pend idiken

suatu lembaga. pendidikan. Lingkungan dalam (internal) Magi sekolah se-


bagai suatu lembaga adalah segala sesuatu yang berada dalam ]campus
(kompleks) sekolah tersebut. Lingkungan luar dad sekolah sebagai suatu
lembaga adalah keluarga dan masyarakat sekitar sekolah. Midi, yang mans
lingkungan luar dan lingkungan dalarn tergantung dari lembaga rnana kits
melihatnya.
Fungsi suatu lingkungan tergantung pada *Ms lingkungan tersebut.
Sekolah sebagai suatu iernbaga pendidikan berfurtgsi antara lain sebagai: (1)
pusat pendidikan formal, (2) pusat kebudayaan: dan (3) lembaga sosial.
Fungsi-fungsi seperti ini merupakan fungsi ke dalam (internal), fungsi
eksternal antara lain ikut berpartisipasi rnernhantu, keluarga dan rnasyarakat
dalam hal penyelenggaraan pendidikan informal dan nonformal.
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan berfungsi ke dalam antara
lain rnemberikan dasar-dasar pendidikan pada artggota keluarga (teruta-
ma anak-anak). Dasar-dasar pendidikan tersebut antara lain pendidikan
agama, moral etika, dan pengetahuan dasar baik kognitif, afektif, maupun
psikornotor. Dasar fungsi ke luar antara lain ikut membantu sekolah dan
masyarakat dalam hal penyelenggaraan pendidikan nonformal.
Masyarakat sebagai lembaga pendidikan nonformal antara lain
berfungsi marnbantu sekolah dan keluarga. Warga masyarakat yang tidak
dapat kesempatan memperoleh pendidikan formal di sekolah dapat
ditampung pada lembaga pendidikan nonformal, rrtisalnya rnembantu
warga rnasyarakat rnengambil program kejar pa.ket A (setara dengan
SD). Bag! tamatan SD yang tidak dapat melanjutkan ke SLTP dapat
mengambil paket B. Selanjutnya pendidikan setara dengan SLTA dapat
diperoleh dengan mengambil program kejar paket C. Fungsi mengganti
atau melanjutkan seperti itu dapat dikembangkan dengan fungsi
melengkapi pendidikan yang diterima di sekolah. Misalnya keterarnpilan
tertemu yang diperoleh di sekolah dilengkapi pada lembaga pendidikan
nonformal seperti Pusat Pendidikan dan Latihan. Melengkapi di sini dapat
b e rupa kuantitas (jenisnya) maupun kualitas (mutunya). Latihan
keterarnpilan kornputer yang diperoleh di sekolah dapat dilengkapi sesuai
dengan kebutuhan lapangan kerja di Pusat Latihan Komputer yang ada di
lembaga nonformat.
Pengertian lingkungan pada hakikatnya m.erupakan sesuatu yang ada di
luar diri individu, walaupun ada juga yang niengatakan bahwa ada
lingkungan yang terdapat dalarn diri individu. Para ahli tnembedakan jenis
lingkungan menjadi: (a) lingkungan alam, dan (b) lingkungan sosial. a.
Lingkungan alam
yang dimaksud dengan lingkungan alam adalah segala sesttatu yang

93
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

ada di dunia ini yang berada di luar diri anak yang bukan manusia,
seperti binatang, tumbuh-turnbuhan, iklim, air, gedung, dan rurnah.
b. Lingkungan sosial
Yang termasuk lingkungan sosial adalah sem ua manusia yang berada
di luar did seseorang yang dapat mernengaruhi diti orang tersebut,
baik secara langsung inattpun tidak langsung. Con.toh program-prog-
ram pada televisi, radio, s u rat kabar, atau media cetak lainnya terma-
suk lingkungan sosial yang tidak langsung, Tetuan sekelas, ternan
sejawat, atau orang sekitar tempat tin ggal merupakan lingkungan
sosial yang bersifat langsung.
Segala sesuatu yang ada di lingkungan„ baik lingkungan slam mau-
pun lingkungan sosial seperti museum, perpustakaan, dan basil buini
daerah setempat serta orang sumber dapat dimanfaatkan daiarn kurikuLum
muatan lokal,
Menurut tempat pelaksanaan pendidikan, lingkungan dibedakan
atas:
a. Keluarga
Sekolah
c. ias•arakat

a. Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan
bagi anak, karena di lingkungan itulah pertama-tarna dia menerirna
pendidikan yang diberikan oleh orangtua, merupakan dasar utama bagi
pembentukan kepribadian selanjutnya. Ole} sebab itup orangtua dalam
melaksanakan pendidikan hendaklah memperhatikan hakikat perkern-
bangan anak,
Keluarga adalah merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari
sejurrilah kecii orang yang mernpunyai hubungan pertalian ciarah Keluarga
ini dapat berbentuk nukleus famili ataupun keluarga yang diperluas,
yaitu terdiri dari ayah, ibu, anak, pamani tante, kakekinenek, adiklipar,
pernbantu dan dan bentuk yang seperti ini sangat banyak
ditemui dalarn struktur masyarakat Indonesia, Meskipun ibu merupakan
anggota keluarga yang mula-mina paling berpengartth terhadap tumbuh
kernhangnya anak, namun pada akhirnya seluruh anggota keluarga ikut
berinteraksi dengan anak, di sampirrg faktor iklim social, faktor-faktor lain
seperti kebudayaan, tingkat kemakmuran, keadaan perumahannya dan
sebagainya, lkut Pula memengaruhi turnbuh kembangnya anak_ Dengan
kata lain, turn buh kembangnya anak dip e ngaruhi oleh keseluruhan situasi

94 ■
EAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Si stern dan Koraponen Pendidiken

dan kondfsi keluarganya.


Keluarga dikenal sebagai lingkungau pendidikan yang pertama dun
utama. Predikat ini mengindikasikan betapa esensialnya peran dan pe-
ngaruh keluarga dalam pembentukan perilaku dan kepribadian anak.
Pandangan seperti irli sangat logis dan mudah dipaharni karena
beberapa alasan berikut
a. Keluarga merupakan pihak yang paling alAtai memberikan banyak
perlakuan kepada anak,
b. Sebagian hesar waktu anak berada di lingkungan keluarga.
c. Karakteristik hubungan orangtua-anak berbeda dari hubungan
anak dengan pihak-pihak lainnya (guru, teman, dan sebagainya).
d. Interaksi kehidupan orang tua-anak di rumah bersifat ga.sli'',
seadanya dan tidak dibuat-buat.
Dad berbagai alasan yang dikernukakan itu menyeb bka.n fungsi dan
peranan keluarga menjadi penting dalarn pencapaian tujuan pendidikan,
yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Lingkungan keluarga
sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang penting dan me-
nentukan. Keluarga memberikan pengaruh yang kuat, langsung dan sa-
ngat dominan kepada anak, terutarn a cialam pernbentukan perilaku,
sikap dan kebiasaan, penananian nilai-nilai, perilaku-perilaku dan
sejenisnya, pengetahuan dan sebagainva. Sehubungan dengan hal ini,
Fuad Ichsan (1995) mengemukakan fungsi lernbaga pendidikan keluarga
sebagai berikuta
1) Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalam-
an ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan
berikutnya, khususnya dalam perkembangan pribadinya. Keluarga
sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan rnemberi
warts pada perkembangan berikutnya.
2) Pend idi ka n di lingkunga.n keluarga dapat menjamin kehidupan
emosional anak urttuk tumbuh dari berkembang. Kehidupan
emosional ini sangat penting dalarn pembentukan pribadi anak.
Hubungan emosional yang kurang dan berlebihan akan banyak
merugikan perkembangan anak.
3) Di dalarn keluarga Akan terbentuk pendidikan moral, keteladanan
orangtua di dalam bertutur kata dan berperilaku sehari-hari akan
menjadi wahana pendidikan moral bagi anak dalam keluarga
terse-but guna rnernbentuk manusia susila.
4) Di dalarn keluarga akan tumbuh sikap tolong-menolong, tenggang
rasa, sehingga tumbuitiah kehidupan keluarga yang damai dan se-

95
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

jahtera, Setiap anggota keluarga memiliki sikap sosial yang mulia,


dengan cara yang demikian keluarga akan menjadi wahana rem-
bentukan manusia sebagai makhluk sosial.
5) Keluarga merupakan lembaga yang memang berperan dalam mele-
takkan dasar-dasar pendidikan agarna. Kebiasaarl orangtua mern-
bawa anaknya ke masjid merupakan langkah yang bijaksana dari ke-
luarga dalarn upava pembentuk anak sebagai makhluk religius.
6) Di dalam konteks membangun anak sebagai makhluk Individu agar
anak dapat mengembangkan dan menolong dirinya sendiri, maka
keluarga lebih cenderung untuk menciptakan kondisi yang dapat
rnenumbunkernbangkan inisiatif, kreativitas, kehendak, ernosf, tang-
gung jawab, keterampilan, dan kegiatan lain. Adapun dalam pe-
ngerabangan, konsep, prinsip, generalisasi, dan intelek, sebagai ke
luarga karena keterbatasannya hanya berfungsi sebagai pendorong data
pemberi semangat.
Mengingat urgennya fungsi dan peran pendidikan keluarga tersebut,
perlu dipikirkan bagaimana niencari cara, membantu para ibu dalam tiap
keluarga agar dapat mendidik anak-anaknya secara optimal, Sehubungan
dengan hal ini, Seifert & Hoffnung (1991) menjelaskan enam kemungkinan
cara yang liarus dilakukan orangtua dalarn memertgaruhi anak, yakni:
1) Pemodelan perilaku (modelling of behaviors), baik disengaja man-
pun tidak, orangtua dengan sendirinya aLan menjadi model bagi
anak-anaknya, Cara orangtua berp rile ku menjadi sumber objek imi-
tasi bagi anak. Tidak hanya yang baik-baik raja yang diterima oleh
anal, tetapi sifat-sifat yang jeleknya pun akan dilihat pula. oleh se
bab itu, dalam pemodelan perilaku ini pihak orangtua harus bersifat
ekstra hati-hati terhadap hal yang positif mattpun negatif.
2) tvlernberikan ganjaran dan hukuman (giving rewards and punishments),
yaitu orangtua mernengaruhi anaknya dengan cara memberi ganjaran
terhadap perilaku-perilakunya yang positif dan memberi hukuman
terhadap perilakunya yang tidak diinginkan.
3) Perintah langsung (direct instruction), memberi perintah secara se-
clerhana seperti: "jangan malas belajar," gcepat mandi, nanti seko-
lahnya kesiangan," dan sebagainya. Dar' perintah-perintah seperti ini
anal sering rnengambil pelajaran tertentu seliingga bisa. I eb ih me-
mahami harapan-harapan dan keinginan orangtua,
4) tvlenyatakan peraturan-peraturan (slating rulers). Yaitu membuaI
peratu.ran-peraturan umum yang berlaku di rumah walaupun secara
tidak tertulis. Dengan cara-cara seperti ini, anak didorong untuk

96 ■
BAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

melihat perilakunya apakah sudah benar atau belurn melalui per-


bandingan dengan peraturan-peraturan tersebuC
5) Naiar (reasoning), cars yang digunakan orangtua untuk memengaruhi
anaknya, dengan rnempertanyakan kapasitas anak untuk ber-
nalar contob orangtua bisa niengingatkan anaknya tentang
kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pertanyaan
berikut: "Apakah memukul teman itu merupakan pekerjaan yang baik?"
dan sebagainya.
6) Menyediakan fasilitas atau bahan dan dengan suasana yang menun-
jang. Orangtua dapat memengaruhi perilaku anak dengan mengon-
trol fasilitas atau bahan-bahan dan dengan suasana, Misalnya, un-
tuk menciptakan suasana yang menumbuhkan minat belajar anak,
orangtua membelikan buku-buku yang diminati anak laripada mem
b elikan pistol- pistolan dan sebagainya.
Di samping itu, hal-hal lain yang perlu diperhatikan orangtua aclalah
rnenjaga kuabtas hubungan orangtua-anak, gaga pengasuhan orangtua dan
pengaruhnya terhadap perkernbangan anak, dan persoalan-persoalan
keluarga yang akan berpengaruh terhadap anak seperti orangtua yang
bekerja (karier), rumah tangga broken home dan sebagainya harus menjadi
titik perhatian dalam pendidikan anak. Dengan demikian., keluarga
sebagai lingkungan pendidikan ikut memberikan andil yang sangat benar
dalam pencapaian pendidikan nasional.

b. Lingkungan Sekolah
Sekolah disebut lingkungan pendidikan yang kedua, yang bertanggung
jawab rnelaksanakan pendidikan di lembaga ini adalah guru. Peranan guru
sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikan,
tvlerupakan suatu hal yang tidak bisa dimungkiri lagi, karena kema-
juan zaman, perkernbangan ilmu pengetahuan dan teknologi, keluarga
tidak rnungkin lagi dapat metnenuhi seluruh kebutuhan dan aspirasi
generasi inuda akan pendidikan. Semakin maju suatu rnasvarakat, sema-
kin tinggi pula tuntutan pemenuhan kehutuhan anak akan pendidikan.
Konclisi masyarakat seperti ini rnendorong terjadinya proses formalisasi
lembaga pendidikan yang lazim disebut sistem persekolahan.
Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselengga-
rakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar dengan organisasi
yang tersusun rapi, terencana, berjenjang, dan berkesinambungan.
Sifatnya formal, diatur be rdasa rkan kete urn an - ketentu an pernerintah
dan mempunyai keseragarnan pola yang bersifat nasional, dalam rangka

111 97
DASAR-DASA R. Illy1.I.J PE N DIDIKAN

rneningkatkan kualitas surnber daya manusia Indonesia dalam mewujudkan


masyarakat yang maju, adil, an makmur.
Tugas sekolah sangat penting dalam menyiapkan anak untuk kehi-
dupan rnasyarakat. Sekolah bukan sernata-mata sebagai konsurnen,
melainkan is juga sebagai produsen dari pernberi jasa yang sangat erat
hubungannya dengan peinbangunan. Pembangunan tidak mungkin berhasil
dengan baik tanpa didukung oleh tersedianya manusia yang merniliki
surriber days yang berkualitas sebagai produk pendidikan. Karena itu
sekolah perlu dirancang dan dikelola dengan baik, harus diupayakan
dengan sedemikian rupa agar mencerminkan masyarakat Indonesia di
masa depan itu, sehingga peserta didik rnernperoleh peluang yang optimal
dalam menyiapkan diri untuk melaksanakan peran sebagai individu, warga
masyarakat, warga negara, dan warga dunia di masa depan. Sekolah yang
clemikianlah yang diharapkan mampu melaksanakan fungsi pendidikan
secara optimal, dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional,
maka pendidikan formal harus berfungsi:
1) Sekolah harus mampu menumbuhkerribangkan anak sebagai rriakh-
Ink indiviclu melalui pembekalan semua bidang stud!. Dalam hal int
dikembangkan logika anak sesuai dengan jenis dan jenjang masihg-
masihg, sehingga mampu berpikir nalar dalam mengembangkan
konsep, prinsip, generalisasi, intelek, inisiatif, kreativitas, tanggung
jawah, keterampilan, dan lain sebagainya. Dengan perkataan lain,
sekolah harus mampu menumbuhkernbangkan ranah kognitif, afektit
dan psikomotor, agar anak mampu menolong dirinya sendiri dan
hidup bermasyarakat.
2) Sekolah melalui teknik pengkajian bidang studi perlu mengembang-
kan sikap sosial, gotong royong, toleransi, dan demokrasi dan se-
jenisnya dalam rangka menurnbuhkembangkan anak sebagai makh-
luk sosial.
3) Sekolah harus berfungsi sebagai pembinaan watak anak melalui bidang
studi yang relevan, sehingga akhirnya akan terbentuk manusia susila
yang cakap yang mampu menampilkan dirinya sesuai dengan nilai dan
norma yang hidup dan berkemhang di masyarakat.
4) Sekolah harus dapat me numb uhkernbangkan anak sebagai makhluk
yang rehgius dan mampu menjadi pemeluk agama, yang bails, tact,
saleh, dan toleran.
5) Di dalam konteks pernbangunan nasional, pendidikan formal harus
menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas yang mampu mertyejah-
terakan dirinya dan bersama orang lain mampu menyejahterakan
masyarakat, bangsa, dan negara,

98 ■
BAB 5 ■ - Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidiken

6) Sekolah berfungsi konservatif, inovatif, dan selektif dalam rnemper-


tahankan/rnernelihara kehudayaan yang ada, rnelakukan pernbaruan,
dan meiavani perbedaan individu anak dalam proses pendidikan.
lvlengingat pentingnya fungsi dan peran sekolah sebagai salah saw
pusat pendidikan dalarn meningkatkan surnber daya manusia yang her-
kualitas, maka sangat diperlukan upaya-upaya pemikiran dan tindakan yang
mengarah pada pertinglatan pemaksimalan fungsi seluruh kompon en yang
terkait d a lam proses pendidikan itu, baik yang bersifat teknis, personal,
maupun sarana dan prasarana fisik lainnya.

C. Lingkungan Masyarakat
Lingkungan pendidikan yang ketiga adalah lingkungan masyarakat.
Proses pendidikan di lingkungan uti adalah proses pendidikan yang terjadi
di luar keluarga dan di luar persekolahan. pendidikan yang diberikan
biasanya tergantung kepada kebiasaan yang terjadi di lingkungan itu. Oleh
sebab itu, hasil pendidikannya akan dipengaruhi oleh lingkungan
rnasyarakat tersehu t.
Alam sekitar memberi pengaruh tertentu kepada pendidikan anak
dengan segala sifat dan kondisi tempat tinggalnya. Oleh karena setiap
rnasyarakat itu Iingkungannya sangat hervariasi, maka pengaruh yang di-
hasilkannya pun berbeda terhadap proses pendidikan anak, Situasi ling-
kungan mernengaruhi proses dan hasil pendidikan. Ada kernungkinan
lingkungan ini berpengaruh negatif terhadap pendidikan, maka lingkungan
itu menjadi pembatas pendidikan. Oleh karena itu, wajarlah kiranya pendidik
mengatur lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat menunjang
tercapainya tujuan pendidikan.
Masyarakat adalah salah sate lingkungan pendidikan yang besar
pengaruhnya terhadap perkernbangan pribadi seseorang. Masyarakat
mempunyai penman yang panting dalam rnencapai tujuan pendidikan
nasional, Kaftan antara masyarakat dan pendidikan dapat ditinjau dari
heberapa segi, yakni:
1) Masyarakat adalah sebagai penyeienggara pendidikan, haik yang di-
lembagakan maupun yang tidak dilembagakan.,
2) Lernbaga-lembaga kernasyarakatan daniatau kelompok sosial di
rnasyarakat, baik Iangsung rnaupun talc langsung ikut menipunyai
peran den fungsi edukatif.
3) Dalarn masyarakat tersedia berhagai sumber belajar baik yang di-
rancang maupun dirnanfaatkan. Pedu pule diingat bahwa manusia
dalam bekerja dan hidup sehari-hari akan selalu berupava memper-

111 99
DASAR-DASA R. ILlvtU PE NDIIDIK AN

oleh rnanfaat dari pengalaman hidupnya untuk meningkatkan di-


rinya. Dengan kata lain, manusia berusaha rnendidik dirinya sendiri
dengan memanfaatkan sumber-cumber belajar yang tersedia di ma-
syarakatnya, dalam bekerja, bergaul, dan sebagainya.

Dari ketiga Icaitan antara masyarakat dan pendidikan tersebut, dapat


dilihat peran yang telah disumbangkan dalam rangka tujuan pendidikan
nasional, yaitu herupa ikut membantu menyelenggarakan pendidikan,
mernbantu pengadaan tenagz, biaya, prasarana dan sarana, menyediakan
lapartgan 'ceda r dan membantu mengembangkan profesi baik langsung
maupun tidak. Feranan masyarakat tersebut dilaksanakan melalui per-
guruan swasta, dunia usaha, kelompok profesi, dan lembaga swasta nasi-
onal lainnya. Dalam sistem pendidikan nasional hal sernacam ini disebut
"Pendidikan kemasyarakatan," yaitu usaha radar yang rnemberikan ke-
mungkinan perkembangan sasial, kultural, keagarna.a.n, kepercayaan ter-
hadap Tuhan Yang Maha Esa, keterampilan, keahlian (profesi) yang dapat
dimanfaatkan oleh rakyat Indonesia untuk mengembangkan dirinya dan
membangun masyarakatnya. Terdapat sejurnlah lembaga kemasyarakatan
atau kelompok sosial yang mempunyai peran dan fungsi edukatif yang
besar, antara lain kelompok sebaya, organisasi kepernudaan tpramuka,
karang taruna, rem* masjid), organisasi keagarnaan, dan media massa.
Lembaga kelompok sosial tersebut pads umumnya memberikan kontribusi
bukan hanya dalam proses sosialisasi, tetapi juga dalam peningkatan
pengetahuan dan keterampilan anggotanya. Secara konkret peran dan
fungsi pendidikan kemasyarakatan dapat dikemukaka.n sebagai berikuv
1) tviemberikan kemarnpuan profesional untuk mengernbangka.n karier
rnelakui kursus penyegaran. penataran, I okaka rya, seminar, konferensi
ilmiah, dan sebagainya.
2) tviernberikan kernampuan teknis akademik dalam suatu sistem pen-
didikan nasional seperti sekolah terbuka, kursus tertulis, dan pendi-
dikan melalui radio dan televisi.
3) Ikut serta mengembangkan kemampuan kehidupan beragama me-IAA
pesantren, pengajian, pendidikan agam a di suraunanggar, biarar
sekolah minggu, dan sebagainya.
4) tviengembangkan kemampuan kehidupan sosial budaya melalui bengkel
seni, teeter, olahraga, seni beta diri lembaga pendidikan spiritual, dan
sebagainya.
5) Mengembangkan keahlian dan keterampilan melalui sistem magang
untuk menjadi ahli bangunan, montir, dan sebagainya.

100
BAB 5 a- Pendidikan sehapi Suatu Sistem dan Koraponen Pendidikan

Agar peran lembaga sosiallpendidikan kernasyarakatan int bisa


man-tap, pertumbuhan dan perkerobangannya perk' dikoordinasikan oleh
pemerintah. Karena pendidikan kemasyarakatan merupakan wahana yang
sangat besar artinya bagi perkembangan individu dan masyarakat yang
sedang rnemba n gun. Pendidikan kemasyarakatan dirasakan sebagai
gerakan yang memperIuas dan meinpercepat usaha rnencerdaskan Ice-
hidupan yang akan mengangkat harkat manusia pada angkat yang wajar
dan maksirnal.

d. Pengaruh Timbal Balik antara Ketiga Lingkungan


Pendidikan Terhadap Perkembangan Peserta Didik
Turnbuh kernbang anak pada urnornnya dipengaruhi oleh
hcrhagai faktor, yakni hereditas, lingkungan, proses perkembangan o clan
anugerah. Khusus untuk faktor lingkungan, peranan tripusat pendidikan
itulah yang menentukan haik secara sendiri-sendiri maupun bersama-
sarna. Terutama melak.ukan kegiatan pendidikan dalarn bentuk
mernbimbing, mengajar, dan melatih dalarn suasana dan proses
pembelajaran. Peranan ketiga tripusat pendidikan itu hervariasi,
rneskipun ketiganya melakukan tiga kegiatan pokok pendidikan tersebut.
Kaftan antara tripusat pendidikan dengan tiga kegiatan pendidikan untuk
mewujudkan jati did yang mantap, pcnguasaan pengetahuan dan
pernabiran keterampilan dattkiskan pada bagan berikut:

Peladhan

Pengajaran

Bimbingan
5ekolah Masyarakat
Pribadi jati cirri
Pengetahuan

Keterampilan

Keluarga

Ragan tersebut melukiskan bahwa setiap pusat pendidikan dapat


herpeluang memberi kontribusi yang besar dalam ketiga kegiatan pendidikan,
yakni:

101
DASAR-DASA R. ILlvtil PE NDIIDIK AN

I. Pembimbingan dalarn upaya pemantapan pribadi yang berhudaya.


2. Pengajaran dalam upaya periguasaan pengetahuan,
3. Pelatihan dalam upaya pemahiran keterampilan.

Setiap pusat pendidikan perlu ditin.gkatkan kontrihtisinya terhadap


perkembangan peserta didik, keserasian antara kontribusi itu, serta kerja
sama yang erat dan harmonic antartripusat tersebut. Berbagai upaya
dilakukan agar program-program pendidikan dari senap pusat pendidikan
sating mendukung dan rnemperkuat antara saw dan yang lainnya. Di
lingkungan keluarga telah diupayakan berbagai hal seperti perbaikan gizi,
perrnainan edukatii, dan penyuluhan orangtua, yang da.pm menjadi
landasan pengembangan seianjutnya di sekolah clan masyarakat. Di
lingkungan sekolah diupayakan berbagai hal yang lebih mendekatkan
sekolah dengan orangtua siswa.seperti adanya organisasi orangtua siswa,
kunjungan rumah oleh personal sekolah, dan sebagainya. Selanjutnya juga
sekolah mengupayakan agar program yang erat kaitannya dengan
masyarakat sekitarnya (sisvva ke masyarakat, narasumber dari
masyarakat, sekolah, dan sebagainya). Akhirnya lingkungart masyarakat
mengusahakan berbagai kegiatan atau program yang
menunjangimelengkapi program keluarga dan sekolah. Dengan kontribusi
tripusat pendidikan yang saling memperkuat dan rnelengkapi itu akan
memberi peluang mevatjudkan somber manusia terdidik yang hennutu.
Kerja sarna seperti ini dituangkan dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003 yang
herbunyi "Kornite sekolahimadrasah sebagai ]embaga mandiri, diberituk
dan berperan dalam peningkatan mum pelayanan dengan memberikan
pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana, serta
pengawasan pendidikan pada tingkar satuan pendidikan,

Rangkuman

Sistern adalah suatu totalitas yang terpadu dad semua elemeniunsur dan ke-
giatan yang satu dengan kegiatan lainnya saling berkaitan secara fungsional
untuk mencapai tujuan. Pendidikan sehagal suatu sistem herarti bahwa pendi-
dikan itu terdiri dad eiemen-eiemen atau unsur-unsur pendidikan yang dalam
kegiatannya soling terkait secara fu ngsion al, se hingga merupakan satu
kesatuan yang terpadu dan dengan keterpaduan itu diharapkan tujuan
pendidikan dapat dicapai.
Dalam proses atau kegiatan pendidikan mengutamakan pendekatan sistem
tersebut terdapat komponen pendidikan yang sating berinteraksi sesamanya
untuk mencapai tujuan yang diharapkan, sesuai dengan fungsi masihg-masihg.

1 0 2 ■
BAB 5 s- Pendidikan sebagai Suatu Sistem dan Koraponen Pend idiken

Komponen yang dimaksud adalah tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik,


mated, metode, media dan alat, dan dalam prosesnya berlangsung dalam
situasi lingkungan, Proses interaksi yang manusiawi akan menghasilkan
manusia yang mandirr dan berkualitas.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang dapat memengaruhi individu, baik yang
berasal dari dalam diri individu (internal environment) maupun yang berasal
dari luar diri individu (external environment).

Fungsi suatu lingkungan tergantung pada jenis lingkungannya, KeIuarga sebagai


lingkungan pendidikan berfungsi (ke dalam) antara lain memberikan pendidikan
yang mend asar Oondasi) dan rnasih bersifat umum kepada anak-anaknya. Fungsi
ke luar membantu sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan for
malinonf or ma I. Masyarakat sebagai lembaga pendidikan nonformal antara lain
berfungsi mernbantu sekolah dan keluarga. Dengan demikian, dapat kita
simpulkan untuk kesenipurnaan pendidikan ketiga lingkungan pendidikan tersebut
(keivarga. sekolah, dan rnasyarakat) harus sang berkerja samar Untuk
mewujudkannya lebih banyak menuntut pecan aktif sekolah (khususnya guru), ini
perlu disadari oleh semua talon guru.
Sistem pendidikan di Indonesia dirurnuskan dalam UUSPN Bab I Pasal 1 ayat 3
yang berbunyi bahwa, "Sistem Pendidikan Nasional adalah satu kesatuan yang
terpadu dari kesemua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu de-
ngan Iainnya, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional."

Togas

1, Jelaskanlah a lasannya mengapa 'pendidikan dipandang suatu sistern"!


2. Kernukakanlah ciri-ciri unsur sistern terbuka dari pendidikan sebagaisistem
social!

3. Dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan menggunakan pcndekatan sEs-


tern, antara komponen pendidikan saling berkaitan satu sam a lain.
Jelaskan bagaimana interaktif antara komponen tersebut!

Daftar Pustaka
AG Soejono, 1969, Altran Baru dalam Pendidikan. Bandung:. CV Timm
Agustiar Syah Nur. 2002.. Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara,
Bandung: Lubuk Agung.
Al-Jarnaly & Muhammad Fadhil, 1986, Filsafat Pendiclikan dalam Al-Qur'an.
Surabaya. PT Bina Ihnu.,

103
DASA R-DASA R. ILIvIti PE N DIDIKAN

Deliar Neer & Iskandar Alisyahbana (Ed.). 1998. Penthahan, Pernbaharndan


Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21, Jakarta. Dian Rakyat. Depdiknas.
(2005). PP No, 19 Talmo] 2005 rentang Standar Nasional Pendidikan,jakn
rta- Depdiknas.
H.A.R. Tilaar. 2007, Mengembangkan fir zu PendiclIkan Benliinensi
Jakarta: Lembaga Manajemen UNJ.
Made Pidaria. 2007. Landasan Kependidikan Stimulus Pendidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta,
NI, Dimyati. 19811 Landasan Kependidikan Suatu Pengantar Pemikiran
Keilrnuan tentang Kegiatan Pendidikan, Jakarta: P2LP1K. Depdikbud.
Shanon, A, G, 1973, Aril Pendidikan bagi Maza Depan (Terjemahan
Ansyar). Jakarta: Pustekom Depdikbud.
Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengan rat Pe ndidikan. Padang: Sukabina,
T. Naisbit Ahurdane, 1990. Mega Trends 2000. Jakarta; Binarupa
Aksara.
Undang-Undang El Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: Balai Pustaka Cipta Karp,
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru clan Dosen. Ja-
karta: Depdiknas.

104 ■
6
Penyelenggaraan Sistem
Pendidikan Nasional

PENDAHULUAN

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tabun 1945


rnengamanatkan pemerintah mengesahkan dan menyelenggarakan
satu sistem pendidikan nasional yang rneningkatkan keimanan clan
ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam
rangka rnencerdaskan kenidupan bangsa yang diatur dengan Undang-
Undang. Untuk mewujudkan arnanat tersebut, pernerintah
sebelumnya telah rnenyusun Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 ten-
tang Sistem Pendidikan Nasional IUUSPN),
Narnun untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan per-
ubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pem-
baruan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambung-
an. UUSPN 1989 yang ditetapkan sebelumnya dirasakan tidak
mernadar lagi dan perlu diganti serta disernpurnakan agar sesuai
dengan amanat perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945. Untuk itu dibentuldah Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional yang bare disempurnakan, yaitu Un-
dang-Undang Republik Indonesia No, 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan NasionaL
Apakah yang dimaksud dengan Sistem Pendidikan Nasional? Bagai-
rnanakah penyelenggaraannya di Indonesia? Untuk menjavvab per-
tanyaan-pertanyaan tersebut, bab ini akan membahas tentang Sistern
Pendidikan Nasional dan penyeienggaraan Sistem Pendidikan Nasional.
Pernaharnan tentang Sistem Pendidikan Nasional sangat berguna bagi
Anda, baik sebagai calon tenaga kependidikan maupun sebagai
anggota masyarakat, yaitu sebagai pedornan dalam melak-
DASAR-DASA R. ILt.IU PENDIDIKAN

sanakan tugas di lapangan nantinya.


Tujuan pembelajaran yang akan dicapai setelah mempelajari bab
ini, dengan sungguh-sungguh Anda diharapkan d apt
1. tylrijelaskan fungsi rnasing-masihg lembaga, _lake, _Fenian&
dan jenis pendidikan.
2. Menjelaskan hak dan kewajiban masihg-masihg elemen/unsur
yang berinteraksi dalam proses pendidikan dan rnernbandingk
annya dengan kenyataan,
3. Menjelaskan standar pendidikan nasional,

A. JALUR, JENJANG, DAN JENIS PENDIDIKAN


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
rnengernhangkan potensi dirinya untuk rnemiiiki kekuatan spiritual ke-
agamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak rnulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, tnasyarakat, bangsa, dan negara.
Apabila sistem pendidikan nasional merupakan sistem usaha yang
sadar, lalu siapakah yang melakukan usaha radar tersebut? Menurut Pa-sal
31 ayat (2); pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem
pendidikan nasional yang diatur dengan undang-undang, dalam hal ini
UUSPN seperti sudah dikemukakan sebelumnya. Dengan demikian, jelas
bahwa secara tersurat dan Baku dinyatakan bahwa pemerintah
herkevtrajihan melakukan usaha sadar tersehut.
Prinsip penyelenggaraan pendidikan diterangkan dalam UUSPN pada
Bab III Pasal 4 sebagai berikut:
1) Pendidikan diselenggarakan secara dernokratis dan 1-kerkeadiian serta
tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai
keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sisternatik
dengan sistem terbuka dan multimakna..
3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pernberdayaan peserta didik yang berlan &sung sepanjang hayat.
4) Pendidikan diselenggarakan dengan mernberi keteladanan, membangun
keniauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
Si Pendidikan diselenggarakan dengan rnengemb angkan budaya membaca,
menulis, dan berhitung bagi segenap warp masyarakat.

106
gAS PenyelenggarzanSistern Pndidikan Nasional

6) pendidikan diselenggarakan dengan mernberdayakan semua kom-


ponen rnasyarakat melalui perari serta dalam penyelenggaraan dan
pengendalian mutulayanan pendidikan.
Pembahasan selanjutnya, khusus tentang penyelenggaraan pendi-
dikan yang berada di bawah tanggungjawab Menteri l'endidikan
Nasional yang acuannya diambil dari Undang-lJndang No. 20 Tabun
2003 tentang "Sistern Pendidikan Nasional".

1. Jalur Pendidikan
Jalur pendidikan terdiri dari jalur pendidikan formal, nonformal,
dan informal yang d ap a t salirtg rnelengkapi dan memperkaya.
Jalur pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang diselengga-
rakan rnelalrai satuan pendidikan dan memiliki jenjang yang terdiri
dari pendidikan dasar, pendidikan rnenengah, dan pendidikan tinggi.
Satuan pendidikan menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar
yang dilaksanakan di sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang
herjenjang dari berkesinarnbungan. Adapun satuan pendidikan luar
sekolah rneliputi kelornpok-kelompok belajar, khusus dan satuan
pendidikan sejenisnya.
Sebagai penyelenggaraan dari satuan pendidikan tersebut, dilaksa-
nakan rnelaltti dua jalur, vaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendi-
dikan luar sekolah. Pendidikan dalam keluarga merupakan bagian dari
jalur pendidikan luar sekolah. Secara lebih jelas berikutnya digarnbarkan
perbandingan antara kedua jalur tersebut,

TABEL
Perbaiidingan antara Jalur Pendidikan
Seko/ah dengan Jalur
PendidiUn Luar Sekolaii

No. Aspek yang Jalur Pendidikan


Dibandingkan
1 Sekolah Liar Sekolah

1 . Tempt_ Penyelengga- Sekolah Luar Sekolah (dalarn


raan keluarga don rrosyarakat)

2 . WA Formal Informal (dalam ketuarga)


Nonformal dalarri masya-
raka0

3 . Pol a Seragam seca ra nasional Sangat


beragam(heterogen) sesuai
tuluan

107
DASAR-DASA R. !LIM PE NDIIDIK AN

Lanjutan

4 . Jenjang Pend idikan Berjenjang clan Tidak berjenjang clan tidak


berkesina mbungan berkesi n am lau ngan

5 . 1‹..ernampuan yang lvlenyeluruh pengeta- Dalarn keluarga; clan keteram


0 i kernbangka n huan, sikap pi Ian norrna serta keterani
(overall) rrierrlberikan keyakinan plla n dalam fnasyarakat
agarna, nilal budaya kergantung tujuan
dan pengeta Flu- an si
kap dan keterarnpi Ian

6 . Penghafgaan ak hir Ijazah Nonformal 4 sertin kat

2. Kelembagaan Jenjang dan Program Pendidikan


Pada dasarnya jalur pendidikan sekolah dilaksanakan dalarn lembaga
pendidikan dengan rnengikuti perjenjangan tertentu. Pelembagaan dan
perjenjangan dengan mempertimbangkan perkembangan anak didik,
faktor-faktor social, kultural, ekonomi, dan kebutuhan ketenagakerjaan
serta keluasan dan kedalaman bahan pengajaran dan cara penyajiannya.
Pembakuan lembaga-lembaga pendidikan di sekolah dan di luar se-
kolah biasanya diusaliakan, sedangkan untuk usaha pendidikan di dalam
keluarga, pembakuan itu sangat sulit dilakukan, Kesulitan itu terutarna
sekali berkaitan dengan ruang lingkup dan Batas-batas usaha pendidikan
dalam keluarga. Lebih lanjut Magian ini membahas secara singkat lemba-
ga dan jenjang pendidikan di sekolah dan luar sekolah.

a. Pendidikan Umum dan Kejuruan


Lemhaga pendidikan umum dan kejuruan terdiri Mari pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan. tinggi, Pendidikan umum
merupakan program pendidikan yang ifiengutainakan perluasan penge-
tahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pcngkhu-
susan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan
yang rnempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang
tertentu. Yang termasuk pendidikan um= yaitu: 5ekulah dasar, sekolah
menengah, dan universitas. Yang termasuk sekolah kejuruan antara lain
sekolah menengah kejuruan (SMEA, STM, SKKA, SMIICj. Baik
pendidikan umum maupun kejuruan jalur pendidikan sekoiah dilaksanakan
melalui perjenjangan yang penyelenggaraan untuk setiap jenjang
ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

108
gAS Penyelenggarzan Sistern Pk-kelidikan Nasional

1) Pendidikan Dasar
Sebagai persiapan untuk mernasuki pendidikan dasar, diseleng-
garakan kelompok belajar yang disebut pendidikan prasekolah (PPRI
No. 27/1990). Pendidikan dasar diselenggarakan untuk mengembangkan
sikap dan kernampuan sena rnemberikan pengetahuan dan keterampilan
dasar yang diperlukan untuk hidup dalam rnasyarakat dan mempersiap -
kan peserta didik yang meinenuhi persyaratan untuk mengikuti pendi -
dikan rnenengah. Oleb karena itu, bagi seluruh warga negara perlu dise -
diakan kesempatan untuk memperoleh pendidikan dasar, dan tiap-tiap
warga negara diwajihkan menempuh pendidikan yang sekurang-kurang-
nya dapat membekali dirinya dengan pengetahuan, sikap, dan keteram -
pilan dasar
Berkenaan dengan penvelenggaraan pendidikan dasar ini, adanya
wajib belajar bagi anak usia 7-12 tahun yang pernah dicanangkan oleh
Presider' RI pada 2 Mei 1984. Tentang wajib belajar tersebut, kemudian
dinyatakan dalam UUSPN ayat (1), yang berbunyi: "Warga negara yang
berurnur 6 (enam) tahun berhak mengikuti pendidikan dasar" dan ayat (Z):
"Warga negara yang berumur 7 (tujuh) tahun, berkewajiban mengikuti
pendidikan dasar dan pendidikan yang setara sampai tamat."
Dalam pengertian setara ini terrnasuk juga Pendidikan Luar Biasa
(PLB), dan pendidikan yang bersifat keagarnaan. Peraturan Perne rintah
No, 2t3 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar mengatur tentang pelak-
sanaannya.

2 )
Pendidikan Menenga h
Pendidikan menengah berfungsi untuk mem p e rstapkan peserta
didik untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta
rnenyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kernampuan mengadakan hubungan timbal Malik dengan lingkungan
suial, budaya, dan alam sekitar sena dapat rnengembangkan kernampuan
lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan
Pendidikan menengah unturn berfungsi rnenyiapkan peserta didik
untuk melanjutk.an pendidikannya pada tingkat pendidikan yang lebih
tinggi. Pendidikan trienengah kejuruan berfungsi mempersiapkan peser -
ta didik untuk lapangan kerja, sesuai dengan tujuan pendidikan kejuruan
yang dlikuti atau untuk rnengikuti pendidikan keahlian pada tingkat
pendidikan

109
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3) Pendidikan Tinggi
Pendiclika.n tinggi diselen.ggatakan untuk tujuan yang sifatnya maje-
muk. Di satu pihak pendidikan tinggi harus rneneruskan, mengembangkan,
dan melestarikan peradaban, ilmu teknologi, dan seni, di pihak lain
pendidikan tinggi harus pula ikut pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
seperti yang ditetapkan dalam UUSPN.
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota
rnasyarakat yang memiliki kemampuan akademik daniatau profesional
yang dapat rnenerapkan, mengembangka.n, daniatau menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi, danlatau kesenian. Misi "TriDharma" pendidik-
an tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepacla
masyarakat adalah dalam rangka mencapai tujuan yang telah digariskan
tersebut.
Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan disebut per-
guruan tinggi, yang dapat berbentukakademik, politeknik, sekolah
institut, dan universitas, Utituk jelasnya fungsi rnasing-masihg bentuk
perguruan tinggi tersebut digarnbarkan dalam Tab el 6,1 berikut

TABEL 6.1 Hubungan Bentuk dan Fungsi Perguru an Tinge

No Bentuk PT Fungi Setiap Bentuk

1. Menyelenggarakan pendidikan tera pan dalam satu cabang


Akadernik atau sebneian cabang IPTEK atau kesenian tertentu_

Menyelenggarakan pendidikan tera pan dalam sejumlah


Politeknik Pidangpengetahuan khusus.

Sekolah Tinggi Menyelenggarakan pendidikan akademik daniatau


proftsionai dalam satu disiplin ilmu tertentu.

4_ Institut Terdiri atas 5ejurnFali fakultas yang menyelengganakan


pendidikan akademik daniatau profesional data rn se-
kelompok

Universitas Terdiri atas sejurn[ah fakultas yang menyelen.ggarakan


pendidikan akademik dan/atau profesional claim sejurn•
landfslplin ilmu tertentu.

Bagaimana syarat-syarat dan tats cars pendirian perguruan tinggi serta


penyeleuggaraan pendidikan tinggi ditetapkan dengan Peraturan Pernerintah RI
No. 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan
Pengelolaan Pendidikan Tinggi.

110 ■
gAS Penyelenggarzan sistem Pendidikan Nasional

Pendidikan KhUSUS
Di samping program pendidikan umurn dan pendidikan kejuruan
yang telah dikemukakan tersebut, rnasih ada jenis program pendidikan
yang lain, yaitu: Pendidikan Luar Biasa, Pendidikan Kedinasan. dan
Pendidikan Keagamaan.
Pendidikan khusus berfungsi secara khusus nienyiapkari pendidikan
yang sesuai dengan tujuan masihg-masihg program tersebut.
a) Pendidikan Luar Biala
Program ini diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang
kelainan fisik daniatau mental seperti: sekolah dasar luar biasa
(SDLB.) dan pendidikan luar biasa (PLB) untuk jenjang pendidikan
nienengah dengan rnasing-masihg rnemiliki program anak tunane-
tra, tunarungu, tunadaksa, dan tunagrahita. Gurunya merupakan
lulusan Bari pendidikan guru luar biasa dari pendidikan/perguruan
tinggi,
b) Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan ini diselenggarakan untuk meningkatkan ke-
marnpuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai atau
calon pegawai suatu Departernen Pemerintah atau Lembaga Perne-
rintah nondeparternen, Pendidikan khusus kedinasan dilaksanakan
di sekolah kedinasan atau pusat-pusat latihan (Pusdiklat) dan lem-
baga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah matt-
pun oleh.swasta.
c) Pendidikan Khusus Teknis
Pendidikan khusus teknis dilaksanakan di pusat-pusat atau lembaga
pendidikan khusus yang diselenggarakan baik uleh pemerintah mau-
pun oleh swasta.
d) Pendidikan Khusus Keagamaan
Pendidikan khusus keagamaan dilaksanakan di sekolah-sekolah
yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat seperti:
madrasah ibtidaiyah, institut agama Islam negeri, pendidikan guru
agamar serninari, tiara, sekolah tinggi teknologi dari institut denda
dharma. Fungsi dari pendidikan ini adaiah untuk mempersiapkan
peserta didik untuk dapat melaksanakan peranan yang menuntut
penguasaan khusus tentang ajaran agama yang hcrsangkutan.

111
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3. Flak dan Kewajiban Peserta Didik dan Pendidik


Pendidikan dan peserta didik memiliki hak dan kewajiban dalam proses
penyelenggara.an pendidikan yang diatur dalam undang-undang.

a. Peserta didik
Dalam UUSPN dinyatakan, bahwa "Pendidikan nasional bersifat ter-
huka dan mernherikan keluasan gcrak kepa.da peserta didik yang dalam
pelaksanaannya diatur oleh menteri,"
Adapun hak dari setiap peserta didik pada satuan pendidikan se b agai
berikut;
1, Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:
(a) Mendapatkan pendidikan agarna sesuai dengan agama yang
dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagaini.
(b) Mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat,
dan kernampuannya.
(c) Mendapatkan beasiswa hagi yang herprestasi yang
erangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya,
(d) Mendapatkan biaya pendidikan bagi mereka yang orangtuanya
tidak rnampu mcmhiayai pendidikannya.
(e) Pindah ke program pendidikan pada jalur dan satuan pendidikan
lain yang setara,
(f) Menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan
belajar masihg-masihg dan tidak menyirnpang dari ketentuan batas
waktu yang ditetapkan.
2. Setiap peserta didik berkewajiban:
(a) Mertjaga norma-norma pendidikan untuk menjarnin keberlangs
ungan proses dan keberhasilan pendidikan.
(b) Ikut menanggung biaya penyelenggeraan pendidikan, kccuali
bagi peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Warga negara asing dapat menjadi peserta didik pada satuan pendi-
dikan yang diselenggarakan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
4. Ketentuan rnengenai hak dan kewajiban peserta, didik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.

b. Tenaga Kependidikan
Tenaga kependidikan adalali pengelola satuan pendidikan, pemilik,

112 ■
gAS Penyelenggarzan Sistern Pndidikan Nasional

pengawas, peneliti, dan pengembang di bidang pendidikan, pustakawan,


laboran, dan teknisi cumber belajar.
Tenaga kependidikan di atas bertugas menye1enggarakan kegiatan
mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan memberikan
pelayanan dalarn bidang pendidikan. Tenaga pendidikan yang khusus
diangkat dengan tugas utama mengajar untuk pendidikan dasar dan
rnenengah disebut guru dan pada jenjang pendidikan tinggi yang disebut
doyen,
Untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, selain beriman dan
bertakwa terhadap Milan Yang Maha Esa, berwawasan Pancasila MID 1945,
juga harus rnerniliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar. Pengadaan guru
pada jenjang pendidikan dasar dan rnenengah diselenggarakan rnelalui
lembaga pendidikan tenaga keguruan.
Setiap tenaga kependidikan yang bekerja pada satuan pendidikan
mempunyai hak-hak sebagai berikut:
1. Pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh:
(a) Penghasilan dan jarninan kesejahteraan sosial yang pantas dan
memadai,
(b) Penghargaan sesuai dengan tugas dan preskasi kerja,
(c) Pembinaark karier sesuai dengan tuntutan pengenibangan kua-
litas.
(d) Perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas dan half etas hasii
kekayaan kntelektual,
(e) Kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas
pendidikan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.
2. Pendidik dan tenaga kependidikan berk.ewajibarr
(a) Menciptakan suasana pendidikan yang bermakna tnenyenangkan,
kreatif, dinamis, dan dialogis.
(b) Mempurkyai komitmen secara profesionat untuk rneningkatkan
mum pendidikan.
(e) Memberi leladan dan menjaga narna baik lembaga, profesi, dan
kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepada-
nya.
3. Pendidik dan tenaga kependidikan dapat bekerja secara lintas dae -
rah.
4. Pengangkatan, penempatan, dan penyebaran pendidik dan tenaga
kependidikan diatur oleh lembaga yang mengangLatnya be rdasarkan
kebutu han pendidikan formal,
5. Pemerintah dark peknerintah daerah wajib memfasilitasi satuan pendidikan
dengan pendidikan dan tenaga kependidikan yang diperlu-

113
DASAR-DASA R. ILIvtil PE NDIDIKAN

kan untuk menja min terselenggaranya pendidikan yang bertnutu.


6, Ketentuan mengenai pendidikan dan tenaga kependidikan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) cliatur lebih lanjut
dengan peraturan pernerintah.
Di sarnping hak dan kewajiban di atas. kedudukan dan penghargaan
bagi tenaga pendidikan diberikan juga berdasarkan kemampuan dan
prestasinya. Pembinaan dan pengembangan tenaga pendidikan juga di -
selenggarakan oleh pemerintah. Bagi satuan pendidikan yang diseleng-
garakan oleh masyarakat diatur penyelenggaraannya oleh satuan pendi -
dikan yang bersangkutan,

c. Bumper Dadra Kependidikan


Pengadaan dan pendayagunaan sumber daya pendidikan dilakukan
deb pernerintah, masyarakat daniatau keluarga peserta didik. Pendidikan
tidak mungkin dapat terselenggarakan dengan baik, bilamana para
tenaga kependidikan maupun para peserta didik tidak didukung oleh
sumber belajar yang dipe,riukan untuk menyelenggarakan kegiatan bela-
jar mengajar yang bersangkutan.
Perpustakaan merupakan salah satu sumber belajar yang sangat penting
untuk rnernperluas dan rnernperdalarn pengetahuan, baik bagi para tenaga
kependidikan maupun bagi para peserta didik.
Di samping perpustakaan, fasilitas lain seperti laboratorium, beng-
kel, dan fasilitas olahraga merupakan sarana penunjang kebutuhan pen -
capaian tujuan, Setiap satuan pendidikan, jalur pendidikan sekolah yang
diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat diharuskan me-
nyediakan sumber belajar. Pengadaan atau biaya penyelenggaraan pen-
didikan yang diselenggarakan oleh pemerintah menjadi tanggung jawab
pemerintah, yang diselenggarakan oleh masyarakat menjadi tanggung
jawab badan perorarigan yang mcnyelenggarakan satuan pendidikan ter-
sebut,

d. Kurikulum
Kurikulum disusun untuk rnevmjudkan tujuan pendidikan nasional
dengan mempertimbangkan tahap perkembangan peserta didik dan ke-
serasiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, per-
kernbangan iimu pengetahuan dan teknologi serta k.esenian, sesuai dengan
jenis dan jenjang rasing-rasing satuan pendidikan.
Kegiatan pendidikan dalam pelaksanaannya didasarkan atas kuri -
kulum yang berlaku secara nasional dan kurikulum yang disesuaikan

114 ■
gAS PenyelenggarzanSistern Pndidikan Nasional

dengan keadaan serta kebutuhan lingkungan dan ciri khan satuan pendidikan
yang bersangkutan (kurikulum muatan loka.1), Kurikulum yang mengandung
aspek nasional yang wajib clipelajari oleh setiap jenis, jalur, dan jenjang
pendidikan wajib memuat Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agam a, dan
Pendidikan Kewarganegaraan, di sari-1p ing pendidikan bidang studi,
Kurikulum muatan lokal ini di daiarn struktur kurikulurn porsinya adalah
20%. Kurikulum muatan lokal adalah program pendidikan yang isi dan media
penyampaiannya dikaitka.n dengan lingkungan, buclaya, serta kebutuhan
daerah dan perlu dip elajari oleh peserta di dik di daerah itu.
Materi pelajaran muatan lokal ini dipilih dari lingkungan, sedangkan
media dan metode penyampaiannya menggunakan betbagai alat bantu yang
diambil dari lingkungan. Di Sumatra Harat, Budaya Alam Minangkabala
merupakan salah saw kurikulum muatan lokal yang ditetapkan untuk
diajarkan,

B. STANDAR PENDIDIKAN NASIONAL


Standar Nasional Pendidikan (SNP) merupakan kriteria minimal
tentang berbagai aspek yang relevan dalarn pelaksanaan sisten -t pendi-
dikan nasional dan harus dipenulti oleh penyelenggara danlatau satuan
pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indo-
nesia. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam peren-
canaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewu-
judkan pendidikan nasional yang berrnutu. Standar Nasional Pendidikan
bertujuan menjarnin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencer-
daskan kehidupan bangsa dan menibentuk watak serta peradaban bangsa
yang hermartabat. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara
terencana., terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan
kehidupan lokal, nasional, dan global.
EingSi dan tujuan Standar Nasional Pendidikan yaitu:
1. Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam peren-
canaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka
rnewujudkan pendidikan nasional yang bermutu_
2. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan
nasional clalant rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan mem-
bentuk watak serta peradaban bangsa yang berrnartabat.
3. Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah,
dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupun lokal,
nasional, dan global-

115
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

1. Standar lsi
Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi
yang dituangkan dalarn kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi
Kahan kajian, kompetensi rnata pelajaran, dan silabus pernbelajaran
yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan
tertentu (Pasal 5 ayat (1)). Standar isi sebagaimana dimaksud pada ayat
(I) mernuat kerangka dasar dan struktur kurikulurn, beban belajar,
kurikulurn tingkat satuan pendidikan, dari kalender p en d idikan
fakademik (Pasal 5 ayat (2)).
Dalam kerangka dasar dan struktur kurikulurn, kurikulum
untukjenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang
pendidikan dasar dan mertengab terdiri atas:
a, Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia,
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian,
c. Kelornpok Imam pelajaran ilmu pengetahuan clan teknologi.
d. Kelompok mata pelajaran estetika.
e. Kelornpok mata pelajaran jasrnani, olahraga, dan kesehatan. (Pasal
6 ayat 1).

2. Standar Proses
Standar proses ini meliputi pelaksanaan pembelajaran pada satuan
pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan:
a. Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan se-
cara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta dicta( untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai de-
ngan bakat, minas, dan perkembangan tisik serta psikologis peserta
didik. Pendidik dalarn proses pembelajaran harus memberikan ke-
teladanan (Pasal 19 ayat f1)),
b. Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembe-
lajaran, pelaksanaan proses pernbelajaran, penilaian hasiL pembe-
lajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya
proses pernbelajaran yang efektif dan efisien (Pasal 19 ayat (3)).
c. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silahus dan renc.ana pe-
laksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan
pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, cumber belajar,
dan penilaian basil belajar (Pasal 20).
d, Pelaksanaan proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (3) harus memperhatikan jumla.h maksimal peserta

116 ■
gAS Penyelenggarzan Sistern Pndidikan Nasional

didik per kolas dan beban mengajar maksimal per pendidik, rasio
niaksimal buku teks pelajaran setiap peserta didik, dan rasto rnaksimal
jumlah peserta didik setiap pendidik (Pas al 21 ayat (1)).
e. Petaksana.an proses pembelajaran dilakukan dengan men err
budaya membaca dan menulis (Pasal 21 ayat (2)).
f. Penilaian hasil pernbelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
ayat (3) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menggunakan
berbagai teknik penilaian sesuzi dengan kornpetensi dasar yang harus
dikuasai (Pasal 22 ayat (1)).
g. Teknik penilaian sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat berupa tes
tertufis, observasi, praktik, dan penugasan perorangan atau kelompok
(Pasal 22 ayat (2)),
h. Untuk mata pelajaran selain kelompok mata pelaiaran ilmu penge-
tahuan dan teknologi pada jenjang pendidikan dasar dan menengah,
teknik penilaian observasi secara individual sekurang-kurangnya di-
laksanakan sate kali dalam semester (Pasal 22 ayat (3)).
I. Pengawasan proses pembelajaran sebagaimana dirna.ksud. dalam
Pasal 19 ayat {3) meliputi pemantauan, supervisi, evaluasi,
pelaporan, dan pengambilan langkah tindak Ianjut yang
diperlukan (Pasal 23)
j, Standar perertcanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses
pembelajaran, penilaian basil pernbelajaran, dan pengawasan proses
pembelajaran dikernbangkan &eh BSNP dan ditetapkan dengan Per-
aturan Menteri (Pasal 24).

3. Standar Kompetensi Lulusan


Standar ini merupakan kualifikasi kernampuan lulusan yang berkaitan
dengan sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
a. St andar kornpetensi lulusan digunakan sehagai pedornan penilaian
dalam perten.tuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan
(Pasal 25 ayat
h. Standar kornpetensi lulusan sebagairnana dimaksud pada ayat (1)
meliputi kompetensi untuk seluruh rata pelajaran atau kelompok
mata pelajaran dan mata kuliah atau kelompok mata kuliah (Pasal 25
ayat (2)).
C. Kornpetensi lulusan untuk mata pelajaran Bahasa menekankan pada
kemampuan membaca dan menulis sesuai dengan jenjang pendidikan
(Pasal 25 ayat (3)).
d. Kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2)
DASAR-DASA R. ILMU PE NDIDIKAN

mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Pasal 25 ayat (411.


e, Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan
untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
ahklak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan Lebih lanjut (Pasal 2.6 ayat (M.
f. Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah
umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, akhlak rnulia, serta keterampilan untuk hidup
rnandiri dan mengikuti pendidikan Lebih lanjut (Pasal 26 ayat (2)).
g. Standar kompetensi lulusan pada satuan pendidikan menengah ke-
juruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan,
kepribadian, aid-flak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan Lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya (Pasal
26 ayat (3)),
h. Standar kompetensi kelulusan pada jenjang pendidikan tinggi ber-
tujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masya-
rakat yang berakhlak ruulia merniliki pengetahuan, keterampilan,
kemandirian, dan sikap untuk menemukan, mengembangkan, serta
menerapkan ilrnu, teknologi, dan seni yang bermanfaat bagi
kemanusiaan (Pasal 26 ayat (4)].
i. Standar kompetensi lulusan pendidikan dasar dan menengah dan
penclidikan nonformal diketnbangkan oleh BSNP dan ditetapkan oleh
peraturan. meriteri (Pasal 27 ayat (1)),
j. Standar kompetensi lulusan pendidikan tinggi ditetapkan oieh masihg-
masihg perguruan tinggi (Pasal 27 ayat (2)).

4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan


Standar ini rnerupakan standar nasional tentang kriteria pendidikan
prajahatan dan kelayakan fisik rnaupun mental serta pendidikan dalam
jabatan dari tenaga guru dan tanaga kependidikan lainnya,
a. Pendidik harus memilikt kualifikasi akademik dan kompetensi se-
bagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
(Pasal 28 ayat (1)).
h. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: (1)
kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi
prufesional, dan (4) kompetensi social (Pasal 28 ayat (3)).
c. Pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat merniliki: (1)

118
gAS PenyelenggarzanSistern Fendid& n Nasional

kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (13-4)


atau sarjana (S-1), (2) latar belakang pendidikan tinggi di bidang
pendidikan SD/MI, kependidikan lain., atau psikologi, dan (3)
sertifikat profesi guru untuk SD/MI (Pan] 29 ayat (2)).
d, Pendidik pada 5MP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (1)
kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-4) atau
sarjana (S-1), (2.) latar belakang pendidikan tinggi dengan program
pendidikan yang sesuai dengan rnata pelajaran yang diajarkan, dan
(3) sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs (Pasal 29 ayat
(3))-
e. Pendidik pada SMA/IVIA, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (1)
kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-4) atau
sarjana (S-1), (2.) latar belakang pendidikan tinggi dengan program
pendidikan yang sesuai dengan rnata pelajaran yang diajarkan, dan (3)
sertifikat profesi guru untuk SIv1A1MA (Pasal 29 ayat (4)),
f. Pendidik pada SD/Ml sekurang-kurangnya terdiri atas guru kelas dan
guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan Web rnasing-
masihg satuan pendidikan sesuai dengan keperluan (Pasal 30 ayat
())-
g. Guru mata pelajaran sebagairnana dirnaksud pada ayat (2)
sekurangkurangnya mencakup guru kelompok mata pelajaran
agama dan akhlak mulia serta guru kelompok mata pelajaran
pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan (Pasal 30 ayat (3)),
h, Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SIvIA/
MA, atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata
pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masihg-masihg
satuan pen.diclikan sesuai dengan keperluan (Pasal 30 ayat (4)).
Pendidik pada pendidikan tinggi memiliki kualifikasi pendidikan
minimum:
1) Lulus diploma empat (D-4) atau sarjana 1S-1) uiituk program
diplom a.
2) Lulus program magister (5-2) untuk program sarjana (S-1),
3) Lulus program doktor (5-3) untuk program magister (S-2) dan
program doktor (5-3) (Pasal 31 ayat (1)),
j, Tenaga kependidikan pada SDI Ml atau bentuk lain yang sederajat
sekurang-kurangnya terdiri atas kepala sekoiahimadrasah, tenaga
administrasi, tenaga perpustakaan, dan tenaga kebersihan sekolahl
madrasaht (Pasal 35 ayat (1) butir b).
k. Tenaga kependidikan pada WI)/ MTs atau bentuk lain yang sederajat
dan SMAIMA, atau bentuk lain yang sederajat sekurang-kurangnya

119
DASAR-DA SAR ILMU FENDIDIKAN

terdiri alas kepala sekolakimadrasah, tenaga administrasi, tenaga


perpustakaan, tenaga laboratorium, dan tenaga kebersihan sekolahi
madrasah (Pasal 35 ayat (1) butir c).
L Kriteria untuk menjadi kepala SNIP/ MI's/ SMAIMA/ SMIUNIAK, meli
puti:
Berstatus sebagai guru SMR/MTs/SMAilviA/SMIUMAK.
2) Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen
pembelajarari sesuai, ketentuan perundang-undangan yang her-
Iaku,
3) Memiliki pengalarnan mengajar sekurang-kurangnya lima tabun di
SNIP/ MTs/SIviA/SMKIMAK,
4) Merniliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang
pendidikan (Pasal 38 ayat 3).

5. Standar Sarana dan Prasarana


Standar ini merupakan kriteria minimal tentang ruang belajar, per-
pustakaan, tempat olahraga, tempat ibadah, ternpat bermain dan rekreasi,
laboratorium, bengkel kerja, sumber belajar lainnya yang diperlukan untuk
menuniang proses pembelajaran. Dalam standar ini termasuk pula
penggunaan teknologi infimnasi dan komunikasi.
a. Setiap satuan pendidikan wajib rnemiliki sarana yang ineliputi perabot,
peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar
lainnva, bahan hahis pakai, Berta perlengkapan lain yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan
(Pasal 42 ayat (1)).
b. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang rneliputi
lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pen
didik, ruang rata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium,
ruang hengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi Jaya
dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat her-main,
tempat berkreasi, dan ruangitempat lain yang diperlukan untuk
menunjang proses pernbelajaran yang teratur dan berkelanjutan
(Pasal 42 ayat (2)).
c. Standar keragaman jenis peralatan laboratorium ilmu pengetahuan
alarn (IPA), labutatnrium bahasa, laboratorium kumputer, dan per-
alatan pernbelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan dalarn
daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia (Pasal
43 ayat (1)).
d. Standar jumlah buku teks pelafaran di perpustakaan dinvatakan da-

120
gAS Penyelenggarzan Sistern Pndidikan Nasional

lam rasio minimal jurnlah buku teks pelajaran untuk masihg-masihg


rum pelajaran di perpustakaan satuan pendidikan untuk setiap peserta
didik (Pasal 43 ayat (4)).
e. Lahan sebagairnana dimaksud dalam Pas al 42 ayat (2) untuk hangun -
an satuan pendidikan, lahan praktik, lainnya untuk sarana pertun-
jang, dan lahan pertamanan untuk menjadikan satuan pendidikan
suatu Iingkungan yang secara ekologis nyaman dan sehat (Pasal 44
ayat (1)),

6. Standar Pengelolaan
Standar ini meliputi perencanaan pendidikan, pelaksanaan, dan
pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, penge-
lolaan pendidikan di tingkat kabupatenikota, provinsi, dan pada tingkat
nasional. Tujuan dari standar ini ialah meningkatkan efisiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Ada beberapa standar pengelolaan dalam pendidikan sebagai
ku t:
a. Standar pengelolaan oleh satuan pendidikan:
1) Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah rnenerapkan manajemen herbasis sekolah yang
ditunjukkan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keter-
bukaan, dan akuntabilitas (Pasal 49 ayat 1).
2) Setiap satuan pendidikan dipirnpin oleh seorang kepala satuan
sebagai penangg-ung jawab pengelolaan pendidikan (Pasal 50 ayat
1).
3) Dalarn rnelaksanakan tugasnya kepala satuan pendidikan SNIP/
MTsI SMPLB. atau bentuk lain yang sederajat dibantu minimal
oleh satu orang wakii kepala satuan pendidikan (Pasal 50 ayat 2).
4) Pada satuan pendidikan SMAIMA/SMALB, SMIUMAK, atau bentuk
lain yang sederajat kepala satuan pendidikan dalam me-
laksanakan tugasnya dibantu minimal oleh tiga wakil kepala
satuan pendidikan yang masihg-rasing secara herturut-turut
membidangi akademik, sarana dan prasarana, serta kesiswaan
(Pasal 50 ayat 3).
5) Pengamhilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan me-
nengah di bidang akademik dilakukan oleh rapat Dewan Penn
didik yang dipimpin oleh kepala satuan pendidikan (Pasal 51
ayat (1)).
Pengamhilan keputusan pada satuan pendidikan dasar dan me-

121
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

nengah di bidang non-akademik dilakukan oleh komite sekolahl


rnadrasah yang dihadiri oleh kepala satuan pendidikan (Pasal
51 ayat (2)).
7) Setiap satuan pendidikan harus memiliki pedoman yang mengatur
tentang: (a) kurikulurn tingkat satuan pendidikan dan sitabus;
(b) kalender pendidikanfakademik, yang menunjukkan selunih
kategori aktivitas satuan pendidikan seIama satu tahun dan
diperinci secara sernesteran, bulanan, dan rningguam (c) struktur
organisasi small pendidikan; (d) pembagian tugas di antara
pendidik; (e) pembagian tugas diantara tenaga kependidikan; (f)
peraturan akadernik; (g) tata tertib satuan pendidikan, yang
minimal. meliputi rata tertib pendidik, tenaga kependidikan dan
peserta didik, serta penggunaan dan perneliharaan sarana dan
prasarana; (h) kode etik hubungan antara sesama warga di
dalam lingkungan satuan pendidikan dan hubungan antara warga
satuan pendidikan dengan masvarakat; (1) blaya operasional satuan
pendidikan (Pasal 52 ayat (1)),
8) Pengelolaan satuan pendidikan dilaksanakan secara mandiri,
efisien, efektii, clan akuntabel (Pasal 54 ayat (111.
9) Pelaksanaan pengelolaan pendidikan pada jenjang pendidikan
dasar dan inenengah dipertanggungjawabkan oleh kepala satuan
pendidikan kepada rapat dewan pendidik dan komite seko-
Iahimadtasah (Pasal 54 ayat (4)).
b. Standar pengelolaan oleh Pemerintah daerah
Pemerintah daerah menyusun rencana kerja tahunan bidang pendidikan
dengan rnemprioritaskan program:
1) Wajib belajar.
2) Peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pen -
didikan rn enengah.
3) Penuntasan pemberantasan buts aksara.
4) Penjaminan rnutu pada satuan pendidikan, baik yang diseleng-
garakan oleh pernerintaii daerab maupun rnasyarakat,
5) Peningkatan status guru sebagai proles!.
6) Akreditasi pendidikan.
7) Peningkatan relevansi pendidikan terhadap kebutuhan rna5ya-
rakat.
8) Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (PM) bidang pendidikan
(Pasal 59 ayat (1)).
c. Standar pengelolaan oleh pernerintah
Pemerintah menyusun rencana kerja Lahunan bidang pendidikan

1 2 2 ■
gAS Penyelenggarzan Sistern Pk-kelidikan Nasional

dengan memprioritaskan program:


1) Wajib belajar,
2) Peningkatan angka partisipasi pendidikan untuk jenjang pen-
didikan trienengah dan tinggi.
3) Penuntasan pemberantasan buta aksara,
4) Penjaminan mum pada satuan pendidikan, baik yang diseleng-
garakan oleh pemerintah rnaupun masyarakat.
5) Peningkatan status guru sebagai profesi.
6) Peningkatan mutu dosen,
7) Standardisasi pendidikan.
8) Akreditasi penslidik n,
9) Peningkatan relevansi pendidikan terliadap kebutuhan lokal,
nasional, dan global.
10) Pemenuhan Standar Pdayanan Minimal (SP 1v1) bidang pendi-
dikan.
11) Penjaminan rnutu pendidikan nasional (Pasal 60).

7. Standar Pernbiayaan
Standar ini inerupakan standar nasional yang berkaitan dengan
komponen dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan selarna satu
tahun.
a. Pembiavaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, dan
biaya personal (Pasal 62 ayat (1)).
b, Biaya investasi satuan pendidikan sebagairnana dimaksud pada ayat (1)
meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan cumber
daya manusia, dan modal kerja tetap (Pasal 62 ayat (2)).
c. Biaya personal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya
pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa
rnengikuti proses pernbelajaran secara teratur dan berkelanjutan (Pasal
62 ayat (3)).
d. Biaya operasi satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi; (1) gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala
tunjangan yang melekat pada gajil (2) bahan atau peralatan pen-
didikan habis pakai, dan (3) biaya operasi pendidikan tak langsung
berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan pra-
sarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan
lain sebagainya Masai 62 ayat (4)).
e. Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan peratu ran
rnenteri berdasarkan usulan BSNP (Pasal 62 ayat (5)).

123
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

8. Standar Penilaian
Standar ini merupakan standar nasional penilaian pendidikan ten-
tang tnekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar
peserta didik, Penilaian yang dirnaksud di sini adalab penilaian pada
jertjang pendidikan dasar dan menengah yang meliputi: penilaian hasil
belajar oleh pendidik, penilaian basil belajar oleh satuan pendidikan dan
penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Adapun bagi pendidikan tinggi,
penilaian tersebut hanya meliputi: penilaian hasil belajar oleh pendidik
dari satuan pendidikan.
Penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
terdiri atas:
a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik
Penilaian basil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinarn-
bungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil da-
lam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir
semester, clan ulangan kenaikart kelas (Pasal 64 ayat (1)). Penilaian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk: menilai pen-
capaian kompetensi peserta didik bahan penyusunan laporan kema-
Juan basil belajar dan memperbaiki proses pembelajaran (Pasal 64
ayat (3)),
h. Penilaian basil belajar oleh satuan pendidikan
Penilaian hash] belajar oleh satuan pendidikan bertujuan menilai
pencapaian standar kompetensi lulusan untuk semua maim pelajaran
dan, dilakukan untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata
pelajaran agama dan akblak mulia, kelornpok mata pelajaran kewar-
ganegaraan dan kepribadian, kelompok rata pelajaran estetika, dan
kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan meru-
pakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari
satuan pendidikan {Pasal 65 ayat (1) dan (2)).
c. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah
Penilaian basil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai
pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada matapelajaran
tertentu dalarn kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan tekno-
logi dan dilakukan dalarn bentuk ujian nasional (Pasal 66 ayat (1)),

124 ■
gAS Penyelenggarzan Sistern Pendidikan Nasional

C. DA AR, FLINGS!, TWLIAN, DAN PRINSIP


PENDIDIKAN NASIONAL
Pendidikan biasanya berawaI saat seorang bayi Ito ditahirkan dan
berlangsung seurnur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi
lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik
dare mernbaca kepada bayi dalarn kandungan dengan harapan is bisa
men.gajar bayi rnereka sebelurn kelahiran. Berkaitan dengan hai itu,
pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi setiap orang di
belahan dunia maim. pun termasuk di Indonesia.
Setidaknya ada dua Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
yang pernah dimiliki Indonesia, yairu Undang-Undang Sistem Pendidikan
Nasional Nomor 2 Tahun 1909 tentang Sistern Pendidikan Nasional yang
selanjutnya lebih dikenal dengan nania UUSFN. Dan yang kedua Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
seianjutriva let ih dikenal dengan narna UU Sisdiknas, sebelum adanya
kedua undang-undang yang mengatur tentang sistem pendidikan nasional,
Indonesia hanya memiliki Undang-Undang tentang Pokok-pokok
Pengajaran dan Pendidikan, yaito Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1950.
Adanya perubahan UUSPN Nomor 2 Tahun 1989 menjadi UU Sis-
diknas Nomor 20 Tahun 2003 dimaksudkan agar sistem pendidikan nasi-
onal Id to bisa meniadi jaub lebih baik dibanding dengan sistem
pendidikan sebelumnya. Hal ini seperti yang dikernukakan oleh seorang
pengarnat hukum dan pendidikan, Frans Hendrawinata, beliau mengatakan
bahwa dengan adanya Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang
Baru, maka diharapkan undang-undang tersebut dapat inenjadi pedoman
bagi kita untuk memiliki suatu sistem pendidikan nasional yang mantap,
yang dapat menjamin terpenuhi kebutuhan masyarakat akan somber daya
manusia yang berkua.litas. Apalagi rnengingat semakin dekatnya era ke-
terbukaan pasar. Hal tersebut sesungguhnya harus menjadi kekhawatiran
bagi kita semua mengingat kualitas cumber daya manusia di Indonesia
berada di bawah negara-negara lain termasuk negara-negara tetangga di
ASEAN. Oleh sebab itu1ah diperlukan suatu platform berupa sistem pen-
didikan nasional yang dapat menciptakan somber daya manusia yang
rriampu bersaing dengan dunia internasional ichususnya dalani era ke-
terbukaan pasar saat

111 125
DASAR-DASA R. ILlvtil PE NDIIDIK AN

Tujuarr pembelajaran yang akan dicapai setelah


mempelajari bab dengan sungguh-sungguh Anda diharapkan
dapat: a. Menjelaskan dasar Pendidikan Nasional. h.
Menjelaskan fungsi Pendidikan Nasional.
c. Menjelaskan tujuan Pendidikan Nasional.
d. Menjelaskan prinsip Pendidikan Nasional.

1. Pengertian Pendidikan Nasional


Pendidikan adalah usaha radar dan terencana untuk rnewatjudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliid kekuatan spiritual ke-
agamaan, pengendalian dirt, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Berkaitan dengan
hal tersebut, lahirlah pcndidikan nasional di negara Indonesia. Pendi-
dikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa
Indonesia yang berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945. Untuk rnevirujudk.an semua itu juga perlu disusun sistem pendi-
dikan yang inerupakan saw keseluruhan yang terpadu dari semua satuan
dan kegiatan pendidikan yang berkaitan sate dengan lainnya untuk
mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional tersebut.
Undang-Unclang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal
31 ayat (3) menegaskan, bahwa pemerintah mengusahakan dan menye-
lenggarakan sate sistem pendidikan nasional yang meningkAtkan ke-
irnanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan
kehidupan hangsa yang diatur dengan undang-undang.
Sebagai realisasi dari amartat tersebut, maka dibentuklah Unclang-
Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tabun 1989 tentang istern Pendi-
dikan Nasional, yang selama ini merupakan pedoman daiam penyeleng-
garaan pendidikan di Indonesia. Perubahan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menuntut perlunya diadakan
pembaruan tcrhadap Undang- 1J ndang Nomor 2 Tahun 1989 tersebut,
karena dirasakan tidak sesuai Iagi dengan perkembangan zaman
menjadi Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisteni
Pendidikan Nasional.
Pembaruan Sistem Pendidikan Nasional dilakukan untuk memper-
harui visi, misi, dan strategi pernbangunan pendidikan nasional. Pendi-
dikan nasional mernpunyai visi terviroudnya sistern pcndidikan .!iebagai
pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdaya.kart semua
warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas

126 111
gAS Penyelenggarzan sistem Pndidikan Nasional

sehingga tnampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang seIalu


beruhah.
Dengan visi pendidikan tersebut, mempunyai misi sebagai berikut:
t. Mengupayakan perluasan da.n pemerataan kesempatan rnemperoleh
pendidikan yang herrnutu hagi seluruh rakyat Indonesia,
2, Membantu dan memfasilitasi perkembangan potensi anak bangsa secara
utuh sejak usia dini sainpai akliir hayat dalam ran.gka mewnjudkan
masyarakat belajar„
3. Meningkatkan persiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4, Meningkatkan keproresionalan dan akuntahilitas lernbaga pendidikan
sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan,
pengaIaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan glo-
bal,
5. Memberclayakan peran serta masyarakat dalam penyetenggaraan
pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Ke-
satuan RI.
Berdasarkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradahan hangsa yang hermartahat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta di dik
agar menjadi manusia yang berirnan dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakblak mulia, what, herilrnu, cakap, kreatif, rnandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pemb aru an sistem pendidikan mem erlukan strategi tertentu. Strategi
pernhangunan pendidikan nasional dalam undang-undang ini rneliputi: 1,
Pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia,
2. Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi.
3. Proses pembelajaran yang mendidik dan dialogi.s.
4, Evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikan yang memberdaya -
kan.
5. Peningkatan keprofesionalan dan tenaga kependidikan,
6, Penyediaan sarana yang rnendidik.
7. Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan
berkeadiIan,
8, Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata.
9. Pelaksanaan wajib belajar.
10. Pelaksanaan otonorni rnanajemen pendidikan,
11, Pernberdavaan peran masvarakat.

127
DASAR-DASA R. !L IM PE N DIIDIK AN

12. Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat.


13, Petaksanaan pengawasan dalam sistem pendidikan nasional.
Dengan strategi tersebut, diharapkan visi, rnisi, dan tujuan pendi-
dikan nasional dapat terwujud secara efektif dengan melibatkan berba-
gai pihak secara aktif dalam penyelenggaraan pendidikan, Pembaruan
sistern pendidikan nasional perlu pula disesuaikan dengan pelaksanaan
otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nornor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Un-
dang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perim-
bangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sehubungan
dengan hal-hal tersebut Allah Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989
tentang Sistem Pendidikan Nasional perlu diperbarui dan diganti
dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.

2. Dasar Pendidikan Nasional


Yang dimaksud dengan dasar di sini adalah sesuatu yang rnenjadi
kekuatan bagi tetap tegaknya suatu bangunan atau lainnya, seperti pada
rum ah atau gedung, maka pondasilah yang menjadi dasarnya. Begitu
pula halnya dengan pendidikan, dasar yang dimaksud adalah dasar
pelaksanaannya, yang mempunyci peranan penting untuk dijadikan
pegangan dalam rnelaksanakan pendidikan di sekolah-sekolah atau di
lembagalembaga pendidikan lainnya_
Adap un dasar pendidikan nasional di negara Indonesia secara
yuridis formal teIah dirumuskan antara lain sebagai berikut:
a. Undang-Undang ten tang Pendidikan dan Pengajaran Nurnor4 Tahun
1950, Nornor 2 Tahun 1945, Bab III Pasal 4 yang berbunyi:
'Pendidikan dan pengajaran berdasarkan alas asas-asas yang
termaktub dalam Pancasila, Undang-Undang Dasar ItI dan
kebudayaan bangsa Indonesia.'
b. Ketetapan MPRS Nomor XXVII/MPRS/1966 Bab II Pasal 2 yang
herhunyi: "Dasar pendidikan adalah falsafah negate Pancasila,"
c. Dalam GBHN Tahun 1973, GBHN 1978, GBHN 1983 dan GBHN
1988 Bab IV bagian pendidikan berbunyi: "Pendidikan Nasional
berdasarkan Pancasiia,"
d, TAP MPR Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN dalam Bab IV bagian
Pendidikan yang berbunyi: "Pendidikan Nasional (yang berakar
pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila dan
Uri dang-Undang Dasar 1945:1

128 ■
gAS Penyelenggarzan Sistern Pk-kelidikan Nasional

e. Undang-Undang1-11Nornor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan


Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945_
f. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistern Pendi-
dikan Nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945.
Dengan demikian, jelaslah bahwa dasar pendidikan di Indonesia adalah
Pancasila dari Undang-Undang Dasar 1945 sesuai dengan U11 Sisdiknas
Nomor 20 Tahun 2003,

3. Fungsi Pendidikan Nasional


a. Alat membangun pribadi, pengembangan warga negara, pengembangan
kebudayaan„ dan pengembangan bangsa Indonesia.
b. Menurut Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1.989 Bab II Pasal 3
"Pendidikan Nasional berfunwii untuk mengernbangkan kernarnpuan
serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat bangsa Indonesia
dalam rangka upava meykru.lucikan tujuan nasionah'

4. Tujuan Pendidikan Nasional


Tujuan pendidikan nasional adalah suatu faktor yang sangat penting
di dalatn pendidikan, karena tujuan merupakan arab yang hendak dicapai
atau yang hendak dituju oleh pendidikan. Hegitu juga dengan penyeleng-
garaan pendidikan yang tidak dapat dilepaskan dari suatu tujuan yang
hendak dicapainya. Hal mill dibuktikan dengan penyelenggaraan pendi-
dikan yang dialami bangsa Indonesia. Tujuan pendidikan yang be.rlaku
pada waktu Orde Lama berbeda dengan Orde Baru. Demikian Pula sejak
Orde Baru hingga sekarang, rurnusan tujuan pendidikan selalu menga-
larni perubahan dari pelita ke pelita sesuai dengan tuntutan pembangun -
an dan perkembangan kehidupan masyarakat dan negara Indonesia.
Fungsidan tujuan dad pendidikan nasional dituangkan. dalam UU Notnor
20 Tahun 2.003 tentang Sisdiknas Pasal 3 yang berbunyi:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kernarnpuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat claim
rangka menoerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk ber kern
- bangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuban Yang Maha Esa, berakhEak rnulia, se-
hat, berilmu, cakap, kreatif, mandirir dan rnenjadi warga negara
yang dernok rat is serta bertanggung jawab.

129
DASAR-DASA R. IL1IJ PE NDIDIKAN

5. Prinsip Pendidikan Nasional


Sesuai. Unclang-Undang Nornor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,
ada enam prinsip. Ketentuan ini diatur pada. Bab 11 Pasal 4 yang diurai-
kan dalam enarn ayat. Berikut isi Unclang-Undang Nornor 20 Tabun
2003 Pasal 4:
a. Pendidikan diselenggarakan secara dernokratis dan berkeadilan ser-
ta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia,
nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.
b. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik
dengan sistern terbuka dan multirnakna.
c. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberclayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
d. Pendidikan diselenggarakan dengan rnemberi keteladanan,
ntembangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas
pesertadidik dalarn proses pembelajaran.
e. Pendidikan diselenggarakan dengan mengerabangkan budaya mem-
baca, menulis, dan berhirung bagi segenap warga. masyarakat.

Pendidikan diselenggarakan dengan rnemberdayakan semua korn


ponen rnasyax-akat melalui pecan sena dalam penyelenggaraan dan
pengendalian rnutu Iayanan pendidikan.

Rangkuman

Sistern adafah suatu totafitas yang terpadu dari semua elerneniunsur dan kegiatan
yang satu dengan kegiatan Iainnya saI ng berkaitan secara fungs ronal 4-Intuk
mencapai tujuan. Pendfdikan sebagai suatu sistern berarti bahwa pendidikan itu
terdiri dari elernen-elemen atau unsur-unsur pendidikan yang dalarn kegiatannya
aling terkaft secara fu ngsio na I, sehingga merupakan sate kesatu an yang
terpadu dan dengan keterpaduan itu diharapkan tujuan pendidikan dapat dicapai,
Sistern pendidikan di Indonesia dirurnuskan dalarn MEM Bab I Pasal 3 yang
berbunyi bahwa, "Sistem Pendidikan Nasional adalah satu kesatuan yang ter-
padu dari kesemua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan
Iainnya, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional."
Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional diselenggarakan melalui dua jalur
pendidikan, yaitu: jalur sekolah dan jalur luar sekolah. Satuan pendidikan yang
disebut sekolah merupakan bagian dad pendidikan yang berjenjang clan
berkesinambungan, sedangkan satuan pendidikan luar sekolah tidak berjenjang
dan tidak berkesinambungan seperti kelompok belajar, kursus, dan satuan pen-

130
gAS Penyelenggarzan Sistern Pk-kelidikan Nasional

didikan sejenisnya.
Dalam proses pendidikan, peserta didik, tenaga kependidikan dan sumber daya
kependidikan serta kurikulurn merupakan elemen/unsur yang sating berinteraksi
untuk mencapal tujuan yang diharapkan. Untuk itu perlu pengaturan tentang
hak dan kewajiban serta peranan sesuai masihg-masihg elemeniunsur tersebut,
yang telah digariskan dalam UUSPN. Menurut PP Nomor 19 Tahun 2005, Stan-
dar Nasional Pendidikan terdiri atas dela pan ruang lingkup standar.
Hak dan kewajiban peserta didik diatur dalann Lindang-LindangSisdiknas Nomor
20 Tahun 2003 Pasal 12. Sernua hal yang menyangkut kinerja dan identitas dari
guru dan dosen diatur dalam Undang-Undang Guru dan Dosen yang disusun
berdasarkan UV Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas,
Path dasarnya semua hal yang menyangkut pendidikan nasional, baik itu dasar,
fungsi, tujuan, dan prinsip pendidikan nasional semuanya terangkum dalam UU
Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 serta tak lepasdari UUD 1945 dan Pancasila,
Fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional dituangkan claim LIU Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasai 3 yang berbunyi:'1)rinsip penyelenggaraan
pendidikan diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sis-
diknas".Ketentuan ini, diatur pada Bab II Pasal 4yang diuraikan dalarn enamayat.

Tugas

1. Je[askanlah alasannya mengapa 'pendidikan dipandang suatu sistem"!


2. He mu k.ak anlah r i unsur $ istern terbuka dari pendidikan sebagaisistern
social!
3. Uraikanlah bagaimana garnbaran urnurn sistern pendidikan nasional di In-
donesia!
4. Bandingkanlah antara penyelenggaraan jalur pendidikan sekolah dan pen-
didikan luar sekolah!
5, Jelaskan fungsi Fos ing- masihg len-lbaga dan ienjang pendidikan nasional!
6, Kernukakanlab antara bentuk perguru an tinggi dan fungsfroyal
7, Dalarn proses pendidikan semua elernen berinteraksi untuk nnencapai tu-
ition pendidikan yang rnasing-masihgnya mempunyai hak dan kewajiban
serta peranan tertentu. Diskusikanlah dengan teman daiarn kelompok bela-
jar Anda apakah sudah berjalan sesuai dengan yang ditetapkan oleh VON
atau belurn? Beni alasannya!
8. Identifikasikanlah semua jenis program pendidikan kejuruan yang ada di
la pangan. Diskusikanlah dalam kelompok,'Apakah set ap program tersebut
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

menyiapkan peserta didik slap pakai untuk lapangan kerja yang ada
daharn masyarakat, Jelaskanlah dengan berbagai alasan!
9.Jelaskan pengertian, dasar, fungsi, tujuan. dan prinsip penddikan nasional!

Daftar Pustaka
A1-Jarnaly & Muhammad Fadhil, 1986. Fikafat Pendidikan dalarn Al-
Qur'an, Surabaya: PT Bina Ilmu,
Darmiyati Zuchdi. 2008. Humanisasi Pendidikan. Jakarta.. BUITIl Aksara.
Debar Nor 84 hkandar Alisyahbana (Ed,), 1998. Perrthahan,
Pernbaruan, dan Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Dian
Rakyat.
H.A.R. Tilaar. 2007. Mengembangkan lb-nu Pendidikan Berdimensi Global.
Jakarta: Len hags Manajernen UNJI,
Made Pidaria, 2007, Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
M. Dirnyati. I 98a Landasan Keperaidikan,- Sr to Pengantar Pernikiran
Kelimuan tentang Kegiatan Pendidikan, Jakarta: P2LPTK, Depdikbud.
Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan, 2005, Pew Keilmuan
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pembinaari Pendidikan Ten aga Ke-
pendidikan dan Ketenagaart PT Ditjen Dikti,
Prayitno. 2005. Sosok !Celli-mum Ilmu Pendidikan. Padang: FIP UNP.
.2009, Dasar; Teori, elan Pra.ksis Pendidikan. Jakarta: Grarnedia ),Vi-
diasarana Indonesia.
Redja Mudyahardjo. 2006. Filsafat Pendidikan. Bandung: PT Rem*
Rosdakarya,
Sharron, A. G. 1973. Arti Pendidikan bagi Masa Depart (Terjemahan Mhd.
Ansyar), Jakarta: P u stekom Depdikbud.
Suardi. (2012). Pengantar Pendidikan Teori clan Aplikasi. Jakarta: PT in-
deks.
Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang; Sukabina,
IJndang-Undang 111 Nomor 20 Tahun 003 tentang Si stern Pendidikan
Nasional. Jakarta: Balai Pustaka Cipta. Karva.
Undang-Undang 111 Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Ja-
karta: Depdiknas.

132 ■
Beberapa Pemikiran
tentang Pendidikan

PENDAHULUAN

Daiam bab ini akan dibahas tentang pernikiran-pemikiran yang rnem-


bawa pembaruan pendidikan. Pemikiran dimaksud terbagi empat
bagian. Pertarna pernikiran klasik yang terdiri dad: pemikTran empi-
risme, nativisme, naturalisme, dan konvergensi. Kedua pemikiran
baru daiarn pendidikan yang terdiri dari: pengajaran aiarn sekitar,
pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, pengajaran proyek, home
schooling, sekolah alarn, dan pendidikan berasrarna (boarding
school), tokoh pendidikan yang berpengaruh dari luar negeri, yaitu
Pestalozzi dan Maria Montessori, dan tokoh pendidikan yang
berpengaruh di Indonesia, yaitu Ki Hajar Dewantara, Muhammad
Syafei, Kai H. Ahmad Dahlan, dan Rahmah El Yunusiah.
Pemahaman tentang pernikiran pendidikan ini akan membekaii tenaga
kependidikan dengan wawasan kesejarahan, yal<ni; kenlampuan
memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa larnpau,
tuntutan dan kebutuhari masa kin'', serta perkiraaniantisipasi masa
datang. Di camping itu akan memberi arah bagi tenaga kependidikan
dalam melaksanakan tugas se h ari-hari. Selanjutnya be be ra pa lemba-
ga pendidikan di Indonesia yang lahir sebelum zaman kemerdekaan
akan dapat mernberikan pemahaman historic bagi pendidik dan dapat
menclorong sernangat untuk rneningkatkan kegiatan pendidikan.
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan dapat:
Menjelaskan pernikiran klasik dalam pendidikan.
1. Menjelaskan pe mikira n baru dalam pendidikan.
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3. Menjelaskan pemikiran tentang pendidikan oleh tokoh pendi-


dikan yang berpengaruh dariluar negeri.
4. Menjelaskan pemikiran tentang pendidikan oleh tokoh pendi-
dikan yang berpengaruh di Indonesia,

A. PEMIKIRAN KLASIK
Pemahaman tentang pemikiran klasik ada beberapa pendapat yang
berbeda mulai dari yang optimis hingga pesilnis.

1. Beberapa Pernikiran Klasik


Untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beds tersebut, maka berikut
irri akan dibahas tentang pemikiran yang termasuk pemikiran Wasik
(empirisme, nativisrne, naturalisme, dan konvergensi).

a. Empirisme
Empirisme herasal dari babasa Latin, asal katanya: empiri herarti
pengalaman. Pernikiran ini dipelopori oleh John Locke {1632-1704), fit-
suf kebangsaan Inggris, yang terkenal dengan teorinya 4 rtabularase, arti-
nya meja berlapis LIM yang belurn ada tulisan di atasnva. Dengan kata
lain, seseorang dilahirkan seperti kertas kosong yang belum ditulisi,
maka pendidikanlah yang akan menulisnya. Perkembangan seseorang
tergantung seratns persen pada pengarub lingkungan atau pada
pengalarnanpengalaman yang diperoleh dalarn kehidupannya., Oleh
karena itu, pendidikan memegang peranan yang sangat penting sebab
pendidik dapat rnenyediakan lingkungan pendidikan kepadaanak dan
akan diterima oleh anak sebagai pengalarnan-pengalaman.
Menurut konsepsi empirisme ini pendidikan adalah rnahakuasa dalam
rnernhentuk peserta didik menjadi apa yang diinginkannya. Pendidikan
dapat berbuat sekehendak hatinya, seperti ahli patung yang me-m ahat
patung dari kayu, batu, atau bahan lainnya menurut sesuka hatinya.
Contoh lain misalnya: anak kernbar yang dipisahkan oleh orangtuanya
sejak kecil pada lingkungan keluarga yang berbeda, Oleh karena itu, pe-
mikiran ini dinamakan pemikiran optimis dalam pendidikan.
rvIenurut John Locke (dalam Blishen, MO], hal-hal yang perlu diper-
hatikan dalarn pendidikan yaitu:
a. Pend idikan harus diberikan sejak anal mungkin.
h. Pembiasaan dan latihan lebih penting daripada peraturan, perintah, atau
nasihat.

134 ■
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentang Pffid Aiken

c. Anak didik harus diamati dad dekat untuk mehhat:


1) Apa yang paling tepat bagi anak itu sesuai dengan umurnya
(tingkat perkembangannya).
2) Hasrat-hasratnya yang sangat kuat.
3) Kecenderungannya rnengikuti orangtua tanpa rnerusak semangat
anak itu.
4) Anal( harus dianggap sehagai maldiluk rasional, dalam hal ini ke
pada anak harus diberikan alasan tentang hal-hal yang dituntut
darinya.
5) Pelajaran di sekolah jangan sampai menjadi beban bagi anak,
namun hendakriya meriyenangkan dan merupakan suasana
bermain yang membuka seluas-luasnya berbagai kemungkinan
yang dapat timbul.

b. Nativisme
Nativisme berasal dari bahasa Latin, anal katanya natives berarti
terlahir. Pernikiran ini dipelopori oleh Sekophenhauer seorang filsuf
kebangsaan Terman yang hidup pada 1788-1880. Dia berpendapat,
"Pendidikan ialah membiarkan seseorang bertumbuh berdasarkan
pernbawaannya,' Seseorang akan herkembang berdasarkan apa yang
dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia
ditentukan oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan
ada yang buruk_ oleh karena itu, manusia akan berkernbang dengan
pembawaan baik maupun pembawaan buruk yang dibawanya dari lahir,
Bagi nativisme, iingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lirr-
kungan tidak akan herdaya dalam rnernengaruhi perkembangan, dan
pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkernbangan se-
seorang. Pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan se-
seorang, tidak akan ada gunanya untuk perkernbangannya_ Dalam
kenyataan sehari-hari sering diternukan anak mirip orangtuanya (secara
fisik) dan anakluga rnewarisi bakat-bakat yang ada pada orangtuanya,
Sebagai (=doh orangtua yang rnenginginkan anaknya menjudi pelukis, Ia
herusaha menwersiapkan alat-alat untuk melukis dan mendatangkan guru
untuk men ajar meiukis, tetapi gaga' karena dalam dirt anak tidak ada
hakat rnelukis. Mph karena itu, pemikiran ini merupakan pemikiran pesi -
rnis dalam pendidikan (pesimisme).

C. Naturalisme
Naturalisme berasal dan bahasa Latin dari kata nature, artinya alarm
tabiat, dan pembawaan. Pemikiran ini dipelopori oleh Li. Rousseau

135
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

(1712-1778), ffisuf kebangsaan Perancis. Pemikiran ini dinamakan juga


nagativisrne yaitu pemikiran yang meragukan pendidikan untuk perke
rnbangan seseorang karena dia dilahirkan dengan pembawaan yang baik.
Ciri utama pemikiran ini ialah dalam mendidik seseorang kembahlah
kepada alarn agar pernbawaan seseorang yang bail( itu tidak dirusak
oleh pendidik. Dengan kata lain, pembawaan yang baik itu supaya
berkemhang secara spontan.
Kalau akan diberikan juga pendidikan hendaklah dikernbangkan
aturan-aturan masyarakat yang demokratis, sehingga kecenderungan
alarniah anggota masyarakat dapat terwujud, untuk menjaga agar
pentbawaan seseorang yang baik itu tidak dirugikan. Janganlah anak
itu dianggap sebagai manusia kecil, akan tetapi dia mempunyai tahap-
tahap perkembangan yang perlu Pula dikembangkan secara alarniah.
Dengan Data lain, pendidikan hendaklah dimulai dengan mempelajari
perkembangan anak.
Sebagai contoh, pada masa anak-anak pengembangan pancaindra
dilakukan melalui kegiatan anak itu sendiri. Untuk mernbirnbing tingkah
laku anak, buku tidak diperlukan, yang penting adalah pengembangan
alarn atau lingkungan dan berbagai peristiwa yang terjadi di dalarnaya.
Pada masa rernaja agarna dan moral hendaklah diajarkan kepada mere-
ka semata-mata dalam kaitannya dengan alasan alamiah, kernampuan
berpikir harus dikernbangkan dan fantast tidak dibiarkan bekerja
leluasa. Pengajaran yang tujuannya ingin menanamkan suatu aturan atau
otoritas tertentu lebih baik ditunda pelaksana.annya.
Pelopor pemikiran ini menulis beberapa buah buku, yaitu:
a, La Nouvelle Heloise
b. Le Constract Soria!
c. Emile of de Teducation dan
d, Confession
Gagasan dasar sebagai paiidangan hidupnya terdapat pada kalimat
pertama dalarn bukunya itu. yaitu "semua adalali baik dari tangan Pen-
cipta, semua rnenjadi buruk di tangan manusia." Kesimpulan dari pan-
dangan tersebut sebagai berikut: kodrat atau alam manusia adalah baik:
masvarakat adalah bunt; dan untuk memperbaiki kesusilaan, kehiasaan
dalarn masvarakat orang wajib kembali ke alam atau kodrat.

d. Konvergensi
Konvergensi berasal t]twi bahasa Inggris, anal katanya convergency,
artinya perternuan pada suatu titik. Petnikiran ini dipelopori Welt William

136
BAB 7 D.. Beberapa Pemikiran tentang Pffididiken

Stern, seorang ahli pendidikan bangsa Ierman pada 1871-1937. Pemikiran


ini mempertemukan atau mengawinkan dua pemikiran yang berlawanan
antara nativisme dan empirisme. Perkembangan seseorang tergantung
kepada pembawaan dan lingkungannya, Dengan kata lain, pembawaan
dan lingkungan rn.ernengaruhi perkernbarigan seseorang, Pernbawaan
seseorang ban( berkernbang karena pengaruh lingkungan. Hendaknya para
pendidik dap at menciptakan suatu lingkungan yang tepat dan cukup kaya
atau beraneka ragarn, agar pembawaan dapat berkernbang semaksimal
mungkin. Sebagai contoh, pada anak manusia ada pembawaan uniuk
berbicara, melalui situasi lingkungan anak belajar berbicara dalam
Bahasa tertentu,
William Stern berpendapat, bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari
pembawaan dan lingkungan, seakan-akan dua garis yang menuju ke satu titik
perternuan sebagai berikLW

a Pernbawaan
Basil pendidikan
 Lingkungan

Menurut teori konvergensi pendidikan pada dasarnya: a.


Pendidikan mungkin diiaksanakan.
h. Pendidikan diartikan sebagai pertoIongan yang diberikan lingkungan pada
anak didik untuk mengen-ibangkan potensi yang baik dan mencegah
berkembangnya patens! yang buruk.
c. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pernbawaa.n dan lingkung -
an.
Pemikiran konvergensi pada umumnya diterima secara lugs sebagai
pandangan yang tepat dalam memahami turnbuh kembang manusia.
Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor mana yang
paling menentukan tumbult kembang itu. Variasi-variasi itu tercermin antara
lain dalam perbedaan pandangan tentang strategi yang tepat untuk
mernaharni perilaku manusia, rnodeliteori mengajar, dan gagasan tentang
belajar rnengajar.

2. Pengaruh Pemikiran Klasik tentang Pendidikan


Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan di Indonesia
Pemikiran kiasik mulai dikenal di Indonesia rnelalui upaya pendi -
dikan, utamanya persekolahan dad penguasa penjajah Belanda dan di-
susul oleh orang Indonesia yang belajar di negeri Belanda pada masa

137
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

penjajahan. Setelah kemerdekaan Indonesia, gagasan dalam pemikiran


pendidikan itu masuk ke Indonesia_ Sebdurn mesa itu, pendidikan di
Indonesia terutarna oleh keivarga dan masyarakat (kelompok belajar]
padepokan, lembaga keagarnaani pesa.ntren dan lain lain).
Meskipun dalam hal-hal tertentu sangat diutamakan bakat dan po-
tensi lainnya dari anak (umpama pada bidang kesenian, keterampilan
tertentu, dan sebagainya), namun upaya penciptaan lingkungan untuk
mengembangkan bakat dan kernampuan itu diusahaka.n TVA secara
optimal, Dengan kata lain, meskipun peranan pandangan empirisme dan
nativisme [Mak sepenuhnya ditolak, tetapi penerirnaan itu dilakuka.n dengan
pendekatan eklektis fungsional, yakni diterirna sesuai dengan kebutuhan
namun ditempatkan dalam latar pandangan yang konvergensi.
Khusus dalam latar persekolahan, kini terdapat sejumlah pendapat
yang lebih menginginkan agar peserta didik lebih ditempatkan pada po-
sisi yang seharusnya, yakni sebagai manusia yang dapat dididik tetapi
juga dapat mendiclik dirinya sendiri. Hubungan pendidik dan peserta didik
seyogianya adalah hubungan yang setara antara dua pribadi, meskipun
yang satulebih berkembang dari yang lain (Raka Toni, 1983: 29 & Sub°
Lipu La Sul°, 1984). Hubungan kesetaraan dalam interaksi edukarif ter-
sebut seyogianya diarahkan rnenjadi suatu hubungan yang transaksional,
suatu hubungan antarpribadi yang memberi peluang baik peserta didik
yang belajar maupun pendidikan yang ikut belajar (co-learner). Dengan
demikian, cita-cita pendidikan seumur hidup diwujudkan rnelalui belajar
seumur hidup. Hubungan tersebut sesuai dengan asas Irng Ngarso Sung
Tulocio, fug Madya Mangign Karso, dan Tut Wad Handa-yani, serta
pendekatan. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dalam kegiatan belajar
mengajar. Dalam UURI No, 20 Tahun 2003 tentang Sisdik.nas, peran pe-
serta didik dalam rnengembangkan bakat, minat, dan kernampuannya itu
telah di akui d a n dilindungi,

B . P E M IK I R A N B A R U
Beherapa dari pernikiran ham tersebut rnernusatkan did pada per-
baikan dari peningkatan kualitas kegiatan belajar n -tengajar pada sistern
persekolahan, seperti pengajaran akin sekitar, pengajaran pusat perhatian,
sekolah kerja, pengajaran proyek,hoine schooling, sekolah clam, dan
pendidikan berasrarna (boarding school) (Sup arian, 1984 & Soejono,
1959). Pemikiran barn itu uniumnya telah rnemberi kontribusi secara
bervariasi terhadap penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di sekolah
sekarang ini,

138 ■
BAB 7 D.. Bebecapa Perriikiran tentanz Pffididiken

1. Pengajaran Alam Sekitar


Pemikiran pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya
adalah pemikiran pengajaran alant sekitar. Perintis gerakan ini antara lain:
FR. A. Finger (1808-1888) di lerman dengan Heimatkunde (pengaja ran
alam sekitar) dan I. Lingthart (1959-1916) di BeIanda dengan Het
Volleleven (kehidupan senyatanya). Beberapa prinsip dad pemikiran Ilei-
maticundeyaitu:
a. Dengan pengajaran alam sekitar ini guru dapat memperagakan secara
Langsung.
b, Pengajaran alarrE sekitar rnernberikan kesernpatan sebanyak-banyaknya
agar anak aktif
c Pengajaran dam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran
totalitas. Suatu bentui pengajaran dengan ciri-ciri dalam gads besarnya
sebagai berikut:
1) Suatu pengajaran yang tidak mengenal pembagian mata pel-
ajaran dalarn daftar pertgajaran, tetapi guru rnemaharni tujuan
pengajaran dan mengarahkan usahanya mencapai tujuan.
2) Suatu pengajaran menarik miiiat, karena segala sesuatu dipusatkan
atas suatu bahan pengajaran yang menarik perhatian anak dan
diambil dari al am sekitarnva.
3) Suatu pengajaran yang mem ungkinkan segala bahan pengajaran itu
berhubungan satu sarna lain seerat-eratnya secara teratur.
d. Pengajaran alam sekitar memberi kepacla anak bahan apersepsi in-
telektual yang kukuh dan tidak verbalitas. Yang dimaksud dengan
apersepsi intelektua] ialah segala sesuatu yang ban] dan masuk di dakm
intelek anak, harus dapat luluh menjadi satu dengan kekayaan
pengetahuan yang sudah dimiliki anak_. Harus terladi proses asimilasi
antara pengetahuan dengan yang bare_
e. Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karena alarm
sekitar me mpunyai ikatan emosional dengan anak.
J. Lingthart mengemukakan pandangan dala.rn Het Vol le Leven sebagai
berikut:
a. Ariak harus mengetahui bara.ngrtya terlehih dahulu sebelum mendengar
narnanya, tidak kebalikannya, sebab kata itu hanya suatu tanda clari
pengertian tentang barang itu,
b. Pengajaran sesungguhnya itu harus mendasari pengajaran selanjutnya,
atau mata pelajaran yang lain harus dipusatkan atas itu.,
c. Harus lah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya ke semua

139
DASAR-DASAR ILMU FENDIIDIKAN

jurusan agar murid paham akan hubungan antara berbagai lapangan


dalam hidupnya (Pengajaran Alarn Sekitar),
Pokok-pokok pendapat pengajaran alam sekitar tersebut telah hanyak
dilakukan di sekolah, baik dengan peragaan, penggunaan bahan
lokal dalarn pengajaran, dan Seperti telah dikernukakan bahwa
beberapa tahun terakhir ini telah ditetapkan adanya muatan lokal dalam
kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar. Dengan muatan lokal
tersebut, diharapkan anak makin dekat dengan alarn dan masyarakat
lingkungannya. Di sainping alam sekitar sebagai isi bahan ajaran, alam
sekitar juga menjadi kajian ern p irik mei& ui percobaan, studi banding, dan
sebagairtya. Dengan mernanfaatkan alarn sekitar sebagai sumber belajar,
anak akan lebih men ghargai, mencintai, dan melestarikan lingkungannya.
Langkah-langkah pokok pengajaran alarn sekitar:
a_ Menetapkan tujuan, yang harus diperhatikan ialah kemarnpuan dan
tingkat perkeinbangan anak. Penetapan tujuan ini sekaligus dikait-
kan dengan objek yang akan diarnati. Penetapan objek yang akan
dianiati didasarkan atas prinsip konsentris, yaitu dimulai dari yang
paling dekat, makin lama makin menjauh dan makin meitias.
h. Persiapan perlu dilakukan, baik persiapan guru rnaupun persiapan
murid_ Persiapan guru untuk melancatkan proses peninjauan dan
pengainatan objek yang telah ditetapkan serta pengolahannya, se-
dangkan persiapan untuk murid dimaksudkan agar mereka memili ki
kesiapan mental (antara lain tahu tujuan dan memiliki dorongan kuat
untuk melakukan pen.injauan, tahu kegiatan apa yang akan dila-
kukan)
c. Jika langkah persiapan telah ditangani dengan baik, pelaksanaan
pengamatan biasanya dapat berjalan dengan lancar. Hal-hal khusus
yang ditemukan di lapangan menjadi tanggung jawab guru untuk
menanganinya sehingga hal itu tidak merigganggu kelancaran kegiatan
dan bahkan membantu memperkaya pengajaran yang sedang dijalankan
itu.
d. Langkah pengolahan tidak harus dliakukan di luar proses kegiatan
pengainatan itu sendiri, Biasanya sambil mengamati anak-anak sudah
langsung belajar atau bahkan menangkap berbagai permasalahan dui
berbagai objek pengamatan itu.
Keuntungan dari pengajaran alain sekitar adalah:
Pengajaran ini menentang verbalisrne dan intelektualisme. Anak-
anak selalu didorong dan dirangsang untuk tidak hanya mengha -
pal kata-kata, melainkan memiliki pengertian yang didukung oleh

140 111
BAB 7 D.. Beberapa Pernikiran tentang Pffid Aiken

kenyataan yang terdapat di lingkungannya.


b_ Ohjek alam sekitar akan dapat mernbangkitkan perhatian spontan dari
anak-anak yang akan mendorongnya melakukan kegiatan dengan
sepenuh hati.
c. Anak-anak selaiu didorong untuk aktif clan kreatif. Hal ini sesuai dengan
kodrat alam anak-anak, yaitu untuk selalu aktif (Warn rangka
tnengernbangkan dirinya„
liahan-bahan yang diajarkan dapat menipunyai nilai praktis bagi
anak-anak mereka, yang dipelajari adalah yang mereka jumpai sehari-
hari dan merniliki ke man faatanla.ngsung dalam hidupnya.
e_ Anak-anak dija.dikan subjek bagi alam sekitarnya., Dengan pengajaran
alam sekitar anak-anak didorong dan dirangsang untuk mengenal,
mengerti, rnencintai, memelihara, dan rnengemhangkan alam sekitarnya
itu. Dalarn hal ini keterpaduan antara kema.mpua.n pikir, rasa, tindakan,
keterampilan, dan kesadaran ekologi dapat dikernbangkan langsung
dalam kaitannya dengan kehidupan anaksecara nyata.

a. Pengembangan Pengajaran Alam Sekitar


Salah seorang tokoh alain sekitar ialah J. Lingthart (1859-1916), se-
°rang pendidikan hangsa Belanda. Pengajaran gam sekitar ini di-
narnakan "Pengajaran barang sesungguhrtya." I. Lingthart menekankan
bahwa di dalam pelaksanaan pengajaran yang sangat penting ialah sua-
sananya, yaitu ketulus-ikhlasan, kasih ayang, persaudaraan, dan kepur-
cayaan. Pengajaran alam sekitar selanjutnya menjadi benih bagi berkem-
bangnya pengajaran pusat perhatian, sekolah kerja, dan pengajaran
proyek.

2. Pengajaran Pusat Perhatian


Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Oviderninat Decroly (1871-
l932) ciati l elgia. Dengan pengajaran rneialui pusat mina (Centres Win-
terest). Pendiclikan menurut Decroly berdasarkan pada semboyan: Ecoie
pour la vie, par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup). Anak harus
dididik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalarn
masyarakat, anak harus diarahkan kepada pembentukan individu dan
anggota masyarakat. Oleh karena itu, anak harus mernpunyai pengeta-
huan terhadap diri sendiri (tentang hasrat dan cita-cita) clan pengetahuan
tentang dunianya (lingkungannya, ternpat hidup di hari depannya).
Menurut Decroly dunia ini terdiri dari alam clan kebudayaan. Dan dunia
harus hidup dan mengembangkan kemanipuannya untuk rnencapai ci-

141
DASAR-DASA R. ILIvtil PE NDIIDIK AN

to-cita.. Oleh karena itu, is harus mernpunyai pengetalluan alas dirinya


sendiri dan dunianya, Pengetahuan anak harus bersifat subjektif dan
objektif.
Dari penelitian secara tekun., Decroly menyumbanglan dua penda-
pat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yang
merupakan dua hal yang lams dari Deer*, yaitu:
a. Metode global (keseluruhan). Dari hasil yang didapat dari observasi
dan tes, dapatlah is rnenetapkan bahwa anak-anak menga.mati dan
mengingat secara global (keseluruhan). Tadi, ini berclasarkan alas
prinsip psikologi Gestalt. Dalam mengajarkan membaca dan
nienulis, ternyata dengan kalimat lebih mudah daripada mengajar-
kan kata-kata lepas. Adapun kata lebih mudah diajarkan daripada
hurul-huruf secara tersendid. Metode ini bersifat video visual, sebab
arti suatu kata yang diajarkan itu selalu diasosiasikan dengan tanda
(tulisan), atau gambar yang dapat dilihat.
b. Centre d'interest (pusat-pusat rninat). Dad penyelidikan psikologik, is
menetapkan bahwa anak-anak mempunyai minat yang spontan
(sewajarnya), Pengajaran harus disesuaikan dengan rninat-minat
spontan tersebut. Sebab Apabila tidak, misalnya minat yang ditim-
bulkan oleh guru, maka pengajaran itu, tidak akan banyak hasilnya,
Anak mempunyai minat spontan terhadap did sendiri clan terhadap
diri sendiri itu dapat dibedakan. menjadi: (a) dorongan memperta-
hankan diri; (b) dorongan niencari makan dan minurn; dan (c)
dorongan memelihara diri. Adapun minat terhadap masyarakat (bin-
sosial) ialah: (a) dorongan sibuk bermain-main; dan b) dorongan me-
niru orang, Dorongan-dorongan inilah yang digunakan sebagai pusat
minat. Adapun pendidikan dan pengajaran harus selalu dihubung-
kan dengan pusat-pusat minat tersebut.

Asas -asas Pengajaran Pusat Perhatian


Asas-asas tertentu yang tarnpaknya lebih menonjol dalam
kaitannya dengan pengajaran pusat perhatian, yaitu:
a. Pengajaran ini didasarkan atas kebutuhan anak dalam hidup dan
perkembangannya,
b. Setiap bahan pengajaran haws rnertipakan suatu keseluruhan (tota-
litas), tidak rneinentingkan bagian tetapi niementingkan
keberartian dari keseluruhan ikatan bagian itu. Raglan hanya ada
dan dibahas untuk menciptakan suatu keseluruhan yang berarti.
c. Hubungan keseluruhan antara bagian itu adalah hubungan simbio-

142 ■
BAB 7 D.. Be becapa Perriikiran tentanz Pffididiken

sis, yaitu huhungan saling hutuh membutuhkan, sating hidup meng-


hidupi, saling tergantung, dan saling memberi &b. Misalnya dalarn
pengajaran tentangpadi harus dibicarakan juga tentang lahan sawah dan
pengolahannya, musirn, pupuk, adat istiadat menanam padi clan panen,
kebutuhan penduduk akan beras, pengolahan beras menjadi berbagai
makanan dan sebagainya,
d. Anak didorong dan dirangsang untuk selalu aktif dan dididik untuk
nlenjadi anggota rnasyarakat yang dapat berdiri sendiri dan bertanggung
jawab,
e. Harus ada hub u ngan kerja sama yang era' antara rumandan sekolah.
Demikian juga hendaknya derigan keseluruhan warga dan lembaga
yang ada di masyarakat,

3. Sekolah Kerja
Pernikiran sekolah kerja dapat dipandang sebagai titik kulminasi dari
pandangan-pandangan yang mementingkan pendidikan keterampilan
dalarn pendidikan. J.A. Comenius (1592-1670) menekankan agar
pendidikan mengerribangkan: pikiran, ingatan, Bahasa, dan tangan (ke-
terampilan kerja tangan). J.H. Pestalozzi (1746-1827) mengajarkan ber-
hagai mata pelajaran pertukangan di sekolahnya. Nan -tun yang sering
dipandang sebagai B a p ak Sekolah Kerja adalah G, Kereschensteiner
(16541932), dengan Atheitesschule (Sekolah Kerja) di Jerman. Sekolah
kerja ini bertoIak dari pandangan bahwa pendidikan itu tidak hanya demi
kepentingan individu tetapi berkewajiban rnenyiapkan warp negara yang
baik, yakni; (1) tiap orang adalah pekerja dalam salah satu lapangan
jabatan, (2) tiap orang wajih menyumbangkan tenaganya untuk
kepentingan negara; dan f3) dalam menunaikan kedua tugas tersebut
haruslah selalu diusahakan kesempurnaannya, agar dengan jalan itu tiap
warga negara ikut membantu mernpertinggi dan menyernpurnakan
kesusilaan dan keselamatan negara.

Tujuan Sekolah Kerja


Menurut G. Kereschensteiner, tujuan sekolah kerja yaitu: a.
Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang didapat dari
buku atau orang lain, dan yang didapat dari pengalaman sendiri. b,
Agar anak dapat memiliki kernampuan clan keniahiran tertentu,
c. Agar anak dapat mernitild pekerjaan sebagai persiap an jabatan dalarn
mengabdi negara.

111 143
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

Kereschensteiner berpendapat, bahwa kewatiban utama sekolah


adalah mempersiapkan anak-anak untuk dapat bekerja, Karena banyaknva
macam pekerjaan yang menjadi pusat pelajaran, inaka dibagi menjadi tiga
golongan besar:
a, Sekola.b-sekolah perindustrian (tukang cukur, tukang becak, tukang kayu,
tukang daging, masihis, dan lain lain),
b. Sekolah-sekolah perdagangan (makanan, pakaian, bank, asuransi,
mernegang huku, potselen, pilau, dan Bunting dari best, clan lain-
lain).
c. Sekolah-sekolah rumah tangga, bertujuan mendidik para talon ibu yang
diharapkan akan rnenghasilkari warp negara yang baik.
Segala pekerjaan itu dilaksanakan di sekolah sehingga sekolah mem-
punyai slat-slat lengkap dan ternpat yang cukup: dapur, laboratorium, kebtin
sekolah, tempat bertukang, dan sebagainya.
Pengikut G. Kereschensteiner antara lain: Leo de Pasue, seorang
Dirjen pengajaran normal di Belgia, yang mendirikan sekolah kerja di
negaranya. Ia merribuka lima sekolah kerja. yaitu: (1) sekolah teknik ke-
rajinan, (2) sekolah dagang, (3) sekolah pertanian bagi anak laki-laki, (4)
sekolah rumah tangga kota, dari (5) sekolah rumah tangga desa. Kedua
yang terakhir ini khusus untuk para gadis dan dapat berha.sil bail, Ad a
pun sekolah-sekolah bentuk lainnya bersifat intelektualisrik.
Gagasan sekolah kerja sangat rnendorong berkembangnya sekolah
kejuruan di setiap negara termasuk di Indonesia. Peranan sekolah keju-
ruan pada tingkat nienengah merupakan tukang punggung penyiapan
tenaga terampil yang diperlukan oleh negara-negara yang sedang mem-
bangun seperti Indonesia_ Pendidikan keterarnpilan itu sangat diperlu -
kan oleh setiap orang yang akan memasuki lapangan kerja. Oleh karena
dalam rangka wajib belajar 9 tahun di Indonesia akan dikembangkan
pula paket program yang mernberi peluang Iulusannya untu k memasuki
lapangan kerja, dengan tidak inengabaikan pendidikan umum yang akan
rnelanjutkan ke SLTA. Di camping pengaruh sekolah kerja di program
pendidikan jalur sekolah, pengaruh terbesar gagasan ini adalah pada jalur
pendidikan 'Liar sekolah (seperti kursus, balai Lathan kerja, dan sebagai-
nya).
Dasar-dasar sekolah kerja:
a. Di dalam sekolah kerja anak aktif berbuat, menganiati sendiri, men-earl
jalan sendiri, memikirkan dan memecahkan sendiri setiap persoal a n
yang dihadapi.
b. Pusat kegiatan pendidikan dan pengajaran ialah anak, bukan guru,
metode ataupun bahan pelajaran.

144 ■
BAB 7 D.. Bebecap Pernikiran tentanz Pffididiken

c. Sekolah kerja mendidik anak menjadi pribadi yang berani berdiri


Sendiri dan bertanggung jawab sebagai anggota masyarakat yang
baik.
d. Bahan pelajaran disusun dalam suatu keseluruhan (totalitas) yang
betpusat pada rnasalah kehidupan. Masalah-masalah kehidupan
ini haruslah erat hubungannya dengan minas dan perhatian anak,
e. Sekolah kerja tidak mementingkan pengetahuan sikap yang bersi-
fat hafalan atau hasil peniruan, tetapi pengetahuan fungsional yang
dapat digunakan untuk berprakarsa, mencipta, dan berbuat.
f. Pendidikan kecerdasan tidak( dapat diberikart dengan memberita-
hukan atau rnenceritakannya kepada anak, tetapi anak sendiri
yang harus menjalani proses berpikir sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.
g. Sekolah kerja merupakan suatu bentuk masyarakat kecil yang di da-
1amnya anak-anak mendapatkan latihan dan pengalaman yang sa-
ngat penting artinya bagi pendidikan moral, sosial, dan kecerdasan.
Macam-macam sekolah kerja:
a. Sekolah kerja sosiologis digerakkan oleh G. Kereschensteiner (1854-
1932), bangsa Jerman. Tokoh irti 'that cenderung pada pemikiran
pendidikan sosiaJ ekstrem yang berpendapat bahwa masyarakatlah
yang primer. Negara yang merupakan bentuk masyarakat yang ter-
Unggi harus diutamakan. Tugas pendidikan adalah memimpin anak
menjadi warga negara yang baik. Penekanan khusus ini menyebab-
kan sekolah. Kereschensteiner ini diberi sifat sebagai pendidikan
kewarganegaraan. Sekolah ini mempersiapkan anak menjadi
vtrarga negara melalui latihan bekerja dengan pertirnbangan
sebagai berikut:
1) Tiap orang adalah pekerja dalam salah sate Iapangan
pekerjaan atau jawatan negara,
2) Tiap orang wajib menyumbangkan tenaganya untuk
kepentingan negara.
3) Dalarn menunaikan kedua tugas tersebut, tiap warga negara
harus ikut niembantu mempertinggi dan inenyempurnakan ke-
susilaan clan. keselamatan negara.
b. Sekolah kerja yang didasarkan atas konsepsi O. Decroly dinamakan
sekolah kerja psikologis karena menekankan perkembangan anak
didik. Segala kegiatan anak melalui proses. pengajarant yang alif dan
kreatif itu harus ditujukan untuk rnemungkinkan perkembangan
kejiwaan anak secara mantap dan sepenuhnya. Bahan pelajaran di-
tentukan berdasarkan pusat perhatian anak.

145
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

c. John Dewey tnengikuti pemikiran pendidikan social modern yang


nienekankan secara seirnbang peranan individu clan tnasyarakat.
Oleh karena itu, sekolah kerja yang didasarkan atas konsepsinya itu
disebut sekolah kerja sosiologis-psikologis. Dalam sekolah kerja ini
harus diciptakan suasana yang mernungkirikan anak dapat beker-
ja secara bebas dan spontan sehingga perkembangan pribadi anak dapat
berlangsung dengan baik. Pada segi lain, sekolah tidak boleh hanya
mernentingkan pendidikan kecerdasan, tetapi juga pendidikan
kemasyarakamn dan kesusilaan.
d. Sekolah kerja yang dipelopori oleh H. Gaudig (1890.1923), bangsa
Jerman, Lebih menekankan pengemba.ngan kepribadian anak_
Diva kirti bahwa manusia bukan hanya seorang warga negara, melainkan
juga makhluk Tuhan, anggota masyarakat dan seorang individu yang
betkepribadian. Dalarn hubungan irti akan waiib diberi pendidikan
ketuhanan, kesosialan, dan kesusilaan sehingga perkembangan ke-
pribadian anak menjadi lengkap dan harmonis. Dengan ciri-ciri khusus
ini, sekolah Gaudig dinarnakan sekolah kerja kepribadian. Di
sarnping itu juga ditekankan bahwa sekolah kerja jangan sampal menjadi
sekolah yak (kejuruan) narnun harus tetap sekolah umum yang men ggu
n a ka n bekerja sebagai b entuk pengajaran.

4. Pengajaran Proyek
Dasar filosofis dan pedagogic dari pengajaran proyek diletakkan oleh
John Dewey (18594952), namun pelaksanaannya dilakukan oleh pe-
ngikutnya, yaitu W.H. Kilpatrick. again pengajaran proyek, anak bebas
menentukan pilihannya (terhadap pekerjaan), rnerancan& .serta rnernim-
pinnya. Proyek yang ditentukan olelt anak, mendorongnya mencari jalan
pemecahan bila is menernui kesukaran. Anak dengan sendirinya giat dan
aktif karena sesuai dengan alga yang diinginkannya_ Proyek itulah yang
menyebabkan mats pelajaran-rata pelajaran itu tidak terpisah antara yang satu
dengan yang lain. Pengajaran berkisar di sekitar pusat-pusat minat
sewajatnya. Menurut Dewey yang menjadi kompleks pokok ialeh:
pertukangan kayu, memasak, dan menenun. Mata pelajaran seperti
nulls, membaca, dan berhitung serta bahasa, tidak ada sebab sentua itu
berjalan dengan sendirinya pada waktu anak-anak melaksanakan proyek itu.
Anak tidak boleh dipisahkan dari pengajaran bahasa ibu, sebab bahasa
ibu merupakan slat pernyataan pengalaman dan perasaan anak-anak. Dalam
pengajaran proyek, pekerjaan dikerjakan Necara berkelornpok untuk
rnenghidupkan rasa gotong royong. Juga dalain bekerja sarna itu akan

146 ■
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentanz Pffididiken

lahir sifat-sifat baik pads diri anak seperti: saingan secara sportif, bebas
rnenyatakan. peridapat, dan disiplin yang sewajarnya. Sifat-sifat manusia
tersebut sangat cliperlukan dalarn masyarakat lugs yang kapitalistik dan
dernokratis.
Pengajaran proyek blasa pula digunakan sebagai salah satu metode
mengajar di Indonesia, antara lain dengan nama pengajaran provek,
pengajaran unit dan sebagainya. Yang perlu ditekankan bahwa pengajar-
an proyek akan menurnbuhkan kernampuan untuk memandang dan
memecahkan persoalan secara komprehensif, Dengan kata lain, rnenum-
buhkan kemampuan memecahkan masalali secara multidisiplin. Pende-
katan muitidisiplin tersebut makin lama makin penting, utamanya dalarn
masyarakat yang maju,
Langkah-langkah pokok pengajaran proyek:
a, Perskpan. Langkah ini ialah penetapan rnasalah yang akan dibahas.
Dalam hal ini guru merangsang anak-anak agar mereka dapat me-
mikirkan, mengusulkan, clan mendiskusikan apa yang perlu mereka
pelajari. SeteLail masalah itu ditetapkan persiapan lebih lanjut dila-
kukan, seperti menetapkan jenis kegiatan yang akan dilakukan, siapa
yang akan rnelakukan kegiatan itu, peralatan yang diperlukan, jadwal
kegiatan. Persjapan ini perlu disusun dalam bentuk rencana nyata,
lengkap dan jelas sangkut paut kegiatan yang sans dengan yang lain-
nya. Daiam menyusun persiapan ini perlu dipraktikkan metode ilnijah
yang berupa penyusunan hipotesis dan pengajuan aiternatif.
b. Kegiatan beialar. Kegiatan ini pada dasarnva merupakan pelaksanaan
clan rencana yang telah disiapkan terdahulu itu. Kegiatan dapat
diawali denganperjalanan sekolah, karya.wisata, peninjauan atau
pengamatan suatu objek, membaca buku, majalah, dan membuat
catatan tentang apa yang diarna.ti daniatau dibaca itu. Berdasarkan
hasil kegiatan seperti diskusi, membuat karan.gan, menyusun model,
menjawab pertanyaan, menyusun diagram, dan mernbuat laporan.
Kegiatan belajar ini pada dasarnya merupakan usaha mencari ja-
waban atas pertanyaan atau hipotesis yang telah clikernukakan ter-
ciahulu.
c. Penilaian. bentuk penilaian yang sering dilakukan ialah dengan
mengadakan parneran, Sernua hasil kegiatan yang dilakukan oleh
anak-anak (misalnya gambar, karangan, laporan, model) dipamerkan.
Se'until warp kelas memperhatikan apa yang dipamerkan itu, mem b
e rjkan tanggapan, kritik, menambah hal-hal yang dirasa [nasal
kurang clan sebagainya. Pada akhir kegiatan suatu proyek (dan juga
selama kegiatan proyek berlangsung) anak-anak diminta membuat

147
DASAR-DASA R. ILIvtil PE NDIIDIK AN

eatatan pada buku proyeknya masihg-rnasing. Buku proyek ini her-


sifat perorangan sehingga ben tuk dan isi buku proyek anak yang
satu dengan yang iainn.ya berbeda.

5. Home Schooling
Dalarn bahasa Indonesia, terjernahan dari homeschooling adalah
"sekolah rumah". Istilah MI dip akai secara resmi oleh Kenienterian
Pendidikan chin Kehudayaan untuk menyebutkan horrw.c.choo/ing. Selain
sekolah rumah, homeschooling terkadang diterjemahkan dengan istilah
sekolah rnandiri. Homeschoolingmerupakan model pendidikan alternatif
selain di sekolah.
Pengertian umum homeschooling adalah model pendidikan di mans
suatu keluarga memilih untuk bertanggung jawab sendiri atas pendidikan
anak-anaknya dan rnendidik anaknya dengan menggunakan rumah sebagai
basis pendidikannya., Orangtua bertanggung jawab secara aktif atas
proses pendidikan anaknya. Bertanggung jawab secara aktif di sini adalah
keterlihatan penuh orangtua pada proses penyelenggaraan pendidikan,
mulai dalam hal penentuan a.rah dan tujuan pendidikan, (va-
lues) yang ingin dikembangkan, kecerdasan dan keterarnpilan yang
hendak diraih, kurik_ulurn dan materi pemhelajarari hingga metode
belajar serta praktik belajar keseharian anak (Sumardiono, 2007),
Lima syarat yang harus dirniliki orangtua yang ingin menjaiankan
horneschoofirtg, yaitu mencintai anak-anak, kreatif, bersahahat dengan
anak, inernaharni anak-anak, dan memiliki kemauan untuk mengetahui
standar kornpetensi dari standar isi kurikulurn nasionai.
Pada hakikatnya, haik home schooling maupun sekolah umum, sam a-sa
m a se bagai suatu sarana untuk mengantarkan anak-anak mencapai tujuan
pendidikan seperti yang diharapkan. Akan tetapi, home schooling Ban
sekolah juga mernitiki heherapa perhedaan. Pada sister sekolah, tanggung
jawab pendidikan anak didelegasikan orangtua kepada guru dan pengelo la
sekolah. Pada home SCI200iing tanggung jawab pendidikan anak
sepenuhnya berad a di tangan orangtua. S is tern di sekolah terstandardisasi
untuk memenuhi kebutuhan anak secara umum, sementara sis tern pada
home schooling disesuaikan dengan kebutuhan anak dan kondisi keluarga.
Pada sekolah, jadwal belajar telah ditentukan dan seragam urituk seluruh
siswa. Pada home schooling jadwal belajar fleksibel, tergantung pada
kesepakatan antara anak dan orangtua. Pengelolaan di sekolah terpusat,
seperti pengaturan dan penentuan kurikulurn dan mated ajar. Pengelolaan
pada home schooling terdesentralisasi pada keinginan kelu-

148 ■
BAB 7 D.. Beberapa Peniikiran tentanz Pffididiken

arga home schooling KurikuIum dan rnateri ajar dipilih dan ditentukan oleh
orangtua (SimboIon, 2007),
Dapat disimpulkan, bahwa home schooling merupakan pendidikan
alternatif, di mana orangtua berperan secara aktif dan bertanggung jawab
dalarn penyelenggaraan pendidikan a.naknya dengan menggunakan rumah
sebagai basis pendidikannya dan anak dap at belajar dengan berbagai situasi,
kondisi, lingkungan sosial yang terus berkembang. Proses perilbelajaran
home schooling bersifat fleksibei, baik dad segi waktu rnaupun keinginan
anak untuk belajar sesual dengan rninat dan potensinya secara mandiri dan
disiplin.

6. Sekolah Alarn
Sekolah alam pada dasarnya adalah bentuk pendidikan alternatif
yang menggunakan alam semesta sebagai tempat belajar, hahan meng-
ajar dan juga sebagai objek pernbelajaran. Dengan konsep pendidikan
ini pars siswa diharapkan bisa belajar dad alam lingkungan sekitar dan
mengaitkan pelajaran serta menerapkan ilmu yang didapat dengan ke-
hidupan nyata sehari-hari.
Bangunan tern pat anak belajar di sekolah akin biasanya terbuat dari
Kahan yang rarnah lingkungan seperti bambu dan kayo lokal. Para siswa
biasanya duduk di Iantai (Iesehan) atau duduk di kursi yang terbuat dari
bambu atau kayo. Jalan setapak di sekitar tempat belajar pun biasanya
menggunakan hate-batu kali dad alam.
Kelas yang digunakan tidak tertutup seperti kelas di sekolah fornal,
tetapi berupa saung atau ruang belajar terbuka. Itu pun tidak terlaiu sering
digunakan, karena anak didik sekolah alam lebih sering rnelakukan
praktik di lapangan. Situasi belajar di alam terbuka menawarkan siswa
untuk menghirup udara segar sambil menikrnati keindahan alam sekitar.
Konsep belajar melalui pengalaman yang didapat langsung sambil bet-
main dan berinteraksi di alam terbuka ini jelas merribuat anak tidak mu-
dab bosan saat belajar. Para siswa sekolah alam juga tidak mengenakan
seragam sekolah sehagaimana Iayaknya siswa di sekolah limurn. Siswa
hanya dituntut untuk berpakaian bersih dan sesuai untuk kegiatan belajar
di sekolah.
Hal ini tentu raja berbeda hill dihandingkan dengan ruang belajar di
sekolah formal, Pada umurrinya kegiatan belajar mengajar di sekolah
umum dilakukan di dalam ruang belajar atau kelas tertutup. Anak lebih
hanyak mendapat teOri pelajaran dan sedikit praktik di lapangan. Situasi
dan kondisi belajar mengajar di ruang yang merniliki empat dinding
memberikan kesan yang kaku.

149
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Konsep pendidikan alternatif di alam terbuka menjadikan para siswa


dan guru sekolah alarn lebikr aktif, bersernangat, dan kegiatan belajar
mengajar menjadi lebih menyenangkan. Para siswa sekolah alarn diajar-
kan untuk dekat dengan alam, bercocok tanarn, membudiclayakan dan
rnendatir ulang hasil aJarn, ittulai dari menanarn tanarnan sendiri,
m.enuai hasilnva, rnemakan makanan organik dari kebun sendiri, dan
diajarkan cars mengolah atau memproduksi makanan itu sendiri menjadi
suaru bisnis.
Misalnya sm.( anak belajar mengenai berbagai fungsi dan bagian dari
tanarnan. Di sekolah alam, anak-anak dapat melakukan percobaan,
rnengarna.ti, ntendiskusikan, dan rnenyirnpulkan sendiri basil penelitian yang
mereka lakukan.
Mempelajari alam semesta dengan mengalami langsung pengetahuan.
yang sedang dipeiajari rnerangsang kreativitas siswa, Kebebasan untuk
menggunakan logika dalarn berpikir inilah yang memacu motivasi siswa
untuk bergairah mencari ilmu. Dengan merniliki pengetahuan mengenai
alarn para siswa sekolah alam. diharapkan mericintai alam sernesta dan
turut bertanggung jawab menjaga kelanjutan di muka bumi. Sekolah alam,
tidak sekadar rnengajarkan ilmu yang berkaitan dengan alum raja, tetapi
juga pelajaran-pelajaran dusar seperti maternatika, ilmmu pengetahuan
alam, dan bahasa Inggris. Pelajaran seni budaya seperti seni lukis,
drama, dan musik juga di p e rhenalkan di sekolah alam.
Ada beberapa level kelas tersedia di sekolah alarm mulai dari pra ta-
man kanak-kanak sampai SMP. Kurikulum sekolah yang digunakan ada-
lah kurikulum Depdiknas (Departemen Pendidikan Nasional) dan kurikulum
interna.sional, Kedua kurikulum ini rnasih ditarnbah kurikulurn akhlak
yang berperan penting dalarn pembentukan karakter anak.
Konsep pendidikan alternatif ini mulai berkembang di seluruh Nu-
santura terbukti dengan menjumurnya sekolah alam di kota-kota besar
Indonesia. Meski Dian b erkenn b an g, biaya trienyekolah.kan anak di
sekolah alarn masih relatif mahal. biaya masuk sekolah umumnya berkisar
inulai dari 1 sampai 11 juta rupiah, Sementara SPP per bulannya berkisar
mulai dari 300 ribu rupiah sarnpai 1 juta rupiah. Hal ini sebenarnya tidaklah
mengherankan karena metode pembelajaran yang ditalArark.an di sekolah
alum bila 1ihhat dari sisi rnendasar lebih baik dari sekolah umurn,
Biava pendidikan sekolah alam yang mahal ini memang bukanlah untuk
serriva anak, terutama anak-anak yang memiliki orangtua dengan
penghasilan yang rendah, Tetapi jangan khawatir, karena ada beberapa
sekolah alum yang menawarkan beasiswa bagi pant siswanya sehingga
biaya mengenyam pendidikan di sekolah alarm menjadi tidak terlalu mahal.

150
BAB 7 D.. Beberapa Peniikiran tentanz Pffididiken

7. Pendidikan Berasrama (Boarding School)


a. Pengertian Boarding School
1) Boarding school terdiri clan dua kata, yaitu "boarding' dan "school".
Boarding berarti asrama, clan school berarti sekolah. Boarding school
adalah system sekolah berasrama, di mana peserta didik dan juga
pars guru dan pengelola sekolah tinggal di asrama yang berada dalam
lingkungan sekolah dalarn kurun waktu tertentu. Boarding School
adalah sekolab yang merniliki asrama, di mana para siswa hidup,
betajar secara total di lingkungan sekolah, Karena itu segala jenis ke-
butuhan hidup dari kebutuhan belajar disediakan oleh sekolah. Se-
kolah berasrama ini bisa juga kits rebut dengan pesantren.
2) Adapun secara umum, arti dari pendidikan (boarding school) se-
bagaimana tertulis dalam Word net bag.30 adalah "a private school
where students are lodged and fed as well as taught," artinya:
'sehualt sekolah swasta di rnana siswa chasramakan, diberi makan
sena diberi pelajaran."
3) Menurut Oxford Dictionary, "pendidikan kepesantrenan (boarding
school) is school where some or all pupil live during the term.' Anti-
"sekolah berasrama adalah lernbaga pendidikan yang mana se-
ba0an atau selurub siswanya belajar dan tinggal bersama selama
kegiatan pembelaja.ranu,

b. Faktor-faktor yang Memengaruhi Berkembangnya


Boarding School
Keberadaan boarding school adalah suatu konselcuensi logis dari
perubahan lingkungan sosial dan keadaan ekonomi serta cara pandang
religiuSitas rnasyarakat. Dijelaskan sebagai be rikut:
1. Lingkungan sosial yang kini telah banyak berubah, terutarna di kota-
kota besar. Sebagian besar penduduk tidaklagi tinggal dalam suasana
masyarakat yang humogen, kchiasaan lama bertempat tinggal dengan
keluarga besar satu klan atau marga telah lama bergeser ke arah
masyarakat yang heterogen, majemuk, dan plural. Hal inn herimbas
pada poly perilaku rnasyarakat yang berheda karena berg la dalam
pengaruh nilai-niiai yang berbeda pula, Oleh karena itu, sebagian
besar masyarakat yang terdidik dengan baik menganggap bahwa
lingkungan sosial seperti itu sudah titlak lagi kundusif hagi pertum-
buhan dan perkembangan intelektuai dan perkembangan anak,
2. Keadaan ekonomi tnasyarakat yang semakin membaik, mendorong
pernenuhan kehutuhan di atas kehutuhan dasar seperti kcsehatan

151
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

dan pendidikan. Bagi kalangan menengah-atas yang haru muncul


akibat tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi sehingga men-
dapatkan posisi-posisi yang baik dalam lapangan pekerjaan berimplikasi
pada tingginya penghasila.n mereka. Hal ini mendorong niat dan tekad
untuk mernberikan pendidikari yang terbaik bagi anakanak
meLebihi pendidikan yang telah diterima oleh orangtuanya.
3. Cara pandang religiositas masyarakat telah, sedang, dan akan terns
berubah. Kecendeningan terbaru masyarakat perkotaan sedang
bergerak ke arah yang semakin religius. Indikatornya adalah sernakin
diminati dan semaraknya kajian dan berhagai kegiatan keagamaan.
lvlodernitas membawa irnplikasi negatif dengan adanya ketidakse-
imbangan antara kebutuhan rohani dan jasmani. Untuk itu masyarakat
tidak ingin hal yang sama akan menimpa anak-anak mereka. [Minya,
ada keinginan untuk melahirkan generasi yang lebih agarnais atau
memiliki nilai-nilai hidup yang baik mendorong orangtua mencarikan
sistem pendidikan alternatif.

c. Jen s Boarding School


1. Menurut sistem bermukiin siswa:
al All boarding school seluruh siswa tinggal di a 5rarna kampus atau
sekolah,
b) Boarding day schoot mayoritas siswa tinggal di sekolah dan
sehagian lagi di lingkungan sekitar kampus atau gekolah,
c) Day boarding rnayoritas tidak tinggal di kampus meskipun ada
sebagian yang tetap tinggal di kampus atau sekolah.
2) Menu rut jcnis siswa:
a} Junior boarding school: Sekolah yang menerima murid dari
tingkat SD hingga SNIP, namun biasanya hanya SMP.
b) Co-educational scharik sekolah yang mencrima siswa laki-laki dan
perempuan,
c) Boys school: sekolah yang menerima siswa laki-laki saja.
d) Giri x.hool: ekolah yang menerima siswa perempuan saja.
e) Pre-professional arts school: sekolah khusus untuk seniman. 0
Relights school: sekolah yang kurikulumnya mengacu pada agarna
rertentu.
g) Special needs boarding school: Sekolah untuk anak-anak yang
bermasalah dengan sekolah biasa.

d. Keunggulan Boarding School


Banvak keunggulan yang terdapat dalam sistem pemondokan atau

152 111
BAB 7 D.. Beberapa Pernikiran tentanz Pffididiken

boarding school int. Dengan sistem pesantren atau mondok, seorang siswa
atau santri tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga afektif dan
psikomotor. Belajar afektif adalah mengisi otak siswa atau santri dengan
berbagai ilmu pengetahuan, dengan cara melatih kecerdasan anak.
Sementara menghadapi era modernisme seperti sekararig irti, otak siswa
tidak lagi cukup dengan dipenuhi ilmu pengetahuan, tetapi perlu kete-
rampilan dan kecerdasan merasa dan berhati nurani. ebah pada ke-
nyataannya, dalam menghadapi kehidupan, manusia menyelesaikan
masalah tidak cukup dengan kecerdasan intelektual, rnelainkan perlu
kecerdasan emosional (EQ. dan kecerdasan spiritual (SQ). lvIengajarkan
kecerdasan enact si on al clan spiritual tidak cukup dilakukan secara
kognitif, sebagaimana mengajarkan kecerdasan intelektual. Da.lain hal ini
diperlukan proses internalisasi dari berbagai pengertian yang ada dalam
rasio Ice dalarn had sanubari.
Salah sattt cara terbaik mengajarkan dunia afektif adalah peniberian
teladan dan contoh dari para pemimpin dan orang-orang yang berpengaruh
di sekitar anak, Dengan mengasrarnakan anak didik sepanjang 24 jam,
anak did lk tidak hanva mendapatkan pelajaran secara kognitit, tetapi
dapat menyaksikan langsung hagaimana perilaku ustaz, guru, dan orang-
orang yang mengajarkan mereka, Para siswa bisa menyaksikan langsung,
bahkan niengikuti imam, bagairnana cara shalat yang khusuk, misalnya,
lni sangat berbeda dengan pelajaran shalat, misalnya, yang tanpa disertai
contoh dan pengalarnan rnakmum kepada imam yang shalatnya khusuk.
Di samping itu, dengan sistem boarding school, para pimpinan pe-
santren dapat melatih psikomotorik anak lehlh optimal. Dengan otoritas dan
wibawa yang dirniliki., para guru marnpu rnengoptirnalkan psikornotorik
siswa, baik sekadar mempraktikkan berbagai mats pelajaran dalam hentuk
gerakan-gerakan rnotorik kasar maupun motorik lembut, maupun berbagai
gerakan demi kesehatan jiwa dan psikis anak,
Karena sistem boarding school mampu mengoptimalkan ranah kog-
nitif, afektif, dan psikomotor siswa, rnaka sistem pesantren frit rnemiliki
prasyarat agar para guru dan pengelola sekolah slap mewakafkan dirinya
selama 24 jam. Selama siang dal) rnalam ini, mereka melakukan proses
pendidikan, baik ilmu pen.getahuan maupun memberikan contoh bagai-
mana mengarnalkan berbagai ilmu yang diajarkari tersebut,
Kelebihan-kelehihan lain dari sistem ini adalah sistem boarding
[that menekankan pendidlkan kemandirian. Berusaha menghindari di-
kotomi keilmuan (ilrnu agama dan ilmu umum). Dengan pembelajaran
yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum diharapkan akan
rnembentuk kepribadian yang utuh setiap siswanya. Pelayanan pendi -

153
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

dikan dan bimbingan dengan sistern boarding school yang diupayakan


selarna 24 jam, akan dipernleh penjadwalan pembelajaran yang leblin le-
luasa dan menyeluruh, segala aktivitas siswa akan senantiasa terbimbing,
kedekatan antara guru dan siswa selalu terjaga, masalah kesiswaan akan
selalu diketahui dan segera terselesaikan, prinsip keteladanan guru akan
senantiasa diterapkan karena murid mengetahui setiap aktivitas guru se-
lama 24 jam.
Pembinaan mental siswa secara khusus mudah dilaksanakan, ucap-
an, peril aku, dan sikap siswa akan senantiasa terpantau, tradisi positif
para siswa dapat terseleksi secara wajar, terciptanya nilai nilai
kebersamaan dalam komunitas siswa, korn it men komunitas siswa
terha.dap tradisi yang positif dapat turnbuh secara leluasa, para siswa dan
guru-gurunya dapat saling berwasiat mengenai kesabaran, kebenaran,
kasih sayang, dan penanaman nilai nilai kejujuran, toleransi, tanggung
jawab, kepatuhan, dan kemandirian dapat terns-menerus diamati dan
dipa.ntau oleh para guru/ pembimbing.
Selain itu, ada juga beberapa keunggulan boarding school jika di
bandingkan dengan sekolah reguler, yaitu:
1) Program Pendidikan Paripurna
Umurnnya sekolah-sekolah reguler terkonsentrasi pada kegiatan.-
kegiatan akadernis, sehingga banvak aspek kehidupan anak yang
tidak tersentub. Hal ini terjadi karena keterbatasan waktu yang ada
claiam pengelolaan program pendidikan pada sekolah reguler,
Sebaliknya, sekolah berasrama dapat merancang program
pendidikan yang ko mprehensif-holistic dari program pendidikan
keagamaan, academic development, life skill (soft skill dan hard skill)
sampai rnernbangun wawasan global. Bahkan pembelajaran tidak
hanya sampat pada tataran teoretis, tapi juga implementasi baik
dalam konteks belajar ilmu ataupun belajar hidup.
2) Pasilitas lengkap
Sekolah berasrarna mempunyai fasilitas yang lengkap, mulai dad
fasilitas sekolah yaitu kelas belajar yang baik (AC, 24 siswa, smart
board, mini library, camera), laboratorium, klinik, dan sarana olahraga
semue cabang olahraga, perpustakaan, kebun, darn tarmac hi jau.
Sementara di asrama fasilitasnya adalah kamar (telepon, TV, AC,
pengering rambut, tempat handuk, karpet di seluruh ruangan, tern-
pat cud tangan, lemari kamar mandi, gantungan pakaian dan lemari
cud., area belajar pribadi, lernari es, detector kebakaran, jam dinding,
lampu meja, vermin hesar, rak-rak yang lugs, pintu darurat dengan
pintu otomatis). Mapun fasilitas dapur terdiri dari meja dan kur-

154 ■
BAB 7 D.. Bebecapa Perriikiran tentanz Pffididiken

si yang besar, perlengkapan makan dan pecah belah yang lengkap,


microwave, lernari es, ketel otomatis, pembuat roti sandwich dua
toaster listrik, tempat sampah, perlengkapan masak memasak lengkap,
dan kursi yang nya man,
3) Guru yang berkualitas
Sekolah-sekolah berasrama urnumnya rnenentukan persya ratan
kualitas guru yang lebih jika dibandingkan dengan sekolah konven-
sional. Kecerdasan inteiektual, social, spiritual, dan kemampuan
pedagogis-inetodologjs serta adanya roh rnwiarris pada setiap guru
di sekolah berasrama. Ditambah lagi kemampuan bahasa asing:
inggris, Arab, Mandarin, dari lain -lain_ Sampai seat ini dalarn pe-
nitaian saga sekolah-sekolah berasrama (boarding school) belum
mampu mengintegrasikan guru sekolah dengan guru asrama. Masih
terdapat dua kutub yang sangat ekstrem antara kegiatan pendidikan
dan kegiatan pengasuhan, Pendidikan dilakukan oleb guru sekolah
dan pengasuhan dilakukan oleh guru asrama.
4) I Angkungan yang kondusif
Dalam sekolah berasrama semua elernen yang ada dalam kompleks
sekolah terlibat dalam proses pendidikan. Aktornya tidak hanya guru
atau bisa dibaiik gurunya bukan hanya guru rata pelajaran, tapi sem
ua orang dewasa yang ada di boarding school adalah guru. Siswa
tidak bisa lagi diajarkan bahasa-bahasa langil, tapi siswa melihat
langsung praktik kehidupan dalam berbagai aspek, Guru tidak hanya
dilihatnya di dalam kelas, tapi juga kehidupan kesehariannya. Se-
hingga ketika Eta mengajarkan tertib bahasa asing, misalnya, maka
semuanya Mari muiai tukang sapu sampai principal berbahasa. asing.
Begitu juga dalam membangun religius society, maka semua eleinen
yang terlibat mengimplementasikan agarna secara baik.
5) Siswa yang heterogen
Sekolah berasrama mainpu menampung siswa dad berbagai latar
belakang yang tingkat heterogenitasnya tinggi, Siswa berasal Mari
berbagai daerah yang rnernpunyai latar belakang social, buda.ya,
tingkat kecerdasan, kemampuan akademik yang sangat beragam.
Kondisi ini sangat kondusif untuk membangun wawasan nasional
dan siswa terbiasa berinteraksi dengan ternan-ternannya yang ber-
beda, sehingga sangat baik bagi anak untuk melatih wisdom anak
dan menghargai pluralitas.
6) Jaminan keamanan
Sekolah berasrama berupaya secara total untuk menjaga keamanan
siswa-siswinya, Makanya, banyak sekolah asrama yang mengadopsi

155
DASAR-DASA R. Ill4I.J PE N DIDIKAN

poly pendidikan militer untuk menjaga keamanan siswa.-siswinya. Tata


tertib dibuat sangat rigid lengkap dengan sanksi-sanksi bagi
pelanggarnya. Daftar "dose di-iisr sedernikan rupa dari dosa kecil,
menengah, sampai berat. Jaminan keamanan diberikan sekolah
berasararna, rnulai dari jaminan kesehatan (ddak terkena penyakit
menular), tidak narkoba, terhindar dari pergaulan bebas, dan jaminan
keamanan iisik (tauran dan perpeloncoan), serta jaminan pengaruh
kejahatan dunia map,
7) Jaminan kualitas
Sekolah berasrama dengan program yang komprehensif-holistik,
fa.silitas yang lengkap, guru yang berkualitas, dan tingkungan yang
kondusif dan terkontrol, dapat memberikan jaminan Imams jika
dibandingkan dengan sekolah konvensional. Dalam sekolah berasrama,
pintar tidak pintarnya anak, baik dan tidak baiknya anak sangat
tergantung pada sekolah, karena 24 jam anak bersama sekolah. Hampir
dapat dipastikan tidak ada variabel lain yang "mengintervensi"
perkembangan dan progresivitas pendidikan anak, seperti pada se-
kolah konvensional yang masih dibantu oleli lembaga bimbingan
belajar, lembaga kursus, dan lain-lain. Sekolah-sekolah berasrama
dapat melakukan treatment individual, sehingga setiap siswa dapat
melejikan bakat dan potensi individunya.

e. Kelemahan Boarding School


Sampai saat ini sekolah-sekolah berasrama masih banyak merniliki
persoalan yang belum dapat diatasi, sehingga banyak sekolah berasrama layo
sebelurn berkernbang. Adapun faktor-faktornya sehagai herikut:
1) Ideo1ogi bvardingschoolyang tidak je1as.
Term ideology digunakan untuk menjelaskan tipologi atau corak
sekolah berasrama, apakah religius, nasionalis, atau nasionalis-
religius. Yang mengarnbil corak religius sangat beragam dari yang
funclamentaIis, moderat, sampai liberal. Masalahnya dalarn imple-
mentasi ideoluginya tidak dilakukan secara kaffah. Terlalu banyak
irri p rov is a si yang bias dan keluar dari pakem atau frame ideology te
rsebut. Hal itu juga serupa dengan yang nasionalis, tidak( mengadopi
polo-polo pcndidikan kcdisiplinan milker secara kaffah, akihatnya
terdapat kekerasan dalam sekolah berasrama. Sementara yang
nasionalis-religius dalarn praktik sekolah herasrama mash' helum jelas
forrnatnya,
2) Dikotomi guru sekolah vs. guru asrama (pengasuhan). Sampai
saat ini sekolah berasrama kesulitan mencari guru yang co-

1.56 ■
BAB 7 D.. Bel:lei-al:1,a Pernikiran tentanz Pffididiken

cok untuk sekolah herasrania. Sekolah-sekolah tinggi keguruan (IKIP


dan Mantan [KIP) tidak "memproduksi" guru-guru sekolah berasrama.
Akibatnva, masihg-masihg sekolah mendidik guru asrmanya sendiri
sesual dengan pengetahuan yang dimiliki oleh lembaga terse-but. Guru
sekolah (mata pelajaran) bertugas hanya untuk mengampu mats
pelajarannya, sementara guru pengasuhan adalah tersendiri hanya
bicara coal pengasuhan. Padahal klealnya, dua kompetensi tersebut
harus melekat dalarn sekolah berasrarna, Ini penting untuk tidak
terjadinya sating menyalahkan dalam proses pendidikan antara guru
sekolah dengan guru asrama.
3) Kurikulum pengasuhan yang tidak baku
Salah satu yang rnembedakan sekolah-sekolah berasra.ma adalah
kurikulum pengasuhannya. Kalau bicara kurikulumakademiknya
dapat dipastikan harnpir sedikit perbedaannya. Semuanya mengacu
kepada kurikulum ICTSP-nya produk Depdiknas dengan ditambah
pengayaan atau suplemen kurikulum internasional dan muatan to
Tetapi kalau bicara tentang pola pengasuhan sangat beragam, dari
yang sangat militer (disiplin habis) sampai ada yang terlalu lunak.
Kedunya mernpunyai efek n.egatif. Pola militer melahirkan siswa yang
berwatak kemiliter-militeran, dan terlalu lunak menimbulkan watak
licik yang bisa mengantar siswa mempermainkan peraturan.
4) Sekolah dan asrama terletak dalam satu lokasi
Umumnya sekoiah-sekolah berasrama berada dalam satu lokasi dan
dalam jarak yang sangat dekat. Kondisi ini yang telah banyak her-
kontribusi dalam menciptakan k_ejenuhan anak berada di sekolah
asrama.

f. Pengembarigan Institusional Boarding School


Sekarang ini, ada dua fenornena menarik dalarn dunia pendidikan di
Indonesia, yakni munculnya sekolah-sekolah terpadu (mulai tingkat dasar
hingga menengah); dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering
discbut dengan boarding school, Para murki mengikuti pendidikan reguler
dari pagi hingga siang di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan
pendidikan agama atau pendidikan nilai-nilai khusus di malam hari. Se-
lama 24 jam anak didik berada di bawah didikan dan pengawasan para
guru pembimbing. Di lingkungan sekolah ini mereka dipacu untuk me-
nguasai ilmu dan teknologi secara intensif. Selama di lingkungan asrama
mereka ditempa untuk menerapkan ajaran agama atau nilai-nilai khusus
tali, tak lupa mengekspresikan rasa semi dan keterampilan. Hari-hari
rnereka adalah hari-hari berinteraksi dengan Leman sebaya dan para guru.

157
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Rutinitas kegiatan dari pagi hingga malarn sampai ketemu pagi lagi, mereka
rnenghadapi "makhluk hidup" yang sarna, orang yang sarna, ling-
kungan yang sama, dinamika dan romantika yang seperti itu pula. Dan dari
situlah rnereka mulai belajar hidup yang sebenarnya.
Kehadirari boarding school adalah suatu keniscayaan zaman kini.
Keberadaannya adalah suatu konsekuensi logis dari perubahan lingkungan
sosial dan keadaan ekonomi serta cars pandang religiositas masyarakat, 1
isalnya, lingkungan sosial kits kini telah banyak berubah terutama di
kota-kota besar. Sebagian besar penduduk tidak lagi tinggal dalam suasana
masyarakat yang homogen, kebiasaan lama bertempat tinggal dengan
keluarga besar satu Han atau rnarga telah larna bergeser ke arah
masyarakat yang heterogen. Hal ini berimbas pada poly perilaku masya-
rakat yang berbeda karena berada dalam pengaruh nilai nilai yang herbeda
pule,
Mari segi sosial, sistem boarding school mengisolasi anak didik dari
lingkungan sosial yang heterogen yang cenderung buruk. Di lingkungan
sekolah dan asrama dikonstruksi suatu lingkungan sosial yang relatif
homogen, yakni ternan sebaya dan pars guru pembimbing. Homogen dalam
tujuan yakni menuntut ilmu sebagai sarana rnengejar cita-cita. Dari segi
ekonomi, boarding school rnemberikan laya n n yang paripurna, Oleh karena
itu, anak didik akan benar-benar terlayani dengan baik meialui berbagai
layanan dan fasilitas. Dari segi semangat religiositas, boarding school
menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan
rohani, intelektuai dan spiritual.
Tampaknya, konsep boarding school menjadi alternatif pilihan sebagai
model pengembangan pendidikan yang akan datang. Pen -terintah
diharapkan semakin series dalam menclukung dan mengernbangkan konsep
pendidikan seperti ini. Sehingga, boarding school rnenjadi lembaga
pendidikan yang maju clan bersaing dalarn mengembangkan ilmu pe-
ngetahuan dan keterampilan.

C. PENGARUH PEMIKIRAN BARU TENTANG


PENDIDIKAN TERHADAP PENYELENGGARAAN
PENDIDIKAN DI INDONESIA
Telah dikernukakan hahwa pemikiran baru dalam pendidikan terse-
but terutama berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Namur' dasar pemikirannya tentulah menjangkau semua segi dari pen-
didikan, baik aspck konseptual maupun operational_ Sebah itu mungkin
raja peinikiran itu tidak diadopsi seutuhnya di suatu masyarakat atau

158
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentang Pffididiken

negara tertentu, namun atas pokoknya menjiwai kebijakan-kebijakan


pendidikan dalam masyarakat atau negara it-u, Sebagai contoh yang telah
dikemukakan pada setiap paparan tentang gerakan itu, untuk Indonesia,
seperti rnuatan lokal dalam kurikulum untuk mendekatkan peserta didik
dengan Iingkungannya, berkembangnya sekolah kejuruan, pemupukan
sernangat kerja sama multidisiplin dalam inenghadapi niasalah, dan se-
hagainya.
Kajian tentang pemikiran-pernikiran pendidikan masa lalu akan sa-
ngat bermanfaat untuk memperluas pemahaman tentang seluk-beluk
pendidikan, serta memupuk wawasan historis dari setiap keputusan dan
tindakan di bidang pendidikan, tenrnasuk di bidang pernbelajaran, akan
membawa dampak bukan hanya pada masa kini melainkan juga masa
depan. Oleh karena itu, setiap keputusan dan tindakan itu harus dapat
dipertanggungjawabkan secara profesionai. Sebagai Contoh, beberapa
terakhir ini telah terjadi polemik tentang peranan pokok pendi-
dikan (utamanya jalur sekolah) yakni tentang masalah relevansi
tentang dunia yang menyadat harkat dan martabatnya., ataukah
memberi bekal keterampilan untuk mernasuki dunia kerja, Kedua hal
itu tentulah sama pentingnya dalarn membangun cumber Jaya manusia
Indonesia yang bermutu.

D. TOKOH PEND! DIKAN YANG BERPENGARUH


DARI LUAR NEGERI

1. Pestalozzi
Pestalozzi dilahirkan di Zurich, Swiss. la sangat dipengaruhi oleh
Rousseau, khususnya buku Ern& is juga sangat terkesan pada konsep
back to nature dan is membeli sebidang tanah yang rnaksudnya akan
dijadikan pusat penelitian dari metode pertanian yang Baru. Pestalozzi
makin tertarik pada bidang pendidikan. Pada 1774 is rnulai dengan se-
kolah yang disebut Neuhof di tanah pertaniannya, Di tempat iniiah is
rnengembangkan idenya yang merupakan integrasi dari kehidupan ru-
mah, pendidikan vokasiunal dan pendidikan untuk nwmhaca serta me-
nulls.
Untuk lebih mengenal pandangan Pestalozzi tentang pendidikan
akan dinraikan konsep pemikiran Pestalozzi tentang alam, manusia,
dan Tuhan.

159
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

a. Konsep tentang Alam, Manusia dan Tuhan


1) Alam
Mula-mula Pestalozzi terkesan dengan Rousseau yang ideanya ke-
mudian ditolaknya. Pestalozzi rnenggunakan istilah 'aIam" yang si-
non im dengan semua yang ash, autentik, dan bebas dari artifisialitas.
Dengan kata lain, alai adalah sesuatu yang ash dan berada dalam
suatu proses perkembangan yang kontinu. Alain yang asli flu perlu
diisi dengan sesuatu yang baik untuk rnenjaga keharrnonisannya.
2) Manusia
Manusia adalah bagian integral dari alai. fialam diri manusia itu
ada juga proses perkembangart. Berkaitan dengan proses perkern-
bangan itu, setiap manusia khususnya pada anak-anak terdapat
tiga tahap panting, yaitu: {pertama) pemikiran anak-anak masih
kabur; (kedua) objek-objek muncul dalam kesadaran yang
dikarakterisasikan melalui bentuk-bennik dan kualitas-kualitas yang
eksplisit; dan (ketiga) objek-objek ini dimengerti sebagai konsep-konsep
unarm, Objek-objek ini nienurut Pestalozzi "ditentukan", Sepan-
jang proses itu setiap orang dalam dirinya aktif memperuleh dan
mengklarifikasi garnbaran dan rnentransformasikannya ke dalam
ide-ide yang berisi pengetahuan. Setiap anak seharusnya diperlaku-
kan sesuai dengan posisinya dalam proses itu. Sebagian besar dari
ajarannya meneakup dan memungkinkan dia untuk melatih pe-
ngetahuannya yang dirralikinya sendiri atau rnendefinisikan sepia
sesuatu.
Pengetahuan selalu bersisi tiga element: (1) jumlab segala sesuatu yang
d iken all; (2) bentukyang mereka. tunjukkan, d an (3) bahasa yang
mewujudkannya. Pestalozzi berkesimpulan bahwa pembelajaran barns
mulai dengan unsur-unsur ke mana tiap unsur dapat dianalis is. Unsur-
unsur juin lah. adalah satu kesatu an, dari aritmatika harus dikuasai
agar dapat mernaharni jumlah. Kedua., rupanya Pestalozzi berpikir
halnAra is rnelihat manusia memiliki sifat-sifat hawaan yang berasal
dari keluarga,
3) Tuhan.
Pestalozzi menekankan pentingnya pendidikan dibubungkan dengan
nilai ketuhanan yang harus (titan a mkan kepada anak,

b. Konsep tentang Pendidikan


1) Flakikat pendidikan, "sense impression" meliputi pikiran bersih ter-
lepas dari observasi.

160 ■
BAB 7 D.. Bebecapa Pernikiran tentang Pffididiken

2) Metode pendidikan
Metode yang diangkat oleh Pestalozzi disebut Pestalozia.nisrne, yaitu
metode yang cobs mengangkat perbedaan individual dan menstimulasi
aktivitas diri si anak. Metode ini dapat dicapai lewat kegiatan
rnenggarnbar, rnenyanyi, latihan fisik, dan berkelompok,
3) Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan menurut Pestalozzi adalah modern civilization.
khususnya pembebasan diri Bari kekusutan persepsi diri, hal-hal
yang tidak berguna, pengetahuan, ambisi untuk memperoleh keba-
hagia.an.
4) Substansi pendidikan
Pestalozzi percaya bahwa masyarakat dapat diperbarui rnelalui
pendidikan. Setiap orang harus rnerasa bahwa Allah dan alam memberi
kepadauya potensialitas kebajikan untuk berkernbang dan secara
individual setiap anak adalah suci.

2. Maria Montessori
Montessori dilahirkan di Ancona, Italia tahun 1870. Ayahnya
seorang pejabat sipil yang berpengaruh nainun 'nasal memiliki pandangan
konservatif tentang peran wanita di masyarakat. Sebaliknya, ihunya
herpandangan wanita harus maju dan rnencapai cita-citanya sejauh
mungkin yang dapat dicapai dalam hidup.
Pada usia 26 tahun Montessori menjadi dokter wanita pertarna di
Italia. Ia ditugaskan menjabat sebagai bagian perawatan medis untuk
menangani pasien dari ruraah sakit jiwa, dan di sanalah is menemui
anak-anak keterbelakangan mental yang mernpunyai eara mereka sendiri
untuk belajar. Hal ini merupakan sebab utama yang membakar ke-
cintaannya pada pendidikan dan dunia anak-anak. Dimulai dengan fasi-
litas tempat penitipan anak di salah satu lingkungan terrniskin di Roma,
Montessori meletakkan berbagai teorirtya dalam praktik, Kedua metode
itu dipengaruhi oleh pelatihan sebelumnya di bidang kedokteran, pendi -
dikan, dan antropologi.
Dari observasinya. Montessori menganggap bahwa cara konvensional
mengajarkan anak-anak keterbelakangan mental tidak rerlalu efektif,

a. Teori Perkembangan Montessori


Anak memiliki kemampuan sendiri untuk belajar sesuai dengan tingkat
kernatangannya dan anak belajar dengan cara yang berbeda dengan °rang
dewasa. Ada saat di mana anak akan sangat peka terhadap hug-
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

kungannya, saat tersebut dinarnakan Montessori sebagai sensitive periods.


Sensitive periods adalah suatu masa di mane anak-anak akan sangat
mudah menguasai tugas-tugas tertentu. Apabila anak dicega.h untuk
rnenikrnati pengalaman-pengalaman yang dipandu secara alarniah itu, rnaka
kernarropuart-kemampuan yang harusnya dicapai pada rnasa peka itu
tidakakan diiniliki dan hal ini akan memengaruhi perkembangan anak
seIanjutnya. Menurut Montessori ada lima rnasa sensitif, yaitu:
i) Sensitive periods for order (0 - 3 tahun). Masa peka untuk keteraturan
terjadi pada tiga tahun pertama kehidupan. Analmerrtililci
kebutuhan yang ku a t terhadap keteraturan.Setelah artakdapat be rgeraki
berpindaft, mereka sutra meletakkan benda-benda sesuai dengan
tempa.tnya, Apabila ada buku atau pencil yang tidak terletak di
tempatnya, anak akan mengembalikan buku atau pencil tersebut ke
ternpatnya. Dan bahkan sebelum memasuki periods ini mereka sering
menjadi marsh jika melihat sesuatu yang tidak pada temp atnya.
2) Sensitive periods for details (1 - 2 tahun). Anak-anak akan tnemusatkan
perhatiannya pada hal-hal yang kecil. Sebagai contoh, mereka
dapat mendeteksi adanya serangga yang kecil yang tidak terperha-
tikan oleh orang dewasa. Apabila mereka melihat suatu garnbar,
mereka akan mengabaikan objek utarna garnbar dan akan beralih
memperhatikan hal-hal kecil yang ada di latar helakang objek
utama gambar. Kepedulian akan detail ini menandakan perubahan
di daI arn perkembangan psikis anak,
3) Sensitive periods fo r using hands ( 18 bulan-.3 tahun). Anak-anak secara
konsis ten menggenggam henda-benda yang disentuhnya. Anak-anak
rnenyukai aktivitas membuka dan menutup benda-benda (dengan
seluruh telapak tangannya), memasukkan benda-benda ke dalam
suatu wallah, m.enuangkannya keluar dan mernasukkannya kembali
(dengan seluruh telapak tangannya). Selarna dua tahun berikutnya
atau lebih mereka memperbaiki gerakan dan indra sent uhan mereka.
4) Sensitive periods for movements (1-3 tahun) Periode kepekaan yang
paling m.udah dibaca adalah berjalan. Bel*" berjalan adalah sejenis
kelahiran kedua, anak berubah dad makhluk yang tidak berdaya
menjadi makhluk yang aktif. Anak-anak didorong oleh irnpuls yang
tidak bisa dilawan dalarn upaya mereka untuk berjalan, dan rnereka
berjalan dengan bangga seolah-olah mereka telah menemukan cara-
nya.
5) Sensitive periods for learning language
a. Secara tidak sadar (3 bulan-3 tahun). Anak-anak menyerap bunyi-
bunyi, kata-kata, dan rata Bahasa dari lingkungannya. Anak-

162
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentanz Pffid Aiken

anak mempelajari bahasa tanpa banyak memikirkannya, anak-


anak tidak pernah meinikirkan imbuhan dapat mengubah suatu
arti, atau anak-anak penutur bahasa Inggris yang tidak pernah
memikirkan tenses, atau anak-anak penutur bahasa Spanyol
yang tidak pernah memikirkan tentang kata benda yang berubah
mengikuti subjeknya, anak-anak tidak pernah berpikir sekeras
itu untuk mentpelajari bahasa ibunya.
Montessori menganggap bahwa anak-anak telah dibekah
suatu mekanisme untuk mem p el ajari suatu bahasa dengan
tidak disadarinya. Anak-anak akan memulai dengan mengoceh
terlebih dahulu sebelum is mulai berbicara dengan kata-kata ber-
makna. Setelah itu anak akan memasuki tahapan "kalimat dua
kata," untuk kemudian menguasai pembuatan k_alimat dengan
struktur yang le b ih ko mp le ks,
Tahapan-tahapan itu tidak selalu berkesinambungan, bisa raja
anak terlihat tidak terdapat kemajuan sama sekali, lalu tiba-tiba
rneraih prestasi baru yang seri-1p u m a.
b. Secara sadar (3-6 tahun), Jika pada usia 3 bulan hingga 3 tahun
anak-anak mempelajari bahasa secara tidak sadar, anak-anak
pada usia 3 hingga 6 tahun mempelajari bahasa dengan sadar.
Deegan tidak kehilangan masa pekanya, anak mempelajari ben-
tuk- be ntuk gala bahasa baru dengan penuh kesadaran.

b. Pendidikan dengan Metode Montessori


11 Pendidikan di runtah. Pada masa peka anak-anak mendapatkan
impuls dan dalarn dirinya untuk secara rnandiri rnenguasai peng-
alarnan-pengalaman tertentu. Tugas orangtua inenurut Montessori
bukanlah rnengajar secara Iangsung tetapi menghargai usaha anak
untuk secara mandiri rnenguasai pengalarnan-pengalarnan itu.
Orangtua dapat memantau rninat - rninat anak dan kernudian mem-
heti kesempatan anak untuk rnemenuhi minat-ininat anak tersebut
2) Pendidikan di sekolah (yang menganut poly pendidikan Montessori), Pada
1907, Dr. Montessori membuka sekolah pertamanya di Roma. Walaupun
begitu nama Montessori bukanlah merek dagang, sehingga nama
"Sekolah Montessori" bukan hanya melekat pada sekolah yang
didirikannya, melainkan juga pada sekolah-sekolah yang
rnengimplementasikan ide-ide MOrrieSSOri.
Ciri khan sekolah Montessori dibanding sekolah konvensional di
antaranya:

163
DASAR-DASA R. I LIAU PE NDIIDIK AN

a) Kemandirian dan konsentrasi. Montessori percaya bahwa anak-


anak dapat belajar dengan sendirinya jika rnereka
menerriukan hal yang menarik bagi mereka. Guru-guru di
sekolah Montessori hanya sebagai fasilitator dengan
menyediakan material-material.
b) Pilihan bebas. Pilihan bebas biasanya membawa anak-anak kepada
pengerjaan tugas-togas yang paling berkesan bagi anak. Guru
percaya kalau anak-anak akan mernilih dengan bebas tugas-tugas
yang sesuai dengan kebutuhan batiniah mereka pada saw itu.
Selain flu, tugas guru juga memperkenalk.an Lugar ban yang
disesuaikan dengan kesiapan anak-anak.
c) Flukuman dan penghargaan. Montessori berpendapat bahwa
otoritas dari luar justru akan mengganggu proses belajar man-did
anak, anak-anak akan belajar dengan doron.gan sernpurna sesuai
dengan kapasitasnya jika mereka menemukan material-material
yang sesuai.
d) Mempersiapkan untuk mempelajari keterampilan. Keterampilan
yang lebih sulit membutuhkan beberapa keahlian untuk dikuasai,
Montessori mengembarigkan material-material yang
rnemungkinkan anak mempelajari suatu keterampilan secara
bertahap.
e) Membaca dan menulis. Anak-anak akan diajari mernbaca dan
menulis secara bertahap, anak akan diajari menulis pada saat
berada di masa peka terhadap bahasa. Anak-anak tidak akan
diberikan buku sebelurn bisa membaca, hal ini untuk menghindari
rasa frustrasi rnentbaca buku,
Menekan perilaku yang tidak diharapkan. Walaupun hukurnan
dan penghargaan diharapkan tidak ada, tetapi penghargaan
terhadap material pelajaran dan penghargaan terhadap anak lain
berusaha dikembangkan secara. alamiah, Oka seorang anak
mengganggu anak lain, maka anak itu akan ditinggalkanitak
diacuhkan agar secara tak radar anak itu belajar rnenghargai
keinginan anak lain untuk tidak diganggu, terkadang guru turut
carnpur dengan mengisolasi anak itu.
Berdasarkan pada apa yang diobservasi Montessori, individu memiliki
masa peka di maim individu tersebut akan lebih memiliki kemampuan untuk
mempelajari keterampilan-keterampilan yang lebih dari masa lain di
kehidupannya. Dalarn mendidik anak Montessori berpendapat bahwa setiap
anak berkehendak untuk 41.mengaktualisasikan" bakat yang di-

164
BAB 7 D.. Bebecapa Perriikiran tentanz Pffid Aiken

dan anak rnerniliki caranya sendiri untuk menerjemahkan halal


yang ada pada dirinya, Sehin.gga tugas orangtua hanyalah sebagai periyedia
material-material yang dibutuhkan agar minas anak dapat terpenuhi dan
menghindari intervensi-intervensi yang dapat mengganggu konsentrasi anak-
anak,

C. Keiebiban Pendekatan Montessori


1) Konsep-konsep pendekatan Montessori dapat diberikan pada anak dari
berbagai Tatar belakang dan kondisi yang beragam,
2) Berhasil menghasilkan konsep dan material/ alat pendidikan yang
sistematis dan nperasional sesuai dengan tahapan perkembangan dan
kemampuan anak.
3) Memiliki laboratorium sekolah dan sistem penyelenggaraan yang
rerkontrol terhadap seluruh sistem pendidikan Montessori,
4) Mengeluarkan panduan-panduan tentang sistem pembelajaran di sekolah
M on tessod.

d. Kekurangan Pendekatan Montessori


1) Terlalu bersifat perorangan, sehingga memerlukan rasio perbandingan an
tara guru dan rnurid yang keel].
2) Memerlukan media pembelajaran yang sangat beragarn, serta harga
material yang sangat mahal sulit terjangkau oleh sekolah-sekolah um
urn.
3) Pekatihan penyelenggaraan konsep pendidikan Montessori sangat mahal
bagi guru-guru di sekolah umurn.

E. TOKOH PEND! DIKAN YANG BERPENGARUH DI


INDONESIA

Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara rnendirikan Perguruan Taman Siswa pada tang-
gal 3 luli 1922 di Yogyakarta, Ki Hajar Dewantara lahir pada 2 Mei tahun
1889 dengan nama keel Suwardi Surpningrat, Perguruan ini didirikan
dalam bentuk yayasan. Latar belakang berdirinya adalah bahwa sekolah-
sekolah yang didirikan oleh peinerintah Hindia Belanda sesungguhnya
tidakdah diperuntiikkan bagi kepentingan dan kernajuan rakyat Indonesia,
tetapi untuk kepentingan politik ko)onial Belanda meskipun Mr. C. Th.
Van den Venter mengatakan bahwa Belanda ingin menebus doss kepada
flakyat indonesia {Mains Luhur Ta.man Siswa, 1976).

111 165
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

a. Asas Taman Siswa (1922)


I) Setiap °rang berhak mengatur dirinya sendiri dengan rnengingat ter-
tibnva persatuan dalam prikehidupan umum. Ketertiban tidak
akan tercapai jika tidak ada kedamaian. Sebaliknya, seseorang
tidak akan merasakan hidup damai jika tidak diberi kemerdekaan.
2) Pendidikan yang diberikan kepada anak hendaldah dapat menjadi-
kan manusia yang merdeka batinnya, pikirannya, dan merdeka Lena-
ganya, dan bermanfaat untuk kepentingan bersama, Guru jangan
hanya memberikan pengetahuan yang slap pakai tetapi juga harus
mendidik anak agar dapat mencari sendiri pen.getahuan itu dan
dapat menerapkannya untuk kepentingan bersama,
3) Pendidikan hendaklah didasarkan atas keadaan dan budava Indo-
nesia yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi
kedamaian dalam kehidupan sehingga tidak mudah terpengaruh
oleh kebudayaan yang datang dari luar.
4) Pendidikan harus diberikan kepada seluruh rakyat tanpa terkecuali.
5) Untuk dapat rnencapai asas kemerdekaan, maka kita harus bekerja
sesuai dengan kernarnpuan sendiri tanpa rnengharapkan Mantuan
orang lain.
6) Oleh karena kita bersandar pada kekuatan sendiri, maka haruslah
kita memikul semua beban belanja dengan uang sendiri.
7) Pendidik hendaklah mendidik anak dengan sepenuh hati, Lulus,
dan ikhlas, tidak merninta sesuatu Ptak tetapi menyerahkan diri
untuk berharnba kepada sang anak,

b. Dasar Taman Siswa (1947)


Pada 1947, asas Taman Siswa disesuaikan dengan kondisi bangsa
yang telah merdeka, sehingga kata-kata "asas" diganti dengan kata "dasae.
Dasar ini disebut dengan "Panca panne yang terdiri dad:
i) Kebudayaan.
Ikut mengupayakan terwujudnya suatu kebudayaan berlandaskan
asas kemerdekaan yang disejalankan dengan kodrat alam dan
kodrat dan yang dijiwai oleh perasaan cinta nusa dan ban gsa serta
cinta sesama manusia.
2) Kernerdekaan
Kemerdekaan mengandung arti disiplin pada diri sendiri oleh diri
sendiri atas dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup sebagai indivi-
du maupun sebagai anggota masyarakat. Karena itu kemerdekaan
menjadi slat mengembangkan pribadi yang kuat dan radar dalam

166 ■
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentanz Pffididiken

suatu perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat tertib damai di


tem pat keanggotaannya.,
3) Kodrat alam
Pada hakikatnya manusia itu seba.gai makhluk yang men}rata dengan
kodrat Maui, namun juga tidak terlepas dari kodrat Ilahl. Kodx-at
alarm mengandung kemajuan yang dapat digambarkan sesuai
pertumbuban suatu pohon tnulai dari benth hingga berkembang meniadi
besar akhirnya berbuah dan menyebarkan lagi benih yang bare se-
belum pohon yang besar mengakhiri hidupnya.
4) Kemanusiaan
Asas mai rnenyatakan bahwa setiap manusia haruslah mewujudkan
kemanusiaan yang berarti kemajuan manusia lahir dan batin yang
setinggi-tingginya.
5) Kebangsaan
Asas kebangsaan tidak boleti bertentangan dengan asas kemanusiaan,
seharusnya menjadi bentuk perbuatan kemanusiaan yang nyat a. 0 ieh
karena itu, haruslah merasa satu dertgan bangsaIain baik dalam sutra
maupun dalam duka menuju kebahagiaan lahir dan batin.

c. Tujuan Perguruan Taman Siswa


Tujuan Penclidikan Taman Siswa adalah menciptakan manusia mer-
deka lahir dan batin (Maps Ltihur Taman Siswa, 1976), yakni manusia
yang mampu untuk senantiasa mcrnbudayakan dirinya demi kebahagiaan
dan kedamaian, kesejahteraan masyarakat secara add dan merata
(masyarakat harmonis), dengan ]rata lain manusia rnerdeka lahir dan ba -
tin adalah manusia yang mampu untuk senantiasa rnewujudkan kema-
nusiaannva.

d. Semboyan Taman Siswa


1) Suci Tata Ngesti Tunggai, artinya dengan kesucian batin dan teraturnya
hidupla.hiriah kita mengejar kesempurnaan,
2) Bibit, Behet, Bohot, artinya rnertgartjurkan pernilihan yang
salzsarna dalam menentukan talon anak mena.ntu, anak menyehatkan
keturun an.
3) Mg nom sung tutodo, fng adya rnangun karso, Tut wuri hancia-
yani,
4) Lebiii baik mati terhormat daripada hidup nista, artinya tingkah lake
dan hudi luhur harus ditunthuhkari_
5) Ratve-raure Bantus Maiang-ntaiang putting, artinya segala sesuatu

167
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

yang merintangi akan hancur jika mempunyai kernauan yang teguh.


6) Neng-Ning-,Mung-Nang, artinya ketenangan rnenimbulkan pikiran
jernih yang menuju kepuasan batin dan membawa kemenaiigan.

e. Jenis-jenis Pendidikan Taman Siswa


1) Taman Indriya (tarnan kanak-kanak, umur sekitar 5 tahun).
Pada rn.asa ini anak-anak diberikan segala bentuk permainan yang
dapat rnendidik tuhuh dan pancaindranya. IvIendengarkan cerita
berdasarkan keindahan dan menarik had anak-anak, Cerita
diambil dad cerita rakyat.
2) Taman Anak (kelas I-Ill SD, umur R-10 tahun}
Memberikan pelajaran yang bersifat mendorong pertumbuhan jas-
mani dan menyuburka.n rohani. Pelajaran Bahasa dan seni serta adat
istiadat untuk rnenciptakan masyarakat yang tertib dan darnai.
3) Taman Duda (kelas IV-VI SD, umur 11-14 tahun)
Menekankan pendidikan jasmani menuju kesehatan, kekuatan, dan
kecakapan rnernhela diri, pengetahuan agarna dan seni untuk olah
pikir dan perasaan serta membina moral,
4) Taman Dewasa (SLTP, umur 15-18 tahun)
Lanjutan dari pengajaran dan pembiasaan haik jasmani, pikiran,
rasa, dan kemauan untuk menyempurnakan bakat yang berbeda.
Anak bekerja sendiri dan banyak kemerdekaan tetapi harus dengan
disiplin yang kerns dari dan untuk anak,
5) Taman Dewasa Raya./Taman Madya. (LTA, umur 19-21 tahun)
Pada masa ini kesempatan untuk memperdalam kecerdasan jiwa
dengan tuntutan rnempelajari ilmu pengetahuan, ilmu
pengetahuan, ilmu agama dan ihnu adab, serta pengetahuan
tentang wa.takibudi pekerti.
6) Taman Guru (111, 02, B3 dan Taman Guru indriya)
(Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1977)

f. Hasil yang Dicapai Taman Siswa


Perguruan Taman Siswa sejak didirikan sampai sekarang telah
mencapai berbagai hal di antaranya:
1) Gagasanipemikiran tentang pendidikan nasional (kehangsaan)
2) Lembaga-lembaga pendidikan dari Taman Indriya sampai Sarjana
Wiyata,
3) Sejurnlah alumni perguruan yang telah rnenjadi tokoh nasional
seperti: Ki Hajar Dewantara, Ki Mangunsarkoro, dan Ki Suratman,

168
BAB 7 D.. Bebecapa Perriikiran tentanz Pffid Aiken

2. Muhammad Syafe'i
Muhammad Syafel mendirikan Huang Pendidikan INS (Indonesian
Nederlandsche School) pada 31 Oktober 1926 di Kayu Tanam. Muhammad
Syafe'i dilahirkan di Mantan, Kalimantan karat tahun 1893, INS pada
mulanya dipimpin oleh bapak angkatnya, Marah Sutan, kernudian oleh
Muhammad Syaiel sendiri. Dimulai dengan 79 ora ng Inurid, dibagi dalam
dua kelas, serta masuk sekolah secara bergantian karena gurunya hanya saw,
yakni Muhammad Syafe'i {Navin, 1996).
Dinamakan ruang pendidikan karena belajar dilaksanakan pada tempat
yang tidak terbatas dengan konsep belajar dan mengajar. "Ruang pendidikan"
artinya suatu tempat yang leas yang digunakan untuk belajar dan mengajar
yang bukan hanya terbatas pada adanya guru dan murid, melainkan belajar
dapat dilaksanakan Mari pengalaman dan kehadiran alam di sekitarnya
(sekolah kerja) {Navin, 1996), Dengan demikian, belajar dapat
berlangsungkapan saja dan di mana saja anal punya kemauan.

a. Riwayat Hidup Muhammad Syafeli


1) Muhammad Syafe'i dilahirkan di Mantan, Kalimantan Barat, pada
1893. Ihunya bernama Syafiah, sedangkan ayahnya sudah mehing,gai
semenjak Muhammad Syafe'i masih kecil. Sebenarnya kelahiran
Syafe'i oleh ibunya tidak diketahui hari dan tanggalnya, tetapi dari
perhitungan yang dikemukakan oleh Syafiah thin keluarganya, maka
Marah Sutan dapat memperkirakan yakni tahun 1B93, sedangkan
tanggal 31 Oktober diduga adalah hari pengangkatan sebagai anak
angkat oieh Marah Sutan.
2) Ia dibesarkan oleh ayah angkatnya bernama Marah Sutan, sedangkan ibu
angkatnya bernama Chalidjah.
3) Setelah tamat sekolah guru di Bukittinggi, ia bekerja sehagai guru di
sekolah Martini di Jakarta selama 8 tahun,
4) Pada 31 Mei 1922 is pergi ke negeri Belanda untuk rnelanjutkan se-
kolannya sebagai guru dan sebagai penggernar seni. Selama 4 tahun di
negeri Belanda ia memperoleh ijazah guru Eropa, menggarribar,
pekerjaan tangan, dan musik.
Pada St Oktober 192.6 ia diserahi tugas memirnpin sekolah di Kayu
Tanam, dan akhirnya sekolah tersebut diserahkan seluruhnya ke-
padanya.
6) Muhammad. Syafe'i berpedoman pada prinsip herdiri sendiri, tidak
mengharapkan bantuan clari luar yang mengikat. Segala perkakas
sekolah adalah hasil kat-5,a murid-muridnya.

169
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

7) Pada 1946 is cliangkat menjadi Menteri PP dari K dalam Kabinet


Syahrir yang kedua, kemudian is menjadi anggota Dewan Pertim-
bangan Agung.
8) Pada 1950 Muhammad Syafe.i menjadi anggota parlemen. Akhirnya
pada 5Maret 1969 is meninggal dunia di Padang dalarn usia 73 tahun,
{Davis, 1996; Ahmadi, 1987)

b. Asas Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam


1) Berpikir logic dan rasional
2) Keaktifan atau kegiatan
3) Pendidikan masyarakat
4) Memperlihatkan pembawaan an.a.k
5) Menentang intelektualisme

c. Tujuan Ruang Pendidikan INS Kayu Tan=


1) Mendidik rakyat ke arah kemerdekaan,
2) Memberi pendidikan yang sesuai dengan kehutuhan masvarakat.
3) Mendidik para pemuda agar berguna bagi masyarakat,
4) Menanamkan kepercayaan terhadap diri sendiri dari berani bertanggung
jawah,
5) Mengusahakan rnandiri dalam pernbiayaan dengan semboyan "Cali
sendiri dan kerjakan sendiri"

d. Usaha-usaha Ruang Pendidikan INS Kayu Tanam


1) Pada zarnan Belanda INS menyelenggarakan berbagai ruang pen-
didikan, seperti: ruang rendah (lama. pendidikan 7 tahun setara se-
kolah dasar), ruang antara (lama pendidikan 1 tahun), Ruang dewasa
(lama pendidikan 4 tahun setara sekolah menengah), niang masya-
rakat (lama pendidikan 1 tahun). Program pendidikan mengutama-
kan pendidikan keterampilan. Semua ruang cliberikan 50% niata
pelajaran unium dan 50% mata pelajaran kejuruan.
2) Pada zaman kemerdekaan alas izin pemerintah Belanda INS mendirikan
Ruang Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan (RPPK) di Padang
Panjang.
3) Pada 1952, is mendirikan percetakan dan penerbitan yang diberi
nama "Sridharma" dan menerbitkan rnajalah bulanan bernarna
Send clan buku ha.caan untuk pemberantasan buts huruf yang di-
kenal dengan nama !Cenci. 13.

170 ■
BAB 7 D.. Beberap,a Peniikiran tentanz Pffididiken

4) Pada 1953 is mendirikan program Idlusus untuk menjadi guru yakni


tambahan satu tahun seteiah ruang dewasa untuk pembekalan ke-
marnpuan mengaiar dan praktik men gajar,
5) Mencetak buku-buku pelajaran dan
Semua usaha di atas dilakukan secara rnandiri tanpa mengharapkan
bantuan orang lain yang dapat membatasi kebebasannya (Ahmadi, 1987;
Tirtarahardja, 1994),

3. Kiai H. Ahmad Dahlan


Kiai H. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadivab pada 18 Novem-
ber 1912 hertepatan dengan tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijrivah di Yog-
yakarta, Muhammadiya.b merupakan gerakan Islam arnar rnakruf nahi
mungkar, berakidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah
Berta hertujuan untuk rnenegakkan dan men junjung tinggi agarna
sehingga tercipta rnasyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridhai
Allah SWT.

a. Latar Belakang Berdirinya Pendidikan Muhammadiyah


Pendidikan Muharnmacliyah lahir seiring dengan latar belakang di-
dirikannya Muhammadiyah, yaitu karena adanya beberapa gejala yang
menonjol yang muncul ketika itu, yakni:
1) Kerusakan di bidang kepercayaaniagama (agidah u mat Islam)
2) kebektian dalam bidang hokum filth
3) Kemunduran dalam pendidikan Islam
4) Kemajuart tending Kristen dan misi Katholik
Berdasarkan hal di atas, maka urnat Islam melakukan kegiatan a tan
men cakup:
1) Membersihkan Islam dari pengaruh-pengarub dan kebiasaan-kebiasaan
Mikan Islam.
2) Memformulasikan kembali doktrin Islam rnenurut alam pikiran mo-
dern.
3) Reformasi ajaran dan pendidikan Islam.
4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan dari luar.
5) Melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan.
(flusli Karim, 1985)

b. Asas Pendidikan Muhammadiyah


Asas pendidikan Muhammadiyah adalah Islam dengan berpedornan
pada Al-Qur'an dan as-Sunnah_

171
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

c. Tujuan dan Target Pendidikan Muhammadiyah


Tujuan pendidikan Muhammadiyah ialah mem bentu.k manusia
berakhlak mulia, cakap, percaya kepada diri sendiri, dan berguna untuk
masyarakat dan negara. Herdasarkan tujuan di alas, maka target yang
ingin dicapai oleh lulusan pendidikan Muharnrnadiyah yaitu: (1)
akidah yang lures; (2) akb.lakul karimah (budi pekerti yang terpuji); (3)
akal yang sehat dan cerdas; (4) keterampilan; dan (5) pengabdian kepada
masyarakat,

d. Cita-cita Pendidikan
Cita-cita Pendidikan Muharnrnadiyab meliputi tiga aspek sebagai
berikut:
1) Baikbudi, alim, dan beragama.
2) 'Ants pandangan, alien dalam dunia (i1m.u-ihnu umum).
3) Bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
Aka dianalisis gagasan yang niendasari cita-cita pendidikan Muharn-
madiyah tersebut sangat relevan dengan keinginan untuk raencerdaskan
umat Islam, memberikan pemahaman yang benar terhadap ajaran
Islam serta memiliki keterampilan yang rnemadai untuk rnemenuhi
tuntutan hidup.

e. Dasar Pendidikan Muhammadiyah


Pendidikan Muhammadiyah didasarkan pada:
1) Tajdid, yaitu kesediaan jiwa berdasarkan peinikiran bare untuk
mengubah cara berpikir dan care berbuat yang sudah terbiasa demi
pencapaian tujuan pendidikan,
2) Kernasyarakatan, yaitu antara individu dan masyarakat supaya di-
ciptakan suasana saling rnembutuhkan dengan tujuan keselamatan
masyarakat sebagai satu kesatuan.
3) Aktivitas, artinya anak didik harus rnengamaikan wawa yang diketa-
huinya dan menjadikan Pula aktivitas sendiri sebagai salah satu cara
mein pe roleh pengetahuan yang haru.
4) Kreathritas, yaitu anak didik harus mernpunyai kecakapan atau ke-
terampilan dalam menentukan sikap yang sesuai dan menetapkan alai-
alat yang tepat dalam menghadapi situ.asi-situasi haru.
5) Optimisrne, yaitu anak didik harus yakin bahwa keridhaan Tuhan,
pendidikan akan dapat membawanya kepada basil yang dicita-citakan
anal dilaksanakan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawah,

172 ■
BAB 7 D.. Beberapa Perriikiran tentang Pffididiken

serta menjauhka.n diri dari segala sesuatu yang menyimpang dari yang
digariskan oleh agama Islam.

f. Fungsi Pendidikan Muhammadiyah


1) Alat dakwah ke d Warn dan ke luar anggeta Muhamrnadiyah iselundi
masyarakat.
2) Tempat pembibitan kader, yang dilaksanakan secara sistematis dan
eIcktif, sesuai dengan kehutuhan Muhammadiyah khususnya dan
masyarakat Islam pada umunuiya.
3) Gerakan anal anggota, penyelenggaraan pendidikan diatur secara
herkewajiban terhadap penyelenggaraan dan peningkatan pendidikan
tersebut dan akan menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah.
Muhammadiyah.

g. Hasil-hasil yang Dicapai Pendidikan Muhammad iyah


Perguruan Muhammadiyah sejak didirikan liingga sekarang telah
mencapai herbagai hal di ant aranya:
1) Gagasanipemikiran tentang pembaruan pendidikan.
2) Lembaga-lembaga pendidikan dari TK hingga pascasarjana.
3) Sejurnlah alumni perguruan yang telah menjadi tokoh nasional seperti:
Kasmart Singoidimedjo, Panglima Jenderal Sudirman,

4. Rahmah El Yunusiah
Rahmah F,I Yunusiab rnendirikan Perguruan, Diniyah Putri Padang
Paniang pada 1 November 1923 di Padang Panjang dengan panggilan "Etek
Amah". Rahmah dilahirkan tanggaI 29 Desember 1900 bertepatan dengan 1
Rajab 1318 Hijriyah., ibunya bernarna Rafiah, sedangkan ayahnva bernama
Syekh Muhammad Yunus,

Latar Belakang Berdirinya Diniyah Putri


Rahmah El Yunusiyah mendirikan Diniyah Putri dilatarbelakangt oleh
rasa ketidakpuasannya terhadap Diniyah School yang didirikan pada 1915
oleh kakak kandungnya Zainuddin Labay, Rahmah di sekulah kakaknya
adalah sebagai siswi. Diniyah School menerapkan sistern ro-edukasi, yaitu
menggabungkan siswa dengan siswi dalam satu ruang kelas. Sistern ini
menurut pandangan Rahmah tidak dapat melayani kehutuhan kaurn wanita
yang tidak terjangkau, baik yang berkaitan dengan persoalan agama
maupun yang berkaitan dengan kebutuhan keterampilan kepu-

173
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Irian sebagai istri, ibu dad anak-anak, dan sebagai penegak moral bangsa.
Di sampling itu, Rahmah juga tidak puas dengan kondisi pernabarnan
agama yang dimonopoli oleh kelompok Iaki-laki saja, padahal menurut
Rahmah pemaharnan agama tidak hanya untuk kaurn Iaki-Iaki tetapi juga
kewajiban kaum wanita untuk bersungguh-sungguh rnelakukan kajian
tersebut yang Bakal melahirkan ahli agama di kalangan kaum wanita,

b. Tujuan Pendidikan Diniyah Putri


Tujuan Pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang adalah "Melak-
sanakan pendidikan dan pengajaran berdasarkan Islam dengan tujuan
rnembentuk putri yang berjiwa [slam clan ltm pendidikan yang cakap,
aktif, serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan
Tanah Air atas das a r pengabdian kepada Allah SANT".

c. Dasar Pendidikan Diniyah Putri


Pendidikan Diniyah Putri didasarkan pada ajaran Islam dengan
herpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah. dial ini berarti bahwa segala
kegia.tan pendidikan yang dalam lingkungan perguruan ini seluruhnya
didasarkan atas hikmah ajaran Islam yang pokok-pokoknya telah
termaktub dalam Al-Qur'an dan Sunnah.

d. Cara Mencapai Tujuan Pendidikan


Tujuan pendidikan yang telalt dirumuskan diwujudkan melalui
program pendidikan sebagai
1) Program pendidikan urnum (general education) untuk n-iengembang-
kan kernampuan dan sikap ilrniah pada diri peserta didik.
2) Program pendidikan yang bertujuan agar anak didik merniliki
cabang ilmu pengetahuan bidang keahlian agama Islam.
3) Program pendidikan yang mengarahkan rnereka pada tujuan
untuk menjadi ibu pendidik yang baik,
4) Program pendidikan keterampilan, yaitu ilmu pengetahuan praktis
yang dapat digunakan dalam kehidupannya sesuai dengan
Iingkungan hidupnya.

e. Program Pendidikan Asrama


Asrama sebagai said' satu wahana pembinaan part' santri mempu-
nyai program, yaitu melatih anak didik bagaimana cara hidup
bermasyarakat, memimpin, serta dipimpin, dari mempraktikkan senma
ilmu yang telab diperoleh pada pagi had.

174
BAB 7 D.. Beberapa Pernikiran tentanz Pffid Aiken

f. Sikap Perguruan Terhadap Pemerintahan Belanda


Rahrnah El Yunusiyah tklak mau dibujuk dan bahkan tidak rriau
kompromi dengan pemerintahan Belanda, sehingga tawaran untuk
rnenjadikan perguruan menjadi sekolah negeri ditolak.

g. Jenis Pendidikan
Denis pendidikan yang pernah ada dan dibina dalam lingkungan per-
guruan Diniyah Putri Padang Pan jang yaitu:
1) Sekolah menyesal, yaitu sekolah yang didirikan pertama kali oleh
Rahirnah El Yunusiyah den an murid sehanyak 71 orang, Sekolah ini
dinarnakan sekolah rn enyesa I karena Rahrnah melihat ketertinggalan
kaum wanita dalarn hal pendidikan dibandingkan dengan laki-laki,
sehingga tirnhul keinginan untuk mendirikan sekolah khusus untuk
kaum perempuan. Murid-mund sekolah ini terdiri dari ibu-ibu dan
remaja putri.
2) Sekolah taman kanak-kanak.
3) Sekolah Diniyah Putri Rendah, lama belajar tujuh tahun sederajat
clengan sekolah dasar.
4) Sekolah Diniyah Putri hagian A, an ak- anak yang diterima adalah yang
belurn tamat SD dengan lama belajar 5 tahun sederajat dengan ihti-
daiyah/SD.
5) Sekolah Diniyah Putri Magian B, lama belajar 4 tahun, anak-anak yang
diterima adalah tarnatan TITS atau Schakel SclzoofISD dan sederajat.
Tamatan ini sederajat dengan sekolah lanjutan pertarnaitsanawiyah.
6) Sekolah Diniyah Putri Menengah Pe/lama (DPM) Magian C, lama
belajar 2 tahun, yang diterirna tarnatan SUP atau sederajat,
7) Sekolah Kulliyatul Muamat (KMI), lama belajar 3 ta-
hun. Sekolah ini dinamakan juga Sekolah Guru Putri Islam.
13) Perguruan Tinggi Diniyah Putri, multi berdirinya dinamakan Fakultas
Tarbiyah dan Dakwah, kemudian ditukar narna menjadi Fakultas Dirsat
Islamiyah.
Jenis sekolah yang ada hingga sekarang di Diniyah Putri Padang
Panjang yaitu:
1) Taman Kanak-kanak Rahmah El Yunusiyah
2) Madrasalz Ibticiaiyah
3) Sekolah Diniyah Putri Menengah Pertama (DI IP)
4) Kuliyatul Mu'alimat El Islamiyalt (KM!)
6) Pendidikan Guru Taman Kariak-kanak (dam (PGTKI)
7) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT)

175
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

Rangkuman
Pemikiran tentang pendidikan sejak dahulu, kini clan masa yang akan Jatang
terns berkembang. Pemikiran tersebut memengaruhi pendidikan di seluruh du-
nia, termasuk di Indonesia. Dari ski lain, di Indonesia juga =mul gagasan ten-
tang pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai aliran pendidikan. yakni: Ki
Hajar Dewantara di Perguruan Taman Siswa, Muhammad Syafe'i di Ruang Pen-
didikan INS, Ki ai Haji Ahmad Dahlanl)erguruan Muhammadiyah, dan Rahrnah
El Vunusiyah Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang,
Kajian tentang berbagai pemikiran pendidikan itu akan rnemberikan pengetahuan
clan wawasan historis kepada tenaga kependidikan. Hal ini sangat denting agar
pars pendidik dapat memahami dan pada gilirannya kelak dapat memberikan
kontribusi terhadap dinarnika pendidikan, Di sampling itu, yang tidak ka[ah
pentingnya adalah bahwa dengan pengetahuan dan wawasan historic tersebut
setiap tenaga kependidfkan diharapkan rnemiliki bekal yang memadai dalam
meninjau berbagai masalah pendidikan yang dihadapi serfs dapat
rnemberikan pert imbangan yang to pat d al am rnengarnbil kebijakan,

Tugas
1, Jelaskanlah mengapa aliran empirisme disebut aliran ontimisme!
2. Buatlah sate bentuk laporan observasi tentang penerapan aliran empiris-
me, nativisme, dan konvergensi khusus tentang pelmilihan jurusan di
seko[a h menengah,
3. Buatlah suatu laporan analisis penerapan pemikiran pengajaran alam seki-
tar. pengajaran pusat perhatian, sekolah kerjar pengajaran proyek
pada mata-mats pelajaran yang pernah dipelajari di sekolah menengah,

4. Diskusikanlah dalam kelompok yang berjumlah 3-5 orang tentang per-


kembangan Perguruan Taman Sic a, Ruang INS Kayu Tariam, Perguruan
lvluhammadiyah dan Perguruan Diniyah Putri Padang Panjang saat ini.

Daftar Pustaka
Agustiar Syah blur. 2002. Perbandingan Sistem Pendidikan .15 Negara.
Bandung: Lubuk Agurtg,
ANamaly & Muhammad Fadhil. 1986. Fifsafat Pendidikan dalam Al-Qur'an,
Surabaya: PT Nina Ilmu.
Dar -miyati Zuchdi. 2008. Humanisasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara,

176
BAB 7 D.. Bebecapa Pernikiran tentang Pffid Aiken

Deliar Noer & Iskandar Alisyahhana (Ed.). 1998. Penibahan, Pernbaharu-


dan Kesadaran Itlenghadapi Abad ICe-21, Jakarta: Dian Rakyat.
Depdiknas. 2005, PP No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasiona! Pendi-
dikan. Jakarta: Depdiknas.
H,A.R, Maar. 2007. Mengernbangkan lirnu Pendidikan Berdimensi
Jakarta: Lembaga Manajemen UNJ.
Made Pidaria. 2007. Landasan Kepenclidikan Stimulus Ilinu Pendidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta,
NI, Dimyati. 19811 Landasan Kependidikan Suatu Pengantar Pemikiran
Keilrnuan tentang Kegiatan Pendidikan, Jakarta: P2 LP1 K. Depdikbud.
Pokja Pengernbangan Peta Keihnuan Pendidikan. 2005. Peta Keilrnuan
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Ke-
pendidikan dan Ketenagaan PT. Ditjen Dikti.
Prayitno. 2005. Sosok Keilinuan lirnu Pendidikan, Padang; FIP UNP.
. 2009, Dasar, Teori, dan Praksts Pendidikan. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia,
Redja Mudyahardjo, 2006, Filsafat Pendidikan. Bandung: PT Rem*
Rosdakarya,
Shamir', A. G. 1973. Aril Pendidikan bagi Masa Depan, Terjemahan Mhd.
Ansyat, Jakarta: Pustekom Depdikbud,
Suardi. 2012. Pengantar Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT Indeks.
Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina,
Undang-Undang RI Nornor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: B alai Pustaka Cipta Karya.
Undang-Undang RI Nornor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan. Dosen. Ja-
karta: Depdiknas.

111 177
8
Permasalahan Pendidikan

PENDAHULUAN

Istilah permasalahan diterjernahkan dari istilah 'problem" (bahasa


Inggris) yang berarti: perbedaan (discrepancy/different) antara sesuatu
yang diharapkan (what should be/cias Solen) dengan sesuatu yang
terlihatiterdapat sebagaimana adanya (vvhat iskias Sein), tentarig se-
suatu. Daiam bahasa yang mudah dirnengerti, permasalahan adalah:
"perbed aanija rakikesenjangan a ntara sesuatu yang dicita-citakan
(ideal ita) dengan sesuatu yang ternyata ad a (real it a)':
F'ermasal a [Ian pendidikan iaIah perbedaan program-program pen-
didikan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang terlaksana
di lapangan. Seperti diketahui, program utama pengembangan pen-
didikan di Tanah Air kitayaitu:
Peningkatan kuantitas pendidikan.
a. Peningkatan kualitas pendidikan,
c, Peningkatan efisiensi pendidikan,
Peningkatan efektivitas pendidikan,
d. Peningkatan relevansi pendidikan.
e. Peningkatan tenaga pendidik clan kependidikan.
(TAP MPR RI No. I liMPR/1993)
Sema kin besarilebar perbedaan antara yang dicita-citakan dengan
yang ternyata ditemui di lapangan, sernakin besarirumit/kompleks
permasalahan tersebut.
Dewasa ini permasalahan yang dipandang rumitikompleks adalah
permasalahan: (a) kuantitas, (b) kualitas, (c) efisiensi, (d) efektivitas,
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

(e) relevansi, d n (f) tenaga pendidik dan kependiclikan. Keenan) per-


rnasalahan pokok ini akan dipaparkan dalam bab ini, di sari-ping its
akan diuraik an Pula saling ka it a nthrjenis ma sala h tersebut.
Dengan mengkaji mated yang ada pada bab ini, baik tatap rnuka
maupun mengeriakan tugas tersebut Anda akan dapat:
a Menjel as ka n jen is pe rrna sa la h a n pokok pendidikandi Tang' Air.
b. rvienjelaskan sating kait antarmasalah pokok pendidikan terse-
but.

A. PERMASALAHAN POKOK PENDIDIKAN

1. Kuantitas
Yaitu rnasalah yang rnenyangkut banyak rnurid yang harus ditam-
pung di dalarn sistem pendidikan atau selolah. Masalah ini timbal karena
ealon murid yang tidak tertampung di suatu sekolah, karena terbatasnya daya
tampung. Kesempatan rnernperolehpendidikan rnasih terbatas pada
tingkat sekolah dasar. Permasalahan ini mencuat terutarna di SD pada tahun-
tahun lainpau. Tetapi scat ini masalah itu sudah bisa diatasi. Sisa
permasalahan ini ada pada anak-anak yang tinggal di daerah terpencil_
Diharapkan (ideal): "pendidikan nasional dapat menyediakan ke-
sempatan yang seItias-luasnya bagi seluruh warga negara Indonesia untuk
rnempercaleb pendidikan.'"
Kenyataan (realita): 'masih banyak warga negara kh.ususnya warga usia
sekolah tidak tertampung cli lembaga pendidikan (sekolah) yang "ada"
(umber: Statitik Pendidikan Dacrah atau Nasional).
Permasalahannya ialah bagaimana sistem pendidikan dikelola sehingga
dapat nienyediakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh warga
negara merriperoIeh pendidikan,
Dengan rnemberikan kesempatan yang seluas-luasnya itu, diharapkan
pendidikan akan semakin raerata, karena merata daIam arti yang se-
sungguhnya tidak rnungkin dicapai. Hal ini antara lain disehahkan per-
aturan perunda.ng-undangan tentang wajib belajar (wajar) tidak diikuti
dengan sanksi bagi yang tidak mengikutinya, karena sistem pendidikan itu
sendiri hclum rnemungkinkan untuk itu.

2. Kualitas
Kualitas pendidikan umumnya dilihat dari hash' (output) pendidikan itu
sendiri. Kriteria untuk hasil ini adalah kadar ketercapaian tujuan pen-

180
SAE 8 Perrnasalahan Pend idiken

didikan itu sendiri. Kaclar ketercapaian tujuan ini mulai dapat dilihat
dari hierarki tujuan Wicked, yaitu tujuan pernbelajaran khusus (TP1()/
indikator pencapaian basil belajar. Kualitas ketercapaian TPKlindikator
seIanjutnya dapat menggarnbarkan ketercapaian tujuan pembelajaran
urnuni (TPU)/kompetensi dasar. Demikian secara hierarki, sehingga
dapat diketahui pula tujuan-tujuan yang lebib jauhitinggi, yaitu tujuan
kurikuier (tujuan mata pelajaranikuliah), tujuan institusional (lembaga
pendidikan), dan tujuan nasional pendidikan, Tujuan-tujuan ini dibuati
ditetapkan se belum proses pendidikan dimulai.
Kadar ketercapaian tujuan tersebut tergantung pada unitilembaga
yang menyelenggarakan pendidikan tersebut. Unit terkecil yang akan
menentukan tersebut ialah guru mats pelajaran (doyen mataladiah)
yang bersangkutan.
Mem ang kadar ketercapaian tujuan tersebut sukar ditetapkan secara
eksak (pasti), karena slat ukur keberhasilan seseorang anal di sekolah
belum ada yang Baku (standar). Adakalanya sistem penilaian ada yang
menggunakan penilaian acuan normal (PAN) dan acuan patokan (PAP).
Rarnbu-rambu kadar keberhasilan (ketercapaian tujuan) secara umum
dapat ditetapkan (ideal) seperti kadar pencapaian tujuan minimal 75%
(menurut kurikulum sekolah), indeks prestasi UP) minima] 2,00 untuk
program S-1 di perguruan tinggi. Walaupun kadar minimal sudah dite-
tapkan, tetapi pada akhirnya yang mentutuskan nilaiikadar tersebut adala
h si penilai {evaluator) senditi.
Keadaan seperti ini rnenyebabkan kita mengalami kesukaran untuk
rnenetapkan kadar mum yang sesungguhnya (realita). O1eh sebab itu,
permasalahan mutu pendidikan sukar diketahui dalam arti yang sesung-
guhnya. Apalagi bila si penentu (evaluator) dilakukan oleh orang yang
berbeda dengan kriteria yang berheda pula, maka gambar permasalahan
mutu ini sesuatu yang rnisteri. Nilai 8 (pencapaian 80%) pada suatu se-
kolah tidak akan saina kadarnya dengan nilai 8 pada sekolah lain. Dengan
demikian, bisa terjadi bahwa di suatu sekolah mutu pendidikan tidak di-
pandan.g sehagai masalah karena antara mutu yang rid dengan yang ideal
dapat diatur. Sementara secara nasional (menggunakan UAN) ternyata
berrnasalah. Tetapi apakah UAN sudah memberikan garnbaran kualitas
yang sestingguhriya?
Walaupun demikian koinpleksnya permasalahan ini, secara umurn
dapat kita katakan bahwa dilibat dari HAN mutu pendidikan suatu dae-
rah dapat dikatakan berrnasalah, sementara daerah lain tidak,
Pencapaian yang sama dengan kadar perolehan yang minimal apalagi di
atasnya (100%) maka mutu tidak tnasalah dan sebaliknya.

1 1 1
181
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3. Efisiensi
Pendidikan dikatakan efisiensi (ideal) ialah bila penyelenggaraan
pendidikan tersebut hemat waktu, tenaga, dan biaya, tetapi produktivitas
(basil) optimal. Pendidikan dikatakan efisiensi bale pendayagunaan sum-
her daya yang ada (waktu, tenaga, biaya) tepat sasaran. Radar efisiensi itu
tentu tergantung pada pemberdayaan cumber daya tersebut. Bila yang
terjadi misalnya tidak hemat (boros) waktu, biaya, dan tenaga tidak her-
fungsi secara optimal, maka kadar efisiensi rendah (tidak/kurang efisien).
Bagaimana kadar efisiensi itu di lapangan (realita) Hal ini ditentukan
oleh keadaan peridayagunaan ketiga kriteria seperti disebutkan
terdahulu. Bila penyelenggaraan pendidikan tidakikurang mernftingsikan
tenaga yang ada, sementara waktu ku rang dirnanfaatkan sedemikian
rupa sehingga banyak yang terbuang sia-sia, apaiagi biaya yang
dikeluarkan banyak maka kadar efisiensi rendah (kurang efisien).
Analisis seperti ini dapat diarahkan pada unsur-unsur terk.ecil dari
ketiga kriteria tersebut. Misalnya apakah waktu digunakan sesuai jad-
walhencana, apakah guru mengajar atau dosen member' kuliah
minimal sama dengan jam wajib mengajar secara dengan pegawai
negeri. Dentikian Pula analisis dapat dilakukan dari unsur-unsur makro
sehingga dapat diketahui efisiensi secara nasional.

4. Efektivitas
Penclidikan dikatakan efektif (ideal) ialah bila hasil yang dicapai se-
suai dengan rencana/program yang dibuat sebelumnya (tepat guna). !Ma
rencana mengajar (persiapan rnengajar) yang dibuat oleh guru atau
silabus/SAP yang dibuat closen sebelum rnengajarimemberi kulialt ter-
laksana secara utuh dengan sempurna, maka pelaksanaan perkulialian
tersebut dikatakan efektif. Sempurna di sini meliputi semua komponen
perencanaan seperti tujuan, materilbahan, strategi, dan evaluasi,
Sebaliknya, dikatakan kurang efektif bila komponen-komponen
rencana tidak terlaksana dengan sernpurna, misalnya tujuan tidak
tercapai sernua, materi tidak tersajikan sernua, strategi belajar
mengajar tidak tepat, eva.luasi tidak dilakukan sesuai rencana.

5. Relevansi
Pendidikan dikatakan relevan (ideal) ialah bila sistern pendidikan
dapat menghasilkan output (keittaran) yang sesuai dengan kebutuhan
pernhangunan. Kesesuaian (relcvansi) tersebut meliputiimencakup kuantitas
(jumlah) ataupun kualitas frnutu) output tersebut, Selanjutnya,

182 ■
SAE 8 Perrnasalahan Pend idiken

kesesuaian tersebut hendaknya mempunyai tingkat keterkaitan (link) dan


kesepadanan (match).
Pendidikan dikatakan tidak atau kurang relevan ialah bila tingkat
kesesuaian tersebut tidak adaiikurang. Kadar permasalahan ditentukan
oleh tingkat kesesuaian antara sisters pendidikan dengan kebutuhan
masyarakat pembangunan tersebut. Bila tingkat kesesuaian tinggi, maka
pendidikan dikatakan relevan. Permasalahan akan sernakin besarirunnt bila
tingkat kesesuaian tersebut rendah.

B. PERMASALAHAN KHUSUS PENDIDIK DAN


TENAGA KEPENDIDIKAN
1, Pendidik bukan berasal dari lulusan yang sesuai. Maksudnya terkadang
terdapat tenaga pendidik yang niengajar tidak sesuai dengan
jurusannya. Comoh, pendidik yang merupakan lulusan matematika
mengajar bahasa Indonesia. Hal ini secara tidak langsung akan
menjaidi masalah pendidi kart di Indonesia, Paclahal, dalain PP
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pasal 28 ayat (2), dijefaskan bahwa pendidik harus sesuai
dengan ijazah dan sertifikat keahlian yang relevan dengan perundang-
undangan yang berlaku,
2. Pendidik kurang rnenguasai dad 4 kompetensi yang harus dimiliki oleh
pendidik maupun tenaga kependidikan sehingga hal ini me
nyebabkan adanya masalah kualitas pendidik dan tenaga kependi-
dikan yang kurang baik. Dalarn U II Ill Nomor 14 Tahun 2005 Pasal
dijelaskan bahwa guru wajib merniliki kualifikasi yang salah satu
di antaranya kompetensi, dan diperjelas dalam Pasal 10 ayat (1)
yang bent unyi "kompetensi guru sebagai mana dalam Pasal 8 meliputi
kompetensi pedagogik, kepribadian, social, dan profesional yang
diperoleh meialui pendiclikan profesi. Selain itur juga dijelaskan
dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 ayat (3) mengerrai
kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik,
3. Pendidik terkadang menjadikan mengajar hanya untuk menggu-
gurkan kewajiban sebagai pendidik, sehingga dia mengajar secara tidak
maksirn al. Hal ini tidak sesuai dengan PP Nom or 19 Tahun 2005
Pasal 28 ayat (3) yang seharusnya pendidik memiliki kompetensi
profesional, yang mengharuskan pendidik wajib bertanggung jawab
dengan togas dan pembinaan terhadap peserta didik,
4. Pendidik belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan masyarakar.
Fenomena itu ditandai dari rendahn.ya mutu lulusan, penyelesaian

183
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

masalah pendidikan yang tidak tuntas, bahkan lebih berorientasi


proyek. Akibatnya, wring tali basil pendidikan mengecewakan ma-
syarakat. Mereka terns mempertanyakan relevansi pendidikan de-
ngan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi,
politik, sosia.l, dan budaya,
5. Pendidik mengajar tidak sesuai dengan silabus sehingga target dari
tujuan pembelajaran tidak_ sepenuhnya tercapai. Hal ini Lida sesuai
dengan kompetensi pedagogik yang harts dirniiiki deli guru sesuai
dengan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 ayat (3) yang berbunyi
'Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar dan rnenengah sena pendidikan anak usia dint rneliputi: kom-
petensi pedagogi.k, kepribadian, profesional, dan social.
6. Masih banyak pendidik yang belum rnernenuhi ketentuan sesuai
dengan PP Nornor 19 Tahun 2005 seperti pengajar di tingkat
SD/MI minimal berijazah S11 D4. Tetapi dalam kenyataan di
masyarakat masih terdapat pendidik yang belum berijazah D4 atau
dengan kata lain rnasih 173.
7. Tenaga kependidikan biasartya masih berasal dari tenaga pendidik
yang merangkap tugas menjadi tenaga kependidikan seperti guru
rnerangkap menjadi tenaga administrasi atau tenaga perpustakaan.

C. SALING KETERKAITAN ANTARMASALAH


PENDIDIKAN
Perm a.salahan pokok pendidikan sesungguhnya tidak berdiri sendiri.
larn kenyataannya di lapartgan masalah tersebut saling kait. Mungkin
pada suatu situasilkondisi muncul secara serempak meskipun dalam
bobot yang berbeda. Pada kondisi tertentu rnisalnya kita (negara) ingin
pendidikan itu merata, [Enka pada scat ini mute terabaikan ibermasa-
efisiensi akan bermasalah, demikian Pula relevansi pendidikan akan
mengalami penurunan (bermasalah).
Keadaan seperti ini, mengharuskan negara memusatkan perhatian
pada program pendidikan tertentu, Misalnya, pada periode tertentu,
ruemusalkan perhatian pada pemerataan pendidikan, kemudian pada
periode berikutnya pada peningkatan mutt'. Bila negara sudah maju
(developed bukan developing apalagi under developing country), maka
pada kondisi ini permasalahan pendidikan tidak akan ada lagi, jika
terdapat juga permasalahannya tidak akan beratibesariagi.

184 ■
SAE 8 2- Perrnasalahan Pend idiken

D. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI


BERKEMBANGNYA PERMASALAHAN
PENDIDIKAN
Beberapa faktor yang memengaruhi berkembangnya permasalahan
pendidikan. Faktor-faktor itu yakni: (a) perkembangan IPTEK dan
seni; (b) laju pertumbuhan penduduk; (c) aspirasi masyarakat; dan (d)
keterbelakangan budaya dan sarana. Dengan mengkaji materi yang ada
pad bab ini, hati tamp muka maupun rnengerjakan tugas tersebut Anda
akan dapat menjelaskan faktor yang memengaruhi berkembangnya
permasalahan pendidikan.
Permasalahan pokok pendidikan yang telah dihiearakan pada bagian
terdahulu dan merupakan masalah yang terjadi dalarn bidang pendidikan
itu sendiri (masalah internal). Jika kita analisis lebih jauh, maka
permasalahan tersebut sesungguhnya berkaitan langsungitidak dengan
perkernbangan yang terjadi di luar bidang pendidikan itu sendiri, Perkem-
bangan di luar (eksrern) tersebut rnerupakan faktor yang rnemengaruhi
berkembangnya permasalahan pendidikan,
Faktor utarna yang memengaruhi berkembangnya masalah pendi-
dikan di antaranya: (a) perkembangan IPTEK dan seni; (b) laju
pertumbuhan penduduk; (e) aspirasi masyarakat; dan (d)
keterbelakangan budaya dan sarana. Bagian ini akan memaparkan
pengaruh faktor-faktor tersebut serta. penanggulangannya.
Faktor-faktor yang inemengaruhi horkernhangnya permasalahan
pendidikan:

1. Perkembangan IPTEK dan Seni


a. IP (Ilmu Pengetahuan)
Berkembangnya IP (science), apakah bidang sosial, ekonomi, hu-
kum, pertanian, dan sebagainya jelas akan membawa masalah
dalarn bidang pendidikan, misalnya raja mated pengajeran yang
terdapat dalarn kurikulum sudah harus diubahidisesuaikan.
1. TEK (Teknolugi)
Perkembangan teknologi, misalnya teknologi baru yang digunakan
dalarn suatu proses produksi akan menimbulkan kondisi ekonomi
sosial baru. Persyaratan kerja, kebutuhan tenaga kerja, sistem pe-
layertan dan lain-lain akan serba ban]. Perkembangan seperti iui
akan menimbulkan masalah dalarn sistem penclidikan. Sistem yang
ada mungkin tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan, oleh
karenanya perlu ditangguiangi,

185
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

C. Seni
Aktivitas kesenian mempunyai andil yang cukup besar dala.rn
mernbentuk manusia Indonesia seutuhnya (tujuan pendidikan).
Secara khusus kesenian dapat mengembangkan domain [aspek
afektif dari peserta didik.
Dunia seni telah mengalami perkembangan yang pesat dan serna-
kin mendapat tempat dalam kehidupan masyarakat. Keadaan seperti
ini, sudah barang tentu akan meninibulkan masalah bare dalarn bidang
pendidikan. Tika seni clikeinbangkan melalui sistem pendidikan, maka
perrnasalahan baru akan muncul antara lain ketersediaan sarana dan
prasarana serta ketenagaan kesenian di lembaga pendidikan (seperti se-
kolah).

2. Laju Pertumbuhan Penduduk


Laju pertumbuhan penduduk yang pesat, akan rnenyebabkan ber-
kentbangnya masalah pendidikan, misalnya masalah pemerataan. De-
ngan pertumbuh a n penduduk yang pesat, maka jurnlah anak usia sekolah
akan semakin besaribanyak Aka days tarnpung sekolah tidak
bertambah, maka sebagian dari mereka terpaksa antri atau tidak
sekolah. Tika ditampung juga (rnisainya karena wajib helajar) maka rasio
guru siswa akan semakin besar. Hal ini menyebabkan munculnya masalah
lain seperti masalah mutu.
Penyebaran penduduk yang tidak merata di Tanah Air akan me
nimbulkan masalah bare Pula, Misalnya bagaimana merencanakan dan
rnenyediakan sarana pendidikan yang dap at melayani daerah padat
(kola) dan daerah terisolasi yang anak usia sekolahnya tidak seherapa orang
(jarang),

3. Aspirasi Masyarakat
Kecendcrungan aspirasi masyarakat semakin meningkat dari
ta.bun ke tahun sudah terlihat. Masyarakat sudah melihat bahwa
pendidikan akan lebin menjamin memperoleh pekerjaan yang kayak
dan menetap atau akan meningkatkan status sosial mereka.
Peningkatan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan ini akan
mengakibatkan anak-anak (uga remaja dan dewasa) akan menyerbu dan
rnernbanjiri sekolah (lernbaga pendidikan). Kondisi seperti ini akan me-
nim bul kan berbagai masalah seperti sistem seleksi siswa/mahasiswa bare
rasio guru-siswa, waktu belajar, permasalahan akan terus berkembang
karena sating knit seperti yang telah d.ikemukakan pada bab terdahulu.

186 ■
SAE 8 2- Perrnasalahan Pend idiken

4. Keterbelakangan Budaya dan Serena


Masyarakat kita yang umumnya berada di daerah terpencil, yang
ekonominya lemah, dan kurang terdidik akan mengalarni keterbelakangan
budaya dan sarana kehiclupan. Keadaan seperti inn sudah jelas akan
menimbulkan masalah bagi pendidikan. Permasalahannya antara lain
bagainnana menyadarkan mereka akan keterhelakartganiketinggalannya,
bagairnana care menyediakan sarana kehidupan dengan lebih baik, khu-
susnva bagaimana sistem pendidikan dapat menjangkau dan rnelibatkan
mereka sehingga mereka keluar dari keterbelakangan tersebut.

Rangkuman

Permasalahari pokok pendidikan negara kita saat ini adalah bahwa pendidikan
kita belumikurang merata, rnutunya mash rendah dan ada kecenderungan akan
sernakin rendanimenurun. Di sawing itu, kurang efisien dan efektif serta rele-
vansinya rna5ih perlu ditingkatkan.

Antara permasalahan pokok tersebut saling kait. Suatu permasalahan clitang-


gulangi akan menimbulkan pembesaran masalah pada aspek yang lain. Kondisi
negara akan menentukan besar kecilnya permasalahan. Gila negara sudah maju
(developed country), maka permasalahan dengan sendirinya akan dapat ditekant
diperkecil, walaupun tidak( akan pernan habis (noprabiern) dalarn arti yang se-
5ungguhnya,

Berkernbarignya permasalahan pendidikan disebabkan pengaruh clari berbagai


faktor yang berasal clad luar bidang pendidikan tersebut, antara lain: (a) per-
kernbangan PTE dan semi; (b) laju perturnbunan penduduk; (c)aspirasi masya-
rakat; dan keterbelakangan budaya dan sarana.

Tugas

1. Lakukan observasi lapangan (sekolanikantoridinas), cari data program ke-


giatan menyangktit peningkatan kuantitas, kualitas. efisiensi, etektivitas,
relevansi, tenaga pendidik dan kependidikan. Bandingkan ternuan Anda
tersebut dengan suatu yang diharapkan (ideal) tentang program kegiatan
yang bersangkutan. Kernudian tentukan kadar rnasalahnya sehingga men-
dapatkan kesimpulan apakah perrnasalahannya besar, kecil, atau tidak ada
masaiah (noprobiern), Laporan hasilnya dalani bentuk makalan,

2. Kernukakan alasan Anda mengapa pada suatu negara yang sedang her-
kembang (developing country), perrnasalahan itu saling kait antara satu de-

187
DASA R-DASA R. ILMU FENDIDIKAN

ngan yang lain!


3. Pada periode tertentu SU atu rna5a1ah l e b ih besar sehingga merne r l uk an
perhatian khusus. Berikan contoh dalarn perkembangan pendidikan di
Tanah Air kits!

Daftar Pustaka
Al- Iamaly Sz Muhammad Fadhil. 1986. Filsafat Pendidikan Bala rn Al-
Qur'an, Surabaya: PT Bina llmu,
Datmiyati Zuchdi. 2008. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: Burni Aksara.
Depdiknas, 2005, PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasiona! Pendi-
dikan, Jakarta: Depdiknas.
II,A.R, Tilaar. 2007. Mengembangkan Emu Pendidikan Berdimensi Global.
Jakarta: Lembaga Manajemen UNI.
Made Pidaria. 2007, Landasan Kependklikan Stimulus iltnu Pendidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan, 2005, Peta Keilmuan
Pendidikan. Jakarta: Direktorat Pernbinaan Pendidikan Tenaga Ke-
pendidikan dan Ketenagaan PT Ditjen Dikti,
Prayitno. 2005. Sosok Keilawan Ilmu Pendidikan. Padang: RP UNP.
. 2009. Dasar, Mori, clan Praksis Pendidikan. Jakarta' Gramedia
Widiasarana. Indonesia.
Suardi, 2012. Pengantar Pendidikan Than dan Aplikasi. Jakarta: PT Indeks.
Syafril & Zelbendri Zen. 2012. Pengan tar Pendidikan. Padang: Rukabina,
T. Naisbit & P, Aburdane, 1990. Mega Trends 2000, Jakarta; Binarupa
Aksara.
Undang-Llndang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Jakarta: Balai Pustaka Cipta Karya.
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Rosen. Ja-
karta: Depdiknas.

188 ■
Upaya Penanggulangan
Permasalahan Pendidikan

PENDAHULUAN

Pendidikan rnenduduki posisi sentral dalam semua bidang pemba-


ngunan, '<arena sasarannya adalah peningkatan kualitas sumber
daya manusia. Peningkatan kualitas sumber daya manusia sesuai
kebutuhan pada masa (periode) tertentu ditentukan oleh inovasi
pendidikan yang relevan, iika pendidikan tidak mengikuti perubahan
yang terjadi pada rasa tertentu, maka pendidikan akan selalu ke-
tinggalan zarnan. Ole h sebab itu, pendidikan harus selalu dibarui
atau dilakukan inovasi.
Adapun arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap derni tahap,
yaitu:
a, lvlengejar ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan lbw dan
teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia rnakin
berjaian sejafar dengan kernajuan-kernajuan tersebut.
b. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar
sekolah bagi setiap warga negara. Misalnya rneningkatkan daya
tampung usia sekolah SD, SILTPr MU, dan perguruan tin ggi. Di
camping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan
makin menurun dewasa ini. Dengan sister penyarnpaian yang
bare diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aka kreatif,
dan terampil memecahkan masa lah sendiri.
Upaya penanggulangan perrnasalahan pendidikan itu akan dipaparkan
pada bab ini dengan tujuan setelah mempelajari secara saksarna,
Anda diharapkan memahami upaya penanggulangan perrna5alahan
pendidikan yang berkenaan dengan beberapa jerky inovasi pendidikan
di Indonesia yang telah dilakukan sejak 1968 hingga se-
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

karang, rneliputi! penubaban kurikulumdan pengeldFaan pendid ikan_


Secara Ieb)h khusus seteiah mated ini disajikah, Anda diharapkan
mamptt
a. Menjelaskan perubaban kurikulurn.
P. Menjelaskah pengelolaan pendidikan,

A. PERUBAHAN KURIKULUM
1.. Kurikuium 1968
Kurikulum pada Orde Lama (gebelum 1966) rnasih dalam meneari
hentuk yang khan nasional. Sejak merdeka hingga ditetapkan UU No, 4
Tahun 1950 tentang Pendidikan di Sekolah, pendidikan kita masih berada
pada tahap penyernpurnaan kurikulum masa pen jajahan (Belanda dan
Jepang), Sejara.h (pendidikan) mencatat bahwa pada era Orde Lama (tahun
1950-1965) materi pelajaran yang utama ad alah tujuh bahan pokok
(indoktrinasi). Kurikulum seeara keseluruhan terns dihenahi sehingga
la.hirlah kurikulurn pertama dalam sistern pendidikan di negara RI ini,
dikenal dengan kurikulurn terurai (Separated subject matter curriculum.),
karena mata pelajarannya hanyak tetapi satu sarna lain terpisah-pisah.

2. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 disetujui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
untuk secara nasional dilaksznakan hertahap mulai tahun pengajaran
1976, dengan catatan bahwa bagi sekolah-sekolah yang menurut perillaian
kepala perwakilan telah inampu, diperkenankan melaksanakannya rnulai
tahun 1975,
Ciri-ciri khusus Kurikulum 1975 yaitu:
a. Menganut pendekatan yang berorientasi pada tujuan. Setiap guru harus
mengetahui dengan jelas tujuan yang harus dicapai oleh setiap murid
di dalam rnenyusun rencana kegiatan belajar niengajar dan mem b
imhing m u rid untuk rt elaks an akan rencana tersebur.
b. Menganut pendekatan yang integratif, dalam arti setiap pelajaran
dan bidang pelajaran memiliki arti dan.peranan yang menunj ang te r-
capainya tujuan yang lebili akhir.
c. Pendidikan Moral Pancasila dalam kurikulum ini bukan hanya dibe-
bankan kepada bidang pelajaran Pendidikan Moral Pancasila di da-

190
13A13 9 1- Upaya Pena nggulan gan Perrnasalahan Pend idiken

lam pencapaiannya, melainkan juga kepada bidang pelajaran ilrnu


pengetahuan sosial (sejarah, geografi, dan ekonorrn) dan pendidikan
agama.
d. Kurikulum ini menekankan pada efisiensi clan efektivitas penggunaan
dana. Jaya, dan waktu yang tersedia. Jam -jam sekolah hendaknya
dimanfaatkan bagi kegiatan-kegiatan belajar untuk rnencapai tujuan-
tujuan yang tidak mungkin dicapai di luar situasi sekolah (guru-
murid., Berta fasilitas dan media pendidikan).
e. Mengharuskam guru untuk menggunakan teknik penyusunan program
pengajaran yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistern
Instruksional (PPS).
f. Organisasi pelajaran meliputi bidang-bidang studi, agama, Bahasa,
matematika, ilmu pengetahuan sosial, kesenian, olahraga dan kesehatan,
keterampilan, di sat-roping Moral Pancasila, yang tujuannya untuk
mencapai sinkronisasi clan integritas pelajaran-pelajaran yang
sekelompok.
g. Pendekatan dalam strategi pembelajaran rnemandang situasi belajar
mengajar sebagai suatu sistem yang meliputi komponen-komponen
tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran, alas pernbelajaran, alai
evaluasi, dan metode pembelajaran, Akibat dari pendekatan ini, maka
guru diajak untuk menjadi perencana dari kegiatan mengajar, di
samping sebagai pengelola dan salah seo rang pelaku dalant proses
itu sendiri.
h, Sistem evaluasi, dilakukan penilaian kepada murid-murid pada seti-
ap akhir satuan pembelajaran terkecil dan memperhitungkan nilai -
nilai yang dicapai murid-murid pada setiap akhir satuan pembel-
ajaran.
Ada empat macam tes dalam pelaksanaan kurikulurn ini, yaitu tes
formatif, sumatif, placement test, dan tes diagnostik. Tes forniatif herfungsi
untuk mem perbaiki proses belajar mengajar. Tes summit berfungsi untuk
menentukan angka kemajuanihasil belajar siswa. Tes p/acemeni/ penetapan
untuk nienempatkan siswa dalam situasi belajar-mengajar} program
pendidikan yang sesuai, Misalnya untuk mengelompokkan siswa dalam
belajar. Penilaianttes diagn.ostik berfungsi untuk membantu memecahkan
kesulitan-kesulitan belajar yang dialarni siswa tertentu.
Dalam menvusun dan me mbakukan kuriktdurn tersebut digunakan
beberapa prinsip yang memungkinkan sistem pendidikan pada setiap
program (SD, SUP, SMU), benar-benar lebih efisien dan efektif,

191
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

Prinsip-prinsip kurikulum 1975 yaitu:


a. Prinsip Fleksibilitas Program
Penyelenggaraan pendidikan keterampilan pada setiap program harus
mengingat faktor-faktor ekosistem dan kemarnpuan pemerintah,
masyarakat, serta orangtua untuk menyediakan dana bagi kelangsungan
bidang studi tersebut.
b. Prinsip Efisiensi clan Efektivitas
Yang dirnaksud dengan prinsip efisiensi adalah efisiensi dalam
penggunaan waktu, pendayagunaan dana, dan tenaga secara optimal.
Waktu murid-murid belajar di sekolah hanya enam jam sehari. Wak-
tu jam pelajaran yang tersedia hendaknya dirnanfaatkan dengan
sebaik-baiknya. Di dalam menetapkan jam pelajaran harus Pula di-
pertimhangkan bahwa murid tersebut mempun.yai Maras-hatas ke-
sariggupan untuk memusatkan pildran sebab kalau mereka sudah
terlalu lelah, pikiran dan perhatian mereka kurang terpusat. Akibat-
nya, raernbuang-buang tenaga dari waktu. jack hasil belajar mereka
kurang memuaskan. Dengan kata lain, proses belajar yang mereka
lakukan tidak berjalan secara deka
Alas dasar prinsip efisiensi dan efektivitas tersebut maka.:
1) Kegiatan belajar yang sifatnya pilihan wajibidan akademis di-
tekankan pada hari Senin-Jurnat.
2) Kegiatan belajar yang sifatnya pilihan wajib, ekspresif, dan
rekreatif diadakan pada hari Sabtu.
3) Setiap maw pelajaran hendaknya diberikan selarna dui hirigga tiga
jam pada setiap pertemuan. Jangan sekali-kali pertemuan diberikan
satu jam pelajaran saja.
4) jurnlah jam pelajaran efcktif di sekolah, setiap minggunya lebih
sedikit clari jumlah pelajaran pada Kurikulum 1968, Pada
SLTP, sepululi mata pelajaran per minggu, SLTA antara 8 dan
13 mata pelajaran per minggu, dibandingkan dengan 17 mata
pelajaran per minggu pada Kurikulum 1968. Pada SD hanya 8-
10 mata pelajaran per minggu. Dengan demikian, tiap hari anak
tidak akan mengikuti pelajaran lebih dari tiga rata pelajaran.
c. Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Kurikulum 1975 berorientasi kepada tujuan mulai dari tujuan yang
sangat umum sampai kepada tujuan yang khusus.
Hierarki tujuan menurut Kurikulum 1975 yaitu:
1) Tujuan umum ialah tujuan pendidikan nasional.
2) Tujuan institusional ialah tujuan untuk setiap lembaga tingkatan
pendidikan, seperti tujuan SD, SLTP, dan SLTA,

1 9 2 ■
BAS 9 1- U playa Pena nuulangan Perrnasalahan Pend idiken

3) Tujuan kurikuler ialah tujuan untuk setiap bidang studi seperti


tujuan mata pelajaran bahasa Indonesia, PNIP, PSPB, IPA,
4) Tujuan instruksional ialah tujuan setiap pokok bahasan (satuan
bahasa). Contoh: pada bidang studi keterampilan, murid dapat
menjelaskan cars mengolah tang].
d. Prinsip Kontinuitas
GBHN menyatakan, pendidikan adalah proses yang berlangsung s e
mur hidup. Sekolah dasar dan sekolah menengah; (pertama dan
atas) adalah sekolah-sekolah ttmum, yang masihg-masihg fungsinya
dinyatakan dalam tujuan institusional. Namun kurikulum satu jenjang
pendidikan derigari yang di atasnya berhubungan secara hierarkis
(hubungan vertikal). Ctieh karena itu, dalarn menvusun kurikulum,
ketiga jenjang sekolah tersebut hendaknya selalu dihuhungkan se-card
hierarkis dan fungsional.
Kurikulum pendidikan dasar disusun agar lulusannya, di samping
slap untuk berkemhang menjadi anggota masyarakat, juga slap untuk
mengikuti pendidikan tingkat pertama, Di samping merniliki bekal
keterampilan untuk memasuki masyarakat sebagai tenaga ker-
ja, juga harus slap memasuki pendidikan yang lebih H ubung-
an fungsional hierarki ini harus diingat dalana menyusun pi -
ogrannprogram pengajaran dari ketiga sekolah tersebut. Kalau tidak,
clapat terjadi pengulangan yang rnembosankan atau pemberian
pelajaran yang sukar ditangkap dan cliolah oleh pare murid, karena
rnereka tidak memiliki dasar yang kulcuh.
Bagi suatu bidang pelajaran yang menganut pendekatan spiral,
seperti pelajaran sejarah atau kewarga.negaraan; perluasan dan
pendalarn.an suatu pokok bahasan dari tingkat pendidikan satu ke
tingkat berikutnya harus disusun secara herencana dan sistema.tis,
Garis-taxis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang disusun untuk
setiap bidangudi diajarkan secara integral dengan tnaksud agar jeias
perbedaan antara pokok bahasan yang kelihatannya satna, diherikan di
SD dan SUP,
Para pelaksana terutama guru diharapkan untuk memahami
hubungan fungsional hierarki antara pelajaran yang diherikan di SD dan
di SLTP, antara caturwulan dan caturwulan berikutnya clan bahkan
antara satuan pelajaran untuk satu bulan dengan bulan berikutnya.
Pelaksanaan prinsip ini rnengharuskan guru untuk memahami hubungan
secara hierarki antara satuan pelajaran.
e. Prinsip Pendidikan Seumur Hidup
pendidikan yang diterima anak di sekolah rnemberikan dasar/bekal

193
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

untuk belajar seumur hidup, sehingga memungkinkan seseorang rnenin


gk.atkan pengetahuan, ketera rnpi I a n, serta pengembangan putensi-
potensinya sesuai dengan kebutuhan kehidupannya.

3. Kurikulum 1984
Salah sate upaya perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan di
sekolah dilakukan melalul perbaikan kurikulum pendidikan dasar dan
rnenengah dalam lingkungan Departemen P dan
Perbaikan kuriladurn ini dilaksanakan sesuai dengan Keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0.461/ U11983 tanggal 23
Oktober 1983. Pernbenahan kurikulum ini diharapkan dapat memberikan
peluang yang lebih besar kepada siswa untuk memperoleh pendidikan yang
sesuai dengan bakat, minas, kebutuhan, dan kemarnpuannya.
Pengembangan kurikulum diadakan secara bertahap, dalam arti hahwa
upaya pernantapan tetap diadakan secara terus-menerus. Hal ini penting,
rnengingat kurikulum harus selalu disesuaikan dengan tahap pembangunan
riasional melalui penyernpurnaan isi, bentuk, dan eara penyajian
(pendekatan yang lebih sesuai1.
Karakteristik 1984 adalah:
a. Landasan Pengembangan
Nilai dasar (basic value) sebagai landasan pengembangan kuri-
kulum ini adalah Pancasila dan UUD 1945. Karena Pancasila
rnerupakan asas dan dasar negara bangsa kits, rnaka setiap upaya
pembenahan kurikulum harus bersurnber pada Pancasila,
2) Fakta empiris dapat dicari dari sumber ketentuan yang berlaku
(CTBHN), hasil penelitian dan pengernhangan, dan hasil penilaian
kurikulum,
3) Segi teoretis berarti pengembangan kurikulum perlu memper-
rimhangkan adanya perkembangan, teori-teori ilmu pengetahuan
dan teknologi,
b. Prinsip Pengembangan
1} Prinsip relevansi rnengaeu pada upaya penyesuaian kurikulum
dengan kebutuhan anak dan lingkungan, baik fisik maupun so-slat.
Hal ini berarti dalam penyusunan kurikulum didasarkan pada
kebutuhan anak dan kebutuhan lingkungan.
2) Pendekatan pengembangan (developmental approach) meng-
haruskan adanya penilaian kurikulum perlu dilakukan secara
terus-menerus. Hasil penilaian tersehut mengarah pads per-
baikan terns-menerus yang diadakan, sementara kurikulum di-
terap kan.

194 111
BAS 9 1- U playa Pena nsgulangan Perrnasalahan Pend idiken

3) Perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi


berjalan dan berubah. Perididikan perlu memperhatikan hal itu.
Dalam menghadapi hidup digunakan sebagai prinsip pengem-
bangan pendidikan seurnur hidup.
4) Pengembangan kurikulum mendasarkan diri pada suatu prinsip
keluwesan, mengingat situasi, kondisi, dan kebutuhan yang be r-
beda-beda. Hal ini berarti bahwa perangkat program kurikulum
perlu disesuaikan oleh pelaksanaannya menurut keadaan se-tern p
at.
5) Guna tercapai tujuan secara tepat digunakan prinsip efektivitas.
Dengan demikian, pars pelaksana kurikulum hendaknya terbiasa
menerapkan kurikulum secara tepat gum.
c. Kegiatan Kurikulurn
1) Ada tiga bentuk kegiatan kurikuler, yaitu intrakurikuler, kokuri-
kuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan ini sangat penting artinya bagi
kegiatan belajar mengajar, penilaian, dari sistem kredit.
2) Kegiatan intrakurikuler dilaksanakan sesuai dengan struktur
program. Pelaksanaannya di sekolah dan sektruh kegiatannya
dinilai.
3) Kegiatan kokurikuler di luar struktur program. Tujuann.ya untuk
rnernberikan perluasan dan pengalaman terhadap apa yang telah
dipelajarinya dalam kegiatan intrakurikuler. Kegiatan kokurikuler
wajib
4) Kegiatan ekstrakurikuler terutarna ditujukan untuk keperluan
pembinaan bakat clan prestasi siswa. Kegiatan ini dilakukan di
luar sekolah dan dinilai, Apabila pembimbing perlu mengada-
kan penilaian hanya terbatas pada upaya penguatan (reinforce-
ment),
d, Penclekatan dalam Proses Belajar Nlengajar
Proses Belajar Mengajar (PBM) adalah pendekatan keterampilan
proses yang dilArujudkan dalam bentuk Cara Belajar Siswa Aktil
(CB A]. Pada dasarnya pendekatan m i rnemberikan penekanan
yang sama beratnya bagi proses belajar dengan basil belajar.
Dengan demikian, proses belajar mengajar lebth hanyak mengacu
pada bagaimana seseorang belajar, selain apa yang dia pelajari
tanpa mengabaikan ketuntasan belajar dengan memperhatikan
kecepatan belajar siswa. Pada dasarnya peiaksanaan proses belajar
mengajar izti berbentuk kelompok tanpa rnenutup kemungkinan
untuk bentuk lainnya.
Keterampilan proses terdiri dari pengarnatan, rnenghitung, rneng-

195
DASAR-DASA R. ILMU PE NDIDIKAN

ukur, mengkIasifikasikan, hubungan ruang dan waktu, perbuatan hi-


potesis, pengeridali an variabel, interpretasi data, kesirnpulan sementara
(inferensi), penerapan (aplikasi), dan komunikasi.
e. Sistem Pen iialan
Pada dasarnya sistern penilalan dalam kurikulum 1984 bukan hanya
menitikberatkan pada penilaian basil belajar, tetapi diterapkan juga
penilaian pada proses belajar.
f, Sistem Kredit
Dalam kurikulum SLTA seperti SMA diterapkan sistern kreclit. Yang
dimaksud dengan kredit adalah ukuranisatuan belajar siswa yang
ditentukan oleh jurnlah jam pelajaran tatap muka dan pekerjaan ru mah
per minggu tiap semester.
Penerapan sistem kredit berfungsi sebagai:
1) Pengukur beban siswa, yaitu menunjukkan ukuran minimal ataupun
maksimal bahan belajar siswa.
2) Pencerminan dari perolehan tentang pengetahuaniketerampilan tertentu
dalarn waktu tertentu,
3) Pengakuan atas penyelesaian suatu program studi pada tingkat semester,
tingkat kelas, atau tingkat sekolah_

4. Kurikulum 1994
Untuk memperbaiki mutu pendidikan selama pemerintah Orde Baru,
antara lain dilaksanakan hcrhagai upaya perbaikan kurikulurn. Dimulai dari
Kurikuktm 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 yang
disempurnakan, disederhanakan, dan disesuaikan. Semua itu memiliki ciri-
ciri dan pendekatan yang herheda,
Kalau diperhatikan upaya-upaya tersebut, sesuai dengan pengertian
kurikuium dalam UU No. 2 Tahun 1989, yaitu seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai iisi clan Kahan pelajaran serta cars yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar,
Pada awal Pelita VI diberlakukan Kurikulum 1994. Menteri Pendidikan
dan Kehudayaan sengaja mernherikan informasi lebih awal untuk
mengurangi tanggapan negatif dari rnenghilangkan kesalahpahaman atau
keresahan di kalangan Para pendidik, terutama bagi daerah pedalaman yang
hiasanya lambat merterima ide-ide pembanian.
Salah satu tujuart dari UU RI No, 2 Tabun 1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional agar peserta didik yang telab menamatkan seko1ah
rnarnpu menghadapi herbagai tantangan dan mampu rnenjawab segala
permasalahan pada pembangunan nasional jangka panjang tahap kedua,

196 ■
13A13 9 1- Upaya Pena nsgulangan Perniasalahan Pend idikan

Ciri yang mernbedakan Kurikulum 1994 dengan kurikulum sebe-


Iumnya, ada pada pelaksanaan tentang pendidikan dasar sembilan tahun,
memberlakukan kurikulum muatan lokal serta menyempurnakan tiga
kernampuan dasar: membaca, menulis, dan menghitung (3M) yang lungsi
ona I_
Dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan di SD, juga di-
kembangkan kurikulum muatan lokal yang dinyatakan dalam keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 04121U/1987 tanggal 11 Juli
1987. Pelaksanaannya dijabarkan dalam keputusan Direktur Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah No. 1731C/KepltH1987 tanggal 7 Oktober
1987, Dalarro keputusan IvIenteri P dan K tersebut dinyatakan, kurikulum
muatan lokal ialah suatu program pendidikan yang isi dan media
penyampaiannya dikaitkan dengan alam, lingkungan sosial, lingkungan
budaya, dan pola kehidupan, serta kebutuhan pembangunan yang wajib
dipelajari murid di daerah tersebut.
Tujuan kurikulum muatan lokal antara lain untuk mendekatkan pe-
serta didik dengan lingkungan, untuk rnenerapkan ilniu pengetahuan
yang diterima di sekolah dalam kehidupan peserta didik sehari-hari se-
hingga peserta didik terbiasa berpikir kritis dan analitis, untuk m elestari-
kan dan niengernbangkan kebudayaan daerah, untuk menanamkan rasa
cinta terhadap lingkungan peserta didik, dan untuk mengernbangkan
potensi peserta didik sesuai dengan lingkungannva.

5. Kurikulum Suplernen
a. Latar Belakang
Kurikulum yang berlaku (Kurikulum 1994) rnendapat tanggapan, kri-
tik, dan saran dari para praktisi, pakar, ahli, serta masyarakat. Tang-
gapan masyarakat tentang kurikuler juga semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya kesadaran dari kehutuhan masyarakat. Tang-
gapan dan kritik pada unummya berkenaan dengan padatnya isi
kurikulum seperti banyaknya inata pelajaran dan substansinya dari
setiap mata pelajaran, materi yang kurang sesuai, haik dengan tahap
perkembangan anak rnaupun dengan kebutuhan pembangunan na-
sional dan perkembangan IPTEK. Kurikulum yang berlaku juga di-
anggap kurang rnengakornodasi keragaman potensi peserta didik,
aspirasi, dan peran serta masyarakat. Namun demildan, Kurikulum
1994 masih sesuai bagi sebagian siswa.
Dengan pertirnbangan hal tersebut telah dilakukan evaluasi,
pengkajian dokumen dan pelaksanaan kurikuler sebagai bagian dari
proses pengembangan kurikulum dan kemudian melanjutkan de-

197
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

ngan penyesuaian kurikulum sebagai upaya untuk menanggapi tuntutan


kebutuhan pembangunan nasional clan perkembangan IPTEK serta
kritik dan saran dari para praktisi, pakar, ahli, dan masyarakat.
Hash penyesuaian yang diperoleh adalah suplemen GBPP Kuri-
kulurn 1994 rnerupakan bagian yang tidak terpisahkan idari GBPP
Kurikulum 1994. Suplemen tersebut mencakup semua mata pelajaran
untuk satuan pendidikan SD, SLIP, SMU yang mulai diimple-
mentasikan pada awal tahun pelajaran 199912000.
Tujuan
Penyernpurnaanipenyesualan GBPP dilakukan dengan maksuti un-
tuk:
1) Meningkatkan efektivitas dan kualitas pembelajaran.
2) Meningkatkan hash] belajar siswa.
3) Strategi
Untuk mengkaji seberapa pub GBPP rnengandung rnasalah-rnasalab
yang berkenaan dengan pengorganisasian isi dan pengalarnan belajar,
Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan
bekerja sarna dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar clan
Menengah rnengadakan serangkaian kegiatan untuk mengkaji GBPP.
Kegiatan ini melibatkan para ahli rnata pelajaran, pengembangan
kurikulurn, dan guru-guru bidang studi.
Pengkajian GBPP dilakukan den gan menggunakan langkah-langkah
sebagai berikut:
1) Menelaah basil pen.gkajian kurikulum pendidikan dasar dan
menengah sebagai dasar untuk melihat permasalahan dalarn
dokumen dan pelaksanaan kurikulum.
2) Mengkaji GBPP dalarn rangka rnerurnuska.n perbaikan GBPP
dengan menggunakan format suplemen perbaikan GBPP yang di
dalamnya memuat Basil pengkajian.
3) Mernbahas usulan perbaikan C.iBPP tersebut dengan cara men-
diskusikan masihg-masihg perbaikan guna niendapatkan kese-
pakatan mengenai isi suplemen tersebut.
4) Mernfinalisasi usulan suplemen pen yernpurnaanipenyesuaian
GBPP untuk masihg-masihg persekolaban, Dari kegiatan peng-
kajian tersebut diperoleh GBPP yang disempumakan/disesuaikan
sebagai berikut:
i. Untuk pokok bahasan yang mirip atau sama diperbaiki dengan
cara menggabungkan pokok bahasan tersebut beser-

198 111
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perrnasalahan Pend idikan

to uraian materinya pada kelas yang lebih tinggi atau yang


rendah.
ii. Untuk pokok bahasan yang tidak relevan dengan perkem-
bangan zarnan ditunda pelaksanaannya hingga adanya ke-
putusan lebih laniut dad Depdiknas.
Pengkajian kurikulum ini dapat digunakan untuk menyernpurnakan
kurikulum yang digunakan pada waktu tanpa langsung mengganti
kurikulum dengan kurikulum yang haru. Secara prinsip kurikulum yang
digunakan rnasih kurikulum yang sebelurnnya, tetapi &dam
penerapannya kurikulum tersebut dikaji lagi untuk penyesuaian dengan
kehutuhan dan perkembangan ihnu dan teknologi.
Contoh:
Suplemen GBPP PPKN secara lengkap sebagai berikut:

data Pei aja ra n :PPKN


Satuan Pendidikan SD

KELAS P6/SPB [(URI KULUtvl STATUS : KETERANGAN


/ 1994
CAWU
1/•i Kern pi an Temp diajarkan !
Kasai Tak diajarkan : Digabungkan dengan
sayang • kelas 1111
Temp diajarkan Penggabungan Bari II
Kebanggaa • I/1 dan W2
Tetapdiajarkan ! Digabungkan dengan
n Ketertiban kelas VI/3
Tak diajarkan
To long menolong
!.'2 Kerukunah Tak d i ajark an i Digabungkan dengan
•kelas VI
Keberan i an Tetap diajarkan
Kebersihn Tetap diajarkan
nrekesehatan 1-liclup Tetap diajark an
he mat Kead Han Tetap diajarkan
I
1/3 Ketaatan Tak dlajarkan Digabungkan de ngin
kelas Vil
Belas Tetap diajarkan
kasih Tetap diajarkan
Kesetiaan Tetap diajarkan Pe nggabungan dari
Kepatuhan ' keias 1V3
Tetap diajarkan
Horrnat menghorrnati

Suplemen untuk niata pelajaran yang lain dapat dilihat pada GBPP mata
pelajaran yang bersangkutan.

• 199
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

6. Kurikulum Berbasis Kompetensi


Pengertian kurikulum sangat banyak sekali tergantung situa.st dan
objek pendukungnya. Namur) hakikat implernentasi kurikulum dapat di-
berikan pemahaman pada materi, isi atau informasi (pengetahuan) yang
diajarkan di sekolah. Pendekatan ini dikenal dengan kurikuium berbasis-
kan pengetahuan (knowledge based curriculum).
Adap u a kurikulum yang menekankan pada pencapaian kernam puan
yang dikuasai oleh siswa, di mana rnateri atau pengetahuan diperlakukan
sebagai alat dalam pencapaian ketnampuan. Artinya kurikulum merupakan
serangkatan pemberian pengalaman belajar, secara autentik kepa-
da setiap siswa di sepanjang hayatnva bails yang diberikan ber-
bagai kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah.
Penclekatan int dikenal dengan kurikulum yang berbasiskan kemampuan
atau kompetensi (competency based curriculum), seianjutnya dikenal dengan
KBK (Kurikulurn Berbasis Kompetensi).
Kompetensi yaitu kemampuan yang perhi dikuasai peserta didik setelah
mengikuti proses pembelajaran yang dapat dilihat Hari kognitif
(pengetahuan), psikornotor (keterampilan), dan afektif (sikap).
Pengetahuan dapat dilihat dari fakta, konsep materi yang bersifat in-
formal", sedangkan keterampilan ditinjau secara akademik, social, dan
vaksional. Ketnudian sikap dapat diukur dari nilai dan norms yang a.da.
Yang menjadi sasaran utama dari Kurikuhirn Berdasarkan Kompetensi
adalah di ma-11a pembelajaran bukan hanya sekadar tahu (know) tapi juga
untuk mampu berbuat (to do), mampu membangun jati diri (to be) serta
rnampu menjadi warga masyarakat yang hidup dalam kebersarnaan yang
damai (to live together).
Keberbasilan PBM dilihat dari kinerja yang dituniukkan oleh siswa,
bukan habisnya mateti, PBM beriangsung dengan poly pengenibangan
yang didasarkan atas keberagaman karakteristik siswa (potensi, kemam -
puan, kecepatan belajar, dan minat). SislAra diperlakukan sebagai bibit
yang mernitiki potensi untuk dikembangkan, Penilaian bersifat autentik
untuk rnelihat sejauh mana setiap individu berkernbang, artinya kemam -
puan belajar anak didik dilihat dari perkembangan mdahri perbandingan
antara hasil yang diperoleh scat ini dengan sebelumnya

200
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pend idikan

7. Kurikulum 2006 (KTSP)


Perkembangan kurikulum di Indonesia selalu berubab-ubab, dalam
pendidikan masa ini kurikulum yang dipakai yaitu Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), merupakan angin segar bags dun ia pendidikan dasar
dan menengah. KTSP dimaknai sebagai kurikulum o perasio nal yang
disusun oleh dan dilaksanakan di rnasing-masihg satuan pendidikan, lni
berarti satuan pendidikan tertantang untuk menet-jemahkan standar isi yang
ditentukan oleh Depdiknas. Bahkan diharapkan sekolah manipu
rnengembangkan lebih jauh standar isi tersebut.
Meskipun sekolah diberi kelonggaran untuk menyusun kurikulum,
namun temp harus memperbatikan rarnbu-rambu panduan KTSP yang
disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Hal ini diha-
rapkan agar selalu ada sinkronisasi antara standar isi dan rnasing-masihg
KTSP.
Dalam praktiknya, peluang ini juga akan menghadapi kendala yang
tidak ringan, Pertalria, belurn semua guru atau bahkan kepala sekolah
mempunyai kemampuan untuk menyusun kurikulum. Kedua, semua komite
sekolah atau bahkan orang Depdiknas helurn metnahami tats cara
penyusunan suatu kurikulum yang baik, Ketiga, kebingungan pelaksana
dalam menerjernahkan KTSP.
Sudah sering dikernukakan oleh herhagai kaIangan, ketidaklogisan
KTSP terjadi karena seolah diherikan kehebasan untuk mengolaborasikan
kurikulum inti yang dibuat Depdiknas, tetapi evaluasi nasional oleh pe-
merintah dengan meIalui Ujian Nasional (UN) justru yang paling menen-
tukan kelulusan siswa.

8. Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan kurikulum herhasis
komptensi yang sudah dimulai sejak tahun 2004, Kurikulum 2013 lebih
menekankan kepada penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran
yang menuntut siswa dapat melakukan aktivitas belajar yang menggunakan
5 M, Di sarnping itu. Kurikulum 2013 Lebih menyempurnakan perurnusan
kompetensi inti yang akan dituju dalam pembelajaran dalarn satu kesatuan
yang terpadu secara Lebih nyata. Pada Tabel 9.1 berilcut ini akan
dijelaskan elemen perubahan dari Kurikulum 2013,

111 201
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

TABEL 9.1 Elemen Perubahan Kurikulum 2013

Deskripsi
Elemen SD
i smp -•
SMA
-
SMK

Konripetensi Ada nya peningkatan clan keseimbangan soft skiffs clan bard skills yang
Lukusan me I fputi as pek kompetensi sikap, keterampilan, clan pengetahuan

Kedudukan Kompetensi yang semula diturunkan dari rnata pelajaran ben.] bah
IA ata Pelajar- men-jadi mata pelajaran dikembangkan clan kompetensi.
an (ISI)

Pendekata n Kornpetensi clikennbengkan me I alu I:


(ISI)
Ternatik terpadu IA ata Mate 1/cmdt•10.7._II
dalarn semua pelajara pelajara
mata pelajaran n n

TABEL 9.2 Elernen StrukturKurikulum (Mats Pelajaran dan Alokasf Waktu)

Deskripsi
El emen
SD SMP SMA SMK

Struktur a. Holistik  a. TIK a. Perubahan a. Penarnbahan


kurfkulum berbasis sains menjadi
media semua sistern: ada keahlian berda-
(mata (alam, sosial„ mate pelaja ran meta pela- sarkan 5pek-
ptiajaran dan budaya) i b. Pengembengan jaran wajib Crum kebutuhan
clan alokasi b, Jumlah rnata dirf terintegrasi dan ada mata (6 program
waktu) pelajaran dari pada setiop pelajaran keahlian. 40
(ISI) 10 nienjadi 6 mate pelajaran pi flhan bidang keahlian,
c. Jumlah jam dan ekstrakuri- b. Terjadi 121 kompetensf
bertarnbah kuler pengurangan keahlian)
4 JP/ming- ; c, Jumlah mata mata pela- b. Pengurangan
gu akibat pelajaran dari jaran yang adaptif dan
perubahan 12 meniadi 10 harus diikuti normatif,
pendekatan d. Jumlah jam siswa penambahan
pembelajaran bertambah 6 JP/ c Jumlah jam produktif,
minggu aki bat berta m bah produ kt if dise-
perub.a han 1 J P/ming- suaikan dengan
pendekatan gu aki bat tren perkem-
pernbelaja ran Peru bahari bangan industri
pendekatan
pembelaja r-
an

202 ■
13A13 9 F Upaya Pena nsgulangan Permasalahan Pend idikan

TABEL 9.3 Elemen Proses Pembelajaran

Desk
ri psi
Elemen
SD 5 MP I SMA SMK

Proses Pern- a. Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasl, Elaborasi,
belaja ran dan Konfimnasi d i lengka pi dengan Mengannati, Menanya, Mengolab,
Menyajikan, Menyimpulkan, clan Mencipta.
b. Belajar tidak hanya terjadi di ruang ke las, tetapi juga di lingkungan se-
kobh clan masyara kat.
c. Guru bukan 5atu-satunya surnber belajar.
d. SI kap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalul coach dan teladan.

Ternatik dan IPA dan IPS Adanya 'natl. Kornpetensi


terpadu roasing-masihg pelajaran keterarnpilan
diajarkan secara wajib dan yang sesua i
terpadu pililian sesuai dengan standar
dengan ba kat industri
dan minatnya

TABEL 9.4 Elernen Penilaian Hasil Belajar dan Ekstrakurikuler

Deskripsi
E l e m e n
SD SMP / SMA SMK
. .
Penilaian a. Penilaian berbasis kompetensi_
Hasil Belajar b. Pergeseran dare penilaian melalui tes (rnengukur kornpetensi peng-
etahuan be rdasarka n hasil saja), menuju peniraian autentik
(mengukur serriva kornpetensi si kap, keterampilan, dan pengetahuan
beraasarkan proses dan hasil.
c. Memperku at PAP (Pe n Malan &Li an Patokan), ya it 41 pencapaian basil
belajar dklasarkan pada posisi skor yang diperolehnya terhadap sloop-
ideal (rnaksimal).
d. PenElaian tidak hanya pada lever KD, tetapi juga kompetensi
inti dan SKL.
e. Mendorong pemanfaatan portofollo yang di twat siswa sebagai in-
strurnen utama penilaian
_....
--
Ekstrakuri- a. Pramuka a Pramika a. Pra rnuka a Pramuka
ku ler {via] ib) (wajib) (wajib) (vajib}
b. UKS Li. OS1S b. OS lS P. OSIS
c. PMR c. UKS c. UKS c. UKS
d. Bahas d. PMR d. PivIR el_ P MR
a Inggri
5

203
DASA R-DASA R. PENDIDIKAN

B. PENGELOLAAN PENDIDIKAN
Pembaruan pengelolaan pendidikan secara eksplisit dicanturnkan pada
UU Pokok Pendidikan Terbaru {UU No. 20 Tahun 2003 tentang SP N) • Pada
sub bab ini paparan hanya secara umurn, karena secara mendetail ak4n
dibaha.s dalam bab tentang sistem dari; (1) pendidikan. urrturn (SD, SLTP,
SMU, dan universitas); (2) pendidikan kejuruan (SMK hingga perguruan
tinggi); (3) pendidikan luar biasa (SDLB hingga perguruan tinggi); (4)
pendidikan kedinasan; dan (5) pendidikan keagarnaan (madrasah ibtidaiyah
hingga perguruan tinggi).
Program pendidikan luar sekolah (PLS) yang dapat mengganti me-
lanjutkan pendidikan sekolah adalah program kejar paket A, B, dan C.
Program ini merupakan program utarna Ditjen Diklusipora. Program kerja
paket A dan diambil oleh warga inasyarakat walaupun usianva tidak lagi
usia SD. Program ini (paket A) setara dengan SD dan kalau sudah
menyelesaikan semua program kejar paket A, peserta didik (warga belajar)
dapat mengambil ujian persamaan SD dan kalau lulus yang bersangkutan
berhak mendapatkan ijazah Pernegang ijazah SD selanjutnya dapat
melanjutkan ke paket B (setara SLTP) dan dapat pula melanjutkan ke paket
C (setara SLTA). Jika warga belajar yang telah mendapatkan ijazah SLTA
(dengan cara rnengikuti ujian persamaan SLTA), mereka dapat pula
melanjutkan ke perguruan tinggi swasta atau negeri seperti UT (universitas
terbuka).
Pengelolaan konsep pendidikan nasional (diknas) direalisasikan melalui
kurikulum, Kurikulum terbaru scat ini adalab Kurikulurn 2013. Kurikulum
ini sebagai usaha pembaruan kurikulum yang ada sebelumnya, yaitu
Kurikulum 1%8,1975,1984,1994,2004 (KBK), dan 2006 (KTSP).

1. Pendidikan dan Tenaga Kependidikan


Pembaruan pendidik terlihat antara lain pada peningkatan kualifi-
kasinya. Dewasa ini pendidik yang berstatus guru/doyen harus keluaran
pendidikan tinggi. Untuk menjadi guru di SD minimal harus memiliki
kualilikasi S-1 PGSD. Dengan pembaruan seperti ini, maka untuk mengajar
di SLTP minimal S-1, di SLTA tentu harus S-1 (program gelar) dan untuk
menjadi dosen syarat minimalnya harus dikualifikasi 5-2 (master).
Tenaga kependidikan non-guru, seperti petugas/guru pembimbing
terus diusahakan pengadaan dan pengangkatannya agar yang telah ber-
tugas di sekolah semakin bertambah jumlahnya (pembaruan kuantitatif).
Tenaga non-guru lain, seperti pustakawan niendapat pembaruan pula,
misalnya keprofesionalan tenaga tersebut. Rile dahulu dapat dikelola

204 ■
BAS 9 1- U playa Pena nsgulangan Perrnasalahan Pend idiken

oleh guru, tenaga tata usaha., dan siswa, maka sekarang sudah mulai di-
tangani oleh tenaga khusus tentang kepustakaan irii (tenaga ini disebut
pustakawan).
Dengan ketnajua.n IPTEK yang pesat, tenaga teknis diperlukan pula.
Untuk masa yang akan datang kehutuhan akan tenaga lainnya seperti Para
medis sekolah, laboran, ahli media (teknolog) pendidikan, semakin
dirasakan.

2. Dana
Kebutuhan dana untuk penyelenggaraan pendidikan kelihatannya
semakin rneningkat, karena biaya pendidikan semakin rnahal. Keadaan
seperti ini logic sap, karena pembaruan-pembaruan yang dilakukan butuh
dana bare atau tambahan terhadap alokasi dana sebelumnya. Hal ini
herkaitan pula dengan nilai mats uang. Tingkat inflasi yang semakin tinggi
memerlukan penyesuaian di bidang peridana.an tersebut.

3. Pendidikan Nonformal
Pendidikan nunformal merupakan pendidikan yang didirikan dan
dikelola oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikannya. Setnula berstatus
swasta, kernudian ada yang dikelola old) pemerintah dan masyarakat.
Pendidikan nonformal yang dikelola oleh masyarakat (di bawah
pengawasan pemerintah), maju pesat pula. Sebagai contoh, kursus me-
ngetik (dahulu Bond A dan B) sekarang sudah disesuaikaii dengan kebu-
tuhan masa kini seperti khusus komputer dan intern-et. Denganfatnya
yang tidak terikar pada kurikuluni seperti pada pendidikan formal, pen-
didikan nonformal ini berkem bang pesat baik jenis maupun kualitasnya.

C. PEMBARUAN PENDIDIKAN

1. SD Pamong
Proyek ini merupakan pendidikan bersarna antara pemerintah Indonesia
dan tiOteCh; Tem b aga yang did irikan oleh badan 'Lela lama Menteri-
mentert Pendidikan se-Asia Tenggara. Di kalangan organisasi Men-Teri
Pendidikan Negara-negara Asia Tenggara (South East Asian Ministers
Education Organization atau Searneo), proyek ini dikenal dengan istilah
impact (instruction of Management by Parent Comm um ity and Teachers),
PAMONG merupakan singkatan dad Pendidikan Anak Oleh Masya-
rakat, Orangtua, den Guru. Proyek ini diujicobakan di tingkat sekolah dasar
pada Kecamatan Kebakramat (Kelurahan Alastimo, Banjarharjo,

205
DASAR-DASA R. ILlvtil PE NDIIDIK AN

Malang gaten, dan Kebak) di Kabupaten Karanganyer, Solo.


Tujuari PAMONG yaitu:
1) Membantu anak-anak yang tidak sepenuhnya dapat mengikuti pen-
didikan sekolah atau membantu siswa yang drop-out.
2) Membantu anak-anak yang tidak mau terikat oleh tempat dan waktu
dalam belajar. Oleh karena itu, belajar dapat sambil menggembalakan
ternak, waktu istirahat, dan
3) Mengurangi penggunaan tenaga guru sehingga rasio guru terhadap
murid dapat menjadi 1:200. Pada SD biasa 1:40 atau 1:50.
4) Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar, dengan pernbiayaan
yang sedikit dapat ditarnpung sebanyak mungkin siswa.,
Dengan kata lain, tujuan proyek Pamong untuk menentukan alter-
natif sistem penyampaian pendidikan dasar yang bersifat efektif, eko -
nornis, dan rnerata yang sesuai dengari kondisi kebanyakan daerah di
Indonesia.
Proyek eksperimentasi itu berakhir pada. 1976. Sistem penyampaian
yang digunakan dengan pemakaian modul. Setiap anakisiswa clapat
mengambil moduI di Pusat Pendidikan Masyarakat (Pusdikmas). Di Pus-
dikmas ini, ada guru profesional yang mengelola pendidikan anakiisiswa.
Anak dapat belajar sendiri dengan barituan orangtua, atau tutor (seorang
siswa yang lebih tinggi tingkat belatarnya) atau anggota masyarakat yang
mempunyai kecakapan Uisys.
Jadi, dengan sisters Parnong ini anak-ana.kisiswa dapat belajar sendiri
dengan bimbingan tutor, atau anggota masyarakat, serta bimbingan orangtua.
Pengajaran yang diberikan memperhatikan kesanggupan anak.
Pengelolaan dari pengalarrian yang diperoleh terutama berdasarkan
somber-somber lain (bukan guru) sukar, tetapi melalui masyarakat, siaran
pendidikan dan kelompok atau kegiatan belajar yang tidak memerlukan
gedung sekolah.

2. SD Kea
Realisasi dari UU Wajib Belajar dan pemerataan pendidikan anakanak
usia 7-12 tahun, terutama bagi daerah-daerah terpencil, pernerintah telah
melaksanakan SD kecil dan sistem guru kunjung.
SD Kecil mernpunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1) Kelas yang ada lebih sedikitikecil dari SD biasa (tiga kel as).
2) Jumlah murid lebih kecil (20130 orang),
3) Turnlah guru Lebih sedikitflebih kecil dari guru SD biasa (tiga orang
termasuk kepala sekolah)

206 ■
13A13 9 1- Upaya Pena nsgulangan Perniasalahan Pend idikan

4) Penclekaian belajar meliputi belajar sendiri, yaitu mempelajari mo


belajar kelompok klasikal. Jika jumlah kelas yang ada melebihi
jumlah guru, maka sate orang guru mengajar dari satu kelas,
misalnya kelas I, II, III dan kolas IV, V, VI,
5) Kurikulum SD kecil sauna dengan SD biasa,
6) PeIaksanaan SD kecil sudab ada di Kalimantan Tengah, Kalimantan
Tiniur (120 buah), dan akhir Pelita V direncanakan SD kecil sudah
mencapai 174 buah,
7) Murid yang pandai dijadikan tutor untuk mengajar muricl-murid
lain.

3. SNIP Terbuka
SMP Terbuka (SMPT) adalah sekolah menengall umuin tingkat
Pertama yang kegiatan helajarnya sehagian hesar diselenggarakan di luar
gedung sekolah dengan cam penyanipaian pelajaran metalui berbagai media,
dan interaksi yang terbatas an tara guru dan murid.
Adapun latar helakang herd irinya SM P Terhuka sebagai herikut:
1) Kekurangan fasilitas pendidikan dan tempat belajar,
2) Tenaga pendidikan yang tidak cukup.
3) Merriperluas kesernpatan belajar dalam rangka perneraraan pendi -
dikan.
4) Menanggulangi anak terlantar bagi anak yang tidak diterima di SMP
Negeri. Penyelenggaraan SMP Terhuka ini adalah heringsut ke SMP
negeri atau swasta yang ditunjuk itu,
Ciri-ciri dari SMP terbuka yaitu:
1) Terbuka bagi siswa tanpa pernbatasan umur dan tanpa syarat-syarat
akademik.
2) Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal,
untuk mernenuhi kehutuhan-kehutuhan jangka pendek yang bersifat
praktis, insidental, dan perorangan.
3) Terbuka dalam proses belajar mengajar, yaitu tidak seiatu diseleng-
garakan di ruang kolas secara tatap muka, Akan tetapi juga media se-
perti radio, media cetakan, kaset, slide, model, dan gambar-gambar.
4) Terbuka dalam keluar masuk kelasisekolah sesuai dengan waktu yang
tersedia oleh siswa.
5) Terbuka dalam pengeiolaan sekolah. Sekolah dikelola oleh pegawai
negeri, dan orang-orang lain yang diperlukan partisipasinya, seperti
warga clan pimpinan masyarakat, °rang ma siswa dan pamong pe
merintah seterrip at,

111 207
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

Khusus untuk tahap perintisan (1979-1981) yang dapat diterima di


SMP terbuka diutarnakan Para lulusan SD atau yang sederajat yang
berusia 13-15 tahun dan yang belurn tertampung pada SMP yang ada.
Berkenaan dengan kurikulum yang dipakai di SMP terhuka ini yaitu
kurikuLum yang berlaku pada scat itu.
Adapun pelajaran tatap muka diadakan enam jam seminggu di ge-
dung SMP induk dengan guru pemhina bidang studi. Kepada siswa dibe-
rikan penjelasan tentang hal-hal yang sulit dan tidak dapat dipecahkan
waktu belajar kelorupok. Siswa akan memanfaatkan sarana dan pedeng-
kapan SMP induknya., seperti penggunaan ruangan kelas, perpustakaan,
laboratorium, lapangan olabraga, dan
Evaluasi kemajuan belajar dilakukan secara teratur dan harus
diikuti oleh setiap siswa. Rapor siswa disampaikan sell ap semester
pada orangtua atau walinya, Di samping itu, siswa diwajibkan
mengikuti UAN yang diadakan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

4. Proyek PerintisSekolah Pembangunan (PPSP)


Ada delapan IKIP yang ditugaskan untuk menyelenggarakan Proyek
Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta,
IKIP Bandung, IKIP Semarang, IKIP Yogyakarta, IKIP Surabaya, lKIP
Malang, dan IKIP Ujung Pandang.
Pada mulanya proyek itu dimaksudkan untuk mencoba bentuk sis-
tern persekolahan yang komprehensif dengan nama sekulah pernba-
ngunan. Selain itu, secara umum kerangka sistem pendidikan ini diga-
riskan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
No. D172 Tahun 1974.
Dalam surat keputusan itu terdapat beberapa pokok pikiran me-
ngenai hakikat sekolah pembangunan, yang menyangkut relevansi seko
lah dengan kebutuhan rnasyarakat, yaitu:
1) Adanya integrasi antara sekolah dan masyarakat serta pembangun-
an.
2) Sekolah rnenghasilkan tenaga terdidik sehingga dapat merupakan
tenaga kerja yang produktif.
3) Sekolah menghasilkan manusia terdidik dengan pengertian
kesadaran ekologi, baik lingkungan sosial, fisik, maupun biolngis.
4) Sekolah menyelenggarakan pendidikan yang menyenangkan, me-
rangsang sesuai dengan tuntutan zaman untuk pendidikan watak,
pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan
herkomunikasi, dan kesadaran ekologi.
5) Sekolah menciptakan keseimbartgan fisik, emosionaI intelektual, kul-

208
13A13 9 1- Upaya Pena nggulaagan Perniasalahan Pendidikan

rural, dan spiritual sena keseluruhan pembangunan masyarakat.


6) Sekolah memberikan sumbangan bagi ketahanan nasional dari ikut serta
dalam pernbangunan masvarakat.
Sistem sekolah pembangunan disebarluaskan ke seluruh Indonesia pada
tahun 1974. Tampaknya konsepsi ini rnasih perlu dikembangkan melalui
proses penebtian dan percobaan yang dilakukan secara sisternatis. Oleh
karena itu, disusun Mauer Design Pembaruan Pendidikan melalui PPSP",
yang keniudian diperkuat dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan No. 041 Tabun 1974 tentang Landasan, Tujuan, Strategi, Proses,
dan Tata Kerja Pembaruan Pendidikan.
PPSP adalah salah satu proyek dalarn rangka program pendidikan yang
ditugaskan untuk mengembangkan satu sistem pendidikan dasar
dan menengah (Surat Keputusan Menteri No. 0141 Tahun 1974) yang:
 Efektif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat dari individu yang
mewujudkan rnelalui program pendidikan yang sesuai. 6
tvlerupakan dagar bagi pendidikan seumur hid u p
 Efisien dan realistis, sesuai dengan tingkat kemampuan pembiayaan
oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah.
Sesuai dengan tugas yang diemban itu, maka Madan Penelitian Pe-
ngernbangan Pendidikan dan Ke buclaya a ro (BP3K) mernilih modul se b
agai satu sistern penvampaian pada delapan PPSP, dengan alasan:
6 Modul mempunyai posisi untuk memecahkan pemerataan pen.didikan,

karena modul mernungkinkan mu -rid belajar sendiri tanpa


tergantung pada tempat dan waktu. Modul dalam arti sistem belajar
dan mengajar yang multin -ledia Dengan demikian, akan memung-
kinkan siswa belajar tanpa harus rnengikuti pelajaran di kelas, me-
mungkinkan prang dewasa mengambil program yang sesuai dengan
rninat dan kepentingannya, tanpa harus mengikuti pelajaran yang
terikat.
 Modul mempunyai potensi untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Sistem pengajaran dengan modul menekankan bahwa setiap siswa
harus dapat mencapai tingkat penguasaan tertentu (Thastety lear-
ning). Apabila 75 person siswa tidak dapat menguasai tingkat
penguasaan minimum, rn.aka modul harus diulang oleh siswa
dengan himbingan guru, Dalam hal ini, Bloom menyarankan 90
person materi perlu dikuasai siswa. Hal Mi berarti jaminan mum
pendidikan secara rnerata dapat dijaga.
 Modul mempunyai potensi untuk men.ingkatkan relevansi pendidikan.
Modul berorientasi kepada tujuan yang direncanakan dengan

209
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

saksama supaya terjaminnya relevansi pendidikan dengan


kebutuhan masyarakat,
 Modul mempunyai potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
waktu dan fasilitas sebab dengan modal dapat membantu dan
mernperbaiki siswa selama dia belajar. Guru secara cepat mengetahui
sebab-sebab kesulitan siswa dan tingkat kemampuan yang dicapai
setiap periode. Kalau siswa mendapat kesulitan atau gaga', akan
diberi remedial sesuai dengan yang dtharapkan. Bagi siswa yang telah
menguasai modul utama.nya diberikan penga.yaan (enriclurienr)
sehingga tidak dirugikan oleh keterlarnba tan ternan-temannya.
Semua itu dapat dilihat dari tujuan pengajaran dengan mengguna-
kan modul, yaitu-,
1) Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dicapai secara efektif
dan efisien.,
2) Menjadikan siswa aktif dalarn belajar,
3) Siswa dapat bekerja sendiri, baik di bantu oleh guru maupun tidak.
4) Siswa dapat mengik uti pelajaran (program p endidikan)
sesuai dengan k emampuan ma.sing -masihg. 6) Siswa dapat
mengetahui basil p elajaran secara b erkelanjutan.
Modul ialah suatu satuan program belajar mengajar, yang dapat
dipelajari oleh murid dengan bantuan yang minimal dari pihak guru.
Satuan program ini berisikan tujuan yang haws dicapai secara praktis,
petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan, mated dan alat-alat yang di-
butuhkan, slat penilaian guru yang rnengukur keberhasilan murid claim
mengerjakan modul (i3P31C 1976).
Modul sebagai suatu cistern penyampaian merupakan suatu unit
kedi program penyampaian yang dapat dipelajari oleh murid. Murid
harus rnenguasai suatu unit bahan pelajaran sebelurn mereka beralih ke
unit berikutnya.

Prinsip Pengajaran Modul


Ada emp at prinsip yang perlu mendapat perh tian, yaitu: (a) kcaktif-
an siswa; (b) perbedaan individu siswa; (c) siswa harus memecahkan ma-
salah (problem solvin): dan (d) continous progress.
alau seoraug siswa sudah siap dengan sebuah rriodul, dia dapat
pindah ke modul berikutnya tanpa menunggu siswa yang belurn siap
dan siswa dapat menilai terhadap sepia yang dikerjakan selama belajar
(self evaluation).

210 ■
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pend idikan

Komponen Modui
Modul terdiri dari komponen-komponen: (a) petunjuk guru; (b) lem-
baran kerja siswa; (C) lembaran kegiatan siswa; (d) kunci lembaran kerja;
(e) lembaran tes; dan kunci jawaban tes.
Sejak tahun ajaran 1979 komponen modui berubah menjadi petunjuk
guru, di belakangnya dilampirkan kunci jawaban tes, petunjuk siswa,
lembaran kegiatan siswa, jawaban tugas, dan lembaran Les.

Peran Guru dan siswa


Guru berperan sebagai pengelola kegiatan belajar mengajar di kelas,
sebagai berikut:
1) Ivlemberikan penjelasan kepada para siswa mengenai modal itu se-
beIum mereka mulai mengerjakannya.
2) Mengawasi kegiatan belajar siswa selarna pelajaran bcrlangsung.
3) Memberikan birnbingan dan penyuluhan kepada siswa sesuai dengan
perbedaan rnasing-rnasing siswa. Dengan kata lain, memberikan
pengayaan kepada siswa yang cepat (cerdas), dan memberikan remedial
kepada siswa yang lamban (kurang cerdas).
4) Memberikan penilaian rerhadap hasil belajar.

5. Universitas Terbuka
Universitas Terbuka (UT) merupakan leinbaga penclidikan tinggi
yang menerapkan sistem belajar jarak jauh. Tujuan utarnanya yaitu
meningkatkan partisipasi perguruan tinggi dari 5 persen menjadi 8,2 per-
sen (dihitung dari populasi penduduk uinur 19-24 tahun).
Pada akhir Rep elita 1V, di sarnping itu juga untuk meningkatkan multi
lulusan melalui perigontrolan kualitas bahan belajar yang disajikan dalam
bentuk modul belajar. Dalam sistem belajar terbuka ini mahasiswa dituntut
Lebih banyak berinisiatif untuk belajar mandiri dan berkelo trip ok.

Tujuan dan Sasaran


Sebagai suatu institusi pendidikan tinggi, UT bertujuan melaksanakan
Tridharrna Perguruan Tinggi dengan cars yang !chill terbuka., yaitu melalui
sistem belajar jarak jauh (SMJ).
PeIayarian pendidikan oleh UT akan diselenggarakan melalui peng-
gunaan paket modal belajar sehingga dapar rnencapai sasaran rnaha-
siswa dalam jun-1kt' yang besar dibandingkan dengan ketnampuan
pelayanan di perguruan tinggi biasa. Dengan demikian, kebijaksanaan
pemerintah untuk meningkatkan daya tampung perguruan tinggi dad 5

211
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

persen menjadi 8,2 persen dari kelompok umur pendidikan tinggi pada akhir
Pelita TV diharapkan akan dapat tercapai.
Gagasan pemerintah untuk menyelenggarakan UT didasarkan kepada
keinginan untuk memperluas kesempatan me mperoleh pendidikart tinggi
bagi seluruh niasyarakat dan rneningkatka.n kernampuan tenaga kependi-
dikan pada lembaga pendidikan dan perguruan tinggi Berta tenaga-tenaga
dalam bidang lain, yang tersebar di seluruh Indonesia. Keinginan terse-but
tidak mungkin dapat dipenuhi melalui sistern penyelenggaraan pendidikan
tinggi biasa (konvensional), karma terikat pada pertemuan tamp muka
dalam ruangan belajar yang terbatas jumlahnya, dan tenaga pengajar yang
sulit didapat
Oleh karena itu, UT menggunakan cara yang lebih terbuka, yaitu
mengutamakan penerapan Sistem Belajar Jarak Jatth

6. Sekolah Unggul
Pengertian sekolah unggul adalah "sekolah yang dikembangkan untuk
mencapai keunggulan dalam keluaran (output) pendidikannya. Masukan
diseleksi secara ketat, sarana dilengkapi, lingkungan belajarnya
mendukung, guru dan tenaga kependidikan terpilih, kurikulum dipercaya,
waktu belajar lehih parijang, proses belajar dapat dipertanggungjawabkan,
rnenipunyai nilai plus dengan tambahan kurikulum di luar kurikulum
nasional, ada program pembinaan kemampuan kepemimpinan, herada dalam
sister() pendidikan nasional, menjadi pusat keunggulan (agent of excellence)
(Dep P clan K. 1993)."
Sekolah unggul menjadi topik yang hangar, karena menjadi kebijak-
sanaan yang dimaksudkan untuk mencari jalan pintas dalam memper-
siapkan penyediaan tenaga yang arida' yang mempunyai kernampuan
bersaing yang tinggi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ide
sekolah ini rnerupaka.n antitesis dari pendidikan dewasa ini, yang bersi fat
masal cenderung memberikan perlakuan yang standar atau rata-rata
kepada semua peserta didik sehingga kurang memperhatikan perbedaan
antarindividu peserta didik dalam kecerdasan, kecakapan, minat, dan
bakatnya.
Karakteristik sekolah unggul
I) Layanan khusus akan diherikan dengan lebih intensif dan ekstensif
kepada 5 persen anak-anak "`gifted" karena anak-anak tersebut
tnengalami punderachievemenr.
2) Anak-anak "gifted" tersebut merupakan aset hangsa yang mampu
merespons tantangan persaingan global,

212 ■
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pend idikan

7. Pendidikan Pesantren
a. Garnbaran umum pesantren
Dunia pesantren ternyata tidak seragam. Masihg-masihg pesantren m
ern i liki keunikan sendiri sehingga sul it dibuat satu perumusan yang
dapat rnenampung semua pesantren. Narnun berikut ini dicoba di-
sajikan gambaran umum mengenai pesantren sebagai hasil temuan
lapangan yang sejauli mu ngkin dapat menarnpung semua pesantren.
Makin abstrak suatu rurnusan makin banyak pesantren yang clapat
ditampung, sebaliknya makin konkret suatu rurnusan makin sedikit
pesantren yang dapat ditarnpungnya.
b. Arti pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk
mempelajari, mernahami, mendalarni, rnenghayati, dan merigarnalkan
ajaran Islam dengan m.enekankan pentingnya moral keagamaan
sebagai pedoman perilaku sehari-hari.
Pengertian '"tradisional" dalarn batasan ini menunjuk bahwa
lembaga ini hidup sejak ratusan tahun (300-4000 tahun) yang lalu
dan telah menjadi bagian yang mendalam dad sistem kehidupan
sebagian besar umat Islam Indonesia, yang merupakan golongan
mavoritas bangsa Indonesia, dan telah mengalami perubahan dari
masa ke masa sesuai dengan perlalanan bidup bukan "tra-
disional" dalam arti tetap tanpa mengalami penyesuaian.
c. Tujuan pesantren
Tujuan pendidikan pesantren adalah "menciptakan dan menge-m-
bangkan kepribadian I iuslim, yaitu kepribadian yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, berrnanfaat bagi ma-
syarakat atau herkhidmat kepada rnasyarakat dengan jalan menjadi
kawula atau abdi rnasyarakat tetapi rasul, yaitu menjadi pelayan
masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad (mengikuti
Sunnah Nabi), mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalarn kepri-
badian, menyebarkan agarna atau menegakkan Islam dan kejayaan
lunar Islam di tengah-tengah masyarakat (izzul Islam wal Muslim-
dan mencintai iimu dalarn rangka rnengembangkan kepribadian
Indonesia. idealnya pembangunan kepribadian yang ingin dituju ialah
kepribadian Muslim, bukan sekadar Muslim,
d. Masyarakat pesantren
Pesantren merupakan komunitas tersendiri, di /liana kiai, ustaz, santri
dan pengurus pesantren hidup bersama dalam saw kampus, ber-

213
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

landaskan nilai-nilai agarna Islam lengkap dengan no rma-norm a dan


kebfa.saan-kebfasaannya serldiri, yang secara ekskluisif berbeda de-
ngan masyarakat umum yang mengitarinya. Ia merupakan suatu ke-
luarga besar di bawah asuhan seorang kiai atau ulama, dibantu oleh
beberapa kiai dan ustaz_ Dalam dunia pesantren, santri mempunyai dua
orangtua, yakni ibu-bapak yang melahirkan dan kiai yang meng-
asuhnya. Ia juga mempunyai dua saudara, yaitu saudara sesusuan dan
saudara seperguman (sesama santri),
e. Unsur-unsur pesantren
Unsur-unsur pesantrenyaitu: (1) pelaku: kiai, ustaz, santri, da.n peng-
urus; (2) sarana perangkat keras: masjid, rurnah kiai, rumah ustath,
pondok, gedung sekolah, tanah untuk berbagai keperluan kependi-
dikan, gedung-gedung lain untuk keperluan-ker:Ferluan seperti per-
pustakaan, aula, kantor pengurus pesantren, kantor organisasi santri,
keamanan, koperasi, perbengkelan, jahit-menjahit, dan keterampil-
an-keterampilan lainnya; dan sarana perangkat lunak: tujuan,
kurikulum, surnber belajar, yaitu kitab, buku-buku, dan sumber belajar
lainnya, cars belajar mengajar (bandongan, sorongan, dan menghafal)
dan evaluasi belajar-mengajar.
f. 171,3 ngsi pesantren
Ternyata pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendi-
dikan., tetapi juga berfungsi sebagai lembaga sosial dan penyiaran
agarna.
Sebagai lembaga pendidikan, pesantren menyelenggarakan pendi-
dikan formal (madrasah, sekolah umum, dan perguruan tinggi), dan
pendidikan non formal yang secara khusus mengajarkan agarna yang
sangat kuat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran ulama fikih, Hadis, tafsir
tauhid, dan tasawuf yang hidup antara abaci ke 7-13 Masehi. Kitab-
kitab yang dipelajari meliputi: tauhid, tafsir, Hadis, fikih, us Sul fikih,
tasawuf. bahasa Arab (nahu, saraf, balagah, dan tajwid), mamik, dan
akhlak.
Sebagai lembaga social, pesantren menampung anak dari segala
lapisan masyarakat Muslim, tanpa membeda-bedakan tingkat sosiai-
eko n omi orang uanya.
Sebagai lembaga penyiaran agama, masjid pesantren juga berfungsi
sebagai rnasjid umum, yaitu sebagai tempat belajar agarna dan ibadah
bagi masyarakat umum. Masjid pesantren sering dipakai untuk
menyelenggarakan majelis taklim (pengajian), diskusi-diskusi
keagarnaan, dan sebagainya, oleh masyarakat umum,

214 ■
13A13 9 F Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pendidikan

D. NOVAS! DALAM PENDEKATAN PEMBELAJARAN


1. Be!ajar Tuntas
a. Pengertian
Belajar tuntas, adalah suatu cara dalam proses belajar yang menUntut
siswa untuk menguasai materi pelajaran SeCata tuntas dengan basil
yang memuaskan, sesuai dengan kemampuan siswa. Dengan clemikian,
ada kemungkinan siswa dapat menamatkan sekolah lebih cepat dari
waktu yang tclah ditentukan. Misainya untuk SD -6 tahun bisa
diseIesaikan dalam waktu 4-5 tahun saja, tergantung kemampuan siswa
dalam menyelesaikan program.
b. Tuj u an
Belajar tuntas bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk
mencapai angka tertinggi dengan rnenguasai bahan pelajaran secara
tuntas,
c. Karakteristik
(1) Siswa belajar secara individual.
(2) Siswa belajar dengan kecepatan masih g-rnasing_
(3) Setiap pokok bahasan diakhiri dengan tes,
(4) Hasil tes langsung diketahui oleh siswa.
(5) Tidak mcngenal acianya tinggal kelas (berkelanjutanj.
d . P e ne r ap a n
Belajar tuntas ben t uk penerapannya sehagai berikut;
(1) Siswa rnernpelajari kegiatan belajar.
(2) siswa mengerjakan lernbaran kerja clan mencocokkannya dengan
kunci jawaban yang telah terseclia.
(3) Siswa mengerjaken tes. Hasil tes tersebut rnenentukan apakah
siswa dapat melanjutkan ke modul berikutnya atau ticlak,
e. Peranan Guru dari Siswa
(1) Peranan guru sebagai berikut:
(a) Memberikan pengarahan mengenai teknik belajar dengan
sistem modul.
(b) Tvlemberikan penjelasan apabila siswa menemui kesulitan.
(2) Peranan siswa sebagai berikut:
(a) 1vlengerjakan tugasnya rasing-masihg (individual).
(b) Melaksanakan tes setiap akhir kegiatan,

2. Cara Belajar Siswa Aktif a.


Pengertian

111 215
DASA R-DASA R. I LMU PENDIDIKAN

Cara belajar siswa aktif (CBSA) adalah suatu eara atau usaha mem-
pertinggi (rnertgoptimaiisasikan kegiatan siswa dalarn proses belajar.
Dengan demikian, CBSA menuntut keaktifan belajar siswa yang op-
timal sehingga dapat mencapai hasil yang optimal pula.
b_ Tujuan
Cara belajar siswa aktif bertujuan agar siswa aktif dalam proses belajar,
sehingga marnpu untuk mengubah perilakuftingkah lakunya secara lebih
efektif dan efisien,
c. Karakteristik
(1) Situasi kelas menantang siswa melakukan kegiatan belajar secara
bebas tapl terken dal
(2) Guru tidak menclom ina.si pernbicaraan tetapi lebih banyak mem-
berikan rangsangan berpikir kepada siswa untuk memecahkan
rnasaiah.
(3) Guru menyediakan clan mengusahakan sumber belajar bagi
siswa, bisa number tertulis, sumber manusia, misalnya siswa itu
sendini menjelaskan permasalahan kepada siswa lainnya, her-
bagai media yang diperlukan, alai Bantu pengajaran, termasuk
guru send iri sebagai sumber belajar.
(4) Kegiatan belajar siswa hervadasi dan kegiatan yang dilakukan
secara keloinpok dalam bentuk diskusi dan ada pula kegiatan
belajar yang harus dilakukan oleh rasing-rasing siswa secara
mandiri. Penetapan kegiatan belajar tersebut diatur oleh gum
secara sistematik dan terencana.
(5) Hubungan guru dengan siswa rnencerminkan hubungan ma-
nusia.wi.
d. P e ne r ap a n
Cara belajar siswa aktif bentuk penerapannya sebagai berikut:
(1) Guru merumuskan tujuan pengajaran, seperli. merurnuskan TI(J
dan TIK. Dalam penyampaian bahan pelajaran henclaknya guru
memberikan permasalahan-permasalahan yang harus dipecahkan
oleh siswa,
(2) Keaktifan siswa dalam proses belajar hendaknya inendapat nilai
yang memadai, sehingga memberi respons bagi siswa untuk aktif
dalam proses belajar,
(3) Siswa melakukan tanya jawab, diskusi, dramatisasi, clan sebagai-
nya dalam proses belajar. Hagaikan hubungan bapak-anak bukan
hubungan pimpinan dengan hawahan. Guru rnenempatkan din
sebagai pembimbing semua siswa yang memerlukan banal-an
rnanakala mereka menghadapi persoalan belajar.

216
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pend idiken

(4) Situasi dan kondisi kelas tidak kaku terikat dengan susunan
yang coati, tapi sewaktu-waktu dapat diubah dengan kebutuhan
siswa.
(5) Belajar tidak hanya dilihat dan diukur dari segi hasil yang dicapai
siswa, tetapi juga dilihat dan diukur dan segi proses belajar yang
dilakukan siswa.
(6) Adanya keberanian siswa mengajukan pen.dapatnya rnelalui
pertanyaan, baik yang diajukan kepada guru maupun kepada siswa
lainnya dalam pemecahan masalah belajar.
(7) Guru senantiasa menghargai pendapat siswa terlepas dari ben&
atau salab, dare tidak diperkenankan mernbunuh atau me-
rign..trangiimenekan pendapat siswa di depan siswa lainnya. Guru
bahkan harus mendorong siswa agar selalu mengajukan
pendapatnya secara bebas.
Karakteristik tersebut merupakan sebagian kecil dari hakikat belajar
siswa aktif dalam praktik pengajaran.. tintuk dapat mewujudkan
karakteristik tersebut bukanlah hal yang rnudah, rnelainkan perlu
pengenalan teori strategi mengajar dan teori penvusunan satuan pel-
ajaran.
e. Peranan Guru dan Siswa
(1) Peranan guru sebagai berikut:
(a) Mendorong, membina gairah belajar dan partisipasi siswa
secara aktif,
(b) Tidak mendominasi kegiatan proses belajar siswa.
(c) Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut
cara dun keadaan rnasing-masihg.
(d) Menggunakan berbagai jenis metode dan teknik mengajar
sem ua pendekatan multimedia.
(2) Peranan siswa sebagai berikut:
(a) Kegiatan dan keberanian serta kesempatan untuk berpar-
tisipasi dalam kegiatan persiapan, proses. dan kelanjutan
belajar,
(b) Menampilkan berbagai usahaikreativitas belajar sarnpai
rnencapai keberhasiIan.
(c) Keleluasaan melakukan sesuatu hal tersebut di atas tanpa
tekanan pihak lain (keinandirian belajar).

111 217
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

3. Keterarnpilan Proses
a. Pengertian
Keterarnpilan proses adalah suatu pendekatan yang mengacu kepada
bagaimana siswa belajar, dan apa yang is pelajari. Pada dasarnya
keterampilan proses sama dengan CBSA, karena dalarn pelaksanaan
menuntut siswa agar aktif. Namun ditekankan pada proses berpikir
sendiri dengan keterampilan masihg-masihg siswa. Yang paling penting
bagaimana proses untuk mencapai tujuan itu dilakukan oleh siswa
terlepas dari hasil yang diperoleh.
b, Tujuan
Keterarnpilark proses bertujuan untuk memberikan keterampilan
praktis yang akan dihadapi setiap orang dalarn kehidupan, sekaligus
untuk mengemhangkan pernahamannya tentang konsep yang di-
pelajarinya.
c. Karakteristik
a) Merkgajak para guru serta pernbina pendidikan untuk turut aktif
dalarn mengembangkan CBSA.
b) Mendorong siswa untuk melihat dark mernecahkan masalah-
masalah yang dirasakan bersama &lam rangka mengembang-
kan CBSA.
C) Menyiapkan situasi yang menggiring siswa untuk bertanya,
mengarnati, bereksperimen, serta menemukan fakta dan konsep
sendiri,
d. P e ne r ap a n
Keterampilan proses bentuk penerapan sebagai berikut:
a) Siswa aktif melakukan observasi untuk meneliti suatu perma-
salahan.
b) Siswa merencanakan penelitian guna mernperoleh fakta yang
valid,
c) Siswa berusaha mencari hubungan sebab akibat pada hasil pe-
nelitiannya.
Dengan mengembangkan keterampilan-keterarrkpilan tersebut, di-
harapkan siswa akan mampu menemukan dan knengernbangkan sendiri
fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan pengembangan sikap dan
nilai yang diruntut.
e. Peranan Guru clan Siswa
(1) Peranan guru sebagai berikut:
(a) Menyusun tujuan pengajaran, khususnya merencapakan
clan merumuskan tujuan instruksional khusus.

218 ■
13AS 9 1- Upaya Pena nsgulangan Perniasalahan Pendidikan

(D) Me r nb e r pengaturan waktu yang dibutuhkan, sehingga sisvva


dapat metakukan kegiatan belajar sesuai dengan tujuari.
(c) Pengaturan ruang belajarikelas, seperti jumla_h siswa di da -
lam kelasisetiap kelompok, komposisi siswa dalam kelompok
(siswa pandai dengan siswa kurang pan d ai, pria dengan
wanita).
(d) Pengaturan siswa dalam belajar,
(2) Peranan siswa 5ebagai berikut:
(a) Mem b antu sesama ternan/kelompok dalam meniecahkan suatu
perm asalahan.
(b) Saling memberikan informasi yang berkenaan dengan masalah yang
sedang dibahas.
(e) Berperan aktif dalam berbagai diskusi, dan sebagainya.
(d) Berpikir kritis serta tanggap dalarn berbagai permasalahan.

Rangkuman

Dalarn rangka merealisasikan program pemerintah tentang peningkatan


SDNel yang be rkual itasi maka salah satu yang perlu diIakukan adalah
pemerataan pendidikan dari kola hingga ke daerah terpencil. Mulai ciari jenjang
pendidikan SD, menengah, clan sa m pa i jenjang Perguruan tinggi.
Untuk memenuhi tuntutan di atas, pemerintah bekerja sarna dengan De-
partemen Pendidikan dan Kebudayaan, telah mengadakan SD Pamong .(Pendi-
dikan Anak oleh Masyarakat, Orangtua, dan Guru), SD kecil, SMP terbukaruntuk
tingkat SMP dibuka pula SNIP terbuka yang jumlahnya sangat terbatas sekali. Di
sawing itu, untuk rneningkatkan rnutu lulusan di tingkat rnenengah pertama dan
tingkat sekolah menengah atas, pemerintah bekerja sama dengan Depdikbud
telah dibuka pula PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) pada 8 bush I
KLP se-Indonesia, yaltul !KIP Jakarta, IKIP Bandung, I KIP Yogyakarta, I KIP
Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Ujung Pandang, IKIP Malang, dan I K1 P Padang.
Selanjutnya untuk meningkatkan days tampung Perguruan i dad 46
Perguruan Tinggi Negeri yang ada dibuka pula satu Perguruan Tinggi Negeri
pada 1984 yang diberi name dengan Universitas Terbuka yang pembukaannya
langsung diresmikan oleh Ba pa k Presi d en Sae ha rto waktu itu.
Kernudian salah satu hasil dari kemerdekaan Indonesia yang diproklama-
sikan pada 17 Agustus 1.945 yang menonjol adalah besarnya 1<esadaran ma-
syarakat Indonesia atas pentingnya pendidikan. Pendidikan sudah dirasakan
sebagian besar rakyat Indonesia sebagai suatu kebutuhan hidup masyarakat. Di
camping itu, kernerdekaan juga sudah menyadarkan masyarakat betapa pen-

219
DASA R-DASA R. ILIvtil PE N DID.IKAN

tingnya pembangunan untuk mengisi kernerdekaan. Agar pembangunan ter-


capal, diperlukan tenaga-tenaga yang cakap dan terampil, baik sebagai tenaga
kerja, dan tenaga pemikir, rnaupun sebagai warga masyarakat dan warp Indo-
nesia yang bertanggung jawab atau perkernbangan negara dan bangsa. Pendi-
dikan, melalui sekolah dituntut untuk mengnasilkan lulusan yang dibutunkan
pembangunan dengan jumlah dan mutu yang memadai; lulusan yang memillki
ilmu pengetahuan, keterampilan, clan kepribadian untuk memutar rods pernha-
ngunan.
Masalahnya sekarang apakah sekolah mampu rnemenuhi harapan terse-
but? Kita mendengar keluhan mengenai basil pendidikan yang belum rnenienuhi
harapan masyarakat umum sebagai pemakai lulusan, Sekolah tentu tidak bisa
diann atas suara-suara ketidakpuasan tersebut. Sekolah perlu tanggap atas ke-
adaan tersebut, dan bersedia mencari kelernahan kurikulum dan perangkatnya.
Untuk itu perlu dicarikan jalan perbaikannya, baik dalarn segi relevansi pendi-
dikan, mutu lulusan, efisiensi dan efektivitas pengeiolaan, maupun masalah
struktur pendidikan guru sekolah dasar. Dengan perkataan lain, sekolah perlu
melakukan inovasi. Ini berartc bahwa kurikulum perlu clikembangkan untuk
menjangkau kualita5 lulusan yang diharapkan.
Sampai scat ini di Indonesia telah terjadi beberapa kali perubahan kuriku-
lum, yaitu: (a) Kurikulum 1968 yang menekankan kepada isi rata pelajaran: (b)
Kurikulum 1975 yang menekankan pencapaian tujuan; (c) Kurikulum 1984 yang
berorientasi kepada isi materi dan proses; dan (d) Kurikulum 1994 menyern-
purnakan apa yang diprograrnkan dalam Kurikulum 1984 di camping membuka
kurikulum muatan lokal yang muatan kurikulumnya diberikan kepada daerah
antara 20-30 persen. Kemudian pada 1999 dilakukan Pula perubahan kurikulum
yang disebut dengan suplernen GBPP Kurikulum 1994. Selanjutnya pada tahun
2001/2002 diadakan lagi perubahan Kurikulum yang disebut dengan Kurikulum
Berbasis Kompeterisi (KBK). Selanjutnya kurikulum 2006 dan 2013.
Selanjutnya dalarn rangka mengefektitkan serta mengefisienkan dalam
sistem penyampaian pengajaranr maka dalam Kurikulum 1975 telah diprogram-
kan model perencanaan pengajaran menurut poly PPSI (Prosedur Pengem-
bangan Sistern Instruksional) yang disebut dengan Satuan Pelajaran (SP). Beni-
kutnya lahir pula Modul, Paket Belajar, dan CBSA (Cara Belajar Sisvva Aktif).
Pada 1984, Kurikulum 1975 berubah nama menjadi Kurikulum 1984, yang
strategi penyarnba Ian pengajarannya. di camping menggunakan sat u a n
pelaja ran dengan pendekatan belajar tuntas CBSA, ditambah lagi dengan
pendekatan keterampilan proses. Kesemua perubahan ini adalah dalam rangka
meningkatk an mutt basil belajar pada khususnya dan mutu pendidikan pada
umurnnya, termasuk pernanfaatan komputer dalam p-endidikan,

220
13A13 9 1- Upaya Pena nsulangan Perniasalahan Pend idikan

Berilasarkan uraian rnengenai penerapan inovasi di sekolah dasar, maka


dapat disimpulkan sebagai berikut:
Bel aja r tuntas bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menca pa
i angka tertinggi dengan menguasai bahan pelajaran secara tuntas. Karakteristik
belajar tuntas antara siswa belajar secara individual. belajar dengan keca-
kapan masihg-masihg, setiap pokak bahasan dafarn setiap masihg-ma sing modul
selalu diakhiri dengan tes. Teknik pelaksanaannya adalah dengan mernbagikan
masihg-masihg modul kepada para siswa, yang terdiri atas lembaran kegiatan
belajar, lembaran kerja, kunci lembaran kerja, kembaran tes (kunci Fembaran tes
ada pada guru bidang studi). Peranan guru di sini hanya memberikan pengarahan
kepada siswa mengenai teknis pelaksanaannya serta rnernberikan penjelasan
apabila ada siswa yang tidak Me Maha mi isi modul tersebut, Adapun siswa (Jibe-
rikan kebebasan untuk mengerjakan modul selanjutnya apabila hasil tes akhir
modul mendapat ni la i sek u rang- kurangnya 75 persen.
Cara Relajar Siswa Aktif bertujuan agar siswa aktif dalam proses belajar,
sehingga akan mengubah tingkah lakunya secara lebih efektif clan efisien. Ka-
rakteristik CBSA antara lain terjadinya variasi dalam kegiatan belajar, seperti
diskusi, drarnatisasi, clan tanya javvab, Teknik pelaksanaannya adalah guru
menetapkan bahan pelajaran dengan berbagai permasalahannya, sehingga
merigunclang sisvva untuk aktif meinecahkan permasalahan tersebut. Peranan
guru di 5ini mengarahkan apabila terjadi perbedaan pendapat, serta mencari
jalan keluarnya. Adapun siswa dituntut untuk berani mengemukakan penda-
patnya secara kritis dalam proses belajar,
Keterampilan proses bertujuan untuk menurnbuhkan keterampilan siswa
untuk mengembangkan pemahamannya tentang konsep yang dipelajari. Karak-
teristik keterarnpilan proses antara lain mendorong siswa untuk rnelThat serta
memecankan masalah-masalah yang dihadapinya, seperti bereksperirnen, me-
nernukan fakta, konsep, dan sebagainya. Teknik pelaksanaannya yaitu dengan
melakukan observasi, mengklasifikasi suatu permasalahan, dan lain-lain. Peran-
an guru yaitu sebagai pembimbing daiam merencanakan serta melaksanakan
kegiatan belajar.

Tugas

1. Jelaskan jenis-jenis irrovasi pendidikan di Indonesia yang telah dilakukan


sejak 1968 hingga sekarang!
2. Jelaskan (dengan contoh) bahwa program kejar paket A, B, dan C dapat
men ggantikan dan/atau melanjutkan program pendidikan formal!

3 Jelaskan jenis tenaga kependidikan non-guru yang perlu ada di sekolahl

221
DASA R-DASA R. PE N DIIDIK AN

Jelaskan pula rasionalnya rasing-rasing!


4, Jelaskan bagaimana pervvujudan (realisasi) konsep icon-ling to know, earn-
ing to do, leoniing to be, learning to live together, dan learning to believe in
God dalarn sistern persekolahan dewasa ini!
5. Berikan contohbahwa pernbaruan pendidikan merrier lukan dana yang I e bin
banyakdari sebelurnnya!
6. Kernuk ak an beberapa hambatan dalam pelaksanaan program icejar paket
A, dan C di daerah pedesaan kital

7. Jelaskan mengapa kurikulurn perlu diperbarui!


8. Kernukakan perbedaan yang mendasar antara Kurikulum 1968, 1975,
1984, Kurikulum Suplernen. Kurikulurn Berbasis Kompetens (OK). 2006
clan 2013!
9. Jelaskan pengertian sistern persekolahan di bawah a
SD Kecil
b. SD Ni-nong
c. PPSP
d. SM P Terbuka
e. UT
fi Sekolah Unggul
10. Diskusikan kebaikan clan kekurangan SINIPT clan UT di daerah pedesaan
kits.
11. Kernuk.akan persamaan dan perbedaan pendekatan CBSA dengari Kete-
rarnpilan Proses!

12, Diskusikan dalam kelompok tentang kebarkan dan kelemahan dari kornpu-
ter dalam pembelajaran.

Daftar Pe rta ma
AG Soejono. 1989. Aliran Barn dalam Pendidikan. Bandung:- CV limn. Debar
Doer & Iskandar Alisyahhana (Ed.). 1998. Perubahan, Peinbahani-
an, dan Kesadaran Menghadapi Abad Ke-21. Jakarta: Dian Rakyat.
Depdiknas. 2005. PP No. 19 Tatum 2005 fentang Standar Nacional Pendi-
dikan. Jakarta: Depdiknas.
H.A.11, TiIaar. 2007. Mengembangkan Emu Pendidikan Berdimensi
Global. Jakarta: Lembaga Manajernen UNJ.
Made Pidaria. 2007. Lanclasan Kependiclikan Stimulus ['mu Penclidikan
Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta,

222
13A13 9 1- Upaya Pena nggulaagan Perniasalahan Pend idiken

M. Dimyati. 1988, Landasan Kependidikan: Stiatu Pengantar Pemikiran


Kean-wan tentang iCegiatanPendidikan, Jakarta; P2I,PTK. Depdikbud.
Prayitno. 2005. Sosok Keihnuan I/mu Pendidikan. Padang: F1P TJNP.
Redja Mudyahardjo. 2006. Filsafai itinu Pendidikan. Bandung: PT Rem*
Rosclakarya,
Shanon, A, G. 1973. Arti Pendidikan bagi Masa Depan Terjemahan MM.
Ansyar, Jakarta: Pustekom Depdikbud,
Suardi, 2012, Pen Pendidikan Teori dan Aplikasi. Jakarta: PT ludeks,
Syafril Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina, T.
Naisbit & P. Aburdane, 1990. Mega Trends 2000. Jakarta: Binarupa
Aksara,
Undang-Undang RI Noinor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: B alai Pustaka Cipta. Karya.
Undarig-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Doren, Jakarta:
Depdiknas.

111 223
10
Pendidikan di Era Globalisasi

PENDAHULUAN

UURI Na. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I


Pasal I menyatakan, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan te-
rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
menjadi manusia berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan.
Mencermati rumusan pengertian pendidikan tersebut, dapat dipahami
bahwa pada dasarnya pendidikan adalah usaha yang dilakukan secara
sadar dan terencana sebagai manusia untuk rriempersiapkan peserta
didik daiarn kehiduparinya. Kehidupan scat in] yang herada di era
globalisasi membutuhkan pengetahuan dan keterampilan yang cepat
berubah dan berkembang. Perubahan itu disebabkan oleh kemajuan
masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
begitu cepat, terutarna perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi,
Perkembangan teknologi informasi dan teknologi telah membawa
bengaruh dan perubahan yang sangat dalam berbagai bidang ke-
hidupan manusia. Pengaruh teknologi informasi dalam bidang pen-
didikan menuntut guru untuk mampu mernanfaatkan teknologi in-
formasi dan komunikasi tersebut.
Tuj11 a n pembelajaran yang a kan dicapai setelah mempelajari topik
ini yaltu agar Anda dapat:
1. Nienjelaskan pengertian era globalisasi,
2. Menjelaskan p-eranan TIK dalam era globalisasi.
3. Menjelaskan pernanfaatan TIK dalam pendidikan di era globali-
sasi.
DASAR-DASAR. ILt.IU PENDIDIKAN

A. ERA GLOBALISA.S1
GlohaIisasi diambil dari kata yang rnaknanya ialah universal,
Achrnad Suparman menyatakan globalisasi adalah suatu proses men-
jadikan sesuatu (benda atau perilakul sebagai ciri dari setiap individu di
dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. GIohalisasi belurn merniiiki
definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition),
sehingga bergantung dari sisi mama orang melihatnya. Ada yang
memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses 8ejarith, atau
proses alarniah yang akan menibawa selunih bangsa dan negara di dunia
makin terikat satu sarna lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru
atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan Batas-batas geografis,
ekonomi, dan budaya masyarakat.
Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai suatu proyek yang
diusung oich negara-negara adiknasa, sehingga hisa saja ()rang mornili ki
pandangan negatif atau curiga terhadapnya, Dan sudut Pandang ini,
globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mu-
takhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan
ekonorni dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak
mampu bersaing. Sebab globalisasi cenderung berpengaruh besar
terhadap perekonomian dunia, halikan berpengaruh terhadap bidang-
bidang lain seperti budaya dan agama, Theodore Levitte merupakan orang
yang pertama kali meuggunakan istilah globalisasi pada 1985.
Globalisasi adalah suatu proses yang mendunia di mana individu tidak
terikat oleh negara atau batas-batas wilayah, Setiap individu dapat terhubung
oleh siapa raja yang ada di beiahan bumi ini dan terjadi penycharan
informasi dim komunikasi rrielalui media coal clan elektronik yang
mendunia. Globalisasi sendiri berasal dad Bahasa Inggris, yaitu
Globalization. Data '"globai" berarti mendunia, sedangkan "lization" herarti
proses. Sehingga globalisasi menurut bahasa adalah suatu proses yang
mendunia. Globalisasi merupakan suatu proses masuknya negara ke dalam
pergaulan dunia. Globalisasi membuat suatu negara semakin ke-
cil sernpit dikarenakan kemudahan dalam herinteralcsi antarnegara,
baik itu dalam perdagangan, teknologi, pertukaran inforrnasi, dan gaga hidup
maupun dengan bentuk-bentuk interaksi lainnya.
MenurutSelo Soemardjan, globalisasi adalah suatu proses terbentuk-
nya sistern organisasi dan komunikasi antarmasyarakat di selurch dunia
untuk mengikuti sistem dan kaidali-kaidah tertentu yang sama. Anthony
Giddens mengatakan, hahwa globalisasi adalah intensifikasi hubungan

226
BAB 10} Pendia< an di Era G loba I isasi

sosial secara mendunia sehingga mengbubungkan antara kejadian yang


terjadi di lokasi yang satu dengan yang lainnya serta menyebabkan terja-
dinya perubahan pada keduanya, Globalisasi menurut Laurence E. Roth-
ernberg adalah percepatan dari intensifikasi interaksi dan 111 tegrasi antara
orang-orang, perusahaan, dan pernetintah dad negara yang berbeda, Clo-
balisasi menurut Emanuel Ritcher adalah suatularingan kerja global yang
rnempersatukan masyarakat secara bersamaan yang sebelurnnya tersebar
menjadi terisolasi ke dalam sating ketergantungan clan persatuan dunia.
Globalisasi menurut Martin Albrow adalah seluruh proses penduduk yang
terhubung ke dalarn komunitas dunia tunggal, komunitas global.
Meski dalarn artian paling sederhananya globalisasi mengacu pada
pelebaran, pendalaman, clan pemercepatan interkoneksi global, definisi
sem.acam itu perlu dijelaskan lebib jauh lagi. Globalisasi dapat ditempat -
kan di dalam satu kontinum bersam.a lokal, nasional, dan regional. Di
satu ujung kontinuin, terdapat hubungan dan jaringan sosial dan ekonorni
yang berbasis 'aka! dani atau nasional; di ujung lain, terdapat hubungan
dan jaringan sosial clan ekonorni yang menguat pada Skala interaksi
regional dan global. Globalisasi dapat me/10k pada proses perubahan
ruang waktu yang menopang transformasi susunari kehidupan manusia
dengan menghtubungkan sekaligus rnemperluas aktivitas manusia melin-
tasi wilayah dan benua. Tanpa melihat kaftan ke ruangan seperti itu, isti-
lah ini takkan bisa dirumuskan secara jelas atau runtun. Definisi globa-
lisasi yang tepat harus bisa Fri enc kup elemen-elemen berikut:
jangkauan, intensitas, kecepatan, dan pengaruhnya.
Beberapa istilah yang berkaitan dengan globalisasi di antaranya:
1, InternazionalisaA globalisasi diartikan se b agai meningkatnya hubungan
intemasional. Dalam hal ini masihg-masihg negara tetap mem pe
rtahankan identitasnya masihg-masihg, namun menjadi semakin
tergantung satu sama
2. Liberalisasi: globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan
batas antarnegara, inisalnya hambatan Lard ekspor impor, lalu Iintas
devisa, maupun migrasi,
3. Universalisasi: globalisasi juga digambarkan sebagai semakin terse-
barnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pe ngalarnan di
satu lokalitas dapat menjadi pen galam.a.n sei uruh. dunia,
4. Westernisask westernisasi adalah salab satu bentuk dari universalisasi
dengan semakinrnenyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga.
mengglobal,

227
DASAR-DASA R. ILTALI PENDIDIKAN

1. Pe n y e b a b G l ob a li s a s i
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya globalisasi yaitu:
a. Majunya ilmu pengetahuan pada teknologi transportasi yang memperm
udab dalam jasa pengi rim an barang Mum- negeri.
b. Perkembangan teknologi inforrnasi dan kornunikasi yang berperan
menjarnin kemudahan dalam transaksi ekonomi antarnegara,
c. Kerja sal-Da ekonomi internasiortal yang memudahkan terjadinya ke-
sepakatan-kesepakatan antarnegara yang terjalin dengan erat.

2. D a mp a k G l o b a l is a s i
Berlangsungnya globalisasi mempunyai dampak yang ditimbulkan dari
era globalisasi. Dampak globalisasi terbagi dua, yaitu:
a. Dampak Posi t if Glo h al is asi
1) Komunikasi yang semakin ce p a t dan mudah,
2) Meningkatnya taraf hidup dari masyarakat.
3) Mudahnya rnendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.
4) Tingkat pembangun yang semakin tinggi.
5) Meningkatnya turisme dan pariwisata,
6) Meningkatnya ekonomi meniadi lehih produktif, efektif, dan
efisien,
b. Dampak Negatil Globalisasi
1) Informasi yang talc terkendati,
2) Tim bulnya sikap yang ala kebarat-baratan.
3) Munculnya sikap individualisme.
4) Berkurang sikap solidaritas, gotong royong, kepedulian, dan ke-
setiakawanan,
5) Perusahaan dalam negeri lebih mementingkan perusahaan dari
luar ketimbang perusahaan yang ada dalam negeri rnembnat
perusahaan dalam negeri sulit berkemb a ng.
6) Berkurangnya tenaga kerja pertanian akibat dari sektor industri
yang menyerap seluruh petani.
7) Budaya bangsa akan terkilds.

3. Sejarah Globalisasi a.
Masa Kuria
Glohalisasi kuno dipandarig sebagai snail] fa se dalam sejarah globa-
lisasi yang mengacu pada peristiwa dan perkembangan globalisasi sejak
rnasa peradaban terawal saznpai kira-kira tahun 1600-an. Istilah int dipa-

228 ■
BAB 10} Pend idiic an di E ra G loba I isasi

kai untuk menyebut hubungan antara masyarakat dan negara dan cara
keduanya dibentuk oleh persebaran ide dan norms social bait di tingkat lokal
pilau p un regional,
Dalarn skema ini, ada tiga penyebab yang dipaparkan sebagai pemicu
globalisasi. Penyebab pertania adalah pemikiran Timur yang bet -- arti
bahwa negara-negara Barat telah mengadaptasi dan rnenerapkan prinsip-
prinsip yang dipelajari dari Timur. Tanpa ide tradisional dari Timur.,
globalisasi Barat tidak akan terjadi sebagaimana mestinya_ Penyebab
kedua adalah jarak; interaksi antarnegara belum berskala global dan masih
berada di seputaran Asia, Afrika Utara, Timur TengalL dan sebagiari
Eropa. Pada globalisasi awal, negara masih sulit berinteraksi dengan
negara lain yang letaknya jauh. Kemajuan teknologi kemudian memung-
kinkan negara mengetahui keberadaan negara lain yang Ietaknya jauh, dan
Ease globalisasi yang baru pun terjadi. Penyebab ketiga adalah sating
ketergantungan, kestabilan, dan. regularitas. Jika suatu negara tidak ber-
gantung dengan negara 'id ak ada cara lain Magi negara tersebut untuk
mernertgaruhi dari dipengaruhi oleh negara. lain. Inilah salah satu penggerak
utama di Malik hubungan dan perdagangan global. Tanpa keduanya,
globalisasi tidak akan herjalan seperti yang sudah-sudah dan negara akan
tetap bergantung pada produksi dari cumber dayanya sendiri supaya bisa
terus berdiri. Sejurnlah pakar berpendapat bahwa globalisasi kuno tidak
berjalan seperti globalisasi modern karena negara-negara waktu itu tidak
sating bergantung seperti sekarang.
Ada pula sitat multipolar dalam globalisasi kuno yang melibatkan
partisipasi aktif bangsa non-Eropa. Karena globalisasi kuno sudah ada
sebelum Pero belahan Besar abad ke-19, rnasa ketika Eropa Barat merniliki
produksi industri dan basil ekonomi yang lebih maju ketimbang kawasan lain
di dunia, globalisasi kuno rnenjadi fenomena yang tidak hanya digerakkan
oleh Eropa tetapi juga oleh wilayah dunia lama yang ekononnnya sudah maju
seperti Gujarat, Bengal, pesisir China, dan Jepang.
Ekonorn dan sosiolog historis Lerman Andre Gunder Frank her-
pendapat bahwa globalisasi diawali oleh munculiiya hubungan dagang
antara Sumer dan Peradaban Lembah Indus pada milenium ketiga SM.
Globalisasi kuno ini terjadi pada Zaman Helenistik, zaman ketika pusat -
pusat kota komersial membentuk poros budaya Yunani yang merentang
dari India hingga Spanyol, terrnasuk Alexandria dan kota-kota era Alex-
ander lainnya. Sejak itu, posisi geogratis Yunani dan impor gandurn me -
rnaksa. bangsa Yunani melakukan perdagangan lewat laut, Perdagangan
di Yunani Kuno sangat tidak dibatasi, dan negara hanya mengendalikan
suplai gandum,

229
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

b. Modern Awal
Globalisasi modern awal atau protoglobalisasi meneakup periode
sejarah globalisasi antara 1600 dan 1800. Konsep protoglobalisasi pertama
kali diperkenalkan oleh sejarawan A.G. Hopkins dan Christopher Bayly.
Istilah ini berarti lase peningkatan hubungan dagang dan pertukaran bu-
daya yang menjadi ciri khan periode sebelum muncuinya globalisasi mo-
dern pada akhir abad ke-19. Fase globalisasi ini dicirikan oleh bangkitnya
imperium maritim Fropa pada abad ke-16 dan 17, Imperium pertama yang
mu n cul adalah Portugal dan Spanyol, kemudian muncullah Bela/Ida dan
Britania. Pada abad ke-17, perdagangan dunia berkernbang Lebih jauh
ketika perusahaan kerajaan (chartered company) seperti British East India
Company (didirikan tahun 1600) dan Vereenigde Oostindische Compagnie
(didirikan tahun 1602, sering dianggap sebagai perusahaan multinasional
pertama yang membuka sahanmya) didirikan,
Globalisasi modern awal berbeda dengan globalisasi modern dalam
hal tujuan ekspansionisme, cam mengelola perdagangan global, dan
tingkat pertukaran inforrnasi. Periode ini ditaridai oleh banyaknya per-
jartjian dagang seperti yang dilakukan East India Company, peralihan
hegemoni ice Eropa Barat, terjadinya konflik berskala besar antara negara
besar seperti Perang Tip Puluh Tahun, dan munculnya komoditas bare
seperti perdagangan budak. Perdagangan Segitip mernungkinan Eropa
mendapatkan keuntungan dad sumber-sumber daya di dunia Barat.
Perpindahan hewan, tanaman, dan wabah penyakit yang dikaitkan
dengan konsep Pertukaran Columbus oleh Alfred Crosby juga memain-
kan peran penting dalam proses ini. Perdagangan dan komunikasi modem
awal melibatkan banyak kelompok rnasyarakat, termasuk pedagang
Eropa, Muslim, India, Asia Tenggara, clan China, terutama di kawasan
Samudra Hindia.
Britania Raya pada abad Ice-19 menjadi kekuatan super ekonomi
pertama di dunia berkat teknologi pabriknya yang superior clan sistern
transportasi global yang maju seperti kapal uap dan rel kereta api.

c. Modern
Sepanjang abad ke-19, globalisasi rnulai mendek.ati bentuknya yang
modern akibat revolusi inclustri, industrialisasi memungkinkan standar-
disasi produksi barang-barang rumah tangga menggunakan ekonomi skala,
sedangkan pertumbuhan penduduk yang cepat menciptakan permintaan
barang yang stabil, Dada abad ke-19, kapal uap sangat menghemat biava
transportasi internasionai dan rd kereta menjadikan trans-

230
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

portasi darat lebih murah. Revolusi iransportasi terjadi antara 1820 dan
1850. Jurnlah negara yang ikut dalarn perdagangan internasional semakin
banyak. Globalisasi pada masa ini sangat dipengaruhi oleh imperialisme
abaci ke-18 seperti yang terjadi di Afrika dan Asia. Penemuan kontainer
kapal tahun 1956 turut memajukan globalisasi perdagangan,
Setelah Perang Dunia Kedua, pars politikus berhasil mewujudkan
konferensi Bretton Woods, perjanjian yang disepakati negara-negara besar
untuk menyusun kebijakan moneter internasional, perdagangan dan
keuangan, dan pembentukan sejurnlah lembaga internasional yang ber-
tujuan mernfasilitasi pertumbuhan ekonomi, pembehasan perdagangan
secara bertahap, clan penyederhanaan dan pengurangan batasan perda-
gangan. Awalnya, General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)
mengeluarkan beberapa perjanjian untuk menghapus batasan perdagangan.
GATT kemudian digantikan Web Organisaci Perdagangart Dunia (WTO)
untuk mengelola sistem perdagangan. Ekspor nyaris berlipat dari 8,5 per-
sen total produk bruto dunia tahun 1970 menjadi 16,2 persen tahun 2001.
Pemanfaatan perjanjian global untuk memajukan perdagangan tedium-bat
oleh gagalnya putaran negosiasi Doha, Banyak negara yang beralih ke
perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral yang lebih keen, misalnya
Perjanjian Perdagangan Babas Anierika Serikat-Korea Selatan 2011.
Sejak 1970-an, penerbangan semakin terjangkau bagi kelas mene-
ngah di negara-negara berkembang. Kehijakan langit terbuka dan mas-
kapai bertarif rendah ikut mendorong persairigan pasar, Pada 1990-an,
pertumbuhan jaringan komunikasi bertarif rendah mernangkas biaya
komunikasi antarnegara. Banyak hal, yang bisa dilakukan melalui kom -
puter tanpa memedulikan lokasinya seperti akuntansi, pengernbangan
perangkat lunak, dan desain rekayasa.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi
dan kebudayaan dunia tumbuh sangat cepat, Pentumbuhan ini melarnbat
sejak 1910-an sampai seterusnya akibat Perang Dunia dan Pe rang
Dingin, tetapi berhasil melaju lagi sejak kebijakan neoliberal dirintis
tahun 1980-an dan perestroika serta reformasi ekonomi Gina Deng
Xiaoping membawa paham kapitalisme Barat ke Blok Timur lama. Pada
awal 2000-an, sebagian besar negara maju mengalami resesi Besar,
sehingga memperlarnbat proses globalisasi untuk sernentara.
Perdagangan dan globalisasi telah berevolusi jauh pada masa kiwi.
Masyarakat yang terglobalisasi memiliki serangkaian pendorong dan faktor
yang terms mendekatkan manusia, kebudayaan, pasar, kepercayaan, dan
aktivitasnya.

111 231
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

B. PEMANFAATAN TIK DALAM PENDIDI KAN

1. Pendahuluan
Perkernbangan Teknologi informasi dari Komunikasi di Indonesia
berjalan Mari masa ke masa. Indonesia sebagai negara yang sedang her-
kembang selalu mengadopsi berbagai teknologi informasi dan komuni-
kasi. Teknologi inforrnasi dan komunika.si merupakan elemen penting
dalarn kehidupan berbangsa dan bernegara, Teknologi informasi dan
komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung
mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalarn segala aktivitas-
nya. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini
memang begitu besar.
Teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi fasilitas utarna
dalam kegiatan berbagai sektor kehidupan di mane memberikan andil
besar tett adap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur
aperasi dan manajernen organisasi, pendidikan, transportasi, kesehatan,
dan penelitian, Penirigkatan kualitas hidup makin menuntut manusia
untuk meiakukan berbagai aktivitas yang dibutuhkan dengan
mengoptimalkan sumber daya yang dirnilikinya. Eeberapa penerapan
dad tekrtologi informasi dan komunikasi antara lain dalarn pendidikan,
kesehatan, ekonomi, dunia bisnis, dan perhankan. Dalam kesempatan ini
yang akan disajikan penerapan teknologi informasi dan komunikasi
dalam bidang pendidikan.
Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi, terutaina komputer
dan internet, sudah lama dimanfaatkan oleh negara-negara maju.tVlisal-
nya, di negara seperti Inggris, Amerika, dan Jepang, teknologi informasi
dan komunikasi digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah-se-
kolah melalui pemanfaatan komputer dengan didukung teknologi inter-
net, Dengan teknologi komputer dan internet, para siswa atau maha.5iswa
tidak hanya dapat belajar di dalam kelas. Ivfereka dapat belajar di [liana
pun karena harnpir set-rata mated pelajaran dapat diiperoleh melalui CD
atau langsung diakses melalui Internet, Indonesia tidak mau ketinggalan
dengan negara-negara maju. Sekarang ini, komputer sudah mulai
diperkenalkan di sekolah. Idulai dad pendidikan prasekolatt (playgroup)
sampai universitas, Bagi anak-anak playgroup dan taman kanak-kanak,
sudah tersedia berbagai media pembelajaran melalui komputer yang
mernungkinkan kegiatan pembelajaran secara interaktif tanpa metting-
galkan sifat anak-anak, yaitu bermain. Secara urnurn, peran TI dalarn
lingkungan pendidikan dapat dirasakan oleh para siswa, sekolah, dan
orangtua.

232
BAB 10} Pend idiic an di Era G loba I isasi

2. Pengertian TI K
Isrilah information and communications technology (ICT) atau
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) adalah istilah yang relalif
bare dalam wacana komunikasi. Menurut kamus Wikipedia, istilah ICT
mulai digunakan oleh para peneliti akarlemik pada 1980-an dan menjadi
populer sejak digunakan oleh Dennis Stevenson pada 1997 dalam
laporannya kepada pemerintah inggris tentang perkembangan
pendidikan. Istilah ICT semakin dikenal luas setelah digunakan dalam
laporan tentang revisi Kurikulum Nasional uniuk Inggris, Wales, dan
Irlandia Utara pada tahun 2000.
Pengertian ICT terus berkembang mengikuti perubahan yang terjadi
pada teknologi dan aplikasinya dalam berbagai konteks dan kebutuhan
komunikasi. Saat in i, rnenurut Wikipedia, istilah ICT digunakan untuk
menjelaskan konvergensi antara teknologi audiovisual dan jaringan re-
Lepon dengan jaringan komputer melalui kabel tunggal (a single cabling
atau istem jaringan (link system). Menurut rurnusan United Nation De-
velopment Programme (UNDP), ICT adalah "seperangkat sumber days
dark peralatan teknologi yang digunakan untuk mengomunikasikan,
menciptakan, mendiseniinasi, menyimpan, dan mengelola inforrnasi,"
Peralatan teknologi dimaksud antara lain komputer, internet, teknologi
penyiaran (radio dari televisi), dan telepon. Sarana ICT membuat berbagai
aktivitas komunikasi menjadi lebih efektif clan efisien, Aplikasi ICT
dalam berbagai konteks dan kebutuhan komunikasi dapat inempercepat
proses dan menghemat waktu, hiaya, serta Lenaga. Misalnya, aplikasi ICT
dapat merninialisasi, bahkan mengelimina.si biaya telephone dan inten-
sitas penggunaan Mat Tulis Kantor (ATK).
Aktivilas kependidikan pada dasarnya adalah aktivitas komunikasi
multidimensi dan multimedia yang melibatkan berbagai sumber belajar,
baik yang tertulis rnaupun tidak tertulis, dan juga melibatkan banyak
aktor, seperti tenaga pendidik, tenaga kependidikan, peserta didik, dan
para pernangku kepentingan pendidikan, terutama para orangtua atau wall,
para lulusan, para pengguna lulusan, tokoh againa (toga), tokoh
rnasyarakat (Lomas), tokoh pendidikan (topen), dan tokoh pemerintahan
(topem). Efektivitas sernua dirriensi komunikasi yang terjadi dalam proses
pendidikan sangat ditentukan °lel] aktor yang terlibat be serta cumber dan
media kornunikasi yang digunakan.
Dengari dukungan. ICT, proses komunikasi di sernua jalur, jenis, dan
jertjang pendidikan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Iika diinteg-
rasikan dalam sistern penyelenggaraan pendidikan, ICT dapat menjadi
instrumen yang sangat efektif, efisien, kreatif, produktif, dan menyenang-

233
DASAR-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

scan. Sarana dapat berperan sebagai instrument utama bagi pars pen-
didik dan peserta didik dalarn rnenca.ri (searching), menghirnpun (clas-
sifying), menghubungkan (connecting), mengjnterpretasi (interpreting),
dan menyajikan (presenting) informasi secara cepat dan menarik, untuk
ditransforrnasikan rnenjadi iirnu pengetahuan yang bermanfaat. Fungsi-
fungsinya yang begitu banyak dan perannya yang begitu penting dalam
proses pembelajaran rnembuat 1CT menjadi salah saw sarana utama
yang harus ada di setiap lembaga pendidikan. Sernua lembaga
pendidikan petit] difasilitasi dengan sarana [CT yang up to date dan
relevan dengan berbagai kebutuhan pelayanan pendidikan, baik pada
aspek perangkat keras (hardwares) maupun perangkat iunak (softwares).

3. TIK dalam Pendidikan


Arti TIK bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya sa-
luran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pen-
didikan. Namun pemantaatan TIK it'll di Indonesia Baru memasuki tahap
rnempelajari berbagai kemungkinan pengernba.ngan dan penerapan
untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini, Padahal, penggunaan
TIK ini bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Amerika sane, Pe-
rnanfaatan IT dalarn bidang pendidikan sudah merupakan kelazirnan di
Arnerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah sate
bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di
dunia. Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan
Internet sebagai media utamanya telah marnpu memberikan kontribusi
yang demikian besar bagi proses pendidikan.
Teknologi interaktif ini memberikan katalisator bagi terjadinya per-
ubahan mendasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi.
Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang
mernampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lehih baik, dan
lebih cerdas. Teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi kunci
untuk menulu model sekolah masa depan yang lebih baik. Usaha dari
anak-anak bangsa juga terus dilakukan untuk rnengejar ketertinggalan
bangsa Indonesia dalam hal penyarnpaian proses pendidikan dengan
penggunaan TIK. Semisalnya, Baru-baru ini Teikom, Indosat, dan Institut
Teknnlogi Bandung (ITB) menyatakan kesiapannya untuk mengernbang-
kan IT untuk pendidikan di Indonesia, dimulai dengan proyek-proyek
percontohan. Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan mening-
katkan kualitas infrastruktur jaringan teIekornunikasi yang diharapkan
dapat menjadi tulang punggung (backbone) bagi pengembangan dan
penerapan IT untuk pendidikan serta implementasi-implementasi lain-

234 ■
BAB 10} Pend idiic an di E ra G loba I isasi

nya di Indonesia. Bahkan, saat ini Telkom rnulai mengernbangkan tek-


nologi yang memanfaatkan ISDN (Integrated Sevices Digital Network)
untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh (teleconfe-
rence) sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh.
Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan
untuk mendukung pengembangan dan penerapan TIK untuk pendidikan
dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indo-
nesia. Sala h satu asp eknya idah kondisi geografis Indonesia dengan
sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan
buminya yang sering kali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk
menjagokan pengernbangan dan penerapan TIK untuk pendidikan. TIK
sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk
meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab TIK yang mengandalkan
kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang. jarak,
dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya
diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera rnung„kin di Indonesia.
Kornunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggu-
nakan media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dan
sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan
melalui hubungan tatap muka, tetapi juga dilakukan dengan menggunakan
media-media tersebut. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus
berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat me rn-
peroleh informasi dalam lingkup yang luas clears berbagai cumber
melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer
atau inter-net. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang
disebut "cyber teaching' atau pengajaran map., yaitu proses pengajaran
yang dilakukan dengan menggunakan Internet. Istilah lain yang makin
-
popular saat ini ialah e learnfng, yaitu satu model pembelajaran dengan
menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya
-
internat. Menurut Rosenberg (2001: 28), e learning merupakan satu
penggunaan teknologi Internet dalam penyampaian pembelajaran dalam
jangkauan luas yang berlandaskan tiga 'criteria yaitu:
a. E-leamingmerupakan jaringan dengan kemampuan untuk mempe r-
barui, menyimpan, mendistribusi, dan membagi materi ajar atau in-
forrnash
b. Pengiriman sarnpai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan
menggunakan teknologi internet yang standar_
c. Memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pernbelajaran
di balik paradigma pembelajaran tradisional.

111 235
DASAR-DASAR ILMU FENDIDIKAN

Saat ini e-iearning telah berkembang dalam berbagai model pem-


belajaran yang berbasis TT seperti: CBT (Computer Based Training), CBI
(Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education,
CLE. (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS
(Integrated Learning System)! LCC (Learner-Cemterted Classroom), Te-
kconferencing, clan I'VBT (Web-Based Training).
Saul bentuk produk TI adalah Internet yang berkembang pesat di
penghujung abad ke-20 dan di ambang abad ke-21. Kehadirannya telah
memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat ma-
nusia dalam berbagai aspek dan dirnensi. Internet merupakan salah satu
instrumen dalarn era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi
transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa
rnengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. Melanii Internet se-
tiap orang dapat triengakses ke dunia global untuk memperoleh
informasi dalam berbagai bidang, dan pada gilirannya akan memberikan
pengaruh dalam keseluruhan perilakunya.
Dalam kurun waktu yang sangat cepat beberapa dasawarsa terakhir
telali terjadi revolusi Internet di berbagai negara serta penggunaannya
dalam berbagai bidang kehidupan. Keheradaan internet pada masa kini
sudah merupakan satu kebutuhan polcok manusia modern dalam meng-
hadapi berbagai tantangan perkembangan global. Kondisi ini sudah tentu
akan rnemberikan dam pak terhadap corak dan pola-pola kehiclupan urnat
manusia secara keseluruhan. Mann kaitan ini, setiap orang atau bangsa
yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, periu mening-
katkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkem-
bang,
TI telali mengubah rajah pembelajaran yang berbeda dengan proses
pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi [alai) muka
aritara guru dan siswa, baik di kelas inaupun di War kelas, Di masa-
masa mendatang, arcs informasi akan makin meningkat melalui ja-
ringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapa
pun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak niau ke-
tinggalan zarnan.

4. Perubahan Paradigma
Era informasi dan pengenalan ICT di dunia pendidikan telah meng-
ubah paradigma pembelajaran. Di era ini, menurut UNESCO, lembaga-
Iemhaga pendidikan tidak hanya dituntut untuk mendorong peserta didik
untuk belajar (to learn), tetapi juga dituntut untuk dapat rnendorong
peserta didik untuk belajar menguasai ilmu (learning to acquire know-

236
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

ledge), mempromosikan aktivitas belajar hertindak (learning to aci), belajar


hidup bersama. (learning to live together), dan belajar untuk kehidupan
(learning for life), denganparadigma belajar sepanjang hayat (life long
learning).
Di tengah anus informasi yang mengalir deras dan sernakin mudab
diakses, lembaga-lembaga pendidikan tidak bisa lagi sekadar menjadi tern p
a.t berlangsungnya transmisi informasi dari guru kepada murid dalam
periode waktu dan batasan ruang tertentu. Lembaga-lembaga pendidikan
dituntut untuk dapat berperan sebagai fasilitator bagi para pendidik dan
peserta didik untuk mengembangkan aktivitas pembelajaran yang mobile,
dinamis, dan menembus batasan ruang (spaceless), batasan waktu (timeless),
dan batasan kenegaraan (borclerless), Dukungan ICT memungkinkan proses
pembelajaran terjadi kapan pun dan di maim pun. Dalam konteks ini, rnaka
guru tidak lagi menjadi figur central dan sekolah tidak lagi menjadi satu-
satunya lingkungan belajar bagi peserta didik. Guru dan sekolah hanyalah
fasilitator dan mediator pembelajaran. Sarana ICT membuat proses
pebelajaran bersifat rrtultzdirnerni dan multfpurposes,
Perubahan paradigma pembelajaran beriringan dengan perubahan
paradigma tentang literasi (rnelek huruf. Di era informasi, menurut
seorang futurist, Alvin Toffler (1990), orang yang disebut buts huruf bu-
kantah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi orang yang
tidak bisa belajar (learn), tidak bisa mengubah kebiasaan (unlearn), dan
tidak bisa belajar kembali (relearn). Taller agaknya ingin rnengingatkan
kita bahwa masyarakat yang hidup di era informasi dituntut untuk memi-
LIU tradisi belajar yang kuat, agar para anggotanya marnpu menyerap,
rnengdola, dan rnemanfaatkan informasi secara kritis dan selektif.
Masyarakat yang kuat dan unggul di era informasi adalah masyarakat
yang menguasai atau mengendalikan informasi, dan masyarakat yang
menguasai informasi adalah masyarakat yang menguasai MT. Tika tidak
disertai dengan tradisi belajar yang kuat, penguasaan ICT hanya akan
rnernberikan kesenangan, tidak memberikan ilmu pengetahuan. Dengan
tradisi belajar yang kuat, sernua anggota masyarakat utemiliki kemauan
keras untuk belajar, selalu slap untuk berubah (open minded), clan terus
belajar sampai akhir hayat (lifelong education). Pentingnya tradisi belajar
yang kuat bagi satu masyarakat diirigatkan Pula Welt salah satu Presiden
Amerika Serikat, Benjamin FranIdin, melakti ungkapannya sebagai berikut:
"Being ignorant is not so much a shame, as being unwilling to learn"
(menjadi orang yang enggan belajar lebin memalukan daripada rnerijadi
orang yang tidak tabu apa-apa),
Tradisi belajar akan menentukan tingkat literasi. Di era informasi,

237
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

tingkat literasi yag dibutuhkan oleh saw masyarakat untuk dapat ber-
ken-tbang clan bersaing sangat tinggi dan bervariasi. Di era Mi.
menurut Alvin Toffler (1990), seseorang dituntut untuk melek dalam
enam aspek. Pertama, melek fungsional (fig/caw-tat literacy) atau
melek visual (visual literacy)., }situ rnemiliki kerna.mpuan untuk
menangkap makna dan mengekspresikan ide-ide rnelalui berbagai
media, termasuk penggunaan images, graphics, video, dan charts. Kedva,
melek ilmiah (scientific literacy), marnpu rnemaharni aspek-aspek teoretis
dan aplikatif dari sains dan matematika. Ketiga, melek teknologi
(technological literacy), berkornpeten dalam menggunakan berbagai
teknologi kornunikasi dan informasi. Keempat., melek informasi
(information literacy), rnarnpu menggali, mengevaluasi, clan menggunakan
informasi secara tepat, termasuk dengan menggunakan TIK. Kelinta,
melek budaya (cultural literacy), rnengapresiasi keragarnan budaya.
Keettarn, kesadaran global. (global awareness), memahami bagaimana
berbagai bangsa, korporasi, dan komunitas di seluruh dunia terhubung
satu sama lain.
Tingkat literasi yang sangat tinggi dan bervariasi menuntut lernba-
ga-lembaga pendidikan untuk tidak hanya berperan sebagai pusat
belajar (center for learning), tetapi juga sebagai pusat budaya (center for
culture), dan pusat peradaban (center for civilization),

5. Manfaat TIK bagi Pendidikan


Tingkat literasi yang tinggi dan bervariasi, menurut Toffler, sangat
terkait dengan lien kehidupan abad ke-21 dari fungsi-fungsi serta aplikasi
ICT. Karena itu, sarana ICT sangat penting untuk menunjang berbagai
aktivitas masyarakat manusia di had ke-21, tentu saja termasuk aktivitas
dalam bidang pendidikan. Dengan sarana ICT yang up to date dan relevan,
iembaga-lembaga pendidikan dapat memaksimalkan perannya sebagai
pusat helajar, pusat budaya, dan pusat peradaban yang dapat melahirkan
anggota masyarakat yang tidak hanya.melek huruf, tetapi juga m.elek
budaya, dan melek peradaban.
Peran yang sangat penting dan strategis sebagai pusat belajar, pusat
budaya, dan pusat peradaban menuntut lembaga.-lembaga pendidikan
untuk dapat mengembangkan aktivitas pembelajaran yang merniliki
paradigma yang jelas dan daya jangkau yang luas. Dalam konteks inilah
sarana ICT menjadi sangat urgers, karena sarana ICT memberikan nilai
manfaat yang sangat banvak. Menurut penelusuran UNESCO (2013), ada
lima rnanfaat yang dapat diraih meialui penerapan ICT dalarn sister
pendidikan: (1) mempermudah dan memperluas arses terhadap pendi-
dikan; (2) meningkatkan kesetaraan pendidikan (equity in education); (3)
238
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

meningkatkan maul pembelajaran (the delivery of quality learning and


teaching); (4) meningkatkan profesionalisme guru (teachers' professional
development); clan (5) meningkatkan efektivitas dan efisiensi manajemen,
tats kelola, dan administrasi pendidikan.
Mengetahui clan menyadari besarnya manfaat ICT bagi dunia pen-
didikan, pars a.hli UNESCO menganjurkan agar semua negara, khususnya
negara-negara berkembang, meningkatkan berbagai summer daya yang
diperlukan untuk mengelaborasi ICT dalam berbagai kebijakan, strategi, dan
aktivitas pendidikan. Untuk tujuan tersebut, secara khusus mereka telah
meminta UNESCO membangun Institute for information Technologies in
Education (IITE) di Moscow. Tujuan utarna dari lembaga ini adalah untuk
mendorong dan mempromosikan pentukaran informasi (information
exchange) serta menggalakkan berbagai riser dan pelatihan yang terkait
dengan integrasi ICT dalam sistem pelayanan pendidikan. Untuk Asia dan
Pacific, tugas ini diamanahkan kepada ]Cantor cabang UNESCO di
Bangkok_
Meskipuri berhadapan dengan banyak kendala, upaya UNESCO dan
lembaga-lembaga kependidikan lainnya untuk mengintegrasikan ICT ke
claim) sistem pengelolaan dan pelavanan pendidikan sudah cukup
berhasil. Keberhasilan ini ditandai oleh munculnya berbagai jargon ber-
awalan e, mulai dari e-book, e-learning e-laboratory, e-education, e-ii-
brary, dan sebagainya. Awalan e pada jargon-jargon tersebut berrnakna
electronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika
digital. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan internet,
rnaka munculla.b beberapa jargon Baru, seperti computer based teaching
and learning Internet -based learning, atau web-based learning.
Keberhasilan UNESCO juga dapat dilihat pada beberapa kebijakan
pengembangan pendidikan. Sarana ICY telah menjadi salah satu fokus
utarna dalam format akreditasi semua jalur, jenisi clan jenjang lembaga
pendidikan di negara-negara berkembang. Di Indonesia, misalnya, keter-
sediaan sarana intensitas pemanfaatannya, dan kornitmen terhadap
pengembangannya dalam pengelolaan lembaga pendidikan sudah menjadi
bagian penting dalam proses akreditasi sekolah dan perguruan tinggi. Sudah
banyak sekolah dan perguruan tinggi yang secara eksplish mencantumkan
ICT sebagal salah satu kata kunci dalam rumusan visi, rnisi, ruJuan,
sasaran, dan target pengernbangannya.ivIereka tents meningkatkan
kuantitas dan kualitas sarana ICT dan rnemperku at pengelolanya.
Selain menggarnbarkan fenomena integrasi ICT ke dalam sistem
pendidikan yang terns berkembang dan rneluas, jargon-jargon dan herhagai
perkembangan yang ada juga menggambarkan betapa dahsyatnya

239
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

pengaruh perkembangan 1CT terhadap dunia pendidikan, khususnya


terhada.p pergeseran paradigrna pembelajaran dan paradigrna penge -
tolaan lembaga pendidikan, Fenornena ini mengingatkan kita betapa
ironisnya jika di era in sekarang ini masih ada lembaga-lembaga
pendidikan dan aktivitaspernbelajaran yang tidak tersentuh oleh ICT atau
jika masih ada pendidik dan peserta didik yang tidak terekspose pada
aplikasi ICT dalarn rnenjalankan aktivitas pernbelajaran. Dan, yang Lebih
ironis iagi jika di era inforrnasi ini masih ada penentu kebijakan pendidikan
(educational policy maker) yang menomorduakan atau mengabaikan sarana
ICT dalarn berbagai agenda pembangunan pendidikan.
Di ilunia pendidikan, banyak sekali lembaga pendidikan yang telah
berhasil mengembangkan teknologi informasi dan komttnikasi dalam
mendukung proses pembelajarannya. Dunia, saat ini sedang memasuki
era yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi dari peluang eko-
norni yang belum pernah terbayangkan sebeiumnva. Perubahan-per-
ubahan besar terjadi dalarn biding teknologi, politik, social, dari
ekonomi. Sepia perubahan ini telah rnenyebabkan terjadinya pergeseran
dalam berbagai biding yang antara lain:
a. Ivlasyarakat industri ke masyarakat informasi (kita masih berkutat dari
masyarakat agraris ke rnasyarakat irKlustri),
b. Teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi (hi-tech).
c. Ekonorni nasional ke perekonomian dunia. d,
Kebutuban jangka pendek ke jangka panjang,
e. Sistein sentralisasi ke sisters desentralisasi.
f. Bantuan ke lembagaan berpindah ke swak_arsa,
g. Dari poia hirarchike jaringan kerja (networking. h,
Dari pilihan terbatas ke banyak pilihan,
tvlenurut Buell Sutecljo Rpchaety, 2005), gelombang teknologi dan
informasi berkernbang melalui beberapa tahapan sebagai berik -ut:
a. GeIombang pertama, Pernanfaatan TIK difokuskan untuk peningkatan
produktivitas dari memperkeeil biaya.
b. Gelombang kedua, TIK difokuskan untuk rneningkatkan efektivitas
penggunaan komputer melalui pernbangunan jaringan komputer.
c. Gelombang ketiga, TiK difokuskan untuk menghasilkan keuntungan
lewat pernbangunan program sistem informasi,
d. Gelombang keempat, TIK difokuskan untuk membantu proses peng-
ambilan keputusan dari data kualitatif.
e. GeLornbang kelirna, TIK difokuskan untuk meraih pelanggan (kon-
sumen) melalui pengembangan jaringan Internet.

240
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

f. Gelornbang keenam, TIK yaitu mengembangkan sistem jaringan tanpa


kabe] (wireiess).
Teknologi informasi berbasis pada disiplin ilmu-ilrnu informatika,
teknik komputer clan manajemen informatika yang sernuanya terikat
dalam Komputasi. Komputasi berarti pekerjaan yang berkaitan dengan
akthitas: hitung-rnenghitung proses pengolahan, penyimpanan, dari pe-
nyampaia.n informasi, a.kibatnya tiap jaringan komunikasi beralih men-
jadi sentral informasi dan bukan komputernya lagi. Pernanfaatan yang
dahulunya sangat terbatas, kini telah memasuki ke dalain kategori stra-
tegis, pengaruhnya pada kelangsungan usaha tidak dapat dimungkiri Iagi
(PUSTEKKOM, 20061.
Tekonologi informasi dari masa ke masa selalu n-iengalarni perkem-
bangan yang pesat. Kemajuan yang pesat dalam bidang elektronika me-
nyebabkan kern ampuan komputer rrtaju pesat dan cepat usang mengikuti
Hukurn Moore (Vide; Bill Gates., 1995 dalarn PUSTEKKOM), di mana-:
a. Kemampuan chip komputer akan menjadi dua kali lipat setiap ta-
hunnya.
b, Perangkat Iunaksernakin canggih
c. Batas maya (virtual) tidak akan pernah tercapai.
Datum dunia pendidikan, keberadaan sistem informasi dan komuni-
kasi merupakan salah sate komponen yang tidak dapat dipisahkan dari
aktivitas pendidikan. Dalam suatu lembaga pendidikan harus memiliki
komponen-komponen yang diperlukan untuk mernalankan operasional
pendidikan, seperti siswa, sarana dan prasarana, struktur organisasi,
proses, cumber daya manusia (tenaga pendidik), dan biaya operasi. Ada-
pun sistem komunikasi dan informasi terdiri dari komponen-komponen
pendukung lembaga pendidikan untuk menyediakan informasi yang di-
butuhkan pihak pengambil keputusan scat melakukan aktivitas pendi -
dikan (PUSTEKKOM, 2006). Peran T1K dalam dunia pendidikan antara
lain:
a. IlK sebagai keterampilan (skin) dan kompetensi.
b, TIK sebagai infratruktur pedidikan.
c. TIK sebagai suinber bahan ajar.
d. Ilk sebagai alai bantu dan fasilitas pendidikan.
e. TIK sebagai pendukung manajernen pendidikan.
f. TIK sebagai sistem pendukung keputusan.

241
DASA R-DASA R. ILMU PE N DIIDIK AN

6. DampakTIKTerhadap Pendidikan
Pemanfaatan TIK dalam pendidikan telah memengaruhi berbagai
kegiatan pendidikan, sehingga dapat mengatasi beberapa masala.h se ha
gai bed kut:
a. Masalah geografis. waktu, dan social ekonomis Indonesia.
b. Negara Republik Indonesia merupakan negara kepulauan, daerah
tropic, dan pegunungan, hal ini akan memengaruhi terhadap pe-
ngembangan infrastruktur pendidikan sehingga dapat menyebabkan
distribusi informasi yang tidak merata.
C. Iviengurangi ketertinggalan dalam pernanfaatan TIK dalam pendi-
dikan dibandingkan dengan negara berkembang dan negara maju
ainnya.
Akselerasi pemerataan kesempatan helajar dan peningkatari mutu
pendidikan yang girth diatasi dengan cara-cara konvensional.
e. Peningkatan kualitas somber daya manusia tnelalui pengembangan
dan pendayagunaan teknologi inforrnasi dan komunikasi.
f. TIK akan membantu kinerja pendidikan secara terpadu sehingga
akan terwujud manajemen yang efektif dan efisien, transparan,
dan akuntabeI.
Dampak teknologi bagi pendidikan perkembangan teknologi, khu-
susnya di bidang pendidikan dapat mernajukan rnotivasi siswa agar le-
bil dan Lebih niaju dalarn penggunaan teknologi. Motivasi dalam
pendidikan juga dapat memengaruhi penggunaan teknologi dal am proses
pembelajaran yang diIangsungkan. Motivasi berguna untuk menyerna-
ngatkan siswa yang nienyerah dan putus asa daiarn kemajuaan teknologi
yang terjadi. Tanpa disadari ada juga dan beberapa siswa yang langsung
rnenganggap dirinya tidak bisa mengikuti perkernbangan teknologi dalam
dunia pendidikan dan di sinilah guna rnotivasi. Di dalam rnenghadapi
perkembangan teknologi siswa dituntut untuk Lebih kreatif lagi dalam
tnemanfaatkan teknologi yang berkernbang. Bukan hanya siswa yang di
tuntut untuk lebih kreatif, melainkan guru juga dituntut agar lebih me-
mahami segala yang ada. Sekarang raja internet menjadi suatu hal yang
banyak digurtakan dalain proses pernbelajaran.
Internet telah mernainkan peranan penting dalarn proses pembel-
ajaran. Meskipun demikian, di dunia pendidikan terdapat beberapa tan-
tangan sebagai berikut:
a. Proses pendidikan itu rnemerlukan waktu tenggang (lead time) yang
cukup lama.
I . Setidaknya seseorang dituntut untuk mengikuti pendidikan sejak se-

242 ■
BAB 10 a- Pendia< an di Era Glob@ I isasi

kolah dasar sampai perguruan tinggi.


c. Dalarn pendidikan itu berlaku prinsip "ireversibilitas".
Tantangan yang dihadapi di masa depan cenderung berkembang
semakin kompleks, yang ditandai dengan semakin cepalnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai akibat dari anus globalisasi yang
semakin terbuka. E-education, istilah ini mungkin sudah tidak asing bagi
bangsa Indonesia. E'-education (Electronic Education) ialah istilah
periggunaan TI di bidang pendidikan. Internet membuka sumber informasi
yang tadinya susah diakses. Akses terhadap sumber informasi bukan
menjadi masalah lagi. Perpustakaan rnerupakan salah satu sumber
informasi yang mahal harganya. (Berapa banyak perpustakaan di Indo-
nesia, dan bagaimana kualitasnya?) Adanya internet memungkinkan se-
seorang di Indonesia untuk mengakses perpustakaan di Amerika Serikat
berupa digital library, Sud.ah banyak cerita tentang pertolongan Internet
dalam penelitian, tugas akhir, Tukar-rnenukar informasi atau tanya jawab
dengan pakar dapat dilakukan melalui internet. Tanpa adanya Internet
banyak tugas akhir dan tesis yang mungkin rnernbutuhkan waktu yang
lebih banyak untuk diselesaikan (Oetomo, B.S.D, 20•02).
Lingkungan Akademis Pendidikan Indonesia yang mengenal alias
sudah akrab dengan implikasi TI di bidang pendidikan, Ilal ini juga ten-
tunya sangat membantu bagi calon mahasiswa maupun mahasiswa atau
bahkan alumni yang mernbutuhkan informasi tentang biaya kuliah, ku-
rikulurni dosen pembirn bing, atau banyak yang 1ainnya, Bahkan scat ini
telah berkembang digital library di kawasan kanipus. Inisiatif-inisiatif
penggunaan TI dan internet di luar institusi pendidikan formal tetapi masih
berkaitan dengan lingkungan pendidikan di Indonesia sudah mulal
bermunculan. Salah satu inisiatif yang sekarang sudah ada adalah sinus
penyelenggara "Komunitas Sekolah Indonesia". Situs yang menyeleng-
garakan kegiatan tersebut contohnya plaza.corri. dan SMA-net,com,
Selain untuk melayani institut pendidikan secara khusus, adapula
yang untuk dunia pendidikan secara amain di Indonesia. Ada juga
layanan sites internet yang menyajikan kegiatan sister pendidikan di
Indonesia. Sites ini dimaksudkan untuk merangkum inforrnasi yang
berhubungan dengan perkembangan pendidikan yang terjadi dan untuk
menyajikan surnber umum serta jaringan kornunikasi (forum) bagi
administrator sekolah, para pendidik dan para perninat lainnya. Tujuan
mama dari sinus ini adalah sebagai wadah untuk sang berhubungan yang
dapat menampung sernua sektor utarna. pendidikan. Contoh dari .sites
ini yaitu www. pendidikaitner.

243
DASAR-DASA R. ILIvtil PE N DIDIKAN

Selain penggunaan internet dalam dunia pendidikan, usaha lain untuk


penggunaan ICT dalam. pendidikan antara lain diciptakannya model-
model pembelajaran ataupun media pembelajaran yang berbasiskan
1CT, baik berupa CD pernbelajaran interaktif rnaupun modal-modui ma-
ten pembelajaran yang bisa meroberikan kemudahan pada peserta didik
untuk memahaini mated tersebut. Saat ini juga banyak sekolah-sekolah
an rneinberikan fasilitas e-learningpacla siswanya. Dengan akses inter-net,
siswa dapat mengakses e-learning di mana raja, kapan saja, F-learning
berisi modui-modul pembelajaran, adanya forum diskusi yang me-
rnungkinkan untuk distance learning.
Untuk meningkatkan ktzalitas surnber days manusia, pernerintah
Indonesia telah menggunakan 1CT untuk memperivas kesempatan pen-
didikan, untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan, dan me-
ningkatkarl efisiensi sistem pendidikan, Sarn p a i tahun ini, berbagai upaya
untuk menggunakan ICT dalam pendidikan antara lain
a. E-learning
Mulai dari tahun 2002, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pendidikan (Pustekkom) b ekerj a sama dengan Direktorat Pendidikan
Menengah, dan Direktorat Pendidikan sedang mengembangkan e-
learning program yang disebut 'e-dukasi". Tujuan dari program ini
adalah untuk meningkatkan ktialitas pendidikan di sekolah menengah
dan tingkat sekolah kejuruan melalui penggunaan Internet. Pada tahap
aipval ini, Kahan penibelajaran sedang dikembangkan untuk mata
pelajaran berikut: Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, El ektronika,
dan Teknologi Info rmasi
b. Kursus online
Beberapa perguruan tinggi telah inemberikan kuliah melalui Internet
untuk beberapa kursus. Iii dalam e-learning ada course-course atau
kursus online untuk mata kuliah tertentu. Di Tirana dosen dan
murid tidak tatap muka atau menerapkan distance learning.
c. Tutorial online
Salah sate penggunaan teknulogi inforrnasi untuk pendidikan di
pendidikan tinggi adalah untuk tujuan tutorial lembaga-lembaga
pendidikan jarak jauh.
d, Joint Research
Sebagai media yang inenyediakan untuk kolaborasi melalui peng-
gunaan teknoIogi informasi, penelidan bersama program telah di-
lakukan,
e. Perpustakaan Elektronik
Saar ini, ada jaringan perpustakaan elektronik yang disebut Bahasa

244 ■
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

Indonesia Digital Library Network yang merupakan jaringan per-


pustakaan elektronik dari perpustakaan pusat ITB (Digital Library ).
yang Pascasarjana Studi Perpustakaan ITB, Lernbaga Penelitian ITB,
Universitas Indonesia Timur Pembangunan proyek (dalarn proyek
ODA). Universitas 13rawijaya Malang Central Library, Universitas
Muhammaddiyah Malang dan The Central Bank Data Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (UPI), Jakarta, Indonesia Digital Library
Network ini dimaksudkan untuk mendukung upaya-upaya untuk
meningkatkan kualitas lulusan perg-uruan tinggi, untuk meningkatkan
pertukaran informasi antarlembaga pendidikan tinggi dan lembaga-
lembaga penelitian di Indonesia.
f. Computer Assisted Instruction (CAI)
Ini adalah of program instruksi sehingga tidak tergantung pada
akses ke internet, Pusat Teknologi Informasi dari Komunikasi Pen-
didikan (Pustekkom) telah niengembangkan instruksi dibantu kom-
puter bahan belajar untuk berbagai subject matter clan kursus. lni
adalah bahan pembelajaran interaktif di mans siswa dapat belajar
pada/dirinya sendiri dengan sedikit bantuan dari guru dosen,
Seiring dengan pemanfatan dan perkembangan Ill( yang semakin
meningkat, temyata juga mempunyai kekurangan dan merniliki dampak
negatif, di antaranyx
a. E-learning dapat menyebahkan pengalihfungsian guru yang meng-
akibatkan guru j a di tersingkirkan, menyebabkan terciptanya individu
yang bersifat individual karena sister pembelajara.n dapat dilakukan
dengan hanya seorang diri, dan kernungkinan etika dan disiplin
peserta didik susah atau sulit untuk diawasi dan dibina sehingga
lambat lawn kualitas etika dan manusia khususnya para peserta didik
akan menurun drastis, sena hakikat manusia yang utama yaitu sebagai
rnakhluk social akan musnah,
b. Karena seringnya mengakses internet, dikha.watirkan pelajar bukannya
benar-henar rnemanfaatkan TIK dengan optimal rnalah mengakses hal-
hal yang tidak baik, seperti pornograft yang sangat n-iudah diakses
yang herefek buruk bagi anak di hawah umur ataupun bagi yang sudah
dewasa sekalipun. Hal lain misalnya kecanduan: asik berinternet
(biasanya rnenggunakan fasilitas social networkingtame on line)
sehingga lup a waktu dan herakibat buruk bagi kehidup an nya.
c. Ada istilah Cyber-relational addiction adalah keterlibatan yang bet-
lebihan pada hubungan yang terjalin melalui Internet (seperti melalui
chat room dan virtual affairs) sampai kehilangan kontak dengan
hubungan-hubungan yang ada dalam dunia nyata.

111 245
DASA R-DASA R. ILIvIli PE N DIIDIK AN

d. Information ouerload, karena menemukan informasi yang tidak habis-


habisnya yang tersedia di Internet, sejumlah orang rela meng-
habiskan waktu berjam-jam untuk mengumpulkan dan mengorga-
nisasi berbagai informasi yang ada. Kemudian bisa rnembuat sese-
orang kecanduan, terutama yang nienyangkut pornogtafi dan
dapat menghabiskan uang karena hanva untuk melayani
kecanduan tersebut. Hal-hal tersebut sangat menghambat
berkernbanganya pendidikan. dalarn TIK,
Internet juga bisa merusak pola pikir serta pola perilaku seseorang.
Berikut dampak negatif internet bagi pelajar: Pelajar bisa mengakses situs
tak Iayak seperti situs dengan konten porno yang marak diperangi oleh
orangtua, Memang akliir-akhir ini salah satu kernenterian di Indonesia
sedang giat-giatnya memblokir situs porno, narnun tak ada. jaminan
sernua situs tersebut bisa ditutup, Gila Facebook dan Twitter juga meru-
pakan salah satu hal yang negatif di dunia internet. Kecanduan jenis ini
rnengubah pola sosial seseorang sehingga lebih nyaman bertegur sapa di
situs sosial ketimbang di dunia nyata. Hal negatif lainnya yang bisa me-
rusak pelajar adalah fasilitas game online serta perjudian online. Kedua
hal ini memang sedang tree. Jika masih dalam konteks wajar, mungkin
tak terlalu mengkhawatirkan, Namun beberapa kasus yang diternui,
kecenderungan untuk bermain serta berjudi secara online bukan lagi
sebatas hobi, melainkan sesuatu yang dirasa penting untuk dilakukan.
Game online dan perjudian online agaknya telah rnenjadi candu dan
banyak perakibat pada menurunnya prestasi belajar seseorang.
Agar penggunaan TIK dalam pendidikan lebih optimal dan di jalankan
dengan baik dan benar, berikut ada beberapa metode pernecahan masalah
agar dampak negatif Bari TIK dapat tertanggulangi, di antaranya:
a. Mempertirnbangkan pemakaian TIK dalarn pendidikan,
khususnya untuk anak di bawah untur yang masih harus dalam
pengalArasan ketika sedang melakukan pembelajaran dengan TIK.
Analisis uniting ruginya pemakaian.
b. Tidak menjadikan T1K sebagai media atau sarana satu-satunya dalarn
peinbelajaran, misalnva kits tidak hanva men-download e-book, tetapi
masih tetap membeli buku-buku cetak, tidak hanya berkunjung ke
digirllibrary, narnun juga masih berkunjung ke perpustakaan,
c. Pihak-pihak pengajar baik orangtua maupun guru, memberikan
pengajaran-pengajaran etika dalam ber-T1K agar TiK dapat
dipergunakan secara optimal tanpa nienghilangkan etika.
d. Pemerintah sebagai pengendali sistem-sistem informasi seharusnya

245 ■
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

lebih peka dan rnenyaring apa-apa raja yang dapat diakses oleh para
pelajar clan seiuruh rakyat Indonesia di dunia maya_
Tulip solusinya adalah kita jangan sampai mengatakan ticlak pada
teknologi {say no to technology), karena jika kita herbuat demikian
maka kita akan ketinggalan banyak inforrnasi yang sekarang ini
informasi-informasi tersebut paling banyak ada di internet. Kita harus
mempertimbangkan kebutulian kita terhadap teknologi,
mempertimbangkan baikburuknya teknologi tersebut, dan tetap
rnenggunakan etika, juga tidak tupa jangan terlalu beriehihan agar kita
tidak kecanduan dengan teknolo gi.

C. MASYARAKAT IAA DEPAN


Perubahan masyarakat dan kebudayaan dari hari ke hari semakin
cepat yang rneliputi seiuruh aspek kehidupan manusia. Semakin eepat -
nya perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan ilmu pengeta-
huan dan teknologi, terutama teknologi, koinunikasi, dan informasi. Per-
ubahan yang semakin cepat ini rnerupakan ciri masyarakat masa depan
yang dapat dilihat dari beberapa karakteristik unturn, yaitu: (1) adanya
kecenderungan globalisasi; (2) perkembangan Iptek yang semakin cepat;
(3) perkembangan arcs inforrnasi yang semakin padat dan cepat; dan
(4) tuntutan pelayanan yang lebih profesional dalarri sega.la kehidupan
manusia. Gejala ini sudah terlihat sejak beberapa tahun belakangan ini dan
akan selalu meningkat di masa yang akan datang.
Pemahama.n kita terhadap karakteristik masyarakat masa depan ini
sangat penting arrinya sebagai dasar dalam penentuan kebijaksanaan dan
upaya pendidikan yang akan dilaksanakan_

1. Kecenderungan Grobalisasi
Pengertian giobalisasi mengandung cakupan yang sangat lugs. Gin-
balisasi mempunyai makna hahwa burni sebagai satu kesatuan yang utuh
yang seakan-akan ranpa tapal batas administrasi negara. Dunia semakin
menjadi transparan, sena Baling ketergantungan antarbangsa di dunia ini
semakin tinggi.
Pengertian globalisasi bagi ilmuwan social diartikan sebagai proses
penyebaran rasa cipta dan karya suatu kebudayaan, sehingga diterima dan
diadopsi deb kebudayaan lain di seluruh dunia sebagairnana yang
dikemukakan oleh Selo Surnardjan (193) seperti yang clikutip Yusufhadi
Miarso (1997). Dalam proses globalisasi Au, maka budaya yang kuat dan
agresif akan memengarubi budaya yang lernah dan pasif. Budaya yang

247
DASA R-DASA R. ILMU PENDIDIKAN

kuat dan agresif adalah budaya yang bersi[at progresif yang mempunyai ciri-
ciri sebagaimaria yang dikemukakan oleh Selo Sumardjan (1993) se-
bagai berikut:
a. Mempunyai eara berpikir yang rasional dan realists.
b. Mempunyai kebiasaan rn ernbaca yang tinggi.
c. Mempunyai kemampuan rnenyerap dan mengembangkan ilmu
pengetahuan dengan cepat dan banyak.
d_ Terbuka terhadap inovasi, bahkan selalu berusaha mencari hal-hal
ban,
e. Mempunyai pandangan hidup yang berdimensi lokal, nasional, dan
universal♦
f. Mampu memprediksikan dan rnerencanakan masa depan.
g. Memanfaatkan teknologi yang senantiasa berkembang.
Globalisasi mernerigaruhi berbagai segi kehidupan manusia. Emil
Salim (1990) rnengerattkakan bahwa terdapat einpat bidang yang
paling kuat dan menonjol days dobraknya, yaitu bidang Iptek, ekonomi,
lingkungan hidup, dan pendidikan. Keempat kecenderungan globalisasi
tersebut akan dibahas berikut ini:

a. Bidang Iptek
Globalisasi Iptek mengalarni perkembangan yang sangat cepat,
terutarna dengan pemanfaatan berbagai teknologi canggih dalam ke-
bidupan manusia. Berbagai inforrnasi global yang perinci dan teliti dapat
diperoleh melalui pengindraan jarak jauh tanpa mengenal batas negara.
Globalisasi Iptek memberi orientasi baru dalam bersikap dan berpikir
tanpa batas negara.

Biclang Ekonorni
Globalisasi ekonomi rnemengaruhi perkemhangan ekonomi yang tidak
rnengenal lagi bebas-bebas negara. Akibatnya, berkembang berbagai
kelompok ekonomi regional seperti Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE),
Area Perdagangan Rebas Arnerika Stara (NAFTA), dan Area Perdagangan
Bebas Asean (AFTA). Globalisasi ekonomi telah menyebabkan bates-ba-
tas negara banya tapal batas dan politik, sedangkan dari segi ekonomi
semakin kabur. Krisis ekonomi pada suatu negara memberi dampak pada
negara-negara lain, seperti halnya yang terjadi beberapa tahun yang lalu
terjadi krisis ekonomi pada beberapa negara Asia sangat berpengaruh pada
hampir seluruh negara Asia.

248 ■
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

c. BidarigLingkungan Hidup
Lingkungan hidup menjadi Kahan. perbincangan dalam berbagai
pertemuan internasional, seperti yang mencapai puncakn.ya pada Kon
ferensi Tingkat Tinggi (KTT) burni atau dengan nama resmi Konferensi
Pl3B mengenai lingkungan hidup dan pembangunan (UNCED) pada tahun
1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Kerusakan lingkungan hidup di suatu
tempat akin berdampak negatif kepada berbagai negara bahkan dapat
mengancarn keselamatan planet bumf. Oleh sehab itu diperlukan wawasan
dan kehijakan yang tepat dalam pembangunan yang menjarnin kelestarian
dan keselamatan lingkungan atau pembangunan yang herwawasan
lingkungart.

d. Bidang Pendidikan
Bitlang pendidibin khususnya dalarn hal budaya nasional dan hudaya
Niusantara mengalami perubahan dan perkembangan yang semakin
menggiobal akibat dari pengaruh buku, radio, televisi, dan media Iainnya.
Suatu acara di televisi yang hedangsung terlihat ()Leh sernua pemirsa dzpat
memengaruhi sikap dan perilaku °rang yang menonton.nya. Kecenderungan
globalisasi juga tampak di bidang-bidang lainnya, seperti: politik, hukum,
hak asasi manusia, dan demokratisasi- Kecenderungan globalisasi merupakan
suatu gejala yang lid ak dapat dihindari.

2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


(Iptek)
Salah satu ciri masyarakat masa depan adalah perkembangan Iptek
yang sernakin cepat. Perkernbangan Iptek ini dapat berdampak positif
tnaupun negatif kepada suatu bangsa, tergantung pada kesiapan dan
kundisi snsial budayanya dalam menerima informasiiteknologi tersebut.
Dampak positifnya adalah dapat memudahkan dalam memenuhi kebutuhan
pembangunan. Segi negatif terjadi lika kondisi social budaya belurn siap
rnenetima pengaruh iptek tersebut. Untuk rnengatasi hal tersebut, dalam
masyarakat masa depan pedu diupayakan agar setiap anggota masyarakat
melek Iptek yakni .memiliki wawasan yang tepat serta dapat
mernanfaatkannya, tanpa harus menjadi pakar Iptek Ira. Di samping itu,
juga diperlukan pakar Iptek yang menguasai bidangnya secara mendalam
serta memiliki wawasan yang lugs narnun tetap berpijak pada nilai-nilai
moral dan budaya bangsa Indonesia.

 249
DASAR-DASA R. IL1U PENDIDIKAN

3. Perkembangan Arun Komunikasi dan


Inforrnasi yang Semakin Cepat
Abad ke-2.1 ini disebut juga dengan era Reformasi. Sebenarnya sejak
zaman dahulu masyarakat memerlukan informasi yang digunakan untuk
rneneruskan nilai-nilai budaya, untuk rnenyelenggarakan pemerintahan, rn
elan gsungkan panda n gan, dan untuk berbagai kep e rluan pengendalian
proses sosial ekonomi lainnya. Sernakin maju suatu masyarakat, semakin
banyak informasi yang diperlukan dalam waktu yang semakin pendek serta
dalam jangkauan yang semakin luas. Perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi scat ini dan masa depan, seakan-akan telah rnengatasi
dirnensi ruang dan waktu. Penggunaan satetit kornunikasi clan komputer
telah membuka peluang adanya surat elektronik, surat kabar elektronik,
sistem cetak jarak jauh, siaran langsung dari berbagai tempat dan pcnjuru
dunia tentang berbagai perisitiwa penting yang sedan terjadi atau
wawancara jarak jauh melalui televisi. Hal ini penting rnengubah konsep
bare tentang berita, yakni bukan apa yang telah terjadi, tetapi apa yang
sedang terjadi. Yusufhadi isdiarso (1997) mengernukakan, hahwa
perkembangan dalam era Reformasi ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
a. Meningkatkan Jaya moat dalam mengompulkan informasi, menyimpan,
dari n-tenyajikan.
b. Meningkatkan kecepatan penvajian informasi,
c. Melimpahnya miniaturisasi perangkat kelas.
d. Keragaman pilihan informasi.
e. Biaya perolehan informasi dad jarak jauh semakin menurun,
f. Kemudahan penggunaan produk informasi.
g. Distrihusi informasi sernakin luas.
h. Meningkatnya kegunaan informasi.

4. Tuntutan Layanan Profesional


Masyarakat masa depan ditandai old) kebutuhan akan la.yanan pro-
fesional dalam berbagai bidang kehidupan. Layanan profesionai ini dibe r-
ikan oleh pemegang profesi tertentu. Profesi pada dasarnya adalah suatu
lapangan pekerjaan dengan persyaratan tertentu, yaitu suatu bidang pekerjaan
khusus yang ditandai dengan keahlian dan tanggung jawab, Profesi
memerlukan teknik dan prosedur kerja yang harus dipelajari dalam waktu
tertentu. Suatu profesi merripunyai ciri sebagai berikut:
a. hebih mengutamakan pelayanan kemanusiaan yang ideal yang dilakukan
oleh pemangku profesi.
b. Terdapat sekurnpulan bidang ill -nu yang menjadi landasan dari se-

250 ■
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

jumlah teknik dan prosedur yang unik, serta diperlukan waktu yang
relatif panjang untuk menweIajarinya,
c. Terdapat suatu mekanisme saringan berdasarkan kualifikasi tertentu,
sehingga hanya yang kompeten yang diperbolehkan melaksanakan
layarian profesi itu.
d. Terdapat kode etik profesi yang mengatur keanggotaan serta tingkah
laku, sikap, dan c ra kerja anggotanya.
e. Terdapatnya inforinasi profesi yang berfungsi meniagaimeningkatkan
layanan profesi dan melindungi anggotanva.
f. Pemangku profesi .mernandang profesinya sebagai suatu karier hidup
dan rnenjadi anggota yang relatif perrnanen, serta mernpunyai
kemandirian dalam melaksanakan profesinya dan untuk mengem-
bangkan kemampuan profesionalnya.
Berdasarkan ciri suatu profesi seperti di atas, dapat diketahui status
profesional memeriukan persyaratan yang cukup berat, sehingga tidak semua
jenis pekerjaan dapat memperoleh status profesionalnya tersebut. Namun
demikian, sesuai dengan tuntutan dari masyarakat rnasa depan yang
membutuhkan pelayanan yang profesional, maka setiap bidang pekeriaan
harus meningkatkan pelayanannya supaya menjadi pelayanan yang
profesional. Untuk itu diperlukan peningkatan kualitas tenaga profesional
tersebut secara terencan.a dan sistematis, baik melalui pendidikan prajahatan
maupun dengan pendidikan dalam jaharan.

D. UPAYA PENDIDIKAN DALAM MENGHADAPI


GLOBAL1SAS I
Untuk menghadapi tantangan masa depan yang bercirikan globa-
lisasi, Iptek dan arus informasi yang cepa], dan layanan profesionalnya
diperlukan pembaruan pendidikan yang dilakukan secara sistemik dan
sistematik, yaitu pendidikan yang dirancang secara teratur melalui pe-
rencanaan yang bertahap dan menyeluruh =Jai dari lapis sistem pen-
didikan nasional, tiap Iernbaga pendidikan sarnpai pada lapis individual.
Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya merupakan kunci keber-
hasilan bangsa dan negara Indonesia dalam menghadapi masa depan.
Oleh sebab itu, periu dikaji: (1) tuntutan bagi manusia masa depan; dan
(2) upaya mengantisipasi masa depan.

1. Tuntutan bagi Manusia Masa Depan


Seperti sudah diuraikan sebeitnnya, bahwa masyarakat rnasa depan
harus punya kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan, maka ma-

251
DASAR-DA SAR ILMU FENDIDIKAN

nusia Indonesia dituntut agar:


a, Tanggap terhadap berbagai permasalahan social, politik, kultural,
dan lingkungan.
b. Kreatif dalam menemukan altemadf pemecahan masalah.
c. Memiliki etos kerja yang tinggi dan efisien.
Oleh sebab itu, pendidikan menurut Makaminan Makagiansar
(1990) perlu mengernbangkan empat hal pokok dari peserta didik, yaitu:
a, Kernampuan mengantisipasi perkembangan. berdasarkan &nu pe-
ngetahuan.
b. Kemampuan dan sikap untuk mengerti dan rnampu mengatasi situ-
asi.
C. Kemampuan mengakomodasikan perkembangan Iptek serta per-
ubahan yang diakibatkannya..
d. Kemampuan menyeleksi informasi yang diperoleh.

2. Upaya Mengantisipasi Masa Depan


Berdasarkan perkiraan tentang masyarakat masa depan dan prufil
manusia yang akan berhasil di da]am masyarakat masa depan, maka akan
dikemukakan upaya pendidikan yang perlu dilakukan untuk memnijud-
kan masyarakat masa depan tersebut. Upaya tersebut berkaitan dengan:
(a) perribenitukaniperubahan nilai clan sikap; (b) pengernbangan kebu-
dayaan; dan (c) pengembangan sarana pendidikan.
a. Pernbentukanfperubahan nilai atau sikap..
Untuk rnengantisipasi masa depan yang bersifat global dan arcs in-
formasi yang cepat, maka tugas pendidikan yang utama adalah pem-
bentukanipenanaman nilai dan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai
luhur yang mendasari kepribadian bangsa Indonesia, Nilai luhur
yang mencertninkan kepribadian bangsa Indonesia ini perlu selalu
dilestarikan agar terhindar dari krisis ide.ntitas, Meskipun demikian,
nilai-nilai yang ada dapat cliterima untuk memperkaya kepribadian
bangsa Indonesia. Pembentukan nilai dan sikap dalam diri seseorang
dapat dilakukan melalui berbagai eara, seperti pembiasaan, ketela-
danan, dan sebagainya, Pembentukan nilai dan sikap harus dilaku-
kan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat se cars
bersarna dan bertanggung jawah.
b. Pengembangan budaya
Budaya bangsa Indonesia tidak hanya berasal dari budaya berb-
agai daerah Nusantara, tetapi juga dipengaruhi oleh budaya luar
clari berbagai negara di dunia akibat pergaulan bangsa Indonesia

252 ■
BAB 10} Pendia< an di Era Glob@ I isasi

yang terbuka dengan semua bangsa di dunia. Baling pengaruh da-


lam pengembangan kebudayaan di dunia ini merupakan hal yang
lumrah, namun pengembangan budaya tersebut harus dapat me-
lestarikan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagai inti ketahanan
budaya yang Inenjadi acuan pokok dalani rnemilih clan memilah se-
gala pengaruh yang datang dari luar agar tidak terfadi krisis
identitas bangsa Indonesia.
c. Pengembangan sarana pendidikan
Pengembangan sarana pendidikan merupakan salah satu prasyarat
utama untuk memperoleh kesempatan dan menghadapi tantangan
masa depan. Sektor pendidikan telah mempunyai kerangka dasar
seperangkat penmdang-undangan, yaitu UURI No, 20 Tahun 2003
beserta peraturan pelaksanaannya. Dengan adanya per undang-
undangari ini, rnaka pendidikan mempunyai acuan yang jelas dalain
penyesuaian dengan keadaan yang selalu berubah, terutama
perkembangan masyarakat di masa yang akan datang. Pengembang-
an sarana pendidikan dalam rangka mengatasi berbagai perrnasalah-
an pendidikan telab dilakukan sejak 25 tahun yang lalu, kIiususnya
dalam mengatasi masalah pemerataan pendidikan dan akan terus
dikembangkan dan diIanjutkan. Untuk menghadapi era globalisasi
ini beberapa upaya yang masih perlu dilakukan yaitu:
1) Pemantapan kurikulum {kurikulum inti dan lokal).
2) Pemantapan strategi pernbelajaran,
3) Peningkatan kualitas tenaga kependidikan.
4) Peningkatan cumber days pendidikan lainnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan ini, dtharapkan pendidikan akan
dapat menghasilkan manusia yang mampu menghadapi berbagai tantangan di
masa depan.

Rangkuman

Di era globaisasi ini, kehidupan manusia sangat cepat sekali perubahannya. Du


n ia ini terasa semakin keci I, sehingga suatu oeristiwa yang terjad I di suatu tern-pat
atau negara tertentu akan cepat sekali sarnpai kepad a seluruh masvarakat di muka
burnt ini, Teknologi informasi dan komunikasi yang begitu cepat berkembang
terutama internet menjadikan semakin cepatnya proses informasi dan komunikasi.
Pendidikan harus dapat mernanfaatkan kernajuan teknoiogi informasi dan komunikasi
khu5u5nya internet urituk rneningkatk.an kualitas pendidikan, Pendidikan ha r u s
dapat rnengambi I darnpak posistifnya dan me nca r i soiusi untuk

1111 253
DASA R-DASA R. PE N DIIDIK AN

mengatasi dampak negatif terhadap perkembangan peserta didik. Masyarakat


masa depan akan semakin cepat berubah dengan kemajuan teknologi
ini, Masyarakat masa depan mempunyai ciri antara lain: (1) kecenderungan
globalisasi; (2) Iptek yang semakin maju; (3) arus informasi yang cepat dan pa -
dat, serta (4) pelayanan yang semakin profesional dalarn berbagai kehidupan
manusia, Lintuk dapat menghadapi kondisi yang seperti itu pendidikan harus
mengambil langkah yang tepat agar dapat menghasi]kan manusia yang dapat
menyesuaikan diri dan rnengembangkan masyarakat masa depan tersebut.
Up-
aya antisipasi pendidikan untuk menghadapi masa depan dilakukan antara lain
derigan cara: (1) pembentukan/perubahan nilai dan sikap: (Z pengernbangan ke-
budayaan; dan (3) pengembangan sarana pendidikan.

Tugas
Jawablah pertanyaan di bawah ini, kemudian Anda diskusikan dengan ternan-
teman Anda dan but rangkumannya!
1. Jelaskanlah apa yang dim aksud dengan globalisasi. Apa pengaruh globallsa-
si terhadap pendidikan?
2. Saat ini kehidupan manusia sangat terpengaruh oleh perkernbangan TIK
khususnya Internet. Kernukakanlah kenapa internet tidak bisa dilepaskan
dengan pendidikan saat inf. Jelaskan pula apa dampak positif dan negatif
dari internet terhadap kegiatan perserta didik!
3. Coba Anda kemukakan masihg-masihg empat cordon konkret dalam ke-
hidupan masyarakat sekarang dari ciri-ciri masyarakat masa depan terse-
butt Dad masihg-rnasing contoh tersebut jelaskan dampak positif dan
negatifnya!
4. Langkah-langkan nyata apakah yang perlu dilakukan dalam pendidikan untuk
menghadapi masyarakat rasa depan? Jelaskan alasan Anda mengemu kakan
hal-hal tersebut!
5. Menurut pendapat Anda, apakah jabatan guru sekarang ini sudah dapat
dikatakan sebagai jabatan profesional? Jelaskanlah! Apa yang harus dila-
kukan agar guru lehlh profesional di masa yang akan datang?

Daftar Pustaka
Soejono. 1989. Aiiran Baru data Pendidikan. Bandung: CV Jini. Delia"
Noel- &lar Alisyahha.na (Ed.). OW Perubahan, Pembaharuan, dan
Kesadaran Menghadapi Abad Ike- 1. Jakarta: Dian Rakyat,

254 ■
BAB 10} Pend idiic an di E ra G loba I isasi

Den! Darmawan, Leli Halimah, dan Sofyan lskandar. 2006. Dasar-dasar


Teknologi informasi dari Komunikasi, Bandung: UPI Press. Depdiknas.
2005. PP No 19 Tatum 2005 tentang Standar Nasiona! Pendi-
dikan, Jakarta: Depdiknas.
Maar. 2007. Mengembangkan Emu Pendidikan Berdimensi Global.
Jakarta: Lembaga Manajemen UNJ.
Hatnzah, dan Nina Larnatenggo. 2011. Teknologi Kornunikasi dap lnformasi
Pernbelajaran, Jakarta: Burni Aksara,
Made Pidaria. 2007, Landasan Kependidikan Stimulus limu Periclidikan
Bercorak Indonesia Jakarta: Rineka Cipta.
Prayitno. 2005. Sosok Keihnuart lima Pendidikan, Padang; UNP.
Redja Mudyahardjo. 2006. Filsafat Itrnu Pendidikan, Bandung: PT Remaja
Rosdakatya,
Busman, Deni Ku rniawan, dan Cepi Riyana. 2011, Pembeiajaran Berbasis
Teknologi informasi dan Kornunikasi. Mengernbangkan Profesionalitas
Guru. Jakarta-. Rajawali Pers.
Shanon, A.G. 1973. Arti Pendiclikan bag Masa Depan Tedernahan Mhd.
Ansyar, Jakarta: Pustekom Depdikbud.
Suardi, 2012, Penga ntar Pendidikan Mori dan Aplikasi, Jakarta: PT 1ndeks.
Suttisno, 2012. Kreattf Mengembangkan Aktivitas Pernbelajaran Berbasis
TIK Jakarta: PrenadWedia Group.
Syafril & Zelhendri Zen. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina,
T. Naisbit & P. Aburdane, 1990, Mega Trends 2000, Jakarta Binarupa
Aksara.
Undang-Undang RI Nornor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Perididik.an
Nasional, Jakarta: Baiai Pustaka Cipta Karp,
Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:
Depdiknas.
Yusuthadi Miarso. 2005, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta;
PrenadaMedia Group.

255
Para Penulis

Drs.. Syatfril, M.Pd., lahir di Air Angat, Tanah


Datar, tanggal 14 April 1960, anak kelima dari enam
hersaudara, Lulusan Sarjana Pendidikan HP Hap
Padang (sekarang UNP) pada 1983 dalarn bidang
Teknologi Pendidikan dan. Magister Pendidikan dari
PaSeasarjana IMP Jakarta (Sekarang UNJ) tahun
1990 juga di bidang Teknologi Pendidikan.
Menjadi doyen jurusan Kurikulum dan Tekno-
logi Pendidikan FIP UNP sejak 1984 hinxa seka-
rang. Matakuliah yang diampu di antaranya
Pengantar Teknologi Pendidikan, Evaluasi Pernbelajaran, Statistika,
Seminar Teknologi Pendidikan, Penclitian Tindakan Kclas, Belajar dan
Pembelajaran, Pengantar Pendidikan, dan Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.
Buku yang telah dipublikasikan yaitu: Swastika (2010), Penerbit Sukabina
Press: dan Pengantar Pendidikan (2012), Diterbitkan oleh Sukabina
Press.
Dipercaya sebagai Sekretaris Jurusan Kurikuturn dan TeknoliDgi
Pendidikan FIP UNP tahun. 1993-19%, dan sebagai Ketua Jurusan pada
tahun 1991]-1999. Diangkat menjadi Kepala Pusat Surnber Belajar liNP
tahun 2001-2006, clan menjadi Pernbantu Dekan Bidang Akademik (PD I)
FIP UNP pada tahun 2005-2007.
Aktil dalam organisasi prufesi, yaitu Jkatan Pengernbang Teknologi
Pendidikan Indonesia (IPTPI) sebagai Sekretaris IPTPI cabang Sumatra
Barat tahun 1992-2000, dan sebagai Wakil Ketu a tah un 2000-2008. Pernah
menjadi Asisten Konsultan Pendidikan pada Freya Peningkatan Mutu
Pendidikan SNIP Provinsi Sumatra Barat tahun 2002-2003, Konsultan
Pendidikan Kota Pariaman tahun 2005, dan Konsultan Pendidikan pada
Prowl( Better Education through Reformed Management and Universal
Teacher Upgrading (BERT UTU) untuk Kota Payakurnbuh dan Kabupaten
Dharmasraya tahun 2010-2012. Menjadi Asesor Badan Akreditasi Sekolah
Mad rasah Provinsi Sumatra Barat tahun 2014 hingga sekarang.
DASA R-DASA R. PE N DIIDIK AN

Drs. Zelhendri Zen, M.Pd., lahir di Sarik Laweh


Kabupaten Limapuluh Kota tan.ggal 16 Tub 1959,
anak pertama dari enam bersaudara. Lulusan SPG
Negeri Payakumbuh pada 1981 dan Sarjana Pendi-
dikan FIP 'KIP Padang (sekarang UNP) pada 1985
dalam bidang Teknologi Pendidikan, Magister Pen-
didikan dari Pascasarlana Ii NP Padang pada
tahun 2005 dalam bidang Administrasi Pendidikan,
Menjadi dosen jurusan Kurikulum dan Tek-
nologi Pendidikan F1P UNP sejak 1986 hingga se-
karang. Mata kuliah yang dian-tpu di antaranya
Metode Penulisan Karya Ilmiah, Penelitian Pendidikan, Kewirausahaan,
Micro Teaching Inovasi Pendidikan, Dasar-dasar IL-nu Pendidikan,
Filsafat Pendidikan. Buku yang telah dipublikasikan yaitu Pengantar
Pendidikan (2012), diterbitkan o]eh Sukabina Press,
Dipercaya sebagai Sekretaris Jurusan Kurikulurn dan 'I eknologi Pen-
Mikan FIP UNP tahun 1990-1993, Sekretaris UPP PGSD FIP UNP tahun
1993-1995, Sekretaris Pusat Sumber Belajar UNP tahun 1998-2001,
Sekretaris lurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP tiNP tahun
2003-2006. Diangkat menjadi Ketua Jurusan Kurikulum dari Teknologi
Pendidikan FIP UNP pada tahun 2011-2015, dan menjadi Wakil Dekan III
Bidang Kern ahasiswaan dan Alumni FIP UNP dad tahun 2016-sekarang.
Dalam bidang organisasi profesi, yaitu Ikatan Pengembang Tekno-
Logi Pendidikan Indonesia (IPTPI) sebagai Wald] Sekretaris IPTPI
cabang Sumatra Barat tahun 2000-2008. Diangkat sebagai Wald!.
Sekretaris Asosiasi Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia tahun 2016
hingga sekarang. Menjadi Asesor Sertifikasi Guru Rayon Sumatra
Barat dari tahun 2007-sekarang.

258