Anda di halaman 1dari 4

MODUL 4

PENGUKURAN DISTRIBUSI
INTENSITAS CAHAYA LUMINER

I. Tujuan
1. Mengenal dan mempelajari cara pengukuran tingkat pencahayaan dari suatu luminer
2. Mengetahui karakteristik dari suatu luminer dengan mempelajari bentuk distribusi
intensitas cahayanya
3. Menentukan fluks luminus yang dihasilkan suatu luminer berdasarkan data intensitas
cahayanya.

II. Peralatan
1. Luxmeter ‘Hioki’ tipe 3243
2. Beberapa jenis luminer
3. Meja putar dan busur derajat
4. Meteran pengukur panjang
5. Tripod
6. Senter (dibawa oleh praktikan)

III. Teori Dasar


Untuk merencanakan suatu sistem pencahayaan yang baik, apakah itu di dalam maupun di luar suatu bangunan, harus diperhatikan
beberapa persyaratan. Salah satu persyaratan yang penting adalah pemilihan luminer atau armatur yang sesuai dengan lokasi yang ditentukan
(kegunaan, ruang, dsb.) agar diperoleh cahaya dengan kualitas dan kuantitas yang diinginkan pada bidang kerja.
Persyaratan lain yang perlu diperhatikan adalah faktor refleksi dari permukaan bangunan, jenis lampu yang digunakan, dan sebagainya.
Umumnya setiap jenis luminer memberikan bentuk distribusi intensitas cahaya dan karakteristik yang berbeda, walaupun jenis lampu yang
digunakan sama.
Karakteristik distribusi intensitas cahaya umumnya dinyatakan dalam diagram polar untuk menggambarkan besamya intensitas cahaya
dari suatu luminer pada arah tertentu. Untuk menggambarkan kurva tersebut, luminer ditempatkan pada pusat dari sebuah bola khayal yang
membentuk radius yang sama dengan jarak titik ukur. Intensitas cahaya dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :


E= cos α (5.1)
R2

dengan
E = tingkat pencahayaan atau iluminansi [lux]
I θ = intensitas cahaya pada sudut θ, dengan θ adalah sudut antara normal luminer dengan garis
yang menghubungkan titik tengah luminer dengan titik ukur [candela]
R = jarak terhadap titik ukur [meter]
α = sudut antara normal sensor lux meter dengan garis yang menghubungkan titik tengah
luminer dengan titik ukur [= 0°]

Pengukuran dilakukan pada posisi luminer vertikal (membujur), horisontal (melintang),


membentuk sudut 45°, serta membentuk sudut –45°. Kurva distribusi intensitas cahaya luminer
umumnya ditampilkan berdasarkan empat posisi tersebut, atau sekurang-kurangnya posisi
vertikal dan horisontal.
Gambar 5.1. Potongan samping ruang gelap

Gambar 5.2. Penampang depan luminer dan arah sudut pengukuran

Perlu diperhatikan bahwa persamaan (5.1) hanya berlaku untuk sumber titik. Untuk sumber
yang dimensinya luas, maka titik ukur sekurang-kurangnya berada pada jarak antara 5 sampai 10
kali dimensi maksimum luminer. Jika syarat tersebut tidak terpenuhi, maka pendekatan di atas
tidak dapat dilakukan (untuk itu dapat digunakan pendekatan garis atau bidang cakram / segi
empat).
Selain untuk menggambarkan kurva distribusi intensitas cahaya, data intensitas cahaya
luminer dapat pula diolah untuk menentukan fluks luminus yang dihasilkan luminer tersebut,
dengan menggunakan metoda konstanta zonal. Pada metoda ini, daerah pengukuran dibagi ke
dalam beberapa zona, yaitu zona 0°~10°, 10°~20°, 20°~ 30°, dan seterusnya sampai 80°~90°.
Fluks luminus yang dihasilkan luminer dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan :

Φ= ∑ 2π I N (cos θ1 – cos θ2) (5.2)

dengan
Φ = fluks luminus yang dihasilkan luminer [lumen]
IN = intensitas cahaya rata-rata pada zona θ1~θ2 [candela]
θ1 = sudut terkecil dalam zona θ1~θ2 [derajat]
θ2 = sudut terbesar dalam zona θ1~θ2 [derajat]
Faktor 2π (cos θ1 – cos θ2) disebut juga konstanta zonal pada zona θ1~θ2
Untuk menentukan harga fluks luminus yang dihasilkan luminer, terlebih dahulu ditentukan
harga rata-rata dari intensitas cahaya pada keempat bidang (membujur, melintang, 45°, dan –45°)
untuk setiap sudut. Kemudian ditentukan harga intensitas rata-rata dari setiap zona, di mana
intensitas rata-rata untuk zona 0°~10° adalah rata-rata dari intensitas rata-rata pada sudut 0°, 5°,
dan 10°. Demikian pula intensitas rata-rata untuk zona 10°~20° adalah rata-rata dari intensitas
rata-rata pada sudut 10°, 15°, dan 20°; dan demikian seterusnya sampai zona 80°~90°. Harga
intensitas rata-rata (IN) dari setiap zona kemudian dikalikan dengan konstanta zonal yang terkait
(2π(cos θ1 – cos θ2)), sehingga menghasilkan harga fluks luminus yang dihasilkan luminer pada
zona tersebut. Harga fluks luminus total yang dihasilkan luminer adalah jumlah dari fluks
luminus yang dihasilkan pada seluruh zona, sebagaimana tercantum dalam persamaan (5.2).

IV. Prosedur Percobaan


1. Letakkan luminer dalam meja putar pada posisi membujur (vertikal).
2. Tentukan titik ukur (sensor luxmeter) pada jarak lima kali dimensi terbesar luminer. Arah
sensor harus tegak lurus pada luminer dan proyeksi sensor pada luminer berada di
tengah-tengah luminer.
3. Sebelum mulai mengukur, luxmeter diset pada rentang pengukuran maksimum 200 lux,
kemudian dikalibrasi sedemikian sehingga menunjukkan angka 00,0 lux pada saat sensor
ditutup dengan penutup sensor yang berwarna hitam.
4. Biarkan lampu menyala selama beberapa menit (agar memberikan tingkat pencahayaan
konstan), kemudian lakukan pengukuran tingkat pencahayaan pada titik ukur untuk setiap
arah luminer dengan cara memutar meja putar searah putaran jarum jam (0°~90°) dengan
interval 5°, dan setelah itu lakukan pengukuran pada arah berlawanan jarum jam (–
90°~0°).
5. Ulangi langkah 4 dengan posisi bidang luminer terputar 90° (horisontal), 45°, dan –45°.
Selama pengukuran, kedudukan sensor luxmeter tetap, sedemikian sehingga jarak titik
ukur dari lampu juga tetap.
6. Untuk luminer yang memakai louver, lakukan pengukuran tanpa louver dan dengan
louver.
Catat ukuran lampu, bentuk lampu serta spesifikasi lampu secara lengkap.

V. Tugas Analisis
1. Dari data yang diperoleh, carilah intensitas cahaya untuk setiap sudut dengan
pendekatan titik, garis atau bidang (tanyakan kepada asisten yang mana yang harus
dipilih)!
2. Gambarkan kurva distribusi intensitas cahaya untuk setiap jenis luminer yang diukur
(menggunakan komputer, misalnya MS Excel/MATLAB)! Bandingkan hasilnya dengan
bentuk distribusi intensitas standar untuk luminer yang sama.
3. Dengan menggunakan data intensitas cahaya yang diperoleh, tentukan besarnya fluks
luminus yang dihasilkan oleh setiap jenis luminer!

VI. Tugas Pendahuluan


1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
a) Luminer
b) Intensitas cahaya
c) Efikasi lampu
d) Efisiensi luminer
e) Metoda lumen dan prinsipnya
f) Efek warna dan spektrum warna
2. Jelaskan kegunaan dari pola distribusi intensitas cahaya luminer dalam merancang
sistem penerangan di dalam ruangan maupun di luar ruangan!
3. Mengapa percobaan ini harus dilakukan pada ruang gelap dan praktikan harus pula
menggunakan baju berwarna gelap? Jelaskan!
4. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi luminer menurut CIE, gambarkan bentuk distribusi
intensitas cahayanya!
5. Terangkan jenis-jenis lampu dengan menjelaskan:
a) Prinsip kerja
b) Efikasi luminus
c) Efek warna
d) Keuntungan dan kerugian
6. Turunkan persamaan sumber titik, sumber garis dan sumber persegi panjang. Terangkan
dengan gambar!
7. Apa tujuan pengendalian cahaya pada luminer? Sebutkan beberapa cara
pengendalian cahaya yang umum digunakan pada luminer dan jelaskan secara singkat!
7. Apa kegunaan trafo 'ballast' dan starter pada lampu TL? Gambarkan rangkaiannya!

VII. Daftar Pustaka


1. Faisal Novianto. "Penghitungan Distribusi Luminer Menggunakan Metoda Zonal
Cavity". Tugas Akhir Jurusan Teknik Fisika, 1999.
2. Henderson S.T et al. "Lamps and Lighting 2nd Edition". Edward Arnold Publisher,
1972.
3. Joseph B. Murdoch. "Illumination Engineering, From Edison’s Lamp to The Laser".
Macmillan Pub. Co., London, 1985.
4. Kaufman, John E. "IES Lighting Handbook", Illuminating Engineering Society, New
York, 1987.
Sorcar, Praculla C. "Energy Saving Lighting System". Butterweck-Solar Engineering Denver,
Colorado, 1982.