Anda di halaman 1dari 124

BAB I

LATAR BELAKANG

1.1. Gambaran Umum Kecamatan Secara Geografis

1.1.1. Situasi Keadaan Umum

o o
Kecamatan Koroncong secara geografis terletak antara 6 15’ - 6 19’
o o
Lintang Selatan dan 106 07’ - 106 10’ Bujur Timur dengan luas wilayah
2
17,86 km atau sebesar 0,65% dari luas Kabupaten Pandeglang. Kecamatan
Koroncong berjarak 13 km dari Ibukota Kabupaten Pandeglang dan berjarak
23 km dari Ibukota Provinsi Banten.

Gambar 1.1. Wilayah Kecamatan Koroncong (Sumber: Google maps)

Gambar 1.2. Wilayah Desa Pasirkarag (Sumber : Google maps)

1.1.2 Batas Wilayah


Sebelah Utara : Kecamatan Cadasari
Sebelah Barat : Kecamatan Karangtanjung
Sebelah Timur : Kabupaten Serang
Sebelah Selatan : Kabupaten Lebak

1
1.2. Gambaran Umum Secara Demografi
1.2.1 Situasi Kependudukan
Menurut Profil Kecamatan Koroncong, Jumlah penduduk wilayah Kecamatan
Koroncong 18.441 jiwa, yang terdiri dari :
Laki – Laki : 9.523 Jiwa
Perempuan : 8.918 Jiwa
Jumlah Kepala Rumah Tangga : 3.752

Pusat Pemerintahan Kecamatan terletak di Koroncong, sekitar 13 KM dari Pusat


Pemerintahan Kabupaten Pandeglang. Kecamatan Koroncong memiliki iklim tropis dan sub curah
hujan 4100 mm/tahun dan rata-rata suhu 16-180C. Bentuk Kecamatan Koroncong umumnya
merupakan daerah dataran dengan ketinggian 250 M di atas permukaan laut. Kecamatan Koroncong
terdiri dari 12 (Dua Belas) Desa, yaitu :
1. Desa Tegalongok 7. Desa Gerendong
2. Desa Bangkonol 8. Desa Awilega
3. Desa Pasirjaksa 9. Desa Sukajaya
4. Desa Pasirkarag 10. Desa Pakuluran
5. Desa Paniis 11. Desa Karangsetra
6. Desa Koroncong 12. Desa Setrajaya

1.2.2. Visi dan Misi Kecamatan Koroncong



Visi

Penetapan Visi sebagai bagian dari perencanaan strategi, merupakan satu langkah
penting dalam perjalanan suatu organisasi karena dengan visi tersebut akan dapat
mencerminkan apa yang hendak dicapai oleh organisasi serta memberikan arah dan
focus strategis yang berorientasi terhadap masa depan pembangunan dan bahkan
menjamin kesinambungan pelaksanaan tugas organisasi. Visi Kecamatan Koroncong
dirumuskan dengan melihat, menilai dan memberi predikat Kecamatan Koroncong
yang akan datang, yaitu kondisi ideal Kantor Camat Koroncong yang diinginkan pada
masa yang akan datang.
Visi Kecamatan Koroncong Tahun 2016-2021 adalah :
“Terwujudnya Kecamatan Koroncong Yang Berkualitas Menuju Peningkatan
Pelayanan Publik”

2
Diharapkan dengan terumuskannya visi Kecamatan Koroncong, dapat menjadi
pedoman bagi seluruh unit kerja internal Kecamatan Koroncong dalam merumuskan
program dan kegiatan prioritas yang akan dilaksanakan selama 5 (lima) tahun ke
depan. Kecamatan Koroncong yang berkualitas, yang mengandung arti bahwa segala
sumber daya yang ada di Kecamatan Koroncong diupayakan mengalami peningkatan
kualitas di segala bidang sehingga dapat disetarakan dengan Kecamatan yang ada di
Kabupaten Pandeglang lainnya. Atas dasar pertimbangan tersebut, selanjutnya disusun
misi sebagai pedoman bagi pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja internal di
Kecamatan Koroncong. Sedangkan Peningkatan Pelayanan Publik, mengandung arti
bahwa tujuan utama penyelenggaraan pemerintahan , dan pembangunan di Kecamatan
Koroncong adalah untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Misi

Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan


dan diwujudkan agar tujuan dapat terlaksana dan berhasil dengan baik sesuai dengan
visi yang telah ditetapkan. Berdasarkan Tugas Pokok dan Fungsi serta dilandasi oleh
visi, maka misi Kecamatan Koroncong Tahun 2016-2021 adalah sebagai berikut :
1. Mewujudkan Sumberdaya manusia Kecamatan Koroncong yang berkualitas
2. Mewujudkan pemerintahan Kecamatan Koroncong yang efektif, dan efisien
meningkatkan kualitas pelayanan publik, serta menjunjung tinggi supremasi hukum

Tujuan
1. Meningkatkan Pembinaan Keagamaan dan Pemasyarakatan Olah Raga kepada
masyarakat dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai;
2. Meningkatkan ketersediaan data dan informasi yang berkualitas sebagai dasar
pelaksanaan Tata Kelola Pemerintahan pembangunan kecamatan Sasaran
3. Meningkatnya Pembinaan Keagamaan dan Kerukunan Hidup Umat Beragama.
4. Meningkatnya Pembinaan dan Prestasi Olahraga
5. Meningkatnya Pelayanan Publik Pada Masyarakat
6. Meningkatnya Penegakan Hukum Yang Berkeadilan di Masyarakat Tanpa
Memandang Status, Suku, Ras dan Agama.
7. Meningkatnya Ekstensifikasi dan Intensifikasi Sumber dan Kapasitas Pendapatan
Asli Daerah di Kecamatan.

3
1.2.3. Rencana Strategis
Strategi adalah cara untuk mewujudkan tujuan, dirancang secara konseptual,
analisis, realistis, rasional dan komprehensif. Untuk mencapai tujuan dan sasaran
di dalam rencana strategis (Renstra) diperlukan strategi. Strategi adalah langkah-
langkah berisikan program- program indikatif untuk mewujudkanm visi dan misi.
Kecamatan Koroncong dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut menetapkan
strategi sebagai berikut:
1. Meningkatkan Kegiatan Pembinaan Keagamaan
2. Peningkatan Kualitas, Kuantitas Pembinaan dan Prestasi Olah Raga.
3. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
4. Meningkatnya Kesadaran, Kepatuhan dan Supermasi Hukum.
5. Meningkatnya Pendapatan Asli Daerah di Kecamatan.

Secara garis besar, strategi yang ditetapkan mempunyai ruang lingkup:


1. Internal
Melakukan konsultasi dengan Pimpinan Pemerintah Kabupaten Pandeglang,
Pimpinan SKPD, pemantapan hubungan kerja dan koordinasi, pembinaan dan motivasi
kepada Staf secara hierarkhis vertikal dan atau pelatihan di kantor sendiri (in house
trainning) serta penyusunan piranti lunak (mekanisme, prosedur kerja tetap/SOP).
2. Eksternal
Mengikuti rapat koordinasi dan/atau konsultasi dengan Pemerintah Kabupaten
Pandeglang, menjalin koordinasi antar SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten
Pandeglang.
Rumusan strategi merupakan pernyataan yang menjelaskan bagaimana sasaran
akan dicapai, yang selanjutnya diperjelas dengan serangkaian kebijakan. Kebijakan
diambil sebagai arah dalam menentukan bentuk konfigurasi program kegiatan untuk
mencapai tujuan. Kebijakan dapat bersifat internal yaitu kebijakan dalam mengelola
pelaksanaan program-program pembangunan maupun bersifat eksternal yaitu kebijakan
dalam rangka mengatur, mendorong dan memfasilitasi kegiatan masyarakat. Adapun
kebijakan yang diambil kecamatan Koroncong Kabupaten Pandeglang sebagai berikut :

a. Fasilitasi Kegiatan Pembinaan Keagamaan


b. Meningkatkan Prestasi Olah Raga

4
c. Peningkatan Manajemen Pelayanan Publik
d. Penegakan Hukum di Masyarakat Tanpa Memandang Status, Suku, Ras dan
Agama.
e. Peningkatan Kapasitas Pendapatan Asli Daerah di Kecamatan

1.2.4. Program
Rencana Program dan Kegiatan adalah cara untuk melaksanakan tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan serta upaya yang dilakukan untuk mengetahui
capaian keberhasilan sasaran dan tujuan. Sedangkan Program dimaksudkan
sebagai kumpulan kegiatan yang sistematis dan terpadu untuk mendapatkan hasil
yang dilaksanakan Kecamatan Koroncong mencapai sasaran tertentu. Dengan
adanya program dan kegiatan diharapkan pula dapat menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi. Program dan Kegiatan Kecamatan
Koroncong Kabupaten Pandeglang yang direncanakan untuk Periode Tahun 2016-
2021 meliputi:
1. Program Layanan Dasar Perangkat Daerah
2. Program Penyelenggaraan Pemerintahan Umum
3. Program Pemeliharaan Kantibmas dan Pencegahan Tindak Kriminal
4. Program Peningkatan Kerukunan dan Kehidupan Beragama
5. Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga
6. Program Optimalisasi Peningkatan Pendapatan Daerah

1.3 Profil Puskesmas Bangkonol


1.3.1 Geografi
Wilayah kerja UPT. Puskesmas Bangkonol merupakan perbatasan dari
Kabupaten Pandeglang sebelah Timur, dimana wilayah kerjanya berbatasan dengan
Kabupaten Lebak dan Kabupaten serang. Luas wilayah kecamatan Koroncong adalah
2
17,23 Km . Letak Gedung UPT. Puskesmas bangkonol tepatnya berada di Kampung
Sabi Masjid Desa Bangkonol kecamatan Koroncong Kabuaten Pandeglang atau di
Jalan Raya Pandeglang-Rangkasbitung KM 4 Pandeglang.
Adapun batas wilayah kerja UPT Puskesmas Bangkonol terdiri dari:
Sebelah Barat berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Cikole
Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Baros Kabupaten Lebak.

5
Sebelah Utara berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Cadasari
Sebelah selatan berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Pandeglang

Jarak tempuh dari ibu Kota Kabupaten atau Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang ±
3 Km, dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dengan kendaraan umum. Sedangkan
jarak tempuh dengan Ibu Kota Kecamatan Koroncong ± 10 Km dengan waktu tempuh
30 menit dengan kendaraan roda 2 (dua).
1.3.2 Pemerintahan
Pada tanggal 12 Mei 2007 seiring dengan adanya pemekaran
Kecamatan Koroncong, maka UPT. Puskesmas Bangkonol berada di wilayah
kerja Kecamatan Koroncong dengan jumlah Desa Binaan sebanyak 12 Desa.
Yang mana teriri dari 7 desa binaan yang lama dan 5 Desa binaan baru.
Desa yang ada di wilayah Puskesmas Bangkonol Kecamatan Koroncong yaitu :
Bangkonol, Pasir Jaksa, Pasirkarag, Tegalongok, Setrajaya, Karangsetra, Panis,
Pakuluran, Koroncong, Gerendong, Awilega dan Sukajaya.
1.3.3 Kependudukan
Berdasarkan data estimasi jumlah penduduk Kecamatan Koroncong
tercatat 18.527 Jiwa, yang terdiri dari laki-laki sebanyak 9.460 Jiwa dan
perempuan sebanyak 9067 Jiwa dengan rata-rata jiwa per rumah tangga 3,6%
Tabel 1.1
DATA ESTIMASI JUMLAH PENDUDUK KECAMATAN KORONCONG
TAHUN 2018

18527
20000
15000 9460 9067

10000

5000

0
JUMLAH PENDUDUK

Laki Laki Perempuan TOTAL

6
Tabel 1.2
JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK
UMUR DI PUSKESMAS BANGKONOL KECAMATAN KORONCONG
TAHUN 2018

Chart Title
4500 4216

4000
3500
3000 2663
2500 2302 2267
2000 1671 1851 1779
1500 1127
1000 652
500
0
0-4 5-9 10-14 15-19 20-44 45-54 55-59 60-69 70+
LAKI LAKI PEREMPUAN TOTAL

Pada Tabel 1.2 terlihat bahwa jumlah balita adalah sebesar 12,42% dari
seluruh total penduduk dan jumlah lansia 3,52% dari seluruh total penduduk,
sedangkan persentase balita dan anak anak adalah 9,02% dari seluruh total penduduk
Pedungan. Berdasarkan data ini dapat kita lihat bahwa komposisi penduduk usia
produktif (dewasa) lebih besar dibandingkan usia non produktif (anak-anak dan usia
lanjut 22,75%).
Indikator penting yang terkait dengan distribusi penduduk menurut umur
yang sering digunakan untuk mengetahui produktifitas penduduk adalah ratio beban
ketergantungan atau dependency ratio. Ratio beban ketergantungan adalah angka yang
menyatakan perbandingan antara banyaknya orang yang tidak produktif (umur
dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun) dengan umur produktif (umur 15-64 tahun).

7
Tabel 1.3
JUMLAH PENDUDUK MENURUT DESA PASIRKARAG
PUSKESMAS BANGKONOL KECAMATAN KORONCONG
Bangkonol Pasir Jaksa Pasirkarag Tegalongok Setrajaya Karangsetra

Paniis Pakuluran Koroncong Gerendong Awilega Sukajaya

1.3.4. Situasi Derajat Kesehatan


Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator
yang dapat digunakan, seperti kondisi morbiditas, mortalitas dan status Gizi.
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh multi faktor. Faktor kesehatan
seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan
sangat menentukan derajat kesehatan masyarakat. Faktor lain diluar kesehatan
masyarakat yang tak kalah penting berperan dalam peningkatan derajat kesehatan
masyarakat adalah keadaan social ekonomi, Pendidikan, lingkungan social,
keturunan dan faktor lainya (Depkes, 2010). Pada bagian ini derajat kesehatan
masyarakat di Puskesmas Bangkonol Kecamatan Koroncong akan digambaran
melalui Angka Kematian Bayi (AKB). Angka kematian Balita (AKABA), Angka
Kematian Ibu (AKI) dan angka morbiditas beberapa penyakit yang ada di
puskesmas Bangkonol Kecamatan Koroncong
Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan sesuai dengan Visi dan
Misi Kemenkes yang mengacu pada SDGs Tahu 2016 yang lalu yaitu
Mengurangi AKI Hingga di bawah 70 per 100.000 KH

8
Mengakhiri kematian bayi dan balita yang besar dapat dicegah, dengan menurunkan
Angka Kematian Neonatal hingga 12 per 1,000 KH dan AngkaKematian Balita 25 per
1000 KH dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000 KH;
Mengakhiri epidemi AIDS, tuberculosis, malaria, dan penyakit tropis yang terabaikan,
serta memerangi hepatitis, penyakit bersumber air dan penyakit menular lainya;
Mengurangi 1/3 kematian premature akibat penyakit tidak menular melalui
pencegahan dan perawatan, serta mendiring kesehatan dan kesejahteraan mental;
Memperkuat pencegahan dan perawatan penyalahgunaan zat, termasuk
penyalahgunaan narkotika dan alcohol yang membahayakan;
Mengurangi setengah jumlah global kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu
lintas; Menjamin akses semesta kepada pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi;
Mencapai universal health coverage, termasuk perlindungan ririko keuangan, akses
kepada pelayanan kesehatan dasar berkualitas dan akses kepada obat-obatan dan
vaksin dasar yang aman, efektif, dan berkualitas bagi semua orang;
Mengurangi secara substansial kematian dan kesakitan akibat senyawa berbahaya
serta kontaminasi dan polusi udara, air, dan tanah.

1.3.5. Angka Kematian (Mortalitas)


Angka kematian yang terjadi pada kurun waktu dan tempat tertentu dikenal
dengan mortalitas (Depkes, 2010). Mortalitas selain dapat menggambarkan keadaan
dan derajat kesehatan masyarakat suatu wilayan dapat juga digunakan sebagai dasar
perencanaan di bidang kesehatan. Tingkat kematian secara umum sangat berhubungan
erat dengan tingkat kesakitan. Sebab sebab kematian ada yang dapat diketahui secara
langsung dan tidak langsung. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat mortalitas
dan morbiditas adalah social ekonomi, pendapatan perkapita, Pendidikan, perilaku
hidup sehat, lingkunganm, upaya kesehatan dan fertilitas.
Adapun jumlah kematian Ibu bersalin, jumlah kematian bayi dan neonatal
yang selama ini di kumpulkan melalui pencatatan dan pelaporan Puskesmas dan
Puskesmas pembantu hanyalah salah satu upaya untuk menilai effisiensi dan
efektivitas pelayanan kesehatan bukan sebagai ukuran Derajat Kesehatan.
1.3.5.1. Kasus Kematian Bayi
Jumlah kematian penduduk yang berusia di bawah satu tahun per 1000 kelahiran
hidup pada tahun tertentu daerah disebut Angka Kematian Bayi (AKB). AKB merupakan
indikator yang sangat berguna untuk mengetahui status kesehatan anak
9
khususnya bayi dan dapat mencerminkan tingkat kesehatan ibu, kondisi kesehatan
lingkungan secara umum, status kesehatan penduduk secara keseluruhan serta tingkat
perkembangan social ekonomi masyarakat. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi
AKB secara umum adalah tingkat kesakitan dan status gizi, kesehatan ibu waktu
hamil dan proses penanganan persalinan. Gangguan perinatal merupakan salah satu
dari sekian faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan ibu selama hamil yang
mempengaruhi perkembangan fungsi dan organ janin. Berdasarkan data yang tercatat
di UPT. Puskesmas Bangkonol jumlah kasus kematian bayi pada tahun 2018 adalah
sebanyak 0 kasus dengan dari 369 Kelahiran Hidup.
1.3.5.2. Kasus kematian Balita (AKABA)
AKABA adalah jumlah anak yang dilahirkan pada tahun tertentu dan
meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun dan dinyatakan per 1000 kelahiran hidup.
Angka kematian balita dihitung dengan menjumlah kematian bayi dengan kematian
balita. Berdasarkan pedoman MDGs disebutkan bahwa nilai normatif >140 tinggu,
71-140 tinggi, 20-40 sedang dan <20 rendah. AKABA menggambarkan tingkat
permasalahan kesehatan anak-anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap
kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi, penyakit infeksi dan kecelakaan Angka
Kematian Balita (AKABA).
1.3.5.3. Kasus Kematian Ibu
Secara umum di Kecamatan Koroncong masih belum mempunyai angka untuk
kematian ibu yang diperoleh secara survey. Jumlah kasus kematian ibu maternal
sebanyak 0 kasus (tidak terjadi kasus kematian ibu), hal ini berguna untuk
menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan
ibu, kondisi lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil,
pelayanan kesehatan waktu melahirkan dan masa nifas.
1.3.6 Angka Kesakitan (Morbiditas)
1.3.6.1 Tuberkulosis
Program pemberantasan penyakit TBC merupakan program nasional dalam
mengeleminasi penderita TBC. Indikator penting yaitu angka penemuan kasus baru,
angka konversi angka kesembuhan dan angka kesalahan laboratorium.
Pemberantasan TBC yang berjalan menggunakan Strategi Directly Observed
Shourtcourse (DOTS) yaitu pengobatan penderita dalam jangka pendek melalui
pengawasan langsung oleh pengawan minum obat, total penderita TBC kasus baru BTA

10
(+0 yang diobati sebanyak 14 jiwa terdiri dari 12 laki-laki dan 2 perempuan dengan
usia diatas 15 tahun. Sedangkan kasus TB pada anak 0 kasus.

Tabel 1.4
PROPORSI KASUS BARU BTA+
10000
85,71%

8000

6000

4000
2000 14,29%
0
Laki-laki Perempuan

Series 1

Tabel 1.5
CNR KASUS BARU BTA+
14000
126,84%
12000

10000
75,56%
8000

6000
4000
22,06%
2000

0
Laki-laki Perempuan CNR

Series 1

11
Tabel 1.6
CURE RATE
120
100% 100% 100
100

80

60

40

20

0
Laki-laki Perempuan Cure Rate

Series 1

Angka kesembuhan atau cure rate sebesar 100 %. Pengobatan lengkap atau complete
rate sebesar 0.0%
Pemberantasan penyakit ini sangat membutuhkan dukungan dan kerjasama dalam
tingkat pelayanan guna mencapai cakupan yang ditargetkan antara lain:
Masih sedikitnya sumber daya kesehatan
Rendahnya motivasi pengelola TBC puskesmas dan tingginya rasa ketakutan terhadap
risiko penularan.
Sarana dan prasarana laboratorium yang belum memadai
Masih rendahnya keterampilan petugas laboratorium
Dukungan dalam proses penyembuhan yang rendah dan masih banyaknya kasus baru
yang tersembunyi (under reported)

1.3.6.2. Pneumonia
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering
dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. ISPA yang mengenai jaringan paru-
paru atau ISPA berat dapat menjadi Pneumonia, pneumonia merupakan penyakit
infeksi penyebab kematian utama terutama pada balita.
Pelaksanaan program P2 ISPA yang dilaksanakan penderita pneumonia pada
balita. Kasus pneumonia pada balita di Kecamatan Koroncong pada tahun 2018
sebanyak 13 jiwa (pneumonia ringan 13 jiwa, pneumonia berat 0 jiwa) terdiri dari 9
laki-laki dam 4 perempuan. Target penemuan menurun menjadi 8,69% dari tahun lalu
5,60% dengan 230 sasaran pneumonia
12
Tabel 1.7
Cakupan Pneumonia Balita
8 7,5%
7
6
5
4 3,6%
3
2
1
0
Laki-laki Perempuan

Series 1

1.3.6.3 HIV/AIDS
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah suatu virus yang dapat
menyebabkan penyakit AIDS. Virus ini menyerang manusia dan menyerang sistem
kekebalan tubuh, sehingga menjadi lemah dalam melawan infeksi. Tanpa pengobatan,
seorang dengan HIV bisa bertahan hidup selama 9-11 tahun setelah terinfeksi. Dengan
kata lain, kehadiran birus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekuranagn)
system imun. Penyaluran HIV bisa melalui penyaluran semen (reproduksi), darah,
cairan vagina, dan ASI. HIV bekerja dengan membunuh sel-sel penting, salah satunya
adalah sel T pembantu, makrofag, sel dendritic. Pada tahun 2018 jumlah kasus
HIV/AIDS sebanyak 2 jiwa, sedangkan yang sedang menjalani pengobatan sebanyak
5 jiwa.

1.3.6.4. Diare
Hingga saat ini penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di kecamatan Koroncong, beberapa faktor yang menjadi penyebab
timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman melalui kontaminasi
makanan/minuman yang tercemar tinja dan/ atau jontak langsung dengan penderita,
sedangangkan faktor lainnya meliputi faktor penjamu dan faktor lingkungan.
Secara proporsional penyakit diare yang terjaring disana kesehatan di
kecamatan Koroncong sebanyak 151 orang dari jumlah target penemuan dengan
rincian laki-laki 134 orang dan perempuan 17 orang.

13
Tabel 1.8
Pencapaian Penemuan Kasus Diare Tahun 2018
70 66,2%

60
50
40
30
20
8,8%
10
0
Laki-laki Perempuan

Series 1

1.3.6.5 Kusta
Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh mycobacterium
lepra menyerang kulit dan saraf tepi. Jumlah kasus baru penderita kusta di puskesmas
Bangkonol sebanyak 1 jiwa.

1.3.6.6. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi


Eradikasi Polio merupakan salah satu komitmen global yang harus dicapai
pada tahun 2018 dengan membuktikan tidak ditemukan virus polio liar di muka bumi.
Kegiatan penemuan kasus polio liar ini dilaksanakan dengan pelaksanaan surveilans
AFP.
Untuk melihat tingkat keberhasilan pelaksanaan surveilan AFP adalah dengan
mengunaka indikator kinerja surveilans AFP. Berdasarkan target indikator Indonesia
sehat Tahun 2016, indikator penilaian eradikasi polio adalah dengan melihat AFP rate
yaitu sebesar >2/100.000 penduduk umur < 15 tahun. Sedangkan hasil pencapaian
surveilans AFP di kecamatan Koroncong tahun 2018 adalah:
Non Polio AFP rate : 2,6/100.000 pddk < 15 tahun
Spesimen Adekuat : 0%
Jumlah Kasus AFP ditemukan : 1 kasus
Campak atau rubeola adalah suatu infeksi yag sangat menular yang ditandai
dengan demam, batuk, konjungtivitis dan ruam kulit. Penularan infeksi terjadi karena
menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini
dalam 2-4 hari setelah ruam kulit ada. Jumlah kasus yang tercatat di puskesmas

14
sebanyak 2 kasus.

1.3.6.7 Demam Berdarah Dengue (DBD)


Merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan gejala panas
tinggi, sakit kepala dan kulit kemerahan yang tampak seperti campak. Jumlah kasus
yang tercatat sebanyak 3 kasus yaitu perempuan. Adapun CFR dari DBD adalah 0%.
1.3.6.8 Penyakit Tidak Menular
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan ditengah
masyarakat dan mengakibatkan angka kesakitan yang tinggi. Banyak faktor yang dapat
memicu terjadinya hipertensi, salah satunya adalah obesitas. Hipertensi adalah kondisi
yang terjadi ketika sjumlah darah dipompakan oleh jantu melebihi kemampuan yang
dapat ditampung dinding arteri. Ketika jumlah darah tinggi, kompliaksi dapat terjadi
tergantung pada hubungan antara jumlah darah dan kapsitas arteri.
Dari hasil kegiatan posbindu didapatkan data hipertensi pada usia >18 tahun
sebanyak 497 kasus dengan 187 laki-laki dan perempuan 310 kasus. Sedangkan untk
masyarakat yang mengalami obesitas sebanyak 917 jiwa dengan 367 laki-laki dan 550
perempuan

1.3.6.9 Kejadian Luar Biasa


Sistem kewaspadaan dan respon dini wabah dimaksudkan untuk
mengantisipasi atau mendeteksi semua penyakit yang berpotensi wabah/KLB dengan
kecenderungan penyakit berdasarkan pemantauan mingguan, sehingga setiap
peingkatan kasus (epidemic) dapat terdeteksi sedini mungkin. Sehingga puskesmas
bangkonol mempunyai gambarann kondisi lingkungan dan kelompok populasi
terhadapat penyakit tertentu.
Pelaksanaan sistem kewaspadaan dan respon dini penyakit berpotensi wabah
di kecamatan koroncong tahun 2018 masih belum berjalan secara optimal, hal ini
dikarenakan pemantauan kecenderungan terhadap peningkatan kasus belum didukung
dengan situasi dan keadaan lingkungan dan kelompok yang rentan sebagai factor
risiko. Sedangkan indikator kelengkapan dan ketepatan pemantau mingguan wabah
puskesmas (W-2) tahun ini mengalami peningkatan yaitu terdapat 2 kasus penyakit
campak.

15
1.4 Upaya Kesehatan
Pembangunan Kesehatan untuk tahun yang akan datang dapat tercapai melalui
program-program yang ada di Puskesmas. Program ini merupakan penjabaran yang lebh
rinci tentang apa yang dilaksanakan berdasarkan kebijakan yang telah ditetapkan,
keberhasilan suatu program akan memberikan kontribusi besar pada pencapaian sasaran,
program merupakan kumpulan dari satu atau lebih kegiatan. Program Prioritas
Puskesmas Bangkonol Tahun 2017, antara lain :
1.4.1 Pelayanan Kesehatan dasar :
1. Program Penyuluhan kesehatan Masyarakat
Peningkatan Cakupan kunjungan posyandu
Peningkatan Cakupan Imunisasi
Peningkatan Keluarga Sadar Gizi
Peningkatan UKS
Peningkatan Kualitas Sumber Daya Kesehatan
Peningkatan Pembinaan Desa Siaga
Peningkatan tingkatan stratifikasi posyandu
2. Program Kesehatan Ibu dan Anak, serta Keluarga Berencana
Peningkatan Kemitraan Bidan, Paraji dan Kader
Peningkatan akseptor keluarga
berencana Peningkatan Linakes
3. Program Peningkatan Kesehatan dan Perbaikan Gizi
Peningkatan jumlah bayi balita gizi buruk dan gizi kurang, BGM (Bawah
Garis Merah, 2T (2 bulan naik BB/tetap/turun)
Peningkatan Gizi Masyarakat Melalui pembinaan Keluarga Rawan (PHN)
Peningkatan Cakupan Garam Beryodium
Peningkatan Prevalensi Gizi Buruk
4. Program Penyakit Menular
Peningkatan Penanganan Wabah/ KLB
Peningkatan Intensifikasi Surveillance
Peningkatan Penanggulangan Diare
Peningkatan Penanggulangan ISPA
Peningkatan Penanggulangan Kusta
Peningkatan Penanggulangan TB BTA +
16
Peningkatan Penanggulangan DBD
5. Program Kesehatan Lingkungan
Peningkatan jumlah pengguna SPAL, SAB yang memenuhi syarat kesehatan
Peningkatan TPS memenuhi syarat
Peningkatan jumlah rumah sehat
Peningkatan jumlah keluarga yang mempunyai jamban yang memenuhi syarat
kesehatan
6. Program Pengembangan Sumber Daya kesehatan
Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal dan
non formal
Peningkatan stratifikasi pegawai
Peningkatan pelayanan informasi secara terpadu

1.4.2. Kesehatan Ibu dan Anak, serta Keluarga Berencana


1.4.2.1. Kunjungan Ibu Hamil (K1)
Kunjungan ibu hamil K1 adalah ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal
kontak untuk pertama kalinya dengan tenaga kesehatan. Tahun 2018 Puskesmas
bangkonol telat melewati capaian rencana K1 yaitu 109,4% dari 95% target yang
harus di capai.

Tabel 1.9
Cakupan Kunjungan K1
1100 109,4%

1080

1060

1040 103,0%

1020

1000

980
Tahun 2018 Tahun 2017

Column1

17
1.4.2.2 Kunjungan Ibu Hamil (K4)
Kunjungan ibu hamil K4 adalah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan
antenatal (pemeriksaan kehamilan sebelum persalinan) empat kali sesuai standar di suatu
wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pada tahun 2018 dari rencana capaian 95%
untuk K4, presentase pencapaian pada tahun 2018 adalah 87,30%, namun bila di banding
dengan indikator K1 pencapaian target 2018 adalah 109,4% dan hasil cakupan
tahun 2018 adalah 87,3% ternyata masih masih di temukan adanya ketidaksinambungan
program dimana kontak pertama ibu hamil (K1) jauh lebih tinggi.

Tabel 1.10
Cakupan Kunjungan K4
886 88,50%

884
882
880
878
876
874 87,3%

872
870
868
866
Tahun 2018 Tahun 2017

Series 1

1.4.2.3 Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan


Pelayanan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu ibu bersalin yang mendapat
pertolongan persalinan oleh bidan/ tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
kebidanan.
Pada tahun 2018 pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebanyak 369
ibu bersalin dari rencana sasaran ibu bersalin sebanyak 377, sehingga capaian sasaran
dari rencana 90% Puskesmas Bangkonol mampu melebihi target yaitu 97,9%.

1.4.2.4 Pelayanan Ibu Nifas


Pelayanan Ibu nifas di Puskesmas Bangkonol sebanyak 365 jiwa dengan
presentase 96,8%, ibu nifas belum dilayani semuanya dikarenakan belum persalinan di
akhir tahun sehingga perhitungan belum termasuk. Sedangkan yang mendapat Vitamin
18
A sebanyak 365 jiwa atau 96,8%.

Tabel 1.11
Cakupan Pelayanan ibu Cakupan Pelayanan Ibu Nifas Cakupan Vitamin A ibu
980 Pasca Persalinan Nifas
970 96,8% 96,8%

960

950

940

930

920

910 90,7% 90,7%

900

890

880

870
Tahun 2018 Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2017

Series 1

1.4.2.5 Imunisasi TT
Untuk pencegahan terjadinya infeksi terhadap ibu hamil diperlukan Imunisasi
TT, sebanyak 93 ibu hamil mendapat TT2+ atau 23,7% dan yang mendapat Tablet Fe3
sebanyak 338 jiwa atau 86,0%.
1.4.2.6 Komplikasi Kebidanan dan Neonatal
Masa kehamilan merupakan masa yang cukup kritis dikarenakan berdampak
terhadap 2 individu yang saling berkaitan sehingga terjadinya komplikasi sangat
mudah terjadi. Adapun jumlah komplikasi kebidanan yang tercatat sebanyak 111 jiwa
dari 77 kasus yang diperkirakan. Sedangkan kasus komplikasi neonatal sebanyak 7
kasus dari 55 yang diperkirakan.

1.4.2.7 Keluarga Berencana


Untuk kelangsungam kesejahteraan dan kemampuan keluarga mengatur jarak
kehamilan diperlukan alat kontrasepsi baik alami maupun medis. Peserta KB Baru
Tahun 2017 sebanyak 363 dan yang KB Aktif sebanyak 2.403 peserta.

19
Tabel 1.12
Cakupan Peserta KB Aktif
120
100%
100
80

66,4%
60

4,1% 46,9%
40
20 0,5% 1,2% 0,4% 10,6%

0% 0%
0
IUD MOP MOW IMP KDM STK PIL VAG LAIN JML

Series 1

1.4.2.8 Bayi Baru Lahir


Anak merupakan anugerah yang sangat besar untuk sebuah keluarga sehingga
persalinan diperlukan penanganan oleh yang ahli dan ketika bayi lahir perlu
ditimbang. Adapun jumlah bayi baru lahir yang ditimbang sebanyak 369 jiwa dengan
bayi baru lahir rendah atau BBLR sebanyak 3 laki-laki dan 1 perempuan.
1.4.2.9 Kunjungan Neonatus
Kunjungan neonatus oleh tenaga kesehatan merupakan keharusan dan jumlah
yang tercatat di Puskesmas Kunjungan Neonatus 1 sebanyak 368 bayi dan Kunjungan
lengkap juga 368 bayi. Dan kunjungan neonatus lengkap sebesar 99,7%.
1.4.2.10 ASI Ekslusif
Air susu ibu merupakan anugerah yang tak ternilai harganya, hanya seorang
ibu yang dapat memberikan anugerah tersebut kepada bayinya. Menyusui secara
ekslusif merupakan cara yang aman, baik dan selalu tersedia untuk pemberian
makanan bayi dalam 6 bulan, sebagaimana WHO dan UNICEF merekomendasikan
bahwa menyusui harus berlanjut bersama makanan pendamping ASI yang benar
sampai 2 tahun atau lebih.
Para Pakar dewasa ini menyetujui bahwa ASI dapat memberikan semua yang
dibutuhkan bayi normal untuk 6 bulan pertama dan tanpa memerlukan minuman atau
makanan lain selama periode ini. Banyak ibu mengalami bahwa menyusui ekslusif
20
selama 6 bulan merupakan suatu hal yang sederhana. Mereka tidak perlu cemas
apakah bayi memperoleh minuman atau makanan yang cukup atau apakah ini benar
dan tanpa kesulitan atau tanpa biaya untuk membuat makanan lain yang tidak perlu.
Disayangkan, bahwa menyusui eksklusif tersebut masih jarang dilakukan oleh
masyarakat kita dengan berbagai alasan. Hal ini dapat di tentukan cakupan bayi yang
mendapatkan ASI eksklusif di Kecamatan Koroncong pada tahun 2018 baru mencapai
90,6% dari rencana pencapaian 80% tapi berdasarkan jumlah bayi per Desember 2018
sebesar 20,0%.
1.4.2.11 Pelayanan Kesehatan Bayi

Tabel 1.13
Cakupan Pelayanan Bayi

120%
100% 100%
100%

80%

60%

40%

20%

0%
Perempuan Laki-Laki

Pencapaian

1.4.2.12 Imunisasi
Pemberian imunisasi yang dilakukan selama ini digunakan untuk mencegah
timbulnya TBC, difteri, pertusis, tetanus, polio, hepatitis dan campak. Pada tahun
2018, yang termasuk desa UCI di wilayah kerja Puskesmas Bangkonol adalah semua
desa yaitu 12. Jadi cakupan target UCI Tahun 2018 adalah 11 desa (92%).Dalam
pelayanan imunisasi terdapat beberapa kendala diantaranya letak geografis, sarana
transportasi petugas imunisasi tidak adanya motor khusus untuk petugas imunisasi
sebagai mobilisasi program imunisasi, ketakutan masyarakat dengan adanya mitos
menjadi sakit (panas, bengkak, dll) setelah imunisasi.
Cakupan imunisasi Campak tahun 2018 adalah 331 balita atau 89,7% dan
Imunisasi Dasar Lengkap sebanyak 331 balita atau 89,7%

21
Cakupan Pelayanan Tabel 1.14 Cakupan Pelayanan
Cakupan Imunisasi Imunisasi Dasar
Imunisasi Campak Lengkap
100,00%
97,80% 97,80%
95,00%

90,00%

85,00%

81,90% 81,90%
80,00%

75,00%

70,00%

Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

1.4.2.13 Vitamin A dan Penimbangan


Vitamin A merupakan salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak dan
disimpan dalam hati, tidak dapat dibuat oleh tubuh, sehingga harus dipenuhi dari luar,
berfungsi untuk penglihatan, pertumbuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh
terhadap penyakit.
Sumber Vitamin A terdapat pada Air Susu Ibu (ASI), bahan makanan hewani
seperti hati, kuning telur, ikan, daging, ayam dan bebek. Buah-buahan berwarna
kuning dan jingga seperti pepaya, mangga masak, alpukat, jambu biji merah, pisang.
Sayuran yang berwarna hijau tua dan berwarna jingga seperti bayam, daun singkong,
kangkung, daun katuk, tomat, wortel.
Akibat dari kekurangan Vitamin A salah satunya dapat menyebabkan buta
senja yaitu kesulitan melihat dalam senja hari.
Upaya yang telah dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan akibat
kekurangan vitamin A yaitu :
a. Pemberian kapsul vitamin A warna biru untuk bayi (6-11 bulan), diberikan 1 kali
setahun, setiap bulan Februari atau Agustus.
b. Pemberian kapsul vitamin A warna merah untuk anak balita diberikan 2 kali setahun,
setiap bulan Februari dan Agustus.

22
c. Pemberian kapsul vitamin A warna merah untuk ibu nifas diberikan 2 kapsul, kapsul
pertama diberikan segera setelah lahir dan kapsul kedua diberikan 24 jam sesuadah
kapsul pertama.

Hasil dari pemberian kapsul vitamin A pada bayi 6-11 bulan di posyandu pada tahun
2018 mencapai 100% dare target 85% sehingga persentase pencapaian 100%, pada balita 12-
59 mencapai 100% dare target 85%.
Pencegahan Penyakit merupakan salah satu tindakan antisipasi dalam menekan
jumlah kelompok rentan terhadap penyakit tertentu yang diwujudkan dengan pemberian
imunisasi pada kelompok bayi, balita, anak sekolah, calon pengantin dan ibu hamil.
Secara umum masalah balita gizi buruk masih cukup tinggi, dapat dihitung pada
indikator Berat Badan / Tinggi Badan yang menggambarkan status gizi yang sifatnya akut
sebagai akibat dare keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek, seperti
menurunnya nafsu makan akibat sakit, atau karena diare.
Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga proporsional
lagi dengan tinggi badan dan anak menjadi kurus.
Disamping mengidentifikasi masalah gizi yang bersifat akut dengan tinggi badan tidak
seimbang, dapat juga dilihat dari anak yang kegemukan, dalam hal ini berat badan anak
melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya, kegemukan ini dapat terjadi sebagai
akibat dare pola makan yang kurang baik atau juga karena keturunan, masalah kekurusan dan
kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit
degenerative pada usia dewasa (Teori Barker)
Selain masalah gizi buruk dan kegemukan dare indikator Berat Badan per Tinggi
Badan tapi juga bisa dilihat dari Panjang Badan atau Berat Badan per Umur, ini akan menjadi
indikator tentang stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dare
kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Balita pendek (stunted)
dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi
badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS
(Multicentre Growth Reference Study) 2006.

23
Puskesmas Bangkonol pada tahun 2018 terdapat desa lokus stunting sebanyak 4 desa
yaitu :
No Desa Laki-Laki Perempuan Jumlah
1 Koroncong 7 10 17
2 Pakuluran 5 9 14
3 Tegalongok 7 4 11
4 Pasirkarag 5 5 10
Puskesmas 24 28 52

Tabel 1.15
Cakupan Pelayanan Baduta
700
Ditimbang 60,5% BGM
600 54,7%

500

400

300

200

100
4,4% 3,0%
0
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan

Series 1

24
Tabel 1.16
Cakupan Pelayanan Balita
1200
D/S BGM Gizi Buruk Mendapat
perawatan
100% 100%
1000
800

60,0% 65,0%

600
400

200

7% 7,9%

0
Category 1 Category 2 Category 3

L P

1.4.2.14 Gigi dan Mulut


Penjaringan anak sekolah ada tahun 2018 sebanyak 348 siswa atau 86,4 %
dare total siswa SD se-Kecamatan Koroncong. Adapun kegiatan yang dilakukan
Program UKS yaitu pemeriksaan kesehatan Gigi dan Mulut Anak Sekolah Dasar.
Jumlah Tumpatan/Pencabutan Gigi Tetap sebanyak 60 kasus. Yang mendapatkan
pemeriksaan kesehatan Gigi dan Mulut sebanyak 348 dare 394 siswa SD.

4.2 Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan


Peserta Jaminan Kesehatan yang tercatat di Puskesmas sebagian besar adalah peserta
jaminan PHB sebanyak 15.858 peserta. Adapun cakupan kunjungan Rawat jalan di
Puskesmas sebanyak 18.853 laki-laki dan 23.818 perempuan. Dengan jumlah kunjungan
PHB sebanyak 28.083 pasien dan kunjungan Umum sebanyak 14.633 pasien 4.3 Perilaku
Hidup Masyarakat
Program penyuluhan kesehatan masyarakat dilakukan melalui berbagai upaya yakni
Peningkatan Promosi Kesehatan dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat di bidang
kesehatan, Kemitraan dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Media Massa dalam
rangga meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta meningkatkan perilaku hidup bersih

25
dan sehat serta meningkatkan frekwensi Penyuluhan Pencegahan dan Penanggulangan (P3)
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA).
Selain itu program penyuluhan kesehatan masyarakat juga melakukan Penyebarluasan
informasi kesehatan yang dilakukan melalui spanduk maupun penggunaan lembar balik
khusus untuk meningkatkan jangkauan penyuluhan P3 NAPZA oleh petugas Puskesmas.
Peningkatan upaya promosi kesehatan yang telah dilakukan diantaranya yakni
kegiatan peningkatan peran serta masyarakat melalui pelatihan kader posyandu guna
meningkatkan tingkat perkembangan pos pelayanan terpadu (Posyandu) dare posyandu
pratama menjadi purnama atau mandiri.
Upaya peningkatan peran serta masyarakat lainnya yang dilakukan di seluruh
Desa untuk dibentuk menjadi desa siaga komprehensif sebanyak 12 desa siaga, dan 1 bangunan
Pos Kesehatan Desa yang telah ada. Penyuluhan kesehatan masyarakat secara intensif juga
dilakukan di tingkat puskesmas melalui berbagai aksi baik dalam rangka pencegahan penyakit
menulr seperti diare, demam berdarah, flu burung, campak, tetanus neonatorum maupun
penyuluhan penyakit pasca kejadian luar biasa yang terjadi di tengah masyarakat.
Penyuluhan juga dilakukan secara periodik oleh petugas baik di tatanan sekolah,
tempat-tempat umum maupun pada kelompok rawan kesehatan dalam rangka meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, dan kemauan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat.
Penyuluhan sebagai bagian yang terintegrasi dengan program kesehatan lainnya juga
telah dilaksanakan melalui kegiatan di dalam gedung seperti di ruang pelayanan puskesmas,
klinik sanitasi mupun klinik gizi.
Di tingkat kecamatan, penyuluhan telah dilaksanakan di sekolah-sekolah, penyuluhan
kelompok langsung kepada warga rawan kesehatan, kampanye kesehatan serta penyuluhan
yang dilakukan melalui media poster dan stiker.
Dari berbagai intervensi program penyuluhan kesehatan masyarakat yang telah
dilaksanakan selama tahun 2018 baik intervensi kegiatan di tingkat kecamatan maupun desa
didapat hasil kegiatan sebagai berikut:
Penyuluhan Sekolah Dasar (SD) tentang PHBS dan Kesehatan Gigi dan Mulut dari
15 SD, pencapaian target 100%.
Presentase rumah tangga yang berperilaku hidup bersih dan sehat telah mencapai
29,7% dari target 95%.
Pembinaan Poskestren tentang PHBS.

26
Adanya peningkatan upaya kesehatan yang bersumber daya masyarakat yaitu: BP
Desa Siaga, Poskesdes dan Posyandu. Dari 46 Posyandu telah menjadi tingkat
Posyandu Purnama dan mencapai 100% dari target 100% sehingga pencapaian
rencana target sebesar 100%.

1.4.3 Keadaan Lingkungan


Kesehatan lingkungan merupakan cabang keilmuan yang mempelajari dinamika
hubungan interaktif antara kelompok penduduk atau masyarakat dan segala macam perubahan
komponen lingkungan hidup, seperti spesies kehidupan, bahan, zat, atau kekuatan di sekitar
manusia yang menimbulkan ancaman, atau berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat serta
mencari upaya-upaya pencegahannya (Achmadi, 1991). Komponen lingkungan (agent) yang
mempunyai potensi bahaya penyakit tersebut, menurut H. L. Bloom (40%) dikelompokkan dalam
bentuk 1) Fisik (Kebisingan, radiasi, cuaca panas, partikel, dan lain-lain) 2) Kimia (Pestisida
dalam makanan, asap rokok, limbah pabrik, polutan udara, bahan pewarna makanan) 3) Biologi
(Spora jamur, bakteri, virus, protozoa, cacing, dan lain-lain).
Kemudian komponen lingkungan tersebut berinteraksi dengan manusia melalui media
atau wahana (vehicle). Udara, air, tanah, makanan, atau vektor penyakit (seperti nyamuk).
Out come hasil interaksi ini, yang menyebabkan apakah status manusia sakit atau sehat. Inilah
yang merupakan wilayah kajian Program Kesehatan Lingkungan.
Perlindungan terhadap sarana air bersih dan sanitasi dasar, agar tidak menjadi
ancaman terhadap kesehatan masyarakat dirasa mutlak diperlukan, perlindungan ini ditujukan
pada pengamanan sumber air, sarana sanitasi dasar, sampah, salah satu upaya untuk
melindunginya adalah pengawasan kualitas air dan penyehatan lingkungan pemukiman.
Pengwasan penyehatan lingkungan pemukiman meliputi penilaian terhadap kualitas
fisik, kimia, dan mikrobiologi dan melindungi/ memperbaiki sarana air bersih, cubluk
jamban, air limbah, dan sampah yang mempengaruhi terhadap kesehatan masyarakat yang
diakibatkan lingkungan tidak bersih.
Pemeriksaan secara periodic yang dilaksanakan dalam kegiatan penyehatan
lingkungan pemukiman diharapkan memberikan jaminan bahwa semua sarana penyediaan air
bersih dan penyehatan lingkungan yang berada di masyarakat terbebas dari gangguan
kesehatan, sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat tercapai.
Secara umum pelaksanaan program di Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Kecamatan Koroncong tahun 2018 masih belum maksimal, hal ini dikarenakan kompleksitas
27
permasalahan yang bersifat intern seperti lemahnya koordinasi lintas program dalam
menentukan intervensi terhadap kondisi lingkungan dan kelompok rentan, permasalahn
extern seperti kurangnya dukungan dan kebijakan politis pemerintah daerah dalam
pembangunan sektor kesehatan.
Berdasarkan data program kesehatan lingkungan pada tahun 2018 target dan hasil
cakupan sarana kesehatan lingkungan sebagai berikut

Tabel 1.17
Cakupan Rumah Sehat

800
72,6% 69,6%
700
600
500 47,5% 46,7%
35,5% 40,7% 38,5% 36,6%
400 35,1% 34,7%
300 26,2%
200 13,8%
100
18%
0
BKL PJK PKG TGL STJ KRS PNS PKL KRC GRD AWG SKJ PKM
Series 1

Tabel 1.18
Cakupan Tempat Umum dan
Tempat Pengelolaan Makanan
2000

166,6%
1500
1000

500 37,5%

95%
0
TTU TPM SYARAT TPM UJI PETIK

HYGIENE

28
1.5 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
1.5.1 Sarana Pelayanan Kesehatan
1.5.1.1 Puskesmas
Di Kecamatan Koroncong distribusi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu sebagai
unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan dasar terhadap
masyarakat dapat dikategorikan cukup, terlihat dari pemekaran jumlah sarana pelayanan
kesehatan per jumlah desa yang ada sampai akhir tahun 2018, yaitu sebanyak 1 Puskesmas
(Tanpa Tempat Perawatan). Dengan demikian rata-rata rasio Puskesmas terhadap 10.000
penduduk adalah 0.1 hal ini menggambarkan setiap 10.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 1
Puskesmas

1.5.1.2 Puskesmas Pembantu (Pustu)


Puskesmas Pembantu di Kecamatan Koroncong sampai akhir tahun 2016 tercatat
sebanyak 3 unit yang tersebar di beberapa desa wilayah binaan Puskesmas, jika berdasarkan
rasio Puskesmas Pembantu terhadap desa adalah 25%, dengan demikian setiap Puskesmas
Pembantu rata-rata melayani 2-3 desa.

1.5.1.3 Poskesdes, Posyandu


Dalam perkembangan pemberdayaan masyarakat sampai dewasa ini, telah tumbuh
dan berkembang berbagai Upaya Kesehatan yang Berbasis Masyarakat (UKBM), dalam
penyelenggaraan upaya kesehatan, masyarakat masih diposisikan sebagai subyek dan belum
sebagai obyek, selain itu masih banyak upaya kesehatan yang belum menyentuh masyarakat
yang tinggal di daerah terpencil, tertinggal, terisolir, dan perbatasan.
Untuk itu perlu adanya upaya kesehatan berbasis masyarakat agar upaya kesehatan
lebih tercapai (accessible), lebih terjangkau (affordable), serta lebih berkualitas (quality).
Berbagai upaya yang telah dikembangkan di Kecamatan Bangkonol antara lain:
Pelayanan Pos Kesehatan Desa (poskesdes) dan Pos Pelayanan Terpadu (posyandu).
Jumlah sarana Pos Kesehatan Desa di Kecamatan Koroncong tahun 2018 sebanyak 1
unit, jika dilihat dari Kepmenkes RT 564/Menkes/SK/VII/1/2006 diharapkan seluruh desa
sudah menjadi desa siaga pada tahun 2018 dan salah satu kriteria desa siaga minimal ada satu
Pos Kesehatan Desa, hal ini menggambarkan di Kecamatan Koroncong Pos Kesehatan Desa
harus lebih ditingkatkan kembali, baik dari segi manajerial maupun teknik (fungsional).
Jumlah posyandu yang tercatat di Program Promosi Kesehatan sebanyak 46 unit dengan

29
berbagai tingkatan stratanya (Pratama 0 unit, Madya 0 unit, Purnama 46 unit, Mandiri 0 unit),
rasio Posyandu adalah 1.7% dan rata-rata di setiap Desa mempunyai 4-5 Posyandu.

1.5.2 Tenaga Kesehatan


Dalam pembangunan kesehatan diperlukan sumber daya manusia dalam hal ini tenaga
kesehatan yang memiliki kemampuan melaksanakan upaya kesehatan dengan paradigma
sehat, yang mengutamakan upaya peningkatan, pemeliharaan kesehatan, dan pencegahan
penyakit. Tenaga kesehatan yang terampil dilaksanakan melalui pendidikan dan
pengembangan serta pelatihan oleh pemerintah maupun swasta.
Jumlah dan jenis tenaga kesehatan/ non kesehatan yang ada di Puskesmas Bangkonol
PNS, TKK, dan TKS, antara lain:
a. Dokter Umum : 2 orang
b. Dokter Gigi : 1 orang
c. Perawat Gigi : 1 orang
d. Perawat : 11 orang
e. Bidan : 32 orang
f. Farmasi : 1 orang
g. Gizi : 0 orang
h. Teknis Medis : 0 orang
i. Sanitasi : 1 orang
j. Kesmas : 1 orang
k. Tenaga Non Kesehatan : 6 orang

1.5.3 Pembiayaan Kesehatan


Pada tahun 2018 semua biaya yang diterima oleh Puskesmas Bangkonol baik dari
APBD maupun APBN dapat diserap semua sesuai peruntukan kegiatan yang telah
direncanakan.

1.6 Lokasi Keluarga Binaan


Keluarga binaan bertempat tinggal di RT 001/RW 002 Desa Pasirkarag, Kecamatan
Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Keluarga binaan kelompok kami terdiri
dari 5 kepala keluarga, yaitu:
1. Keluarga Tn. Syaiful

30
2. Keluarga Tn. Mamat
3. Keluarga Tn. Aa Mulyawan
4. Keluarga Tn. Sutisna
5. Keluarga Tn. Asep Saipul

1.6.1 Profil Keluarga Binaan

1. Keluarga Tn. Syaiful

Keluarga Tn. Syaiful bertempat tinggal di Kampung Mesjid RT 001 / RW


002 Desa Pasirkarag, Kecamatan Keroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Syaiful sebagai kepala keluarga dengan
seorang istri yang bernama Ny. Pitriawati dan dua orang anak laki-laki, anak
pertama bernama Abil berusia 4 tahun dan anak kedua bernama Nasril berusia 23
bulan.
Tabel 1.19 Data Keluarga Tn. Syaiful

NO NAMA USIA JENIS STATUS PENDIDIKAN PEKERJAAN

KPITRIA TERAKHIR
WATIMIN

1. Tn. 35 tahun Laki-laki Suami SMP Supir


Syaiful

2. Ny. 26 tahun Perempuan Istri SMP Ibu Rumah


Pitriawati Tangga

3. Abil 4 tahun Laki-laki Anak TK -


pertama

4. Nasril 23 bulan Laki-laki Anak - -


kedua

Tn. Syaiful, berusia 35 tahun, bekerja sebagai seorang supir dengan


penghasilan berkisar antara Rp 2.000.000,0 perbulan. Pendapatan Tn. Syaiful
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memenuhi
kebutuhan sekolah anaknya. Ny. Pitriawati berusia 26 tahun sebagai seorang
ibu Rumah Tangga

31
a. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. Syaiful tinggal di rumah mereka, dengan luas tanah


2
sekitar 70 m dan luas bangunan berukuran 13,3 m × 5,2 m. Bangunan tempat
tinggal tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang tamu yang bergabung
dengan ruang keluarga berukuran 5,6 m × 3,2 m, dua kamar tidur masing–
masing berukuran 2,4 m × 2 m dan 2,4 m × 2 m, ruang dapur dan kamar
mandi yg menjadi satu hanya disekat tembok kecil dengan ukuran kamar
mandi sendiri berukuran 2,5 m × 1 m dan dapur 2,5 m × 1 m. Ruangan di
dalam rumah ini berlantaikan keramik dan beratapkan genteng.

Dinding rumah terbuat dari batu bata dan semen. Rumah ini terletak di
tengah rumah penduduk yang lain.
Untuk ventilasi, rumah ini memiliki 1-2 jendela pada masing-masing
ruangan yang berukuran 1,12 m × 0,08 m, namun jendela tersebut tidak setiap
hari dibuka dengan alasan sering lupa. Rumah ini juga memiliki 2 pintu, 1
pintu utama di bagian depan dan 1 pintu di dapur belakang.

Keluarga ini memiliki kamar mandi sekaligus jamban yang berada di


dalam rumah yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Menurut keluarga Tn.
syaiful, keluarganya menggunakan kamar mandi ini untuk mandi, membuang
air kecil, membuang air besar, mencuci baju, dan mencuci piring. Untuk
saluran pembuangannya dialirkan ke selokan
Ruang
Keluar

KamarTidur

Dapur
RuangTamu
KamarTidur
KamarTidur

Mandi
Kamar

Gambar 1.3 Denah Rumah Tn. Syaiful

32
b. Lingkungan Pemukiman

Rumah keluarga Tn. Syaiful terletak di pemukiman jarang penduduk.


Bagian depan rumah Tn. Syaiful merupakan halaman yang digunakan untuk
membakar sampah sehari-hari dan mempunyai kandang ayam.

c. Pola Makan

Keluarga Tn. Syaiful rata-rata makan 3x sehari, yaitu pagi, siang, dan
malam hari. Menu sehari-hari seringkali diolah oleh istrinya, antara lain nasi,
tahu, tempe,ikan, ayam dan sop sayur. Ny. Pitriawati biasa menggunakan air
pompa untuk mencuci piring dan makanan serta menggunakan air tersebut
untuk digunakan sebagai air minum setelah dimasak. Keluarga Tn. Syaiful
mencuci tangan sebelum makan dan terkadang menggunakan sabun untuk
mencuci tangan.

d. Riwayat Obstetri dan Pola Asuh Anak

Saat ini tidak ada wanita yang sedang hamil tetapi ada balita dalam
keluarga Tn. Syaiful yaitu anak kedua yang bernama Nasril usia 23 bulan.
Kedua anak Tn. Syaiful lahir secara normal di rumah dibantu oleh bidan. Pada
saat Ny. Pitriawati mengandung kedua anaknya, beliau tidak pernah
mengalami sakit, tekanan darah tinggi, maupun bengkak pada kakinya.
Menurut pengakuan ibunya, kedua anak sudah diberikan imunisasi di
posyandu, namun masih belum lengkap.

e. Kebiasaan Berobat

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga Tn. Syaiful
kadang berobat ke mantri ataupun ke dokter klinik terdekat yaitu puskesmas
Bangkonol. Seluruh anggota keluarga Tn. Syaiful memiliki kartu BPJS.

f. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, riwayat stroke, atau TB

33
tidak pernah didapatkan oleh anggota keluarga Tn. Syaiful. Tn.Syaiful
mengatakan bahwa seluruh keluarganya tidak pernah ada yang memiliki sakit
hipertensi, diabetes, asam urat maupun TB. Penyakit yang sering dialami
antara lain demam, flu, batuk, pilek.

g. Perilaku dan Aktivitas Sehari-hari

Keluarga Tn. Syaiful tidak terbiasa olah raga dan sudah berhenti
merokok sejak lama. Keluarga Tn. Syaiful mempunyai kebiasaan mandi 1-2
kali sehari dan sikat gigi rutin. Kegiatan bersih-bersih rumah, seperti
menyapu dilakukan 1-2 kali sehari. Dalam satu bulan sekali Ny. Pitriawati
menjemur kasur dan bantalnya di depan rumah 2 minggu sekali.

Tabel 1.20 Faktor Internal Keluarga Tn. Syaiful


No. Faktor Internal Permasalahan
1. Kebiasaan Merokok Tn. Syaiful sudah berhenti merokok

Keluarga Tn. Syaiful tidak ada yang memiliki


2. Olah raga kebiasaan berolahraga, bahkan hampir tidak
pernah melakukan olahraga.

Ny. Pitriawati memasak sendiri dengan komposisi


makanan mengkonsumsi nasi, tahu, tempe, Ikan, dan
3. Pola Makan sayur. Mereka jarang makan buah dan hampir

tidak pernah minum susu.

Pola Pencarian Apabila sakit, mereka pergi membeli obat di


warung. Apabila tidak sembuh, mereka baru berobat
4. Pengobatan
ke mantri atau dokter terdekat yaitu Puskesmas
Bangkonol.

34
No. Faktor Internal Permasalahan

Tidak ada kebiasaan menabung dalam keluarga karena


5. Menabung uang gaji selalu habis untuk kebutuhan
sehari-hari.

a. Tn. Syaiful bekerja sebagai supir.


6. Aktivitas Sehari-Hari b. Ny. Pitriawati sebagai ibu Rumah tangga.

Tabel 1.21 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Syaiful

No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan 2
Luas rumah 13,3 m × 5,2 m dengan lantai keramik.

Satu ruang tamu yang bergabung dengan ruang keluarga


Ruangan berukuran 5,6 m × 3,2 m, satu kamar tidur masing–masing
berukuran 2,4 m × 2 m dan 2,4 m × 2 m, ruang dapur dan
2. dalam
Rumah kamar mandi yg menjadi satu dengan ukuran
kamar mandi sendiri berukuran 2,5 m × 1 m.

Memiliki ventilasi, 1-2 jendela di masing-masing ruangan


3. Ventilasi dengan ukuran 1,12 m × 0,08 m, yang tidak dibuka dan
dibuka ketika bersih-bersih rumah 2 kali dalam sebulan.

a. Terdapat dua buah pintu depan dan belakang.


b. Terdapat jendela yang jarang dibuka.

4. Pencahayaan c. Terdapat 7 buah lampu di dalam rumah

5. MCK Memiliki jamban yang bersebelahan dengan dapur dan


terdapat pintu.

6. Sumber Air Menggunakan air dari pompa air, yang digunakan untuk

mandi, mencuci dan memasak.

7. Saluran Limbah rumah tangga cair di buang ke selokan


Pembuangan

35
Limbah

Sampah rumah tangga dibuang di samping rumah. Sampah


Tempat ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak lalu dibuang
ke depan dan belakang rumah dan kemudian
8. Pembuangan
Sampah dibakar.

Di samping kiri dan kanan rumah terdapat rumah tetangga.


Di halaman depan terdapat kandang ayam. Di lingkungan
sekitar rumah keluarga Tn. Syaiful masih banyak sampah
Lingkungan yang berserakan dikarenakan penduduk sekitar kurang
peduli dengan lingkungannya. Masih banyak tetangganya
9. sekitar Rumah yang membuang sampah di pekarangan rumah.

h. Daftar Masalah Keluarga Tn. Syaiful

1) Medis

Sering ISPA dan demam.

2) Non-Medis

Kebiasaan keluarga Tn. Syaiful tidak pernah berolahraga

Rumah sehat (lingkungan rumah yang kotor akibat sampah


berserakan, ventilasi serta pencahayaan yang kurang, dan jendela
tidak pernah dibuka).

2. Keluarga Tn. Mamat

Keluarga Tn. Mamat bertempat tinggal di Kampung Mesjid RT 001 /


RW 002 Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Mamat sebagai kepala
keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Nurlela dan tiga orang anak
laki-laki, anak pertama bernama Muhammad Ivan Adriansyah berusia 15
tahun, anak kedua bernama M. Kaisar Wijaya berusia 7 tahun dan anak ketiga
bernama Abdul Jagar yang baru berusia 2 minggu.

36
Tabel 1.22 Data Keluarga Tn. Mamat

NO NAMA USIA JENIS STATUS PENDIDIKAN PEKERJAAN

KELAMIN TERAKHIR

1. Tn. 38 tahun Laki-laki Suami SD Pedagang


Mamat

2. Ny. 38 tahun Perempuan Istri SD Ibu Rumah


Nurlela Tangga

3. M. Ivan 15 tahun Laki-laki Anak SMP Pelajar


pertama
Adriansyah
4. M. Kaisar 7 tahun Laki-laki Anak SD Pelajar
Wijaya kedua

5 Abdul 2 Laki-laki Anak - -


ketiga
Jagar minggu

Tn. Mamat,Tn. Mamat berusia 38 tahun, bekerja sebagai seorang


pedagang manisan sejak 10 tahun yang lalu dengan penghasilan berkisar
antara Rp 50.000,00 perhari. Pendapatan Tn. Mamat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memenuhi kebutuhan sekolah
anaknya. Ny. Nurlela berusia 38 tahun sehari-hari sebagai ibu rumah tangga
bertugas untuk mengurus keperluan anak-anaknya.

a. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. Mamat tinggal di rumah mereka, dengan luas tanah sekitar
2
54 m dan luas bangunan berukuran 7,5 m × 5,6 m. Bangunan tempat tinggal
tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang tamu yang juga menjadi ruang
keluarga berukuran 5,6 m x 3,2 m, satu kamar tidur berukuran 2,4 m × 2,4 m.
Terdapat satu dapur berukuran 3 m x 2,5 m dan kamar mandi yg berada diluar
bangunan rumah yang hanya ditutupi oleh seng berukuran 2 m x 1 m.
37
Sebagian ruangan di dalam rumah ini berlantaikan keramik tanpa alas karpet,
sebagian berlantaikan semen tanpa alas karpet dan beratapkan seng. Dinding
rumah terbuat dari batu bata dan semen. Rumah ini terletak di tengah
pemukiman sawah dan kebun.
Untuk ventilasi, rumah ini memiliki 3-4 jendela pada masing-masing
ruangan yang berukuran 0,2 m × 0,08 m, jendela tersebut setiap hari dibuka
pada pagi hari lalu ditutup saat sore hari dan jarang dibersihkan. Rumah ini
juga memiliki 3 pintu, 1 pintu utama di bagian depan, 1 pintu di bagian
samping dan 1 pintu di dapur belakang.

Keluarga ini memiliki kamar mandi sekaligus jamban yang berada di


luar rumah yang letaknya bersebelahan dengan dapur dengan sekat tembok
kecil. Kamar mandi yang sekaligus jamban tersebut tidak mempunya pintu
hanya ditutupi oleh seng Menurut keluarga Tn. Mamat, keluarganya
menggunakan kamar mandi ini untuk mandi, membuang air kecil, membuang
air besar, mencuci baju, dan mencuci piring. Untuk saluran pembuangannya
dialirkan ke tanah di belakang rumah yang langsung berhubungan dengan
kebun.

Gambar 1.4 Denah Rumah Tn. Mamat

b. Lingkungan Pemukiman

Rumah keluarga Tn. Mamat terletak di pemukiman jarang penduduk.


Bagian depan rumah Tn. Mamat merupakan halaman yang langsung
berhubungan dengan kebun milik warga. Tepat di belakang rumahnya juga
terdapat kebun yang digunakan untuk mengalirkan air bekas cucian dan untuk
mengumpulkan dan membakar sampah sehari-hari.

38
c. Pola Makan

Keluarga Tn. Mamat rata-rata makan 3x sehari, yaitu pagi, siang, dan
malam hari. Menu sehari-hari seringkali diolah oleh istrinya, antara lain nasi,
sayuran dan ikan. Keluarga Tn. Mamat jarang makan daging dan ayam kecuali
jika sedang ada acara tertentu. Ny. Nurlela biasa menggunakan air dari fasilitas
umum milik pemerintah yang terdapat di dekat rumah untuk mencuci piring dan
makanan, serta menggunakan air tersebut untuk digunakan sebagai air minum
setelah dimasak. Keluarga Tn. Mamat mencuci tangan sebelum makan dan
terkadang menggunakan sabun untuk mencuci tangan.

d. Riwayat Obstetri dan Pola Asuh Anak

Saat ini tidak ada wanita yang sedang hamil dan terdapat satu balita
dalam keluarga Tn. Mamat, yaitu anak ketiga yang baru berusia dua minggu.
Ketiga anak Tn. Mamat lahir secara normal di rumah dibantu oleh bidan. Pada
saat Ny. Nurlela mengandung ketiga anaknya, beliau mengatakan pernah
mengalami sakit yaitu wasir dan mengaku tidak pernah sakit tekanan darah
tinggi, maupun bengkak pada kakinya. Menurut pengakuan ibunya, ketiga
anak sudah diberikan imunisasi di posyandu, namun lupa sudah berapa kali
diberikan dan imunisasi apa saja.

e. Kebiasaan Berobat

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga Tn. Mamat
langsung berobat ke puskesmas Bangkonol yang berada didekat desa. Seluruh
anggota keluarga Tn. Mamat memiliki kartu BPJS.

f. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, riwayat stroke, atau TB


tidak pernah didapatkan oleh anggota keluarga Tn. Mamat. Tn. Mamat
mengatakan bahwa seluruh keluarganya tidak pernah ada yang memiliki sakit
hipertensi, diabetes, asam urat maupun TB. Penyakit yang sering dialami antara

39
lain demam, flu, batuk, pilek, dan diare.
g. Perilaku dan Aktivitas Sehari-hari

Sehari- harinya Tn. Mamat mengaku tidak merokok. Keluarga Tn.


Mamat tidak terbiasa olah raga. Keluarga Tn. Mamat mempunyai kebiasaan
mandi 1-2 kali sehari dan sikat gigi rutin. Kegiatan bersih-bersih rumah,
seperti menyapu dilakukan 1-2 kali sehari. Ny. Nurlela mengatakan tidak
pernah menjemur kasur ataupun bantalnya.
Tabel 1.23 Faktor Internal Keluarga Tn. Mamat
No. Faktor Internal Permasalahan
Tn. Mamat tidak merokok
1. Kebiasaan Merokok

Keluarga Tn. Mamat tidak ada yang memiliki


2. Olah raga kebiasaan berolahraga, bahkan hampir tidak pernah
melakukan olahraga.

Ny. Nurlela memasak sendiri dengan komposisi makanan


nasi, ikan, dan sayur. Mereka jarang makan buah dan hampir
3. Pola Makan tidak pernah minum susu.

Pola Pencarian Apabila sakit, mereka pergi ke puskesms Koroncong untuk


berobat
4. Pengobatan

Tidak ada kebiasaan menabung dalam keluarga karena uang


5. Menabung gaji selalu habis untuk kebutuhan
sehari-hari.

a. Tn. Mamat bekerja sebagai pedagang.


6. Aktivitas Sehari-Hari b. Ny. Nurlela bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga.

40
Tabel 1.24 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Mamat

No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan Luas rumah 7,5m × 5,6 m dengan lantai sebagian keramik
dan sebagian semen tanpa alas.

Satu ruang tamu yang bergabung dengan ruang keluarga


Ruangan dalam berukuran 5,6 m x 3,2 m, satu kamar tidur berukuran 2,4 m ×
2,4 m, satu dapur dengan ukuran 3 cm x 2,5 cm dan kamar
2. Rumah
mandi berukuran 2 m × 1 m.
Memiliki ventilasi, 3-4 jendela di masing-masing ruangan
3. Ventilasi dengan ukuran 0,2 m × 0,08 m, yang dibuka namun jarang
dibersihkan

a. Terdapat 3 buah pintu, satu di , satu di samping dan satu


4. Pencahayaan di belakang rumah.
b. Terdapat jendela pada kamar yang jarang dibuka.

c. Terdapat 2 buah lampu di dalam rumah, berwarna


putih.

5. MCK Memiliki jamban yang terdapat diluar bangunan rumah, tidak


memiliki pintu dan bersebelahan dengan dapur

6. Sumber Air Menggunakan air dari fasilitas umum milik pemerintah,


yang digunakan untuk mandi, mencuci, minum dan
memasak.

7. Saluran Pembuangan Limbah rumah tangga cair di buang ke tanah kebun belakang
Limbah rumah

Sampah rumah tangga dibuang di belakang rumah. Sampah


Tempat Pembuangan ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak kemudian
dibakar.
8. Sampah

41
No Kriteria Permasalahan
Di samping kanan dan di depan rumah terdapat rumah
tetangga dan di samping kari terdapat kebun. Di belakang
rumah terdapat kebun yang sering digunakan untuk
Lingkungan sekitar membakar sampah. Di lingkungan sekitar rumah keluarga
Tn. Mamat masih banyak sampah yang berserakan
9. Rumah dikarenakan penduduk sekitar kurang peduli dengan
lingkungannya. Masih banyak tetangganya yang membuang
sampah di pekarangan rumah.

h. Daftar Masalah Keluarga Tn. Mamat

1) Medis

Sering ISPA, diare, dan demam.

Ny. Nurlela menderita wasir.

2) Non-Medis

Pola makan dan gizi yang tidak seimbang.

Rumah sehat (lingkungan rumah yang kotor akibat sampah


berserakan, ventilasi serta pencahayaan yang kurang dan jarang
dibersihkan)
Jarang mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir saat
sebelum maupun setelah makan.
Tidak pernah berolahraga.

3. Keluarga Tn. Aa Mulyawan

Keluarga Tn. Aa Mulyawan bertempat tinggal di Kampung Pasir


Bango RT 001/ RW 002 Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Aa Mulyawan
sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Sutenti dan
dua orang anak. Anak pertama bernama Siti Kayla berusia 5 tahun dan anak

42
kedua bernama Muhammad Ardiansyah berusia 23 bulan.

Tabel 1.25 Data Keluarga Tn. Aa Mulyawan


NO NAMA USIA JENIS STATUS PENDIDIKAN PEKERJAAN

KELAMIN TERAKHIR

1. Tn. Aa 31 tahun Laki-laki Suami SD Buruh


Mulyawan

2. Ny. Sutenti 26 tahun Perempuan Istri SMA Pedagang


3. Siti Kayla 5 tahun Perempuan Anak PAUD Pelajar
Pertama

4. Muhammad 23 bulan Laki-laki Anak Tidak -


Ardiansyah Kedua Sekolah

Tn. Aa Mulyawan, berusia 31 tahun, bekerja sebagai buruh ternak


ayam dengan penghasilan berkisar Rp1.500.000,00 perbulan. Pendapatan Tn.
Aa Mulyawan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan
memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Ny. Sutenti berusia 26 tahun bekerja
sebagai pedagang sembako di rumahnya dengan penghasilan berkisar antara
Rp 300.000,00 dan bertugas mengurus anak-anaknya di rumah.

a. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. Aa Mulyawan tinggal di rumah mereka, dengan luas


2
tanah sekitar 50 m dan luas bangunan berukuran 9,01 m × 4,97 m. Bangunan
tempat tinggal tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang tamu sekaligus
ruang keluarga yang berukuran 4 m × 3 m, satu kamar tidur berukuran 1,97 m
× 4 m, ruang jualan yang berukuran 3 m x 3 m, ruang dapur 3 m x 2 m, dan
kamar mandi berukuran 1 m × 1 m yang belum jadi dipisah dengan pintu
dapur. Ruangan-ruangan di dalam rumah ini beralaskan lantai dan beratapkan
genteng. Dinding rumah terbuat dari batu bata dan semen. Rumah ini terletak
di tengah pemukiman sawah.

43
Untuk ventilasi, rumah ini memiliki 13 ventilasi dengan ukuran 0,35
m x 0,08 m dan 4 jendela pada ruang tamu sekaligus ruang keluarga yang
berukuran 1,25 m × 0,03 m, yang dibuka setiap hari. Rumah ini juga memiliki
2 pintu, 1 pintu utama di bagian depan dan 1 pintu di dapur belakang.

Keluarga ini belum memiliki kamar mandi sekaligus jamban yang


dapat digunakan Menurut keluarga Tn. Aa Mulyawan, keluarganya
menggunakan kamar mandi dan jamban tetangga untuk mandi, membuang air
kecil dan membuang air besar. Mencuci baju dan mencuci piring
menggunakan fasilitas umum desa di depan rumahnya. Untuk saluran
pembuangannya dialirkan ke selokan.

Teras
RuangKeluarga
Dapur

Warung
Kamar
Tidur

Gambar 1.5 Denah Rumah Tn. Aa Mulyawan

b. Lingkungan Pemukiman

Rumah keluarga Tn. Aa Mulyawan terletak di pemukiman jarang


penduduk. Bagian depan rumah Tn. Aa Mulyawan merupakan halaman yang
digunakan untuk mengumpulkan dan membakar sampah sehari-hari. Tepat di
belakang rumahnya terdapat satu kandang burung.

c. Pola Makan

Keluarga Tn. Aa Mulyawan rata-rata makan 2-3x sehari, yaitu pagi,


siang, dan malam hari. Menu sehari-hari seringkali diolah oleh istrinya, antara
44
lain nasi, tahu, tempe, dan sayur bayam. Keluarga Tn. Aa Mulyawan jarang
makan ikan, daging, dan ayam kecuali jika sedang ada acara atau ketika ada
permintaan anak. Ny. Aa Mulyawan biasa menggunakan air fasilitas umum
desa untuk mencuci piring dan pakaian serta menggunakan air rebusan untuk
diminum. Keluarga Tn. Aa Mulyawan sSutentilu mencuci tangan sebelum dan
sesudah makan menggunakan sabun.

d. Riwayat Obstetri dan Pola Asuh Anak

Saat ini tidak ada wanita yang sedang hamil dalam keluarga Tn. Aa
Mulyawan. Kedua anak Tn. Aa Mulyawan lahir secara normal di rumah dibantu
oleh bidan. Pada saat Ny. Sutenti mengandung kedua anaknya, beliau tidak
pernah mengalami sakit, tekanan darah tinggi, maupun bengkak pada kakinya.
Menurut pengakuan ibunya, kedua anak sudah diberikan imunisasi di
posyandu, namun lupa sudah berapa kali diberikan dan imunisasi apa saja.

e. Kebiasaan Berobat

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga Tn. Aa


Mulyawan langsung berobat ke Puskesmas terdekat, yaitu Puskesmas
Bangkonol. Anggota keluarga Tn. Aa Mulyawan yang memiliki kartu BPJS
hanya ia dan istrinya.

f. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, riwayat stroke, atau TB


tidak pernah didapatkan oleh anggota keluarga Tn. Aa Mulyawan. Tn.Aa
Mulyawan mengatakan bahwa seluruh keluarganya tidak pernah ada yang
memiliki sakit hipertensi, diabetes, asam urat maupun TB. Penyakit yang sering
dialami antara lain diare, demam, flu, batuk, dan pilekoleh anak keduanya.

g. Perilaku dan Aktivitas Sehari-hari

Tn. Aa Mulyawan merupakan perokok aktif dengan konsumsi rokok 3


batang sehari namun tidak merokok di dalam rumah. Keluarga Tn. Aa Mulyawan

45
tidak terbiasa olah raga. Keluarga Tn. Aa Mulyawan mempunyai kebiasaan
mandi 1-2 kali sehari dan sikat gigi rutin. Kegiatan bersih-bersih rumah, seperti
menyapu dilakukan setip hari. Dalam satu bulan sekali Ny. Sutenti menjemur
kasur dan bantalnya di depan rumah.

Tabel 1.26 Faktor Internal Keluarga Tn. Aa Mulyawan


No. Faktor Internal Permasalahan
Tn. Aa Mulyawan mengkonsumsi rokok 3 batang
1. Kebiasaan Merokok sehari. Tn. Aa Mulyawan merokok di luar rumah.

Keluarga Tn. Aa Mulyawan tidak ada yang memiliki


2. Olah raga kebiasaan berolahraga, bahkan hampir tidak
pernah melakukan olahraga.

Ny. Sutenti memasak sendiri dengan komposisi


makanan mengkonsumsi nasi, tahu, tempe, dan
3. Pola Makan sayur bayam. Mereka jarang makan ikan, daging,

buah dan hampir tidak pernah minum susu.

Pola Pencarian Apabila sakit, mereka berobat di Puskesmas


terdekat.
4. Pengobatan

Tidak ada kebiasaan menabung dalam keluarga


5. Menabung karena uang gaji selalu habis untuk kebutuhan
sehari-hari.

a. Tn. Aa Mulyawan bekerja sebagai buruh.


6. Aktivitas Sehari-Hari b. Ny. Sutenti bekerja sebagai pedagang sembako
di rumahnya.

46
Tabel 1.27 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Aa Mulyawan
No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan Luas rumah 9,01 m × 4,97 m beralaskan lantai.

Satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga berukuran 4 m × 3


Ruangan dalam m, satu kamar tidur berukuran 1,97 m × 4 m, ruang jualan 3
m x 3 m, ruang dapur 3 m x 2 m dan kamar mandi yang
2. Rumah
belum dapat digunakan
berukuran 1 m × 1 m.

Memiliki ventilasi, 13 ventilasi berukuran 0, 35 m x 0,08 dan


3. Ventilasi 4 jendela di ruang tamu dengan ukuran 1,25 m × 0,03 m,
yang dibuka setiap hari dan dibersihkan 1 kali dalam
sebulan.

a. Terdapat satu buah pintu depan dan belakang.


b. Tidak ada jendela pada kamar.

4. Pencahayaan c. Terdapat 5 buah lampu di dalam rumah, berwarna


putih.

5. MCK Belum memiliki jamban yang dapat digunakan, jamban


tersebut berada di halaman belakang rumah yang dipisahkan
oleh pintu dapur.

6. Sumber Air Menggunakan air dari fasilitas umum desa, yang digunakan
untuk mandi, mencuci dan memasak.

7. Saluran Pembuangan Limbah rumah tangga cair di buang ke selokan.


Limbah

Sampah rumah tangga dibuang di halaman belakang rumah.


Tempat Pembuangan Sampah ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak lalu
dibakar.
8. Sampah

47
No Kriteria Permasalahan
Di samping kiri dan kanan rumah terdapat rumah tetangga
Di belakang rumah terdapat satu kandang burung. Di
lingkungan sekitar rumah keluarga Tn. Aa Mulyawan masih
Lingkungan sekitar banyak sampah yang berserakan dikarenakan penduduk
sekitar kurang peduli dengan lingkungannya. Masih banyak
9. Rumah tetangganya yang membuang sampah di pekarangan rumah.

h. Masalah Keluarga Tn. Aa Mulyawan

1) Medis

An. Muhammad Ardiansyah sering ISPA, diare, dan demam.

2) Non-Medis

Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di depan rumah.

Pola makan dan gizi yang tidak seimbang.

Rumah sehat (lingkungan rumah yang kotor akibat sampah


berserakan, ventilasi serta pencahayaan yang kurang, dan jendela
jarang dibuka).
Tidak pernah berolahraga.

4. Keluarga Tn. Sutisna

Keluarga Tn. Sutisna bertempat tinggal di Kampung Pasir Bango RT


001/ RW 002 Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Sutisna
sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Uun dan dua
orang anak. Anak pertama bernama Muhammad Misja berusia 5 tahun dan
anak kedua bernama Muhammad Hamdan berusia 7 bulan.

48
Tabel 1.28 Data Keluarga Tn. Sutisna

NO NAMA USIA JENIS STATUS PENDIDIKAN PEKERJAAN

KELAMIN TERAKHIR

1. Tn. Sutisna 28 tahun Laki-laki Suami SMP Mekanik

2. Ny. Uun 26 tahun Perempuan Istri SMP -


Herawati

3. Muhammad 5 tahun Laki-laki Anak TK Pelajar


Misja Pertama

4. Muhammad 7 bulan Laki-laki Anak Tidak -


Hamdan Kedua Sekolah

Tn. Sutisna, berusia 28 tahun, bekerja sebagai mekanik dengan


penghasilan berkisar Rp 3,000,000,00 perbulan. Pendapatan Tn. Sutisna
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memenuhi
kebutuhan sekolah anaknya. Ny. Uun Herawati berusia 26 tahun berperan
sabagai ibu rumah tangga bertugas mengurus rumah dan anak-anaknya.
a. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. Sutisna tinggal di rumah mereka, dengan luas tanah


2
sekitar 70 m dan luas bangunan berukuran 11,2 m × 5,6 m. Bangunan tempat
tinggal tidak bertingkat dan terdiri dari satu ruang tamu yang berukuran 2,8 m
× 2,8 m dan ruang keluarga yang berukuran 4 m × 2,8 m, tiga kamar tidur
berukuran 2,8 m × 3,2 m, 2,8 m × 2,8 m dan 2,8 m × 2 m. kamar mandi
berukuran 3 m × 1 m. Ruangan-ruangan di dalam rumah ini beralaskan lantai
dan beratapkan genteng. Dinding rumah terbuat dari batu bata dan semen.
Rumah ini terletak di tengah pemukiman.
Untuk ventilasi, rumah ini memiliki 6 jendela pada ruang tamu
sekaligus ruang keluarga yang berukuran 0,03 m × 0,1 m, yang dibuka
kadang-kadang. Rumah ini juga memiliki 2 pintu, 1 pintu utama di bagian
depan dan 1 pintu di dapur belakang.
49
Keluarga ini memiliki kamar mandi sekaligus jamban yang dapat
digunakan dan berada di dalam rumah yang letaknya bersebelahan dengan
dapur dengan sekat tembok kecil. Kamar mandi sekaligus jamban tersebut
mempunyai pintu. Menurut keluarga Tn. Sutisna, Keluarganya menggunakan
kamar mandi ini untuk mandi, buang air kecil, buang air besar, mencuci baju,
dan mencuci piring. Untuk saluran pembuanganya di resapkan ketanah dan
mencemarkan lingkungan.

Keluar

Kamar
Ruang

Tidur
Kamar

Dapur
Mandi
Kamar
Kamar

RuangTamu

Teras
Tidur

Gambar 1.6 Denah Rumah Tn. Sutisna

b. Lingkungan Pemukiman

Rumah keluarga Tn. Sutisna terletak di pemukiman jarang penduduk.


Bagian depan rumah Tn. Sutisna terdapat satu kandang ayam. Tepat di
belakang rumahnya terdapat halaman yang digunakan untuk mengumpulkan
dan membakar sampah sehari-hari.
c. Pola Makan

Keluarga Tn. Sutisna rata-rata makan 2-3x sehari, yaitu pagi, siang,
dan sore hari. Menu sehari-hari seringkali diolah oleh istrinya, antara lain nasi
dengan lauk ikan, tahu, tempe, dan sayur bening. Keluarga Tn. Sutisna jarang
makan daging, dan ayam kecuali jika sedang ada acara atau ketika ada
permintaan anak. Ny. Uun biasa menggunakan air fasilitas umum desa untuk
mencuci piring dan pakaian serta menggunakan air rebusan untuk diminum.
Keluarga Tn. Sutisna selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
menggunakan sabun.
50
d. Riwayat Obstetri dan Pola Asuh Anak

Saat ini tidak ada wanita yang sedang hamil dalam keluarga Tn. Sutisna.
Anak Tn.Sutisna yang pertama lahir dibantu oleh paraji dan yang kedua dibantu
oleh bidan. Pada saat Ny. Uun mengandung kedua anaknya, beliau tidak pernah
mengalami sakit, tekanan darah tinggi, maupun bengkak pada kakinya. Menurut
pengakuan ibunya, kedua anak sudah diberikan imunisasi di posyandu, namun
lupa sudah berapa kali diberikan dan imunisasi apa saja.

e. Kebiasaan Berobat

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga Tn. Sutisna
langsung berobat ke bidan didekat rumahnya. Anggota keluarga Tn. Sutisna
tidak memiliki BPJS maupun jaminan kesehatan lainya.

f. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, riwayat stroke, atau TB


tidak pernah didapatkan oleh anggota keluarga Tn. Sutisna. Tn. Sutisna
mengatakan bahwa Ibu dari Ny. Uun mempunyai riwayat hipertensi dan
meninggal karena stroke yang dialaminya. Penyakit yang sering dialami
antara lain flu, batuk, dan pilek oleh anak keduanya.

g. Perilaku dan Aktivitas Sehari-hari

Tn. Sutisna merupakan perokok aktif dengan konsumsi rokok 1-2


bungkus sehari dan terkadang merokok di dalam rumah. Keluarga Tn. Sutisna
tidak terbiasa olah raga. Keluarga Tn. Sutisna mempunyai kebiasaan mandi 3
kali sehari dan sikat gigi rutin 2x/hari. Kegiatan bersih-bersih rumah, seperti
menyapu dilakukan setip hari. Dalam 1 minggu Ny. Uun menjemur Kasur dan
bantalnya 2x di depan rumah.

51
Tabel 1.29 Faktor Internal Keluarga Tn. Sutisna

No. Faktor Internal Permasalahan


Tn. Sutisna mengkonsumsi rokok 1-2 bungkus sehari. Tn.
1. Kebiasaan Merokok Sutisna kadang merokok di dalam rumah.

Keluarga Tn. Sutisna tidak ada yang memiliki kebiasaan


2. Olah raga berolahraga, bahkan hampir tidak pernah melakukan olahraga.

Ny. Uun memasak sendiri dengan komposisi makanan


mengkonsumsi nasi, ikan, tahu, tempe, dan sayur bening.
3. Pola Makan Mereka jarang makan daging, ayam, buah dan hampir tidak

pernah minum susu.


Pola Apabila sakit, mereka tidak pernah beli obat warung dan
berobat ke bidan dekat rumahnya.
4. Pencarian
Pengobatan

Tidak ada kebiasaan menabung dalam keluarga karena uang


5. Menabung gaji selalu habis untuk kebutuhan
sehari-hari.

c. Tn. Sutisna bekerja sebagai mekanik.proyek dan pulang


6. Aktivitas Sehari- 1x dalam 2 minggu
d. Ny. Uun sebagai ibu rumah tangga mengurus rumah dan
Hari
anak-anaknya.

52
Tabel 1.30 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Sutisna

No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan Luas rumah 11,2 m × 5,6 m beralaskan lantai.

Satu ruang tamu berukuran 2,8 m × 2,8 m, tiga kamar tidur


Ruangan dalam berukuran 2,8 m × 3,2 m, 2,8 m × 2,8 m dan 2,8 m × 2 m, kamar
mandi berukuran 3 m × 1 m.
2. Rumah

Memiliki ventilasi, 6 jendela di ruang tamu dengan ukuran 1


3. Ventilasi 0,06 m × 0,1 m, yang dibuka kadang-kadang dan tidak
pernah dibersihkan

a. Terdapat satu buah pintu depan dan belakang.


b. Tidak ada jendela pada kamar.

4. Pencahayaan c. Terdapat 5 buah lampu di dalam rumah, berwarna


putih.

5. MCK Sudah memiliki jamban yang dapat digunakan, jamban


tersebut berada di dalam rumah yang dipisahkan oleh pintu.

6. Sumber Air Menggunakan air dari fasilitas umum desa, yang digunakan
untuk mandi, mencuci dan memasak.

7. Saluran Pembuangan Limbah rumah tangga cair resapkan ke tanah tetapi


Limbah mencemari sumber air.

Sampah rumah tangga dibuang di halaman belakang rumah.


Tempat Pembuangan Sampah ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak lalu
dibakar.
8. Sampah

53
No Kriteria Permasalahan
Di samping kiri dan kanan rumah terdapat rumah tetangga
Bagian depan rumah Tn. Sutisna terdapat satu kandang ayam. Di
lingkungan sekitar rumah keluarga Tn. Sutisna masih banyak
Lingkungan sekitar sampah yang berserakan dikarenakan penduduk sekitar
kurang peduli dengan lingkungannya. Masih banyak
9. Rumah tetangganya yang membuang sampah di pekarangan rumah.

h. Daftar Masalah Keluarga Tn. Sutisna

1) Medis

1. An. Muhammad Hamdan sering ISPA.

2) Non-Medis

1. Kebiasaan anggota keluarga yang kadang merokok di dalam


rumah.

2. Pola makan dan gizi yang tidak seimbang.

3. Rumah sehat (lingkungan rumah yang kotor akibat


sampah berserakan, ventilasi serta pencahayaan yang
kurang, dan jendela jarang dibuka).
4. Tidak pernah berolahraga.

5. Keluarga Tn. Asep Saipul

Keluarga Tn. Asep Saipul bertempat tinggal di Kampung Pasirkarag


RT 001 / RW 001 Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. Asep Saipul
sebagai kepala keluarga dengan seorang istri yang bernama Ny. Siti Nurasih
dengan satu orang anak laki-laki bernama Abyan berusia 6 bulan dengan
kedua orang tua Ny. Siti Nurasih bernama Tn. Ahmad berusia 63 tahun dan
Ny. Maneng berusia 55 tahun dengan kedua adik Ny. Siti Nurasih bernama
Puput berusia 14 tahun dan M. Sahrul berusia 12 tahun.

54
Tabel 1.31 Data Keluarga Tn. Asep Saipul

NO NAMA USIA JENIS STATUS PENDIDIKAN PEKERJAAN

KELAMIN TERAKHIR

1. Tn.
Asep 33 tahun Laki-laki Suami SMA Buruh
Saipul

2. Ny. Siti 23 tahun Perempuan Istri SMP Ibu Rumah


Nurasih Tangga

3. Abyan Anak
6 bulan Laki-laki - -
Araya pertama

4. Tn. 63 tahun Laki-laki Orang SD Petani


Ahmad Tua

5. Ny. Orang Ibu Rumah


Maneng 55 tahun Perempuan Tua SD Tangga

6. Puput 14 tahun Perempuan Adik SMP Pelajar

7. M. Sahrul 12 tahun Laki-laki Adik SD Pelajar

Tn. Asep Saipul, berusia 33 tahun, bekerja sebagai seorang buruh di Pasirkarag
dengan penghasilan berkisar antara Rp 100.000,00 perhari. Pendapatan Tn. Asep Saipul
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan memenuhi kebutuhan
anaknya. Ny. Siti Nurasih berusia 23 tahun bekerja sebagai ibu rumah tangga di rumah
bertugas untuk mengurus anak-anaknya.

a. Bangunan Tempat Tinggal

Keluarga Tn. Asep Saipul tinggal di rumah mereka, dengan luas tanah sekitar 54

55
2
m dan luas bangunan berukuran 9 m × 6 m. Bangunan tempat tinggal tidak bertingkat
dan terdiri dari satu ruang tamu berukuran 2 m × 4 m, tiga kamar tidur masing–masing
berukuran 3 m × 3 m, 2 m x 2 m dan 2 m × 2 m, ruang dapur dan kamar mandi yg
disekat tembok dengan ukuran kamar mandi sendiri berukuran 2 m × 2 m dan dapur 4 m
× 3 m. Sebagian ruangan di dalam rumah ini berlantaikan semen dan beratapkan
genteng. Dinding rumah terbuat dari batu bata dan semen. Rumah ini terletak di tengah
pemukiman sawah.

Untuk ventilasi, rumah ini memiliki 1-2 jendela pada masing-masing ruangan
yang berukuran 0,1 m × 0.015 m, namun jendela tersebut tidak dibuka dengan alasan
jendela tidak dapat dibuka. Rumah ini juga memiliki 2 pintu, 1 pintu utama di bagian
depan dan 1 pintu di dapur belakang. Keluarga ini memiliki kamar mandi sekaligus
jamban yang berada di dalam rumah yang letaknya bersebelahan dengan dapur dengan
sekat tembok. Kamar mandi yang sekaligus jamban tersebut mempunya pintu. Menurut
keluarga Tn. Asep Saipul, keluarganya menggunakan kamar mandi ini untuk mandi,
membuang air kecil, membuang air besar, mencuci baju, dan mencuci piring. Untuk
saluran pembuangannya dialirkan ke selokan.

Gambar 1.7 Denah Rumah Tn.Asep Saipul

a. Lingkungan Pemukiman

Rumah keluarga Tn. Asep Saipul terletak di pemukiman jarang penduduk.


Bagian depan rumah Tn. Asep Saipul merupakan halaman yang digunakan untuk

56
mengumpulkan dan membakar sampah sehari-hari.

b. Pola Makan

Keluarga Tn. Asep Saipul rata-rata makan 3x sehari, yaitu pagi, siang, dan
malam hari. Menu sehari-hari seringkali diolah oleh istrinya, antara lain nasi,
tahu, tempe, telur, jengkol, dan sayur. Keluarga Tn. Asep Saipul jarang makan
ikan, daging, dan ayam kecuali jika sedang ada acara atau ketika ada permintaan
anak. Ny. Siti Nurasih biasa menggunakan air sumur untuk mencuci piring dan
makanan, serta menggunakan air sumur yang dimasak untuk minum. Keluarga
Tn. Asep Saipul jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

c. Riwayat Obstetri dan Pola Asuh Anak

Saat ini tidak ada wanita yang sedang hamil dan ada satu balita dalam
keluarga Tn. Asep Saipul. Anak Tn. Asep Saipul lahir secara normal di tempat
praktik bidan oleh bidan. Pada saat Ny. Siti Nurasih mengandung anaknya,
beliau tidak pernah mengalami sakit, tekanan darah tinggi, maupun bengkak
pada kakinya. Menurut pengakuan ibunya, anak sudah diberikan imunisasi di
posyandu sebanyak dua kali yaitu DPT dan BCG

d. Kebiasaan Berobat

Ketika ada anggota keluarga yang sakit, biasanya keluarga Tn. Asep Saipul
langsung berobat ke dokter di puskesmas terdekat. Seluruh anggota keluarga Tn.
Asep Saipul memiliki kartu BPJS kecuali anaknya.

e. Riwayat Penyakit

Riwayat penyakit seperti diabetes, hipertensi, atau riwayat stroke tidak


pernah didapatkan oleh anggota keluarga Tn. Asep Saipul. Ny. Siti Nurasih
mengatakan bahwa adiknya sedang menderita TB dalam 6 bulan terakhir ini dan
telah mendapatkan pengobatan dalam 3 bulan terakhir. Penyakit yang sering
dialami antara lain diare, demam, flu, batuk, pilek, dan maag.

57
f. Perilaku dan Aktivitas Sehari-hari

Tn. Asep Saipul dan Tn. Ahmad merupakan perokok aktif dengan
konsumsi rokok 1-2 batang sehari dan merokok di luar dan dalam rumah.
Keluarga Tn. Asep Saipul tidak terbiasa olah raga. Keluarga Tn. Asep Saipul
mempunyai kebiasaan mandi 1-2 kali sehari dan sikat gigi rutin. Kegiatan
bersih-bersih rumah, seperti menyapu dilakukan 1 kali sehari. Dalam satu
minggu sekali Ny. Siti Nurasih menjemur kasur dan bantalnya di depan rumah.

Tabel 1.32 Faktor Internal Keluarga Tn. Asep Saipul

No. Faktor Internal Permasalahan


Tn. Asep Saipul dan Tn. Ahmad mengkonsumsi rokok 1
1. Kebiasaan Merokok batang sehari. Tn. Asep Saipul dan Tn. Ahmad merokok di
luar dan dalam rumah tidak peduli dengan orang sekitar.

Keluarga Tn. Asep Saipul tidak ada yang memiliki


2. Olah raga kebiasaan berolahraga, bahkan hampir tidak pernah
melakukan olahraga.

Ny. Siti Nurasih memasak sendiri dengan komposisi makanan


mengkonsumsi nasi, tahu, tempe, Ikan, dan sayur. Mereka
3. Pola Makan sering makan buah dan hampir tidak pernah minum susu.

Pola
4. Pencarian Apabila sakit, mereka pergi berobat ke puskesmas Bangkonol
Pengobatan

Tidak ada kebiasaan menabung dalam keluarga karena uang


5. Menabung gaji selalu habis untuk kebutuhan
sehari-hari.

a. Tn. Asep Saipul bekerja sebagai buruh.


6. Aktivitas Sehari-Hari b. Ny. Siti Nurasih merupakan seorang ibu rumah tangga

58
Tabel 1.33 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Asep Saipul
No Kriteria Permasalahan
1. Luas Bangunan 2
Luas rumah 9 m × 6 m dengan lantai semen yang
beralaskan karpet bahan plastik.

Satu ruang tamu berukuran 2 m × 4m, tiga kamar tidur masing–


Ruangan dalam masing berukuran 3 m × 3 m, 2 m x 2 m dan 2 m × 2 m, ruang
dapur dan kamar mandi yg menjadi satu dengan ukuran
2. Rumah
kamar mandi sendiri berukuran 2 m × 2 m.
Memiliki ventilasi, 1-2 jendela di masing-masing ruangan
3. Ventilasi dengan ukuran 0,1 m × 0.015 m, yang tidak dibuka dan dibuka
ketika bersih-bersih rumah 2 kali dalam sebulan.

a. Terdapat dua buah pintu depan dan belakang.


b. Terdapat jendela pada kamar yang jarang dibuka.

4. Pencahayaan c. Terdapat 8 buah lampu di dalam rumah, berwarna putih.

5. MCK Memiliki jamban yang bersebelahan dengan dapur hanya

disekat oleh tembok dan terdapat pintu.

6. Sumber Air Menggunakan air dari pompa air, yang digunakan untuk

mandi, mencuci dan memasak.

7. Saluran Pembuangan Limbah rumah tangga cair di buang ke selokan


Limbah

Sampah rumah tangga dibuang di samping rumah. Sampah


Tempat Pembuangan ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak lalu dibuang
ke depan dan belakang rumah dan kemudian
8. Sampah
dibakar.
Di samping kiri rumah terdapat kebun dan di samping kanan
terdapat rumah tetangga. Di belakang rumah terdapat kebun.
Dan terdapat selokan yang kotor di depan rumah. Di
Lingkungan sekitar lingkungan sekitar rumah keluarga Tn. Asep Saipul masih
banyak sampah yang berserakan dikarenakan penduduk
9. Rumah sekitar kurang peduli dengan lingkungannya. Masih banyak
tetangganya yang membuang sampah di pekarangan rumah.

59
h. Daftar Masalah Keluarga Tn. Asep Saipul

1) Medis

Adik Ny. Siti Nurasih menderita TB

Sering ISPA, diare, dan demam.

Tn. Asep Saipul menderita maag.

2) Non-Medis

Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

Pola makan dan gizi yang tidak seimbang.

Rumah sehat (lingkungan rumah yang kotor akibat sampah berserakan,


ventilasi serta pencahayaan yang kurang, dan jendela tidak pernah
dibuka).
Jarang mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir saat
sebelum maupun setelah makan.
Tidak pernah berolahraga.

1.7 Menentukan Area Masalah

1.7.1 Area Masalah Keluarga Binaan

Sebagai pendekatan awal yang dilakukan untuk mengetahui, yaitu dengan


dilakukannya wawancara pada keluarga binaan di Desa Pasirkarag. Kemudian
dilakukan observasi pada masing-masing keluarga binaan di Desa Pasirkarag,
Kecamatan Koroncong dan didapatkan berbagai area permasalahan pada
keluarga binaan tersebut, yaitu:
1) Medis

a. ISPA.

b. Tuberkulosis Paru

c. Diare

d. Demam

e. Wasir
60
f. maag

2) Non-medis

a. Jarangnya berolahraga.

b. Adanya anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

c. Jarangnya mencuci tangan ketika sebelum maupun setelah makan.

d. Mengenai ventilasi sehat.

e. Mengenai jamban sehat.

f. Mengenai membuang sampah.

g. Mengenai asupan gizi yang tidak seimbang.

1.7.2 Area Masalah Diagnosis Komunitas

Terdapat dua metode yang dapat digunakan untuk menentukan area


masalah yaitu metode delbeq dan metode delphi. Metode Delbeq adalah
penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang
yang tidak sama keahliannya sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu
untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi
peserta. Peserta lalu diminta untuk mengemukakan beberapa masalah. Masalah
yang banyak dikemukakan adalah prioritas.
Metode Delphi adalah suatu metode dimana dalam proses pengambilan
keputusan melibatkan beberapa pakar. Dalam pengambilan sebuah masalah,
kami menggunakan Metode Delphi. Metode Delphi merupakan suatu teknik
membuat keputusan yang dibuat oleh suatu kelompok, dimana anggotanya
terdiri dari para ahli atas masalah yang akan diputuskan.
Dari sekian masalah yang ada pada keluarga binaan, peneliti memutuskan
untuk mengangkat permasalahan tentang pengetahuan mengenai ventilasi
sehat pada keluarga binaan dengan BADUTA Stunting RT 001 / RW 002,
Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten. Selanjutnya, dilakukan pre-survey pada keluarga binaan untuk menilai
aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku dari keluarga binaan yang berhubungan
dengan masalah tersebut.

61
1.7.3 Alasan Pemilihan Area Masalah

Pemilihan area masalah kesehatan ini didasarkan atas berbagai pertimbangan,


diantaranya yaitu:
1. Data primer: dari hasil wawancara pada kelima keluarga binaan didapatkan
bahwa pengetahuan dan perilaku yang buruk mengenai ventilasi sehat, dimana
sebagian besar dari anggota keluarga binaan menjawab kuesioner pre-survey
mengenai ventilasi sehat. Di lapangan juga ditemukan ventilasi yang tidak
digunakan sesuai kriteria ventilasi sehat karena kurangnya pengetahuan dan
perilaku mengenai ventilasi sehat pada keluarga binaan.

Tabel 1.34 Pengisian Kuesioner Pre-Survey

Aspek Baik Buruk


Pengetahuan 10% 90%
Sikap 80% 20%
Perilaku 40% 60%

2. Data sekunder: Menurut Sistem Pendataan Manajemen Puskesmas (SIMPUS)


Bangkonol Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang
sering dijumpai dengan manifestasi ringan sampai berat. ISPA yang mengenai
jaringan paru-paru atau ISPA berat dapat menjadi Pneumonia, pneumonia
merupakan penyakit infeksi penyebab kematian utama terutama pada balita.
Pelaksanaan program P2 ISPA yang dilaksanakan penderita pneumonia pada
balita. Kasus pneumonia pada balita di Kecamatan Koroncong pada tahun 2018
sebanyak 13 jiwa (pneumonia ringan 13 jiwa, pneumonia berat 0 jiwa) terdiri dari
9 laki-laki dam 4 perempuan. Target penemuan menurun menjadi 8,69% dari
tahun lalu 5,60% dengan 230 sasaran pneumonia
3. Data tersier: Menurut penelitian yang dilakukan Syafrizal, 2017 menunjukkan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara ventilasi rumah dengan kejadian
ISPA pada Balita di Gampong Blang Muko Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan
Raya Tahun 2016. Dengan didapatkan nilai P.Value 0,032 < 0,05. Dari hasil
tersebut juga terdapat nilai odds ratio (OR) yaitu 2,590 artinya bahwa seseorang
yang mempunyai ventilasi rumah kurang baik memiliki resiko akan mengalami
ISPA 2,590 kali lebih besar di bandingkan dengan seseorang yang mempunyai
ventilasi
62
rumah dengan baik
4. Dalam segi agama berdasarkan firman Allah SWT yang artinya “Dan (ingatlah),
ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia
dan tempat yang aman……” Surat al-Baqarah [2] : 125. Rumah yang aman
tentunya adalah rumah yang bersih dan sehat dan didukung: “Perkara lainnya
yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah adalah memperhatikan fisik dari
bangunan di antaranya menjadikan rumahnya segara memasang jendela,
lubang-lubang ventilasi angin, serta tempat masuknya sinar matahari kedalam
rumah untuk kesegaran dan sirkulasi udara.”

63
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Diagnosis dan Intervensi Komunitas


Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan
adanya suatu masalah dengan cara pengumpulan data kesehatan di komunitas
atau masyarakat kemudian melakukan intervensi sesuai dengan permasalahan
yang ada. Diagnosis komunitas ini mengidentifikasi masalah kemudian
mengarahkan suatu intervensi perbaikan sehingga menghasilkan suatu rencana
kerja yang konkrit. Keterampilan melakukan diagnosis komunitas merupakan
keterampilan yang harus dikuasai oleh dokter untuk menerapkan pelayanan
kedokteran secara holistik dan komprehensif dengan pendekatan keluarga dan
okupasi terhadap pasien. Dalam melaksanakan kegiatan diagnosis dan intervensi
komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi sasaran adalah komunitas atau
sekelompok orang sehingga dalam melaksanakan diagnosis komunitas sangat
ditunjang oleh pengetahuan ilmu kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatik,
metode penelitian, manajemen kesehatan, promosi kesehatan masyarakat,
keseheatan lingkungan, kesehatan kerja dan gizi), (Notoadmojo, 2010),

2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI, 2008) pengetahuan adalah


segala yang diketahui. Pengetahuan juga diartikan segala sesuatu yang
diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran). Menurut teori (Notoatmodjo,
2012) suatu hasil pengindraan manusia atau hasil tahu seseorang tersebut
didapatkan pada obyek melalui indra yang dimiliki yaitu mata, telinga, hidung,
perabaan, dan sebagainya. Intensitas perhatian dan persepsi terhadap obyek
dengan sendirinya mempengaruhi waktu pengindraan sampai menghasilkan
suatu pengetahuan. Pengetahuan sebagian besar didapatkan melalui indra
pendengaran yaitu telinga dan indra penglihatan yaitu mata. Informasi atau
maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang disebut juga
pengetahuan (Agus, 2013).

64
2.2.2 Tingkatan Pengetahuan

Menurut (Notoatmodjo, 2012) pengetahuan mempunyai enam tingkatan


yang dicakup dalam domain kognitif meliputi tahu (know), memahami
(comprehension), analisis (analysis), aplikasi (application), sintesis (syntesis),
dan evealuasi (evaluation).
1) Tahu (Know)
Tahu atau know adalah sebagai pengingat yang didapatkan setalah mendapat
materi sebelumnya. Pada tingkat ini juga adanya proses mengingat kembali
(recall) terhadap suatu obyek yang spesifik dari keseluruhan bahan atau
rangsangan yang telah diterima atau dipelajari. Sehingga tingkatan tahu pada
pengetahuan merupakan tingkatan yang paling rendah. (Notoatmodjo, 2012).

2) Memahami (Comprehension)
Kemampuan yang dapat memahami atau menjelaskan secara benar tentang
obyek yang diketahui serta dapat menginterpretasikan materi yang didapat
benar yang dilakukan dengan menjelaskan dan memberikan contoh.
Memberikan contoh misalnya adalah menyimpulkan, meramalkan dan
sebagainya pada obyek yang dipelajari sebelumnya. Hal ini merupakan arti
dari memahami pada tingkatan pengetahuan. (Notoatmodjo, 2012).

3) Aplikasi (Application)
Aplikasi merupakan suatu tingkatan kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah didapat atau dipelajari sebelumnya pada situasi dan kondisi
sebenarnya. Contoh dari yang dimaksud dengan aplikasi ini adalah
menggunakan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam
kontak dan situasi yang lain. (Notoatmodjo, 2012).

4) Analisis (Analysis)
Analisis dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menjabarkan suatu materi
atau obyek kedalam komponen-komponen yang masih dalam satu struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain. Penggunaan kata kerja
dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokan
merupakan contoh analisis. (Notoatmodjo, 2012).

65
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis dalam tingkatan pengetahuan adalah menunjukkan pada suatu kemampuan
unruk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk yang
baru atau menyusun suatu formulasi terbaru dari formulasi yang lama. Sintesis juga
merupakan kemampuan untuk menyusun, merencanakan, meringkas dan
menyesuaikan dengan materi yang telah ada. (Notoatmodjo, 2012).

6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan suatu kemampuan yang berkaitan melakukan penilaian
terhadap obyek atau materi yang mana penilaian itu diberdasarkan kriteria-
kriteria yang telah ditentukan atau kriteria yang telah ada sebelumnya untuk
menilai obyek atau materi. (Notoatmodjo, 2012).

Dapat disimpulkan didalam pengetahuan terdapat 6 tingkatan. Tingkatan


yang pertama adalah tahu setelah mendapat pengetahuan dan merupakan
tingkatan pengetahuan yang paling rendah. Tingkatan yang kedua adalah
memahami dari materi yang sudah didapat sebelumnya. Tingkatan yang ketiga
adalah mengaplikasikan metode atau rumus dari materi yang didapat.
Tingkatan yang keempat adalah analisis. Tingkatan kelima adalah sintesis
membuat suatu rumusan yang baru dari materi yang telah diberikan dan
tingkatan yang keenam adalah evaluasi dimana merupakan tingkatan dalam
pengetahuan yang paling tinggi.

Dalam pengetahuan juga terdapat adanya suatu jenis pengetahuan. Termasuk


pengetahuan dalam konteks kesehatan sangat beraneka ragam. Pengetahuan juga
merupakan bagian dari perilaku kesehatan. Jenis pengetahuan dibagi menjadi dua
yaitu pengetahuan implisit dan pengetahuan eksplisit. Pengetahuan implisit adalah
pengetahuan dari faktor-faktor yang tidak nyata dan masih tertanam dalam pikiran
manusia masih dalam bentuk pengalaman. Faktor-faktor yang tidak nyata ini
seperti keyakinan pribadi, prespektif dan prinsip. Pengetahuan implisit sulit untuk
ditransferkan pada orang lain. Kebiasaan dan kebudayaan adalah contoh sering
dari pengetahuan implisit. Contoh dari pengetahuan implisit adalah seseorang
menyadari bahaya merokok tapi orang tersebut tetap merokok. Sedangkan yang
dimaksud dengan pengetahuan eksplisit adalah

66
pengetahuan yang telah didokumentasikan atau tersimpan dalam wujud nyata.
Contoh pada perilaku tentang kesehatan, seseorang menyadari bahwa merokok
kan mebahayakan tubuh sehingga seseorang tersebut tidak merokok.
(Notoatmodjo, 2012)

2.2.3 Jenis-Jenis Pengetahuan

Pada umumnya pengetahuan dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya:

1. Pengetahuan Langsung (Immediate)

Pengetahuan immediate adalah pengetahuan langsung yang


hadir dalam jiwa tanpa melalui proses penafsiran dan pikiran.
Umumnya dibayangkan bahwa kita mengetahui sesuatu itu
sebagaimana adanya, khususnya perasaan ini berkaitan
dengan realitas-realitas yang telah dikenal sebelumnya seperti
pengetahuan tentang pohon, rumah, binatang, dan beberapa
individu manusia. Namun, apakah perasaan ini juga berlaku
pada realitas-realitas yang sama sekali belum pernah dikenal
dimana untuk sekali melihat kita langsung mengenalnya
2. Pengetahuan Tak Langsung (Mediate)

Pengetahuan mediate adalah hasil dari pengaruh interpretasi


dan proses berpikir serta pengalaman-pengalaman yang lalu.
3. Pengetahuan Indrawi (Perceptual)

Pengetahuan indrawi adalah sesuatu yang dicapai dan diraih


melalui indra (seperti mata, telinga dan lain-lain).

4. Pengetahuan Konseptual (Conceptual)

Pengetahuan konseptual juga tidak terpisah dari pengetahuan


indrawi. Pikiran manusia secara langsung tidak dapat
membentuk suatu konsepsi-konsepsi tentang objek-objek dan
perkara-perkara eksternal tanpa berhubungan dengan alam
eksternal. Alam luar dan konsepsi saling berpengaruh satu
dengan lainnya dan pemisahan di antara keduanya merupakan
aktivitas pikiran.

67
2.2.4 Cara Memperoleh Pengetahuan
Cara untuk memperoleh pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:
a. Cara tradisional atau non ilmiah, yaitu cara yang dilakukan tanpa melalui
penelitian ilmiah.
i. Cara coba salah (trial and error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan tersebut
tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila tidak berhasil,
maka akan dicoba kemungkinan yang lain lagi sampai didapatkan hasil
mencapai kebenaran.
ii. Cara kekuasaan atau otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan baik
tradisi, otoritas pemerintahan, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu
pengetahuan.
iii. Berdasarkan pengalaman pribadi
Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang
diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
Apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan
masalah yang sama, orang dapat pula menggunakan cara tersebut.
iv. Melalui jalan pikiran
Manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh
pengetahuannya. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan, manusia telah menggunakan jalan pikiran.

b. Cara modern atau cara ilmiah, yaitu melalui proses penelitian ilmiah.
Sedangkan secara modern atau ilmiah dilakukan dengan observasi langsung
dan pencatatan hasil observasi dijadikan dasar pengambilan kesimpulan
atau generalisasi (Notoatmodjo, 2012).
Pengetahuan seseorang sendiri biasanya diperoleh dari pengalaman
yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya : media massa, media
elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat
dan sebagainya.

2.2.5 Proses Pengetahuan


Proses terjadinya pengetahuan menurut (Notoatmodjo S. , 2011) harus melalui
68
suatu proses yang terbagi menjadi lima proses yaitu :
1) Kesadaran (Awareness) merupakan menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahulu terhadap suatu stimulasi atau obyek.
2) Merasa (Interest) merupakan tertarik terhadap suatu obyek sehingga muncul
suatu sikap obyek.
3) Menimbang-nimbang (Evaluation) adalah mempertimbangkan baik atau
tidaknya stimulasi yang telah ada bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden
sudah lebih baik lagi terhadap stimulasi.
4) Mencoba (Trial) adalah subyek mulai mencoba untuk melakukan apa yang
dikehendaki.
5) Adaptasi (Adaptation) adalah subyek beradaptasi dengan berperilaku baru
dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulasi.

2.2.6 Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo tahun 2010, pengetahuan dipengaruhi oleh


dua faktor yakni faktor internal dan eksternal.
 Faktor Internal
Pendidikan
Pendidikan adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin
tinggi pendidikan seseorang semakin mudah orang tersebut menerima
informasi. Dengan pendidikan tinggi, maka seseorang akan semakin cenderung
untuk mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa.
Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan
yang didapat mengenai kesehatan. Peningkatan pengetahuan tidak mutlak
diperoleh di pendidikan formal, akan tetapi juga dapat diperoleh pada
pendidikan nonformal. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek juga
mengandung dua aspek yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek
inilah akhirnya akan menentukan sikap seseorang terhadap objek tertentu.
Semakin banyak aspek positif dari objek yang diketahui, maka akan
menumbuhkan sikap makin positif terhadap objek tersebut.
Pekerjaan

69
Seseorang yang bekerja di sektor formal memiliki akses yang lebih
baik, terhadap berbagai informasi, termasuk kesehatan.
Usia

Usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah
usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga
pengetahuan yang diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu
akan lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan sosial, serta lebih
banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju
usia tua. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan kemampuan verbal
dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini. Dua sikap tradisional
mengenai jalannya perkembangan selama hidup adalah sebagai berikut:
1. Semakin tua semakin bijaksana, semakin banyak informasi yang
dijumpai semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga
menambah pengetahuan.
2. Tidak dapat mengajarkan kepandaian atau informasi baru kepada
orang yang sudah tua karena telah mengalami kemunduran baik
fisik maupun mental. Dapat diperkirakan IQ akan menurun
sejalan dengan bertambahnya usia, khususnya pada beberapa
kemampuan yang lain, seperti kosa kata dan pengetahuan umum.
Beberapa teori berpendapat ternyata IQ seseorang akan menurun
cukup cepat sejalan dengan bertambahnya usia.

 Faktor eksternal
• Informasi/ media massa

Informasi adalah suatu yang dapat diketahui, namun ada pula yang
menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Selain itu, informasi juga
dapat didefinisikan sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,
menyimpan, memanipulasi, mengumumkan, menganalisis dan menyebarkan
informasi dengan tujuan tertentu (Undang-Undang Teknologi Informasi).
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun nonformal
dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact) sehingga
menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan. Berkembangnya
teknologi akan menyediakan bermacam-macam media

70
massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi
baru. Sehingga sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti
televisi, radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh
besar terhadap pembentukan opini dan kepercayaan orang.

• Sosial, budaya dan ekonomi


Kebiasaan dan tradisi yang biasa dilakukan orang-orang tidak melalui
penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian,
seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan.
Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas
yang diperlukan untuk kegiatan tertentu sehingga status social ekonomi ini
akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.

2. 3. Ventilasi Sehat

2.3.1. Pengertian dan Fungsi Ventilasi

Ventilasi adalah pertukaran udara secara bebas di dalam


ruangan. Fungsi utama ventilasi dan jendela antara lain adalah
sebagai lubang masuk dan keluar angin sekaligus sebagai lubang
pertukaran udara atau lubang ventilasi yang tidak tetap (sering
berupa jendela atau pintu); Sebagai lubang masuknya cahaya dari
luar (sinar matahari) (KBBI ONLINE). Fungsi ventilasi udara
diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar.

Karena jika dalam suatu bangunan sangat minim adanya


ventilasi maka aliran udara dari dan ke luar rumah menjadi tidak
lancar sehingga terjadi peningkatan kadar CO 2 (karbondioksida)
di dalam rumah dan kadar oksigen (O 2) menurun. Sedangkan
karbondioksida yang merupakan hasil respirasi / pernapasan ini
apabila dalam konsentrasi tinggi bisa berbahaya bagi hewan dan
manusia. Seseorang yang menghirup terlalu banyak CO 2 akan
kesulitan bernapas, hingga menyebabkan tak sadarkan diri.

71
2. Untuk menjaga agar rumah selalu tetap di dalam
kelembaban yang optimum.
Kurangnya lubang ventilasi di dalam suatu bangunan akan
menyebabkan kelembaban di dalam ruangan meningkat karena
terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan.
Sehingga dengan adanya lubang ventilasi udara yang memadai
akan memberikan manfaat di sisi pencahayaan apabila
penempatannya tepat. Dengan adanya cahaya dari luar ruangan
yang masuk ke dalam rumah melalui lubang ventilasi udara
maka akan mengurangi kelembaban dalam suatu ruangan.

3. Untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri patogen


yang bisa menyebabkan penyakit.
Kurangnya lubang ventilasi udara di dalam rumah akan
menyebabkan kelembaban udara dalam ruangan meningkat,
sedangkan kondisi ruangan yang lembab akan memudahkan
tumbuhnya jamur dan bakteri patogen yang bisa
mempengaruhi kualitas kesehatan penghuni rumah. Dalam
ruangan meningkat, sedangkan kondisi ruangan yang lembab
akan memudahkan tumbuhnya jamur dan bakteri patogen yang
bisa mempengaruhi kualitas kesehatan penghuni rumah.

2.3.2. Syarat Ventilasi

Agar udara dalam ruangan segar persyaratan teknis ventilasi


dan jendela sebagai berikut:
1. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai
ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan
ditutup) minimum 5% luas lantai, dengan tinggi lubang
ventilasi minimal 80 cm dari langit-langit.
2. Tinggi jendela yang dapat dibuka dan ditutup minimal 80 cm dari
lantai dan jarak dari langit-langit sampai jendela minimal 30 cm.
3. Udara yang masuk harus udara yang bersih, tidak dicemari oleh

72
asap pembakaran sampah, knaolpot kendaraan, debu dan lain-
lain.
4. Aliran udara diusahakan cross ventilation dengan menempatkan
lubang hawa berhadapan antara dua dinding ruangan. Aliran
udara ini diusahakan tidak terhalang oleh barang-barang seperti
almari, dinding, sekat-sekat, dan lain-lain.
5. Kelembaban udara dijaga antara 40% hingga 70%.

Prinsip utama dari ventilasi adalah menggerakan udara kotor


dalam rumah atau di tempat kerja, kemidian menggantikannya dengan
udara bersih. Sistem ventilasi menjadi fasilitas penting dalam upaya
penyehatan udara pada suatu lingkungan kerja. Menurut ILO (1991),
ventilasi digunakan untuk memberikan kondisi dingin atau panas serta
kelembaban di tempat kerja. Fungsi lainnya adalah untuk mengurangi
konsentrasi debu dan gas-gas yang dapat menyebabkan keracunan,
kebakaran dan peledakan. Untuk memperoleh ventilasi yang baik,
dapat dilakukan dengan cara, sebagai berikut:
1. Ventilasi alamiah, merupakan ventilasi yang terjadi secara
alamiah, dimana udara masuk kedalam ruangan melalui jendela,
pintu, atau lubang angin yang sengaja dibuat.
2. Ventilasi mekanik, merupakan ventilasi buatan dengan menggunakan:

a. AC (Air Conditioner), yang berfungsi untuk menyedot


udara dalam ruang kemudian disaring dan dialirkan kembali
dalam ruangan.
b. Fan (baling-baling atau kipas), yang menghasilkan udara
yang dialirkan ke depan.
c. Exhauser, merupakan baling-baling penyedot udara dari
dalam dan luar ruangan untuk proses pergantian udara yang
sudah dipakai.

2.3.3 Bentuk Ventilasi

Secara umum dikenal beberapa bentuk ventilasi, yaitu:

73
1. Ventilasi alami (natural ventilation)

Merupakan suatu bentuk pertukaran udara secara alamiah


tanpa bantuan alat- alat mekanik seperti kipas. Ventilasi alami
masih dapat dimungkinkan membersihkan udara selama pada saat
ventilasi terbuka terjadi pergantian dengan udara yang segar dan
bercampur dengan udara yang kotor yang ada dalam ruangan.
Standar luas ventilasi alami lebih dari 20% luas lantai tempat
kerja (Sumamur, 1987). Penggunaan ventilasi alami tidak efektif
jika digunakan dengan tujuan untuk mengurangi emisi gas, debu
dan vapours ditempat kerja. Hal ini disebabkan tingkat kesulitan
yang tinggi pada ventilasi alami terkait penentuan parameter yang
harus kita ketahui menyangkut kecepatan angin, tekanan angin dari
luar, arah angin, radiasi panas dan berapa besar pengaruh lubang-
lubang yang ada pada dinding dan atap. Ventilasi alami biasanya
digunakan dengan tujuan untuk memberikan kesegaran dan
kenyamanan pada tempat kerja yang tidak memiliki sumber bahaya
yang tinggi (Sumamur, 1987).

2. Ventilasi umum (general ventilation)

General ventilation atau ventilasi umum biasanya digunakan


pada tempat kerja dengan emisi gas yang sedang dan derajat panas
yang tidak begitu tinggi. Jenis ventilasi ini biasanya dilengkapi
dengan alat mekanik berupa kipas penghisap. Sistem kerja yang
dibangun udara luar tempat kerja di hisap dan di hembuskan oleh
kipas kedalam rungan bercampur dengan bahan pencemar sehingga
terjadi pengenceran. Kemudian udara kotor yang telah diencerkan
tersebut dihisap dan dibuang keluar.

2.4 Stunting
Stunting (kerdil) adalah kondisi dimana balita memiliki panjang
atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini
diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus

74
dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO. Balita
stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor
seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan
kurangnya asupan gizi pada bayi. Balita stunting di masa yang akan datang
akan mengalami kesulitan dalammencapai perkembangan fisik dan kognitif
yang optimal. Menurut UNICEF dalam BAPPENAS (2011), pada dasarnya
status gizi anak dapat dipengaruhi oleh faktor langsung dan tidak langsung,
faktor langsung yang berhubungan dengan stunting yaitu karakteristik anak
berupa jenis kelamin laki-laki, berat badan lahir rendah, konsumsi makanan
berupa asupan energi rendah dan asupan protein rendah, faktor langsung
lainnya yaitu status kesehatan penyakit infeksi ISPA dan diare. Pola
pengasuhan tidak ASI ekslusif, pelayanan kesehatan berupa status imunisasi
yang tidak lengkap, dan karakteristik keluarga berupa pekerjaan orang tua,
pendidikan orang tua dan status ekonomi keluarga merupakan faktor tidak
langsung yang mempengaruhi stunting. Berdasarkan penelitian Oktarina &
Sudiarti (2013), di Sumatera terjadi peningkatan prevalensi stunting anak
usia 24–59 bulan karena adanya faktor yang mempengaruhi, yaitu balita
memiliki berat badan lahir rendah, tingkat asupan energi rendah dan
karakteristik keluarga.

2.5 Rumah dalam Pandangan Islam

Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa fitrah setiap makhluk untuk


membangun tempat tinggal yang dijadikan sebagai tempat beristirahat
dan melindungi diri, walaupun dalam bentuk dan ukuran yang
berbeda-beda sesuai kemampuan dan kebutuhan setiap makhluk itu
sendiri. Jika pada binatang tempat tinggal itu disebut sarang, maka
manusia menyebutnya dengan istilah rumah. Al-Qur’an
memperkenalkan dua istilah untuk menyebut tempat tinggal atau rumah.
Pertama, disebut dengan bait seperti yang terdapat dalam surat an-Nahl [16]: 68
yang berbunyi:

ِِ ِْ ِِ ِِ ِ ِ ِ ِ
‫رجششِلل ِِنوم‬ ِ ‫ِل تتومُِايب‬ ‫ِِبلل‬ ‫ن يذ لشت نأأ لنِلل‬ ِِ ِِ ِِ ِْ ُِ ‫لل كبِْحومأأو‬
ِ ُِ ِ ِ ِٰ ِ
ِِ
75
ِ
‫شْعيْ ا ِشموم‬
ِ ُ ‫نوم‬

Artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah


sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
tempat-tempat yang dibuat manusia.”

Bait secara harfiyah berarti tempat bermalam. Rumah disebut


bait karena memang berfungsi bagi pemiliknya untuk tempat
bermalam dan beristirahat dari kesibukan. Hal ini juga sama seperti
yang dilakukan binatang, seumpama burung yang kembali ke
sarangnya di sore hari untuk bermalam dan beristirahat. Di samping
itu, rumah juga berfungsi melindungi pemiliknya dari berbagai
gangguan luar, seperti panas, dingin, dan serangan makhluk lain.

Sebutan lain yang diperkenalkan Allah swt untuk menyebut


rumah adalah “maskan”. Seperti yang terdapat dalam surat an-Naml
[27] : 18 yang berbunyi:

ُِْ ِ ُِ ِ ِ ِ ِِ
‫مكنكسا‬ ُِ ِ ِْ ِ ِ
ٌُِ
ِ ِ ‫لاوُلخُد لْا لنلل‬ ِ ‫اي يأأي لِمنَ تلقاِِل‬ ِ ‫منلل دلاو لعَ لاِوتأأ‬ َّ‫لاذِلا شتح‬
ِ ِْ ِْ ِْ ِ ِٰ ِْ ِِ

‫نومرعْش‬ ِ ِ ُِْ ِِْ ِ


‫ل‬ ‫كنطميْ ُهوم ُهدونوم نميلس‬ ‫ل‬

ِ ُُِ ِ ِْ ُِ ُُِ ُِ ِْ ُ ِ

Artinya : “Hingga apabila mereka sampai di lembah semut


berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam
sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan
tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

Kata “maskan” berasal dari kata sakana yang berarti tenang,


tentram, dan bahagia. Oleh karena itu, rumah dalam pandangan al-
Qur’an bukan hanya berfungsi sebagai tempat bermalam, tempat
beristirhat atau tempat berlindung. Tetapi lebih jauh, rumah berfungsi
sebagai tempat mencari ketenangan dan kebahagian batin.
Di dalam rumah (maskan) inilah manusia membangun keluarga
sakinah, yaitu tatanan keluarga yang membawa kebahagian

76
dan ketenangan hati. Jika rumah hanya dijadikan bait, maka tidak jarang rumah
dirasakan seperti di neraka. Itulah yang digambarkan Tuhan dalam surat al-
Ankabut [29] : 41 yang berbunyi:

ِ ِ ِ ِِ ْ ِِ ِْ ِ
‫نومملعيْ لاون ُك‬ ‫ول تومبكنعلل ُْتيبل توميبلل نومأأ لنو‬
ِ ِْ ِ ِ ِ
ُِ ِْ ُِ ِ ُُِ ِْ ِِ

Artinya : “…Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah (rapuh)


adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”

Rumah laba-laba bukan hanya rapuh secara struktur, karena


tidak mampu melindungi penghuninya dari segala macam gangguan
luar seperti panas, dingin dan sebagainya. Namun, rumah laba-laba
juga rapuh dari sisi penghuninya. Hasil penelitian membuktikan,
bahwa laba-laba betina setelah melakukan perkawinan langsung
membunuh laba-laba jantan. Begitu juga anak laba-laba, berjumlah
sangat banyak namun diletakan dalam wadah yang kecil dan sempit,
sehingga seluruh anaknya terlibat saling injak dan saling tindas, yang
menyebabkan lebih separuh anaknya mati karena pertarungan
sesamanya. Begitulah perumpamaan rumah yang rapuh, jauh dari
kebahagian dan ketenangan (Adlany, 2011).

Oleh karena itu, jadikanlah rumah kita sebagai maskan,


tempat menemukan ketenangan dan kebahagian hidup. Janganlah
jadikan rumah sekedar tempat singgah, tempat bermalam atau
tempat berlindung saja (bait), seperti yang dilakukan oleh binatang.
Rumah bagus tentu sangat perlu sebagai sarana memperoleh
kebahagiaan hidup, akan tetapi bagus jika tidak membawa
ketenangan dan kebahagiaan juga tidak baik.
Biarlah tinggal di rumah yang sederhana, namun bisa
memperoleh ketenangan dan kebahagiaan padanya. Sehingga,
rumah betul betul menjadi maskan. Salah satu cara menjadikan
rumah sebagai tempat memperoleh ketenangan, atau menjadikan
rumah sebagai tempat yang menyenangkan, adalah seperti yang
diajarkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya:

77
Artinya :“Perbanyaklah membaca al-Qur’an di rumah kamu,
sebab rumah yang tidak pernah dibaca al-Qur’an padanya sangat
sedikit kebaikan rumah itu, sangat banyak kejahatannya, dan
membuat penghuninya merasa sempit.”

Hal-hal yang mendukung kesehatan pada sebuah rumah


sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang melarang duduk diatas
kulit macan agar tidak tertular memiliki tabiat macan yang buas.
Disebutkan dalam sebuah hadist:

Artinya: “Beliau shalallahu alaihi wassallam melarang untuk


duduk diatas kulit harimau”
Perkara lainnya yang mendukung kesehatan pada sebuah
rumah adalah memperhatikan fisik dari bangunan di antaranya
menjadikan rumahnya segara memasang jendela, lubang-lubang
ventilasi angin, serta tempat masuknya sinar matahari kedalam
rumah untuk kesegaran dan sirkulasi udara.
2.6 Kerangka Teori
Berdasarkan buku Notoatmodjo tahun 2010 berjudul
“Metodologi Penelitian Kesehatan,” kerangka teori dibuat dengan
menghubungkan variabel independen dari kerangka teori yang relevan
dengan “Pengetahuan Mengenai Ventilasi Sehat pada Keluarga
Binaan dengan BADUTA Stunting RT 01 RW 02, Desa Pasirkarag,
Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten”.

78
Faktor Internal:
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Usia

Pengetahuan
Faktor Eksternal:
- Informasi/
media massa
- Sosial budaya
- Ekonomi

Gambar 2.1 Kerangka Teori


Sumber: (Teori Notoatmodjo, 2010)

2.7 Kerangka Konsep


Berdasarkan buku Notoatmodjo tahun 2010 berjudul “Metodologi
Penelitian Kesehatan,” kerangka konsep dibuat dengan menghubungkan variabel
independen dari kerangka teori yang relevan dengan “Pengetahuan Mengenai
Ventilasi Sehat pada Keluarga Binaan dengan BADUTA Stunting RT 01 RW
02, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten”.

Variabel
Independen:
- Pendidikan Variabel

- Pekerjaan Dependen:
- Usia Pengetahuan
- Informasi mengenai ventilasi
- Sosial sehat
budaya,
ekonomi

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Diagnosis dan Intervensi Komunitas Mengenai


Pengetahuan tentang Ventilasi Sehat pada Keluarga Binaan dengan BADUTA Stunting
RT 01 RW 02, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten

79
2.8 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Ukur Ukur

1. Untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah


Pengetahuan tetap segar.
1. 2. Untuk mejaga agar rumah selalu tetap dalam Nilai <50%: Pengetahuan Nominal
Kuesioner Wawancara
mengenai buruk
kelembabapan yang optimum. Terpimpin
ventilasi sehat 3. Untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri
Nilai >50%: Pengetahuan
patogen yang bisa menyebabkan penyakit, seperti baik
ISPA.
4. Luas ventilasi tetap minimum 5% dari luas lantai
ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil
minimum 5% dari luas lantai dengan tinggi
minimal 80 cm dari langit-langit.

Wawancara 1 = Tidak bekerja


Terpimpin 2 = Non-formal (buruh,
2. Pekerjaan Status pekerjaan responden saat diwawancara Kuesioner Ordinal
tani, pedagang)
3 = Bekerja Formal (PNS,
TNI, guru)

81
No. Variabel Definisi Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Ukur Ukur

Cukup: Upah gaji ≥ Rp

Pendapatan responden setiap bulan berdasarkan Wawancara 2.542.539,13


3. Ekonomi UMR Pandeglang sebesar Rp 2.542.539,13 Kuesioner Terpimpin Rendah: Upah gaji < Rp Ordinal
2.542.539,13

Pendidikan rendah: tidak


sekolah, SD.
4. Pendidikan Pendidikan terakhir responden yang ditamatkan. Kuesioner Wawancara Pendidikan menengah:

Terpimpin SMP, SMA. Ordinal


Pendidikan tinggi:
Akademi /Perguruan
Tinggi.

5. Informasi Informasi tentang ventilasi baik melalui media cetak Kuesioner Wawancara 0–1: Buruk
dan media elektronik, maupun penyuluhan.( seperti Terpimpin 2: Baik
Radio, TV, Majalah,Koran) Nominal

82
No. Variabel Definisi Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala

Ukur Ukur

6. Sosial, budaya Kebiasaan masyarakat membuka dan membersihkan Kuesioner Wawancara 0–1: Buruk
ventilasi dan menjaga kebersihan sesuai agama Terpimpin 2: Baik
Islam Nominal

83
BAB III
METODE

3.1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Penelitian dengan


metode deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk
menggambarkan masalah yang terjadi pada masa sekarang atau yang sedang
berlangsung.

3.2. Populasi Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan


dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan umum dari pengumpulan data
adalah untuk memecahkan masalah, langkah-langkah yang ditempuh harus relevan
dengan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam setiap melaksanakan
langkah tersebut harus dilakukan secara objektif dan rasional. Sedangkan yang
dimaksud dengan populasi sendiri adalah keseluruhan objek pengumpulan data
(Arikunto, 2002). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari lima
keluarga binaan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

3.3. Sampel Pengumpulan Data

Sampel pada penelitian ini diambil langsung dari observasi rumah keluarga
binaan dan pengumpulan data dengan kuesioner. Dalam penelitian ini yang menjadi
sampel adalah dari populasi pengumpulan ada pada lima keluarga binaan yang
memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag,
Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten adalah 10 orang,
yaitu: keluarga Tn. Syaiful sebanyak 1 orang, Tn. Mamat sebanyak 2 orang, Tn.
Sutisna sebanyak 1 orang, Tn. Aa Mulyawan sebanyak 2 orang, dan Tn. Asep Saipul
sebanyak 4 orang dengan cara total sampling.

Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam
sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel yaitu:
84
1. Bersedia untuk menjadi informan.

2. Usia lebih dari 17 tahun.

3. Merupakan anggota keluarga binaan, baik laki-laki maupun perempuan.

4. Sehat jasmani dan rohani.

5. Keluarga yang memiliki BADUTA Stunting

Sementara, kriteria eksklusi merupakan kriteria di mana subjek penelitian


tidak dapat mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel
penelitian, yaitu:
1. Anggota keluarga yang terlalu sibuk bekerja hingga sulit untuk ditemui.

3.4. Jenis dan Sumber Data

3.4.1. Jenis Data

Data kualitatif didapatkan dari pengalaman orang yang diterangkan secara


mendalam, pengalaman dan interaksi sosial dari subjek penelitian sendiri. Data
kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data, misalnya
wawancara, analisis, observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan
(transkrip). Data kualitatif adalah analisa akar penyebab masalah. Data kuantitatif
menggambarkan karakteristik responden, pengetahuan, usia, tingkat pendidikan,
penghasilan, sumber informasi dan sosial budaya.

3.4.2. Sumber Data


Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diambil dari pengumpulan data para responden kelima keluarga binaan di RT
001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten. Data sekunder diambil dari data profil puskesmas Bangkonol
Kecamatan Koroncong Provinsi Banten.

3.4.3. Skala Pengukuran

Skala pengukuran yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa skala
ordinal dan nominal.

85
3.5. Penentuan Instrumen Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini sebelumnya telah dilakukan pre-survey dengan observasi


dan teknik wawancara, untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan sikap
keluarga binaan mengenai ventilasi yang kemudian kami kumpulkan data dan kami
angkat sebagai area masalah bersama. Selanjutnya kami lakukan survey dengan
tekhnik wawancara, dengan kuesioner sebagai instrumen untuk mengumpulkan data
dan alat ukur meteran. Selain itu, dilakukan juga observasi langsung ke lapangan
untuk memperoleh data yang lebih lengkap.
3.6. Pengumpulan Data

Pengumpulan data kualitatif dengan wawancara mendalam menggunakan


panduan pertanyaan terbuka untuk menentukan akar penyebab masalah
pengetahuan mengenai ventilasi sehat pada keluarga binaan degan baduta stunting
RT/RW 001/002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten.
Proses pengumpulan data ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam
hipotesis. Pengumpulan data dilakukan terhadap sampel yang telah ditentukan
sebelumnya. Data yang diperoleh dapat berupa data primer, sekunder, dan tersier.
Data primer didapatkan dari wawancara dan kuesioner pada keluarga binaan di RT
001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten data sekunder diperoleh dari Puskesmas Bangkonol, sedangkan
data tersier diperoleh dari penelusuran tinjauan pustaka. Sebelum mengumpulkan
data dilakukan persiapan berupa persamaan persepsi antar peneliti. Pengumpulan
data dilakukan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Pengumpulan data ini dilakukan selama
sepuluh hari mulai dari tanggal 9 – 18 September 2019, dengan menggunakan
kuesioner sebagai instrumen dengan teknik wawancara terpimpin kepada
responden. Wawancara dengan kuesioner dilakukan dikarenakan kuesioner bersifat
objektif dan jujur karena berasal dari sumber data (responden). Dari kelima
keluarga binaan ini diambil 10 orang sebagai responden untuk menjawab kuesioner.

86
Tabel 3.1 Daftar Kegiatan Pengumpulan Data Pada Keluarga Binaan dengan BADUTA
Stunting RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang,
Provinsi Banten padaTanggal 9- 20 September 2019

Tanggal Kegiatan
Senin a. Perkenalan dengan dokter dan staf puskesmas.

9 September b. Perkenalan dengan kader.

2019

Jumat a. Pengumpulan data dasar dari Puskesmas Bangkonol.

13 September

2019

a. Berkunjung ke keluarga binaan untuk pengumpulan data dasar pada


masing-masing keluarga binaan.
Sabtu b. Observasi rumah keluarga binaan.

14 September c. Pembuatan kuesioner pre-survey untuk menentukan pengambilan


masalah pengetahuan, sikap, dan perilaku.
2019

a. Kunjungan ke keluarga binaan untuk pre-survey dan pengisian


Senin kuesioner.
16 September b. Pengumpulan data dari Puskesmas Bangkonol yang berhubungan

2019 dengan beberapa masalah yang ditemukan pada keluarga


binaan.Diskusi kelompok.

Selasa a. Pembuatan kuesioner survey.


17 September
2019

Rabu a. Kunjungan ke keluarga binaan untuk melakukan survey dan pengisian


kuesioner.
18 September b. Pengumpulan dan mengolah data hasil pengisian kuesioner.

87
2019

Kamis a. Diskusi kelompok.


19 September
2019 b. Melengkapi laporan
Jumat a. Melakukan intervensi pada keluarga binaan.

20 September
2019

3.7 Pengolahan dan Analisa Data

Untuk pengolahan data tentang “Pengetahuan mengenai ventilasi sehat


pada keluarga binaan dengan BADUTA Stunting RT 001 / RW 002, Desa
Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
periode 09-20 September 2019” digunakan cara manual dan bantuan SPSS 24.0.
Untuk menganalisa data-data yang sudah didapat adalah dengan menggunakan
analisa univariat.
Analisa univariat adalah analisa yang dilakukan untuk mengenali setiap
variabel dari hasil penelitian. Analisa univariat berfungsi untuk meringkas
kumpulan data sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi
informasi yang berguna. Peringkasan tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel,
grafik. Pada diagnosis dan intervensi komunitas ini, variabel yang diukur adalah:
1. Pengetahuan mengenai ventilasi sehat.
2. Tingkat pendidikan responden mengenai pengetahuan tentang ventilasi sehat.
3. Usia responden mengenai pengetahuan tentang ventilasi sehat.
4. Pekerjaan responden mengenai pengetahuan tentang ventilasi sehat.
5. Peran tingkat ekonomi atau penghasilan yang didapatkan responden terhadap
pengetahuan mengenai ventilasi sehat.

6. Sumber informasi yang didapatkan responden untuk mengetahui mengenai


ventilasi sehat.
7. Pengaruh sosial budaya yang ada terhadap ventilasi sehat.

88
BAB IV
HASIL
4.1. Karakteristik Responden

Hasil analisis ini disajikan melalui bentuk tabel dan diagram yang diambil dari
data karakteristik responden yang terdiri dari 10 orang dalam lima keluarga binaan
di RT/RW 001/002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten
Pandeglang, Provinsi Banten yakni: Keluarga Tn. Syaiful, Tn. Mamat, Tn. Aa
Mulyawan, Tn. Sutisna, dan Tn. Asep Saipul.

Gambar 4.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin, Usia, dan Pekerjaan pada Lima
Keluarga Binaan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September 2019

Jenis Kelamin

40% Laki-laki

60% Perempuan

Usia

20% 41 - >50 tahun


40%
21-30 tahun
31-40 tahun
40%

89
Pekerjaan

Tidak Bekerja
50% 50% Non-Formal
Formal

Berdasarkan Gambar 4.1, Menunjukkan bahwa jenis kelamin responden perempuan


yaitu 6 responden dan laki-laki 4 responden. Menunjukkan bahwa usia terbanyak pada usia
21-30 tahun dan 31-40 tahun sebanyak 4 responden (40%) dan bahwa tingkat pekerjaan
yaitu tidak bekerja dan non-formal sebanyak 5 responden (50%).

4.2. Analisis Univariat

Hasil analisis data ditampilkan dalam bentuk tabel berdasarkan variabel-variabel


dalam kuesioner yang dijawab 10 responden pada bulan September 2019.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Usia pada Lima Keluarga Binaan di RT 001 / RW 002, Desa
Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September
2019
Usia Frekuensi Persentase (%)
21-30 tahun 4 40%
31-40 tahun 4 40%

41- > 50 2
tahun 20%

Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.1, menunjukkan bahwa jenis kelamin responden


perempuan yaitu 6 responden dan laki-laki yaitu 4 responden.

90
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pekerjaan pada Lima Keluarga Binaan di RT 001 /
RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten September 2019

Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)


Tidak bekerja 5 50%
Non-Formal 5 50%

Formal 0
0%

Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.2, menunjukkan bahwa tingkat pekerjaan responden


sama rata antara tidak bekerja dan non-formal yaitu 5 responden

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan pada Lima Keluarga Binaan di RT 001
/ RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi
Banten September 2019
Pendidikan Frekuensi Persentase (%)
Rendah 5 50%
Menengah 5 50%

Tinggi
0 0%
Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.3 didapatkan bahwa tingkat pendidikan pada keluarga


binaan yaitu Rendah dan Menengah sama sebanyak 5 responden (50%).

91
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Ekonomi pada Lima Keluarga Binaan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag,
Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September 2019

Ekonomi Frekuensi Persentase (%)


Rendah 9 90%
Cukup 1 10%

Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.4 didapatkan bahwa tingkat ekonomi terbanyak pada


keluarga binaan yaitu dengan ekonomi Rendah sebanyak 9 responden (90%).

Tabel 4.5 Distribusi Responden Mengenai Pengetahuan Kriteria Ventilasi Sehat pada
Keluarga Binaan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September 2019

Pengetahuan Frekuensi Persentase (%)


Baik 1 10%
Buruk 9 90%

Total 10 100%
Berdasarkan Tabel 4.5 didapatkan hasilbahwasebanyak 9

responden (70%) memiliki pengetahuan Buruk mengenai Ventilasi Sehat.

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Sumber Informasi pada Lima Keluarga Binaan di RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag,
Kecamatan koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September 2019

Sumber Informasi Frekuensi Persentase (%)


Baik 0 0%
Buruk 10 100%

Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.6 didapatkan bahwa jumlah responden yang Buruk


mengenai sumber informasi sebanyak 10 responden (100%)
92
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Sosial Budaya pada Lima Keluarga Binaan di RT 001 / RW
002, Desa Pasirkarag, Kecamatan koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten
September 2019

Sosial Frekuensi Persentase (%)


Budaya

Baik 9 90%
Buruk 1 10%

Total 10 100%

Berdasarkan Tabel 4.7 didapatkan bahwa jawaban responden terbanyak Sosial


Budaya yaitu Baik sebanyak 9 responden (90%).

4.3. Rencana Intervensi Pemecahan Masalah

Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian, untuk menentukan rencana


intervensi pemecahan masalah digunakan diagram fishbone. Tujuan pembuatan
diagram fishbone yaitu untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar-
akar penyebab masalah sehingga dapat ditentukan rencana intervensi pemecahan
masalah dari setiap akar penyebab masalah tersebut. Adapun diagram fishbone dapat
dilihat sebagai berikut:
Sesuai dengan diagram fishbone tersebut, akar penyebab masalah yang
ditemukan dapat dilihat melalui Tabel 4.3.1. Setelah ditemukan akar penyebab
masalah, dapat ditentukan alternatif pemecahan masalah dan rencana intervensi

93
Tabel 4.3.1. Fishbone

PENDIDIKAN EKONOMI SOSIAL BUDAYA


Rendahnya tingkat Pendapatan yang Tidak ada

pendidikan rendah dibawah UMR


masalah
Tidak mampu Keterbatasan

meneruskan pendidikan
Jarak rumah kesekolah

Tidak ada tingkat tinggi


(SMA,Universitas) PENGETAHUAN MENGENAI
biaya sulit di jangkau VENTILASI SEHAT PADA
KELUARGA BINAAN DENGAN
BADUTA STUNTING DESA
PASIRKARAG,
KECAMATAN KORONCONG,
Kurangnya Tidak ada petugas
penyuluhan KABUPATEN PANDEGLANG,
Pendidikan dan tidak BANTEN
adanya pelatihan mengenai ventilasi
sehat
Kurangnya Kurangnya

keterampilan anggota
keluarga binaan penyuluhan mengenai
ventilasi
Anggota keluarga binaan Buruknya paparan
Tidak ada
masalah
bekerja di bagian sector
non formal informasi pada
keluarga binaan
PEKERJAAN INFORMASI USIA 94
Tabel 4.3.2 Tabel Alternatif Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi pada Keluarga Binaan di RT 001/ RW 002, Desa Pasirkarag,
Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten September 2019

No Akar Penyebab Alternatif Pemecahan Intervensi


Masalah Masalah
Pendek Menengah Panjang
1 Keterbatasan biaya Memberikan saran untuk Menyarankan responden Menyarankan Mengajarkan
keluarga untuk meningkatkan keadaan untuk bersama-sama masyarakat tentang masyarakat tentang
meneruskan pendidikan ekonomi responden membentuk usaha kecil pentingnya investasi dengan
ke jenjang selanjutnya menengah seperti usaha menabung untuk ternak ayam
membuat emping dengan masa yang akan
berbagai macam rasa datang dengan
menabung di
koperasi desa

2 Jarak rumah ke sekolah Memberikan motivasi Memberikan penyuluhan Menyediakan a. Mendirikan


tingkat tinggi (SMA, kepada masyarakat tentang pentingnya transportasi umum sekolah seperti
Universitas) sulit untuk tetap melanjutkan pendidikan atau sekolah seperti bus sekolah SMA dan
djangkau sekolah walaupun tinggi walaupun harus bagi masyarakat Universitas di
dengan jarak jauh menempuh jarak yang untuk pergi ke sekitar pedesaan
jauh sekolah yang mudah
dijangkau
b. Beasiswa pada
anak kurang
mampu untuk

95
No Akar Penyebab Alternatif Pemecahan Intervensi
Masalah Masalah
Pendek Menengah Panjang
bersekolah lebih
tinggi

3 Kurangnya kepedulian Memberikan pengetahuan Memberikan penyuluhan Mengusulkan kader Menyarankan


masyarakat terhadap tentang pentingnya tentang fungsi dan syarat untuk memantau puskesmas agar
ventilasi sehat ventilasi sehat bagi ventilasi dan pentingnya perkembangan diadakan kegiatan
kesehatan membuka serta ventilasi rumah penyuluhan rutin
membersihkan ventilasi setelah penyuluhan. mengenai rumah
rumah. sehat

4 Tidak ada petugas Membentuk kader khusus Memberikan penyuluhan Membentuk kader Memberikan
penyuluhan mengenai untuk program kepada masyarakat khusus yang pelatihan rutin
ventilasi sehat pengetahuan ventilasi terutama para kader mempelajari dan kepada para kader
sehat mengenai ventilasi sehat mengawasi tentang mengenai rumah
ventilasi sehat sehat khususnya
ventilasi sehat
setiap bulan

96
4.4 Menetapkan Kegiatan Operasional

1. Konsep acara Persiapan

1) Menentukan waktu pelaksanaan penyuluhan.

2) Mempersiapkan konsep acara dan media yang akan digunakan.

3) Menghubungi pemilik kepala desa dan kepala puskesmas

4) Menghubungi pemilik kader desa.

5) Menghubungi seluruh kepala keluarga binaan untuk mengajak seluruh


anggota keluarga untuk berkumpul di tempat dan waktu yang sudah
ditentukan.

2. Pelaksanaan

1) Penyuluhan dilaksanakan pada pukul 09.00 WIB di tempat yang sudah


ditentukan.
2) Peserta penyuluhan dipersilakan untuk berkumpul pada waktu dan jam yang
telah ditentukan.
3) Teknik pelaksanaan acara dilaksanakan secara bersama dengan anggota
keluarga binaan sebagai peserta penyuluhan.
4) Sebelum dilakukan penyuluhan, anggota keluarga binaan melaksanakan pre-
test.
5) Acara penyuluhan dilaksanakan menggunakan media informasi dalam
bentuk poster dan banner pada jendela.
6) Setelah penyuluhan, anggota keluarga binaan melaksanakan post-test.

7) Acara berakhir pada pukul 11.00 WIB.

3. Waktu dan Tempat

Acara penyuluhan dilaksanakan pada hari Jumat, 20 September 2019 di


Posyandu, Desa Pasirkarag dan berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB.

97
4. Hasil Pre-Test dan Post-Test

Kami mempresentasikan materi penyuluhan dalam bentuk poster dan


banner mengenai pengetahuan Ventilasi Sehat, manfaat memiliki Ventilasi
Sehat, perilaku untuk mewujudkan Ventilasi Sehat, dan dampak yang
ditimbulkan akibat rumah tidak sehat. Kami juga membuka sesi tanya jawab.
Peserta penyuluhan terlihat antusias dan memperhatikan selama kegiatan
selama penyuluhan berlangsung. Kami juga memberikan Pre-test kepada warga
yang ikut serta dalam penyuluhan sebelum dimulainya penyuluhan. Hasil dari
10 responden yang mengikuti penyuluhan dapat dilihat dalam Tabel 4.4.1.

Tabel 4.4.1 Hasil Pre-Test

Pengetahuan Jumlah Responden Persentase (%)


Baik 2 20%
Buruk 8 80%

Total 10 100%

Kemudian, setelah kami memberikan penyuluhan kepada warga, kami


melakukan post-test dengan soal yang sama seperti pre-test untuk mengetahui
keberhasilan penyuluhan kami dengan melihat ada atau tidaknya peningkatan
hasil.
Tabel 4.4.2 Hasil Post-Test

Pengetahuan Jumlah Responden Persentase (%)


Baik 8 80%
Buruk 2 20%

Total 10 100%

Dari data di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan


pengetahuan responden mengenai Ventilasi Sehat yang Baik sebesar 80%, maka dari
itu penyuluhan yang kami lakukan di Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dinyatakan berhasil.

98
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

5.1.1. Area Masalah

Berdasarkan wawancara serta observasi pada kegiatan pengumpulan data dari


kunjungan ke keluarga binaan yang bertempat tinggal di RT 001/ RW 002, Desa
Pasirkarag, Kecamatan Koroncong, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, maka
dilakukanlah diskusi kelompok dan merumuskan serta menetapkan area masalah
yaitu “Pengetahuan Mengenai Ventilasi Sehat Pada Keluarga Binaan dengan
BADUTA Stunting RT 001 / RW 002, Desa Pasirkarag, Kecamatan Koroncong,
Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.”

5.1.2. Akar Penyebab Masalah

Akar penyebab masalah yang didapatkan adalah sebagai berikut:

1. Keterbatasan biaya keluarga untuk meneruskan pendidikan ke jenjang


selanjutnya
2. Jarak rumah kesekolah tingkat tinggi (SMA, Universitas) sulit di
jangkau
3. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap ventilasi sehat
4. Tidak ada petugas penyuluhan mengenai ventilasi

5.1.3. Alternatif Pemecahan Masalah


1. Memberikan saran untuk meningkatkan keadaan ekonomi responden
2. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk tetap melanjutkan
sekolah walaupun dengan jarak jauh
3. Memberikan pengetahuan tentang ventilasi sehat bagi kesehatan
4. Membentuk kader khusus untuk program pengetahuan ventilasi sehat

99
5.1.4. Rencana Intervensi

1. Keterbatasan biaya keluarga untuk meneruskan pendidikan


ke jenjang selanjutnya

Jangka pendek

a. Menyarankan responden untuk bersama-sama membentuk usaha kecil


menengah seperti usaha membuat emping dengan berbagai macam rasa

Menengah
a. Menyarankan masyarakat tentang pentingnya menabung untuk masa yang
akan datang dengan menabung di koperasi desa
Jangka panjang

a. Mengajarkan masyarakat tentang investasi dengan ternak ayam

2. Jarak rumah kesekolah tingkat tinggi (SMA, Universitas) sulit di


jangkau
Jangka pendek

a. Memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan atau sekolah tinggi


walaupun harus menempuh jarak yang jauh

Menengah
a. . Menyediakan transportasi umum seperti bus sekolah khusus warga desa
Pasirkarag untuk pergi ke sekolah
Jangka panjang

a. Mendirikan sekolah seperti SMA dan Universitas di sekitar


pedesaan yang mudah dijangkau
b. Beasiswa pada anak kurang mampu untuk bersekolah lebih tinggi

3. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap ventilasi sehat


Jangka pendek

a. Memberikan penyuluhan tentang fungsi dan syarat ventilasi dan


pentingnya membuka serta membersihkan ventilasi rumah.

100
Menengah

a. Mengusulkan kader untuk memantau perkembangan


ventilasi rumah setelah penyuluhan.
Jangka panjang

a. Menyarankan puskesmas agar di- adakan kegiatan


penyuluhan rutin mengenai rumah sehat

4. Tidak ada petugas penyuluhan mengenai ventilasi sehat


Jangka pendek
a. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat terutama para kader mengenai
ventilasi sehat
Menengah
a. Membentuk kader khusus yang mempelajari dan mengawasi
menegenai ventilasi sehat.
Jangka panjang
a. Memberikan pelatihan rutin kepada para kader mengenai rumah
sehat khususnya ventilasi sehat setiap bulan

5.1.5. Intervensi yang Dilakukan

1. Memberi promosi kesehatan kepada keluarga binaan mengenai pengetahuan


tentang Ventilasi Sehat dengan menggunakan poster.
2. Memberi dorongan kepada keluarga binaan untuk memperhatikan kriteria
Ventilasi Sehat.
3. Memberikan saran kepada tokoh masyarakat untuk saling mengingatkan
antarwarganya mengenai dampak buruk dari ventilasi yang tidak sehat.

5.2. Saran

5.2.1. Bagi Kader

a. Kader diharapkan dapat membantu warga untuk menambah, mengasah, dan


memberikan pelatihan kepada masyarakat. Semakin kaya akan keterampilan dari
masyarakat maka akan semakin banyak lapangan kerja yang dapat terbuka untuk
masyarakat. Terbukanya lapangan kerja akan membantu perekonomian dari

101
masyarakat.
b. Diharapkan kader dapat memantau perkembangan dari Ventilasi Sehat
masyarakatnya.

5.2.2. Bagi Masyarakat

Masyarakat diharapkan agar saling mengingatkan mengenai dampak buruk dari


rumah yang tidak sehat dan bisa saling bergotong-royong demi mewujudkan
Ventilasi Sehat.

5.2.3. Bagi Puskesmas Bangkonol

a. Puskesmas diharapkan dapat memberikan penyuluhan secara rutin dan


merangkul seluruh masyarakat agar dapat memahami kriteria Ventilasi Sehat.
b. Puskesmas diharapkan dapat meningkatkan pemantauan kepada masyarakat
yang belum pernah mendapat penyuluhan agar lebih optimal dalam
meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Ventilasi Sehat sehingga akan
terwujud rumah yang sehat.

102
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahannya. 2008. Departemen Agama RI. Bandung: Diponegoro.


[BAPPENAS] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2011. Riset Kesehatan Dasar
2011. https://www.bappenas.go.id/id/. [15 September 2019].
Chairini, Nurul. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stres Pengasuhan pada Ibu dengan
Anak Usia Pra Sekolah di Poyandu Kemiri Muka. Skripsi. Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negri Syarif
Hidayatullah. Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.
Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang. 2018. Profil dan Laporan Kinerja
Puskesmas Bangkonol 2018. Pandeglang: Puskesmas Bangkonol.
S., Safrizal. (2017, Januari). Hubungan Ventilasi, Lantai, Dinding, dan Atap dengan Kejadian
ISPA pada Balita di Blang Muko. Prosiding Seminar Nasional IKAKESMADA “Peran
Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan SDGs” 41-48.

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo. 2012. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan Jakarta: Rineka Cipta.

Oktarina, Zilda dan Sudiarti, Tini. (2013, November). Faktor Risiko Stunting pada Balita (24-
59) Bulan di Sumatera. Jurnal Gizi dan Pangan. 8(3) 175-180. Diambil dari
http://journal.ipb.ac.id/index.php/jgizipangan/article/view/7977

Riyanto, Budiman Agus. 2013. Kapita Selekta Kuesioner: Pengetahuan dan Sikap dalam
Penelitian Kesehatan. Jakarta: Salemba Medika.

Sumamur. 1987. Hiperkes Keselamatan Kerja dan Ergonomic. Jakarta: Dharma Bakti.

103
Lampiran 1

KUESIONE PRE-SURVEY

1. IDENTITAS

Nama :

Umur :

Jenis kelamin : Laki-laki / Perempuan

2. PENDIDIKAN

a. Tidak sekolah

b. Tamat SD / Sederajatnya

c. Tamat SLTP / Sederajatnya

d. Tamat SLTA / Sederajatnya

e. Tamat D3 / Perguruan Tinggi

3. EKONOMI

Berapa penghasilan Anda perbulan?

a. > Rp 2.542.539,13
b. < Rp 2.542.539,13

4. PENGETAHUAN

Apakah Anda tahu yang dimaksud dengan ventilasi?

a. Ya

b. Tidak
Apakah Anda tahu fungsi ventilasi?

a. Ya

104
b. Tidak

Jika iya, menurut Anda apa saja kegunaan dari ventilasi? (Pilih jawaban yang benar)

a. Supaya cahaya matahari dari luar dapat masuk ke dalam, sehingga ruangan tidak
lembab
b. Supaya nyamuk dari dalam dapat ke luar

c. Supaya dapat melihat ke luar rumah

d. Supaya bisa membuang sampah ke luar

Apakah menurut Anda setiap rumah perlu memiliki ventilasi?

a. Ya

b. Tidak

Apakah Anda tahu manfaat dari sinar matahari pagi terhadap ruangan rumah?

a. Mematikan bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat di lingkungan, dapat


menghambat perkembangbiakan kuman penyakit, dan untuk penerangan
b. Tidak ada manfaatnya

Apakah Anda tahu berapa luas lubang ventilasi yang ideal?

a. Minimal 5% dari luas lantai ruangan

b. Minimal 10% dari luas lantai ruangan

c. Tidak tahu

Menurut Anda, bagaimanakah seharusnya letak ventilasi yang baik?

a. Ventilasi silang, yakni menempatkan jendela berhadapan antara dua dinding

b. Menempatkan jendela di tembok depan rumah

c. Tidak perlu dibuat lubang khusus untuk pertukaran udara karena udara bisa
masuk dari mana saja

105
5. SIKAP

Apakah Anda setuju bahwa ventilasi atau jendela harus selalu dibuka setiap hari?

a. Ya

b. Tidak

Apakah Anda setuju bahwa udara yang masuk ke dalam rumah seharusnya segar,
bebas dari polusi, dan bebas dari bau tidak sedap?
a. Setuju

b. Tidak setuju

Apakah Anda setuju bahwa lubang ventilasi perlu dibersihkan minimal 1 minggu
sekali?
a. Setuju

b. Tidak setuju

Apakah Anda setuju bahwa ventilasi yang tidak memenuhi syarat (kotor dan sempit)
dapat membawa penyakit?
a. Setuju

b. Tidak setuju

Apakah Anda setuju bahwa semua ruangan perlu ada ventilasinya?

a. Setuju

b. Tidak setuju

Apakah Anda setuju bahwa kandang boleh diletakkan berdekatan dengan lubang
ventilasi?
a. Setuju

b. Tidak setuju

106
Apakah Anda setuju bahwa ventilasi perlu diberikan jaring kelambu?

a. Setuju

b. Tidak setuju

Bila salah satu kamar Anda ada yang tidak memilki ventilasi, apakah Anda ingin
membuat ventilasi di kamar tersebut?
a. Ya

b. Tidak

6. PERILAKU

Apakah jendela rumah Anda selalu dibuka setiap hari?

a. Ya

b. Tidak

Apakah Anda membersihkan ventilasi rumah Anda?

a. Ya

b. Tidak

Jika iya, apakah Anda membersihkannya setiap hari?

a. Ya

b. Tidak

Apakah pada ventilasi rumah Anda ditutupi oleh barang-barang?

a. Ya

b. Tidak

107
Apakah lubang ventilasi Anda dipasang jaring-jaring kelambu?

a. Ya

b. Tidak

108
Lampiran 2

KUESIONER SURVEY

1. IDENTITAS
Nama:

Umur : Jenis
kelamin
: Laki-laki / Perempuan

2. PENDIDIKAN

a. Tidak sekolah

b. Tamat SD / Sederajatnya

c. Tamat SLTP / Sederajatnya

d. Tamat SLTA / Sederajatnya

e. Tamat D3 / Perguruan Tinggi

3. EKONOMI

Berapa penghasilan Anda perbulan?


a. > Rp 2.542.539, 13
b. < Rp 2.542.539,13

4. PENGETAHUAN

Apakah Anda tahu yang dimaksud dengan ventilasi?

a. Ya

b. Tidak

Apakah Anda tahu fungsi ventilasi?

a. Ya

b. Tidak

109
Jika iya, menurut Anda apa saja kegunaan dari ventilasi? (Pilih jawaban yang benar)

a. Supaya cahaya matahari dari luar dapat masuk ke dalam, sehingga ruangan tidak
lembab
b. Supaya nyamuk dari dalam dapat ke luar

c. Supaya dapat melihat ke luar rumah

d. Supaya bisa membuang sampah ke luar

Apakah menurut Anda setiap rumah perlu memiliki ventilasi?

a. Ya

b. Tidak

Apakah Anda tahu manfaat dari sinar matahari pagi terhadap ruangan rumah?

a. Mematikan bakteri dan mikroorganisme lain yang terdapat di lingkungan, dapat


menghambat perkembangbiakan kuman penyakit, untuk penerangan
b. Tidak ada manfaatnya

Apakah Anda tahu berapa luas lubang ventilasi yang ideal?

a. Minimal 5% dari luas lantai ruangan

b. Minimal 10% dari luas lantai ruangan

c. Tidak tahu

Menurut Anda, bagaimanakah seharusnya letak ventilasi yang baik?

a. Ventilasi silang, yakni menempatkan jendela berhadapan antara dua dinding

b. Menempatkan jendela di tembok depan rumah

c. Tidak perlu dibuat lubang khusus untuk pertukaran udara karena udara bisa
masuk dari mana saja

110
5. INFORMASI

Apakah Anda pernah mendapatkan penyuluhan mengenai ventilasi udara?

a. Ya

b. Tidak pernah

Apakah Anda pernah mendengar atau menonton tentang informasi mengenai


ventilasi udara?
a. Ya

b. Tidak pernah

6. SOSIAL DAN BUDAYA

Apakah terdapat kebiasaan membuka ventilasi dan jendela di lingkungan rumah Anda?

a. Ya

b. Tidak

Apakah ada hubungan antara kebersihan ventilasi dengan agama islam?

a. Ya

b. Tidak

111
Lampiran 3

PRE-TEST dan POST-TEST

Lingkari jawaban yang menurut Anda benar!

1. Lubang masuk keluarnya udara ke rumah disebut…

a. Ventilasi

b. Ventrikel

c. Ventilator

d. Populasi

2. Bagaimana luas ventilasi seharusnya?

a. 5% dari luas lantai

b. 1% dari luas lantai

c. 10% dari luas lantai

d. 7% dari luas lantai

3. Apa tujuan ventilasi pada jendela rumah?

a. Menukar udara kotor dengan udara bersih

b. Memudahkan nyamuk untuk masuk ke dalam rumah

c. Agar debu luar bisa masuk ke dalam rumah

d. Agar mudah terkena polusi

4. Apa yang harus Anda lakukan agar udara kotor dapat tergantikan dengan udara bersih?

a. Membersihkan kamar dan sering membuka ventilasi

b. Mengotori kamar dan sering membuka ventilasi


112
c. Mengotori kamar dan tidak pernah membuka ventilasi

d. Membersihkan kamar dan tidak pernah membuka ventilasi

5. Mengapa cahaya matahari perlu masuk ke dalam kamar?

a. Mencegah kelembaban rumah

b. Supaya kamar terlihat bersih

c. Membunuh lalat di dalam rumah

d. Supaya debu di kamar menumpuk

113
Penilaian kuesioner

Semua penilaian untuk nomor 1, 2,


3, 4, dan 5. Poin benar : 1
Poin salah : 0

Interpretasi

Baik, bila jawaban benar ≥ 3


Buruk, bila jawaban benar < 3

114
Lampiran 4
POSTER INTERVENSI

115
Lampiran 5

BANNER INTERVENSI

116
Lampiran 6

KEGIATAN DI RUMAH KELUARGA BINAAN

117
118
119
120
121
122
123
84
85