Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Aparatur Sipil Negara (ASN) merupakan salah satu faktor pendukung


dalam penyelenggaraan pemerintahan. ASN memiliki fungsi sebagai
pelaksana kebijakan,pelayan publik,serta perekat dan pemersatu bangsa.
ASN yang berkualitas sebagai pelaksana kebijakan menjadi faktor pendukung
penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih.Tugas seorang ASN
yang tidak kalah penting adalah sebagai pelayan publik,pelayanan ini meliputi
banyak hal,baik dalam bidang administrasi negara
,sosial,kesehatan,pendidikan,dan sebagainya.Setiap ruang lingkup pelayanan
tersebut memiliki unit pelaksanaan terpadu, mulai dari unit terkecil hingga unit
terbesar dalam lingkup nasional.
Dalam bidang pendidikan seorang ASN memiliki tanggung jawab yang
cukup besar dalam mencapai salah satu tujuan nasional yang tercantum
dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk itulah kita
sebagai ASN yang bekerja dalam lingkup pendidikan perlu dibangun karakter
ASN yang memiliki integritas,profesional,netral dan bebas dari intervensi
politik,bersih dari praktek KKN,serta mampu menyelenggarakan pelayanan
publik bagi masyarakat dan mampu menjalankan peran sebagai unsur
perekat persatuan dan kesatuan bangsa berdasarkan Pancasila dan Undang-
Undang 1945.
Berdasarkan UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen menerangkan
bahwa terdapat empat kompetensi guru salah satunya yaitu kompetensi
pedagogik. Salah satu bagian dari kompetensi pedagogik yaitu guru dituntut
dapat merancang pembelajaran termasuk memahami landasan Pendidikan,
menerapkan teori belajar dan pembelajaran, menentukan strategi
pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin
dicapai, dan materi ajar, serta menyusun rancangan pembelajaran
berdasarkan strategi yang dipilih.
Pembelajaran MATEMATIKA di Sekolah Dasar merupakan salah satu ilmu
yang mendasari semua mata pelajaran yang ada di semua Sekolah

1
Dasar,sehingga diperlukan penguasaan yang kuat sejak dini.Tetapi dalam
prakteknya matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit,menyeramkan
dan membosankan,sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa masih
rendah.
Seiring dengan perkembangan zaman, proses pembelajaran yang hanya
menggunakan metode ceramah yang juga mempengaruhi minat belajar bagi
siswa yang membuat siswa bosan dan jenuh, membuat kurang aktifnya siswa
dalam kegiatan belajar dikelas tetapi jika menggunakan media dan model
sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk menciptakan
pembelajaran yang efisien dan efektif (Asyhar, 2012:8). Pemberian motivasi
dan reward dalam pembelajaran TAKALINTAR merupakan pembelajaran
yang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,sehingga hasil
belajar siswa meningkat.

1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan rancangan aktualisasi ini yaitu :
1. Sebagai dasar melakukan aktualisasi nilai-nilai dasar
akuntabilitas,naionalisme, etika publik, komitmen mutu dan anti korupsi
dalam proses pembelajaran supaya proses pembelajaran menjadi lebih
terarah.
2. Siswa lebih focus dalam pembelajaran dan sesuai dengan visi misi
sekolah

1.2.1. MANFAAT
Manfaat dari kegiatan ini adalah:
1. Bagi guru, dapat menjadi acuan dalam rencana pembelajaran sehingga
tercipta suasana yang menyenangkan dalam KBM
2. Bagi siswa, dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
3. Bagi sekolah, untuk meningkatkan kualitas pengajaran disekolah dan sebagai
pertimbangan dalam memotivasi guru untuk melaksanakan proses
pembelajaran yang efektif dan efisien dengan menerapkan model
pembelajaran yang inovatif.

2
Penulisan ini dibatasi pada kegiatan yang mengandung nilai-nilai dasar
profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS) yaitu akuntabilitas, nasionalisme, etika
publik, komitmen mutu, dan anti korupsi.

BAB II

NILAI –NILAI DASAR ANEKA DAN KEDUDUKAN PERAN PNS


DALAM NKRI

2.1. Nilai – nilai Dasar ANEKA

A. Landasan Teori

Pemahaman Nilai-Nilai Dasar PNS besar perannya dalam rangka mewujudkan


PNS yang bekerja secara profesional, efektif dan efisien. Pemahaman ini adalah
langkah awal dari internalisasi dan habituasi nilai-nilai dasar PNS dalam
menjalankan fungsi jabatannya bukan hanya ketika dalam masa pelatihan dasar,
tetapi diharapkan dapat terus dilaksanakan hingga berakhir masa kerja seorang
PNS. Berdasarkan dari kelima nilai dasar ANEKA yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme,
Etika publik, Komitmen mutu dan Anti korupsi yang harus di tanamkan kepada setiap
ASN, maka perlu di ketahui indikator-indikator dari kelima nilai dasar tersebut yaitu:

A. AKUNTABILITAS
Akuntabilitas sering disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab.
Namun pada dasarnya, kedua konsep itu memiliki makna yang
berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab.
Akuntabilitas adalah suatu kewajiban pertanggungjawaban yang harus
dicapai sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang
harus dicapai.
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi
untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.

Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama ( Bovens, 2007), yaitu


untuk menyediakan kontrol demokratis ( peran demokratis ); untuk mencegah
korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran konstitusional ); dan untuk

3
meningkatkan efisiensi dan efektivitas ( peran belajar ).Akuntabilitas publik
terdiri dari dua macam, yaitu : akuntabilitas vertikal ( pertanggungjawaban
kepada otoritas yang lebih tinggi ) dan akuntabilitas horisontal
(pertanggungjawaban pada masyarakat luas). Untuk memenuhi terwujudnya
organisasi sektor publik yang akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus
mengandung dimensi akuntabilitas kejujuran dan hukum, akuntabilitas
proses, akuntabilitas program, dan akuntabilitas kebijakan.
Akuntabilitas tidak akan terwujud apabila tidak ada alat akuntabilitas
berupa : Perencanaan Strategis, Kontrak Kinerja, dan Laporan Kinerja.

Dalam menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel, ada beberapa


indikator dari nilai-nilai dasar akuntabilitas yang harus diperhatikan, yaitu :

1) Kepemimpinan : Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke


bawah dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya.
2) Transparansi : Keterbukaan atas semua tindakan dan kebijakan yang
dilakukan oleh individu maupun kelompok/instansi.
3) Integritas : adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak
tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan.
4) Tanggung Jawab : adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau
perbuatannya yang di sengaja maupun yang tidak di
sengaja.tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajiban.
5) Keadilan : adalah kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai
sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang.
6) Kepercayaan : Rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan. Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
7) Keseimbangan : Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan
kerja, maka diperlukan keseimbangan antara akuntabilitas dan
kewenangan, serta harapan dan kapasitas.
8) Kejelasan : Pelaksanaan wewenang dan tanggungjawab harus
memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan
hasil yang diharapkan.

4
9) Konsistensi : adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan
sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir.

B. Nasionalisme

Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai


ASN.Bahkan tidak hanya sekedar wawasan saja tetapi kemampuan
mengaktualisasikan nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya
merupakan hal yang lebih penting.Diharapkan dengan nasionalisme yang
kuat, maka setiap pegawai ASN memiliki orientasi berpikir mementingkan
kepentingan publik, bangsa, dan negara.Nilai-nilai yang berorientasi pada
kepentingan publik menjadi nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap
pegawai ASN.Pegawai ASN dapat mempelajari bagaimana aktualisasi sila
demi sila dalam Pancasila agar memiliki karakter yang kuat dengan
nasionalisme dan wawasan kebangsaannya.
Nasionalisme dalam arti sempit merupakan sikap yang meninggikan
bangsanya sendiri, sekaligus tidak menghargai bangsa lain sebagaimana
mestinya. Dalam arti luas, nasionalisme berarti pandangan tentang rasa
cinta yang wajar terhadap bangsa dan negara, sekaligus menghormati
bangsa lain. Nasionalisme Pancasila merupakan pandangan atau paham
kecintaan manusia Indonesia terhadap bangsa dan tanah airnya yang
didasarkan pada nilai-nilai Pancasila. Ada lima indikator dari nilai-nilai dasar
nasionalisme yang harus diperhatikan, yaitu :
1) Sila pertama : Ketuhanan Yang Maha EsaKetuhanan YME menjadikan
Indonesia bukan sebagai negara sekuler yang membatasi agama
dalam ruang privat. Pancasila justru mendorong nilai-nilai ketuhanan
mendasari kehidupan masyarakat dan berpolitik. Nilai-nilai ketuhanan
yang dikehendaki Pancasila adalah nilai-nilai ketuhanan yang positif,
yang digali dari nilai-nilai keagamaan yang terbuka (inklusif),
membebaskan dan menjunjung tinggi keadilan dan persaudaraan.
Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan diharapkan bisa
memperkuat pembentukan karakter dan kepribadian, melahirkan etos
kerja yang positif, dan memiliki kepercayaan diri untuk

5
mengembangkan potensi diri dan kekayaan alam yang diberikan
Tuhan untuk kemakmuran masyarakat.

2) Sila kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Sila kedua memiliki
konsekuensi ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti menjadi pedoman
negara dalam memuliakan nilai-nilai kemanusiaan dan hak asasi
manusia. Ini berarti negara menjalankan fungsi “melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa

3) Sila ketiga: Persatuan Indonesia Semangat kebangsaan adalah


mengakui manusia dalam keragaman dan terbagi dalam golongan-
golongan. Keberadaan bangsa Indonesia terjadi karena memiliki satu
nyawa, satu asal akal yang tumbuh dalam jiwa rakyat sebelumnya,
yang menjalani satu kesatuan riwayat, yang membangkitkan persatuan
karakter dan kehendak untuk hidup bersama dalam suatu wilayah
geopolitik nyata.Selain kehendak hidup bersama,keberasaan bangsa
Indonesia juga didukung oleh semangat gotong royong. Dengan
kegotong royongan itulah, Indonesia harus mampu melindungi
segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, bukan membela atau
mendiamkan suatu unsur masyarakat atau bagian tertentu dari
territorial Indonesia.
Tujuan nasionalisme yang mau didasari dari semangat gotong royong
yaitu ke dalam dan ke luar. Ke dalam berarti kemajemukan dan
keanekaragaman budaya, suku, etnis, agama yang mewarnai
kebangsaan Indonesia, tidak boleh dipandang sebagai hal negatif dan
menjadi ancaman yang bisa saling menegasikan. Sebaliknya, hal itu
perlu disikapi secara positif sebagai limpahan karunia yang bisa saling
memperkaya khazanah budaya dan pengetahuan melalui proses
penyerbukan budaya. Ke luar berarti memuliakan kemanusiaan
universal, dengan menjunjung tinggi persaudaraan, perdamaian dan
keadilan antar umat manusia.
4) Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan / Perwakilan Demokrasi permusyawaratan
mempunyai dua fungsi. Fungsi pertama , badan
6
permusyawaratan/perwakilan bisa menjadi ajang memperjuangkan
asprasi beragam golongan yang ada di masyarakat. Fungsi kedua,
semangat permusyawaratan bisa menguatkan negara persatuan,
bukan negara untuk satu golongan atau perorangan.
Permusyawaratan dengan landasan kekeluargaan dan hikmat
kebijaksanaan diharapkan bisa mencapai kesepakatan yang
membawa kebaikan bagi semua pihak.
Abraham Lincoln mendefinisikan demokrasi sebagai “pemerintahan
dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Ada tiga prasyarat dalam
pemerintahan yang demokratis, yaitu : (1) kekuasaan pemerintah
berasal dari rakyat yang diperintah; (2) kekuasaan itu harus dibatasi;
dan (3) pemerintah harus berdaulat, artinya harus cukup kuat untuk
dapat menjalankan pemerintahan secara efektif dan efisien.
Secara garis besar, terdapat dua model demokrasi, yaitu : majoritarian
democracy (demokrasi yang lebih mengutamakan suara mayoritas)
dan consensus democracy ( demokrasi yang mengutamakan
konsensus atau musyawarah). Oleh karena itu, pilihan demokrasi
konsensus berupa demokrasi permusyawaratan merupakan pilihan
yang bisa membawa kemaslahatan bagi bangsa Indonesia.

5) Sila kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh rakyat Indonesia


Dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, para pendiri bangsa
menyatakan bahwa Negara merupakan organisasi masyarakat yang
bertujuan menyelenggarakan keadilan. Keadilan sosial juga
merupakan perwujudan imperative etis dari amanat pancasila dan
UUD 1945. Peran negara dalam mewujudkan rasa keadilan sosial,
antara lain : (a) perwujudan relasi yang adil di semua tingkat sistem
kemasyarakatan; (b) pengembangan struktur yang menyediakan
kesetaraan kesempatan; (c) proses fasilitasi akses atas informasi,
layanan dan sumber daya yang diperlukan; dan (d) dukungan atas
partisipasi bermakna atas pengambilan keputusan bagi semua orang.

C. ETIKA PUBLIK

7
atau etos individu/kelompok berdasarkan nilai-nilai dan norma-norma luhur
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip
dalam bentuk ketentuan tertulis. Kode etik profesi dimaksudkan untuk
mengatur tingkah laku / etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat dipegang
teguh oleh sekelompok profesional tertentu.
Berdasarkan UU ASN, kode etik dan kode perilaku ASN adalah :
1) Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab dan
berintegritas

2) Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin.

3) Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan.

4) Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan yang


berlaku.

5) Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau pejabat


yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan.

6) Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara.

7) Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara


bertanggung jawab, efektif dan efisien.

8) Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan


tugasnya.

9) Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada


pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan.

10) Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,


kekuasaan dan jabtannya untuk mendapat atau mencari keuntungan
atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain.

11) Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan
integritas ASN.

8
12) Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai
disiplin pegawai ASN.

Nilai-nilai dasar etika publik sebagaimana tercantum dalam undang-


undang ASN, memiliki indicator sebagai berikut :
1) Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila.

2) Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar Negara


Kesatuan Republik Indonesia 1945.

3) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak.

4) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian.

5) Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif.

6) Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur.

7) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik.

8) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program


pemerintah.

9) Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,


tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna, dan santun.

10) Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi.

11) Menghargai komunikasi, konsultasi, dan kerjasama.

12) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai.

13) Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan.

14) Meningkatkan efektivitas sistem pemerintahan yang demokratis


sebagai perangkat sistem karir.

D. KOMITMEN MUTU

Komitmen mutu adalah janji pada diri kita sendiri atau pada orang lain
yang tercermin dalam tindakan kita untuk menjaga mutu kinerja pegawai.
Bidang apapun yang menjadi tanggung jawab pegawai negeri sipil

9
semua mesti dilaksanakan secara optimal agar dapat memberi kepuasan
kepada stakeholder.Komitmen mutu merupakan tindakan untuk
menghargai efektivitas, efisiensi, inovasi dan kinerja yang berorientasi
mutu dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. Ada
empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen mutu yang harus
diperhatikan yaitu :
1) Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan
target. Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat ketercapaian
target yang telah direncanakan, baik menyangkut jumlah maupun
mutu hasil kerja. Efektifitas organisasi tidak hanya diukur dari
performans untuk mencapai target (rencana) mutu, kuantitas,
ketepatan waktu dan alokasi sumber daya, melainkan juga diukur
dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan.

2) Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan
efisiensi merupakan tingkat ketepatan realiasi penggunaan
sumberdaya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga
dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber daya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan mekanisme
yang ke luar alur.

3) Inovasi
Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang
konstruktif, sehingga akan memotivasi setiap individu untuk
membangun karakter sebagai aparatur yang diwujudkan dalam
bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda dari
sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan
tugas rutin.

4) Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan produk,
jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau bahkan

10
melebihi harapan konsumen. Mutu mencerminkan nilai
keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan sesuai
dengan kebutuhan dan keinginannya, bahkan melampaui
harapannya. Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi
dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu menjadi salah
satu alat vital untuk mempertahankan keberlanjutan organisasi
dan menjaga kredibilitas institusi.
Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan pelanggan dalam
mengevaluasi kualitas pelayan (Berry dan Pasuraman dalam
Zulian Zamit, 2010:11), yaitu :

a) Tangibles (bukti langsung), yaitu : meliputi fasilitas fisik,


perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;

b) Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam


memberikan pelayanan dengan segera dan memuaskan
serta sesuai dengan yang telah dijanjikan;

c) Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk


memberikan pelayanan dengan tanggap;

d) Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan,


kesopanan, dan sifat dapat dipercaya.

e) Empaty, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan,


komunikasi yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap
kebutuhan pelanggan.

E. ANTI KORUPSI

Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya
kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi sering dikatakan
sebagai kejahatan luar biasa, karena dampaknya yang luar biasa,
menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga,
masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.Kerusakan tidak hanya terjadi
dalam kurun waktu yang pendek, namun dapat berdampak secara
jangka panjang.

11
Ada 9 (sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi yang harus
diperhatikan, yaitu :
1) Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama
bagi penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya kejujuran
mustahil seseorang bisa menjadi pribadi yang berintegritas.
Seseorang dituntut untuk bisa berkata jujur dan transparan serta
tidak berdusta baik terhadap diri sendiri maupun orang lain,
sehingga dapat membentengi diri terhadap godaan untuk berbuat
curang.

2) Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang memiliki
sifat kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial tinggi akan
memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana masih terdapat
banyak orang yang tidak mampu, menderita, dan membutuhkan
uluran tangan. Pribadi dengan jiwa sosial tidak akan tergoda untuk
memperkaya diri sendiri dengan cara yang tidak benar tetapi ia
malah berupaya untuk menyisihkan sebagian penghasilannya
untuk membantu sesama.

3) Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri seseorang
menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain.
Mentalitas kemandirian yang dimiliki seseorang
memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya pikirnya guna
bekerja secara efektif. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin
hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab demi
mencapai keuntungan sesaat.

4) Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan
konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat
seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam
menjalani tugasnya. Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan

12
kebenaran menjadi pegangan utama dalam bekerja. Seseorang
yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan tidak
akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan kekayaan
dengan cara yang mudah.

5) Tanggung jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan menyadari
bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah untuk melakukan
perbuatan baik demi kemaslahatan sesama manusia. Segala
tindak tanduk dan kegiatan yang dilakukannya akan
dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan kesadaran
seperti ini maka seseorang tidak akan tergelincir dalam perbuatan
tercela dan nista.

6) Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan kualitas
hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik yang
sebesar-besarnya. Ia mencurahkan daya pikir dan
kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan berkarya dengan
sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu tanpa
mengeluarkan keringat.

7) Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi kebutuhannya
dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan. Ia tidak tergoda untuk
hidup dalam gelimang kemewahan. Kekayaan utama yang
menjadi modal kehidupannya adalah ilmu pengetahuan. Ia sadar
bahwa mengejar harta tidak akan pernah ada habisnya karena
hawa nafsu keserakahan akan selalu memacu untuk mencari
harta sebanyak-banyaknya.

8) Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki keberanian
untuk menyatakan kebenaran dan menolak kebathilan. Ia tidak

13
akan mentolerir adanya penyimpangan dan berani menyatakan
penyangkalan secara tegas. Ia juga berani berdiri sendirian dalam
kebenaran walaupun semua kolega dan teman-teman sejawatnya
melakukan perbuatan yang menyimpang dari hal yang
semestinya. Ia tidak takut dimusuhi dan tidak memiliki teman
kalau ternyata mereka mengajak kepada hal-hal yang
menyimpang.

9) Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa
yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan
menuntut untukmendapatkan lebih dari apa yang ia sudah
upayakan. Bila ia seorang pimpinan maka ia akan memberi
kompensasi yang adil kepada bawahannya sesuai dengan
kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran
bagi masyarakat dan bangsanya.

2.2 Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


a. Manajemen ASN

Manejemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai


ASN yang profesional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari
intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan
nepotisme.Manajemen ASN lebih menekankan kepada pengaturan profesi
pegawai sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya ASN yang
unggul selaras dengan perkembangan jaman.
1. Kedudukan ASN
Kedudukan atau status jabatan PNS dalam sistem birokrasi selama ini
dianggap belum sempurna untuk menciptakan birokrasi yang
profesional.Untuk dapat membangun profesionalitas birokrasi, maka
konsep yang dibangun dalam UU ASN tersebut harus jelas. Berikut
beberapa konsep yang ada dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN :
a. Berdasarkan jenisnya, pegawai ASN terdiri atas Pegawai Negeri Sipil
(PNS) dan

14
Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).PNS merupakan
warga negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat
sebagai pegawai ASN secara tetap oleh pejabat pembina
kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan, memiliki nomor
induk pegawai secara nasional.Sedangkan P3K adalah warga negara
Indonesia yang memnuhi syarat tertentu, yang diangkat oleh pejabat
pembina kepegawaian berdasarkan perjanjian kerja sesuai dengan
kebutuhan instansi pemerintah untuk jangka waktu tertentu dalam
rangka melaksanakan tugas pemerintahan.
b. Pegawai ASN berkedudukan sebagai apartur negara yang
menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi
pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua
golongan dan partai politik. Pegawai ASN dilarang menjadi anggota
dan/atau pengurus partai politik. Selain itu untuk menjauhkan birokrasi
dari pengaruh partai politik, hai ini dimaksudkan untuk menjamin
keutuhan, kekompakan dan persatuan ASN, serta dapat memusatkan
segala perhatian, pikiran dan tenaga pada tugasyang dibebankan
kepadanya. Oleh karena itu dalam pembinaan karir pegawai ASN.
khususnya di daerah dilakukan oleh pejabat berwenang yaitu pejabat
karir tertinggi. Kedudukan ASN berada di pusat, daerah dan luar
negeri. Namun demikian pegawai ASN merupakan kesatuan.
Kesatuan bagi pegawai ASN sangat penting, mengingat dengan
adanya desentralisasi dan otonomi daerah, sering terjadinya isu putra
daerah yang hampir ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk
memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas.
Pelayanan publik merupakan kegiatan dalam terjadi dimana-mana
sehingga perkembangan birokrasi menjadi stagnan di daerah-daerah.
Kondisi tersebut merupakan ancaman bagi kesatuan bangsa.

2. Peran ASN
Untuk menjalankan kedudukan pegawai ASN, maka pegawai ASN berfungsi
dan bertugas sebagai berikut:
a. Pelaksana kebijakan public

15
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk melaksanakan kebijakan
yang dibuat oleh pejabat pembina kepegawaian sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk itu ASN harus
mengutamakan kepentingan publik dan masyarakat luas dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya, serta harus mengutamakan
pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik
b. Pelayan publik
Dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang, jasa dan/atau pelayanan administratif yang diselenggarakan
oleh penyelenggara pelayanan publik dengan tujuan kepuasan
pelanggan.
c. Perekat dan pemersatu bangsa
ASN berfungsi, bertugas dan berperan untuk mempererat persatuan
dan kesatuan NKRI.ASN senantiasa setia dan taat sepenuhnya
kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah.ASN senantiasa
menjunjung tinggi martabat ASN serta senantiasa mengutamakan
kepentingan negara daripada kepentingan diri sendiri, seseorang dan
golongan.Dalam UU ASN disebutkan bahwa dalam penyelengaraan
dan kebijakan manajemen ASN, salah satu diantaranya asas
persatuan dan kesatuan.
3. Hak dan Kewajiban ASN
Hak adalah suatu kewenangan atau kekuasaan yang diberikan oleh hukum,
suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum, baik pribadi maupun
umum.Dapat diartikan bahwa hak adalah sesuatu yang patut atau layak
diterima. Agar melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik ,
dapat meningkatkan produktivitas, menjamin kesejateraan ASN dan
akuntabel, maka setiap ASN diberikan hak. Hak ASN dan P3K yang diatur
dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN sebagai berikut:
PNS berhak memperoleh:
1. gaji, tunjangan, dan fasilitas;

2. cuti;

3. jaminan pensiun dan jaminan hari tua;


16
4. perlindungan; dan

5. pengembangan kompetensi.

P3K berhak memperoleh:


1. gaji dan tunjangan;
2. cuti;
3. perlindungan; dan
4. pengembangan kompetensi.
Selain hak sebagaimana disebutkan di atas, berdasarkan pasal 70 UU No.
5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa setiap pegawai ASN memiliki
hak dan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi. Berdasarkan Pasal
92 pemerintah juga wajib memberikan perlindungan berupa:
1. Jaminan kesehatan;
2. Jaminan kecelakaan kerja;
3. Jaminan kematian;
4. Bantuan hukum.
Sedangkan kewajiban adalah suatu beban atau tanggungan yang bersifat
kontraktual. Dengan kata lain kewajiban adalah suatu yang sepatutnya
diberikan. Pegawai ASN berdasarkan UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN
wajib:
a. setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan
pemerintah yang sah;
b. menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
c. melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah yang
berwenang;
d. menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian, kejujuran,
kesadaran, dan tanggung jawab;

17
f. menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan
dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar
kedinasan;
g. menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan rahasia
jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
h. bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

4. Kode Etik dan Kode Perilaku ASN


Dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang ASN disebutkan bahwa ASN sebagai
profesi berlandaskan pada kode etik dan kode perilaku.Kode etik dan kode
perilaku ASN bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan ASN.Kode
etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku agar pegawai ASN.
1. melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
2. melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
3. melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
4. melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
5. melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau Pejabat
yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan dan etika pemerintahan;
6. menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan;
7. menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung
jawab, efektif, dan efisien;
8. menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam melaksanakan
tugasnya;
9. memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada
pihak lain yang memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
10. tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan
atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
18
11. memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan

integritas ASN; dan


12. melaksanakan ketentuan peraturan perundangundangan mengenai
disiplin Pegawai ASN.

B. Whole of Government (WoG)


1. Pengertian Whole of Government (WoG)

Berdasarkan interpretasi analitis dan manifestasi empiris di lapangan


maka WoG didefinisikan sebagai “suatu model pendekatan integratif
fungsional satu atap” yang digunakan untuk mengatasi wicked problems
yang sulit dipecahkan dan diatasi karena berbagai karakteristik atau keadaan
yang melekat antara lain: tidak jelas sebabnya, multi dimensi, menyangkut
perubahan perilaku. Sesuai dengan karakteristik wicked problems, maka
model pendekatan WoG mempunyai perspektif tertentu sebagaimana yang
diilustrasikan pada Gambar 3.1. di bawah ini

Gambar 3.1.
Perspektif Whole of Government (WoG) dalam kebijakan publik

2. Penerapan Whole of Government (WoG) dalam pelayanan terintegrasi

a. Praktek Whole of Government (WoG)

19
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan, baik dari
sisi penataan institusi formal maupun informal. Cara-cara ini pernah
dipraktikkan oleh beberapa negara, termasuk Indonesia dalam level-level
tertentu.
1. Penguatan koordinasi antar lembaga
Penguatan koordinasi dapat dilakukan jika jumlah lembaga-lembaga
yang dikoordinasikan masih terjangkau dan manageable. Dalam
prakteknya, span of control atau rentang kendali yang rasional akan
sangat terbatas. Salah satu alternatifnya adalah mengurangi jumlah
lembaga yang ada sampai mendekati jumlah yang ideal untuk sebuah
koordinasi.Dengan jumlah lembaga yang rasional, maka koordinasi
dapat dilakukan lebih mudah.
2. Membentuk lembaga koordinasi khusus
Pembentukan lembaga terpisah dan permanen yang bertugas dalam
mengkoordinasikan sektor atau kementrian adalah salah satu cara
melakukan WoG. Lembaga koordinasi ini biasanya diberikan status
lembaga setingkat lebih tinggi, atau setidaknya setara dengan
kelembagaan yang dikoordinasikan.
3. Membangun gugus tugas
Gugus tugas merupakan bentuk pelembagaan koordinasi yang
dilakukan di luar struktur formal, yang setidaknya tidak permanen.
Pembentukan gugus tugas biasanya menjadi salah satu cara agar
sumber daya yang terlibat dalam koordinasi tersebut dicabut sementara
dari lingkungan formalnya untuk berkonsentrasi dalam proses koordnasi
tadi.
4. Koalisi sosial
Koalisi sosial merupakan bentuk informal dari penyatuan koordinasi
antar sektor atau lembaga,tanpa perlu mebentuk pelembagaan khusus
dalam koordinasi.
b. Tantangan dalam praktek Whole of Government (WoG)
Tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan WoG di tataran praktek
sebagai berikut:
1. Kapasitas SDM dan institusi

20
Kapasitas SDM dan institusi-institusi yang terlibat dalam WoG tidaklah
sama. Perbedaan kapasitas ini bisa menjadi kendala serius ketika
pendekatan WoG, misalnya mendorong terjadinya merger atau akuisisi
kelembagaan, dimana terjadi penggabungan SDM dengan kualifikasi
yang berbeda
2. Nilai dan budaya organisasi

Nilai dan budaya organisasi menjadi kendala ketika terjadi upaya


kolaborasi sampi dengan kelembagaan.

3. Kepemimpinan

Kepemimpinan menjadi salah satu kunci penting dalam pelaksanaan


WoG.Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang
mampu mengakomodasi perubahan nilai dan budaya organisasi serta
memperbaiki SDM yang tersedia guna mencapai tujuan yang
diharapkan.

3. Praktek Whole of Government (WoG) dalam pelayanan publik


praktek WoG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan seluruh
sektor yang terkait dengan pelayanan publik. Jenis pelayanan publik yang
dikenail dapat didekati oleh pendekatan WoG sebagai berikut:
1. Pelayanan yang bersifat administratif, yaitu pelayanan publik yang
menghasilkan berbagai produk dokumen resmi yang dibutuhkan warga
masyarakat. Dokumen yang dihasilkan bisa meliputi KTP, status
kewarganegaraan, status usaha, surat kepemilikan, atau penguasaan
atas barang, termasuk dokumen-dokumen resmi seperti SIUP, izin trayek,
izin usaha, akta, sertifikat yanah dan lain-lain
2. Pelayanan jasa, yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai bentuk
jasa yang dibutuhkan warga masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan,
ketenagkerjaan, perhubungan dan lain-lain.
3. Pelayanan barang, yaitu pelayanan yang menghasilkan jenis barang yang
dibutuhkan warga masyarakat, seperti jalan, jembatan, perumahan,
jaringan telepon, listrik, air bersih, dan lain-lain.
21
4. Pelayanan regulatif, yaitu pelayanan melalui penegakan hukuman dan
peraturan perundang-undangan, maupun kebijakan publik yang mengatur
sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Adapun berdasarkan pola pelayanan publik, juga dapat dibedakan dalam
lima macam pola pelayanan sebagai berikut:
1. Pola pelayanan teknis fungsional, yaitu suatu pola pelayanan publik yang
diberikan oleh suatu instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas,
fungsi dan kewenangannya. Pelayanan merupakan pelayanan sektoral,
yang bisa jadi sifatnya hanya relevan dengan sektor itu, atau menyangkut
pelayanan di sektor lain. WoG dapat dilakukan manakala pola pelayanan
publik ini mempunyai karakter yang sama atau memiliki keterkaitan antar
satu sektor dengan yang lainnya.

2. Pola pelayanan satu atap, yaitu pola pelayanan yang dilakukan secara
terpadu pada suatu instansi pemerintah yang bersangkutan sesuai
kewenangan masing-masing. Pola ini memudahkan masyarakat
pengguna izin untuk mengurus permohonan izinnya, walaupun belum
mengurangi jumlah rantai birokrasi izinnya.

3. Pola pelayanan satu pintu, yaitu pola pelayanan yang dilakukan secara
tunggal oleh suatu unit kerja pemerintah berdasarkan pelimpahan
wewenang dari unit kerja pemerintah terkait lainnya yang bersangkutan.
Ini adalah salah satu bentuk kelembagaan WoG yang lebih utuh, dimana
pelayanan publik disatukan dalam satu unit pelayanan saja, dan rantai
izin sudah dipangkas menjadi satu saja.

4. Pola pelayanan terpusat, yaitu pola pelayanan yang dilakukan oleh suatu
instansi pemerintah yang bertindak selaku koordinator terhadap
pelayanan instansi pemerintah lainnya yang terkait dengan bidang
pelayanan masyarakat yang bersangkutan.

5. Pola pelayanan elektronik, yaitu pola pelayanan elektronik yang dilakukan


menggunakan teknologi infromasi dan komunikasi yang merupakan
otomasi dan otomatisasi pemberian layanan yang bersifat elektronik atau
daring (online) sehingga dapat menyesuaikan diri dengan keinginan dan
kapasitas masyarakat pengguna.

22
4. Nilai-nilai dasar Whole of Government
Praktek WOG dalam pelayanan publik dilakukan dengan menyatukan
seluruh sektor yang terkait dengan pelayanan publik berdasarkan nilai-nilai
dasar berikut ini.
1. Koordinasi

Kompleksitas lembaga membutuhkan koordinasi yang efektif dan efisien


antar lembaga dalam menjalankan kegiatan kelembagaan
2. Integrasi

Integrasi dilakukan dengan pembauran sebuah sistem antar lembaga


sehingga menjadi kesatuan yang utuh
3. Singkronisasi

Singkronisasi merupakan penyelarasan semua kegiatan/data yang


berasal dari berbagai sumber , dengan menyingkronkan seluruh sumber
tersebut
4. Simplifikasi

Simplikasi merupakan penyederhanaan segala sesuatu baik terkait


data/proses di suatu lembaga untuk mengefisienkan waktu, tenaga dan
biaya.
C. Pelayanan Publik
1. Konsep Pelayanan Publik

a. Pengertian Pelayanan Publik


berkaitan dengan pelayanan, ada dua istilah yang perlu diketahui, yaitu
melayani dan pelayanan. Pengertian melayani adalah membantu
menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang. Sedangkan
pengertian pelayanan adalah usaha rnelayani kebutuhan orang lain
(Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995).
Adapun menurut Keputusan MENPAN Nomor 63 tahun 2003, mengenai
pelayanan adalah sebagai berikut:
1. Pelayanan Publik adalah segala kegiatan pelayanan yang
dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya

23
pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

2. Penyelenggara adalah Pelayanan Publik adalah Instansi Pemerintah.

3. Instansi Pemerintah adalah sebutan kolektif meliputi satuan kerja


satuan organisasi Kementrian, Departemen, Kesekretariatan Lembaga
Tertinggi dan Tinggi Negara, dan instansi Pemerintah lainnya, baik
Pusat maupun Daerah termasuk Badan Usaha Milik Negara, Badan
Hukum Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah.

4. Unit Penyelenggara pelayanan publik adalah unit kerja pada instansi


Pemerintah yang secara langsung memberikan pelayanan kepada
penerima pelayanan publik.

5. Pemberi pelayanan publik adalah pejabat/pegawai instansi pemerintah


yang melaksanakan tugas dan fungsi pelayanan publik sesuai dengan
peraturan perundang- undangan.

6. Penerima pelayanan publik adalah orang, masyarakat, instansi


pemerintah dan badan hukum yang menerima pelayanan dari instansi
pemerintah.

Pelayanan merupakan suatu proses. Proses tersebut menghasilkan suatu


produk yang berupa pelayanan, kemudian diberikan kepada pelanggan.
Sebagai contoh adalah proses pelayanan surat masuk. Proses pelayanan
surat masuk adalah sebagai berikut:
1. surat diterima oleh seorang petugas.

2. surat disortir (dipisah-pisahkan).

3. surat diterima pencatat surat dan kemudian dicatat dalam

buku agenda atau kartu kendali.

4. Surat disampaikan ke pengarah surat.

5. Surat didistribusikan ke unit organisasi sesuai dengan alamat yang


tertulis dalam surat (sering di sebut dengan istilah "unit pengelola").

24
6. Surat diterima oleh unit pengolah.

Pelayanan dapat dibedakan menjadi 3 kelompok (Gonroos, 1990), yaitu :


1. Coreservice adalah pelayanan yang ditawarkan kepada pelanggan,
yang merupakan produk utamanya. Misalnya untuk pelayanan
pembuatan KTP, maka penyediaan KTP merupakan layanan
utamanya.
2. Facilitating service adalah fasilitas pelayanan tambahan kepada
pelanggan, misalnya terkait dengan pelayanan administrasi
kependudukan (KTP, akte kelahiran, dll), maka pemerintah
menyediakan layanan satu atap atau satu pintu dengan
menggunakan teknologi yang canggih.
Menurut Savas (1987) membagi barang layanan menjadi 4 (empat)
kelompok :
1. Barang yang digunakan untuk memenuhi kepentingan individu yang
bersifat pribadi. Barang privat (private goods) ini tidak ada konsep
tentang penyediaannya, hukum permintaan dan penawaran sangat
tergantung pada pasar, produsen akan memproduksi sesuai dengan
kebutuhan masyarakat, dan bersifat terbuka. Oleh sebab itu
penyediaan layanan barang yang bersifat barang privat ini dapat
berlaku hokum pasar, hanya apabila barang privat ini menyangkut
kesejahteraan orang banyak, misalnya beras atau bahan kebutuhan
pokok masyarakat lainnya, maka pemerintah tidak akan membiarkan
berlakunya pasar secara murni. Dengan kata lain apabila pasar
mengalami kegagalan dan demi kesejahteraan, maka perlu intervensi
pemerintah
2. Jenis barang yang kedua disebut tool goods, yakni barang yang
digunakan atau dikonsumsi bersama-sama dengan persyaratan
apabila menggunakannya harus membayar atau ada biaya
penggunaan, apabila pengguna atau konsumen tidak membayar maka
tidak dapat menggunakannya. Penyediaannya bisa menggunakan
hukum pasar dimana produsen akan menyediakan
permintaan/kebutuhan barang tersebut. Barang seperti ini hampir
sama seperti barang privat, penyediaan barang ini di beberapa negara

25
disediakan oleh negara dan seringkali menggunakan ukuran
pemakaiannya atau dapat dikatakan barang privat tetapi dikonsumsi
bersama-sama;
3. Jenis barang ketiga disebut collective goods, yaitu barang yang
digunakan secara bersama-sama atau kolektif dan penyediaannya
tidak dapat dilakukan dengan melalui mekanisme pasar, karena
barang ini digunakan secara terus menerus dan secara bersama-
sama serta sulit diukur berapa besar penggunaan barang ini untuk
setiap individu. Dalam penggunaan barang ini apabila diukur dari sisi
ekonomi akan muncul pembonceng gratis (free rider) dimana mereka
ikut menggunakan atau menikmati barang tersebut tanpa membayar
dan tanpa kontribusi secara fair. Penyediaan barang ini tidak ada yang
mau menyediakan atau memproduksinya secara sukarela. Oleh
karenanya penyediaan barang ini dilakuan dengan kontribusi secara
kolektif yaitu dengan menggunakan pajak.
4. Jenis barang yang keempat adalah common pool goods, jenis barang
ini memiliki karakteristik dimana yang menggunakan barang ini tidak
ada yang mau membayar, biasanya digunakan/dikonsumsi secara
bersama-sama dan kepemilikan barangini oleh umum, tidak ada orang
yang mau menyediakan barang ini. Untuk itu pemerintah melakukan
pengaturan terhadap barang ini

Dalam kenyataannya keempat jenis barang diatas sangat sulit


dibedakan atau dipisahkan masing-masing jenis termasuk barang yang
mana, karena setiap barang tidak murni menjadi salah satu karakteristik jenis
barang yang ada. Setiap barang mempunyai kecenderungan karakteristik
barang yang satu dengan barang yang lain.
a. Pelayanan Prima
Pelayanan prima merupakan terjemahan dari istilah "Excellent Service"
yang secara harfiah berarti pelayanan yang sangat baik dan atau
pelayanan yang terbaik.Disebut sangat baik atau terbaik, karena
sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku atau dimiliki oleh
instansi yang memberikan pelayanan. Apabila instansi pelayanan
belum memiliki standar pelayanan, maka pelayanan disebut sangat

26
baik atau terbaik atau akan menjadi prima, manakala dapat atau
mampu memuaskan pihak yang dilayani (pelanggan). Jadi pelayanan
prima dalam hal ini sesuai dengan harapan pelanggan.Tentunya agar
keprimaan suatu pelayanan dapat terukur, bagi instansi pemberi
pelayanan yang belum memiliki standar pelayanan, maka perlu
membuat standar pelayanan prima sesuai dengan tugas dan
fungsinya.
Tujuan pelayanan prima adalah memberikan pelayanan yang dapat
memenuhi dan memuaskan pelanggan atau masyarakat serta
memberikan fokus pelayanan kepada pelanggan.

Pelayanan prima kepada masyarakat didasarkan pada tekad bahwa


"pelayanan adalah pemberdayaan". Kalau pada sektor bisnis atau
swasta tentunyapelayanan selalu bertujuan atau berorientasi profile
atau keuntungan perusahaan. Pelayanan prima yang diberikan kepada
masyarakat padadasarnya tidaklah mencari untung, tetapi memberikan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara sangat baik
atau terbaik.
Dalam hal memberdayakan masyarakat ini, pelayanan yang
diberikan tidaklah bertujuan selain mencari untung, juga menjadikan
masyarakat justru terbebani atau teberdayakan dengan pekayanan dari
pemerintahan yang diterimanya.Contohnya dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat selama ini masih sering muncul keluhan
dari masyarakat dengan adanya pungutan biaya di luar ketentuan, atau
berbelit-belitnya prosedur serta lamanya pelayanan yang
diberikan.Belum lagi masih ditambah dengan petugas yang kurang
ramah sehingga munculnya sikap, anggapan dan penilaian terhadap
pemerintahan.Misalnya kesan bahwa birokrasi adalah prosedur yang
berbelit-belit dan mempersulit urusan.Adanya korupsi, kolusi dan
nepotisme dalam pelayanan sektor publik.Bahkan dalam pelayanan
publik muncul istilah "kalau masih bisa dipersulit, kenapa harus
dipermudah?" Atau kalau kita berurusan dengan pelayanan
pemerintah, mungkin akan ada penawaran dari aparatur pelayannya,
"mau lewat jalan tol atau biasa?".Untuk itu pelayanan prima sektor
27
publik yang dilakukan oleh pemerintah selain memenuhi kebutuhan
hajat hidup masyarakatnya, sudah barang tentu adalah untuk
memberdayakan bukan memperdayakan.
Jadi dengan demikian perbaikan pelayanan sektor publik jelas
merupakan kebutuhan yang mendesak, bahwa dalam rangka reformasi
administrasi negara,perbaikan pelayanan kepada publik merupakan
kunci keberhasilannya. Pelayanan prima bertujuan memberdayakan
masyarakat, bukan memperdayakan, sehingga akan menumbuhkan
kepercayaan publik atau masyarakat kepada pemerintahannya.
Adapun kepercayaan adalah awal atau modal dari kolaborasi dan
partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan.
Adapun pelayanan prima akan bermanfaat bagi upaya peningkatan
kualitas pelayanan pemerintah kepada masyarakat sebagai pelanggan
dan sebagai acuan untuk pengembangan penyusunan standar
pelayanan. Baik pelayan, pelanggan atau stakeholder dalam kegiatan
pelayanan, akan memiliki acuan mengenai mengapa, kapan, dengan
siapa, dimana dan bagaimana pelayanan dilakukan.
2. Nilai-nilai Dasar Pelayanan Publik

Perhatian pemerintah terhadap perbaikan pelayanan kepada masyarakat,


sebenarnya sudah diatur dalam beberapa pedoman, antara lain adalah
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN)
Nomor 63 Tahun 2003 yang mengemukakan tentang prinsip-prinsip
pelayanan publik sebagai berikut:
1. Kesederhanaan.
Prosedur pelayanan publik tidak berbelit-belit, mudah dipahami dan
mudah dilaksanakan.
2. Kejelasan.
a. Persyaratan teknis dan administratif pelayanan publik;
b. Unitkerja/pejabat yang berwenang dan bertanggungjawab dalam
memberikan pelayanan dan penyelesaian
keluhan/persoalan/sengketa dalam pelaksanaan pelayanan publik;

c. Rincian biaya pelayanan publik dan tata cara pembayaran.

28
3. Kepastian Waktu.
Pelaksanaan pelayanan Publik dapat diselesaikan dalam kurun waktu
yang telah ditentukan.
4. Akurasi
Produk pelayanan Publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
5. Keamanan
Proses dan produk pelayanan Publik memberikan rasa aman dan
kepastian hukum.
6. Tanggung jawab.
Pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk
bertanggungjawab atas penyelengaraan pelayanan dan penyelesaian
keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
7. Kelengkapan Sarana dan prasarana.
Tersedianya sarana dan prasarana kerja, peralatan kerja dan
pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana
teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika).
8. Kemudahan Akses.
Tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai, mudah
dijangkau oleh masyarakat, dan dapat me manfaatkan teknologi
telekomunikasi dan informatika.
9. Kedisiplinan, Kesopanan dan Keramahan.
Pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah,
serta memberikan pelayanan dengan ikhlah
10. Kenyamanan.
Lingkungan pelayanan harus tertib, teratur, disediakan ruang tunggu
yang nyaman,bersih, rapi, lingkungan yang indah dan sehat serta
dilengkapi denganfasilitas pendukung pelayanan, seperti parker, toilet,
tempat ibadah, dan lain-lain.

29
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI

3.1 Identifikasi Isu


Rancangan aktualisasi ini di susun berdasarkan identifikasi beberapa
isu atau problematika ditemukan ditempat penyusun bekerja. Jabatan saya
adalah Guru Kelas di Sekolah Dasar Negeri 18 Toboali. Adapun uraian
tugas/pekerjaan pada jabatan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor
14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah sebagai berikut:
TUGAS POKOK DAN FUNGSI GURU SECARA UMUM
1. Melaksanakan kegiatan pembelajaran
2. Meningkatkan penguasaan materi pelajaran yang menjadi tanggung
jawabnya
3. Memilih metode/media yang tepat untuk menyampaikan materi
4. Melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
5. Menganalisa hasil evaluasi KBM
6. Mengadakan pemeriksaan,pemeliharaan,dan pengawasan
ketertiban,keamanan,kebersihan,keindahan,dan kekeluargaan
7. Melaksanakan kegiatan penilaian (semester/tahun)
8. Meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pelajaran
9. Membuat dan menyusun lembar kerja
10. Membuat catatan tentang kemajuan hasil belajar masing-masing siswa
11. Mengikuti perkembangan kurikulum
12. Mengumpulkan dan menghitung angka kredit untuk kenaikan pangkatnya
13. Membuat program pengajaran

TUGAS GURU

Tugas guru ini dijelaskan dalam Bab XI Pasal 39 Ayat 2 Undang-Undang No


20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,Pasal 20 Undang-

30
Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Pasal 52
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang Guru ,yakni:

1. Merencanakan pembelajaran

2. Melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu

3. Menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran

4. Membimbing dan melatih peserta didik/siswa

5. Melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat

6. Melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada kegiatan pokok yang


sesuai

7. Meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi

FUNGSI GURU

Fungsi guru yang dimaksudkan di sini juga sudah termasuk dalam tugas guru
yang telah dijabarkan di atas,namun terdapat beberapa fungsi lain yang
terkandung dalam point d dan e Pasal 20 Undang-Undang no 14 Tahun 2005
tentang Guru dan Dosen serta point a,b, dan c Pasal 40 Ayat 2 Undang-
Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,yakni:

1. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan

2. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan,hukum,dan kode etik


guru ,serta nilai-nilai agama dan etika

3. Menciptakan suasana pendidikan yang


bermakna,menyenangkan,kreatif,dinamis dan dialogis

4. Memelihara komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu


pendidikan

5. Memberi dan menjaga nama baik lembaga,profesi,dan kedudukan


sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya

31
Berdasarkan hasil refleksi bersama dengan Mentor, ada beberapa
masalah atau isu yang terjadi di kelas IV SD Negeri 18 Toboali. Adapun isu-isu
tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Rendahnya hasil belajar matematika siswa
2. Pembuatan program pengajaran yang belum efesien
3. Rendahnya kesadaran siswa terhadap kebersihan dan keindahan sekolah

3.2 Isu yang Diangkat dan Gagasan Pemecah Isu


2.2.1. Isu yang diangkat

Berdasarkan identifikasi masalah dan analisis bersama Mentor, maka


disepakati, isu yang akan diangkat adalah “Rendahnya hasil belajar siswa
pada mata pelajaran matematika kelas IV SDN 18 Toboali. Jika isu tersebut
tidak bisa segera dipecahkan maka akan mengakibatkan nilai hasil pelajaran
akan semakin menurun. Dari identifikasi isu yang dikemukakan di atas, maka
penulis akan menentukan isu yang akan diangkat dengan menggunakan
teknik Urgency, Seriousness, Growth (USG) yang mana pengertian USG
adalah sebagai berikut:
 URGENCY: Seberapa mendesak suatu isu harus dibahas, dianalisis
dan ditindaklanjuti
 SERIOUSNSS: Seberapa serius suatu isu harus dibahas dikaitkan
dengan akibat yang ditimbulkan
 GROWTH: Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut
jika tidak ditangani sebagai mana mestinya.

Tabel 1
Bobot Penetapan Kriteria Kualitas ISU USG

Bobot Keterangan
5 Sangat kuat pengaruhnya
4 Kuat pengaruhnya
3 Sedang pengaruhnya
2 Kurang prngaruhnya

32
1 Sangat kurang pengaruhnya

Tabel 2.
Perumusan dan Penetapan Isu

NO ISU AKTUAL/MASALAH POKOK U S G SKOR

Rendahnya hasil belajar matematika


1. 4 5 5 14
siswa

Pembuatan program pengajaran yang


2. 3 4 4 12
belum efesien

Rendahnya kesadaran siswa terhadap


3. kebersihan dan keindahan sekolah 3 3 4 10

Berdasarkan hasil analisis isu menggunakan alat analisis USG di atas


dapat dilihat bagaimana kualitas Isu yang ada. Isu yang mendapatkan prioritas
tertinggi adalah isu final (core issue) yang perlu diangkat yaitu: Rendahnya
hasil belajar matematika siswa”dan menjadi isu yang perlu dicarikan
pemecahan masalah. Jika isu tersebut tidak bisa segera dipecahkan maka
akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut:
1. Semakin rendahnya hasil belajar siswa pada mata pelajaran
Matematika
2. Peringkat akademik sekolah menjadi rendah
3. Guru akan dianggap gagal memenuhi tugasnya dalam mengajar
33
2.2.2. Gagasan pemecah isu
Berdasarkan isu yang diangkat,maka saya membuat gagasan
pemecah isu yaitu “ penggunaan media matematika TAKALINTAR untuk
meningkatkan hasil belajar siswa’’ sehingga tercipta pembelajaran yang
menyenangkan dan hasil belajar siswa semakin baik.

3.3 Kegiatan dan Tahapan Kegiatan Pemecah Isu


Menyadari bahwa isu yang saya angkat ini bersifat tidak tunggal, sehingga
saya mengusulkan beberapa kegiatan dan tahapan kegiatan pemecahan
masalah sebagai satu rangkaian kegiatan besar.
Kegiatan dan tahapan rancangan aktualisasi ini terdiri dari :
1. Melakukan Konsultasi dengan mentor terkait kegiatan aktualisasi
dengan tahapan kegiatan sebagai berikut :
1. Membuat jadwal konsultasi dengan mentor
2. Menyampaikan permasalahan yang akan dibahas kepada mentor
3. Melakukan diskusi dengan mentor mengenai konsep pemecah isu yang
akan dilaksanakan dalam kegiatan aktualisasi
4. Melakukan pembahasan dengan mentor mengenai kegiatan- kegiatan
yang akan dilaksanakan dan perbaikan dari mentor tentang kegiatan
yang akan dilaksanakan .
5. Meminta persetujuan dari mentor mengenai kegiatan yang akan
dilaksanakan dalam aktualisasi.

2. Menyusun konsep ( Rpp,alat peraga / media pembelajaran )


Dengan tahapan kegiatan sebagia berikut :
1. Menyususun rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) Matematika
2. Menyiapkan alat dan bahan untuk mengeprint RPP
3. Menyiapkan media pembelajaran ( contoh perkalian tiga angka dan
TAKALINTAR)

34
4. Menyiapkan perlengkapan yang akan digunakan dalam pembelajaran
TAKALINTAR
5. Menyiapkan instrument penilaian keberhasilan kegiatan
3. Melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar ( KBM )
Dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Guru memulai kegiatan dan memberi motivasi mengenai perkalian tiga
angka kepada siswa.
2. Menyaimpaikan materi yang akan dipelajari kepada siswa serta dan
menjelaskan cara menggunakan TAKALINTAR
3. Menyiapkan media TAKALINTAR dan dilanjutkan dengan
menyampaikan materi matematika tentang perkalian tiga bilangan
4. Menerapkan penggunaan TAKALINTAR dimulai dengan menunjuk 9
siswa pada pelaksanaan pertama, 9 siswa pelaksanaan kedua , 8siswa
pelaksanaan ke tiga .
5. Memberikan motivasi dan reward bagi siswa yang berhasil menjawab
pertanyaan dengan media takalintar
4. Tahap Evaluasi
Sebagai tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Mencatat siswa yang berhasil menjawab soal dengan media takalintar
2. Mengoreksi ,menilai dan membagikan rekap nilai kepada siswa.
3. Guru memberi penguatan tentang materi dan menyampaikan kesimpulan.
5. Menyusun Laporan
Dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Mengumpulkan hasil kegiatan
2. Mengetik laporan kegiatan aktualisasi
3. Konsultasi dan pengesahan laporan

3.4 Keterkaitan kegiatan dengan nilai ANEKA dan Peran Kedudukan PNS
Adapun kegiatan-kegiatan sebagaimana diuraikan tersebut memiliki
keterkaitan dengan nilai ANEKA dan Peran Kedudukan PNS yang akan saya
uraikan satu persatu sebagai berikut:
1. Kegiatan 1: Melakukan Konsultasi kepada mentor.
1. Membuat jadwal konsultasi dengan mentor

35
 Akuntabilitas: tanggung jawab merupakan tanggung jawab seorang
guru dalam menjalankan tugasnya dan untuk selalu
mengkomunikasikan setiap kegiatan yang akan dilakukan kepada
atasan. Kejelasan dengan cara membuat jadwal konsultasi
sehingga kesepakatan pertemuan dengan mentor dapat terjadwal
dengan baik.
Output/hasil; jadwal pertemuan
 Nasionalisme: sesuai dengan nilai dasar nasionalisme yaitu nilai
‘’sila ke 4 yang berkaitan dengan musyawarah mufakat’’ dengan
cara melakukan diskusi terbimbing dengan kepala sekolah(mentor)
 Etika publik: Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama
Dalam membuat jadwal bimbingan dengan atasan, dengan penuh
etika,sopan,dalam berbicara dan menggunakan bahasa Indonesia
bentuk menghormati atasan dan guna mendapatkan jadwal yang
tepat

2. Menyampaikan permasalahan ( isu ) yang akan dibahas kepada


mentor
 Akuntabilitas :
Akuntabilitas berupa kejelasan yaitu dengan cara menjelaskan
permasalahan isu yang akan diangkat secara rinci dan mudah
dipahami oleh mentor .
 Nasionalisme :
Nasionalisme berupa jujur yaitu menyampaikan kegiatan dengan
jujur tanpa ada yang ditutupi.
Output/hasil ; formulir aktualisasi identifikasi isu dan foto
3. Melakukan diskusi dengan mentor mengenai konsep pemecah isu
yang akan dilaksanakan dalam kegiatan aktualisasi.
 Nilai Akuntabilitas : nilai transparansi dengan cara menetapkan isu
yang di angkat dan gagasan pemecah isu secara terbuka sehingga
mendapatkan hasil yang baik , nilai kejelasan dan tanggung jawab :
dengan cara menyampaikan penetapan isu dan gagasan pemecah
isu dengan jelas dan dapat dipertanggungjawabkan

36
 Nilai Etika Publik ; dalam kegiatan diskusi dengan mentor
mengenai penetapan isu dan gagasan pemecah isu perlu menjaga
dan memelihara dan menjunjung tinggi standar etika publik
 Nilai Nasionalisme ; yaitu musyawarah (sila ke 4) dengan cara
selalu mengedepankan musyawarah dalam menentukan
keputusan agar menghasilkan kesepakatan yang baik
Output/hasil ; dokumen/ formulir gagasan pemecah isu dan foto
4. Melakukan pembahasan dengan mentor mengenai kegiatan – kegiatan
yang akan dilaksanakan.
 Nilai Akuntabilitas ; nilai kejelasan,transparansi dengan cara
menjelaskan keseluruhan kegiatan yang akan dilakukan secara
terbuka kepada mentor.
 Nilai Nasionalisme : yaitu Adab (sila ke 2) dan musyawarah (sila ke
4) dengan cara pada waktu pembahasan dengan mentor
mengutamakan adab yang baik,sopan santun,bertutur kata yang
baik dalam musyawarah membahas kegiatan-kegiatan yang akan
dilaksanakan dalam aktualisasi
 Nilai Etika Publik ; Menghargai komunikasi , konsultasi,kerjasama
dengan cara menghargai saran/masukan dari mentor dan
mengkomunikasikan dengan sopan/baik
 Komitmen Mutu ; Efesiensi dengan cara memanfaatkan waktu
dengan mentor sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu sia-sia.
 Anti korupsi ; jujur dengan cara mengatakan kegiatan yang akan
dilakukan sesuai yang akan direncanakan sehingga hasilnya
sesuai dengan rencana
Output/hasil ;foto dan dokumen/formulir kegiatan aktualisasi
5. Meminta persetujuan dari kepala sekolah ( mentor ) mengenai kegiatan
yang akan dilaksanakan dalam aktualisasi.
 Nilai Akuntabilitas ; kepercayaan dan tanggung jawab daengan
memberikan kepercayaan kepada guru selaku ASN untuk
melaksanakan aktualisasinya dengan penuh tanggung jawab dan
hasilnya bisa dipertanggung jawabkan.

37
 Nilai Etika Publik ; menghargai,komunikasi,konsultasi. Dalam
melaksanakan setiap tindakan kita harus menanyakan persetujuan
dengan mentor.

Kontribusi terhadap Visi dan Misi Organisasi


Dengan melakukan konsultasi dengan mentor terkait kegiatan aktualisasi
diharapkan membangun komunikasi, dan kerjasama yang baik antara
kepala sekolah dan guru di SDN 18 Toboali sehingga diharapkan dapat
berkontribusi dalam mendukung terwujudnya Visi Sekolah yaitu terwujudnya
insan yang beriman dan bertaqwa,budi pekerti luhur,cerdas dan terampil
menguasai IPTEK berjiwa Pancasila juga dapat berkontribusi mendukung
misi SD Negeri 18 Toboali yaitu : menumbuhkan masyarakat Indonesia yang
berjiwa Pancasila.

Kegiatan 2: Menyusun konsep( RPP, alat peraga media pembelajaran )


1. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) Matematika
 Nilai Akuntabilitas, saya akan mengaktualisasikan nilai tanggung
jawab,kejelasan.Dalam pelaksanaannya menggunakan teknik
kesesuaian yaitu membuat RPPsesuai dengan kurikulum K13 dan
buku sesuai sesuai dengan program tahunan,program
semester,dan silabus.
 Etika publik: menjalankan tugas secara profesional dan tidak
berpihak. Bentuk tindakan yaitu membuat/mengetik RPP
menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Menyiapkan alat dan bahan untuk mengeprint RPP
 Nilai Akuntabilitas ; tanggung jawab. Dalam membuat RPP
diperlukan persiapan alat dan bahannya,seperti ATK,mesin print,
semua itu harus dipersiapkan dan dikerjakan dengan tanggung
jawab.
 Nilai Komitmen Mutu ( kreatif dan inovatif )

38
Membuat rencana pembelajaran harus penuh kreatif dan inovatif
sehinnga tercipta pembelajaran yang menyanangkan
Output/hasil ; RPP
3. Membuat media pembelajaran ( contoh gambar takalintar dan tabel
takalintar )
 Nilai Akuntabilitas ; tanggung jawab, kejelasan. Dalam membuat
media pembelajaran/alat peraga kita harus bertanggung jawab
menyiapkan alat dan bahan,dan kita memiliki gambaran (contoh)
yang jelas dalam membuat takalintar.
 Nilai Nasionalisme : nilai sila ke 3 yaitu bahwa dalam membuat
media pembelajaran siswa ikut berpartisipasi dalam kegiatan
tersebut.
 Nilai Etika Publik ; menciptakan lingkungan kerja yang non
diskriminatif. Dalam pembuatan alat peraga ini dalam
pengerjaannya tidak membedakan SARA dan boleh dikerjakan
oleh siapa saja.
 Nilai Komitmen Mutu ; inovasi dan efesien. Alat peraga ini
merupakan inovasi dalam pembelajaran matematika dan dalam
pembuatannya tepat waktu.
 Nilai Anti Korupsi ; sederhana. Dalam membuat alat peraga kita
menggunakan bahan-bahan yang tak terpakai disekitar kita seperti
kardus bekas.
Output/hasil ; TAKALINTAR
4. Menyiapkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan takalintar
 Nilai Akuntabilitas ; tanggung jawab. Dalam menyaiapkan
pembelajaran yang menggunakan takalintar,harus dipersiapkan
daengan sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab.
 Anti korupsi
Sikap disiplin ; Dalam menyapkan takalintar harus tepat waktu
Output/hasil; foto
5. Menyiapkan instrument penilaian keberhasilan kegiatan
 Nilai Akuntabilitas ( tanggungjawab, kejelasan ) membuat
instrument penilaian dengan penuh tanggung jawab.

39
 Nilai Anti korupsi ( disiplin ) selalu menfaatkan waktu sebaik-
baiknya dan tidak mebuang –buang waktu.
Output/hasil ; foto

Kontribusi terhadap Visi dan Misi Organisasi


Dengan menyusun konsep diharapkan akan meningkatkan hasil
pembelajaran yang maksimal dan lebih terarah di SD Negeri 18 Toboali,
sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam mendukung terwujudnya visi
sekolah yaitu “Terwujudnya insan yang beriman dan bertaqwa, berbudi
pekerti luhur, cerdas dan terampil mengusai IPTEK berjiwa Pancasila, juga
dapat berkontribusi dalam mengembangkan misi SDN 18 Toboali yaitu
melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan pembelajaran
PAIKEM.

Kegiatan 3: Melaksanakan kegiatan belajar mengajar ( KBM )


1. Guru memulai kegiatan dan memberikan motivasi kepada siswa
sebelum belajar
 Nilai Akuntabilitas ( kepemimpinan, tanggungjawab, keadilan,
kejelasan ) dilakukan pada saat guru memimpin siswa untuk
berdo’a bersama –sama.

 Nilai Etika Publik ( Menghargai komunikasi ) berkomunikasi


dengan siswa dengan penuh etika sopan, santun, menghargai
siswa.

2. Memperkenalkan dan menyampaikan cara menggunakan media


takalintar kepada siswa
 Nilai dasar Akuntabilitas ( tanggungjawab, kejelasan )yaitu dalam
memperkenalkan dan menyampaikan cara menggunakan media
takalintar kepada siswa harus jelas dan penuh tanggung jawab
sehingga tercipta pembelajaran yang menarik bagi siswa.
 Nilai Etika Publik (santun, menghargai, komunikasi ) dengan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar santun dan
sopan ketika menyampaikan dan memperkenalkan takalintar
kepada siswa,sehingga siswa mudah dalam belajar.

40
Output/hasil ; foto
3. Menyampaikan materi matematika perkalian tiga angka dengan
menggunakan media takalintar.
 Nilai Akuntabilitas yaitu tanggungjawab yaitu menggunakan media
pembelajaran dengan penuh tanggungjawab .
4. Menerapkan permainan kartu kreatif di mulai dengan menunjuk 8
siswa pada pelaksanaan pertama ,8 siswa pelaksanaan kedua, 10
siswa pelaksanaan ke tiga.
 Dilandasi nilai dasar Etika Publik, yakni melaksanakan
pembelajaran sesuai RPP yang telah disusun dan menggunakan
bahasa yang santun dan mudah dipahami siswa.
5. Memberikan motivasi dan reward bagi siswa yang berhasil menjawab
pertanyaan dengan media takalintar.
Dilandasi nilai dasar
 Etika Publik, yaitu memberikan tepuk tangan kepada siswa yang
berhasil menjawab pertanyaan dengan benar dan menggunakan
bahasa yang santun dan mudah dipahami siswa .
Output/hasil ; foto

Kontribusi terhadap Visi dan Misi Organisasi


Dengan Dengan melaksanakan kegiatan pembelajaran maka diharapkan akan
meningkatkan hasil belajar dan pendidikan yang bermutu, membentuk
memotivasi siswa sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam mendukung
terwujudnya visi SD Negeri 18 Toboali yaitu : terwujudnya insan yang beriman
dan bertaqwa, budi pekerti luhur, cerdas dan terampil menguasai IPTEK
berjiwa Pancasila juga dapat berkontribusi dalam mendukung misi SD Negeri
18 Toboali yaitu melaksanakan proses belajar mengajar secara efektif dan
pembelajaran PAIKEM.

Kegiatan 4:Tahap Evaluasi


1. Mencatat siswa yang berhasil menjawab soal dengan
menggunakan media takalintar.
 Dilandasi nilai dasar Akuntabilitas ( tanggung jawab

41
,kejelasan ) yaitu dengan mencatat hasil belajar siswa dengan
penuh tanggung jawab dan jelas.
2. Mengoreksi ,menilai dan membagikan rekap nilai kepada siswa.
 Akuntabiltas (tanggung jawab dan kejelasan )yaitu mengoreksi
, menilai dan membagikan rekap hasil belajar siswa dengan
penuh tanggungjawab dan kejelasan.
3. Guru memberi penguatan tentang materi dan menyampaikan
kesimpulan.
 Nilai Etika Publik ( jujur,sopan dan santun )dalam memberi
penguatan dan menyampaikan kesimpulan kepada siswa
dengan jujur menggunakan bahasa yang sopan dan santun.

Output/hasil ; foto dan dokumen nilai

Dengan melaksanakan kegiatan evalusi maka diharapkan guru akan mengetahui


batas pemahaman siswa dengan tanggung jawab dan kejelasan terhadap kegiatan
yang dilakukan diharapkan dapat berkontribusi
dalam mendukung terwujudnya visi SD Negeri 18 Toboali yaitu : terwujudnya insan
yang beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur,cerdas dan terampil menguasai
IPTEK berjiwa Pancasila juga dapat berkontribusi dalam mendukung misi SD Negeri
18 Toboali yaitu mengembangkan bakat minat dan kreatifitas siswa

Kegiatan 5: Menyusun laporan aktualisasi

1. Mengumpulkan hasil kegiatan


 Nilai Akuntabilitas,bertanggung jawab terhadap mengumpulkan hasil
evalusi .guna untuk memudahkan dalam menyusun laporan.
Output/hasil ; foto
2. Mengetik laporan kegiatan aktualisasi
 Nilai Akuntabilitas ( tanggung jawab ) yaitu menyusun laporan sesuai
dengan kegiatan –kegiatan yang telah dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab.

42
 Anti korupsi ( disiplin ) yaitu menyusun laporan sesuai dengan jadwal
yang telah ditentukan .
Output/hasil ; dokumen hasil kegiatan dan foto
3. Konsultasi dan pengesahan laporan
 Etika publik : hormat yaitu menunjukan sikap sopan dan santun dalam
berbicara / konsultasi kepada atasan .
Output/hasil ; foto
3.5 Jadwal Rencana Kegiatan
Kegiatan yang telah diuraikan diatas akan dilaksanakan selama masa off
campus selama tiga puluh ( 30 ) hari, yaitu mulai dari tanggal 13 juni 2019
sampai dengan 16 Juli 2019 dimana penulis melaksanakan AKTUALISASI di SD
Negeri 18 Toboali Bangka Selatan sebagaimana dengan jadwal kegiatan
aktualisasi nilai-nilai dasar sebagai berikut :

No Kegiatan Pelaksanaan Tempat Sasaran

Konsultasi kepada 13,15 dan 17 Juni SD Negeri


1. -
mentor 2019 18 Toboali
17,18,dan 19 Juni SD Negeri
2. Menyusun konsep -
2019 18 Toboali
Melaksanakan
SD Negeri Siswa
3. kegiatan 20,21,22 Juni 2019
18 Toboali kelas IV
pembelajaran
Melaksanakan SD Negeri
4. 24 dan 25 Juni 2019 -
evaluasi 18 Toboali
Menyusun laporan 16 Juni 2019- 16 Juli SD Negeri
5. -
aktualisasi 2019 18 Toboali

43
DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi Pegawai


Negeri Sipil. Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan Golongan III.
Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Akuntabilitas. Modul Pendidikan dan Pelatihan


Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Nasionalisme. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Etika Publik. Modul Pendidikan dan Pelatihan
Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Komitmen Mutu. Modul Pendidikan dan


Pelatihan Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2015. Anti Korupsi. Modul Pendidikan dan Pelatihan
Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Analisis Isu Kontemporer. Modul Pendidikan


dan Pelatihan Prajabatan Golongan II dan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Manajemen ASN. Modul Pelatihan Dasar


Calon PNS. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Whole Of Government. Modul Pelatihan Dasar


Calon PNS. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

Lembaga Administrasi Negara. 2017. Pelayanan Publik. Modul Pelatihan Dasar


Calon PNS. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

44