Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Seiring berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan, serta
bertambahnya penduduk dan masyarakat maka, maka perlu adanya perawat kesehatan
komunitas yang dapat melayani masyarakat dalam dalam hal pencegahan, pemeliharaan,
promosi kesehatan dan pemulihan penyakit, yang bukan saja ditujukan kepada individu,
keluarga, tetapi juga dengan masyarakat dan inilah yang disebut dengan keperawatan
komunitas.
Keperawatan Kesehatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang
ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam
upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui pencegahan penyakit dan
peningkatan kesehatan, dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan
evaluasi pelayanan keperawatan. (Pradley, 1985; Logan dan Dawkin, 1987)

1.2 Rumusan masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan kesehatan?
2. Apa sajakah indikator sehat?
3. Apa sajakah karakteristik dan prilaku sehat ?
4. Apakah yang dimaksud dengan kesehatan komunitas?
5. Bagaimanakah konsep dasar keperawatan komunitas?
6. Apa sajakah tahapan pencegahan serta tujuan dan strategi serta pelayanan
kesehatan utama?

1
1.3 Tujuan
1. Dapat mengetahui definisi kesehtan.
2. Dapat mengetahui indicator sehat.
3. Dapat mengetahui karakteristik dan prilaku kesehatan.
4. Dapat mengetahui definisi kesehatan komunitas.
5. Dapat mengetahui konsep dasar keperawatan komunitas.
6. Dapat mengetahui tahapan pencegahan serta tujuan dan strategi serta pelayanan
kesehatan utama.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi kesehatan


Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan
tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik,
emosi, sosial dan spiritual.

Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu
keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya
bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).

Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik berikut yang dapat


meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994):
a. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.
b. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan
eksternal.
c. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan
adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam
pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang
utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya
kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.

Sehat menurut model Neuman adalah suatu keseimbangan biopsiko-sosio-cultural


dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien yaitu fleksibel, normal dan resisten.
Keperawatan ditujukan untuk mempertahankan keseimbangan tersebut dengan
berfokus pada empat intervensi yaitu: intervensi yang bersifat promosi dilakukan
apabila gangguan yang terjadi pada garis pertahanan normal yang terganggu.

3
Sedangkan intervensi yang bersifat kurasi atau rehabilitasi dilakukan apabila garis
pertahanan resisten yang terganggu.
Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis
dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan
internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal (lingkungan
fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

Kesehatan manusia bergerak maju atau mundur dalam kontuitas tertentu,


dimana jarak ini menentukan apakah seseorang dikatakan sehat atau sakit.
Kesehatan tidak pernah constant. Parson (1972) mengatakan sehat adalah
kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efketif, sedangkan Dubois
(1978) mengatakan bahwa kesehatan adalah proses yang kreatif, dimana individu
secara aktif dan terus menerus mengadaptasi lingkungan. (Nasrul Efendy, 1998).
Dan menurut beberapa ahli keperawatan diantaranya Paplau H mengatakan
bahwa, kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas,
konstruktif, dan produktif, Orem E.D mengatakan bahwa kesehatan keadaan
integritas individu. Pemeliharaan diri sendiri secara umum adalah dasar untuk
berfungsi secara optimal. Sedangkan King M.E. Mengatakan bahwa kesehatan
adalah keadaan yang dinamis dalam siklus hidup dan memperoleh adaptasi terus
menerus terhadap stress (Chirstina Ibrahim, 1986)

2.2 Indikator sehat


Indikator adalah variabel yang digunakan untuk mengevaluasi situasi atau status
dan memungkinkan untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam waktu
yang singkat. Indikator harus memenuhi 5 syarat yaitu simpel, dapat diukur, ada
penyebab, terpercaya, serta waktunya pasti. Indikator untuk Indonesia Sehat
dikelompokkan dalam 3 kategori :
1. Indikator Hasil Akhir (Derajat Kesehatan)
Indikator ini berupa indikator mortalitas, morbiditas, dan status gizi.

4
2. Indikator Hasil Antara
Indikator ini berupa indikator lingkungan, perilaku hidup masyarakat, dan
akses serta mutu pelayanan kesehatan.
3. Indikator Proses dan Masukan
Indikator ini berupa pelayanan kesehatan, sumber daya kesehatan, manajemen
kesehatan serta konstribusi sektor-sektor terkait.

Menurut WHO beberapa indikator dari masyarakat sehat adalah:


1. Keadaan yang berhubungan dengan status kesehatan masyarakat, meliputi:
a. Indicator komprehensif: angka kematian kasar menurun, rasio angka
mortalitas proporsional menurun, umur harapan hidup meningkat.
b. Indicator spesifik: angka kematian ibu dan anak menurun, angka
kematian karena penyakit menular menurun, angka kelahiran
menurun.
2. Indicator pelayanan kesehatan
a. Rasio angka tenaga kesehatan dan jumlah penduduk seimbang
b. Distribusi tenaga kesehatan merata
c. Informasi lengkap tentang jumlah tempat tidur di rumah sakit, fasilitas
kesehatan lain, dan sebagainya
d. Informasi tentang jumlah sarana pelayanan kesehatan diantaranya rumah
sakit, puskesmas, rumah bersalin, dan sebagainya (Nasrul Efendy, 1998).

Dalam hal perawatan kesehatan masyarakat ada beberapa aspek sehat yang perlu
diperhatikan:
1. Pencapaian jadi diri atau pemenuhan dan pengembangan pontesi secara
sempurna.
2. Keadaan dimana terjadi efektivitas interaksi fisik dan lingkungan sosial (teori
adaptif).
3. Kemampuan penampilan peran sebagai cara efektif.
4. Terhindar dari tanda-tanda dan gejala penyakit atau ketidakmampuan. (Zaidin
Ali, 2000).

5
5. Dan Hendric L. Blum (1974) mengatakan bahwa ada 4 faktor utama yang
mempengaruhi kesehatan masyarakat, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan
kesehatan dan keturunan. Lingkungan merupakan faktor yang paling dominan
mempengaruhi kesehatan masyarakat, karena di lingkunganlah manusia
mengadakan interaksi dan interelasi dalam proses kehidupannya, baik dalam
lingkungan fisik, psikologis, sosial-budaya, ekonomi, dimana kondisi tersebut
sangat dipengaruhi oleh perilaku individu, keluarga, kelompok maupun
masyarakat, yang erat kaitannya dengan kebiasaan dengan norma, adat
istiadatyang berlaku dimasyarakat. Kemudian baru ditunjang oleh tersedianya
fasilitas kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat, dan yang terakhir adalah
faktor keturunan yang dibawa sejak lahir yang erat kaitannya dengan gen yang
diturunkan oleh orang tua. (Nasrul Efendy, 1998).

2.3 Karakteristik dan prilaku sehat


Perilaku sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau
kegiatan individu bagaimana kesehatannya tetap terjaga. Perilaku tersebut di
antaranya: Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit merupakan dua
konsep yang berhubungan erat dan pada pelaksanaannya ada beberapa hal yang
menjadi saling tumpang tindih satu sama lain. Peningkatan kesehatan merupakan
upaya memelihara atau memperbaiki tingkat kesehatan klien saat ini. Sedangkan
pencegahan penyakit merupakan upaya yang bertujuan untuk melindungi klien
dari ancaman kesehatan yang bersifat aktual maupun potensial

Kegiatan Peningkatan Kesehatan dapat bersifat Aktif maupun Pasif


a) Peningkatan Kesehatan Pasif
Merupakan strategi peningkatan kesehatan dimana individu akan memperoleh
manfaat dari kegiatan yang dilakukan oleh orang lain tanpa harus melakukannya
sendiri. Misal: Pemberian florida pada pusat suplai Air Minum (PAM);
Portifikasi pada susu dengan vitamin D.

6
b) Peningkatan Kesehatan Aktif
Pada strategi ini, setiap individu diberikan motivasi untuk melakukan program
kesehatan tertentu. Misal: Program Penurunan BB, dan Program pemberantasan
rokok, menuntut keikutsertaan klien secara aktif.

Sedangkan Pencegahan Penyakit terdiri dari beberapa tingkatan antara lain:


1) Pencegahan Primer
Merupakan pencegahan yang dilakukan sebelum terjadi penyakit dan gangguan
fungsi, dan diberikan kepada klien yang sehat secara fisik dan mental. Tidak
bersifat terapeutik, tidak menggunakan tindakan yang terapeutik, dan tidak
menggunakan identifikasi gejala penyakit. Terdiri dari :
 Peningkatan Kesehatan: pendidikan kesehatan, standarisasi nutrisi, perhatian
terhadap perkembangan kepribadian, penyediaan perumahan sehat, skrining
genetik dll
 Perlindungan Khusus: imunisasi, kebersihan pribadi (PHBS), sanitasi
lingkungan, perlindungan tempat kerja, perlindungan kecelakaan, perlindungan
karsinoge dan alergen.
2) Pencegahan Sekunder
Merupakan tindakan pencegahan yang berfokus pada individu yang mengalami
masalah kesehatan atau penyakit, dan individu yang berisiko mengalami
komplikasi atau kondisi yang lebih buruk.
 Pencegahan sekunder dilakukan melalui pembuatan diagnosa dan pemberian
intervensi yang tepat sehingga akan mengurangi keparahan kondisi dan
memungkinkan klien kembali pada kondisi kesehatan yang normal sedini
mungkin.
 Pencegahan komplikasi sebagian besar dilakukan di RS atau tempat pelayanan
kesehatan lain yang memiliki fasilitas memadai.
 Pencegahan sekunder terdiri dari teknik skrining dan pengobatan penyakit pada
tahap dini untuk membatasi kecacatan dengan cara menghindarkan atau
menunda akibat yang ditimbulkan dari perkembangan penyakit.

7
3) Pencegahan Tersier
 Pencegahan ini dilakukan ketika terjadi kecacatan atau ketidakmampuan
yang permanen dan atau tidak dapat disembuhkan.
 Pencegahan ini terdiri dari cara meminimalkan akibat penyakit atau
ketidakmampuan melalui intervensi yang bertujuan untuk mencegah komplikasi
dan penurunan kesehatan
 Kegiatannya lebih ditujukan untuk melaksanakan rehabilitasi, dari pada
pembuatan diagnosa dan tindakan penyakit.
 Perawatan pada tingkat ini ditujukan untuk membantu klien mencapai tingkat
fungsi setinggi mungkin, sesuai dengan keterbatasan yang ada akibat penyakit
atau kecacatan.
 Tingkat perawatan ini bisa disebut juga perawatan preventive, karena
didalamnya terdapat tindak pencegahan terhadap kerusakan atau penurunan
fungsi lebih jauh. Misal: dalam merawat orang yang Buta, disamping
memaksimalkan kemampuan klien dalam aktivitas sehari-hari, juga mencegah
terjadinya kecelakaan pada klien.

2.4 Kesehatan komunitas


kesehatan komunitas terdiri dari dua kata yaitu kesehatan dan komunitas, dimana
setiap kata memiliki arti yang cukup luas. Azrul, azwar (2000) mendefinisikan
ketiga kata tersebut sebagai berikut :
a. Kesehatan adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan manusia
mulai dari tingkat individu sampai tingkat ekosistem serta perbaikan
fungsi setiap unit dalam sistem hayati tubuh manusia mulai dari tingkat
sub sampai dengan tingkat sistem tubuh.
b. Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih
sering dibandingkan dengan manusia lain yang berada diluarnya serta
saling ketergantungan untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang
penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

8
Hendrik L. Blum mengatakan ada empat faktor yang mempengaruhi status
kesehatan komunitas, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan
keturunan.

Lebarnya anak panah menunjukkan besarnya peranan dan kepentingan dari berbagai
faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan komunitas. Pada gambar menunujukkan
bahwa lingkungan mempunyai pengaruh dan peranan terbesar diikuti perilaku,
fasilitas kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi, umumnya
digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik
misalnya : sampah, air udara, tanah, iklim, perumahaan dan sebagainya. Sedangkan
lingkungan sosial merupakan hasil interaksi antar manusia dengan manusia lainnya.
Perilaku merupakan faktor kedua mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,
karena sehat/ tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri, disamping itu juga dipengaruhi
oleh kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, pendidikan, sosial ekonomi, dan perilaku-
perilaku lainnya yang melekat pada dirinya. Pelayanan kesehatan merupakan fasilitas
kesehatan yang menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan, pencegahan
terhadap penyakit, pengobatan dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat yang
memerlukan pelayanan kesehatan. Sedangkan faktor keturunan (genetik) merupakan
faktor yang telah ada dalam diri manusia yang dibawa sejak dari lahir, misalnya dari
golongan penyakit keturunan, diantaranya diabetes mellitus, asma bronkial, dan

9
sebagainya. Dalam kesehatan komunitas menganut berbagai falsafah yang berkaitan
dengan kegiatan yang dilakukannya, yaitu :
 Pelaksanaan kegiatan kesehatan komunitas harus dapat diterima oleh semua
lapisan masyarakat.
 Mencakup semua upaya-upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.
 Dalam melakukan kegiatannya selalu melibatkan peran serta aktif masyarakat
secara terorganisasi.
 Kegiatan-kegiatan kesehatan komunitas yang terorganisir tersebut, dalam
pelaksanaannya senantiasa melibatkan berbagai bidang spesialisasi.

2.5 Konsep Dasar Keperawatan Komunitas

2.5.1 Definisi Keperawatan


Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan atau tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dapat mempengaruhi perubahan,
penyimpangan atau tidak berfungsinya secara optimal setiap unit yang terdapat
dalam sistem hayati tubuh manusia, baik secara individu, keluarga, ataupun
masyarakat dan ekosistem.

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian


integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social dan
spiritual secara komprehensif, ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat
baik sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik maupun
mental, keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan menuju kepada
kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan ini
dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada
upaya pelayanan kesehatan utama (Primary Health care) untuk memungkinkan

10
setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif. Kegiatan ini
dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab serta etika profesi
keperawatan.
Sebagai suatu profesi, keperawatan memiliki falsafah yang bertujuan
mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan. Pertama, Keperawatan
menganut pandangan yang holistic terhadap manusia yaitu keutuhan sebagai
makhluk bio-psiko-sosial-spiritual. Kedua, kegiatan keperawatan dilakukan
dengan pendekatan humanistic dalam arti menghargai dan menghormati martabat
manusia, memberi perhatian kepada klien serta menjunjung tinggi keadilan bagi
semua manusia. Ketiga, keperawatan bersifat universal dalam arti tidak
membedakan atas ras, jenis kelamin, usia, warna kulit, etnik, agama, aliran politik
dan status ekonomi social. Keempat, keperawatan adalah bagian integral dari
pelayanan kesehatan serta yang kelima, keperawatan menganggap klien sebagai
partne aktif dalam arti perawat selalu bekerjasama dengan klien dalam pemberian
asuhan keperawatan.

2.5.2 Definisi komunitas


Menurut Vanina Delobelle, definisi suatu komunitas adalah group beberapa orang
yang berbagi minat yang sama, yang terbentuk oleh 4 faktor, yaitu:
1) Komunikasi dan keinginan berbagi (sharing): Para anggota saling menolong satu
sama lain.
2) Tempat yang disepakati bersama untuk bertemu
3) Ritual dan kebiasaan: Orang-orang datang secara teratur dan periodic
4) Influencer: Influencer merintis sesuatu hal dan para anggota selanjutnya ikut
terlibat

Vanina juga menjelaskan bahwa komunitas mempunyai beberapa aturan sendiri,


yaitu:
 Saling berbagi (Share): Mereka saling menolong dan berbagi satu sama
lain dalam komunitas.
 Komunikasi: Mereka saling respon dan komunikasi satu sama lain.
11
 Kejujuran: Dilarang keras berbohong. Sekali seseorang berbohong, maka
akan segera ditinggalkan.
 Transparansi: Saling bicara terbuka dan tidak boleh menyembunyikan
sesuatu hal.
 Partisipasi: Semua anggota harus disana dan berpartisipasi pada acara
bersama komunitas.
 Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu
waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu
sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks
bila dibandingkan dengan individu dan populasi.Dalam komunitas, semua
organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya
saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.

2.5.3 Definisi keperawatan komunitas


Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan
khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan
masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan
masyarakat secara keseluruhan guns meningkatkan kesehatan, penyempumaan
kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan
bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai
masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.

Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan keperawatan


profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan pendekatan pads kelompok
resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin
keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien
sebagai mitra dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan
keperawatan (Spradley, 1985; Logan and Dawkin, 1987).

12
Keperawatan Komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang
ditujukan pada masyarakat dengan penekanan kelompok risiko tinggi dalam
upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui peningkatan kesehatan,
pencegahan penyakit, pemeliharaan rehabilitasi dengan menjamin keterjangkauan
pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagi mitra dalam
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan (CHN, 1977). Di
Indonesia dikenal dengan sebutan perawatan kesehatan masyarakat
(PERKESMAS) yang dimulai sejak permulaan konsep Puskesmas diperkenalkan
sebagai institusi pelayanan kesehatan profesional terdepan yang memberikan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara komprehensif.

2.5.4 Tujuan keperawatan komunitas


1) Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara
meyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal secara mandiri.
2) Tujuan khusus
 Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat.
 Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi
masalah keperawatan.
 Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan keperawatan.
 Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di masyarakat.
 Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindaklanjut
dan asuhan keperawatan di rumah.
 Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi
yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di
Puskesmas.

13
 Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk
menuju keadaan sehat optimal.
2.5.5 Asumsi Dasar Keperawatan Komunitas
a. Sistem pelayanan kesehatan bersifat kompleks
b. Pelayanan kesehatan berfokus pada tiga level prevensi: primer, sekunder,
dan tersier
c. Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan dengan
menggunakan pendidikan & penelitian/evidence based practice termasuk
keunikan budaya setempat sebagai landasan praktik keperawatan
d. Fokus pada keperawatan primer
2.5.6 Paradikma keperawatan komunitas
Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok,
yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins,
1987). Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi
individu, keluarga dan masyarakat.
1. Individu Sebagai Klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh
dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada
individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang
mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya
kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga Sebagai Klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara
perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri
atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya
mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan
fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan
aktualisasi diri.

14
Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus
pelayanan keperawatan yaitu :
a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan
lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,
memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam
kelompoknya sendiri.
c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang
diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh
anggota keluarga tersebut.
3. Masyarakat Sebagai Klien
Masyarakat memiliki cirri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur
oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki
identitas yang kuat mengikat semua warga.
Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan
sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif.
Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas,
konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Blum ada empat faktor
yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan
kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan
lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan
dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan.
Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat
kesulitan air bersih.
Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia
yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma. Keempat faktor
tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya
dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas
dipandang sebagai bentuk pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat
kepada individu, keluarga, dan kelompok dan masyarakat yang

15
mempunyai masalah kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitative dengan menggunakan proses keperawatan untuk mencapai
tingkat kesehatan yang optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk
pelayanan professional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan dalam
bentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara
komprehensif yang ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat
baik sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.
Lingkungan dalam paradigm keperawatan berfokus pada
lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status
kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik,
psikologis, sosial dan budaya dan lingkungan spiritual.

2.5.7 Sasaran keperawatan komunitas


Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk
individu, keluarga, dan kelompok yang beresiko tinggi seperti keluarga
penduduk di daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau
termasuk kelompok bayi, balita dan ibu hamil. Menurut Anderson (1988)
sasaran keperawatan komunitas terdiri dari tiga tingkat yaitu:
1) Tingkat Individu.
Pelayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu, keluarga
dilihat sebagai satu kesatuan dalam komunitas. Asuhan ini diberikan
untuk kelompok beresiko atau masyarakat wilayah binaan. Pada tingkat
komunitas, asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan
mamandang komunitas sebagai klien (Stanhope, 2004).

2) Tingkat Keluarga.
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara
terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan
maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau
masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya
mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada

16
Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman
dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri
(Riyadi,2007).
Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga
dengan mengukur sejauh mana terpenuhinya tugas kesehatan keluarga
yaitu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk
mengatasi masalah kesehatan, memberikan perawatan kepada anggota
keluarga, menciptakan lingkungan yang sehat dan memanfaatkan
sumber daya dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga.
Prioritas pelayanan Perawatan Kesehatan Masyarakat difokuskan pada keluarga
rawan yaitu :
a. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga
dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya
ditolong oleh dukun dan neonatusnya, balita tertentu, penyakit kronis
menular yang tidak bisa diintervensi oleh program, penyakit endemis,
penyakit kronis tidak menular atau keluarga dengan kecacatan tertentu
(mental atau fisik).
b. Keluarga dengan resiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang
memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi berat (HB kurang dari 8
gr%) ataupun Kurang Energi Kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil
resiko tinggi seperti perdarahan, infeksi, hipertensi, keluarga dengan
balita dengan BGM, keluarga dengan neonates BBLR, keluarga dengan
usia lanjut jompo atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri.
c. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan

3) Tingkat Kelompok Khusus


Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai
kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang
terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan (Mubarak,
2005).

17
4) Tingkat Komunitas
Selayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu, keluarga
dilihat sebagai satu kesatuan dalam komunitas. Asuhan ini diberikan
untuk kelompok beresiko atau masyarakat wilayah binaan. Pada tingkat
komunitas, asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan
mamandang komunitas sebagai klien (Stanhope, 2004).
2.5.8 Strategi Pelaksanaan Keperawatan Komunitas
Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam
perawatan kesehatan masyarakat adalah:
1) Pendidikan kesehatan (Health Promotion)
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan
cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat
tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa melakukan
suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Naomi, 2002).
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan
yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan,
dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan
ingin hidup sehat (Yuddi, 2008). Menurut Notoatmodjo pendidikan
kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam bidang
kesehatan (Mubarak, 2005).
2) Proses kelompok (Group Process)
Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok
masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di
dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Menurut Nies
dan McEwan (2001), perawat spesialis komunitas dalam melakukan upaya
peningkatan, perlindungan dan pemulihan status kesehatan masyarakat
dapat menggunakan alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu:
perencanaan sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat. Berkaitan
dengan pengembangan kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis
mencoba menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan

18
model pengembangan masyarakat (community development) (Palestin,
2007).
3) Kerjasama atau kemitraan (Partnership)
Kemitraan adalah hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau lebih,
berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan atau
memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Partisipasi klien dalam hal ini
adalah masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri
terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan
kesehatan dan kese ahteraan (Palestin, 2007). Kemitraan antara perawat
komunitas dan pihak-pihak terkait dengan masyarakat digambarkan dalam
bentuk garis hubung antara komponen-komponen yang ada. Hal ini
memberikan pengertian perlunya upaya kolaborasi dalam
mengkombinasikan keahlian masing-masing yang dibutuhkan untuk
mengembangkan strategi peningkatan kesehatan masyarakat (Palestin,
2007).
4) Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses
pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi
transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan,
pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk
membentuk pengetahuan baru (Palestin, 2007). Perawat komunitas perlu
memberikan dorongan atau pemberdayaan kepada masyarakat agar
muncul partisipasi aktif masyarakat. Membangun kesehatan masyarakat
tidak terlepas dari upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas,
kepemimpinan dan partisipasi masyarakat (Palestin, 2007). Sasaran dari
perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga, kelompok
khusus, komunitas baik yang sehat maupun sakit yang mempunyai
masalah kesehatan atau perawatan (Effendy, 1998)

19
Perawat di komunitas dapat bekerja sebagai perawat keluarga, perawat
sekolah, perawat kesehatan kerja dan perawat gerontologi.
a. Perawat keluarga
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat keperawatan
tingkat kesehatan masyarakat yang dipusatkan pada keluarga sebagai
satu kesatuan yang dirawat dengan sehat sebagai tujuan pelayanan dan
perawatan sebagai upaya (Ande, 2009).
Perawat teregistrasi dan telah lulus dalam bidang keperawatan
yang dipersiapkan untuk praktek memberikan pelayanan individu dan
keluarga disepanjang rentang sehat sakit. Praktek ini mencakup
pengambilan keputusan independen dan interdependen dan secara
langsung bertanggung gugat terhadap keputusan klinis. Peran perawat
keluarga adalah melaksanakan asuhan keperawatan keluarga,
berpartisipasi dan menggunakan hasil riset, mengembangkan dan
melaksanakan kebijakan di bidang kesehatan, kepemimpinan,
pendidikan, case managemen dan konsultasi (Ande, 2009).
b. Perawat kesehatan sekolah
Keperawatan sekolah adalah keperawatan yang difokuskan pada
anak ditatanan pendidikan guna memenuhi kebutuhan anak dengan
mengikutsertakan keluarga maupun masyarakat sekolah dalam
perencanaan pelayanan . Perawatan kesehatan sekolah
mengaplikasikan praktek keperawatan untuk memenuhi kebutuhan
unit individu, kelompok dan masyarakat sekolah. Keperawatan
kesehatan sekolah merupakan salah satu jenis pelayanan kesehatan
yang ditujukan untuk mewujudkan dan menumbuhkan kemandirian
siswa untuk hidup sehat, menciptakan lingkungan dan suasana sekolah
yang sehat. Fokus utama perawat kesehatan sekolah adalah siswa dan
lingkunganya dan sasaran penunjang adalah guru dan kader (Ande,
2009).

20
c. Perawat kesehatan kerja
Perawatan kesehatan kerja adalah penerapan prinsip-prinsip
keperawatan dalam memelihara kelestarian kesehatan tenaga kerja
dalam segala bidang pekerjaan (American Asociation of Occupational
Health Nursing). Perawat kesehatan kerja mengaplikasikan praktek
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan unik individu, kelompok dan
masyarakat di tatanan industri, pabrik, tempat kerja, tempak
konstruksi, universitas dan lain-lain. Lingkup praktek keperawatan
kesehatan kerja mencakup pengkajian riwayat kesehatan, pengamatan,
memberikan pelayanan kesehatan primer konseling, promosi
kesehatan, administrasi management quality asurance, peneliti dan
kolaburasi dengan komunitas (Ande, 2009).
d. Perawat gerontology
Perawatan gerontologi atau gerontik adalah ilmu yang mempelajari
dan memberikan pelayanan kepada orang lanjut usia yang dapat terjadi
di berbagai tatanan dan membantu orang lanjut usia tersebut untuk
mencapai dan mempertahankan fungsi yang optimal. Perawat
gerontologi mengaplikasikan dan ahli dalam memberikan pelayanan
kesehatan utama pada lanjut usia dank keluarganya dalam berbagai
tatanan pelayanan. Peran lanjut perawat tersebut independen dan
kolaburasi dengan tenaga kesehatan profesional. Lingkup praktek
keperawatan gerontologi adalah memberikan asuhan keperawatan,
malaksanakan advokasi dan bekerja untuk memaksimalkan
kemampuan atau kemandirian lanjut usia, meningkatkan dan
mempertahankan kesehatan, mencegah dan meminimalkan kecacatan
dan menunjang proses kematian yang bermartabat. Perawat
gerontologi dalam prakteknya menggunakan managemen kasus,
pendidikan, konsultasi, penelitian dan administrasi.

21
2.5.9 Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas
Keperawatan komunitas mencakup berbagai bentuk upaya pelayanan
kesehatan baik upaya promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, maupun
resosialitatif.
1) Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dengan melakukan kegiatan
penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi, pemeliharaan kesehatan
perorangan, pemeliharaan kesehatan lingkungan, olahraga teratur, rekreasi
dan pendidikan seks.
2) Upaya preventif untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan
kesehatan terhadap individu, keluarga kelompok dan masyarakat melalui
kegiatan imunisasi, pemeriksaan kesehatan berkala melalui posyandu,
puskesmas dan kunjungan rumah, pemberian vitamin A, iodium, ataupun
pemeriksaan dan peme¬liharaan kehamilan, nifas dan menyusui.
3) Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau
masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit dirumah,
perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut dari Pukesmas atau rumah
sakit, perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada,
ataupun perawatan tali pusat bayi baru lahir.
4) Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang dirawat dirumah
atau kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu seperti TBC,
kusta dan cacat fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada penderita
kusta, patch tulang dan lain sebagainya, kegiatan fisioterapi pada penderita
stroke, batuk efektif pada penderita TBC, dll.
5) Upaya resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan penderita ke
masyarakat yang karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti,
penderita AIDS, kusta dan wanita tuna susila.

22
BAB II
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang
sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau
kelemahan (WHO, 1947). UU No.23, 1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan
hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Indikator harus memenuhi 5 syarat yaitu
simpel, dapat diukur, ada penyebab, terpercaya, serta waktunya pasti. Indikator untuk
Indonesia Sehat dikelompokkan dalam 3 kategori :
1. Indikator Hasil Akhir (Derajat Kesehatan) ini berupa indikator mortalitas,
morbiditas, dan status gizi.
2. Indikator Hasil Antara ini berupa indikator lingkungan, perilaku hidup
masyarakat, dan akses serta mutu pelayanan kesehatan.
3. Indikator Proses dan Masukan ini berupa pelayanan kesehatan, sumber daya
kesehatan, manajemen kesehatan serta konstribusi sektor-sektor terkait.
3.2 Saran
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan pada mahasiswa.
1. Dalam membuat makalah, individu diharapkan dapat memahami dan
menguasai tentang kesehatan komunitas dan konsep dasar keperawatan
komunitas.
2. Mahasiswa dapat lebih mengerti tentang pengertian kesehatan, indicator sehat,
karkteristik dan perilaku sehat.

23
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zaidin. 2000. Dasar-Dasar Ilmu Perawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 1. Depok: Pondok
Duta.
Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi 2. Jakarta:
EGC.
Potter, Patricia. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan Praktek,
Ed.4, Vol.1 . Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. 1997. Paradigma sehat, Jakarta: Dep. Kes. RI
Efendi, Ferry & Makhfudi. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik Dalam
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

24

Anda mungkin juga menyukai