Anda di halaman 1dari 8

ISOLASI FUNGI ENDOFIT PENGHASIL SENYAWA ANTIMIKROBA

DARI DAUN CABAI KATOKKON (Capsicum annuum L var. chinensis)


DAN PROFIL KLT BIOAUTOGRAFI

Herlina Rante, Burhanuddin Taebe dan Soendaria Intan

Fakultas Farmasi, Universitas Hasanuddin, Makassar

ABSTRAK

Fungi endofit kini banyak dieksplorasi sebagai alternatif senyawa bioaktif karena kemampuannya
menghasilkan metabolit yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat. Penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh isolat fungi endofit yang mampu menghasilkan senyawa antimikroba.
Penelitian ini dilakukan dengan cara mengisolasi fungi endofit dari daun tanaman cabai
katokkon(Capsicum annuum L.var.chinensis). Isolat yang diperoleh kemudian digunakan untuk produksi
senyawa melalui proses fermentasi. Pada akhir proses fermentasi, media fermentasi diekstraksi dengan
etil asetat. Ekstrak yang diperoleh selanjutnya dianalisa profil KLTnya dan diuji aktivitas serta KLT-
bioautografinya. Proses isolasi menghasilkan 2 isolat yang diberi kode DC-1 dan DC-2, hasil uji antagonis
isolat DC-1 menunjukkan penghambatan yang paling tinggi. Hasil uji dengan metode difusi menunjukkan
bahwa pada konsentrasi ekstrak 10 μL/disk mampu menghambat pertumbuhan Eschericia coli (29,50mm),
Staphylococcus aureus (16,50mm) dan Pseudomonas aeruginosa (19,00mm). Hasil bioautografi agar-
overlay menunjukkan bahwa senyawa aktif yang ada dalam ekstrak etil asetat media fermentasi memiliki
Rf 0,54 cm aktif terhadap bakteri Eschericia coli (18,3mm) dengan perbandingan fase gerak heksan : etil
asetat 1:5. Ekstrak etil asetat dari media fermentasi isolat DC-1 diduga merupakan golongan senyawa
terpenoid dan alkaloid. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jamur endofit pada daun cabai katokkon
mampu menghasilkan senyawa yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme

Kata kunci : fungi endofit, cabai katokkon, antimikroba

PENDAHULUAN Mikroba endofit adalah organisme hidup


yang berukuran mikroskopis (bakteri dan jamur)
Antimikroba merupakan suatu produk atau yang hidup di dalam jaringan tanaman (xylem dan
bahan metabolit yang dihasilkan oleh satu jenis phloem), daun, akar, buah, dan batang. Mikroba ini
mikroorganisme yang dapat menghambat pertum- hidup bersimbiosis saling menguntungkan, dalam
buhan mikroorganisme lainnya. Bahan metabolit hal ini mikroba endofitik mendapatkan nutrisi dari
yang dapat menghambat atau membunuh mikro- hasil metabolisme tanaman dan memproteksi
organisme disebut antibiotika dan cara kerjanya tanaman melawan herbivora, serangga, atau ja-
disebut antibiosis. Antibiotika tersebar di alam ringan yang patogen sedangkan tanaman men-
bebas, tetapi hanya beberapa yang tidak toksik dapatkan derivat nutrisi dan senyawa aktif yang
dipakai dalam pengobatan dan kebanyakan diper- diperlukan selama hidupnya (5).
oleh dari genus Bacillus, Pinicillium dan Trepo- Mikroba endofit yang terdiri atas bakteri
myces. Senyawa antimikroba didefinisikan sebagai dan jamur merupakan mikroba yang hidup di da-
senyawa biologis atau kimia yang dapat meng- lam jaringan tanaman dan membentuk koloni tan-
hambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba (1,2). pa membahayakan inangnya. Tanaman tingkat
Tanaman merupakan salah satu sumber tinggi dapat mengandung beberapa mikroba endo-
bahan baku obat dan termasuk senyawa anti- fit yang menghasilkan metabolit sekunder. Fungi
mikroba. Cabai (Capsicum sp.) adalah salah satu endofit dapat membentuk koloni dalam jaringan
tanaman yang berkhasiat obat yang kegunaannya tanaman tanpa membahayakan inangnya Hubung-
telah cukup dikenal oleh masyarakat. Sebagian an yang terjadi antara inang dan fungi endofit
besar komponen kimia dari tanaman yang diguna- bukan merupakan hubungan patogenitas. Fungi
kan sebagai obat dan bahan obat merupakan endofit yang terdapat dalam tanaman memacu
metabolit sekunder. Salah satu cara terbaru dalam perkecambahan, untuk bertahan dalam kondisi
memproduksi senyawa metabolit sekunder sejenis yang kurang menguntungkan, mempercepat per-
yang terdapat dalam tanaman adalah dengan tumbuhan, ketahanan terhadap patogen lemah,
memanfaatkan mikroba endofit yang hidup dalam dan beberapa kasus yang dapat meningkatkan
jaringan tanaman (4). ketahanan tanaman terhadap tekanan lingkungan.
Kemampuan mikroba endofit memproduksi senya-

39
40 Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 17, No.2 – Juli 2013, hlm. 39 – 46 (ISSN : 1410-7031)

wa metabolit sekunder sesuai dengan tanaman sampel, tanaman ini dikenal dengan nama katok-
inangnya yang merupakan peluang sangat besar kon. Sampel daun terdiri atas dua jenis sampel
dan dapat diandalkan untuk memproduksi meta- yaitu sampel daun segar dan sampel daun yang
bolit sekunder dari mikroba endofit yang diisolasi mulai menguning. Sampel daun yang dikumpulkan
dari tanaman inangnya (6,7,8). dibersihkan dan dicuci dengan air mengalir.
Pemanfaatan mikroba endofit dalam mem-
produksi senyawa aktif memiliki beberapa kelebih- Isolasi Mikroba Endofit
an, antara lain lebih cepat menghasilkan dengan
mutu yang seragam, dapat diproduksi dalam skala Daun cabai katokkon (Capsicum annuum
besar dan kemungkinan diperoleh komponen bio- L var. chinensis) yang segar dicuci dengan air
aktif baru dengan memberikan kondisi yang ber- mengalir guna menghilangkan tanah dan kotoran
beda (9). yang menempel dan dikecilkan ukurannya menjadi
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan + 2 cm2 lalu sampel dikeringkan di atas cawan
yang timbul adalah apakah dapat mengisolasi dan petri. Sampel dimasukkan ke dalam gelas erlen-
memperoleh metabolit sekunder fungi endofit se- meyer 250 ml, ditambahkan etanol 70% sampai
bagai penghasil senyawa antimikroba dari daun terendam, lalu dikocok pelan dan disterilisasi
cabai katokkon (Capsicum annuum L. var. selama 2 menit. Cairan etanol 70% dibuang,
chinensis) suku Solanacae asal Kabupaten Tana sterilisasi dilanjutkan dengan bayclean (NaClO
Toraja Provinsi Sulawesi Selatan ? Sehubungan 5,25%) selama 2 menit, lalu dibilas dengan akua-
dengan itu telah dilakukan penelitian mengenai des steril sebanyak 3 kali, masing-masing selama
isolasi fungi endofit dari daun cabai katokkon 1 menit. Sterilisasi dilakukan dengan secara asep-
(Capsicum annuum L. var. chinensis) dari suku tis di dalam LAF kabinet. Bahan-bahan tersebut
Solanacae asal Kabupaten Tana Toraja Provinsi ditiriskan di dalam cawan petri steril, lalu dipotong-
Sulawesi Selatan. Fungi endofit diisolasi dan potong dengan pisau skalpel steril menjadi ukuran
dilakukan uji aktivitas dengan metode difusi agar, + 1 cm2. Bagian-bagian tersebut ditanam di dalam
selanjutnya dilakukan fermentasi, ekstraksi dan uji medium PDA di dalam cawan petri steril pada suhu
KLT-Bioautografi. kamar (25oC) selama 3 hari. Sebagai kontrol, air
Penelitian ini bermaksud untuk menguji bilasan terakhir eksplan diinokulasikan pada
aktivitas fungi endofit dari daun cabai katokkon medium PDA. Setelah 3 hari terjadi pertumbuhan
(Capsicum annuum L var. chinensis) tersebut fungi, lalu diisolasi untuk mendapatkan biakan
terhadap beberapa mikroba uji dan tujuan dari murni. Biakan murni fungi endofit ditumbuhkan
penelitian ini yaitu untuk memperoleh senyawa pada media PDA dalam cawan petri (30).
antimikroba dari isolat fungi endofit.
Pemurnian Fungi Endofit

METODE PENELITIAN Medium yang digunakan untuk permurnian


fungi endofit yaitu medium PDA. Fungi endofit
Alat dan Bahan yang tumbuh pada medium PDA, dimurnikan
masing-masing pada medium PDA. Kemudian di-
Alat-alat yang digunakan pada penelitian inkubasi selama 3 hari pada suhu 25 0C, lalu
ini yaitu alat-alat gelas, alat sentrifuge (model dilakukan pengamatan terhadap bentuk dan warna
DKC-1006T),autoklaf (All American Model 25x-2), koloni pada medium PDA. Setiap koloni yang ber-
cawan petri, enkas, Inkubator (WTB Binder), beda bentuk maupun warnanya disubkultur lagi
Jangka sorong, Laminar Air Flow (Envirco), lemari pada medium PDA miring sampai diperoleh koloni
pendingin (Panasonic), mikropipet (Nesco), oven murni (30).
(Fisher), shaker (Gemmy orbit model VRN-480),
dan sentrifuge. Uji Aktivitas Antimikroba Fungi Endofit
Bahan-bahan yang digunakan pada
penelitian ini yaitu air suling, aluminium foil, etanol Identifikasi awal dari daun cabai yang
70%, etil asetat, larutan NaOCl 5,25 %, medium menghasilkan senyawa antibakteri dilakukan mela-
NA (Pronadisa), medium PDA(Pronadisa), mikroba lui uji hayati. Semua isolat daun cabai ditumbuh-
uji (, Escherichia coli, Staphylococcus aureus , dan kan ke dalam media PDA, kemudian cakram daun
Pseudomonas aeruginosa , Malasezzia furfur, dan cabai katokkon yang berumur 7 hari inkubasi pada
sampel daun cabai katokkon(Capsicum annuum L. medium PDA ditempatkan di permukaan media NA
var. chinensis). dan PDA yang telah berisi mikroba uji. Selanjutnya
diinkubasi selama 1 hari pada suhu 37oC untuk NA
Pengambilan Sampel dan 3 hari pada suhu 25 oC untuk PDA. Masing-
masing isolat diamati kemampuannya dalam
Sampel penelitian yang digunakan berupa menghambat bakteri uji yang ditandai dengan ter-
daun cabai katokkon (Capsicum annuum L. var. bentuknya zona jernih di sekitar cakram uji dan
chinensis) diperoleh dari Kelurahan Sarira, Keca- dievaluasi berdasakran diameter zona hambatan-
matan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Pro- nya. Diameter >20 mm (penghambatan kuat), 5-10
vinsi Sulawesi Selatan. Di lokasi pengambilan mm (penghambatan sedang) and <5 mm (peng-
Herlina Rante, dkk, Isolasi Fungi Endofit Penghasil Senyawa Antimikroba Dari Daun Cabai Katokkon 41

hambatan lemah). Isolat yang stabil membentuk ba pada media, kemudian dibandingkan hasil kro-
zona jernih pada 3 kali pengujian dipilih sebagai matogram lempeng I dengan zona hambat yang
isolat untuk pengujian selanjutnya (30). dibentuk oleh lempeng II pada media (31,32,33).

Fermentasi Isolat
HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolat aktif dibuat prekultur pada labu
erlenmeyer 500 mL yang mengandung 100 mL Hasil Isolasi Fungi Endofit
medium cair PDY dan diinkubasi pada suhu 25 °C
selama 3 hari. Prekultur (starter) dipindahkan ke Pada penelitian ini dilakukan isolasi fungi
dalam erlenmeyer 500 mL yang mengandung 100 endofit dari daun cabai katokkon sebagai peng-
mL medium yang sama. Fermentasi dilakukan hasil senyawa antimikroba. Hasil determinasi ta-
pada suhu 25 °C pada kondisi terkocok, lalu disen- naman menyatakan bahwa cabai katokkon yang
trifus untuk memperoleh filtrat dan miselia. Kemu- digunakan merupakan spesies Capsicum annuum
dian filtrat diuji setiap hari selama 18 hari (34). L. var. chinensis. Fungi endofit yang tumbuh pada
sekitar tanaman merupakan fungi endofit karena
Ekstraksi Isolat telah dilakukan sterilisasi permukaan pada sampel.
Permukaan tanaman membawa banyak kontami-
Setelah fermentasi yang terbaik diperoleh nasi mikroba untuk menghindari kontaminasi ini
pada hari ke-5, media pertumbuhan mikroba di- tanaman harus disterilisasi permukaan secara ke-
saring untuk memisahkan biomassa dan cairan seluruhan sebelum diinokulasi pada media (36).
fermentasi. Cairan fermentasi diekstraksi 2 kali Sterilisasi permukaan dilakukan dengan etanol
dengan pelarut etil asetat (1:1 v/v) dalam corong 70% v/v selama 1 menit lalu dilakukan perendam-
pisah selama 20 menit. Ekstrak yang diperoleh an lagi dengan Na hipoklorit 5,3 % selama 2 menit.
diuapkan lalu disimpan pada desikator untuk Proses sterilisasi tidak menggunakan etanol murni,
digunakan pada uji selanjutnya (30). tetapi etanol 70% karena proses denaturasi pro-
tein mikroba memerlukan keberadaan air, dan eta-
Uji Aktivitas terhadap bakteri uji Mallazesia nol dengan kadar 70% adalah kadar yang optimal
furfur, Escherichia coli, Staphylococcus aureus untuk tujuan ini. Dalam larutan, natrium hipoklorit
dan Pseudomonas aeruginosa. (NaOCl) akan melepaskan radikal klor yang mam-
pu merusak membran dan protein mikroba (37).
Sebanyak 20 µl dispersi mikroba uji Fungi endofit yang diperoleh dari daun
dimasukkan ke dalam botol steril, lalu ditambahkan cabai katokkon tumbuh pada hari ke-3. Selama
20 ml medium NA untuk bakteri uji dan PDA untuk pengamatan dilakukan proses purifikasi dengan
jamur uji, dihomogenkan dan dituang ke dalam memindahkan setiap fungi yang tumbuh di sekitar
cawan petri, dibiarkan hingga memadat. Sebanyak potongan sampel ke media agar yang baru ber-
10 µl ekstrak dimasukkan ke dalam kertas cakram dasarkan persamaan warna, bentuk koloni dan
(diameter 6 mm). Setelah semua pelarut menguap ada tidaknya lingkaran konsentris sampai diper-
selanjutnya kertas cakram diletakkan pada per- oleh isolat fungi endofit yang murni. Dari hasil
mukaan medium, lalu diinkubasikan selama 1 hari isolasi diperoleh 2 isolat fungi endofit yaitu isolat
pada suhu 37 oC untuk NA dan 3 hari pada suhu DC-1 dan isolat DC-2 yang diamati berdasarkan
25 oC untuk PDA, lalu diamati dan diukur zona ciri makroskopik meliputi warna, permukaan, dan
hambatan yang terbentuk. bentuk koloni (gambar 1 dan tabel 1).

Pengujian KLT-Bioautografi
Tabel 1. Karakterisasi makroskopik isolat fungi endofit
Pengujian KLT-Bioautografi ekstrak fungi Pengamatan Makroskopik
endofit daun cabai katokkon yang paling aktif Sampel /
kode isolat Warna Permukaan Bentuk
sebagai antimikroba menggunakan lempeng KLT koloni koloni koloni
silica gel GF-254 yang telah diaktifkan. Ekstrak
DC-1 Putih Seperti kapas Bundar
ditotolkan pada lempeng KLT kemudian dielusi
dengan perbandingan eluen heksan : etil asetat = DC-2 Coklat tua Seperti kapas Bundar
1:5. Setelah itu divisualisasikan dan dihitung nilai
Rf-nya (31,32,33).
Noda pada kromatogram lempeng I divi-
sualisasikan dengan beberapa reagen uji identi- Uji Antagonis Fungi Endofit
fikasi. Lempeng II diletakkan pada permukaan
media NA dan PDA yang telah diinokulasikan Isolasi fungi endofit dari daun cabai katok-
dengan beberapa mikroba uji. Cawan petri diinku- kon menghasilkan dua isolat fungi endofit.
basi pada suhu 37 °C selama 1 x 24 jam untuk Selanjutnya dilakukan uji antagonis fungi endofit
bakteri, dan untuk jamur diinkubasi pada suhu terhadap mikroba uji. Uji antagonis adalah uji
kamar selama 3 x 24 jam. Setelah itu diamati untuk melihat aktifitas langsung terhadap organ-
adanya adanya zona hambat pertumbuhan mikro- isme uji dan menyeleksi isolat-isolat yang memiliki
42 Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 17, No.2 – Juli 2013, hlm. 39 – 46 (ISSN : 1410-7031)

aktivitas antimikroba terhadap bakteri dan jamur. PDY (Potato Dekstrosa Broth dan Ekstrak Yeast)
Hasil positif ditandai dengan terbentuknya zona selama 3X24 jam sambil terus dikocok (prekultur/
bening di sekitar isolat. Fungi endofit isolat DC-1 starter). Tujuan pembuatan starter yaitu memper-
aktif terhadap Ps. Aeruginosa dengan diameter cepat fase lag yang selanjutnya starter difermen-
zona hambatan sebesar 25,9 mm yang berarti tasikan ke dalam medium produksi yang diinkubasi
termasuk penghambatan kuat, terhadap S. Aureus selama 5 hari pada suhu 25 °C dan sesekali
sebesar 16,6 mm, dan terhadap E. coli sebesar dikocok. Fermentasi dengan pengocokan merupa-
16,6 mm. Terhadap fungi endofit isolat DC-2 tidak kan metode pemanfaatan medium oleh mikro-
menunjukkan adanya diameter hambatan (tabel 2 organisme yang hasilnya lebih efisien, memper-
dan gambar 2) cepat pertumbuhan, dan pertumbuhannya lebih
homogen. Hasil fermentasi fungi endofit isolat DC-
1 berwarna kuning yang tadinya berwarna putih.
Perubahan warna yang terjadi karena adanya
DC-1 DC- proses fermentasi yang dilakukan oleh isolat
2 bakteri dimana perubahan ini menunjukkan meta-
bolit sekunder telah diproduksi. Sistem fermentasi
yang digunakan adalah Sistem Batch. Sistem ini
adalah sistem yang paling sederhana dan sering
digunakan di laboratorium untuk mendapatkan
produk sel atau metabolitnya. Fermentasi sistem
batch adalah sistem tertutup, artinya semua nutrisi
Gambar 1. Koloni murni fungi endofit daun cabai yang dibutuhkan mikroba selama pertumbuhan
katokkon (Capsicum annuum L.var.chinensis). Warna dan pembentukan produk berada di dalam satu
yang teramati merupakan warna koloni setelah inkubasi, fermentor. Jadi tidak ada penambahan bahan atau
permukaan koloni seperti kapas jika hifa yang tumbuh pengambilan hasil selama fermentasi berlangsung.
tampak seperti kapas, koloni membentuk lingkaran. Keuntungan sistem ini adalah mudah, sederhana,
Bentuk koloni diamati dari penampakan atas koloni. dan kecil kemungkinan adanya kontaminasi (23).
Hasil fermentasi disentrifus terlebih dahulu untuk
memisahkan filtrat dan residu, hal ini dilakukan
Tabel 2. Hasil pengujian aktivitas antimikroba karena mikroorganisme dapat mensekresikan
Diameter Zona Hambat (mm) terhadap bakteri uji metabolit sekunder selama proses fermentasi ke
Kode
Isolat luar sel yang terdapat pada filtrat (38). Penentuan
Ps.aeruginosa E. coli S. aureus M. furfur
waktu inkubasi fermentasi didasarkan pada aktiv-
DC-1 25,9 16,6 16,6 -
itas antimikroba dari cairan fermentasi yang disam-
pling selama 18 hari (32). Hasil pengujian cairan
DC-2 - - - - fermentasi menunjukkan waktu inkubasi pada hari
kelima menunjukkan diameter hambatan paling
besar (29,25 mm) (tabel 3 dan gambar 3).
Kurva diameter hambatan yang terbentuk
menunjukkan fluktuasi disebabkan oleh faktor : a)
DC-1
DC-1 Kecepatan aerasi sering tidak sesuai dengan
DC-1
jumlah oksigen yang dibutuhkan dan oksigen yang
terlarut dalam media. b) Jumlah sumber karbon
DC-2 dan nutrisi lain tidak sesuai baik dalam jumlah dan
komposisi dengan mikroba dan produk yang di-
inginkan; c) Toksin yang terakumulasi d) Perubah-
an pH selama proses fermentasi. e) Busa yang
DC-2 DC-2
mungkin timbul (23).

35
A B C
30
diameter hambat (mm)

Gambar 2. Uji Antagonis fungi endofit isolat daun cabai 25

katokkon, A = uji terhadap bakteri Eschericia coli, B = uji E.coli


20
terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa, C = uji 15 P.aeru
terhadap bakteri Staphylococcus aureus ginosa
10 S.aure
us
5 M.furfu
r
Fermentasi Fungi Endofit 0

-5 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18
Dari isolat fungi endofit yang aktif terhadap
Lama Fermentasi (hari )
mikroba uji (isolat DC-1) kemudian diproduksi
senyawa antimikroba menggunakan metode fer- Gambar 3. Kurva diameter hambatan fermentat fungi
mentasi yang dimulai dengan medium pembenihan endofit isolat DC-1 terhadap lama fermentasi
Herlina Rante, dkk, Isolasi Fungi Endofit Penghasil Senyawa Antimikroba Dari Daun Cabai Katokkon 43

Tabel 3. Hasil pengujian aktivitas antimikroba fermentat Tabel 4. Hasil pengujian aktivitas antimikroba ekstrak
fungi endofit isolat DC-1 isolat DC-1, dengan volume uji 10 µl.
Diameter hambatan(mm) Bakteri uji Diameter zona hambat (mm)
Hari
E.coli Ps.aeruginosa S.aureus M.furfur
E.coli 29,50
1 26,75 21,50 11,75 8,50
2 27,25 24,00 14,00 9,00 Ps.aeruginosa 19,00
3 25,25 22,00 13,50 9,20 S.aureus 16.50
4 23,75 19,50 16,50 10,00
M.furfur 0,00
5 29,25 20,50 19,25 14,50
6 23,50 25,00 17,50 14,00
7 12,50 11,50 13,50 12,00
Uji KLT Bioautografi Ekstrak Etil Asetat fungi
8 11,50 11,00 12,50 10,00 endofit Isolat DC-1
9 9,00 10,60 10,50 0,00
Uji fitokimia terhadap ekstrak etil asetat
10 9,00 11,00 9,50 0,00
fungi endofit isolat DC-1 digunakan untuk menge-
11 7,65 8,70 9,00 0,00 tahui golongan senyawa bioaktif yang terdapat
12 7,10 8,50 8,00 0,00 pada ekstrak secara kualitatif. Uji fitokimia dilaku-
kan terhadap ekstrak etil asetat fungi endofit isolat
13 24,5 14,00 12,85 0,00
DC-1 disebabkan ekstrak menunjukkan zona ham-
14 24,7 21,00 18,75 0,00 bat yang besar (penghambatan kuat). Lempeng
15 25,30 14,50 14,50 0,00 KLT dielusi dengan campuran heksan : etil asetat
(1:5). Noda aktif divisualisasikan di bawah sinar
16 25,00 13,5 13,50 0,00
UV 254 dan 366 nm dan penyemprotan H2SO4
17 21,00 15,0 14,00 0,00 serta beberapa pereaksi semprot.
18 20,50 17,5 11,25 0,00 Uji dengan pereaksi Liebermann-Bucchard
menunjukkan adanya noda berwarna hijau muda,
noda tersebut kemungkinan adalah senyawa
Ekstraksi Metabolit Sekunder Fungi Endofit
terpenoid (40,41).
Pereaksi Mayer adalah pereaksi yang
Sebelum uji aktivitas antimikroba, terlebih
khas untuk senyawa golongan alkaloid yang me-
dahulu dilakukan proses ekstraksi senyawa meta-
nunjukkan adanya noda berwarna putih kekuning-
bolit dengan tujuan untuk memecah sel sehingga
an yang diduga adalah senyawa golongan alkaloid
senyawa metabolit berdifusi ke pelarut. Ekstraksi
(22,41).
metabolit sekunder fungi endofit isolat DC-1
Hasil penyemprotan dengan sitroborat
dilakukan pada media pertumbuhan mikroba di-
menunjukkan bahwa di dalam ekstral etil asetat
saring untuk memisahkan biomassa dan cairan
isolat tidak terdapat adanya noda yang berfluore-
fermentasi, ekstraksi dilakukan setelah hari kelima
sensi kuning hijau di bawah sinar UV 366 nm
fermentasi. Cairan fermentasi diekstraksi 2 kali
sehingga ekstrak etil asetat isolat tidak terdapat
dengan pelarut etil asetat (1:1 v/v) dalam corong
senyawa flavonoid (22).
pisah selama 20 menit. Ekstrak yang diperoleh
Hasil penyemprotan dengan larutan FeCl3
diuapkan lalu disimpan pada desikator. Ekstrak
menunjukkan bahwa di dalam ekstrak etil asetat
yang diperoleh yaitu sebanyak 58 mg. Ekstrak
isolat tidak terdapat senyawa fenolik. Hal ini ter-
yang diperoleh diuji aktivitas antimikroba terhadap
bukti dengan tidak ditemukannya noda hasil elusi
mikroba uji dengan metode difusi agar sebanyak
sampel yang berwarna ungu kecoklatan sebagai
10µl dengan menggunakan paper disc. Metode
hasil reaksi antara ion feri dengan gugus hidroksi
difusi agar memiliki kelebihan yaitu sederhana
fenolik (40,41).
untuk dilakukan dan dapat digunakan untuk meli-
Selanjutnya ekstrak etil asetat diuji dengan
hat sensitivitas berbagai jenis mikroba terhadap
metode perendaman atau bioautografi agar-over-
antimikroba pada konsentrasi tertentu (39). Hasil
lay. Agar-overlay adalah penggabungan antara
pengujian ekstrak fungi endofit isolat DC-1
bioautografi kontak dan bioautografi langsung.
memberikan penghambatan pada Eschericia coli
Antimikroba ditransfer dari pelat TLC ke lapisan
(29,5 mm), Pseudomonas aeruginosa (19,00 mm)
agar seperti dalam uji kontak tetapi selama
dan Staphylococcus aureus (16,50 mm) diameter
inkubasi dan visualisasi lapisan agar tetap dalam
hambatan yang diperoleh menunjukkan >20 mm
plat seperti dalam bioautografi langsung (26). Hasil
(penghambatan kuat), tidak terdapat penghambat-
uji menunjukkan noda dengan Rf sebesar 0,54 cm
an terhadap Malasezzia furfur. Hal ini diduga di-
aktif terhadap Eschericia coli dengan diameter
pengaruhi oleh beberapa hal, seperti tingkat sen-
zona hambat sebesar 18,3mm, yang menunjukkan
sitivitas dari organisme uji, kecepatan difusi dari
penghambatan yang besar. (Gambar 5)
senyawa antibakteri dan konsentrasi senyawa
antibakteri (39) (tabel 4).
44 Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 17, No.2 – Juli 2013, hlm. 39 – 46 (ISSN : 1410-7031)

bal. Laboratorium Mikrobiologi dan Biotek-


nologi. Vol. II. Departemen Farmasi, FMIPA-
UI, Kampus UI Depok. 113 – 126. Departemen
Farmasi, FMIPA-UI, Kampus UI Depok 16424
Rf = Majalah Ilmu Kefarmasian, , No.3, Desember
0,54 2005, 113 – 126
cm 7. Syarmalina. 2008. Endofit dan Pelestarian
Alam. PT. ISFI Medisina Edisi 2/ vol 1/ April-
Juni 2007.
8. Nugroho, D. 2004. Eksplorasi Bakteri Endofit
Pada AkarTanaman Kentang Yang Berpotensi
Sebagai Antagonis Pseudomonas solanacea-
rum. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan
A a b
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.
9. Susilowati, D.N., Saraswati, R., dan Yuniarta,
Gambar 5. Uji KLT-Bioautografi fungi endofit Ekstrak E., Tanpa Tahun. Isolasi dan Seleksi Mikroba
Isolat DC-1 daun cabai katokkon. A = Uji KLT Bio- Diazotrof Endofitik dan Penghasil Zat Pemacu
autografi dengan metode Perendaman-agar Overlay. a = Tumbuh Pada Tanaman Padi Dan Jagung.
Penampakan noda dengan pereaksi Mayer. b = Penam- Prosiding Seminar Hasil Penelitian Rintisan
pakan noda dengan pereaksi Lieberman Burchard
Dan Bioteknologi Tanaman. Balai Penelitian
Bioteknologi Dan Sumberdaya Genetik
Pertanian.
KESIMPULAN
10. Brooks, G.F., Butel, S.J., dan Morse, S.A.
Mikrobiologi Kedokteran. Terjemahan oleh Ba-
Berdasarkan hasil penelitian yang telah gian Farmakologi FK-UNAIR. 2005. Penerbit
dilakukan maka dapat disimpulkan: Salemba Medika, Jakarta. 2001. Hal. 8, 224
1. Isolasi fungi endofit dari daun cabai katokkon
11. Campbell, N.A., Reece, J.B., and Mitchell,
(Capsicum annuum L. var. chinensis) diperoleh
L.G., Biologi. Ed 5 Jilid 2. Terjemahan oleh
2 isolat fungi yang diberi kode DC-1 dan DC-2. Wasmen Manalu. 2003. Penerbit Erlangga.
2. Fungi endofit isolat DC-1 merupakan isolat
Jakarta. 1999. Hal. 185,193,194
yang paling aktif. Hasil uji antimikroba menun-
12. Sakiyama, C.C.H., and Paula, E.M. 2001.
jukkan bahwa ekstrak fungi endofit isolat DC-1
Characterization of pectin lyase produced by
menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap
an endophytic strain isolated from coffe
Eschericia coli (29,50 mm), Staphylococcus
cherriesI. Letters of applied Microbiology. Vol.
aureus (16,50 mm), dan Pseudomonas aerugi-
33.
nosa (19,00 mm) yang menunjukkan diameter
13. Strobel, G., Daisy, B. And Castillo, U. 2004.
hambatan yang besar.
Natural Products from Endophytic microorgan-
3. Hasil Uji KLT-Bioautografi ekstrak fungi endofit isms, J. of Nat. Products,Vol. 67 no. 2
isolat DC-1 memiliki efek antibakteri terhadap 14. Worang, R.L. 2003 Fungi Endofit Sebagai
Eschericia coli (18,3 mm) dan diduga merupa- Penghasil Antibiotika. Makalah Individu.,
kan golongan senyawa terpenoid dan alkaloid.
Program Pascasarjana Institut Pertanian
Bogor. 2003. hal. 2
15. Sugijanto, N.E, Gunawan, I., dan Zaini, N.C.
DAFTAR PUSTAKA
2004. Isolasi dan Determinasi Berbagai Jamur
Endofit dari tanaman Aglaia elliptica, Aglaia
1. Tortoa, et al. 2001. Microbiology in eusideroxylon, Aglaia odorata, dan Aglaia odo-
Introduction. International Edition. Banjamin ratissima. Jurnal penelitian Medika Eksakta.
Cummings, Inc
Agustus 2004. Vol. 5 No. 2 hal. 131, 139
2. Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar 1.
16. Djide, M.N., Sartini, dan Kadir S. 1997,
Ed.5. Jakarta: Erlangga. Metode Instrumentasi Bioteknologi Farmasi,
3. Wiryanta. 2006. Bertanam Cabai pada Musim
Laboratorium Mikrobiologi Farmasi, Jurusan
Hujan. Tangerang: Agromedia .
Farmasi Fakultas MIPA, Universitas Hasanud-
4. Strobel, G.A. 1998. Endophytic Microbes
din, Makassar.
Embody Pharmaceautical Potensional.ASM
17. Ganiswara, G.S. Farmakologi dan Terapi.
News. 64:263-268.
Ed.4. FK-UI. Jakarta. hal. 571-573. 1995.
5. Tanaka, M., Sukiman, H., Takebayashi, M., 18. Wolf, F.A., and Wolf, F.T. 1969. The Fungi.
Saito, K., Suto, M., Prana, M.S., and Tomita, Hafner Publishing Company. New York. 1969.
F., 1999. Isolation, Screening and Phylogene-
pg 14-15
tic Identification of Endophytes from Plants in 19. Fardiaz, S.. 1988. Fisiologi Fermentasi. Lem-
Hokaido Japan and Java Indonesia. Microbes
baga sumber daya informasi – IPB. Bogor..
and Environment 14(4):237–241.
Hal. 79, 105-107
6. Radji, M. 2005. Peranan Bioteknologi dan Mik-
20. Stainer, R.Y. 1982. Dunia Mikrobiolgi I. Bhara-
roba Endofit dalam Pengembangan Obat Her-
ta Karya Aksara, Jakarta.
Herlina Rante, dkk, Isolasi Fungi Endofit Penghasil Senyawa Antimikroba Dari Daun Cabai Katokkon 45

21. Lay, B.W. 1994. Analisis Mikroba di Labora- 32. Prihatiningtias, W. Widyastuti, S.M, dan
torium. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Hal. Wahyuono, S. Tanpa tahun. Aktivitas Anti-
18-20, 56-59, 81-86 bakteri Fungi Endofit Thievalia Polygonoperda,
22. Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia: Pe- Isolat Dari Tumbuhan Akar Kuning (Fibraurea
nuntun cara modern menganalisis tumbuhan. Chloroleuca Miers). Universitas Gadjah Mada:
(K. Padmawinata, & I. Soediro, Trans.) Yogyakarta.
Bandung: ITB.1987 33. Soetarno, S, 1997. Antimicrobial Aktivities of
23. McNeil, B. and Harvey, L.M., 2008. Practical The Ethanol Extracts of Capsicum Fruits with
Fermentation Technology, 42, 70-90, 100-101, Different Levels of Pungency. JMS Vol. 2 No.
John Wiley & Son Ltd., England. 2. Oktober 1997. Hal 57-63.
24. Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. 34. Pandey, B., Ghimirel, P., and Agrawal, V.P.
Yogyakarta : Penerbit Andi. 2004. Studies on the antibacterial activity of
25. Gandjar, I.G. 2009. Kimia Farmasi Analisis.. theactinomycetes isolated from the Kumbu
Jogjakarta : Pustaka Pelajar. Hal 328, 353. region of Nepal. Brazi J. Mic, 67 (4), 24-31.
26. LCGC chromatographyonline.com. The Use of 35. Rante, H., Wahyono, S., Murti, Y.B. dan Alam,
Thin-Layer Chromatography with Direct G. 2010. Purifikasi dan Karakterisasi Senyawa
Bioautography for Antimicrobial Analysis [serial Anti-Bakteri dari Actinomycetes Asosiasi
on the internet]. 2012 [dikutip 5 November Spons Terhadap Bakteri Patogen Resisten.
2012]; Available from: Majalah Farmasi Indonesia, 21(3), 158-165.
http://www.chromatographyonline.com/lcgc/Fe 36. Daud, N.H., Jayaraman, S., Mohamed, R.
atures/The-Use-of-Thin-Layer- 2012. An improved surface sterilization
Chromatography-with- technique for introducing leaf, nodal and seed
DirectArticleStandard/Article/detail/177453 explants of Aquilaria malaccensis from field
27. Pelczar, M.J. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. sources into tissue culture. AssPPaacc JJ..
Terjemahan Hadioetomo. UI-Press. Jakarta. MMooll.. BBiiool.l .B Bioitoetcehcnhonl. Vol. 20
28. Fardiaz. S. 1993. Analisa Mikroba Pangan. (2) : 55-58. 2012
Raga Medika. Jakarta. 37. Pratiwi, S.T., 2008, Mikrobiologi Farmasi,
29. Holt, J.G. 1994. Bergey’s Manual of Determi- Erlangga, Jakarta.
native Bacteriology. 9th Ed.. The Williams & 38. Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Lingkungan.
Wilkins Company. Baltimore. Maryland 21202 Universitas Muhammadiyah Malang Press.
United States of America. Malang.
30. Inamandar, A.C., and Paliit, A. 2003. The 39. Mawaddah, R. 2008. Kajian Hasil Riset Poten-
Genus Malassezia and human disease. Indian si Antimikroba Alami dan Aplikasinya dalam
J.Dermatol Venereol Leprol (serial on the Bahan Pangan. Pusat Informasi Teknologi
internet) (dikutip 8 april2013);69:265- Pertanian Fateta IPB. Fakultas Teknologi
70.Available from : Pertanian institute Pertanian Bogor.
http://www.ijdvl.com/text.asp?2003%2F69%2F 40. Marlinda, M., Sangi, M.S., dan Wuntu, A.D.
4%2F265%2F4990 2012. Analisis Senyawa Metabolit Sekunder
31. Peterson, S.W., Vega, F.E., Posada, F., and Dan Uji Toksisitas Ekstrak Etanol Biji Buah
Nagai, C., 2005. Penicillium coffeae, a new Alpukat (Persea Americana Mill.). Jurnal Mipa
endophytic species isolated from a coffee plant Unsrat Online 1 (1). Hal. 24-29
and its phylogenetic relationship to P. 41. Purwanto. 2011. Isolasi dan Identifikasi Senya-
fellutanum and P. brocae based on parsimony wa Penghambat Polimerisasi Hem Dari Fungi
analysis of multilocus DNA sequences, Endofit Tanaman Artemisia Annua L. Tesis,
Mycologia, 97 (3), 659-666. Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta. Hal. 88-90, 155-156
46 Majalah Farmasi dan Farmakologi, Vol. 17, No.2 – Juli 2013, hlm. 39 – 46 (ISSN : 1410-7031)