Anda di halaman 1dari 37

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Anemia merupakan masalah kesehatan utama yang sering menimpa hampir

sebagian anak-anak, remaja maupun ibu hamil di Negara berkembang (Briawan,

2014). Sebanyak 4-5 milyar penduduk dunia atau 60-80% mengalami defisiensi

zat besi. Menurut World Health Organization (WHO) Regional Office SEARO

menyatakan bahwa angka kejadian anemia pada remaja putri di Negara-negara

berkembang sekitar 53,7%. Di Indonesia tahun 2013, prevalensi anemia pada

remaja putri adalah 57,1% (Purwaningrum, 2018).

Anemia yang terjadi pada remaja dapat berdampak pada menurunnya

produktifitas kerja ataupun kemampuan akademis di sekolah, karena tidak adanya

gairah belajar dan konsentrasi (Sasmita, 2015). Sebagian besar penyebab anemia

di Indonesia adalah kekurangan zat besi dalam tubuh karena kandungan zat besi

dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi kebutuhan (Susanti, 2014)

Kurangnya zat besi pada remaja tanpa diimbangi asupan zat besi yang

adekuat akan berlanjut pada masa kehamilan akan menyebabkan pertumbuhan

janin tidak optimal, berat badan bayi lahir rendah, resiko perdarahan saat

persalinan dan meningkatkan resiko kematian ibu dan bayi (Susanty, 2014). Salah

satu sasaran pokok Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)

2015-2019 adalah meningkatnya status kesehatan, gizi dan anak dan Pemberian

Tablet Tambah Darah (TTD) yang diberikan pada remaja putri di SMP dan SMA

1
2

atau sederajat. Program ini sudah dilaksanakan di setiap daerah kota ataupun

kabupaten, termasuk pula dengan kota Bengkulu (Ditjen Kesmas, 2016).

Kesadaran mengkonsumsi tablet tambah darah tidak lepas dari informasi dan

pengetahuan yang diperoleh seseorang, hal ini karena pengetahuan merupakan

faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku konsumsi seseorang (Lestari, 2015).

Pengetahuan memegang peranan penting dalam kejadian anemia, dengan

pengetahuan tentang anemia rendah maka kejadian anemia remaja putri akan

meningkat (Nurbaiti, 2013). Menurut teori Lawrence Green, seseorang dengan

tingkat pengetahuan yang tinggi cenderung bersikap mendukung dan berperilaku

baik dalam memilih bahan makanan di banding mereka yang berpengetahuan

rendah.

Perilaku mengkonsumsi taablet tambah darah merupakan tindakan

seseorang dalam mengkonsumsi tablet tambah darah sebagai upaya dalam

melakukan pencegahan anemia guna untuk meningkatkan kadar hemoglobin

darah. Kesadaran remaja dalam upaya pencegahan anemia melalui konsumsi tablet

tambah darah masih rendah (Lestari, 2015). Hasil penelitian Caturyaningtyas

(2015) menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara sikap dengan kejadian

anemia pada remaja putri. Terdapat hubungan antara perilaku dengan kejadian

anemia pada remaja putri. Perilaku yang kurang baik yaitu siswi lebih banyak

mengonsumsi sayuran dan tidak pernah mengkonsumsi tablet tambah darah. Hal

ini disebabkan karena kesadaran siswi untuk melakukan pencegahan anemia yang

masih kurang.
3

Penggunaan berbagai media dalam melakukan pendidikan kesehatan

diharapkan dapat mempercepat penyerapan informasi kepada siswi agar dapat

memahami dan mengetahui tentang bahaya anemia pada remaja. Hasil penelitian

Siahan tahun 2017, menyatakan bahwa media vidio lebih efektif dalam

meningkatkan pengetahuan tentang anemia dibandingkan menggunakan media

ceramah.

Survei yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bengkulu pada 500 siswi

di 15 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Kota Bengkulu tahun 2017 menunjukkan 143 siswi (28,6%) yang mengalami

anemia. Data menunjukkan bahwa SMP Negeri 19 Kota Bengkulu merupakan

kejadian anemia terbesar di kota Bengkulu yang pada pemeriksaan anemia

didapatkan 21 siswi (63,6%) mengalami anemia dari 33 siswi yang diperiksa kadar

hemoglobin. Menurut WHO, apabila prevalensi anemia >40% termasuk kategori

berat, sedang 20%-39%, ringan 5%-19,9%. Data anemia di SMP N 19 Bengkulu

termasuk masalah kesehatan kategori berat.

Hasil survei pendahuluan pada tanggal 13 Oktober 2018 di SMP Negeri 19

Kota Bengkulu dengan melakukan wawancara mengenai pengetahuan, sikap dan

perilaku onsumsi tablet tambah darah kepada 10 siswi, dari 10 responden yaitu 4

orang berpengetahuan cukup dan 6 orang berpengetahuan kurang, dari 6 orang

yang berpengetahuan kurang memiliki sikap yang tidak mendukung pencegahan

anemia dan perilaku konsumsi tablet tambah darah yang tidak baik. Hasil

wawancara kepada sepuluh siswi belum mendapatkan informasi tentang anemia


4

remaja dari sekolah dan tidak mengkonsumsi tablet Fe yang telah diberikan UKS

setiap minggunya.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti berniat untuk melakukan

penelitian tentang “pengaruh pendidikan kesehatan melaui media vidio terhadap

pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet tambah darah pada remaja di

SMP N 19 Kota Bengkulu”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas masalah dalam penelitian ini adalah

kurangnya pengetahuan siswi tentang anemia remaja, kurangnya sikap pencegahan

anemia, kurangnya perilaku konsumsi tablet tambah darah dan masih tingginya

angka kejadian anemia pada remaja putri di SMP N 19 Kota Bengkulu dan tidak

ada program khusus pencegahan anemia di UKS SMP N 19 Kota Bengkulu.

Dengan pertanyaan penelitian adalah “apakah ada pengaruh pendidikan kesehatan

melalui media vidio terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet

tambah darah di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu”.

C. Tujuan

Berkaitan dengan latar belakang masalah dan rumusan masalah di atas, tujuan dari

penelitian ini adalah:

1. Tujuan Umum

Diketahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui media vidio terhadap

pengetahuan tentang anemia, sikap dan perilaku konsumsi tablet tambah darah

pada remaja putri di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu.


5

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus pada penelitian ini adalah untuk :

a. Diketahui rata – rata skor pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi

tablet tambah darah pada remaja di di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu

tahun 2018 kelas IX sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan

melalui media vidio tentang anemia

b. Diketahui pengaruh sebelum diberikan pendidikan kesehatan melalui

media vidio terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet

tambah darah pada remaja di di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu tahun

2018 kelas IX

c. Diketahui pengaruh setelah diberikan pendidikan kesehatan melalui

media vidio terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet

tambah darah pada remaja di di SMP Negeri 19 Kota Bengkulu tahun

2018 kelas IX

d. Diketahui faktor luar yang berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan

perilaku konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di SMP Negeri

19 Kota Bengkulu tahun 2018 kelas IX

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi Akademik

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan informasi tentang

penelitian ilmiah sebagai sumber kepustakaan yang bermanfaat terutama bagi


6

mahasiswa Poltekkes Kemenkes Bengkulu, khususnya tentang upaya media

vidio dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia.

2. Bagi Tempat Penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan masukan untuk menambah pengetahuan tentang

anemia remaja dan ikut berpartisipasi dalam memberikan informasi tentang

pengetahuan bahaya anemia pada remaja.

3. Bagi Remaja

Penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang upaya media

vidio dalam meningkatkan pengetahuan remaja tentang anemia pada remaja

dan menjadi acuan bagi remaja agar dapat mencegah terjadinya anemia.

4. Bagi Instansi

Bagi pendidikan penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan secara

konseptual sesuai hasil penelitian pada mata kuliah kebidanan khususnya

faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja serta dapat

menambah koleksi kepustakaan tentang penelitian ilmiah.


7

E. Keaslian Penelitian

No Peneliti Judul Metode Uji Statistik Hasil


Penelitian Penelitian Penelitian
1. Saharyah Efektifitas Metode p-value = 0,0000 terdapat
Saban media vidio dan penelitian dibandingkan nilai alpha (α) perbedaan
(2017) leaflet terhadap quasi efektifitas
= 0,05 maka p-value < α hal
pengetahuan experiment
ini menunjukkan bahwa Ha media vidi
tentang anemia dengan
diterima dan Ho ditolak dan leaflet
siswi SMAN 2 design non
Ngalik Sleman equivalent terhadap
sehingga terdapat
control pengetahu
perbedaan efektifitas media an tentang
group
vidi dan leaflet terhadap anemia
pengetahuan tentang
anemia

2. Poppi Pengaruh Penelitian ini Hasil uji statistik didapatkan Ada


Pertiwi penyuluhan menggunaka nilai p-value=0,000(p- Pengaruh
Guswir menggunakan n quasi value,0,05) terjadi penyuluhan
(2018) leaflet dan vidio Experiment peningkatan pengetahuan menggunak
terhadap Desain anemia pada remaja putri an leaflet
perubahan penelitian setelah diberikan penyuluhan dan vidio
pengetahuan non terhadap
anemia di equivalen perubahan
SMKN 3 kota control pengetahua
Padang tahun group design n anemia
2018

3. Siahaan, Pengaruh Metode Analisis data menggunakan Ada


Ninuk, penggunaan penelitian paired sample test dan perbedaan
Irianton media vidio quasi independent uji independenti antara
(2018) dalam experiment T-test post test pengetahuan media
penyuluhan rancangan dengan menggunakan vidio vidio dan
tentang anemia penelitian dengan ceramah ceramah
pada remaja pre test post terhadap
putri usia 15-18 test with p (0,010 0,050 =signifikan) peningkata
tahun control hal ini menunjukkan adanya n
group perbedaan pengetahuan pre pengetahua
test dan post test setelah n remaja
diberikan intervensi putri usia
15-18
tahun
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Remaja

1. Pengertian

Remaja adalah suatu masa dimana individu berkembang dari saat

pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat

ia mencapai kematangan seksual (Sarwono, 2011). Menurut Santrock masa

remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa

awal, individu yang berada pada masa remaja ini adalah individu dengan

rentang usia 12 sampai dengan 21 tahun dengan tiga pembagian fase yaitu

remaja awal (12-15tahun), remja tengah (15-18 tahun), dan remaja akhir

(18-21 tahun) (dalam Ilahi F. 2015).

2. Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

Proses penyesuian diri menuju kedewasaan ada tiga tahap

perkembangan remaja yang pertama remaja awal (Early adolescence) pada

tahap ini remaja putri masih terheran-heran akan perubahan yang terjadi

pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan

itu yang disertai dengan pengembangan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik

pada lawan jenis, dan mudah terangsang secara erotis (Yunarsih, 2014).

Selanjutnya remaja madya (Middle adolescence) pada tahap ini remaja

sangat membutuhkan teman sebaya. Rasa senang akan timbul jika teman

banyak yang menyukainya. Ada kecenderungan “narcistic”, yaitu

mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai


9

sifat yang sama dengan dirinya, selain itu ia dalam kondisi kebingungan

karena ia tidak tahu harus memilih yang mana peka atau tidak peduli,

ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan

sebagainya. Selanjutnya remaja akhir (Late adolescence) tahap ini remaja

adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan

pencapaian minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek,

egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dalam

pengalaman-pengalaman baru, terbentuk identitas seksual yang tidak akan

berubah, egonsentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri)

diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang

lain, tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan

masyarakat umum (the public) (Sarwono dalam Faridah, 2017).

B. Anemia

1. Pengertian

Anemia merupakan suatu kondisi medis dengan jumlah sel darah

merah (hemoglobin) kurang dari 13,5 g/dL pada pria dan kurang dari 12,0

g/dL pada wanita (Proverawati, 2011). Anemia merupakan suatu gejala

yang harus dicari penyebabnya dan penanggulangannya dilakukan sesuai

dengan penyebabnya (Direktorat Gizi Masyarakat, 2016).

2. Etiologi

a. Penghancuran Sel Darah Merah yang Berlebihan

Sel-sel darah normal yang dihasilkan oleh sumsum tulang akan

beredar melalui darah ke seluruh tubuh. Pada saat sintesis, sel darah
10

yang belum matur (muda), dapat juga disekresi kedalam darah. Sel

darah yang usianya muda biasanya gampang pecah atau lisis sehingga

terjadi anemia. Penghancuran sel darah yang berlebihan dapat

disebabkan oleh: masalah dengan sumsum tulang (limfoma, leukimia,

atau multiple myeloma), masalah dengan sistem kekebalan tubuh

yang menyebabkan kerusakan sel-sel darah, kemoterapi, dan penyakit

kronis (Proverawati, 2011).

Adapun anemia yang disebabkan oleh penghancuran sel darah

merah seperti:

1) Anemia Hemolitik terjadi ketika sel-sel darah merah telah

dihancurkan sebelum waktunya,

2) Anemia Sel Sabit adalah hemoglobin yang berbentuk batang yang

lama ketika melepas oksigen, sel-sel darah merah abnormal

menjadi berbentuk bulan sabit, hal ini menyebabkan kerusakan

dini sel darah merah, rendahnya tingkat hemoglobin, dan episode

rasa sakit berulang, serta masalah yang dapat mempengaruhi

hampir setiap sistem organ lain di dalam tubuh,

3) Thalasemia mayor adalah bentuk parah anemia dimana sel darah

merah dengan cepat dihancurkan dan besi disimpan dalam kulit

dan organ-organ vital. Thalasemia minor melibatkan anemia

ringan dan perubahan sel darah merah yang minimal,


11

4) Glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD)

Kondisi ini sel darah merah tidak membuat cukup enzim G6PD

atau enzim yang dihasilkan tidak normal dan tidak bekerja dengan

baik,

5) Spherocytosis Herediter adalah kelainan genetik membran sel

darah merah yang dapat menyebabkan anemia, penyakit kuning,

dan pembesaran limfa (Proverawati, 2011).

b. Kehilangan Darah

Kehilangan darah dapat disebabkan perdarahan menstruasi dan

melahirkan pada wanita terutama jika perdarahan menstruasi yang

berlebihan, penyakit kronis, kanker, kolitis ulserativa, atau

rheumatoid arthritis, Kehilangan darah misalnya, dari periode

menstruasi berat, kecelakaan atau borok lambung (Proverawati,

2011).

Pada usia pubertas, remaja putri akan mengalami pengeluaran

darah setiap bulannya yang disebut dengan menstruasi. Pola

menstruasi yang dialami remaja umumnya belum teratur, sehingga

memungkinkan remaja mengalami pengeluaran darah berlebih pada

saat menstruasi sehingga menyebabkan hemoglobin dalam tubuh

menurun yang disebut dengan anemia (Yunarsih, 2014).

Saat mentruasi tubuh dengan segera menarik cairan dari jaringan

di luar pembuluh darah, akibatnya darah menjadi encer dan persentasi


12

sel darah merah berkurang sehingga terjadilah anemia (Rumpiati

dalam Yunarsih, 2014).

c. Penurunan Produksi Sel Darah Merah

Jumlah sel darah yang diproduksi dapat menurun ketika terjadi

kerusakan pada daerah sumsum tulang atau bahan dasar produksi

tidak tersedia. Penurunan produksi sel darah dapat terjadi akibat:

1) Obat-obatan atau racun (obat penekan sumsum tulang:

kortikossteroid, alkohol),

2) Tidak menerima cukup zat besi dalam diet (misalnya, jika

seseorang adalah vegetarian yang ketat),

3) Gagal ginjal atau racun dari penyakit hati lanjut (liver kronis),

4) Genetik (thalassemia, anemia sel sabit); kondisi yang diwariskan

(diturunkan),

5) Kehamilan (perempuan hamil dan menyusui sering terjadi

kekurangan zat besi karena bayi memerlukan sejumlah besar besi

untuk pertumbuhan),

6) Operasi untuk lambung atau usus yang mengurangi penyerapan

zat besi, vitamin B12, atau asam folat (Proverawati, 2011).

3. Klasifikasi

Klasifikasi anemia dapat diketahui dengan melihat kadar

hemoglobin yang berada dibawah batas normal pada setiap kelompok umur

tertentu. Klasifikasi derajat anemia adalah (Direktorat Gizi Masyarakat,

2016):
13

Tabel 2.1 Klasifikasi Anemia sesuai dengan Kadar Hemoglobin


Menurut WHO

Klasifikasi Anemia Kadar Hemoglobin (gr/dl)

Ringan 10,0-11,9

Sedang 7,0-9,9

Berat < 7,0

Sumber: Direktorat Gizi Masyarakat, 2016

4. Gejala

Gejala yang sering ditemui pada penderita anemia adalah 5 L (Lesu,

Letih, Lemah, Lelah, Lalai), disertai sakit kepala dan pusing, mata

berkunang-kunang, mudah mengantuk, serta sulit konsentrasi. Secara klinis

penderita anemia ditandai dengan “pucat” pada muka, kelopak mata, bibir,

kulit, kuku dan telapak tangan (Direktorat Gizi Masyarkat, 2016).

a. Anemia Ringan

Kelelahan dengan penurunan suplai oksigen ke seluruh tubuh

dikarenakan rendahnya eritrosit yang bertugas untuk menyebarkan

oksigen,

1) Penurunan energi, diakibatkan karena kelelahan yang disertai sakit

kepala,

2) Tampak pucat, dikarenakan kadar hemoglobin yang kurang normal

(Proverawati, 2011).

b. Anemia Sedang

1) Pucat pada muka dikarenakan hemoglobin yang kurang dari

normal,
14

2) Fertigo yang dirasakan karena kurangnya suplai oksigen ke otak

3) Sulit konsentrasi,

4) Keletihan yang diakibatkan karena terjadinya penurunan energi.

c. Anemia Berat

1) Perubahan warna tinja, termasuk tinja hitam dan tinja lengket dan

berbau busuk, berwarna merah marun, atau tampak berdarah jika

anemia karena kehilangan darah melalui saluran pencernaan,

2) Tekanan darah rendah, dikarenakan berkurangnya eritrosit yang

mengalir ke seluruh tubuh,

3) Frekuensi pernapasan cepat, akibat kelelahan yang terjadi karena

oksigen berkurang,

4) Kulit kuning disebut jaundice jika anemia karena kerusakan sel

darah merah,

5) Murmur jantung, nyeri pada bagian dada,

6) Pusing atau kepala terasa ringan (terutama berdiri),

7) Kelelahan atau kekurangan energi,

8) Sakit kepala, daya konsentrasi rendah,

9) Tidak bisa berkonsentrasi, sesak napas,

10) Nyeri dada, anginan, atau serangan jantung (Proverawati, 2011).

Tabel 2.2. Gejala Anemia

Anemia Ringan Anemia Sedang Anemia Berat

-Cepat lelah -Fertigo -Fertigo


15

-Sakit kepala -Sulit konsentrasi Depresi, gangguan


-Lemas -Keletihan tidur
-Pucat konjungtiva -Keringat banyak -Keletihan berat
-Pucat -kelemahan
-Pucat
Sumber: Laksmi, 2008

5. Dampak Anemia

Anemia dapat menyebabkan dampak buruk pada remaja, diantaranya

menurunkan daya tahan tubuh sehingga penderita anemia mudah terkena

penyakit infeksi, menurunnya kebugaran dan ketangkasan berpikir karena

kurangnya oksigen ke sel otot dan sel otak, menurunnya prestasi belajar

dan produktivitas kerja/kinerja

6. Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dilakukan dengan

memberikan asupan zat besi yang cukup ke dalam tubuh untuk

meningkatkan pembentukan hemoglobin. Upaya yang dapat dilakukan

adalah:

1) Meningkatkan Asupan Makanan Sumber Zat Besi

Meningkatkan asupan makanan sumber zat besi dengan pola makan

bergizi seimbang, yang terdiri dari aneka ragam makanan, terutama

sumber pangan hewani, seperti hati, ikan, daging dan nabati yang kaya

zat besi seperti sayuran berwarna hijau tua dan kacang-kacangan dalam

jumlah yang cukup. Meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber

nabati perlu mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C.


16

2) Fortifikasi Bahan Makanan dengan Zat Besi

Fortifikasi bahan makanan yaitu menambahkan satu atau lebih zat

gizi kedalam pangan untuk meningkatkan nilai gizi pada pangan

tersebut. Penambahan zat gizi dilakukan pada industri pangan,

makanan yang sudah difortifikasi di Indonesia antara lain tepung

terigu, beras, minyak goreng, mentega dan beberapa snack (Direktorat

Gizi Masyarakat, 2016).

3) Suplementasi Zat Besi (Tablet Fe)

Pemberian suplementasi zat besi secara rutin selama jangka waktu

tertentu bertujuan untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat,

dan perlu dilanjutkan untuk meningkatkan simpanan zat besi di dalam

tubuh. Dalam pemberian suplemen zat besi ini diperlukannya

pengawasan. Pengawasan konsumsi tablet Fe harus dilakukan dengan

tujuan remaja dapat teratur dalam mengkonsumsi tablet Fe (Direktorat

Gizi Masyarakat, 2016).

C. Anemia pada Remaja Putri

Remaja wanita usia 10-19 tahun merupakan salah satu kelompok yang

rawan menderita anemia, hal ini disebabkan oleh berbagai faktor antara lain

karena masa remaja adalah masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi

lebih tinggi termasuk zat besi. Disamping itu remaja putri mengalami

menstruasi setiap bulannya sehingga membutuhkan zat besi lebih tinggi,

sementara makanan yang dikonsumsi lebih rendah dari pria, karena faktor takut

gemuk (Martini, 2015).


17

Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya anemia defisiensi

besi ini adalah pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, pengetahuan dan

sikap remaja putri tentang anemia, tingkat konsumsi gizi, pola menstruasi, dan

kejadian infeksi dengan kejadian anemia pada remaja putri (Wati dalam

Martini, 2015).

Dampak anemia pada remaja putri yaitu pada masa pertumbuhan mudah

terinfeksi, kebugaran tubuh berkurang, semangat belajar dan prestasi menurun,

sehingga pada saat akan menjadi calon ibu dengan keadaan berisiko tinggi

(Fransis dalam Martini, 2015). Kurangnya zat besi pada remaja tanpa

diimbangi asupan zat besi yang adekuat akan berlanjut pada masa kehamilan

akan menyebabkan pertumbuhan janin tidak optimal, berat badan bayi lahir

rendah, resiko perdarahan saat persalinan dan meningkatkan resiko kematian

ibu dan bayi (Susanty, 2014)

D. Pengetahuan

1. Pengertian

Pengetahuan adalah hasil terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu (Notoatmodjo, 2010).

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari

oleh seseorang ( Agus, 2013). Menurut Ariani (2014) menyebutkan bahwa

pengetahuan (knowledge) merupakan hasil rasa keingintahuan manusia

terhadap sesuatu dan hasrat untuk menigkatkan harkat hidup sehingga

kehidupan menjadi lebih baik dan nyaman yang berkembang sebagai


18

upaya untuk memenuhi kebuuhan manusia baik dimasa sekarang maupun

dimasa depan.

2. Tingkatan Pengetahuan

Menurut Notoadmodjo (2012) pengetahuan dicakup dalam 6 tingkat yaitu:

1) Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya, pada tingkatan ini reccal ( mengingat kembali) terhadap

sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsang

yang diterima. Oleh sebab itu tingkatan ini adalah yang paling rendah.

2) Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterprestasikan materi tersebut secara benar tentang objek yang

dilakukan dengan menjelaskan, menyebutkan contoh dan lain-lain.

3) Aplikasi (Aplication )

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi sebenarnya.

Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan

hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagai dalam konak atau

situasi yang lain.

4) Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan menjabarkan suatu materi atau objek ke

dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu strukur


19

organisasi tersebut dan masih ada kaitan satu sama lain, kemampuan

analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dapat

menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan

sebagainya.

5) Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan pada suatu komponen kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis ini suatu kemampuan

unuk menyusun, dapat merencanakan, meringkas, menyesuaikan

terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.

6) Evaluasi (Evaluation )

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian

terhadap suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan

suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-

kriteria yang telah ada.

Menurut Arikunto (2006), tingkatan pengetahuan dikategorikan

berdasarkan nilai sebagai berikut:

1) Pengetahuan baik: mempunyai nilai pengetahuan > 75%

2) Pengetahuan cukup: mempunyai nilai pengetahuan 60%-75%

3) Pengetahuan kurang: mempunyai nilai pengetahuan < 60%

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010) faktor yang mempengaruhi pengetahuan

meliputi:
20

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang. Pendidikan adalah suau usaha untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar

sekolah dan berlangsung seumur hidup.

b. Media Pembelajaran

Selain informasi, media pembelajaran menjadi salah satu faktor yang

mempengaruhi pengetahuan seseorang. Sebagai sarana komunikasi,

berbagai bentuk media pembelajaran seperti televisi, radio, surat kabar,

majalah, serta internet berupa media sosial misalnya facebook,

imsagram, line, WA, twitter, dll dalam bentuk penyuluhan dan

sebagainya mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan

pendapat dan kepercayaan orang.

c. Sosial Budaya dan Status Ekonomi

Sosial Budaya dan Status ekonomi menjadi salah satu faktor yang

mempengaruhi pengetahuan. Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh

individu atau kelompok tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan

baik atau buruk dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.

seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang

diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini

akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.


21

d. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik

lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh

terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada

dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi

timbal balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan

oleh setiap individu.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali

pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang

dihadapi masa lalu.

Menurut Rahayu (2010), terdapat 8 hal yang mempengaruhi pengetahuan

yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan merupakan sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan, maka jelas dapat kita

kerucutkan bahwa sebuah visi pendidikan yaitu untuk mencerdaskan

manusia.
22

b. Pekerjaan

Lingkungan pekerjaan dapat menjadikan seseorang mendapatkan

pengalaman dan pengetahuan, baik secara langsung maupun tidak

langsung.

c. Pengalaman

Pengalaman merupakan sebuah kejadian atau peristiwa yang pernah

dialami oleh seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

d. Usia

Umur seseorang yang bertambah dapat membuat perubahan pada aspek

fisik psikologis, dan kejiwaan.Dalam aspek psikologis taraf berfikir

seseorang semakin matang dan dewasa.

e. Kebudayaan

Kebudayaan tempat dimana kita dilahirkan dan dibesarkan mempunyai

pengaruh yang cukup besar terhadap terbentuknya cara berfikir dan

perilaku kita

f. Minat

Minat merupakan suatu bentuk keinginan dan ketertarikan terhadap

sesuatu.Minat menjadikan seseorang untuk mencoba dan menekuni

suatu hal dan pada akhirnya dapat diperoleh pengetahuan yang lebih

mendalam.

g. Paparan informasi

RUU teknologi informasi mengartikan informasi sebagai suatu teknik

untuk mengumpulkan, menyiapkan, dan menyimpan, manipulasi,


23

mengumumkan, menganalisa, dan menyebarkan informasi dengan

maksud dan tujuan tertentu yang bisa didapatkan melalui media

elektronik maupun cetak.

h. Media

Contoh media yang didesain secara khusus untuk mencapai masyarakat

luas seperti televisi, radio, koran, majalah, dan internet.

4. Pengukuran pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui wawancara atau

kuesioner yang berisikan pertanyaan mengenai isi materi yang diukur dari

subjek penelitian atau responden ( Riyanto dan Budiman, 2013). Kategori

penilaian pada penelitian ini dengan kriteria sebagai berikut, yaitu sebelum

dilakukan pendidikan rata-rata skor 0 – 15 dan setelah dilakukan pendidikan

dengan rata-rata skor 0 – 15.

5. Hubungan pengetahuan dengan kejadian anemia

Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia salah satunya adalah

pengetahuan. Pengetahuan memegang peranan penting dalam kejadian

anemia, dengan pengetahuan tentang anemia rendah maka kejadian anemia

remaja putri akan meningkat (Nurbaiti, 2013). Seseorang dengan tingkat

pengetahuan yang tinggi akan cenderung bersikap mendukung dan

berperilaku baik dalam memilih bahan makanan dibanding mereka yang

berpengetahuan rendah.

Hasil penelitian Yusof (2012) yang dilakukan pada remaja putri di

sekolah menengah di Malaysia menyebutkan pendidikan gizi akan


24

meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja terhadap kadar Hb. Francis

(2015) berpendapat bahwa pengetahuan yang memadai dapat menyebabkan

praktik pencegahan anemia kekurangan zat besi yang lebih baik. Jika remaja

putri telah memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan anemia

defisiensi besi maka pengetahuan ini akan membawa remaja putri untuk

berpikir dan bersikap mendukung terhadap upaya pencegahan anemia

kemudian pada akhirnya setelah objek diketahui dan disadari sepenuhnya,

akan timbul respon berupa perilaku atau tindakan dalam upaya pencegahan

agar tidak terkena anemia (Notoadmojo, 2010; Maulana, 2009).

E. Sikap

1. Pengertian

Pengertian sikap dijelaskan oleh Saifudin Azwar (2010: 3) sikap

diartikan sebagai suatu reaksi atau respon yang muncul dari sseorang

individu terhadap objek yang kemudian memunculkan perilaku individu

terhadap objek tersebut dengan cara-cara tertentu. Gerungan (2004: 160)

juga menguraikan pengertian sikap atau attitude sebagai suatu reaksi

pandangan atau perasaan seorang individu terhadap objek tertentu. Sikap

adalah sesuatu yang abstrak karena sikap tidak dapat dilihat atau dirasa

dengan panca indera (ilhaamie dan Ahmad, 2008).

2. Tingkatan Sikap

Tingkatan sikap terdiri atas :

a. Menerima (Receiving)
25

Menerima diartikan bahwa subyek mau dan memperhatikan stimulus

yang diberikan objek

b. Merespon (Responding)

Memberikan jawaban apabila ditanya mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan

c. Menghargai (Voluing)

Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan

orang lain terhadap suatu masalah

d. Bertanggung Jawab (Responsible)

Bertanggung Jawab atas apa yang dipilihnya dengan segala resiko

yang ada

3. Sifat Sikap

Sifat sikap terdiri dari sikap positif dan sikap negatif. Sifat positif

cenderung untuk mendekati dan menyenangi. Sikap negatif cenderung

menjauhi, menghindari, membenci dan tidak menyukai terhadap objek

tertentu (Wawan dan Dewi, 2011).

4. Hubungan sikap dengan kejadian anemia

Sikap mempengaruhi seseorang untuk berperilaku dalam hal ini sikap

remaja terhadap konsumsi tablet tambah darah mempengaruhi

tindakannya dalam mengkonsumsikan tambet tambah darah tersebut.

Reaksi atau respons seseorang terhadap stimulus yang secara lansung

maupun tidak lansung dari orang tersebut dilakukan dengan cara

memberikan pendapat dengan menggunakan kata setuju atau tidak setuju


26

terhadap objek tersebut. Penelitian Risva et al., (2016) menjelaskan bahwa

sikap yang baik terbukti dapat menciptakan kepatuhan yang baik dalam

mengkonsumsi tablet tambah darah karena responden yang memiliki sikap

baik juga memiliki kesadaran yang tinggi mengenai pentingnya

mengkonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia pada remaja

puteri. Sejalan dengan penelitian Listiana, (2016) faktor anemia adalah

salah satunya sikap, sikap remaja puteri terhadap pencegahan anemia

merupakan respon remaja puteri terhadap pernyataan mengenai anemia.

Menurut penelitian (Risva et al., 2016), ada hubungan sikap dengan

kebiasaan konsumsi tablet tambah darah. Sikap yang baik terbukti dapat

menciptakan kepatuhan yang baik dalam mengkonsumsi tablet tambah

darah, sikap yang baik juga memiliki kesadaran yang tinggi mengenai

pentingnya mengkonsumsi tablet tambah darah sebagai upaya pencegahan

anemia pada remaja puteri.

F. Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Menurut Skinner (1938) seseorang ahli perilaku mengemukakan

bahwa perilaku adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang

(stimulus dan tanggapan (respons). Perilaku adalah respon individu

terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan

mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun

tidak (Wawan & Dewi, 2010).


27

2. Faktor yang mempengaruhi perilaku

Menurut Lawrence Green (1980) dalam Notoatmodjo (2003),

perilaku diperilaku oleh 3 faktor utama, yaitu:

1) Faktor predisposisi (predisposing factors)

Faktor-faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat

terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap

hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan,sistem nilai yang dianut

masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan,

dan sebagainya.

2) Faktor pendukung (enabling factors)

Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau

fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat

pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan

makanan bergizi, dsb. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan

seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos

obat desa, dokter atau bidan praktek swasta, dsb. Termasuk juga

dukungan sosial, baik dukungan suami maupun keluarga.

3) Faktor Penguat (reinforcing factors)

Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh

masyarakat (toma), tokoh agama, sikap dan perilaku pada petugas

kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang peraturan-

peraturan baik dari pusat maupun dari pemerintah daerah yang

terkait dengan kesehatan.


28

3. Hubungan Perilaku Minum Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri

dengan Kadar Hemoglobin

Hasil Penelitian Caturyaningtyas (2015) menyebutkan bahwa

terdapat hubungan antara sikap dengan kejadian anemia pada remaja

putri. Terdapat hubungan antara perilaku dengan kejadian anemia pada

remaja putri. Sebanyak 42,2% memiliki perilaku yang kurang baik

yaitu siswi lebih banyak mengonsumsi sayuran dan tidak pernah

mengkonsumsi tablet tambah darah. Responden sebanyak 62,8%

memiliki sikap yang kurang baik. Hal ini disebabkan karena kesadaran

siswi untuk melakukan pencegahan anemia yang masih kurang.

Hasil penelitian Putri et al., (2017), diketahui bahwa yang menjadi

faktor dominan terjadinya anemia pada remaja putri adalah

ketidakpatuhan terhadap konsumsi tablet tambah darah. Kepatuhan

minum tablet tambah darah dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu

faktor dari petugas kesehatan dan faktor dari diri sendiri seperti

kesadaran dalam mengkonsumsi tablet Fe. Kepatuhan mengkonsumsi

suplementasi zat besi sangat mempengaruhi perubahan kadar

hemoglobin, kadar hemoglobin yang normal maka akan mempengaruhi

status anemia juga menjadi normal, sehingga dapat mencegah dan

menanggulangi anemia defisiensi besi (Yuniarti, 2015).

Rendahnya kepatuhan subjek dalam mengonsumsi TTD selama

menstruasi sejalan dengan penelitian Susanti et al, (2016), bahwa

penyebab rendahnya kepatuhan konsumsi TTD selama menstruasi


29

adalah suplemen tersebut dibekalkan ke rumah sehingga

pengonsumsiannya tidak dapat ditinjau secara efektif.

G. Pendidikan Kesehatan

1. Pengertian

Pendidikan kesehatan merupakan suatu proses perubahan prilaku

yang dinamis dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku

manusia yang meliputi komponen pengetahuan, sikap, ataupun praktik

yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat baik secara individu,

kelompok maupun masyarakat, serta merupakan komponen dari program

kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Commite President On Health Education (1997) yang

dikutip oleh Notoatmodjo (2007) Pendidikan kesehatan adalah proses

yang menjembatani kesenjangan antara informasi kesehatan dan berbuat

sesuatu sehingga dapat menjaga dirinya lebih menjadi lebih sehat dengan

menghindari kebiasaan yang buruk dan membentuk kebiasan yang

menguntungkan kesehatan

2. Tujuan

Adapun tujuan pendidikan kesehatan menurut Fitriani (2011), dibagi

menjadi dua yaitu untuk merubah perilaku individu atau masyarakat dari

perilaku yang tidak sehat atau belum sehat menjadi perilaku sehat,

merubah perilaku yang kaitanya dengan budaya, misalnya sikap dan

perilaku merupakan bagian dari kebudayaan. Kebudayaan adalah

kebiasaan, adat istiadat, tata nilai atau normal.


30

3. Media Pendidikan Kesehatan

Media adalah alat yang mempunyai fungsi menyampaikan pesan.

Media sebagai alat pembelajaran mempunyai syarat antara lain, harus bisa

meningkatkan motivasi subyek untuk belajar, merangsang pembelajaran

mengingat apa yang sudah dipelajari, mengaktifkan subyek belajar dalam

memberikan tanggapan/ umpan balik, mendorong pembelajar untuk

melakukan praktek-praktek yang benar. Sedangkan alat bantu yang

digunakan antara lain alat bantu lihat (visual), alat bantu dengar (audio)

atau alat bantu dengar dan lihat (audio visual) serta alat bantu dengan

media tulis seperti poster, leaflet, booklet, flipchart. (Notoatmodjo, 2010)

H. Media Vidio

1. Pengertian

Menurut Munir (2012: 289), vidio adalah teknologi penangkapan,

perekaman, pengolahan, dan penyimpanan, pemindahan, dan

perenkroktusian urutan gambar diam dengan menyajikan adegan-adegan

dalam gerak secara elektronik.

Menurut Cheppy Riyana (2007) vidio merupakan bahan

pembelajaran tampak dengar (audio visual) yang dapat digunakan untuk

menyampaikan pesan-pesan/materi pelajaran. Dikatakan tampak dengar

karena unsur dengar (audio) dan unsur visual/vidio (tampak) dapat

disajikan serentak.
31

2. Karakteristik Vidio

Krakteristik media video pembelajaran menurut Menurut Cheppy Riyana

(2007:8-11) untuk menghasilkan video pembelajaran yang mampu

meningkatkan motivasi dan efektivitas penggunanya maka pengembangan

video pembelajaran harus memperhatikan karakteristik dan kriterianya.

Karakteristik video pembelajaran yaitu:

a. Clarity of Massage (kejalasan pesan)

Dengan media video siswa dapat memahami pesan pembelajaran

secara lebih bermakna dan informasi dapat diterima secara utuh

sehingga dengan sendirinya informasi akan tersimpan dalam memory

jangka panjang dan bersifat retensi.

b. Stand Alone (berdiri sendiri).

Video yang dikembangkan tidak bergantung pada bahan ajar lain atau

tidak harus digunakan bersama-sama dengan bahan ajar lain.

c. User Friendly (bersahabat/akrab dengan pemakainya).

Media video menggunakan bahasa yang sedehana, mudah dimengerti,

dan menggunakan bahasa yang umum. Paparan informasi yang tampil

23 bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk

kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan

keinginan.
32

d. Representasi Isi

Materi harus benar-benar representatif, misalnya materi simulasi atau

demonstrasi. Pada dasarnya materi pelajaran baik sosial maupun sain

dapat dibuat menjadi media video.

e. Visualisasi dengan media

Materi dikemas secara multimedia terdapat didalamnya teks, animasi,

sound, dan video sesuai tuntutan materi. Materi-materi yang

digunakan bersifat aplikatif, berproses, sulit terjangkau berbahaya

apabila langsung dipraktikkan, memiliki tingkat keakurasian tinngi.

f. Menggunakan kualitas resolusi yang tinggi

Tampilan berupa grafis media video dibuat dengan teknologi

rakayasa digital dengan resolusi tinggi tetapi support untuk setiap

spech sistem komputer.

g. Dapat digunakan secara klasikal atau individual

Video pembelajaran dapat digunakan oleh para siswa secara

individual, tidak hanya dalam setting sekolah, tetapi juga dirumah.

Dapat pula digunakan secara klasikal dengan jumlah siswa maksimal

50 orang bias dapat dipandu oleh guru atau cukup mendengarkan

uraian narasi dari narator yang telah tersedia dalam program.

3. Tujuan dan Fungsi Media Vidio

Menurut Cheppy Riyana (2007:6) media video pembelajaran sebagai

bahan ajar bertujuan untuk memperjelas dan mempermudah penyampaian

pesan agar tidak terlalu verbalistis, mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan
33

daya indera peserta didik maupun instruktur, dapat digunakan secara tepat

dan bervariasi. Dalam menggunakan media video ini selain mempunyai

tujuan juga mempunyai fungsi sehingga proses dalam pembelajaran akan

sesuai dengan yang diharapkan.

Fungsi-fungsi dari media video adalah dapat menarik dan mengarahkan

perhatian siswa untuk berkonsentrasi siswa kepada isi pelajaran, dapat

terlihat dari tingkat keterlibatan emosi dan sikap siswa pada saat menyimak

tayangan materi pelajaran yang disertai dengan visualisasi, membantu

pemahaman dan ingatan isi materi bagi siswa yang lemah dalam membaca.

4. Kelebihan dan Kelemahan media Vidio

a. Kelebihan Media Video

1. Dapat melatih siswa untuk mengembangkan daya imajinasi yang

abstrak.

2. Dapat merangsang partisipasi aktif para siswa.

3. Menyajikan pesan dan informasi secara serempak bagi seluruh

siswa.

4. Membangkitkan motivasi belajar.

5. Mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.

6. Dapat menyajikan laporan-laporan yang aktual dan orisinil yang

sulit dengan menggunkan media lain.

7. Mengontrol arah dan kecepatan belajar siswa.


34

b. Kelemahan Media Video

1. Hanya mampu melayani secara baik untuk mereka yang sudah

mampu berpikir abstrak.

2. Guru kurang kreatif dalam meyampaikan materi pembelajaran

karena sudah diwakili oleh media audio visual video.

3. Memerlukan peralatan khusus dalam penyajiannya

4. Kelas lain terganggu ketika penayangan film berlangsung karena

suaranya yang keras dapat menggangu konsentrasi belajar kelas lain.

5. Pengaruh Pendidikan melalui Media Vidio Terhadap Peningkatan Pengetahuan

Upaya yang dapat dilakukan agar siswi dapat memahami dan mengetahui

tentang bahaya anemia remaja adalah melakukan kegiatan pendidikan

kesehatan tentang anemia remaja dengan menggunakan media pembelajaran.

Media yang dapat digunakan diantaranya adalah vidio karena informasi yang

disampaikan lebih mudah dipahami. Hasil penelitian Saban tahun 2017,

menyatakan bahwa mdia vidio lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan

tentang anemia dibandingkan menggunakan media ceramah.

Vidio merupakan media perantara yang materi dan penyerapannya melalui

pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat

membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Materi

dalam vidio dikemas berupa efek gambar yang bergerak dengan alur cerita

yang menarik serta suara sehingga memberikan gambaran yang lebih nyata

(saban, 2017).
35

Penelitian Gunawan tahun 2016, menyatakan bahwa Pendidikan

Kesehatan Gigi menggunakan media vidio lebih efektif dalam meningkatkan

pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak dibandingkan menggunakan media

flip chart. Responden yang diberikan penyluhan vidio memiliki pengetahuan

baik karena informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami.

Hasil penelitian Fanny tahun 2017 menyatakan bahwa penyuluhan

kesehatan dengan menggunakan media vidio dapat meningkatkan pengetahuan

remaja putri tentang dampak abortus provokatus kriminalis karena media yang

digunakan dapat menarik perhatian responden dengan menampilkan gambar

nyata.

6. Pengaruh Pendidikan melalui Media Vidio Terhadap Peningkatan Sikap

Hasil penelitian yang dilakukan Eka 2015 didapatkan rata-rata sikap

remaja setelah diberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan media

audiovisual mengenai upaya pencegahan penyakit menular seksual terjadi

peningkatan. Perubahan sikap yang terjadi sesudah pendidikan kesehatan dapat

disebabkan oleh penyuluhan yang dilakukan meningkatkan pengetahuan

seseorang sehingga pengetahuan seseorang bertambah maka akan berubah

perilakunya, dengan dilakukan pendidikan kesehatan akan meningkatkan

pengetahuan sehingga akan berpengaruh terhadap sikap yang diambil (Azwar,

2009).

7. Pengaruh Pendidikan melalui Media Vidio Terhadap Peningkatan Perilaku

Hasil penelitian yang dilakukan Eka 2015 menunjukkan pengetahuan

sampel meningkat setelah mendapatkan pendidikan kesehatan melalui media


36

vidio sehingga dengan adanya pendidikan kesehatan dapat mengubah perilaku

konsumsi makan remaja yang lebih baik.

I. Kerangka Teori

Pengaruh Pendidikan Kesehatan Melalui Media Vidio terhadap Pengetahuan,

Sikap, dan Perilaku Konsumsi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri
Pendidikan Kesehatan

Media Vidio

Informasi tentang anemia

Penglihatan dan pendengaran

Terekam di dalam otak

Pengetahuan remaja Sikap Perilaku konsumsi


putri tentang Anemia pencegahan tablet tambah darah
Baik anemia baik baik

1. Tahu (know) 1. Menerima Kesadaran


2. Memahami 2. Merespon mengkonsumsi
3. Menghargai tablet tambah
(comprehension)
darah
3. Aplikasi (aplication) 4. Bertanggung jawab
4. Analisis
5. Sintesis
6. memahami

Keterangan : Huruf yang bercetak tebal adalah variabel yang akan di teliti

Gambar : 2.1 Kerangka Teori

Modifikasi Notoatmodjo (2010), Riyanto dan Budiman (2013), Cheppy


Riyana (2007)
37

J. Kerangka Konsep

Variabel Independen variabel Dependen

Pendidikan Kesehatan 1. Pengetahuan


Melalui Media Vidio 2. Sikap
3. Perilaku

Variabel Luar

1. Minat
2. Paparan
Informasi

Bagan: 2.2 Kerangka konsep

K. Hipotesis

Ha : Ada Pengaruh pendidikan kesehatan melalui media vidio terhadap

pengetahuan, sikap dan perilaku konsumsi tablet tambah darah pada remaja

putri di SMP Negeri 19 kota Bengkulu tahun 2019