Anda di halaman 1dari 37

Case Presentation

BRONKOPNEUMONIA BERAT

Disusun oleh :
dr. Mesiwisani
dr. Nurichwani Wardianda

Pembimbing:
dr. Yeni Rachmania, Sp.A
dr. Bondhan Prajati
dr. Iik Rachmawati

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BALARAJA
PERIODE FEBRUARI 2018-2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS
BRONKOPNEUMONIA BERAT

Digunakan untuk memenuhi syarat internsip di RSUD Balaraja

Disusun oleh:
Dr. Mesiwisani
dr. Nurichwani Wardianda

Pembimbing DPJP:

dr. Yenny R, Sp.A

Pendamping Internship IGD Pendamping Internship IRNA

dr. Bondhan Prajati dr. Iik Rachmawati

i
DAFTAR ISI

Lembar pengesahan .....................................................................................................i

Daftar isi .......................................................................................................................ii

BAB I. Pendahuluan .....................................................................................................1

BAB II. Laporan kasus .................................................................................................2

2.1 Identitas pasien ...............................................................................................2


2.2 Anamnesis .....................................................................................................3
2.3 Pemeriksaan fisik ..........................................................................................7
2.4 Pemeriksaan penunjang .................................................................................11
2.5 Daftar masalah ................................................................................................15
2.6 Diagnosis masuk ............................................................................................15
2.7 Diagnosis banding ..........................................................................................15
2.8 Penatalaksanaan..............................................................................................15
2.9 Prognosis .......................................................................................................15
2.10 Follow up rawat inap ......................................................................................16

BAB III. Analisis Kasus................................................................................................20

BAB IV. Tinjauan Pustaka .........................................................................................23

BAB V. Daftar Pustaka ...............................................................................................34

ii
BAB I.

PENDAHULUAN

Sampai saat ini, penyakit pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di
dunia. Diperkirakan ada 1,8 juta atau 20% dari kematian anak diakibatkan oleh pneumonia,
melebihi kematian akibat AIDS, malaria dan tuberkulosis.1 Di Indonesia, pneumonia juga
merupakan urutan kedua penyebab kematian pada balita setelah diare. Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) melaporkan bahwa kejadian pneumonia sebulan terakhir (period prevalence)
mengalami peningkatan pada tahun 2007 sebesar 2,1 ‰ menjadi 2,7 ‰ pada tahun 2013.
Kematian balita yang disebabkan oleh pneumonia tahun 2007 cukup tinggi, yaitu sebesar
15,5%.2,3
Demikian juga hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), yang
melaporkan bahwa prevalensi pneumonia dari tahun ke tahun terus meningkat, yaitu 7,6% pada
tahun 2002 menjadi 11,2% pada tahun 2007.4 Menurut definisi, pneumonia adalah infeksi
jaringan paru-paru (alveoli) yang bersifat akut. Penyebabnya adalah bakteri, virus, jamur,
pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik dari paru-paru, maupun pengaruh tidak langsung dari
penyakit lain. Bakteri yang biasa menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus dan
Mycoplasma pneumonia, sedangkan virus yang menyebabkan pneumonia adalah adenoviruses,
rhinovirus, influenza virus, respiratory syncytial virus (RSV) dan para influenza virus.
Terjadinya pneumonia ditandai dengan gejala batuk dan atau kesulitan bernapas seperti napas
cepat, dan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam.5
Proporsi penduduk di Indonesia yang tinggal di rumah yang memenuhi persyaratan
rumah sehat masih rendah, yaitu 24,9%. Menurut laporan Riskesdas 2013, penduduk yang
tinggal di rumah dengan atap rumah berplafon hanya 59,4%, dinding terbuat dari tembok hanya
69,6%, dan lantai bukan tanah 93,1%.3 Perilaku yang dapat menimbulkan risiko pencemaran
udara dalam ruang, seperti penggunaan bahan bakar yang tidak aman (minyak tanah, kayu
bakar, arang, batu bara) dan kebiasaan merokok di dalam rumah, proporsinya masih cukup
tinggi. Sebanyak 64,2% rumah tangga di perdesaan masih menggunakan arang dan kayu bakar
untuk memasak dan 76,6% (dari 28,2% perokok) merokok di dalam rumah ketika bersama
dengan anggota keluarga lainnya.3

1
BAB II.

LAPORAN KASUS

2.1. IDENTITAS PASIEN


Nama : By. Safa Marwah.
Jenis kelamin : Perempuan.
Tanggal lahir/ usia : 04 Juli 2017 / 8 bulan.
Alamat : Pondok Gede, RT 005/RW002. Kel. SukaMulya,
Kec. Sukamulya, Kab.Tangerang, Banten.
Kewarganegaraan : Indonesia.
Agama : Islam.
Nomor RM : 00.14.95.89.
Pembayaran : BPJS.
Tanggal Masuk : 15 Maret 2018, jam 15.38 WIB.
(dari IGD: dr. Akhmad Rifai, Dr. Dewi, Sp.A).
Diagnosis Masuk : Bronkopneumonia.

DATA AYAH IBU


Nama Tn. TH Ny. DPS
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
Alamat Pondok Gede, RT 005/RW002. Kel. SukaMulya, Kec.
Sukamulya, Kab.Tangerang, Banten.
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jawa Jawa
Pendidikan SLTP SD
Pekerjaan Supir Ibu rumah tangga
Keterangan Hubungan orang tua dengan anak adalah anak kandung
Pembayaran BPJS Non-PBI

2
2.2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis dengan ibu kandung pasien pada tanggal 15
Maret 2018 pukul 09.00 WIB, di ruang IGD RSUD Balaraja dan 16 Maret 2018 pukul 15.00
WIB di ruang ICU RSUD Balaraja.

 Keluhan Utama : sesak nafas sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS).
 Keluhan Tambahan : batuk berdahak, pilek, demam.
 Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengalami batuk pilek sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS), batuk
berdahak namun sulit dikeluarkan. Ibu pasien mengatakan nafsu makan pasien mulai
menurun semenjak sakit namun masih dapat masuk sedikit makanan (susu formula).
Pasien sempat mengalami BAB cair 3 hari SMRS, dimana BAB sebanyak 3 kali,
konsistensi cair dengan ampas yang sedikit, tidak ada lendir dan darah serta volume tiap
BAB sekitar setengah popok full.
Pasien mengalami demam 1 hari SMRS. Menurut ibu pasien demam muncul
sepanjang hari dan hanya membaik sebentar setelah diminumkan obat demam. Pasien juga
mengalami sesak nafas sejak 1 hari SMRS. Menurut ibu pasien, napas pasien terlihat cepat
dan dalam terlihat seperti ada cekungan masuk pada dada pasien setiap kali bernapas yang
disertai napas berbunyi. Pasien sempat dibawa ke klinik dan di uap sebanyak sekali namun
keluhan tidak berkurang hingga akhirnya dirujuk ke IGD RSUD Balaraja.

 Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien belum pernah mengalami keluhan sesak seperti ini sebelumnya dan belum
pernah dirawat di rumah sakit. Menurut ibunya pasien jarang sakit dan menyangkal adanya
riwayat penyakit paru-paru, riwayat penyakit jantung, kejang, dan penyakit lainnya serta
riwayat alergi makanan dan obat pada anaknya.

 Riwayat Penyakit Keluarga :

Ibu pasien mengatakan bahwa di keluarganya tidak ada yang mengalami keluhan yang
serupa dengan keluhan pasien. Riwayat alergi dalam keluarga disangkal. Riwayat
penyakit paru-paru, penyakit jantung, penyakit darah tinggi dan kencing manis di keluarga
disangkal.

3
 Riwayat Silsilah Keluarga :
Pasien merupakan anak pertama di keluarganya. Ibu pasien merupakan anak ketiga
dari 6 bersaudara sedangkan ayah pasien adalah anak pertama dari 2 bersaudara

Keterangan : = Laki-laki = Pasien (an. Saffa)

= Perempuan = Meninggal

 Riwayat Lingkungan Perumahan :

Pasien tinggal serumah dengan kedua orang tua, kakek dan nenek. Rumah terdiri dari
2 kamar tidur, 1 ruang tengah keluarga, 1 kamar mandi, dan 1 dapur. Cahaya matahari
dapat masuk melalui jendela. Penerangan di rumah sehari-hari dengan listrik. Terdapat
bengkel milik kakek pasien di depan rumah, yang mana tempatnya sedikit berdebu dan
berasap. Keluarga pasien sering menggunakan obat nyamuk bakar di dalam rumah. Kakek
dan ayah pasien sering merokok di dalam rumah.

Kesan : Keadaan lingkungan rumah kurang baik.

 Riwayat Sosial Ekonomi :


Ayah pasien adalah seorang supir dengan penghasilan sekitar ± Rp. 1.500.000 dan
ibu pasien seorang ibu rumah tangga.
Kesan : Status ekonomi kurang.

4
 Riwayat Kehamilan dan Persalinan :
o Riwayat Kehamilan
Pasien merupakan anak pertama dan merupakan anak yang diinginkan. Riwayat
keguguran sebelumnya disangkal ibu pasien. Ibu pasien memeriksakan kehamilan rutin
setiap bulan secara teratur. Selama hamil kondisi ibu dan bayi dikatakan baik, mendapat
suntikan imunisasi TT 2 kali. Ibu pasien tidak pernah mengonsumsi obat-obatan dan
jamu selama hamil, tidak merokok, tidak pernah mengalami demam, sesak, muntah-
muntah atau keluhan lain selama kehamilan. Riwayat tekanan darah tinggi, kencing
manis, asma, penyakit jantung, perdarahan dan trauma selama kehamilan disangkal.

o Riwayat Kelahiran
Tempat kelahiran : RS Permata Hati
Penolong persalinan : bidan
Cara persalinan : spontan pervaginam
Masa kehamilan : 37 minggu
Keadaan bayi
 Berat badan lahir : 3100 gram
 Panjang badan lahir : 49 cm.
 Lingkar kepala : Ibu lupa
 Keadaan lahir : Langsung menangis kuat, tidak pucat, dan tidak biru
 Nilai APGAR : Ibu tidak tahu
 Kelainan bawaan : Tidak ada
 Air ketuban : Jernih
Kesan: neonatus aterm, lahir spontan, bayi bugar. bayi langsung di rawat gabung
dengan ibu pasien.

 Riwayat Tumbuh Kembang :

Berat badan pasien saat lahir adalah 3100 gram dengan panjang badan saat lahir 49
cm. Saat ini berat badan pasien 7,2 kg dengan panjang badan 65 cm dan lingkar kepala
sekarang 40 cm.

5
BAHASA DAN
MOTORIK KASAR MOTORIK HALUS EMOSIONAL
KOGNITIF

Mulai tengkurap di Mulai dapat Kontak mata Babbling di usia tiga bulan.
usia 4 bulan
menggenggam jari dan senyum
Dapat bicara “mama”,
Mulai merangkak di ibunya di usia 3 bulan sosial di usia “papa” di usia 4 bulan.
usia 7 bulan.
tiga bulan.
Mulai duduk di usia 8
bulan.

 Riwayat Nutrisi :

Ibu pasien memberikan ASI dan susu formula kepada pasien sejak lahir. Hal ini
dikarenakan ASI ibu pasien hanya keluar sedikit meskipun telah dilakukan pemijatan.
Pada usia 6 bulan pasien sudah mulai makan sereal bayi dan pada usia 8 bulan mulai mulai
makan bubur tim.

 Riwayat Imunisasi :

UMUR VAKSIN
Baru lahir HBO
1 Bulan BCG, POLIO 1
2 Bulan DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 Bulan DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 Bulan DPT- HB-Hib 3, Polio 4

6
2.3. PEMERIKSAAN FISIK

Dilakukan pada tanggal 15 Maret 2018 pukul 09.00 WIB di ruang IGD dan 16 Maret
2018 pukul 14.30 WIB di ruang ICU RSUD Balaraja.

Kesadaran : GCS E4M6V5


Keadaan umum
 Tampak sakit sedang  Sianosis (-)
 Tampak lemah (+)  Retraksi (+).
 Menangis (-), merintih (+)  Ikterik (-).
 Sesak (+), terpasang sungkup O2  Gerak (+) kurang aktif
(IGD)

Tanda Vital

Tanda Vital IGD ICU


Tekanan darah Tidak dilakukan pemeriksaan 120/70 mmHg
Nadi 160 x/m, regular, kuat, isi 196 x/m, regular, kuat, isi
cukup, equal pada keempat cukup, equal pada keempat
ekstremitas. ekstremitas.
Pernapasan 58 x/m, cepat dan dalam 60 x/m, cepat dan dalam
SpO2 98 % 96 %
Suhu 38 oC 38,4 oC

Data Antropometri
Berat badan : 7,2 kg
Panjang badan : 65 cm
Lingkar kepala : 41,5 cm
Lingkar perut : 58 cm
Lingkar lengan atas: 14 cm

7
Pemeriksaan Lingkar Kepala (Kurva Nelhaus)

Lingkar kepala : 41,5 cm

Kesan : normosefali

Status Gizi

BB/U = 7,2/8 x 100% = 90% (berat badan cukup menurut umur)

TB/U = 65/69 x 100% = 94,20 % (tinggi badan cukup menurut umur)

BB/TB = 7,2/7 x 100% = 102,86% (gizi baik)

8
Status Generalis
 Kepala : Normosefali, lingkar kepala : 41,5 cm.
 Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut.
 Mata : Conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), oedem palpebra (-/-), mata
cekung (-/-), ptosis (-/-).
 Hidung : Bentuk normal, deformitas (-), deviasi (-), sekret (-/-), napas cuping
hidung (+).
 Telinga : Normotia, discharge (-/-).
9
 Mulut : Bibir kering (+), bibir sianosis (-).
 Leher : Simetris, tidak terdapat pembesaran KGB.
 Thorax : Dinding thorax normothorax dan simetris.
o Paru :
 Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan – kiri. Retraksi supraklavikula dan
epigastrium (+). Gerak napas simetris, tidak ada hemithotax yang tertinggal.
 Palpasi : Simetris, tidak ada yang tertinggal.
 Perkusi : sonor pada kedua hemitoraks.
 Auskultasi : Suara nafas vesikuler(+/+), rhonki (+/+), wheezing (+/+).
o Cor :
 Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak.
 Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS IV midklavikula sinistra.
 Perkusi : tidak dilakukan pemeriksaan.
 Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-).
 Abdomen :
 Inspeksi : Datar, simetris.
 Auskultasi : Bising usus (+).
 Palpasi : Supel, distensi (-), turgor kembali < 2 detik, hepar dan lien tidak
membesar, asites (-).
 Perkusi : timpani di 4 kuadran.
 Genitalia : tidak ada kelainan, jenis kelamin perempuan.
 Anorektal : tidak ada kelainan.
 Ekstremitas:
Superior Inferior
Deformitas -/- -/-
Akral Dingin -/- -/-
Akral Sianosis -/- -/-
CRT < 2” < 2”
Oedem -/- -/-
Tonus Otot Normotonus Normotonus
Trofi Otot Normotrofi Normotrofi

10
2.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Pemeriksaan laboratorium (15/03/2018 10:12)
JENIS PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Hemoglobin 10,1 g/dL 10.4 – 15.6
Hematokrit 30 % 31 – 41
Eritrosit 3.83 10^6 /μL 3.60 – 5.20
Leukosit 12.71 10^3 /μL 6.0 – 18.0
Trombosit 322 10^3 /μL 150 – 450
Hitung Jenis
Basofil 0 % 0-2
Eosinofil 0 % 1-4
Batang 1 % 0-6
Segmen 68 % 20 - 40
Limfosit 27 % 48 – 78
Monosit 4 % 2 – 11
Rata –Rata Eritrosit
MCV 77 fL 76 – 92
MCH 26 pg 23 – 31
MCHC 34 g/dL 32 - 36

(17/03/2018 pukul 11:37)


Parameter Hasil Satuan Nilai Rujukan
Analisis Gas Darah
o
Suhu 38,3 C
PH 7,405 7,35 – 7,45
pCO2 58,3 35 – 45
pO2 104,7 80 – 95
Hct 23,0 % 37 – 50
HCO3- 36,4 22 – 26
TCO2 38,1 mmol/L 23 – 27
BE 11,8 mmol/L -2.0 - +2.0
Saturasi O2 97,4 % 94 – 100
Elektrolit
Natrium 131 mmol/L 129 - 143
Kalium 4,6 mmol/L 3,6 – 5,8
Clorida 98 mmol/L 93 - 112

11
(19/03/2018 12:51)
JENIS PEMERIKSAAN HASIL SATUAN NILAI RUJUKAN
Hemoglobin 10,0 g/dL 10.4 – 15.6
Hematokrit 33 % 31 – 41
Eritrosit 4.09 10^6 /μL 3.60 – 5.20
Leukosit 12.53 10^3 /μL 6.0 – 18.0
Trombosit 615 10^3 /Μl 150 – 450
LED 22 mm/jam 0 – 15
Hitung Jenis
Basofil 0 % 0-2
Eosinofil 0 % 1-4
Batang 1 % 0-6
Segmen 71 % 20 - 40
Limfosit 22 % 48 – 78
Monosit 6 % 2 – 11
Rata –Rata Eritrosit
MCV 79 fL 76 – 92
MCH 24 pg 23 – 31
MCHC 31 g/dL 32 - 36
Imunoserologi
CRP Negatif mg/L NEGATIF (<8)
Analisa Gas Darah
o
Suhu 36,9 C
PH 7,23 7,35 – 7,45
pCO2 46,0 35 – 45
pO2 94,6 80 – 95
Hct 34,0 % 37 – 50
HCO3- 30,3 22 – 26
TCO2 31,7 mmol/L 23 – 27
BE 5,7 mmol/L -2.0 - +2.0

12
(20/3/2018 PUKUL 17:38)
Parameter Hasil Satuan Nilai Rujukan
Analisa Gas Darah
o
Suhu 36,7 C
PH 7,426 7,35 – 7,45
pCO2 46,6 35 – 45
pO2 32,2 80 – 95
Hct 23,0 % 37 – 50
HCO3- 31,0 22 – 26
TCO2 32,4 mmol/L 23 – 27
BE 6,3 mmol/L -2.0 - +2.0
Saturasi O2 63,8 % 94 – 100

(20/3/2018 PUKUL 17:38)


Parameter Hasil Satuan Nilai Rujukan
Analisa Gas Darah
o
Suhu 36,8 C
PH 7,514 7,35 – 7,45
pCO2 31,3 35 – 45
pO2 146,0 80 – 95
Hct 28,0 % 37 – 50
HCO3- 25,5 22 – 26
TCO2 26,4 mmol/L 23 – 27
BE 2,3 mmol/L -2.0 - +2.0
Saturasi O2 99,4 % 94 – 100

B. Pemeriksaan Radiologi
 (15/03/2018, pukul 10:39)

13
Deskripsi :
Tak tampak pelebaran mediastinum.
Cor : CTR tak dinilai. Bentuk dan letak dalam batas normal.
Pulmo : Corakan bronkovaskular tampak kasar.
Tampak bercak infiltrat di kedua perihiler dan parakardial.
Kedua hilus tampak menebal.
Diafragma kanan setinggi costae IX posterior.
Sinus kostofrenikus kanan-kiri normal.

Kesan : cor tak membesar.


Susp. Bronkhopneumonia, DD/ proses spesifik

 (16/3/2018, pukul 21:38)

Deskripsi :
Tampak bercak-bercak kesuraman di suprahiler, perihiler, pericardial bilateral
Kedua sinus costofrenikus lancip
Kedua diafragma licin
Cor : konfigurasi dalam batas normal.
Sisterna tulang yang tervisualisasi intak
Pada foto yang tervisualisasi tampak distensi gaster

14
Tampak terpasang ujung selang ETT di proyeksi setinggi VTH-2

Kesan : Susp. Bronkhopneumonia bilateral


Konfigurasi cor dalam batas normal
Terpasang ujung selang ETT di proyeksi setinggi VTH-2

2.5. DAFTAR MASALAH


 Dispnoe
 Febris
 Takipnoe
 Retraksi (+)
 Ronki (+/+), wheezing (+/+)
 Rontgen : bronkopneumonia bilateral

2.6. DIAGNOSIS
Bronkopneumonia berat

2.7. DIAGNOSIS BANDING


Aspirasi pneumonia
Bronkiolitis

2.8. PENATALAKSANAAN
 IGD : Pro ICU  ICU penuh  rawat ruangan dengan NRM 5 liter
 IV ampisilin 4 x 180 mg
 IV gentamisin loading dose 55 mg  1 x 40 mg
 IV dexametason 3 x 0,7 mg
 Nebu Ventolin +2 cc Nacl
 Nebu combiven + 2 cc Nacl

2.9. PROGNOSIS

 Quo ad vitam: dubia ad bonam


 Quo ad functionam : dubia ad bonam
 Quo ad sanationam : dubia ad bonam
15
2.10. FOLLOW UP

Keterangan 16 Maret 2018 (ICU) 16 maret 2018 pukul 14.00 (ICU)


Sesak napas (+), gelisah (+), menangis (+) pasien pasca intubasi, demam (+)
S
kurang kencang
PF/ PF/
KU: CM, TSB KU: on sedasi, TSB
Tekanan darah: 120/70 Tekanan darah
Nadi: 196 x/m, Nadi : 200 x/menit
O RR: 60x/m, SpO2 : 96% RR: on ventilator, SpO2 99%
Suhu: 38,4 OC, suhu : 38,7 OC
Paru : SN Vesikular +/+ Rh +/+, Wh +/+
Paru : SN Vesikular +/+ ,Ronkhi +/+
Wheezing +/+

A Bronkopneumonia berat Bronkopneumonia berat


 NRM 5 lpm  Ventilator PC 12/5 FiO2 50%
 Ampisilin 4 x 180 mg  Cefotaxime 4 x 400 mg (iv)
 Gentamisin 1 x 40 mg  Gentamisin 1 x 40 mg
 Dexametason x 0,7 mg  Dexametason 3 x 0,7 mg IV
 Ventolin/8 jam
 Nebu ventolin selang seling combivent
 Konsul ulang dr.Yeni Sp.A 
Advice : intubasi  Pressure ventilator 7,  Paracetamol 4 X 80 mg IV
P PEP 5, FiO2 Disesuaikan.  Miloz 1 ml/jam (1 mcg/kgBB/menit)
AGD Post Intubasi.  Pasca Loading II 140 cc RL urin > 1
Sedasi untuk intubasi: Miloz 0,1 mg/kgbb cc/kgBB  KAEN 1B 29 ml/jam
dosis max 0,5 mg/kgBB, kemudian drip
22 mg dalam D5% 50 ml  1 ml/jam.
Lihat diuresis  jika (-)  RL Loading
20 cc/kgBB.
Pasang kateter.

16
Keterangan 17 Maret 2018 (ICU) 18 maret 2018 (ICU)
S Pasien terintubasi, keluhan (-) Pasien terintubasi, keluhan (-)
PF/ PF/
KU: on sedasi, TSB KU: on sedasi, TSB
Tekanan darah: 116/53 Nadi : 200 x/menit
O Nadi: 171 x/m, RR: on ventilator, SpO2 99%
RR: on ventilator SpO2 : 98% Paru : SN Vesikular +/+, Ronkhi +/+
Suhu: 37,3 OC, Wheezing +/+
Paru : SN Vesikular +/+ Rh +/+, Wh +/+
A Bronkopneumonia berat Bronkopneumonia berat
 Ventilator PC 12/5 FiO2 50% Hasil konsul dr. Yeni, Sp.A :
 Cefotaxime 4 x 400 mg (iv)
 Nebulasi ventolin ½ respule,
 Gentamisin 1 x 40 mg
combivent stop
 Nebulasi ventolin selang seling combivent
P  Paracetamol 4 X 80 mg IV  Omeprazol 1x4 mg IV
 Miloz 1 ml/jam (1 mcg/kgBB/menit)
 KAEN 1B 29 ml/jam
 Cek AGD dan Elektrolit
 Lapor hasil lab

Keterangan 19 Maret 2018 (ICU) 20 maret 2018 (ICU)


Demam peak 37,6 C Demam peak 37,5 c,
S Produksi NGT minimal, BAB (+)
BAB 1x hijau
PF/ PF/
KU: TSB KU: E4M5V on ETT, TSB
Kesadaran: DPO Nadi : 160 x/menit
nadi : 130 x/mnt RR: on ventilator, SpO2 99%
O
RR : 40 x/m, SpO2 99% Suhu : 37,5 oC
Suhu 36,9 oC Paru : SN Vesikular +/+,
Paru: SN Vesikular, Ronkhi +/+ Ronkhi +/+ (menurun).
Abdomen: datar, supel, BU (+)
A Bronkopneumonia berat Bronkopneumonia berat
 Venti PC 12/5, FiO2 40%, RR 40 x/m  Ventilator SIMV 13/6, FiO2 40%, RR:
 SF 8 X 10 ml 35.
 Cefotaxime 4 x 400 mg (iv)  KAEN 1B 20 ml/jam
 Gentamisin 1 x 40 mg  SF 8 x 20 ml
 Omeprazole 1x 40 mg  Meropenem 3 x 150 mg (H-1)
P
 Sanmol 4 x 80 mg IV k/p  Omeprazol 1x4 mg
 Nebulasi Ventolin ½ respule 3x/hari  Sanmol 4 x 80 mg (k/p)
 Miloz 2 ml/jam (1 mcg/kgBB/menit)  Nebulasi Ventolin ½ resp 3x/hari
 IVFD KAEN 1B 25 ml/jam  Cek AGD Sore  lapor dr. Yeni, Sp.A
 Cek AGD, DPL, HJ, CRP Advice: RR turunkan 30 , PEEP 5

17
Keterangan 21 Maret 2018 (ICU) 22 Maret 2018 (ICU)
Demam peak 37,5 C Demam peak 37,5 c,
S BAB 1x Sesak (-)
Minum baik, BAB (+)
PF/ PF/
KU: TSB, Kesadaran : CM On ETT. Kesadaran: CM
nadi : 150 x/mnt Nadi : 140 x/menit
O RR : on ventilator SIMV → (↓) CPAP RR: 30 x/m, SpO2 99%
Suhu 37,2 oC Suhu : 37,5 oC
Paru: SN Vesikular, Ronkhi +/+ (menurun) Paru : SN Vesikular +/+,
Ronkhi +/+ (menurun).
A Bronkopneumonia berat Bronkopneumonia berat (perbaikan)
 Ventilator CPAP 30% 12/5  O2 nasal kanul
 KAEN 1B 15 ml/jam  Diet 8 x 40 ml
 SF 8 x 30 ml  IVFD KAEN 1B 12ml/jam
 Meropenem 3 x 150mg (H-2)  Meropenem 3 x 150mg (H-3)
 Omeprazol 1 x 4 mg  Omeprazol 1x4 mg
P  Nebulasi Ventolin ½ resp 3x/hari  Nebulasi Ventolin ½ resp 3x/hari
 Pindah bangsal anak → ACC

Pukul 15.30 WIB pasien terekstubasi, lapor


dr. Yeni Sp.A. →
advice : O2 NRM 6 lpm
observasi KU, TTV, SpO2

18
Keterangan 23 Maret 2018 (BANGSAL ANAK) 24 Maret 2018 (BANGSAL ANAK)
Batuk berdahak (+), sesak (-) Batuk (+) berkurang, pilek (+)
S demam (+) naik-turun, BAK normal
BAB cair (+) 1x
PF/ PF/
KU: TSS, Kesadaran : CM KU: TSS, Kesadaran: CM
nadi : 120 x/mnt Nadi : 130 x/menit
RR : 22 X/M RR: 24 x/m, SpO2 99%
Suhu 36,7 oC Suhu : 36,8 oC
Kepala: normosefali Kepala: normosefali
O Mata : CA -/-, SI-/- Mata : CA -/-, SI-/-
Jantung: BJ I-II, regular, murmur (-), gallop Paru: SN Vesikular, Ronkhi -/-, Wh -/-
(-) Jantung: BJ I-II, regular, murmur (-), gallop
Paru: SN Vesikular, Ronkhi basah kering (-)
+/+ (menurun), Wh -/- Abdomen: BU(+), supel
Abdomen: BU(+) 4-5x/m, supel, datar, NT(-) Ekstremitas: akral hangat, CRT < 2 detik.
Ekstremitas: akral hangat, CRT < 2 detik
A Bronkopneumonia berat (perbaikan) Bronkopneumonia berat (perbaikan)
 O2 nasal kanul  IVFD KAEN 1B 15ml/jam
 Diet 8 x 40 ml  Meropenem 3 x 150mg (H-5)
 IVFD KAEN 1B 12ml/jam  Omeprazol 1x4 mg
 Meropenem 3 x 150mg (H-4)  Nebulasi Ventolin ½ resp 3x/hari
 Omeprazol 1x4 mg  ACC pulang dr. Fifi Sp.A → kontrol poli
 Nebulasi Ventolin ½ resp 2x/hari anak. Terapi pulang:
P - PO Cefixime syr 2 x 2 ml.
- Pulv batuk (3 dd pulv I)
- Loratadine tab 2mg
- Triamcinolone tab 0,75 mg
- Salbutamol tab 0,4mg
- Ambroxol tab 3,5 mg

19
BAB III

ANALISIS KASUS

By. SM (8 bulan) Analisis Masalah

Pada bayi ditemukan: Gejala pneumonia menurut WHO(6,7) dapat


meliputi :
 Sesak nafas (+) 1 hari SMRS.
 Bayi bernafas cepat dan terdapat cekungan  Nafas cepat, yang dinilai dengan
masuk pada dada saat bernafas, disertai menghitung frekuensi nafas dalam 1
nafas yang berbunyi menit penuh saat bayi dalam keadaan
 Demam (+) tenang.
 Batuk berdahak (+), pilek (+)  Sesak nafas, dinilai dengan adanya
 Nafsu makan pasien (frekuensi menyusu) tarikan dinding dada bagian bawah ke
menurun. dalam ketika menarik nafas (retraksi
epigastrium).
Terdapat bengkel yang berdebu dan berasap di  Tanda bahaya yang mengarah ke
depan rumah pasien (tempat pasien sering pneumonia berat (pada usia 2 bulan – 5
dibawa bermain). Penggunaan obat nyamuk tahun) : tidak dapat menyusu/minum
bakar di dalam rumah (+), kakek dan ayah atau memuntahkan semuanya, kesadaran
pasien merokok (+). menurun, kejang, stridor, gizi buruk,
Pemeriksaan fisik pasien: demam, sianosis.
 KU: lemas (+), tampak sesak, merintih (+),
retraksi (+), gera kurang aktif (+)
 TTV: Pada pasien terdapat beberapa faktor
- Nadi: 160x/m (IGD) → 196x/m (ICU) predisposisi terjadinya infeksi saluran napas,
- RR: 58x/m (IGD) → 60x/m (ICU)
- SpO2: 98% (IGD) → 96% (ICU) yaitu adanya bengkel yang berdebu dan berasap,
- Suhu: 38 oC (IGD) → 38,4 oC (ICU) penggunaan obat nyamuk bakar, dan ayah
 Thorax:
Retraksi supraklavikula dan epigastrium pasien yang merokok.
(+).
Suara nafas vesikuler(+/+), rhonki (+/+),
wheezing (+/+). Diagnosis pneumonia berat menurut WHO(7)
Pemeriksaan penunjang: yaitu batuk dan/atau kesulitan bernapas
 Diffcount : 0/0/1/71/22/6 → peningkatan
ditambah minimal satu hal berikut:
neutrofil segmen .
 AGD: o Kepala teranguk-anguk
-
pH: 7,42. HCO3 : 31
o Pernapasan cuping hidung
pCO2 : 46,6. TCO2 : 32,4
pO2 : 32,2 BE: 6,3 o Tarikan dinding dada bagian bawah ke
Sat O2 : 63,8%
dalam.
 Rontgen : bercak infiltrat di kedua perihiler
dan parakardial

20
o Foto dada menunjukan gambaran
pneumonia (infiltrat luas, konsolidasi,dll)
o Napas cepat:
- Anak umur < 2 bulan : ≥ 60 kali/menit
- Anak umur 2 – 11 bulan : ≥ 50 kali/menit.
- Anak umur 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali/menit.
- Anak umur ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali/menit
o Suara merintih (grunting) pada bayi muda
o Auskultasi terdengar:
- Crackles (ronki)
- Suara pernapasan menurun
- Suara pernapasan bronkial

Pada hasil laboratorium pasien didapatkan


adanya peningkatan neutrophil segmen,
menandakan adanya infeksi yang disebabkan
oleh bakteri. Dari hasil pemeriksaan rontgen
thorax terdapat bercak infiltrat di kedua perihiler
dan parakardial yang menguatkan diagnosa
bronkopneumonia.

Pasien diberikan terapi simptomatik, kausatif Pilihan antibiotik lini pertama dapat
dan supportif. Penatalaksanaan ini bertujuan menggunakan golongan β-laktam atau
untuk mengurangi gejala, mencegah kloramfenikol. Bila tidak responsif maka dapat
kekambuhan dan mencegah komplikasi.
diberikan antibiotik lain seperti gentamisin,
1. Terapi Simptomatik amikasin, atau sefalosporin sesuai dengan
- Nebu Ventolin +2 cc Nacl, Ventolin petunjuk etiologi yang ditemukan.(6)
adalah bronkodilator yang digunakan
sebagai pelega dan mengurangi atau Bila pasien datang dalam keadaan klinis berat,
menghilangkan gejala sesak nafas.
- Nebu Combiven + 2 cc Nacl, Combiven segera berikan O2 dan pengobatan kombinasi
adalah bronkodilator yang digunakan ampisilin-kloramfenikol atau ampisilin-
sebagai pelega dan mengurangi atau gentamisin.(7)
menghilangkan gejala sesak nafas.
- Paracetamol 4 X 80 mg IV, adalah suatu
analgetik antipiretik yang berfungsu

21
sebagai penurun panas dengan cara
menghambat mekanisme cox-1 Perawatan penunjang pada anak dirawat di
rumah sakit (7):
2. Terapi Kausatif o Bila anak disertai demam (> 39 oC) yang
- IV ampisilin 4 x 180 mg, antibiotik
golongan beta laktam yang mempunyai tampaknya menyebabkan distres, beri
spektrum luas, aktif terhadap bakteri gram parasetamol.
negatif maupun gram positif. o Bila ditemukan adanya wheeze, beri
- IV gentamisin loading dose 55 mg  1 x
bronkhodilator kerja cepat.
40 mg, adalah antibiotic golongan
aminoglikosida yang bersifat bakterisid o Berikan kebutuhan cairan rumatan sesuai
dan terutama aktif terhadap bakteri gram umur anak.
negatif
- IV dexametason 3 x 0,7 mg , adalah suatu
kortikosteroid sistemik (antiinflamasi)
yang berfungsi menghilangkan reaksi
inflamasi pada saluran pernafasan.

3. Terapi Supportif
- Ventilator PC 12/5 FiO2 50% , O2
diberikan pada pasien karena keluhan
sesak pasien dan untuk membantu
oksigenasi jaringan.
- KAEN 1B 29 ml/jam, untuk perawatan
cairan dan nutrisi pengganti

22
BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

4.1. Definisi

Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru. Kebanyakan kasus


pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme (virus/bakteri) , tetapi ada sejumlah penyebab
non infeksi yang kadang kadang perlu dipertimbangkan. Penyebab non infeksi ini meliputi
aspirasi makanan dan atau asam lambung, benda asing, hidrokarbon, dan hipersensitivitas serta
pneumonitis akibat obat atau radiasi.6,8
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis dinyatakan dengan adanya daerah
infeksi yang berbecak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm yang mengelilingi dan
melibatkan bronkus.9 Bronkopneumonia adalah radang paru-paru pada bagian lobularis yang
ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan oleh agen infeksius seperti
bakteri,virus, jamur dan benda asing, yang ditandai dengan gejala demam tinggi, gelisah,
dispnoe, napas cepat dan dangkal (terdengar adanya ronki basah), muntah, diare, batuk kering
dan produktif.

4.2. Etiologi

Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan
kekhasan pneumonia anak, terutama dalam spektrum etiologi, gambaran klinis, dan strategi
pengobatan. Spektrum mikroorganisme penyebab pada neonatus dan bayi kecil berbeda
dengan anak yang lebih besar. Pada neonatus dan bayi kecil etiologi tersering meliputi
Streptococcus group B dan bakteri gram negatif seperti E. Coli, Klebsiella sp, dan
Pseudomonas sp. Pada bayi yang lebih besar dan anak balita etiologi tersering yaitu
Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus, sedangkan pada anak yang lebih besar
dan remaja, selain bakteri tersebut sering juga ditemukan infeksi Mycoplasma pneumoniae.6

23
Tabel 4.1. Etiologi Pneumonia Pada Anak Sesuai Dengan Kelompok Usia di Negara Maju6

4.3. Manifestasi Klinis

Gejala dan tanda klinis bervariasi tergantung kuman penyebab, usia pasien, status
imunologis pasien, dan beratnya penyakit. Manifestsi klinis bisa sangat berbeda, bahkan pada
neonatus mungkin tanpa gejala. Gejala dan tanda pneumonia meliputi gejala infeksi pada
umumnya demam, menggigil, nyeri kepala, rewel, dan gelisah. Beberapa pasien mungkin
mengalami gangguan gastrointestinal seperti muntah, kembung, diare, atau sakit perut.

Walaupun tanda pulmonal paling berguna, namun mungkin tanda-tanda itu tidak muncul
sejak awitan penyakit. Tanda-tanda itu meliputi nafas cuping hidung (neonatus), takipneu,
dipsneu, dan apneu. Otot bantu nafas interkosta dan abdominal mungkin digunakan. Batuk
umumnya dijumpai pada anak besar, tapi pada neonatus bisa tanpa batuk. Tanda pneumonia
berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernafas bersama dengan

24
peningkatan frekuensi nafas), perkusi redup, fremitus melemah, suara nafas melemah dan
ronkhi.10

Frekwensi nafas merupakan indeks paling sensitif untuk mengetahui beratnya penyakit.
Hal ini digunakan untuk mendukung diagnosis dan memantau tatalaksana. Pengukuran
frekwensi nafas dilakukan dalam keadaan anak tenang atau tidur. Perkusi thorak tidak bernilai
diagnostik karena umumnya kelainan patologisnya menyebar. Suara redup pada perkusi
biasanya karena adanya efusi pleura.

WHO menetapkan kriteria takipneu berdasarkan usia, sebagai berikut :

Tabel 4.2 Kriteria Nafas Cepat Menurut WHO7


Usia kurang dari 2 bulan : ≥ 60 kali per menit
Usia 2 bulan – 11 bulan : ≥ 50 kali per menit
Usia 1 – 5 tahun : ≥ 40 kali per menit.
Usia ≥ 5 tahun : ≥ 30 kali per menit.

Suara nafas yang melemah seringkali ditemukan pada auskultasi. Ronki basah halus khas
untuk pasien yang lebih besar, mungkin tidak terdengar pada bayi. Pada bayi dan anak kecil
karena kecilnya volume thorak biasanya suara nafas saling berbaur dan sulit diidentifikasi.

4.4. Patogenesis dan Patofisiologi

Bronkopneumonia dimulai dengan masuknya kuman melalui inhalasi, aspirasi,


hematogen dr fokus infeksi atau penyebaran langsung. Sehingga terjadi infeksi dalam alveoli,
membran paru mengalami peradangan dan berlubang-lubang sehingga cairan dan bahkan sel
darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk ke dalam alveoli. Dengan demikian
alveoli yang terinfeksi secara progresif menjadi terisi dengan cairan dan sel-sel, dan infeksi
disebarkan oleh perpindahan bakteri dari alveolus ke alveolus. Kadang-kadang seluruh lobus
bahkan seluruh paru menjadi padat (consolidated) yang berarti bahwa paru terisi cairan dan
sisa-sisa sel.11

Bakteri Streptococcus pneumoniae umumnya berada di nasopharing dan bersifat


asimptomatik pada kurang lebih 50% orang sehat. Adanya infeksi virus akan memudahkan
Streptococcus pneumoniae berikatan dengan reseptor sel epitel pernafasan. Jika Streptococcus
25
pneumoniae sampai di alveolus akan menginfeksi sel pneumatosit tipe II. Selanjutnya
Streptococcus pneumoniae akan mengadakan multiplikasi dan menyebabkan invasi terhadap
sel epitel alveolus. Streptococcus pneumoniae akan menyebar dari alveolus ke alveolus melalui
pori dari Kohn. Bakteri yang masuk kedalam alveolus menyebabkan reaksi radang berupa
edema dari seluruh alveolus disusul dengan infiltrasi sel-sel PMN.11

Proses radang dapat dibagi atas 4 stadium yaitu :

- Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)


Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung
pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan
permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan
mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan
cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin.
Degranulasi sel mast juga mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama
dengan histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan
peningkatan permeabilitas kapiler paru.

Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium


sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan
cairan di antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh
oksigen dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh
dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin.

 Stadium II (48 jam berikutnya)


Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat
dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan.
Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan leukosit, eritrosit
dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada
stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah
sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

 Stadium III (3 – 8 hari)


Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi
daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah
yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli

26
mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah
menjadi pucat kelabu dan kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

 Stadium IV (7 – 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan
mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga
jaringan kembali ke strukturnya semula.

Gambar 4.1 Pneumonia In Children

Sebagian besar pneumonia timbul melalui mekanisme aspirasi kuman atau penyebaran
langsung kuman dari respiratorik atas. Hanya sebagian kecil merupakan akibat sekunder dari
bakterimia atau viremia atau penyebaran dari infeksi intra abdomen. Dalam keadaan normal
mulai dari sublaring hingga unit terminal adalah steril. Dalam keadaan sehat, tidak terjadi
pertumbuhan mikroorganisme di paru. Keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme
pertahanan paru. Apabila terjadi ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, mikroorganisme
dan lingkungan, maka mikroorganisme dapat masuk, berkembang biak dan menimbulkan
penyakit.

Paru terlindung dari infeksi dengan beberapa mekanisme :

 Filtrasi partikel di hidung


 Pencegahan aspirasi dengan refleks epiglottis
27
 Ekspulsi benda asing melalui refleks batuk
 Pembersihan kearah kranial oleh mukosiliar
 Fagositosis kuman oleh makrofag alveolar
 Netralisasi kuman oleh substansi imun lokal
 Drainase melalui sistem limfatik.

4.5. Diagnosis

a. Anamnesis
Gejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan infeksi saluran
nafas akut bagian atas. Gejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus-menerus, sesak,
kebiruan sekitar mulut, menggigil (pada anak), kejang (pada bayi), dan nyeri dada.
Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit. Pada bayi muda sering
menunjukkan gejala non spesifik seperti hipotermi, penurunan kesadaran, kejang atau
kembung. Anak besar kadang mengeluh nyeri kepala, nyeri abdomen disertai
muntah.10,11

b. Pemeriksaan Fisik
Manifestasi klinis yang terjadi akan berbeda-beda berdasarkan kelompok umur
tertentu. Pada neonatus sering dijumpai takipneu, retraksi dinding dada, grunting, dan
sianosis. Pada bayi-bayi yang lebih besar jarang ditemukan grunting. Gejala yang sering
terlihat adalah takipneu, retraksi, sianosis, batuk, panas, dan iritabel.11

Pada anak pra sekolah, gejala yang sering terjadi adalah demam, batuk (non produktif
/produktif), takipneu dan dispneu yang ditandai dengan retraksi dinding dada. Pada
kelompok anak sekolah dan remaja, dapat dijumpai panas, batuk (non produktif/
produktif), nyeri dada, nyeri kepala, dehidrasi dan letargi.11

c. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan darah pada pneumonia umumnya didapatkan lekositosis hingga


>15.000/mm3 seringkali dijumpai dengan dominasi netrofil pada hitung jenis. Lekosit
>30.000/mm3 dengan dominasi netrofil mengarah ke pneumonia streptokokus.
28
Trombositosis >500.000/mm3 khas untuk pneumonia bakterial. Trombositopenia lebih
mengarah kepada infeksi virus. Biakan darah merupakan cara yang spesifik namun hanya
positif pada 10-15% kasus terutama pada anak- anak kecil.11

d. Pemeriksaan Radiologis

Gambar 4.2. Foto toraks PA pada pneumonia lobaris: tampak bercak-bercak infiltrat
pada paru kanan.

Foto toraks (AP/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang utama untuk menegakkan


diagnosis. Foto AP dan lateral dibutuhkan untuk menentukan lokasi anatomik dalam
paru. Infiltrat tersebar paling sering dijumpai, terutama pada pasien bayi. Pada
bronkopneumonia bercak-bercak infiltrat didapatkan pada satu atau beberapa lobus. Jika
gambaran difus biasanya disebabkan oleh Staphylokokus pneumonia.

e. Kriteria Diagnosis

Pneumonia pada anak umumnya didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang


menunjukkan keterlibatan sistem respiratori serta gambaran radiologis. Prediktor paling
kuat adanya pneumonia adalah demam, sianosis, dan lebih dari satu gejala respiratori :
takipnea, batuk, nafas cuping hidung, retraksi, ronki, dan suara napas melemah. 6

Akibat tingginya angka morbiditas dan mortalitas pneumonia pada balita maka dalam
upaya penanggulangannya, WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana

29
sederhana. Gejala klinis sederhana itu meliputi napas cepat, sesak nafas, dan berbagai
tanda bahaya agar anak segera dirujuk ke pelayanan kesehatan. Nafas cepat dinilai
dengan menghitung frekuensi nafas dalam 1 menit penuh ketika bayi atau anak dalam
keadaan tenang. Sesak nafas dinilai dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam ketika menarik nafas (retraksi epigastrium). Tanda bahaya pada anak usia 2
bulan – 5 tahun adalah tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi
buruk. Pada anak usia dibawah 2 bulan tanda bahaya meliputi malas minum, kejang,
kesadaran menurun, stridor, mengi, dan demam/badan terasa dingin. 6

Tabel 4.3. Klasifikasi Pneumonia Menurut WHO6

Bayi usia di Bawah 2 bulan


 Pneumonia
- ada nafas cepat (>60 x/menit) atau sesak nafas
- harus dirawat dan diberikan antibiotik
 Bukan pneumonia
- tidak ada nafas cepat atau sesak nafas
- tidak perlu dirawat, cukup diberikan pengobatan simptomatis
Bayi dan anak usia 2 bulan – 5 tahun
 Pneumonia berat
- bila ada sesak nafas
- harus dirawat dan diberikan antibiotik
 Pneumonia
- bila tidak ada sesak nafas
- ada nafas cepat dengan laju nafas:
> 50 x/menit untuk anak usia 2 bulan – 1 tahun
> 40 x/menit untuk anak usia > 1 – 5 tahun
 Bukan pneumonia
- tidak ada nafas cepat dan sesak nafas
- tidak perlu dirawat dan tidak perlu antibiotik, cukup diberikan
pengobatan simptomatis.

30
4.6. Penatalaksanaan

Tatalaksana pasien pneumonia meliputi terapi suportif dan terapi etiologik. Terapi
suportif yang diberikan pada penderita pneumonia adalah:11

1. Pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui kateter hidung atau nasofaring. Jika
penyakitnya berat dan sarana tersedia, alat bantu napas mungkin diperlukan
terutama dalam 24-48 jam
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan yang diberikan mengandung
gula dan elektrolit yang cukup.
3. Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi.
4. Mengatasi penyakit penyerta.
5. Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan tata laksana rutin
yang harus diberikan.

Berdasarkan panduan WHO 2014, pemberian antibiotika pada anak yang menderita
pneumonia, sebagai berikut: 12

 Rekomendasi 1
Anak-anak dengan pernapasan cepat tanpa adanya retraksi dinding dada atau tanda
bahaya umum harus diberikan amoksisilin oral setidaknya 40mg/kg/dosis dua kali
sehari (80mg/kg/hari) selama lima hari. Di daerah dengan prevalensi HIV yang
rendah, amoksisilin diberikan selama tiga hari. Anak-anak dengan pernapasan cepat
yang gagal dengan pengobatan lini pertama dengan amoksisilin harus memiliki
pilihan untuk rujukan ke fasilitas untuk mendapatkan pengobatan lini kedua.

 Rekomendasi 2
Anak usia 2-59 bulan dengan adanya retraksi dinding dada harus diberikan
amoxicillin oral 40mg/kg/dosis dua kali sehari selama lima hari.

 Rekomendasi 3
Anak-anak berusia 2-59 bulan dengan retraksi dada dan pneumonia berat harus
diberikan ampisilin parenteral (atau penisilin) dan gentamisin sebagai pengobatan lini
pertama.

31
-. Ampisilin: 50 mg / kg, atau benzilpenisilin: 50.000 unit per kg IM/IV setiap 6 jam
selama lima hari.

-. Gentamisin: 7,5 mg / kg IM / IV sekali sehari selama lima hari.

Ceftriaxone digunakan sebagai pengobatan lini kedua pada anak dengan pneumonia
berat setelah gagal pada pengobatan lini pertama.

 Rekomendasi 4
Ampisilin (atau penisilin apabila ampisilin tidak tersedia) ditambah gentamisin atau
ceftriaxone direkomendasikan sebagai lini pertama antibiotik untuk bayi yang
terinfeksi HIV dan untuk anak di bawah usia 5 tahun dengan pneumonia berat.

Untuk bayi yang terinfeksi HIV dan untuk anak-anak dengan pneumonia berat yang
tidak merespon pengobatan dengan ampisilin atau penisilin ditambah gentamisin,
ceftriaxone dianjurkan untuk digunakan sebagai pengobatan lini kedua.

 Rekomendasi 5
Pengobatan kotrimoksazol secara empiris untuk pneumocystis jiroveci pneumonia
(PCP, sebelumnya pneumocystis carinii) direkomendasikan sebagai pengobatan
tambahan untuk bayi yang terinfeksi HIV dan berusia 2 bulan hingga 1 tahun dengan
retraksi dada atau pneumonia berat. Pengobatan kotrimoksazol secara empiris untuk
Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP) tidak rekomendasikan untuk anak-anak
yang terinfeksi HIV dan usia lebih 1 tahun dengan pneumonia berat.

Setiap pasien pneumonia mempunyai risiko yang sama untuk terinfeksi patogen
tipikal maupun atipikal. Insidensi pneumonia apikal pada pneumonia cukup tinggi dan
tidak setiap laboratorium yang ada memiliki fasilitas untuk diagnostik khusus bagi
patogen atipikal. Para ahli mempertimbangkan pemberian antibiotik secara empiris
kepada setiap pasien pneumonia yang masih bisa diterapi sebagai kemungkinan
pneumonia atipikal. Terdapat tiga kelas antibiotik empiris untuk pneumonia atipikal yaitu
golongan makrolid, kuinolon dan tetrasiklin. Azitromisin dan eritromisin pada tiga
penelitian pneumonia atipikal pada anak menunjukkan hasil yang memuaskan. The
British Thoracic Society merekomendasikan semua kelas antibiotik makrolid untuk
pengobatan pneumonia atipikal.12

32
4.7. Kompikasi
Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema, torasis, perikarditis purulenta,
pneumotoraks atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta. Empiema torasis
merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri.6

4.8. Prognosis
Pada era sebelum ada antibiotik, angka mortalitas pada bayi dan anak kecil berkisar
dari 20% sampai 50% dan pada anak yang lebih tua dari 3% sampai 5%. Dengan
pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang
dari 1%, anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang terlambat
menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.11

33
BAB IV.

DAFTAR PUSTAKA

1. Unicef/WHO. Pneumonia: the forgotten killer of children. Geneva: The United Nations
Children’s Fund/World Health Organization; 2006.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan riset kesehatan dasar 2007. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia; 2007.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar 2013. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia;
2013.
4. Badan Pusat Statistik, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional,
Departemen Kesehatan. Survei demografi dan kesehatan Indonesia 2007. Jakarta: Badan
Pusat Statistik, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Departemen
Kesehatan; 2013.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pengendalian infeksi saluran
pernafasan akut. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Pengendalian
Lingkungan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2012.
6. Said M. Pneumonia. In: Raharjoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar Respirologi
Anak. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2012: 350-64.
7. WHO. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit, Pedoman Bagi Rumah Sakit Rujukan
Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. Jakarta: WHO Indonesia; 2009: 86-93.
8. Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson: Ilmu Kesehatan Anak. 15th ed. Jakarta: EGC; 2000.
9. Price, Sylvia A. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses Perjalanan Penyakit. Jakarta: EGC;
2012.
10. Alberta Medical Association. Guideline for The Diagnosa and Management of Community
Acquired Pneumonia Pediatric; 2001.
11. Alsagaff, Hood. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya: Bagian Ilmu Penyakit Paru dan
Saluran Nafas FK Unair; 2004.
12. World Health Organization. 2014. Revised WHO classification and treatment of childhood
pneumonia at health facilities: Evidence Summaries. World Health Organization

34