Anda di halaman 1dari 67

BAB 2

TINJAUAN LAHAN
MANAJEMEN KEPERAWATAN RUANG ANAK (TULIP II A)

2.1 Kajian Situasi RSUD Ulin Banjarmasin


RSUD Ulin Banjarmasin merupakan salah satu Rumah Sakit Pemerintah
Tipe A(pusat rujukan) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
sebagai rumah sakit pendidkan mempunyai visi, misi, tujuan motto yaitu:

2.1.1 Visi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin


Visi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin tahun 2015 yaitu
“Terwujudnya Pelayanan Rumah Sakit Yang Profesional dan Mampu
Bersaing di Masyarakat Ekonomi ASEAN”.

2.1.2 Misi Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin


2.1.2.1 Menyelenggarakan pelayanan terakreditasi paripurna yang
berorientasi pada seluruh lapisan masyarakat.
2.1.2.2 Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan, penelitian dan
pengembangan Sub Spesialis sesuai kebutuhan pelayanan
kesehatan, kemajuan ilmu pengetahuan dan penapisan
teknologi kedokteran.
2.1.2.3 Menyelenggarakan manajemen rumah sakit dengan kaidah
klinis yang sehat, terbuka, efisien, akuntabel sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku.
2.1.2.4 Menyiapkan sumber daya manusia, sarana prasaranan dan
peralatannya untuk mampu bersaing dalam era pasar bebas
ASEAN.
2.1.2.5 Mengelola dan mengembangkkan sumber daya manusia
sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan kemampuan Rumah
Sakit.

2.1.3 Motto Rumah Sakit


Motto Rumah Sakit Ulin yaitu “Keselamatan pasien kami utamakan”

2.1.4 Sifat, Maksud dan Tujuan Rumah Sakit


Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin merupakan Rumah
Sakit Umum dengan klasifikasi Kelas A (SK Menkes No. 004 /
Menkes / SK / I / 2013) tentang peningkatan kelas Rumah Sakit
Umum Dearah Ulin Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, serta
Kepmendagri No. 445.420-1279 tahun 1999 tentang penetapan
RSUD Ulin Banjarmasin sebagai Rumah Sakit pendidikan calon
Dokter dan calon Dokter Spesialis. Dengan demikian tugas dan
fungsi RSUD Ulin selain mengemban fungsi pelayanan juga
melaksanakan fungsi pendidikan dan penelitian.

2.2 Profil atau Gambaran Umum Ruang Anak (Tulip II A)


Ruang Anak (Tulip II A) merupakan bagian dari ruang perawatan yang ada
di RSUD Ulin Banjarmasin, yang digunakan mahasiswa sebagai tempat
pembelajaran praktik manajemen keperawatan. Ruangan ini terletak di
lantai tiga dan dibatasi oleh :
2.2.1 Sebelah Utara : Parkiran proyek Waskita
2.2.2 Sebelah Timur : Gedung RSGM
2.2.3 Sebelah Selatan : Pembangunan Proyek
2.2.4 Sebelah Barat : Ruang Nifas dan Jantung
2.2.5 Lantai Satu : Ruang Ortopedi dan THT
2.2.6 Lantai Tiga : Ruang Hematologi & Ongkologi
2.2.7 Lantai Empat : Ruang Kabit Keperawatan, ruang
pertemuan Antasari
2.3 Unsur Input/ Masukan
Dari hasil pengkajian yang telah kami lakukan di ruang Anak dari tanggal
1 November 2016 - 2 November 2016, kami dapatkan beberapa data
sebagai berikut:

2.3.1 Klien
Berdasarkan hasil data yang di dapat di ruang Anak dari Agustus
– Oktober 2016, jumlah Klien 343 orang.

Adapun daftar 10 penyakit terbanyak yang ada di ruang Anak


terhitung mulai Agustus 2016 – Oktober 2016 adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.1. Daftar 10 Penyakit Terbanyak Di Ruang Anak
Mulai Agustus 2016 – Oktober 2016
No. Nama Penyakit Jumlah Peringkat
kasus
1. GE 85 1
2. Pneumoni 26 2
3. Asma Brongkial 19 3
4. Kejang demam 14 4
komplit/KDK
5. KDS 11 5
6. DHF 10 6
7. Sindrom Nefrotik 8 7
8. Demam Thypoid 6 8
9. DT 4 9
10. Morbili 3 10
Sumber : Laporan bulanan ruang Intensive RSUD Ulin
Banjarmasin

Gambar 2.2 10 Penyakit Terbanyak Di Ruang Anak Mulai


Agustus 2016 - Oktober 2016
2.4 Pengumpulan Data di Ruang Anak
2.4.1 Man (M1)
2.4.2 Ketenagakerjaan yang berada di ruang Anak 21 meliputi
1) S 2 : 2 orang
2) S 1 : 2 orang
3) D III Keperawatan : 12 orang
4) D3 kebidanan : 2 orang
5) SMA : 2 orang
6) SMP : 1 orang
Jumlah tenaga keperawatan seluruhnnya berjumlah 16
orang. Rata-rata lama berkerja perawat lebih dari 5 tahun.
Tabel 2.1 Tenaga perawat di ruang Anak (Tulip II A) RSUD Ulin Banjarmasin
No. Nama PNS/Non PNS Jabatan Pendidikan Masa
Kerja
1. Hj. Ernie Aprilia, S.Kep, Ns, MM PNS Kepala Ruangan S2 13 tahun

2. Taufik Hidayat, S.Kep, M.Kes PNS Supervisor S2 23 tahun

3. Gusnita, AMK PNS Katim 2 DIII Kep.. 13 tahun


4. Riza magrifih,AMK Staf perawat DIII Kep. 1 tahun

5. Rusma H, S.Kep PNS Katim 4 S1 15 tahun


7. Rusniah, AMK PNS Staf perawat DIII Kep. 16 tahun

8. Noviyanti, AMKeb PNS Sraf perawat DIII Keb. 11 tahun

9. Lindawati, AMKeb PNS Staf perawat DIII Keb 10 tahun

10. Noor Alfiatin Ni,mah S.Kep, Ns PNS Staf perawat S.Kep.,Ns 2 tahun

11. Rosida Elfah, AMK Karyawan BLUD Staf perawat DIII Kep. 11 tahun

12. Mardiah, AMK Karyawan BLUD Staf Perawat DIII Kep. 9 tahun

14. Lailatul, AMK Karyawan BLUD Staf perawat DIII Kep 9 tahun

15. Fitriah, AMK Karyawan BLUD Staf perawat DIII Kep. 9 tahun

16. Rianti, AMK Karyawan BLUD Staf perawat DIII Kep. 9 tahun

17. Rika Arlita, AMK Karyawan BLUD Staf perawat DIII Kep. 9 tahun
Tabel 2.2 Tenaga Non Keperawatandi ruang anak (Tulip II A)RSUD Ulin
Banjarmasin

PNS/Non
No Nama Jabatan Pendidikan
PNS

1 Farid Rozali PSN Perkarya SMP

2 St. Akbbari PNS Ahli Gizi DIII Gizi

3 Reni PNS Apoteker S1 farm Apt

4 Hj. Sa’dah PNS Adminstrasi SMA

5 Ani Non PNS Adminstrasi SMA

6 Sanah CP CS SMA

7 Gusti Rahmad CP CS SMA

Tabel 2.3 Daftar Tenaga Medis di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin

No. Nama

1. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A (k)

2. dr. Meriah Sembiring, Sp.A

3. dr. Hasni Hasan Basri, Sp.A

4. dr. Wulandewi, Sp.A

5. dr. Khairiadi, Sp.A

6. dr. selli Muljanto, Sp.A

7. dr. Nurul Hidayah, Sp.A

8. dr. Arif Budiarto, Sp.A

9 Prof. Ruslan, Sp.A

2.4.1.2 Mahasiswa Praktik


Mahasiswa yang berpraktik di ruangan Anak berjumlah 27 orang
biasanya diikuti oleh beberapa insitusi yang ada di Kalimantan
Selatan. Adapun institusi yang berpraktik sekarang diantaranya:
10
11

a. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Jurusan Keperawatan


(Program Profesi Ners A) (13)
b. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Jurusan Keperawatan
(Program Profesi Ners B) (5)
c. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Jurusan Kebidanan (4)
d. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Abdi persada Banjarmasin (5)
Adapun jumlah atau lama mahasiswa yang berpraktik di ruang Anak
disesuaikan/telah ditetapkan oleh institusi yang bersangkutan.

2.4.2 Material (M2)


2.4.2.1 Bangunan, sarana dan prasarana (Material)
Ruang anak terdiri dari 1 buah ruang perawat jaga (nurse
station), 1 buah ruang kepala ruangan dan ruang rapat/diskusi,
1 buah ruang terapi bermain anak, 1 buah ruang administrstor,
1 buah kamr doter muda, 1 buah kamar perawat jaga, 7 ruang
perawatan, 1 buah mushola, 1 gudang, 8 buah WC.

Gambar 2.1. Denah Ruang Anak RSUD Ulin Banjarmasin

WC Kamar sentral Respirologi Neurologi dan Endokrinologi Nefrologi


perawat isasi infeksitrofis
EXIT

anak obat Alergi imonologi Nutrisi dan pen. kardiologi


R. Koa metabolik

Adm rg.
Lift

Kamar Observasi Rg. tindkan Counter Gastroentrologi R. Isolasi


Anak perawat R.
kepala rg. reside
hepatologi n
Anak
Rg. konsultasi Musho
lla

Selasar Depan
12

2.4.2.2 Alat Tenun


Tabel 2.4 Alat tenun diruangan anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin.

Ratio Keadaan
No Nama Barang Pasien: Jumlah Rusak
Baik Rusak
Alat Berat
1 Sprai 1:3 126 √ - -
2 Sarung Bantal 1:2 84 √ - -
3 Selimut 1:1 42 √ - -
4 Bantal 1:1 42 √ - -
5 Perlak 1:1 5 √ - -
6 Tirai 1:3 63 √ - -

Berdasarkan data yang dapat digunakan saat pengkajian, jumlah sprai


yang ada diruangan anak Tulip IIA sebanyak 126 buah. Walaupun menurut
standar depkes, diperlukan 1 : 5 atau pasien harus memiliki 3 buah seprai,
serta dapat terpenuhinya sprai untuk pasien, tetapi hal ini tidak jadi
masalah bagi perawat dalam tindakan keperawatan yang berkaitan dengan
kebersihan seprai. Jumlah sarung bantal yang ada diruangan anak Tulip
IIA sebanyak 84 buah 1 : 2 atau pasien harus memiliki 2 buah sarung
bantal serta terpenuhinya sarung bantal untuk pasien.

2.4.2.3 Alat Kesehatan / Perawatan


Tabel 2.5 Alat Kesehatan / Perawatan di ruangan anak Tulip IIA
RSUD Ulin Banjarmasin.
13

Ratio Keadaan
No NamaBarang Jumlah Rusak
Pasien:Alat Baik Rusak
Berat
1 Suction portable 1/ruangan 1 √ - -
2 Nebulizer 3/ruangan 1 √ - -
3 Saturasi oksigen 3/ruangan 1 √ - -
4 Ambubag 3/ruangan 2 √ - -
5 Brankar 1/ruangan 1 √ - -
6 Kursi roda 2/ruangan 2 √ - -
7 Stetoskop 7/ruangan 3 √ - -
8 Jumlah standar infus 6/defisi 27 √ - -
9 Kereta oksigen kecil 1/ruangan 1 √ - -
10 Termometer 5/ruangn 2 √ - -
11 Pinset 5/ruangan 5 √ - -
12 Bengkok 2/ruangan 6 √ - -
13 Bed tindakan 1/ruangan 2 √ - -
14 O2 dinding 6/defisi 40 √ - -
16 Pispot 6/defisi 6 √ - -
17 Siring pump 20/ruangan 2 √ - -
18 Nasal Oksigen anak 6/ruangan 7 √ - -
19 Suction dinding 6/defisi 40 √ - -
20 Troli 1/ruangan 3 √ - -
21 Bak instrumen 5/ruanga 3 √ - -
22 Tempat kassa steril 2/ruangan 1 √ - -
23 Infus pump 20/ruangan 2 √ - -
24 Kulkas obat 1/ruangan 1 √ - -

Berdasarkan data yang didapat berdsarkan peralatan kesehatan yang tersedia


diruang anak Tulip IIA, sudah terlihat cukup lengkap dan semua petugas
kesehatan khususnya perawat yang sudah mengoptimalkan semua peralatan
yang ada. Hal ini terbuktinya dengan sudah terpakainya semua stok persedian
alat.

Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya penempatan barang-barang pasien


yang kurang rapi, dan masih berserakan dimana-mana dan tempat keluarga
pasien tidur pun lambat dirapikan jika bangun pagi. Hal ini juga dapat menjadi
masalah penyebaran infeksi dan membuat lingkungan yang kurang nyaman
saat melakukan asuhan keperawatan.

2.5 Alat Rumah Tangga


Tabel 2.6 Alat Rumah Tangga Di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin
Banjarmasin.
14

Ratio Keadaan
No Nama Barang Jumlah Rusak
Pasien:Alat Baik Rusak
Berat
1 Jam Dinding 2/ruangan 4 √ - -
2 Ac kamar kepala ruangan 1/ruangan 1 √ - -
3 Ac kamar tindakan 1/ruangan 1 0 1 -
4 Ac Ruang administrasi 1/ruangan 1 √ - -
5 Ac kamar perawat 1/ruangan 1 √ - -
6 Ac ruangan tempat bermai 1/ruangan 1 √ - -
7 Bak sampah medis 2/ruangan 4 √ - -
8 Bak sampah non medis 4/ruangan 6 √ - -
9 Kursi besi 20/ruangan 51 √ - -
10 WC 1/defisi 13 √ - -
11 Kipas angin gantung 1/ruangan 9 √ - -
12 Computer 1/ruangan 2 √ - -
13 Computer administrasi 1/ruangan 1 √ - -
14 Lemari arsip 1/ruangan 1 √ - -
15 Lemari alat besi 1/ruangan 6 √ - -
16 Lemari linen besi 1/ruangan 1 √ - -
17 Lemari besi kamar pasien 6/defisi 42 √ - -
18 Meja 2/ruangan 13 √ - -
19 Lampu kamar tindakan 2/ruangan 4 √ - -
20 Timbangan 2/ruangan 6 √ - -
21 Meja kerja aula 1/ruangan 1 √ - -
22 Dispenser 1/ruangan 2 √ - -
23 Printer 1/ruangan 1 √ - -
24 Kasur busa 6/defisi 42 √ - -
25 Troli tindakan 1/ruangan 1 √ - -
26 Wastapel 1/ruangan 2 1 1 -
27 Televisi 1/ruangan 3 √ - -
28 Locker obat 1/ruangan 3 √ - -
29 Ranjang pasien 6/defisi 42 √ - -
30 Kulkas 1/ruangan 1 √ - -
32 Kipas angi9n diri 1/ruangan 2 √ - -

Berdasarkan dari data yang didapat peralatan rumah tangga yang ada di
ruangan Tulip IIA, di ruang kepela ruangan dan administrasi sudah baik
karena sudah mempunyai ruangan sendiri, Nurstation sudah
dimanfaatkan dengan baik dan letaknya srategis. Serta alat diruangan
anak yang ada dapat digunakan dengan baik dan mendukung semua
pelanyanan. Fasilitas WC pasien cukup memadai serta penerangan
diruangan anak sudah baik

2.4.3 Metode (M3)


2.4.3.1 Penerapan SP2KP
SP2KP merupakan model asuhan keperawatan yang dipergunakan
untuk kegiatan pengelolaan asuhan keperawatan disetiap unit ruang
rawat di rumah sakit. Pada aspek proses ditetapkan penggunaan
metode modifikasi keperawatan primer (kombinasi metode tim dan
15

metode keperawatan primer). Komponennya terdiri dari: perawat,


profil klien, sistem pemberian asuhan keperawatan, kepemimpinan,
nilai-nilai profesional, fasilitas, sarana prasarana (logistik) serta
dokumentasi asuhan keperawatan (Direktorat Bina Pelayanan
Keperawatan DEPKES RI, 2009).

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan di


Ruang Anak tulip IIA RSUD ULIN Banjarmasin, sudah menerapkan
Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP).
SP2KP diterapkan di Ruang Anak Tulip II A sejak tahun 2012
namun masih mengalami hambatan karena masih terkendala sumber
daya manusia yang kurang memadai.
Sistem Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional (SP2KP)
yang diterapkan di Ruang Anak Tulip II A terdiri atas satu
supervisor dengan 3 tim.

2.4.3.2 Penerimaan Klien Baru


Tabel 2.7 Tabulasi data penerimaan klien baru

No Pertanyaan Selalu Kadang- Tidak


dilakukan kadang pernah
dilakukan dilakukan
Saat timbang 25% 75% 0%
terima perawat
menyiapkan
status klien
Perawat telah 75 25% 0%
menyiapkan
buku catatan
dan peralatan
tulis
Ketua tim 25% 75% 0%
dalam keadaan
siap
16

Timbang 50% 50% 0%


terima
dipimpin oleh
kepala ruangan
pada
pergantian
shift dari
malam ke pagi
dari pagi ke
sore.
Sedangkan
pergantian
shift dari sore
ke malam
dipimpin oleh
ketua tim
Dilaksanakan 75% 25% 0%
setiap
pergantian
shift
Pelaksanaan 100% 0% 0%
dimulai dari
nurse station
Timbang 12,5% 87,5% 0%
terima
dilanjutkan
melihat
langsung
kondisi klien
Hal-hal yang 62,5% 37,5% 0%
sifatnya
khusus dicatat
dan di serah
terimakan pada
perawat shift
17

berikutnya

Perawat shift 62,5% 37,5% 0%


berikutnya
validasi data
ke klien
Perawat 62,5% 37,5% 0%
menyapa klien
dan
menanyakan
kondisi/
keluhan yang
dirasa saat ini
Waktu untuk 75% 25% 0%
timbang terima
tidak lebih dari
10 menit
kecuali klien
kondisi khusus
Penyampaian 75% 25% 0%
dilakukan
singkat dan
jelas
Perawat 62,5% 37,5% 0%
menyebutkan
identitas klien
Perawat 87,5% 12,5% 0%
menyebutkan
diagnosa
medis
Perawat 37,5% 62,5% 0%
menyebutkan
data obyektif
Perawat 75% 25% 0%
menyebutkan
data penunjang
18

lain
Perawat 75% 25% 0%
menyebutkan
tindakan
keperawatan
yang
dilaksanakan
Perawat 100% 0% 0%
menyebutkan
intervensi
kolaboratif dan
juga
menyebutkan
persiapan yang
perlu
dilakukan
dalam kegiatan
selanjutnya
Perawat 100% 0% 0%
kembali ke
nurse station
untuk
mendiskusikan
hasil validasi
data langsung
Perawat yang 100% 0% 0%
memimpin
timbang terima
menyebutkan
rencana kerja
bagi shift
berikutnya dan
mendokumenta
sikan
19

pelaksanaan
timbang terima
di buku
laporan oleh
ketua tim

Berdasarkan hasil kuisioner kepada 8 perawat, didapatkan hasil


bahwa pelaksanaan penerimaan klien baru masih kurang, karena
dari 7 item yang ditanyakan rata-rata masih berada pada kategori
kadang-kadang dilakukan. Selain itu, ada satu item yaitu item
tentang memperkenalkan klien dengan kliensekamar lainnya yang
sebagian besar tidak pernah dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan supervisor


dan perawat di ruang Anak Tulip IIA menyatakan bahwa kegiatan
proses penerimaan klien baru masih belum optimal, hal ini
dikarenakan masih kurangnya tindakan perawat untuk memberikan
penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyakit klien terdiri
dari memperkenalkan nama perawat, terapi yang akan dijalani,
dokter yang akan menangani, perawat penanggung jawab, tata
tertib di ruangan, fasilitas, dan klien sekamar serta orientasi
ruangan dan lingkungan rumah sakit. Selain itu, penyediaan
lembar persetujuan klien dirawat inap juga belum tersedia, serta
kurangnya waktu dan kesempatan perawat melakukan hal tindakan
tersebut di karenakan terlalu banyak pekerjaan dsb.

2.4.3.3 Timbang Terima


Tabel 2.8 Tabulasi data timbang terima
PilihanJawaban
Kadang- Tidak
No Pernyataan Selalu
kadang pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan
1 Saat timbang 25% 75% 0%
terima perawat
menyiapkan
20

status klien

2 Perawat telah
menyiapkan buku
75 25% 0%
catatan dan
peralatan tulis
3 Ketua tim dalam
25% 75% 0%
keadaan siap
4 Timbang terima
dipimpin oleh
kepala ruangan
pada pergantian
shift dari malam
ke pagi dari pagi
ke sore. 50% 50% 0%
Sedangkan
pergantian shift
dari sore ke
malam dipimpin
oleh ketua tim
5 Dilaksanakan
setiap pergantian 75% 25% 0%
shift
6 Pelaksanaan
dimulai dari nurse 100% 0% 0%
station
7 Timbang terima
dilanjutkan
12,5% 87,5% 0%
melihat langsung
kondisi klien
8 Hal-hal yang
sifatnya khusus
dicatat dan di
62,5% 37,5% 0%
serah terimakan
pada perawat shift
berikutnya
9 Perawat shift
berikutnya
62,5% 37,5% 0%
validasi data ke
klien
10 Perawat menyapa
klien dan
menanyakan
62,5% 37,5% 0%
kondisi/ keluhan
yang dirasa saat
ini
11 Waktu untuk 75% 25% 0%
timbang terima
tidak lebih dari 10
21

menit kecuali
klien kondisi
khusus
12 Penyampaian
dilakukan singkat 75% 25% 0%
dan jelas
13 Perawat
menyebutkan 62,5% 37,5% 0%
identitas klien
14 Perawat
menyebutkan 87,5% 12,5% 0%
diagnosa medis
15 Perawat
menyebutkan data 37,5% 62,5% 0%
obyektif
16 Perawat
menyebutkan data 75% 25% 0%
penunjang lain
17 Perawat
menyebutkan
tindakan 75% 25% 0%
keperawatan yang
dilaksanakan
18 Perawat
menyebutkan
intervensi
kolaboratif dan
juga menyebutkan 100% 0% 0%
persiapan yang
perlu dilakukan
dalam kegiatan
selanjutnya
19 Perawat kembali
ke nurse station
untuk
100% 0% 0%
mendiskusikan
hasil validasi data
langsung
20 Perawat yang
memimpin
timbang terima
menyebutkan
rencana kerja bagi
shift berikutnya
100% 0% 0%
dan
mendokumentasik
an pelaksanaan
timbang terima di
buku laporan oleh
ketua tim
22

Bedasarkan hasil kuesioner pada 8 perawat di ruang Anak Tulip IIA


diketahui timbang terima sudah dilakukan, hal ini digambarkan oleh
banyaknya presentase yang lebih tinggi pada kategori selalu , namun
masih ada beberapa point yang masih kadang kadang dilakukan
seperti point nomor 1, 3 ,7 ,15.

Berdasarkan hasil observasi, timbang terima di Ruang Anak Tulip


IIA pelaksanaannya kadang kadang dilakukan dihadapan klien (shift
pagi, sore dan malam). Timbang terima dari shift pagi ke shift siang
dan dari shift siang ke shift malam dan shift malam ke shift pagi
biasa hanya dilakukan secara informal di Nurse Station yang tidak
dipimpin oleh supervisor,

2.4.3.4 Ronde Keperawatan


Tabel 2.9 Tabulasi data Ronde keperawatan
Pilihan Jawaban
Kadang- Tidak
No Pernyataan Selalu
kadang pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan
1. Apakah di ruangan
ini dilakukan ronde 25% 75% 0%
keperawatan
2. Penetapan kasus
minimal satu hari
12,5% 87,5% 0%
sebelum waktu
pelaksanaan ronde
3. Pemberian informed
concent kepada 37,5% 62,5% 0%
klien atau keluarga
4. Perawat (ketua tim)
menjelaskan
0% 100% 0%
keadaan dan data
demografi klien
5. Perawat (ketua tim)
menjelaskan
50% 50% 0%
masalah
keperawatan utama
6. Perawat (ketua tim)
menjelaskan
37,5% 67,5% 0%
intervensi yang
akan dilakukan
23

7. Perawat
menjelaskan alasan
37,5% 67,5% 0%
ilmiah tindakan
yang akan diambil
8. Ronde keperawatan
dilakukan sesuai
dengan langkah- 12,5% 87,5% 0%
langkah ronde
keperawatan
9. Dalam pelaksanaan
ronde dilakukan
tindakan
keperawatan pada 37,5 62,5% 0%
masalah prioritas
yang telah
ditetapkan
10. Mendiskusikan
hasil temuan dan
tindakan pada klien
tersebut serta 67,5% 37,5% 0%
menetapkan
tindakan yang perlu
dilakukan

Berdasarkan hasil kuesioner pada 8 perawat, kegiatan ronde


keperawatan di Ruang Anak Tulip II A masih kadang kadang
dilakukan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan perawat Ruang Anak Tulip II A


pernah dilakukan ronde keperawatan namun jarang di Ruang Anak
Tulip IIA, ronde dilakukan apabila klien memilih kondisi yang buruk
dan memiliki kondisi keparahan yang sulit diatasi.

2.4.3.5 Sentralisasi obat


Tabel 2.10 Tabulasi data Sentralisasi obat
Pilihan Jawaban
Kadang- Tidak
No Pernyataan Selalu
kadang pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan
1. Apakah obat yang 75% 25% 0%
telah di resepkan
dan telah diambil
oleh keluarga
diserahkan kepada
24

perawat dengan
menerima lembar
serah terima obat
2. Apakah perawat
menuliskan nama
klien, register, jenis
obat, jumlah dan
sediaan (bila perlu)
dalam kartu
87,5% 12,5% 0%
control; dan
diketahui
(ditanda tangani)
oleh keluarga /
klien dalam buku
masuk obat.
3. Apakah keluarga
atau klien
selanjutnya
mendapatkan 87,5% 12,5% 0%
penjelasan kapan /
bila mana obat
tersebut akan habis.
4. Apakah obat yang
telah diserahkan
selanjutnya
disimpan oleh
perawat dalam
kotak obat dan obat 87,5% 12,5% 0%
yang telah diterima
untuk selanjutnya
disalin dalam buku
daftar penerimaan
obat
5. Apakah obat –obat 87,5% 12,5% 0%
yang telah
disimpan untuk
selanjutnya
diberikan olrh
perawat dengan
memperhatikan
alur yang
tercantum dalam
buku daftar
pemberian obat
dengan terlebih
dahulu dicocokkan
dengan terapi di
instruksi oleh
dokter dan kartu
obat yang ada pada
25

klien
6. Apakah pada saat
pemberian obat ,
perawat
menjelaskan
87,5% 12,5% 0%
macam obat,
kegunaan, jumlah
obat, dan efek
samping.
7. Apakah sediaan
obat yang ada
selanjutnya di cek
tiap pagi oleh ketua
ruangan/
87,5% 12,5% 0%
petugasyang
ditunjuk dan
didokumentasikan
dalam buku masuk
obat
8. Apakah obat yang
hampir habis akan
di informasikan
pada keluarga
100% 0% 0%
kemudian di
mintakan kepada
dokter penanggung
jawab klien
9. Apakah
penambahan atau
perubahan jenis,
dosis atau
perubahan route
pemberian obat
100% 0% 0%
akan di masukkan
dalam buku masuk
obat dan sekaligus
di lakukan
perubahan dalam
kartu sediaan obat
10. Apakah pemberian 87,5% 12,5% 0%
obat yang bersifat
tidak rutin
(sewaktu saja)
maka dokumentasi
hanya dilakukan
oleh perawat pada
buku masuk obat
dan selanjutnya di
informasikan pada
keluarga dengan
26

kartu khusus obat

Berdasarkan hasil kuisioner kepada 8 perawat didapatkan hasil bahwa


sentralisasi obat yang dilaksaakan di ruang Anak Tulip IIA sudah baik
dilihat dari semua pertanyaan yang ada, presentase (>50%) pada
semua point yan g ditanyakan.

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, obat-


obatan pada semua perawatan klien di ruang Anak,dikelola langsung
di ruang nurse station. Jenis obat-obatan yang dimaksud meliputi
sediaan injeksi dan peralatan medikasi lainnya kecuali oral. Terlihat
dengan adanya lemari tempat peletakkan obat dan buku rencana
injeksi. Dalam pengelolaan obat-obatan klien, obat yang dimiliki
klien di letakkan di loker yangtelah diberikan nomor sesuai bed klien.
Begitupun juga dengan spuit milik klien, karena semua spuit klien
dimasukkan ke dalam satu tempat sehingga tidak terdata apakah spuit
milik klien sudah habis atau belum. Sehingga disimpulkan bahwa
belum ada buku catatan khusus untuk penerimaan obat-obatan yang
diserahkan klien pada perawat.

2.4.3.6 Supervisi Keperawatan


Tabel 2.11 Tabulasi Data Supervisi Keperawatan
PilihanJawaban
Kadang- Tidak
No Pernyataan Selalu
kadang pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan
Supervisor
menetapkan
1. kegiatan yang 62,5% 37,5% 0%
akan di
supervisi
Supervisor
menetapkan
2. 25% 75% 0%
tujuan
supervisi
3. Supervisor 62,5% 37,5% 0%
ikut dalam
pendokumenta
sian kegiatan
27

pelayanan
bersama-sama
ketua tim dan
perawat
pelaksana
Supervisor
meneliti
4. 62,5% 37,5% 0%
dokumentasi
status klien
Supervisor
mendapatkan
hal-hal yang
5. 25% 75% 0%
perlu di
lakukan
pembinaan
Supervisor
memanggil
ketua tim dan
perawat
6. 75% 25% 0%
pelaksana
yang perlu
dilakukan
pembinaan
Supervisor
mengklasifikas
7. 62,5% 37,5% 0%
i permasalahan
yang ada
Supervisor
memberikan
masukan pada
8. 25% 75% 0%
ketua tim dan
perawat
pelaksana
Supervisor
mengevaluasi
9. 25% 75% 0%
hasil
bimbingan
Supervisor
memberikan
reward atau
umpan balik
10. 37,5% 62,5% 0%
kepada ketua
tim dan
perawat
pelaksana
28

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan supervisor di


Ruang Anak Tulip II A menyatakan bahwa tindakan supervisi yang
dilakukan di ruangan masih bersifat situasional (tidak terjadwal).

2.4.3.7 Discharge planning


Tabel 2.12 Tabulasi Data Discharge planning
Pilihan Jawaban
Kadang- Tidak
No Pernyataan Selalu
kadang pernah
dilakukan
dilakukan dilakukan
1. Setiap klien yang
mau pulang
dilakukan 75% 25% 0%
discharge
planning
2. Setiap klien yang
pulang diberikan 62,5% 37,5% 0%
health education
3. Setiap klien yang
mau pulang di
ajarkan cara 25% 75% 0%
perawatan
mandiri di rumah
4. Setiap klien
pulang paksa
dilakukan 62,5% 37,5% 0%
discharge
planinning
5. Dorongan untuk
melakukan
discharge
100% 0% 0%
planning timbul
dari diri anda
sendiri
6. Kepala ruangan
memimpin
12,5% 50% 37,5%
discharge
planning
7. Pelaksanaan
discharge
planning
75% 25% 0%
dilakukan
kepada klien dan
keluarga
8. Discharge 62,5% 37,5% 0%
planning
dilakukan setelah
29

pelunasan
administrasi
9. Discharge
planning yang
anda lakukan
sesuai dengan
62,5% 37,5% 0%
prosedur, kerana
berpengaruh
pada asuhan
keperawatan
10. Meskipun
perawat sibuk
dengan
urusannya,
62,5% 37,5% 0%
perawat tetap
melaksanakan
discharge
planning

Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 8 orang perawat,


pelaksanaan discharge planning telah dilakukan sudah berjalan baik
dan selalu diakukan.

Berdasarkan hasil wawancara pada beberapa orang perawat dan hasil


observasi pada klien yang ingin pulang di ruang Anak Tulip IIA,
Discharge planning seperti pendidikan kesehatan biasanya di ruang
Anak Tulip II A hanya berupa pernyataan secara lisan yang diakukan
oleh dokter muda dan tidak adanya penggunaan media seperti poster
dan leaflet,di karenakan keterbatasan waktu yang dimiliki dan tidak
ada terlampir dalam dokumentasi keperawatan

2.4.3.8 Dokumentasi Keperawatan


Hasil Evaluasi penerapan SAK
Tabel 2.13 Rekapitulasi hasil evaluasi penerapan SAK di
Ruang Tulip I1A RSUD Ulin Banjarmasin Selama Bulan
November 2016
No Nilai Askep Yang Dinilai Persentase
1 Pengkajian 100%
2 Diagnosa Keperawatan 60%
3 Perencanaan 60%
4 Tindakan Keperawatan 100%
30

5 Evaluasi 100%
6 Catatan Keperawatan 100%
Rata-rata 86,66%

Berdasarkan hasil observasi pada 10 status klien


menunjukkan penerapan Standar Asuhan Keperawatan pada
tanggal 2 - 3 November 2016 di Ruang Anak Tulip II A
secara keseluruhan sudah cukup baik sesuai dengan standar
penerapan yang ada di RSUD Ulin Banjarmasin yaitu
mencapai 86,66%, namun dalam hal pembuatan diagnose
masih ada kekurangan yaitu sebesar 60%, Kemungkinan hal
ini dikarenakan kebiasaan dalam penulisan diagnosa
keperawatan tidak berdasarkan PE/PES

Sesuai dengan kesepakatan penerapan SAK di RSUD Ulin


Banjarmasin, dokumentasi Keperawatan hanya dilakukan
pada 2 lembar format, yaitu lembar pengkajian sekaligus
lembar penegakan diagnosa dan lembat catatan keperawatan
yang terdiri atas isian Subjek (S), Objektif (O), Assessment
(A), Planning (P), Implementation(I), sementara pada point
Evaluation (E) tidak dilakukan. Pada perhitungan yang telah
dilakukan, didapatkan hasil yang menunjukkan SAK belum
optimal. Hal ini dikarenakan kebiasaan dalam penulisan
diagnosa keperawatan tidak berdasarkan PE/PES.

2.4.3.9 Penerapan Standar Operational Prosedur (SOP) di Ruang Anak


Tulip II A
Berdasarkan studi dokumentasi yang dilakukan tanggal 2 - 3
november 2016, terdapat 28 Standar Operational Prosedur (SOP)
yang berlaku diRuang Anak Tulip II A. Namun karena adanya
beberapa keterbatasan yang ada baik dari mahasiswa, maupun
perawat sendiri, sehingga hanya ada 3 SOP yang bisa kami
observasi pada tanggal 2 - 3 november 2016, adapun SOP yang
diobservasi dapat dilihat dari tabel dibawah ini
31

Tabel 2.14 Penerapan Standar Operational Prosedur (SOP) di


Ruang Anak Tulip II A
NO SOP Observasi %
1 2 3 4
1 SOP Memasang Infuse 2 21 21 21 95,45%
1
2 SOP Memasang Bidai 9 9 9 9 100%
infuse
3 SOP Injeksi Via IV 9 9 9 9 100%
Rata-Rata 98,48%

Berdasarkan observasi yang dilakukan 2x selama 2 hari yang


dilakukan pada tanggal 2 – 3 november 2016 pada pelaksanaan
pemasangan infus dari 23 item yaang dinilai, didapat dalam 4 kali
observasi ada 8 item yang lupa untuk tidak dilakukan. Pada Point
pemasangan Perlak dan Membersihkan Tutup botol dengan
Alkohol, sedangkan point lainya telah dilakukan.

Sementara untuk pemasangan Bidai Infuse dan SOP injeksi Via IV


yang sudah dilakukan observasi 2x selama 2 hari, Point Point pada
SOP sudah dilakukan selama 100%. Dari Kesimpulan diatas didapat
disimpulkan bahwa pelaksanaan tindakan keparawatan di Ruang
Anak Tulip II A adalah baik dengan nilai rata rata 98,48%. Sudah
sesuai Standar Operational Prosedur (SOP). Hal ini perlu
ditingkatkan kembali agar semua asuhan keperawatan dapat berjalan
sesuai dengan visi dan misi rumah sakit.

2.4.4 Money (M4)


Dari hasil wawancara pada tanggal 1 s/d 2 November 2016 dengan
Supervisor ruangan, didapatkan hasil sebagian pembiayaan ruangan
berasal dari rumah sakit dan sebagian berasal dari Badan Layanan Umum
Daerah (BLUD) dibawah pengawasan Provinsi kalimantan Selatan.
Mayoritas pembiayaan pasien menggunakan BPJS (Badan
Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan), Jamkesprov/Jamkesda dan umum.
Anggaran dana untuk pembayaran gaji perawat yang PNS sudah diatur
oleh pemerintah. Sedangkan pembayaran gaji non-PNS diatur oleh pihak
32

Rumah Sakit sendiri yang langsung dikelola oleh pihak keuangan BLUD
RSUD Ulin Banjarmasin yang kira-kira berkisar Rp. 900.000,- sampai Rp.
1.500.000,-. Sedangkan jasa pelayanan medik dan jasa intensif diberikan
sesuai dengan pelayanan, tingkat kedudukan dan golongan perawat
sendiri.

Untuk pemeliharaan ruangan, saranan dan prasarana, alat kesehatan, serta


perbaikan pengadaan dana bagi ruangan (renovasi ruangan). Pendanaan
alat kesehatan, pendanaan fasilitas kesehatan bagi petugas biasanya
diperoleh dari penghasilan yang dikelola sendiri oleh BLUD RSUD Ulin
Banjarmasin dan dari anggaran pertahun oleh APBN dan APBD.

Prosedur pengadaan barang dan jasa belanja langsung yang dananya


bersumber dari BLUD RSUD Ulin Banjarmasin didapatkan dengan jalur
user (kepala ruangan, kepala poliklinik, kepala instalasi) yang
membutuhkan barang atau jasa menyampaikan usulan permintaan ke
direktur yang mendapatkan disposisi dari kepala seksi sarana
keperawatan, kepala bidang keperawatan, wakil direktur medik, kepala
bagian keuangan, pejabat ruangan, selanjutnya ke direktur. Apabila
direktur menyetujui, maka untuk permintaan yang bersifat perbaikan akan
dilanjutkan ke bagian umum dan perlengkapan umum apabila bersifat
pembelian baru atau pengadaan barang maka diserahkan ke bagian sarana
penunjang. Namun, ruangan juga memiliki dana talangan yang mana bisa
digunakan atau dicairkan tanpa menggunakan proposal ke direktur dan
bisa digunakan untuk melengkapi peralatan di ruangan yang bersifat
penting dan cepat dari jasa perawat di ruangan.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan selama 2 hari pada tanggal 1 s/d 2
November 2016 didapat hasil:
Tabel 2.15 Pembiayaan pasien Ruang Anak Tulip II A
Jenis Pembiayaan Jumlah pasien bulan Oktober Persentase (%)
Umum 40 orang 36,04
BPJS PBI 17 orang 15,32
33

BPJS Non-PBI 49 orang 44,14


Jamkesda 1 orang 0,9
Jamkesprov 2 orang 1,8
Lain-lain 2 orang 1,8
Jumlah 111 orang 100

Dari tabel diatas didapat hasil pada bulan Okteber tahun 2016,
pembiayaan pasien Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin di
Ruang Anak Tulip II A (ruang anak) digambarkan persentase tertingi yaitu
BPJS Non-PBI sebanyak 49 orang (44,14 %), pembiayaan umum 40
orang (36,04 %), pembiayaan BPJS PBI 17 orang (15,32 %), pembiayaan
Jamkesprov 2 orang (1,8 %), pembiayaan lain-lain 2 orang (1,8 %), dan
pem biayaan Jamkesda 1 orang (0,9 %).

2.4.5 Market (M5)


2.4.5.1 Keadaan klien
BOR pada serangkaian data sesuai dengan kapasitas tempat tidur
klien di ruang anak Tulip IIA dapat dilihat dari data klien pada
bulan Agustus – Oktober 2016
Tabel 2.16 Data Klien Ruang Anak Tulip II A Periode bulan
Agustus –Oktober 2016

Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah


Jumlah
BULAN Tempat Hari Lama klien
Hari/Bulan
Tidur Perawatan Dirawat Keluar
Agustus 31 42 572 738 180
September 30 42 339 336 92
Oktober 31 42 569 337 91
TOTAL 92 42 1480 1411 363

2.4.6 Data Khusus Ruang Anak


2.4.6.1 Fungsi perencanaan
a. Visi Ruang anak : Mewujudkan asuhan keperawatan anak yang
berkualitas
b. Misi Ruang Anak
1) Menigkatkan mutu asuhan keperawatan anak.
2) Menggalang persatuan perawat anak
34

3) Memfasilitasi kerjasama perawat anak dengan profesi


keperawatan lainnya
4) Meningkatkan mutu perawat anak melalui pendidikan dan
pelatihan.
c. Standar operasional prosedur
Standar operasional prosedur yang sudah ada di ruang anak
meliputi

1. SOP Memasang Infus


2. SOP Memasang Bidai Infus
3. SOP Memberikan transfusi darah
4. SOP memasang Venflon
5. SOP pemberian obat via Injeksi
6. SOP Fisioterapi dada
7. SOP Latihan Batuk Efektif
8. SOP Latihan pernafasan dalam
9. SOP Penatalaksanaan Suction
10. SOP Terapi oksigen
11. SOP Resusitasi jantung paru
12. SOP Pengukuran Intake & output cairan
13. SOP Nebulizer
14. SOP Oral Higien
15. SOP Penimbangan berat badan
16. SOP Pengukuran lingkar perut
17. SOP pemberian obat Suppositoria
18. SOP pengambilan darah vena
19. SOP pemasangan kateter
20. SOP Manajemen Nyeri keperawatan
21. SOP pemasangan NGT & pemberian makan lewat sonde
22. SOP Implementasi keperawatan Drambuise
23. SOP implementasi pemasangan infus pump
24. SOP Implementasi keperawatan kemoterapi
25. SOP persiapan & Aplusing obat kemoterapi
26. SOP Menilai tingkat kesadaran menggunakan GCS
27. SOP Implementasi Keperawatan Mantoux Test
28. SOP Persiapan anak pulang
d. Standar asuhan keperawatan
Standar asuhan keperawatan (SAK) Ruang Anank (Tulip II A) :
1. SAK ( Aktual/Resiko) Ketidak efektifan bersihan jalan
napas.
2. SAK ( Aktual/Resiko) kekurangan volume cairan tubuh
3. SAK Hipertermia
4. SAK ( Aktual/Resiko) nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
5. SAK ketidakefektifan pola napas
6. SAK Nyeri
7. SAK intoleransi aktivitas
8. SAK perubahan perfusi jaringan perifer
35

9. SAK Resiko tinggi infeksi


10. SAK kecemasan orang tua.
e. Standar kinerja
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi perawat di ruang
anak mengatakan sebagian besar perawat saat melakukan
tindakan keperawatan berdasarkan panduan SOP dan SAK

2.4.6.2 Fungsi pengorganisasian


a. Struktur organisas

DIREKTUR RSUD ULIN BANJARMASIN


dr. Hj. Suciati, M. Kes

WAKIL DIREKTUR MEDIK DAN KEPERAWATAN

Dr.dr. Moh. Isa, Sp. P

KEPALA BIDANG KEPERAWATAN

Akhmad Ibni nur, S.kep

KEPALA SEKSI INSTALASI RAWAT INAP

M. Aini, S.Kep.,Ns

KEPERAWATAN INSTALASI RAWAT INAP

H. Alpianoor Pahri, S.Kep


36

KEPALA RUANG INAP TULIP II A

Hj. Ernie Aprilia, S.Kep.,Ns, MM

SUPERVISOR

Taufik Hidayat, S.Kep, M.Kes

KATIM 1 ( Respirologi & KATIM 3( nefrologi, Gizi & Neuro)


KATIM 2(Gastro & Infeksi)
kardiologi) Rusniah, AMK
Rusmah H, S.Kep
Gustina, AMK
1. Fitriah, AMK (Nefro)
1. Noor Afianti Ni’mah, S.Kep, Ns (gastro)
2. Rianti, AMK (Nefro)
1. Noviyanti, AmKeb (Respi) 2. Rika Arlita, AMK (Infeksi)
3. Lailatul, AMK (Gizi)
2. Mardiyah, AMK (kardio) 3. Santasiah, AMK (Infeksi)
4. Rosida Eflah, AMK (Gizi)
5. Lindawati, Amkeb (Neuro)
6. Riza Magrifi, AMK (Neuro)

CS
ADMINISTRASI PEKARYA
1. khsan
1. Sa’adah 1. Farid Rozali
2. Norhasanah
2. Ani

Gambar 2.1 Struktur Organisasi di Ruang Anak Tulip IIA RSUD Ulin Banjarmasin

b. Uraian tugas
1. Tanggung jawab kepala ruangan (Nursalam, 2013 : 191-193):
1) Perencanaan
(a) Menunjukkan ketua tim akan bertugas di ruangan
masing-masing.
(b) Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya.
(c) Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien: gawat,
transisi, dan persiapan pulang bersama ketua tim.
(d) Mengidentifikasikan jumlah perawat yang dibutuhkan
klien bersama ketua tim, pengatur
penugasan/penjadwalan.
(e) Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.
(f) Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,
patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program
pengobatan dan mendiskusikan dengan dokter tentang
tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien.
(g) Mengatur dan mengendalikan Asuhan Keperawatan.
(h) Membimbing pelaksanaan Asuhan Keperawatan.
37

(i) Membimbiing penerapan proses keperawatan dan


menilai Asuhan Keperawatan.
(j) Mengadakan diskusi untuk pemecahan masalah
(k) Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga
yang baru masuk.
(l) Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan
diri.
(m)Membantu membimbing terhadap peserta didik
keperawatan.
(n) Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan
Rumah Sakit.

2) Pengorganisasian
(a) Merumuskan metode penugasan yang digunakan.
(b) Merumuskan tujuan metode penugasan.
(c) Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim
secara jelas.
(d) Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2
ketua tim dan ketua tim membawahi 2-3 perawat.
(e) Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan:
membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap
hari dan lain-lain.
(f) Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.
(g) Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik.
(h) Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada di
tempat, kepala ketua tim.
(i) Memberi wewenang kepada tata usaha untuk mengurus
administrasi pasien.
(j) Mengatur penugasan jadwal pos dan pakarnya.

3) Pengarahan
(a) Memberi pengarahan tentang penugasan kepada ketua
tim
(b) Memberi pujian kepada anggota tim yang melaksanakan
tugas dengan baik.
(c) Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan,
keterampilan dan sikap.
(d) Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan
berhubungan dengan askep pasien.
(e) Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir kegiatan.
38

(f) Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan


dalam melaksanakan tugasnya.
(g) Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain.

4) Pengawasan
(a) Melalui komunikasi
Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua
tim maupun pelaksana mengenai asuhan keperawatan
yang diberikan kepada pasien.
(b) Melaluai supervise
Pengawasan langsung melalui inspeksi, mengamati
sendiri atau melalui laporan langsung secara lisan dan
memperbaiki/mengawasi kelemahan-kelemahan yang
ada saat itu juga.Pengawasan tidak langsung mencek
daftar hadir ketua tim. Membaca dan memeriksa
perencanaan keperawatan serta catatan yang dibuat
selama dan sesudah proses keperawatan dilaksanakan
(didokumentasikan), mendengar laporan ketua tim
tentang pelaksanaan tugas.
5) Evaluasi
(a) Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan
dengan rencana keperawatan yang telah disusun
bersama ketua tim.
(b) Audit keperawatan

2. Tanggung jawab supervisor


1) Menetapkan dan mempertahankan standar praktik
keperawatan.
2) Menilai kualitas asuhan dan pelayanan yang diberikan
dengan standar keperawatan.
3) Mengembangkan peraturan dan prosedur yang mengatur
pelayanan keperawatan, bekerjasama dengan tenaga
kesehatan lain yang terkait. Hal ini diperlukan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan yang ada.
4) Memantapkan kemampuan perawat.
5) Memastikan praktik keperawatan profesional dilaksanakan.

3. Tanggung Jawab Katim


1) Menerima klien dan mengkaji kebutuhan klien secara
komperehensif.
39

2) Membuat tujuan dan rencana keperawatan


3) Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama praktik
4) Mengkomunikasikan dan mengkoordinasikan pelayanan
yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain
5) Mengevaluasi keberhasilan yag dicapai
6) Menerima dan menyesuaikan yang dicapai
7) Melakukan rujukan kepada pekarya sosial dan kontak
dengan lembaga sosial di masyrakat
8) Membuat jadwal perjanjian klinik
9) Mengadakan kunjungan rumah

4. Tanggung jawab Perawat pelaksana (PA)


1) Memberikan pelayanan keperawatan secara langsung
berdasarkan proses keperawatan dengan sentuhan kasih
sayang.
(a) Menyusun rencana keperawatan sesuai dengan masalah
klien
(b) Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan
klien
(c) Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah
diberikan
(d) Mencatat atau melaporkan semua tindakan perawatan
dan respon klien pada catatan perawatan
2) Melaksanakan program medis dengan penuh tanggung
jawab
(a) Pemberian obat
(b) Pemeriksaaan laboratorium
(c) Persiapan klien yang akan dioperasi
3) Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik,mental,
sosial, danspritual dari klien
(a) Memelihara kebersihan klien dan lingkungan
(b) Mengurangi penderitaaan klein dengan memberi rasa
aman, nyaman, dan ketenangan
(c) Pendekatan dak komuniaksi terapeutik
(d) Mempersiapkan klein secara fisik dan mental
menghadapi tindakan keperawatan dan pengpbatan atau
diagnosis.
4) Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuia dengan
kemampuannya.
5) Memberikan pertolongan segera pada klien gawat
6) Membantu kepala ruangan dalam penatalaksanaan ruangan
secara administratif
40

(a) Menyiapkan data klien baru, pulang, atau meninggal


(b) Sensus harian atau formulir
(c) Rujukan harian
7) Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada di ruangan
menurut fungsinya supaya siap pakai.
8) Menciptakan dan memlihara kebersihan, keamanan,
kenyamanan dan keindahn ruangan.
9) Melaksanakan tugas dinas pagi, sore, malam atau hari libur
secara bergantia sesuai jadwal tugas.
10) Memberi penyuluhan kesehatan sehubungan dengan
penyakitnya.
11) Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klein baik
secara lisan maupun tulisan.
12) membuat lapora harian klien

5. Evaluasi
Uraian kegiatan yang dilakukan menurut alur kepemimpinan di
ruang seruni yaitu Kepala Ruangan melimpahkan perencanaan
dengan baik kepada Supervisor diantaranya menerapkan
Manajemen Keperawaran ysng di adopsi adalah SP2KP (Sistem
Pemberian Pelayanan Keperawatan Profesional).Adapun
konsep untuk metode SP2KP modifikasi yaiu kedua tim
sebagai perawat profesional dituntut untuk mampu
menggunakan teknik-teknik kepemimpian dan anggota tim
diharapkan mampu menghargai kepemimpanan ketua tim.
Model SP2KP modifikasi ini berhasil baik di dukung oleh
Supervisor dan kerja sama tim dalam menjalankan tugas-
tugasnya. Adapun struktur pembagian tugas di ruang Anak
adalah sebagai berikut.
41

Skema 2.2 Pembagian Tugas di Ruang Anak RSUD Ulin


Banjarmasin

Pada bidang pengorganisasian kepala ruangan telah merumuskan


rincian tugas dan tanggung jawab perawat primer dan asosiate yang
telah tersedia di ruangan, mengatur dan mengendalikan logistik
ruangan dan mengendalikan situasi lahan praktik.

Supervisor telah memberikan tentang penungasan kepada katim


sebagai perawat tim dan sebagai perawat pelaksana, memberikan
motivasi kepada perawat yang mengerjakan tugas dengan baik,
menginformasikan hal-hal yang penting dan berhubungan dengan
askep lain, membimbing bawahan yang mengalami kesulitan dalam
melaksanakan tugasnya, bersedia dihubungi kapan saja jika perawat
ruangan memerlukan informasi (bantuan). Supervisor melakukan
pengawasan secara langsung proses keperawatan yang dilakukan
oleh perawat dan secara tidak langsung melakukan evaluasi audit
keperwatan diruangan.Supervisor telah memantau langsung
kemampuan perawat dalam melakukan pelayanan keperwatan di
rungan serta memantau langsung serah terima pasien pada saat
pergantian shif atau timbang terima pasien.

Ketua tim telah melakukan tugasnya mengidentifikasi kebutuhan


perawatan seluruh paasien oleh tim keperawatan dibawah
koordinasinya, mengidentifikasi rencana asuhan keperawatan yang
tepat untuk pasiennya, memastikan setiap katim melaksanakan
asuhan keperawatan yang sesuai dengan rencana yang telah dibuat,
melaksanakn validasi tindakan keperawatan seluruh pasien dibawah
koordinasinya.
42

katim telah melakukan tugas sesuai tanggung jawabnya. Perawat


pelaksana telah melakukan tugasnya dalam memberikan pelayanan
keperawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan,
memperhatikan keseimbangan kebutuhan pasien (meliputi fisik,
mental, sosial dan spritual klien), melatih klein untuk menolong
dirinya sendiri sesuai dengan kemampuannya, memberikan
pertolongan segera pada klien gawat atau sakaratul maut,
membantu kepala rungan dalam pelaksaanan ruangan secara
administratif dan perawat pelaksana di ruang. Seruni melaporkan
tugas dan tanggung jawabnya kepada Katim.
c. Pengaturan daftar pasien
Skema 2.3 Alur masuk Pasien di Ruang Anak RSUD Ulin Banjarmasin

Poliklinik IGD

TPPO

Ruang rawat inap

Ruang anak

Pulang, pulang
paksa, pindah
ruangan, meninggal

d. Pengorganisasian perawatan klien


Nilai standar jumlah perawat per shift berdasarkan klasifikasi
menurut Douglas

2.4.6.3 Tingkat ketergantungan klien


klasifikasi pasien berdasarkan tingkat ketergantunagn dengan metode
Douglas, 1984

a. Asuhan keperawatan minimal:

1) Kebersihan diri, mandi, dan mengganti pakaian sendiri


2) Makan dan minum dilakukan sendiri
3) Ambulasi dengan pengawasan
4) Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shift
43

5) Pengobatan minimal
6) Status psikologis stabil

b. Asuhan keperawatan parsial,


1) Kebersihan diri di bantu
2) Makan dan minum di bantu
3) Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap shift
4) Ambulasi dibantu
5) Pengobatan lebih dari sekali

c. Asuhan keperawatan toal


1) Sebagian aktivitas dibantu
2) Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap 2-4 jam sekali
3) Terpasang folley cateter
4) Intake dan output tercatat
5) Terpasang infuse
6) Pengobatan lebih dari sekali
7) Persiapan pengobatan memerlukan prosedur

d. Asuhan keperawatan maksimal


1) Segala aktivitas diberikan perawat
2) Posisi tudur
3) Observasi tanda-tanda vital dilakukan tiap 2-4 jam sekali
4) Makan melalui NGT
5) Terapi intravena
6) Penggunaan Suctionn
7) Disorientasi/gelisah

Pada suattu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang dibutuhkan tergantung


pada jumlah klien dan derajat ketergantungan klien. Menurut Douglas (1984)
Loverige dan Cummings (1996) diklasifikasikan derajat ketergantungan klien
dibagi 3 kategori yaitu:
a. Perawatan minimal : 1-2 jam/24 jam
b. Perawatan parsial : 3-4 jam/24 jam
c. Perawatan Total : 5-6 jam/24 jam

Tabel 2.3 Nilai standar jumlah perawat persif bedasarkan klasifikasi pasien
menurut Douglas.
Klasifikasi pasien Pagi Sore Malam
Total care 0,36 0,30 0,2
Parsial care 0,27 0,14 0,07
Minimal care 0,17 0,14 0,10

2.4.6.4 Penentuan BOR Ruang Anak berdasarkan jumlah klien dan hari rawat bulan
Agustus 2016, september 2016 dan Oktober 2016
44

Keterangan :

TT = Tempat Tidur (Anak = 42 TT)

BOR = Bed Occupancy Rate

BOR bulan Agustus 2016 dengan jumlah hari rawat 572 hari:

BOR bulan September 2016 dengan jumlah hari rawat 868 hari:

BOR bulan Oktober 2016 dengan jumlah hari rawat 668 hari:

BOR rata-rata 3 bulan terakhir yaitu 54,70%

2.4.6.5 Jumlah Kebutuhan Tenaga Keperawatan


Penentuan standar kebutuhan tenaga kerja menurut PPNI
45

Keterangan :

A = Jumlah Jam Perawatan Anak (4 jam)

TT = Tempat Tidur (ruang anak) = 42 TT)

BOR = Bed Occupancy Rate

Jadi jumlah perawat yang diperlukan diruangan Anak adalah 24 orang. Jumlah
tenaga perawat di ruang Anak RSUD Ulin Banjarmasin adalah 16 orang, jadi
kekurangan tenaga perawat ada 8 orang.

a. Orientasi perawat baru


Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan Anak didapatkan
bahwa tenaga kerja tambahan atau perawat baru, kegiatan orientasi
dilakukan langsung oleh bagian pihak diklat. Pada minggu pertama
biasanya perawat baru akan mendapatkan shift pagi selama satu minggu
pertama, sedangkan pada minggu kedua jadwal pembagian shift telah
dijadwalkan oleh pihak rumah sakit.
b. Pengaturan jadwal dinas
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan Anak didapatkan
bahwa pengaturan jadwal dinas pada ruangan Anak telah ditetapkan pihak
bagian diklat, kemudian diserahkan pada bagian supervise dan
diberitahukan ke kepala ruangan, selanjutnya akan disesuaikan dengan
perawat diruangan.
c. Jenjang karir perawat (kredensial)
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan Anak didapatkan
bahwa jenjang karir perawat dengan sistem kredensial untuk RSUD Ulin
Banjarmasin khususnya diruang Anak belum diberlakukan. Dan akan
mulai diberlakukan pada tahun 2018.
46

2.4.6.6 Fungsi pengarahan


Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap supervisor di ruang
Anak pada tanggal 02 November 2016, dikatakan bahwa tugas dan peran
supervisor di ruang Anak adalah ikut terlibat langsung dalam mengawasi
dan mengarahkan kegiatan keperawatan terhadap pasien serta proses
pelaksanaan asuhan keperawatan. Supervisor mengatakan timbang terima
atau operandan pre dan post conferent dilakukan secara rutin setiap hari
pada waktu pagi, siang dan malam (sesuai pergantian shift dinas) disertai
pengkajian kepasien secara langsung, isi operan yaitu berupa asuhan
keperawatan dan catatan perkembangan pasien terbaru. Cara pemberian
motivasi kepada perawat yang digunakan oleh supervisor yaitu
berkoordinasi bersama Ketua Tim dan Kepala Ruangan dengan
melaksanakan rapat setiap 2 bulan sekali sebagai pendekatan dengan
rekan kerja/staff yang memuat tentang pendapat, usul, keluhan dan lain-
lain. Bagi rekan kerja yang bermasalah sewaktu-waktu dan kurang
kompeten maka akan dilakukan pendekatan secara pribadi dan diberikan
nasihat, motivasi serta pelatihan. Ronde keperawatan dilaksanakan hanya
diskusi antara perawat dan dokter, kemudian hasil diskusi akan
disampaikan oleh perawat kepada pasien/keluarga pasien, jarang
dilakukan diskusi yang melibatkan seluruh tenaga medis yang terkait.
Pendelegasian supervisor saat tidak ada ditempat yaitu dilimpahkan
kepada rekan kerja yang berdinas pada saat itu di ruangan.

2.4.6.7 Fungsi Pengendalian


1. Indicator Mutu
a. Indikator Mutu Ruangan (BOR, LOS, TOL, BTO)
Jumlah pasien saat ini (02 November 2016) yang berada
diruangan Anak RSUD Ulin Banjarmasin adalah sebanyak 15
pasien. Adapun tingkat keefisienan ruang Anak yang di hitung
selama 3 bulan, yaitu bulan agustus – oktober 2016 adalah
sebagai berikut

1). BOR
47

BOR adalah presentase penggunaan tempat tidur. Indikator ini


mempunyai standart Nasional yang berkisar 75-80%. Menurut
Depkes 2005. Rumus yang digunakan adalah :

BOR = Jumlah hari perawatan di Rumah Sakit x 100 %


Jumlah bed seluruhnya x periode

BOR bulan Agustus 2016 dengan jumlah hari rawat 572 hari:

BOR bulan September 2016 dengan jumlah hari rawat 868 hari:

BOR bulan Oktober 2016 dengan jumlah hari rawat 668 hari:

BOR rata-rata 3 bulan terakhir yaitu 54,70%

2). ALOS (Avarage Length Of Stay)


ALOS adalah nilai rata-rata lamanya perawatan seorang
pasien di Rumah Sakit. Indikator ini merupakan gambaran
tingkat efisiensi manajemen sebuah Rumah Sakit, selain itu
juga dapat dipakai untuk mengukur mutu pelayanan apabila
diagnosis penyakit tertentu dapat dijadikan tracernya (yang
perlu perawatan lebih lanjut).
Dibawah ini merupakan perhitungan ALOS di ruang Anak,
bulan Agustus – Oktober sebagai berikut :
48

ALOS = Jumlah lamanya dirawat


Jumlah pasien keluar RS (hidup+mati) / bulan
= 1411 = 3 hari
363

3). TOI (Turn Over Internal)


TOI adalah indikator yang menunjukkan jumlah hari atau
berapa hari rata-rata tempat tidur tidak ditempati oleh pasien
sampai ditempati lagi oleh pasien lain selama 1 tahun. TOI
diusahakan kurang dari 5 hari. Berikut ini merupakan
perhitungan TOI di ruang Anak bulan November sebagai
berikut:

TOI = (Jumlah bed x periode) – hari perawatan


Jumlah pasien keluar hidup + mati satu periode
= (42 x 92) – 1480 = 6 hari
363

4). BTO (Bed Turn Over)


BTO merupakan indikator yang beberapa kali satu tempat
tidur ditempati atau digunakan pasien dalam 1 bulan. Nilai
standart BTO 5 – 45 hari (Nursallam, 2011)
Dibawah ini merupakan perhitungan BTO di ruang Anak
sebagai berikut :

BTO = Jumlah pasien keluar RS (hidup + mati)


Jumlah tempat tidur

= 363 = 8 kali

42

2. Indicator mutu yang mengacu pada aspek pelayanan


a. Angka kejadian decubitus
Dari 2 orang pasien yang di rawat, jumlah pasien yang
mengalami decubitus saat pengkajian tidak ada.
b. Angka kejadian kesalahan dalam pemberian obat
Pada hari pengkajian, 2 orang pasien yang mendapat terapo
pengobatan baik injeksi maupun oral tidak ada terjadi kesalahan
pada pemberian.Hal ini dapat di cegah karena sebelum pemberian
obat perawat membaca etiket dan kartu obat terlebih dahulu.
49

1) Angka kejadian pasien jatuh


Pada hari pengkajian, 2 orang pasien yang di rawat tidak ada
yang terjatuh, dan ada 1 orang psien yang beresiko terjatuh
karena kesadaran samnolen
2) Angka kejadian infeksi nasokomial
Dari 2 pasien yang di rawat tidak ada psien yang mengalami
infeksi nasokomial. Pasien yang beresiko terkena infeksi
nasokomial ada 1 karena pasien post kraniatomi.

c. Survey Kepuasan Perawat Ruang Anak


Berdasarkan wawancara kepada 4 orang perawat Ruang Anak pada
tanggal 2 November 2014, didapatkan hasil:

Tabel2.14 Tingkat Kepuasan Perawat (Non PNS) Ruang Anak


RSUD Ulin Banjarmasin
No Persentase (%)

1 Tidak Puas 0%

2 Cukup Puas 25%

3 Puas 75%

4 Sangat Puas 0%

Total 100%

Dari hasil wawancara 4 perawat dengan status Non PNS


didapatkan sebanyak 75% perawat merasa puas dengan kriteria
4% puas pada point kemampuan supervise/ pengawas dalam
membuat keputusan, sebanyak 38% merasa cukup puas dengan
kriteria 4% merasa cukup puas pada point perhatian institusi
runah sakit terhadap perawat, 4% hubungan antara karyawan
dalam kelompok kerja, 4% kemampuan dalam bekerja sama antar
karyawan dan sebanyak 25% merasa tidak puas dengan kriteria
15% tidak puas dengan beban kerja, 10% dengan tersedianya
peralatan dan perlengkapan yang mendukung pekerjaan.

Tabel 2.15 Tingkat Kepuasan Perawat (PNS) Ruang Anak RSUD Ulin
Banjarmasin
50

No Persentase (%)

1 Tidak Puas 0%

2 Cukup Puas 0%

3 Puas 100%

4 Sangat Puas 0%

Total 100%

Dari hasil kuesioner 1 responden perawat dengan status PNS


didapatkan sebanyak 100% perawat merasa puas dengan kriteria
5% puas pada point kemampuan supervise/ pengawas dalam
membuat keputusan, dan 5% perlakuan atasan selama bekerja
diruangan, sebanyak 70% merasa cukup puas dengan kriteria 5%
merasa cukup puas pada point sistem pengkajian yang dilakukan
institusi tempat saudara bekerja, 5% kesesuaian antara pekerjaan
dan latar pendidikan, serta 5% kemampuan dalam menggunakan
waktu bekerja dengan penugasan yang diberikan, dan sebanyak
0% merasa tidak puas dengan kriteria 0% tidak puas pada point
tersedianya peralatan dan perlengkapan yang mendukung
pekerjaan, 0% kondisi ruangan kerja terutama berkaitan dengan
ventilasi udara, kebersihan dan kebisingan, 0% perhatian institusi
terhadap perawat.

d. Survey Kepuasan Pasien dan Keluarga di Ruang Anak.


Dari wawancara kepada 4 keluarga pasien bahwa keluarga puas
terhadap pelayanan yang di berikan oleh ruang Anak, dan saran dan
prasarana.

2.5 Analisa SWOT

1. Man
51

No Analisa Swot Bobot Rating Bobot x rating

1 M1 (ketenagaan) Faktor Internal (IFAS) `

Kekuatan :

a. Perawat memiliki pengalaman kerja 0,3 4 1,2


lebih dari 10 tahun yaitu 12 D3 dan s1
dan S2 4 orang
b. Memiliki dokter spesiali masing 0,3 3 0,9 S-
masing sesuai spesialisasi dan W=3,
melakukan visite pada pagi hari 3
c. Perawat sudah memahami peran dan 0,2 3 0,6 -3=0,3
fungsinya
d. Terdapat Dokter muda, mahasiswa 0,2 3 0,6
prakterdi ruangan
Total 1 3,3

2 Kelemahan

a. Tenaga S.kep Ners= 1 orang, belum 0,5 3 1,5


mencukupi kebutuhan tenaga untuk
menerapkan metode tim di Ruang
Anak Tulip II A.

b. Jumlah perawat menurut PPNI 24 0,5 3 1,5


yang ada Cuma 16

Total 1 3 3

3 Faktor ekstrenal (EFAS)

Peluang

a. Ruangan menerima mahsiswa praktek 0,5 3 1,5


dalam belajar asuhan keperawatan
b. Adanya kerjasama yang baik anatara 0,5 3 1,5
Ruangan dan instutusi
Total 1 3

4 Ancaman O-T =
3 -2,4
a. Adanya tuntutan yang tinggi dari 0,3 2 0,6 = 0,6
masyarakat untuk perawatan yang
lebih profesional
b. Makin tingginya kesadaran
masyarakat akan pentingnya kesehatan
c. Semakin banyaknya rumah sakit yang
52

menawarkan pelayanan keperawatan 0,3 2 0,6


yang berkualitas yang bisa menjadi
pesaing
0,4 3 1,2

Total 1 2,4

2. Material

No Analisa Swot Bobot Rating Bobot x rating

1 M2 (sarana dan prasarana) Faktor Internal


(IFAS)
S-W=2,9
Kekuatan -2 =0,9

a. Adanya pemisah pada ruangan sesuai


dengan pembagian penyakit/divisi 0,2 3 0,6

b. Adanya persiapan peralatan


keperawatan seperti : Suction,
nebulizer,dll 0,2 3 0,6

c. Tertersedianya Nurse Station 0,1 2 0,2

d. Sudah digunakannya gelang identitas 0,1 3 0,3


pada pasien
e. Tempat tidur sudah ada pengamannya 0,1 3 0,3

f. Terdapat taman baca dan taman 0,1 3 0,3


bermain untuk mengurangi dampak
hospitalisasi
g. Desain interior ruangan dapat 0,05 3 0,15
mengurangi dampak hospitalisasi pada
anak
h. Terdapatnya telpon untuk melakukan 0,05 3 0,15
berkomunikasi dengan tim medis
lainnya

Total 1 2,9

Kekurangan

a. Adanya alkes yang rusak seperti, 0,25 2 0,5


Stetoskop 4

b. Adanya wastapel yang rusak 1 buah 0,25 2 0,5


53

c. Adanya lemari baca yang cat 0,25 2 0,5


warnanya sudah mulai usang dan
bacaan yang kurang
d. Adanya beberapa bed yang 0,25 2 0,5
pengamanya tidak ada sehingga akan
terjadi resiko jatuh pada anak

Total 1 2

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3


-2 = 1
Peluang

a. Adanya kempatan untuk 0,6 3 1,8


memanfaatkan fasilitas seperti rak
buku, agar terlihat rapi

b. Adanya kesempatan untuk menganti


alkes yang rusak dan memperbaiki
praserana yang rusak 0,4 3 1,2

Total 1 3

Ancaman

a. Adanya tuntutan yang cukup tinggi 1 2 2


dari masyarakat tentang fasilitas
rumah sakit
Total 1 2

3. Methods.

No Analisa Swot Bobot Rating Bobot x rating


54

1 M3 (sarana dan prasarana) Penerapan Model,


Faktor Internal (IFAS)
S-w =
Kekuatan 2,4-2 =
0,4
a. Sudah ada model asuhan Keperawatan 0,1 3 0,3
yang digunakan di ruang Anak Tulip II
A yaitu metode SP2KP
0,1 3 0,3

b. Model yang digunakan sesuai dengan 0,2 3 0,6


visi dan misi SK.

c. Ruangan sudah memiliki standar 0,1 3 0,3


asuhan keperawatan yang sesuai
dengan SOP dan SAK
d. Sudah Dilaksanakanya alur 0,1 2 0,2
kepemimpinan dengan semestinya
e. Sebagian besar perawat sudah 0,1 2 0,2
melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sesuai dengan fungsi dan
peran masing masing
0,1 2 0,2
f. Kerjasama antar tim yang dibagi
pertim sudah baik dan terlaksana
sesuai dengan tugasnya
0,1 2 0,2
g. Sudah ada sistem pendokumentasian
yaitu SOAP
0,1 3 0,3
h. Format pengkajian sudah ada dan
dapat memudahla perawat dalam
pengkajian dan pengisianya
Total 1 2,4

Kekurangan

e. Belum semua tindakan didokumentasi 1 2 1

Total 1 2
55

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 2


-2 = 0
Peluang

a. Kepercayaan dari pasien dan 0,2 3 0,6


masyarakat cukup baik

b. Adanya pelatihan pelatihan dan


seminar yang diadakan oleh RS baik
didalam RS maupun di luar
0,2 2 0,4
lingkungan RS yang

c. Adanya kerjasama yang baik antara


mahasiswa dengan perawat ruangan 0,2 3 0,6

d. Adanya mahsiswa s1 keperawatan 0,2 3 0,6


yang melakukan praktek manajemen
keperawatan diruang untuk
mengevaluasi dan memberikan saran
terhadap SOP dan SAK yang
dijalankan oleh perawat (staf)

Total 1 2

Ancaman

a. Adanya sistem pengendalian mutu RS 0,3 0,2 0,6


dari pemerintahan pusat untuk menilai
kerja RS, misal dari bagian Infeksi
b. Adanya LSM yang turut serta 0,3 0,2 0,6
menyoroti kinerja kerja

c. Tuntutan masyarakat (pasien dan 0,4 0,2 0,8


keluarga) akan pelayanan maksimal

Total 1 2
56

M3 (Methods)

Dokumentasi Keperawatan S-W=3


-2,9 =0,1
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan
0,6 3 1,8
a. Adanya dokumentasi Keperawatan

b. Perawat mengerti cara pnegisian format 0,2 3 0,6


dokumentasi yang digunakan dengan
benar dan tepat 0,2
3 0,6
c. Pengisian catatan perkembangan SOAP
sudah dilakukan dan selalu diisi pada tiap
shift dari awal pasien masuk sampai
pasien pulang

Total 1 3

Kekuranagan

a. Data SOAP pada evaluasi pasien tidak 0,2 3 0,6


selalu dilakukan didepan pasien
0,3 3 0,9
b. Catatan Keperawtan kurang bersinambung
dan kurang lengkap 0,2 4 0,8

c. Dalam Mengangkat diagnosa keperawatan


masih belum mencantumkan PE/PES yang 0,3 2 0,6
lengkap

d. Masih ada tindakan keperawatan yang


belum didokumentasikan seperti
mengganti infus (Charting infus),
Transfusi
Total 1 2,9

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3


-2 = 1
Peluang

a. Adanya Mahasiswa S1 keperawatan yang 0,5 3 1,5


melakukan praktek manajemen
keperawatan di ruangan
57

0,5 3 1,5
b. Adanya kerjasama yang antar mahasiswa
dan perawat ruangan
Total 1 3

Ancaman

a. Adanya kesadaran pasien dan keluarga 0,4 2 0,8


akan tanggung jawab dan tanggung gugat
0,6 2 1,2
b. Akreditasi RS tentang sistem dokumentasi
Total 1 2

M3 (sarana dan prasarana)

Ronde Keperawatan S-W=3,4


– 2,5 =0,9
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan

a. Ruangan Mendukung adanya ronde


0,2 3 0,6
keperawatan
0,1 2 0,2
b. Adanya pembentukan Tim dalam
pelaksanaan ronde keperawatan

c. Jumlah tenaga keperawatan seimbang 0,1 2 0,2


dengan jumlah pasien sesuai dengan
tingkat ketergantunganya
0,6 4 2,4
d. Perawat mampu mengenali masalah atau
khusus yang perlu perhatian khusus
Total 1 3,4

Kekuranagan

a. Ronde Keperawatan sudah dilakukan 0,5 3 1,5


diruang tulip Anak, namun tidak selalu,
hanya kadang kadang
58

b. Pengetahuan perawat tentang ronde 0,5 2 1


keperawatan kurang optimal karena
karakteristik tenaga yang memenuhi
kualifikasi belum merata (lebih banyak
D3)

Total 1 2,5

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3,2


-3 = 0,2
Peluang

a. Adanya pelatihan dan seminar tentang 0,4 3 1,2


manajemen keperawatan
b. Adanya kesempatan dari KARU unutk 4 1,6
mengadakan ronde keperawatan pada
perawat dan mahaiswa praktek 0,4

c. Adanya kerja sama yang baik antara 0,2 2 0,4


perawat klinik mahasiswa S1 Keperawatan

Total 1 3,2

Ancaman

a. Adanya tuntutan dari masyarakat untuk 0,6 3 1,8


mendapatkan pelayanan keperawtan yang
lebih profesional
b. Persaingan Pemberi pelayanan Semakin 0,4 3 1,2
Kuat

Total 1 3

M3 (sarana dan prasarana)

Sentralisasi Obat S-W= 3,4


– 2 =1,4
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan
0,4 3 1,2
a. Tersedianya sarana dan prasarana untuk
setralisai obat
59

b. Sebagian besar perawat pernah berwenang 0,3 3 1,2


mengurusi sentralisasi obat

c. Adanya buku injeksi dan obat oral 0,2 3 0,6

d. Sudah ada format persetujuan sentralisasi 0,2 2 0,4


obat untuk pasien
Total 1 3,4

Kekuranagan

a. Pelaksanaan sentralisasi obat belum 1 2 2


optimal
Total 1 2

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3


-1,6 = 1,4
Peluang

a. Adanya mahasiswa S1 Keperwatan yang 0,5 3 1,5


melakukan praktek manajemen
keperawatan diruangan
b. Adanya kerjasama yang baik antara 0,5 3 1,5
mahasiswa perawat ruangan

Total 1 3

Ancaman

a. Tuntutan dari masyarakat untuk 0,4 2 0,8


mendapatkan pelayanan keperawtan yang
lebih profesional
b. Adanya ketidak percayaan pasien 0,4 2 0,8
sentralisasi obat

Total 1 1,6
60

M3 (sarana dan prasarana)

Supervisi

Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan

a. Rumah sakit ulin merupakan rumah sakit 0,3 4 1,2


pendidikan tipe A yang menjadi rumah
sakit rujukan di kalimantan selatan
0,3 4 1,2
b. Ruang perawatan Anak Tulip II A
merupakan ruangan yang memerlukan
perhatian ekstra dari petugas kesehatan

c. Kepala ruangan mendukung kegiatan 0,2 3 0,6


supervise demi peningkatan mutu pelayan
keperawatan
0,2 2 0,6
d. Adanya kemauan perawat untuk berubah
Total 1 3,6

Kekuranagan

a. Masih ada perawat yang mengatakan 0,5 3 1,5


belum ada format buku supervisi setiap
tindakan

b. Balum mempunyai format yang baku 0,5 3 1,5


dalam pelaksanaan supervise
Total 1 2

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3,1


- 3 = 0,1
Peluang

a. Adanya mahasiswa S1 Keperwatan yang 0,5 4 2


melakukan praktek manajemen
keperawatan diruangan

b. Adanya Jadwal supervise keperawatan


oleh supervesor setiap hari
0,3 3 0,9
61

c. Terbuka kesempatan untuk melanjutkan


pendidikan/ magang 0,2 1 0,2

Total 1 3

Ancaman

a. Tuntutan pasien sebagai konsumen untuk 1 3 3


mendapatkan pelayan yang profesiional
dan bermutu

Total 1 3

M3 (sarana dan prasarana)

Operan S-W= 2,8


–1,5 =1,3
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan

a. Overan merupakan kegiatan rutin, yaitu 0,3 3 0,9


dilaksanakan setiap kali pergantian shift

0,2 3 0,6
b. Ada interaksi saat overan berlangsung
0,3 3 0,9

c. Adanya buku khusus untuk pelaporan


overan 0,2 2 0,4

d. Setelah dilaporkan aporan ditanda tangi


oleh yang bersangkutan
Total 1 2,8
62

Kekuranagan

a. Perawat tidak mengetahui prinsip tentang 0,5 2 1,0


tehnik penyampaian overan didepan
pasien

b. Perawat mengatakan tidak mengetahui apa


yang dipersiapkan dalam overan 0,5 1 0,5

Total 1 1,5

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3 -


2=1
Peluang

a. Adanya mahasiswa praktek profesi di 0,5 3 1,5


ruangan.

b. Adanya Kerjasama yang baik antara 0,5 3 1,5


mahasiswa dengan perawat ruangan

Total 1 3

Ancaman

a. Adanya tuntutan yang lebih tinggi dari 1 2 2


masyarakat untuk mendapatkan pelayan
keperawatan yang profesional
Total 1 2

M3 (sarana dan prasarana)

Discharge Planning S-W= 3,1


- 2 =1,1
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan

a. Perawatan mengerti dan bersedia 0,4 4 1,6

b. melakukan perencanaan pulang 0,3 3 0,9

c. Perawat menggunakan bahasa yang mudah


difahami oleh pasien keluarga saat
d. melakuka perencanaan pulang 0,3 2 0,6
63

e. Adanya pembagian tugas secara lisan


tentang pelaksanaan perencanaan pulang

Total 1 3,6

Kekuranagan

a. Perawat masih mengataan tidak tersedia 1 2 2


brosur leaflet untuk pasien saat melakukan
perencanaan pulang
Total 1 2

Faktor Ekternal (EFAS) O-T = 3,4


- 3 = 0,9
Peluang

a. Adanya mahasiswa S1 Keperwatan yang 0,3 3 0,9


melakukan praktek manajemen
keperawatan diruangan

b. Adanya kerjasama yang baik anatara 0,3 3 0,9


mahasiswa dengan perawat ruangan

c. Kemauan Pasien atau keluarga terhadap 0,4 4 1,6


anjuran perawat

Total 1 3,4

Ancaman

a. Adanya tuntutan masyarakat untuk 0,5 2 1


mendapatkan pelayanan keperawtaan yang
profesional

b. Makin tingginya kesadaran masyarakat 0,5 3 1,5


kaan pentingnya kesehatan

Total 1 2,5

M4 money

No Analisa Swot Bobot Rating Bobot x rating


64

1 M4 (pemasukan dalam anggaran ) faktor S-W = 2-


internal

Kekuatan

1. Adanya pendanaan dari APDN dan APBN 0,5 3 1,5

2. Adanya pendanaan dari BLUD 0,5 2 1

Total 1 2,5

Kelemahan

1. Terbatasnya akomodasi dana yang 1 2 2


diberikan dari pihak BPJS kepada Rumah
Sakit

Total 1 2

Peluang O–T=3
–2=1
1. Adanya persediaan alokasi dana untuk 0,5 3 1,5
pemeliharaan ruangan, sarana dan prasarana

2. ruangan dapat mengajukan permintaan 0,5 3 1,5


dana yang bersifat Urgency langsung ke
IRNA.

Total 1 3

Ancaman

1. Banyaknya jumlah pasien diruangan ini 1 2 2


yang menggunakan jenis pembayaran BPJS
non PBI dan BPJS PBI dan selama
perawatan dirumah sakit sehingga dapat
menyebabkan kerugiaan terhadap
pemasukan dana rumah sakit dan
terbatasnya alokasi pendanaan BPJS untuk
perawatan pasien yang cukup lama di rumah
65

sakit, dapat menyebabkan terjadinya


kerugian pada rumah sakit

Total 1 2

M5.

No Analisa Swot Bobot Rating Rating Bobot

1 M5 (marketing) S-W=
2 - 2= 0
Faktor Internal (IFAS)

Kekuatan

1. Mempunyai 42 TT 0,3 2 0,6

2. Tingkat keselamatan pasien 0,3 2 0,6

3. Perhitungan BOR, TOI, LOS dalam 0,4 2 0,8


bats dan katagori baik

Total 1 2

Kelemahan

1. Kurangnya kesadaran keluarga 1 2 2


pasien terhadap bahaya
kesehatan pada anak di bawah
umur yang di bawa ke
lingkungan rumah sakit

Total 1 2

Peluang O–T=
2–2=
1. Adanya kesempatan untuk 1 2 2
0
menambahkan baner peraturan
di depan ruangan

Total 1 2
66

Ancaman

1. Adanya tuntutan dari keluarga 1 2 2


klien tentang larangan
membawa anak kecil ke
ruangan

Total 1 2
STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY TREATH

M1 (MAN) 67

a) Perawat memiliki a. Tenaga S.kep a. Ruangan a. Adanya tuntutan


pengalaman kerja Ners= 1 orang, menerima yang tinggi dari
lebih dari 10 belum mahasiswa masyarakat
tahun yaitu 12 mencukupi praktek dalam untuk perawatan
orang D3, S1 2 kebutuhan belajar asuahan yang lebih
orang, dan S2 2 tenaga untuk keperawatan profesional
b. Adanya b. Makin tingginya
orang menerapkan
b) Perawat sudah kerjasama yang kesadaran
metode tim di
memahami peran baik anatara masyarakat akan
Ruang Anak
dan fungsinya Ruangan dan pentingnya
Tulip II A.
c) Tedapat Dokter
b. Jumlah tenaga instutusi kesehatan
muda, mahasiswa c. Semakin
perawat
prakter di banyaknya
menurut PPNI
ruangan rumah sakit
24 orang akan
yang
tetapi yang ada
menawarkan
hanya 16
pelayanan
orang
keperawatan
yang berkualitas
yang bisa
menjadi pesaing
Strategi S-O Strategi W-O Strategi S-T Strategi S-W

Mendaya gunakan Mengusulkan Memperdayakan Mengusulkan


pengalaman kerja >5 peningkatan jenjang perawat yanag peningkatan jenjang
tahun untuk pendidikan pegawai, bekerja > 5 tahun pegawai agar dapat
membimbing memperdayakan agar memberikan memberikan asuhan
mahasiswa yang mahasiswa untuk asuhan keperawatn keperawtan
sedang praktek melakukan asuhan yang berkualitas berkualitas sesuai
dalam melaksanakan keperawtan pada kepada pasien standar profesi
tugas pasien

STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITY TREATH

M2 (MATERIAL)
a. Mempunyai a. Adanya alkes a. Adanya a. Adanya tuntutan
sarana dan yang rusak kesempatan yang cukup tinggi
prasarana yang seperti, untuk dari masyarakat
lengkap Stetoskop 4 memanfaatkan tentang fasilitas
b. Adanya pemisah b. Adanya wastapel
fasilitas seperti rumah sakit
pada ruangan ini yang rusah 1
rak buku, agar
68
69

C. Plan Of Action (POA)

INDIKAT
NO MASALAH TUJUAN KEGIATAN
KEBERHA
1 M1 (Ketenagakerjaan)

Tenaga S. Kep Ners Meningkatkan Mengusulkan : Peningkatan kine


hanya 1 orang belum kualitas dan kuantitas 1. Peningkatan jenjang
mencukupi kebutuhan SDM pendidikan pegawai. Peningkatan pen
tenaga berdasarkan 2. Peningkatan Skill perawat tentang
tingkat pendidikan untuk pegawai melalui dan keperawatan terb
menerapkannn metode pelatihan secara
tim di Ruang Anak Tulip berkala
II A 3. Penyegaran ilmu
keperawatan oleh
tenaga yang
berkompeten secara
periodik

M2 (Sarana & Prasarana)


1. Ruangan pasien sudah 1. Mengajarkan dan Terciptanya ruanga
sesuai tetapi terkadang menganjurkan dan bersih
masih adanya keluarga agar
penempatan barang- merapikan daerah bed Perawat dapat deng
barang pasien yang tempat tidurnya agar mengobservasi dan
kurang rapi dan bersih retlihat rapi tindakan keperawa

2. Adanya alat kesehatan 1. Berkoordinasi Mengusulkan untuk


yang rusak seperti dengan perawat peralatan yang rusa
stetoskop dan ada bed Memberikan fasilitas ruangan dalam
yang rell pengaman dan ke amanan bagi upaya
tidak ada klien penambahan alat-
alat yang kurang

M3 METODE
70

1. Pendokumentasian Perawat dapat mengisi 1. Mengajak Status pasien terisi


proses asuhan format proses perawat ruangan lengkap mulai d
keperawatan belum keperawatan dengan untuk pengakajian sam
maksimal optimal mendokumentasi catatan perkemb
kan setiap proses
asuhan
keperawatan yang
dilaksanakan
2. Meningkatkan
mutu pelayanan
dengan cara
melengkapi
pendokumentasia
n yang digunakan
sebagai payung
hukum
3. Mengusulkan
pembuatan SOP
pendokumentasia
n
4. Mengusulkan
perawat untuk
dapat mengikuti
pelatihan-
pelatihan tentang
cara
pendokumentasia
n asuhan
keperawatan
2. Timbang terima Timbang terima 1. Menentukan 1. Timbang teri
belum efektif dan dilakukan secara efektif penanggungjawab di ners statio
optimal dan sesuai konten timbang terima klien
2. Melaksanakan
timbang terima 2. Isi timbang t
setiap pergantian sif masalah kep
3. Melakukan timbang sudah dan be
terima yang ideal
yaitu timbang terima 3. Timbang teri
yang dilakukan terdokument
dengan metode baik
bedside teaching
3. penggunaan leaflet Dengan adanya leaflet 1. Membuat leaflet Terlaksananya pem
masih kurang dapat menambah sesuai dengan kasus dan diberikan saat p
pengetahuan pasien dan pasien dan diberikan
keluarga kepada pasien saat
melakukan discharge
planning
4. Sentralisasi obat Sentralisasi obat 1. Menata ruangan Perawat mengontro
belum berjalan dilaksanakan secara tempat dan cairan
optimal optimal penyimpanan
obat pasien
71

5. Ronde Mensosialisasikan Mensosialisasikan Ronde keperawata


keperawatan pelaksanaan ronde untuk melibatkan dengan dihadiri ole
kadang tidak keperawatan seluruh perawat dan disiplin (Tim Medis
dilakukakan multi disiplin