Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA KLINIK
PERCOBAAN V
PEMERIKSAAN KADAR GLUTAMAT PIRUVAT TRANSAMINASE

Disusun oleh :
Kiti Doviyanti (10060316113)
Resty Imfyani Sofyan (10060316114)
Reka Rian Wandani (10060316115)
Rofif Fauziyah (10060316117)
Risa Anggiani (10060316118)

Shift / kelompok : 2/D


Tanggal Praktikum : 16 Oktober 2019
Tanggal Penyerahan Laporan : 23 Oktober 2019
Nama Asisten : Lutfi Ashri KN., S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1441 H / 2019 M
I. Tujuan Percobaan
1. Memiliki keterampilan dalam melakukan pemeriksaan fungsi hati melalui
pemeriksaan kadar pemeriksaan kadar glutamat piruvat transaminase
2. Mengetahui prinsip pemeriksaan dan metode pemeriksaan kadar pemeriksaan
kadar glutamat piruvat transaminase yang menunjukan adanya penyakit yang
menyerang hati
3. Menentukan kondisi klinis yang diperoleh dari hasil pemeriksaan glutamate
piruvat transaminase.

II. Teori Dasar


II.1. Darah
Darah merupakan cairan tubuh yang berwarna merah dan terdapat di dalam
sistem peredaran darah tertutup dan sangat penting untuk kelangsungan hidup
manusia. Darah berfungsi memasukkan oksigen dan bahan makanan keseluruh tubuh
serta mengambil karbon dioksida dan metabolik dari jaringan. Mengetahui golongan
darah seseorang sangat penting di ketahui untuk kepentingan medis yaitu salah
satunya untuk transfusi (Oktari & Silvia, 2016).
Komposisi serum sama dengan plasma yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9%
mineral. Akan tetapi didalam serum tidak ada faktor pembekuan (fibrinogen).
Dikarenakan serum tidak diberi anti koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi
benang – benang fibrin sehingga terjadi pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini
mengikat kalsium sebagai faktor pembekuan sehingga fibrinogen tidak di ubah
menjadi benang – benang fibrin (Oktari & Silvia, 2016).
Pembuatan Serum (Erwinanto, 2013).
1. Darah yang sudah di bekukan kemudian di masukan kedalamsentrifugasi
2. Kemudian disentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
3. Serum di pisahkan dari sel – sel darah ketabung yang terpisah.
Pemeriksaan darah digunakan untuk mengevaluasi hepar dapat menunjukkan
kerusakan sel hepar, kolestasis, dan fungsi hepar. Kadar SGOT/SGPT yang
meningkat disebabkan oleh kerusakan hepatosit. Penyebab utama peningkatan kadar
SGOT/SGPT adalah fatty liver, hepatitis virus, medication induced hepatitis¸ hepatits
autoimun dan penyakit hepar alkoholik (Aleya & Berawi, 2014).
II.2. Hati
Hati adalah sebuah kelenjar terbesar dan kompleks dalam tubuh yang berwarna
merah kecokelatan dan mempunyai berbagai macam fungsi, termasuk perannya
dalam membantu pencernaan makanan dan metabolisme zat gizi dalam sistem
pencernaan (Aleya & Berawi, 2015). Fungsi hati adalah sekelompok tes darah yang
dilakukan untuk mengukur enzim atau protein tertentu dalam darah, umumnya
dilakukan untuk membantu mendeteksi menilai atau memantau penyakit, dinyatakan
dalam nilai SGPT/SGOT. Nilai normal untuk SGOT adalah <33 U/L dan nilai normal
SGPT adalah <43 U/L. Fungsi utama hati yaitu untuk pembentukan dan eksresi
empedu, metabolisme karbohidrat, metabolisme protein, metabolisme lemak,
penimbunan vitamin dan mineral, metabolisme steroid, detoksifikasi, gudang darah
dan filtrasi (Evelyn 2013, h. 476).
Adanya kerusakan pada hati, otot jantung, otak, ginjal dan rangka bisa dideteksi
dengan mengukur kadar SGOT. Pada kasus seperti alkoholik, radang pankreas,
malaria, infus lever stadium akhir, adanya penyumbatan pada saluran empedu.
Kerusakan otot jantung, orang-orang yang selalu mengkonsumsi obat-obatan seperti
antibiotik dan obat TBC, kadar SGOT bisa meninggi, bahkan bisa menyamai kadar
SGOT pada penderita hepatitis (Bastiansyah, 2008. h: 53)
Sirosis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsi arsitektur hati
yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul regenerasisi sel hati,
yang tidak berkaitan dengan vaskulatur normal. Nodul-nodul regenerasi ini dapat
berukuran kecil (mikronodular) atau besar (makronodular). Sirosis dapat mengganggu
sirkulasi darah intrahepatik dan pada kasus yang sangat lanjut, menyebabkan
kegagalan fungsi hati secara bertahap (Evelyn, 2008).
II.3. Bilirubin
Bilirubin merupakan produk pemecahan akhir dari heme (hemoglobin),
meningkat pada kerusakan sel hepar dan kolestasis. Peningkatan kadar enzim
SGOT/SGPT 5-15 kali dari nilai normal yang terjadi pada pasien dapat disebabkan
oleh beberapa kondisi yang terkait dengan cedera hepatoselular. Peningkatan SGOT
dalam jumlah besar di dalam serum terjadi setelah terjadinya nekrosis jaringan yang
luas. Kadar SGOT meningkat pada penyakit hati kronik dan juga pada infark miokard
(Aleya & Berawi, 2014).
II.4. Enzim Transaminase
Enzim Transaminase atau disebut juga enzim aminotransferase adalah enzim
yang mengkatalisis reaksi transaminasi. Terdapat dua jenis enzim serum
transaminase yaitu serum glutamat oksaloasetat transaminase dan serum glutamat
piruvat transaminase (SGPT). Pemeriksaan SGPT adalah indikator yang lebih sensitif
terhadap kerusakan hati dibanding SGOT. Hal ini dikarenakan enzim SGPT sumber
utamanya di hati, sedangkan enzim GOT banyak terdapat pada jaringan terutama
jantung, otot rangka, ginjal dan otak (Guyton dan Arthur C,. 1997,).
Enzim SGOT dan SGPT mencerminkan keutuhan atau intergrasi sel-sel hati.
Adanya peningkatan enzim hati tersebut dapat mencerminkan tingkat kerusakan sel-
sel hati. Makin tinggi peningkatan kadar enzim SGOT dan SGPT, semakin tinggi
tingkat kerusakan sel-sel hati (Guyton dan Arthur C,. 1997). Beberapa kondisi yang
menyebabkan peningkatan kadar SGPT/ALT adalah sebagai berikut (Guyton dan
Arthur C,. 1997) :
1. Peningkatan kadar SGOT/SGPT >20x nilai normal dijumpai pada hepatitis viral
akut, nekrosis hati (akibat toksisitas obat atau zat kimia).
2. Peningkatan 3-10x nilai normal dijumpai pada infeksi mononuclear, hepatitis
kronis aktif, obstruksi empedu ekstra hepatic, sindroma Reye dan infark
miokardium (SGOT>SGPT).
3. Peningkatan 2-3x nilai normal dijumpai pada pankreatis, perlemakan hati,
sirosis Laennec, sirosis biliaris
II.4.1. SGOT (serum glutamic oxaloacetic transaminase)
SGOT merupakan singkatan dari serum glutamic oxaloacetic transaminase.
Beberapa laboratorium sering juga memakai istilah AST (aspartat aminotranferase).
SGOT merupakan enzim yang tidak hanya terdapat dihati, melainkan juga terdapat di
otot jantung, otak, ginjal dan otot-otot rangka (Bastiansyah, 2008. h : 53) Aspartat
aminotransferase (AST) atau glutamate oksalo-asetat transferase (SGOT). Reaksi
antara asam aspartat dan asam alfaketoglutamat membentuk AST. Enzim ini lebih
banyak digunakan dijantung dari pada dihati, juga otot rangka, ginjal dan otak.
Apabila terjadi kerusakan pada hati, enzim ini akan masuk ke sirkulasi darah
sehingga bahan pemeriksaan dapat berupa serum. (K Guyton dan Arthur C,. 1997).
SGOT atau AST harga normalnya pada laki-laki 5-17 U/L, pada perempuan 5-
15 U/L. SGOT dalam darah meninggi biasanya karena ada hemolisis dan pada bayi
baru lahir. Kenaikan 10-100 kali lipat dari normal bila terjadi Infark yang disebabkan
oleh otot jantung, Hepatitis yang disebabkan oleh virus, Nekrosis yang disebabkan
oleh sel hati karena keracunan dan sirkulasi darah terganggu sehingga dapat terjadi
shock atau hipoksemia (Darmanto, 2001. hh : 60)
II.4.2. SGPT (Serum Glutamik Piruvat Transaminase)
SGPT adalah singkatan dari Serum Glutamik Piruvat Transaminase, SGPT atau
juga dinamakan ALT (Alanin Aminotransferase) merupakan enzim yang banyak
ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoselular.
Enzim ini dalam jumlah yang kecil dijumpai pada otot jantung, ginjal dan otot
rangka. Pada umumnya nilai tes SGPT/ALT lebih tinggi daripada SGOT/AST pada
kerusakan parenkim hati akut, sedangkan pada proses kronis didapat sebaliknya
(Darmanto,2001. hh : 61).
SGPT dalam darah harga normalnya pada laki-laki 5-23 U/L, pada perempuan
5-19 U/L. SGPT dalam darah meningkat biasanya karena ada hepatitis yang
disebabkan oleh virus, nekrosis sel hati karena keracunan, dan shock atau hipoksemia
(Darmanto,2001. hh : 61). Mertode pengukuran SGPT terdiri dari serangkaian reaksi
enzimatis dengan menggunakan laktat dehidrogenase sebagai enzim indikatornya.
Perubahan absorbansi pada pajang gelombang tertentu diukur secara kontinyu
berbanding lurus dengam aktivitas SGPT. Reaksi berjalan pada pH optimum 7,3 –
7,8.
Primsip Reaksi :
L – Alanin + 2-Oksoglutarat ALT Piruvat + L-Glutamat

Piruvat + NADH LDH L – Laktat + NAD

Pemeriksaan SGPT adalah indikator yang lebih sensitif terhadap kerusakan


hati dibanding SGOT. Hal ini dikarenakan enzim SGPT sumber utamanya di hati,
sedangkan enzim GOT banyak terdapat pada jaringan terutama jantung, otot rangka,
ginjal dan otak (Guyton dan Arthur C,. 1997).
II.5. Sprektrofotometri
Penggunaan utama spektroskopi ultraviolet-sinar tampak adalah dalam analisis
kuantitatif, dimana penentuan kadar senyawa organik yang mempunyai 23 struktur
kromofor atau yang mengandung gugus kromofor. Kromofor merupakan suatu gugus
fungsi yang menyerap radiasi elektromagnetik apakah gugus itu berwarna atau tidak.
Kromofor berfungsi untuk menyatakan gugus tidak jenuh kovalen yang dapat
menyerap radiasi dalam daerah-daerah ultraviolet dan sinar tampak (Azas, 2013).
Prinsip kerja dari single-beam spektrofotometer UV-Vis diawali dengan adanya
pemisahan berkas cahaya sumber oleh diffraction grating. Kemudian berkas cahaya
tersebut diseleksi oleh kisi agar didapatkan intensitas tertentu. Kemudian berkas
cahaya ini akan diserap oleh sample cuvette kemudian dideteksi oleh detektor.
Sebelum dilakukan pengukuran terhadap larutan uji, terlebih dahulu diujikan sample
cuvette yang berisi pelarut dari larutan uji (Bauer, H.H., Christian, G.D., O'Reilly,
J.E., 1978).
Gambar 3. Skematik single-beam UV-Vis spektrofotometer
Pada metode spektrofotometri, pemecahan asam urat dengan enzim uricase
akan bereaksi dengan peroksidase, peroksida (POD), TOOS’ (N-ethyl-N-(2-hydroxy-
3- sulfopropyl)-3-methylaniline) dan 4-aminophenazome membentuk warna quinone-
imine sebagai signal. Kadar asam urat tersebut dihitung berdasarkan intensitas cahaya
yang terbentuk. Pada metode spektrofotometri, bahan pemeriksaan yang digunakan
berjumlah lebih banyak dibandingkan dengan metode electrode-based biosensor
(Maboach dkk., 2014). Pemeriksaan dengan menggunakan spektrofotometer pada
sampel darah pasien terlebih dahulu melalui beberapa proses seperti plasma atau
serum dipisah 22 dari sampel darah kemudian plasma/serum itulah yang dibaca
absorbansinya di spektrofotometer.

III. Data Kimia dan Fisika


1. L-alanin
Pemerian : Kristal, putih, tidak berbau.
Ph : 5,3-7 pada 89,1 g/L pada 255ͦC
Titik lebur/beku : 314,55ͦC
Pertolongan pertama : - Jika terkena kulit, cuci dengan sabun dan banyak
air
- Jika terkena mata, cuci dengan air
- Jika tertelan, jangan beri apapun melalui mulut
- Jika terhirup, pindah ke udara segar

2. Plasma Heparin
Pemerian : Putih hingga kekuningan, tidak berbau
pH : 7 pada 205ͦC setelah rekonstitusi
Pertolongan pertama : - Jika terkena kulit, segera cuci dengan banyak air
- Jika terkena mata, segera bilas dengan air
- Jika tertelan, bersihkan mulut dengan air
- Jika terhirup, pindah ke udara Segar
3. Aquadest
Pemerian : Cairan, tidak berwarna, tidak berbau
Kelarutan : mampu melarutkan sangan baik
pH :7
BM : 10
Titik didih/beku : 100 ℃ /0 ℃

IV. Alat dan Bahan

V. Prosedur
Pelarut ditambahkan pada botol reagen kemudian campur dengan baik,
kemudian disiapkan dua tabung reaksi untuk pembuatan larutan sampel uji dan
blanko. Pada pembuatan larutan blanko, ditambahkan reagen 1 800 µL kemudian
reagen 2 sebanyak 200 µL, dan aquadest sebanyak 100 µL, dan pada tabung reaksi
untuk sampel uji ditambahkan reagen 1 800 µL kemudian reagen 2 sebanyak 200 µL,
dan serum sebanyak 100 µL. Dicampur dengan baik kemudian setelah satu menit
diukur kenaikn absorban setiap menitnya selama 3 menit pada Panjang gelombang
340 nm kemudian dihitung rata-rata permenit.
Diagram percobaan

Dilarutkan reagen 1 Dibuat lar blanko dan Campur dan tunggu Ukur kenaikan absorban
sampel uji 1 menit permenit
dan 2

Dihitung nilai rata- Selama 3 menit


rata permenit

VI.Data Pengamatan dan Perhitungan


VI.1. Data Pengamatan

VI.2. Perhitungan
A1 = |A2 – A1|
= |0,257 – 0,271|
= 0,014
A2 = |A3 – A2|
= |0,252 – 0,257|
= 0,005
Δ1 = A 1 x Fλ x FT
= 0,014 x 1746 x 0,69
= 16,866
Δ2 = A 2 x Fλ x FT
= 0,005 x 1746 x 0,69 = 6,023
Δ 1+ Δ 2
Aktivitas GPT =
2
16,866+ 6,023
=
2
= 11,444 IU/L

VII. Pembahasan
Pada peraktikum kali ini dilakukan pemeriksaan kadar glutamate privat
transaminase yang bertujuan sebagai mendiagnosis adanya penyakit yang menyerang
hati dengan menggunakan prinsip pengukuran SGPT (Serum Glutamate Piruvate
Transaminase) dengan serangkaian reaksi enzimatis menggunakan laktat
dehydrogenase sebagai indikator dan perubahan absorbansi pada gelombang 340nm
diukur secara kontinyu berbanding lurus dengan aktivitas SGPT.
Transaminase merupakan suatu enzim intraseluler yang terlibat dalam
metabolisme korbohidrat dan asam amino. Kelompok enzim akan mengkatalis
pembebasan gugus asam amino dari kebanyakan asam L-amino. Prosesnya disebut
transminasi yaitu gugus asam amino dipindahkan secara enzimatik ke atom karbon
asam pada asam ketoglutalat sehingga dihasilkan asam keto sebagai analog dengan
asam amino yang bersangkutan (Lehninger.1982).
Beberapa transaminase yang saling penting dinamakan sesuai dengan molekul
pemberi aminonya yaitu glutamate piruvat transaminase (GPT) yang merupakan
enzim yang paling banyak ditemukan pada organ hepar terutama pada mitokondria
yang memiliki fungsi yang sangat penting dalam pengiriman karbon dan nitrogen
kedalam otot kehati. Pemeriksaan GPT dilaboratorium dikenal dengan SGPT, SGPT
memiliki kadar normal yang tinggi didalam hati jika terjadinya peningkatan yang
dominan maka kemungkinana terjadinya proses yang mengganggu sel hati, sehingga
enzim GPT dilepaskan dalam darah maka terjadi peningkatan enzim GPT dalam
darah (Ganong 1980). Sedangkan transaminase glutamate oksaloasetat transaminase
(GOT) merupakan enzim yang banyak pada organ herpar terutama pada sitosol yang
berfungsi untuk mengurangi kelebihan ammonia. Pemeriksan GOT dilaboratorium
dikenal sebagai SGOT proses nya sama dengan pemeriksaan SGPT yang
membedakan hanya SGPT lebih spesifik pada pemeriksaan organ hati sedangkan
SGOT kurang spesifik pada hati karena enzimnya banyak terdapat pada organ
jantung, otot, pankreas, paru-paru dan juga otot skelet (Ganong 1980).
Pada peraktikum pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel darah
seorang praktikan perempuan, darah yang diambil dimasukan dalam tabung
kemudian di sentrifugasi. Dilakukan pembuatan blanko terlebih dahulu dengan
memasukan aquadest 100µL, reangen dua ( NADH + alfaketoglutaric acid + sodium
azid) sebanyak 200µL dan reangen satu (trisbuffer + L-alanin + LDH) sebanyak
800µL kedalam tabung, kemudian dilakukan pembuatan sampel test dengan
memasukan serum hasil sentrifugasi 100µL, reangen dua ( NADH + alfaketoglutaric
acid + sodium azid) sebanyak 200µL dan reangen satu (trisbuffer + L-alanin + LDH)
sebanyak 800µL kedalam tabung, penambahan serum yang sebelumnya disentrifugasi
terlebih dahulu bertujuan agar dapat memisahkan serum dengan plasma karena serum
lebih sedikit mengandung air dan banyak mengandung enzim dan protein-protein
yang dapat direaksikan dalam pemeriksaan dibandingkan dengan plasma yang lebih
banyak mengandung air. Reagen satu dan reagen dua digunakan sebagai reagen reaksi
enzimatis pada pemeriksaan SGPT. Setelah sampel direaksikan ditunggu satu menit
agar reagen dapat bereaksi pada serum kemudian di lakukan pengukuran
menggunakan spektrofotometri UV dengan panjang gelombang 340nm. Pengukuran
absorbansi menggunakan spektrofotometri UV dikarenakan dapat ,menstabilkan
transaminase dan menghindari nilai-nilai palsu rendah dalam sampel. Pada saat
pengukuran didalam spektrofotometer banko dimasukan kedalam kuvet terlebih
dahulu kemudian di uji kedalam spektro yang bertujuan sebagai pengkalibrasi dan
untuk memastikan pelarut dan reangen yang digunakan pada sampel tidak
mempengaruhi hasil absorbansi. Kemudian pengujian spekterofotometri pada sampel
dilakukan tiga kali selama 3 menit dengan selang waktu satu menit ini dilakukan
bertujuan agar hasil yang didapat berbanding lurus dengan aktivitas SGPT. Pada
peratikan dilakukan pada suhu 30°C dikarenakan suhu pada pemeriksaan dilakukan
pada suhu ruangan dan suhu ruangan yang paling tinggi yang digunakan.
Pengukuran dilakukan menggunakan spektrofotometer pada panjang
gelombang 340 nm untuk pemeriksaan analisis kuantitatif enzim dehidrogenase. Nilai
absorbansi yang didapat dikalikan faktor 1746 karena diukur pada panjang
gelombang 340 nm dan disimpan pada suhu 30°C sehingga dikalikan faktor 0,69.
Setiap penggunaan spektrofotometer digunakan blanko yang bertujuan untuk
memastikan bahwa pelarut yang digunakan tidak memberikan nilai absorbansi pada
panjang gelombang 340 nm. Tidak digunakannya larutan standar karena peran atau
fungsi dari larutan standar diganti dengan dikalinya faktor pada panjang gelombang
dan faktor konversi serum temperatur untuk manusia.
Hasil dari pengukuran didapatkan yang pertama 16,866 IU/L dan yang kedua
6,023 IU/L. Sampel yang digunakan yaitu dari perempuan sehingga digunakan nilai
kadar normal 4-20 IU/L pada suhu 30°C. Dan aktivitas GPT yaitu 11,444 IU/L
sehingga dinyatakan normal karena masih dalam rentang nilai normal perempuan
yaitu 4-20 IU/L.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kadar SGPT, SGOT yaitu
(Kee, 2007):
1. Injeksi pada infark miokardium (IM) dapat meningkatkan kadar SGOT serum.
2. Hemolisis spesimen darah dapat mempengaruhi hasil pengamatan
laboratorium.
3. Obat yang meningkatkan kadar SGOT seperti antibiotik.
4. Salisilat dapat meyebabkan kadar serum positif atau negatif yang keliru.
VIII. Kesimpulan
Pemeriksaan dilakukan pada seorang praktikan perempuan maka rentang yang
digunakan untuk pemeriksaan 4-20 IU/L. hasil yang didapat 11.445 IU/L maka
seorang praktikan yang memberikan sampel darahnya memiliki kadar SGPT yang
normal sehingga memiliki keadaan pada organ hatinya juga normal.
Kadar SGPT tersebut mamasuki rentang normal sehingga keadaan organ masih
berfungsi dengan baik dan tidak memiliki masalah, namun untuk tetap menjaga organ
hati tetap normal sebaiknya lebih mempertahankan pola makan yang baik dan gaya
hidup yang sehat.
DAFTAR PUSTAKA
Aleya danBerawi, K. N. 2015. Korelasi Pemeriksaan Laboratorium SGOT/SGPT
dengan Kadar Bilirubin pada Pasien Hepatitis C di Ruang Penyakit Dalam
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung pada Bulan Januari
-Desember 2014. Available at:
http://repository.lppm.unila.ac.id/1389/1/25.pdf.Diakses pada tanggal 22
Februari 2018.
Bastiansyah, E. 2008. Panduan lengkap membaca hasil tes kesehatan. Penebar plus:
Jakarta. Pp: 52-53.
Darmanto, D. (2014). Respirology. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Erwinanto et al., 2013. Pedoman tatalaksana dislipidemia. Jurnal Kardiologi
Indonesia, 34(4), pp.245–70. Available at: http://jki.or.id
Evelyn C.Pearce. 2008. Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: PT
Gramedia
Ganong, W.F. (1980). Fisiologi Kedokteran Edisi 9. Jakarta: EGC.
Guyton dan Arthur C,. 1997, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi V. EGC, Jakarta.
Kee, J.L. (2007). Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik Ed. 6. Jakarta:
EGC
Lehninger dan Maggy. (1982). Dasar-Dasar Biokimia Jilid 2. Jakarta:Erlangga.
Metode Slide dengan Reagen Serum Golongan Darah A, B, O, Sekolah Tinggi
Analis Bakti Asih Bandung, Bandung
Oktari, Anita dan Nida Daeninur Silva., 2016, Pemeriksaan Golongan Sistem ABO
Richterich, R. and Colombo, J. P.,1981, Clinical Chemistry Theory Practice and
Interpretation , 63-68, John Willey Sons, New York.