Anda di halaman 1dari 32

Makalah Teknologi Sediaan Solid

“Rancangan Formulasi Evaluasi Sediaan


Suppositoria”

Disusun Oleh :
Benny (P23139014016)
Citra Maulani (P23139014018)
Dara Briandini (P23139014020)
Dermawan Dwi Restanto (P23139014022)
Devi Rahmawati (P23139014024)
Natasha Shah Maudy (P23139014068)
Noer Afni Astuti (P23139014070)
Nur Azizah Nasution (P23139014072)
Nurbaiti Suhaeti (P23139014074)

Tingkat 2B

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II


JURUSAN FARMASI
TAHUN AJARAN 2016
KATA PENGANTAR

Pertama – tama kami ingin mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
atas limpahan karunia, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan
pembuatan tugas makalah teknologi sediaan solid tentang “Rancangan Formulasi Evaluasi
Sediaan Suppositoria” dengan baik.
Pada kesempatan kali ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Gloria
Murtini T, M.Si, Apt. selaku dosen Teknologi Sediaan Solid. Serta teman – teman yang telah
membantu dalam penyelesaikan laporan ini.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca demi perbaikan dan kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya. Akhirnya
kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan informasi kepada
pembaca.

Jakarta, 14 Mei 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................ i


Daftar Isi .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang ....................................................................... 1

1.2. Tujuan ................................................................................... 1

1.3. Rumusan Masalah ................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Suppositoria ......................................................... 2

2.2. Kelebihan dan Kekurangan Sediaan Suppositoria ................. 2

2.3. Tujuan Penggunaan ................................................................ 3

2.4. Basis Untuk Suppositoria ....................................................... 3

2.5 Metode Pembuatan Suppositoria…………………………… ........... 9

2.6. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Formulasi ………….... 10

2.7. Hal-hal yang diperhatikan dalam evaluasi suppositoria …….. 15

2.8. Evaluasi suppositoria menurut buku ..................................... 18

2.9. Parameter evaluasi sediaan suppositoria .............................. 23

2.10. Contoh Formula …………………………………………….................... 25

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan ............................................................................. 26

3.2. Saran ...................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 29


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Suppositoria adalah sediaan padat berbentuk torpedo yang digunakan melalui anus dan
dapat larut pada suhu tubuh. Bahan dasar untuk pembuatan suppositoria adalah Oleum
Cacao, PEG, serta gelatin. Macam basis suppositoria yaitu basis berupa lemak serta
basis yang larut dalam air. Penggunaan suppositoria biasanya digunakan pada
penderita wasir, bahkan untuk mencapai kerja obat yg lebih cepat melalui anus seperti
obat obat antikejang, analgetika antipiretika dan juga untuk laxansia.

1.2 Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui rancangan formulasi dan cara evaluasi suppositoria.
b. Tujuan Khusus
- Agar dapat merancang formulasi dalam membuat sediaan suppositoria dalam
basis yang larut dalam air.
- Agar kita dapat mengetahui tentang cara evaluasi suppositoria secara baik dan
benar sesuai standar dan untuk memenuhi tugas teknologi sediaan solid.
- Kita diharapkan mengetahui beberapa parameter-parameter uji sediaan
suppositoria untuk mengetahui karakteristiknya.

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Sediaan Suppositoria ?
2. Apa keuntungan dan kerugian Sediaan Suppositoria ?
3. Apa saja basis dalam membuat Sediaan Suppositoria?
4. Apa saja evaaluasi sediaan Suppositoria?
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian suppositoria


Menurut FI edisi III halaman 32, Suppositoria adalah sediaan padat yang digunakan
melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melemak atau meleleh
pada suhu tubuh.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, suppositoria adalah sediaan padat dalam
berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya
meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.
Menurut R.Voight halaman 281, Suppositoria adalah sediaan berbentuk silindris atau
kerucut, berdosis atau berbentuk mantap. Yang ditetapkan untuk dimasukkan kedalam
rectum, sediaan ini melebur pada suhu tubuh atau larut dalam lingkungan berair.
Menurut Lachman halaman 1147, Suppositoria adalah suatu bentuk sediaan obat
padat yang umumnya dimasukkan kedalam rectum, vagina dan jarang digunakan di
uretra.
Menurut DOM Martin, hal 834
Suppositoria adalah sediaan padat yang dugunakan melalui bagian tubuh yaitu vagina,
rectum dan uretra.

2.2. Kelebihan dan kekurangan supositoria


Kelebihan supositoria :
1. Pasien tidak dapat menggunakan rute oral.
2. Pasien mengalami masalah dengan saluran pencernaan spt. Nausea.
3. Pasien tidak sadar (unconscious).
4. Katagori khusus, seperti bayi, lanjut usia, gangguan mental.
5. Obat tidak cocok diberikan dengan rute oral.
6. Obat yang menghasilkan efek samping pada GI
7. Obat tidak stabil pada pH GI
8. Obat yang rentan terhadap enzim pada GI
9. Obat yang mempunyai rasa tidak enak
Kerugian suppositoria:
1. Penggunaan tidak nyaman
2. Terjadinya variasi pada proses absorpsi
3. Mengiritasi mukus yang disebabkan oleh beberapa obat atau basisnya

2.3. Tujuan Penggunaan


1. Efek Lokal
Pada umumnya digunakan untuk pengobatan wasir, konsipasi, infeksi dubur. Zat aktif
yang biasa digunakan:
• Anastetik lokal (benzokain, tetrakain)
• Adstringen (ZnO, Bi-subgalat, Bi-subnitrat)
• Vasokonstriktor (efedrin HCL)
• Analgesik (turunan salisilat)
• Emollient (balsam peru untuk wasir)
• Konstipasi (glisin bisakodil)
• Antibiotika untuk infeksi
2. Efek Sistemik
• Meringankan penyakit asma (teofilin, efedrin, amonifilin)
• Analgetik dan antiinflamasi (turunan salisilat, parasetamol)
• Anti arthritis, radang persendian (fenilbutason, indometasin)
• Hipnotik & sedatif (turunan barbiturat)
• Trankuilizer dan anti emetik (fenotiazin, klorpromazin)
• Khemoterapetik (antibiotik, sulfonamida)

2.4.Basis Supositoria
Terdapat 2 golongan utama basis:
1. Basis lemak (hidrofobik)
 Oleum cacao
 Gliserida semisintetik
2. Basis hidrofilik
 Basis glisero-gelatin
 Polimer polietilen glikol (PEG, macrogols, carbowax)

Persyaratan basis:
1. Supositoria harus meleleh dalam tubuh atau terlarut dalam cairan rektum. Basis
lemakdiharapkan meleleh < 37oC.
2. Jarak lebur harus kecil agar proses pemadatan cepat untuk mencegah suspensi
terutama BJ tinggi, partikel obat, agglomerasi.
3. Stabil secara fisika dan kimia selama penyimpanan.
4. Kompatibel dengan zat aktif.
5. Memberikan pelepasan zat aktif yang optimal.
6. Volume kontraksi yang cukup à kemampuan pelepasan supositoria dari cetakan.
7. Viskositas yang cukup à penuangan ke dalam cetakan, pencegahan pemisahan zat
aktif, dan pengaruh terhadap kecepatan absorpsi.
8. Tidak mengabsorpsi/mengiritasi.
9. Mudah dalam penanganannya.
10. Ekonomis
11. Non-toksik
12. Tidak mempunyai bentuk metastabil
13. Dapat dimanufaktur dengan pencetakan secara manual atau mesin

 Basis lemak
Persyaratan untuk basis lemak:
1. Nilai asam kurang dari 0.2
2. Nilai saponifikasi 200-245
3. Nilai iodin kurang dari 7
4. Interval antara titk leleh dan titik pemadatan kecil

1. Theobroma oil, oleum cacao


 Sumber alam, meleleh pada 30-36
 Bentuk semisolida, warna kuning
 Terdiri atas gliseril ester dari asam lemak spt stearat, palmitat, asam oleat
 Tidak cocok untuk negara tropis
 Polimorfisme dan ketengikan saat panas
 bentuk kristal theobroma
kristal beta (TL. 34-36)
kristal beta’ (TL. 27)
kristal alfa (TL. 22)
kristal gamma (TL. 18)
 Titik leleh rendah. Setelah dicampur dengan volatile oil, kloral hidrat, metil
paraben, fenol, kamfora

Kerugian:
1. Mempunyai sifat polimorfik
2. Kontraksi yang tidak cukup pada proses pendinginan
3. Titik pelunakan yang rendah
4. Tidak stabil secara kimia
5. Kekuatan absorpsi zat aktif rendah

2. Gliserida semisintetik.
Campuran trigliserida dengan asam C12-C18 yang jenuh.Angka hidroksil: jumlah
mono dan digliserida yang terkandung dalam basis semisintetik. Angka hidroksil tinggi
à kemampuan menarik air tinggi dapat menyebabkan penguraian zat aktif yang
mudah terhidrolisa (asam asetilsalisilat) Angka iodin: jumlah kandungan asam tidak
jenuh. Makin tinggi maka mudah teroksidasi, mengakibatkan ketengikan.

Keuntungan gliserida semisintetik


1. Tidak ada polimorfisme
2. Toleransi terhadap oksidasi
3. Pemadatan yang cepat
4. Penampilan yang lebih baik
 Basis hidrofilik
1. Basis gliserol gelatin untuk tujuan laksatif
2. Macrogols: campuran PEG dengan beda BM
3. Titik leleh melebihi suhu tubuh à bercampur dengan cairan tubuh
4. Cocok digunakan untuk negara beriklim tropis
5. Bersifat higroskopis dan menarik air sehingga memberikan rasa sakit pada pasien.
Pemecahan: incorporasi min. 20% air dan pelembab
6. Inkompatibilitas dengan beberapa obat (fenol, sulfonamid)
7. Konstanta dielektrik basis rendah sehingga zat aktif tertahan pada basis sehingga
pelepasannya lambat

1. Basis glisero-gelatin:
1. Bersifat laksatif
2.Banyak proses perlakuan yang harus dihadapi
3.Bersifat higroskopis (dari gliserin)
4.Inkompatibilitas dengan asam tannat
5.Pada pemanasan tinggi (overheat): gliserin melepaskan gas toksik volatil

2. PEG
Produk sintetik Misal PEG 400, PEG 1500, PEG 4000
Keuntungan:
1. TL 40 C
2. Lambat meleleh dan melepaskan zat aktif juga lambat
3. Dapat dilakukan kombinasi PEG untuk mendapatkan basis yang cocok
4. Viskositas tinggi

Kerugian:
1. Inkompatibilitas dengan garam bismut, tanin, fenol, mengurangi aktivitas
antimikroba, melarutkan beberapa plastik.
2. PEG BM tinggi menyebabkan pelepasan zat aktif rendah.
a. Suppositoria Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan
obat yang dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang
dihasilkan dibuat dalam bentuk sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur
dan membiarkan suspensi yang dihasilkan menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah
zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk mencegah kecenderungan beberapa
obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan dasar. Yang penting,
suppositoria meleleh pada suhu tubuh.
Perkiraan bobot suppositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini.
Suppositoria yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot
yang disebutkan dibawah ini.
Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau
kedua ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g.
Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih
kurang 5 g, dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur
dalam air, seperti polietilen glikol atau gelatin tergliserinasi. Ukuran berkisar, panjang
1,25 – 1,5 inchi dan diameter 5/8 inchi
1. Tujuan penggunaan (ovula)
Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi,
anastetik lokal, dan pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri dan
monilial.
2. Absorpsi Vagina
Absorpsi sediaan vaginal terjadi secara pasif melalui mukosa. Proses absorpsi
dipengaruhi oleh fisiologi, pH, dan kelarutan dan kontanta partisi obat. Permukaan
vagina dilapisi oleh lapisan film air (aqueous film) yang volume, pH dan
komposisinya dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan lokasi. pH vagina
meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior
formix dan pH 5 di dekat cervix. Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal.
Tapi beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa obat yang dapat berdifusi
melalui mukosa dan masuk dalam peredaran darah. Sebagai contoh, kadar
propanolol dalam plasma untuk sediaan ovula lebih besar dibandingkan dengan rute
oral pada dosis yang sama.(Husa’s, Pharmaceutical Dispensing, hal. 117)
Suppositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik,
sebaiknya pada suhu dibawah 30 derajat (suhu kamar terkendali).
b. Pengganti Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai minyak nabati,
seperti minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi dengan esterifikasi,
hidrogenasi, dan fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dan suhu lebur
(misalnya minyak nabati terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini dapat dirancang
sedemikian hingga dapat mengurangi terjadinya ketengikan. Selain itu sifat yang
diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu melebur dan suhu memadat dan
jarak lebur juga dapat dirancang umtuk penyesuaian berbagai formulasi dan keadaan
iklim.
c. Suppositoria Gelatin Tergliserinasi
Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi, dengan
menambahkan sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang
70 bagian gliserin, 20 bagian gelatin dan 10 bagian air. Suppositoria ini harus disimpan
dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya pada suhu dibawah 35 derajat.
d. Suppositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol
Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu badan
telah digunakan sebagi bahan dasar suppositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar
lebih ditentukan oleh disolusi dari pada pelelehan, maka massalah dalam pembuatan
dan penyimpanan jauh lebih sedikit dibanding massalah yang disebabkan oleh jenis
pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol dengan kadar tinggi dapat
memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan. Pada etiket
suppositoria polietilen glikol harus tertera petunjuk “basahi dengan air sebelum
digunakan”, meskipun dapat disimpan tanpa pendinginan, suppositoria ini harus
dikemas dalam wadah tertutup rapat.
e. Suppositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan
Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol dapat
digunakan sebagai bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester
asam lemak polioksietilen sorbitan dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat
digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi dengan pembawa suppositoria lain
untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan konsistensi. Salah satu
keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam air. Tetapi harus hati-
hati dalam penggunaan surfaktan, karena dapat meningkatkan kecepatan absorpsi obat
atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas
terapetik.
f. Suppositoria Kempa atau Suppositoria Sisipan
Suppositoria vaginal dapat dibuat dengan cara mengempa massa serbuk menjadi bentuk
yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam gelatin lunak.

2.5. Metode pembuatan suppositoria


1. Pencetakan dengan tangan (manual)
Pencetakan dengan tangan (manual) merupakan metode paling sederhana, praktis dan
ekonomis untuk memproduksi sejumlah kecil suppositoria. Caranya dengan menggerus
bahan pembawa / basis sedikit demi sedikit dengan zat aktif, di dalam mortir hingga
homogen. Kemudian massa suppositoria yang mengandung zat aktif digulung menjadi
bentuk silinder lalu dipotong-potong sesuai diameter dan panjangnya. Zat aktif
dicampurkan dalam bentuk serbuk halus atau dilarutkan dalam air. Untuk mencegah
melekatnya bahan pembawa pada tangan, dapat digunakan talk.
2. Pencetakan dengan kompresi / cetak kempa / cold compression
Pada pencetakan dengan kompresi, suppositoria dibuat dengan mencetak massa yang
dingin ke dalam cetakan dengan bentuk yang diinginkan. Alat kompresi ini terdapat
dalam berbagai kapasitas yaitu 1,2 dan 5 g. Dengan metode kompresi, dihasilkan
suppositoria yang lebih baik dibandingkan cara pertama, karena metode ini dapat
mencegah sedimentasi padatan yang larut dalam bahan pembawa suppositoria.
Umumnya metode ini digunakan dalam skala besar produksi dan digunakan untuk
membuat suppositoria dengan pembawa lemak coklat / oleum cacao. Beberapa basis
yang dapat digunakan adalah campuran PEG 1450 – heksametriol-1,2,6 6% dan 12%
polietilen oksida 4000.
3. Pencetakan dengan penuangan / cetak tuang / fusion
Metode pencetakan dengan penuangan sering juga digunakan untuk pembuatan skala
industri. Teknik ini juga sering disebut sebagai teknik pelelehan. Cara ini dapat dipakai
untuk membuat suppositoria dengan hampir semua pembawa. Cetakannya dapat
digunakan untuk membuat 6 - 600 suppositoria. Pada dasarnya langkah-langkah dalam
metode ini ialah melelehkan bahan pembawa dalam penangas air hingga homogen,
membasahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah melekatnya suppositoria pada
dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi suppo, selanjutnya pendinginan
bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada lemari pendingin bersuhu 7-10 0C, lalu
melepaskan suppo dari cetakan. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari
baja tahan karat, aluminium, tembaga atau plastik.
Cetakan yang dipisah dalam sekat-sekat, umumnya dapat dibuka secara membujur.
Pada waktu leburan dituangkan cetakan ditutup dan kemudian dibuka lagi saat akan
mengeluarkan suppositoria yang sudah dingin. Tergantung pada formulasinya, cetakan
suppo mungkin memerlukan lubrikan sebelum leburan dimasukkan ke dalamnya, supaya
memudahkan terlepasnya suppo dari cetakan. Bahan-bahan yang mungkin
menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa seharusnya tidak digunakan sebagai
lubrikan (Sylvia Nurendah, skripsi)

2.6. hal hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi


1. Pemilihan Obat / Zat Aktif
• Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk suppositoria jika:
a. Dapat diabsorpsi dengan cukup melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar
terapeutik dalam darah (absorpsi dapat ditingkatkan dengan bahan pembantu).
b. Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa
saluran pencernaan, atau zat aktif berupa antibiotik yang dapat mengganggu
keseimbangan flora normal usus.
c. Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada
saluran pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui
rute oral).
d. Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
e. Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.

• Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk suppositoria:


a. Sifat fisik
1. Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.
2. Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat (melalui
peningkatan luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi pada
ampula rektal.
3. Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat
aktif/eksipien, yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian
suppositoria ke cetakan, dan juga memperlambat resorpsi zat aktif.
4. Adanya zat aktif berupa kristal kasar (baik karena kondisi zat aktif saat
ditambahkan ke dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat
menyebabkan iritasi permukaan mukosa rektal yang sensitif.
b. Densitas bulk
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan
eksipien,diperlukan perlakuan khusus untuk mencapai homogenitas produk. Usaha
yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini yaitu dengan menurunkan ukuran
partikel atau meningkatkan viskositas produk. Peningkatan viskositas produk dapat
dicapai dengan penambahan bahan pengental, atau dengan menurunkan suhu
campuran agar mendekati titik solidifikasi sehingga fluiditasnya turun.
c. Kelarutan (solubilitas)
• Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas produk,
tetapmenyulitkan/mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi kecenderungan
yang besar dari zat aktif untuk tetap berada dalam basis.
• Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat misibilitas
dari kedua komponen suppositoria.

2. Pemilihan Basis
Peran utama basis suppositoria:
a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang tepat
dengan karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator
b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat
absorpsinya.

Karakteristik basis yang menentukan selama produksi:


a. Kontraksi
Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume suppositoria diinginkan untuk
memudahkan pengeluaran dari cetakan.

b. Ke-inert-an (inertness)
Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif.
c. Pemadatan
Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu pendek
maka penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu panjang, waktu
pemadatan menjadi lama sehingga laju produksi suppositoria menurun.
d. Viskositas
Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan membentuk
sedimen, mengganggu integritas dari produk akhir.

Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:


a. Ketidakmurnian (Impurity)
Kontaminasi bakteri / fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-nutritif dengan
kandungan air minimal.
b. Pelunakan (softening)
Suppositoria harus diformulasi agar tidak melunak atau meleleh selama transportasi
atau penyimpanan.
c. Stabilitas
Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau cahaya.

Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan:


a. Pelepasan
Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran bahan aktif yang optimal ke
tempat target.
b. Toleransi
Suppositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan iritasi jaringan
mukosa rektal yang sensitif.

Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:


a. Jarak lebur
Spesifikasi suhu lebur basis suppositoria (terutama basis lemak) dinyatakan dalam
jarak lebur daripada suatu titik lebur. Hal ini karena terdapat suatu rentang suhu
antara bentuk stabil dan tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme bahan tersebut.
Penambahan cairan ke dalam basis umumnya cenderung menurunkan suhu leleh
suppositoria, sehingga disarankan penggunaan basis dengan suhu leleh lebih tinggi.
Sedangkan, penambahan sejumlah besar serbuk fine akan meningkatkan viskositas
produk, sehingga diperlukan basis dengan suhu leleh yang lebih rendah.
b. Bilangan iodin
Rancidifikasi (oksidasi) basis suppositoria dapat menjadi massalah. Karena sensitivitas
dari jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar lelehan basis suppositoria, maka
antioksidan berpotensi mengiritasi tidak dianjurkan digunakan dalam suppositoria.
Untuk mencegah penggunaan antioksidan, sebaiknya digunakan basis dengan bilangan
iodin < 3 (dan lebih diutamakan < 1).
c. Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas yang lebih
baik dalam kasus dimana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal hidroksil.

3. Pemilihan bahan pembantu yang dapat meningkatkan homogenitas produk,


kelarutan, dll
Bahan pembantu digunakan untuk:
a. Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk zat aktif dapat mengganggu integritas suppositoria dengan
menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga menghambat alirannya ke
dalam cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk mengatasi hal ini yaitu: Mg karbonat,
minyak netral (gliserida asam lemak jenuh C-8 hingga C-12 dengan viskositas rendah)
10 % dari bobot suppositoria, dan air (1 – 2 %).
b. Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat disolusi
suppositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan dengan
konsentrasi rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar, bahan ini malah
menurunkan absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat menyebabkan iritasi
lokal.
Contoh bahan ini yaitu:
1. surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil alkohol plus 10 %
Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril sulfat (1 %), Na stearat (1 %), dan
trietanol amin stearat (3 – 5 %);
2. surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari sorbitan (Span &
Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi (Tween), ester dan eter
teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj, eter polietilenglikol dari alkohol
lemak), minyak natural termodifikasi (Labrafil M2273, Cremophor EL, lesitin,
kolesterol);
3. gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam lemak
tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin monostearat dan gliserin
monooleat), monogliserida asam stearat dan palmitat, mono- dan digliserida dari
asam palmitat dan stearat.

c. Meningkatkan viskositas
Pengaturan viskositas dari lelehan suppositoria selama pendinginan merupakan titik
kritis untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan yaitu: asam lemak dan
derivatnya (Al monostearat, gliseril monostearat, & asam stearat), alkohol lemak (setil,
miristat dan stearil alkohol), serbuk inert (bentonit & silika koloidal).
d. Mengubah suhu leleh
Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan asam
stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol), hidrokarbon (parafin),
dan malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam carnauba).
e. Meningkatkan kekuatan mekanis
Pecahnya suppositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan basis sintetik.
Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat, minyak jarak
(castor oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan propilenglikol.
f. Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti psikologis, menjamin
keseragaman (uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk membedakan produk,
dan menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti eksudasi atau kristalisasi
permukaan. Bahan hidrosolubel, liposolubel dan insolubel serat tidak bersifat
mengiritasi mukosa dapat digunakan untuk mewarnai suppositoria.
g. Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka suppositoria mengandung bahan asal
tanaman atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH larutan zat aktif
kurang dari 6. p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga dapat digunakan. Tetapi,
potensi bahan-bahan ini menyebabkan iritasi rektal perlu dipertimbangkan.
Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk
mencegah ketengikan (rancidity) pada formulasi suppositoria yang menggunakan
lemak coklat (cocoa butter).
Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan digunakan untuk
mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks. Contohnya: campuran tiga
bagian BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu bagian asam sitrat memberikan hasil
memuaskan pada penggunaan 0,01 %.
h. Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu ditambahkan bahan
untuk meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan telah digunakan untuk
meningkatkan bioavailabilitas dari zat aktif dalam suppositoria. Sebagai contoh,
penambahan enzim depolimerisasi (mukopolisakarase) telah dipelajari untuk
meningkatkan penetrasi beberapa zat aktif.

2.7. Hal-hal yang diperhatikan dalam evaluasi suppositoria


Dalam evaluasi sediaan suppositoria, hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengujian
adalah :
a. Perilaku Melebur ( waktu lewat leburan)
Untuk mengkarakterisasi masa supositoria dan sediaan obatn yang dibuat
dengannya (supositoria, globuli, batang obat) digunakan perilaku melebur dan
membeku. Dalam hal ini dibedakan antara bilangan identitas berikut : titik lebur
menaik, titik lebur mengalir, titik lebur jernih, tittik tetes dan titik beku. Untuk
menentukan waktu lewat leburan, sekeliling dicuci dengan air suhu 370 C dalam
sebuah alat yang cocok.waktu pada saat supositoria melebur, dinyatakan sebagai
waktu lebur. Waktu lewat leburan dapat diperoleh melalui metode yang amat
sederhana, misalnya dengan meletakkan sebuah supositoria dalam sebuah pinggan
kristalisasi yang berisi air suhu 370 C, yang diatur melalui sebuah penangas air.

Penguji lebur supositoria-Erweka jenis SSP. Sangat dianjurkan penggunaan alat


penguji leburan supositoria-Erweka. Supositoria diletakkan ketat dalam sebuah
sangkar (spiral gelas), pada sebuah pipa penguji berskala, yang ditempatkan dalam
sebuah mantel gelas dan dialiri air hangat suhu 370 C. Melalui sebuah pipa kecil
gelas, yang sekaligus jatuhnya supositoria dari dalam sangkar, air mengalir kedalam
pipa penguji. Pada saat supositoria melebur, tetesan-tetesan akan berkumpul dalam
bagian berskala yang sempit ari pipa penguji, sehingga profil waktu berlangsungnya
proses melebur dapat ditentukan, atau ditentukan waktu lewat leburan, artinya
dicatat waktu, dimana supositoria meelebur tanpa sisa sehingga secara total telah
meninggalkan sangkarnya.
Jika supositoria dengan masa basis larut air diletakkan kedalam pipa penguji,
maka dengan cara yang sama dapat ditentukan waktu yang diperlukan untuk
melarut.
Alat penguji menurut KROWCZYNSKI. Alat ini sangat menguntungkan umtuk
menentukan waktu lewat leburan. Pipa yang berisi 5 ml air berada dalam sebuah
mantel, yang dialiri dengan air 36,50 C melaui sebuah termostat. Setelah meletakkan
supositoria yang akan diuji kedalam pipa, diatasnya dibebani dengan sebuah batang
gelas (30 g), yang ujung bawahnya praktis rata dan memiliki lumen pipa bertakik
sehingga masa supositoria yang melebur dapat mengalir keatas. Sebagai waktu lewat
leburan digunakan lamanya waktu mulai dari meletakkan supositoria sampai kepada
melekatnya batang gelas pada tambahan pipa.
Penguji penetrasi-supositoria-Erweka jenis PM3. Alat ini digunakan untuk
menentukan waktu melebur dan waktu melunak atau waktu melarut dari
supositoria. Prinsip penentuannya persis sama dengan prosedur percobaan
KROWCZYNSKI. Batang gelas digantikan dengan elemen penetrasi terbuat dari baja-
V-4A dengan masa sebesar 7,5 g. Alatnya dilengkapi dengan tiga pipa penguji.
Pengembangannya lebih lanjut adalah jenis PM 6D dimana pencatatan titik akhir dan
dokumentasi harga pengukuran secara elektronis dilakukan melalui 6 lokasi
pengukuran.

b. Kekompakan dan kekerasan


Kekompakkan dapat ditentukan dengan cara yang sangat sederhana. Sebuah
supositoria yang ujungnya dipotong berdiri tegak dalam sebuah pipa gelas. Diatasnya
diletakkan sebuah anak kayu, yang dibebani dengan anak timbangan. Setiap menit
masa anak timbangan dinaikkan sebanyak 100 g. Jika supositoria runtuh bersama,
berarti beban maksimal telah dilampaui.
Penguji kekerasan supositoria-Erweka Jenis SBT. Penguji ini mempunyai
sebuah kamar pemanas berdinding ganda yang bagian atasnya terdapat sebuah
dudukan, yang dialiri air dengan suhu tetap. Kamar tersebut dilengkapi dengan alat
perlengkapan sintetis yang dapat diganti-ganti untuk menempatkan supositoria yang
diuji, yang sekaligus digunakan sebagai penguntai anak timbangan. Dibagian atasnya
juga terdapat sebuah komponen sintesis yang dapat diganti, yang bentuknya sesuai
dengan bentuk supositoria. Penguntai diperpanjang kebawah sampai menunjukan
masa dasar 600 g. Setelah pengatur suhu pengujian yang dikehendaki dicapai,
sebuah supositoria (yang sebelumnya disimpan pada suhu tertentu) ditempatkan
dengan ujung keatas dalam alat penyimpanannya.
Penguntai dipasangkan sekaligus digunakan sebagai penguntai anak
timbangan. Bagian atasnya juga terdapat sebuah komponen sintetis yang dapat
diganti, yang bentuknya sesuai bentuk suppositoria. Penguntai diperpanjang ke
bawah sampai menunjukkan massa dasar 600 g. Setelah pengaturan suhu pengujian
yang dikehendaki dicapai, sebuah suppositoria ditempatkan dengan ujung keatas
dalam alat penyimpannya. Penguntai dipasangkan hari-hati dan kamar pengujian
ditutup dengan sebuah lempeng gelas. Dalam inteerval waktu setiap satu menit,
anak timbangan berbetuk lempengan masing-masingnya 200g, diletakkan pada
penguntai, sampai akhirnya supositoria patah pada saat penempatan anak
timbangan yang terakhir. Sebagai skala kekerasan digunakan jumlah total dari massa
beban pada supositoria, sampai mencapai titik patahnya.

c. Ukuran partikel atau penghabluran


Penghabluran dikhawatirkan terjadi jika bahan obat melarut dalam massa
basis supositoria yang dipanaskan dan pada saat pendinginannya atau juga pada saat
penyimpanannya mengalami pengurangan kelarutan. Dibuat penampang melintang
tipis dari supositoria dan ukuran partikelnya diukur dibawah mikroskop dengan
bantuan mikrometer okuler yang telah diterapkan. Pada penyimpanan supositoria,
pengujian diulangi dalam interval waktu yang teratur

d. Distribusi bahan obat


Untuk menguji kandungan bahan obat dari supositoria dalam satu batch
(keseragaman kandungan), diambil sejumlah supositoria yang mewakili batch
tersebut lalu ditimbang. Kandungan bahan obatnya ditentukan dengan metode yang
cocok dan prosentual. Penyimpangan dari kandungan seharusnya ditentukan.
Dengan cara yang sama dapat diuji distribusi bahan aktif dalam supositoria menurut
segmentasinya (melintang terhadap sumbu panjang). Hasil yang diperoleh
menginformasikan tentang sedimentasi dari bahan padat selama penuangan dan
pembekuan leburan.

2.8. Evaluasi suppositoria menurut buku :


A. Aulton’s pharmaceutics (419)
1. Penampilan
Penampilan suppositoria termasuk bau, warna, kondisi permukaan dan bentuk. Ini
merupakan control organoleptik dan akan didiskusikan dalam bagian yang
menyertainya (dalam sediaan).
Syarat untuk berat dan penghancuran diberikan dalam Farmakope Eropa dan
nasional. Sifat meleleh dan kelarutan pada kenyataan direfleksikan dalam tes
penghancuran . Banyak metode lain yang tersedia tetapi tidak ada yang terlihat
mendukung informasi terkait. Metode Farmakope Eropa membuktikan untuk
lebih tidak peka dan tidak banyak nilai harus dilengkapi untuk melalui tes
ini.Kekuatan mekanik dapat menjadi penting untuk menghindari masalah dengan
formulasi yang mana range leleh ditekan. Dapat diuji dengan beberapa metode
termasuk uji kekerasan dan kekuatan.
Tidak ada syarat yang dipublikasikan sampai sekarang mengenai keseragaman isi.
Bagaimanapun telah diperlihatkan sebelumnya menjadi masalah yang potensial
dalamproses produksi semi otomatis gabungan beberapa kg. Khususnya pada
kadang – kadang pencampuran yang tidak mencukupi, keseragaman kandungan
tidak mencukupi. Pemberian perhatian yang tidak hati – hati pada bentuk dan
control alat pengisi dapat memecahkan banyak masalah. Bagaimana pun
permulaan dan akhir dari proses produksi tetap memberikan hasil yang kurang
mengharuskan beberapa derajat penolakan.

2. Pelepasan obat dari suppositoria.


Mungkin hal yang paling pentng untuk dimengerti oleh pasien karakteristik
pelepasan menentukan tahap kea rah kesuksesan terapi. Apa yang sungguh –
sungguh diinginkan adalah bioavaibilitas optimal yang mana untuk formulator
bertujuan untuk jaminan optimal dan menghasilkan pelepasan in vivo.
Sejak ada sedikit tujuan mengahsilkan informasi pelepasan in vivo ini akan
biasanya harus diinterpretasi dari pelepasan in vitro, dimana memperkenalkan
masalah dalam korelasi in vitro / in vivo. Pengetahuan sekarang tidak mengizinkan
pemilihan metode in vitro dengan kekuatan prediksi yang tinggi atau dalam
pekerjaan in vivo. Beberapa aspek dapat didiskusikan bagaimana pun untuk
memberikan point penolong dalam hal ini. Tabel 23.7 merupakan daftar
parameter untuk diperiksa dalam tes pelepasan suppositoria in vitro.
Parameter pelepasan in vitro :
· Suhu
· Daerah kontak
· Medium pelepasan
· Pergerakan
· Membar
Suhu dipilih untuk tes bentuk sediaan rectal yang mudah ditentukan sebagai suhu
tubuh. Meskipun untuk tujuan praktis suhu ini dapat diatur pada 37 o C, ini tidak
terlalu cocok, khususnya tes suppositoria berlemak. Kebanyakan tersedia basis
mempunyai jarak leleh di bawah 37o C, tetapi ini bukan tujuan penting bahwa
kekentalannya pada 37o C adalah sama. Sejak suhu tubuh dapat turun menjadi
36o C pada malam hari, ini mencantumkan bahwa laju pelepasan pada 37 o C
mungkin di luar perkiraan. Juga membandingkan basis pada 37 o C dapat berperan
dalam kesimpulan yang keliru. Suhu pada tes yang ditampilkan mungkin penting
khususnya jika telah terjadi. Perhatian khusus harus diberikan untuk tes
temperature actual.
Dalam mengadakan yang terlihat dalam suhu pada permukaan lapisan air di
dalam tabung, jika bahan suppositoria cair yang dikumpulkan mungkin
mempunyai derajat lebih rendah dari suhu bulk. Dengan memilih ukuran yang
tepat dan menutup tabung pada sisi atas masalah ini dieliminasi di sini.
Daerah kontak dalam rectum dimana penyebaran terjadi tidak dapat
distandarisasi tanpa pengenalan baik di atas maupun di bawah perkiraan. Daerah
relative kecil ( mis : kira – kira 10 cm2 ) dibandingkan total permukaan dari rectum
( kira – kira 300 cm2 ).
Parameter lain yang dianggap medium pelepasan. Padahal tidak cukup
informasi yang tersedia pada komposisi actual dan struktur dari cairan rectal,
pilihan biasanya dibuat untuk volume relative yang luas dari air atau larutan
buffer. Sejak tahap pelepasan terbatas dalam bioavaibilitas dari suppositoria
berlemak sangat sering pelepasan dari suppositoria terlihat cukup beralasan tidak
termasuk musin yang mengontrol kekentalan in vivo. Volume yang besar
kebanyakan dalam metode in vitro tidak akan menjadi penting. Banyak kesulitan
adalah pilihan dari buffer dan secara khusus kekuatannya, sejak sedikit
pengetahuan tentang factor ini dalam situasi in vitro. Untuk basis larut air
masalah ini lebih luas lagi dan secara esensial tidak ada larutan ideal telah
ditemukan untuk maslah pemilihan volume dan komposisi dari medium
pelepasan. Hanya baru – baru ini telah menjadi penting dibuat arah termasuk
salah satu atau jalur lain dari penggabungan tekanan yang penting dalam tes
pelepasan. Ini jelas bahwa motilitas rectal ada dan itu mungkin mempengaruhi
bioavaibilitas. Tidak terlalu jelas , tetapi bagaimana untuk menggabungkan
pengetahuan ini untuk menggabungkan pengetes pelepasan. Usaha – usaha talah
dibuat, tetapi tidak ada jawaban akhir yang mungkin baik.
Sangat sering membrane telah digunakan dalam pengetes pelepasan,
biasanya penutup suppositoria dalam volume kecil dari medium pelepasan.
Seperti telah diperlihatkan baru – baru ini mempunyai keberatan yang luar biasa
bahwa pelepasan sebagai ukuran dalam bagian luar tidak sama dengan pelepasan
actual yang terjadi pada bagian dalam. Kebanyakan hasil yang dipublikasikan tidak
memperhitungkan bahwa membrane mungkin membentuk resistensi untuk
melewati molekul obat dan pelepasan actual jika kondisi tertentu dapat ditemu.
Ini terlihay pantas karena itu untuk menghindari membran – membran dalam
pengetes pelepasan apabilamungkin.
Perlakuan benar yang actual dalam tes pelepasan in vitro membuktikan
pertunjukan in vitro. Beberapa kemungkinan untuk memperoleh data ini.
Penentuan bioavaibilitas harus dipandang keduanya laju dan luasnya absorpsi.
Apabila kemungkinan data ini harus diperoleh dalam manusia, sejak ini tidak ada
hewan coba yang tersedia yang dapat dipercaya.

B. Lachman Industri (1191)


1. Uji Kisaran Leleh

Disebut kisaran leleh makro, dan uji ini merupakan suatu ukuran waktu yang
diperlukan suppositoria untuk meleleh sempurna bila dicelupkan dalam penangas
air dengan temperature tetap ( 37o C ). Sebaliknya uji kisaran leleh mikro adalah
kisaran leleh yang diukur dalam pipa kapilernya untuk basis lemak. Alat yang biasa
digunakan untuk mengukur kisaran leleh sempurna dari suppositoria adalah suatu
alat desintegrasi tablet USP. Suppositoria dicelupkan seluruhnya dalam penangas
air yang konstan dan waktu yang diperlukan suppositoria untuk meleleh
sempurna atau menyebar dalam air sekitarnya diukur.
Pada penglepasan obat secara in vitro diukur dengan menggunakan alat kisaran
leleh yang sama. Jika volume air yang mengelilingi suppositoria diketahui, maka
dengan mengukur alikuat air untuk massa obat yang dikandung pada berbagai
internal dalam periode meleleh, suatu kurva waktu terhadap kandungan obat.

2. Uji Pencairan / uji Waktu Melunak dari Suppositoria Rektal

Suatu modifikasi dari metode yang dikembangkan oleh Krowezynski adalah uji
suppositoria akhir lain yang berguna. Uji tersebut terdir dari pipa U yang sebagain
dicelupkan ke dalam penangas air yang bertemperatur konstan. Penyempitan
pada salah satu sisi menahan suppositoria tersebut pada tempatnya dala pipa “ uji
melunak “ mengukur waktu yang diperlukan suppositoria rectal untuk mencair
dalam alat yang disesuaikan dengan kondisi in vivo. Suatu penyaringan melalui
selaput semi permeable yakni pipa selofan, diikat pada kedua ujung kondensor
dengan mesing – masing terbuka.

3. Uji Kehancuran

Berbagai larutan telah diuraikan untuk memecahkan masalah kerapuhan


suppositoria. Uji kehancuran dirancang sebagai metode untuk mengukur
keregasan atau kerapuhan suppositoria. Alat yang digunakan untuk uji tersebut
terdiri dari suatu ruang berdinding rangkap dimana suppositoria yang diuji
ditempatkan. Air pada 37o C dipompa melewati dinding rangkap ruang tersebut
dari suppositoria diisikan ke dalam dinding dalam yang kering, menopang
lempeng dimana suatu batang diletakkan. Ujung lain dari batang tersebut terdiri
dari lempeng lain dimana beban digunakan. Uji dihubungkan dengan penempatan
600 gram di atas lempeng datar. Pada interval waktu satu menit, 200 gram bobot
ditambahkan dan bobot dimana suppositoria dirusak adalah titik hancurnya,
ataugaya yang menentukan karakteristik keregasan dan kerapuhan suppositoria
tersebut. Suppositoria dengan bentuk – bentuk yang berbeda – beda mempunyai
titik hancur yang berbeda pula. Titik hancur yang dikehendaki dari masing –
masing bentuk suppositoria yang beraneka ragam ini ditetapkan sebagai level
yang menahan kekuatan ( gaya ) hancur yang disebabkan oleh berbagai tipe
penanganan yakni : produksi, pengemasan, pengiriman dan pengangkutan dalam
penggunaan pasien

4. Uji Disolusi.

Pengujian laju penglepasan zat obat suppositoria secara in vitro selalu


mengalami kesulitan karena adanya pelelehan, perubahan bentuk dan disperse
dari medium disolusi. Pengujian awal dilakukan dengan penetapan biasa dalam
gelas piala yang mengandung suatu medium.
Dalam usaha untuk mengawasi variasi pada antar muka massa /
medium, berbagai cara telah dipakai, termasuk keranjang kawat mesh atau suatu
membrane untuk memisahkan ruang sample dari bak reservoir. Sample yang
ditutup dalam pipa dialysis atau membrane alami juga dapat dikaji. Alat sel alir (
flow cell ) digunakan untuk menahan sample ditempatkan dengan kapas, saringan
kawat dan yang paling baru dengan manik – manik gelas.

2.9. Parameter evaluasi sediaan suppositoria


Dari beberapa parameter evaluasi menurut buku Auton’s Pharmacetics dan buku
Lachman Industri, diketahui cara-cara evaluasi suppositoria sebagai berikut :
a. Uji Organoleptik
 Siapkan 4 suppositoria yang sudah jadi / beku
 Dua suppositoria dibelah secara vertikal dan 2 suppositoria lagi dibelah secara
horizontal
 Amati secara visual pada bagian internal dan eksternal untuk melihat warna
baunya.

b. Uji keseragaman Bobot


 Suppositoria ditimbang sebanyak 20 buah, hitung bobot rata-ratanya
 Timbang masing-masing suppositoria
 Tentukan penyimpangan dari tiap suppositoria
 Persyaratan tidak boleh lebih dari 2 suppositoria yang masing-masing
bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang
ditetapkan kolom A (5%) dan tidak satu suppositoria pun yang bobotnya
menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan di kolom
B (10%) (Anonim, 1979).

c. Uji titik lebur


 Suppositoria dimasukkan ke dalam pipa kapiler
 Nyalakan alat, kemudian dimasukkan ke dalam alat uji titik lebur “STUART”.
 Tekan tombol start untuk menjalankan suhu. Amati suppositoria pada pipa
kapiler hentikan suhu saat suppositoria meleleh dengan menekan tombol stop.
Catat suhu saat suppositoria meleleh.
 Persyaratan titik lebur yang diperoleh 35oC

d. Uji Waktu Leleh


 Suppositoria dimasukan dalam sangkar berbentuk spiral gelas
 Sangkar spiral tersebut dimasukan pada pipa penguji lalu ditempatkan dalam
sebuah mantel gelas yang dialiri air bersuhu tetap 37 ºC
 Melalui sebuah pipa kecil gelas, yang sekaligus mencegah jatuhnya suppositoria
dari dalam sangkar, air masuk kedalam pipa penguji
 Pada saat suppositoria melebur, tetesantetesan akan berkumpul dalam bagian
yang sempit dari pipa penguji
 Proses dihitung dari suppositoria mulai dimasukan ke dalam mantel gelas yang
dialiri air bersuhu tetap sampai melebur tanpa sisa sehingga secara total telah
meninggalkan sangkarnya
 Perhitungan waktu manual menggunakan stop watch
 Persyaratan Suppositoria dengan basis tidak larut air (lipofilik) meleleh dalam
waktu tidak lebih dari 30 menit sedangkan suppositoria dengan basis larut
dalam air tidak lebih dalam waktu 60 menit. Dalam kedua hal tersebut bahan
obat dapat tertinggal dalam bentuk tidak melarut atau tidak melebur.

e. Uji kekerasan
 Digunakan alat penguji kekerasan suppositoria. Alat penguji kekerasan
mempunyai sebuah kamar, yang pada bagian atasnya melekat sebuah
dudukan. Kamar mengandung suatu peralatan dengan perlengkapan bahan
buatan yang dapat ditukar untuk pengambilan suppositoria yang diuji, yang
secara bersamaan berlaku sebagai pengarahan untuk suatu untaian. Untaian
diperpanjang dan memiliki massa dasar dari 600 gram.
 Untaian dipasang hati-hati dan kamar penguji ditutup menggunakan lempeng
kaca. Pencatat waktu (stopwatch) disiapkan
 Kemudian dimulai memberi beban (600 g) sebagai masa dasar pada
suppositoria dan pada saat yang sama pencatat waktu dijalankan.
 Beban ditambahkan 200 g tiap interval 1 menit selama suppositoria belum
hancur. Pencatat waktu dihentikan bila suppositoria sudah hancur (beban telah
sampai pada batas yang ditentukan).
 Percobaan tersebut dilakukan untuk masing-masing suppositoria sebanyak 3
kali. Waktu dan beban yang diperlukan dicatat seehingga masing-masing
suppositoria hancur.
 Pembacaan beban sbb:
Antara 0 – 20 detik : beban tambahan dianggap tidak ada
Antara 21 – 40 detik : beban tambahan dihitung setengahnya
Antara 41 – 60 detik : beban tambahan dihitung penuh

2.10. contoh formula


1. Suppositoria Aminofilin (Fornas hal 21)
R/ Aminofilin 250 mg
Suppo dasar yang cocok q.s.
2. Suppositoria Bibaza / Anusol (Fornas hal 50)
R/ Bismuth Subgallas 75 mg
Balsamum Peruvianum 125 mg
Acidum Boricum 360 mg
Zincoxydum 360 mg
Ultramarinum 3,4 mg
Cera flava 100 mg
Oleum cacao hingga 2,6 g

3. Suppositoria Bisakodil (Fornas hal 51)


R/ Bisakodil 10 mg
Suppo dasar yang cocok q.s
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan
Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai
pembawa zat terapetik yang bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang
umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin tergliserinasi, minyak nabati
terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul, dan ester asam
lemak polietilen glikol.
Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan
zat terapetik. Lemak coklat cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan
dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat difusi obat yang larut dalam lemak
pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai untuk beberapa
antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik
dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat
bentuk nonionik dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air,
seperti gelatin tergliserinasi dan polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat
lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan pembawa berminyak seperti
lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk residu yang
tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal
karena disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik
untuk menghilangkan iritasi, seperti pada sediaan untuk hemoroid internal.
Kelebihan supositoria :
1. Pasien tidak dapat menggunakan rute oral.
2. Pasien mengalami masalah dengan saluran pencernaan spt. Nausea.
3. Pasien tidak sadar (unconscious).
4. Katagori khusus, seperti bayi, lanjut usia, gangguan mental.
5. Obat tidak cocok diberikan dengan rute oral.
6. Obat yang menghasilkan efek samping pada GI
7. Obat tidak stabil pada pH GI
8. Obat yang rentan terhadap enzim pada GI
9. Obat yang mempunyai rasa tidak enak
Kerugian suppositoria:
1. Penggunaan tidak nyaman
2. Terjadinya variasi pada proses absorpsi
3. Mengiritasi mukus yang disebabkan oleh beberapa obat atau basisnya

Di antara parameter-parameter uji :


 Kemapatan dan kekerasan
 Ukuran partikel
 Distribusi bahan obat
 Perilaku melebur

Berdasarkan buku Aulton’s Pharmacetics dan Lachman Industri, diketahui bahawa untuk
evaluasi suppositoria dapat dilakukan dengan pengujian :
 Uji Organoleptik
 Uji keseragaman Bobot
 Uji titik lebur
 Uji Waktu Leleh

3.2. Saran
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi
1. Pemilihan Obat / Zat Aktif
Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk suppositoria:
A. Sifat fisik
B. Densitas Bulk
C. Kelarutan (Solubilitas)

2. Pemilihan Basis
Peran utama basis suppositoria:
a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang tepat
dengan karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator
b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat
absorpsinya.

3. Pemilihan bahan pembantu yang dapat meningkatkan homogenitas produk,


kelarutan, dll
Bahan pembantu digunakan untuk:
a. Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
b. Meningkatkan hidrofilisitas
c. Mengubah suhu leleh
d. Meningkatkan viskositas
e. Meningkatkan kekuatan mekanis
f. Mengubah penampilan
g. Melindungi dari degradasi
h. Mengubah absorbsi
DAFTAR PUSTAKA

• H. Syamsuni. 2006. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Penerbit Buku


Kedokteran EGC. Jakarta.

• Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi 3. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

• Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi 4. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

• Ansel dan Prince. 2006. Kalkulasi Farmasetik: Panduan untuk Apoteker. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta

• Lachman L. Et al. The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, Lea & Febiger,
1986, hal 59,76,320.
• farmasiblogku.blogspot.com