Anda di halaman 1dari 18

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS II PADA AGREGAT PEKERJA

Dengan dosen penggampu: Trisna vitaliati, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh:
Kelompok 2

1. Fifi Hardiyanti 16010111


2. Furqon Romadhon A.W 16010114
3. Ira Indah Lestari 16010116
4. Khusnul Chotimah W. 16010119
5. M. Indra Permana 16010129
6. M. Rizqi Sukma Aji 16010130
7 Regita Yuniar Darmawati 16010132
8. Rizki Ardani 16010134
9. Septiani Puji Lestari 16010135

PROGRAM STUDI SARJANA ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN dr. SOEBANDI JEMBER
2019
ASUHAN KEPERAWATAN KELOMPOK KHUSUS
PADA KELOMPOK PEKERJA BENGKEL LAS JL. Teratai

A. Hasil Pengkajian
1. DATA INTI
a. Riwayat atau sejarah perkembangan komunitas
Bengkel las Jl. Teratai didirikan pada tahun 2012 dan bertahan hingga kini.
Bengkel ini berada di wilayah Kabupaten Jember dengan luas bangunan
bengkel las ini sebesar 21X30 meter Bengkel ini berada di tepi jalan yang
merupakan jalan alternative menuju jalan raya yang utama. Bangunan dari
bengkel ini memiliki beberapa ruangan seperti ruang peristirahatan para
pegawai, ruang bengkel dan las, gudang, ruang tamu, kamar mandi dan
ada juga kandang ayam di sebelah bengkel dan tempat las. Dibengkel ini
terdapat 3 tugas yaitu, pengelasan, pengecatan dan membenahi body mobil
yang ringsek atau penyok. Tidak ada pembagian tugas secara khusus tiap
individu akan tetapi bersifat flaksibel, jadi para pekerja dapat melakukan
ke tiga tugas pada bengkel ini secara professional karena meraka memiliki
pengalaman dalam ketiga tugas tersebut. Jumlah pekerja di bengkel ini ada
5 orang berjenis kelamin laki-laki, usia dari para pekerja bervariasi mulai
dari pemilik bengkel berusia 54 tahun, pekerja paling muda usia 24 tahun
dan para pekerja lain berusia 30 tahunan. Tingkat pendidikan dari para
pekerja adalah lulusan SMK, lamanya bekerja tiap pekerja bervariasi
mulai dari yang paling lama yaitu 7 tahun sampai yang paling baru yaitu 2
bulan. sebagian besar pekerja berasal dari suku jawa.
b. Status Kesehatan Komunitas
Dari anamnesa dan wawancara yang kelompok kami lakukan secara
langsung kepada para pekerja didapatkan hasil:
a) Keluhan yang dirasakan saat ini oleh komunitas
Semua pekerja mengeluhkan hal yang sama yaitu, nyeri sendi dan
pungung, mengalami kebisingan, pusing dan sesak pada saat mengecat
body mobil.

b) Tanda-tanda vital tiap individu


Tekanan 1. Pak Bejo 120/80 mmHg
Darah : 2. Rudi 120/80 mmHg
3. Slamet 100/70 mmHg

2
4. Ihsan 130/90 mmHg
5. Suqik 120/70 mmHg
Nadi Dari 5 pekerja didapatkan hasil
: nadi 60-80 kali/menit
Respiratory Rate Dari 5 pekerja rata-rata RR 16-
: 24 kali/menit
Suhu tubuh : Dari 5 pekerja didapatkan hasil
pengukuran suhu antara 36-37ºC
c. Pola pemenuhan kebutuhan nutrisi komunitas
Para pekerja mendapatkan istirahat makan siang untung pulang kerumah
atau memakan bekal yang dibawa para pekerja. Biasanya mereka
beristirahat pada pukul 12.00 WIB sampai 13.00 WIB.
d. Pola pemenuhan cairan dan elektrolit
Selama bekerja kebutuhan cairan para pekerja didapatkan dari minuman
yang dibawa sendiri oleh para pekerja dari rumah, sebenarnya oleh pemilik
bengkel telah disediakan air gallon untuk kebutuhan cairan para pekerja.
e. Pola istirahat tidur
Para pekerja mengatakan bahwa istirahat tidur mereka biasanya dilakukan
sebentar pada jam istirahat siang hari dan tidur pada malam hari. Karena
waktu mereka bekerja adalah 9 jam mulai pukul 08.00-17.00 WIB.
f. Pola eliminasi
Pada saat dilakukan anamnesa kepada para pekerja, semua para pekerja
mengatakan bahwa melakukan eliminasi urine maupun fekal seperti biasa
dikarenakan disana tersedia kamar mandi, jadi para pekerja tidak khawatir.
Para pekerja juga tidak ada yang mengalami gangguan saat berkemih
dikarenakan kebutuhan cairan para pekerja telah terpenuhi.

g. Pola aktivitas gerak


Saat dilakukan anamnesa oleh kelompok kami para pekerja mengeluhkan
sering pegal punggung, pinggang, leher dan lutut. Saat dilakukan observasi
oleh kelompok kami ternyata para pekerja melakukan aktivitas
pekerjaannya dengan posisi yang salah ada yang terlalu membungkuk.
Akan tetapi jika mulai terasa pegal para pekerja menyisihkan waktunya

3
sedikit untuk sekedar menggerak-gerakkan tubuhnya yang mengalami
pegal terkadang ada pula yang berjalan-jalan sebentar disekitar bengkel.
h. Pola pemenuhan kebersihan diri
Para pekerja selalu mencuci tanganya setelah selesai melakukan pekerjaan
dan sebelum makan hanya saja cara mencuci tangan yang kurang tepat
dialkukan oleh para pekerja bengkel.
i. Status psikososial
Setetelah kami kaji pemilik bengkel mengatakan bahwa selama beliau
mendirikan bengkelnya tidak ada perselisihan karena sebagian dari para
pekerja memiliki ikatan persaudaraan dan mereka juga mengatakan
mereka semua seperti saudara dikarenakan sering menghabiskan waktu
bersama dalam jangka waktu yang lama saat berkerja.
j. Status pertumbuhan dan perkembangan
a) Pola pemanfaatan fasilitas kesehatan
Berdasarkan penjelasan dari pemilik bengkel para pekerja tidak
mendapatkan asuransi kesehatan dengan alasan bahwa usaha yang ia
geluti hanya pada taraf yang kecil, jadi tidak mampu untuk membiayai
asuransi kesehatan bagi para pekerja. Biasanya para pekerja hanya
memeriksakan kesehatanya di klinik ataupun puskesmas secara
mandiri.
b) Pola pencegahan terhadap penyakit dan perawatan kesehatan
No. Karakteristik Jenis pekerjaan Jumlah pekerja
1. Tidak 1. Pengelasan 5 pekerja atau
menggunakan 2. Pengecatan semua dari para
APD dalam 3. Pembenahan pekerja tidak
berkerja (masker, body mobil menggunakan
sarung tangan, yang ringsek APD
kacamata google, atau penyok
sepatu)

2. DATA LINGKUNGAN FISIK


a. Iklim/cuaca

4
pada saat kelompok kami melakukan pengkajian sedang dalam cuaca
yang cerah dan panas meskipun cuaca panas para pekerja tidak akan
terlalu merasa kepanasan dikarenakan ruangan bengkel yang memiliki
ventilasi sangat memadai. Jika cuaca hujan para pekerja juga tidak
memiliki hambatan dikarenakan ruangan bengkel tidak mengalami
kebocoran.
b. Suhu ruangan
Kami tidak dapat memastikan secara pasti dikarenakan dibengkel dan
ruangan-ruangan lain tidak memiliki pengukur suhu ruangan. Kami
hanya memanfaatkan salah satu aplikasi dihandphone kami untuk melihat
suhu ruangan pada saat kami lakukan pengkajian dan menunjukkan suhu
ruangan dalam kisaran 32ºC.
c. Tingkat kebisingan, paparan zat kimia
para pekerja mengatakan bahwa mereka sangat terganggu dengan
kebisingan yang berasal dari bunyi las yang mereka gunakan juga berasal
dari pukulan-pukulan untuk memperbaiki body mobil yang rusak. Belum
lagi jika saat pengecatan mobil karena tidak menggunakan masker jadi
para pekerja sering merasa pusing, sesak dan mual saat menghirup aroma
dari zat kimia yang terkandung dalam cat mobil tersebut.
d. Penataan ruang kerja
Pemilik bengkel mengatakan bahwa penataan ruang bengkel dan ruangan
lain ala kadarnya saja,”namanya juga bengkel mbak ya seadanya saja,
para pekerja juga tidak mempermasalahkan hal tersebut”. Kami mengkaji
para pekerja juga mengenai masalah penataan ruang dan mereka sepakat
mengatakan”ya, pokoknya kalau panas gak terlalu kepanasan dan kalau
hujan tidak kebocoran sudah cukup mbak, yang penting kamar mandi dan
tempat beristirahat”.
e. Penataan eksterior bengkel
Sama seperti penataan ruangan penataan eksterior bengkel pun sederhana
saja, pemilik bengkel mengatakan bahwa asal enak dilihat saja sudah
cukup.
f. Pengaruh penataan terhadap pekerja

5
Tidak terdapat pengaruh yang berarti tentang penataan ruangan terhadap
kinerja dan kesehatan para pekerja. Akan tetapi mereka juga mengatakan
jika ruangan ditata lebih bagus lagi mereka juga akan senang.
g. Dampak lingkungan fisik terhadap pekerja dan keluarga
para pekerja mengaku akibat kebisingan dan paparan cat mobil sedikit
banyak menganggu keadaan mereka sampai pada malam hari dirumah,
mereka tidak dapat tidur dengan nyenyak dikarenakan efek pusing, mual
dan sesak kadang masih tertinggal ditambah lagi dengingan ditelinga
setelah seharian memukul-mukul body mobil. Keluhan-keluhan tersebut
mereka adukan pada istri dan keluarganya. Jika malam hari mereka tiba-
tiba terbangun dan sulit tidur maka istri mereka akan menemaninya.

3. PELAYANAN KESEHATAN DAN SOSIAL


a. Jenis pelayanan umum dan kesehatan bagi pekerja dan keluarga
Pada bengkel bapak bejo ini tidak menyediakan pelayanan umum dan
kesehatan bagi para pekerja dan keluarganya dikarenakan keterbatasan
biaya. Maka secara individu jika mereka mengalami penurunan
kesehatan maka mereka beserta keluarga memeriksakan diri secara
mandiri ke klinik maupun puskesmas terdekat.
b. Kondisi sarana umum dan kesehatan
Seperti sebelumnya pada bengkel yang didirikan oleh bapak Bejo ini
tidak memiliki sarana umum kesehatan.

c. Pemanfaatan fasilitas umum dan kesehatan bagi pekerja dan


keluarga
Dikarenakan dibengkel tersebut tidak memiliki klinik atau sarana
kesehatan secara umum maupun khusus maka mereka memanfaatkan
sarana kesehatan umum daerah seperti puskesmas maupun klinik, mereka
jarang memanfaatkan sarana kesehatan rumah sakit dikarenakan biaya
yang mahal.

6
d. Dampak pelayanan umum dan kesehatan terhadap pekerja dan
keluarga
Hal ini tidak dapat terkaji oleh kami dikarenakan dibengkel tersebut tidak
disediakan pelayanan umum dan kesehatan terhadap pekerja dan
keluarga secara khusus. Para pekerja juga mengatakan dapat memahami
kondisi ini dikarenakan ini hanya bisnis kecil-kecilan maka dari itu
mereka tidak terlalu banyak mengharapkan hal-hal yang banyak dari
pemilik bengkel. Akan tetapi mereka juga sangat mengharapkan adanya
pelayanan kesehatan bagi mereka dan keluarga.

4. EKONOMI
a. Penghasilan pekerja
rata-rata penghasilan pekerja saat melayani service pembetulan body
mobil ,pengecatan dan pengelasan sekitar 1,5-2 juta rupiah perbulan.
Akan tetapi penghasilan tersebut tidak menentu tergantung dengan
banyaknya pelanggan yang menservice mobil mereka.
b. Efektivitas penghasilan dalam mengatasi keuangan keluarga
pekerja
Sebagian besar para pekerja mengatakan mereka bekerja di dua tempat
yang berbeda atau bekerja sampingan dan selebihnya mereka
mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan keluarganya istri-istri
mereka juga berperan untuk bekerja.

c. Bentuk bonus atau tambahan penghasilan yang diberikan pemilik


bengkel
Bentuk bonus yang diberikan pemilik bengkel pada karyawan-
karyawannya adalah dengan memberi tip jika mereka bekerja lembur
dengan tambahan 50.000 permobil, diakhir tahun mereka diberi tip
500.000 agar kinerjanya ditingkatkan, dan pemberian parsel dihari raya
idul fitri.
d. Tingkat kesejahteraan pekerja dan keluarga

7
Para pekerja mengaku cukup atas gaji yang diterima dari pemilik
bengkel dan tentang bonus yang diberikan. Mereka juga mengaku untuk
makan dengan sehat, biaya untuk sekolah anaknya, beli baju meskipun
tidak satu bulan sekali itu cukup maka hal tersebut tidak terlalu
dipusingkannya. keluarganya terutama istri mereka tidak pernah
menuntut peningkatan gaji pada pemilik bengkel dikarenakan pemilik
bengkel selalu memberikan gaji yang sesuai dengan apa yang mereka
kerjakan.

5. KEAMANAN DAN TRANSPORTASI


a. Jenis fasilitas keamanan dan transportasi pekerja dan keluarga
Belum terdapat fasilitas keamanan yang cukup di dalam bengkel,
pekerja sama sekali tidak menggunakan APD ketika melakukan
pekerjaannya. Pekerja tidak menggunakan sarung tangan dan kacamata
ketika sedang mengelas dan tidak menggunakan masker ketika sedang
mengecat. Pekerja menggunakan sepeda motor ketika berangkat dan
pulang dari bengkel.
b. Pemanfaatan fasilitas keamanan dan transportasi bagi pekerja dan
keluarga
Karena tidak tersedianya fasilitas keamanan yang cukup, pekerja harus
menyediakan sendiri kebutuhan yang diperlukan untuk keamanan
dirinya. Sepeda motor yang digunakan untuk transportasi pun adalah
milik masing-masing dari pekerja.
c. Dampak fasilitas keamanan dan transportasi bagi pekerja dan
keluarga
Dampak dari ketidaktersediaannya fasilitas keamanan menyebabkan
sulit tercapainya keselamatan kerja. Seperti percikan api yang mengenai
sekitar area mata ketika tidak menggunakan kacamata, merasakan bau
cat yang menyengat ketika tidak menggunakan masker dan merasakan
suara bising ketika tidak menggunakan penutup telinga.

6. POLITIK DAN KEAMANAN

8
a. Jenis aturan bengkel bagi pekerja dan keluarga
Bengkel ini adalah milik perorangan. Di dalam bengkel tidak ada aturan
tertentu yang memberatkan pekerja, karena bengkel ini bersifat
fleksibel. Aturan-aturan bengkel cukup ringan, yaitu seperti jam masuk
pada pukul 09.00 dan ada potongan pendapatan bagi individu yang
berhalangan untuk masuk.
b. Efektifitas aturan bengkel bagi pekerja dan keluarga
Karena tidak ada aturan-aturan yang memberatkan para pekerja,
menjadikan para pekerja dan pemilik bengkel memiliki hubungan yang
erat layaknya sebuah keluarga.
c. Perlindungan pemerintah terhadap pekerja dan keluarga
Hal ini masih belum dapat terkaji oleh pengkaji.
d. Situasi politik dan pengaruh terhadap pekerja dan keluarga
Hal ini masih belum dapat terkaji oleh pengkaji.

7. SISTEM KOMUNIKASI
a. Jenis sarana komunikasi yang diberikan bengkel
Sarana komunikasi yang diberikan oleh bengkel adalah telephone.
b. Cara pemanfaatan sarana komunikasi
Telephone yang berada di bengkel digunakan oleh semua pekerja untuk
menerima order-an dan untuk menghubungi para pelanggan.

c. Acara yang berhubungan dengan pertemuan direksi, pekerja, dan


keluarga
Tidak ada pertemuan khusus antara pemilik dan para pekerja.
d. Dampak sarana komunikasi bagi pekerja dan keluarga
Penggunaan sarana telephone ini memudahkan komunikasi antara
bengkel dan pelanggan, sehingga bengkel dapat memenuhi keinginan
para pelanggan. Penggunaan telephone ini juga dapat meminimalkan
terjadinya miss-communication antara bengkel dan pelanggan.

8. PENDIDIKAN

9
a. Program pendidikan bagi pekerja dan keluarga
Tidak ada program pendidikan yang disediakan oleh bengkel untuk para
pekerjanya.
b. Jenjang karir dan pendidikan
Bengkel ini memiliki 5 orang pekerja. Ada 3 orang pekerja yang
memiliki riwayat pendidikan terakhir SMK, dan 2 orang diantaranya
memiliki riwayat pendidikan terakhir SMP.
c. Penghargaan terhadap pendidikan pekerja dan keluarga
Tidak ada penghargaan khusus bagi para pekerja.
d. Fasilitas pendidikan di bengkel
Bengkel tidak memfasilitasi pendidikan khusus bagi para pekerjanya.
Hanya saja, ketika ada yang tidak diketahui oleh para pekerjanya,
pemilik bengkel memberitahu/mengajarkan kepada para pekerjanya
secara autodidak.
e. Jenis pendidikan yang diberikan
Pendidikan autodidak yang diberikan kepada para pekerja yaitu
pengetahuan mengenai semua hal yang berhubungan dengan
perbengkelan.
f. Pengetahuan pekerja
Dikarenakan tidak ada program pendidikan yang disediakan bengkel
bagi pekerja, menyebabkan pengetahuan para pekerja tidak berkembang
dengan maksimal. Akan tetapi, bengkel sering kedatangan mahasiswa
perguruan tinggi yang memberikan sedikit pengetahuannya melalui
berbagai macam penyuluhan terhadap para pekerja.

9. REKREASI
a. Jenis rekreasi yang diberikan
Tidak ada rekreasi yang diberikan bengkel terhadap para pekerjanya.
Bengkel hanya memberikan hari istirahat/libur kepada para pekerjanya
seperti hari minggu dan hari-hari besar lainnya.
b. Pemanfaatan rekreasi bengkel bagi pekerja dan keluarga

10
Karena tidak ada rekreasi yang diberikan, maka para pekerja hanya bisa
menikmati hari libur yang diberikan untuk menikmati waktu bersama
keluarganya masing-masing.
c. Jenis rekreasi yang dilakukan oleh pekerja dan keluarga selain dari
perusahaan
Para pekerja biasanya menggunakan hari liburnya untuk jalan-jalan
bersama keluarganya ke tempat-tempat wisata. Tapi terkadang para
pekerja menggunakan hari liburnya hanya untuk beristirahat di rumah.
d. Jadwal rekreasi/frekuensi rekreasi
Sejauh ini masih belum disediakannya jadwal rekreasi untuk para
pekerja.
e. Dampak rekreasi terhadap motivasi kerja
Dikarenakan belum tersedianya rekreasi khusus para pekerja, pemberian
hari libur saja sudah cukup membuat semangat para pekerja. Akan
tetapi, pekerja mengatakan lebih senang apabila diadakannya acara
rekreasi.

B. Rumusan Diagnosa Keperawatan


1. Defisiensi Pengetahuan
2. Defisiensi Kesehatan Komunitas
3. Kontaminasi

C. Analisa Data
No Data Etiologi problem
1 Do: para pekerja dibengkel Defisiensi
Sumberdaya
las mengatakan tidak tahu pengetahuan tidak pengetahuan
mengenai posisi yang tepat cukup dan kurang
informasi
saat duduk yang terlalu lama,
tidak tahu untuk apa
menggunakan APD yang
sesuai. Jika ada yang merasa Perilaku
kesehatan yang
pegal di sendi mereka
tidak tepat

11

Defisiensi
pengetahuan
mengatakan membiarkannya
saja hingga sembuh sendiri.
Ds: ditemukan alat APD
digudang penyimpanan alat
di bengkel las, para pekerja
sering memegangi area yang
pegal di tubuh mereka seperti
pingang, leher dan lutut.
2. Do: para pekerja mengatakan Defisiensi
Ketidakcukupan
bahwa tidak adanya fasilitas sumberdaya kesehatan
kesehatan bagi dirinya dan finansial dan komunitas
pengetahuan
keluarga, mereka juga
mengatakan jika bengkel
Tidak tersedia
tersebut memiliki koneksi
program untuk
dengan fasilitas kesehatan mencegah
mereka sangat senang. masalah kesehatan
bagi kelompok
Mereka sering mengeluhkan
sesak napas, pusing, mual,
pegal-pegal dan sulit untuk
Defisiensi
tertidur dimalam hari. kesehatan
Ds: didapatkan data mata komuitas

para pekerja merah, terdapat


kantung mata dan pada pagi
hari mereka sering menguap.
Memegangi area yang pegal-
pegal.
3. Do: para pekerja mengatakan Kontaminasi
Pajanan
sesak napas, pusing, mual kontaminan
dan sulit tertidur dimalam
hari dikarenakan masih
merasa gejala-gejala seperti
Kontak dengan
yang telah disebutkan. zat kimia tanpa
Pekerja mengatakan sering pelindung

12
Sesak, pusing
Kontaminasi
akibat
kontaminan
merasa seperti itu saat
melakukan pengecatan body
mobil tanpa mengunakan
masker dan alat APD lainnya.
Ds: didapatkan data para
pekerja tidak menggunakan
APD, terbatuk-batuk saat
mengecat body mobil.

Diagnosa Kriteria Bobot Perhitungan skor


1. Defisiensi Sifat masalah: 3 1 3/3 x 1 = 1
pengetahuan 2 2/2 x 2 = 2
Aktual
1 3/3 x 1 = 1
Kemungkinan 2
1 2/2 x 1 = 1
masalah dapat Total : 5
diubah:
Mudah
Potensial masalah 3
untuk dicegah:
Tinggi
Menonjolnya 2
masalah:
Segera
2. Defisiensi Sifat masalah: 3 1 3/3 x 1 = 1
kesehatan 2 2/2 x 2 = 2
Aktual
1 2/3 x 1= 2/3
komunitas Kemungkinan 2
1 2/2 x 1 = 1
masalah dapat Total: 4 2/3
diubah:
Sebagian
Potensial masalah 2
untuk dicegah:
cukup
Menonjolnya 2

13
masalah:
Segera
3. kontaminasi Sifat masalah: 3 1 3/3 x 1 = 1
2 ½x2=1
Aktual
1 3/3 x 1 = 1
Kemungkinan 1
1 2/2 x 1 = 1
masalah dapat Total: 4
diubah:
Sebagian
Potensial masalah 3
untuk dicegah:
Tinggi
Menonjolnya 2
masalah:
Segera

14
RENCANA KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA AGREGAT PEKERJA
DI “ BENGKEL LAS “ di Jln Teratai Kaliwates jember

Diagnosa Tujuan Khusus dan Kriteria Hasil


Tujuan Umum NIC
Keperawatan (NOC)
Defisiensi Setelah dilakukan Pencegahan Primer (Prevensi Primer) Intervensi yang dapat diberikan yaitu
pengetahuan asuhan keperawatan Indikator dan skala outcome: meliputi:
berhubungan selama satu hari
dengan informasi defisiensi a. 1823 pengetahuan : promosi kesehatan Pencegahan Primer (Prevensi Primer)
pada agregat pengetahuan di Skala outcome: Intervensi:
pekerja di bengkel bengkel las dijalan 182313 pencegahan dan pengendalian infeksi
las di daerah jln. Teratai Kaliwates (4) a. 5510 pendidikan kesehatan
Teratai Kaliwates Jember dapat 182314 perilaku untuk mencegah cidera yang Aktivitas:
Jember tercapai. tidak di sengaja (4) 1. Tentukan pengetahuan
182326 strategi untuk menghindari paparan kesehatan dan gaya hidupp
bahaya lingkungan (4) perilaku saat ini bagi individu,
keluarga atau keluarga sasaran
2. Rumuskan tujuan dalam
b. 1805pengetahuan : perilaku kesehatan
program pendidikan kesehatan
Skala outcome:
3. Lakukan demontrasi atau
180512 strategi untuk mengurangi resiko
demontrasi ulang, partisipasi
karna kecelakaan
pembelajaran dan manipulasi
180513 strategi untuk menghindari paparan
bahan ( pembelajaran ) ketika

15
bahaya lingkungan mengajarkan keterampilan
180518 layanan peningkatan kesehatan psikomotorik
4. Rencanakan tindak lanjut
jabgka panjang untuk
memperkuat perilaku kesehatan
atau adaptasi terhadap gaya
hidup
b. 5515 peningkatan kesadaran
kesehatan
Aktivitas:
1. Berikan pendidikan kesehatan
satu- persatu atau konseling jika
memungkinkan
2. Sediakan materi informasi
kesehatan tertulis yang mudah di
pahami
Pencegahan Sekunder (Prevensi Sekunder) Pencegahan Sekunder (Prevensi
Indikator dan skala outcome: Sekunder)
Intervensi:
a. 2006 status kesehatan pribadi
Skala outcome: a. 6520 Skrining kesehatan
200601 kebugaran fisik (5) Aktivitas:
200622 kemampuan untuk mengatasi masalah 1) Tentukan populasi target untuk

16
(5) dilakukannya pemeriksaan
200629 kontrol masalah (5) kesehatan
2) Berikan informasi pemeriksaan
b. 2807 ketidakefektifan skrining komunitas diri yang tepat selama skrining,
Skala outcome: seperti nyeri sendi akibat asam
280701 identifikasi kondisi berresiko tinggi urat, demam sebagai gejala awal
yang umum di komunitas kemungkinan penyakit batuk
280716 pendidikan kepada anggota komunitas pilek, dll
akan pentingny skrining 3) .dapatka riwayat kesehatan yang
sesuai, termasuk deskripsi
kebiasaan kesehatan faktor resiko
dan obat-obatan.
Pencegahan Tersier (Prevensi Tersier) Pencegahan Tersier (Prevensi Tersier)
Indikator dan skala outcome: Intervensi:

a. 1600 Perilaku patuh (bersifat aktif) a. 4360 Modifikasi perilaku


Skala outcome: Aktivitas:
160002 mencari informasi kesehatan dari 1) Tentukan motivasi masyarakat
berbagai macam sumber (5) terhadap perlunya dan pentingnya
160009 menggunakan strategi untuk perubahan perilaku
mengoptimalkan kesehatan (5) 2) Dukung pembelajran mengenai
160010 menggunakan jasa pelayanan perilaku yang diinginkan dengan

17
kesehatan sesuai dengan kebutuhan (5) menggunakan teknik modeling
3) Tentukan perubahan perubahan
b. 1603 perilaku pencarian kesehatan perilaku dengan membandingkan
Skala outcome: perilaku dasar sebelumnya di
160313 mendapatkan bantuan dari profesional bandingkan dengan perilaku
kesehatan setelah intervensi
160308 melakukan perilaku kesehatan yang di 4) Dukung pasien untuk berpartisipasi
sarankan dalam menyeteksi pungutan yang
160315 menggunakan informasi kesehatan memiliki arti
yang di temukan

18