Anda di halaman 1dari 83

PENGARUH TERAPI AIR KELAPA MUDA HIJAU

TERHADAP NYERI DISMENORE PADA


REMAJA DI SMA N.5 KAIRATU
PROVINSI MALUKU
TAHUN 2019

SKRIPSI

Oleh:
MAHANI TUBAKA
183112540120051

UNIVERSITAS NASIONAL
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
PROGRAM SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
JAKARTA 2019
PENGARUH TERAPI AIR KELAPA MUDA HIJAU
TERHADAPNYERI DISMENORE PADA
REMAJA SMA N.5 KAIRATU PROVINSI MALUKU
TAHUN 2019

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi persyratan memperoleh gelar Sarjana
Terapan Kebidanan pada Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional
Jakarta

Oleh:
MAHANI TUBAKA
183112540120051

UNIVERSITAS NASIONAL
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KEBIDANAN
JAKARTA
2019
Abstrack

Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda HijauTerhadap Nyeri Dismenore pada

Remaja Di SMA N.5 Kairatu Provinsi Maluku

Tahun 2019

Mahani Tubaka, Vivi Silawati, Nurul Husnul Lail

Latar Belakang:.Nyeri dismenore adalah ketidak seimbangan hormone progesterone dalam darah
sehingga mengakibatkan rasa nyeri perut yang sebabkan oleh kejang otot uterus,biasanya dalam
bersamaan nyeri yang timbul dapat dijumpai adanya rasa pusing,mual,muntah,bahkan bisa terjadi
diare.Air kelapa muda mengandung hormone perumbuhan,Vitamin c,kalsium dan
magnesium.kalsium dan mangnesium mengurangi keteganggan otot dan Vitamin c merupakan zat-
zat alamia yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi
Metode: Jenis penelitian ini menggunakan Quasi ekperimen dengan desain "one group pretest-
posttes" bertujuan untuk mengetahui pengaruh Terapi Air Kelapa muda hijau terhadap nyeri
dismenore dengan cara memberikan pretest terlebih dahulu sebelum di beri perlakuan, setelah di
beri perlakuan kemudian dilakukan posttest. Sampel yang di ambil dalam melaksanakan penelitian
ini adalah berjumlah 30 orang dengan menggunakan teknik incidental sampling.
Hasil: Uji statistic menggunakan uji Wilcoxon dengan tingkat kemaknaan (p < 0,05), didapatkan
nilai signifikan p value 0.000. Dengan demikian H0 di tolak, yang artinya ada pengaruh pemberian
terapi air kelapa muda hijau terhadap nyeri dismenore pada remaja di sma n.5 kairatu seram bagian
barat.
Kesimpulan dan Saran: Berdasarkan analisa data yang ada maka dapat disimpulkan bahwa ada
pengaruh pemberian terapi air kelapa muda hijau terhadap nyeri dismenore pada remaja di sma n.5
kairatu seram bagian barat

Kata Kunci : Air Kelapa Muda hijau,Nyeri Dismenore pada remaja


KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah Yang Maha ESA senantiasa

melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat

menyelesaikan penelitian yang berjudul “Pengaruh Terapi Air Kelapa

Muda Hijau Terhadap Nyeri Dismenore Pada Remaja Di Sma N.5 Kairatu

Seram Bagian Barat 2019 .Peneliti menyadari bahwa dalam pembuatan

skripsi masih terdapat banyak terdapat kesalahan dan kekurangan baik

dalam penyusunan, teknik penulisan maupun materi yang diberikan. Oleh

karena itu, peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat

membangun sehingga berguna untuk perbaikan selanjutnya.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menerima bimbingan,

saran dan dukungan serta dukungan dari berbagai pihak, sehingga pada

kesempatan ini peneliti sampaikan ucapan terima kasih kepada yang

terhormat :

1. DR. El Amry Bermawi Putera, M.A selaku Rektor Universitas

Nasional Jakarta.

2. Dr. Retno Widowati M.Si., Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Nasional

3. Dewi Kurniati., S.SiT.,M,Keb., selaku Ketua Program Studi Ilmu

Kesehatan Universitas Nasional

4. Vivi Silawati,S.ST,SKM,MKM Selaku Pembimbing 1 yang telah

bersabar dan memberikan dukungan penuh dalam pembuatan skripsi.


5. Nurul Husnul Lail,S.ST,M.Kes selaku pembimbing 2 yang telah

bersabar dan memberikan dukungan penuh dalam pembuatan skripsi.

6. Seluruh dosen dan staf karyawan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Nasional yang telah mendidik dan memfasilitasi di kampus kepada

penulis.

7. Sma N.5 Kairatu Seram Bagian Barat yang telah memberikan

kesempatan untuk peneliti melakukan penelitian.

8. Untuk kedua Orang Tua saya tercinta ayahanda saya Kasim Toule dan

ibu saya Aisah Hehanussa,serta abang saya Irfan tubaka,nyong tubaka

dan adik saya Guntur tubaka,dila tubaka,serta om saya mat

hehanussa,omakhen,tante sri,anisa,abg samar,adam,feby,sari,dyiah,tuty

yang selalu ada, keluarga besar tercinta yang tidak bisa yang sebutkan

satu persatu yang selalu memberikan semangat,motivasi,cinta,dan

doanya kepada saya.

9. Teman-teman seperjuangan Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan

chandrika basahona,wanti arif,siti mawadah,vlaviana,wina,septi ,lili

ince,dina,ratih,ka zamzam,kasma serta teman2 klz B1,atas

dukungan,saran dan,sahabat-sahabat saya lela,yuni,

sefti,waty,linda,kiki,mita,dida,nana dan teman2 saya 013,kosan

sagu,squad terkadang yang slalu memberi dukungan ke saya akhirnya

saya sebagai makhluk yang tidak sempurna memohon maaf apabila

ada kesahalan baik secara teknik, format ataupun isi dari skripsi
peneliti. Harapan saya semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat

bagi masyrakat.

Jakarta, Agustus 2019

(Mahani Tubaka)
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL halaman


HALAMAN JUDUL .................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................................... vi
DAFTAR ISI .............................................................................................. x
DAFTAR TABEL ...................................................................................... xii
DAFTAR BAGAN .................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xiv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 4
1.3 Tujuan Penelitian ....................................................................... 5
1.4 Manfaat Penelitian .....................................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Remaja ............................................................... 6
2.2 Pengertian Remaja .................................................................... 6
2.3 Perubahan – perubahan Pada Masa remaja ............................... 10
2.4 Konsep Teori ............................................................................. 40
2.5 Kerangka Konsep ....................................................................... 41
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian ....................................................................... 42
3.2 Populasi dan Sampel .................................................................. 42
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................... 43
3.4 Variabel Penelitian .................................................................... 44
3.5 Definisi Operasional .................................................................. 45
3.6 Instrumen Penelitian .................................................................. 45
3.7 Prosedur Pengumpulan Data ..................................................... 46
3.8 Pengolahan Data ........................................................................ 48
3.9 Analisa Data .............................................................................. 48
3.10 Uji Normalitas Data ................................................................... 48
3.11 Etika Penelitian .......................................................................... 48
BAB IV. HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Univariat ....................................................................... 50
4.2 Analisis Bivariat ......................................................................... 51
4.3 Pembahasan ...................................................................... ......... 52
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ....................................................................................... 72
5.2 Saran ............................................................................................. 73
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kandungan Air Kelapa ………………………….……….….………35

Tabel 3.1 Definisi Operasional …………………………….……….…….……43

Tabel 4.1 Gambar Karakteristik Responden …………….………….…….…...48

Tabel 4.2 Uji Normalitas Variable Penelitian ………………..……………..…49

Tabel 4.3 Nyeri Dismenore Sebelum dan Sesudah di berikan Terapi Air
Kelapa Muda Hijau…………………...…….………………………49
Tabel 4.4 Hasil Uji Wilcoxon …………..………………..……………………50
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Kerangka Teori ................................................................................................ 38

Kerangka Konsep ............................................................................................ 39


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Indonesia banyak perempuan yang mengalami nyeri dismenore tidak

melaporkan atau berkunjung ke dokter. Rasa malu ke dokter dan kecenderungan

untuk meremehkan penyakit seiring membuat data penderita penyakit tertentu di

Indonesia tidak dapat dipastikan secara mutlak. Boleh dikatakan 90 % wanita di

Indonesia pernah mengalami nyeri dismenore, Masyarakat memandang nyeri

dismenore hanya dianggap sebagai penyakit psikosomatis karena keterbukaan

informasi dan padatnya ilmu pengetahuan berkembang nyeri dismenore mulai

banyak dibahas (Putri, 2014).

Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya dismenore primer diantaranya

adalah : Indeks Massa Tubuh Seorang wanita dengan tubuh tidak ideal memiliki

resiko lebih besar terhadap kejadian dismenore, Tingkat Stres seringkali terjadi

secara tiba-tiba karena persoalan yang harus dihadapi dalam kehidupan.

Peningkatan tingkat stres menyebabkan pengaruh negativ pada kesehatan tubuh,

Aktifitas Fisik sangat dianjurkan untuk kepentingan kesehatan. Dapat memberikan

manfaat bagi tubuh. Semakin rendah aktifitas fisik maka tingkat dismenore akan

semakin berat dan sebaliknya. (Novia Dkk, 2014).

Dismenore adalah sakit di bagian perut yang terjadi sebelum atau terjadi

bersamaan saat menstruasi. Nyeri haid/dismenore merupakan ketidak seimbangan

hormon progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri timbul,


faktor psikologis juga ikut berperan terjadinya dismenore pada beberapa wanita.

Wanita pernah mengalami dismenore sebanyak 90%. Masalah ini setidaknya

mengganggu 50% wanita masa reproduksi dan 60-85% pada usia remaja, yang

mengakibatkan banyaknya absensi pada sekolah maupun kantor. Pada umumnya

50-60% wanita diantaranya memerlukan obat-obatan analgesik untuk mengatasi

masalah dismenore ini (Annathayakheisha, 2015).

Nyeri dismenore merupakan nyeri sebelum atau selama menstruasi.produksi

prostaglandin yang tidak seimbang pada saat menstruasi menyebabakan kontraksi

uterus dan menyebabkan timbulnya nyeri.nyeri menstruasi terjadi diperut

bawah,biasanya dirasakan ketika mulai perdarahan (Reeder,Martin,dkk,2012)

Nyeri dismenore juga mengakibatkan terganggunya konsentrasi, ketinggalan

mata pelajaran di sekolah. Remaja dengan nyeri haid mengalami penurunan

prestasi di sekolah dari pada remaja yang tidak mengalami nyeri haid (Marsiami,

2014). Hasil penelitian yang dilakukan Sharma dkk (2011) dari total responden

remaja yang bersekolah sebanyak 35% menyatakan biasanya remaja tersebut tidak

datang ke sekolah selama nyeri haid dan 5% menyatakan datang ke sekolah tetapi

mereka hanya tidur di kelas. Sedangkan menurut Edmundson (2010) dalam

Kurnia (2011) nyeri haid menyebabkan ketidakhadiran saat bekerja dan sekolah,

sebanyak 13-51% wanita absen sedikitnya sekali, dan 5-14% berulangkali absen.

Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Siti Khodijah pada tahun

2017, penurunan nyeri dismenore pada mahasiswa program studi ilmu kebidanan

dengan P value 0,000, pengaruh pemberian terapi air kelapa mudah hijau

merupakan salah satu terapi alamiah yang mengandung kalsium dan magnesium
yang mengurangi ketegangan otot dan vitamin C yang merupakan zat-zat alamia

anti inflamasi yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi

dengan menghambat ezim cyclooxygenase yang memiliki peran dalam

mendorong proses pembentukan prostaglandin (Kristina, dll 2012).

Menurut WHO Angka kejadian dismenore di dunia sangat besar. Rata-rata

hampir lebih dari 50% perempuan mengalaminya. Di Inggris sebuah penelitian

menyatakan bahwa 10% dari remaja sekolah lanjut tampak absen 1-3 hari setiap

bulannya karena mengalami dismenore. Sedangkan hasil penelitian di Amerika

presentase kejadian dismenore lebih besar sekitar 60% dan di Swedia sebesar 72%

Prevalensi dismenore di Indonesia menyatakan dismenore berkisar 55%

dikalangan usia produktif (Depkes RI, 2015).

Di Indonesia, angka kejadian dismenore 64,25 %, terdiri dari 54,89 %

dismenore primer dan 9,36 % dismenore Sekunder. Selama 50 tahun terakhir

tercatat 75% perempuan mengalami nyeri haid. Biasanya gejala dismenore primer

terjadi pada perempuan usia produktif dan perempuan yang belum pernah hamil.

Dismenore sering terjadi pada perempuan yang berusia antara 20 tahun hingga 24

tahun atau pada usia sebelum 25 tahun. Sebanyak 61% terjadi pada perempuan

yang belum menikah (Tri, 2014).

Berdasarkan studi pendahuluan di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat

Tahun 2017 didapatkan jumlah keseluruhan remaja sebanya 75 dan remaja yang

mengalami nyeri dismenore sebanyak 39 orang atau sebesar (52%). Kemudian

mengalami peningkatan di Tahun 2018 yaitu remaja sebanyak 87 orang dan yang

mengalami nyeri dismenore sebanyak 45 orang atau (51,7%). Hal ini menunjukan
bahwa adanya peningkatan jumlah remaja yang mengalami nyeri dismenore dari

Tahun 2017 sampai Tahun 2018.

Air kelapa muda selain dapat digunakan sebagai minuman berenergi, air

kelapa juga memiliki kasiat diantaranya dapat memperlancar air seni, menurunkan

demam, mengobati influenza, dan dapat mengurangi rasa sakit ketika haid. Air

kelapa muda memiliki kandungan air, kalori, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor,

Fe (zat bezi), vit A, dan asam askobat (Fuzarah, 2017).

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan Data Di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat maka dapat

dirumuskan masalah dari penelitian ini adalah “apakah ada pengaruh air kelapa

muda hijau terhadap nyeri dismenore di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat

Tahun 2019”?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian terapi air kelapa muda hijau terhadap nyeri

dismenore di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat tahun 2019.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengetahui sebelum pemberian terapi air kelapa muda hijau di SMA N.5

Kairatu tahun 2019.

b. Mengetahui sesudah pemberian terapi air kelapa muda hijau di SMA N. 5

Kairatu tahun 2019.


c. Mengetahui pengaruh pemberian terapi air kelapa muda hijau di SMA N. 5

Kairatu tahun 2019.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Institusi Pendidikan

Di harapkan hasil penelitian ini dapat di jadikan sebagai tambahan

referensi bagi institusi kesehatan tentang pengaruh pemberian terapi air

kelapa muda hijau di SMA N. 5 Kairatu tahun 2019.

b. Bagi Tempat Penelitian

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan

pengetahuan untuk Sekolah SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat tentang

pengaruh pemberian terapi air kelapa muda hijau terhadap nyeri

dismenore.

c. Bagi Masyarakat

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan

pengetahuan bagi remaja tentang pengaruh pemberian terapi air kelapa

muda hijau terhadap nyeri dismenore.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Remaja

2.1.1 Pengertian Remaja

Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia,

menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa (Santrock, 2003). Masa

remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa

kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada periode ini terjadi perubahan-perubahan

besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah,

terutama fungsi seksual (Kartono, 1995).

Remaja, yang dalam bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari

bahasa Latin adolescare yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai

kematangan”. Bangsa primitif dan orang-orang purbakala memandang masa

puber dan masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang

kehidupan. Anak dianggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan

reproduksi (Ali & Asrori, 2006).

Menurut Rice (dalam Gunarsa, 2004), masa remaja adalah masa

peralihan, ketika individu tumbuh dari masa anak-anak menjadi individu yang

memiliki kematangan. Pada masa tersebut, ada dua hal penting menyebabkan

remaja melakukan pengendalian diri. Dua hal tersebut adalah, pertama, hal yang

bersifat eksternal, yaitu adanya perubahan lingkungan, dan kedua adalah hal

yang bersifat internal, yaitu karakteristik di dalam diri remaja yang membuat
remaja relatif lebih bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan

lainnya (storm and stress period).

Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan

fisik, emosi dan psikis. Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu

periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa

pubertas. Masa remaja adalah periode peralihan dari masa anak ke masa dewasa

(Widyastuti, Rahmawati, Purnamaningrum; 2009).

Pubertas (puberty) ialah suatu periode di mana kematangan kerangka dan

seksual terjadi secara pesat terutama pada awal masa remaja. Akan tetapi,

pubertas bukanlah suatu peristiwa tunggal yang tiba-tiba terjadi. Pubertas adalah

bagian dari suatu proses yang terjadi berangsur-angsur (gradual) (Santrock,

2002).

WHO (World Health Organization) memberikan definisi tentang remaja

yang lebih bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga

kriteria, yaitu biologis, psikologis, dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap

definisi tersebut berbunyi sebagai berikut. Remaja adalah suatu masa di mana:

1. Idividu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda

seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.

2. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi

dari kanak-kanak menjadi dewasa.

3. Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh

kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Muangman dalam

Sarwono, 2011).
Dalam tahapan perkembangan remaja menempati posisi setelah masa

anak dan sebelum masa dewasa. Adanya perubahan besar dalam tahap

perkembangan remaja baik perubahan fisik maupun perubahan psikis

(pada perempuan setelah mengalami menarche dan pada laki-laki

setelah mengalami mimpi basah) menyebabkan masa remaja relatif

bergejolak dibandingkan dengan masa perkembangan lainnya. Hal ini

menyebabkan masa remaja menjadi penting untuk diperhatikan

2.1.2 Perubahan-Perubahan Masa Remaja

1. Perubahan kognitif

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti

belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa (Jahja, 2012). Menurut Piaget

(dalam Santrock, 2001; dalam Jahja, 2012), seorang remaja termotivasi untuk

memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam

pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di

mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam

skema kognitif mereka. Remaja telah mampu membedakan antara hal-hal atau

ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga

mengembangkan ide-ide ini. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa

yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengholah cara berpikir mereka

sehingga memunculkan suatu ide baru.

Kekuatan pemikiran remaja yang sedang berkembang membuka cakrawala

kognitif dan cakrawala sosial baru .Pemikiran mereka semakin abstrak (remaja

berpikir lebih abstrak daripada anak-anak), logis (remaja mulai berpikir seperti
ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah

dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah), dan idealis

(remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin. Mereka berpikir tentang ciriciri

ideal diri mereka sendiri, orang lain, dan dunia); lebih mampu menguji pemikiran

diri sendiri, pemikiran orang lain, dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri

mereka; serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial

(Santrock, 2002).

Memasuki masa remaja seorang anak dan akan memiliki kemampuan

berpikir ke arah operasional formal.pemikiran mereka semakin abstrak,logis dan

idealistis.dengan kemampuan metakognisi dan daya abstraksinya diharapkan

remaja mampu mengukur kemampuan diri,memiliki tujuan,menganalisa

alternative pemecahan masalah,merencanakan strategi dan mengambil suatu

keputusan (Prawirohardjo,2012).

2. Perubahan social

Semakin berkembangnya social remaja maka remaja mulai memisahkan

diri dari orang tua dan mulai memperluas hubungan dengan teman

sebaya.kelompok sebaya menjadi begitu berarti dan sangat berpengaruh dalam

kehidupan social remaja sehingga remaja menjadi sangat tergantung kepada teman

sebagai sumber kesenangan dan keterkaitannya (Mahfiana,2013).

3. Perubahan emosi

Suatu ciri dari remaja adalah kecendurungan untuk berpikir tentang apa

yang terjadi pada diri seseorang dan mempelajari dirinya sendiri.tahap selama

remaja adalah berpusat pada dirinya.perubahan pubertas memerlukan remaja


untuk mengubah konsep fisik mereka,menyesuaikan diri terhadap harapan-

harapan teman dan keluarga serta dalam membuat keputusan.kemampuan

intelektual remaja tumbuh,termasuk kecenderungan baru tentang refleksi dan

analisis diri dan juga membuat perubahan dalam konsep diri

(Prawirohardjo,2012).

4. Perubahan fisik

Masa puber akan terjadi perubahan fisik anatara lain perubahan ukuran

tubuh,perubahan bentuk tubuh dan munculnya ciri-ciri,baik cirri seks primer

maupun cirri seks sekunder. (Prawirohardjo,2012).

2.1.3 Perubahan-Perubahan Masa Remaja

Tumbuh kembangnya seseorang menuju dewasa berdasarkan

kematangan psikososial dan seksual, semua remaja akan melewati tahapan berikut

(Kusmiran, 2011) :

1 Masa remaja awal (Early Adolesence) umur 11-13 tahun

Pada tahap ini, remaja masih heran terhadap perubahan-perubahan yang terjadi

pada dirinya dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan

tersebut. Mereka mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada

lawan jenis dan mudah terangsang secara kepekaan yang berlebihan ini ditambah

dengan berkurangnya pengendalian terhadap ego dan menyebabkan remaja sulit

untuk mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa.

2 Masa remaja pertengahan (Middle Adolesence) umur 14-16 TahunPada tahap

ini, remaja sangat membutuhkan teman-teman. Ada kecenderungan narsistik

yaitu mencintai diri sendiri, dengan cara lebih menyukai teman-teman yang
mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Pada tahap ini remaja berada

dalam kondisi kebingungan karena masih ragu harus memilih yang mana, peka

atau peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, dan sebagainya.

3 Masa remaja Lanjut (Late Adolesence) umur 17-20 TahunTahap ini adalah

masa mendekati kedewasaan yang ditandai dengan pencapaian :

a. Minat yang semakin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.

b. Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan

mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.

c. Terbentuknya identitas sosial yang tidak akan berubah lagi.

d. Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri) diganti

dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain.

e. Tumbuh dinding pemisah antara diri sendiri dengan masyarakat umum

(Monks, dalam Nasution, 2007

2.2 Konsep Dasar Menstruasi

2.2.1 Pengertian Menstruasi

Menstruasi adalah proses keluarnya darah dari vagina yang terjadi

diakibatkan siklus bulanan alami pada tubuh wanita. Siklus ini merupakan proses

organ reproduksi wanita untuk bersiap jika terjadi kehamilan. Persiapan ini

ditandai dengan penebalan dinding rahim (endometrium) yang berisi pembuluh

darah. Jika tidak terjadi kehamilan, endometrium akan mengalami peluruhan dan

keluar bersama darah melalui vagina (Tortora, 2012).

Normalnya menstruasi terjadi sekitar 3-7 hari pada kebanyakan wanita.

Meski demikian, tidak semua wanita mengalami siklus yang sama, bahkan di
antara wanita yang berusia hampir sama. Siklus mentruasi terkadang bisa datang

lebih cepat atau lebih lambat, dengan perbedaan yang berkisar antara 21 hingga 35

hari (Anindita, 2013).

2.2.2 Perubahan Fisiologi Menstruasi

Pada setiap bulannya wanita selalu mengalami menstruasi. Menstruasi

terjadi akibat adanya interaksi hormon di dalam tubuh manusia. interaksi hormon

yang dikeluarkan oleh hipotalamus, dan indung telur menyebabkan lapisan sel

rahim mulai berkembang dan menebal. Hormon-hormon tersebut kemudian akan

mememberikan sinyal pada telur di dalam indung telur untuk berkembang. Telur

akan dilepaskan dari indung telur menuju tuba falopi dan menuju uterus. Telur

yang tidak dibuahi oleh sperma akan menyebabkan terjadinya peluruhan pada

endometrium, luruhnya endometrium menyebabkan perdarahan pada vagina yang

disebut dengan menstruasi (Anurogo (2015).

Hasil metabolisme dari asam arakidonat ikut berperan dalam memicu

terjadinya dismenore primer. Asam arakidonat dapat di metabolisme melalui dua

jalur. Jalur metabolisme asam arakidonat yaitu melalui jalur siklooksigenase dan

jalur lipoksigenase. Melalui jalur siklooksigenase dan lipoksigenase asam

arakidonat menghasilkan prostaglandin, leukotrien dan tromboksan. Selain

prostaglandin, leukotrien berperan serta dalam timbulnya rasa nyeri saat

menstruasi, leukotrien sebagai pemicu terjadinya dismenore primer

mempengaruhi melalui beberapa cara. Leukotriene bereaksi pada serabut saraf

serta otot polos (Anindita 2015).


Selain peranan hormon hasil dari proses fisiologis, dismenore primer juga

bisa diperparah oleh adanya faktor psikologis. Faktor stres ini dapat menurunkan

ketahanan terhadap rasa nyeri. Pada saat stres, tubuh akan memproduksi hormon

estrogen dan prostaglandin berlebih. Estrogen dan prostaglandin ini dapat

menyebabkan peningkatan kontraksi miometrium secara berlebihan sehingga

mengakibatkan rasa nyeri saat menstruasi. Stres juga memicu peningkatan

kelenjar adrenalin dalam mensekresi kortisol sehingga menyebabkan otot-otot

tubuh menjadi tegang, dan menyebabkan otot rahim berkontraksi secara

berlebihan. Kontraksi otot rahim yang berlebihan dapat menimbulkan rasa nyeri

yang berlebih pada saat menstruasi. Meningkatnya stres dapat menyebabkan

meningkatnya aktivitas saraf simpatis yang menyebabkan peningkatan skala nyeri

menstruasi dengan peningkatan kontraksi uterus (Sari Dkk, 2015).

2.2.3 Siklus Menstruasi

Siklus merupakan proses yang dialami oleh wanita pada setiap bulan.

Menstruasi merupakan proses dalam tubuh wanita yang dimana sel telur (ovum)

berjalan dari indung telur menuju rahim, melalui aluran yang diberi nama tuba

fallopi. Pada keadaan normal, siklus menstruasi adalah berbeda bagi setiap wanita

yaitu dari 28 hingga 35 hari Terdapat empat fase pada siklus menstruasi yaitu fase

menstrual, fase preovulatori, ovulasi dan fase pasca ovulatori (Tortora Dkk,

2015).

Permasalahan dalam menstruasi yang umum terjadi dibagi dalam empat

kategori yaitu:

1. Menorrhagia
Menorrhagia adalah volume darah yang berlebihan saat menstruasi. Beberapa

gejala dalam kondisi ini adalah :

a. Volume darah yang terlalu banyak sehingga harus mengganti pembalut

tiap jam dan ini berlangsung selama beberapa jam

b. Harus menggunakan dua pembalut untuk menampung perdarahan

c. Harus bangun untuk mengganti pembalut pada saat tidur

d. Mengalami gejala anemia, misalnya lemas atau sesak napas

e. Durasi menstruasi yang berlangsung lebih dari 7 hari

f. Mengeluarkan gumpalan-gumpalan darah berukuran besar selama lebih

dari satu hari

g. Terpaksa membatasi rutinitas karena volume darah yang hilang berlebihan

saat menstruasi.

Kelainan ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari ketidakseimbangan

hormon hingga miom yang tumbuh pada rahim.

2. Metrorrhagia

Metrorrhagia merupakan perdarahan dari vagina yang terjadi diantara dua

periode menstruasi. Penyebab terjadinya metrorrhagia cukup beragam, dapat

disebabkan oleh ketidakseimbangan hromon, infeksi, miom, hingga kanker.

3. Oligomenorrhea

Haid biasanya datang tiap 21 hingga 35 hari. Tetapi, ada juga wanita yang

mengalami menstruasi secara tidak teratur, yaitu bila haid datang setelah 90 hari.

Kondisi ini disebut sebagai oligomenorrhoea.


Terdapat beberapa penyebabnya, seperti penggunaan kontrasepsi, olahraga berat,

gangguan pola makan, serta diabetes dan penyakit tiroid, sehingga penanganannya

pun berbeda-beda.

4. Dysmenorrhe

Dysmenorrhea atau nyeri haid adalah hal biasa yang pernah dirasakan tiap

wanita. Dysmenorrhea yang biasanya terjadi sebelum dan pada saat menstruasi ini

mumnya berupa nyeri atau kram di perut bagian bawah yang terus berlangsung,

dan terkadang menyebar hingga ke punggung bawah serta paha. Rasa nyeri

tersebut juga bisa disertai sakit kepala, mual, dan diare (Lalage, 2014).

2.2.4 Fisiologi Dismenor

2.2.4.1. Proses Dismenor

Dismenore adalah nyeri saat haid, biasanya dengan rasa kram dan terpusat

di abdomen bawah. Keluhan nyeri haid dapat terjadi secara bervariasi mulai dari

yang ringan sampai yang berat. Keparahan dismenore berhubungan langsung

dengan lama dan jumlah darah haid seperti diketahui hampir selalu diikuti dengan

rasa mulas atau nyeri (Prawirohardjo, 2014:182).

Dismenore adalah sakit di bagian perut yang terjadi sebelum atau terjadi

bersamaan saat menstruasi. Nyeri haid/dismenore merupakan ketidak seimbangan

hormon progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri timbul,

faktor psikologis juga ikut berperan terjadinya dismenore pada beberapa wanita.

Wanita pernah mengalami dismenore sebanyak 90%. Masalah ini setidaknya

mengganggu 50% wanita masa reproduksi dan 60-85% pada usia remaja, yang

mengakibatkan banyaknya absensi pada sekolah maupun kantor. Pada umumnya


50-60% wanita diantaranya memerlukan obat-obatan analgesik untuk mengatasi

masalah dismenore ini (Annathayakheisha, 2015).

Dismenore yang dialami setiap siklus menstruasi merupakan pertanda

adanya gangguan di dalam tubuh seseorang. dismenore dapat berasal dari kram

rahim saat proses menstruasi, dismenore dapat timbul akibat gangguan pada organ

reproduksi, faktor hormonal maupun faktor psikologis dan dapat menimbulkan

tergganggunya aktivitas sehari-hari. Adanya gejala nyeri yang dirasakan belum

tentu timbul karena adanya suatu penyakit (Sari Dkk. 2012).

Pada remaja gangguan haid lebih sering terjadi, gangguan yang lebih

sering dialami remaja antara lain:

a. Haid tidak teratur, meliputi datangnya haid selama beberapa bulan

(amenorea) terutama dalam 3 tahun pertama setelah menarche.

b. Haid yang berlebihan baik dalam jumlah maupun lama haid

(hipermenorea).

c. Nyeri haid (dismenore).

d. Premesntruasi kelainan syndrome.

Penyebab gangguan haid Karena kelainan biologik (organik atau

disfungsional), dapat pula Karena psikologik seperti keadaan stress, aktivitas yang

kurang, gangguan emosi, maupun gabungan antara gangguan biologik dan

psikologik (Lestari, 2013).

2.2.4.2 Etiologi Dismenorea

Banyak teori dikemukakan untuk menerangkan dismenorea. Disebutkan

bahwa faktor keturunan, psikis dan lingkungan dapat menjadi penyebab


terjadinya dismenorea namun penelitian menyebutkan adanya pengaruh zat kimia

dalam tubuh yang disebut dengan peningkatan hormon prostaglandin akan

menyebabkan terjadinya kontraksi uterus yang tidak terkoordinasi sehingga

menimbulkan rasa nyeri.

Hal yang paling utama yang menyebabkan terjadinya dismenorea adalah

faktor endokrin yang meliputi hormon estrogen, progesteron dan prostaglandin.

Saat 1 hari menjelang ovulasi hormon estrogen akan turun, diikuti dengan

kenaikan hormon progesteron (Guyton & Hall, 2007).

Beredarnya prostaglandin yang berlebihan ke seluruh tubuh akan

berakibat meningkatkan aktivitas usus besar. Prostaglandin inilah yang

menimbulkan sakit kepala, pusing, diare serta mual yang mengiringi nyeri pada

waktu menstruasi atau dismenorea (Nugroho & Utama, 2014).

Korpus luteum akan mengalami regresi apabila tidak terjadi kehamilan. Hal ini

akan mengakibatkan penurunan kadar progesteron dan mengakibatkan labilisasi

membran lisosom, sehingga mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2.

Fosfolipase A2 akan menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membran sel

endometrium dan menghasilkan asam arakhidonat. Asam arakhidonat bersama

dengan kerusakan endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat dan

menghasilkan prostaglandin PGE2 dan PGF2 alfa. Peningkatan akibatnya terjadi

peningkatan kontraksi dan disritmia uterus, sehingga terjadi penurunan aliran

darah keuterus dan mengakibatkan iskemia yang mengakibatkan dismenorea

(Guyton & Hall, 2007)

2.2.4.3. Mekanisme Dismenorea


Dismenorea berpangkal pada mulainya proses menstruasi itu sendiri yang

merangsang otot-otot rahim untuk berkontraksi. Kontraksi otot-otot rahim tersebut

membuat aliran darah ke otot-otot rahim menjadi berkurang sehingga terjadi

kekurangan oksigen dalam sel-sel myometrium yang berakibat meningkatnya

aktivitas rahim untuk memenuhi kebutuhannya akan aliran darah yang lancar, juga

otot-otot rahim yang kekurangan darah tadi akan merangsang ujung-ujung saraf

sehingga terasa nyeri. Nyeri tersebut tidak hanya di rahim, namun juga terasa di

bagian-bagian tubuh yang lain yang mendapatkan persarafan dirasakan dibagian

tubuh seperti saat buang air besar, buang air kecil, maupun otot-otot dasar panggul

dan di daerah sekitar tulang belakang sebelah bawah.

Spasme otot yang ditimbulkan rasa nyeri pada saat menstruasi disebabkan

oleh pengaruh spasme otot yang menekan pembuluh darah dan menyebabkan

iskemik. Nyeri akibat iskemik jaringan terjadi bila aliran darah yang menuju

jaringan tersumbat. Hal ini memicu pelepasan mediator-mediator biokimia seperti

bradikinin, serotinin, prostaglandin, dan enzim proteolitik yang terbentuk dalam

jaringan akibat kerusakan sel. Mediator-mediator biokomia ini akan merangsang

ujung saraf nyeri (Guyton and Hall, 2012).

Prostaglandin sangat tinggi dalam endometrium, myometrium dan darah

menstruasi wanita yang menderita dismenorea. Prostaglandin menyebabkan

peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf terminal rangsang nyeri.

Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan

myometrium menimbulkan tekanan ntra uterus sampai 400 mmHg dan

menyebabkan kontraksi myometrium yang hebat. Atas dasar itu dapat dikatakan
bahwa prostaglandin yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan

hiperaktivitas myometrium, selanjutnya kontraksi myometrium terjadi iskemia

sel-sel myometrium. Iskemia menyebabkan nyeri visceral dengan cara yang sama

seperti timbul nyeri jaringan lain, mungkin terbentuknya produk yang dihasilkan

oleh jaringan degeneratif, seperti bradikinin, histamin, dan prostaglandin yang

merangsang serabut nyeri (Hendrik, 20011).

Dismenorea termasuk nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ internal.

Nyeri yang timbul bersifat difus dan durasinya cukup lama. Proses penyaluran

impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui serabut A

delta dan serabut C dari perifer ke medula spinalis, dimana impuls tersebut

mengalami mudulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus

spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis

terutama membawa rangsangan dari organ-organ visceral serta berhubungan

dengan nyeri yang lebih difus dan malibatkan emosi. Selain itu serabut saraf-saraf

disini mempunyai sinaps intemeuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan

bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di

kortexs celebri dan dipersepsikan sebagai nyeri (Potter & Perry, 2009)

Prostaglandin sangat tinggi dalam endometrium, myometrium dan darah

menstruasi wanita yang menderita dismenorea. Prostaglandin menyebabkan

peningkatan aktivitas uterus dan serabut-serabut saraf terminal rangsang nyeri.

Kombinasi antara peningkatan kadar prostaglandin dan peningkatan kepekaan

myometrium menimbulkan tekanan ntra uterus sampai 400 mmHg dan

menyebabkan kontraksi myometrium yang hebat. Atas dasar itu dapat dikatakan
bahwa prostaglandin yang dihasilkan uterus berperan dalam menimbulkan

hiperaktivitas myometrium, selanjutnya kontraksi myometrium terjadi iskemia

sel-sel myometrium. Iskemia menyebabkan nyeri visceral dengan cara yang sama

seperti timbul nyeri jaringan lain, mungkin terbentuknya produk yang dihasilkan

oleh jaringan degeneratif, seperti bradikinin, histamin, dan prostaglandin yang

merangsang serabut nyeri (Hendrik, 2006).

Dismenorea termasuk nyeri yang disebabkan oleh kerusakan organ

internal. Nyeri yang timbul bersifat difus dan durasinya cukup lama. Proses

penyaluran impuls melalui saraf sensori sebagai lanjutan proses transduksi melalui

serabut A delta dan serabut C dari perifer ke medula spinalis, dimana impuls

tersebut mengalami mudulasi sebelum diteruskan ke thalamus oleh traktus

spinothalamicus dan sebagian ke traktus spinoretikularis. Traktus spinoretikularis

terutama membawa rangsangan dari organ-organ visceral serta berhubungan

dengan nyeri yang lebih difus dan malibatkan emosi. Selain itu serabut saraf-saraf

disini mempunyai sinaps intemeuron dengan saraf-saraf berdiameter besar dan

bermielin. Selanjutnya impuls disalurkan ke thalamus dan somatosensoris di

kortexs celebri dan dipersepsikan sebagai nyeri (Potter & Perry, 2009).

2.2.4.4. Makanan Yang Dapat Mengatasi Penurunan Dan Peningkatan

Hormon Prostaglandin

1. Makanan yang dapat menurunkan kadar prostaglandin dalam tubuh

sebagai berikut

a. Makanan yang kaya akan lemak Omega 3


Asam lemak omega-3 memiliki khasiat antiradang, anti trombogenik, dan

anti aritmia. Minyak ikan juga telah diketahui dapat menurunkan produksi dan

efek beberapa jenis prostaglandin. Asam lemak omega-3 akan bersaing dengan

asam lemak omega-6 dalam berikatan dengan sisi enzim COX 1 yang sama.

Enzim ini akan mengubah asam lemak omega-6 menjadi prostaglandin. Semakin

banyak asam lemak omega-3 yang menghalani enzim COX 1, semakin sedikit

asam lemak omega-6 yang akan diubah menjadi prostaglandin. Makanan yang

kaya asam lemak omega-3 meliputi : ikan sarden, salmon, kacang kedelai, flax

seed, kenari, tahu, dan ikan kembung. Dosis asam lemak yang dianjurkan adalah

antara 0,3-0,5 gram setiap hari.

b. Makanan yang kaya vitamin E

Vitamin E diketahui memiliki khasiat serupa antioksidan. Vitamin ini juga

dikenal memiliki khasiat antiradang karena mampu menekan atau menghambat

sintesis prostaglandin dan menurunkan kadarnya. Makanan yang kaya vitamin E

meliputi : biji dan minyak bunga matahari, minyak safflower, kacang hazel,

kacang dan selai kacang tanah, bayam, brokoli, dan minyal biji gandum.

c. Buah dan Sayur Yang Dapat Menurunkan Kadar Prostaglandin

Buah-buahan yang dapat menurunkan kadar prostaglandin dalam tubuh

yaitu, buah manggis diketahui dapat menghambat produksi atau sintesis

prostaglandin di dalam tubuh. Buah delima dapat membantu menurunkan kadar

prostaglandin dengan menghambat produksi dan sintesisnya serta buah delima

mengandung senyawa fitokimianya yang tinggi. Buah Nanas mengandung enzim

bromelain yang telah diketahui dapat menurunkan kadar prostaglandin dengan


menghambat produksi dan sintesisnya. Tomat kaya akan senyawa karoteroid

yang disebut likopen. Likopen diduga dapat mengurangi peradangan dengan

memengaruhi beberapa mediator kimiawi dalam tubuh yang bertanggung jawab

atas produksi prostaglandin dan senyawa mediator radang lainnya. Bawang putih

dan bawang bombai kedua jenin bawang ini mengandung alisin, suatu bahan

aktif yang berefek seperti obat antiradang dan menghambat produksi

prostaglandin. Selain itu, makanan ini juga telah diketahui memiliki khasiat

sebagai antimikroba, antitumor, antitrombotik, dan antiaritmia. Jahe memiliki

khasian sebagai antitukak, antiradang, dan antioksidan. Kunyit mengandung

senyawa kurkumin yang diketahui dapat menghambat produksi prostaglandin.

2. Makanan yang dapat meningkatkan prostgalandin dalam tubuh

a. Lemak Jenuh

Makanan yang mengandung lemak jenuh meliputi : daging olahan (misalnya

sosis, hot dog, atau daging asap), gorengan, makanan cepat saji, dan produk

olahan susu whole milk (seperti keju atau mentega).

b. Kurangi asupan asam lemak omega-6

Lemak jenis ini adalah sumber utama produksi prostaglandin dengan

demikian, mengurangi asupan lemak jenis ini dapat membantu menurunkan

produksi prostaglandin. Lemak omega-6 terkandung dalam makanan seperti :

minyak jagung, minyak safflowe, mayones, saus salad, minyak kacang kedelai,

minyak kacang tanah, dan minyak sayur.

2.2.4.5. Penyebab Dismenore


Penyebab utama dismenore primer adalah adanya prostaglandin F2a

(PGF2a) yang dihasilkan oleh endometrium. PGF2a merupakan hormon yang

diperlukan untuk menstimulasi kontraksi uterus selama menstruasi (Varney,

2010).

Penyebab dismenore dibedakan, menurut klasifikasinya, wanita lebih sering

mengalami dismenore primer, sedangkan wanita dengan nyeri hebat 9

kemungkinan sekitar 50%. Nyeri pada dismenore primer diduga karena adanya

rangsangan oleh prostaglandin yang berasal dari kontrasksi rahim. Saat bekuan

darah atau potongan jaringan lapisan rahim melewati serviks (leher rahim) terjadi

nyeri yang sangat hebat, terutama jika saluran serviknya sempit. Pertambahan usia

dan kehamilan mempengaruhi hilangnya nyeri dismenore, hal ini di duga adanya

kehilangan sebagian saraf pada akhir kehamilan yang diakibatkan oleh

kemunduran saraf rahim (Nugroho dan Utama 2014)

2.2.4.3. Tanda dan gejala Dismenore

Dismenore menyebabkan nyeri yang dirasakan hilang timbul dan terjadi

terus-menerus yang terasa pada perut bagian bawah. Nyeri yang dirasakan akan

terjadi sebelum dan selama menstruasi. Gejala klinis dismenore adalah nyeri paha,

nyeri punggung, muntah, dan mudah tersinggung (Manuaba, 2014)

2.2.4.4 Nyeri Dismenore

Nyeri dismenore merupakan nyeri sebelum atau selama menstruasi.produksi

prostaglandin yang tidak seimbang pada saat menstruasi menyebabakan kontraksi

uterus dan menyebabkan timbulnya nyeri.nyeri menstruasi terjadi diperut

bawah,biasanya dirasakan ketika mulai perdarahan (Reeder,Martin,dkk,2012)


Nyeri merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan oleh setiap individu.

Rasa nyeri yang dirasakan seringkali berbeda pada tiap individu. nyeri merupakan

suatu pengalaman yang bersifat pribadi, sesuatu yang subjektif, yang dipengaruhi

oleh budaya, persepsi seseorang, perhatian, dan variable-variabel psikologis

lain,yang nantinya akan mengganggu perilaku individu secara berkelanjutan

sehingga memotivasi setiap individu untuk menghentikan rasa tersebut (Melzack

2016).

Nyeri yang timbul merupakan campuran dari berbagai respon. Respon dapat

berupa respon fisiologis maupun respon psikologis.nyeri merupakan pengalaman

yang tidak menyenangkan, baik sensori maupun emosional yang berhubungan

dengan risiko atau aktualnya kerusakan jaringan tubuh (Tournaire, 2016)

Nyeri sebenarnya merupakan mekanisme protektif yang dimaksudkan untuk

menimbulkan kesadaran telah atau akan terjadinya kerusakan jaringan. nyeri

merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul ketika jaringan sedang

rusak, dan menyebabkan individu tersebut bereaksi untuk menghilangkan nyeri.

(Arthur, 2016).

2.2.4.5 Macam Macam Nyeri Dismenore

Setiap menstruasi menyebabkan rasa nyeri, terutama pada awal menstruasi namun

kadar nyeri yang berbeda-beda. Menurut Manuaba (2010)dismenore dibagi

menjadi tiga tingkat keparahan yaitu :

1. Dismenorea ringan

Seseorang akan mengalami nyeri atau nyeri masih bisa ditolelir karena masi

berada pada ambang rangsang, berlangsung beberapa saat dan dapat


melanjutkan kerja sehari-hari. Dismenore ringan terdapat pada skala nyeri

tingkatan 1-4

2. Dismenorea sedang.

Seseorang mulai merespon nyerinya dengan merintih dan menekan-nekan

bagian yang nyeri, diperlukan obat penghilang rasa nyeri tanpa perlu

meninggalkan kerjanya. Dismenorea sedang terdapat pada skala nyeri

dengan tingkat 5-6 .

3. Dismenorea berat

Seseorang mengeluh karena adanya rasa terbakar dan ada kemungkinan

seseorang tidak mampu lagi melakukan pekerjaan biasa dan perlu istirahat

beberapa hari dapat disertai sakit kepala, migran, pingsan, diare, rasa

tertekan, mual, dan sakit perut. Dismenorea berat terdapat pada skala nyeri

dengan tingkatan 7-10 (Leppert, 2012)

2.2.4.6 Skala Pengukuran Nyeri

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

10

None Mild Moderate Sever

Gambar 2.1 Skala Penilaian Numerical Rating Scale (NRS)


Sumber : Potter & Perry (2009)
Keterangan :
0 (None) : Tidak ada keluhan nyeri

1-3 (Mild) : Nyeri ringan (terasa keram di bagian bawah, masih

dapat ditahan, masih bisa berkonsentrasi belajar

4-6 (Moderate) : Nyeri sedang (terasa kram pada perut bagian bawah,

nyeri menyebar ke punggung, kurang nafsu makan,

aktivitas dapat terganggu, susah berkonsentrasi belajar

7-9 (Severe) : Nyeri berat (terasa keram berat pada perut bagian bawah,

nyeri menjalar ke pinggang, paha atau punggung, tidak

ada nafus makan, mual, badan lemas, tidak kuat

beraktivitas

10 : Nyeri berat sekali (terasa kram yang berat sekali pada

perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kaki dan

punggung, tidak mau makan, mual, muntah, sakit kepala,

badan tidak ada tenaga, tidak bisa berdiri atau bangun dari

tempat tidur tidak dapat beraktivitas terkadang sampai

pingsan).

Pengukuran skala nyeri dismenorea untuk menentukan seberapa jauh tingkat

nyeri yang dirasakan oleh seseorang dan untuk menentukan intervensi sesuai

dengan tingkat nyeri yang dirasakan. Berdasarkan definisinya nyeri merupakan

sensasi yang tidak menyenangkan dan sangat individual yang tidak dapat dibagi

dengan orang lain. Nyeri bersifat subjektif yang merupakan salah satu mekanisme

pertahanan tubuh yang mengindikasikan bahwa terdapat satu masalah (Kozier,

2009).
Pada penelitian ini tingkat dismenorea ditentukan menggunakan skala nyeri

(Numerical Rating Scale). NRS atau numerical rating scale merupakan alat ukur

intensitas nyeri yang meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai dengan

level numeric atau angka dari 0 sampai 10 (Potter & Perry, 2009). Angka 0 berarti

tidak ada keluhan nyeri menstruasi/kram perut bagian bawah, 1-3 berarti nyeri

ringan (terasa kram pada bagian bawah, masih dapat ditahan, masih dapat

beraktivitas, masih bisa berkonsentrasi belajar), 4-6 nyeri sedang (terasa kram

pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kurang nafsu makan,

aktivitas dapat terganggu, susah berkonsentrasi belajar), 7-10 berarti nyeri berat

(terasa kram yang berat sekali pada perut bagian bawah, nyeri menjalar ke

pinggang, kaki dan punggung, tidak nafsu makan, mual, badan lemes, tidak kuat

beraktivitas, tidak dapat berkonsentrasi belajar) dan 10 berarti nyeri berat sekali

(terasa kram yang berat sekali pada perut bagian bawah, nyeri menyebar ke

pinggang, kaki dan punggung, tidak mau makan, mual, muntah, sakit kepala,

badan tidak ada tenaga, tidak bisa berdiri atau bangun dari tempat tidru tidak

dapat beraktivitas terkadang sampai pingsang).

Rating Scale (NRS), responden diminta untuk menandai salah satu titik pada

garis yang dianggap menggambarkan intensitas nyeri yang dirasakan dari 0 -

10.Working ability, location, intensity, days of pain, dysmenorrhea (WaLIDD)

dirancang untuk mendiagnosis dismenorea dan memprediksi cuti medis (Anibal at

all, 2018).

2.2.4.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dismenore


Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya dismenore primer diantaranya

adalah:

1. Indeks Massa Tubuh Seorang wanita dengan tubuh tidak ideal memiliki

resiko lebih besar terhadap kejadian dismenore. Tubuh yang ideal bukanlah

tubuh yang terlalu kurus ataupun yang terlalu gemuk. Seorang wanita dengan

tubuh terlalu kurus ataupun terlalu gemuk sangat berpotensi mengalami

dismenore, karena semakin rendah Indeks massa tubuh maka tingkat

dismenore akan semakin berat dan sebaliknya.

2. Tingkat Stres seringkali terjadi secara tiba-tiba karena persoalan yang harus

dihadapi dalam kehidupan. Peningkatan tingkat stres menyebabkan pengaruh

negativ pada kesehatan tubuh.

3. Aktifitas Fisik sangat dianjurkan untuk kepentingan kesehatan. Dapat

memberikan manfaat bagi tubuh. Semakin rendah aktifitas fisik maka tingkat

dismenore akan semakin berat dan sebaliknya (Novia Dkk, 2014).

Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya dismenore sekunder diantaranya

adalah masalah penyakit fisik seperti endometritis, polip uteri, leiomioma,

stenosis serviks, atau penyakit radang panggung (Bickley, 2015).

2.2.4.7 Komplikasi

1. Dismenore primer

Dismenorea primer yaitu nyeri haid yang terjadi tanpa terdapat kelainan

anatomis alat kelamin. Dismenore primer merupaan suatu ciri-ciri siklus ovulasi

dan bisa timbul pada 6-12 bulan menarche.Dismenore primer merupakan kejadian

yang paling banyak terjadi dalam 3 tahun pertama setelah menarche.


bukanlah persoalan yang mengancam nyawa penderitanya. Dismenore

apabila dibiarkan, maka akan menimbulkan terganggunya aktivitas sehari-hari.

Dismenore primer dapat menimbulkan beberapa gejala seperti: Nyeri pada perut

bagian bawah,Mual, Muntah, Diare, Cemas, Depresi, Pusing dan nyeri kepala,

letihlesu, bahkan sampai pingsan (Martini Dkk, 2014).

Dismenore primer sering disebut dengan istilah dismenore fungsional atau

idiopatik.biasanya dismenore primer timbul pada masa remaja yaitu sekitar 2-3

tahun

setelah menstruasi pertama.timbul sejak menstruasi pertama dan akan pulih

sendiri dengan berjalannya waktu.tepatnya saat lebih stabil hormone tubuh atau

perubahan posisi rahim setelah menikah dan melahirkan.nyeri menstruasi ini

normal,namun dapat berlebihan bila di pengaruhi oleh factor fisikis fisik,sperti

stress,shock,penyempitan pembulu darah,penyakit menahun,kurang darah,dan

kondisi tubuh yang menurun (Wijayanti,2012)

2. Dismenorea Sekunder

Dismenorea sekunder digambarkan sebagai rasa sakit saat menstruasi yang

muncul setelah wanita mengalami siklus menstruasi tanpa adanya rasa sakit

yang bermakna. Dismenore sekunder yaitu nyeri haid yang berhubungan dengan

kelainan anatomis alat kelamin.

Sebab-sebab dismenore sekunder yaitu seperti Penyakit Radang Panggul

(PRP), endometriosis, mioma uteri, polip endometrium, kanker uteri dan

pemakaian AKDR dapat berperan terhadap terjadinya dismenore. Menurut

Apriyani (2014), tanda-tanda klinis dismenore sekunder yaitu:


a. Endometriosis

Nyeri berekstensi ke fase pra-haid atau tahap pasca haid atau dapat

berlanjut terus. Juga dapat mengalami dyspareunia berat, munculnya

bercak-bercak sebelum haid dan nodul pelvis yang nyeri (terutama pada

ligamentum uteruakral). Serangan biasanya pada umur dua puluhan atau

tiga puluhan.

b. Radang pelvis

Pada awalnya nyeri mungkin merupakan haid, tetapi sering pada tiap

haid ini berekstensi ke fase pra-haid. Dapat mengalami perdarahan antar

haid, dyspareunia dan nyeri tekan pelvis.

c. Fibroid adenomyosis

Dismenorea berhubungan dengan perasaan nyeri yang tumpul di pelvis.

Rahim biasanya secara klinik membesar dan mungkin agak nyeri.

d. Kongesti pelvis

Sakit pelvis yang tidak jelas biasanya semakin buruk pada masa pra-haid.

Sering merupakan riwayat masalah seksual. Terap dismenore sekunder

lebih menitikberatkan pada hasil diagnosis dari penyakit yang mendasari

penyebab terjadinya dismenorea sekunder.

2.2.4.8 Penatalaksanaan

Menurut Anurogo (2014) penatalaksanaan dismenore primer meliputi

penatalaksanaan farmakologi dan non farmakologi, yaitu :

1. Terapi Farmakologi
Penanganan dismenore yang dialami oleh individu dapat melalui intervensi

farmakologi. Terapi farmakologi, penanganan dismenore meliputi beberapa

upaya. Upaya farmakologi pertama yang dapat dilakukan adalah dengan

memberikan obat analgetik yang berfungsi sebagai penghilang rasa sakit. Obat-

20 obatan paten yang beredar dipasaran antara lain novalgin, ponstan,

acetaminophen dan sebagainya. Upaya farmakologi kedua yang dapat

dilakukan adalah dengan pemberian terapi hormonal. Tujuan terapi hormonal

adalah menekan ovulasi, bersifat sementara untuk membuktikan bahwa

gangguan yang terjadi benar-benar dismenore primer. Tujuan ini dapat dicapai

dengan memberikan salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi.

2. Terapi Non Farmakologi untuk menangani dismenore adalah terapi alternatif

yang dapat dilakukan sebagai upaya menangani dismenore tanpa menggunakan

obat-obatan kimia. Penanganan nyeri secara nonfarmakologi yaitu dengan Air

kelapa hijau (Anonim, 2010).

2.3 Konsep Dasar Air Kelapa Muda

2.3.1 Pengertian Air Kelapa Muda

Air kelapa merupakan salah satu produk dari tanaman kelapa yang belum

banyak dimanfaatkan. Air kelapa muda merupakan minuman yang sangat popular

dan air kelapa dari buah yang tua juga telah dikembangkan sebagai produk

industri namun pemasarannya masih terbatas (Lalage, 2012).

2.3.2 Kandungan Air Kelapa Muda

air kelapa mengandung banyak zat yang penting untuk menjaga kesehatan

tubuh. Air kelapa telah lama dikenal sebagai sumber zat tumbuh yaitu sitokinin,
nilai kalori rata-rata yang terdapat pada air kelapa berkisar 17 kalori per 100 gram.

Air kelapa hijau,(Anonim, 2010).

Kandungan zat kimia lain yang menonjol yaitu berupa enzim yang

mampu mengurai sifat lain racun. Komposisi kandungan zat kimia yang

terdapat pada air kelapa antara asam askorbat atau vitamin C, protein,

lemak, hidrat arang, kalsium atau potassium. Mineral yang terkandung pada air

kelapa ialah zat besi, fosfor dan gula yang terdiri dari glukosa, fruktosa dan

sukrosa (Anonim, 2010).

Berikut ini adalah komposisi dari air kelapa :

Tabel 2.1
Kandungan Air Kelapa
Kandungan Satuan Muda Setengah Tua Tua

Kalori Kal 68 180 359

Air G 83.3 70 46.9

Protein G 1 4 3.4

Lemak G 0.9 15 34.7

Karbohidrat G 14 10 14

Kalsium Mg 7 8 21

Fosfor Mg 30 55 98

Besi Mg 1 1.3 2

Vitamin A Mg 0 10 0

Vitamin B1 Mg 0.06 0.05 0.1

Vitamin C Mg 4 4 2

Sumber: Khomsan, 2012


2.3.2 Manfaat Air Kelapa Muda

Air kelapa merupakan minuman sehat tinggi elektrolit yang rendah kalori

dan gula. Hebatnya lagi, air kelapa juga bebas lemak dan kolesterol. Kadar kalium

tinggi dalam air kelapa juga dapat membantu mengatur fungsi jantung, serta

menjaga fungsi otot dan pencernaan yang normal. Kadar kalium air kelapa bahkan

masih lebih tinggi dibandingkan ketika Anda makan empat buah pisang

(Handayani, 2013).

Air kelapa muda merupakan minuman yang paling sehat,kaya

nutrisi,mengandung glokosa,vitamin,hormone,dan mineral,serta alami tanpa

bahan pengawet,air kelapa muda diserap oleh tubuh karena kandungan cairan

yang isotonis dengan tubuh manusia,tak heran jika air kelapa dimanfaatkan

sebagai obat tradisional,salah satunya dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri haid.

Kandungan air kelapa juga terdapat berbagai vitamin ysng berfungsi untuk

analgetik.sehingga air kelapa mengandung unsure yang cukup lengkap

(Huzaimah, 2015.)

Berbagai nutrisi yang ada di dalam air kelapa ini menjadikannya minuman

yang sangat baik untuk dikonsumsi selama haid, karena bisa membantu

meringankan gejala PMS dan nyeri dismenore yang seringkali menghampiri

(Handayani, 2013).

2.4 Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda Hijau Terhadap Nyeri Dismenore

Pengaruh pemberian air kelapa muda hijau terhadap nyeri dismenore saat

mentruasi, tubuh mengeluarkan cairan dan darah. Air kelapa mengandung cairan

berelektrolit yang dapat mencegah terjadinya dehidrasi. Asam folat yang


terkandung didalamnya juga bermanfaat untuk menggantikan darah yang keluar.

Asam folat merupakan salah satu komponen yang dibutuhkan dalam produksi sel

darah merah, dengan produksi darah yang cukup maka akan memperlancar

peredaran darah. Peredaran darah yang lancar akan mencukupi sel akan kebutuhan

oksigen dan nutrisi, dan dengan kondisi ini tubuh akan lebih tahan terhadap

sensasi nyeri yang ditimbulkan saat dismenore (Arie, 2015).

Air kelapa dapat mengurangi nyeri saat dismenore dengan mengkonsumsi 1

gelas kelapa hijau 150ml, diminum 2 kali sehari 1 gelas dan dikonsumsi pagi dan

sore hari, selama 3 hari berturut-turut. Air kelapa yang sudah dikeluarkan dari

buahnya dapat bertahan selama 4 jam dalam suhu ruang, dan sampai 24 jam jika

disimpan dalam alat pendingin atau kulkas (Syahid, 2014).

Sesuai dengan Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Amiritha (2017)

bahwa Air kelapa muda mengandung hormone pertumbuhan,vitamin c,kalsium

dan magnesium.kalsium dan mangnesium mengurangi ketegangan otot dan

vitamin c merupakan zat-zat alami anti iflamasi yang membantu meringankan rasa

sakit akibat kram menstruasi.

Pohon kelapaatau Cocos nucifera merupakan suatu jenis tumbuhan dari

sukuaren-arenan atau Arecaceaedan mudah tumbuh di halaman rumah dan tanah

tropisdi Indonesia, sehingga negara Indonesia termasuk penghasil kelapa terbesar

didunia.Pohon kelapa terdiri dari berbagai bagian-bagian yang bisa dimanfaatkan

salah satunya yaitu untuk kesehatan (Bogadenta, 2013).Air kelapa bisa

dimanfaatkan untuk menanggulangi berbagai masalah kesehatan.Manfaat yang


begitu besar dari air kelapa disebabkan karena air kelapa mengandung banyak zat

yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh (Nawawi, 2011).

Penanganan nyeri secara non farmakologi yang efektif yaitu dengan

pemberian air kelapa muda hijau. Pemberian air kelapa hijau ini selain tidak

menyita waktu, dapat dilakukan di mana pun dan kapanpun sehingga sangat

mudah dilakukan oleh setiap perempuan (Syahid, 2012).

Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Siti Khodijah pada tahun

2017, penurunan nyeri dismenore pada mahasiswa program studi ilmu kebidanan

dengan P value 0,000, pengaruh pemberian terapi air kelapa mudah hijau

merupakan salah satu terapi alamiah yang mengandung kalsium dan magnesium

yang mengurangi ketegangan otot dan vitamin C yang merupakan zat-zat alamia

anti inflamasi yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi

dengan menghambat ezim cyclooxygenase yang memiliki peran dalam

mendorong proses pembentukan prostaglandin (Kristina, dll 2012).

Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Fitri Lestari pada tahun

2015, penurunan nyeri dismenore pada mahasiswa program studi ilmu

keperawatan dengan P value 0,000,(<0,005) pengaruh pemberian terapi air

kelapa mudah hijau merupakan salah satu terapi alamiah yang mengandung

kalsium dan magnesium yang mengurangi ketegangan otot dan vitamin C yang

merupakan zat-zat alamia yang membantu meringankan rasa sakit akibat kram

menstruasi (Hudson,2012).

Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Amiritha pada tahun

2017, penurunan nyeri dismenore pada mahasiswa program studi ilmu


keperawatan dengan P value 0,000,(<0,005) pengaruh pemberian terapi air

kelapa mudah hijau merupakan Air kelapa muda mengandung sejumlah cairan

berelektrolit yang dapat mencegah terjadinya dehidrasi.Asam folat yang

terkandung di dalamnya juga bermanfaat untuk menggantikan darah yang keluar

(Sumino et al., 2002).


2.4 Kerangka Teori

Konsep Dasar FisiologisMenstruasi Fisiologis Dismenore Nyeri Dismenore


Remaja

1. Dismenorea ringan
2. Dismenorea sedang
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Dismenore 3. Dismenorea berat

1. Faktor Primer
 Indeks Massa Tubuh
 Tingkat Stres
 Aktifitas Fisik
2. Faktor Sekunder seperti penyakit fisik Farmakologi Nonfarmakologi
endometritis, polip uteri, leiomioma, stenosis pemberian obat Pengaruh Terapi
serviks, atau penyakit radang panggung analgetik yang Air Kelapa Muda
berfungsi sebagai Hijau Terhadap
penghilang rasa sakit Nyeri Dismenore

Tidak nyeri Nyeri dismenore


Nyeri
Nyeri berkurang meningkat/
Tetap

Sumber : Anurogo 2015,: Annathayakheisha, 2015, : Melzack 2016,: Bickley,


2015, : Anonim, 2010.
2.4 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan

antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang

akan dilakukan.

Variabel Independen Variabel Dependen

Terapi Air Kelapa


Nyeri Dismenore
Muda Hijau

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

2.5 Hipotesis Penelitian

2.7.1 Ha : Ada pengaruh air kelapa muda hijau terhadap nyeri

dismenore

Pada remaja sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan

Ho : Tidak Ada pengaruh air kelapa muda hijau terhadap nyeri

dismenore

Pada remaja sebelum dan sesudah dilakukan perlakuan


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Quasi eksperimen


dengan rancangan Non-randomized pretest and posttest.

Subjek Pretest Intervensi Posttest

P 01 X 02

Gambar 3.1 Desain Penelitian

Keterangan :

P : Siswi SMA N.5 Kairatu

01 : Pretest (Sebelum Intervensi)

X : Intervensi (Pemberian terapi air kelapa muda hijau)

02 : Posttest (Sesudah Intervensi)

3.2 Populasi dan Sampel

3.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan dari unit didalam pengamatan yang akan

dilakukan (Luknis, 2016). Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja
yang mengalami nyeri dismenore di Sma N.5 Kairatu pada bulan Mei Tahun

2019 yang berjumlah 30 orang.

3.2.2 Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti

dan dianggap mewakili populasi (Sugiono, 2015). Pengambilan sampel

menggunakan Total Sampling. Total Sampling adalah Teknik pengambilan

sampel dimana jumlah sampel sama dengan populasi. Jumlah sampel yang

diambil dalam penelitian ini sebanyak 30 orang.

Adapun kriterianya adalah sebagai berikut :

1. Kreteria Inklusi

a. melakukan penelitian pendahuluan dibulan April

b. Remaja yang mengalami mentruasi di bulan April sebanyak 40 orang

c. Remaja yang mengalami nyeri dismenore sebanyak 30 orang

e. Remaja yang mengisi lembar observasi

2. Kreteria Eksklusi

a. Remaja yang masa menstruasi sudah lebih dari 3 hari

b. Remaja yang sudah mengkonsumsi obat analgestik

3.3 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA N.5 kairatu

3.4 Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei - juli 2019.

3.5 Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah objek penilitian yang menjadi titik perhatian


suatu penilitian (Sugiono, 2017).

3.5.1 Variabel Independen dalam penelitian ini adalah pemberian terapi air kelapa

muda hijau

3.5.2 Variabel Dependen dalam penelitian ini adalah Nyeri Dismenor (Setiadi,

2016).

Tabel 3.1

Definisi Operasional

Variabel Devenisi Operasional Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Independe
n air kelapa juga Memberikan air Numerical Skala Nyeri Interval
Air kelapa memiliki kasiat kelapa muda hijau Rating 0-10
muda hijau diantaranya dapat untuk diminum Scale
mengobati keracunan, dengan ukuran 150 (NRS)
memperlancar air seni, ml pagi dan soreh.
menurunkan demam,
dan dapat mengurangi
rasa sakit ketika haid.

Dependen sakit di bagian perut


Nyeri yang terjadi sebelum Observasi wawancara 1.Sesuda
Dismenore atau terjadi bersamaan 2.Sebelum
saat menstruasi
3.6 Instrumen Penelitian

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini digunakan untuk menguji

hipotesis atau menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan karena data yang

diperoleh akan dijadikan landasan dalam mengambil kesimpulan, data yang

dikumpulkan haruslah data yang benar.

Dalam hal kegiatan pengumpulan data penelitian, peneliti akan menggunakan

alat / instrumen pengumpulan data berupa :

3.6.1 Wawancara

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk

memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Dalam penelitian ini peneliti

melakukan wawancara bebas terpimpin, yang dalam pelaksanaannya membawa

pedoman yang hanya garis besar tentang hal-hal yang akan ditanyakan.

3.6.2 Pengamatan (Observasi)

Observasi adalah melakukan pengamatan langsung ke objek penelitian

untuk melihat kegiatan yang dilakukan.

3.6.3 Dokumentasi

Dokumentasi adalah tujuan untuk memperoleh data langsung dari tempat

penelitian seperti lembar persetujuan responden, lembar observasi, foto -foto, data

responden dan lain – lain.

3.6.4 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan : air kelapa muda hijau


3.7 .Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer

(menggunakan lembar observasi dan hasil nyeri dismenor), dan data sekunder

(dengan mengambil data dari catatan buku sekolah yang ada SMA N.5 Kairatu

3.7.1 Tahap Persiapan

3.7.1.1 Membuat surat permohonan izin untuk melakukan penelitian dari

institusi Pendidikan Fakultas Ilmu Kesehatan D IV Kebidanan

Universitas Nasional.

3.7.1.2 Meninjau lokasi penelitian di SMA N.5 Kairatu

3.7.1.3 Surat permohonan izin diberikan kepada pihak terkait dalam hal ini ke

Kepala Sekolah SMA N.5 Kairatu Proposal Penelitian.

3.7.1.4 Menjelaskan tujuan penelitian kepada Kepala Sekolah SMA N.5 Kairatu

3.7.1.5 Penelitian dilakukan selama 3 hari

3.7.1.6 prosedur pemberian terapi air kelapa muda hijau dilakukan 1 hari 2 kali

yaitu pagi dan sore

3.7.1.7 Evaluasi tingkat nyeri

3.7.2 Tahap Pelaksanaan

3.7.2.1 Melakukan informed consent dan penanda tanganan oleh responden

terhadap persetujuan secara sukarela menjadi sampel penelitian.

3.7.2.2 Melakukan kunjungan sekolah, rumah pengamatan / observasi selama 3

hari dengan pemberian terapi pada hari pertama,kedua dan ketiga pagi dan
soreh terhadap 1 kelompok pretest dan posttest yang diberikan terapi air

kelapa muda hijau terhadap nyeri dismenor

3.7.2.3 Melakukan pencatatan disetiap lembar observasi.

3.7.2.4 Setelah diberikan terapi air kelapa muda hijau mengetahui penurunan nyeri

dismenor setelah dilakukan intervensi.

3.7.2.5 Pengolahan data

3.7.2.6 Analisis data

3.8 Analisa Data

3.8.1 Analisa Univariat

Analisis Univariat digunakan untuk satu variabel atau pervariabel (Aulia,

2015).3.8.2 Analisis Bivariat

Komponen dalam penelitian ini menggunakan analisis bivariat untuk

menganalisis dua variabel yang saling mempengaruhi, yaitu Pengaruh terapi

pemberian air kelapa muda hijau Terhadap Nyeri Dismenore.

3.9 Etika Penelitian

Penelitian yang dilakukan menggunakan subyek manusia tidak boleh

bertentangan dengan syarat etika penelitian (Dahlan, 2013). Peneliti harus

memahami hak dasar manusia, karena manusia memiliki kebebasan dalam

menentukan dirinya (Hidayat, 2013). Penelitian menggunakan etika sebagai

berikut :

3.9.1 Menghormati harkat dan martabat manusia (Respect for for Human Digniti).
3.9.2 Menghormati privasi dan kerahasiaan subyek penelitian (Recpect For

Prifacy and Confidentiality).

3.9.3 Keadilan dan inklusivitas (Respect for Justice and Inclusiveness).

3.9.4 Memperhitungkan manfaat dan kerugian yang ditimbulkan (Balancing

Harms and Benefits).


BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Univariat


4.1.1 Gambaran Karakteristik Responden

Hasil penelitian terhadap 30 siswi SMA N 5 Kairatu yang mengalami nyeri

disminore, di peroleh karakteristik responden sebagai berikut :

Tabel 4.1

Gambaran Karakteristik Responden

Karaksteristik Responden Frekuensi (f) Presentasi(%)


Umur
15-16 tahun 17 56,7
17-20 tahun 13 43,3
Lama haid
7 hari 16 53,3
8 hari 7 23,3
9 hari 5 16,7
10 hari 2 6,7

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui data distribusi frekuensi karakteristik

hasil penelitian usia produktif remaja di dapatkan dari 30 responden,umur 15-16

tahun sebanyak 17 orang ( 56,7%),sedangkan umur 17-20 tahun sebanyak 13

orang (43,3%).Karakteristik berdasarkan lama haid 7 hari sebanyak 16 orang

(53,3%),8 hari sebanyak 7 orang (23,3),9 hari sebanyak 5 orang (16,7%),dan 10

hari sebanyak 2 orang (6,7%).


4.2.1 Uji Normalitas

Tabel 4.2

Uji Normalitas Variabel Penelitian

Statistic Df Sig

Pretest 0,887 30 0,004

Posttest 0,636 30 0,000

4.2 Analisa Bivariat

Berdasarkan analisa pada tabel 4.3 menunjukan nilai sig adalah 0,000 ˂ 0,05

maka data di kategorikan berdistribusi tidak normal.

4.1.2 Gambaran Nyeri Dismenore Sebelum dan Sesudah Diberikan Terapi

Air Kelapa Muda Hijau

Tabel 4.3

Nyeri Dismenore Sebelum Dan Sesudah Diberikan Terapi Air Kelapa Muda

Hijau

Nyeri disminore Pretest Posttest

f % f %

Ringan 8 26,3 17 56,4

Sedang 10 33,3 8 26,3

Berat 12 40,4 5 17,3


Berdasarkan Tabel 4.2 Diatas menggambarkan hasil penelitian yang

dilakukan di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat didapatkan 30 responden

sebelum dilakukan terapi air kelapa muda hijau yang mengalami nyeri ringan

sebnayak 8 responden (26,3%),nyeri sedang sebanyak 10 responden (33,3%),dan

nyeri berat sebanyak 12 responden (40,4%). Sedangkan setelah diberikan terapi

air kelapa muda hijau didapatkan yang tidak nyeri sebanyak 17 responden

(56,4%),nyeri ringan sebanyak 8 responden (26,3%),dan nyeri sedang sebanyak 5

responden (17,3%).

4.2.2 Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda Hijau Pada Remaja Di SMA N.

Kairatu

Diketahui hasil uji normalitas menunjukan data di kategorikan tidak

berdistribusi normal, untuk itu di gunakan uji Wilcoxon.

Tabel 4.4

Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda Hijau Terhadap Nyeri Dismenore Pretest

dan Posttest

N M SD Min Max Nilai

Pretest 30 5,00 2,297 1 8 4.643

Posttest 30 0,00 1,461 0 4 0,000

Berdasarkan hasil Uji Wilcoxon pada tabel 4.4 menunjukan bahwa Nilai

Median,star deviasi,minimum,dan maksimum posttest lebih kecil dari nilai pretest

dan nilai p=0,000. Nilai p< 0,05 maka H0 dilotak dan Ha diterima, artinya ada
pengaruh Pemberian Terapi air Kelapa Muda Hijau Terhadap Nyeri Dismenore

pada Remaja di SMA N.5 Kairatu Seram Bagian Barat 2019.

4.3 Pembahasan

4.3.1 Nyeri Dismenore Sebelum Diberikan Terapi Air Kelapa Muda Hijau

Skala tingkatan nyeri dibedakan menjadi 4 kategori yaitu tidak nyeri (0),

nyeri ringan (1-3), nyeri sedang (4-6) dan nyeri berat (7-10). Hasil jawaban di

dapatkan dari observasi yang di lakukan peneliti dengan menggunakan kuesioner

pada 30 responden yang menjadi sampel, di dapatkan 8 responden (26,3%)

mengalami nyeri ringan, 10 responden (33,3%) mengalami nyeri sedang dan 12

esponden (40,4%) mengalami nyeri berat.

Banyaknya remaja yang mengalami tingkat nyeri berat dan sedang menurut

peneliti di sebabkan oleh kurangnya aktifitas fisik, karena semakin rendah

aktivitas fisik maka tingkat dismenore akan semakin berat dan sebaliknya (Novia

dkk, 2014).

Respon perilaku terhadap nyeri dapat berupa respon verbal (sesak nafas),

perilaku vokal (mengadu dan menjeit), ekspresi wajah (meringis), gerakan tubuh

(tampak gelisa) dan interaksi sosial (malas kontak dengan orang lain dan lebih

fokus pada nyeri yang di rasakan).

4.3.2 Nyeri Dismenore Sesudah Diberikan Terapi Air Kelapa Muda Hijau

Berdasarkan hasil penelitian yang di dapatkan saat observasi setelah

melakukan terapi air kelapa muda hijau 2 kali 1 hari selama 3 hari, di ketahui hasil

tingkat nyeri posttest lebih baik di bandingkan dengan petest. Hal ini di buktikan

dengan melihat respon perilaku 30 remaja yang di kasih terapi air kelapa muda
hijau. Hasil posttest menunjukan 5 responden (17,3%) mengalami nyeri sedang, 8

responden (26,3) mengalami nyeri ringan dan 17 esponden (56,4) sudah tidak

merasakan nyeri dismenore.

Pengaruh terapi air kelapa muda hijau merupakan salah satu terapi alamiah

yang mengandung kalsium dan magnesium yang mengurangi ketegangan otot dan

vitamin C yang merupakan zat-zat alamiah anti inflamasi yang membantu

meringankan rasa sakit akibat kram menstruasi dengan menghambat enzim

cyclooxygenase yang memiliki peran dalam mendorong poses pembentukan

prostagladin (Kristina dll, 2012).

Nyeri bisa di kendalikan apabila kita mengetahui teknik-tekniknya. Hal ini

sesuai dengan pendapat Judha (2012) yang menyatakan bahwa penatalaksanaan

nyeri dapat di lakukan dengan menggunakan 2 cara yaitu secara farmakologi atau

dengan menggunakan obat-obatan kimiawi, sedangkan secara nonfarmakologi

atau dengan tidak menggunakan obat-obatan kimiawi seperti dengan melakukan

berbagai tindakan penanganan salah satunya dengan terapi air kelapa muda hijau.

Air kelapa muda selain dapat digunakan sebagai minuman berenergi, air

kelapa juga memiliki kasiat di antaranya dapat memperlanar air seni, menurunkan

demam, mengobati influenza, dan dapat mengurangi rasa sakit ketika haid. Air

kelapa muda memiliki kandungan air, kaloi, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor,

Fe (zat besi), vit A,dan asam askobat (Fauzarah,2017).

4.3.3 Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda Hijau Tehadap Nyeri Dismenore

Pada Remaja
Setelah dilakukan analisa menggunakan uji wilcoxon untuk mengetahui

perbedaan intensitas nyeri sebelum dan sesudah di berikan terapi air kelapa muda

hijau, di ketahui nilai signifikansi adalah sebesar 0,000 dengan tingkat kemaknaan

< 0,05, artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah

diberikan terapi air kelapa muda hijau. Dari hasil uji Wilcoxon dapat di artikan

bahwa H0, karena ada pengaruh pemberian terapi air kelapa muda hijau tehadap

nyeri dismenore pada remaja di SMA N. 5 Kairatu seram bagian barat.

Air kelapa dapat mengurangi nyeri saat dismenore dengan mengkonsumsi 1

gelas kelapa hijau 150ml, diminum 2 kali sehari 1 gelas dan dikonsumsi pagi dan

sore hari, selama 3 hari berturut-turut. Air kelapa yang sudah dikeluarkan dari

buahnya dapat bertahan selama 4 jam dalam suhu ruang, dan sampai 24 jam jika

disimpan dalam alat pendingin atau kulkas (Syahid, 2014).


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Setelah dilakukan penelitian tentang pengaruh Terapi Air Kelapa Muda

Hijau Terhadap Nyeri Dismenore Pada Remaja Di SMA N.5 Kairatu Provinsi

Maluku 2019

a. Berdasarkan krasteristik umur responden penelitian didapatkan dari 30

responden yang mengalami nyeri dismenore pada usia 15-16 tahun sebanyak

17 (56,7%),sedangkan usia 17-20 tahun sebanyak 13 ( 43,3%)

b. Berdasarkan krasteristik lama haid responden penelitian didapatkan dari 30

responden 7 hari sebanyak 16 (53,3%),8 hari sebanyak 7 (23,2%),9 hari

sebanyak 5 (16,7%),sedangkan 10 hari sebanyak 2 hari (6,7%)

c. Berdasarkan krasteristik responden sebelum dilakukan penelitian didapatkan

dari 30 responden yang mengalami nyeri ringan sebanyak 8 orang

(26,3%),nyeri sedang 10 (33,3%), dan nyeri berat sebanyak 12 (40,4%)

d. Setelah dilakukan pemberian terapi air kelapa muda hijau yang tidak

mengalami nyeri haid sebanyak 17 (56,4%), mengalami nyeri ringan 8 (26,3%)

,sedangkan nyeri sedang 5 (17,3%).

2. Ada pengaruh pemberian Terapi air kelapa muda hijau terhadap nyeri

dismenore di SMA N.5 kairatu Provinsi Maluku


5.2 Distribusi rata-rata

a. Pada Karakteristik Responden umur didapatkan dari 30 responden yang

mengalami nyeri dismenore lebih banyak pada umur 15-16 tahun (56,7), Lama

Haid 7 hari 16 orang (53,3)

b. pada uji Normalitas Pretest nilai sig 0,004,prosttest 0,000, < 0,05 maka data

dikategorikan berdistribusi tidak normal

c. Nyeri Dismenore Pretest dan Posttest di berikan terapi air kelapa muda hijau

pada Pretest yang mengalami Nyeri berat sebanyak 12 orang (40,4),Posttest

tidak nyeri 17 orang ( 65,4)

d. Pengaruh Terapi Air Kelapa Muda Hijau menggunakan Uji Wilcoxon Pretest

dan Posttest .Pretest dan Nilai P=0,000. Nilai p< 0,005 maka H0 ditolak dan

Ha diterima

5.3 Saran

a. Bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan menambah literatur

kepada institusi dalam bidang penelitian mengenai nyeri dismenore yang dapat

dipertimbangkan sebagai bahan ajar baru yang dapat memperkaya bagi

mahasiswa dan dosen

b. Bagi responden

Diharapkan bagi siswi untuk sering mengkonsumsi air kelapa muda hijau untuk

mengurangi nyeri haid (dismenore) pada saat menstruasi

c. Bagi Masyarakat
Hasil penelitia ini dapat digunakan sebagai masukan atau informasi pada

remaja putri tentang hal-hal yang perlu di lakukan dalam menghadapi nyeri

dismenore sehingga tidak terlalu menggangu aktifitas sehari-hari mereka

d. Bagi institusi pendidikan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan menambah literatur

kepada institusi dalam bidang penelitian mengenai nyeri dismenore yang

dapat dipertimbangkan sebagai bahan ajar baru yang dapat memperkaya bagi

mahasiswa dan dosen.


DAFTAR PUSTAKA

Ali,M.,&Asori,M,2014.Psikologi Remaja Perkembangan Peserta


Didik.Jakarta:PT Bumi Aksara

Anindita P,Darwin E,Afriwardi,2016.Hubungan Aktifitas Harian Dengan


gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas.Jurnal Kesehatan

Annathayakheisha,2015.Nyeri Haid

Anonim,2010 .Farmakologi Dan Terapi,Edisi 5,489-490,Departemen


Farmakologi dan Terapetik Fakultas Kedokteran

Anurogo,2015.Segala Sesuatu Tentang Nyeri Haid

Aulia N.dan Elda L.P,2015./Kemiskinan dan Migrasi:Analisa Data

Arthur,2016. Nyeri Dismenore

Amirtha,2017. Pengaruh Pemberian Air Kelapa Muda Terhadap Penurunan


Nyeri Haid Pada Remaja Di Universitas Muhammadiyah Semarang

Bickley,2015.Buku Ajar Pemeriksaan Fisik Dan Riwayat Kesehatan

Dahlan,M.S,2013.Statistik Untuk Kedokteran Dan Kesehatan:Deskriptif,Bivariat


dan Multivariat Dilengkapi Aplikasi menggunakan SPSS.Jakarta:Salemba
Medika.

Depkes RI,2015.Tentang Angka Kejadian Dismenore

Edmundson,2010.Dysmenorhea

Fitri Lestari,2015. Pengaruh Pemberian Air Kelapa Hijau Terhadap Tingkat


Nyeri Haid Pada Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Stikes Aisyah

Fuzarah,2017.Buku Khasiat Air Kelapa muda

Handayani,2013.Manfaat Air kelapa Muda

Hidayat,2013. Metode Penelitian Keprawatan dan Teknik Analisis


Data.Jakarta:Salemba Medika

Jahja,2012. Perubahan Masa Remaja


Kartono,Kartini,2014.Patologis Sosial 2:Kenakalan Remaja,Jakarta:Raja Wali
Press

Khomsan,2012.Potensi Buah Kelapa Muda Untuk Kesehatan Dan


Pengelolahanya

Kurnia,2012. Nyeri Dismenore

Kusmira,2011. Perubahan-Perubahan Masa Remaja

Lalage,Zerlina,2015.Hidup Sehat Desngan Terapi Air.Klaten:Abata Press

Leppert,2012.Primay Care for Women

Marsiami, 2014. Pengaruh Pemberian jus Kulit manggis Terhadap Penurunan


Derajat Nyeri Dismenore Pada Siswi Di Man Wonokromo Pleret Bantul

Martini Dkk,2014.Deteksi Dini Komplikasi Dismenore

Manuaba IBG,2010.Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan Keluarga Berencana


Untuk Pendidik Bidan

Melzack,2016.New Theory:Science

Novia dkk,2014. Faktor Resiko Yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore


Primer,Jurnal Kesehatan.

Nugroho,T dan Utama,2014.Masalah Kesehatan rReproduksi Wanita

Putri,2014. Hubungan Regulasi Emosi dengan Rasa Nyeri haid Dismenore pada
remaja.

Prawirohardjo,2012. Masa Remaja

Potter & Perry,2009. Skala Penilaian Numerical Rating Scale NRS

Reed,Martin,dkk,2012. Tentang Nyeri Dismenore

Setiadi,2016.Nyeri Menstruasi.Dismenore

Setyawan,Ari,2012.Metodologi Penelitian Kebidanan

Santrock,201. Masa Pubertasi

Siti Khodijah,2017.Pengaruh Pemberian Terapi air Kelapa Hijau Terhadap


Penurunan Nyeri Dismenore Pada Mahasiswa Prodi IV Bidan Pendidik
diUniversitas Aisyiyah Yogyakarta.
Syahid,2012.Pengaruh Air Kelapa Muda Terhadap Multiplikasi tunas In
Vitro,Produksi Rimpang,Dan kandungan Xanthorrhizal Temulawak
dilapangan,Jurnal

Tri Kurniawati,2014.Hubungan Dismenorea Terhadap Aktivitas Mahasiswa

Widyastuti Dkk,2009. Masa Remaja

Tortora,GJ,Derrickson,B.2012.Principles of Ana tomy & Physiology 13th


Edition.United States of America :John Wiley & Sonc,Inc.

Tortora Dkk,2015.Principle of Anatomy & Physiology.

Varney,2010.Penyebab Dismenore
Skala Pengukuran Nyeri

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

10

None Mild Moderate Sever

Gambar 2.1 Skala Penilaian Numerical Rating Scale (NRS)


Sumber : Potter & Perry (2009)
Keterangan :

0 (None) : Tidak ada keluhan nyeri

1-3 (Mild) : Nyeri ringan (terasa keram di bagian bawah, masih

dapat ditahan, masih bisa berkonsentrasi belajar

4-6 (Moderate) : Nyeri sedang (terasa kram pada perut bagian bawah,

nyeri menyebar ke punggung, kurang nafsu makan,

aktivitas dapat terganggu, susah berkonsentrasi belajar

7-9 (Severe) : Nyeri berat (terasa keram berat pada perut bagian bawah,

nyeri menjalar ke pinggang, paha atau punggung, tidak

ada nafus makan, mual, badan lemas, tidak kuat

beraktivitas

10 : Nyeri berat sekali (terasa kram yang berat sekali pada

perut bagian bawah, nyeri menyebar ke pinggang, kaki dan

punggung, tidak mau makan, mual, muntah, sakit kepala,

badan tidak ada tenaga, tidak bisa berdiri


Distribusi Frekuensi

Statistics

Umur Lama haid

N Valid 30 30

Missing 0 0

Mean 16.30 7.77

Median 16.00 7.00

Sum 489 233

Umur

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 15 11 36.7 36.7 36.7

16 6 20.0 20.0 56.7

17 7 23.3 23.3 80.0

18 5 16.7 16.7 96.7

19 1 3.3 3.3 100.0

Total 30 100.0 100.0

Lama haid

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent

Valid 7 16 53.3 53.3 53.3

8 7 23.3 23.3 76.7

9 5 16.7 16.7 93.3

10 2 6.7 6.7 100.0

Total 30 100.0 100.0


Uji Normalitas

Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Pretest .245 30 .000 .887 30 .004

Postest .315 30 .000 .636 30 .000

a. Lilliefors Significance Correction

Nilai Signifikan lebih kecil dari 0.005 sehingga disimpulkan bahwa data tidak
berdistribusi normal. Sehingga akan dilakukan pengujian statistik non parametik yaitu
dengan melakukan uji wilcoxon

Uji Wilcoxon

Ranks

N Mean Rank Sum of Ranks

Postest - Pretest Negative Ranks 28a 14.50 406.00

Positive Ranks 0b .00 .00

Ties 2c

Total 30

a. Postest < Pretest

b. Postest > Pretest

c. Postest = Pretest

 Negatif ranks atau selisih (negatif) antara ………… untuk pre test dan
posttest. Dari hasil ini terdapat 28 data negatif (N), yang artinya terdapat
28 siswi mengalami penurunan …….. hal ini menunjukan bahwa adanya
penurunan (pengurangan) dari nilai pretest ke nilai post test. Mean rank
atau rata-rata peningkatan tersebut adalah sebesar 14.50, sedangkan
jumlah ranking negatif atau sun of ranks adalah sebesar 406.00.
 Positif ranks atau selisih (positif) antara hasil pemeriksaan nyeri untuk
pretest dan post test adalah 0. Baik itu pada nilai N, mean ranks, maupun
sun of rank. Nilai 0 menunjukan tidak adanya penurunan (pengurangan)
dari nilai pre test ke nilai post test.
 Ties adalah kesamaan nilai pre test dan post test , dalam pengujian ini nilai
No. Umur Intensitas Nyeri Lama Haid (Hari)
Respoden
ties adalah sebesar 2. Sehingga dismpulkan bahwa terdapat 2 nilai yang
sama atau identik antara pre test dan post test.

Test Statisticsb

Postest - Pretest

Z -4.643a

Asymp. Sig. (2-tailed) .000

a. Based on positive ranks.

b. Wilcoxon Signed Ranks Test

Dasar pengambilan keputusan ;

1. Jika nilai asymp sig. atau signifikan lebih kecil dari 0.05 maka Hipotesis diterima
2. Jika nilai asymp sig. atau signifikan lebih besar dari 0.05 maka Hipotesis ditolak

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, dapat dilihat bahwa nilai signifikan adalah
sebesar 0.000. karena nilai 0.000 lebih kecil dari 0.05 maka dapat disimpulkan bahwa
hipotesis diterima. Artinya terdapat perbedaan antara …………………………………s
Pretest Postest
1 16 7 0 7
2 16 5 0 8
3 17 4 1 7
4 18 2 0 10
5 17 7 4 7
6 18 4 1 9
7 18 4 1 7
8 17 7 4 8
9 15 7 4 10
10 15 7 4 9
11 15 8 4 7
12 16 4 0 7
13 15 7 0 7
14 17 5 0 8
15 15 8 0 8
16 15 7 0 7
17 17 4 0 7
18 15 7 1 8
19 18 2 0 7
20 16 3 0 7
21 15 7 1 7
22 15 7 0 9
23 15 8 1 9
24 16 1 1 8
25 17 4 0 7
26 16 5 0 7
27 18 1 0 7
28 19 2 0 8
29 17 1 1 7
30 15 4 0 9
Rata-rata 16 5 1 8
DOKUMENTASI
BIODATA PENULIS

Nama : Mahani Tubaka


NPM : 1831125401540120051
Alamat : Jl. Sawo Manila No. 23 Rt 004 Rw 16. Kos ibu hj Tachmid jln
rambutan 1 Pasar Minggu Jakarta Selatan.
No.HP : 085244732141
Email : anitubaka26@gmailcom
Pendidikan : Sd 1 Hualloy (2001-2007)
Smp Pgri Tomalehu (2007-2010)
Sma N.5 Kairatu (2010-2013)
DIII Poltekes Kemenkes Maluku (2013-2016)

Jakarta , Agustus 2019

Mahani Tubaka

Anda mungkin juga menyukai