Anda di halaman 1dari 76

HUBUNGAN ANTARA IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN KEJADIAN

ISPA PADA BALITA USIA TIGA TAHUN DI DESA KUJANGSARI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS LANGENSARI 1
KOTA BANJAR

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Studi


Pada Program Studi S-I Ilmu Kesehatan Masyarakat
STIKes Bina Putera Banjar

Oleh:
TRI RAHAYU
NPM : 4004150019

STIKES BINA PUTERA BANJAR


PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
2019

i
ii
iii
PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Tri Rahayu

NIM : 4004150019

Jurusan : S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Judul Skripsi : Hubungan Antara Imunisasi Dasar Lengkap Dengan Kejadian Ispa

Pada Balita Usia Tiga Tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan skripsi ini berdasarkan hasil

penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri, baik untuk naskah laporan

maupun kegiatan yang tercantum sebagai bagian dari skripsi ini. Jika terdapat karya

orang lain, saya mencantumkan sumber yang jelas.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian

hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam penyataan ini maka saya

bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan gelar yang telah diperoleh

karena skripsi ini dan sanksi lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku di STIKes

Bina Putera Banjar.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak

manapun.

Banjar, Agustus 2019

Yang membuat pernyataan

Materai Rp. 6.000

TRI RAHAYU
NIM : 4004150019

iv
RIWAYAT HIDUP

Foto

Nama : Tri Rahayu

NIM : 4004150019

Tempat/Tanggal Lahir : Ciamis, 05 April 1995

Alamat : Dusun Sukamaju RT 09 RW 05

Desa Mulyasari Kecamatan Pataruman

Kota Banjar Propinsi Jawa Barat

Jenis Kelamin : Perempuan

Pendidikan :

1. SD : SD Negeri 1 Mulyasari

2. SMP : MTS Negeri Langensari

3. SMA : MA PK Yaba Al Ma’Arif

4. S1 : STIKes Bina Putera Banjar

Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

v
PROGRAM STUDI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BINA PUTERA BANJAR
Skripsi, Agustus 2019

Tri Rahayu1 Suriany2 Fenty Rosmala3


HUBUNGAN ANTARA IMUNISASI DASAR LENGKAP DENGAN KEJADIAN
ISPA PADA BALITA USIA TIGA TAHUN DI DESA KUJANGSARI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS LANGENSARI 1 KOTA BANJAR
xii + 53 halaman + 10 tabel + 2 bagan + 5 lampiran

ABSTRAK

Kasus ISPA yang terjadi di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar
yaitu sebanyak 187 kasus terjadi pada beberapa golongan usia yaitu usia 3 tahun
sebanyak 63 kasus (33,44 %), 1 tahun sebanyak 35 kasus (18,42 %), 4 tahun sebanyak
33 kasus (17,88 %), 2 tahun sebanyak 33 kasus (17,88 %), dan 5 tahun sebanyak 23
kasus (12,40 %), sehingga berdasarkan data tersebut terlihat bahwa angka kejadian
ISPA lebih banyak diderita oleh balita usia 3 tahun yaitu sebanyak 63 kasus yang
tersebar di beberapa desa yaitu Desa Kujangsari sebanyak 32 kasus (50,83%), Desa
Bojongkantong sebanyak 22 kasus (34,94 %), dan Desa Rejasari sebanyak 9 kasus
(14,92 %).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara imunisai dasar
lengkap dengan kejadian ISPA pada balita usia tiga tahundi Desa Kujangsari Wilayah
Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar. Jenis penelitian yang digunakan penelitian
studi korelasi dengan rancangan penelitian studi retrospektif. Populasi dalam penelitian
ini adalah balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas
Langensari 1 Kota Banjar pada bulan Juni 2019 yang berjumlah 31responden. Teknik
sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa imunisai dasar lengkap pada balita usia tiga
tahun yang ISPA sebanyak 2 responden (6,5 %), imunisai dasar tidak lengkap pada
balita usia tiga tahun yang ISPA sebanyak 9 responden (29,0 %), dan adanya hubungan
antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa
Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar karena p value kurang
dari α (0.000 < 0,05).
Peneliti menyarankan agar ibu yang mempunyai balita dapat mengimunisasikan
bayinya secara lengkap agar kekebalan tubuh balita lebih baik serta dapat mencegah
terjadinya ISPA pada balita.

Kata Kunci : Balita, Imunisasi, ISPA


Kepustakaan : 33 (2010 – 2018)
Keterangan : 1: Nama Mahasiswa, 2: Pembimbing I, 3 : :Pembimbing II

vi
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya di panjatkan kepada Allah SWT, karena dengan

izinnya peneliti dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini yang berjudul ” Hubungan

Antara Imunisai Dasar Lengkap Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Usia Tiga Tahun di

Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar”.

Peneliti menyadari sepenuhnya akan keterbatasan kemampuan dalam penyusunan

skripsi ini, oleh karena itu tanpa bantuan dari berbagai pihak tidak mungkin skripsi ini

dapat diselesaikan. Sehubungan dengan hal tersebut. Pada kesempatan ini peneliti ingin

mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr., dr., H. Herman Sutrisno, MM., selaku Pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Bina Putera Banjar

2. Dr. Ade Setiana, Drs., M.Pd., selaku Ketua Yayasan Banjar Mandiri

3. Dr. Hj. Suryani, S.Pd., MM., M.Kes., selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan

Bina Putera Banjar sekaligus sebagai Pembimbing I pada penyusunan skripsi ini

4. Ide Suhendar, M.Kes., selaku Ketua Program Studi S-1 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Putera Banjar

5. Fenty Rosmala, SP.,M.Pd., selaku pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini

6. Seluruh dosen beserta staf karyawan STIKes Bina Putera Banjar yang telah

memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menuntut ilmu di STIKes Bina

Putera Banjar.

7. Orang tua dan keluarga yang telah memberikan dorongan semangat dan bantuan

baik secara materil maupun spiritual

vii
8. Rekan-rekan mahasiswa seangkatan di Jurusan S1 Ilmu Kesehatan Masyarakat

STIKes Bina Putera Banjar yang telah bersama duduk di bangku perkuliahan

9. Berbagai pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu yang turut berperan

dalam membantu penulis menyelesaikan penyusunan skripsi ini

Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu

segala kritik dan saran serta masukan yang bersifat membangun sangat peneliti

harapkan.

Akhir kata peneliti berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti

khususnya dan pembaca pada umumnya.

Banjar, Agustus 2019


Peneliti

Tri Rahayu

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL LUAR


HALAMAN SAMPUL DALAM ..................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN ........................................................................ ii
HALAMAN PERNYATAAN ......................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... iv
ABSTRAK ....................................................................................................... v
KATA PENGANTAR ...................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................... viii
DAFTAR BAGAN ........................................................................................... x
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................... 7
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 7
1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................... 8
1.5 Keaslian Penelitian ....................................................................... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 10


2.1 Tinjauan Teoritis ............................................................................ 10
2.2 Kerangka Konsep dan Kerangka Kerja ........................................ 22
2.3 Hipotesis Penelitian ...................................................................... 23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 25


3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian .................................................... 25
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian .................................................... 26
3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................... 26

ix
3.4 Cara Pengumpulan Data ................................................................ 27
3.5 Instrumen Penelitian ..................................................................... 28
3.6 Jalannya Penelitian ....................................................................... 28
3.7 Strategi Analisis ............................................................................. 30
3.8 Etika Penelitian ............................................................................. 33
3.9 Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................ 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................. 37
4.1 Hasil Penelitian ............................................................................. 37
4.2 Pembahasan ................................................................................... 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 52
5.1 Kesimpulan ................................................................................... 52
5.2 Saran ............................................................................................. 53
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR BAGAN

Halaman

Bagan 2.1 Kerangka Konsep ........................................................................... 22


Bagan 2.2 Kerangka Kerja ............................................................................... 23

xi
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Definisi Operasional ...................................................................... 27


Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Penelitian ........................................................... 36
Tabel 4.1 Data Sumber Daya Puskesmas Langensari I Kota Banjar Tahun
2018 .............................................................................................. 38
Tabel 4.4 Distribusi Usia Ibu Pada Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah Kerja
Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar ........................................... 39
Tabel 4.5 Distribusi Pekerjaan Ibu Pada Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah
Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar ................................. 40
Tabel 4.6 Distribusi Pendidikan Ibu Pada Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah
Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar ................................. 41
Tabel 4.7 Distribusi Imunisai Dasar Lengkap Pada Balita Usia Tiga Tahun
di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar .............. 42
Tabel 4.7 Distribusi Kejadian ISPA Pada Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah
Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar ................................. 42
Tabel 4.8 Hubungan Antara Imunisai Dasar Lengkap Dengan Kejadian
ISPA Pada Balita Usia Tiga Tahun di Desa Kujangsari
Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar .................. 43

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Keputusan Pembimbing

Lampiran 2 Surat Ijin Studi Pendahuluan

Lampiran 3 Lembar Konsultasi

Lampiran 4 Instrumen Penelitian

Lampiran 5 Tabulasi Data Hasil Penelitian

xiii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Balita yaitu anak yang berusia di bawah lima tahun merupakan generasiyang

perlu mendapat perhatian, karena balita merupakan generasi penerus danmodal dasar

untuk kelangsungan hidup bangsa, balita amat peka terhadap penyakit, tingkat

kematian balita masih tinggi (Novie, 2015).

ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut, merupakan salah satu

penyakityang banyak menyebabkan kematian pada balita.ISPA adalah suatu

penyakit yang terbanyak diderita oleh anak - anak, baik di negaraberkembang

maupun dinegara maju dan sudah mampu(Rasmaliya, 2015).

World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens Infeksi

SaluranPernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian

balita di atas40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15% - 20% pertahun pada golongan

usia balita.Menurut WHO 13 juta balita di dunia meninggal setiap tahun dan

sebagian besarkematian tersebut terdapat di Negara berkembang, dimana pneumonia

merupakan salah satupenyebab utama kematian dengan membunuh 4 juta balita

setiap tahun (Asrun,2015).

ISPA di Indonesiaselalu menempati urutanpertama penyebab kematian pada

kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA jugasering berada pada daftar 10 penyakit

terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yangdilakukan oleh Subdit ISPA tahun

1
2

2015 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagaipenyebab kematian bayi terbesar di

Indonesia dengan persentase 22,30% dari seluruhkematian balita (Depkes, 2016).

ISPA merupakan masalah yang cukup kompleks. Selain berdampak pada aspek

kesehatan juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi serta sumber daya

manusia. Data dari Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat tahun 2015 menunjukkan

bahwa kasus ISPA di Jawa Barat adalah sebanyak 6.225 kasus (Dinkes Jabar, 2016).

Kota Banjar adalah salah satu kota yang ada di Propinsi Jawa Barat dan data

yang didapat dari Dinas Kesehatan Kota Banjar diketahui bahwa angka kejadian

ISPA pada balita tahun 2018 adalah sebanyak 549 yang tersebar di beberapa wilayah

kerja puskesmas, yaitu Puskesmas Langensari 1 sebanyak 187 kasus

(34,06 %), kemudian Puskesmas Banjar 1 sebanyak 87 kasus (15,85 %), Puskesmas

Banjar 3 sebanyak 72 kasus (13,11 %), Pataruman 2 sebanyak 48 kasus (8,74 %),

Puskesmas Pataruman 1 sebanyak 48 kasus (8,74 %), Puskesmas Banjar 2

sebanyak 41 kasus (7,47 %), Puskesmas Pataruman 3 sebanyak 29 kasus (5,29 %),

Puskesmas Purwaharja 1 sebanyak 16 kasus (2,91 %), Puskesmas Purwaharja 2

sebanyak 10 Kasus (1,82 %), dan Langensari 2 sebanyak 7 kasus (1,28 %), sehingga

berdasarkan data tersebut di atas terlihat bahwa angka kejadian ISPA tertinggi pada

balita terdapat di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar yaitu

sebanyak 187 kasus (34,06 %) (Dinkes Kota Banjar, 2018).

Kasus ISPA yang terjadi di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota

Banjar yaitu sebanyak 187 kasus terjadi pada beberapa golongan usia yaitu usia 3

tahun sebanyak 63 kasus (33,44 %), 1 tahun sebanyak 35 kasus (18,42 %), 4

tahun sebanyak 33 kasus (17,88 %), 2 tahun sebanyak 33 kasus (17,88 %), dan 5
3

tahun sebanyak 23 kasus (12,40 %), sehingga berdasarkan data tersebut terlihat

bahwa angka kejadian ISPA lebih banyak diderita oleh balita usia 3 tahun yaitu

sebanyak 63 kasus yang tersebar di beberapa desa yaitu Desa Kujangsari sebanyak

32 kasus (50,83%), Desa Bojongkantong sebanyak 22 kasus (34,94 %), dan Desa

Rejasari sebanyak 9 kasus (14,92 %).

ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena

menyebabkankematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4

kematian yangterjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap

tahunnya. Dariseluruh kematian, yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % - 30

%. Kematian yangterbesar umumnya adalah karena pneumonia dan pada bayi

berumur kurang dari 2bulan (Rasmaliyah,2015).

ISPA dapat menimbulkan gangguan pada fungsi pernapasan yang berupa

gangguan ventilasi dan gangguan pertukaran gas yang erat hubungannya dengan

sistem kordiovaskuler serta gangguan irama pernapasan yang erat kaitannya dengan

sistem saraf pusat. ISPA dalam sehari-hari dikenal sebagai penyakit batuk pilek,

penyakit ini sering kali dianggap suatu penyakit yang biasa dan tidak memerlukan

pengobatan tetapi perlu diketahui bahwa anak yang sakit batuk dan pilek dapat

berlanjut penyakitnya menjadi pneumonia, sedangkan pneumonia dapat berakibat

kematian bila tidak diobati dengan segera (Nuraeni, 2015).

ISPA dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : cuaca dan musim,

kepadatan penghuni rumah, umur dan jenis kelamin, status gizi dan anemia, tingkat

sosio ekonomi rendah, pendidikan, imunisasi dan Air Susu Ibu (ASI), riwayat

penyakit kronis, polusi udara, dan asap dapur. Penyakit infeksi dengan keadaan gizi
4

kurang merupakan hubungan timbal balik dan sebab akibat. Penyakit infeksi dapat

memperburuk keadaan gizi dan keadaan gizi yang kurang dapat mempermudah

seseorang terkena penyakit infeksi (Supariasa, 2015).

Salah satu cara menghindari penyakitpada anak yang efektif adalah

meningkatkansystem kekebalan tubuh denganmemberikan obat khusus yang

disebutvaksin melalui imunisasi. Imunisasi adalahupaya yang dilakukan dengan

sengajamemberikan kekebalan (imunitas) pada bayiatau anak sehingga terhindar

dari penyakit(Supartini, 2014). Imunisasi adalahusaha memberi kekebalan pada bayi

dananak dengan memasukkan vaksin kedalamtubuh agar tubuh membuat zat anti

untukmencegah terhadap penyakit tertentu.Sedangkan vaksin adalah bahan

yangdipakai untuk merangsang pembentukan zatanti yang dimasukkan ke dalam

tubuhmelalui suntikan sepertivaksin Bacilus Camette Guerin (BCG), Difteri Pertusis

dan Tetanus (DPT),Campak, dan melaluimulutsepertivaksinpolio (Hidayat, 2015).

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yangtelah ditetapkan Depkes

pada tahun 2000yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus,poliomyelitis, campak

dan hepatitis(Setiawati, 2015).

Menurut Ariko dan Soffia. L (2015) ISPA juga sangat dipengaruhi apabila

kelengkapan Imunisasi tidak lengkap. Imunisasi merupakan salah satu cara untuk

memberikan kekebalan seseorang secara aktif terhadap penyakit menular,. Imunisasi

merupakan sistem imun yang spesifik. Imunisasi terdiri dari beberapa jenis, yakni:

imunisasi BCG, imunisasi DPT/HB, imunisasi polio, imunisasi campak, dan

imunisasi Hb-0.
5

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang

dapat dicegah dengan imunisasi. Salah satu faktor penyebab ISPA adalah status

imunisasi pada balita. ISPA berasal dari jenis penyakit yang berkembang dari

penyakit yang dapat dicegah seperti difteri, pertusis, dan campak, maka peningkatan

cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Cara

yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak,

pemberian imunisasi lengkap sebelum anak mencapai usia 1 tahun, anak akan

terlindung dari beberapa penyebab yang paling utama dari infeksi pernafasan

termasuk batuk rejan, difteri, tuberkulosa dan campak. Penderita difteri, pertusis

apabila tidak mendapat pertolongan yang memadai akan berakibat fatal. Dengan

pemberian imunisasi lengkap dapat mencegah kematian ISPA yang diakibatkan oleh

komplikasi penyakit campak dan pertusis (Setiawati, 2015).

Imunisasi sangat berguna dalam menentukan ketahanan tubuh bayi terhadap

gangguan penyakit. Para ahli kesehatan menyebutkan bahwa di banyak negara, dua

penyebab utama tingginya angka kematian anak adalah gangguan gizi dan infeksi.

Hal ini dapat dicegah dengan imunisasi yang merupakan hal mutlak dalam

memelihara kesehatan dan gizi anak (Fuad, 2015).

Hasil penelitian yang berhubungandengan status imunisasi menunjukkanbahwa

ada kaitan antara penderitaISPA yang mendapatkan Imunisasitidak lengkap dan

lengkap, dan bermaknasecara statistis. Menurut penelitian yangdilakukan Tupasi

(1985), dalam penelitianSuhandayani (2010), menyebutkan bahwaketidakpatuhan

imunisasi berhubungandengan peningkatan penderita ISPA. Bayidan balita yang

pernah terserang campakdan selamat akan mendapat kekebalanalami terhadap ISPA


6

sebagaikomplikasi campak. maka peningkatancakupan imunisasi akan berperan

besardalam upaya pemberatasan ISPA (Wiwoho. S , 2015).

Penelitian mengenai kelengkapan imunisasi sebelumnya telah dilakukan oleh

Sufriani(2015), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada hubungan antara

kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA (p-value= 0,030)dan ada hubungan

antara ketepatan jadwal imunisasi dengan kejadian ISPA (p-value= 0,003).Imunisasi

merupakan antibodi pasifyang bertujuan untuk mempertahankankekebalan tubuh

dan membantu tubuhmembentuk kekebalan terhadap penyakitinfeksi. Oleh sebab itu

pemberian imunisasiyang lengkap dapat memberikan kekebalanterhadap penyakit-

penyakit tertentu salahsatunya ISPA. Berdasarkan hasil penelitianini dan dari

beberapa penelitian yangmendukung menunjukkan bahwa imunisasiyang lengkap

memberikan imunitas yanglebih baik pada tubuh anak terhadappenyakit infeksi

seperti ISPA dari pada anakdengan imunisasi yang tidak lengkap.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka peneliti tertarik untuk mengkaji

permasalahan yaitu “Bagaimakah hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan

kejadian ISPA pada balita usia tiga tahundi Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar?”


7

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian ISPA

pada balita usia tiga tahundi Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas

Langensari 1 Kota Banjar

1.3.2 Tujuan khusus

1. Mengetahui imunisai dasar lengkap pada balita usia tiga tahun di Desa

Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

2. Mengetahui kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari

Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

3. Menganalisis hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian

ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Dapat menjadi data dan informasi bagi bidang kesehatanmasyarakat serta dapat

menjadi acuan bagi pengembangan penelitiantentang ISPA, juga untuk

menguatkan teori sebelumnya tentang faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA

pada balita usia tiga tahun.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi

stakeholder dalam mengambil keputusan yang akan digunakan untuk upaya

pencegahan dan penanganan ISPA.


8

1.5 Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai ISPA pada balita sebelumnya pernah dilakukan oleh

Suhandayani (2015) dengan judul “Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan

Kejadian ISPAPada Balita di Puskesmas Pati I Kabupaten Pati tahun 2006”. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan

ISPA diantaranya dalah pemberian ASI Eksklusif, kepadatan hunian ruang tidur,

ventilasi udara, kebiasaan merokok anggota keluarga, riwayat keluarga dengan

ISPA. Sedangkan faktor yang tidak ada hubungan adalah lantai ruang tidur,

kepemilikan lubang asap dapur dan penggunaan jenis bahan bakar. Penelitian yang

akan dilakukan oleh peneliti memiliki beberapa persamaan diantaranya adalah

variabel dependent yang diteliti adalah tentang ISPA, populasi dan sampel adalah

balita, analis a data menggunakan analisa univariat dan bivariat. Sedangkan

perbedaan terletak pada variabel independent dimana penelitian sebelumnya tidak

meneliti mengenai kelengkapan imunisasi dasar.

Penelitian sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Hadiana (2013) dengan

judul “Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut

(ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Pajang Surakarta”. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa adanya hubungan yang signifikan antara status gizi terhadap terjadinya ISPA

pada balita, selain itu didapatkan nilai Ratio Prevalensi (RP) = 27,5 dengan (interval

kepercayaan 95%, 8,372-90,328), artinya bahwa anak yang mengalami gizi kurang

berisiko 27,5 kali untuk mengalami ISPA dibanding balita yang mempunyai gizi

baik. Persamaan penelitian ini terletak pada masalah yang diteliti yaitu mengenai

ISPA, menggunakan pendekatan cross sectional, dan menggunakan analisa univariat

serta bivariat. Sedangkan perbedaan terletak pada variabel independent yang diteliti

tidak meneliti mengenai kelengkapan imunisasi.


9

Penelitian sebelumnya pernah dilakukan juga oleh Kusumawati (2015)

dengan judul “Hubungan Antara Status Merokok Anggota KeluargaDengan Lama

Pengobatan Ispa Balita Di Kecamatan Jenawi”. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa ada perbedaan proporsi Lama pengobatan ISPA Balita antarakeluarga yang

merokok dengan keluarga yang tidak merokok (“ada hubungan yangsignifikan

antara keluarga yang merokok dengan lama pengobatan ISPA Balita. Persamaan

pada penelitian ini terletak pada masalah penelitian yaitu mengenai ISPA, jenis

penelitian menggunakan studi korelasi dan pendekatan cross sectional, analisa data

menggunakan analisa data univariat dan bivariat. Sedangkan perbedaan terletak pada

variabel independent yang diteliti tidak meneliti mengenai kelengkapan imunisasi

dasar.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Imunisasi Dasar Lengkap

2.1.1.1 Imunisasi Dasar

Imunisasi dasar adalah imunisasi yang di berikan untukmendapatkan

kekebalan awal secara aktif`.Imunisasi dasar adalah imunisasi awal untung

mencapaikekebalan di atas ambang perlindungan (imunisasi pada bayi)`meliputi:

BCG, Unijet Hb, DPT/HB 3 kali, campak 1 kali (Lisnawati,2015). Sedangkan

menurut Ranuh dkk (2015),imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi BCG

(1x) hepatitisB(3x), DPT (3x) , polio (4x) dan Campak (1x) sebelum bayi

berusia 1tahun. Indikator keberhasilan program imunisasi dikatakan berhasil jika

cakupan target imunisasi mencapai target UCI (Universal Chilid Imunization

),yakni 86 % balita telah di Imunisasi (Astuti, 2017).

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dasaradalah:

Tabel 2.1
Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
No Penyakit Imunisasi
1. Hepatitis B Hepatitis B
2 Tuberkulosis BCG
3. Difteri DPT
4 Pertusis DPT
5 Tetanus DPT
6 Polio Polio
7 Campak Campak
Sumber : Astuti, 2017

10
11

Imuniasi dasar pada bayi merupakan imunisasi wajib yang dilaksanakan

di Indonesia terdiri dari :

1. BCG (Bacillus Comlmtte Guerin)

Imunisasi BCG dilakukan sekali sebelum anak berumur 2 bulan. Vaksin

disuntikan secara intakutan pada lengan atas sebanyak 0,05 ml.

2. DPT (Difteri Pertusis Tetanus)

Vaksin DPT biasanya terdapat dalam bentuk suntikan yang disuntikkan pada

otot lengan dan paha. Imunisasi DPT diberikan sebanyak tiga kali yaitu pada

saat anak berumur 2 bulan (DPT 1), 3 bulan (DPT 2), dan 4 bulan (DPT 3)

selang waktu tidak kurang dari 4 minggu.

3. Polio

Imunisasi polio diberikan 4 kali pada balita usia 0 – 11 bulan dengan interval

4 minggu.

4. Campak

Imunisasi campak diberikan 1 kali pada balita usia 9 – 11 bulan karena

masih ada antibody yang diperoleh dari vaksin yang disuntikkan secara

subkutan sebanyak 0,5 ml.

5. Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B harus diberikan sedini mungkin setelah bayi lahir atau

jika ibunya memiliki HbsAg negatif harus diberikan saat hamil berumur 2

bulan. Imunisasi dasar diberikan 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara

HB1 dengan HB2 serta selang waktu 5 bulan antara HB2 dan HB3.
12

2.1.1.2 Pengertian Imunisasi

Imunisasi merupakan reaksi antara antigen dan antibodiantibodi,yang

dalam bidang ilmu imunologi merupakan kuman atauracun toxin disebut sebagai

antigen.Secara khusus antigenmerupakan bagian dari protein kuman atau protein

racunnya. Bilaantigen untuk pertama kalinya masuk dalam tubuhs manusia,

makasebagai reaksi tubuh akan membentuk zat anti terhadap racunkuman yang

di sebut dengan antibody (Aselsi,2012).

Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan padabayi dan anak

dengan memasukan vaksin ke dalam tubuh agartubuh membuat zat anti untuk

mencegah terhadap penyakittertentu. Sedangkan yang dimaksud dengan vaksin

adalah bahanyang pakai untuk merangsang pembentukan zat anti

yangdimasukan ke dalam tubuh melalaui suntikan seperti vaksin BCG,DPT,

campak, dan melalui mulut seperti polio. (Alimul,2015).

Imunisasi merupakan pemberian kekebalan tubuh terhadapsuatu penyakit

dengan memasukan sesuatu ke dalam tubuh agartubuh tahan terhadap penyakit

yang sedang membawa atauberbahaya bagi seseorang. Imunisasi bersal dari kata

imun yangberarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakithanya

akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu sajasehingga untuk

terhindar dari penyakit lain diperlukanimunisasi lainya (Lisnawati,2015)


13

2.1.1.3 Tujuan Imunisasi

Tujuan diberikan imunisasi adalah diharapkan anak menjadikebal tehadap

penyakit sehingga dapat menurunkan angkamorbilitas dan mortalitas serta dapat

mengurangi kecacatan akibatpenyakit tertentu. (Alimul, 2015)

Dengan demikian dari referensi di atas dapat disimpulkanbahwa tujuan

pemberian imunisasi adalah memberikan kekebalanpada bayi dan anak dengan

maksud menurunkan kematian dankesakitan serta mencegah akibat buruk lebih

lanjut dari penyakityang dapat dicegah dengan imunisasi.

2.1.1.4 Syarat Imunisasi

Menurut Depkes RI ( 2015), dalam penelitian imunisasi adasyarat yang

haruus diperhatikan: yaitu diberikan pada bayi atauanak yang sehat, vaksin yang

di berikan harus baik, disimpan dilemari es dan belum lewat masa berlakunya

pemberian imunisasidengan teknik yang tepat, mengetahui jadwal imunisasi

denganmelihat umur dan jenis imunisasi yang telah diterima, meneliti

jenisvaksin yang telah di berikan, mencatat nomor batch pada bukuanak atau

kartu imunisasi serta memberikan informed consentkepada orang tua atau

keluarga sebelum melakukan tindakanimunisasi yang sebelumnya telah

dijelaskan kepada orang tuanya tentang manfaat dan efek samping atau kejadian

ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang dapat timbul setelah pemberian

imunisasi(Lisnawati, 2015).
14

2.1.1.5 Kelengkapan Imunisasi Balita 3 Tahun

Adapun kelengkapakan imunisasi menurut Astuti (2017) pada anak usia 3

tahun adalah sebagai berikut :

Tabel 2.2

Jadwal Imunisasi

Jumlah
No Imunisasi Interval
Pemberian

1 BCG 1 kali

2 DPT 3 kali 4 minggu

3 Hepatitis B 3 kali 4 minggu

4 Polio 4 kali 4 minggu

5 Campak 1 kali

(Sumber : Astuti, 2017)

2.1.2 ISPA Pada Balita

2.1.2.1 Pengertian

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi padasaluran

pernapasan yang dapat berlangsung 14 hari. Saluran pernapasan di sini adalah

organ mulaidari hidung sampai alveoli paru beserta organ-organ

adneksanya,misalnya sinus,ruang telinga tengah dan pleura. (Depkes RI,2015).

Istilah ISPA mengandung tiga unsur yaitu infeksi, saluranpernafasan dan

akut. Penjelasan dari ketiga unsur tersebut yaitu :


15

1. Infeksi, merupakan proses masuknya kuman atau organisme ke dalam tubuh

manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2. Saluran pernapasan, merupakan organ yang dimulai darihidung hingga

alveoli beserta organ andeksanya seperti sinussinusrongga telingah tengah

dan pleura. Dengan demikianISPA secara antonomi mencakup saluran

pernafasan bagianatas, termaksud jaringan paru-paru dan organ adneksa

saluran pernafasan. Dengan batasan ini maka jaringan paru termasukdalam

saluran pernafasan.

3. Akut, merupakan infeksi yang berlangsung selama 14 hari,Batas 14 hari ini

diambil untuk menunjukan proses akutmeskipun untuk beberapa penyakit

yang digolongkan dalamISPA, proses ini dapat berlangsung lebih dari 14

hari. (DepkesRI, 2015)

2.1.2.2 Penyebab ISPA

Menurut Vietha (2015), etiologi ISPA adalah lebih dari 200 jenis bakteri,

virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara laingenus streptococcus,

stafilococus, hemafilus, bordetella, hokinebacterium. Virus penyebanya antara

lain golongan mikrovirus,adnovirus, dan virus yang paling sering menjadi

penyebab ISPAadalah influenza yang ada di udara bebas, yang masuk

menempelpada saluran pernapasan bagian atas yaitu tenggorokan danhidung.

Biasanya bakteri dan virus tersebut menyerang anak-anakdi bawa usia 2 tahun

yang keadaan tubuhnya lemah atau belumsempurna. Peralihan musim kemarau

ke musim hujan jugamenimbulkan resiko serangan ISPA. Beberapa faktor


16

laindiperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anakadalah

rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, danburuknya sanitasi

lingkungan.

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompokpenyakit yang

komplek dan heterogen, yang disebabkan olehberbagai etiologi kebanyakan

infeksi saluran pernafasan akut disebabkan oleh virus dan mikroplasma, untuk

golongan viruspenyebab ISPA antara lain golongan miksovirus (termasuk

didalamnya virus para influenza) merupakan penyebab terbesar darisindroma

batuk rejan, bronkiokitis, dan penyakit demam salurannafas bagian atas, untuk

virus influenza bukan penyebab terbesarterjadi sindroma saluran pernafasan

kecuali hanya epidemi-epidemisaja. Pada bayi dan anak, virus-virus

merupakanterjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas bagian atas daripada

saluran nafas bagian bawah. (Fuad, 2015).

2.1.2.3 Tanda dan Gejala ISPA

Pada umumnya suatu penyakit saluran pernapasan dimulaidengan keluhan

dan gejala-gajala yang ringan. Gejala yang umumpada penderita ISPA yaitu

demam, batuk pilek, takipnea, dispnea.Dalam perjalanan penyakit mungkin

gejala-gejala akan menjadilebih berat dan bila semakin berat dapat jatuh dalam

keadaankegagalan pernafasan dan mungkin meninggal.

Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tandaklinis dan tanda-

tanda laboratories. Tanda-tanda klinis yaitu:


17

1. Pada sistem respiratorik adalah tachypnea, nafas tak teratur, retraksi dinding

thoraks, nafas cuping hidung, suara napas lemah dan hilang, grunting

expiratoir dan wheezing.

2. Pada sistemcardial adalah tachycardia, bradycardia, hypertensi,hypotensi dan

cardic arrest.

3. Pada sistemcerebral adalah gelisah mudah terangsang, sakitkepala, bingung,

kejang, dan koma;

4. Pada hal umum adalah letih dan berkeringat banyak.

Tanda-tanda laboratories yaitu; hypoxemia, hypercapnia danacidosis

(metabolik dan respiratorik). (Depkes RI, 2015)

2.1.2.4 Cara Penularan ISPA

ISPA bermula pada saat mikro organisme atau zat asingseperti tetesan

cairan yang dihirup, memasuki paru danmenimbulkan radang.Bila penyebabnya

firus atau bakteri, cairandigunakan oleh organisme penyerang atau media

perkembangan.Bila penyebabnya zat asing cairan memberi tempat

berkembangbagi organisme yang sudah ada dalam peru-paru atau

sistempernapasan (Depkes RI, 2015).

2.1.2.5 Faktor Penyebab

Beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA diantaranya

adalah :
18

1. Status gizi

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakanmakanan yang

dikonsumsi secara normal melalui prosesdigesti, absorpsi, transportasi,

penyimpanan, metabolisme, danpengeluaran zat-zat yang tidak digunakan

untukmempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normaldari

organ-organ serta mengahasilkn energy (Supariasa, 2015).

2. Kelengkapan imunisasi

Ada dua jenis imunisasi, yaitu imunisasi aktif danimunisasi pasif.

Pemberian imunisasi pada anak biasanyadiberikan dengan cara imunisasi

aktif, karena imunisasi aktifakan memberikan kekebalan lebih lama.

Imunisasi pasifdiberikan hanya dalam keadaan yang sangat mendesak,

yaitubila diduga tubuh anak belum mempunyai kekebalan ketikaterinfeksi

oleh kuman penyakit yang ganas.

3. BBLR

Bayi BBLR dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu: prematuritas

murni dan dismaturitas

4. Pemberian ASI eksklusif

Penelitian Noorhidaya dan Widya Sari (2014)mengatakan bahwa

balita yang diberikan ASI esklusifdibandingkan dengan non esklusif, lebih

baik asi eksklusifkarenamempunyai pengaruh yang baik dalam

pencegahankejadian ISPA dibandingkan non esklusif,

sehinggamendapatkan anti body dari asi tersebut terhadap kejadianISPA


19

pada balita. Pemberian ASI terbukti efektif dalampencegahan pada

pernapasan dan pencernaan.

Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapatimunoglobulin (zat

kekebalan tubuh) dari ibunya lewat ariarinya.Tubuh bayi dapat membuat

sistem kekebalan tubuhsendiri waktu berusia sekitar 9-12 bulan. Sistem

imunbawaan pada bayi menurun namun sistem imun yangdibentuk bayi itu

sendiri belum bisa mencukupi sehinggadapat mengakibatkan adaanya

kesenjangan zat kekebalanpada bayi dan hal ini akan hilang dan berkurang

bila bayidiberi ASI. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kalilebih

banyak dari susumatang. Zat kekebalan pada ASIdapat melindungi bayi dari

penyakit mencret atau diare. ASIjuga menurunkan kemungkinan bayi

terkena panyakit infeksi,telinga, batuk, pilek, dan penyakit alergi, dan

padakenyataanya bayi yang diberi ASI ekskulusif akan lebih sehatdan

jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidakmendapatkan ASI

Eksklusif (Depkes,RI, 2014).

5. Status sosial ekonomi

Tingkat sosial ekonomi yangrendah mempunyai hubungan yang erat

dengan kesehatanmasyarakat. Tetapinstatus keseluruhan tidak ada

hubunganantara status ekonomi dengan insiden ISPA, akan tetapididapatkan

kolerasi yang bermakna antara kejadian ISPAberat dan rendahnya status

sosial ekonomi.
20

2.1.2.6 Klasifikasi ISPA

ISPA berdasarkan gejalanya dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. ISPA ringan

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan

satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:

a. Batuk

b. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal

pada waktu berbicara atau menangis).

c. Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.

d. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C atau jika dahi anak

diraba.

2. ISPA sedang

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala

dariISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:

a. Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang

dari atu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur

satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan ialah dengan

menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung

dapat digunakan arloji.

b. Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer).

c. Tenggorokan berwarna merah.

d. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.

e. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.


21

f. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

g. Pernafasan berbunyi menciut-ciut.

3. ISPA berat

Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-

gejalaISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala

sebagai berikut:

a. Bibir atau kulit membiru

b. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu

bernafas.

c. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.

d. Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah.

e. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.

f. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.

g. Tenggorokan berwarna merah.

2.2 Kerangka Konsep Dan Kerangka Kerja

2.2.1 Kerangka Konsep

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) adalah infeksi pada saluran

pernapasan yang dapat berlangsung 14 hari. Beberapa faktor yang

berhubungan dengan kejadian ISPA diantaranya adalah status gizi,

kelengkapan imunisasi, berat badan lahir rendah (BBLR), pemberian ASI

eksklusif, status sosial ekonomi (Supariasa, 2015). Berdasarkan teori

tersebut maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
22

 Imunisasi dasar lengkap

ISPA
 Status gizi
 BBLR
 Pemberian ASI eksklusif
 Status sosial ekonomi

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak Diteliti

Bagan 2.1
Kerangka Konsep

2.2.2 Kerangka Kerja

Balita Usia Tiga Tahun Ada


Hubungan

Kejadian ISPA
Tidak ada
Imunisasi Dasar Hubungan
Lengkap

Bagan 2.2
Kerangka Kerja
23

2.3 HipotesisPenelitian

Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan

penelitian yang dirumuskan dalam perencanaan penelitian. Untuk mengerahkan

kepada hasil penelitian ini maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan

jawaban sementara dari penelitian ini. Jawaban sementara dari suatu penelitian ini

disebut hipotesis. Jadi hipotesis didalam suatu penelitian berarti jawaban sementara

tentang penelitian, patokan duga atau dalil sementara yang kebenarannya akan

dibuktikan dalam penelitian (Notoatmodjo, 2011).

Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara imunisai

dasar lengkap dengan kejadian ISPA pada balita usia 3 tahundi Desa Kujangsari

Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian

3.1.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis

penelitian studi korelasi yaitu penelitian atau penelaahan hubungan antara

dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan

untuk melihat hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain. Untuk

mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan variabel lain tersebut

diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek,

kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama

dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya (Notoatmodjo, 2012),

sehingga nantinya penelitian ini akan memperlihatkan hubungan antara

imunisai dasar lengkap dengan kejadian ISPA pada balita usia 3 tahun di

Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar.

3.1.2 Rancangan Penelitian

Rancangan pendekatan yang digunakan adalah studi retrospektif

yaitu penelitian yang berusaha melihat kebelakang, artinya pengumpulan

data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi. Kemudian dari efek

tersebut ditelusuri penyebabnya atau variabel-variabel yang mempengaruhi

akibat tersebut (Notoatmodjo, 2012).

24
25

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian

3.2.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk mempelajari dan kemudian ditarik kesimpulan

(Sugiyono, 2012). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2012), populasi adalah

keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dalam

penelitian ini adalah balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar pada bulan Juni 2019 yang berjumlah

31responden.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diwakilkan sebagai objek

penelitian dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012).

Teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling

yaitu sampel dalam penelitian ini diambil dari jumlah seluruh populasi

karena pengambilan sampel dari jumlah seluruh populasi jauh lebih baik

daripada mengambil sampel dari sebagian anggota populasi. Jumlah sampel

dalam penelitian ini adalah sebanyak 31responden.

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.3.1 Variabel Penelitian

Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik

perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2012). Variabel dalam penelitian ini

adalah :
26

a. Variabel bebas (independent) adalah variabel yang mempengaruhi

objek lain (Notoatmodjo, 2012). Variabel independent dalam penelitian

ini adalah imunisasi dasarlengkap.

b. Variabel terikat (dependent) merupakan variabel akibat atau variabel

yang terpengaruh (Notoatmodjo, 2012). Adapun variabel dependent

dalam penelitian ini adalah kejadian ISPA

3.3.2 Definisi Operasional

Tabel 3.1
Definisi Operasional
Variabel Definisi Cara
No Alat Ukur Kategori Skala
Operasional Ukur
1. Imunisasi Adalah hasil Lembar 1 jika ya - Lengkap : Jika Nomi
Dasar pengecekan checklist dan 0 responden nal
Lengkap mengenai jika diimuniasi dasar
imunisasi tidak lengkap sesuai
lengkap yang dengan usianya
pada balita - Tidak Lengkap :
Jika responden
diimuniasi dasar
tidak lengkap
sesuai dengan
usianya
2. Kejadian Adalah hasil Lembar 1 jika ya - ISPA : Jika Nomi
ISPA diagnosis medis checklist dan 0 responden nal
mengenai jika menderita ISPA
kejadian ISPA tidak - Tidak ISPA : Jika
yang tercatat di responden tidak
catatan rekam menderita ISPA
medik
puskesmas

3.4 Cara Pengumpulan Data

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diambil langsung dari responden

dengan menggunakan instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan


27

dalam pengumpulan data primer pada penelitian yaitu dengan lembar

checklist yang berisi isian mengenai imunisasi dasar lengkap dan

kejadian ISPA.

2. Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini adalah data pendukung yang

diperoleh dari hasil literatur, jurnal, atau laporan yang dilakukan melalui

metode studi kepustakaan, dan data yang diperoleh dari instansi terkait,

misalnya dari puskesmas mengenai balita dan kejadian ISPA

3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar checklist

dimana lembar checklist berisi mengenai isian mengenai imunisasi dasar lengkap

dan kejadian ISPA.

3.6 Jalannya Penelitian

Langkah yang dilakukan dalam melakukan penelitian ini adalah meliputi

studi pendahuluan untuk meminta data sekunder. Setelah semua lengkap kemudian

dibuatkan outline yang ditujukan kepada program studi Ilmu Kesehatan Masyarakat

STIKes Bina Putera Banjar. Setelah outline mendapatkan persetujuan dari institusi

pendidikan, kemudian proposal penelitian dibuat dengan terlebih dahulu melakukan

studi pendahuluan untuk mengetahui gambaran awal tentang permasalahan yang

akan diteliti, penentuan kerangka konsep dan kerangka kerja penelitian, penentuan

jenis dan metode penelitian penentuan definisi operasional, menentukan variabel

dan sumber data, kemudian menentukan instrumen penelitian yang berguna untuk

mengumpulkan data. Setelah proposal penelitian dibuat dan mendapatkan


28

rekomendasi dari dosen pembimbing untuk diseminarkan, maka proposal

diseminarkan di depan dosen penguji dan rekan mahasiswa yang lain.

Setelah proposal diseminarkan dan perbaikan-perbaikan yang disarankan

dewan penguji direvisi, kemudian memohon pengesahan dari semua dewan penguji

untuk melanjutkan penelitian. Sebelum penelitian dimulai, penulis meminta surat

pengantar dari STIKes Bina Putera Banjar serta dibuatkan surat rekomendasi untuk

Badan Kesatuan Bangsa, barulah penulis memohon izin untuk melakukan

penelitian. Penulis melakukan penelitian dengan melakukan pendekatan kepada

puskesmas kemudian peneliti mencari data yang diperlukan. Data yang didapat oleh

peneliti adalah dari hasil pengisian lembar checklist. Setelah data terisi dalam

lembar checklist maka langkah selanjutnya adalah melakukan editing yaitu melihat

kembali kecocokan data. Setelah itu adalah melakukan pengkodean variabel

penelitian. Langkah selanjutnya adalah melakukan entry data yaitu memasukkan

data lembar checklist ke dalam program komputer dan setelah data dientry maka

peneliti melihat kembali kecocokan data yang terdapat dalam lembar checklist

dengan data di komputer, lalu setelah itu peneliti melakukan tabulasi data. Tabulasi

data dilakukan terhadap analisa univariat dan bivarat. Setelah data diolah maka

langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah menuangkan hasil

penelitian kedalam bentuk skripsi. Setelah skripsi dibuat maka langkah selanjutnya

adalah melakukan bimbingan riset kepada dosen pembimbing dan setelah

mendapatkan persetujuan sidang hasil maka peneliti melakukan sidang hasil dan

setelah sidang hasil maka peneliti merevisi hasil sidang tersebut.


29

3.7 Strategi Analisis

3.7.1 Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan alat bantu program komputer,

dengan langkah-langkah sebagai berikut (Arikunto, 2012) :

1. Editing

Kegiatan ini untuk mengecek dan perbaikan kelengkapan dalam

pengisian lembar checklistyang diisi berdasarkan kondisi responden

penelitian.

2. Skroring

Nilai pada lembar checklist ini adalah 0 jika tidak dan 1 jika ya.

3. Coding

Pengkodean dalam penelitian ini untuk variabel imunisasi dasar lengkap

diberi kode 0 jika tidak lengkap dan 1 jika lengkap. Untuk variabel

kejadian ISPA diberi kode 0 jika tidak ISPA, 1 jika ISPA.

4. Entry

Entry data yakni isian dari masing-masing data pada checklist yang

dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukkan ke dalam program

software komputer.

5. Cleaning

Setelah semua data dari setiap sumber selesai dimasukkan, dicek

kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan-

kesalahan kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.

6. Tabulating

Melakukan pengolahan data berdasarkan hasil pengisian lembar

checklist, untuk mempermudah hasil pemahaman, maka data yang

diperoleh disajikan dalam bentuk tabel.


30

3.7.2 Analisa Data

3.7.2.1 Analisa Univariat

Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010).

Adapun data yang dianalisis menggunakan analisa univariat adalah

imunisasi dasar lengkap dan kejadian ISPA.

Imunisasi dasar lengkap dianalisa univariat dan kemudian

dimasukan ke dalam distribusi frekuensi kriteria objek sebagai

berikut :

1) Lengkap : Jika diimunisasi lengkap sesuai dengan usia

2) Tidak Lengkap : Jika diimunisasi tidak diberikan secara

lengkap sesuai dengan usia

Sedangkan untuk kejadian ISPA dianalisa univariat dan

kemudian dimasukan ke dalam distribusi frekuensi kriteria objek

sebagai berikut :

1) ISPA : Jika responden menderita penyakit ISPA

2) Tidak ISPA : Jika responden tidak menderita penyakit

ISPA

Setelah semua data diolah maka untuk menafsirkan persentase yang

diperoleh maka digunakan rumus sebagai berikut :

𝑚
𝑃= 𝑥 100%
𝑛

Dimana
31

P = Kategori

m = Jumlah kategori responden

n = Jumlah seluruh responden

3.7.2.2 Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo, 2010). Adapun data

yang dianalisis menggunakan analisa bivariat dalam penelitian ini

adalah :hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian

ISPA pada balita usia 3 tahun (Batita) di Desa Kujangsari Wilayah

Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

Selanjutnya dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji

statistik uji chi square (kai kuadrat) karena skala yang diujikan

adalah skala Nominal dengan skala Nominal (Misbahuddin dan Iqbal

Hasan, 2013). Pengujian hipotesis apakah diterima atau tidak dengan

cara melihat angka probabilitasα = 0,05 dengan pengambilan

keputusan ada hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan

kejadian ISPA pada balita usia 3 tahun di Desa Kujangsari Wilayah

Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar karena nilai value < 

(0,05)
32

3.8 Etika Penelitian

Menurut Hughe, dkk (2015), etika dalam penelitian merupakan hal yang

sangat penting karena penelitian yang dilakukan langsung berhubungan dengan

manusia. Beberapa etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Informed Consent

Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan

responden dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden

yang diberikan sebelum penelitian dilakukan. Tujuan informed consent adalah

agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian serta mengetahui

dampaknya. Subjek yang bersedia maka mereka menandatangani lembar

persetujuan.

2. Anonimity (Kerahasiaan Nama)

Anonimity merupakan jaminan dalam penggunaan subjek penelitian

dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan nama sampel penelitian

pada kuesioner dan hanya menuliskan kode pada kuesioner dan hasil penelitian

yang akan disajikan.

3. Confidentiality (Kerahasiaan Informasi)

Confidentiality merupakan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik

informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah

dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data

tertentu yang akan dilaporkan pada hasil penelitian.

4. Bertindakadil dan tidak merugikan


33

Merupakan jaminan yang diberikan kepada responden penelitian bahwa

setiap responden penelitian diperlakukan secara adil satu sama lain dan

penelitian ini tidak menimbulkan kerugian apapun bagi responden penelitian.

3.9 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian mengenai hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan

kejadian ISPA pada balita usia 3 tahun (Batita) di Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjardengan rincian sebagai berikut :

Tabel 3.3
Jadwal Kegiatan Penelitian
Bulan
No Tahapan Kegiatan
Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sept
A PERSIAPAN
1 Studikepustakaan
2 Pengajuan judul
3 Pembuatan proposal
4 Sidang proposal
B PELAKSANAAN
5 Pengumpulan data
6 Pemeriksaan data
7 Pengolahan data
8 Analisa data
C PENYUSUNAN
SKRIPSI
9 Penyusunan skripsi
10 Sidang skripsi
11 Revisi hasil sidang
skripsi
12 Penggandaan,
penjilidan dan
penyampaian skripsi
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum

4.1.1.1 Luas dan Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari I mencakupdua desa dan satu kelurahan yaitu Desa

Kujangsari , DesaRejasari dan Kelurahan Bojongkantong. Adapun letak

geografisnya adalah antara 10828”LU-10840”LU dan 71930BT-72630BT

dengan luas keseluruhan 764,3 Km2.

4.1.1.2 Batas Wilayah

Adapun batas-batas Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

adalah sebagai berikut :

1) Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Cilacap

2) Sebelah timur berbatasan dengan Desa Langensari Wilayah Kerja Puskesmas

Langensari 2 Kota Banjar

3) Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis

4) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Pataruman Kota Banjar

34
35

4.1.1.3 Data Sumber Daya Puskesmas

Tabel 4.1
Data Sumber Daya Puskesmas Langensari I
Kota Banjar Tahun 2018
No Jenis Tenaga Jumlah

1. Dokter Umum 1 orang

2. Perawat 8 orang

3. Perawat Gigi 1 orang

4. Bidan 10 orang

5. Sanitarian 1 orang

6. Nutrisions 1 orang

7. Analisa Kesehatan 1 orang

8. Sarjana Kesehatan Masyarakat 1 orang

9. Analis Kimia 1 orang

10. Tata Usaha 2 orang

11. Penjaga Malam 1 orang

12. Pekarya 1 orang

Jumlah 29 orang

Sumber : Data Sekunder, 2018

4.1.1.4 Jumlah Penduduk

Berdasarkan data dari Kantor Camat Langensari tercatat jumlah penduduk

di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar sebanyak 29.984 jiwa.

Dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 15.165 jiwa dan perempuan

sebanyak 14.819 jiwa. Penduduk terbanyak di Desa Kujangsari dengan 10.990

jiwa dan paling sedikit di Desa Rejasari dengan 9.437 jiwa.


36

4.1.1.5 Visi dan Misi

Visi Puskesmas Langensari 1 adalah “Sebagai penggerak pembangunan

kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar untuk

mewujudkan masyarakat yang sehat dan mandiri. Sedangkan misinya adalah

sebagai berikut:

1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keluarga melalui

pemberdayaan masyarakat dan keluarga untuk tercapainya kemandirian

masyarakat di bidang kesehatan

2) Menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan yang paripurna, merata,

bermutu dan berkeadilan.

3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan

4) Menciptakan tata kelola pelayanan kesehatan yang baik

4.1.2 Karkteristik Ibu Responden

4.1.2.1 Usia

Aspek usia pada ibu yang mempunyai balita usia tiga tahun dalam

penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu kurang dari 21 tahun, 21 – 35 tahun, dan

lebih dari 35 tahun. Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah

dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar dapat dilihat

pada tabel berikut ini.

Tabel 4.4
Distribusi Usia Ibu Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah Kerja
Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar
Usia F %
< 21 Taun 4 12,9
21 – 35 Tahun 18 58,1
> 35 Tahun 9 29,0
Jumlah 31 100,0
Sumber : Data Sekunder, 2019
37

Pada tabel 4.4 diketahui bahwa dari 31 responden sebanyak 4

responden (12,9 %) adalah ibu balita yang berusia kurang dari 21

tahun, 18 responden (58,1 %) berusia 21 – 35 tahun, dan 9

responden (29,0 %) berusia lebih dari 35 tahun.

4.1.2.2 Pekerjaan

Aspek pekerjaan pada ibu yang mempunyai balita usia tiga tahun dalam

penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu pedagang, ibu rumah tangga, dan petani.

Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Wilayah

Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.5
Distribusi Pekerjaan Ibu Balita Usia Tiga Tahun di Wilayah Kerja
Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar
Pekerjaan F %
Pedagang 4 12,9
Ibu Rumah Tangga 18 58,1
Petani 9 29,0
Jumlah 31 100,0
Sumber : Data Sekunder, 2019

Pada tabel 4.5 diketahui bahwa dari 31 responden sebanyak 4

responden (12,9 %) adalah ibu balita mempunyai pekerjaan sebagai

pedagang, 18 responden (58,1 %) adalah ibu rumah tangga, dan

9 responden (29,0 %) adalah petani.

4.1.2.3 Pendidikan

Aspek pendidikan pada ibu yang mempunyai balita usia tiga tahun dalam

penelitian ini dibagi menjadi tiga, yaitu tamat pendidikan dasar, tamat

pendidikan menengah, dan tamat pendidikan tinggi. Hasil yang diperoleh


38

berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas

Langensari 1 Kota Banjar dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.6
Distribusi Pendidikan Ibu Pada Balita Usia Tiga Tahundi Wilayah
Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar
Pendidikan F %
Tamat Pendidikan Dasar 14 45,2
Tamat Pendidikan Menengah 15 48,4
Tamat Pendidikan Tinggi 2 6,5
Jumlah 31 100,0
Sumber : Data Sekunder, 2019

Pada tabel 4.6 diketahui bahwa dari 31 responden sebanyak

14 responden (45,2 %) adalah tamat pendidikan dasar, 15 responden (48,4

%) tamat pendidikan menengah, dan 2 responden (6,5 %) tamat pendidikan

tinggi.

4.1.3 Analisa Data

Data dalam penelitian ini dianalisa dengan menggunakan analisa univariat

dan bivariat.

4.1.3.1 Analisa Univariat

1) Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Usia Tiga Tahun

Aspek imunisai dasar lengkap balita usia tiga tahun dalam penelitian ini

dibagi menjadi dua, yaitu lengkap dan tidak lengkap. Hasil yang diperoleh

berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas

Langensari 1 Kota Banjar dapat dilihat pada tabel berikut ini:


39

Tabel 4.7
Distribusi Imunisai Dasar Lengkap Pada Balita Usia Tiga Tahundi
Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar
Imunisasi Dasar Lengkap F %
Lengkap 22 71,0
Tidak Lengkap 9 29,0
Jumlah 31 100,0
Sumber : Data Primer, 2019

Pada tabel 4.7 diketahui bahwa dari 31 responden terdapat balita usia

tiga tahun yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap yaitu sebanyak 22

responden (71,0 %) dan tidak lengkap sebanyak 9 responden (29,0 %).

2) Kejadian ISPA Pada Balita Usia Tiga Tahun

Aspek kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun dalam penelitian ini

dibagi menjadi dua, yaitu tidak ISPA dan ISPA. Hasil yang diperoleh

berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas

Langensari 1 Kota Banjar dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.8
Distribusi Kejadian ISPA Pada Balita Usia Tiga Tahun
di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1
Kota Banjar
Kejadian ISPA F %
Tidak ISPA 20 64,5
ISPA 11 35,5
Jumlah 31 100,0
Sumber : Data Primer, 2019

Pada tabel 4.8 diketahui bahwa dari 31 responden terdapat balita usia

tiga tahun yang tidak ISPA sebanyak 20 responden (54,5 %) dan ISPA

sebanyak 11 responden (35,5 %).


40

4.1.3.2 Analisa Bivariat

Hubungan Antara Imunisai Dasar Lengkap Dengan Kejadian ISPA Pada

Balita Usia Tiga Tahun

Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

mengenai hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian ISPA pada

balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1

Kota Banjar dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.9
Hubungan Antara Imunisai Dasar Lengkap Dengan Kejadian ISPA Pada
Balita Usia Tiga Tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas
Langensari 1 Kota Banjar
Kejadian ISPA
Imunisasi Dasar Tidak ISPA ISPA Total value
F % F %
Lengkap 20 64,5 2 6,5 22
Tidak Lengkap 0 0,0 9 29,0 9 0,000
Total 20 64,5 11 35,5 31
Sumber : Data Primer, 2019

Hasil analisa bivariatdiketahui bahwa responden yang imunisasi lengkap

dengan tidak ISPA sebanyak 20 responden (64,5 %), imunisasi lengkap dengan

ISPA sebanyak 2 responden (6,5 %), imunisasi tidak lengkap dengan tidak ISPA

sebanyak 0 responden (0,0 %), imunisasi tidak lengkap dengan kejadian ISPA

sebanyak 9 responden (29,0 %).

Hasil uji statistik diperoleh nilai value = 0.000 atau kurang dari

α 0,05, hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara imunisai dasar lengkap

dengan kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah

Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar.


41

4.2 Pembahasan

4.2.1 Analisa Univariat

1) Imunisasi Dasar Lengkap Pada Balita Usia Tiga Tahun

Aspek imunisai dasar lengkap pada balita usia tiga tahun berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1

Kota Banjardiketahui bahwa dari 31 responden terdapat balita usia tiga tahun

yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap yaitu sebanyak 22 responden

(71,0 %) dan tidak lengkap sebanyak 9 responden (29,0 %).

Berdasarkan hasil penelitian bahwa masih terdapat responden yang

tidak mengimunisasikan balitanya tidak lengkap yaitu sebanyak 9 responden

(29,0 %). Imunisasi yang tidak lengkap pada balita dapat disebabkan oleh

beberapa faktor diantaranya adalah kurangnya pemahaman tentang

pentingnya imunisasi pada balita usia tiga tahun. Pemahaman yang kurang

dari responden dapat disebabkan karena tingkat pendidikan yang rendah dari

responden dimana berdasarkan hasil penelitian juga terlihat bahwa

karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan diketahui sebanyak

14 responden (45,2 %) adalah tamat pendidikan dasar yaitu tamat pendidikan

SD. Tingkat pendidikan yang rendah merupakan salah satu faktor yang dapat

mempengaruhi perilaku seseorang termasuk dalam penelitian ini adalah

perilaku untuk mengimnisasikan balita secara lengkap. Hal ini sesuai dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2012) yang mengatakan

bahwa tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

perilaku, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan

berpengaruh terhadap semakin baiknya perilaku kesehatan seseorang.


42

Imunisasi yang tidak lengkap pada balita dapat berakibat terhadap

masalah kesehatan anak karena imunisasi merupakan salah satu upaya yang

dapat dilakukan oleh ibu dalam memberikan kekebalan kepada balita atau

bayi agar terhindar dari penyakit termasuk penyakit ISPA. Hal ini sesuai

dengan pendapat yang dikemukakan oleh Hidayat (2015) yang mengatakan

bahwa salah satu cara menghindari penyakitpada anak yang efektif adalah

meningkatkansystem kekebalan tubuh denganmemberikan obat khusus yang

disebutvaksin melalui imunisasi. Imunisasi adalahupaya yang dilakukan

dengan sengajamemberikan kekebalan (imunitas) pada bayiatau anak

sehingga terhindar dari penyakit(Supartini, 2014). Imunisasi adalahusaha

memberi kekebalan pada bayi dananak dengan memasukkan vaksin

kedalamtubuh agar tubuh membuat zat anti untukmencegah terhadap

penyakit tertentu.Sedangkan vaksin adalah bahan yangdipakai untuk

merangsang pembentukan zatanti yang dimasukkan ke dalam tubuhmelalui

suntikan sepertivaksin Bacilus Camette Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan

Tetanus (DPT), Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio.

Imunisasi dasar yang tidak lengkap pada balita usia tiga tahun harus

diperbaiki agar semua ibu mengimunisasikan balitanya secara lengkap.

Petguas kesehatan mempunyai peran penting dalam meningkatkan

pelaksanaan imunisasi dasar lengkap agar ibu balita menyadari bahwa balita

harus diimunisasi dasar secara lengkap. Tenaga kesehatan diharapkan terus

menerus memberikan penyuluhan kepada ibu yang mempunyai balita usia

tiga tahun tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap sehingga dengan

pemberian penyuluhan secara terus menerus ini diharapkan pula dapat


43

memperbaiki pemahaman ibu yang mempunyai balita tentang manfaat

penting dari memberikan imunusasi lengkap pada balita.

2) Kejadian ISPA

Aspek kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun berdasarkan penelitian

yang telah dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota

Banjardiketahui bahwa dari 31 responden terdapat balita usia tiga tahun yang

tidak ISPA sebanyak 20 responden (54,5 %) dan ISPA sebanyak 11

responden (35,5 %).

Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa masih terdapat balita yang

mengalami ISPA yaitu sebanyak 11 responden (35,5 %). ISPA yang terjadi

pada balita dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah status

gizi, kelengkapan imunisasi, BBLR, pemberian ASI Eksklusif, dan kondisi

sosial ekonomi. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh

Supariasa (2015) yang mengatakan bahwa beberapa faktor yang

berhubungan dnegan kejadian ISPA diantaranya adalah status gizi,

kelengkapan imunisasi, BBLR, pemberian ASI eksklusif, dan status sosial

ekonomi.

Kejadian ISPA yang dialami oleh balita harus mendapatkan perhatian

baik dari ibu sebagai orang tua maupun tenaga kesehatan karena ISPA

merupakan salah satu penyebab kematian pada balia. Hal ini sesuai dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Rahmaliyah (2015) yang mengatakan

bahwa ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena

menyebabkankematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1

dari 4 kematian yangterjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6


44

episode ISPA setiap tahunnya. Dariseluruh kematian, yang disebabkan oleh

ISPA mencakup 20 % - 30 %. Kematian yangterbesar umumnya adalah

karena pneumonia dan pada bayi berumur kurang dari 2bulan.

ISPA dapat menimbulkan gangguan pada fungsi pernapasan yang

berupa gangguan ventilasi dan gangguan pertukaran gas yang erat

hubungannya dengan sistem kordiovaskuler serta gangguan irama

pernapasan yang erat kaitannya dengan sistem saraf pusat. ISPA dalam

sehari-hari dikenal sebagai penyakit batuk pilek, penyakit ini sering kali

dianggap suatu penyakit yang biasa dan tidak memerlukan pengobatan tetapi

perlu diketahui bahwa anak yang sakit batuk dan pilek dapat berlanjut

penyakitnya menjadi pneumonia, sedangkan pneumonia dapat berakibat

kematian bila tidak diobati dengan segera (Nuraeni, 2015).

ISPA yang dialami oleh balita harus diobati dengan baik dan

mendapatkan perhatian baik dari orang tua maupun tenaga kesehatan. Orang

tua diharapkan terus menerus memeriksakan dan melakukan pengobatan

secara rutin ke tenaga kesehatan agar anaknya sembuh dari ISPA. Selain itu

juga tenaga kesehatan diharapkan terus memberikan penyuluhan kepada

masyarakat tentang pencegahan dan pengobatan ISPA.

4.2.2 Analisa Bivariat

Hubungan Antara Imunisai Dasar Lengkap Dengan Kejadian ISPA Pada

Balita Usia Tiga Tahun

Hasil yang diperoleh berdasarkan penelitian yang telah dilakukan

mengenai hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan kejadian ISPA pada

balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja Puskesmas Langensari 1
45

Kota Banjar diketahui bahwa responden yang imunisasi lengkap dengan tidak

ISPA sebanyak 20 responden (64,5 %), imunisasi lengkap dengan ISPA

sebanyak 2 responden (6,5 %), imunisasi tidak lengkap dengan kejadian ISPA

sebanyak 9 responden (29,0 %).

Hasil uji statistik diperoleh nilai value = 0.000 atau kurang dari α 0,05,

hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara imunisai dasar lengkap dengan

kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah Kerja

Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mempunyai persamaan

dengan hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Hasil penelitian yang

berhubungandengan status imunisasi menunjukkanbahwa ada kaitan antara

penderita ISPA yang mendapatkan Imunisasitidak lengkap dan lengkap, dan

bermaknasecara statistis. Menurut penelitian yangdilakukan Tupasi (1985),

dalam penelitian Suhandayani (2010), menyebutkan bahwaketidakpatuhan

imunisasi berhubungandengan peningkatan penderita ISPA. Bayidan balita yang

pernah terserang campakdan selamat akan mendapat kekebalanalami terhadap

ISPA sebagaikomplikasi campak. maka peningkatancakupan imunisasi akan

berperan besardalam upaya pemberatasan ISPA (Wiwoho. S , 2015).

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh

Hidayat (2015) bahwa salah satu cara menghindari penyakitpada anak yang

efektif adalah meningkatkansystem kekebalan tubuh denganmemberikan obat

khusus yang disebutvaksin melalui imunisasi. Imunisasi adalahupaya yang

dilakukan dengan sengajamemberikan kekebalan (imunitas) pada bayiatau anak


46

sehingga terhindar dari penyakit(Supartini, 2014). Imunisasi adalahusaha

memberi kekebalan pada bayi dananak dengan memasukkan vaksin

kedalamtubuh agar tubuh membuat zat anti untukmencegah terhadap penyakit

tertentu.Sedangkan vaksin adalah bahan yangdipakai untuk merangsang

pembentukan zatanti yang dimasukkan ke dalam tubuhmelalui suntikan

sepertivaksin Bacilus Camette Guerin (BCG), Difteri Pertusis dan Tetanus

(DPT),Campak, dan melaluimulutsepertivaksinpolio. Penyakit yang dapat

dicegah dengan imunisasi (PD3I) yangtelah ditetapkan Depkes pada tahun

2000yaitu tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus,poliomyelitis, campak dan

hepatitis(Setiawati, 2015).

Penelitian mengenai kelengkapan imunisasi sebelumnya telah dilakukan

oleh Sufriani(2015), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada hubungan

antara kelengkapan imunisasi dengan kejadian ISPA (p-value= 0,030)dan ada

hubungan antara ketepatan jadwal imunisasi dengan kejadian ISPA (p-value=

0,003).Imunisasi merupakan antibodi pasifyang bertujuan untuk

mempertahankankekebalan tubuh dan membantu tubuhmembentuk kekebalan

terhadap penyakitinfeksi. Oleh sebab itu pemberian imunisasiyang lengkap

dapat memberikan kekebalanterhadap penyakit-penyakit tertentu salahsatunya

ISPA. Berdasarkan hasil penelitianini dan dari beberapa penelitian

yangmendukung menunjukkan bahwa imunisasiyang lengkap memberikan

imunitas yanglebih baik pada tubuh anak terhadappenyakit infeksi seperti ISPA

dari pada anakdengan imunisasi yang tidak lengkap.


47

ISPA yang dialami oleh balita harus diobati dengan baik dan mendapatkan

perhatian baik dari orang tua maupun tenaga kesehatan. Orang tua diharapkan

terus menerus memeriksakan dan melakukan pengobatan secara rutin ke tenaga

kesehatan agar anaknya sembuh dari ISPA. Selain itu juga tenaga kesehatan

diharapkan terus memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang

pencegahan dan pengobatan ISPA.

Ibu yang tidak mengimunisasi dasar secara lengkap pada balita diharapkan

agar mengimunisasikan bayinya secara lengkap. Petguas kesehatan mempunyai

peran penting dalam meningkatkan pelaksanaan imunisasi dasar lengkap agar

ibu balita menyadari bahwa balita harus diimunisasi dasar secara lengkap.

Tenaga kesehatan diharapkan terus menerus memberikan penyuluhan kepada ibu

yang mempunyai balita usia tiga tahun tentang pentingnya imunisasi dasar

lengkap sehingga dengan pemberian penyuluhan secara terus menerus ini

diharapkan pula dapat memperbaiki pemahaman ibu yang mempunyai balita

tentang manfaat penting dari memberikan imunusasi lengkap pada balita.


48

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dapat penulis simpulkan sebagai

berikut :

1. Balita usia tiga tahun yang mendapatkan imunisasi dasar lengkap yaitu sebanyak

22 responden (71,0 %) dan tidak lengkap sebanyak 9 responden (29,0 %).

2. balita usia tiga tahun yang tidak ISPA sebanyak 20 responden (54,5 %) dan

ISPA sebanyak 11 responden (35,5 %).

3. Hasil uji statistik diperoleh nilai value = 0.000 atau kurang dari α

0,05, hal ini menunjukan bahwa ada hubungan antara imunisai dasar lengkap

dengan kejadian ISPA pada balita usia tiga tahun di Desa Kujangsari Wilayah

Kerja Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar.

5.2 Saran

5.2.1 Bagi Masyarakat

Diharapkan ibu yang memiliki balita usia 3 tahun agar mengimunisasikan

balitamya dengan lengkap agar dapat mencegah terjadinya ISPA pada balita.

5.2.2 Bagi Puskesmas Langensari 1 Kota Banjar

Diharapkan petugas kesehatan di puskesmas selalu memberikan

penyuluhan tentang pentingnya imunisasi dasar lengkap terutama dalam

mencegah terjadinya ISPA .

48
xlix

5.2.3 Bagi Institusi STIKes Bina Putera Banjar

Institusi STIKes Bina Putera Banjar diharapkan mengadakan program

KKN dimasa yang akan datang yang didalamya memprogramkan pula mengenai

imunisasi pada balita agar semua balita usia 3 tahun diimunisasi secara lengkap.
DAFTAR PUSTAKA

Alimul. 2015. Penegertian Imunisai. Ilmu kesehatan Anak. Jakarta. CV. Trans Info
Media.

Arikunto. 2012. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. PT Rhineka Cipta.


Jakarta.

Ariko dan Soffia L. 2015. Gangguan pernafasan pada anak ISPA. Yogyakarta. Nuha
Medika.

Asrun.2015: Penegertian Imunisai. Ilmu kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta.


CV. Trans Info Media.

Aselsi. 2012. Keperawatan Pediatrik. Yogyakarta. Imperium

Astuti. 2017. Hubungan Kelengkapanimunisasi Dasar Dengankejadian Infeksi Saluran


Pernapasan Akut (ISPA)Padabalita Di Puskesmas Poasia Kota Kendari Tahun
2017. Kendari. Poltekes Kendari.

Depkes RI. 2014. Kondisi Kesehatan Anak di Indonesia. http://www.depkes.co.id,

________. 2015. Menjaga Anak Tetap Sehat. http://www.depkes.co.id,

________. 2016. Bahaya Terabaikan. http://www.depkes.co.id,

Dinkes Jabar. 2016. Profil Kesehatan Propinsi Jawa Barat Tahun 2018. Bandung.
Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Barat.

Dinkes Banjar. 2018. Profil Kesehatan Kota Banjar Tahun 2018. Banjar. Dinas
Kesehatan Kota Banjar.

Fuad. 2015. Asuhan Keperawatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita.
Jakarta. Selemba Medika

Hadiana. 2013. Hubungan Status Gizi Terhadap Terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan
Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Pajang Surakarta. Surakarta. Univeristas
Muhammadiyah Surakarta.

Hidayat. 2015. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Ispa Pada
Balita Di Kelurahan Pasie Nan Tigo Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.
http://www.springerlink.com

Hughe.2015. Sekilas Tentang Penelitian. Gajah Mada University Press. Yogyakarta


Kusumawati. 2015. Hubungan Antara Status Merokok Anggota Keluarga Dengan Lama
Pengobatan ISPA Balita Di Kecamatan Jenawi. Surakarta. Universitas Sebelas
Maret.

Lisnawati. 2015. Imunisasi Untuk Anak. Jakarta: Cv, Trans Info Media

Misbahul dan Iqbal Hasan.2013. Analisis Data Penelitian Dengan Statistik. Jakarta. PT.
Bumi Aksara.

Notoatmodjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

__________. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

__________. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.

Noorhidaya dan Widya Sari. 2014. Pentingnya ASI Eksklusif. Jurnal Litbang Universitas
Muhammadiyah Semarang. http://Jurnal.unimus.ac.id.

Novie. 2015. Hubugan Kondisi Rumah dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA ) PADA BALITA di Asrama Tentara Sokanagara Kabupaten
Banyumas. http://www.fkm.undip.ac.id [

Nuraeni. 2015. Asuhan Keperawatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada
Balita. Jakarta. Selemba Medika.

Rasmaliyah. 2015. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan Penanggulangannya.


Medan. USU Library.

Setiawati. 2015. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan &


Pemberantasannya. Jakarta. Erlangga.

Sufriani. 2015. Hubungan Antara Imunisasi dan Status Gizi dengan Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) Pada Anak-Anak 1-5 tahun Di Desa Mojosongo, Kota
Surakarta. Jurnal Litbang Universitas Muhammadiyah Semarang.
http://Jurnal.unimus.ac.id.

Sugiyono. 2012. Metodologi Penelitian Administrasi. CV Alfabeta. Jakarta.

Suhandayani. 2010. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Ispa Pada
Balita Di Puskesmas Pati I Kabupaten Pati Tahun 2006. Semarang. Universitas
Negeri Semarang..

Supariasa. 2015. Penilaian Status Gizi. Jakarta. Buku Kedokteran EKG.

Supartini, 2014. Pengertian Imunisasi, Jakarta: Cv, Trans Info Media


Wiwoho. 2015. Pengaruh Program Pendampingan Gizi Terhadap Pola Asuh, Kejadian
Infeksi dan Status Gizi Balita Kurang Energi Protein. Semarang. Universitas
Diponegoro.

Vietha. 2015. Mencegah Penyakit Pada Anak. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
LAMPIRAN 4

Kejadian ISPA
USIA Imunisasi Dasar Lengkap
Pekerjaan Pendidikan
NO BCG DPT HB
< 21 21-35 > 35
Pedagang IRT Petani Dasar Menengah Tinggi (1 (3 (3 Polio Campak Keterangan ISPA Tidak
Tahun Tahun Tahun
x) x) x) (4 x) (1 x) ISPA
LAMPIRAN 5

Usia Pekerjaan Pendidikan


No
< 21 21-35 >35 Kode Dagang IRT Tani Buruh Kode Dasar Menengah Tinggi Kode
1 0 1 0 2 0 1 0 0 2 1 0 0 1
2 0 1 0 2 0 1 0 0 2 1 0 0 1
3 0 1 0 2 0 0 1 0 3 1 0 0 1
4 0 1 0 2 0 0 1 0 3 1 0 0 1
5 1 0 0 1 0 1 0 0 2 0 1 0 2
6 1 0 0 1 0 1 0 0 2 0 1 0 2
7 0 0 1 3 1 0 0 0 1 1 0 0 1
8 0 0 1 3 0 1 0 0 2 0 1 0 2
9 0 0 1 3 0 1 0 0 2 1 0 0 1
10 0 1 0 2 0 1 0 0 2 0 1 0 2
11 0 1 0 2 0 1 0 0 2 0 1 0 2
12 0 1 0 2 0 1 0 0 2 1 0 0 1
13 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 1 0 2
14 0 1 0 2 0 0 1 0 3 1 0 0 1
15 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 1 0 2
16 1 0 0 1 0 1 0 0 2 1 0 0 1
17 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 1 0 2
18 0 0 1 3 0 1 0 0 2 1 0 0 1
19 0 0 1 3 1 0 0 0 1 0 1 0 2
20 0 0 1 3 0 1 0 0 2 0 1 0 2
21 0 1 0 2 0 1 0 0 2 1 0 0 1
22 0 1 0 2 1 0 0 0 1 0 1 0 2
23 0 1 0 2 1 0 0 0 1 1 0 0 1
24 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 0 1 3
25 0 0 1 3 0 1 0 0 2 0 1 0 2
26 1 0 0 1 0 1 0 0 2 0 1 0 2
27 0 1 0 2 0 1 0 0 2 1 0 0 1
28 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 1 0 2
29 0 0 1 3 0 1 0 0 2 0 0 1 3
30 0 1 0 2 0 0 1 0 3 0 1 0 2
31 0 0 1 3 0 1 0 0 2 1 0 0 1