Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MATA KULIAH ETIKA KEPERAWATAN

“KASUS DILEMA ETIK PADA PASIEN EUTANASIA”

DOSEN PENGAMPU : Hj. Cek Masnah S.pd

DI SUSUN OLEH : Anggia Putri Enita

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

JURUSAN KEPERAWATAN POLTEKKES JAMBI

KEMENTRIAN KESEHATAN JAMBI

2016/2017
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Sang Maha Pencipta dan Pengatur Alam Semesta, berkat
Ridho Nya, penulis akhirnya mampu menyelesaikan tugas makalah yang berjudul "Kasus
Dilema Etik pada Pasien Eutanasia”

Dalam menyusun makalah ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang penulis
alami, namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari orang terdekat, sehingga penulis
mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu penulis pada kesempatan ini mengucapkan terima
kasih untuk semuanya yang sudah mau membantu dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena
itu segala kritikan dan saran yang membangun akan penulis terima dengan baik. Semoga
makalah "Kasus Dilema Etik pada Pasien Eutanasia” ini bermanfaat bagi kita semua.

PENYUSUN

ANGGIA PUTRI ENITA


DAFTAR ISI

Kata Pengantar...................................................................................................... 1

Daftar Isi................................................................................................................2

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...............................................................................................3


B. Rumusan Masalah ..........................................................................................3
C. Tujuan ...........................................................................................................3

BAB II

PEMBAHASAN

1. Definisi dari Dilema Etik ...............................................................................4


2. Definisi dari Eutanasia ..................................................................................5

BAB III

1. Kasus Dilema Etik .......................................................................................6


2. Pemecahan Kasus Dilema Etik .....................................................................7

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan ................................................................................................8
B. Saran .........................................................................................................9

Daftar Pustaka ............................................................................................................10


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keperawatan merupakan suatu bentuk asuhan yang ditujukan untuk kehidupan orang lain
sehingga semua aspek keperawatan mempunyai komponen etika. Pelayanan keperawatan
merupakan bagian dari pelayanan kesehatan, maka permasalahan etika kesehatan menjadi
permasalahan etika keperawatan pula.
Saat ini masalah yang berkaitan dengan etika (ethical dilemmas) telah menjadi
masalah utama disamping masalah hukum, baik bagi pasien, masyarakat maupun pemberi
asuhan kesehatan. Masalah etika menjadi semakin kompleks karena adanya kemajuan
ilmu dan tehnologi yang secara dramatis dapat mempertahankan atau memperpanjang
hidup manusia. Pada saat yang bersamaan pembaharuan nilai sosial dan pengetahuan
masyarakat menyebabkan masyarakat semakin memahami hak – hak individu, kebebasan
dan tanggungjawab dalam melindungi hak yag dimiliki. Adanya berbagai faktor tersebut
sering sekali membuat tenaga kesehatan menghadapi berbagai dilema. Setiap dilema
membutuhkan jawaban dimana dinyatakan bahwa sesuatu hal itu baik dikerjakan untuk
pasien atau baik untuk keluarga atau benar sesuai kaidah etik.
Berbagai permasalahan etik yang dihadapi oleh perawat telah menimbulkan konflik
antara kebutuhan pasien (terpenuhi hak) dengan harapan perawat dan falsafah
keperawatan. Contoh nyata yang sering dijumpai dalam praktek keperawatan adalah
euthanasia, penolakan tindakan transfusi darah, dan penolakan transplantasi organ.
Menghadapi dilema semacam ini diperlukan penanganan yang melibatkan seluruh
komponen yang berpengaruh dan menjadi support system bagi pasien.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari dilema etik ?
2. Apa definisi dari eutanasia ?
3. Contoh kasus dilema etik ?
4. Bagaimana cara pemecahan kasus dilema etik ?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum :
Mahasiswa mampu menganalisa pemecahan masalah dilema etik kasus eutanasia.
2. Tujuan Khusus :
a. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami definisi dilema etik.
b. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa itu eutanasia.
c. Mahasiswa dapat memberi contoh kasus dilema etik.
d. Mahasiswa dapat menjelaskan cara pemecahan kasus dilema etik.
BAB II

PEMBAHASAN

1. Dilema Etik
Dilema etik merupakan suatu masalah yang sulit dimana tidak ada alternatif yang
memuaskan atau suatu situasi dimana alternatif yang memuaskan dan tidak memuaskan
sebanding. Dalam dilema etik tidak ada yang benar atau salah. Untuk membuat
keputusan yang etis seseorang harus tergantung pada pemikiran yang rasional dan bukan
emosional (Thomson & Thomson, 1985).
Kerangka pemecahan dilema etik pada dasarnya menggunakan kerangka proses
keperawatan/ pemecahan masalah secara scientific.

2. Eutanasia
Eutanasia berasal dari bahasa Yunani, eu (mudah, bahagia, baik) dan thanatos
(meninggal dunia) sehingga diartikan meninggal dunia dengan baik atau bahagia.
Menurut Oxfort English Dictionary eutanasia berarti tindakan untuk mempermudah mati
dengan tenang dan mudah.
Dilihat dari aspek bioetis, eutanasia terdiri atas eutanasia volunter, involunter, aktif
dan pasif. Pada kasus eutanasia volunter klien secara suka rela dan bebas memilih untuk
meninggal dunia. Pada eutanasia involunter, tindakan yang menyebabkan kematian
dilakukan bukan atas dasar persetujuan dari klien dan sering kali melanggar keinginan
klien. Eutanasia aktif merupakan suatu tindakan yang disengaja yang menyebabkan klien
meninggal misalnya pemberian injeksi obat letal. Eutanasia pasif dilakukan dengan
menghentikan pengobatan atau perawatan suportif yang mempertahankan hidup
(misalnya antibiotika, nutrisi, cairan, respirator yang tidak diperlukan lagi oleh klien).
Eutanasia pasif sering disebut sebagai eutanasia negatif dapat dikerjakan sesuai dengan
keputusan IDI.
Di Indonesia tindakan eutanasia tidak dibenarkan menurut undang – undang, tujuan
dari eutanasia aktif adalah mempermudah kematian klien. Sedangkan eutanasia pasif
bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan penderitaan klien namun membiarkannya
dapat berdampak pada kondisi klien yang lebih berat bahkan memiliki konsekuensi untuk
mempercepat kematian. Batas kedua hal tersebut kabur bahkan sering kali merupakan hal
yang membingungkan bagi pengambil keputusan tindakan keperawatan (Priharjo, 1995).
Eutanasia aktif merupakan tindakan yang melanggar hukum dan dinyatakan dalam
KUHP pasal 338, 339, 345 dan 359.

Hak individu yang akan meninggal :

1. Hak diperlakukan sebagaimana manusia hidup sampai ajal tiba.


2. Hak untuk mempertahankan harapananya, tidak peduli apapun perubahan yang
terjadi.
3. Hak untuk mengekspresikan perasaan dan emosinya sehubungan dengan kematian
yang sedang dihadapinya sesuai dengan kepercayaannya.
4. Hak untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan
perawatannya.
5. Hak untuk memperoleh perhatian dalam pengobatan dan perawatan secara
berkesinambugan walaupun tujuan penyembuhannya harus diubah menjadi tujuan
memberikan rasa nyama.
6. Hak untuk tidak meninggal dalam kesendirian.
7. Hal untuk bebas dari rasa sakit.
8. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya secara jujur.
9. Hak untuk memperoleh bantuan dari perawat atau medis untuk keluarga yang
ditinggal agar dapat menerima kematiannya.
10. Hak untuk meninggal dalam keadaan damai dan bermartabat.
11. Hak untuk tetap dalam kepercayaan atau agamanya dan tidak diambil keputusan yang
bertentang dengan kepercayaan yang dianutnya.
12. Hak untuk memperdalam dan meningkatkan kepercayaannya, apapun artinya bagi
orang lain.
13. Hak untuk mengharapkan bahwa kesucian raga manusia akan dihormati setelah yang
bersangkutan meninggal.
BAB III

PEMBAHASAN KASUS

1. Kasus
Tn. B berusia 40 tahun. Seorang yang menginginkan untuk dapat mengakhiri hidupnya
(Memilih untuk mati, Tn. B mengalami kebutaan, diabetes yang parah dan menjalani
dialisis). Ketika Tn. B mengalami henti jantung, dilakukan resusitasi untuk mempertahan
kan hidupnya. Hal ini dilakukan oleh pihak rumah sakit karena sesuai dengan prosedur
dan kebijakan dalam penanganan pasien di rumah sakit tersebut.
Peraturan rumah sakit menyatakan bahwa kehidupan harus disokong. Namun keluarga
menuntut atas tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit tersebut untuk kepentingan hak
meninggal klien. Saat ini klien mengalami koma, rumah sakit akhirnya menyerahkan
kepada pengadilan untuk kasus hak meninggal klien tersebut.
Tiga orang perawat mendiskusikan kejadian tersebut dengan memperhatikan antara
keinginan / hak meninggal Tn. B dengan moral dan tugas legal untuk mempertahankan
kehidupan setiap pasien yang diterapkan dirumah sakit.
Perawat A mendukung dan menghormati keputusan Tn. B yang memilih untuk mati.
Perawat B menyatakan bahwa semua anggota / staf yang berada dirumah sakit tidak
mempunyai hak menjadi seorang pembunuh, sedangkan perawat C mengatakan bahwa
yang berhak untuk memutuskan adalah dokter.

2. Pemecahan kasus dilema etik


1. Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar
Mengidentifikasi dan mengembangkan data dasar yang terkait dengan kasus eutanasia
meliputi orang yang terlibat klien, keluarga klien, dokter, dan tiga orang perawat
dengan pendapat yang berbeda yaitu perawat A, B dan C.
Tindakan yang diusulkan yaitu perawat A mendukung keputusan tuan C
memilih untuk mati dengan maksud mengurangi penderitaan tuan C, perawat B tidak
menyetujui untuk melakukan eutanasia karena tidak sesui dengan kebijakan rumah
sakit. Dan perawat C mengatakan yang berhak memutuskan adalah dokter.
2. Mengidentifikasi munculnya konflik
Penderitaan Tn B dengan kebutaan akibat diabetik, menjalani dialisis dan dalam
kondisi koma menyebabkan keluarga juga menyetujui permintaan Tn B untuk
dilakukan tindakan eutanasia. Konflik yang terjadi adalah pertama, eutanasia akan
melanggar peraturan rumah sakit yang menyatakan kehidupan harus disokong, kedua
apabila tidak memenuhi keinginan klien maka akan melanggar hak – hak klien dalam
menentukan kehidupannya, ketiga adanya perbedaan pendapat antara perawat A, B
dan C.
3. Menentukan tindakan alternatif yang direncanakan
Adapun tindakan alternatif yang direncanakan dari konsekuensi tindakan eutanasia
adalah :
a. Setuju dengan perawat A untuk mendukung hak otonomi Tn B tetapi hal ini pun
harus dipertimbangkan secara cermat konsekuensinya, sebab dokter dan perawat
tidak berhak menjadi pembunuh meskipun klien memintanya. Konsekuensi dari
tindakan ini yaitu : Hak klien terpenuhi, mempercepat kematian klien, keinginan
keluarga terpenuhi dan berkurangnya beban keluarga. Namun pihak rumah sakit
menjadi tidak konsisten terhadap peraturan yang telah dibuat.
b. Setuju dengan perawat B karena sesuai dengan prinsip moral avoiding killing.
Konsekuensi dari tindakan yaitu : Klien tetap menderita dan kecewa, klien dan
keluarga akan menuntut rumah sakit, serta beban keluarga terutama biaya
perawatan meningkat. Dengan demikian rumah sakit konsisten dengan peraturan
yang telah dibuat.
c. Setuju dengan perawat C yang menyerahkan keputusannya pada tim medis atau
dokter. Namun konsekuensinya perawat tidak bertanggung jawab dari tugasnya.
Selain itu dokter juga merupakan staf rumah sakit yang tidak berhak memutuskan
kematian klien.
4. Menentukan siapa pengambil keputusan yang tepat
Pada kasus Tn. B, yang dapat membuat keputusan adalah manajemen rumah sakit dan
keluarga. Rumah sakit harus menjelaskan seluruh konsekuensi dari pilihan yang
diambil keluarga untuk dapat dipertimbangkan oleh keluarga. Tugas perawat adalah
tetap memberikan asuhan keperawatan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar
klien.
5. Menjelaskan kewajiban perawat
Kewajiban perawat seperti yang dialami oleh Tn. B adalah tetap menerapkan asuhan
keperawatan seperti :
a. Memenuhi kebutuhan dasar klien sesuai harkat dan martabatnya sebagai manusia.
b. Mengupayakan suport sistem yang optimal bagi klien seperti keluarga, teman
terdekat, dan peer group.
c. Selain itu perawat tetap harus menginformasikan setiap perkembangan dan
tindakan yang dilakukan sesuai dengan kewenangan perawat. Perawat tetap
mengkomunikasikan kondisi klien dengan tim kesehatan yang terlibat dalam
perawatan klien Tn. B.
6. Mengambil keputusan yang tepat
Pengambilan keputusan pada kasus ini memiliki resiko dan konsekuensinya kepada
klien. Perawat dan dokter perlu mempertimbangkan pendekatan yang paling tepat dan
menguntungkan untuk klien. Namun sebelum keputusan tersebut diambil perlu
diupayakan alternatif tindakan yaitu merawat klien sesuai dengan kewenangan dan
kewajiban perawat. Jika tindakan alternatif ini tidak efektif maka melaksanakan
keputusan yang telah diputuskan oleh pihak manajemen rumah sakit bersama keluarga
klien (informed consent).
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berbagai permasalahan etik dapat terjadi dalam tatanan klinis yang melibatkan interaksi
antara klien dan perawat. Permasalahan bisa menyangkut penentuan antara mempertahan
kan hidup dengan kebebasan dalam menentukan kematian, upaya menjaga keselamatan
klien yang bertentangan dengan kebebasan menentukan nasibnya, dan penerapan terapi
yang tidak ilmiah dalam mengatasi permasalah klien.
Dalam membuat keputusan terhadap masalah dilema etik, perawat dituntut dapat
mengambil keputusan yang menguntungkan pasien dan diri perawat dan tidak bertentang
dengan nilai – nilai yang diyakini klien. Pengambilan keputusan yang tepat diharapkan
tidak ada pihak yang dirugikan sehingga semua merasa nyaman dan mutu asuhan
keperawatan dapat dipertahankan.

B. Saran
Perawat harus berusaha meningkatkan kemampuan profesional secara mandiri atau secara
bersama – sama dengan jalan menambah ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan suatu
dilema etik.
DAFTAR PUSTAKA

 http://zuhrinatiana.blogspot.co.id/2012/11/ikd-dilema-etik_9.html