Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT. Karena atas limpahan rahmat-Nyalah

sehingga makalah ini dapat terselesaikan sesuai waktu yang ada. Begitu pula

penyusun mengirimkan salam dan salawat atas junjungan Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini tentunya masih memiliki banyak kelemahan dan

kekurangan,baik dari pembahasan maupun isi didalamnya.Untuk itu, penyusun sangat

mengharapkan sumbangan pikiran dari Dosen dan teman-teman sekalian,baik saran

maupun kritik yang membangun penyusun.

Makalah yang berjudul “Difteri” ini dilakukan untuk memenuhi sala satu

tugas mata kuliah Ilmu Kesehatan Anak yang diberikan oleh dosen, sekaligus untuk

menambah wawasan pengetahuan peserta didik. Penyusun menyelesaikan makalah

ini dengan penuh kerendahan hati dan keterbatasan serta satu harapan dan

kenyakinan semoga dapat bermanfaat dan bernilai ibadah disisi Allah SWT.

Purwakarta, Maret 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………... i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……………………………………………………….……….1

B. Rumusan Masalah..............................................................................................2

C. Tujuan ……………………………………………………………….………..2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian..........................................................................................................3

B. Etiologi..............................................................................................................4

C. Patofisiologi.......................................................................................................6

D. Manifestasi Klinis. ............................................................................................7

E. Tanda dan Gejala...............................................................................................7

F. Klasifikasi..........................................................................................................9

G. Komplikasi.......................................................................................................12

H. Penatalaksanaan...............................................................................................13

I. Pencegahan .....................................................................................................14

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan………………………………………………………………... ..15

B. Saran ………………………………………………………………………...16

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious

disease). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria

yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan, terutama bagian tonsil,

Nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring.

Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat, udara yang tercemar oleh carier

atau penderita yang akan sembuh, juga melalui batuk dan bersin penderita.

Penderita difteri umumnya anak-anak, usia dibawah 15 tahun. Dilaporkan 10 %

kasus difteri dapat berakibat fatal, yaitu sampai menimbulkan kematian. Selama

permulaan pertama dari abad ke-20, difteri merupakan penyebab umum dari

kematian bayi dan anak-anak muda. Penyakit ini juga dijmpai pada daerah padat

penduduk dingkat sanitasi rendah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan diri

sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. Lingkungan

buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.

Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria, Pertusis, Tetanus), penyakit

difteri jarang dijumpai. Vaksi imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk

meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut.

Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksi difteri akan lebih rentan terhadap

penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.


B. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud difteri?

2. Apa tanda dan gejalanya?

3. Bagamana penatalaksanaan medis?

4. Apa komplikasinya?

5. Bagaimana cara pencengahannya?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari makalah ini

1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan difteri

2. Untuk mengetahui tanda dan gejalah difteri

3. Untuk mengetahui komplikasinya

4. Untuk mengetahui cara pencengahan


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

1. Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang menular, disebabkan

oleh corynebacteri um diphtheriae dengan ditandai pembentukan

pseudomembran pada kulit dan atau mukosa.

2. Difteri adalah suatu infeksi demam akut, biasanya ditenggorok dan paling

sering pada bulan-bulan dingin pada daerah beriklim sedang. Dengan adanya

imunisasi aktif pada masa anak-anak dini.

(Merensien kapian Rosenberg, buku pegangan pediatric, Hal. 337)

3. Difteri adalah suatu infeksi, akut yang mudah menular dan yang sering

diserang adalah saluran pernafasam bagian atas dengan tanda khas timbulnya

“pseudomembran”.

(Ngastiyah perawatan anak sakit, edisi 2 Hal. 41)

4. Diferi adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari

corynebacterium diphtheriae (c. diphtheriae). Penyakit ini menyerang bagian

atas murosasaluran pernafasan dan kulit yang terluka. Tanda-tanda yang

dapat dirasakan ialah sakit letak dan demam secara tiba-tiba disertai

tumbuhnya membrane kelabu yang menutupi tansil serta bagian saluran

pernafasan.
5. Difteri adalah infeksi bakteri yang bersumber dari Corynebacterium

diphtheriae, yang biasanya mempengaruhi selaput lendir dan tenggorokan.

Difteri umumnya menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar

bengkak, dan lemas. Dalam tahap lanjut, difteri bisa menyebabkan

kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem saraf. Kondisi seperti itu pada

akhirnya bisa berakibat sangat fatal dan berujung pada kematian.

6. Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tansil, faring,

laring, hidung, adakalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-

kadang konjungtiva atau vagina.

B. Etiologi

Penyebabnya adalah bakteri corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini

ditularkan melalui percikan ludah yang dari batuk penderita atau benda maupun

makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri. Biasanya bakteri berkembang

biak pada atau disekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan

menyebabkan peradangan beberapa jenis bakteri ini menghasilkan teksik yang

sangat kuat, yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak. Masa

inkubasi 1-7 hari (rata-rata 3 hari). Hasil difteria akan mati pada pemanasan suhu

60oc selama 10 menit, tetapi tahan hidup sampai beberapa minggu dalam es, air,

susu dan lender yang telah mengering.


Bakteri Penyakit

Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri patogen yang menyebabkan difteri

berupa infeksi akut pada saluran pernapasan bagian atas. Ia juga dikenal sebagai

basil Klebs-Löffler, karena ditemukan pada tahun 1884 oleh bakteriolog Jerman,

Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Löffler (1852-1915).

Klasifikasi ilmiah dari bakteri Corynebacterium diphtheriae adalah

Kingdom : Bakteri

Filum : Actinobacteria

Kelas : Actinobacteria

Order : Actinomycetales

Keluarga : Corynebacteriaceae

Genus : Corynebacterium

Spesies : Corynebacterium diphtheriae

Kuman difteri berbentuk batang ramping berukuran 1,5-5 um x 0,5-1 um,

tidak berspora, tidak bergerak, termasuk Gram positif, dan tidak tahan asam. C.
Diphtheriae bersifat anaerob fakultatif, namun pertumbuhan maksimal diperoleh

pada suasana aerob.

Gambar : Corynebacterium diphteriae

C. Patofisiologi

Corynebacterium diphteriae masuk kehidung atau mulut dimana basil

akan menempel di mukosa saluran nafas bagian atas, kadang-kadang kulit, mata

atau mukosa genital. Setelah 2-4 jam hari masa inkubasi kuman dengan

corynephage menghasilkan toksik yang mula-mula diabsorbsi oleh membran sel,

kemudian penetrasi dan interferensi dengan sintesa protein bersama-sama dengan

sel kuman mengeluarkan suatu enzim penghancur terhadap Nicotinamide

Adenine Dinucleotide (NAD). Sehingga sintesa protein terputus karena enzim

dibutuhkan untuk memindahkan asam amino dan RNA dengan memperpanjang

rantai polipeptida akibatnya terjadi nekrose sel yang menyatu dengan nekrosis

jaringan dan membentuk eksudat yang mula-mula dapat diangkat, produksi

toksin kian meningkat dan daerah infeksi makin meluas akhirnya terjadi eksudat
fibrin, perlengketan dan membentuk membran yang berwarna dari abu-abu

sampai hitam tergantung jumlah darah yang tercampur dari pembentukan

membran tersebut apabila diangkat maka akan terjadi perdarahan dan akhirnya

menimbulkan difteri. Hal tersebut dapat menimbulkan beberapa dampak antara

lain sesak nafas sehingga menyebabkan pola nafas tidak efektif, anoreksia

sehingga penderita tampak lemah sehingga terjadi intoleransi aktifitas.

D. Manifestasi Klinis

Masa tunas 3-7 hari khas adanya pseudo membrane, selanjutnya gejala

klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala akibat eksotoksin pada

jaringan yang terkena. Gejala umum yang timbul berupa demam tidak terlalu

tinggi lesu, pucat nyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak penderita

sangatlemah sekali. Gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap

bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan

sesak dan strides, sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan

yang terkena seperti iniokorditis paralysis jaringan saraf atau nefritis.

E. Tanda dan Gejala

Tergantung pada berbagai faktor, maka manifestasi penyakit ini bisa

bervariasi dari tanpa gejala sampai suatu keadaan/penyakit yang hipertoksik

serta fatal. Sebagai faktor primer adalah imunitas penderita terhadap

toksin diphtheria, virulensi serta toksinogenesitas (kemampuan membentuk

toksin) Corynebacterium diphtheriae, dan lokasi penyakit secara


anatomis. Faktor-faktor lain termasuk umur, penyakit sistemik penyerta dan

penyakit-penyakit pada daerah nasofaring yang sudah ada sebelumnya. Masa

tunas 2-6 hari. Penderita pada umumnya datang untuk berobat setelah beberapa

hari menderita keluhan sistemik. Demam jarang melebihi 38,9o C dan keluhan

serta gejala lain tergantung pada lokasi penyakit diphtheria.

1. Diphtheria Hidung

Pada permulaan mirip common cold, yaitu pilek ringan tanpa atau disertai

gejala sistemik ringan. Sekret hidung berangsur menjadi serosanguinous dan

kemudian mukopurulen mengadakan lecet pada nares dan bibir atas.

Pada pemeriksaan tampak membran putih pada daerah septum nasi.

2. Diphtheria Tonsil-Faring

Gejala anoroksia, malaise, demam ringan, nyeri menelan. dalam 1-2 hari

timbul membran yang melekat, berwarna putih-kelabu dapat menutup tonsil

dan dinding faring, meluas ke uvula dan palatum molle atau ke distal ke

laring dan trachea.

3. Diphtheria Laring

Pada diphtheria laring primer gejala toksik kurang nyata, tetapi lebih berupa

gejala obstruksi saluran nafas atas.

4. Diphtheria Kulit, Konjungtiva, Telinga

Diphtheria kulit berupa tukak di kulit, tepi jelas dan terdapat membran pada

dasarnya. Kelainan cenderung menahun. Diphtheria pada mata dengan lesi

pada konjungtiva berupa kemerahan, edema dan membran pada konjungtiva


palpebra. Pada telinga berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan

berbau.

F. Klasifikasi

1. Difteria hidung

Gejalanya paling ringan dan jarang terdapat (hanya 2%). Mula-mula

hanya tampak pilek, tetapi kemudian secret yang keluar tercampur sedikit

yang berasal dari pseudomembren. Penyebaran pseudomembran dapat pula

mencapai foring dan laring.

2. Difteria faring dan tonsil (difteria fausial)

Paling sering dijumpai (I 75%). Gejala mungkin ringan. Hanya

berupa radang pada selaput pada selaput lendir dan tidak membentuk

pseudomembran, dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada

penderita.

Pada penyakit yang lebih berat, mulainya seperti radang akut tenggorok

dengan suhu yang tidak terlalu tinggi dapat ditemukan pseudomembran yang

mula-mula hanya berapa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke

nasofaring atau ke laring, nafas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar

regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck)

Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stridor inspirasi

walaupun belum terjadi sumbatan faring. Hal ini disebabkan oleh paresisi

palatum mole. Pada pemeriksaan darah dapat terjadi penurunan kadar


haemoglobin dan leukositosis, polimorfonukleus, penurunan jumlah eritrosit

dan kadar albumin, sedangkan pada urin mungkin dapat ditemukan

albuminuria ringan.

3. Diftheria Laring dan trachea

Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil (3 kali lebih

banyak dari pada primer mengenai laring. Gejala gangguan jalan nafas

berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat dapat

timbul sesak nafas hebat. Slanosis dan tampak retraksi suprastemal serta

epigastrium. Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck.

Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan sembab, banyak secret

dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. Bila anak terlihat sesak dan

payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trake ostomi

sebagai pertolongan pertama.

4. Diftheria Faeraneus

Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapat. Tan Eng Tie

(1965) mendapatlan 30% infeksi kulit yang diperiksanya megandung kuman

diphtheria. Dapat pula timbul di daerah konjungtiva, vagina dan umbilicus.

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu:

1. Infeksi ringan bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung

dengan gejala hanya nyeri menelan.

2. Infeksi sedang bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dinding

belakang rongga mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.


3. Infeksi berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejala

komplikasi seperti miokarditis (radang otot jantung), paralisis (kelemahan

anggota gerak) dan nefritis (radang ginjal)

Disamping itu, penyakit ini juga dibedakan menurut lokasi gejala yang dirasakan

pasien :

1. Difteri hidung (nasal diphtheria) bila penderita menderita pilek dengan ingus

yang bercampur darah. Prevalesi Difteri ini 2 % dari total kasus difteri. Bila

tidak diobati akan berlangsung mingguan dan merupakan sumber utama

penularan.

2. Difteri faring (pharingeal diphtheriae) dan tonsil dengan gejala radang akut

tenggorokan, demam sampai dengan 38,5 derajat celsius, nadi yang cepat,

tampak lemah, nafas berbau, timbul pembengkakan kelenjar leher. Pada

difteri jenis ini juga akan tampak membran berwarna putih keabu abuan

kotor di daerah rongga mulut sampai dengan dinding belakang mulut

(faring).

3. Difteri laring ( laryngo tracheal diphtheriae ) dengan gejala tidak bisA

bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat

celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher.

Difteri jenis ini merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam

nyawa penderita akibat gagal nafas.


Gambar : Difteri laring

4. Difteri kutaneus (cutaneous diphtheriae) dan vaginal dengan gejala berupa

luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan

membrane diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri,

pada difteri, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa-apa.

G. Komplikasi

1. Aluran Pernafasan

Obstruksi jalan nafas dengan segala bronkopnemonia atelaktasio

2. Kardiovaskuler

Miokarditir akibat toksin yang dibentuk kuman penyakit ini

3. Urogenital

Dapat terjadi Nefritis


4. Susunan daraf

Kira-kira 10% penderita difteria akan mengalami komplikasi yang mengenai

system susunan saraf terutama system motorik

Paralisis / parese dapat berupa :

1. Paralasis / paresis palatum mole sehingga terjadi rinolalia, kesukaran

menelan sifatnya reversible dan terjadi pada minggu ke satu dan kedua.

2. Paralisis / paresis otot-otot mutu, sehingga dapat mengakibatkan strabisinus

gangguan akomodasi, dilatasi pupil atau ptosis, yang setelah minggu ke tiga.

3. Paralisis umum yang dapat timbul setelah minggu ke 4, kelainan dapat

mengenai otot muka, leher anggota gerak dan yang paling penting dan

berbahaya bila mengenai otot pernafasan.

H. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan Mandiri

Terdiri dari : Perawatan yang baik, istirahat mutlak ditempat tidur, isolasi

penderita dan pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya

komplikasi antara lain pemeriksaan EKG tiap minggu.

2. Penatalaksanaan Medis

a. Anti Diphteria Serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000 untuk hari

selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan

mata bila ternyata penderita peka terhadap serum tersebut, maka harus

dilakukan desentitisasi dengan cara besderka


b. Antibiotika diberikan penisilan 50.000 untuk kgbb/hari sampai 3 hari

bebas panas. Pada penderita yang dilakukan trakeostomi, ditambahkan

kloramfenikol 75 mm/kg bb/hari dibagi 4 dosis.

c. Kortikosteroid obat ini di maksudkan untuk mencegah timbulnya

komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. Dapat diberikan

prednison 2 mg/kkbb/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan

secara bertahap.

I. Pencegahan

1. Umum

a. Kebersihan dan pengetahuan tentang bahaya penyakit ini bagi anak-

anak. Pada

b. umumnya setelah menderita penyakit diphtheria kekebalan penderita

terhadap penyakit ini sangat rendah sehingga perlu imunisasi.

2. Khusus

Terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil

racun corynebacterium diphtheria, dan lebih sering menyerang anak-anak.

Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan, terutama laring, tonsil, dan

faring. Tetapi tidak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan

kerusakaan saraf dan juga jantung.

Pada serangan difteri berat akan ditemukan psudomembran, yaitu lapisan

selaput yang terdiri dari sel darah putih yang mati, bakteri, dan bahan lainnya,

didekat tonsil dan bagian faring yang lain. Membrane ini tidak mudah robek dan

bewarna keabu-abuan. Jika membran ini dilepaskan secara paksa maka lapsan

lender dibawahnya akan berdarah. Membran inilah penyebab penyempitan

saluran udaraaau secara tiba-tiba bias terlepas dan menyumbat saluran udara

sehingga anak mengalami kesulitan bernafas.

Berdasarkan gejala dan ditemukanya membran inilah diagnosis

ditegakkan. Tidak jarang dilakukan pemeriksaan terhadap lendir di faring dan

dibuatkan biakan dilaboratorium. Sedangkan untuk melihat kelainan jantung

yang terjadi akibat penyakit ini dilakukan pemeriksaan dengan EKG. Penularan

difteri dapat melalui kontak langsung seperti berbicara dengan penderita, melalui

udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh, juga melalui

batuk dan bersin penderita.


Tetapi sejak diperkenalkan vaksin DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus),

penyakit difteri jarang dijumpai. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-

anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit

tersebut. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin akan lebih rentan terhadap

penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini.

B. Saran

Karena difteri adalah penyebab kematian pada anak-anak, maka

disarankan untuk anak-anak wajib diberikan imunisasi yaitu vaksin DPT yang

merupakan wajib pada anak, tetapi kekebalan yang diperoleh hanya selama 10

tahun setelah imunisasi. Sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi

booster (DT) setiap 10 tahun sekali, dan harus dilakukan pencarian dan kemudian

mengobati carier difteri dan dilkaukan uji schick.

Selain itu juga kita dapat menyarankan untuk mengurangi minum es

karena minum minuman yang terlalu dingin secara berlebihan dapat mengiritasi

tenggorokan dan menyebabkan tenggorokan tersa sakit. Juga menjaga kebersihan

badan, pakaian, dan lingkungan karena difteri mudah menular dalam lingkungan

yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Dan makanan yang dikonsumsi harus

bersih yaitu makan makanan 4 sehat 5 sempurna.

Sedangkan untuk perawat, penderita dengan difteri harus diberikan isolasi

dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan

tidak terdapat lagi C. diphtheria 2x berturut-turut. Gunakan prosedur terlindungi

infeksi jika melakukan kontak langsung dengan anak (APD).


DAFTAR PUSTAKA

1. Carpentino, Lynda Juall.2001.Buku Saku :Diagnosa keperawatan edisi: 8

Peneterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta

2. Doengoes, E Marlynn,dkk.1999. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3

penterjemah Monica Ester.EGC.Jakarta

3. Staf pengajar Ilmu kesehatan Anak.2005.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:

FKUI

4. Betz L. C & Sowden A. L. (2009) Buku Saku Keperawatan Pediatri. Edisi 5.

Jakarta : EGC.

5. Narendra, B.M, dkk. (2002). Tumbuh kembang anak dan remaja. Edisi

pertama. Jakarta: IDAI.

6. Ngastiyah. (2005) Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta: EGC.

7. Riyadi, Sujono & Sukarmin. (2009). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi

pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.

8. Hidayat A. A Alimul, (2008) Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk

Pendidikan Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika.

9. Wong, D L . (2009). Pedoman klinis keperawatan pediatrik. Edisi keempat.

Jakarta: EGC.