Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh setiap guru, selalu
bermula dari dan bermuara pada komponen-komponen pembelajaran yang
tersurat dalam kurikulum. Kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan oleh
guru merupakan bagian utama dari pendidikan formal yang syarat mutlaknya
adalah adanya kurikulum sebagai pedoman. Proses pembalajaran akan selalu
berpedoman pada kurikulum

Dari masa ke masa kurikulum yang terdapat di setiap negera berubah


yang ini menurut sebagian pakar disebabkan karena kebutuhan masyarakat
yang berkembang dan disamping itu kondisi dan tuntutan zaman pun berubah.
Untuk menyesuaikan dengan zaman, kurikulumpun mengalami
perkembangan. Perkembangan itupun terjadi pada kurikulum di Negara
Indonesia.

Sebagai sebuah Negara yang memiliki tujuan berdiri, kurikulum ini


dirasa sangt penting untuk kemudian mengiringi kemajuan Negara.
Karenanya, perkembangan kurikulum ini dianggap menjadi penentu masa
depan anak bangsa. Sebaga bangsa yang pernah di jajah, sedikit tidak Negara
ini akn terengaruh oleh kurikulum pendidikan dari Negara yang dulu pernah
menjajah Indnesia. Penting untuk kemudian dikaji untuk mengetahui bahwa
Negara kita saat ini kurikulumnya masih berkaitan dengankepentingan
penjajah dulu. Setidaknya, ketika fisik penjajah itu pergi, mereka sejatinya
teta ada melalui kurkulum yang yang diturunkan pada Negara bekas jajahan.

Pada hakikatnya pengembangan kurikulum itu merupakan usaha untuk


mencari bagaimana rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
untuk mencapai tujuan tertentu dalam suatu lembaga. Pengembangan
kurikulum di arahkan pada pencapaian nilai-nilai umum, konsep-konsep,
masalah dan keterampilan yang akan menjadi isi kurikulum yang disusun
dengan fokus pada nilai-nilai tadi. Adapun selain berpedoman pada landasan-
landasan yang ada, pengembangan kurikulum juga berpijak pada prinsip-
prinsip pengembangan kurikulum.

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 Bab X tentang kurikulum, pasal 36


ayat 1 bahwa pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada
standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Suatu kurikulum diharapkan memberkan landasan, isi dan menjadi pedoman
bagi pengembangan kemampuan siswa secara optimal sesuai dengan tuntunan
dan tantangan perkembangan masyarakat.

A. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kurikulum dan landasan kurikulum ?
2. Bagaimana komponen dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum?
3. Bagaimana model-model pengembangan kurikulum?
4. Bagaimana peran guru terhadap pengembangan kurikulum?

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kurikulum dan landasan
kurikulum.
2. Untuk mengetahui komponen dan prinsip-prinsip pengembangan
kurikulum.
3. Untuk mengetahui model-model pengembangan kurikulum.
4. Untuk mengetahui peran guru terhadap pengembangan kurikulum.
BAB II PEMBAHASAN

A. Kurikulum dan Landasan Pengembangan Kurikulum


1) Pengertian Kurikulum
Kata ‘’kurikulum’’ berasal dari suatu kata bahasa Latin yang berarti
‘’jalur pacu’’, dan secara tradisional, kurikulum sekolah disajikan seperti
itu (ibarat jalan) bagi kebanyakan orang (Zais, 1976: 6). Lebih lanjut Zais
(1976) mengemukakakn berbagai pengertian kurikulum, yakni:
a) Kurikulum sebagai program pelajaran
b) Kurikulum sebagai isi pelajaran
c) Kurikulum sebagai pengalaman belajar yang direncanakan
d) Kurikulum sebagai suatu rencana (tertulis) untuk dilaksanakan
Sedangkan Tanner (1980) mengungkapkan konsep-konsep:
a) Kurikulum sebagai pengetahuan yang diorganisasikan
b) Kurikulum sebagai modus mengajar
c) Kurikulum sebagai arena pengalaman
Dalam UU Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 Pasal 1 (9)
menyebutkan bahwa: ‘’Kurikulum adalah seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai isi dan bahan serta cara yang digunakan sebagai
pendoman penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar’’ (Depdikbub,
1989: 3). Sedangkan dalam pasal 37 menyebutkan: ‘’Kurikulum disusun
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan
tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan lingkungan,
kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing
satuan pendidikan’’ (Depdikbub, 1989: 15).
2) Landasan Pengembangan Kurikulum
Adapun yang dimaksud dengan pengembangan kurikulum adalah
suatu proses yang menentukan bagaimana pembuatan kurikulum akan
berjalan. Bondi dan Wiels (1989: 87) mengemukakan bahwa
pengembangan kurikulum yang terbaik adalah proses yang meliputi
banyak hal yakni:
a) Kemudahan-kemudahan suatu analisis tujuan
b) Rancangann suatu program
c) Penerapan serangkaian pengalaman yang berhubungan, dan
d) Peralatan dalam evaluasi proses ini
Secara singkat, pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan
kompleks yang mencakup berbagai jenis keputusan (Taba, 1962: 6). Agar
pengembangan kurikulum dapat berhasil sesuai dengan yang diinginkan,
maka dalam pengembangan kurikulum diperlukan landasan-landasan
pengembangan kurikulum yang terdiri:
1) Landasan Filosofis
Segala kehendak yang dimiliki oleh masyarakat merupakan sumber
nilai yang memberikan arah pada pendidikan. Dengan demikian
pandangan dan wawasan dalam pendidikan, atau dapat dikatan bahwa
filsafat yang hidup dalam masayarakat merupakan landasan filosofis
penyelengaraan pendidikan. Filsafat boleh jadi didefinisikan sebagai
suatu study tentang: hakikat realitas, hakikat ilmu pengetahuan,
hakikat system nilai, hakikat nilai kebaikan, hakikat keindahan, dan
hakikat pikiran (Winecoff, 1988: 13). Untuk landasan filosofis
pengembangan kurikulum di Indonesia secara cepat dan tepat
dipastikan, yakni nilai dasar yang merupakan falsafah dalam
pendidikan manusia seutuhnya yakni Pancasila.
2) Landasan Sosial-Budaya-Agama
Nilai-nilai keagamaan berhubungan erat dengan kepercayaan
masyarakat terhadap ajaran dan nilai-nilai agama yang mereka anut.
Nilai social-budaya masyarakat bersumber pada hasil karya akal budi
manusia, sehingga dalam menerima, menyebarluaskan, melestarikan
dan/atau melepaskannya manusia menggunakan akalnya. Dengan
demikian, apabila terdapat nilai-nilai social budaya yang tidak
berterima atau tidak bersesuaian dengan akalnya akan dilepaskan. Oleh
karena itu, nilai-nilai sosial-budaya lebih bersifat sementara bila
dibanding nilai-nilai keagamaan. Untuk melaksanakan penerimaan,
penyebarluasan, pelestarian, atau penolakan dan pelepasan nilai-nilai
sosial-budaya-agama, maka masyarakat memanfaatkan pendidikan
yang dirancang melalui kurikulum.
3) Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni
Ilmu pengetahuan dan teknologi adalah nilai-nilai yang bersumber
pada pikiran atau logika, sedangkan seni bersumber pada perasaan atau
estetika. Nana Sy. Sukmadinata (1988: 82) mengemukakan bahwa
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung akan
menjadi isi/ materi pendidikan. Sedangkan sacara tidak langsung
memberikan tugas kepada pendidikan untuk membekali masyarakat
dengan kemapuan pemecahan masalah yang dihadapi sebagai
pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
4) Landasan Kebutuhan Masyarakat
Adanya falsafah hidup, perubahan sosial budaya agama, perubahan
ipteks dalam suatu masyarakat akan merubah pula kebutuhan
masyarakat. Adanya perbedaan antara masyarakat satu dengan
masyarakat yang lain sebagian besar disebabkan oleh kualitas
individu-individu yang menjadi anggota masyarakat tersebut. Oleh
karena itu, pengembangan kurikulum yang hanya berdasarkan pada
keterampilan dasar saja tidak akan dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat modern yang bersifat teknologis. Pengembangan kuriulum
juga harus ditekankan pada pengembangan individu yang mencakup
keterkaitannya dengan lingkungan sosial setempat (Sumantri, 1988:
77).
5) Landasan Pekembangan Masyarakat
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang.
Pekembangan masyarakat dipengaruhi oleh falsafah hidup, nilai-nilai,
ipteks, dan kebutuhan yang ada dalam masyarakat. Perkembangan
masyarakat akan menuntut tersedianya proses pendidikan yang sesuai
dengan perkembangan masyarakat amaka diperlukan rancangannya
berupa kurikulum yang landasan pengembangannya berupa
perkembangan masyarakat itu sendiri.

B. Komponen dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum


1. Komponen Kurikulum
Seperti yang dikemukakan Tyler (1950 dalam Taba, 1962:422) bahwa
“it is important as a part of a comprehensive theory or organization to
indicate just what kinds of elements will serve statisfactorily as
organizing to indicate just what kinds of elements will serve statisfactorily
as organizing elements. And in a given curriculum it is important to
identify the particular elements that shall be used.” Dari pernyataan Tyler
tersebut, tampak pentingnya mengenal komponen atau elemen atau unsur
kurilulum. Herrick (1950 dalam Taba, 1962: 425) mengemukakan 4
(empat) elemen, yakni : tujuan, mata pelajaran, metode dan organisasi,
dan evaluasi. Sedangkan ahli yang lain mengemukakan bahwa kurikulum
terdiri dari 4 (empat) komponen dasar: (1) aims, goals, and objective, (2)
content, (3), learning activities, dan evaluations (Zais, 1976: 259). Nana
Sy. Sukmadinata (1988:110) mengemukakan empat komponen dari
anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi,
proses atau sistem penyampaian, serta evaluasi. Berdasarkan uraian
tentang komponen-komponen kurikulum sebelumnya, dalam uraian
berikut ini akan dibahas mengenai komponen-komponen kurikulum
sebelumny, yakni komponen kurikulum yang terdiri dari : tujuan,
materi/pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi.
a. Tujuan. Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum merupakan
kekuatan-kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil
kurikuler yang diinginkan tidak hanya sangat mempengaruhi bentuk
kurikulum, tetapi memberikan arah dan fokus untuk seluruh program
pendidikan (Zais, 1976 : 297). Tujuan pengajaran terbagi menjadi dua
macam, yakni Tujuan Umum Pengajaran (TUP) dan Tujuan Khusus
Pengajaran (KTP). Apabila dikaji lebih lanjut akan kita temukan
bahwa dalam perumusannya, tujuan tersusun hierarki vertical dari
yang tertinggi ke tang terendah dan sebaliknya, untuk pencapaiannya
secara hierarki vertikal dari tujuan terendah ke tujuan yang lebih
tinggi. Untuk memperjelas uraian, berikut merupakan sistematika
hierarki tujuan kurikulum Indonesia.
Jenjang Tujuan Dokumen Penganggung jawab
Tujuan Pendidikan UU SPN & GBHN Menteri Dikbud
Tujuan kelembagaan Kurikulum Tiap Kepala Sekolah
Lembaga
Tujuan Kurikuler GBPP Guru mata pelajaran/
bidang studi/ kelas
Tujuan Pengajara GBPP & Rancangan Guru mata pelajaran/
pembelajarn bidang studi/kelas

b. Materi/ pengalaman belajar. Hal yang merupakan fungsi khusus dari


kurikulum pendidikan formal adalah memilih dan menyusun isi
(komponen dari kedua kurikulum) supaya keinginan tujuan kurikulum
dapat dicapai dengan cara paling efektif dan supaya pengetahuan
paling penting yang diinginkan pada jalurnya dapat disajikan secara
efektif (Zais, 1976 : 322). Selain itu untuk mencapai tiap tujuan
mengajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajaran (Nana Sy.
Sukmadinata, 1988 : 144). Namun demikian sebenarnya tidak cukup
hanya isi/bahan ajaran saja yang dipirkan dalam kegiatan
pengembangan kurikulum, lebih dari itu adalah pengalaman belajar
yang mampu mendukung pencapaian tujuan secara lebih efektif. Hal
ini berarti kita memandang kurikulum sebagai suatu rencana untuk
belajar dan tujuan menentukan belajar apa yang penting, maka
kurikulum secara pasti mencakup seleksi dan organisasi isi/materi dan
pengalaman belajar (Taba, 1962: 266).
c. Organisasi. Perbedaan antara belajar di sekolah dan belajar dalam
kehidupan adalah dalam hal pengorganisasian secara formal di
sekolah. Jika kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar maka
isi dan pengalaman belajar membutuhkan pengorganisasian
sedemikian rupa sehingga berguna bagi tujuan-tujuan pendidikan
(Taba, 1962: 290). Berdasarkan pendapat Taba tersebut, jelas bahwa
materi dan pengalaman belajar dalam kurikulum diorganisasikan
untuk mengefektifkan pencapaian tujuan. Namun demikian, perlu kita
sadari bahwa pengorganisasian kurikulum merupakan kegiatan yang
sulit dan kompleks.
d. Evaluasi. Evaluasi merupakan komponen keempat kurikulum,
mungkin merupakan aspek kegiatan pendidikan yang dipandang
paling kecil (zais, 1976 : 369). Evaluasi ditujukan untuk melakukan
evaluasi terhadap belajar siswa (hasil dan proses) maupun keefektifan
kurikulum dan pembelajarin. Lebih lanjut Zais (1976: 378)
mengemukakan evaluasi kurikulum secara luas merupakan suatu
usaha sangat besar yang kompleks yang mencoba menantang untuk
mengkodifikasi proses salah satu dari istilah sekuensi atau komponen-
komponen.
2. Prinsip-prinsip Pengembangan kurikulum
Ada berbagai prinsip pengembangan kurikulum yang merupakan
kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Pengembangan kurikulum
dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang di dalam
kehidupan sehari-hari atau menciptakan prinsip baru. Sebab itu, selalu
mungkin terjadi suatu kurikulum menggunakan prinsip-prinsip berbeda
dengan yang digunakan kurikulum lain (Depdikbud, 1982:27)
Dari berbagai prinsip pengembangan kurikulum tersebut, tiga
diantaranya yakni prinsip relevansi, prinsip kontinuitas, dan prinsip
fleksibilitas akan diuraikan berikut ini:
a. Prinsip relevansi. Apabila pengembangan kurikulum melaksanakan
pengembangan kurikulum dengan memilih jabaran komponen-
komponen kurikulum agar sesuai (relevan) dengan berbagai tuntutan,
maka pada saat itu ia sedang menerapkan prinsip revelansi
pengembangan kurikulum. Revelansi berarti sesuai antara komponen
tujuan, isi/pengalanman belajar, organisasi, dan evaluasi kurikulum,
dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan
tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan.
b. Prinsip kontinuitas. Komponen kurikulum yakni tujuan,
isi/pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi dikembangkan secara
berkesinambungan.
c. Prinsip fleksibilitas. Para pengembang kurikulum harus menyadari
bahwa kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan
kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa
merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai (Depdikbud,1982
:27).
C. Model-model Pengembangan Kurikulum
Untuk melakukan pengembangankurikulum ada berbagai model
pengembangan kurikulum yang dapat dijadikan acuan atau diterapkan
sepenuhnya. Model-model pegembangan kurikulum tersebut sering kali
dinamakan dengan nama ahli yang melontarkan gagasan tentang model
pengembangan kurikulum tersebut. Berikut ini akan diraikan tentang beberapa
model pengembangan kurikulum.
1. Model Administratif (Line-Staff)
Model administratif atau garis komando (line-staff) merupakan pola
pengembangan kurikulum yang paling awal dan mungkin yang paling
dikenal (Zais, 1976: 447; Nana Sy. Sukmadinata, 1988: 179). Model
pengembangan kurikulum ini berdasarkan pada cara kerja atasan-bawahan
(top-down) yang dipandang efektif dalam pelaksanaan perubahan,
termasuk perubahan kurikulum.
Model administrasi/garis komando memiliki langkah-langkah berikut
ini:
a. Administrator pendidikan, membentuk komisi pengarah.
b. Komisi pengarah, beryugas merumuskan rencana umum,
mengembangkan prinsip-prinsip sebagai pedoman, dan menyiapkan
suatu pernyataan filosofi dan tujuan-tujuan untuk seluruh wilayah
sekolah.
c. Membentuk komisi kerja pengembangan kurikulum yang bertugas
mengembangkan kurikulum secara operasional mencakup keseluruhan
komponen kurikulum dengan mempertimbangkan landasan dan
prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
d. Komisi pengarah memeriksa hasul krja dari komisi kerja dan
menyempurnakan bagian-bagian tertentu bila dianggap perlu. Karena
pengembangan kurikulum model administratif ini berdasarkan konsep,
inisiatif, dan arahan dari atas ke bawah, maka akan memerlukan waktu
bertahun-tahun agar dapat berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan
adanya tuntutan untuk mempersiapkan para pelaksana kurikulum
tersebut.
2. Model Grass-roots
Model prngembangan kurikulum ini merupakan kebalikan dari
model administratif dilihat dari sumber inisiatif dan upaya
pengemangan kurikulum. Model pengembangan kurikulum grass-roots
dapat mengupayakan pengembangan sebagai komponen-komponen
kurikulum dapat keseluruham dapat pula sebagian dari keseluruhan
komponen kurikulum atau keseluruhan dari komponen kurikulum.
Dalam pengembangan kurikulum model grass-roots perlu diingat 4
(empat) prinsip yang dikemukakan oleh Smith, Stanley dan Shores
(1957 dalam Zais, 1976 : 449), Yakni:
a. Kurikulum akan bertambah baik hanya kalau kompetensi
profesional guru bertambah baik
b. Kompetensi guru akan menjadi pertambahan baik hanya kalau
guru-guru menjadi personil-personil yang dilibatkan dalam
masalah –masalah perbaikan kurikulum.
c. Jika para guru bersama menanggung bentuk-bentuk yang menjadi
tujuan yang dicapai, dalam memilih,mendefinisikan, dan
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, serta dalam
memutuskan dan menilai hasil , keterlibatan mereka akan dapat
lebih terjamin, dan
d. Sebagian orang yang bertemu dalam kelompok-kelompok tatap
muka, mereka akan mampu mengerti satu dengan yang lain dengan
lebih baik dan membantu adanya konsensus dalam prinsip- perinsip
dasar, tujuan dan perencanan.
Dari uraian sebelumnya jelaslah bahwa untuk untuk dapat menjadi
pengembangan kurikulum yang andal, guru dituntut untuk memiliki
sejumblah kemampuan.Dalam rangka memberikan atau membentuk
kompetensi guru maka guru harus diberi kesempatan untukterlibat
secara langsung meghadapi dan memecahkan masalah masalah
kurikulum.
3. Model Beauchamp
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan model Beauchamp
memiliki lima bagian pembuatan keputusan. Lima tahap pembuatan
keputusan tersebut adalah:
a. Memutuskan arena pengembangan kurikulum, suatu keputusan yang
menjabarkan ruang lingkup upaya pengembangan
b. Memilih dan melibatkan personalia pengembangan kurikulum, suatu
keputusan yang menetapkan personalia upaya pengembangan
kurikulum. Ada 4 (empat) kategori personalia yang dilibatkan yakni:
(a) Personalia ahli, misalnya ahli bidang studi, (b) Kelompok terpilih
yang terdiri dari ahli pendidikan dan guru-guru terpilih, (c) Semua
personil profesional dalam sistem persekolahan dan, (d) Personil
profesional dan tokoh-tokoh masyarakay tang terplih.
c. Pengorganisasian dan prosedur pengembangan kurikulum, dengan
kegiatan sebagai berikut: (a) membentuk tim pengembang kurukulum,
(b) memilih kurikilum yang sedang berlaku , (c) studi awal tentang isi
kurikulum baru dan alternatifnya, (d) merumuskan kriteria untuk
memutuskan hal-hal yamh dapat masuk dalam kurikulum baru, dan (e)
tim pengembang dan menulis kurikulum.
d. Implementasi kurikulum, yakni kegiatan untuk menerapkan kurikulum
seperti yang sudh diputuskan dalam ruang laingkup pengembangakn
kurikulu.
e. Evalusi kusikulum, yakni kegiatan yang memiliki 4 dimensi yang
terdiri dari (a) evaluasi guru-guru yang menggunakan kurikulum, (b)
evaluasi rancangkan kurikulum, (c) evaluasi hasil nelajar pembelajaran
, dan (d) evaluasi sistem pemgembangan kurikulum. Data yangberhasil
dikumpulkan melalui kegiatan evaluasiakan digunakan untuk
memperbaiki proes pengembangan kurikulum dan untuk kontituitas
kurikulum, (Zais, 1976:453,Nana Sy.Sukmadinata , 1988:181-182).
4. Model Arah Terbaik Taba (Taba’s Inverted Model)
Pengembangan kurikulum ini terbalik dari yang lazim
dilaksanakan, yakni dari biasanya dilakukan secara deduktif dibalik
menjadi induktif. Menurut model taba, pengembangan kurikulum
dilaksanakan dalam lima langkah:
a. Membuat unit-unit percobaan, yakni suatu kegiatan membuat
eksperimen unit-unit percobaan melalui kelompok guru yang
dijadikan contoh melalui penyajian dalam tingkat tertentu dan
pokok bahasan tertentu dengan pengamatan yang saksama.
Langkah awal ini merupakan jalinan awal antara teori dan praktek.
b. Menguji unit-unit eksperimen, yakni kegiatan untuk menguji ulang
unti-unit yang telah digunakan oleh guru yang membuatnya di
kelas guru itu sendiri,di kelas lain atau yang berbeda. Uji ulang ini
akan memberikan saran-saran untuk modifikasi, alternatif pilihan
isi,dan pengalaman belajar serta bahan yang digunakan untuk
diakomodasi oleh pembelajaran yang berlainan.
c. Merevisi dan mengkonsolidasi, yakni kegiatan lanjutan uji-coba.
Merevisi berarti mengadakan berbaikan dan penyempurnaan pada
unit yang dicobakan sehingga dapat disajikan suatu kurikulum
umum untuk semua jenis kelas. Mengkonsolidasi berarti
mengadakan penyimpulan tentang hasil percoban yang
memungkinkan digunakan unit-unit tersebut dalam lingkup yang
lebih luas.
d. Mengembangkan jaringan kerja, yakni kegiatan yang
dilakukanuntuk lebih meyakinkan apakan unit-unit yang telah
direvisi dan dikonsolidasikan dapat digunakan lebih luas atau tidak.
Untuk itu perlu dilakukan uji mengenain sekuensi dan lingkupnya
oleh orang yang berkompeten dalam pengembangan kurikulum,
dalam hal ini adalah ahli kurikulum
e. Memasang dan mendeseminasi unit- unit baru, yakni kegiatan
untuk menerapkan dan menyebarluaskan unit-unit baru yang
dihasikan. Agar dapat digunakan dan disebarluaskan secara tepat
maka perlu dilakukan penyiapan guru-guru melalui pelatihan
dalam jabatan. (Taba, 1962 : 457-459; Zias, 1976 : 454-458; Nana
Sy. Sukmadinat, 1988: 183-184).
5. Model Rogers
Carl Rogers adalah seorang ahli psikologi yang berpandangan
bahwa manusia dalam proses prubahan (becoming, developing,
changing) yang mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang
sendiri (Nana Sy. Sukmadinat, 1988: 184). Berdasarkan pandangan
tentang manusia, maka Rogers mengemukakan model pengembangan
kurikulum yang disebut dengan model Relalis Interpesonal Roger.
Model relasi interpesonal roger terdiri dari 4 langkah
pengembangan kurikulu, yakni:
a. Pemilihan satu sistem pendidikan sasaran
b. Pengalaman kelompok yang intensif bagi guru
c. Pengembangan suatu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu
kelas atau unit pelajaran
d. Melibatkan orang tua dalam pengalaman kelompok yang intensif.
Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurukulum
dari pada rancangan pengemangan kurikulum tertulis, yakni
melalui aktivitas dan interaksi dalam pengalaman kelompok
intensif yang terpilih.

D. Guru dan Pengembangan kurikulum


1. Pembelajaran dan kurikulum
Banyak ahli mengemukakan bahwapembelajaran merupakan
implementasi kurikulum, tapi banyak juga yang mengemukakan bahwa
pembelajaran itu sendiri merupakan kurikulum sebagai kegiatan. Untuk
memperjelas hubungan antara pembelajaran dan kurikulum, kita mulai dari
melihat hakikat keduanya. Hakikat pembelajaran diantaranya adalah:
a. Kegiatan yang dimasudkan untuk membelajarkan pengalaman
pebelajar.
b. Progam pembelajaran yang dirancang dan diimplementasikan sebagai
suatu sistem
c. Kegiatan yang dimaksudkan untuk memberikan pengalaman belajar
kepada pembelajar
d. Kegiatan yang mengarahkan pebelajar ke arah pencapaian tujun
pembeljaran
e. Kegiatan yang melibatkan komponen-komponen tujuan, isi pelajaran,
sistem penyajian, dan sistem evaluasi dalam realisasinya
Hakikat pembelajaran sebagaimana diuraikan pada alinea sebelumnya,
harus kita pertentangkan dengan hakikat kuikulum:
a. Kurikulum sebagai jalan memperoleh ijasah
b. Kurikulum sebagai mata dan isi pelajaran
c. Kurikulum sebagai rencana kegiatan pembelajaran
d. Kurikulum sebagai hasil belajar
e. Kurikulum sebagai pengalaman belajar

Dari mempertentangkan dan membandingkan hkikat kurikulum


dan pembelajaran, kita dapat menyimpulkn bahwa pembelajaran dan
kurikulum merupakan dua konsep yang tak terpisahkan satu dengan yang
lain ( Johnson dalam Zais, 1976: 10). Sebagai dua konsep yang tak
dibedakn, baik pembelajaran maupun kurikulum dapat dalam wujud
sebagai rencana maupun kegiatan. Guru sebagai orang yang berkewajiban
merencsnsksn pembelajaran selalu mengacu kepada komponen =
komponen kurikulum yang berlaku.
2. Peran Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Keterlibatan guru dalam modl –model pengembangan kurikulum
tersebut bukanlah kebetulan belakan. Guru adalah orang yang tahu persis
situasi dan kondisi diterapkannya kurikulum yang berlaku. Selain itu, guru
bertanggung jawab atas terciptanya hasil belajar yang diinginkan (Raka
Joni, 1983 : 26).
Peran guru dalam pengembangan kurikulum diwujudkan dalam
bentuk-bentuk kegiatan berikut:
a. Merumuskan tujuan khusus pengajaran berdasarkan tujuan – tujuan
kurikulum diatasnya dan karakteristik pebelajar, mata
pembelajaran,bidang studi, dan karakteristik situasi situasi kelas.
b. Merencanakan kegiatan pembelajaran yang dapat secara efektif
membantu pembelajar mencapai tujuan yang ditetapkan.
c. Menerapkan rencanapembelajaran yang dirumuskan dalam situasi
pembelajaran yang nyata
d. Mengevaluasi hasil dan proses pada pebelajar
e. Mengevaluasi interaksi antara komponen-komponen kurikulum yang
diimplementasikan.
Lima kegiatan tersebut merupkan peran guru dalam pengembangan
kurikulum yang bersifat sentralisasi. Sedangkan dalam pengembangan
kurikulum yang bersifat desentralisasi, peran guru lebih besar, yakni
mencakup pengembangan keseluruhan komponen- komponen kurikulum
dalam perencanaan, mengimplementasiakn kurikulum yang
dikembangkan, mengevaluasi implementasi kurikulum, dan merevisi
komponen – komponen kurikulum yang kurang memadai.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pengembangan kurikulum adalah suatu perbuatan kompleks yang
mencakup berbagai jenis keputusan. Komponen-komponen kurikulum terdiri
dari tujuan, materi/pengalaman belajar, organisasi, dan evaluasi. Prinsip
pengembangan kurikulum tiga diantaranya yakni prinsip relevansi, prinsip
kontinuitas, dan prinsip fleksibilitas. Model-model pengembangan kurikulum
antara lain Model Administratif (Line-Staff), Model Grass-roots, Model
Beauchamp, Model Arah Terbaik Taba (Taba’s Inverted Model), dan Model
Rogers. Peran guru terhadap pengembangan kurikulum yaitu,
mengimplementasiakn kurikulum yang dikembangkan, mengevaluasi
implementasi kurikulum, dan merevisi komponen -komponen kurikulum
yang kurang memadai.

B. Saran
Setelah mempelajari tentang pembelajaran dan perkembangan kurikulum
maka kami harapkan bagi setiap pembaca untuk dapat memahaminya dan
dapat mempelajarinya lebih detail dari berbagai literatur lainnya.