Anda di halaman 1dari 6

Nama : Putri Herdiani

NIM : 041800006

Diskusi 8 Pendidikan Agama Islam


1. Coba Anda jelaskan tentang pengertian politik, dan Anda kaitkan dengan agama !
Jawab :
Kata politik terambil dari bahasa latin politicus, dan bahasa Yunani (Greek) politicos
yang mengandung arti “berhubungan dengan warga masyarakat”. Kedua kata tersebut
berasal dari kata polis yang bermakna city (kota). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
politik diartikan : (1) Pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan seperti
sistem pemerintahan dan dasar pemerintahan. (2) Segala urusan dan tindakan mengenai
pemerintahan atau terhadap negara lain. (3) Cara bertindak mengenai suatu masalah atau
kebijakan. Pakar kemudian mendefinisikan politik sebagai segala aktivitas atau sikap
yang berhubungan dengan kekuasaan dan yang bermaksud untuk mempengaruhi, dengan
jalan mengubah atau mempertahankan, suatu macam bentuk susunan masyarakat. Dapat
disimpulkan, bahwa yang dimaksud politik adalah bagaimana mengelola kekuasaan,
kebijakan dalam suatu negara yang berkaitan dengan warganya. Dari dua ayat surat An-
Nisaa’/4 : 58 – 59 para ulama kemudian merumuskan tentang konsep politik yang
diajarkan oleh Islam (Al-Qur’an). Konsep tersebut meliputi empat macam yaitu :
a. Kewajiban untuk menunaikan amanah.
b. Perintah untuk menetapkan hukum dengan adil.
c. Perintah taat kepada Allah, Rasul dan Ulil Amri.
d. Perintah untuk kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah.

2. Kontribusi agama Islam dalam kehidupan politik khususnya menyangkut prinsip-prinsip


kekuasaan politik cukup banyak, coba Anda jelaskan !
Jawab :
Prinsip-prinsip kekuasaan politik dalam Islam :
a. Kewajiban untuk Menunaikan Amanah
Redaksi yang secara langsung memerintahkan hal ini adalah “Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. Secara
sederhana para ulama mengartikan sebagai sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain
untuk dipelihara dan dikembalikan bila saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya. Di
antara macam-macam amanat tersebut adalah amanat antara manusia dengan Allah
SWT; amanat antara manusia dengan manusia lainnya; amanat antara manusia
dengan lingkungannya; amanat antara manusia dengan dirinya sendiri. Masing-
masing amanat tersebut mempunyai rincian, dan setiap rincian menuntut untuk
ditunaikan. Kekuasaan politik adalah salah satu jenis amanat dan agama
memerintahkan agar amanat kekuasaan politik tersebut ditunaikan. Di antara petunjuk
agama yang harus diperhatikan bagi siapa saja yang memegang kekuasaan politik
adalah diperintahkannya menunaikan amanat berupa usaha mencerdaskan rakyat dan
membangun mental dan spiritual.
b. Perintah Menetapkan Hukum dengan Adil
Perintah dalam ungkapan surat An-Nisaa’/4 : 58 – 59 mengisyaratkan bahwa di antara
kewajiban seorang yang memegang kekuasaan politik adalah menegakkan aturan-
aturan hukum yang ada dan juga membuat aturan hukum yang mungkin belum ada.
Surat An-Nisaa’/4 : 105 menekankan pentingnya seseorang yang memegang
kekuasaan politik untuk menegakkan hukum yang adil tanpa pandang bulu atau teban
pilih. Supaya dapat menegakkan hukum dengan adil salah satu syarat yang
ditekankan oleh Al-Qur’an adalah para aparat penegak hukum dilarang mengikuti
hawa nafsu dalam menegakkan hukum. Hal ini diisyaratkan dalam surat Al-
Maai’dah/5 : 48.
c. Perintah untuk Taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri
Ungkapan yang secara jelas menunjukkan hal tersebut adalah : “Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah, Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu”. Bahwa
yang dimaksud Ulil Amri adalah orang atau sekelompok orang yang mendapatkan
tugas untuk mengurusi urusan-urusan kaum muslim baik menyangkut masalah
ibadah, pendidikan, sosial, ekonomi bahkan termasuk urusan hubungan luar negeri
dan juga pemimpin perang. Dapat diketahui bahwa Ulil Amri dapat bersifat
perorangan yang memang mendapat mandate dan wewenang dari undang-undang
untuk mengatur satu urusan. Dapat juga berupa sekelompok orang, yang juga
mendapat tugas untuk menjalankan satu kebijakan yang telah ditetapkan bersama.
Dengan kata lain Ulil Amri secara khusus dapat merujuk orang atau sekelompok
orang yang diberi wewenang untuk memegang kekuasaan politik. Dari ungkapan
surat An-Nisaa’/4 : 58 – 59 dapat pula dipetik hikmah bahwa yang boleh diatur dan
diurus oleh Ulil Amri hanyalah hal-hal atau urusan-urusan yang belum diatur secara
jelas oleh Al-Qur’an dan as-Sunnah.
d. Kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah
Ungkapan yang secara langsung menunjukkan perintah tersebut adalah “Kemudian
jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah
(Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya)”. Demikian juga dalam surat Al-An’aam/6 : 38,
memberi solusi bahwa apabila terjadi perbedaan pendapat maka yang harus menjadi
kesepakatan bersama adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

3. Jelaskan juga kriteria yang diajarkan oleh Islam tentang pemimpin yang ideal !
Jawab :
Kehidupan politik adalah panggung bagi para politikus. Secara umum mereka
menjalankan tugasnya dengan mengemban amanat rakyat. Maka dibutuhkan sosok yang
ideal. Kriteria pemimpin yang diajarkan oleh Islam yaitu :
a. Shidiq (selalu berkata benar)
Kriteria pertama dari seorang pemimpin haruslah memiliki sifat jujur, yang
mengindikasikan seseorang yang memiliki integritas dalam bentuknya yang sangat
nyata adalah pikiran dan ucapannya selalu benar, demikian halnya dengan tindakan.
Maka bagi orang yang memiliki sifat selalu shidiq ini Al-Qur’an memujinya sebagai
orang-orang yang memperoleh nikmat yang tinggi dari Allah SWT, dan disandingkan
dengan para nabi. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa untuk menjadi pemegang
kekuasaan politik terlebih dalam sistem yang kurang baik, menjadi orang yang selalu
berpikir, berkata dan bertindak benar bukanlah suatu yang mudah dan tanpa risiko.
b. Amanah (tepercaya)
Pada poin kedua ini yang perlu digaris bawahi adalah bahwa seorang yang memegang
kekuasaan politik harus dapat mengemban amanat dengan baik.

c. Tabligh (menyampaikan)
Secara kebahasaann arti tabligh adalah menyampaikan. Dalam konteks sebagai salah
SAW sifat yang baik dalam kepemimpinan dalam era modern ini dapat kita pahami
sebagai keterampilan atau etika berkomunikasi. Di antara etika berkomunikasi yang
baik sebagai seorang pemimpin adalah ucapannya harus selalu mengandung
kebenaran jauh dari kedustaan.

4. Jelaskan pandangan saudara tentang kontribusi agama dalam mewujudkan persatuan dan
kesatuan bangsa !
Jawab :
Dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan kontribusi agama atau pemeluk agama
menggunakan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Islam lebih khusus adalah Al-Qur’an,
prinsip-prinsip tersebut yaitu :
a. Persatuan dan Persaudaraan,
b. Persamaan,
c. Kebebasan,
d. Tolong-menolong,
e. Perdamaian,
f. Musyawarah.
5. Di antara prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Al-Qur’an untuk mewujudkan persatuan
dan kesatuan bangsa adalah prinsip persamaan, persatuan dan tolong-menolong. Jelaskan
maksud masing-masing prinsip tersebut !
Jawab :
a. Prinsip Persamaan
Persamaan seluruh umat manusia ini ditegaskan oleh Allah dalam surat An-Nisaa’/4 :
1.

Ayat di atas didahului dengan panggilan yaa ayyuhaannaa su (wahai seluruh


manusia), padahal ayat-ayat tersebut turun setelah Nabi SAW. Hijrah ke Madinah
(Madaniyah), yang biasanya salah satu cirinya adalah di dahului dengan panggilan
alladziina amannuu yaa ayyuhaa (ditujukan kepada orang-orang yang beriman),
namun demi persaudaraan persatuan dan kesatuan, ayat ini mengajak kepada semua
manusia yang beriman dan yang tidak beriman untuk saling membantu dan saling
menyayangi, karena manusia berasal dari satu keturunan, tidak ada perbedaan antara
laki-laki dan perempuan, kecil dan besar, beragama atau tidak beragama. Semua
dituntut untuk mewujudkan persatuan dan rasa aman dalam masyarakat, serta saling
menghormati hak-hak asasi manusia.
Al-Qur’an begitu peduli terhadap prinsip persamaan manusia ini, sehingga pada
dasarnya manusia banyak memiliki titik persamaan maka hidup dengan keadaan
selalu bersatu padu menjadi lebih baik dan lebih mudah. Ayat-ayat dan juga beberapa
hadis telah menjelaskan bahwa dari segi hakikat penciptaan, manusia tidak ada
perbedaan. Mereka semuanya sama, dari asal kejadian yang sama yaitu tanah, dari
diri yang satu yakni Adam yang diciptakan dari tanah dan dari padanya diciptakan
istrinya. O;eh karenanya, tidak ada kelebihan seorang individu dari individu yang
lain, satu golongan atas golongan yang lain, suatu ras atas ras yang lain, warna kulit
atas warna kulit yang lain, seorang mana atas pembantunya, dan pemerintah atas
rakyatnya. Atas dasar asal usul kejadian manusia seluruhnya adalah sama, maka tidak
layak seseorang atau satu golongan membanggakan diri terhadap yang lain atau
menghinanya.
b. Prinsip Persatuan dan Persaudaraan
Dalam ajaran Islam banyak kita temukan petunjuk yang mendorong agar umat Islam
memelihara persaudaraan dan persatuan di antara sesama warga masyarakat. Ayat
yang menjelaskan bahwa pada mulanya manusia itu adalah satu umat ditegaskan
dalam Q.S. Al-Baqarah/2 : 213.

Dalam ayat ini secara tegas dikatakan bahwa manusia pada mulanya adalah satu
kesatuan, atau dalam istilah ayat di atas disebut dengan istilah satu umat. Allah SWT
menciptakan mereka sebagai makhluk sosial yang saling berkaitan dan saling
membutuhkan. Dengan demikian, kedatangan Islam dengan Al-Qur’an sebagai kitab
sucinya, selain mengembalikan bangsa yang terpecah kepada kepercayaan yang
murni atau hanif dalam arti sesuai dengan fitrah kejadian manusia yang paling
primodial juga mengandung misi mempersatukan individu-individu dalam satuan
masyarakat yang lebih besar yang disebut dengan ummah wahidah, yaitu suatu umat
yang bersatu berdasarkan iman kepada Allah dan mengacu kepada nilai-nilai
kebajikan. Karena pada dasarnya manusia adalah umat yang satu maka perpecahan,
permusuhan dan bentuk-bentuk kekerasan terhadap sesama manusia pada dasarnya
adalah sebuah pengingkaran terhadap tujuan penciptaan manusia.

c. Prinsip Tolong-menolong
Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin seseorang dapat bertahan hidup
sendirian tanpa bantuan orang lain. Tolong-menolong adalah prinsip utama dalam
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dari sinilah kita dapat memahami ajaran
Al-Qur’an yang menganjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Hal ini
ditegaskan dalam surat Al-Maai’dah/5 : 2.
Ayat tersebut secara jelas memerintahkan kepada manusia untuk bekerja sama dalam
hal-hal yang baik demi untuk kebaikan bersama. Dan melarang secara tegas bekerja
sama atau tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan keburukan. Dan di akhir ayat
Allah SWT sudah memeringatkan apabila sesama manusia lebih-lebih yang ada
dalam satu ikatan komunitas kebangsaan tidak mau saling menolong maka yang
terjadi adalah kehancuran yang diisyaratkan dalam ayat tersebut sebagai azab yang
pedih.

Sumber referensi : BUKU MATERI POKOK MKDU4221/3SKS/MODUL 1 - 9